Artikelilmiahs

Menampilkan 50.121-50.140 dari 50.148 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5012153310A1A022049Fluktuasi Harga Dan Integrasi Pasar Horizontal Bawang Merah Di Kabupaten PurbalinggaBawang merah atau dalam bahasa ilmiah disebut dengan Allium cepa L. var. Aggregatum merupakan salah satu komoditas tanaman hortikultura dan komoditas strategis di Indonesia. Produksi dan harga bawang merah di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Purbalingga, cenderung bergerak fluktuatif. Fluktuasi harga bawang merah menyebabkan ketidakpastian dan resiko harga pasar dan menjadi salah satu penyumbang inflasi daerah. Pada Kabupaten Purbalingga, pasar tradisional memiliki konsentrasi yang tinggi dibandingkan kabupaten di wilayah Barlingmascakeb karena pasar utama di Kabupaten Purbalingga memiliki jumlah yang lebih sedikit sehingga memiliki pengaruh dominan terhadap pasar di bawahnya. Pasar Segamas, Pasar Rakyat Bobotsari, dan Pasar Bukateja merupakan pasar kelas 1 di Kabupaten Purbalingga yang menjadi pusat pemantauan harga dan stok kebutuhan pokok serta menjadi pasar kulakan bagi pasar lain di bawahnya. Integrasi pasar diperlukan untuk mendukung efektivitas dan efisiensi kebijakan stabilisasi harga oleh pemerintah karena informasi perubahan harga dapat tersalurkan antar pasar. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui fluktuasi harga komoditas bawang merah di Pasar Segamas, Pasar Rakyat Bobotsari, dan Pasar Bukateja serta menganalisis integrasi pasar secara horizontal pada komoditas bawang merah antara Pasar Segamas, Pasar Rakyat Bobotsari, dan Pasar Bukateja Kabupaten Purbalingga.
Penelitian ini menggunakan metode studi kasus yang dilaksanakan di Pasar Segamas, Pasar Rakyat Bobotsari, dan Pasar Bukateja Kabupaten Purbalingga pada bulan Februari sampai April 2026. Penelitian menggunakan data sekunder berupa harga eceran/konsumen bawang merah mingguan periode Januari 2019 sampai November 2024 yang diperoleh dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Purbalingga. Variabel yang dianalisis meliputi harga eceran mingguan bawang merah di Pasar Segamas, Pasar Bobotsari, dan Pasar Bukateja. Analisis data yang digunakan yaitu koefisien variasi (KV), uji stasioneritas Augmented Dickey Fuller (ADF), penentuan lag optimal, uji stabilitas VAR, uji kausalitas Granger, Vector Autoregression (VAR) in level, Impulse Response Function (IRF), dan Variance Decomposition.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga bawang merah di Pasar Segamas, Pasar Bobotsari, dan Pasar Bukateja selama periode 2019–2024 mengalami fluktuasi yang tinggi dan tidak stabil karena nilai koefisien variasinya melebihi batas toleransi yang ditetapkan Kemendag RI sebesar 23 persen. Ketidakstabilan tersebut terjadi karena tidak ada kepastian waktu dan jumlah pasokan bawang merah yang diperoleh dari pemasok sehingga terjadi ketidakseimbangan antara stok bawang merah dan permintaan konsumen. Hasil analisis VAR in level, impulse response function (IRF), dan forecast error variance decomposition (FEVD) menunjukkan bahwa terjadi integrasi pasar horizontal dalam jangka pendek antar ketiga pasar yang ditunjukkan melalui adanya informasi harga yang tersalurkan antar pasar sehingga membentuk respon dan kontribusi dalam pembentukan harga bawang merah di masing-masing pasar. Pasar Segamas menjadi pasar yang memiliki peran terbesar dalam pembentukan harga bawang merah di Pasar Segamas, Pasar Bobotsari, dan Pasar Bukateja berdasarkan hasil yang konsisten pada analisis kausalitas Granger, VAR in level, IRF, dan FEVD. Hal tersebut terjadi karena Pasar Segamas berperan sebagai pasar kulakan dan price leader bawang merah bagi Pasar Bobotsari dan Pasar Bukateja.
Shallots or scientifically known as Allium cepa L. var. Aggregatum are one of the horticultural and strategic commodities in Indonesia. The production and prices of shallots in Indonesia, particularly in Central Java Province and Purbalingga Regency, tend to fluctuate. Shallot price fluctuations cause market price uncertainty and contribute to regional inflation. In Purbalingga Regency, traditional markets have a high concentration compared to other regencies in the Barlingmascakeb area because the number of main markets in Purbalingga is relatively limited, resulting in a dominant influence on subordinate markets. Segamas Market, Bobotsari People’s Market, and Bukateja Market are Class I markets in Purbalingga Regency that serve as centers for monitoring prices and staple food stocks, as well as wholesale markets for smaller markets under them. Market integration is necessary to support the effectiveness and efficiency of government price stabilization policies because price information can be transmitted among markets. This study aimed to identify shallot price fluctuations and analyze horizontal market integration of shallots among Segamas Market, Bobotsari People’s Market, and Bukateja Market in Purbalingga Regency.
This research employed a case study method conducted at Segamas Market, Bobotsari People’s Market, and Bukateja Market in Purbalingga Regency from February to April 2026. The study used secondary data in the form of weekly retail/consumer shallot prices from January 2019 to November 2024 obtained from the Department of Industry and Trade of Purbalingga Regency. The variables analyzed included weekly retail shallot prices in Segamas Market, Bobotsari Market, and Bukateja Market. The analytical methods used were coefficient of variation (CV), Augmented Dickey-Fuller (ADF) stationarity test, optimal lag determination, VAR stability test, Granger causality test, Vector Autoregression (VAR) in level, Impulse Response Function (IRF), and Variance Decomposition.
The results showed that shallot prices in Segamas Market, Bobotsari Market, and Bukateja Market during the 2019–2024 period experienced high and unstable fluctuations because the coefficient of variation values exceeded the tolerance limit established by the Indonesian Ministry of Trade at 23 percent. This instability occurred due to uncertainty in the timing and quantity of shallot supplies obtained from suppliers, resulting in an imbalance between shallot stocks and consumer demand. The results of the VAR in level, Impulse Response Function (IRF), and Forecast Error Variance Decomposition (FEVD) analyses indicated the existence of short-term horizontal market integration among the three markets, as reflected by the transmission of price information among markets, which generated responses and contributions in the formation of shallot prices in each market. Segamas Market had the greatest role in determining shallot prices in Segamas Market itself, Bobotsari Market, and Bukateja Market based on consistent results from the Granger causality, VAR in level, IRF, and FEVD analyses. This occurred because Segamas Market functions as a wholesale market and a price leader for shallots for Bobotsari Market and Bukateja Market.
501226123G1G009009RESPON HIDROFOBISITAS BAKTERI PEMBENTUK PLAK GIGI
(Streptococcus sanguinis) TERHADAP PAPARAN EKSTRAK UMBI
TANAMAN SARANG SEMUT (Myrmecodia pendens)
DALAM SEDIAAN OBAT KUMUR
Plak gigi merupakan penyebab terjadinya gingivitis. Bakteri S. sanguinis memilikidaya hidrofobisitas kuat, sehingga dapat melekat erat pada permukaan gigi, berperan menjadi perantara melekatnya bakteri lain. Umbi tanaman sarang semut (M. pendens) merupakan salah satu alternatif bahan alam yang berpotensi sebagai antibakteri.Tujuan penelitian ini adalah mengkaji konsentrasi ekstrak M. pendens dari 40%, 20%, 10%, 5% dalam sediaan obat kumur yang mampu menurunkan respon hidrofobisitas bakteri S. sanguinis. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan post test only control group design. Sampel penelitian terdiri dari 21, terbagi dalam 7 perlakuan dengan pengulangan triplo, meliputi kontrol (+) Chlorhexidine gluconate 0,2%, 4 konsentrasi formulasi obat kumur M. pendens, kontrol (-) aquades steril, dan blanko (formulasi obat kumur non ekstrak). Metode preparasi ekstrak menggunakan maserasi, pembuatan formulasi obat kumur dilanjutkan evaluasi stabilitas dan pH, serta uji hidrofobisitas menggunakan spektrofotometer UV-Vis gelombang 550 nm.Data absorbansi dianalisis menggunakan One Way Anova dan LSD. Hasil menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna (p= 0,000; p<0,05) antara obat kumur M. pendens dengan aquades dan Chlorhexidine gluconate 0,2%, serta terdapat penurunan rerata nilai indeks hidrofobisitas seiring dengan kenaikan konsentrasi, dengan konsentrasi 5% (Ab= 51,22%), 10% (Ab= 45,26%), 20% (Ab= 24,78%), dan 40% (Ab= 12,17%). Simpulan penelitian ini adalah ekstrak M. pendens sebagai sediaan obat kumur dapat menurunkan respon hidrofobisitas bakteri S. sanguinis.
Dental plaque is the caused gingivitis. Bacteria S. sanguinis has a strong hydrophobicity, so it can attachedfirmly to the tooth surface, it acts to mediate attachment of other bacteria. Tuber ant (M. pendens) is one of potential alternative natural materials as an antibacterial. The purpose of this study is to examine M. pendensextract concentration of 40%, 20%, 10%, 5% in the mouthwash that can reduce the response of the bacteria S. sanguinishydrophobicity. This research is an experimental laboratory with a post-test only control group design. The sample consisted of 21, divided into 7 treatment with repetition triplo, including control (+)Chlorhexidine gluconate0,2%, 4 concentrations of mouthwash formulations M. pendens, control (-) sterile distilled water, and blank (non extract mouthwash formulations). Extract preparation use macerationmethod, making mouthwash formulation, evaluation pH and stability, and then hydrophobicity test use UV-Vis spectrophotometry absorbance 550 nm. Absorbance data were analyzed use One Way Anova and LSD. Results showed that there is a significant difference p= 0,000 (p<0,05) between mouthwash M. pendens with distilled water and Chlorhexidine gluconate0,2%. There is a decrease in absorbance values from higher concentrations, at a concentration of 5% (Ab = 51.22%), 10% (Ab = 45.26%), 20% (Ab = 24.78%), and 40% (Ab = 12 , 17%).The conclusion of this study is extract of M. pendensin mouthwash can decrease the hydrophobicity of bacterial S. Sanguinis.
5012352266D1A022040HUBUNGAN MOTIVASI DAN ETOS KERJA DENGAN PENDAPATAN PETERNAK DOMBA SAKUB DI KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat motivasi dan etos kerja peternak serta menganalisis hubungan antara motivasi dan etos kerja dengan pendapatan peternak domba Sakub di Kabupaten Brebes. Penelitian dilaksanakan di Desa Pandansari Kecamatan Paguyangan dan Desa Wanareja Kecamatan Sirampog dengan jumlah responden sebanyak 110 peternak yang dipilih secara random sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan pendekatan kuantitatif. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi peternak berada pada kategori sedang (64,55%) dengan indikator kebutuhan fisiologis sebagai motivasi dominan. Etos kerja peternak berada pada kategori tinggi (57,27%) yang tercermin dari sikap disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras dalam menjalankan usaha ternak. Pendapatan peternak domba Sakub tergolong rendah, di mana 52,72% peternak memiliki pendapatan di bawah Rp18,057,292.92 per tahun atau Rp.1.504.774,41 per bulan. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa motivasi memiliki hubungan negatif sangat lemah (rs = 0,172), sedangkan etos kerja memiliki hubungan positif sangat lemah (rs = 0,017) terhadap pendapatan peternak. Kesimpulan penelitian ini adalah motivasi dan etos kerja peternak belum memiliki hubungan yang nyata terhadap pendapatan, yang dipengaruhi oleh kondisi usaha ternak sebagai usaha sampingan, skala usaha yang kecil, serta fluktuasi harga ternak yang menurun.
This study aims to determine the level of motivation and work ethic of farmers and to analyze the relationship between motivation and work ethic with the income of Sakub sheep farmers in Brebes Regency. The research was conducted in Pandansari Village, Paguyangan District, and Wanareja Village, Sirampog District, involving 110 respondents selected through random sampling. The research method used was a survey with a quantitative approach. Data were analyzed using descriptive analysis and the Spearman Rank correlation test. The results showed that farmers' motivation was in the moderate category (64.55%), with physiological needs as the dominant motivating factor. The work ethic of farmers was categorized as high (57.27%), reflected in discipline, responsibility, and hard work in managing livestock enterprises. The income of Sakub sheep farmers was relatively low, with 52.72% of farmers earning below Rp18,057,292.92 per year or Rp1,504,774.41 per month. The correlation analysis indicated that motivation had a very weak negative relationship (rs = 0.172), while work ethic had a very weak positive relationship (rs = 0.017) with farmers' income. The study concludes that motivation and work ethic do not have a significant relationship with farmers' income, which is influenced by livestock farming as a side business, small-scale operations, and declining livestock prices.

5012452267G1A022066PENGARUH NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER (NLC) EKSTRAK ETANOL SAMBILOTO (Andrographis paniculata) TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI GINJAL PADA MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA (CCl4)PENGARUH NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER (NLC) EKSTRAK ETANOL SAMBILOTO (Andrographis paniculata) TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI GINJAL PADA MENCIT YANG DIINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA (CCl4)
Shafa Hilyatunnissa1, Dody Novrial2, Dhadhang Wahyu Kurniawan3
1Program Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman
2Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman
3Departemen Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Jenderal Soedirman

Email: shafa.hilyatunnissa@mhs.unsoed.ac.id

ABSTRAK

Latar belakang: Gagal Ginjal Akut merupakan gangguan pada ginjal yang terjadi secara cepat dan singkat. Salah satu etiologi GGA akut adalah nefrotoksisitas. Senyawa kimia yang dapat memberikan efek toksik pada ginjal diantaranya adalah karbon tetraklorida (CCl4). Senyawa tersebut dapat mempengaruhi gambaran histopatologi ginjal melalui proses inflamasi. Sambiloto diketahui mempunyai beberapa efek farmakologis, seperti antidiabetes, antiinflamasi, antioksidan, dan antikanker. Namun, sambiloto mempunyai biovailabilitas yang rendah. Nanostructured Lipid Carrier (NLC) mempunyai struktur gabungan lipid yang dapat meningkatkan bioavailabiltas senyawa aktif.Tujuan: engetahui pengaruh pemberian Nanostructured Lipid Carrier (NLC) ekstrak etanol sambiloto (Andrographis paniculata) terhadap gambaran histopatologi ginjal pada mencit yang diinduksi karbon tetraklorida (CCl4).
Metode: Penelitian ini menggunakan mencit (Mus musculus) jantan strain Balb/C, usia 6 minggu, dan berat badan 20±4 gram. Penelitian ini terdiri dari empat kelompok, yakni kelompok A (kontrol sehat), kelompok B (kontrol sakit) diberikan induksi CCl4, kelompok C diberikan NLC dan ekstrak etanol sambiloto (EES), D diberikan EES saja, dan E diberikan NLC saja. Preparat ginjal mencit diamati menggunakan mikroskop cahaya pada 5 lapang pandang. Skoring histopatologi ginjal menggunakan skoring histologi Endotelial, Glomerulus, Tubulus, dan Interstisial (EGTI). Hasil: Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan pengaruh NLC ekstrak etanol sambiloto terhadap gambaran histopatologi ginjal yang signifikan secara statistik pada parameter tubulus (p=0,001), endotel (p=0,033), dan interstisial (p=0,009). Kesimpulan: NLC ekstrak etanol sambiloto dapat menurunkan kerusakan pada histopatologi ginjal akibat induksi CCl4

Kata kunci: ekstrak etanol sambiloto, histopatologi ginjal, karbon tetraklorida, NLC
THE EFFECT OF NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER (NLC) OF SAMBILOTO (Andrographis paniculata) ETHANOL EXTRACT ON KIDNEY HISTOPATHOLOGY IN MICE (Mus musculus) INDUCED BY CARBON TETRACHLOROIDE (CCl4)
Shafa Hilyatunnissa1, Dody Novrial2, Dhadhang Wahyu Kurniawan3
1Medical Education Program, Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University
2Department of Anatomical Pathology, Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University
3Department of Pharmacy, Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University

Email: shafa.hilyatunnissa@mhs.unsoed.ac.id
Background: Acute Renal Failure is a kidney disorder that occurs quickly and briefly. One of the etiologies of acute ARF is nephrotoxicity. Chemical compounds that can have toxic effects on the kidneys include carbon tetrachloride (CCl4). This compound can affect the histopathology of the kidneys through the inflammatory process. Sambiloto is known to have several pharmacological effects, such as antidiabetic, anti-inflammatory, antioxidant, and anticancer. However, sambiloto has low bioavailability. Nanostructured Lipid Carrier (NLC) has a lipid compound structure that can increase the bioavailability of active compounds. Object: Ddetermined the effect of administering Nanostructured Lipid Carrier (NLC) ethanol extract of sambiloto (Andrographis paniculata) on the histopathology of the kidneys in mice induced by carbon tetrachloride (CCl4). Methods: This study used male mice (Mus musculus) strain Balb/C, aged 6 weeks, and weighing 20±4 grams. This study consisted of four groups, namely group A (healthy control), group B (sick control) was given CCl4 induction, group C given NLC and bitter ethanol extract (EES), D given EES only, and E given NLC only. Mice kidney preparations were observed using a light microscope in 5 fields of view. Kidney histopathology scoring used Endothelial, Glomerular, Tubular, and Interstitial (EGTI) histology scoring. Results: The results of the Kruskal Wallis test showed a statistically significant effect of NLC of sambiloto ethanol extract on the histopathological features of the kidneys in tubular (p=0.001), endothelial (p=0.033), and interstitial (p=0.009) parameters. Conclusion: NLC ethanol extract of sambiloto can reduce damage to kidney histopathology due to CCl4 induction.

Keywords: ethanol extract of sambiloto, kidney histopathology, carbon tetrachloride, NLC,
5012552273C1A022054Pengaruh Investasi, Kurs Rupiah, Inflasi Dalam Negeri, dan Indeks Produksi Industri terhadap Nilai Ekspor Pakaian Jadi Indonesia ke Amerika Serikat
Ekspor pakaian jadi merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang berperan penting dalam meningkatkan devisa negara, khususnya ke Amerika Serikat sebagai pasar utama. Namun, kinerja ekspor pakaian jadi masih mengalami fluktuasi yang dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi dan kinerja sektor industri domestik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh investasi sektor industri tekstil, nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat, inflasi dalam negeri, dan Indeks Produksi Industri terhadap nilai ekspor pakaian jadi Indonesia ke Amerika Serikat dalam jangka pendek dan jangka panjang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Autoregressive Distributed Lag (ARDL) menggunakan data time series bulanan periode 2022–2024 yang bersumber dari Badan Pusat Statistik dan instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa investasi sektor industri tekstil berpengaruh negatif dan tidak signifikan, nilai tukar rupiah berpengaruh negatif dan signifikan dalam jangka pendek namun tidak signifikan dalam jangka panjang, inflasi berpengaruh negatif namun tidak signifikan, sedangkan Indeks Produksi Industri berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai ekspor pakaian jadi Indonesia. Temuan ini menunjukkan pentingnya penguatan kinerja sektor industri, peningkatan produktivitas, serta stabilitas kondisi makroekonomi untuk mendukung keberlanjutan ekspor pakaian jadi Indonesia ke Amerika Serikat.Garment exports are one of Indonesia’s leading commodities that play an important role in increasing foreign exchange earnings, particularly to the United States as the main export destination. However, the performance of garment exports still experiences fluctuations influenced by macroeconomic conditions and domestic industrial performance. This study aims to analyze the effect of textile industry investment, the rupiah exchange rate against the US dollar, domestic inflation, and the Industrial Production Index on Indonesia’s garment exports to the United States in both the short and long run. This research employs a quantitative approach using the Autoregressive Distributed Lag (ARDL) method with monthly time series data for the period 2022–2024 obtained from Statistics Indonesia and related institutions. The results show that textile industry investment has a negative and insignificant effect, the exchange rate has a negative and significant effect in the short run but insignificant in the long run, inflation has a negative but insignificant effect, while the Industrial Production Index has a positive and significant effect on Indonesia’s garment exports. These findings highlight the importance of strengthening industrial performance, improving productivity, and maintaining macroeconomic stability to support the sustainability of Indonesia’s garment exports to the United States.
5012652291H1D022061PEMODELAN PENILAIAN ESAI OTOMATIS BAHASA INDONESIA MENGGUNAKAN INDOBERT DAN ARSITEKTUR BILSTM–ATTENTIONProses penilaian esai secara manual kerap membutuhkan waktu yang lama dan memiliki kerentanan terhadap bias subjektivitas penilai. Di sisi lain, upaya pengembangan Automated Essay Scoring (AES) untuk bahasa Indonesia masih terkendala oleh minimnya korpus berlabel serta tingginya kompleksitas linguistik yang khas. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan merancang sekaligus mengevaluasi keandalan model AES berbahasa Indonesia. Pendekatan yang diusulkan adalah arsitektur hibrida yang mengintegrasikan IndoBERT, Bidirectional Long Short-Term Memory (BiLSTM), dan mekanisme Self-Attention. Proses pelatihan dan pengujian model memanfaatkan dataset PERSUADE 2.0 yang telah dialihbahasakan secara presisi ke dalam bahasa Indonesia menggunakan arsitektur machine translation NLLB-200. Pada tahap pelatihan, penelitian ini mengimplementasikan fungsi Weighted Smooth L1 Loss guna memitigasi masalah ketimpangan kelas. Langkah tersebut kemudian dipadukan dengan teknik optimasi ambang batas berbasis Nelder-Mead untuk memetakan prediksi regresi yang bersifat kontinu ke dalam ruang ordinal. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa integrasi arsitektur IndoBERT-BiLSTM-Attention mampu menghasilkan performa yang optimal. Kinerja ini dibuktikan dengan perolehan metrik Quadratic Weighted Kappa (QWK) sebesar 0,8508, Exact Accuracy sebesar 63,27%, dan Mean Absolute Error (MAE) sebesar 0,4277. Selain itu, metode kalibrasi kelas yang diaplikasikan terbukti krusial dalam meningkatkan presisi pada kelompok skor minoritas ekstrem hingga mencapai 18,37%. Peningkatan tersebut didukung oleh tingkat stabilitas kinerja yang telah divalidasi menggunakan Bootstrap Confidence Intervals 95% pada rentang nilai [0,8426; 0,8586]. Temuan dari penelitian ini memberikan kontribusi metodologis yang signifikan terhadap kemajuan sistem AES berbahasa Indonesia. Model yang dikembangkan memiliki potensi untuk diimplementasikan sebagai instrumen penunjang evaluasi pendidikan yang lebih efisien, terukur, dan objektif.Manual essay grading is inherently time-consuming and highly susceptible to subjective evaluator bias. The development of Automated Essay Scoring (AES) systems for the Indonesian language, however, remains constrained by a scarcity of labeled corpora and unique linguistic complexities. To address these limitations, this study designs and evaluates a robust Indonesian AES model employing a hybrid architecture that integrates IndoBERT, Bidirectional Long Short-Term Memory (BiLSTM), and a Self-Attention mechanism. The model was trained and evaluated using the PERSUADE 2.0 dataset, which was precisely translated into Indonesian utilizing the NLLB-200 machine translation architecture. To mitigate class imbalance during the training phase, a Weighted Smooth L1 Loss function was implemented. This approach was subsequently combined with a Nelder-Mead threshold optimization technique to effectively map continuous regression predictions into an ordinal space. Empirical evaluations demonstrate that the integrated IndoBERT-BiLSTM-Attention architecture achieves optimal performance, yielding a Quadratic Weighted Kappa (QWK) of 0.8508, an Exact Accuracy of 63.27%, and a Mean Absolute Error (MAE) of 0.4277. Furthermore, the applied class calibration method proved critical in enhancing precision within extreme minority score groups by up to 18.37%. This improvement is corroborated by a high degree of performance stability, validated through 95% Bootstrap Confidence Intervals within the [0.8426, 0.8586] range. These findings offer a significant methodological contribution to the advancement of Indonesian AES systems, positioning the developed model as a highly efficient, scalable, and objective instrument for educational assessment.
5012752272D1A022073PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK BUNGA KECOMBRANG (ETLINGERA ELATIOR) DAN LAMA PEMERAMAN TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN SENSORIS KEJU SUSU SAPIPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan ekstrak bunga kecombrang
(Etlingera elatior) dan lama pemeraman terhadap karakteristik fisikokimia dan sensoris keju
susu sapi, serta menentukan kombinasi perlakuan terbaik. Penelitian dilaksanakan secara
eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan dua
faktor, yaitu lama pemeraman (0, 3, dan 5 hari) dan konsentrasi ekstrak bunga kecombrang
(2,5%, 5%, dan 7,5%). Setiap perlakuan diulang tiga kali sehingga diperoleh 27 unit
percobaan. Parameter yang diamati meliputi karakteristik fisikokimia (pH, kadar air, kadar
abu, kadar protein, kadar lemak, rendemen, dan warna) serta karakteristik sensoris (warna,
aroma, tekstur, dan rasa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak bunga
kecombrang dan lama pemeraman memberikan pengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap
beberapa parameter fisikokimia keju susu sapi. Peningkatan konsentrasi ekstrak bunga
kecombrang dan lamanya pemeraman cenderung menurunkan nilai pH dan kadar air keju.
Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kondisi asam dan aktivitas proteolitik yang
mendorong keluarnya whey dari matriks curd. Kadar abu menunjukkan kecenderungan
meningkat seiring penambahan ekstrak bunga kecombrang yang mengindikasikan
peningkatan kandungan mineral pada keju. Sebaliknya, rendemen keju cenderung menurun
pada perlakuan dengan konsentrasi ekstrak dan lama pemeraman yang lebih tinggi akibat
meningkatnya sineresis. Pengujian sensoris menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan
berpengaruh terhadap tingkat kesukaan panelis. Keju dengan perlakuan penambahan
ekstrak bunga kecombrang 5% dan 7,5% dengan pemeraman 3 hari, serta ekstrak bunga
kecombrang 2,5% dengan pemeraman 5 hari menghasilkan karakteristik warna, aroma,
tekstur, dan rasa yang lebih disukai. Secara umum, penelitian ini menunjukkan bahwa
ekstrak bunga kecombrang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan tambahan alami dalam
pembuatan keju untuk meningkatkan karakteristik produk.
This study aimed to evaluate the effect of torch ginger (Etlingera elatior) extract addition
and ripening time on the physicochemical and sensory characteristics of cow’s milk cheese,
as well as to determine the best treatment combination. The experiment was conducted
using a Completely Randomized Design (CRD) with a factorial pattern consisting of two
factors: ripening time (0, 3, and 5 days) and torch ginger extract concentration (2.5%, 5%,
and 7.5%). Each treatment was replicated three times, resulting in 27 experimental units.
Observed parameters included physicochemical characteristics (pH, moisture content, ash
content, protein content, fat content, yield, and color) and sensory characteristics (color,
aroma, texture, and taste). The results showed that the addition of torch ginger extract and
ripening time had a highly significant effect (p<0.01) on several physicochemical parameters
of cow’s milk cheese. Increasing the concentration of torch ginger extract and extending the
ripening period tended to decrease the pH value and moisture content of the cheese. This
condition was associated with increased acidity and proteolytic activity, which promoted
whey expulsion from the curd matrix. Ash content tended to increase with higher levels of
torch ginger extract, indicating an increase in mineral content in the cheese. Conversely,
cheese yield tended to decrease at higher extract concentrations and longer ripening times
due to enhanced syneresis. Sensory evaluation indicated that treatment combinations
significantly influenced panelists’ preferences. Certain treatments produced more favorable
color, aroma, texture, and taste attributes. Overall, the findings suggest that torch ginger
extract has strong potential as a natural additive in cheese making to improve product
characteristics and add functional value.
5012852274C1C022015Faktor-Faktor yang Memengaruhi Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah (Studi Empiris Pada Aparatur Pemerintah Kabupaten Cilacap)
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kompetensi sumber daya manusia, integritas aparatur, penerapan Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP), dan pemanfaatan Sistem Informasi Pemerintah Daerah (SIPD) terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan kausalitas. Unit analisis penelitian adalah organisasi, yaitu Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Cilacap sebanyak 28 OPD. Data diperoleh melalui kuesioner yang diisi oleh 84 aparatur, kemudian dirata-ratakan untuk mewakili setiap OPD. Analisis data menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan SPSS 29. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integritas aparatur berpengaruh positif terhadap akuntabilitas. Kompetensi sumber daya manusia dan penerapan SPIP tidak berpengaruh terhadap akuntabilitas. Sementara itu, pemanfaatan SIPD berpengaruh negatif terhadap akuntabilitas. Penelitian ini menunjukkan bahwa akuntabilitas lebih dipengaruhi oleh perilaku aparatur dibandingkan sistem dan kemampuan teknis.

This study aims to examine the effect of human resource competence, apparatus integrity, implementation of the Government Internal Control System (SPIP), and the use of the Regional Government Information System (SIPD) on regional financial accountability. This study uses a quantitative method with a causal approach. The unit of analysis is organizational, namely 28 Regional Government Organizations (OPD) in Cilacap Regency. Data were collected through questionnaires and averaged to represent each OPD. Data were analyzed using multiple linear regression. The results show that apparatus integrity has a positive effect on accountability. Human resource competence and SPIP implementation have no effect on accountability. Meanwhile, SIPD utilization has a negative effect on accountability. This study shows that accountability at the organizational level is more influenced by behavioral factors than by systems and technical capabilities.

5012952276H1D022031IMPLEMENTASI METODE SAW DAN RULE-BASED AI DALAM PENGEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN BILL OF MATERIALS BERBASIS WEB UNTUK PENENTUAN SUPPLIER TERBAIK DI PT INDOMATSUMOTO PRESS & DIES INDUSTRIESPengelolaan Bill of Materials (BOM) yang masih menggunakan spreadsheet
terpisah menimbulkan permasalahan seperti duplikasi data, inkonsistensi, serta kesulitan dalam menelusuri struktur produk secara multi-level, khususnya dalam proses pengambilan keputusan pemilihan supplier. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem manajemen BOM berbasis web yang terintegrasi dengan sistem pendukung keputusan menggunakan metode Simple Additive Weighting (SAW) dan pendekatan rule-based AI. Metode pengembangan yang digunakan adalah Rapid Application Development (RAD) yang terdiri dari tahap perencanaan kebutuhan, perancangan sistem, pengembangan, dan implementasi. Tahap
perancangan sistem dilakukan menggunakan pemodelan seperti UML dan
perancangan basis data (ERD), serta perancangan antarmuka pengguna. Tahap pengembangan sistem dilakukan menggunakan Laravel sebagai backend, Filament sebagai admin panel, MySQL sebagai basis data, serta visualisasi tree berbasis graph untuk menampilkan struktur BOM secara interaktif. Pada tahap ini juga diimplementasikan metode SAW dan rule-based, dimana proses seleksi supplier dilakukan melalui penyesuaian nilai menggunakan rule-based adjustment, kemudian dilanjutkan dengan perhitungan SAW untuk menghasilkan nilai preferensi dan peringkat supplier. Tahap implementasi dan pengujian dilakukan menggunakan metode black-box testing untuk memastikan seluruh fungsi sistem berjalan sesuai kebutuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem berbasis web yang dikembangkan mampu mengelola BOM multi-level, mempermudah penelusuran struktur produk, serta menghasilkan rekomendasi supplier yang objektif, transparan, dan dapat ditelusuri. Hasil pengujian black-box menunjukkan bahwa seluruh fungsi sistem berjalan dengan baik sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan sistem pendukung keputusan dengan mengintegrasikan metode SAW dan rule-based untuk menghasilkan keputusan yang tidak hanya berbasis perhitungan matematis, tetapi juga mempertimbangkan kebijakan operasional secara kontekstual.
The management of Bills of Materials (BOM) using separate spreadsheets leads to several issues such as data duplication, inconsistency, and difficulties in tracing multi-level product structures, particularly in supplier selection decision-making. This study aims to develop a web-based BOM management system integrated with a decision support system using the Simple Additive Weighting (SAW) method and a rule-based AI approach. The development method used is Rapid Application Development (RAD), which consists of requirement planning, system design, development, and implementation stages. The system design stage is carried out using modeling techniques such as UML and database design (ERD), as well as user interface design. The development stage is implemented using Laravel as the backend, Filament as the admin panel, MySQL as the database, and graph-based tree visualization to display BOM structures interactively. At this stage, the SAW and rule-based methods are also implemented, where supplier selection is performed through value adjustments using rule-based adjustment, followed by SAW calculations to produce preference values and supplier rankings. The implementation and testing stages are conducted using black-box testing to ensure that all system functions operate according to requirements. The results show that the developed web-based system is capable of managing multi-level BOM, facilitating product structure tracing, and generating supplier recommendations that are objective, transparent, and traceable. The results of black-box testing indicate that all system functionalities operate properly according to the defined requirements. This study contributes to the development of decision support systems by integrating SAW and rule-based methods to produce decisions that are not only based on mathematical calculations but also consider operational policies in a contextual manner.
5013049235D1A021117HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK PETERNAK
DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN PAKAN PETERNAK SAPI PO KEBUMEN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik peternak
dengan tingkat pengetahuan pakan peternak sapi PO Kebumen. Kabupaten Kebumen merupakan
salah satu kabupaten yang ada di Jawa Tengah dengan populasi sapi PO tertinggi yang telah
ditetapkan sebagai kabupaten sentra Sapi PO oleh Kementerian Pertanian. Karakteristik peternak
yang diteliti meliputi umur, pendidikan dan lama beternak. Penelitian dilakukan di enam
kecamatan dengan populasi sapi PO tertinggi di Kabupaten Kebumen meliputi Kecamatan Puring,
Kecamatan Mirit, Kecamatan Ambal, Kecamatan Petanahan, Kecamatan Klirong, dan Kecamatan
Buluspesantren. Metode yang digunakan adalah survey menggunakan kuisioner dengan
penentuan lokasi penelitian berdasarkan purposive sampling, sedangkan untuk menentukan 96
responden menggunakan teknik kuota sampling. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif
dan analisis korelasi rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan memiliki
hubungan nyata sedangkan umur dan lama beternak memiliki hubungan yang tidak nyata dengan
tingkat pengetahuan pakan peternak sapi PO Kebumen. Kesimpulan dari penelitian ini adalah
semakin tinggi tingkat pendidikan peternak, semakin baik pengetahuan pakan peternak sapi PO
Kebumen dan sebaliknya.
Kata kunci: tingkat pengetahuan pakan, umur, pendidikan dan lama beternak
This study aims to determine the relationship between the characteristics of farmers and
the level of knowledge of feed for PO cattle farmers in Kebumen. Kebumen Regency is one of the
regencies in Central Java with the highest PO cattle population which has been designated as a
PO Cattle center district by the Ministry of Agriculture. The characteristics of farmers studied
include age, education and length of farming. The study was conducted in six sub-districts with
the highest PO cattle population in Kebumen Regency including Puring District, Mirit District,
Ambal District, Petanahan District, Klirong District, and Buluspesantren District. The method used
was a survey using a questionnaire with the determination of the research location based on
purposive sampling, while to determine 96 respondents using the quota sampling technique.
Data were analyzed using descriptive analysis and Spearman rank correlation analysis. The results
of the study showed that education had a significant relationship while age and length of farming
had an insignificant relationship with the level of knowledge of feed for PO cattle farmers in Kebumen. The conclusion of this study is that the higher the level of education of farmers, the
better the knowledge of feed for PO cattle farmers in Kebumen and vice versa.
Keywords: level of feeding knowledge, age, education and length of breeding
5013152271C1C022026Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham dengan Perubahan Penjualan sebagai ModerasiPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Return On Equity (ROE), Debt to Equity Ratio (DER) dan Current Ratio (CR) serta menguji peran perubahan penjualan sebagai moderasi terhadap return saham. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan populasi sektor teknologi yang terdaftar di BEI periode 2021-2024. Data sekunder penelitian diperoleh melalui laporan keuangan tahunan sektor teknologi sebanyak 47 perusahaan. Pengambilan sampel dalam studi ini menggunakan metode purposive sampling. Metode analisis data yang digunakan meliputi statistik deskriptif, estimasi model data panel, uji pemilihan model, uji asumsi klasik, analisis regresi data panel, analisis regresi moderasi (MRA), uji kelayakan model, uji hipotesis (uji t).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan penjualan memperkuat pengaruh ROE terhadap return saham namun, perubahan tidak memoderasi pengaruh DER dan CR terhadap return saham. Sementara itu secara parsial, ROE, DER dan CR tidak berpengaruh terhadap return saham. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa temuan ini membuktikan bahwa rasio keuangan yang diukur melalui ROE, DER dan CR secara mandiri tidak cukup kuat memicu respons pasar untuk memperoleh return saham. Namun, perubahan penjualan yang diposisikan menjadi variabel moderasi mampu menjadi sinyal pendukung yang memvalidasi kualitas laba, sehingga interaksi antara ROE dan perubahan penjualan menciptakan sinyal yang lebih efektif bagi investor. Temuan empiris dari penelitian ini diharapkan bagi investor untuk mempertimbangkan analisis rasio keuangan dengan dinamika penjualan, sementara itu bagi manajemen perusahaan perlu mengoptimalkan efisiensi modal dan stabilitas fundamental demi daya tahan operasional. Di sisi lain, temuan ini memberikan kontribusi bagi akademisi dalam memperkuat relevansi teori sinyal pada sektor teknologi.
This study aims to analyze the influence of Return On Equity (ROE), Debt to Equity Ratio (DER), and Current Ratio (CR) as well as to examine the role of sales growth as a moderation on stock returns. This study uses a quantitative approach with a population consisting of the technology sector listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for the 2021-2024 period. Secondary research data were obtained through the annual financial reports of 47 companies in the technology sector. Sampling in this study used the purposive sampling method.
The results of the study show that sales growth moderates by strengthening the influence of ROE on stock returns; however, change does not moderate the influence of DER and CR on stock returns. Meanwhile, partially, ROE, DER, and CR have no effect on stock returns. Therefore, it can be concluded that these findings prove that financial ratios measured through ROE, DER, and CR independently are not strong enough to trigger a market response to obtain stock returns. However, sales growth positioned as a moderating variable is able to become a supporting signal that validates earnings quality, so that the interaction between ROE and sales growth creates a more effective signal for investors. The empirical findings of this study are expected to encourage investors to consider financial ratio analysis alongside sales dynamics, while company management needs to optimize capital efficiency and fundamental stability for operational resilience. On the other hand, these findings provide a contribution to academics in strengthening the relevance of signaling theory in the technology sector.
5013252278G1A022008HUBUNGAN KADAR CA-125 DENGAN STADIUM FIGO KANKER OVARIUM
TIPE EPITEL RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO TAHUN 2021-2025
Latar belakang: Berdasarkan data GLOBOCAN (2022) Indonesia menempati peringkat ke 10 dengan kasus kanker ovarium terbanyak yaitu sebesar 14. 896. Lebih dari 95% jenis kanker ovarium yang paling sering dijumpai yaitu kanker ovarium epitel. WHO (2022) juga mencantumkan data mortalitas kasus kanker ovarium sebesar 206.956 atau 2,1% dari keseluruhan kematian kanker wanita. Sebagian besar pasien terdiagnosis pada stadium lanjut. Stadium pada kanker ovarium berperan penting dalam membantu memahami penyebaran kanker, rencana pengobatan, dan prognosis dari penyakit. Salah satu tumor marker yang paling banyak digunakan dalam evaluasi kanker ovarium adalah Cancer Antigen 125 (CA 125). Cancer Antigen 125 merupakan penanda tumor antigenetik yang diekspresikan oleh neoplasma ovarium epitel dan sel-sel yang melapisi beberapa organ seperti endometrium, tuba fallopi, pleura, peritoneum, dan pericardium. Metode: penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, yang menggunakan data rekam medis pasien untuk mengetahui hubungan antara kadar CA-125 dengan stadium mikroskopis kanker ovarium epitel di RSUD Margono Soekarjo selama periode 2021-2025. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan variasi kadar CA-125 pada setiap subtipe kanker ovarium tipe epitel. Stadium kanker ovarium didominasi oleh stadium 3 pada seluruh subtipe kanker ovarium tipe epitel. Penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan bermakna antara kadar CA 125 dengan stadium FIGO kanker ovarium tipe epitel dengan kekuatan korelasi sangat kuat pada subtipe Mucinous Carcinoma dan Clear Cell Carcinoma dengan nilai koefisien korelasi positif pada semua subtipe kanker ovarium tipe epitel. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kadar CA-125 dengan stadium FIGO yang ditunjukan dengan semakin tinggi stadium maka semakin tinggi kadar CA-125 pada kanker ovarium tipe epitelBackground: Based on GLOBOCAN data (2022), Indonesia ranks 10th with the highest number of ovarian cancer cases, with 14,896. More than 95% of the most common types of ovarian cancer are epithelial ovarian cancer. WHO (2022) also lists mortality data for ovarian cancer cases at 206,956 or 2.1% of all female cancer deaths. Most patients are diagnosed at an advanced stage. The stage of ovarian cancer plays an important role in helping to understand the spread of cancer, treatment plans, and prognosis of the disease. One of the most widely used tumor markers in ovarian cancer evaluation is Cancer Antigen 125 (CA-125). Cancer Antigen 125 is an antigenic tumor marker expressed by epithelial ovarian neoplasms and cells lining several organs such as the endometrium, fallopian tubes, pleura, peritoneum, and pericardium. Method: This study is an analytical observational study with a cross-sectional approach, which uses patient medical records to determine the relationship between CA-125 levels and the microscopic stage of epithelial ovarian cancers at Margono Soekarjo Regional General Hospital during the period 2021-2025. Results: The results showed variations in CA-125 levels in each subtype of epithelial ovarian cancer. Ovarian cancer stages were dominated by stage 3 in all subtypes of epithelial ovarian cancer. This study shows that there is a significant relationship between CA-125 levels and the FIGO stage of epithelial ovarian cancer with a very strong correlation strength in the Mucinous Carcinoma and Clear Cell Carcinoma subtypes with a positive correlation coefficient value in all subtypes of epithelial ovarian cancer. Conclusion: There is a relationship between CA 125 levels and FIGO stage, which is indicated by the higher the stage, the higher the CA 125 levels in epithelial ovarian cancer.
5013352279D1A022007HUBUNGAN ANTARA JUMLAH ANGGOTA DAN LAMA BERDIRINYA KELOMPOK DENGAN MODAL SOSIAL PADA KELOMPOK PETERNAK SAPI POTONG
DI KABUPATEN BANYUMAS
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rata-rata jumlah anggota dan lama berdirinya kelompok, tingkat modal sosial, serta hubungan antara jumlah anggota dan lama berdirinya kelompok dengan modal sosial. Penelitian dilaksanakan pada 4 Februari-1 Maret 2026 di Kecamatan Kalibagor, Sumbang, dan Kembaran, Kabupaten Banyumas dengan responden sebanyak 105 anggota kelompok peternak sapi potong yang ditentukan secara sensus. Metode penelitian secara survey, data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menggambarkan bahwa jumlah anggota kelompok terendah 5 anggota, tertinggi 30 anggota dan lama berdirinya kelompok terendah 1 tahun, tertinggi 13 tahun. Tingkat modal sosial anggota kelompok peternak sapi potong di Kabupaten Banyumas tergolong tinggi (53,33%), modal sosial berdasarkan indikator jaringan kerja sama termasuk kategori tinggi (60%), kepercayaan termasuk kategori sedang (50,48%) sampai tinggi (45,71%), dan norma termasuk kategori tinggi (59,05%). Hasil uji korelasi Rank Spearman menggambarkan adanya hubungan positif dan signifikan dengan tingkat korelasi cukup antara jumlah anggota kelompok dengan modal sosial (ρ = 0,426; p < 0,001) serta hubungan positif dan signifikan dengan tingkat korelasi kuat antara lama berdirinya kelompok dengan modal sosial (ρ = 0,727; p < 0,001). Kesimpulan penelitian ini adalah semakin banyak jumlah anggota dan semakin lama kelompok berdiri akan meningkatkan modal sosial kelompok. Rekomendasi dari penelitian ini adalah kelompok peternak harus tetap dipertahankan secara eksistensi dan fungsi serta menjaga anggota yang sudah bergabung, sehingga peternak akan memiliki modal sosial yang kuat.This study aims to determine the average number of members and the length of time the group has been established, the level of social capital, and the relationship between the number of members and the length of time the group has been established with social capital. The study was conducted on February 4 - March 1, 2026 in Kalibagor, Sumbang, and Kembaran Districts, Banyumas Regency with 105 members of beef cattle farmer groups determined by census. The research method was a survey, data were collected through interviews and observations, then analyzed using descriptive analysis and Spearman's Rank correlation test. The results of the study illustrate that the lowest number of group members was 5 members and the highest was 30 members and the lowest length of group existence was 1 year and the highest was 13 years. The level of social capital of members of beef cattle farmer groups in Banyumas Regency is classified as high (53.33%), social capital based on the cooperation network indicator is included in the high category (60%), trust is included in the medium category (50.48%) to high (45.71%), and norms are included in the high category (59.05%). The Spearman Rank correlation test results indicate a positive and significant relationship, with a moderate correlation, between the number of group members and social capital (ρ = 0.426; p < 0.001), and a positive and significant relationship, with a strong correlation, between the length of group existence and social capital (ρ = 0.727; p < 0.001). The conclusion of this study is that a greater number of members and a longer period of existence of the group will increase the group's social capital. The recommendation from this study is that livestock groups must be maintained in terms of their existence and function, and that existing members be retained to ensure strong social capital.
5013452280F1B022066Penerapan E-Government melalui Sistem Rekapitulasi Berbasis Elektronik pada Pemilihan Umum 2024 di Komisi Pemilihan Umum Kabupaten BanyumasRekapitulasi suara berbasis elektronik pada Pemilihan Umum 2024 di Kabupaten Banyumas menghadapi kompleksitas tinggi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan e-government melalui sistem rekapitulasi berbasis elektronik pada Pemilihan umum 2024 di Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banyumas berdasarkan elemen sukses e-government: dukungan, kapasitas, dan nilai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan dilakukan di Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banyumas dengan sasaran pihak-pihak yang terlibat dalam rekapitulasi suara berbasis elektronik pada Pemilu 2024, baik dari sisi teknis operasional maupun kebijakan. Informan dipilih melalui purposive sampling. Data primer diperoleh melalui wawancara, sedangkan data sekunder melalui observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana serta diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan telah berjalan melalui komunikasi dan bimbingan teknis, meskipun bimbingan teknis belum sepenuhnya kondusif di tingkat KPPS. Kapasitas relatif memadai dari sisi jaringan, dan perangkat, namun masih terdapat kendala teknis, rekrutmen SDM, serta alokasi anggaran. Pada aspek nilai, transparansi dan efisiensi belum optimal, tetapi monitoring dan akses data real time telah dirasakan. Dapat disimpulkan bahwa penerapan SIREKAP cukup baik, namun belum optimal.The electronic-based vote recapitulation in the 2024 General Election in Banyumas Regency faced high complexity. This study aims to describe the implementation of e-government through an electronic-based recapitulation system in the 2024 General Election at the Banyumas Regency General Election Commission, based on the key elements of e-government success: support, capacity, and value. This research employs a descriptive qualitative approach and was conducted at the General Election Commission of Banyumas Regency, targeting parties involved in the electronic vote recapitulation process in the 2024 General Election, both in terms of technical operations and policy. Informants were selected through purposive sampling. Primary data were obtained through interviews, while secondary data were collected through observation and documentation. Data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana and validated through source and technique triangulation. The results show that support has been implemented through communication and technical guidance, although the technical guidance has not been fully conducive at the KPPS level. Capacity is relatively adequate in terms of network and equipment; however, technical issues, human resource recruitment, and budget allocation remain challenges. In terms of value, transparency and efficiency are not yet optimal, although monitoring and real-time data access have been achieved. It can be concluded that the implementation of SIREKAP is fairly good, but not yet optimal.
5013552281E1A022197KEDUDUKAN HAK IMUNITAS ADVOKAT DALAM PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ATAS OBSTRUCTION OF JUSTICE TINDAK PIDANA KORUPSIKEDUDUKAN HAK IMUNITAS ADVOKAT DALAM PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ATAS OBSTRUCTION OF JUSTICE TINDAK PIDANA KORUPSI
Oleh :
Selfia Anggita
E1A022197
Abstrak
Sistem peradilan yang baik mensyaratkan kepada penegak hukum untuk transparan dan berkeadilan. Namun, fenomena hukum yang berkaitan dengan proses penegakan hukum, yakni obstruction of justice menjadi permasalahan yang dapat menciderai proses penegakan hukum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan hak imunitas advokat dalam pertanggungjawaban pidana atas obstruction of justice serta keterkaitan antara Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat dan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, kasus, dan konseptual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hak imunitas bersifat tidak absolut, tetap dibatasi dengan itikad baik. Hak imunitas advokat hanya berlaku sepanjang advokat menjalankan tugasnya dengan itikad baik, tidak menyimpang kode etik, serta tidak bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku. Konflik norma antara kedua pasal tersebut diselesaikan melalui Putusan MK No. 26/PUU-XI/2013, Putusan MK No. 7/PUU-XI/2018, dan Putusan MK No. 71/PUU-XXIII/2025 yang menyatakan frasa “secara langsung dan tidak langsung” pada Pasal 21 UU PTPK menimbulkan overcriminalization. Harmonisasi dicapai melalui tiga tolok ukur yakni itikad baik, unsur pertanggungjawaban pidana, dan prinsip equality before the law.
Kata Kunci : Hak Imunitas Advokat, Obstruction of Justice, Pertanggungjawaban Pidana, Tindak Pidana Korupsi
THE POTITION OF ADVOCATES’ IMMUNITY RIGHTS IN CRIMINAL LIABILITY FOR OBSTRUCTION OF JUSTICE IN CORRUPTION CRIMES
By:
Selfia Anggita
E1A022197
Abstract
A good judicial system requires transparent and fair law enforcement to maintain public trust. However, obstruction of justice remains a critical phenomenon that can undermine the integrity of the law enforcement process. This study analyzes the position of attorney immunity rights in criminal liability for obstruction of justice, particularly the normative relationship between Article 16 of Law Number 18 of 2003 on Advocates and Article 21 of Law Number 31 of 1999 in conjunction with Law Number 20 of 2001 on the Eradication of Corruption. Using a normative juridical method with legislative, case-based, and conceptual approaches, this study finds that immunity rights are not absolute and are bounded by good faith. Advocate immunity applies only when advocates perform their duties in good faith, comply with the code of ethics, and act within applicable legal provisions. The normative conflict between both articles was resolved through Constitutional Court Decisions No. 26/PUU-XI/2013, No. 7/PUU-XI/2018, and No. 71/PUU-XXIII/2025, which found that the phrase "directly and indirectly" in Article 21 of the Corruption Law causes overcriminalization. Harmonization is achieved through three benchmarks: good faith, elements of criminal liability, and equality before the law.
Keywords: Advocate Immunity Rights, Obstruction of Justice, Criminal Liability, Corruption.
5013652282H1B021092PEMODELAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP DEBIT ALIRAN RENDAH DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) TAJUM MENGGUNAKAN MODEL HIDROLOGI SWAT Perubahan iklim berpotensi memengaruhi keberlanjutan sistem hidrologi, khususnya pada kondisi debit aliran rendah. Penelitian ini menganalisis dampak perubahan iklim terhadap debit aliran rendah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tajum menggunakan model Soil and Water Assessment Tool (SWAT) yang dikalibrasi pada periode 2010–2012 dan divalidasi pada periode 2013–2014. Hasil kalibrasi menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,717, Nash–Sutcliffe Efficiency (NSE) sebesar 0,26, Kling–Gupta Efficiency (KGE) sebesar 0,65, dan Percent Bias (PBIAS) sebesar +4,6%, sedangkan pada tahap validasi diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,887, NSE sebesar 0,18, KGE sebesar 0,55, dan PBIAS sebesar −7,38%, yang menunjukkan bahwa model SWAT mampu merepresentasikan pola debit aliran sungai di DAS Tajum dengan kinerja yang cukup baik. Simulasi debit masa depan dilakukan menggunakan proyeksi iklim IPCC AR6 pada skenario SSP1–2.6, SSP2–4.5, SSP3–7.0, dan SSP5–8.5. Hasil simulasi menunjukkan bahwa debit puncak tertinggi terjadi pada skenario SSP2–4.5 sebesar 420 m³/s, sedangkan debit puncak terendah terjadi pada skenario SSP5–8.5 sebesar 377 m³/s. Analisis debit aliran rendah menggunakan parameter Q95 pada seluruh skenario menunjukkan nilai yang bervariasi, yaitu sebesar 1,21 m³/s pada SSP1–2.6, 0,954 m³/s pada SSP2–4.5, 1,07 m³/s pada SSP3–7.0, dan 1,08 m³/s pada SSP5–8.5. Variasi tersebut menunjukkan bahwa tingkat emisi memengaruhi kondisi debit aliran rendah di DAS Tajum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan iklim berpotensi memengaruhi ketersediaan air pada periode aliran rendah dan perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.
Climate change potentially affects the sustainability of hydrological systems, particularly under low-flow conditions. This study analyzes the impacts of climate change on low-flow discharge in the Tajum Watershed using the Soil and Water Assessment Tool (SWAT) model, calibrated for the period 2010–2012 and validated for 2013–2014. The calibration results show a correlation coefficient of 0.717, a Nash–Sutcliffe Efficiency (NSE) of 0.26, a Kling–Gupta Efficiency (KGE) of 0.65, and a Percent Bias (PBIAS) of +4.6%, while the validation results yield a correlation coefficient of 0.887, an NSE of 0.18, a KGE of 0.55, and a PBIAS of −7.38%, indicating that the SWAT model adequately represents streamflow patterns in the Tajum Watershed. Future discharge simulations were conducted using climate projections from the IPCC Sixth Assessment Report (AR6) under the SSP1–2.6, SSP2–4.5, SSP3–7.0, and SSP5–8.5 scenarios. The results indicate that the highest peak discharge occurs under the SSP2–4.5 scenario (420 m³/s), while the lowest peak discharge occurs under the SSP5–8.5 scenario (377 m³/s). Low-flow analysis using the Q95 index across all scenarios shows varying values of 1.21 m³/s (SSP1–2.6), 0.954 m³/s (SSP2–4.5), 1.07 m³/s (SSP3–7.0), and 1.08 m³/s (SSP5–8.5). These variations indicate that emission levels influence low-flow conditions in the Tajum Watershed. The findings highlight that climate change may affect water availability during low-flow periods and should be considered in sustainable water resources management.
5013752283H1D022008IMPLEMENTASI CHATBOT DENGAN METODE INDOBERT UNTUK PREDIKSI KODE KBLI 5 DIGIT PADA USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) BERBASIS WEBSITEKesulitan dalam menentukan kode Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 5 digit masih menjadi permasalahan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama akibat perbedaan antara istilah formal dalam dokumen KBLI dan bahasa sehari-hari yang digunakan dalam mendeskripsikan usaha. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mampu memahami deskripsi usaha secara alami serta memberikan rekomendasi kode KBLI yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan chatbot berbasis website yang mampu memprediksi kode KBLI 5 digit berdasarkan deskripsi usaha pengguna menggunakan model IndoBERT. Metode pengembangan sistem yang digunakan adalah Waterfall dengan tahapan analisis kebutuhan, perancangan, implementasi, dan pengujian. Perancangan sistem dilakukan menggunakan Unified Modeling Language (UML). Sistem dikembangkan menggunakan framework Flask dan diintegrasikan dengan model IndoBERT-base yang telah melalui proses fine-tuning untuk tugas klasifikasi teks. Selain itu, sistem juga memanfaatkan Large Language Model (LLM) melalui OpenRouter dengan model Gemini Flash Lite untuk menghasilkan respons chatbot yang lebih natural dan mudah dipahami. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model memperoleh validation accuracy sebesar 81,73%, F1-score sebesar 81,75%, dan validation loss sebesar 0,491. Evaluasi Top-K Accuracy menunjukkan nilai Top-1 Accuracy sebesar 81,74% dan Top-5 Accuracy sebesar 95,40%, yang menunjukkan kemampuan model dalam memberikan beberapa kandidat kode KBLI yang relevan. Penggunaan IndoBERT berbasis website memungkinkan sistem memahami konteks bahasa alami pengguna sehingga proses klasifikasi menjadi lebih otomatis dan akurat. Dengan demikian, sistem chatbot yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alat bantu bagi pelaku UMKM dalam menentukan kode KBLI secara cepat, interaktif, dan tepat.Difficulties in determining the 5-digit Indonesian Standard Industrial Classification (KBLI) code remain a challenge for Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs), primarily due to the discrepancy between formal terminology in KBLI documents and the everyday language used to describe business activities. Therefore, a system is needed that can understand business descriptions in natural language and provide accurate KBLI code recommendations This study aims to design and implement a web-based chatbot capable of predicting 5-digit KBLI codes based on user-provided business descriptions using the IndoBERT model. The system development method employed is the Waterfall model, which includes requirement analysis, system design, implementation, and testing stages. System design is carried out using Unified Modeling Language (UML). The system is developed using the Flask framework and integrated with a fine-tuned IndoBERT-base model for text classification tasks. In addition, the system utilizes a Large Language Model (LLM) through OpenRouter with the Gemini Flash Lite model to generate more natural and user-friendly chatbot responses. The evaluation results show that the model achieves a validation accuracy of 81.73%, an F1-score of 81.75%, and a validation loss of 0.491. In addition, the Top-K Accuracy evaluation yields a Top-1 Accuracy of 81.74% and a Top-5 Accuracy of 95.40%, indicating the model’s ability to provide several relevant KBLI code candidates The use of IndoBERT in a web-based system enables better understanding of user natural language context, making the classification process more automated and accurate. Therefore, the developed web-based chatbot system can serve as an effective tool to assist MSMEs in determining KBLI codes quickly, interactively, and accurately
5013852284A1G022004ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PRODUKSI
PEPAYA CALIFORNIA (Carica papaya L. ) DI DESA TAMBAKMULYO
KECAMATAN PURING KABUPATEN KEBUMEN
Desa Tambakmulyo merupakan salah satu penghasil pepaya di Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen. Penggunaan faktor-faktor produksi yang dapat memengaruhi produksi pepaya california adalah luas lahan, jumlah pohon, tenaga kerja, pupuk organik, pupuk NPK, pupuk ZA, pupuk KNO3, pupuk KCl, insektisida, fungisida, dan herbisida. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui jumlah biaya, penerimaan dan pendapatan petani pepaya dan faktor-faktor yang memengaruhi produksi pepaya di Desa Tambakmulyo, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen.
Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu survei. Pemilihan lokasi tersebut dilakukan secara sengaja (purposive) dan dilaksanakan pada bulan September tahun 2024. Metode pengambilan sampel dengan cara sensus dengan jumlah petani sebanyak 30 petani. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif dan analisis fungsi produksi Cobb-Douglas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani pepaya di Desa Tambakmulyo rata-rata berjenis kelamin laki-laki, usia produktif 15-64 tahun, tingkat pendidikan sebagian besar sekolah dasar, pengalaman usahatani 5-10 tahun dan lebih dari 10 tahun, memiliki luas lahan kurang dari 0,5 hektar, dan jumlah tanggungan keluarga rata-rata 3-4 orang. Rata-rata biaya total usahatani pepaya adalah Rp12.361.832,00 per tahun, rata-rata penerimaan sebesar Rp16.081.433,00 per tahun, rata-rata pendapatan atas biaya tunai sebesar Rp9.948.851,00 per tahun, dan rata-rata pendapatan atas seluruh biaya adalah Rp3.719.602,00 per tahun. Hasil analisis faktor yang memengaruhi produksi usahatani pepaya di Desa Tambakmulyo yaitu variabel jumlah pohon (X2), tenaga kerja (X3) dan pupuk organik (X4) berpengaruh signfikan terhadap produksi usahatani pepaya.
Tambakmulyo Village was one of the papaya-producing areas in Puring Subdistrict, Kebumen Regency. The production factors that affected California papaya production included land area, number of trees, labor, organic fertilizer, NPK fertilizer, ZA fertilizer, KNO₃ fertilizer, KCl fertilizer, insecticides, fungicides, and herbicides. This study aimed to determine the costs, revenues, and incomes of papaya farmers and to analyze the factors affecting papaya production in Tambakmulyo Village, Puring Subdistrict, Kebumen Regency.
The research method used was a survey. The study location was selected purposively and was conducted in September 2024. The sampling method used was a census, involving 30 papaya farmers. The data were analyzed using descriptive analysis and the Cobb–Douglas production function analysis.
The results showed that papaya farmers in Tambakmulyo Village were predominantly male, within the productive age range of 15–64 years, had mostly elementary school education, had 5–10 years and more than 10 years of farming experience, owned land areas of less than 0.25 hectares, and had an average of 3–4 family dependents. The average total cost of papaya farming was Rp12.361.832,00 per year, the average revenue was Rp12.361.832,00 per year, the average income based on cash costs was Rp9.948.851,00 per year, and the average income based on total costs was Rp3.719.602,00 per year. The analysis of production factors indicated that the number of trees (X2), labor (X3), and organic fertilizer (X4) significantly affected papaya production in Tambakmulyo Village.
5013952213H1D022017Implementasi Hybrid Weighting System Berbasis Integrasi ROC, Random Forest, dan TOPSIS Pada Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Peserta Magang Terbaik di PT Wesclic Neotech IndonesiaPemilihan peserta magang terbaik sering kali menghadapi kendala subjektivitas dan pemanfaatan data historis yang kurang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk membangun sistem pendukung keputusan berbasis website di PT Wesclic Neotech Indonesia menggunakan metode hybrid weighting yang mengintegrasikan Rank Order Centroid (ROC) dan random forest. Sistem dikembangkan dengan framework Laravel dan FastAPI untuk menghubungkan pengelolaan data dengan pemrosesan machine learning. Metode ROC digunakan untuk menentukan bobot kriteria awal berdasar prioritas, sementara algoritma random forest mengekstraksi bobot objektif melalui nilai feature importance dengan tingkat akurasi model mencapai 0,944. Bobot final yang dihasilkan kemudian diproses menggunakan metode TOPSIS untuk menentukan perankingan akhir peserta secara presisi. Hasil pengujian black box menunjukkan seluruh fitur fungsional berjalan sesuai spesifikasi. Kesimpulannya, implementasi sistem ini memberikan solusi mutlak bagi divisi HRD dalam menghasilkan rekomendasi pemilihan peserta magang terbaik yang transparan, objektif, dan terukur dengan memanfaatkan polarisasi data aktual. The selection of the best interns often faces challenges of subjectivity and suboptimal utilization of historical data. This research aims to develop a website-based decision support system at PT Wesclic Neotech Indonesia using a hybrid weighting method that integrates Rank Order Centroid (ROC) and random forest. The system was developed using Laravel and FastAPI frameworks to connect data management with machine learning processing. The ROC method is utilized to determine initial criteria weights based on company priorities, while the random forest algorithm extracts objective weights through feature importance values, achieving a model accuracy rate of 0.944. The generated final weights are subsequently processed using the TOPSIS method to precisely determine the final ranking of the participants. Black-box testing results demonstrate that all functional features operate according to specifications. In conclusion, the implementation of this system provides a definitive solution for the HR department in generating transparent, objective, and measurable recommendations for selecting the best interns by utilizing actual data polarization.
5014052285D1A022191HUBUNGAN MOTIVASI DAN ETOS KERJA PETERNAK DENGAN PENDAPATAN USAHA PETERNAKAN SAPI POTONG DI KABUPATEN BANYUMAS
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat motivasi dan etos kerja peternak, menganalisis pendapatan usaha peternakan sapi potong, serta mengkaji hubungan antara motivasi dan etos kerja dengan pendapatan peternak di Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan dengan metode survei terhadap 240 peternak sapi potong yang dipilih secara Proportional sampling dari total populasi sebanyak 601 peternak yang tersebar di sembilan desa pada tiga kecamatan. Selanjutnya, teknik pengambilan responden di lapangan dilakukan dengan metode accidental sampling. Data yang digunakan terdiri atas data primer yang diperoleh melalui wawancara dan kuesioner, serta data sekunder yang bersumber dari instansi terkait. Analisis data meliputi analisis deskriptif untuk menggambarkan tingkat motivasi dan etos kerja peternak, analisis pendapatan menggunakan pendekatan cash flow, serta analisis korelasi Rank Spearman untuk mengetahui hubungan antar variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi dan etos kerja peternak berada pada kategori sedang. Rata-rata pendapatan usaha peternakan sapi potong berada pada kategori sedang, yaitu sebesar Rp 12.437.592 per tahun, yang merupakan selisih antara total penerimaan dan total biaya produksi selama satu tahun. Hasil analisis korelasi Rank Spearman menunjukkan bahwa motivasi peternak memiliki hubungan yang sangat lemah dan berarah negatif namun signifikan terhadap pendapatan, sedangkan etos kerja tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap pendapatan peternak. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa motivasi memiliki keterkaitan terhadap pendapatan meskipun dalam tingkat yang rendah, sedangkan etos kerja belum menunjukkan pengaruh yang nyata.
Kata kunci : Motivasi, Etos Kerja, Pendapatan, Sapi Potong, Peternak.
This study aims to determine the level of farmers’ motivation and work ethic, analyze the income of beef cattle farming, and examine the relationship between motivation and work ethic with farmers’ income in Banyumas Regency. The research was conducted using a survey method involving 240 beef cattle farmers selected through proportional sampling from a total population of 601 farmers distributed across nine villages in three sub-districts. Furthermore, respondents were selected in the field using an accidental sampling technique. The data used consisted of primary data obtained through interviews and questionnaires, as well as secondary data from related institutions. Data analysis included descriptive analysis to describe the level of motivation and work ethic, income analysis using a cash flow approach, and Spearman Rank correlation analysis to determine the relationship between variables. The results showed that the levels of motivation and work ethic of farmers were in the moderate category. The average income of beef cattle farming was also in the moderate category, amounting to IDR 12,437,592 per year, calculated as the difference between total revenue and total production costs over one year. The Spearman Rank correlation analysis indicated that farmers’ motivation had a very weak and negative but significant relationship with income, while work ethic did not show a significant relationship with farmers’ income. It can be concluded that motivation has a relationship with income, although at a low level, whereas work ethic has not shown a significant effect.
Keywords: Motivation, Work Ethic, Income, Beef Cattle, Farmers.