Artikelilmiahs

Menampilkan 23.861-23.880 dari 50.303 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
2386126977E1A015221KEKUATAN PEMBUKTIAN VISUM ET REPERTUM DALAM TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN (TINJAUAN YURIDIS PUTUSAN NOMOR 174/PID.SUS/2017/PN.CLP)ABSTRAK

KEKUATAN PEMBUKTIAN VISUM ET REPERTUM DALAM TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN
(Tinjauan Yuridis Putusan Nomor 174/Pid.Sus/2017/PN.Clp)
Oleh: Januar Dwi Aji Pangestu

Pembuktian merupakan bagian yang sangat penting dalam rangkaian acara di persidangan. Kebenaran mengenai suatu tindak pidana dapat diketemukan melalui pembuktian. Tahap pembuktian dalam persidangan merupakan “jantung” sebuah proses peradilan guna menemukan kebenaran materiil, tujuan adanya hukum acara pidana. Kebenaran materiil diartikan sebagai suatu kebenaran yang diupayakan mendekati kebenaran yang sesungguhnya atas tindak pidana yang terjadi.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk pembuktian perkara pidana antara lain adalah meminta bantuan dokter sebagai ahli untuk membuat surat keterangan yang disebut dengan Visum Et Repertum. Dalam persidangan di pengadilan tidak jarang ditemukan Visum Et Repertum yang digunakan sebagai bahan untuk memperkuat dakwaan terhadap perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa. Seperti dalam kasus ini, Visum Et Repertum digunakan sebagai alat bukti yang memperkuat keyakinan hakim bahwa terdakwa telah melakukan penganiayaan mengakibatkan matinya korban. Berdasarkan uraian tersebut,penulis tertarik untuk meneliti dan menuangkan hasilnya dalam skripsi yang berjudul : Kekuatan Pembuktian Visum Et Repertum dalam Tindak Pidana Penganiayaan dalam Putusan Nomor : 174/Pid.Sus/2017/PN.Clp (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor174/Pid.Sus/2017/PN.Clp).
Metode penelitian yang digunakan pada penulisan ini adalah yuridis normatif, dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh melalui kepustakaan dan diuraikan secara sistematis. Berdasarkan hasil penelitian pada Putusan Perkara Nomor : 174/Pid.Sus/2017/PN.Clpbahwa Kekuatan Pembuktian Visum Et Repertum dalam Tindak Pidana Penganiayaan adalah bersifat bebas serta merupakan alat bukti yang sah, dan tidak mempunyai kekuatan mengikat hakim sama seperti alat bukti lainnya.
Meskipun Visum Et Repertum tidak mengikat hakim, namun apa yang diuraikan di dalam bagian pemberitaan sebuah Visum Et Repertum adalah bukti materiil dari sebuah akibat tindak pidana. Dengan demikian, Visum Et Repertum dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan hukum bagi hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap diri terdakwa dalam kasus ini.


Kata Kunci: Kekuatan Pembuktian, Visum Et Repertum, Tindak Pidana Penganiayaan.
ABSTRACT

STRENGTH OF REVENUE OF VISUM ET REPERTUM IN MISTREATMENT CRIMINAL ACTION
(Judicial Review of Decision Number 174/Pid.Sus/2017/PN.Clp)
By: Januar Dwi Aji Pangestu

Proof is a very important part of the series of events at the trial. The truth about a crime can be found through proof. The proof stage in the trial is the "heart" of a judicial process in order to find material truth, the purpose of the existence of criminal procedural law. Material truth is interpreted as a truth which is attempted to approach the real truth of the crime that occurred.
One way that can be done to prove a criminal case is to ask for help from a doctor as an expert to make a certificate called Visum Et Repertum. In court proceedings it is not uncommon to find Visum Et Repertum which is used as an ingredient to strengthen the charges of acts committed by the accused. As in this case, Visum Et Repertum was used as evidence that strengthened the judge's conviction that the defendant had committed persecution resulted in the death of the victim. Based on the description, the author is interested in researching and pouring the results in a thesis entitled; Strength of Proof of Visum Et Repertum in Crime of Mistreatment in Decision Number: 174/Pid.Sus/2017/PN.Clp. (Judicial Review of Decision Number 174/Pid.Sus/2017/PN.Clp).
The research method used in this writing is normative juridical, with a descriptive analytical research specification. This study uses secondary data obtained through literature and systematically described. Based on the results of the study on The Decision Number: 174/Pid.Sus/2017/PN.Clp. that the Strength of Proof of Visum Et Repertum in Criminal Acts of Mistreatment is free and is a legitimate piece of evidence, and does not have the power to bind the judge as well as other evidence.
Although Visum Et Repertum does not bind judges, what is described in the reporting section of a Visum Et Repertum is material evidence of a result of a criminal act. Thus, Visum Et Repertum can be used as a legal consideration for the judge in making a decision against the defendant in this case.


Keywords: Strength of Revenue, Visum Et Repertum, Crime of Mistreatment.
2386228640E1A113029PERCERAIAN KARENA MENELANTARKAN RUMAH TANGGA
(Tinjauan Yuridis Putusan Pengadilan Agama Kota Banjarbaru
No.0011/Pdt.G/2018/PA.Bjb)
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 disebutkan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, namun dalam praktik banyak terjadi permasalahan kehidupan rumah tangga yang berakibat perceraian, sehingga tujuan dari perkawinan tersebut tidak tercapai, seperti halnya salah satu perkara mengenai perceraian karena menelantarkan Rumah Tangga yang terjadi dipengadilan Agama Banjarbaru dengan nomer perkara : 0011/Pdt.G/2018/PA.Bjb.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pertimbangan Hukum Hakim dalam memutus perkara pada putusan Pengadilan Agama Banjarbaru Nomor: 0011/Pdt.G/2018/PA.Bjb. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis normatif, spesifikasi penelitian preskriptif analitis, metode pengumpulan data studi kepustakaan, metode analisis data normatif kualitatif.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pertimbangan hakim mendasarkan pada Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Huruf (f) jo Pasal 116 Huruf (f) Kompilasi Hukum Islam, Menurut peneliti pertimbangan Hakim dapat dilengkapi dengan Pelanggaran Taklik talak karena antara Penggugat dan Tergugat sudah saling tak peduli selama 11 bulan
In Article 1 Law Number 1 Year 1974 is mentioned that marriage is a physical and spiritual bond between a man and a woman as a husband and wife with a purpose to form a happy and eternal family based on God Almighty, but in practice there are many problems of domestic life that result in divorce, so the purpose of the marriage are not achieved, as well as one case of divorce for neclegting the household that occured in Banjarbaru Religious Court with Case Number : 0011/Pdt.G/2018/PA.Bjb.
The problem of this research is how the judge’s legal considerations on deciding case in the decision of Banjarbaru Religious Court Number: 0011/Pdt.G/2018/PA.Bjb. The research method used in this research is normative juridical approach, the research specification is prescriptive analytical, the data collection method used literature study, the data analysis method is normative qualitative.
The problem in this study is how the Judge's legal considerations in deciding cases in the decision of the Banjarbaru Religious Court Number: 0011 / Pdt.G / 2018 / PA.Bjb. The research method used in this study is a normative juridical approach, prescriptive analytical research specifications, methods of collecting literature study data, qualitative normative data analysis methods.
The results of this study indicate that judges 'considerations are based on Article 19 Government Regulation Number 9 Year 1975 Letter (f) jo Article 116 Letter (f) Compilation of Islamic Law, According to researchers, Judges' considerations can be supplemented with divorce taklik violations because between the Plaintiff and the Defendant have not mutually mutually care for 11 months
2386326979C1A015019Analisis Efisiensi Usaha Dan Kesejahteraan Rumah Tangga Pengrajin Rotan Di Desa Tegalwangi Kabupaten Cirebon Desa Tegalwangi merupakan sentra industri rotan pertama yang ada di Kabupaten Cirebon yang terkenal dengan sebutan Kampung Wisata Rotan Galmantaro. Industri kerajinan rotan di Desa Tegalwangi Kabupaten Cirebon merupakan industri rumah tangga skala lokal. Kerajinan rotan yang dihasilkan oleh pengrajin rotan di Desa Tegalwangi adalah berupa kursi mio, tudung saji, kursi unyil, ayunan bayi, kuda-kudaan, furniture dan keranjang. Pengrajin sebagai pemilik usaha sekaligus tenaga kerja, rata-rata sudah menjalankan usahanya cukup lama. Para pengrajin menjalankan usahanya dengan mengandalkan keterampilan yang dimiliki. Namun pengalaman saja belum cukup untuk menjamin usahanya dapat terus bertahan, selain itu mereka juga kurang mengetahui penerimaan dan biaya usaha secara pasti. Mereka hanya beranggapan yang terpenting mendapatkan penghasilan dari usahanya tersebut. Seorang pengrajin sebagai produsen tentu memiliki tujuan untuk memperoleh keuntungan dari usaha yang dimilikinya. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut maka pengrajin harus memperhatikan efisiensi usahanya, sehingga mereka dapat memperoleh keuntungan dan memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga sehari hari berdasarkan standar Kebutuhan Hidup Layak Kabupaten Cirebon tahun 2018. Tujuan dalam penelitian ini adalah (1) mengetahui efisiensi usaha kerajinan rotan di Desa Tegalwangi Kabupaten Cirebon (2) mengetahui kesejahteraan rumah tangga pengrajin rotan di Desa Tegalwangi Kabupaten Cirebon. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis biaya, pendapatan dan keuntungan, analisis R/C Ratio dan analisis perbandingan pendapatan perkapita dengan standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) Kabupaten Cirebon sebesar Rp1.873.701,00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) usaha kerajinan rotan di Desa Tegalwangi sudah efisien karena memiliki rata- rata nilai R/C ratio lebih dari satu (2) rumah tangga kerajinan rotan di Desa Tegalwangi dapat dikatakan sejahtera karena pendapatan perkapita anggota rumah tangga pengrajin lebih besar dari KHL. Tegalwangi Village is the first center of rattan industry in Cirebon Regency known as the Galmantaro Rattan Tourism Village. Rattan handicraft industry in Tegalwangi Village, Cirebon Regency is a local scale home industry. Rattan handicrafts produced by rattan craftsmen in Tegalwangi Village are mio chairs, food hoods, unyil chairs, baby swings, piggybacks, furniture and baskets. Craftsmen as business owners as well as workers, on average, have run their businesses long enough. The craftsmen run their businesses by relying on their skills. However, experience alone is not enough to guarantee their business can continue to survive, but they also do not know the exact revenue and business costs. They only assume the most important thing is getting income from the business. A craftsman as a producer certainly has a goal to obtain profits from his business. To be able to achieve these goals, craftsmen must pay attention to the efficiency of their businesses, so they can benefit and meet their daily needs and families based on the standard of decent living needs of Cirebon Regency in 2018. The objectives in this study are (1) to determine the efficiency of rattan handicraft businesses in the village. Tegalwangi Cirebon Regency (2) knows the welfare of the household of rattan craftsmen in Tegalwangi Village, Cirebon Regency. The data analysis technique used is the analysis of costs, income and profits, R / C Ratio analysis and comparative analysis of per capita income with the standard of Living Needs (KHL) of Cirebon Regency amounting to Rp1,873,701.00. The results show that (1) rattan handicraft business in Tegalwangi Village is efficient because it has an average R / C ratio of more than one (2) rattan handicraft households in Tegalwangi Village can be said to be prosperous because the income per capita of household craftsmen is greater from KHL.

2386428641H1B015064PEMODELAN STABILITAS LERENG DAN ANALISIS HUJAN PADA DAERAH RAWAN LONGSOR DI KABUPATEN BANJARNEGARABanjarnegara merupakan termasuk daerah rawan longsor, beberapa faktor yang menyebabkan wilayah tersebut rawan longsor, yaitu jenis tanah, kemiringan tanah, dan pola tanam masyarakat. Dari 266 desa dan 12 kelurahan, 199 desa rawan longsor yang tersebar di 20 kecamatan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan lokasi-lokasi daerah rawan longsor di Kabupaten Banjarnegara berdasarkan nilai faktor keamanan lereng dan juga untuk mengetahui korelasi antara stabilitas lereng dengan curah hujan harian. Metode yang digunakan dalam menentukan faktor keamanan lereng adalah dengan perhitungan mekanik menggunakan data spasial yang didapatkan dengan interpolasi kriging pada aplikasi R Studio dan juga menggunakan interpolasi IDW pada aplikasi QGIS. Perhitungan dianalisis dengan asumsi bahwa tanah lempung organik dan juga longsor akan terjadi bila tanah jenuh atau kadar air mencapai 100%. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini yaitu validasi 67%, merupakan hasil perbandingan antara 134 daftar desa pada analisis faktor keamanan lereng dengan 90 desa yang pernah terjadi longsor dan juga semakin lebat curah hujan, maka semakin berpengaruh untuk kestabilan lereng tersebut.
Banjarnegara is a landslide prone area, several factors causing the area prone to landslides, namely land type, land slope, and cropping patterns of the community. Of 266 villages and 12 villages, 199 villages are prone to landslides spreading across 20 sub-districts. This study aims to map the locations of landslide-prone areas in Banjarnegara Regency based on the value of the slope safety factor and also to determine the correlation between slope stability and daily rainfall. The method used in determining the safety factor of slope is calculation of parameters triggering landslide mechanism using spatial data obtained by kriging and IDW interpolation in the R Studio application. Calculations are analyzed assuming that soil organic clay and also landslide will occur when the soil is saturated or water content reaches 100%. The results show 67% of sites validated, obtained from comparison between 134 village list on the safety factor analysis slope with 90 villages that have experienced landslide and also increasingly dense rainfall, the more influential for the stability of the slope
2386526981C1C015122Faktor Faktor yang Memengaruhi Fraud pada Pengelolaan Keuangan Desa di Pemerintah Kabupaten/Kota (Studi Empiris di Kabupaten Purbalingga)
Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis pengaruh variabel sistem pengendalian internal, komitmen organisasi, asimetri informasi, ketaatan aturan dan pengetahuan akuntansi terhadap fraud pengelolaan keuangan desa. Metode penelitian yang digunakan yaitu dengan metode survey dengan kuesioner, dengan jumlah sampel yang digunakan adalah 29 desa yang ada di Kabupaten Purbalingga. Analisis data penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sistem pengendalian internal, komitmen organisasi, dan asimetri informasi memiliki pengaruh terhadap fraud pengelolaan keuangan desa, ketaatan aturan dan pengetahuan akuntansi tidak memiliki pengaruh terhadap fraud pengelolaan keuangan desa.This study aimed to analyze of variable of internal control system, organizational commitment, information asymmetry, observance of rules,and accounting knowledge. This study using questionnative survey, the number of the samples used were 29 villages in Purbalingga regency. Analysis of data using multiple liniear regression an. The result showed that the internal control system, organizational commitment, and information asymmetry affect fraud in management of village finances, and observance of rules and knowledge of accounting were noy affect fraud in management of village fund.
2386626982C1B015020PENGARUH INFORMATION SHARING, LONG TERM RELATIONSHIP, DAN COOPERATION TERHADAP KINERJA OPERASIONALPeneleitian ini merupakan penelitian survei yang dilakukan pada industri keripik di Kabupaten Ciamis. Penelitian ini mengambil judul : “Pengaruh Information Sharing, Long Term Relationship, dan Cooperation Terhadap Kinerja Operasional (Studi pada Industri Keripik di Kabupaten Ciamis)”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung antara information sharing, long term relationship, dan cooperation terhadap kinerja operasional. This research is a survey research carried out on the chips industry in Ciamis Regency. This study takes the title: "The Effect of Information Sharing, Long Term Relationship, and Cooperation on Operation Performance (Study on the Chips Industry in Ciamis Regency)". The purpose of this study is to determine the direct effect and indirect effect of information sharing, long term relationship, and cooperation on company performance.
2386726983C1L015006PENGARUH PEMANFAATAN INTERNET SEBAGAI SUMBER BELAJAR DAN KEMANDIRIAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MAHASISWA DENGAN LINGKUNGAN SOSIAL SEBAGAI VARIABEL PEMODERASIMahasiswa Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Soedirman mengunjungi perpustakaan bukan sekedar untuk membaca buku melainkan juga untuk menggunakan fasilitas internet (wi-fi) sehingga peran buku sebagai sumber belajar mulai tergantikan oleh adanya pemanfaatan internet. Selain itu, Kemandirian belajar mahasiswa belum optimal dikarenakan mahasiswa akan belajar lebih giat ketika menjelang ada ujian yaitu dengan mengikuti kegitan belajar bersama yang diselenggarakan oleh himpunan mahasiswa. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kemandirian belajar yang dimiliki mahasiswa masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemanfaatan internet sebagai sumber belajar dan kemandirian belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa dengan lingkungan sosial sebagai variabel pemoderasi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan survei. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 130 mahasiswa. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dengan menggunakan analisis data berupa uji t, analisis regresi linear berganda dan analisis regresi moderasi metode selisih mutlak pada aplikasi SPSS v 25 for windows.
Berdasarksan hasil analisis yang diperoleh hasil sebagai berikut : (1) Pemanfaatan internet tidak berpengaruh positif terhadap prestasi belajar (2) Kemandirian belajar berpengaruh positif terhadap prestasi belajar (3) Lingkungan sosial tidak memoderasi pengaruh antara pemanfaatan internet terhadap prestasi belajar (4) Lingkungan sosial tidak memoderasi antara kemandirian belajar terhadap prestasi belajar.
Students of Economic Education, Faculty of Economics and Business, Jenderal Soedirman University visited the library not only to read books but also to use internet facilities (wi-fi) so that the role of books as a source of learning began to be replaced by the use of the internet. In addition, the independence of student learning is not optimal because students will study harder when there are exams, namely by participating in joint learning activities organized by student associations. This indicates that the learning independence possessed by students is still low. This study aims to analyze the influence of the use of the internet as a source of learning and learning independence on student achievement with social environment as a moderating variable.
The method used in this research is quantitative research with a survey approach. The sample in this study were 130 students. Data collection was carried out through a questionnaire using data analysis in the form of t test, multiple linear regression analysis and regression analysis of moderating methods of absolute difference in the SPSS v 25 for windows application.
Based on the analysis results obtained as follows: (1) Internet utilization does not have a positive effect on learning achievement (2) Learning independence has a positive effect on learning achievement (3) The social environment does not moderate the influence between the use of the internet on learning achievement (4) Social environment does not moderate between learning independence and learning achievement.
2386826985A1F015016Optimasi Suhu dan Waktu Ekstraksi Cair Bubuk Bunga Kecombrang (Etlingera elatior)
Salah satu tanaman rempah dan obat yang memiliki potensi sebagai pangan fungsional pada antioksidan dan antibakteri adalah kecombrang (Etlingera elatior). Senyawa bioaktif dari bagian-bagian tanaman kecombrang perlu diekstraksi untuk menguji aktivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas ekstrak cair bubuk bunga kecombrang secara kuantitatif yakni total fenol, total flavonoid dan nilai pH serta kualitatif yakni senyawa fenolik, flavonoid, alkaloid, triterpenoid, tanin, saponin, dan glikosida, serta memperoleh formula optimum ekstraksi cair bubuk bunga kecombrang berdasarkan suhu dan waktu ekstraksi. Metode yang digunakan yakni Responsse Surface Method (RSM) menggunakan perangkat lunak Desain Expert 10. Rancangan optimasi formula dilakukan dengan Central Composit Design (CCD) dengan dua faktor dan dua ulangan pengujian, sehingga diperoleh 13 formula optimasi. Faktor yang dicobakan pada penelitian ini yaitu suhu terdiri atas tiga taraf yaitu 40oC, 50oC, dan 60oC, serta waktu terdiri atas tiga taraf yaitu 3, 4 dan 5 jam. Formula optimum yang direkomendasikan selanjutnya diverifikasi dan validasi menggunakan uji t independen. Suhu dan waktu ekstraksi pada bubuk bunga kecombrang memberikan hasil nilai total fenol tertinggi pada perlakuan 50oC 5,4 jam (86,8411 mg TAE/100 g). Nilai total flavonoid tertinggi pada perlakuan 64oC 4 jam (40,8796 mg QE/ 100 g). Nilai pH tertinggi pada perlakuan suhu 50oC 4 jam (3,9). Formula optimum ekstraksi cair bubuk bunga kecombrang berdasarkan respons fenol, flavonoid dan nilai pH adalah suhu 60oC, waktu 3,735 jam. Hasil optimasi, verifikasi dan validasi formula optimum menunjukkan ekstrak cair bubuk bunga kecombrang memiliki nilai respons fenol (64,458 mg TAE/100 g), flavonoid (35,120 mg QE/100 g), serta nilai pH (3,9). Senyawa yang terkandung pada produk formula optimum yaitu fenolik, flavonoid, alkaloid, terpenoid serta tanin.One of the herbs and medicinal plants that have potential as functional foods on antioxidants and antibacterial is kecombrang (Etlingera elatior). Bioactive compounds from parts of kecombrang plants need to be extracted to test their activity. This study aims to determine the quality of liquid extract of kecombrang flower powder quantitatively, namely total phenol, total flavonoid and pH values as well as qualitative, namely phenolic compounds, flavonoids, alkaloids, triterpenoids, tannins, saponins, and glycosides, and obtain optimum formula for liquid extraction of kecombrang flower powder. based on temperature and extraction time. The method used is the Responsse Surface Method (RSM) using Expert Design 10 software. The optimization design of the formula is carried out by Central Composit Design (CCD) with two factors and two tests, so that 13 optimization formulas are obtained. The factors that were tried in this study were temperature consisting of three levels namely 40oC, 50oC and 60oC, and time consisted of three levels namely 3, 4 and 5 hours. The recommended optimum formula is then verified and validated using an independent t test. Temperature and extraction time in kecombrang flower powder gave the highest total phenol value at 50oC 5.4 hours (86.8411 mg TAE / 100 g). The highest total flavonoid value at 64oC for 4 hours (40.8796 mg QE / 100 g). The highest pH value at a treatment temperature of 50oC 4 hours (3.9). The optimum formula of liquid extraction of kecombrang flower powder based on the response of phenol, flavonoids and pH value is a temperature of 60oC, time of 3.735 hours. The results of optimization, verification and validation of the optimum formula show that the liquid extract of kecombrang flower powder has a phenol response value (64.458 mg TAE / 100 g), flavonoids (35.120 mg QE / 100 g), and a pH value (3.9). The compounds contained in the optimum product formula are phenolic, flavonoids, alkaloids, terpenoids and tannins.
2386926986L1C015014INVESTIGASI KONSENTRASI FOSFAT (PO43-) DAN NITRAT (NO3-) PADA SEDIMEN PERMUKAAN WILAYAH PERTAMBAKAN, PERMUKIMAN DAN LOKASI PERIKANAN DI CILACAPKabupaten Cilacap merupakan kota pantai dan kota industri yang diduga memberikan dampak terhadap sedimen pantai, yaitu masuknya limbah organic juga nitrat dan fosfat dari sisa-sisa kegiatan pertambakan, permukiman dan limbah industri perikanan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui konsentrasi dan perbedaan fosfat dan nitrat pada sedimen permukaan wilayah pertambakan, permukiman dan lokasi perikanan di Cilacap. Metode survey ini mengkoleksi sedimen pada tiap titik lokasi dan sedimen disimpan dengan metode botol gelap. Konsentrasi fosfat dan nitrat diukur menggunakan spektrofotometer dan untuk mengetahui perbedaan konsentrasi fosfat dan nitrat, data dianalisis menggunakan oneway anova. Konsentrasi fosfat dan nitrat rata-rata dalam sedimen permukaan menurun dari minggu ke 1 ke minggu ke 2. Konsentrasi fosfat dalam sedimen di permukiman paling tinggi dari stasiun lain, sedangkan konsentrasi nitrat pada sedimen pada lokasi perikanan (PPSC) paling tinggi dibanding stasiun lain, dan di area tambak paling rendah konsentrasinya. Konsentrasi fosfat mingguan di pertambakan tidak berbeda, namun di permukiman dan lokasi perikanan terdapat perbedaan antara minggu ke 1 dengan minggu 2 dan minggu 3. Konsentrasi fosfat pada minggu 1 pada pertambakan berbeda dengan minggu 2 dan 3 di permukiman dan lokasi perikanan. Konsentrasi nitrat mingguan pada tiap lokasi maupun antar lokasi tidak berbedaCilacap Regency is a coastal and industrial city that are suspected to have an impact on coastal sediments, namely the input of organic waste as well as, nitrate and phosphate from pond, settlements and marine fisheries industrial waste. This research aim are to know the concentration and difference of phosphate and nitrate of bed sediments in pond, settlements and fisheries location in Cilacap. The survey method was to collect bed sediment at the locations and sediments has been saved in black bottle method. Phosphate and nitrate concentrations were measured using a spectrophotometer and to find out the difference of phosphate and nitrate concentrations, data were analyzed using ANOVA one-way test. The average phosphate and nitrate concentrations in surface sediments were obtained decrease from the first week to the second week. The concentration of phosphate sediments in settlements was found highest from other stations, while nitrate concentrations in sediments at fisheries location (PPSC) were obtained the highest compared to other stations, and in the pond area with the lowest concentration. Weekly phosphate concentrations in ponds were obtained not different, but in settlements and fisheries locations there were found difference between the first week and second week and third week. Phosphate concentrations in the first week in ponds were found differ from second weeks and third week in settlements and fishing locations. Weekly nitrate concentrations at each location and between locations were obtained not difference
2387026980F1A015001UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM RANGKA PENGENTASAN KEMISKINAN
(STUDI TENTANG UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) MELALUI KUBE (KELOMPOK USAHA BERSAMA) DI DESA KARANGMANGU KECAMATAN BATURADEN)
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan proses pemberdayaan dalam Program Keluarga Harapan (PKH) melalui KUBE (Kelompok Usaha Bersama) di Desa Karangmangu Kecamatan Baturaden, faktor pendorong dan faktor penghambat serta kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam menjalankan usaha tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yakni wawancara, observasi dan dokumentasi. Informan penelitian ini berjumlah 18 orang dengan informan utama sebanyak 12 orang dan informan pendukung sebanyak 6 orang. Lokasi penelitian ini ada di Desa Karangmangu, Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukan di Desa Karangmangu terdapat tiga KUBE yang anggotanya dari KPM (Kelompok Penerima Manfaat) PKH dengan usaha telur asin, kopi dan makanan ringan. Tahap pemberdayaan yang dilakukan dalam KUBE tersebut ada tiga yakni penyadaran yang meliputi pertemuan rutin kelompok, pengkapasitasan meliputi pelatihan dan pemberian bantuan alat serta pendayaan meliputi menghadirkan narasumber dari UMKM dan lainnya. Manfaat adanya KUBE ini yakni menambah pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan bagi anggota KUBE, belajar usaha dan tempat sharing untuk anggota KUBE serta menyediakan produk untuk masyarakat sekitar. Faktor pendorong KUBE Desa Karangmangu ada dua yakni dari dalam (internal) dan dari luar (eksternal), faktor internal yakni kerjasama dan semangat gotongroyong anggota, faktor eksternal yakni dari pendamping dan pemerintah desa. Sedangkan faktor penghambat dalam KUBE ini yakni kurangnya perhatian pemerintah pusat dalam perkembangan KUBE dan kurangnya pengetahuan anggota KUBE dalam memanfaatkan potensi yang ada di daerahnya. Adanya KUBE ini berdampak pada bidang ekonomi, sosial kemasyarakatan, pendidikan dan juga kesehatan. Adanya KUBE ini berdampak pada bidang ekonomi, sosial kemasyarakatan, pendidikan dan juga kesehatan. Kendala yang dihadapi dalam upaya pemberdayaan ini yakni sulit mendapat bahan baku, pemasaran hasil produksi, waktu dan tempat produksi.
Kata kunci : Pemberdayaan masyarakat, PKH, KUBE
This Research aims to describe the empowerment process in the PKH through KUBE in Karangmangu Village Baturaden District, driving factor and risk factor than what obstacles are faced in running the business. This study uses qualitative descriptive methods, with data collection techniques namely interviews, observation, and documentation. The informants of this research were 18 people, 12 people are main informants and 6 people are supporting informants. . The location of this research is in Karangmangu Village, Baturaden Sub District, Banyumas District, Central Java. The study results showed that in Karangmangu Village there is three KUBE whose member from KPM (Kelompok Penerima Manfaat) PKH with effort salted egg, coffee, and snacks. The empowerment stage carried out in the KUBE there are three namely awareness covering routine group meetings, capacity building including training, and providing aid and empowerment including presenting speakers from UMKM and others. The benefits of KUBE are increasing knowledge, experience and skills for KUBE members, learning businesses and a sharing places for KUBE members, and providing products for the surrounding community. There are two driving factors for the KUBE of Karangmangu Village namely inside (internal) and outside (eksternal). Internal factors is cooperation and the spirit of mutual cooperation of members, external factors namely PKH assistants and village government. While the inhibiting factore in this KUBE is lack of attention from the central goverment and lack of knowledge of members of the KUBE in exploiting the potential that exists in the area. The existence of KUBE has an impact on the economic, social, education and health sectors. The obstacles encountered in this empowerment effort are difficulties in getting raw materials, marketing of production results, as well as time and place of production.
Keywords : Community empowerment, PKH, KUBE
2387126987D1A015222KOMBINASI EKSTRAK HERBAL TERHADAP LEUKOSIT DAN DIFERENSIAL LEUKOSIT KELINCI YANG TERINFEKSI KOKSIDIOSISPenelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi ekstrak herbal terhadap leukosit dan deferensial leukosit kelinci dan mengetahui dosis pemberian ekstrak herbal yang optimal terhadap leukosit dan deferensial leukosit kelinci yang terinfeksi koksidiosis. Materi penelitian menggunakan 36 ekor kelinci peranakan rex dengan jenis kelamin jantan berumur 3-4 bulan dan bobot 700 gram yang terinfeksi penyakit koksidiosis, kombinasi ekstrak herbal (bawang putih sebanyak 40 mg, batang pisang sebanyak 40 mg dan biji pepaya sebanyak 20 mg) yang diekstrak dengan campuran etanol 96%, pakan berupa pelet, dan air minum yang telah direbus. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 kali perlakuan dan 6 kali ulangan. Perlakuan yang diuji yaitu pemberian kombinasi ekstrak herbal dengan dosis D1 : 0 mg, D2 : 20 mg, D3 : 40 mg, D4 : 60 mg, D5 : 80 mg, dan D6 : 100 mg. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengaruh kombinasi ekstrak herbal terhadap leukosit dan diferensial leukosit kelinci yang terinfeksi koksidiosis tidak berbeda secara nyata (P>0,05) dengan analisis variansi. Kesimpulan yang dapat diambil bahwa kombinasi ekstrak herbal tidak mempengaruhi leukosit dan diferensial leukosit kelinci dan kombinasi ekstrak herbal tidak optimal dalam menormalkan jumlah leukosit dan diferensial leukosit kelinci yang terinfeksi koksidiosis. The objective of the research was to investigate combination of herbal extracts to leukocytes and differential leukocytes of rabbits and to investigate the optimal dose of herbal extracts to leukocytes and differential leukocytes of rabbits infected by coccidiosis. Thirty-six male Crossbreed Rex rabbits aged 3-4 months and weighed 700 grams infected by coccidiosis, combination of herbal extracts (40 mg of garlic, 40 mg of banana stem, and 20 mg of papaya seeds) extracted with 96% ethanol mixture, were provided with pellet and boiled drinking water. The experiment used Completely Randomized Design to analyze 6 treatments with six replicates. The treatments were given a combination of herbal extracts with a dose of D1: 0 mg, D2: 20 mg, D3: 40 mg, D4: 60 mg D5: 80 mg, and D6: 100 mg. Analysis of Variance result showed that there was no significant difference (P>0,05) on leukocytes and differential leukocytes of rabbits infected by coccidiosis. It can be concluded that combination of herbal extracts does not affect leukocytes and differential leukocytes of rabbits and combination of herbal extracts is not optimal in normalizing the number of leukocytes and differential leukocytes of rabbits infected by coccidiosis.
2387226988H1F013003GEOLOGI DAN ANALISIS KESTABILAN LERENG DESA SIRAU, KECAMATAN KARANGMONCOL, KABUPATEN PURBALINGGA, PROVINSI JAWA TENGAHDaerah penelitian terletak di desa Sirau dan sekitarnya, kecamatan Karangmoncol, kabupaten Purbalingga, provinsi Jawa Tengah. Secara geografis terletak pada koordinat 109.41°-109.46° dan -7.20° --7.16°. Desa Sirau memiliki banyak lereng yang sangat terjal sehingga termasuk zona rawan longsor yang mengakibatkan sering terjadi longsoran. Oleh karena itu untuk menghindari kejadian yang dapat membahayakan penduduk sekitar dan juga menutup akses jalan perlu dilakukan studi lebih lanjut, Peristiwa tanah longsor terjadi akibat tidak seimbangnya tegangan yang bekerja pada suatu lereng. Faktor-faktor yang berperan pada kestabilan lereng antara lain kelerengan, litologi, sifat mekanik tanah dan curah hujan. Dari hasil perhitungan menggunakan software slide 6 didapatkan faktor keamanan pada lereng sebesar 0.99. Hal ini menunjukkan bahwa pada lereng tersebut dalam kondisi labil. Upaya penanganan yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko longsor pada lereng tersebut adalah pelandaian lereng. Hasilnya didapatkan faktor keamanan pada lereng sebesar 1.35. Hal ini membuktikan bahwa setelah dilakukan perbaikan lereng tersebut dalam kondisi stabil. Upaya lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kestabilan lereng yaitu dengan pemasangan tembok penahan berisi batu pada kaki lereng, serta penanaman pepohonan di sekitar lereng.The study area is located in Sirau village and the surrounding, Karangmoncol subdistrict, Purbalingga district, Central Java province. Based on geographycal is located in coordinate 109.41°-109.46° and -7.20°--7.16° Sirau village have many steep slopes so that be included landslide-prone zones. Therefore, to avoid hazard that can threathening the safeness of people living near by the area and close road access so further studi is needed. Landslide occurrences are caused by the inbalance of stresses acting on such a slope. Factors that contribute to the stability are slope inclination, lithology and rainfall. From computation using software slide 6, it is obtained that the safety factor of slope is 0.99. This shows that the slope are unstable. Countermeasures that can be done to reduce the risk of avalanche is lowering steep slope, and then recalculate the safety factor of the slope with slide 6. Recalculation results that safety factor of slope 1.35. This proves that after doing remediation, the slope is in stab condition. In addition to increase the slope stability, it can be done by constructing retaining wall containing with rocks at the foot of the slopes, and platation around the slopes.
2387326989E1A015009PENYIDIKAN PELAKU TINDAK PIDANA PENYUAPAN TERHADAP BUPATI CIREBON SUNJAYA PURWADISASTRA (Studi Kasus di Komisi Pemberantasan Korupsi)Tahap penyidikan dalam suatu pemberantasan korupsi merupakan salah satu bagian penting dari tahap yang harus dilalui untuk menuju suatu pembuktian tindak pidana korupsi dan akan menghasilkan putusan yang mampu mendekati kebenaran materiil. Oleh sebab itu keberadaan tahap penyidikan tidak bisa dilepaskan dari adanya ketentuan perundangan yang mengatur tindak pidana korupsi yang penyidikannya dilakukan oleh KPK, Kepolisian dan Kejaksaan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penyidikan tindak pidana penyuapan Gatot Rachmanto terhadap Bupati Cirebon Sunjaya Purwadisastra sudah sesuai dengan asas-asas hukum tentang hak-hak tersangka dan untuk mengetahui hambatan penyidik dalam pengungkapan tindak pidana penyuapan Gatot Rachmanto terhadap Bupati Cirebon Sunjaya Purwadisastra. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis sosiologis. Jenis dan sumber data meliputi data sekunder dan data primer yang diperoleh dari wawancara dan studi kepustakaan. Kemudian data yang terkumpul disajikan secara deskriptif dalam bentuk uraian yang disusun secara sistematis, serta metode analisis data menggunakan normatif-kualitatif. Berdasarkan penelitian, menunjukan bahwa penyidikan pelaku tindak pidana penyuapan Gatot Rachmanto terhadap Bupati Cirebon Sunjaya Purwadisastra telah sesuai dengan asas-asas hukum tentang hak-hak tersangka dan dalam penegakan hukum terkait dengan kasus ini, penyidik mengalami hambatan dalam pengungkapan tindak pidana penyuapan Gatot Rachmanto terhadap Bupati Cirebon Sunjaya Purwadisastra yaitu faktor penegak hukum, faktor sarana dan fasilitas, faktor masyarakat, dan faktor budaya.In the fight against corruption, the investigation stage was one of the important part from the procedure that must be followed to get a proof of corruption, and will produced a decision which could approach the material truth. Therefore the existence of investigation stage could not be separated from the existence of legislative provision that arranged corruption which the investigation was did by KPK, the police, and the attorney according to Act Number 30 Year 2002 about Corruption Eradication Commission. The purpose of this research was to determine the investigation of the perpetrator bribery criminal act Gatot Rachmanto toward Cirebon Regent Sunjaya Purwadisastra in accordance with the legal principles concerning the rights of the suspect and to determine obstacles investigators of investigation the perpetrator bribery criminal act Gatot Rachmanto toward Cirebon Regent Sunjaya Purwadisastra.The research method used is sosiological juridicial, data types and sources include secondary data and primary data obtained from interviews and literature studies. Then the collected data is presented descriptively in the form of descriptions that are arranged systematically, as well as data analysis methods using normative-qualitative. Based on the result of research, the investigation of the perpetrator bribery criminal act Gatot Rachmanto toward Cirebon Regent Sunjaya Purwadisastra in accordance with the legal principles concerning the rights of the suspect and in upholding the law corcerning this case, the investigators finds four obstacles which are law enforcer, fasilities, society, and cultural factor.
2387426990D1A015188PENGARUH PENGGUNAAN SULING DAN JUMLAH PEMBALIKAN PADA PENGOMPOSAN FESES SAPI POTONG TERHADAP KELEMBABAN DAN pH KOMPOSAbstrak. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan suling (saluran udara) dan jumlah pembalikan terhadap kelembaban dan pH yang dihasilkan pada kompos. Materi yang digunakan adalah feses sapi Madura sebanyak 2,7 ton, 27 paralon yang telah dilubangi dengan diameter ±5 cm pada kedua sisinya, abu 135 kg, dolomit 13,5 kg, aktivator 2,7 kg serbuk kayu albasia 135 kg, molases 1350 gr, air 13,5 liter. Metode yang digunakan yaitu eksperimental dengan rancangan acak lengkap faktorial 3X3. Faktor A adalah jumlah suling (A0= gundukan tanpa suling, A1= gundukan dengan satu suling, A2= gundukan dengan dua suling) sedangkan faktor B adalah jumlah pembalikan (B0= gundukan tanpa pembalikan, B1= gundukan dibalik satu kali, B2= gundukan dibalik dua kali). Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara jumlah suling dan jumlah pembalikan, jumlah suling tidak berpengaruh nyata terhadap kelembaban dan pH, dan jumlah pembalikan berpengaruh sangat nyata terhadap kelembaban namun berpengaruh tidak nyata terhadap pH. Hasil uji BNJ menunjukkan nilai kelembaban kompos pada gundukan B0 lebih tinggi dibandingkan B1 dan B2. Kesimpulan yang diperoleh yaitu, penggunaan suling menghasilkan kompos dengan nilai kelembaban dan pH yang sama dengan kontrol. Jumlah pembalikan menghasilkan kompos dengan nilai pH yang sama dengan kontrol, kompos dengan nilai kelembaban terbaik yaitu B2 (62,2%).Abstract. This study aims to find out the effect of using pipes (air ducts) and the number of turnings to the moisture and pH in cow dung compost. The materials used in this study were 2,7 ton of Madura cow dung, 27 pipes with holes in every side, 135 kg ashes, 13,5 kg dolomite, 2700 gr activator, 135 kg albizia wood dust, 1350 gr molasses, 13,5 liter water. The experimental design used in this study was a factorial completely randomized design 3X3. Factor A is the number of pipes (A0= piles without pipes, A1= piles with one pipe, A2= piles with two pipes), factor B is the number of turning (B0= pile without being turned, B1= piles turned one time, B2= piles turned twice). The results showed there is no interaction between the number of pipes and the number of turnings, the number of pipes does not give any significant affect to the moisture and pH compost, and the number of turnings gives significant affect to the moisture but does not give any significant affect to pH. HSD analysis showed that the moisture value for the B0 piles tends to be higher than B1 and B2. It was concluded that the number of pipes has the same pH and moisture value with control. The number of turnings has the same pH value with control.The compost with the best moisture value is B2 (62,2%).
2387526991E1A015191PENERAPAN PENAFSIRAN EKSTENSIF TERHADAP KEABSAHAN SURAT KEPUTUSAN GUBERNUR AKADEMI KEPOLISIAN TENTANG PEMBERHENTIAN DENGAN HORMAT SEBAGAI TARUNA AKADEMI KEPOLISIAN (Studi Putusan Nomor: 65/G/2017/PTUN.SMG juncto Putusan Nomor: 100/B/2018/PT.TUN.SBY juncto Putusan Nomor: 634 K/TUN/2018)PENERAPAN PENAFSIRAN EKSTENSIF TERHADAP KEABSAHAN SURAT KEPUTUSAN GUBERNUR AKADEMI KEPOLISIAN TENTANG PEMBERHENTIAN DENGAN HORMAT SEBAGAI TARUNA AKADEMI KEPOLISIAN
(Studi Putusan Nomor: 65/G/2017/PTUN.SMG juncto Putusan Nomor: 100/B/2018/PT.TUN.SBY juncto Putusan Nomor: 634 K/TUN/2018)
Disusun Oleh:
DINDA PERMATA MARIZA
E1A015191

ABSTRAK

Penelitian ini bersumber pada Putusan Nomor: 65/G/2017/PTUN.SMG juncto Putusan Nomor: 100/B/2018/PT.TUN.SBY juncto Putusan Nomor: 634 K/TUN/2018, yang akan menganalisis pertimbangan hukum hakim dalam menilai keabsahan Keputusan Objek Sengketa yang dikeluarkan oleh Gubernur Akademi Kepolisian tentang Pemberhentian Dengan Hormat Andi Deandra Putra sebagai Taruna Akademi Kepolisian dan membahas Penerapan Penafsiran Ekstensif terhadap keabsahan Keputusan Objek Sengketa.
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan yuridis normatif. Data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder berupa Peraturan Perundang-Undangan yang relevan dan buku-buku literatur.
Hasil dari penelitian ini pertama adalah sengketa a quo KTUN yang menjadi objek sengketa ini telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan ditinjau dari aspek kewenangan, aspek prosedur dan aspek substansi sehingga KTUN yang menjadi objek sengketa menjadi sah. Kedua, penerapan penafsiran ekstensif menjangkau lebih jauh pada sanksi berupa penurunan tingkat dan pangkat karena menurut logika hukum penurunan tingkat dan pangkat 1 (satu) tingkat lebih rendah memiliki kadar sanksi yang setara berupa tidak naik tingkat dan pangkat.

Kata Kunci: Penafsiran Ekstensif, Keabsahan KTUN, Pemberhentian Dengan Hormat.
THE APPLICATION OF AN EXTENSIVE INTERPRETATION OF THE VALIDITY OF THE GOVERNOR DECREE THE POLICE ACADEMY ABOUT HONORABLE DISMISSAL AS THE POLICE ACADEMY STUDENT
(The verdict study number: 65/G/2017/PTUN.SMG juncto 100/B/2018/PT.TUN.SBY juncto verdict number: 634 K/TUN/2018)
By:
DINDA PERMATA MARIZA
E1A015191

ABSTRACT
This research based on verdict study number: 65/G/2017/PTUN.SMG juncto Putusan Nomor: 100/B/2018/PT.TUN.SBY juncto verdict number: 634 K/TUN/2018, who will analyze judicial consideration in judging the validity of the decisiom be issued by the governor the academy about dismissal with respect Andi Deandra Putra as taruna the academy and discussed the interpretation of the extensive the validity of the objects dispute.
The method approach used in this research was juridicial normative method. The data used was secondary data consisting of a primary law and the second legal material are regulations and books of literature.
The result of this research: First, dispute of KTUN a quo as the object if this dispute in accordance with legislative regulations in terms of, authority aspect the procedure and the substance that KTUN as the object of dispute being legitimate. Second, the application of interpretation extensive reach further in sanction such as decreasing level and grade because according to logic of legal, decreasing level and decreasing grade 1 (one) having the equal sanctions that are by not upgrading level and grade.
Keywords: Extensive Interpretation, Validity of KTUN, Dismissal with respect.
2387626992E1A015167PENGANGKATAN TENAGA HONORER EKS KATEGORI 2 (K-II) BERDASARKAN SKEMA PEGAWAI PEMERINTAH DENGAN PERJANJIAN KERJA (PPPK) DI KABUPATEN BANYUMASTenaga honorer menjadi salah satu masalah kepegawaian di berbagai daerah di Indonesia, tak terkecuali di Kabupaten Banyumas. Setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 kedudukan tenaga honorer tetap berkedudukan sebagai tenaga honorer, tidak semua tenaga honorer dapat diangkat menjadi CPNS berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2012 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi CPNS. Tenaga honorer yang saat ini menjadi permasalahan adalah bekas tenaga honorer jenis kedua. Dengan ini Pemerintah membuat suatu tindakan dengan merekrut tenaga honorer eks kategori 2 melalui Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja (PPPK), akibat dari tenaga honorer eks kategori 2 yang tidak bisa masuk melalui CPNS. Permasalahan yang dibahas adalah bagaimanakah kriteria dan prosedur yang digunakan di Kabupaten Banyumas dalam perekrutan tenaga honorer eks kategori 2 menjadi Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pendekatan Yuridis Normatif. Data yang digunakan adalah data sekunder. Data-data tersebut diperoleh dianalisis dan dijabarkan berdasarkan norma hukum yang berkaitan dengan objek penelitian. Analisis penelitian dilakukan dengan Normatif Kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pengangkatan tenaga honorer eks kategori 2 menjadi calon Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kabupaten Banyumas mempunyai 3 kriteria, yaitu kriteria perencanaan, kriteria perekrutan, dan kriteria pada pengangkatan. Dan prosedur pengangkatannya mempertimbangkan kriteria yang telah dibuat. Prosedur pengangkatan tenaga honorer eks kategori 2 menjadi pppk dilalui beberapa tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap pelamaran, tahap pendaftaran, tahap seleksi dan pengumuman seleksi serta tahap pengangkatan berupa penetapan. Di Kabupaten Banyumas, tahap yang dilakukan hanya sampai pengumuman seleksi, hal ini disebabkan pada sistem penganalisisan jabatan yang tidak sempurna yang dilakukan BKDD Banyumas sebelum melakukan perekrutan dan belum ada aturan mengenai skala gaji untuk PPPK.
Honorary worker became one of the staffing problem in some areas in Indonesian, even in Kabupaten Banyumas, after the establishment of Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014, the “Honorary Worker ” are positioned as “Honorary Worker”, not all honorary worker appointed as candidate for civil servants in accordance with Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2012 about Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi CPNS. Honorary worker this now become problem is honorary worker ex category 2. The goverment makes policy with recruiting honorary worker ex category 2 through non-ongoing employoee (PPPK) who can not enter CPNS. And then how the criteria used in Kabupaten Banyumas of honorary worker ex category 2 become non-ongoing employee (PPPK).
Metode used in this study is the normative judicial approach. The data use is secondary data. The data obtained were analyzed and elaborated based on legal norms relating to the object of research. And then the research analysis was done with qualitative normative.
Based on the results of the research was showed that appointment of honorary worker ex category 2 become candidate for non-ongoing emplyoee (PPPK) in Kabupaten Banyumas have three criteria, namely plan criteria, recruit criteria, and appoint criteria. And then appointment procedure considered the criteria that heve been made. The procedure for the appointment of honorary worker ex category 2 become PPPK go through several stages, namely the plan stage, apply stage, registraty stage, select stage, selection announcment and the appoint stage with determinaty. In Kabupaten Banyumas, the phase that was carried out only until the announcement of selection, this was due to the imperfect position analysis system carried out by BKDD Banyumas and there were no rules to accommodate salary scale for PPPK.
2387726998I1D015014PERBEDAAN TINGKAT ASUPAN DAN RIWAYAT PENYAKIT INFEKSI PADA BALITA STUNTING DAN NON STUNTINGABSTRAK
PERBEDAAN TINGKAT ASUPAN ENERGI, PROTEIN, ZINK, DAN RIWAYAT PENYAKIT INFEKSI PADA BALITA STUNTING DAN STUNTING DI PUSKESMAS I CILONGOK
Asma Karima, Dyah Umiyarni Purnamasari, Widya Ayu Kurnia Putri
Latar Belakang : Stunting pada balita merupakan masalah gizi kronis yang muncul akibat dari keadaan kurang gizi yang berlangsung cukup lama. Faktor penyebab langsung terjadinya stunting adalah kurang asupan zat gizi dan terjangkitnya penyakit infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat asupan energi, protein, zink, dan riwayat penyakit infeksi pada balita stunting dan non stunting di Wilayah Kerja Puskesmas I Cilongok.
Metodologi : Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan case-control study. Penentuan sampel studi kasus kontrol berpasangan dengan rasio 1:1 dengan jumlah sampel 22:22. Uji statistik univariat menggunakan distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji mann whitney.
Hasil Penelitian : Rata-rata tingkat asupan pada balita stunting adalah energi 77,11%, protein 117,01%, zink 96,79%, sedangkan pada balita non stunting adalah energi 84,24%%, protein 128,83%, zink 96,84%. Balita stunting yang mempunyai riwayat penyakit infeksi sebesar 72,7%, sedangkan balita non stunting sebesar 54,5%. Berdasarkan hasil analisis tidak adanya perbedaan tingkat asupan energi , protein, zink, dan riwayat penyakit infeksi pada kelompok balita stunting dan non stunting.
Kesimpulan : Tidak terbukti secara statistik adanya perbedaan tingkat asupan energi, protein, zink, dan riwayat penyakit infeksi pada balita stunting dan non stunting di Puskesmas 1 Cilongok.
Kata kunci : riwayat infeksi, stunting, tingkat kecukupan gizi
ABSTRACT
THE DIFFERENCE OF ENERGY, PROTEIN, ZINC ADEQUACY AND HISTORY INFECTIOUS DESEASE BETWEEN STUNTING AND NON STUNTING TODDLER AT I CILONGOK MEDICAL CENTRE
Asma Karima, Dyah Umiyarni Purnamasari, Widya Ayu Kurnia Putri
Background : Stunting of toddler is a chronic nutrional problems arising from malnutrition in a long period of time. Causative factor happen stunting is inadequacy number of nutrients and infectious desease. The study aims to analyze the difference of energy, protein, zinc adequacy and history infectious desease between stunting and non stunting toddler at I Cilongok medical centre.
Method of Research : The research was observational study with case-control study. Participant of the research were 22 stunted toddler and 22 non stunted toddler with ratio 1:1. Univariariate analyze use frequency distribution and bivariate analyze use mann whitney test.
Result : Average energy 77,11%, protein 117,01%, zinc 96,79% adequacy of stunting toddler and average energy 84,24%, protein 128,83%, zinc 96,84% adequacy of non stunting toddler. History infectious desease 72,7% of stunting toddler and 54,5% of non stunting toddler. As a result there was not any difference of energy, protein, zinc adequacy and history inflectious desease between stunting toddler and non stunting toddler.
Conclustion : There was not any difference of energy, protein, zinc adequacy and history infectious desease between stunting toddler and non stunting toddler at working area I Cilongok medical centre.
Key Word : history infectious desease, stunting, nutrient adequacy
2387828642K1C016038INTERPRETASI SEBARAN BATUAN ANDESIT DI DAERAH KARANGCEGAK BERDASARKAN DATA RESISTIVITAS KONFIGURASI WENNER-SCHLUMBERGERDesa Karangcegak, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga memiliki potensi batuan andesit yang tinggi. Batuan andesit telah ditambang secara tradisional oleh masyarakat sekitar namun pemanfaatannya masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran batuan andesit berdasarkan data resistivitas konfigurasi wenner-schlumberger. Pengambilan data resistivitas dilakukan pada empat lintasan dengan panjang masing-masing 195 meter. Posisi geografis titik pengukuran lintasan 1 (GL-01) berada pada 07°19’23,3”S 109°17’19,6”T, lintasan 2 (GL-02) berada pada 07°19’23,9”S 109°17’21’1”T, lintasan 3 (GL-03) 07°19’24,3”S 109°17’21,8”T, dan lintasan 4 (GL-04) pada 07°19’25,1”S 109°17’22,8”T. Pengolahan data dilakukan perhitungan data lapangan menggunakan Microsoft Excel. Hasil olah data tersebut disimpan dalam bentuk format Notepad sebagai data masukan saat melakukan pemodelan data resistivitas. Pemodelan data resistivitas secara 2D dan 3D dilakukan menggunakan RES2DINV 3.54 dan VOXLER 4.0. Struktur lapisan bawah permukaan pada keempat lintasan tersusun atas tiga lapisan batuan, yaitu lapisan breksi laharik dengan rentang nilai resistivitas 0 – 1.510 ohm.meter, lapisan batuan andesit lapuk sebesar 1.511 – 4.000 ohm.meter, dan lapisan batuan andesit fresh lebih dari 4.000 ohm.meter. Batuan andesit fresh ditemukan pada keempat lintasan pada kedalaman 0 – 36 meter. Potensi ini dapat dilihat dari analisis penampang 2D setiap lintasan dan pseudo 3D. Berdasarkan penelitian ini arah sebaran batuan andesit sesuai dengan arah aliran lava gunungapi Slamet, yaitu dari barat daya ke tenggara. Karangcegak Village, Kutasari District, Purbalingga Regency has high andesite rocks potential. Andesite rocks have been traditionally mined by the surrounding community but their use is still not optimal. This study aims to determine the distribution of andesite rocks based on the Wenner-Schlumberger array. Resistivity data retrieval is carried out on four lines with a lenght of 195 meters. The geographical position of measurement point line 1 (GL-01) at 07°19’23.3”S 109°17’19.6”E, line 2 (GL-02) at 07°19’23.9”S 109°17’21’1”E, line 3 (GL-03) at 07°19’24.3”S 109°17’21.8”E, and line 4 (GL-04) at 07°19’25.1”S 109°17’22.8”E. Data processing is performed field data calculations using Microsoft Excel. The results of the data processing are stored in Notepad format as input data when doing resistivity data modeling. Resistivity data modeling in 2D and 3D was done using RES2DINV 3.54 and VOXLER 4.0. The subsurface structure of the four lines is composed of three layers of rock, namely the laharic breccias with a resistivity range of 0 – 1.510 ohm.meters. The weathered andesite rock layers of 1.511 – 4.000 ohm.meters, and fresh andesite rock layers of more than 4.000 ohm.meters. The fresh andesite rocks are found on all four lines at depth of 0 – 36 meters. This potential can be seen from the 2D cross-sectional analysis of each path and pseudo 3D resistivity. Based on this study the direction of andesite rock distribution is in line with the direction of the Slamet Volcanic lava flow, from southwest to southeast.
2387926993D1A015019KONSUMSI DAN KOEFISIENSI CERNA BAHAN KERING PAKAN DOMBA LOKAL DIBERI PAKAN JERAMI PADI AMONIASI DAN KONSENTRAT YANG DISUPLEMENTASI TEPUNG DAUN WARU (Hibiscus tiliaceus)Penelitian bertujuan untuk mengetahui konsumsi dan koefisiensi cernabahan kering pakan domba lokal diberi pakan jerami padi amoniasi dan konsentrat yang disuplementasi tepung daun waru (Hibiscus tiliaceus). Materi yang digunakan untuk penelitian adalah domba lokal jantan. Domba tersebut diberi pakan konsentrat sebanyak 4% dari bobot hidup dan jerami padi amoniasi disediakan secara ad libitum. Penelitian dirancang menurut rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan yang diuji adalah level tepung daun waru 0%, 0,24%, dan 0,48% dari bahan kering konsentrat untuk W0, W1 dan W2 secara berturut-turut. Peubah yang diukur adalah konsumsi dan koefisien cerna bahan kering pakan menggunakan metode koleksi total. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penambahan level tepung daun waru pada konsentrat berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsumsi bahan kering namun tidak berpengaruh nyata (P>0,5) terhadap kecernaan bahan kering. Uji orthogonal polinomial menunjukkan peningkatan level tepung daun waru menyebabkan peningkatan konsumsi secara kuadratik (P<0,05) dengan konsumsi terendah pada dosis tepung daun waru 0,22%. Pemberian tepung daun waru tidak disarankan untuk memperbaiki konsumsi dan kecernaan bahan kering pakan domba lokal yang diberi jerami padi amoniasi dan konsentrat.The research was aimed to examine the effect of doses of waru (Hibiscus tiliaceus) leaf flour supplemented in concentrations on the consumption and digestibility of dry matter of local sheep fed ammoniated rice straw.Material used were local male sheep of two year old. The sheep were fed concentrate 4% base on body weight and ammoniated rice straw provided adlibitum. This research used completely random design (CDR). The treatments were level of Hisbiscus tiliaceus leaf meal 0%, 0.24%, and 0.48%, from concentratedry matter for W0, W1 and W2 respectively. The variable measured is the consumption and digestibility coefficient of dry matter using the total collection method.Variance analysis showed that supplemented of Hibiscus tiliaceus leaf meal toconcentrate had a significant effect (P <0.05) on dry matter consumption, but had no significant effect (P>0.05) on dry matter digestibility. Orthogonal polynomials test showed increasing level of Hibiscus tiliaceus leaf meal increased (P<0,05) dry matter consumption quadratically whit the lowest consumption achieved at 0.22% of hibiscus leaf flour dose. Leaf meal of Hibiscus tiliaceus was no recommended to improve to improve sonsumtion and digestiblity of dry matter diet local of rame sheep fed ammoniation rice straw and concentrate
2388028643I1A015031FAKTOR-FAKTORYANGBERPENGARUHTERHADAP
PERILAKUPENGGUNAANALATPELINDUNGDIRIPADA
PETANIPADIDIDESASUMBANGKECAMATANSUMBANG
KABUPATENBANYUMAS
ABSTRAK
FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PERILAKU
PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI PADA PETANI PADI DI DESA
SUMBANG KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS
Zahrotun Nisa Andriani1
, Setiyowati Rahardjo2
, Siti Harwanti3
Latar Belakang : Perilaku penggunaan APD dipengaruhi oleh usia, pendidikan,
penghasilan, lama kerja, status petani, pengetahuan, sikap, fasilitas APD, dan
peran rekan kerja. Tujuan penelitian untuk mengetahui apa saja faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap perilaku penggunaan APD pada petani padi di Desa
Sumbang, Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas.
Metode : Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Pengambilan Sampel dalam
penelitian menggunakan teknik Cluster Random Sampling dengan kriteria inklusi
dan eksklusi sebanyak 92 responden. Analisis data menggunakan analisis
univariat, bivariat dengan uji chi-square, dan multivariat dengan uji regresi
logistik ganda.
Hasil Penelitian : Hasil Analisis Multivariat menunjukkan variabel yang
berpengaruh dengan perilaku penggunaan APD adalah sikap (p=0.021), dan
fasilitas (p=0.000).
Simpulan : Ada pengaruh antara sikap, dan fasilitas terhadap perilaku
penggunaan APD pada petani padi di Desa Sumbang.
Saran : Petani dapat mengikuti penyuluhan tentang pentingnya penggunaan APD
pada petani, dan taat menggunakan APD dengan baik dan benar.
Kata Kunci : Petani Padi, Perilaku Penggunaan APD, Alat Pelindung Diri
ABSTRACT
Background:ThebehaviorofusingPPEisinfluencedbyage,education,
income,lengthofwork,farmerstatus,knowledge,attitude,PPEfacilities,
andtheroleofco-workers.Thepurposeofthisstudywastodetermine
whatfactorsinfluencedthebehavioroftheuseofPPEinricefarmersin
SumbangVillage,SumbangDistrict,BanyumasRegency.
Method:Themethodusedinthisresearchisquantitativeresearchwith
cross-sectionalapproach.ByusingthesampleinthisstudyusedaCluster
Random Samplingtechniquewithinclusionandexclusioncriteriaof92
respondents.Dataanalysisusingunivariateanalysis,bivariatewithchi
squaretest,andmultivariatewithmultiplelogisticregressiontests.
Results:Multivariate Analysis Results show thatthe variables that
influencethebehavioroftheuseofPPEareattitudes(p=0.021),and
facilities(p=0.000).
Conclusion:Thereisaninfluencebetweenattitudesandfacilitiesonthe
behavioroftheuseofPPEinricefarmersinSumbangVillage.
Suggestion:Farmerscantakepartincounselingabouttheimportanceof
usingPPEonfarmers,andobeyusingPPEproperly.
Keywords:Rice Farmers,PPE Usage Behavior,PersonalProtective
Equipment