Artikelilmiahs

Menampilkan 17.421-17.440 dari 50.028 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1742120511B1J013054KARAKTERISASI MOLEKULER IKAN GURAMI MERAH DAN GURAMI TAMBAGO (Osphronemus sp.) MENGGUNAKAN SEKUEN PARSIAL GEN SITOKROM C OKSIDASE 1Ikan gurami (Osphronemus goramy) merupakan salah satu jenis komoditas ikan air tawar yang bernilai ekonomis tinggi. Ikan tersebut telah banyak dikembangkan diberbagai daerah termasuk di Provinsi Sumatera Barat. Ikan gurami yang dikembangkan di UPTD BBI Provinsi Sumatera Barat adalah ikan gurami tambago dan merah. Gurami merah merupakan jenis ikan unggulan lokal Provinsi Sumatera Barat yang khas dan tidak terdapat di Provinsi lain. Karakter yang khas gurami tersebut adalah warna sisiknya merah bersih tanpa adanya bintik-bintik atau campuran dengan warna hitam. Gurami tambago memiliki pola yang khas pada sisik ventral dekat anal dengan warna kecoklatan seperti tembaga.
Ikan gurami merah dan gurami tambago yang dibudidayakan di BBI Sumatera Barat diduga memiliki variasi genetik. Namun, hal ini perlu dilakukan adanya uji lanjut. Oleh karena itu karakterisasi molekuler kedua gurami tersebut perlu dilakukan menggunakan penanda genetik yang mempunyai sensitifitas tinggi. Salah satu karakter molekuler yang dapat digunakan sebagai penanda genetik adalah gen CO1. Gen tersebut merupakan salah satu dari gen dalam genom mitokondria (mtDNA) yang biasa digunakan sebagai barcode. Segmen gen CO1 dengan ukuran sekitar 600-750 bp, telah digunakan untuk identifikasi di beberapa taksa hewan seperti serangga, burung, dan ikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui beberapa karakter molekuler gurami merah dan gurami tambago.
Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel secara random sampling. Sampel ikan gurami merah dan gurami tambago yang digunakan merupakan koleksi Bapak Dr. Agus Nuryanto, S.Si., M.Si. Penelitian ini diawali dengan melakukan ekstraksi DNA sirip ikan, amplifikasi fragmen gen CO1 mtDNA ikan, elektroforesis gel agarosa, pengamatan hasil di bawah UV transluminator, dan pendokumentasian dilakukan di Laboratorium Taksonomi Hewan Fakultas Biologi Unsoed. Tahap selanjutnya yaitu sekuen DNA, Hasil sekuensing diedit menggunakan software Bio-Edit. Persentase konten tiap nukleotida dan jarak genetik dihitung menggunakan software Arlequin. Hubungan kekerabatan gurami merah dan gurami tambago diduga berdasarkan pohon filogenetik yang direkonstruksi menggunakan alogaritma NJ (Neighbor Joining) dengan bantuan software MEGA dengan gurami sabah dan sepat sebagai outgroup (pembanding).
Hasil penelitian menunjukan bahwa kandungan nukleotida gurami merah berkisar 17,09%-32,27% dan gurami tambago 17,11%-32,27%. Keragaman haplotipe gurami merah sebesar 0,933 +/- 0,1217 dan gurami tambago 0,7500 +/- 0,1121. Sementara itu keanekaraman nukleotida gurami merah sebesar 0,003901+/-0,002818 dan gurami tambago sebesar 0,003165+/-0,002225, dikuatkan dengan jarak genetika antara kedua strain 0,00459, hal ini kurang dari 1% sehingga kedua strain tersebut masih dalam satu spesies yaitu Osphronemus gaurami. Ikan gurami merah dan gurami tambago membentuk kelompok monofiletik ketika dibandingkan dengan Trichogaster 1 (accession number KY290117.1, Trichogaster 2 (accession number KY290047.1), and Trichogaster 3 (accession number KU569056.1).

Giant gourami (Osphronemus goramy) is a freshwater fisheries commodity with high economic value. This fish has been cultivated in several regions, including in West Sumatera Pravince. provinces. Character uniquensess of ths gurami is color of its scale ois clearly red without any dots or any other color combination with the black color. Tambago gurami has a unique scale next to the anal with tha copper-brownish color. The local name of this fish is talking about this gurami fish. The red gurami and the tambago gurami are being breeded in BBI and it is estimated that it has a genetic market that has a high sensitivity. One of the molekuler characheristic that can be used as the genetic marker is gene CO1. The reserch result shows that the content of red gurami nucleotide is estimated approximately 17,09-32,27% and for tambago gurami is approximatelu 17,11-32,27%. The haplotype variosity of red gurami is approximately 0,933+/-0,1217 and the tambago gurami 0,7500+/-0,1121. Meanwhile for nucleotide 1%, so both of those strain trees are still in one species, that is Osphronemus goramy. The phylogene tree are divided into two clades, clade A1 is red gurami and tambago gurami, clade 2 is Sabah. There as clade B is out group (Trichogaster).
1742220500B1J013136PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN FENOL TANAMAN SELEDRI (Apium graveolens L.) PADA MEDIA TANAM DENGAN PEMBERIAN ASAM HUMATSeledri (Apium graveolens L.) merupakan tanaman sayuran yang mempunyai banyak manfaat salah satunya sebagai obat. Khasiat obat pada seledri karena adanya kandungan senyawa metabolit sekunder gologan fenol yaitu polifenol yang berperan sebagai antioksidan. Peningkatan senyawa polifenol pada tanaman dapat dilakukan dengan meningkatkan biomassa tanaman. Salah satu cara peningkatan biomassa tanaman yakni dengan modifikasi media tanam. Penambahan asam humat dalam media tanam dilaporkan mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman, peningkatan pertumbuhan tanaman diharapkan dapat meningkatkan kandungan senyawa metabolit sekunder seperti senyawa fenol pada tanaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh asam humat terhadap pertumbuhan tanaman dan kandungan fenol tanaman seledri serta menentukan konsentrasi asam humat yang efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan kandungan fenol tanaman seledri. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan asam humat dengan konsentrasi 0 g/kg; 4 g/kg; 8 g/kg; 12 g/kg dan diulang sebanyak tiga kali. Parameter yang diukur pada penelitian ini adalah pertumbuhan tanaman meliputi jumlah daun, tinggi tanaman, berat basah serta berat kering tanaman, dan kandungan fenol. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA (Analysis of Variance) dan dilanjutkan dengan uji BNT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan asam humat dengan konsentrasi 8 g/kg merupakan konsentrasi paling efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dengan jumlah daun 63,13, tinggi tanaman 32,493 cm, berat basah 20,527 g dan berat kering 2,340 g serta kandungan fenol tanaman 0.033 mg/g.Celery (Apium graveolens L.) is kind of beneficial vegetable plant that can be used as medicine. Celery can be used as medicine because its contain active compound which called polyphenol from phenol group that roled as antioxidant. The enhancement of polyphenol compound can be done by increasing plant biomass. Modifying the medium plant is one of many ways to increasing plant biomass. The addition of humic acid in medium plant was reported to be able to increased plant growth, enhancement of plant growth is expected to increase the active content such as phenol in plants. The aim of this research were to know the influence of humic acid on plant growth and phenol content of celery, and to determine the effective concentration of humic acid to increase the growth and fenol content of celery. This research was conducted experimentally using Complete Randomized Design (RAL) consisting of four humic acid treatment with concentration of 0 g / kg; 4 g / kg; 8 g / kg; 12 g / kg and repeated three times. Parameters measured in this study were plant growth including leaf number, plant height, wet weight and dry weight of plant, and phenol content. The data obtained analyzed by ANOVA (Analysis of Variance) then proceed by BNT test. The results showed that humic acid treatment with concentration 8 g / kg was the most effective concentration to increase the growth with the number of leaves 63,13, plant height 32,493 cm, wet weight 20,527 g and dry weight 2,340 g and phenol content of plant 0,33 mg/g.
1742320512B1J013183PENGARUH PEMBIUSAN TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH DAN DIFERENSIAL LEUKOSIT IKAN NILEM (Osteochilus vittatus) YANG DIBERI PERLAKUAN PENYUNTIKANPembiusan merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menekan perubahan fisiologi pada ikan berupa stres akibat perlakuan berupa penyuntikan. Penyuntikan telah sering dilakukan dalam dunia perikanan, baik untuk merangsang pemijahan pada ikan, pengobatan ikan yang sakit, atau untuk keperluan pengambilan darah. Teknik penyuntikan yang paling umum dilakukan yaitu secara intramuscular, karena dapat meminimalkan perlukaan dan tidak merusak organ penting pada ikan. Kadar glukosa darah dan diferensial leukosit dapat dijadikan parameter untuk mengevaluasi perubahan fisiologi pada ikan akibat penyuntikan. Penelitian kali ini menggunakan rancangan percobaan, RAL (rancangan acak lengkap) dengan 4 perlakuan dan 6 kali pengulangan, yaitu kontrol (A) (ikan tidak dibius dan tidak disuntik), B (ikan tidak dibius dan disuntik), C (ikan dibius dan disuntik) dan D (ikan dibius dan tidak disuntik). Ikan nilem (Osteochilus vittatus) jantan dengan berat 70-90 gr digunakan sebagai objek penelitian. Ikan dibius menggunakan es batu dengan medote penurunan suhu 8-10oC selama 5-10 menit. Cairan infus NaCl fisiologis 0,9% disuntikan sebanyak 1 ml kedalam tubuh ikan secara intramuscular. Variabel yang diamati yaitu kadar glukosa darah dan diferensial leukosit. Data penelitian yang bersifat kuantitatif yaitu persentase kadar glukosa darah dan diferensial leukosit dianalisis secara statistik menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dengan uji lanjut yaitu uji Tukey. Data kualitatif berupa gambaran diferensial sel leukosit dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kadar glukosa darah dan diferensial leukosit yang signifikan (P<0,05) antara ikan yang tidak dibius dan disuntik dengan ikan yang dibius terlebih dahulu sebelum disuntik. Ikan yang tidak dibius dan langsung disuntik secara signifikan (P<0,05) memiliki kadar glukosa darah, persentase monosit dan neutrofil yang lebih tinggi serta persentase limfosit yang lebih rendah dibandingkan ikan kontrol, ikan yang dibius terlebih dahulu dan disuntik, serta ikan yang hanya dibius namun tidak disuntik. Adapun kisaran normal kadar glukosa darah dan persentase diferensial leukosit (limfosit, monosit, dan neutrofil) ikan nilem berturut-turut yaitu 51 – 95 mg/dl, 86,27% - 89,36 %, 3,19 % - 5,88 % dan 6,67 % - 7,84 %. Maka dapat disimpulkan bahwa pembiusan sebelum penyuntikan akan menjaga normalitas dari kadar glukosa darah dan diferensial leukosit darah ikan nilem.Anesthesia is one effort that can be done to suppress physiological changes in fish form of stress due the injection treatment. Injection has often been done of fisheries, either to stimulate spawning in fish, treatment of sick fish, or for the purposes of taking blood. The most common injection technique is intramuscular injection, as it is necessary to crush and not damage important organs in fish. Blood glucose levels and differential leukocyte cells can be used as parameters to evaluated physiological changes in fish due to injections. This research used experiment design, RAL (complete random design) with four treatments and six repetitions, i.e., control (A) (non-anesthetized and uninjected fish), B (non-anesthetized and injected fish), C (fish drugged and injected) and D (fish drugged and not injected). A male Nilem (Osteochilus vittatus) that used as research object, with weight 70-90 gr. The fish is anesthetized using ice by the method of decreasing the temperature of 8-10oC during 5-10 minnute. 0.9% physiological NaCl infusion fluid is injected 1 ml into the body of the fish intramuscularly. Variables to be observed are blood glucose and leukocyte differential. Quantitative research data that is the percentage of blood glucose level and differential leukocyte percentage will be analyzed statistically using variance analysis (ANOVA) with advanced test Turkey test. Qualitative data in general leukocyte cells will be analyzed descriptively. The results showed that there were significant differences in blood glucose and leukocyte count values between fish that were not anesthetized and injected with an anesthetized fish before injection. Fish that are not anesthetized and directly injected significantly (P <0.05) have higher blood glucose levels than control fish, first anesthetized and injected fish, and fish that are just anesthetized but not injected. The normal range of blood glucose and leukocyte differentiation percentages (lymphocytes, monocytes, and neutrophils) were 51 - 95 mg / dl, 86,27% - 89,36%, 3,19% - 5,88%, and 6,67% - 7,84%. So it can be concluded the anesthesia before the injection will maintain the normality of blood glucose levels and differential blood leukocyte of Nilem fish.
1742421602E1A014189Implikasi Justice Collaborator Dalam Kasus Suap Proyek Insfrastruktur Aspirasi Daerah Komisi V DPR RI (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor : 32/Pid.Sus/TPK/2016/PN.Jkt.Pst.)Perkembangan tindak pidana korupsi di Indonesia masih tergolong tinggi, sehingga dapat dikatakan bahwa korupsi sebagai virus yang dengan mudahnya menyebar ke seluruh tubuh pemerintahan. Perkembangan korupsi yang demikian mempunyai relevansi dengan kekuasaan karena dengan kekuasaan itu penguasa dapat menyalahgunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi. Salah satu persoalan upaya pemberantasan tindak pidana korupsi adalah masalah penegakan hukum, khususnya proses peradilan. Untuk dapat mengungkap pelaku tindak pidana korupsi yang terorganisir, guna menyeret pelaku utama dan tersangka lainnya tentunya membutuhkan pembuktian yang signifikan. Dalam hal pembuktian dibutuhkan saksi yang sekaligus menjadi pelaku tindak pidana korupsi dan mau bekerjasama dengan penegak hukum untuk mengungkap tindak pidana korupsi, yang disebut justice collaborator. Penelitian ini pada intinya untuk mengetahui peran terdakwa sebagai justice collaborator dan implikasi justice collaborator dalam mengungkap kasus tindak pidana korupsi khusunya dalam putusan nomor: 32/Pid.Sus/TPK/2016/PN.Jkt.Pst. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif yaitu dengan cara menelaah sumber data sekunder berupa bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah normatif kualitatif yaitu mengolah dan menafsirkan berdasarkan pada putusan maupun perundang-undangan yang berkaitan dengan penelitian. Dalam penelitian putusan nomor: 32/Pid.Sus/TPK/2016/PN.Jkt.Pst., peran terdakwa secara signifikan berhasil mengungkap kejahatan tindak pidana korupsi yang terorganisir, namun status justice collaborator terdakwa tidak berdampak pada implikasi terhadap hak terdakwa sebagai justice collaborator yaitu berupa pengurangan hukuman. In Indonesia corruption is getting developed day by day, so it can be said that corruption as a virus that easily spread to the entire body of government. Corruption development has relevance to the power of authority because with that power the ruler can abuse his power for personal income. One of the problem to eradicate corruption is the problem of law enforcement, especially the judicial process. To be able to reveal the perpetrators of organized criminal acts of corruption, and to drag the main perpetrators and other suspects would require significant proof. In collecting tne proof, it is required witnesses who at the same time become perpetrators of criminal acts of corruption and willing to cooperate with law enforcement to reveal corruption, called justice collaborator. This research is basically to know the role of defendant as justice collaborator and the implication of justice collaborator in uncovering corruption crime case especially in decision number: 32 / Pid.Sus / TPK / 2016 / PN.Jkt.Pst. This study used normative juridical approach method by examining secondary data sources in the form of primary, secondary and tertiary legal materials. The research method used in this research is normative qualitative, that are processing and interpreting based on decision and legislation related to research. In the research of verdict number 32/Pid.Sus/TPK/2016/PN.Jkt.Pst., The defendant's role was significantly successful in uncovering the crime of organized corruption crime, but the defendant's justice collaborator status has no impact on the implication of defendant's right as justice collaborator ie a reduction in punishment.
1742521487A1M014029Evaluasi Variasi Metode dan Lama Pengeringan Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa Linn) Terhadap Karakteristik Fisik, Kimia dan Aktivitas Antimikroba.Kelopak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa Linn.) memiliki kandungan kadar air 85%. Hal ini menyebabkan kelopak bunga rosela mudah rusak. Pengeringan merupakan pretreatment paling tepat untuk mengurangi kandungan kadar air. Namun, kandungan senyawa bioaktif yang terdapat didalam kelopak bunga rosela yaitu senyawa fenolik, antosianin dan vitamin C mudah terpengaruh oleh suhu dan pH. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dicari metode dan lama pengeringan yang tepat agar kandungan senyawa bioaktif dan aktivitas antimikroba yang terdapat didalam kelopak bunga rosela tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi metode pengeringan terhadap karakteristik fisik dan kimia ekstrak kelopak bunga rosela, mengetahui pengaruh lama pengeringan terhadap karakteristik fisik dan kimia ekstrak kelopak bunga rosela dan mengetahui pengaruh variasi metode dan lama pengeringan terhadap aktivitas antimikroba ekstrak kelopak bunga rosela. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK). Dua faktor yang diteliti yaitu metode pengeringan (P), terdiri dari pengeringan matahari (P1), pengeringan kabinet (P2) dan pengeringan efek rumah kaca (P3); lama pengeringan (L), yaitu 2 jam (T1), 4 jam (T2), 6 jam (T3) dan 8 jam (T4).
Hasil penelitian menunjukan metode dan lama pengeringan terbaik yaitu pengering kabinet dengan total senyawa fenolik 15,03 mg/100 gram, pH 2,1, intensitas kemerahan (a*) +6,27 dan aktivitas antimikroba pada Staphylococcus aureus sebesar 10,6±2,1 mm dan Escherichia coli sebesar 23,6±3,0, lama pengeringan terbaik adalah 8 jam dengan total senyawa fenolik 10,61 mg/100 gram, pH 2,0, intensitas kemerahan (a*) +7,10.
Roselle petal (Hibiscus sabdariffa Linn.) contains 85% of moisture content, so it causes the Roselle petal easily decayed. Drying process is the most appropriate pretreatment to reduce the moisture content. However, the content of bioactive compounds in Roselle petal like phenol, anthocyanin, and vitamin C is easily affected by temperature and pH. Based on that condition, it is necessary to find the appropriate drying method and duration, expect the content of bioactive compounds and antimicrobial activity in Roselle petal can increase.
This research was aimed at determining the effect of different drying method and duration towards physical and chemical characteristics and also towards antimicrobial activity of Roselle petal extract. This research used Randomized Block Design (RBD). Two analyzed factors are the drying method (P) consisting of sun drying (P1), cabinet drying (P2), and greenhouse-effect drying (P3); and drying duration (L) i.e 2 hours (T1), 4 hours (T2), 6 hours (T3), and 8 hours (T4).
The research result showed the best drying method and duration is the cabinet dyer with 15,03 mg/100 gram of total phenol, pH 2,1, redness intensity (a*) +6,27, and the antimicrobial activity on Staphylococcus aureus is 10,6±2,1 mm and Escherichia coli is 23,6±3,0 mm. Meanwhile, the best drying duration is 8 hours with 10,61 mg/100 gram of total phenol, pH 2,0, and redness intensity (a*) +7,10.
1742620516F1B013089Efektivitas Program Pelatihan Berbasis Kompetensi di Balai Latihan Kerja Kabupaten PurbalinggaPelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) melalui Balai Latihan Kerja (BLK). Program PBK merupakan pelatihan kerja yang menitikberatkan pada penguasaan kemampuan kerja mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai standar yang ditetapkan dan persyaratan di tempat kerja. Kabupaten Purbalingga telah melaksanakan program PBK sejak tahun 2014 hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tingkat efektivitas program PBK di BLK Kabupaten Purbalingga. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif. Sasaran dalam penelitian ini adalah peserta program PBK tahun 2017 yang sedang berlangsung berjumlah 80 responden. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan distribusi frekuensi, tabulasi silang, dan kai kuadrat. Berdasarkan hasil menunjukkan bahwa tingkat efektivitas Program Pelatihan Berbasis Kompetensi di Balai Latihan Kerja Kabupaten Purbalingga secara keseluruhan tergolong dalam kategori tinggi dengan presentase 70,0%. Presentase yang diperoleh dalam setiap dimensi yaitu dimensi pencapaian tujuan memiliki presentase nilai sebesar 53,8% tergolong dalam kategori tinggi. Dimensi integrasi memiliki presentase nilai 68,8% tergolong dalam kategori tinggi. Selanjutnya dimensi adaptasi memiliki presentase nilai 50,0% tergolong dalam kategori tinggi. Berdasarkan hasil tabulasi silang dan kai kuadrat menunjukkan bahwa kategori tinggi dalam dimensi pencapaian tujuan, dimensi integrasi, dan dimensi adaptasi setelah dikontrol dengan variabel jenis kelamin, usia, pendidikan, jurusan pelatihan, dan pengalaman bekerja ternyata tidak ada perbedaan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa efektivitas program PBK relatif tinggi. Namun hal tersebut tidak berlaku dalam dimensi integrasi setelah dikontrol dengan variabel pendidikan, karena ada perbedaan antara yang berpendidikan mengengah kebawah dengan yang berpendidikan tinggi.Competency Based Training (PBK) through the Training Center (BLK). The PBK program is a job training that focuses on the mastery of work skills including knowledge, skills, and attitudes according to established standards and requirements in the workplace. Purbalingga District has been implementing the PBK program since 2014 until now. This study aims to determine and describe the effectiveness level of PBK programs in BLK Purbalingga District. The research method used is quantitative descriptive. The targets in this research are the participants of the ongoing 2017 CBC program amounting to 80 respondents. Data analysis technique in this research use frequency distribution, cross tabulation, and kai square. Based on the results of the analysis that has been done on 80 respondents and the results of the discussion presented has shown that the effectiveness level of Competency Based Training Program in Training Center Purbalingga District as a whole belong to the high category with 70.0% percentage. The percentage obtained in each dimension that is the goal achievement dimension has a percentage value of 53.8% belonging to the high category. The integration dimension has a percentage value of 68.8% belonging to the high category. Furthermore, the adaptation dimension has a percentage value of 50.0% belonging to the high category. Based on cross-tabulation and kai square results indicate that high category in goal achievement dimension, integration dimension, and adaptation dimension after controlled by gender, age, education, training, and work experience are no different. Therefore it can be concluded that the effectiveness of PBK program is relatively high. However, this does not apply in the integration dimension after being controlled with the educational variables, because there is a difference between educated middle and low with highly educated.

1742720517B1J012116RESPON FISIOLOGIS TANAMAN KEDELAI [Glycine max (L.) Merr.] KULTIVAR MAHAMERU TERHADAP PEMBERIAN PUPUK KANDANG PADA KONDISI SALINITAS TINGGIKedelai (Glycine max (L.) Merr.) merupakan salah satu komoditas pangan penting nomor dua setelah padi yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan, pakan ternak, dan industri makanan. Kebutuhan kedelai oleh masyarakat semakin meningkat setiap tahun, namun berbanding terbalik dengan tingkat produksi kedelai. Penurunan produksi kedelai disebabkan adanya faktor lingkungan yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan. Salinitas merupakan salah satu faktor lingkungan yang mengganggu kondisi fisiologis tanaman kedelai akibat adanya garam terlarut dengan menurunkan kualitas unsur hara di dalam tanah. Hal tersebut perlu penanganan khusus untuk membantu tanaman tetap mempertahankan kondisi fisiologisnya. Pemakaian pupuk kandang sapi merupakan salah satu cara alternatif untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman karena tidak memberikan resiko pada tanaman. Ketersediaan unsur hara di dalam pupuk kandang dapat memperbaiki sifat fisik, dan biologi tanah. Kandungan selulosa dan kadar air yang tinggi di dalam pupuk kandang dapat menjaga kadar air dalam tanaman disaat kehilangan air akibat salinitas.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk kandang terhadap pertumbuhan tanaman kedelai kultivar mahameru pada kondisi salinitas tinggi dan untuk mengetahui dosis pemberian pupuk kandang yang optimal untuk pertumbuhan tanaman kedelai kultivar mahameru pada kondisi salinitas tinggi. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dosis pemberian pupuk kandang adalah P0 (kontrol) = 0 g per polybag (0 t/ha) , P1= 80 g per polybag (5 t/ha), P2 = 160 g per polybag (10 t/ha), P3 = 240 g per polybag (15 t/ha), P4 = 320 g perpolybag (20 t/ha).
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, perlakuan pupuk kandang sapi dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman pada beberapa parameter, meningkatkan jumlah klorofil a, klorofil b, luas daun, berat basah akar, dan berat kering akar, dan perlakuan pupuk sebanyak 80 g per polybag (5 t/ha) merupakan dosis yang optimal untuk pertumbuhan tanaman kedelai pada kondisi salinitas tinggi. Sedangkan hasil berat basah tajuk dan berat kering tajuk tidak dipengaruhi oleh pemberian pupuk kandang.
Soybean (Glycine max (L.) Merr.) is one of the most important food commodities after rice, that is used as food, animal feed, and food industry. Soybean cultivars Mahameru has the advantage of large pods, that resistant to fall and pods are not easily broken. Low production of soybean is due to environmental factors that inhibit the growth and development of plants. Salinity is one of the environmental factors that interfere with the physiological conditions of soybean plants due to the salinity content. It is necessary to have specifically handling that can help the plant to maintain physiological condition. Using of cow manure is one of the alternative ways to increase plant growth, providing nutrient function, improving soil physical. Cow manure contains high concentrations of cellulose and moisture content so as to maintain water levels in plants when water loses from salinity. The purpose of this research is to know the effect of manure on the growth of Mahameru cultivar soybean plant at high salinity condition and to know the optimal dosage of manure for the growth of Mahameru cultivar soybean plant at high salinity condition. This research was conducted by an experimental method with Completely Randomized Design (CRD). The dosage of manure is P0 (control) = 0 g per polybag (0 t / ha), P1 = 80 gr per polybag (5 t / ha), P2 = 160 gr per polybag (10 t / ha), P3 = 240 gr per polybag (15 t / ha), P4 = 320 gr per polybag (20 t / ha). Based on the results, the treatment of cow manure on salinity condition 140 mM gives effect to the growth of leaf area, chlorophyll a, chlorophyll b, fresh weight of roots and dry weight of roots, and not effect to fresh weightand dried of crown.

1742820513B1J013204IDENTIFIKASI DAN INVENTARISASI SECARA MORFOLOGI JAMUR KOPROFIL MAKROSKOPIS DI PETERNAKAN SAPI PT CITRA AGRO BUANA SEMESTA KABUPATEN PURBALINGGA
Jamur koprofil adalah jamur yang tumbuh sebagai saproba pada berbagai jenis kotoran binatang peliharaan dan hewan herbivora liar, baik di padang rumput, daerah terbuka, taman zoologi, tumpukan kotoran di sepanjang pinggir jalan atau sepanjang kolam yang terinvestasi oleh kotoran tersebut. Beberapa di antaranya berperan sebagai dekomposer utama pada limbah kotoran khususnya pada hewan herbivora. Berdasarkan beberapa laporan penelitian diketahui bahwa jamur koprofil memiliki keragaman yang tinggi, mudah dijumpai di berbagai daerah terutama pada musim penghujan dengan tingkat kelembapan sekitar 70-80% sehingga perlu pengenalan lebih terhadap keberadaan jamur tersebut. Selain peranannya sebagai dekomposer beberapa jenis jamur koprofil juga memiliki kandungan senyawa yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, misalnya pada bidang kesehatan.
Kabupaten Purbalingga, khususnya Desa Sokanegara yang merupakan bagian dari Kecamatan Kejobong memiliki kondisi iklim yang mendukung untuk pertumbuhan jamur koprofil selain itu di daerah tersebut terdapat peternakan sapi yang kotorannya diketahui dapat menjadi habitat jamur koprofil, namun sebagian masyarakat belum mengenalinya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keragaman jamur koprofil (jumlah genera jamur) di lokasi tersebut. Metode yang digunakan adalah metode survai dengan pengambilan sampel secara purposive random sampling. Jamur yang didapat akan diamati struktur makromorfologinya, kemudian diidentifikasi menggunakan software MycoKey4.1.
Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan di cari Indeks Dominansinya. Hasil inventarisasi diperoleh 5 genera yang berbeda berdasarkan hasil analisis secara deskriptif. Genera jamur koprofil tersebut antara lain Coprinopsis, Mycena, Hypoloma,Clytocybula dan Coprinus. Hasil perhitungan Indeks Dominansi pada lokasi tersebut sebesar 0,25, dari hasil tersebut maka dapat dikatakan bahwa tidak ada salah satu genus yang mendominasi genus lain, dengan kata lain pola persebaran genus jamur koprofil merata.
Coprophilous fungi are fungi that grow as saprophyte on various kinds of dung pets and wild herbivores, both in grassland, open areas, zoological park, piles of dirt along the side of the road or along the pond invested by these impurities. Some of them act as the primary decomposers in manure, especially in herbivore dungs. According to some reports reveal that the coprophilous fungis have high diversity, easily found in various areas, especially in the rainy season with a humidity level of around 70-80% so it needs more recognition of the existence of these mushrooms. Besides its function as decomposers of several types of coprophilous fungis also contains compounds that can be used for various purposes, for example in the madical field.
Purbalingga especially Sokanegara village which is part of the District Kejobong has favorable climatic conditions for coprophilous growth than that in the area there are farm cow whose dung known as coprophilous habitats, but most people have not yet recognized it. This study will be conducted in order to determine coprophilous fungi diversity (number of genera of fungi) at that location. The method used is survey with purposive random sampling.
Fungi obtained will be observed its macro-morphology structure, then identified using software MycoKey4.1. Data were analyzed descriptively and dominance in the search index. From the results of the inventory can be obtained five different genera based on the results of descriptive analysis. Coprophilous mushroom genera consist of Coprinopsis, Mycena, Hypoloma, Clytocybula, and Coprinus. Dominance Index calculation results in the locations of 0.063853224, from these results, it can be said that no one genus dominate the other, in other words the pattern of distribution of the coprophilous mushroom’s genus evenly.
1742920518F1A012091Habitus Pengrajin Bata Merah Dalam Menjalankan Ritual Kepungan dan Sesajen Di Desa Kedungwuluh Patikraja BanyumasRitual kepungan dan sesajen berperan penting dalam kegiatan produksi bata merah di Desa Kedungwuluh Kidul, Patikraja, Banyumas. Ritual kepungan dilakukan pada saat memulai usaha dan saat proses pembakaran sedangkan ritual sesajen hanya dilakukan pada saat pembakaran bata merahnya saja. Hasil penelitian menunjukkan latar belakang ritual kepungan dan sesajen merupakan warisan budaya nenek moyang hasil akulturasi antara kepercayaan animisme dan dinamisme dengan agama Islam Kejawen. Ritual kepungan memiliki makna sebagai ucapan syukur pada leluhur dan Tuhan YME atas berkah penghasilan dari usaha bata merah yang notabene bahan baku berasal dari alam yaitu tanah. Sedangkan ritual sesajen memilliki makna sebagai penolak bala. Dengan kepercayaan Islam Kejawen membuat pengrajin bata merah di Desa Kedungwuluh Kidul dalam setiap tata laku menggunakan ritual tersebut sebagai simbol dari kepercayaan yang dianut. Habitus terdiri dari empat hal diantaranya : pemahaman pengrajin bata merah terbagi menjadi dua kategori yaitu, meyakini sebagai kepercayaan dan sebagai kebiasaan. Kepercayaan meyakini bahwa ritual merupakan kegiatan untuk leluhur. Kebiasaan, melakukan ritual sebagai kegiatan turun temurun saja. Pengetahuan bahwa ritual kepungan dilaksanakan saat memulai usaha dan sesajen dilaksanakan setiap proses produksi. Kebiasaan yaitu ritual tersebut dilakukan berulang-ulang dan perilaku adalah pengrajin bata merah masih menggunakan ritual tersebut dalam kegiatan produksi.Kepungan Ceremony and Sesajen play an important role in red brick production activities in Kedungwuluh Kidul Village. Kepungan Ceremony done at the start of effort and during the burning process while the sesajen ritual are only done at the time of burning red brick only. The result of the research shows that the backgorund of Kepungan Ceremony and Sesajen is the cultural haritage of the ancestors of acculturation between animism and dynamism with the religion of Islam Kejawen. Kepungan Ceremony has a meaning as a thanks giving to the ancestors and God for the blessing of income from red brick business that in fact of raw material comes from nature specifically from soil. While the Sesajen Ceremony have the meaning to avert evil. With the Islam Kejawen beliefs made red brick craftsman in Kedungwuluh Kidul Village in every behavior use the Ceremony as a symbol of belief adopted. Habitus consists of four things including : understanding red brick craftsman are divided into two categories, believes as a belief and as habit. Beliefes believe that ceremony is an activity for the ancestors. Habit, performing ceremony as hereditary activities only. Knowledge that Kepungan Ceremony is carried out when starting a business and Sesajen done when each production process. The habit is that the ritual is performed repeatedly and the behavior is the red brick craftsman still use that ceremony in production activities.
1743024800I1F017020GAMBARAN PERAN KELUARGA DALAM PERAWATAN LUKA POST OPERASI DI POLI BEDAH RSUD Dr. SOEDIRMAN KEBUMENLatar Belakang: Peran keluarga sangat penting dalam proses pengobatan penyakit. Keluarga memiliki peran terapeutik guna memberikan perawatan luka post operasi. Keberadaan peran keluarga diperlukan untuk merawat anggota keluarga.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran peran keluarga dalam perawatan luka post operasi
Metodologi Penelitian: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif menggunakan desain pendekatan cross sectional. Populasi penelitian yaitu keluarga yang mendampingi pasien post operasi yang melakukan kontrol ke poli bedah RSUD Dr. Soedirman dengan jumlah sampel 56 responden yang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang diisi oleh responden.
Hasil Penelitian: Berdasarkan karakteristik responden yang dominan berada dalam rentang usia dewasa tengah (31-54 tahun), berjenis kelamin perempuan, tingkat pendidikan SMA, status bekerja, dan berpenghasilan > Rp 1.560.000,- serta menjalankan peran keluarga dalam perawatan luka post operasi dengan cukup baik.

Kata kunci: Keluarga, Luka Operasi, Peran Perawatan
Background: The role of the family is very important in the treatment of disease. Families have a therapeutic role in order to provide postoperative wound care. The existence of family roles needed to care for family members.
Objective: This study aims to reveal the role of the family in the treatment postoperative wound.
Methodology: This type of research is quantitative research with descriptive method using cross sectional design. The study population is families who accompany patients postoperative control to the poly surgical Hospital Dr. Soedirman with a sample size 56 were selected with consecutive sampling technique. Collecting data using quastionnaires filled out by respondents.
Result: Based on the dominant characteristics of the respondents are in the middle adult age range (31-54 years old), female, high school education level, employment status, and income > Rp 1.56 million as well as running the family’s role in the treatment of postoperative wound well enough.

Keyword: Family, Wound Postoperative, Maintenance Role.
1743120304H1H013040Performa Reproduksi Ikan Cupang (Betta imbellis) Tiga GenerasiBetta imbellis merupakan salah satu jenis ikan cupang di Indonesia. Kendala dalam pengembangannya yaitu pemijahan masih tergantung kondisi alam dan performa reproduksinya belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa reproduksi ikan cupang (B. imbellis) tiga generasi (F0, F1 dan F2). Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan yaitu induk B. imbellis generasi nol (tangkapan alam) (F0), induk B. imbellis generasi pertama (F1), dan induk B. imbellis generasi kedua (F2). Hasil uji statistik menunjukkan faktor generasi (F0, F1 dan F2) berpengaruh nyata (P< 0,05) terhadap panjang total induk jantan, berat tubuh induk jantan, diameter telur, hatching rate dan volume kuning telur, namun tidak berpengaruh nyata (P> 0,05) terhadap panjang total induk betina, berat induk betina, fekunditas dan fertilization rate. F0 memiliki diameter telur yang lebih pendek, hatching rate yang lebih rendah dan volume kuning telur yang lebih banyak dibandingkan F1 dan F2. F1 memiliki diameter telur, hatching rate dan volume kuning telur yang cenderung tidak jauh berbeda dengan F2.Betta imbellis is one of Betta species in Indonesia. Obstacles found in the development are in spawning still depend on natural conditions and its reproduction performance that is known yet. This study aimed to determine three generations of Betta (B. imbellis) reproduction performance (F0, F1 and F2). The method used is an experimental method with Completely Randomized Design with 3 treatments and 3 repetitions namely B. imbellis zero generation (wild catch) (F0), B. imbellis first generation (F1), and B. imbellis parent second generation (F2). The statistic test result shows that generation factor (F0, F1 and F2) has significant effect (P< 0,05) to the total length, body weight of male parent, egg diameter, hatching rate and egg yolk volume, yet it has no significant effect (P> 0.05) to the total length, weight of female parent, fecundity and fertilization rate. F0 has a shorter egg diameter, lower hatching rate and more egg yolk volume than F1 and F2. F1 has egg diameter, hatching rate and egg yolk volume which tend to be not much different from F2.
1743220521B1J013192INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI JAMUR KOPROFIL MAKROSKOPIS PADA BEBERAPA PETERNAKAN SAPI DI WILAYAH KABUPATEN BANYUMASJamur koprofil merupakan tipe jamur saprofit yang menggunakan kotoran berbagai hewan, terutama herbivora, sebagai substrat untuk tumbuh. Penelitian mengenai jamur koprofil makroskopis sampai saat ini belum ada yang dipublikasikan di Indonesia. Wilayah Kabupaten Banyumas memiliki iklim tropis basah, dengan rata-rata curah hujan 2.725 mm per tahun dengan temperatur udara rata-rata berkisar antara 21,4oC-30,9oC, yang memungkinkan bagi pertumbuhan jamur. Peternakan sapi banyak terdapat di Kabupaten Banyumas seperti di Kecamatan Kedungbanteng, Kecamatan Sumbang dan Kecamatan Karanglewas. Jamur koprofil dijumpai pada peternakan sapi yang kotoran sapinya tidak terpapar hujan maupun panas langsung.
Penelitian inventarisasi dan identifikasi sangat diperlukan agar diperoleh informasi mengenai keragaman jamur koprofil yang ada pada beberapa wilayah di Kabupaten Banyumas. Tujuan penelitian adalah mengetahui genera jamur koprofil dan genus jamur koprofil yang dominan pada beberapa peternakan sapi di wilayah Kabupaten Banyumas. Penelitian menggunakan metode survai dengan teknik pengambilan sampel secara purposive random sampling. Objek yang diteliti adalah tubuh buah dan substrat jamur koprofil. Parameter yang diamati yaitu karakter makromorfologi (ukuran pileus, diameter pileus, warna pileus, tekstur pileus, warna lamela, kerapatan lamela, perlekatan lamela pada stipe, panjang stipe, diameter stipe, tekstur stipe, warna stipe, pangkal stipe), karakter mikromorfologi (bentuk, ukuran dan warna spora) dan substrat jamur koprofil (temperatur, kelembapan, pH, kadar air dan rasio C/N).
Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil identifikasi diperoleh lima genera jamur koprofil makroskopis terdapat pada beberapa peternakan sapi di wilayah Kabupaten Banyumas yaitu Ascobolus, Coprinopsis, Leucocoprinus, Coprinellus dan Lycoperdon. Nilai indeks dominansi yang dihitung menggunakan metode Simpsons sebesar 0,42 menunjukkan bahwa tidak ada genus yang mendominasi genus lainnya pada beberapa peternakan sapi di wilayah Kabupaten Banyumas.

Kata kunci : Inventarisasi, identifikasi, jamur koprofil
Coprophilous fungi are a type of saprobic fungi that uses various kind of animals dung, especially herbivores, as substrates to grow. Research on coprophyl macrofungi has not been published in Indonesia. Banyumas Regency has a wet tropical climate, with an average presipitation of 2.725 mm per year with an average air temperature ranging from 21,4oC-30,9oC, which allows fungal growth. Cattle farms are located in Banyumas District such as Kedungbanteng, Sumbang and Karanglewas Subdistrict, land area 1,5 ha with the number of cows around 50, providing an abundant substrate for coprophyl fungus to grow. Coprophyl fungus grow on cow dung that not exposed by direct rainfall and heat.
Inventory and identification research is needed to obtain information on the diversity of coprophyl fungi present in some areas in Banyumas Regency. The purpose of this research is to know the genera of coprophyl fungi and which coprophyl fungi that dominant in some cattle farms in Banyumas Regency. The research used survey method with purposive random sampling technique. The subject studied were the fruit body and substrate. Parameters observed were macromorphological character (pileus size, pileus diameter, pileus color, pileus texture, gils color, gils density, gils attachment to stipe, stipe length, stipe diameter, stipe texture, stipe color, stipe base), micromorphology (spore shape, size and color) and substrate (temperature, humidity, pH, moisture content and C/N ratio.
Data analysis was done descriptively. Identification results obtained five genera of macroscopic coprophyl fungi found in several cattle farms in the region of Banyumas Regency that is Ascobolus, Coprinopsis, Leucocoprinus, Coprinellus and Lycoperdon. The value of dominance index by using Simpsons method is 0,42 indicated that no genus dominates other genus in some cattle farms in Banyumas regency.

Keywords : Inventory, identification, coprophilous fungi
1743320522F1A013023RASIONALITAS MASYARAKAT DESA DALAM TRADISI NYUMBANG
( Studi Tentang Tradisi Nyumbang Pada " Hajat Mantu" Di Desa Plana Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas)
Tradisi Nyumbang di desa Plana memiliki tiga sistem yang berbeda, ada nyumbang pinggelan, nyumbang arisan dan tradisi nyumbang biasa di atas segalanya, ketiga jenis tradisi nyumbang ini sebenarnya adalah kesatuan nyumbang, perbedaannya hanyalah sistem pelaksanaannya. Kegiatan Nyumbang di Desa Plana memiliki kontrol sosial yang memiliki konsekuensi irasional, jika masyarakat tidak mematuhi apa yang telah ada. Tradisi nyumbang merupakan salah satu budaya masyarakat yang masih terus dilakukan, terutama di Desa Plana Kabupaten Banyumas. Dimana dalam tradisi donasi ini memiliki nilai standar untuk barang yang disumbangkan, nilainya harus diukur terhadap barang harus memiliki kesepakatan yang jelas dan waktu untuk perolehan barang juga harus jelas sesuai dengan kesepakatan, hal ini berfungsi untuk menghindari terjadinya konflik. perselisihan antar warga, karena tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.Nyumbang tradition at Plana village has three different systems, there are nyumbang pinggelan, nyumbang arisan and the ordinary of nyumbang tradition above all, these three kinds of nyumbang traditions is actually the unity of nyumbang, the differance is only the system of implementation. Nyumbang activity at Plana village has a social control which has irrational consequences, if the society doesn’t obey what has already been exist. Tradition nyumbang is one of the culture of society that still continues to be done, especially in the village Plana District District Banyumas. Where in this donation tradition has a standard value for donated goods, the value should be measured against the goods must have a clear agreement and the time for the acquisition of goods must also be clear in accordance with the agreement, it serves to avoid any conflict of disputes between citizens, because it is not appropriate with what to expect.
1743420524B1J012201Kualitas Air dan Pertumbuhan Ikan Nilem (Osteochilus vittatus) pada Sistem Resirkulasi dengan Media Filtrasi BerbedaIkan nilem (Osteochilus vittatus) merupakan komoditas air tawar yang cukup populer. Budidaya ikan nilem secara intensif sering terkendala penurunan kualitas air. Sistem resirkulasi akuakultur diketahui dapat menanggulangi masalah tersebut. Zeolit dan kangkung air (Ipomoea aquatica) banyak digunakan dalam upaya perbaikan kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air dan pertumbuhan ikan nilem serta hubungan antara kedua variabel tersebut pada dua sistem resirkulasi yang berbeda (sistem resirkulasi filter zeolit dan sistem resirkulasi filter kangkung air) serta menganalisis perbedaan kualitas air dan pertumbuhan ikan nilem pada ke dua sistem resirkulasi tersebut. Metode yang digunakan adalah eksperimental RAL dengan tiga kali ulangan. Ikan nilem dipelihara pada sistem resirkulasi dengan padat tebar 100 individu selama 60 hari. Pengukuran kualitas air dan pertumbuhan ikan nilem dilakukan pada hari ke-0, 30, dan 60. Parameter yang diukur yaitu suhu air, TSS, DO, CO2, pH, NH3, dan berat ikan nilem. Analisis data menggunakan metode deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa kualitas air dan pertumbuhan ikan nilem pada sistem resirkulasi dengan filter zeolite dan sistem resirkulasi dengan filter kangkung air cenderung sama secara umum. Kualitas air pada ke dua sistem resirkulasi masih cukup untuk pertumbuhan ikan nilem.Nilem (Osteochilus vittatus) is a popular freshwater commodity. Intensive production of nilem is often limited by water quality degradation. Recirculating aquaculture system is known to have advantage over this problem. Zeolites and water spinach (Ipomoea aquatica) are widely used in water remediation effort. This research aimed to find out water quality and nilems’ growth in two distinct recirculating system (zeolite filter based recirculating system; water spinach based recirculating system) as well as the relation between these variables. Furthermore, the difference in water quality and nilem’s growth between the two recirculating system was also evaluated. The method used was a completely randomized experimental design with three replication. Nilems were reared in recirculating system with a density of 100 individuals for 60 days. Measurement of water quality and nilem’s growth was conducted on day 0, 30, and 60. The measured parameters included water temperature, TSS, DO, CO2, pH, NH3 and nilem’s weight. Analysis of data in was completely done with descriptive method. The result showed that water quality and nilem’s growth in recirculating system using zeolite filter and in recirculating system using water spinach filter was similar in general. Water quality in both recirculating system was sufficient to promote nilem’s growth.
1743520360G1B013073Kesiagaan Manajemen Pelayanan Rawat Inap Pasien DBD dalam Penanggulangan KLB DBD di Puskesmas Jatilawang Kabupaten BanyumasLatar Belakang : Wilayah kerja Puskesmas Jatilawang merupakan kecamatan dengan jumlah kasus DBD tertinggi di antara kecamatan dengan Puskesmas rawat inap di Kabupaten Banyumas sejak Januari hingga Oktober 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesiagaan manajemen pelayanan rawat inap pasien DBD dalam Penanggulangan KLB DBD di Puskesmas Jatilawang Kabupaten Banyumas.

Metode : Jenis penelitian adalah kualitatif dengan desain studi kasus, penentuan informan dilakukan secara purposive sampling sebanyak 11 orang. Pengolahan dan analisis data menggunakan content analysis.

Hasil Penelitian : Puskesmas Jatilawang belum dapat mewujudkan kesiagaan manajemen pelayanan rawat inap pasien DBD dalam penanggulangan KLB DBD dikarenakan sumber daya yang belum memadai, terkendalanya pemenuhan kebutuhan oleh alur birokrasi, serta penatalaksanaan dan capaian pelayanan yang belum optimal. Pengorganisasian kegiatan penyiagaan pelayanan rawat inap antar pihak yang terlibat belum sinergi. Meski penatalaksanaan pasien dan pemanfaatan dana berjalan sesuai ketentuan yang berlaku, pembinaan dan pengawasan oleh DKK berjalan lancar, namun koordinasi antar pihak dalam pelaporan KDRS belum optimal, komunikasi dalam proses pengadaan sumber daya kurang efektif, evaluasi dan ketentuan dalam perhitungan pengadaan kebutuhan sumber daya belum menyasar ke semua aspek. Dukungan lembaga terkait belum adekuat. Tim penanggulangan belum tertata, kerjasama jejaring dan lintas sektor belum menggambarkan keluasan pihak yang terlibat.

Kesimpulan : Puskesmas Jatilawang belum dapat mewujudkan kesiagaan manajemen pelayanan rawat inap pasien DBD dalam penanggulangan KLB DBD.
Background : The working area of Jatilawang Primary Health Care (PHC) is the sub district with the highest number of DHF cases among inpatient PHCs in other sub-districts in Banyumas Regency since January to October 2016. In serving the inpatient service of DHF patients, several obstacles are still experienced by the PHC. This study aims to identify the inpatient services management preparedness of DHF patients in handling the outbreak of DHF at Primary Health Care of Jatilawang in Banyumas Regency.

Methods : This study used qualitative method with case study design. The 11 informants were determined by using purposive sampling. The tabulation and analysis data in this study used content analysis.

Results : Jatilawang PHC has not been able to actualize the inpatient services management preparedness of DHF patients in handling the DHF outbreak due to insufficient resources, constrained fulfillment of needs by bureaucratic flow, patients management and service achievements that have not been optimal. Activities organization of inpatient services between parties involved is not yet synergy. Although the management of the patient and the use of funds work in accordance with the current applicable regulations, the development and supervision by the regency health office work in a good manner, but coordination between parties in KDRS reporting is not optimal, communication in resource procurement process is less effective, evaluation has not been targeted to all aspects, there is a need for review of the provisions in the calculation of the procurement of resources needs. The support of related institutions to improve preparedness of inpatient services of DHF patients in handling the DHF outbreaks in PHC is inadequate. There is a need for expansion of networking and cross-sector cooperation and also correction of DHF outbreak prevention team.

Conclusion : Jatilawang PHC has not been able to actualize the inpatient services management preparedness of DHF patients in handling the DHF outbreak.
1743620525F1J013036Representasi Fenomena Ojoman pada Tokoh Kuranosuke Koibuchi
dalam Anime Princess Jellyfish Karya Akiko Higashimura
Penelitian ini berjudul Representasi Fenomena Ojoman pada Tokoh Kuranosuke Koibuchi dalam Anime Princess Jellyfish Karya Akiko Higashimura. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena ojoman pada tokoh Kuranosuke Koibuchi dengan teori representasi dan semiotika Pierce. Data yang digunakan berupa dialog yang didukung oleh screen shoot adegan dalam anime Princess Jellyfish. Fokus penelitian ini adalah representasi ojoman pada tokoh Kuranosuke Koibuchi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik simak dan catat. Validasi data diperoleh melalui teknik triangulasi, yaitu pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan pengamat lain dan penutur asli. Teknik analisis data menggunakan teknik deskriptif analisis dengan cara menganalisis karakter ojoman, diikuti dengan deskripsi. Analisis dilakukan terhadap 36 data berupa dialog dan screenshoot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tokoh Kuranosuke Koibuchi memiliki kecenderungan karakter ojoman hanya pada penampilan dan agak pasif terhadap wanita yang disukai. Dapat disimpulkan bahwa Kuranosuke Koibuchi seorang laki-laki yang sangat menyukai fashion sehingga sangat memperhatikan penampilannya dan juga pasif terhadap wanita yang disukai tetapi masih memiliki jati diri sebagai laki-laki. This research is entitled Ojoman Phenomena Representation of Kuranosuke Koibuchi character on Anime Princess Jellyfish by Akiko Higashimura. This research was intended to describe ojoman phenomena of Kuranosuke Koibuchi character by using theory representation and Pierce’s Semiotic Theory. The data that were used were the dialogue which was supported by scene screen shoot on Anime Princess Jellyfish. The focus of this research was ojoman representation of Kuranosuke Koibuchi character. The data gathering technique was the scrutinizing technique and note taking technique. The data validity was gathered by triangulation technique which was examining the data validity by making use the other observers and original speakers. The data analysis technique was descriptive analysis technique by analyzing the ojoman character, and followed by the description. The analysis was done toward 36 data which was in form of dialogue and screenshot. The results of this research show that Kuranosuke Koibuchi character has a tendency of ojoman character only on appearance and being passive toward a woman that he loves. It can be conclude that Kuranosuke Koibuchi is a man that loves fashion so much. Therefore, he cares with the appearance. Then, he is also passive toward a woman that he loves but he has an identity as a man.
1743720526B1J013067INVENTARISASI JAMUR KOPROFIL DI KABUPATEN BREBES JAWA TENGAH
Jamur koprofil merupakan jamur yang bersifat lignoselulosik dan dekomposer kotoran hewan. Jamur koprofil Basidiomycota dapat dijumpai dengan mudah pada kotoran hewan pemakan rumput, padang rumput dan tanah yang terinvestasi lapisan seresah. Jamur koprofil memiliki berbagai manfaat di antaranya sebagai pengurai sisa nutrien di lingkungan, penghasil antibiotik dan dapat dimanfaatkan dalam bidang kesehatan yang berkaitan dengan sistem syaraf. Beberapa jamur koprofil memiliki efek halusinasi karena mengandung senyawa psikotropika.
Informasi mengenai jamur koprofil di Indonesia masih sedikit, baik dari keragaman jenis, sebaran, dan kedudukannya dalam taksonomi. Indonesia memiliki iklim tropis dan musim penghujan yang cocok sebagai habitat jamur koprofil, jamur tersebut diketahui memiliki sebaran yang tinggi. Kabupaten Brebes merupakan wilayah yang sangat potensial sebagai habitat jamur koprofil karena banyak terdapat peternakan sapi yang kotorannya merupakan tempat tumbuh dari jamur tersebut. Berdasarkan manfaat dan efek yang ditimbulkan dari jamur koprofil maka dari itu perlu diketahui keberadaannya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui genera jamur koprofil di Kabupaten Brebes Jawa Tengah dan genus yang mendominasi di daerah tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai dengan teknik pengambilan sampel secara purposive random sampling dan dianalisis secara deskriptif. Jamur yang telah didapat diamati struktur morfologinya, kemudian dideterminasi dengan gambar pada buku identifikasi jamur makroskopik Psilocybin Mushrooms of the World, dan menggunakan software MycoKey4.1, serta dicari indeks dominansinya. Berdasarkan hasil inventarisasi dapat diperoleh 5 genera yang berbeda dari hasil analisis secara deskriptif. Genera jamur koprofil tersebut terdiri atas, Coprinopsis, Stropharia, Panaeolus, Conocybe , dan Bolbitius. Indeks dominansi jamur koprofil di Kabupaten Brebes Jawa Tengah sebesar 0,49 dan Coprinopsis merupakan genera yang mendominasi, dengan kontribusi dominansi 61,61 %.
Coprophilous fungi is a lignocellulosic fungi and decomposer of animal waste. Coprophilous fungi of Basidiomycota can be found easily in the dung of grass-fed animals, grassland and land that is invested by litter layer. Coprophilous fungi has various benefits such as decomposer of residual nutrients in the environment, antibiotic producer and can be utilized in the field of health which is associated to the nervous system. Some coprophilous fungi have hallucinatory effects because they contain psychotropic compounds.
Information on coprophilous fungi in Indonesia is still small, both from the species diversity, distribution, and also the position in taxonomy. Indonesia has a tropical climate and a suitable rainy season as a habit of coprophilous fungi, This fungi is known to have a high number of distribution. Brebes Regency is a very potential area as the habitat of coprophilous fungi because there are many cattle farm which the dung is the place where the fungi grows. Based on the benefits and effects of coprophilous fungi, therefore it is necessary to know its existency.
This study aims to determine the genera of coprophilous fungi in Brebes regency of Central Java and the genus that dominates the area. The research method used is survey method with purposive random sampling technique and analyzed descriptively. The fungi that the morphological structure has been observed, then determined based on the image on the identification book of macroscopic mushroom Psilocybin Mushrooms of the World, and using the MycoKey4.1 software, and index of dominance is sought. Based on the results of the inventory, it can be obtained 5 different genera from the results of descriptive analysis. Genera of coprophilous fungi consists of, Coprinopsis, Stropharia, Panaeolus, Conocybe, and Bolbitius. The dominant index of coprophilous fungi obtained in Brebes regency of Central Java is 0.49, which Coprinopsis is the dominant genera with a contribution of 61,61% dominance.
1743820528F1J013001Analisis Makna Interpretatif Pada Lirik Lagu Tokyo
Karya Yui
Penelitian ini berjudul “ Analisis Makna Interpretatif pada Lirik Lagu Tokyo Karya Yui”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan makna interpretatif yang tercermin dalam lagu Tokyo karya Yui dengan menggunakan teori semantis. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analisis yang ditunjang dengan teknik padan. Pengumpulan data menggunakan teknik simak dengan cara menyimak lagu dan mencatatnya, memahami lirik lagu Tokyo dan mengklasifikasikan data-data yang telah didapatkan berdasarkan rumusan masalah. Keabsahan data diperoleh dengan triangulasi data dan diperkuat dengan validasi oleh seorang native speaker. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Lagu Tokyo bercerita tentang seseorang yang sedang mengalami depresi dalam menjalani kesulitan hidup pada saat mewujudkan impian. (2) Nilai positif yang terkandung dalam lagu Tokyo adalah sikap semangat , sabar, serta ikhlas sedangkan nilai negatif yaitu sikap ragu, bimbang, dan tidak percaya diri. Oleh karena itu kesimpulan penelitian ini adalah jangan mudah menyerah untuk mencapai mimpi. This research entitled "Analysis of Interpretative Meaning on Song Lyrics of Tokyo by Yui Yoshioka". The purpose of this study is to describe the interpretive meanings reflected in Yui's Tokyo song using semantic theory. The method used is descriptive method of analysis that is supported by the technique of padan. The data collection is using observation technique by listening to the song and recording it, understanding Yui’s Tokyo song and classifying the data that has been obtained. The validity of data is obtained by triangulation of data and amplified by validation from a native speaker. The results of the study are as follows: (1) This song tells about a person who is experiencing depression in living difficulties while realizing dreams. (2) The Positive value contained in this song are the attitude of spirit, patience, and sincerity while the negative value of the attitude of doubt, undecided, and not confident. Finally the conclusion of this research is do not give up easily for reaching the dream.
1743920529B1J013213Kemampuan Jamur Trichoderma harzianum Dan Penicillium sp. Dalam Mengendalikan Penyakit Rebah Kecambah Pada Tanaman Terung (Solanum melongena L.)Terung (Solanum melongena L.) merupakan salah satu komoditas sayuran penting sebagai bahan pangan di Indonesia. Salah satu kendala pada budidaya tanaman terung adalah adanya penyakit rebah kecambah. Pengendalian menggunakan jamur antagonis merupakan cara alternatif karena metode ini aman bagi petani, konsumen, dan lingkungan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh jamur T. harzianum dan Penicillium sp. dengan dosis yang berbeda terhadap munculnya penyakit rebah kecambah pada tanaman terung, serta dosis T. harzianum dan Penicillium sp. yang paling baik dalam menghambat rebah kecambah pada tanaman terung.
Metode yang digunakan yaitu metode eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang dicoba terdiri dari kontrol, dosis Trichoderma harzianum (30 g/polibag, 45 g/polibag, 60 g/polibag) dan Penicillium sp. (30 g/polibag, 45 g/polibag, 60 g/polibag) yang diinokulasikan seminggu setelah pemberian patogen. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali dan setiap ulangan adalah delapan tanaman. Parameter yang diamati meliputi persentase benih yang sudah berkecambah tetapi belum muncul ke permukaan tanah (pre-emergence damping-off), persentase benih yang sudah berkecambah dan sudah muncul ke permukaan tanah (post-emergence damping-off), dan persentase keparahan penyakit, sedangkan parameter pendukungnya meliputi persentase daya kecambah benih, temperatur dan kelembapan green house . Data penelitian yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan Analisis Ragam atau uji F pada tingkat kesalahan 5% dan 1%. Perlakuan yang dicoba berpengaruh sangat nyata, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan tingkat kesalahan 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis T. harzianum dan Penicillium sp. yang diberikan berpengaruh dalam menekan penyakit rebah kecambah yang disebabkan oleh patogen F. oxysporum pada tanaman terung, Dosis T. harzianum 60 g/polibag dan dosis Penicillium sp. 30 g/polibag merupakan dosis yang paling baik dalam menekan penyakit rebah kecambah yang disebabkan oleh F. oxysporum pada tanaman terung.

Eggplant (Solanum melongena L.) is one of the important vegetable commodities as food in Indonesia. One of the obstacles in the cultivation of eggplant crops is the presence of damping-off disease. Control using an antagonist fungus is an alternative way because it is safe for farmer, consumers and the environment. This study is written with the purpose of know the influence of fungi T . harzianum and Penicillium sp . with different doses towards the emerging damping-off disease in eggplant plants, and to investigate the influence dosage and time inoculation T . harzianum and Penicillium sp . the best inhibit of emerging damping-off .
The experimental method is using Completely Randomized Design (RAL). The treatment was consisted of control, 4 doses of T. harzianum (30 g / polybag, 45 g / polybag, 60 g / polybag) and Penicillium sp. (30 g / polybag, 45 g / polybag, 60 g / polybag) were inoculated a week after the pathogen. Each treatment was performed 4 (four) replicates and each replication was eight plants. The parameters observation was includ percentage of pre-emergent damping-off seeds, percentage of post-emergence damping-off seeds, percentage of disease severity, and percentage of disease severity, while Its supporting parameters include percentage of seed seedling power, temperature and humidity of green house. The research data analyzed using Variety Analysis or F test at the error rate of 5% and 1%. The treatment is significant or very real, then continued with the test of the Smallest Real Difference (BNT) with error rate of 5%.
The results showed that the doses of T. harzianum and Penicillium sp. which is given an effect in suppressing damping-off disease caused by pathogen F. oxysporum in eggplant, dose of T. harzianum 60 g / polybag and dose of Penicillium sp. 30 g / polybag is the best dose in suppressing damping-off disease caused by F. oxysporum in eggplant.



1744020530F1B013014KAPASITAS PEMERINTAH DESA DALAM PENGELOLAAN DANA DESA DI DESA MELUNG KECAMATAN KEDUNGBANTENG KABUTAN BANYUMASPermasalahan lemahnya kapasitas pemerintah desa dalam penyelenggaraan pemerintahan desa telah menjadi masalah utama dalam pelaksanaan desentralisasi desa. Permasalahan ini menjadi sorotan, sebab sasaran pembangunan pada masa Pemerintahan Presiden Joko Widodo adalah daerah-daerah terpinggir atau desa yang jarang tersentuh pembangunan. Melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa setiap desa akan menerima dana desa. Pemberian dana desa kepada desa idealnya harus dibarengi dengan kemampuan Pemerintah Desa, akan tetapi tidak semua pemerintah desa memiliki kemampuan tersebut. Tahun 2016 Desa Melung menerima dana desa sebesar Rp 643.031.664. Sementara itu, sumber daya manusia yang dimiliki untuk mengelola dana desa adalah Pemerintah Desa. Melihat betapa pentingnya peranan Pemerintah Desa seperti yang disebutkan dalam undang-undang, maka keberadaan Pemerintah Desa diperlukan untuk dapat mengelola dana desa tersebut. Penelitian ini menggunakan elaborasi teori dan konsep kapasitas organisasi menurut Horton dkk (2003) dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa. Mengacu pada unsur-unsur kapasitas organisasi yang diperkenalkan Horton dkk (2003), penelitian ini berfokus kepada kapasitas pemerintah desa dalam pengelolaan dana desa di Desa Melung Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dan teknik pemilihan informannya adalah key informant dan snowball. Kesimpulan penelitian ini adalah dari ke tujuh sub aspek kapasitas organisasi sebagai mana yang disebutkan Horton dkk (2003), masih terdapat tiga sub aspek yang belum terpenuhi secara maksimal. Tiga sub aspek tersebut adalah sumber daya manusia, teknologi, dan manajemen program dan proses.The weak capacity of Village Government in implementing village governance has become a major problem in the implementation of village decentralization policies. This issue is becoming a concern, because the development goals during the reign of President Joko Widodo is marginalized areas or villages, which are rarely touched by development. Through Undang-Undang No. 6 of 2014 about Village showed up, said each village will receive multiplied village fund, well above the amount already available in the village budget. However, village funding to villages should be followed by Village Government capacity. Melung Village receives village fund Rp 643.031.664 in 2016. Meanwhile, the human resources of Melung Village which organize this funds is Village Government. Seeing the smooth role of Village Government as it says in the law, Village Government is required to be able to organize village fund. This research used the elaboration theory and concept of organizational capacity according to Horton et al (2003) and Peraturan Menteri No. 113 of 2014 about Village Finance Management. According to Horton et al (2003), this research focuses on Village Government Capacity of Village Fund Management in Melung Village, Kedungbanteng Sub-district, Banyumas Regency. The research method is qualitative descriptive, and the technique of selecting the informant is purposive key informant and snowball. The conclusions of this research is, from seven aspects of organizational capacity as stated by Horton et al (2003), there are still three sub aspects that have not been fulfilled maximally in village fund management capacity in Melung Village, Kedungbanteng District, Banyumas Regency. Those sub aspects are human resource, technology, and management of programs and processes.