Artikelilmiahs

Menampilkan 20.821-20.840 dari 50.125 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
2082123758B1J013096Aktivitas Protease Alkalin dan Amilase Ikan Lele (Clarias gariepinus) Pada Frekuensi Pemberian Pakan Berbeda.Budidaya lele(Clarias gariepinus) memiliki masalah dalam manajemen pakan, terutama tidak semua pemberian pakan mampu diserap oleh ikan sehingga tingkat efisiensi pakan cenderung rendah. Perubahan asupan pakan umumnya berkolerasi pada perubahan aktivitas enzim digesti agar tercapai efisiensi proses pencernaan, namun masih sedikit informasi mengenai aktivitas enzim sebagai indikator efektifnya frekuensi pemberian pakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan aktivitas protease alkalin dan amilase pada saluran pencernaan lele dengan frekuensi pemberian pakan yang berbeda. Penelitian dilakukan secara eksperimental, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan terdiri frekuensi pemberian pakan selama 2 kali (pukul 8.00, 15.00), 3 kali (pukul 8.00, 11.00, 15.00), 4 kali (pukul 8.00, 11.00, 15.00, 18.00), dan 5 kali (pukul 8.00, 11.00, 15.00, 18.00, 21.00) dalam sehari. Ikan lele diaklimasi selama satu minggu di media air tawar, dilakukan perlakuan selama 14 hari, dan pada akhir pemeliharan ikan dibedah untuk diambil saluran digestinya. Pengukuran aktivitas protease dan amilase dilakukan dengan metode spektofotometer. Variabel bebas yaitu frekuensi pemberian pakan yang berbeda, dan variabel terikat adalah aktivitas protease alkalin dan amilase pada pencernaan ikan lele. Parameter yang diukur meliputi kadar tirosin untuk aktivitas protease dan kadar maltosa untuk aktivitas amilase. Data hasil pengukuran aktivitas protease dan amilase dianalisa dengan one-way analysis of variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukan bahwa frekuensi pemberian pakan berpengaruh terhadap aktivitas protease alkalin (P<0.05), namun tidak berpengaruhterhadap aktivitas amilase. Aktivitas protease tertinggi ditemukan pada frekuensi pemberian pakan 4 kali/hari (1,537 ± 0,668 U/menit). Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwaaktivitas enzim mengalami perbedaan setelah dilakukan perlakuan frekuensi pemberian pakan dengan aktivitas enzim tertinggi pada frekuensi pemberian pakan 4 kali/hari, namun tidak terdapat perbedaan pada aktivitas amilase setelah perlakuan frekuensi pemberian pakan yang berbeda.Catfish (Clarias gariepinus) cultivation has problems in feed management, especially not all feeding frequencies are able to be absorbed by fish so that the level of feed efficiency tends to be low. Changes in feed intake generally correlate with changes in digestive enzyme activity in order to achieve an efficient digestive process, but there is still little information about enzyme activity as an indicator of the effectiveness of feeding frequency. The purpose of this study was to determine changes in alkaline protease activity and amylase in the digestive tract of catfish with different feeding frequency. The study was conducted experimentally, using a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments and five replications. The treatment consisted of feeding frequency for 2 times (8:00, 15:00), 3 times (8.00, 11.00, 15.00), 4 times (8.00, 11.00, 15.00, 18.00) and 5 times (8.00, 11.00, 15.00, 18.00, 21.00) in a day. Catfish was acclimated for one week, treated for 14 days, and at the end of the maintenance, the fish are dissected for its digestion tract. Measurement of protease and amylase activity was carried out by spectrophotometer method. The independent variable is the different frequency of feeding, and the dependent variable is the activity of alkaline protease and amylase in the digestion of catfish. The parameters measured are tyrosine levels for protease activity and maltose levels for amylase activity. Data from the measurement of protease and amylase activityanalyzed with one-way analysis of variance (ANOVA) and followed by Tukey test. The results showed that the frequency of feeding affected alkaline protease activity (P <0.05), but did not affect the amylase activity. The highest protease activity was found at the frequency of feeding 4 times / day (1,537 ± 0,668 U / min). In this study it can be concluded that enzyme activity is affected after feeding frequency treatment with the highest enzyme activity at the frequency of feeding 4 times/day, but there was no difference in amylase activity after treatment of different feeding frequencies.
2082223760F1C014011REPRESENTASI FASHION SEBAGAI IDENTITAS DIRI REMAJA (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES DALAM FILM THE BLING RING)Penelitian ini menganalisis bagaimana fashion sebagai identitas diri pada remaja dan sebagai fenomena komunikatif. Fashion menjadi salah satu cara untuk berekspresi dan merefleksikan identitasnya. Fenomena ini ditunjukkan dalam film The Bling Ring. Dalam film tersebut pakaian digambarkan sebagai bagian penting dalam menunjukkan identitasnya sebagai kalangan atas serta fashion sebagai gaya hidup dan merek fashion yang mewah. Penelitian ini menggunakan studi deskriptif kualitatif dengan pendekatan metodologi semiotika Roland Barthes, dimana untuk mencari makna menggunakan pemaknaan denotasi, konotasi, dan mitos dalam menganalisis tanda-tanda fashion yang terdapat pada film yang digunakan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa dalam film The Bling Ring merupakan film yang menggambarkan gaya fashion tren pada remaja dan mendefinisikan peran seseorang. Dalam membentuk identitasnya melalui fashion yang dikenakan untuk mencapai kepentingan dan kepuasan bagi seseorang. Film The Bling Ring yang mencoba merepresentasikan sebagai sosok yang modis, mewah, hedonis, dan fashionable, serta merek/brand fashion, jenis pakaian, bahan pakaian, warna pakaian, aksesoris yang dikenakan para remaja. This research analyzes fashion as teenager’s self-identity and also as a communicative phenomenon. Fashion becomes a way to express and reflect their identity. This phenomenon is shown by The Bling Ring movie. In that movie, clothing is described as an important part in showing their identity as a top class and fashion as a lifestyle and luxury fashion brand. This research uses a descriptive qualitative study with Roland Barthes semiotic methodology approach, which is to find a significances using the meaning of denotation, connotation, and myth in analyzing the fashion marks which are contained in the movie. The conclusion of this research is The Bling Ring movie describes the trend fashion style in teenagers and defines a person's role. In forming their identity through fashion which they used to achieve someone’s interests and satisfaction. The Bling Ring movie tries to represent as a fashionable, luxurious, hedonistic, and fashionable figure, as well as a brand/fashion, type of clothing, clothing material, clothing color, and accessories that used by teenagers.
2082323762F1B013063STRATEGI PROGRAM TAX AMNESTY UNTUK MENINGKATKAN PENERIMAAN PAJAK
( STUDI PADA KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA PURWOKERTO )
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi program tax amnesty untuk meningkatkan penerimaan pajak. Progam ini diterapkan karena merupakan program dari pemerintah pusat alam rangkat meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Program yang telah berjalan ini perlu diteliti untuk mengukur keberhasilan dan dampaknya.
Dalam penelitian ini menggunakan kriteria penilaian strategi dari Rumelt yaitu konsistensi,kesesuain,kelayakan, dan keunggulan. Dari keempat kriteria tersebut maka bisa terlihat apakah strategi yang digunakan dalam program tax amnesty sudah baik atau belum.
Metode penelitian yang digunakan adalah Kualitatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumah total sampel 5 informan yang telah dipilih sesuai dengan kapasitas dalam memberikan informasi.. Hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan empat kriteria penilaian strategi, dari konsistensi sudah cukup baik namun adanya perubahan sasaran yang menyebabkan kurang maksimal, kesesuaian sudah cukup baik karena pelaksanan strategi sudah digunakan, kelayakan dari organisasi juga baik dalam menjalakan strategi sehingga strategi berjalan baik, dan keunggulan dari organisasi juga baik dan bisa menjalankan strategi dengan baik.
Kesimpulan penelitian ini ialah program tax amnesty berjalan cukup baikkarena strategi yang digunakan bisa dijalankan dengan baik oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama Purwokerto. Hal ini juga eksekusi strategi yang baik dari Kantor Pelayanan Pajak Pratama Purwokerto.
This research purposed to describe the tax amnesty program strategy to increase tax income. This program is implemented because it is a program from the central government to improve taxpayer compliance. This ongoing program needs to be examined to measure its success and impact.
In this research using the strategy assessment criteria from Rumelt namely consistency, suitability, feasibility, and excellence. Of the four criteria, it can be seen whether the strategies used in the tax amnesty program are good or not.
The research method used is Qualitative. The sampling technique uses purposive sampling technique with a total sample of 5 informants who have been selected according to their capacity to provide information. The results of research that have been conducted based on the four criteria of strategy assessment, from consistency are good enough but there are changes in goals that cause less than optimal It is good enough because the implementation of the strategy has been used, the appropriateness of the organization is also good in carrying out the strategy so that the strategy works well, and the excellence of the organization is also good and can run the strategy well.
The conclusion of this study is that the tax amnesty program runs quite well because the strategy used can be carried out properly by the Purwokerto Primary Tax Service Office. This is also a good strategy execution from the Purwokerto Primary Tax Service Office.
2082423763H1K013019DINAMIKA LEBAR DARATAN PANTAI (Backshore) PADA MUSIM PERALIHAN I (MARET-MEI) DI PANTAI SELATAN KABUPATEN CILACAPWilayah pantai adalah kawasan yang dinamis sebagai akibat dari pasang surut, gelombang, angin serta musim. Penelitian dinamika lebar daratan pantai Selatan Kabupaten Cilacap belum banyak dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dinamika lebar daratan pantai (backshore) musim peralihan I (Maret-Mei) di pantai Selatan Kabupaten Cilacap. Metoda penentuan posisi stasiun pengamatan adalah Stop and Go. Lebar daratan pantai diukur dari batas vegetasi pantai sampai batas garis air di pantai berdasarkan jarak titik posisi astronomis yang diukur tegak lurus pantai. Lebar daratan pantai Selatan Kabupaten Cilacap pada musim peralihan I dalam kondisi dinamis. Lebar daratan pantai (backshore) di pantai Selatan Kabupaten Cilacap selama musim peralihan I dalam kondisi dinamis. Perubahan lebar daratan pantai pada bulan Maret dan awal April semakin lebar sedangkan akhir April dan Mei semakin sempit. Lebar daratan pantai bulan Maret dan April terdapat perbedaan, sedangkan bulan April dengan Mei dan Maret dengan Mei tidak berbeda. Lebar daratan pantai berbanding terbalik dengan ketinggian air pasang surut selama musim peralihan I.The coastal area is a dynamic region caused by tides, waves, winds and seasons. The research of the dynamics of the width of the coastal land on the southern coast of Cilacap has not been done much. The purpose of this study was to analyze the backshore width of the transition season I (March-May) on the south coast of Cilacap Regency. The method of determining the position of the observation station was Stop and Go. The width of the coastline was measured from the coastal vegetation boundary to the waterline limit on the coast based on the distance of the astronomical position point measured perpendicular to the coast. The width of the southern coast of Cilacap in the transition season I was in dynamic conditions. Beach changes in March and early April were getting wider while the end of April and May were getting narrower. The width of the coastline in March and April was different, while April with May and March with May were not different. The width of the coastline was inversely proportional to the tidal water level during the transition season I.
2082523764D1E014028PENGARUH BAHAN PEMBAWA DAN DOSIS EKSTRAK BUNGA WARU (Hibiscus tiliaceus) TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK DOMBA LOKAL (IN VITRO)Tujuan penelitian untuk mengkaji pengaruh interaksi antara bahan pembawa dan dosis ekstrak bunga waru terhadap kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik secara in vitro. Materi yang digunakan adalah cairan rumen domba, bunga waru (Hibiscus tiliaceus), ampas tahu, dedak padi, konsentrat, jerami padi amoniasi dan DFM. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama adalah bahan pembawa ekstrak yaitu ampas tahu (AW) dan dedak padi (DW), faktor kedua adalah dosis ekstrak bunga waru sehingga terdapat kombinasi perlakuan sebanyak 2 x 3 yang diulang lima kali. Peubah yang diukur adalah kecernaan bahan kering (KBK) dan bahan organik (KBO).Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa baik bahan pembawa dan dosis ekstrak bunga waru maupun interaksinya tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik. Penelitian menunjukkan bahwa KBK dan KBO cenderung tinggi pada dosis 100 ppm dengan bahan pembawa menggunakan dedak padi.

Kata kunci : pakan, domba, kecernaan, jerami, Hibiscus tiliaceus.
The aim of this research was to examine the effect of interaction with the carrier and a dose of Hibiscus tiliaceus extract on dry matter and organic matter digestibility in vitro. Materials were used rumen fluid, Hibiscus tiliaceus, by product of tofu, rice bran, concentrate, ammoniated rice straw and Direct Feed Microbial (DFM). Completely Randomized Design (CRD) with factorial of 2 x 3 pattern used in this experiment. The first factors were the carriers (by product of tofu and rice bran), and the second factors were the dose of Hibiscus tiliaceus of extract. Therefore, there were six combination as treatment with five replication. Variable measured were dry matter and organic matter digestibility. The result of variance analysis showed that the carrier and the dose of extract or their interaction didn’t affect significantly (P>0.05) on dry matter and organic matter digestibility. The conclusion of this research showed that dry matter and organic matter digestibility tended to increase at 100 ppm with rice bran as carrier.

Key words: digestibility, sheep, feed, hay, Hibiscus tiliaceus
2082623761H1C014008UJI UNJUK KERJA MODUL WIRELESS LORA DRAGINO
PADA SISTEM INTERNET OF THINGS (IOT)
Internet of Things (IoT) merupakan salah satu teknologi yang memungkinkan berbagai benda terhubung atau terkoneksi satu sama lain melalui internet yang dapat dijalankan fungsinya secara otomatis. Dalam perkembangannya, IoT sudah merambah ke berbagai sektor, diantaranya adalah kota pintar. Low Range (LoRa) WAN adalah salah satu teknologi Low Power Wide Area Network (LPWAN) yang dapat mendukung sistem IoT terutama dalam pengembangan kota pintar karena memiliki karakteristik jangkauan yang luas, biaya murah, mobilitas tinggi, komunikasi dua arah yang aman dan berdaya rendah. Namun saat ini penerapan serta penelitian tentang LoRa WAN di Indonesia masih jarang dilakukan, sehingga dibutuhkan banyak penelitian agar nantinya LoRa WAN dapat menjadi salah satu alternatif yang tepat dalam membangun kota pintar di Indonesia.
Pada penelitian ini dilakukan pengujian unjuk kerja modul wireless LoRa Dragino pada sistem IoT. Sistem IoT yang dibuat pada pengujian ini adalah pengukuran menggunakan sensor suhu dan kelembaban udara. Parameter yang diuji pada penelitian meliputi parameter kuat sinyal (RSSI) dan packet loss. Pengukuran kedua parameter ini dilakukan dalam dua kondisi pengujian, yaitu kondisi saat gateway terhalang oleh dinding dan kondisi saat gateway tidak terhalang dinding atau biasa disebut line of sight (LOS).
Jarak pengukuran mempengaruhi nilai kuat sinyal (RSSI) dan paket hilang (packet loss), dimana semakin jauh maka kuat sinyal akan semakin rendah dan paket yang hilang akan semakin banyak. Pada pengukuran kuat sinyal (RSSI) dan packet loss, kondisi tanpa penghalang memiliki hasil yang lebih baik dari kondisi dengan penghalang. Pada kondisi tanpa penghalang jangkauan maksimal gateway dan node dapat berkomunikasi adalah sekitar 400 meter sedangkan kondisi dengan penghalang hanya 300 meter.
Internet of Things (IoT) is a technology that allows various objects to connect or connect with each other through the internet that can be run automatically. In its development, IoT has penetrated into various sectors, including smart city. Low Range (LoRa) WAN is one of the Low Power Wide Area Network (LPWAN) technologies that can support IoT systems especially in developing smart cities because it has wide coverage, low cost, high mobility, safe two-way communication and low power. But now the application and research on LoRa WAN in Indonesia is still very rarely done, so a lot of research that can be done can help to one of the right alternatives in building smart cities in Indonesia.
In this research we tested the performance of the LoRa Dragino wireless module on the IoT system. The IoT system made in this test is measurement using temperature and humidity sensor. The parameters tested in the research include signal strength (RSSI) and packet loss parameters. The measurement of these two parameters is carried out in two test conditions, namely the condition when the gateway is blocked by a wall and the condition when the gateway is not blocked by the wall or commonly called line of sight (LOS).
The measurement distance affects the signal strength (RSSI) and the packet is lost (packet loss), where the further the signal strength will be lower and the lost package will be even more. In measuring signal strength (RSSI) and packet loss, conditions without a barrier have better results than conditions with a barrier. In conditions without a barrier the maximum range of gateway and node can communicate is around 400 meters while conditions with a barrier are only 300 meters away.
2082723756D1E014173PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK BUAH PEPAYA DAN LAMA PERENDAMAN TERHADAP pH DAN KADAR AIR GELATIN CEKER AYAM BROILER Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh konsentrasi ekstrak buah pepaya dan lama perendaman terhadap pH dan kadar air gelatin. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial (3x3) dengan faktor (A) konsentrasi ekstrak buah pepaya (A1 = 5%, A2 = 10%, A3 = 15%) dan faktor (B) lama perendaman (B1 = 2 jam, B2 = 4 jam, B3 = 6 jam), setiap kombinasi perlakuan diulang 3 kali. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa konsentrasi, lama perendaman dan interaksinya berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap pH gelatin, sedangkan konsentrasi berpengaruh sangat nyata (P<0,01) dan lama perendaman berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap kadar air gelatin, namun interaksinya berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar air gelatin. Hasil uji lanjut orthogonal polynomial menunjukkan bahwa konsentrasi berpengaruh nyata secara kuadrater terhadap kadar air mengikuti persamaan Y = 10,60 - 0,09 X + 0,01 X2. Hasil uji lanjut orthogonal polynomial menunjukkan bahwa interaksi konsentrasi dan lama perendaman berpengaruh sangat nyata secara linier pada kenaikan kadar air mengikuti persamaan Y = 10,10 + 0,14 X. Kesimpulan, konsentrasi ekstrak buah pepaya 10% dan lama perendaman 4 jam menghasilkan gelatin dengan pH dan kadar air rendah.This study aims to examine the effect of papaya fruit extract concentration and soaking time on pH and water content of gelatin. The study used a Completely Randomized Design (CRD) factorial pattern (3x3) with factor (A) concentration of papaya fruit extract (A1 = 5%, A2 = 10%, A3 = 15%) and factor (B) soaking time (B1 = 2 hours, B2 = 4 hours, B3 = 6 hours), each combination treatment was repeated 3 times. The results of the variance analysis showed that the concentration and the soaking time and its interaction no significant effect (P>0.05) on the pH of gelatin, while the concentration highly significant effect (P<0.01) and the soaking time no significant effect (P>0.05) on the water content of gelatin, however its interaction significant effect (P<0.05) on the water content of gelatin. The results of orthogonal polynomial tests showed that the concentration significant effect quadratically on the water contant following the equation Y = 10.60 - 0.09 X 0.01 X2. The results of orthogonal polynomial tests showed that the interaction of concentration and soaking time highly significant effect linearly on the increase of water content following the equation Y = 10.10 0.14. Conclusion, the concentration of 10% papaya fruit extract and the 4-hours soaking time produced gelatin with the low pH and water content.
2082823765D1E014157KADAR AIR DAN PROTEIN DAGING AYAM PETELUR AFKIR HASIL RESTRUKTURISASI DENGAN KARAGENAN, PUTIH TELUR DAN SODIUM TRIPOLYPHOSPATE SEBAGAI BAHAN PENGIKATTujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh penggunaan bahan pengikat berbeda terhadap kadar air dan kadar protein daging restrukturisasi. Materi yang digunakan dalam penelitian yaitu daging ayam niaga petelur afkir jenis Isa Brown umur 90 minggu, sebanyak 360 g, bahan pengikat yang dibutuhkan 0,3 g karagenan, 0,3 g putih telur dan 0,3 g Sodium Tripolyphospate (STPP). Metode penelitian eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (Completely Randomized Design). Perlakuan adalah penggunaan bahan pengikat (P1: karagenan 0,5%., P2 : putih telur 0,5%., P3 : STPP 0,5%). Setiap perlakuan diulang 6 kali. Variabel yang diukur yaitu kadar air dan protein. Rataan nilai kadar air P1, P2 dan P3 masing-masing yaitu 70,05±4,93 %., 70,33±0,76 % dan 70,87±1,62 %. Rataan nilai kadar protein P1, P2 dan P3 masing-masing yaitu 18,16±0,98 %., 17,88±1,82 % dan 18,59±0,94 %. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penambahan bahan pengikat yang berbeda berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap kadar air dan protein. Kesimpulan bahwa penambahan bahan pengikat karagenan, putih telur dan STPP menghasilkan rataan kadar air dan protein yang relatif sama.The purpose of the study was to determine the effect of the use of different binding materials on moisture content and protein content of restructured meat. The material used in the study is laying chicken commercial meat rejected by the type of Isa Brown aged 90 weeks, as much as 360 g, binding agent requires 0.3 g carrageenan, 0.3 g egg white and 0.3 g Sodium Tripolyphospate (STPP). The experimental research method uses a Completely Randomized Design. The treatment is the use of binder (P1: 0.5% carrageenan, P2: 0.5% egg white, P3: 0.5% STPP). Each treatment was repeated 6 times. The variables measured are moisture and protein content. The average value of moisture content P1, P2 and P3 are 70,05±4,93 %., 70,33±0,76 % and 70,87±1,62 %.respectively. The average value of P1, P2 and P3 protein content were 18,16±0,98 %., 17,88±1,82 % and 18,59±0,94 %. respectively. The results of the variance analysis showed that the addition of different binding materials had no significant effect (P> 0.05) on water and protein content. The conclusion is that the addition of carrageenan binding material, egg white and STPP produces relatively the same water and protein content.
2082923766D1E014039PENGARUH TEMPERATUR PEREBUSAN TERHADAP KEEMPUKAN DAN SIFAT ORGANOLEPTIK DAGING AYAM NIAGA PETELUR AFKIR YANG DIRENDAM SARI BUAH NANAS (Ananas comosus L. Merr)Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh temperatur perebusan ayam niaga petelur afkir yang direndam sari buah nanas terhadap keempukan daging serta tekstur dan aroma daging secara organoleptik. Materi yang digunakan yaitu daging ayam petelur afkir 13 ekor ayam dan 673 ml sari nanas tua. Metode penelitian eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap dan Rancangan Acak Kelompok. Penelitian menggunakan 3 macam perlakuan daging dada ayam petelur afkir yang direndam sari buah nanas selama 15 menit kemudian direbus selama 30 menit dengan temperatur (P1 = 45°C; P2 = 55°C ; P3 = 65°C). Variabel yang diukur keempukan dan sifat organoleptik. Nilai keempukkan (45oC = 0,0602; 55oC = 0,0653; dan 65oC= 0,0749 mm/g/dt). Nilai tekstur 45°C = 3,2(kurang empuk); 55°C = 4,5 (empuk); dan 65°C = 5,1 (lebih empuk). Nilai aroma 45°C = 3,1 (kurang kuat aroma nanas); 55°C = 3,8 (kurang kuat aroma nanas); dan 65°C = 4,5 (aroma daging biasa). Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa temperatur perebusan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap keempukan dengan persamaan Y=0.0263+0.0007X, terhadap tekstur dengan persamaan Y=-0.9215+0.0941 X, dan terhadap aroma dengan persamaan Y=0.9610+0.0177X. Kesimpulan, perebusan daging ayam niaga petelur afkir yang telah direndam sari buah nanas pada temperatur 65oC menghasilkan nilai keempukan daging yang optimum, tekstur daging lebih empuk dan kurang kuat aroma daging.The purpose of this research was The Effect of Boiling Temperature On Tenderness and The Organoleptic from Culled Chicken Laying Meat Soaked by Pineapple Juice (Ananas comosus L. Merr) on meat tenderness and to know the effect texture and smell of meat. The material used in this research were culled chicken laying as total 13 and ripe pineapple juice as total 673 ml. The method of this research was conducted using experimental method Completely Randomized Design for meat tenderness and Group Randomized Design for the organoleptic test. This research used three treatments tested were Culled Chicken Laying meat soaked by pineapple juice for 15 minutes then steamed for 30 minutes with each temperature (P1 = 45 °C; P2 = 55 °C; P3 = 65 °C). The measured variables were the meat tenderness and the organoleptic test. The value of tenderness (45oC = 0,0602; 55 oC = 0,0653; and 65 oC = 0,0749 mm/g/dt). The values of texture 45°C = 3.2 (less tender); 55°C = 4.5 (tender enough); and 65°C = 5.1 (more tender). The values of smell 45°C = 3.1 (less strong of smell pineapple); 55°C = 3.8 (less strong of smell pineapple); and 65°C = 4.5 (smell of ordinary meat). The results of variance analysis showed that boiling temperature was very significantly (P<0.01) on tenderness with equations Y=0.0263+0.0007X, on texture with equations Y=-0.9215+0.0941 X, and smell with equations Y=0.9610+0.0177X. In conclusion, boiling of culled chicken laying meat which has been soaked with pineapple juice at a temperature of 65oC produces the optimum the texture of the meat is more tender and less strong smell of meat.
2083023786E1A014154PELAKSANAAN DOUBLE TRACK SYSTEM DALAM PUTUSAN HAKIM TERHADAP PENYALAHGUNA NARKOTIKA TERHADAP PENYALAHGUNA NARKOTIKA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA (Studi di Pengadilan Negeri Purwokerto)Perkembangan hukum modern mengenal istilah double track system yang bermakna adanya kesetaraan antara sanksi pidana dengan sanksi tindakan. Penggunaan double track system ini sudah menjadi kecenderungan internasional sebagai konsekuensi dianutnya aliran Neo-klasik yang berusaha memanfaatkan kelebihan dan meninggalkan kelemahan dari kedua aliran hukum pidana lainnya, yakni aliran klasik dan aliran modern. Salah satu regulasi yang mengakomodir penerapan double track system adalah dalam Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (UU No. 35 Tahun 2009). Double track system ini berkaitan dengan pengenaan pidana terhadap penyalahguna maupun pecandu narkotika di mana dalam pelaksanaan, khususnya dalam putusan hakim akan dipengaruhi oleh pandangan hakim itu sendiri. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan double track system dalam putusan hakim terhadap penyalahguna narkotika dan juga untuk mengetahui pandangan hakim terkait penggunaannya terhadap kasus penyalahguna narkotika.
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis sosiologis dengan spesifikasi penelitian deskriptif dengan Lokasi penelitian di Pengadilan Negeri Purwokerto. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, yang masing-masing bersumber atau diperoleh melalui wawancara, observasi dan studi kepustakaan serta metode analisis data yang digunakan adalah kualitatif.
Hasil penelitian menunjukan, bahwa Pelaksanaan double track system atau pengenaan sanksi pidana penjara dan atau tindakan yang berupa rehabilitasi dalam suatu putusan hakim terhadap kasus penyalahguna dan pecandu narkotika berdasarkan UU No. 35 Tahun 2009 masih belum ada keseragaman atau belum dilaksanakan secara optimal dalam putusan hakim, hal ini dipengaruhi oleh beberapa antara lain rekomendasi ahli, hasil asesmen, kondisi terdakwa, bentuk dakwaan dari Penuntut Umum, serta peraturan perundang-undangan terkait rehabiltiasi.
The development of modern law recognize the term double-track system which means equality between criminal sanctions with sanctions measures. The use of double track system has become the international trend as a consequence of the flow of the Neo-classical espoused that attempts to exploit the strengths and weaknesses of the two streams leaving the other criminal law, the classical and the modern flow stream. One application of the regulation to accommodate the double track system is in Law No. 35 Year 2009 on Narcotics (Law No. 35 of 2009). The double track system relating to the imposition of criminal against abusers or addicts where in implementation, especially in the judge's decision will be influenced by the views of the judges themselves.
The method used in this research is the socio-juridical with specification of descriptive research with research location in Purwokerto District Court. The data used are primary data and secondary data, each derived or obtained through interview, observation and literature study and data analysis methods used are qualitative.
The results showed that the implementation of a double track system or the imposition of criminal sanctions and prison or rehabilitation measures in the form of a verdict against cases of abusers and addicts under Law No. 35 of 2009 there is still no uniformity or have not been implemented optimally in the judge's decision, it is influenced by some among other expert recommendations, the assessment results, the condition of the accused, the form of the indictment of the Public Prosecutor, as well as related legislation rehabiltation.
2083123791F1F014058ANDROGYNY SYMBOL OF FEMALE MODEL’S FASHION STYLE DEPICTED IN GOGIRL! MAGAZINE VOLUME 153: A SEMIOTIC ANALYSISPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tanda yang ditemukan dalam majalah Gogirl! vol.153 dan menjelaskan tentang karakter androgini yang terdapat dalam fashion. Dalam perkembangan trend fashion, perempuan yang notabennya berkarakter feminin dapat mengurangi kesan dominan feminin itu sendiri. Mereka dapat mengadaptasi gaya androgini yang terkombinasi dari gaya feminin dan maskulin. Bidang penelitian ini adalah semiotika yang akan dianalisis menggunakan konsep androgini dari Bem (1974) agar dapat menjelaskan simbol-simbol androgini yang terdapat pada model-model tersebut. Semiotika merupakan suatu kajian tentang sistem tanda untuk mengetahui bahwa tanda itu terhubung dengan makna tertentu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis data dari 12 foto yang didalamnya terdapat model perempuan. Hasil dari penelitian ini adalah pertama, masing-masing foto memiliki tanda-tanda yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ikon mencakup tanda-tanda yang menirukan, mereplikakan, dan kemiripan terhadap benda nyatanya. Indeks mencakup tanda-tanda yang terkoneksi baik secara jelas ataupun tidak jelas dengan objeknya seperti misalnya sebab dan akibat, manfaat, keuntungan, ataupun yang lainnya. Simbol mencakup tanda-tanda yang mempunyai sebuah makna yang telah disetujui ataupun diterima masyarakat berdasarkan dengan konteks nya. Kedua, tanda-tanda dalam foto-foto tersebut sebenarnya lebih memunculkan karakter maskulin daripada karakter feminin seperti tegas, ambisius, independen, atletis, dan lain sebagainya. Karakter-karakter tersebut sudah tersusun dalam konsep androgini yang dikemukan oleh Bem. Semua foto-foto itu mengemukakan bahwa perempuan secara umum dapat menunjukkan kebebasan bergaya dalam fashion. Hal ini memungkinkan bagi mereka untuk memadupadankan atribut-atribut perempuan dan laki-laki. Selain itu, androgini merupakan sisi maskulin dan feminin yang dapat ditunjukkan lewat penampilan dan tidak ada batasan dalam berpakaian.This research is aimed to identify the signs found in Gogirl! magazine vol.153 and explain the androgyny character that is contained in fashion style. In the trend fashion development, female which belongs to feminine can reduce the dominant representation of the feminine characteristic itself. They can adapt the androgyny style which is a combination of feminine and masculine style. The field of this research is semiotics study that is analyzed using Bem’s androgyny concept (1974) to explain androgyny symbols in the models. Semiotics is the study of sign system to know that sign is correlated in certain meaning. This research uses descriptive qualitative method to analyze the data which are 12 images containing female’s model. The results of this research are first, each image contains iconic, indexical, and symbolic sign. Iconic is the signs that have imitation, replication, or resemblance of the real thing. Indexical is the signs that connected explicitly or implicitly with the object such as the cause and effect, helpfulness, advantage, and others. Symbolic is the signs that have a meaning and has been approved and accepted in government and society included the context. Second, the signs in images is actually more demonstrated the masculinity character than feminine such as assertive, ambitious, independent, athletic, and so on. Those characters have been listed in Bem’s androgyny concept. From all the images reveal that woman in general can show the free style in fashion. It is possible for them to mix and match the attributes of female and male. Moreover, androgyny which is the side of masculine and feminine can be exposed through appearances and it has no limitation in dressing.
2083223767D1E014150PENGARUH LAMA PEMBALURAN MENGGUNAKAN BUAH NANAS (Ananas comosus L. Merr) TERHADAP KUALITAS FISIK DAGING DADA ENTOG (Cairina moschata) JANTANTujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pembaluran menggunakan nanas (Ananas comosus L. Merr) pada waktu yang berbeda terhadap tingkat keempukan, nilai pH, daya ikat air, dan susut masak daging dada entog jantan. Materi yang digunakan yaitu daging dada entog jantan dan buah nanas matang. Metode penelitian eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap dan uji lanjut Beda Nyata Jujur. Penelitian menggunakan 4 macam perlakuan yaitu dibalur (P0 0, P1 10, P2 20, dan P3 30 menit). Variabel yang diukur keempukan, pH, daya ikat air, dan susut masak. Nilai keempukan (P0 0,01760; P1 0,02060; P2 0,02480; P3 0,03200 mm/g/dt). Nilai pH (P0 6,08; P1 5,37; P2 5,15; P3 5,03). Nilai daya ikat air (P0 41,28; P1 51,85; P2 50,79; P3 53,58 %). Nilai susut masak (P0 33,37; P1 35,86; P2 38,37; P3 38,19 %). Uji BNJ keempukan (P3) menunjukkan hasil yang lebih empuk dibandingkan (P0), nilai pH (P3) menunjukkan pH yang lebih rendah dibandingkan (P0), daya ikat air (P3) menunjukkan hasil lebih tinggi dibandingkan (P0), susut masak tidak menunjukkan nilai perbedaan antar perlakuan. Kesimpulan, bahwa lama pembaluran menggunakan buah nanas dengan waktu yang berbeda sampai dengan 30 menit dapat menyebabkan kenaikan nilai keempukan, daya ikat air, susut masak dan menurunkan pH. The aim of the research was to determine the effect of coating using pineapple (Ananas comosus L. Merr) at different times on tenderness, pH value, water holding capacity, and cooking losses of male Muscovy breast meat. The material used in this research was male Muscovy breast meat and ripe pineapple. The research was conducted using experimental research method with Completely Randomized Design and further test Honest Real Difference. The research used 4 types of treatment of male Muscovys breast meat that was coating using pineapple for (P0 0, P1 10, P2 20, and P3 30 minutes). Variables measured as tenderness, pH, water holding capacity, and cooking losses. The tenderness value (P0 0.01760; P1 0.02060; P2 0.02480; P3 0.03200 mm/g/dt). pH value (P0 6.08; P1 5.37; P2 5.15;P3 5.03). The value of water holding capacity (P0 41.28; P1 51.85; P2 50.79; P3 53.58 %). The cooking losses value (P0 33.37; P1 35.86; P2 38.37; P3 38.19 %). Based on further testing of BNJ on tenderness (P3) showed more tender result compared to (P0), the pH value (P3) showed a lower pH than (P0), the water holding capacity (P3) showed was higher than (P0), cooking losses does not show the value of difference between each treatment. The conclusion, that the length of the marinade using pineapple with different times until 30 minutes can cause an increase in tenderness value, water holding capacity, cooking losses and lower pH.
2083323768F1B013018MANAJEMEN BENCANA TANAH LONGSOR DI KABUPATEN BANYUMAS
(STUDI PADA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH KABUPATEN BANYUMAS)
Kabupaten Banyumas berada pada kawasan rawan bencana terutama bencana tanah longsor, sehingga diperlukan manajemen bencana sebagai upaya meningkatkan keselamatan dari ancaman bencana tanah longsor yang terjadi di Kabupaten Banyumas.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana manajemen bencana tanah longsor di Kabupaten Banyumas pada BPBD Kabupaten Banyumas sudah sesuai aspek fungsi-fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan pengawasan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik pemilihan informan purposive sampling. Sumber data pada penelitian ini adalah melalui wawancara, dokumentasi, dan observasi. Metode analisis yang digunakan adalah model analisis interaktif menurut Milles dan Huberman (2014) dimana keabsahan data diuji dengan triangulasi sumber.Hasil penelitian ini menunjukkan manajemen bencana tanah longsor di Kabupaten Banyumas sudah memenuhi fungsi-fungsi dalam pelaksanaanya. Namun pelaksanaan manajemen bencana pada setiap tahap masih tedapat kekurangan dimana pada pra bencana memiliki kekurangan pada aspek perencanaan dan penggerakkan, pada tahap saat bencana memiliki kekurangan pada aspek pengorganisasian dan penggerakkan, pada tahap pasca bencana memiliki kekurangan pada aspek pengorganisasian dan penggerakkan. Berdasarkan pembahasan penelitian ini membuktikan bahwa masing-masing fungsi manajemen yang dikemukakan oleh George R. Terry (1958) saling mempengaruhi satu sama lain, maka BPBD harus menutupi kekurangan pada setiap aspek fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan pengawasan pada setiap tahap baik pra bencana, saat bencana, dan pasca bencana tanah longsor untuk melakukan manajemen bencana tanah longsor yang dilakukan oleh BPBD Kabupaten Banyumas.Banyumas Regency is located in disaster-prone areas, especially landslides, so disaster management is needed as an effort to improve safety from the threat of landslides that occur in Banyumas. The purpose of this study is to find out how the management of landslides in BPBD Banyumas in Banyumas Regency is appropriate to aspects of management functions namely planning, organizing, mobilizing and controlling. The research method used was descriptive qualitative, with purposive sampling to selecting the informants. The data source in this study is through interviews, documentation, and observation. The analytical method used is an interactive analysis model according to Milles and Huberman (2014) where the validity of the data is tested by source triangulation. The results of this study indicate the management of landslides in Banyumas Regency has fulfilled the functions in its implementation. However, the implementation of disaster management at each stage still lacks that in pre-disaster it has deficiencies in the aspects of planning and mobilization, at the stage when the disaster has deficiencies in organizing and mobilizing aspects, in the post-disaster phase it has deficiencies in organizing and mobilizing aspects. Based on the discussion of this study proves that each management function proposed by George R. Terry (1958) influences each other, the BPBD must cover the shortcomings in every aspect of management functions, namely planning, organizing, mobilizing, and monitoring at each stage of good pre-disaster, during disasters, and post-landslides to conduct landslide management carried out by BPBD Banyumas Regency.
2083423769D1E014106PENGARUH LAMA PENGGANTUNGAN PADA KONDISI SUHU TERKONTROL TERHADAP KADAR ASAM LAKTAT, pH DAN TOTAL PADATAN CONCENTRATED YOGHURT DARI SUSU SAPIPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penggantungan pada kondisi suhu terkontrol terhadap kadar asam laktat, pH, dan total padatan concentarted yoghurt dari susu sapi. Metode penelitian dilakukan secara eksperimen dengan lima perlakuan yaitu P1: 2 jam, P2: 4 jam, P3: 6 jam, P4: 8 jam, P5: 10 jam dan setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama penggantungan concentrated yoghurt tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap pH 3,22±0,052 tetapi sangat berpengaruh nyata (P<0,01) terhadap kadar asam laktat 1,56%±0,061 dan total padatan 21%±0,020. Kesimpulan, waktu penggantungan mempengaruhi kualitas concentrated yoghurt yang diukur terutama dari kadar asam laktat dan total padatan. Penggantungan selama 2 jam sudah menghasilkan kadar asam laktat 1,56%±0,061 dan total padatan 21%±0,020.This research aims to study the effect of dripping time on lactic acid content, pH and total solids of concentrated yoghurt. This research was conducted experimentally, employing 5 treatments. The treatments were dripping time P1: 2 hours; P2: 4 hours; P3: 6 hours; P4: 8 hours; P5: 10 hours. Each treatments was repeated 5 times. Variables measured were lactic acid content, pH, and total solids of concentrated yoghurt. Data were analyzed by using a regression-correlation analysis. The result showed that dripping time of yoghurt has no significant effects (P>0,05) on pH, which was on average 3,22±0,052. Dripping time has significant effect (P<0,01) on lactic acid content, with average value of 1,56%±0,061, as well as on total solids, with average value of 21%±0,020. In conclusion, dripping time contributed to the changes in the characteristic of concentrated yoghurt, particularly its lactic acid and the total solids contents. Dripping yoghurt for 2 hours produced concentrated yoghurt with 1,56%±0,061 lactic acid and 21%±0,020 total solids content.
2083528764F1F016032Analisis Implementasi Sunshine Policy Dalam Proses Reunifikasi Korea Selatan dan Korea Utara Pada Masa Pemerintahan Kim Dae JungAnalisis Implementasi Sunshine Policy Dalam Proses Reunifikasi Korea Selatan dan Korea Utara Pada Masa Pemerintahan Kim Dae Jung

Penelitian ini menganalisis bagaimana implementasi Sunshine Policy mempengaruhi reunifikasi antara Korea Selatan dan Korea Utara dibawah pemerintahan Kim Dae Jung dengan menggunakan salah satu konsep identitas kolektif yang dikemukakan oleh Alexander Wendt dimana ia menjelaskan identitas kolektif adalah kesamaan pikiran dan perasaan antar aktor (antar negara) ada beberapa faktor yang membentuk identitas kolektif antar negara. Alexander Wendt menyebutnya sebagai master variable, yaitu interdependensi, keyakinan bersama, homogenitas, dan pengekangan diri. Dari keempat variabel tersebut dapat dikelompokkan kedalam 3 faktor determinan, yakni faktor struktural, sistemik, dan strategis. Serta menggunakan konsep reunifikasi. Pemerintahan Kim Dae Jung berlangsung pada tahun 1998-2003. Pada masa pemerintahan Kim Dae Jung tercetuslah sebuah kebijakan yaitu Sunshine Policy dimana kebijakan tersebut berupaya mengikutsertakan Korea Utara di dalam setiap kerjasama ekonomi. Kebijakan ini berdasarkan 3 prinsip yaitu tidak mentolerir segala bentuk provokasi senjata oleh Korea Utara, tidak berupaya bersatu secara paksa dengan Korea Utara dan memperluas rekonsiliasi dan kerja sama.

Berdasarkan hasil penelitian ini, dengan menggunakan perspektif konstruktivis Sunshine Policy berhasil memenuhi 3 faktor determinan dalam identitas kolektif yakni faktor struktural, sistemik dan strategis sehingga berhasil mengubah pandangan warga Korea dan juga Dunia bahwa kedua negara bisa berteman dan menjalin Kerjasama.
Analysis of Sunshine Policy Implementation in the Reunification Process of South and North Korea During Kim Dae Jung's Reign

This study analyzes how the implementation of the Sunshine Policy affects reunification between South and North Korea under the rule of Kim Dae Jung by using one of the concepts of collective identity put forward by Alexander Wendt in which he explains the collective identity is the similarity of thoughts and feelings between actors (between countries) there are several factors that shape collective identity between countries. Alexander Wendt called it the master variable, namely interdependence, shared beliefs, homogeneity, and self-restraint. Of the four variables can be grouped into 3 determinant factors, namely structural, systemic, and strategic factors. And using the concept of reunification. Kim Dae Jung's reign took place in 1998-2003. During the reign of Kim Dae Jung a policy was born, namely the Sunshine Policy in which the policy sought to include North Korea in every economic cooperation. This policy is based on 3 principles, namely not to tolerate any form of weapons provocation by North Korea, not to try to force unite with North Korea and expand reconciliation and cooperation.

Based on the results of this study, using the Sunshine Policy constructivist perspective succeeded in fulfilling 3 determinant factors in collective identity namely structural, systemic and strategic factors so that it succeeded in changing the views of Koreans and also the World that the two countries could be friends and establish Cooperation.
2083623771D1E013143ANALISIS RANTAI PASOKAN (SUPPLY CHAIN) TERNAK SAPI POTONG DI KECAMATAN BAWANG KABUPATEN BANJARNEGARA
”Analisis Rantai Pasokan (Supply Chain) Ternak Sapi Potong Di Kecamatan Bawang Kabupaten Banjarnegara”. Tujuan dari penelitian ini adalah : 1). Mengetahui aliran produk, aliran keuangan dan aliran informasi pada rantai pasokan ternak sapi potong di Kabupaten Banjarnegara. 2). Mengetahui tingkat efisiensi pemasaran pada rantai pasokan ternak sapi potong di Kabupaten Banjarnegara. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus – 2 September 2018 di Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia.
Metode penelitian ini menggunakan metode survey, yaitu melakukan wawancara secara tersetruktur menggunakan kuisioner/daftar pertanyaan sebagai alat bantu /instrumen. Data penelitian terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh melalui kuisioner dan wawancara lansung ke responden dengan menggunakan daftar pertanyaan. Data sekunder data yang diperoleh dari instansi terkait dengan objek penelitian. Data sekunder digunakan untuk mengetahui keadaan geografis dan keadaan penduduk lokasi penelitian. Variabel yang diamati dan diukur meliputi variabel yang berkaitan dengan: (1) Aliran rantai pasokan sapi potong, (2) Aliran produk, (3) Aliran Keuangan dan, (4) Aliran informasi, pada tiap-tiap rantai pasokan.
Hasil Penelitian menunjukan bahwa terdapat dua aliran rantai pasokan yaitu perdagangan tetap dan perdagangan musiman. Aliran produk yang mengalir dari hulu kehilir sedangkan Aliran keuangan mengalir dari hilir kehulu dan pembayaran setiap transaksinya dilakukan dengan uang tunai. Aliran informasi yang terjadi secara timbal balik antara pedagang dengan pedagang ataupun pedagang dengan pembeli sedangkan untuk Efisiensi pemasaran adalah 6% untuk perdagangan tetap, 9% untuk perdagangan musiman dan 4% untuk peternak.
"Supply Chain Analysis (Supply Chain) of The Cattle in Bawang District Banjarnegara". The study aims to: 1). Determine the product, financial and infromation rotaion in the supply chain of beef cattle in Banjarnegara Regency. 2). Determine the marketing efficiency in the supply chain of beef cattle in Banjarnegara Regency. The study was conducted on 30 August - 2 September 2018 in Bawang District, Banjarnegara Regency, Central Java, Indonesia.
The methode used was survey method, interview the respondents with quetioner as an instruments. The research data consists of primary data and secondary data. Primary data was obtained through questionnaires and interviews directly to respondents using a questionnaire. Secondary data was obtained from agencies related to the object of research. Secondary data was used to determine the geographical situation and the condition of the population. The observed and measured variables include variables related to: (1) Beef supply chain flow, (2) Product flow, (3) Financial flow and, (4) Information flow, in each supply chain.
The results of this study indicate that there are two supply chain streams, are fixed trade and seasonal trade. The product flows from upstream to downstream while the financial flow was the opposite with all payments transaction are carried out in cash. The flow of information occured reciprocally between traders and traders or traders with buyers and the marketing efficiency was 6% for fixed trading, 9% for seasonal trading and 4% for farmers.
2083723772E1A114010KOMPETENSI ABSOLUT DAN ALAT BUKTI DALAM PERKARA WARIS ATAS PEMBAGIAN HARTA BERSAMA
(Studi Terhadap Putusan Nomor : 239/Pdt.G/2015/PN.JKT.PST)
KOMPETENSI ABSOLUT DAN ALAT BUKTI DALAM PERKARA WARIS ATAS PEMBAGIAN HARTA BERSAMA
(Studi Terhadap Putusan Nomor : 239/Pdt.G/2015/PN.JKT.PST)
Oleh:
DIGA ARNOLDUS SAHABAT SITEPU
E1A114010

ABSTRAK
Dasar bagi hakim dalam menilai alat bukti sebagai dasar dalam mengabulkan gugatan perkara waris, serta kewenangan pengadilan dalam memutus perkara waris harus sesuai dengan ketentuan Perundang-Undangan dan asas-asas umum yang berlaku dan tepat. Dalam Putusan Nomor : 239/Pdt.G/2015/PN.JKT.PST, tentang perkara waris dimana setelah pewaris meninggal, harta warisan yang berupa harta bersama belum dibagi. Pewaris menikah sebanyak 3 (tiga) kali semasa hidupnya, dan meninggalkan 2 (dua) orang istri serta meninggalkan 6 (enam) orang anak kandung. Penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang Pertama, kompetensi Absolut Pengadilan Negeri yang mengadili, dan Kedua, tentang alat bukti, yaitu dengan adanya alat bukti apakah yang dijadikan dasar oleh hakim dalam mengambil keputusan.
Penelitian ini digunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian inventarisasi Perundang-Undangan dan teori hukum. Jenis dan sumber data meliputi, data sekunder berupa bahan hukum primer yaitu putusan PN dan Perundang-Undangan, bahan hukum sekunder berupa teori hukum, dan bahan hukum tersier yang mendukung penelitian ini, pustaka di bidang hukum, hasil penelitian, artikel ilmiah, dokumen-dokumen dll. Penyajian data dengan bentuk uraian-uraian yang tersusun secara deskriptif, dan naratif.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh bahwa: 1. Kompetensi Absolut Pengadilan Negeri dalam memutus perkara Nomor :239/Pdt.G/2015/PN.JKT.PST, berdasarkan pada Undang-Undang yang berlaku yaitu Undang-Undang No.2 Tahun 1986 Tentang Peradilan Umum. 2. Hakim dalam menentukan Pembuktian berdasarkan pada pemeriksaan persidangan tersebut telah diperoleh fakta-fakta hukum bahwa alat bukti yang dijadikan sebagai dasar dalam memutus perkara yaitu Alat Bukti Otentik berupa Surat.
Kata Kunci : Kompetensi Absolut, dan Alat Bukti.
ABSOLUTE COMPETENCE AND EVIDENCE IN THE CASE THE HEIR UPON THE DIVISION OF PROPERTY
(Study of Decision Number: 239 / Pdt.G / 2015 / PN.JKT.PST)
By:
DIGA ARNOLDUS SAHABAT SITEPU
E1A114010

ABSTRACT

The basis for the judge in assessing the evidence as a basis for granting the inheritance case claim, as well as the authority of the court in deciding the inheritance case must be in accordance with the provisions of the Legislation and general principles that are valid and appropriate. In Decision Number: 239 / Pdt.G / 2015 / PN.JKT.PST, concerning inheritance cases where after the testator dies, inheritance in the form of joint assets has not been divided. the testator was married 3 (three) times during his lifetime, and left 2 (two) wives and left 6 (six) biological children. Authors interested in researching more about the first, Absolute competence of the District Court judge, and the second, on the evidence, that the existence of evidence if that is relied upon by the judge in taking decisions.
This study used a qualitative research method with a normative juridical analysis approach with the specification of legislation inventory research and legal theory. The types and sources of data include secondary data in the form of primary legal materials, namely the decisions of PN and legislation, secondary legal materials in the form of legal theory, and tertiary legal materials that support this research, literature in the field of law, research results, scientific articles, documents etc. Presentation of data with form descriptions which are arranged descriptively, and narratively.
Based on the results of the research conducted, it was found that: 1. The authority of the Pengadilan Negeri in deciding cases Number: 239 / Pdt.G / 2015 / PN.JKT.PST, based on the applicable legislation, namely Undang-Undang No. 2 Tahun 1986 Tentang Peradilan Umum. 2. The judge in determining Proof based on an examination of the trial has acquired legal facts that serve as the basis of the evidence in the matter that is disconnected the appliance the authentic Proof in the form of a letter.
Keywords: Absolute competence, and Evidence.
2083823773D1B016003JUMLAH TANAMAN DAN LUAS TANAH TERKANOPI PERTUMBUHAN RUMPUT SETARIA YANG DIBERI PUPUK ORGANIK CAIR LIMBAH PASAR TRADISIONAL DAN WAKTU DEFOLIASI BERBEDAPenelitian berjudul : “Jumlah Tanaman Dan Luas Tanah Terkanopi Pertumbuhan Rumput Setaria Yang Diberi Pupuk Organik Cair Limbah Pasar Tradisional Dan Waktu Defoliasi Berbeda” dilaksanakan pada Juli 2018 sampai dengan Agustus 2018 bertempat di lahan perkebunan KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) Adipati Mersi, Kelurahan Mersi, Kecamatan Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa tengah. Bahan yang digunakan dalam penetian adalah pupuk organik cair limbah pasar tradisional sebanyak 3,25 liter dengan perlakuan I dosis pupuk cair yaitu 0:0 (kontrol), 1:1 (1,5 liter POC + 1,5 liter air), 1:2 (1 liter POC + 2 liter air), dan 1:3 (0,75 liter POC + 2,25 liter air). Perlakuan II adalah waktu defoliasi yaitu 5 minggu, 6 minggu dan 7 minggu.
Terdapat 12 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali, sehingga terdapat 36 unit perlakuan. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa dosis dan waktu defoliasi berpengaruh sangat nyata (P < 0,05) terhadap luas tanah terkanopi sedangkan analisis variansi dosis dan waktu defoliasi tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan jumlah tanaman rumput Setaria splendida (P > 0,05).

The research entitled: "The Number of Planted and Covered Land Areas of the Growth of Setaria Grass Provided with Liquid Organic Fertilizer of Traditional Market Waste and Different Defoliation Times" was carried out on July 2018 until August 2018 located at the Adipati Mersi KSM (Swadaya Masyarakat) plantation, Mersi Village, East Purwokerto District, Banyumas Regency, Central Java Province. The material used in the penetration was traditional market waste liquid fertilizer as much as 3.25 liters with treatment I of liquid fertilizer dosage 0: 0 (control), 1: 1 (1.5 liters of POC + 1.5 liters of water), 1: 2 (1 liter POC + 2 liters of water), and 1: 3 (0.75 liters of POC + 2.25 liters of water). The second treatment was defoliation time which was 5 weeks, 6 weeks and 7 weeks.
There were 12 treatment combinations which repeated 3 times, so there were 36 treatment units. The results of the analysis of variance showed that the dose and time of defoliation had a very significant effect (P <0.05) on the widening of the canopy area while the analysis of dose variance and defoliation time had no significant effect on the number of Setaria splendida grass plants (P> 0.05).
2083923774F1D013047Pelaksanaan Prinsip-Prinsip Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik Pada Pemerintahan Desa Wlahar Wetan Kabupaten BanyumasPenelitian ini berjudul “Pelaksanaan Prinsip-Prinsip Tata Kelola Pemerintahan yang Baik pada Pemerintahan Desa Wlahar Wetan Kabupaten Banyumas.” Memiliki tujuan untuk mendeskripsikan dan memahami bagaimanakah pelaksanaan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik pada Pemerintahan Desa Wlahar Wetan, Kabupaten Banyumas untuk mencapai visi-misi pemerintahan desa yang berlandaskan good governance dan memahami faktor pendukung dan penghambat Pemerintah Desa Wlahar Wetan, Kabupaten Banyumas dalam melaksanaan prinsi-prinsip tersebut.
Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dan perspektif strukturalis dengan metode penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan studi kasus. Penelitian ini berlokasi di wilayah Kabupaten Banyumas dengan situs berada di Desa Wlahar Wetan Kecamatan Kalibagor. Teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling dan snowball sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi serta teknik analisis data menggunakan teknik analisis interaktif. Sementara untuk keabsahan data menggunakan teknik triangulasi data.
Hasil dari penelitian ini yaitu munculnya kepemimpinan politik yang baik dari sosok kepala desa. Terbentuknya relasi dan jaringan dengan Gedhe Foundation dan Gerakan Desa Membangun yang mempengaruhi munculnya gagasan pelaksanaan visi dan misi Pemerintahan Desa Wlahar Wetan. Visi dan misi tersebut mengedepankan tata kelola pemerintahan yang baik. Pemerintah Desa Wlahar Wetan telah melaksanakan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik meliputi prinsip transparansi, partisipasi, akuntabilitas, dan penegakan hukum. Pertama, Pemerintah Desa Wlahar Wetan melaksanakan prinsip transparansi dengan memanfaatkan media digital berupa website dan non-digital berupa spanduk sebagai media untuk menyediakan keterbukaan informasi. Kedua, Pemerintah Desa Wlahar Wetan mendorong partisipasi masyarakat dan stakeholder melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan perihal perencanaan pembangunan desa dengan diadakannya beberapa kegiatan seperti musyawarah perencanaan pembangunan desa. Namun, ada dinamika yang terjadi di antara kelompok masyarakat pada proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Ketiga, upaya Pemerintah Desa Wlahar Wetan dalam bertanggungjawab atas rencana pembangunan dengan merealisasikan pembangunan dan dapat menyediakan laporan pertanggungjawaban kepada stakeholder dan masyarakat. Keempat, dalam pelaksanaan prinsip penegakan hukum, dilaksanakan melalui adanya peraturan desa seperti peraturan desa tentang APBDesa yang dirancang setiap tahun. Adapun faktor pendukung pelaksanaan prinsip tersebut ialah kepemimpinan dan komitmen pemerintah desa, pemanfaatan sumber daya, dan tingginya kesadaran masyarakat. Akan tetapi faktor penghambat pelaksanaan prinsip tersebut ialah rendahnya tingkat pendidikan masyarakat desa dan kurangnya pendekatan emosional pemerintah desa terhadap masyarakat.
The title of this study is "Implementation of Good Governance Principles in the Wlahar Wetan Village Government, Banyumas Regency." The purpose of this study is to describe and understand how to apply the principles of good governance in the Wlahar Wetan Village Government, Banyumas Regency to achieve the vision of the village government based on good governance and understanding the supporting and inhibiting factors of Wlahar Wetan Village Government, Banyumas Regency in applying these principles.
This study used the constructivism paradigm and structuralist perspective with qualitative research methods. This study used a case study approach. This study is located in the Banyumas Regency area with sites located in Wlahar Wetan Village, Kalibagor District. The informant selection technique used purposive sampling and snowball sampling. Data collection techniques using interviews, observation, and documentation. Data analysis techniques used interactive analysis techniques. The validity of the data used data triangulation techniques.
The results of this study are the emergence of good political leadership from the figure of the village headman. Establishment of relations and networks with the Gedhe Foundation and the Village Building Movement which influenced the emergence of the idea of implementing the vision and mission of the Wlahar Wetan Village Government. The vision and mission put forward good governance. The Wlahar Wetan Village Government has implemented the principles of good governance covering the principles of transparency, participation, accountability, and law enforcement. First, the Wlahar Wetan Village Government implements the principle of transparency by utilizing digital media in the form of websites and non-digital forms of banners as a medium to provide information transparency. Second, the Wlahar Wetan Village Government encourages community participation and stakeholders through planning, implementing, and evaluating activities regarding village development planning by holding several activities such as village development planning deliberations. However, there are dynamics that occur between community groups in the process of planning and implementing activities. Third, the efforts of the Wlahar Wetan Village Government in being responsible for development plans by realizing development and can provide accountability reports to stakeholders and the community. Fourth, in the implementation of the principle of law enforcement, it is carried out through the existence of village regulations such as village regulations on Village Budget that are designed every year. The supporting factors for implementing these principles are leadership and commitment of the village government, utilization of resources, and high public awareness. However, the inhibiting factor in implementing this principle is the low level of education of the village community and the lack of an emotional approach of the village government to the community.
2084023775C2C016007PENGARUH CITRA DESTINASI, PERSEPSI INOVASI, PERSEPSI HARHA TERHADAP LOYALITAS DAN NIAT BERKUNJUNG KEMBALI MELALUI KEPUASAN SEBAGAI VARIABEL MEDIASIPenelitian ini dilatar belakangi dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi bangsa yang saat ini dipengaruhi oleh dunia pariwisata di Indonesia. Penelitian ini dilakukan di Owabong ( Obyek Wisata Air Bojongsari ) dengan tujuan yakni menguji pengaruh citra destinasi, perspsi inovasi dan persepsi harga terhadap loyalitas dan niat berkunjung kembali melalui kepuasan sebagai variabel mediasi. Data dikumpulkan dengan metode kuisioner terhadap 145 pengunjung di Obyek Wisata Air Bojongsari yang diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif.
Hasil dari penelitian ini adalah citra destinasi, persepsi inovasi dan persepsi harga serta kepuasan sebagai variabel mediasi secara bersama-sama memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas dan niat berkunjung kembali. Sedangkan variabel loyalitas memiliki pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap niat berkunjung kembali.

Kata kunci : Citra destinasi, persepsi inovasi, persepsi harga, kepuasan, loyalitas dan niat berkunjung kembali.

ABSTRACT
This research is motivated by the increasing economic growth of the nation which is currently influenced by the world of tourism in Indonesia. This research was conducted at Owabong (Bojongsari Water Tourism Object) with the aim of examining the influence of destination image, perspectives on innovation and price perceptions of loyalty and intention to return through satisfaction as a mediating variable. Data were collected by questionnaire method on 145 visitors at Bojongsari Water Tourism Object obtained by using purposive sampling technique. The method used is descriptive quantitative.
The results of this study are destination image, perception of innovation and perceived price and satisfaction as mediating variables together have a positive and significant influence on loyalty and intention to return. While the loyalty variable has a positive but not significant effect on the intention to visit again.

Keywords: Destination image, perception of innovation, perceived price, satisfaction, loyalty and intention to return.