Artikelilmiahs
Menampilkan 21.061-21.080 dari 50.148 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 21061 | 23991 | G1B014045 | ANALISIS PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI PUSKESMAS PEKUNCEN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2018 | Latar Belakang: Puskesmas merupakan salah satu fasilitas kesehatan tingkat pertama milik pemerintah yang diatur dalam undang-undang untuk melakukan pelayanan kesehatan jiwa. Namun pada kenyataannya kualitas pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia masih bervariasi. Puskesmas Pekuncen merupakan puskesmas dengan jumlah kunjungan gangguan jiwa tertinggi di Kabupaten Banyumas yaitu 200 kunjungan pada tahun 2017. Tingginya angka kunjungan menggambarkan tingginya kebutuhan pelayanan kesehatan jiwa di Puskesmas Pekuncen. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelayanan kesehatan jiwa yang dilaksanakan di Puskesmas Pekuncen Kabupaten Banyumas. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Informan utama penelitian ini adalah 5 orang petugas puskesmas dan informan tambahan adalah 1 orang petugas DKK dan 3 orang keluarga pasien. Analisis data menggunakan content analysis dengan pendekatan thematic network. Hasil Penelitian:Kesiapan Puskesmas Pekuncen melaksanakan integrasi UKM UKP layanan kesehatan jiwa belum berjalan optimal. Pada sektor UKM tujuan kegiatan kunjungan rumah sebagai upaya pendampingan kepatuhan minum obat belum dapat tercapai dan pada sektor UKP puskesmas sebatas melakukan rujukan, belum terlaksana program rujuk balik pasien schizopherenia. Kesimpulan: Layanan kesehatan jiwa di puskesmas terintegrasi antara UKM UKP dan Puskesmas Pekuncen telah merencanakan kegiatan sesuai SPM dan SOP namun pelaksanaan belum berjalan optimal. Kata Kunci:Layanan Kesehatan Jiwa, Integrasi UKM UKP, Kualitatif | Background: Public health center is one of health care facilities on basic level owned by government which regulated in constitution to provide mental health service. Nevertheless, in fact the quality of mental health services in indonesia is still vary. Public Health Center Pekuncen is a public health center that has the highest number of visit in Region Banyumas which is 200 visits on 2017. The high number of visit shows the high demand of mental health services in Public Health Center Pekuncen. This research aims to describe mental health services that held in Public Health Center Pekuncen Region Banyumas. Methodology: This research is qualitative descriptive research. The main informants in this research are 5 staffs of public health center and the additional informants are 1 staff of district health office and 3 people of patient’s family. The data is analyzed using contet analysis with thematic work approach. Research’s Result: The readiness of Public Health Center Pekuncen in doing integration on public and individual health efforts of mental health services is not going optimally yet. On the sector public health efforts, the purpose of home visit activity as the effort of medicine consumption accompaniment has not achieved whereas on the sector individual health efforts, public health center only gives reference and the refer back program on schizopherenia patients has not implemented. Conclusion: Mental health services in Public Health Center has integrated with public and individual health efforts and Public Health Center Pekuncen has planned the activities based on minimal service standards and SOP even though the implementation is not going optimally yet. Key words: Mental health services, Integration of public and individual health efforts, qualitative. | |
| 21062 | 24277 | F1C014018 | Wacana Transgender Dalam Serial Animasi "Wandering Son" | Film merupakan salah satu media komunikasi massa yang banyak digunakan oleh orang untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat lain secara luas. Film banyak digunakan sebagai media komunikasi massa karena film mencakup aspek audio dan visual yang membuatnya lebih menarik. Berbicara mengenai film, bukan hanya film live action saja namun juga animasi pasti tidak akan lepas dengan apa yang terdapat di dalamnya seperti wacana. Seperti salah satu serial animasi Jepang berjudul Wandering Son, memiliki tema yang tidak biasa dari kebanyakan animasi yang ada. Peneliti memilih serial animasi Wandering Son karena serial animasi ini berisi mengenai kisah dua orang anak laki-laki dan perempuan yang merupakan transgender. Mereka berdua merasa tidak nyaman dengan gender biologis mereka. Serial animasi tersebut juga akan dikaitkan dengan teori queer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan paradigma kritis. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis wacana menurut Sara Mills. Analisis wacana Sara Mills ini menggunakan posisi subjek-objek dan pembaca untuk menjelaskan wacana transgender yang terdapat dalam serial animasi Wandering Son. Wacana transgender yang ditampilkan melalui posisi subjek-objek dan pembaca menjelaskan transgender yang diperlakukan tidak adil. Shuichi dan Yoshino yang merupakan karakter utama dalam serial animasi ini memperlihatkan kesulitan mereka untuk mengekspresikan diri mereka seperti yang mereka inginkan. Konstruksi sosial yang telah berkembang di masyarakat telah mengatur setiap orang untuk berperilaku sebagaimana konstruksi sosial yang telah dibuat. Hal tersebut yang membuat transgender berada pada posisi yang termarjinalkan. | Film is one of mass media which used by a lot of people to tell message to other people widely. Film were used as mass media communication because film contain audio and visual aspect which make it’s interesting. Talking about film, we can’t skip anything inside it, such as discourse. There are many film that contain a lot of different idea inside it. Just like one of the Japanese serial animation titled “Wandering Son” which contain different theme from any other animation. Researcher choose the serial animation “Wandering Son” because this serial tell a story about a boy and a girl which is a transgender. They are not comfortable with their biologic gender. The serial would be compared with queer theory. This research used qualitative method and critical paradigm. Data analysis which used ini this research is critical discourse analysis Sara Mills. Sara Mills’s critical discourse used subject-object position dan reader position to describe transgender discourse in serial animation “Wandering Son”. Transgender discourse which shown by subject-object position and reader position describe transgender which get unfair treatment from the others. Shuichi and Yoshino which is the main character in this serial show their difficulties to express their self in their way. Social construction that have been there in the society have already decided that every people must act how the social construction that have been made. That social contrustion made transgender stand in the legitimate position. | |
| 21063 | 23956 | G1G013019 | Perbedaan Kebocoran Celah Mikro Antara Pasak Glass Fiber Diameter 1,0 milimeter dan Dinding Saluran Akar pada diameter 1,2;1,3;1,4 milimeter dengan penambahan semen resin komposit. | INTISARI Pasak glass fiber menjadi pilihan sebagai bahan restorasi gigi pasca perawatan saluran akar karena estetik dan modulus elastisitas hampir menyerupai dentin. Retensi pasak glass fiber ke dalam saluran akar dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain semen resin komposit. Polimerisasi semen resin yang sering terjadi adalah pengerutan sehingga menimbulkan celah mikro antara pasak glass fiber dengan dinding saluran akar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kebocoran celah mikro antara pasak glass fiberdiameter 1,0 milimeter dan dinding saluran akar pada diameter 1,2; 1,3; 1,4 milimeter dengan penambahan semen resin komposit. Subjek penelitian ini adalah 24 gigi premolar pertama rahang bawah, teknik pengelompokan sampel dilakukan dengan carasimple random sampling. Sampel penelitian terbagi menjadi 3 kelompok berdasarkan diameter saluran akar, yaitu kelompok I merupakan kelompok pasak glass fiber berdiameter 1,0 mm terhadap diameter saluran akar 1,2 mm, Kelompok II merupakan pasak glass fiber berdiameter 1,0 mm terhadap diameter saluran akar 1,3 mm, dan kelompok III merupakan kelompok pasak glass fiber berdiameter 1,0 mm terhadap diameter saluran akar 1,4 mmdengan penambahan semen resin komposit yang diaplikasikan pada masing-masing kelompok sebagai semen luting. Pengujian kebocoran celah mikro menggunakan stereomikroskop perbesaran 20x. Hasil yang diperoleh kemudian dianalisis secara statistik menggunakan ujiKruskal-Wallis menunjukkan adanya efek peningkatan diameter saluran akar terhadap tingkat kebocoran celah mikro (p≤0,05). Tingkat kebocoran celah mikro terkecil hingga terbesar, yaitu pada kelompok I dengan total skor 2, kelompok II dengan total skor 9, dan kelompok III dengan total skor 26. Terdapat perbedaan bermakna antara kelompok I, II, dan III. Simpulan penelitian ini adalah memiliki tingkat kebocoran yang berbeda setiap kelompok | Glass fiber post is common used as post endodontic tooth restoration because it has similar aesthetic and modulus of elasticity as dentin. Resin cements recently used for cementation of glass fiber post. Glass fiber post retention in root canal is affected by several factors, one of them is resin cementation. Shrinkage during polymerization of resin cements can cause microleakage between glass fiber post and root canal walls. This study aimed to evaluate the differences of micro-leakage between glass fiber post diameter 1.0 milimeters and root canal wall diameters 1.2, 1.3, 1.4 milimeters with resin composite cement addition. Total samples of 24 mandibular first premolar were divided into 3 experimental groups based on root canal diameter. Group I: glass fiber post diameter 1,0 mm in root canal diameter of 1,2 mm, group II: glass fiber post diameter of 1,0 mm in root canal diameter of 1,3 mm, and group III: glass fiber post diameter of 1,0 mm in root canal diameter of 1,4 mm.composite resin cement was applied in each groups as luting cement. Microleakage was evaluated using a fluid filtration method under stereomicroscope (20x magniication). Data were statistically analyzed using the Kruskal-Wallis test (p≤0.05) to evalute the increase of root canal diameters with microleakage level. The microleakage level in order from the smallest are group I (total score: 2), group II (total score: 9), and group III (total score: 26). There was significant difference between the groups. All experimental groups demonstrated a significant increase of microleakage over root canal diameter. | |
| 21064 | 23957 | G1G012006 | STUDI KOMPARASI KEPUASAN PASIEN UNIT PELAYANAN UMUM RSGM UNSOED DAN POLIKLINIK GIGI PMI ADYAKSA KABUPATEN BANYUMAS DENGAN PENDEKATAN DENTAL SATISFACTION QUESTIONNAIRE (DSQ | Kepuasan pasien merupakan ukuran kualitas pelayanan kesehatan dan salah satu faktor utama yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan serta berkontribusi terhadap kepatuhan pasien yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan hasil klinis. Kepuasan pasien dapat dikaji dengan instrumen kepuasan gigi yaitu Dental Satisfaction Questionnaire (DSQ) dengan dimensi Quality, Total Access, dan Pain Management. Tujuan penelitian ini adalah mendeskrpsikan tingkat kepuasan pasien dan membandingkan tingkat kepuasan pasien yang menerima pelayanan kesehatan gigi di Unit Pelayanan Umum (UPU) RSGM Unsoed dan Poliklinik Gigi PMI Adyaksa Banyumas. Jenis Penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik accidental. Sampel berjumlah 110 responden, 55 responden di UPU RSGM Unsoed dan 55 responden Poliklinik Gigi PMI Adyaksa. Sampel pada penelitian ini minimal 2 kali menerima perawatan. Data dianalisis menggunakan Mann-Whitney dengan bantuan SPSS19.0. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan kepuasan pasien di UPU RSGM Unsoed dan Poliklinik Gigi PMI Adyaksa (p=0,002). Simpulan penelitian dari penelitian ini adalah ada perbedaan kepuasan pasien di UPU RSGM Unsoed dan Poliklinik Gigi PMI Adyaksa Kabupaten Banyumas. | Patient satisfaction is a measure of the quality of health services and one of the main factor influencing the utilization of health services and contributing to better patient compliance so as to improve clinical outcomes. Patient satisfaction can be assessed with the instrument of dental satisfaction, named the Dental Satisfaction Questionnaire (DSQ) with the dimensions of Quality, Total Access, and Pain Management. The purpose of this study was to describe the level of patient satisfaction and compare patient satisfaction level who received dental health services at general service unit (UPU) in Dental Hospital of Jenderal Soedirman University (RSGM Unsoed) and dental polyclinic of PMI Adyaksa Banyumas. This research was analytical observation with cross sectional approach. Samples were selected using accidental technique. This research used 110 samples consisted of 55 respondents at UPU in RSGM Unsoed and 55 respondents in PMI Adyaksa dental polyclinic. The respondents had visited for dental treatment at least 2 times. Data were analyzed using Mann-Whitney with the help of SPSS19.0. There was a significant difference in patient satisfaction at UPU in RSGM Unsoed and PMI Adyaksa dental polyclinic (p = 0,002). The conclusion of the study, there was a significant difference between patient satisfaction in UPU of RSGM Unsoed and dental polyclinic of PMI Adyaksa in Banyumas regency. | |
| 21065 | 23958 | B1J014046 | ANALISIS DIMORFISME SEKSUAL IKAN AMPING (Alepes kleinii Bloch, 1793) BERDASARKAN MORFOLOGI | Ikan Amping (Alepes kleinii Bloch, 1793) termasuk anggota Familia Carangidae, sebagian besar anggota familia ini adalah ikan konsumsi masyarakat Indonesia dengan harga yang relatif terjangkau. Ikan amping (Alepes kleinii Bloch, 1793) merupakan salah satu spesies ikan pelagis yang didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pelabuhan Perikanan Samudra Cilacap (PPSC) Kabupaten Cilacap. Ikan amping tidak memiliki dimorfisme seksual, oleh karena itu diperlukan karakterisasi guna membedakan ikan amping jantan dan betina yaitu dari aspek taksonomik yang meliputi performa morfologi, morfometrik dengan teknik truss morphometrics dan karakter meristik. Beberapa spesies ikan yang pernah diteliti terbukti mampu membedakan ikan jantan dan betina, sehingga teknik tersebut diduga dapat diterapkan pula pada ikan amping. Informasi tentang pembedaan ikan jantan dan betina pada ikan amping dapat dijadikan sebagai dasar untuk konservasi mengingat ikan amping banyak ditangkap untuk keperluan konsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa morfologi, truss morphometrics dan karakter meristik yang dapat digunakan untuk membedakan antara ikan jantan dan betina pada ikan amping. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey. Sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling. Sampel ikan amping diperoleh dari TPI PPSC Kabupaten Cilacap, sebanyak 60 ekor. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan bahwa performa morfologi ikan amping jantan dan betina adalah sama, yaitu bentuk tubuh pipih bilateral, mulut dapat disembulkan dan posisi mulut terminal, sirip caudal bercagak, tipe sisik cycloid dan tipe gigi conical serta karakter truss morphometrics pada jarak pangkal rahang bawah sampai ujung depan moncong ikan amping betina lebih panjang daripada ikan amping jantan. | Amping fish (Alepes kleinii Bloch, 1793) is a member of the Familia Carangidae, most of the family members are Indonesian fish consumption at a relatively affordable price. Amping fish (Alepes kleinii Bloch, 1793) is one of the pelagic fish species landed at the Fish Auction Place (TPI) of the Cilacap Ocean Fishery Port (PPSC) in Cilacap Regency. Amping fish do not have sexual dimorphism, therefore male and female amping characterization is needed, by taxonomic aspect that contain morphological performance, morphometrics with the truss morphometrics technique and meristic characters. Some fish species that have been studied proven to distinguish male and female fish, so this technique can be used in amping fish. Information about the differentiation of male and female fish in fish can be used as a basis for fish conservation. This study aims to determine whether morphological performance, truss morphometric and meristic characters can be used to distinguish between male and female of amping fish. The research method used in this research is survey method. Using purposive sampling technique. The amping fish samples were obtained from TPI PPSC Cilacap Regency, as many as 60 heads. Based on the results of research that has been done, it can be argued that the morphological performance of male and female amping fish are same, they are bilateral flat body shape, mouth can be projected and terminal mouth position, caudal fin tempered, cycloid scales type and conical tooth type and truss morphometric characters at the base of the lower jaw to the front end of the snout of female amping fish longer than male amping fish. | |
| 21066 | 23959 | C1C013096 | Pengaruh Pajak, Tunneling Incentive, dan Debt Covenant terhadap Keputusan Perusahaan Melakukan Transfer Pricing (Studi pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2013-2016) | Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pajak, tunneling incentive, dan debt covenant terhadap keputusan transfer pricing pada perusahaan manufaktur terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2016. Populasi dalam penelitian ini adalah 134 perusahaan manufatur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Teknik purposive sampling digunakan dalam penelitian ini dengan jumlah 24 perusahaan manufatur periode 2013-2016. Data penelitian berupa data sekunder yang diperoleh dengan menggunakan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pajak berpengaruh positif terhadap keputusan transfer pricing perusahaan manufaktur. Tunneling Incentive berpengaruh positif terhadap keputusan transfer pricing perusahaan manufaktur. Debt Covenant tidak berpengaruh terhadap keputusan transfer pricing perusahaan manufaktur. Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa pajak dan tunneling incentive berpengaruh positif, sedangkan debt covenant tidak berpengaruh terhadap keputusan transfer pricing perusahaan manufaktur. Implikasi penelitian ini adalah dapat dilihat dengan semakin besar tarif pajak yang dibayar perusahaan maka semakin besar kemungkinan perusahaan melakukan transfer pricing. Selain itu, semakin besar kepemilikan perusahaan oleh asing yang membuat terjadinya tunneling incentive, maka semakin besar pula kemungkinan perusahaan melakukan transfer pricing. Sedangkan debt covenant tidak berpengaruh terhadap keputusan perusahaan melakukan transfer pricing disebabkan karena semakin tinggi debt covenant membuat perusahaan semakin diawasi ketat oleh pihak kreditor atau perbankan, sehingga transfer pricing semakin sulit dilakukan. Kata kunci : Pajak, Tunneling Incentive, Debt Covenant, Transfer Pricing. | ABSTRACT This study aims to examine the effects of taxes, incentive tunneling, and debt covenant on transfer pricing decisions on manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange period 2013-2016. The population in this study is 134 manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange. The purposive sampling technique is used in this research with the number of 24 manufacturing companies period 2013-2016. The research data is secondary data obtained by using documentation. Data analysis technique used is logistic regression analysis. The results of this study indicate that the tax positively affects the transfer decision pricing of manufacturing companies. Tunneling Incentive positively affects the transfer pricing decision of manufacturing companies. Debt Covenant has no effect on transfer pricing decision of manufacturing company. The results of this study provide information that the tax and tunneling incentive have a positive effect, while the debt covenant does not affect the transfer pricing decision of manufacturing companies. The implication of this research is that it can be seen by the greater tax rate paid by the company, the more likely the company to transfer pricing. In addition, the greater the foreign ownership of firms that create the incentive tunneling, the greater the likelihood of the company transferring pricing. While the debt covenant does not affect the company's decision to transfer pricing due to the higher debt covenant, While the debt covenant does not affect the company's decision to transfer pricing due to the higher debt covenant will make the company strictly monitorized by creditor or banking, make it difficult to do transfer pricing. Keywords: Tax, Tunneling Incentive, Debt Covenant, Transfer Pricing. | |
| 21067 | 23962 | B1J014009 | Efisiensi Pakan, Retensi Energi, dan Aktivitas Pepsin Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Yang Diberi Pakan Maggot Black Soldier Fly Dengan Level Berbeda | Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) merupakan ikan karnivora yang kini dapat dikondisikan menjadi ikan omnivora. Ikan lele membutuhkan pakan yang kaya akan nutrisi untuk menunjang pertumbuhannya. Maggot Black Soldier Fly diketahui telah berhasil meningkatkan laju pertumbuhan pada beberapa ikan, namun pada ikan lele belum diteliti bagaimana pengaruhnya terhadap efisiensi pakan, retensi energi, dan aktivitas enzimnya terutama pepsin. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui efisiensi pakan, retensi energi, dan aktivitas pepsin pada ikan lele dumbo yang diberi pakan maggot Black Soldier Fly dengan level berbeda dan mengetahui level terbaik terbaik dalam pemberian pakan maggot yang menghasilkan nilai efisiensi pakan, retensi energi, dan aktivitas pepsin yang optimal pada ikan lele dumbo. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan pemberian level pakan (3, 6, 9%) dari berat biomassa ikan dan setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pakan maggot dengan level berbeda tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap efisiensi pakan, retensi energi, dan aktivitas pepsin ikan lele dumbo. Semua parameter menunjukkan hasil yang sama. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan nilai efisiensi pakan, retensi energi, dan aktivitas pepsin tidak meningkat setelah pemberian pakan maggot dengan level berbeda. Efisiensi pakan dan retensi energi optimum didapat pada pemberian pakan maggot level 6%, dan aktivitas pepsin optimum didapat pada pemberian pakan maggot level 3%. | African catfish (Clarias gariepinus) is a carnivorous fish that can now be conditioned into omnivorous fish. Catfish need a feed that is rich in nutrients to support its growth. Maggot Black Soldier Fly is known to have succeeded in increasing the growth rate in some fish, but in catfish, it has not been investigated how it affects feed efficiency, energy retention, and enzyme activity, especially pepsin. This study was conducted with the aim to determine feed efficiency, energy retention, and pepsin activity in African catfish fed maggot Black Soldier Fly with different levels and to know the best best level in maggot feeding which resulted in feed efficiency, retention energy, and pepsin activity which is optimal in African catfish.The study was conducted experimentally using a completely randomized design (CRD) with 3 treatments giving feed levels (3, 6, 9%) from the weight of fish biomass and each treatment was repeated 4 times. The results showed that maggot feeding with different levels did not have a significant effect (P> 0.05) on feed efficiency, energy retention, and pepsin activity in African catfish. All parameters show the same results. Based on the results of the study it can be concluded that the values of feed efficiency, energy retention, and pepsin activity did not increase after feeding maggot with different levels. Feed efficiency and optimum energy retention were obtained at maggot feed level 6%, and optimum pepsin activity was obtained by feeding maggot level 3%. | |
| 21068 | 25805 | A1D015185 | KARAKTER FISIOLOGI, KOMPONEN HASIL DAN HASIL LIMA VARIETAS PADI DENGAN TEKNIK PENANAMAN YANG BERBEDA | Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui perbedaan karakter fisiologi lima varietas padi yang ditanam dengan teknik penanaman jarwo dan jarwo super, 2) mengetahui perbedaan komponen hasil dan hasil lima varietas padi yang ditanam dengan teknik penanaman jarwo dan jarwo super dan 3) mengetahui interaksi varietas dengan teknik penanaman pada karakter fisiologi, komponen hasil dan hasil tanaman padi. Penelitian dilaksanakan di Desa Sumilir, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga. Analisis pertumbuhan dan fisiologi tanaman di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Universitas Jenderal Soedirman pada bulan Desember 2018 – Mei 2019. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) penataan split-plot dengan dua faktor. Faktor pertama adalah teknik penanaman yang disimbolkan dengan huruf “T”. Faktor T sebagai main plot terdiri dari 2 taraf yaitu T1 (teknik penanaman jajar legowo) dan T2 (teknik penanaman jajar legowo super). Faktor kedua yaitu penggunaan varietas yang disimbolkan dengan huruf “V”. Faktor V sebagai sub plot terdiri dari 5 taraf yaitu V1 (Varietas Inpago Unsoed-1), V2 (Varietas Inpari-32), V3 (Varietas Logawa), V4 (Varietas Mugibat) dan V5 (Varietas Parimas). Penelitian ini memiliki 10 kombinasi perlakuan dengan 4 kali ulangan, sehingga terdapat 40 petak percobaan. Variabel pengamatan yang diamati terdiri dari dua kelompok yaitu variabel pengamatan karakter fisiologi dan variabel pangamatan komponen hasil dan hasil. Variabel pengamatan fisiologi terdiri dari luas daun, bobot kering tanaman, LPT, LPR dan LAB. Variabel pengamatan komponen hasil dan hasil terdiri dari tinggi tanaman, bobot gabah per rumpun, bobot biji per malai, jumlah anakan produktif, bobot 1000 biji, jumlah malai dan bobot gabah per petak efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas mempengaruhi luas daun pada karakter fisiologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas mempengaruhi tinggi tanaman, jumlah anakan, bobot 1000 biji, bobot gabah per rumpun, bobot biji per malai dan bobot gabah per petak efektif pada karakter komponen hasil dan hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi teknik penanaman dengan varietas pada tinggi tanaman dan bobot biji per malai. | This research aimed to: 1) for studying the difference the physiological characteristics of five rice variety planted with jarwo and jarwo super planting techniques, 2) for studying the different yield components and yield of five rice variety grown with jarwo and jarwo super planting techniques and 3) for finding out variety with techniques planting on physiological characters, yield components and yields of rice plants. The study was conducted in Sumilir Village, Kemangkon District, Purbalingga Regency. Analysis of plant growth and physiology at the Agronomy and Horticulture Laboratory, Jenderal Sudirman University in December 2018 - May 2019. The experimental design used was a Complete Randomized Block Design (RAKL) of split-plot arrangement with two factors. The first factor is the modeling technique symbolized by the letter "T". The T factor as the main plot consists of 2 levels, namely T1 (legowo jajar planting technique) and T2 (jajar legowo super planting technique). The second factor is the use of variety symbolized by the letter "V". Factor V as a sub plot consists of 5 levels, namely V1 (Inpago Unsoed-1 variety), V2 (Inpari-32 variety), V3 (Logawa variety), V4 (Mugibat variety) and V5 (Parimas variety). This study has 10 combination settings with 4 replications, so it takes 40 trials. Observation variables consisting of two groups, namely the observation variable physiological characters and the variables of the components of yield and yield. Physiological observation variables consist of leaf area, plant dry weight, LPT, LPR and LAB. The observation variables of yield and yield components consisted of tall plants, grain weight per clump, seed weight per panicle, number of productive tillers, 1000 seed weights, number of panicles and effective grain weight per plot. The results showed that varieties affected leaf area on physiological characters. The results showed that the varieties affected plant height, number of tillers, 1000 seed weights, grain weight per clump, seed weight per panicle and grain weight per plot was effective on the character of the yield components and yield. The results showed that there were interactions with planting techniques with varieties on plant height and seed weight per panicle. | |
| 21069 | 23960 | B1J014094 | Keanekaragaman Spesies Reptil Subordo Serpentes Di Kebun Raya Baturraden, Jawa Tengah | Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman spesies anggota Classis Reptilia yang tinggi. Salah satu anggota dari Classis Reptilia adalah Ordo Squamata yang terdiri atas dua subordo yaitu Lacertilia dan Serpentes. Serpentes merupakan kelompok ular yang dicirikan dengan tubuh tidak berkaki, tidak memiliki lubang telinga, namun memiliki reseptor kimia pada organ perasa (organ Jacobson) yang sangat sensitif. Beberapa spesies ular memiliki organ penangkap pancaran panas. Data keanekaragaman Serpentes di kawasan Pulau Jawa masih sedikit, terutama di kawasan lereng selatan Gunung Slamet yang didalamnya terdapat Kebun Raya Baturraden, Jawa Tengah. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel Visual Encounter Survey (VES). Pengambilan sampel dilakukan di kawasan kebun raya yang sudah tertata (taman tematik) dan belum tertata, menggunakan bantuan transek sepanjang 1 km dan time search selama 3 jam pada pagi dan malam hari. Identifikasi sampel ular dilakukan dengan membuat deskripsi morfologi, penghitungan meristik sisik ular, dan pengukuran karakter morfometrik. Preservasi sampel ular menggunakan alkohol 70%. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan data awal mengenai keanekaragaman Serpentes di Kebun Raya Baturraden, sebagai dasar untuk kajian ilmiah dan konservasi di kawasan Banyumas. Ular yang ditemukan berjumlah lima spesies dari tiga familia yaitu dari Colubridae, Elapidae, dan Viperidae. Spesies ular anggota Colubridae yang ditemukan adalah Ahaetulla prasina, Boiga nigriceps, dan Boiga jaspidea, sementara ular anggota Elapidae yang ditemukan adalah Calliophis intestinalis, sedangkan ular anggota Viperidae yang ditemukan adalah Trimeresurus puniceus. Ahaetulla prasina, Boiga nigriceps, dan Calliophis intestinalis ditemukan di area tematik, sedangkan Boiga jaspidea dan Trimeresurus puniceus ditemukan di area non tematik. | Indonesia is a country with a high diversity of Classis Reptilia members. One of the Classis Reptilia members is the Ordo Squamata consisting of two Subordines, Lacertilia and Serpentes. Serpentes is a group of snake, characterized by a legless body, has no ear holes, has chemical receptors on the taste organs (Jacobson organs) that are very sensitive to air substances. Some species have heat-emitting capture organs. There are only a few data of snake diversity in Java, especially in the southern slope of Mount Slamet, Baturraden Botanical Garden, Central Java. This study aims to determine the diversity of snake species in the Baturraden Botanical Garden. This research was conducted using a survey method with Visual Encounter Survey (VES) sampling technique. Sampling was carried out in the area of the botanical garden that has been arranged (thematic park) and has not been arranged, using 1km in length transects and timed search for 3 hours in the morning and evening. Identification was carried out by making morphological descriptions, meristic calculations of snake scales, and measurements of morphometric characters. Preservation of snake samples using 70% alcohol. This research is expected to be able to provide preliminary data for snake in the Baturraden Botanical Gardens, as a basis for scientific studies and conservation in the Banyumas region. There are five snake species found in this research, they are from three families (Colubridae, Elapidae, and Viperidae). The Colubridae members were Ahaetulla prasina, Boiga nigriceps, and Boiga jaspidea, while Elapidae member found was Calliophis intestinalis, while the Viperidae member found was Trimeresurus puniceus. Ahaetulla prasina, Boiga nigriceps, and Calliophis intestinalis are found in thematic areas, while Boiga jaspidea and Trimeresurus puniceus are found in non-thematic areas. | |
| 21070 | 23961 | B1J014112 | DIFERENSIAL LEUKOSIT IKAN KATING (Mystus gulio Hamilton, 1822) YANG BERASAL DARI KALI BRUGSANTA BANYUMAS DAN KALI BODO CILACAP | Mystus gulio termasuk dalam famili Bagridae yang memiliki kemampuan untuk hidup di berbagai kondisi lingkungan perairan, termasuk pada salinitas air yang berbeda sehingga disebut ikan eurihalin. Perbedaan kondisi perairan menjadi faktor yang mempengaruhi ikan untuk mampu beradaptasi terhadap lingkungannya. Kondisi lingkungan (meliputi bahan kimia, patogen, nutrisi, suhu, DO, salinitas, dan pH) apabila terjadi perubahan mempengaruhi kesehatan dan tingkat stres yang memacu respon imun ikan. Perubahan jumlah leukosit menjadi salah satu komponen untuk menentukan kesehatan ikan. Diferensial leukosit merupakan salah satu aspek dalam menentukan status kesehatan pada ikan. Leukosit merupakan salah satu komponen pertahanan dari serangan penyakit yang masuk ke dalam tubuh ikan. Perhitungan diferensial leukosit dalam penelitian ini meliputi neutrofil, monosit, eosinofil dan limfosit. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan persentase diferensial leukosit ikan kating (M. gulio) yang diperoleh dari Kali Brugsanta Banyumas dan Kali Bodo Cilacap. Hasil pengamatan diferensial leukosit ikan kating yang diperoleh dari Kali Brugsanta, Banyumas tidak berbeda secara signifikan (P<0,05) dengan diferensial leukosit ikan kating di Kali Bodo, Cilacap. Persentase limfosit ikan kating dari Kali Brugsanta, Banyumas dan Kali Bodo, Cilacap masing-masing sebesar 67,96±2,81% dan 69,05±3,42%, persentase monosit 25,91±2,79% dan 25,18±3,38, persentase neutrofil 5,75±1,13% dan 5,32±1,11%, serta persentase eosinofil sebesar 0,38±0,49% dan 0,45±0,49%. | Mystus gulio belongs to the Bagridae family which has the ability to live in various environmental conditions, including in water that is different salinity called eurihalin fish. Differences in conditions are factors that influence fish to be able to adapt to their environment. Environmental conditions (including chemicals, pathogens, nutrition, temperature, DO, salinity and pH) improved health and stress levels that spur fish immune responses. Changes in the number of leukocytes is one component to determine the health of fish. Differential leukocytes is one factor in determining the health status of fish. Leukocytes are one component of an attack that enters the body of the fish. The effect of differential leukocytes in this study includes neutrophils, monocytes, eosinophils and lymphocytes. This study aims to determine the status leukocytes of kating fish (M. gulio) originating from the Brugsanta Banyumas River and Cilacap Bodo River. The observation of kating fish leukocytes originating from Brugsanta River, Banyumas didn’t different significantly (P <0.05) with differential leukocytes fish at Bodo River, Cilacap. The percentage of kating lymphocytes from Brugsanta, Banyumas and Kali Bodo, Cilacap were 67.96 ± 2.81% and 69.05 ± 3.42%, the percentage of monocytes 25.91 ± 2.79% and 25.18 ± 3.38%, neutrophil percentage 5.75 ± 1.13% and 5.32 ± 1.11%, and the percentage of eosinophils was 0.38 ± 0.49% and 0.45 ± 0.49%. | |
| 21071 | 23941 | F1G012049 | ANALISIS STRUKTUR NOVEL BUKAN ISTRI PILIHAN KARYA MARIA A. SARDJONO | Skripsi ini berjudul “Analisis Struktur Novel Bukan Istri Pilihan Karya Maria A. Sardjono”. Skripsi ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur intrinsik novel Bukan Istri Pilihan karya Maria A. Sardjono serta mengaitkan unsur-unsur tersebut. Penelitian ini menggunakan tinjauan struktur yang terdiri dari alur, tokoh dan penokohan, latar atau setting, tema, amanat, dan sudut pandang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis, dengan difokuskan mendeskripsikan unsur intrinsik novel Bukan Istri Pilihan karya Maria A. Sardjono. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah membaca keseluruhan isi novel dan memahami isi novel, kemudian mencatat data-data yang penting dan mengklasifikasikan data tersebut sesuai dengan rumusan masalah berdasarkan novel yang ada. Hasil yang diperoleh adalah menggunakan alur campuran, tokoh utamanya bernama Ratih dan ada 18 tokoh tambahan. Latar yang digunakan adalah latar tempat, waktu, dan sosial. Tema yang terkandung dalam novel tersebut adalah 1 tema mayor dan 6 tema minor. Amanat yang terkandung dalam novel ini cukup banyak, salah satunya adalah laki-laki harus memiliki sikap ksatria, jujur, dan bertanggung jawab. Sudut pandang yang digunakan oleh pengarang adalah sudut pandang diaan mahatahu. Hubungan antarunsurnya yaitu hubungan tema dengan tokoh, tema dengan latar, tema dengan alur, dan tema dengan amanat serta tokoh. | The research titled “Analisis Struktur Novel Bukan Istri Pilihan Karya Maria A. Sardjono”. The aim of the research is describe intrinsic element in Bukan Istri Pilihan novel by Maria A. Sardjono and to connect them. The research used structural perspective to analize intrinsic element include plot, characters and characterizations, setting, theme, moral values, and point of view. The research used descriptive analysis method, wich is focused on describe intrinsic element in Bukan Istri Pilihan novel by Maria A. Sardjono. The technique of data collecting that used in this research is reading and understanding the content of the novel, and then writing the important data and classifiying the data that is appropriate with the research question based on existing novel structure. The results are using mixed plot, the main character is Ranti and there are 18 support characters. The setting used in the novel are place, time, and social. Theme in this novel are 1 major theme and 6 minor theme. Moral value in this novel is man must have good attitude as knight, honest, and to be responsible. Point of view used third person omniscient. Relation between elements in Bukan Istri Pilihan novel is relation between elements of themes with characters, themes with setting, themes with plot, and themes with moral of values and characters. | |
| 21072 | 23980 | A1L113018 | KAJIAN STATUS UNSUR HARA NITROGEN DI LAHAN KERING YANG DIGUNAKAN UNTUK BUDIDAYA TANAMAN CABAI (Capsicum annuum L.) DI KECAMATAN SUMBANG, KABUPATEN BANYUMAS. | Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui status unsur hara N dan distibusinya di lahan kering yang digunakan untuk budidaya cabai (Capsicum annuum L.) (2) menentukan rekomendasi pemupukan N untuk budidaya cabai (Capsicum annuum L.) di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas dan (3) mengetahui hubungan antar variabel penelitian dan menentukan kebutuhan unsur hara N untuk tanaman cabai di lokasi penelitian agar hasil optimal. Penelitian ini dilaksanakan melalui survei tanah pada lahan kering di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas yang dilanjutkan dengan analisis tanah di Laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah purposive random sampling dan pengambilan sampel dilakukan secara komposit. Pembuatan peta Satuan Lahan homogen (SLH) digunakan untuk menentukan lokasi pengamatan. Variabel yang diamati yaitu pH H2O, pH KCl, Daya Hantar Listrik (DHL) dan N-total tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status unsur hara N di lokasi penelitian termasuk ke dalam harkat rendah sampai tinggi, yaitu pada SLH 1 harkat rendah, SLH 2 harkat sedang, SLH 3 harkat sedang, SLH 4 harkat tinggi dan SLH 5 harkat tinggi. Hubungan korelasi antar variabel sifat kimia tanah kedalaman 0-25 cm, 25-50 cm, dan 0-50 cm menunjukkan bahwa N-total mempunyai hubungan paling tinggi dengan hasil tanaman, yaitu sebesar 0,6246; 0,5374 dan 0, 5931. Dosis pemupukan yang direkomendasikan untuk meningkatkan N-total tanah di lokasi penelitian, yaitu pada SLH 1 adalah sebesar 282,1 kg N/ha atau setara dengan 613,0 kg Urea/ha atau setara dengan 1.343 ZA/ha dan SLH 2 sebesar 185,6 kg N/ha atau setara dengan 403,4 kg Urea/ha atau setara dengan 883,6 kg ZA/ha. | The research aims to: (1) know the nutrient status of N and its distribution in dry field used for the cultivation of chili (Capsicum annuum L.) and (2) determine recommendation of N fertilization for chili cultivation (Capsicum annuum L.) in Sumbang Subdistrict, Banyumas Regency (3) know the correlation between research variables and determine the nutrient N requirement for plant in research location optimal results. This research was conducted through soil surveys on dry field in Sumbang Subdistrict, Banyumas Regency followed by soil analysis at Soil Science Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University and Agricultural Technology Research Center of Yogyakarta. The method used is purposive random sampling and sampling is done by composite. A homogeneous Land Unit (LU) map was used to determine the location of the observation. The variables observed were pH H2O, pH KCl, Electric Conductivity (EC) and N-total of soil. The results showed that the nutrient status of N in the study site was included in low to high values, that is SLH 1 low harkat, SLH 2 medium, SLH 3 medium, SLH 5 high and SLH 5 high. The correlation between soil chemical properties of depth 0-25 cm, 25-50 cm, and 0-50 cm showed that N-total has the highest relation with crop yield that is equal to 0.6246; 0.5374 and .5931. Fertilizer dosage which recommended to increase N-total soil at experimental location, that are SLH 1 in amount of 282.1 kg N/ha or equivalent as either 613.0 kg Urea/ha or 1,343 kg ZA/ha and SLH 2 in amount of 185.6 kg N/ha of equivalent as 403.4 kg Urea/ha or 883.6 kg ZA/ha. | |
| 21073 | 23992 | A1L114090 | Kajian Nilai Erodibilitas Tanah Pada Penggunaan Lahan Semak Di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga | Penggunaan lahan secara tidak bertanggung jawab menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan dan kemampuan tanah. Tanah dapat mengalami pengikisan yang menyebabkan longsor dan erosi oleh air hujan dan angin. Hujan dan angin merupakan peristiwa alam yang manusia tidak mampu mencegah atau menghindarinya. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui nilai erodibilitas tanah di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga, dan 2) Mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi erodibilitas tanah pada penggunaan lahan semak di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai dengan September 2018 di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah dan Laboratorium Pedologi dan Pemetaan Program Studi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini merupakan penelitian lapang survei. Pengambilan sampel dibagi menjadi 2 yaitu: Contoh tanah terganggu dan contoh tanah tidak terganggu. Variabel pengamatan yang diamati meliputi persentase bahan organik, persentase pasir debu liat (tekstur), struktur tanah, dan permeabilitas tanah. Data penelitian yang telah diperoleh kemudian ditentukan menggunakan nomograf Wischmeier kemudian dilanjutkan dengan pengaplikasian hasil ke peta hasil menggunakan program Sistem Informasi Geografis (SIG) Arcgis 10.3. Hasil penelitian menunjukan nilai erodibilitas dari agak tinggi sampai sangat tinggi, artinya tingkat kepekaan terhadap erosi pada daerah penelitian cukup tinggi. Kandungan bahan organik, tekstur tanah, struktur tanah dan permeabilitas sangat mempengaruhi nilai erodibilitas tanah. Faktor utama yang paling besar mempengarui daerah penelitian adalah persentase fraksi pasir sangat halus+debu dengan nilai (R² = 0,905) | Irresponsible use of land causes a decrease of environmental quality and land capability. Soils can eroded causes landslides and erosion by rain and wind. Rain and wind are natural events that human cannot prevent or avoid. This study aimed to 1) Know the value of soil erodibility in Karangreja Sub-District, Purbalingga Regency, and 2) Assess the influence of land factors on soil erodibility in Karangreja Sub-District, Purbalingga Regency. This study was conducted from March to September 2018 in Karangreja Sub-District, Purbalingga Regency. Soil analysis was conducted at the Laboratory of Chemistry and Soil Fertility and Pedology and Mapping Laboratory of the Soil Science Study Program, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. This research is a field survey research. Observed variables were percentage of organic matter, percentage of silt, sand, and clay (texture), soil structure, and soil permeability. Data were calculated using Wischmeier’s nomograph then plotted into map using Arcgis 10.3 Geographic Information System (GIS) programme. The result is the erodibility value of the soil showed slightly high to very high, which means, the level of sensitivity to erosion in the study area is quite high. Organic matter, soil texture, soil structure and the permeability were greatly affected to the value of soil erodibility. The main factor that really influenced the erodibility value is the percentage of very fine sand fraction + silt (R² = 0.905) | |
| 21074 | 23963 | G1H014007 | Hubungan Tingkat Asupan Energi Makan Pagi dan Status Gizi dengan Kelelahan Kerja pada Pegawai Wanita di Pabrik Bihunsari Boga Kembaran | Latar Belakang: Kelelahan kerja adalah ketidakmampuan fisik dalam waktu singkat atau sementara untuk tampil maksimal dalam melanjutkan pekerjaan. Faktor penyebab kelelahan kerja diantaranya usia, lama waktu kerja, lingkungan kerja yang tidak ergonomis, tekanan psikologis, status gizi dan kurangnya asupan zat gizi. Metode: Desain penelitian yang digunakan yaitu cross sectional. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 36 pekerja wanita. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu formulir recall makan pagi, microtoise untuk mengukur tinggi badan, digital weight scale untuk mengukur berat badan dan reaction timer untuk mengukur kelelahan kerja. Analisis data menggunakan uji rank spearman. Hasil Penelitian: Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada hubungan antara asupan energi makan pagi dengan kelelahan kerja dengan nilai p sebesar 0,023. Hasil analisis data terhadap status gizi dengan kelelahan kerja menunjukkan bahwa tidak ada hubungan dengan nilai p sebesar 0,072. Kesimpulan: Ada hubungan antara asupan energi makan pagi dengan kelelahan kerja dan tidak ada hubungan antara status gizi dengan kelelahan kerja. | Background: Work fatigue is physical disability in a short time or temporarily to perform optimally in continuing the work. Factors that cause work fatigue include age, work time, a non-ergonomic work environment, psychological pressure, nutritional status and lack of nutrient intake. Methods: The research design used was cross sectional. The sample in this research amounted to 36 female workers. The research instruments used were breakfast recall recall, microtoise to measure height, digital weight scale to measure body weight and reaction time to measure negative work. Data analysis using the Rank Spearman test Results: The results of the data analysis showed that there was a relationship between energy intake and a p value of 0.023. The results of data analysis on nutritional status on the contrary showed no relationship with a p value of 0.072. Conclusion: There was correlation between energy intake at breakfast and work work fatigue. There was no correlation between nutritional status and work fatigue. | |
| 21075 | 23964 | F1B013075 | PERAN PENDAMPING PROGRAM KELUARGA HARAPAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MISKIN DI KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS | Dalam pelaksanaan PKH terdapat pendamping yang merupakan aktor penting dalam mensukseskan program PKH. Pendamping PKH merupakan sumber daya manusia yang direkrut dan dikontrak kerjakan yang ditetapkan oleh Kementerian Sosial sebagai pelaksana pendampingan di tingkat kecamatan. Keberhasilan PKH dipengaruhi oleh implementasi pemberdayaan masyarakat miskin dan peran pendamping. Di Kecamatan Cilongok merupakan kecamatan yang terbanyak penerima bantuannya dan juga untuk pendampingnya juga terbanyak. Oleh karenanya pendamping disini harus berperan aktif untuk mengentas kemiskinan melalui Program Keluarga Harapan agar masyarakat terberdayakan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Peran Pendamping Program Keluarga Harapan Dalam Pemberdayaan Masyarakat Miskin Di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Lokasi penelitian di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas, sasaran penelitian yaitu pendamping UPPKH Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas dan masyarakat penerima bantuan Program Keluarga Harapan. Teori yang digunakan Mengacu pada Ife (1995:118) dalam Edi Suharto (2009: 296) tentang peran pendamping pemberdayaan masyarakat. Teknik pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Hasil penelitian secara umum menunjukan Peran pendamping masyarakat melalui Program Keluarga Harapan (PKH), adalah peran seseorang yang menjadikan dirinya sebagai mediator, fasilitator, pendidik, pemungkin, sekaligus sebagai perwakilan bagi masyarakat yang mengupayakan agar masyarakat sebagai anggota/peserta PKH bisa berdaya untuk membangun hidup mereka dari kemiskinan (problem) hidup secara mandiri. Pendamping, juga dituntut tidak hanya mampu menjadi manajer perubahan yang mengorganisasi kelompok masyarakat, melainkan mampu pula untuk melaksanakan tugas-tugas teknis sesuai dengan keterampilan dasar seperti : melakukan analisis sosial, mengelola dinamika kelompok (masyarakat), menjalin relasi, bernegosiasi, berkomunikasi, memberi konsultasi, dan mencari serta mengatur sumber dana. | Facilitators are very importat for a successful Program Keluarga Harapan (PKH) implementation. They are recruited and hired by the Ministry of Social Affairs with role as implementer assistance at the sub-district level. The success of PKH is influenced by empowering the poor community and the role of facilitators. In Cilongok Subdistrict have the largest number of recipients of assistance and the facilitators. Therefore the facilitators here must play an active role in alleviating poverty through the PKH so that the community will be empowered. Accordingly, the purpose of this study was to describe the role of the PKH facilitators in Empowering the Poor in the Cilongok, Banyumas Regency. The research method used is a qualitative while the research has be done in Cilongok Subdistrict, Banyumas Regency. The research target was the UPPKH facilitator in Cilongok Subdistrict, Banyumas Regency, and the community who received the Program Keluarga Harapan. Moreover, the research adopted theory from Ife about the role of facilitator in community empowerment. The technique of selecting informants in this study used purposive sampling and snowball sampling techniques. Generally, the results of the study is the role of community facilitator through the Program Keluarga Harapan (PKH), is the role of someone who makes himself a mediator, facilitator, educator, enabling, as well as a representative for the community who strive so that the community as PKH members / participants can be empowered to build a life they are from poverty (problem) living independently. facilitator is also required not only to be a manager of change who organizes community groups, but also able to carry out technical tasks in accordance with basic skills such as: conducting social analysis, managing group dynamics (community), establishing relationships, negotiating, communicating, consulting , and search for and manage funding sources. | |
| 21076 | 23965 | A1H014045 | KAJIAN INFILTRASI TANAH DAN SIFAT FISIKA TANAH PADA BEBERAPA TATA GUNA LAHAN MENGGUNAKAN DOUBLE RING INFILTROMETER DENGAN RESERVOIR DAN MINI DISK INFILTROMETER | Infiltrasi merupakan proses masuknya air ke dalam tanah melalui permukaan tanah. Pengukuran laju infiltrasi umumnya menggunakan double ring infiltrometer yang dilakukan dengan menuangkan air secara manual ke dalam ring. Hal tersebut menyebabkan air menjadi keruh dan penyumbatan pori tanah. Penyumbatan pori tanah mengakibatkan penurunan laju infiltrasi. Infiltrasi pada suatu tata guna lahan dipengaruhi oleh sifat fisika tanah. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui hasil pengukuran laju infiltrasi menggunakan alat double ring infiltrometer dengan reservoir dan alat mini disk infiltrometer, (2) Mengkaji pengaruh sifat fisika tanah pada berbagai land use yang digunakan kaitannya dengan proses infiltrasi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Juni 2018 di lahan dioalah, lahan rumput, lahan belum diolah, Laboratorium Pengelolaan dan Pengendalian Bio-Lingkungan serta Laboratorium Tanah Universitas Jenderal Soedirman, Purwokero. Pengukuran laju infiltrasi dilakukan menggunakan double ring infiltrometer dengan reservoir dan mini disk infiltrometer. Hasil penelitian menggunakan double ring infiltrometer dengan reservoir lahan rumput memiliki laju infiltrasi minimum sangat lambat sebesar 0,9 cm/jam dibandingkan lahan diolah (3,3 cm/jam) dan lahan belum diolah (1,7 cm/jam). Rataan laju infiltrasi pada waktu 6-21 menit dengan reservoir tertinggi hingga terendah ditujukkan pada lahan belum diolah (14,87 cm/jam), lahan diolah (14,24 cm/jam) dan lahan rumput (3,47 cm/jam). Sedangkan menggunakan MDI tertinggi hingga terendah ditujukkan pada lahan belum diolah (14,66 cm/jam), lahan diolah (14,52 cm/jam) dan lahan rumput (5,42 cm/jam). Sifat fisik tanah yang berpengaruh terhadap proses infiltrasi yaitu bulk density, porositas, permeabilitas dan tekstur tanah. | Infiltration is a process of absorbing trhough soil surface. The measuremet of the infiltration rate generally using double ring infiltrometer that can be done with pouring the water into the ring manually. It causes makes the turbid water and obstruction of the pore of soil. Obstruction of the pore of soil causes infiltration rate reduction. An infiltration at some methodes of making use of land is affected by the characteristic of soil. This reaserch is aimed at (1) Knowing the result of measurement of the infiltration rate using double ring infiltrometer with reservoir and mini disk infiltrometer (2) Study the affection of physic land characteristic at some land use that relates to infiltration process. This reaserch is done at January up to June 2018 in processed land, grassland, unprocessed land, management and restraint bio-invironment laboratory and olso land laboratory at Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The measurement of the rate infiltration using double ring infiltratrometer with reservoir and mini disk infiltrometer. The result of the research using double ring infiltrometer with reservoir shows that grassland has minimum rate infiltration that is very slow 0,9 cm per hour than processed land (3,3 cm per hour) and an unprocessed land (1,7 cm per hour). The maximum and minimum of the everage rate of infiltration at 6-21 seconds with reservoir are shown at un processed land (14,87 cm/hour), processed land (14,24 cm/hour) and grassland (3,47 cm/hour). While using MDI the maximum and minimum is shown by an unprocessed land (14,66 cm/hour), processed land (14,52 cm/hour) and grassland (5,42 cm/hour). The physics characteristic of the soil that affects toward infiltration process is bulk density, porosity, permeability and the texture of the soil. | |
| 21077 | 23966 | G1I014029 | HUBUNGAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI DAN KELINCAHAN DENGAN KETERAMPILAN MENGGIRING BOLA PADA PESERTA EKSTRAKURIKULER FUTSAL PUTRA SMP NEGERI 2 SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS | Abstrak HUBUNGAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI DAN KELINCAHAN DENGAN KETERAMPILAN MENGGIRING BOLA PADA PESERTA EKSTRAKURIKULER FUTSAL PUTRA SMP NEGERI 2 SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS Muhammad Iqbal Rafsanzany Latar Belakang: Keterampilan menggiring bola dipengaruhi oleh kondisi fisik diantaranya kekuatan otot tungkai dan kelincahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kekuatan otot tungkai dan kelincahan dengan keterampilan menggiring bola pada peserta ekstrakurikuler futsal putra SMP N 2 Sumbang. Metodologi: Instrumen penelitian korelasi ini berupa kekuatan otot tungkai yang diukur menggunakan leg dynamometer, kelincahan diukur menggunakan dogging run, dan menggiring bola diukur menggunakan soccer dribble test. Penelitian ini menggunakan subjek siswa ekstrakurikuler futsal putra SMP N 2 Sumbang yang berjumlah 30 siswa. Teknik analisis data menggunakan uji normalitas, linieritas dan homogenitas, serta pengujian hipotesis menggunakan rumus korelasi product moment. Hasil penelitian: Terdapat hubungan kekuatan otot tungkai (X1) dengan keterampilan menggiring bola (Y) sebesar 0.517, dan terdapat hubungan antara kelincahan (X2) dengan keterampilan menggiring bola (Y) sebesar 0.551. Kesimpulan: Semakin baik kekuatan otot tungkai maka semakin baik kemampuan keterampilan menggiring bola. Semakin baik kelincahan maka semakin baik keterampilan menggiring bola. Kata Kunci: leg dynamometer, dogging run, soccer dribble test | Abstract CORRELATION BETWEEN THE STRENGTH OF LEG MUSCLES AND AGILITY WITH DRIBBLING SKILLS IN THE MALE EXTRACURRICULAR PARTICIPANTS SUMBANG STATE 2ND HIGH SCHOOL, BANYUMAS DISTRICT Muhammad Iqbal Rafsanzany Background: Dribbling skills are influenced by physical conditions including leg muscle strength and agility. This study aims to determine the correlation between leg muscle strength and agility with ball dribbling skills to male futsal extracurricular members of SMP N 2 Sumbang. Methodology: The instrument of correlation research in the form of leg muscle strength measured using a leg dynamometer, agility was measured using dogging run, and dribbling was measured using soccer dribble test. The sample of this study is 30 male students of male futsal extracurricular Sumbang State 2nd High School. Data analysis techniques used the test for normality, linearity and homogeneity, and a simple correlation coefficient test using the product moment correlation formula. Results: There was a relationship of leg muscle strength (X1) with dribbling skills (Y) of (r count 0.517), agility (X2) with dribbling skills (Y) of 0.551. Conclusion: The better the leg muscle strength, the better the ability of dribbling skills. The better the agility, the better the dribbling skills. Keywords: leg dynamometer, dogging run, soccer dribble test | |
| 21078 | 25806 | H1K013005 | POTENSI EKSTRAK RUMPUT LAUT Halymenia durvillaei SEBAGAI ANTIBAKTERI PATOGEN PADA MANUSIA DAN HEWAN AIR BUDIDAYA | Rumput laut adalah salah satu sumber antibakteri baru untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Halymenia durvillaei merupakan salah satu spesies rumput laut dari kelas Rhodophyta yang menghasilkan bioaktif sehingga berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak Halymenia durvillaei terhadap bakteri patogen pada manusia dan hewan air budidaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksplorasi skala laboratorium. Rumput laut H. durvillaei diekstrak dengan metode maserasi dan pengujian aktivitas antibakteri ekstrak tersebut dilakukan dengan menggunakan metode difusi agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak H. durvillaei mampu menghambat tiga spesies bakteri patogen manusia dari tiga spesies bakteri yang diuji yaitu: Escherichia coli (1.08 mm), Staphylococcus aureus (0.87 mm), Pseudomonas aeruginosa (0.71 mm) dan menghambat hanya satu spesies bakteri patogen hewan air budidaya yaitu: Vibrio harveyi (0.5 mm) dari empat spesies bakteri yang diuji yaitu: Vibrio harveyi, Vibrio parahaemolyticus, Vibrio alginolyticus dan Aeromonas hydrophila. Ekstrak H. durvillaei lebih berpotensi menghambat bakteri patogen manusia dibandingkan bakteri patogen hewan air budidaya. | Seaweed is one source of new antibacterial substances to control disease caused by bacteria. Halymenia durvillaei is one of the seaweed species from Rhodophyta class which produces bioactives so that it has potential as an antibacterial. This research aimed to determine antibacterial activity of Halymenia durvillaei extract against pathogenic bacteria in human and aquaculture animals. Exploration method at laboratory scale was used. H. durvillaei was extracted by maceration method and the antibacterial activity of the extract was determined using agar diffusion method. The results showed that H. durvillaei extract inhibited three spesies of human pathogenic bacteria from three bacteria species tested that are: Escherichia coli (1.08 mm), Staphylococcus aureus (0.87 mm), Pseudomonas aeruginosa (0.71 mm) and inhibited only one species of pathogenic bacteria of aquaculture animals that is: V. harveyi (0.5 mm) from four bacteria species tested that are: Vibrio harveyi, Vibrio parahaemolyticus, Vibrio alginolyticus and Aeromonas hydrophila. The conclusion of this study is that H. durvillaei extract has more potential to inhibit pathogenic of human than that of aquaculture animals. | |
| 21079 | 23967 | A1C013001 | USAHATANI CABAI MERAH KERITING DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA DI KECAMATAN KALIKAJAR KABUPATEN WONOSOBO | Kecamatan Kalikajar merupakan salah satu sentra penghasil cabai merah keriting di Kabupaten Wonosobo. Hasil produksi dan produktivitas cabai merah keriting di daerah tersebut masih fluktuatif sehingga diperlukan strategi untuk mengatasi masalah tersebut. Masalah tersebut dapat mempengaruhi pendapatan yang diterima petani cabai merah keriting. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui total penerimaan, biaya produksi dan keuntungan usahatani cabai merah keriting di Kecamatan Kalikajar, 2) mengetahui rasio total penerimaan terhadap total biaya produksi (R/C) pada usahatani cabai merah keriting di Kecamatan Kalikajar, 3) mengetahui strategi pengembangan usahatani cabai merah keriting di Kecamatan Kalikajar. Pengambilan data dilaksanakan di Kelurahan Kalikajar, Desa Kalikuning, Desa Karangduwur, Desa Kembaran, Desa Maduretno, dan Desa Rejosari Kecamatan Kalikajar Kabupaten Wonosobo pada tanggal 1 November Tahun 2017 sampai dengan 18 Januari Tahun 2018. Penentuan tempat dilakukan secara sengaja (purposive). Penentuan jumlah responden menggunakan metode simple random sampling diperoleh sebanyak 37 responden petani cabai merah keriting, satu responden Dinas Pertanian Kabupaten Wonosobo dan satu responden PPL Kecamatan Kalikajar. Metode analisis yang digunakan yaitu: 1) Analisis Biaya, Penerimaan dan Pendapatan, 2) Analisis Kelayakan, 3) Analisis Strategi Pengembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan rata-rata luas lahan garapan seluas 0,315 hektar mendapat penerimaan sebesar Rp30.395.675,68 dengan total biaya produksi sebesar Rp13.460.067,62 sehingga memperoleh keuntungan usahatani sebesar Rp16.935.608,05 per musim tanam. Nilai total penerimaan dan total biaya tersebut menghasilkan nilai R/C sebesar 2,26. Alternatif strategi yang dapat diterapkan pertama dalam usahatani cabai merah keriting adalah dengan melakukan pembinaan, pelatihan khusus dan sosialisi kepada petani oleh Dinas Pertanian dan Lembaga Penelitian secara intensif agar petani dapat memanfatkan sumber daya yang ada pada petani dan lingkungan usahatani cabai merah keriting, dengan jumlah nilai total daya tarik sebesar 5,710. | Kalikajar Sub.district is one of production centers curly red chili in Wonosobo Regency. Production and productivity of curly red chili in Kalikajar Sub.district still fluctuating so a strategy is needed to resolve the problem. This problem can affect the income received by curly red chili farmers. This research aims to: 1) find out total revenue, production cost and profit of curly red chili farming in Kalikajar Subdistrict, 2) find out the ratio of revenue total production costs (R/C) of curly red chili farming in Kalikajar Sub.district, 3) find out strategy of developing curly red chili farming in Kalikajar Sub.district. Data collection was carried out in Kalikajar Village, Kalikuning Village, Karangduwur Village, Kembaran Village, Maduretno Village, and Rejosari Village, Kalikajar Sub.district, Wonosobo Regency on November 1, 2017 until January 18, 2018. Determination of the place is done purposeful. Determination of the number of respondents using simple random sampling method obtained by 37 respondents of red curly chili farmers, one respondent from the Wonosobo Regency Agriculture Office, one respondent from the Kalikajar Sub.district PPL. Analiysis of the method used: 1) cost, revenue and revenue analysis, 2) Appropriateness analysis, 3) development strategy analysis. The results showed that with an average area of arable land covering an area of 0.315 hectares received revenue of Rp30,395,675.68 with a total production cost of Rp13,460,067.62 so as to obtain farming profits of Rp16,935,608.05 per planting season. The total value of revenue and total costs resulted in a R / C value is 2.26. Alternative strategy that can be applied first in farming curly red chili is to do training, special training and socialization to farmers by the Department of Agriculture and Research Institutions intensively so that farmers can utilize the resources available to farmers and the curly red chili farming environment with the total value attraction of 5,710. | |
| 21080 | 23968 | A1L014185 | HERITABILITAS DAN RAGAM KARAKTER FISIOLOGIS EMPAT GENOTIPE KEDELAI TERHADAP VARIASI PEMUPUKAN N DI TANAH INCEPTISOL | Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui ragam karakter fisiologi yang memiliki hubungan dengan hasil sehingga dapat diketahui karakter mana saja yang dapat meningkatkan hasil tanaman, 2) mengetahui ragam karakter fisiologi yang baik dari genotipe yang digunakan untuk kepentingan seleksi dengan mempertimbangkan nilai duga heritabilitas, 3) mengetahui ragam karakter fisiologi yang baik dari genotipe yang digunakan terhadap pemberian pupuk N. Penelitian eksperimental dilaksankan pada bulan Maret 2018 hingga Juni 2018 di lahan Universitas Jenderal Soedirman, Kelurahan Karangwangkal, Kecamatan Purwokerto Utara. Rancangan yang digunakan adalah petak terbagi dengan dua faktor dan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah dosis pupuk N yang terdiri atas 0 kg N/ha (N0), 23 kg N/ha (N1) dan 46 kg N/ha (N2). Faktor kedua adalah genotipe kedelai yang terdiri atas Genotipe 2 (G1), Genotipe 33 (G2), Genotipe 71 (G3) dan Varietas Slamet (G4). Variabel yang diamati yaitu luas daun, laju pertumbuhan tanaman relatif, umur berbunga, klorofil daun, kerapatan stomata, bukaan stomata, tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah polong bernas, bobot biji per tanaman, bobot biji per petak efektif dan diameter batang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat genotipe yang diuji menunjukkan perbedaan yang sangat nyata terhadap variabel luas daun, umur berbunga, tinggi tanaman dan jumlah daun dan jumlah polong bernas, serta menunjukkan perbedaan nyata pada variabel kerapatan stomata dan diameter batang. Empat genotipe yang diuji menunjukkan perbedaan yang tidak nyata pada variabel laju pertumbuhan relatif tanaman, klorofil daun, bukaan stomata bobot biji per tanaman dan bobot biji per petak efektif. Karakter fisiologis yang memiliki nilai duga heritabilitas tinggi yaitu luas daun, umur berbunga dan kerapatan stomata. Karakter fisiologis yang memiliki nilai duga heritabilitas sedang yaitu laju pertumbuhan tanaman relatif, klorofil daun dan bukaan stomata. Karakter fisiologis tersebut dapat dijadikan acuan pemulia tanaman untuk melakukan seleksi genotipe-genotipe yang diuji. | The objective of this study was to 1) discover the various physiological characteristics that have a relationship with the results to find which characters can improve crop yields, 2) discover the good physiological characteristics of the genotype used for selection purposes by considering the heritability predictions, 3) discover the good physiological characteristics of the genotypes used for N. fertilizer. This experimental research was conducted from March to June 2018 on the land of Jenderal Soedirman University, Karangwangkal Village, North Purwokerto District. The design used of this study is split plot with two factors and three replications. The first factor was the dose of N fertilizer consisting of 0 kg N/ha (N0), 23 kg N/ha (N1) and 46 kg N/ha (N2). The second factor was soybean genotype consisting of Genotype 2 (G1), Genotype 33 (G2), Genotype 71 (G3) and Slamet Variety (G4). The variables observed were leaf area, relative plant growth rate, flowering age, leaf chlorophyll, stomatal density, stomatal opening, plant height, number of leaves, number of pithy pods, seed weight per plant, seed weight per effective plot and stem diameter. Result shows that the four genotypes tested have very significantly differences in the variables of leaf area, flowering age, plant height and number of leaves and number of pithy pods, and also shows significant differences in the variables of stomatal density and stem diameter. The four genotypes tested shows insignificant differences in the variables of relative growth rates of plants, leaf chlorophyll, stomatal openings of seed weight per plant and effective seed weight per plot. Physiological characteristics have high estimated value of heritability are leaf area, flowering age and stomatal density. Physiological characteristics that have moderate heritability estimated values are relative plant growth rates, leaf chlorophyll and stomatal openings. These physiological characteristics can be used as a reference for plant breeders to select genotypes tested. |