Artikelilmiahs

Menampilkan 17.481-17.500 dari 50.040 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1748120365C1L013051THE INFLUENCE OF SALES GROWTH, SIZE, FINANCIAL DISTRESS AND EFFECTIVE USE OF ASSET ON VOLUNTARY AUDITOR SWITCHING
(Empirical Study on Listed Manufacturing Companies at Indonesia Stock Exchange 2010-2014)
Setiap pergantian auditor di luar regulasi yang dilakukan oleh perusahaan, tidak pernah melampirkan alasan sebenernya mengapa perusahaan melakukan pergantian auditor secara sukarela. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh beberapa factor seperti pertumbuhan, ukuran, financial distress dan penggunaan asset secara efektif terhadap pergantian auditor di luar regulasi. Penelitian ini dilakukan dengan analisis data sekunder.
Teknik analisis menggunakan regresi logistik biner untuk menjelaskan hubungan antara variabel respon yang berupa data dikotomik/biner dengan variabel bebas yang berupa data berskala interval dan atau kategorik. Regresi logistik biner digunakan karena variabel dependen merupakan variable dikotomi. Penelitian ini menggunakan dua teknik sampel. Total sampel ialah 37 perusahaan. Melalui metode purposive sampling untuk 18 perusahaan yang mempunyai kebiasaan untuk melakukan pergantian auditor secara sukarela dan 19 perusahaan yang tidak melakukan pergantian auditor secara sukarela dengan menggunakan convenience sampling. Hasil tes menunjukkan bahwa ukuran, financial distress dan penggunaan asset secara efektif mendorong perusahaan untuk melakukan pergantian auditor di luar regulasi, sedangkan pertumbuhan tidak berdampak signifikan terhadap pergantian auditor di luar regulasi.
Every voluntary auditor switching conducted by the company is never told the real reason why. This research therefore, aim to analyze the influences of factors, that are sales growth, size, financial distress and effective use of asset on voluntary auditor switching. This research is conducted with secondary data analysis.
This study examines the effect of sales growth, size, financial distress and effective use of asset on voluntary auditor switching. The analytical technique used is binary logistic regression to explain the relationship between dependent variables in the form of dichotomous variable and the independent variable in the form of interval and or categorical scale. Binary logistic regression is used because the dependent variable is a dichotomous categorical. For the sample, this research using double sampling technique. The number of sample is 37 companies. Purposive sampling method is used to obtain for the 18 companies that have a habit to perform voluntary auditor switching. The other 19 companies which do not perform voluntary auditor switching are obtained using convenience sampling. The test results showed that size, financial distress and effective use of asset encourage company to perform voluntary auditor switching, while sales growth has no significant impact on voluntary auditor switching.
1748220554G1B013089ANALISIS PROSES IMPLEMENTASI KEBIJAKAN DISTRIBUSI TENAGA KESEHATAN DOKTER PUSKESMAS DI KABUPATEN BEKASI TAHUN 2017 Latar Belakang : Permasalahan yang paling sering dihadapi Puskesmas di Indonesia terkait manajemen SDM adalah ketidakmerataan distribusi dokter puskesmas. Salah satu Kabupaten yang mengalami masalah ketidakmerataan pendistribusian dokter adalah Kabupaten Bekasi. Pemerintah Kabupaten Bekasi mengimplementasikan beberapa kebijakan terkait distribusi dokter puskesmas diantaranya yaitu Peraturan Bupati No 40 Tahun 2009 tentang tata kerja Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 75 Tahun 2014 Tentang Puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk Mengeksplorasi proses implementasi kebijakan distribusi tenaga kesehatan dokter Puskesmas di Kabupaten Bekasi.

Metode Penelitian : Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus, penentuan informan dilakukan secara pusposive sampling sebanyak sepuluh orang. Pengolahan dan analisis data menggunakan content analysis.

Hasil Penelitian : Peraturan Bupati No 40 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 75 Tahun 2014 belum diimplementasi dengan optimal oleh instansi pelaksana kebijakan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kinerja dan dampak belum optimal pada proses implementasi kebijakan. Faktor yang dapat memengaruhi adalah kondisi lingkungan yang kurang kondusif. Selain itu, walaupun faktor lain seperti sumberdaya organisasi sudah tersedia dengan baik dan instansi pelaksana kebijakan memiliki beberapa alternatif pemecahan masalah ketidakmerataan distribusi dokter puskesmas, namun hubungan antar organisasi serta karakteristik dan kapabilitas instansi pelaksana masih perlu ditingkatkan agar proses implementasi dapat optimal dan mencapai sasaran.
Kesimpulan : Kebijakan distribusi dokter puskesmas di Kabupaten Bekasi tahun 2017 belum diimplementasi dengan optimal oleh instansi pelaksana kebijakan. Faktor yang dapat memengaruhi adalah kondisi lingkungan yang kurang kondusif.
Background : One of the most human resources management problem in community health centers (CHC) in Indonesia is the inequality of the distribution of general practitioners at CHCs. Bekasi Regency is one of the regencies in Indonesia that has been facing inequality of general practitioners at CHCs. The Government of Bekasi Regency has been implementing some policies related to distribution of general practitioners of CHC, two of the policies are Regent Regulation No. 40/2009 about the work procedure of the Local Employment Agency in Bekasi Regency and regulation of The Health Minister No. 75/2014 about Community Health Center. The research aims to explore the policy implementation process of general practitioners distribution at Community Health Centers in Bekasi Regency.

Research Method : The study used qualitative method with case study design. The 10 informants were determined by using purposive sampling. The tabulation and analysis data in this study used content analysis.

Results : Regent Regulation No. 40/2009 and regulation of The Health Minister No. 75/2014 have not been optimally implemented yet by the implementers. The study results that the performance and impact of the regulations implementation are not optimal. The factor that might affecting the issue is the less conducive of environment condition in the implementation process. Moreover, although the other factors such as the organizational resources are available and the implementers have some alternative solutions toward the inequality of the distribution of general practitioners at CHCs. Yet the relationship between organization and the characteristics and capabilities of the implementers still need to get improved in order to reach a successful implementation process on the distribution of general practitioners at CHCs.
Conclusion : The policies related to distribution of general practitioners of CHC in Bekasi Regency in 2017 have not been optimally implemented yet. The factor that might affecting the issue is the less conducive of environment condition in the implementation process.
1748320555G1B013040PERBANDINGAN EFEKTIFITAS TANAMAN ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes) DAN TANAMAN GENJER (Limnocharis flava) DALAM MENURUNKAN KADAR AMONIA (NH3) PADA LIMBAH CAIR TAHULatar Belakang : Kadar amonia yang melebihi ambang batas dapat menimbulkan
dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Limbah cair tahu memiliki
kandungan amonia yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
perbandingan efektifitas antara tanaman eceng gondok dan genjer dalam menurunkan
kadar amonia pada limbah cair tahu.
Metodologi : Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu
dengan desain nonequivalent control group design. Rancangan penelitian
menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil RAL diperoleh sampel
sebanyak 54 sampel. Limbah cair tahu ditanamani eceng gondok dan genjer dengan
lama kontak 2,4, dan 6 hari. Analisis statistik menggunakan uji Kolmogorof smirnof
dengan tingkat signifikan 5%. Untuk mengetahui perlakuan mana yang mempunyai
perbedaan dilakukan analisis Post hoc, dengan uji Anova One Way.
Hasil penelitian : Penurunan rata-rata kadar amonia sesudah perlakuan dengan
tanaman genjer selama 2, 4, 6 hari yaitu 58.12%, 58.79%, dan 38.07%. Sedangkan
pada tanaman eceng gondok yaitu 56.93%, 53.76%, dan -7.72%.
Kesimpulan : Tanaman genjer lebih efektif dalam menurunkan kadar amonia pada
limbah cair tahu dibandingkan dengan tanaman eceng gondok dengan tingkat
efektifitas rata-rata tertinggi pada hari ke 4 yaitu 58.79%.
Background : Ammonia level that exeed the threshold may cause negative impact to the envirotment and human health. Waterwaste of tofu have high ammonia content. The purpose of this study is to comparison of the effectiveness between water hyacinth plants and velvetleaf plants in reducing levels of ammonia in waterwaste of tofu.
Methodology : This study use a quasi-experimental research design with nonequivalent control group design. Completely Randomized Design (CRD) is used as the study design. The results of CRD obtanined 54 samples. Tofu liquid waste planted with water hyacinth plants and velvetleaf plants with contact 2,4, and 6 days. Kolmogorov smirnof test with significant level of 5% is used as statistical analysis. Post hoc analysis with one way anova test is used to discover the difference of each treatments.
Result : The decrease in average levels of ammonia after treatment with velvetleaf plants with contact 2,4 and 6 days are 58.12%, 58.79%, and 38.07%. while with water hyacinth plants are 56.93%, 53.76%, and -7.72%.
Conclusion : Velvetleaf plants is more effective than water hyacinth plants in reducing levels of ammonia in waterwaste of tofu with a level of effectiveness of the high average on days 4 is 58.79%.
1748420556G1B013015PERILAKU PEMULIHAN PASIEN PENYALAHGUNAAN NAPZA PADA
MASA REHABILITASI
Latar Belakang: Rehabilitasi merupakan upaya pengobatan dan pemulihan bagi pecandu untuk membebaskan diri dari ketergantungan baik secara medis maupun secara sosial. Pada proses rehabilitasi seorang pecandu NAPZA akan melewati beberapa tahapan perubahan perilaku. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan perilaku pasien penyalahgunaan NAPZA pada masa rehabilitasi.
Metodologi: Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian berjumlah 10 orang yang terdiri dari 5 informan utama (pasien yang menjalani rehabilitasi), 5 informan pendukung yaitu 4 orang keluarga pasien dan 1 orang ketua Perkumpulan “X”. Triangulasi yang digunakan adalah triangulasi sumber terdiri dari keluarga pasien dan ketua Perkumpulan “X”. Analisis data yang digunakan menurut Miles and Huberman.
Hasil Penelitian: Informan mengkonsumsi NAPZA sejak tamat SMA dan salah satu informan mengkonsumsi sejak kelas 2 SMP. Waktu penggunaan NAPZA tiap informan berbeda. Faktor sosial yang menyebabkan penggunaan NAPZA yaitu perilaku keluarga yang tidak perhatian dan tekanan teman sebaya (pergaulan bebas, ikut – ikutan teman mencoba, dipengaruhi teman) sedangkan faktor sosial dukungan keluarga dalam rehabilitasi yaitu terdiri dari melakukan konsultasi anatar pasien dan keluarga dengan ketua Perkumpulan “X”, memberi nasihat, support, menemani rehabilitasi dan membantu biaya. Faktor hambatan terdiri dari faktor keuangan dan jarak tempat rehabilitasi yang jauh. Dalam perubahan perilaku pada informan didapatkan pola perubahan perilaku yang terdiri dari : tahap kontemplasi, tahap persiapan dan tahap aksi.
Kesimpulan : Pada masa rehabilitasi seorang pasien NAPZA akan melewati beberapa tahapan perubahan perilaku. Setiap pasien NAPZA memiliki faktor pendorong dan penghambat yang dirasakan pada masa rehabilitasi.
Background: Rehabilitation is an attempt of treatment and recovery for addicts to free themselves from dependence both medically and socially. In the process of rehabilitation of drug addicts will pass through several stages of behavior change. The purpose of this study to describe the behavior of cessation of patient during the rehabilitation of drug abuse.
Methodology: It used qualitative study it uses descriptive approach .The subject of study were 10 people consisting of 5 main informants ( patients who underwent) rehabilitation , 5 informants advocates namely 4 the family man patients and 1 the chairman of the “X” .Triangulation used is triangulation source of families and chairman of the “X” .Analysis of data used by miles and huberman.
Results: The informant consumed the drug since graduating from high school and one of the informants consumed since the second grade of junior high school. Drug usage time per informant is different. Social factors that cause the use of drugs are the family behavior that is not attention and peer pressure (promiscuity, follow-friends try, influenced friends) while the social factor of family support in rehabilitation that consists of consulting the patient and family with the chairman of the Association "X ", Giving advice, support, accompanying rehabilitation and helping with costs. The obstacle factor consists of financial factors and distances where the rehabilitation is far away. In behavioral change in informant, there are behavior change pattern consisting of: contemplation stage, preparation phase and action stage.
Conclusion: In a patient drug rehabilitation period will pass through several stages of behavior change. Each patient has a drug driving and inhibiting factors are felt in the rehabilitation period.
1748520173F1C013071Konstruksi Makna Korban Bullying di Jejaring Sosial Ask.fmFakta yang harus diketahui adalah situs internet juga jejaring sosial, kerap menjadi pelarian seseorang (pengguna) dari dunia nyata untuk mengekspresikan perasaan. Keberadaan Ask.fm membuat pembatas keingintahuan para pengguna tentang seseorang yang selama ini terbatas menjadi terbuka lebar. Karena hal itulah banyak pengguna Ask.fm yang dengan sengaja membuat akun hanya untuk melalukan cyberbullying. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna bullying di jejaring sosial Ask.fm kepada korban yang dalam hal ini adalah mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Melalui wawancara mendalam yang peneliti lakukan sebelumnya, dapat memaparkan pemaknaan akan pengalaman korban bully yang kemudian dikaitkan dengan teori Needs Hierarchy Theory dari Abraham Maslow, yaitu kebutuhan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa enam orang informan memaknai tindak bully yang mereka terima di jejaring sosial Ask.fm tidak sesuai dengan kebutuhan yang dimaksud, malah justru memunculkan adanya reaksi fisik berupa stres dalam tingkatan yang ringan.The fact must be known is internet sites including social media usually becomes a media to escape from real word and to express a feeling toward it. The existence of Ask.fm made a gate among of users' curiosity about someone who usually restricted becomes wide-open. Because of it, most of Ask.fm's users purposely made an account merely to do a cyber bullying. This study aims at knowing the meaning of bullying in social media Ask.fm concerning the victims who in this context are the student of Jenderal Soedirman University.This research uses qualitative method through an exhaustive interview which has done by the researcher before. These interviews could explain the meaning context about the victim's experience also will be applied into Need Hierarchy by Abraham Maslow namely certain needs of achievement and some needs of precedence over others. The result showed that there are six informants interpret the meaning of cyber bullying which they received in social media Ask.fm are not suitable with the need otherwise it caused a physical reaction, such as stress in low degree.
1748620557H1G013018Pengaruh Endosulfan (Organoklorin) Terhadap Kinerja Reproduksi Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) BetinaEndosulfan merupakan organoklorin insektisida, bersifat toksik dan persisten terhadap organisme perairan termasuk ikan, salah satunya terhadap proses reproduksi ikan nilem (Osteochilus hasselti) betina. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh endosulfan terhadap proporsi tahapan perkembangan oosit dan indeks gonad somatik (IGS) ikan nilem (Osteochilus hasselti) betina. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eskperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) menggunakan 4 konsentrasi perlakuan endosulfan yaitu 0 ppb, 0,88 ppb, 1,76 ppb dan 2,64 ppb selama 4 minggu pemaparan. Data yang diperoleh di analisis dengan perhitungan proporsi tahapan perkembangan oosit dan perhitungan indeks gonad somatik (IGS) diuji menggunakan One Way Anova. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa endosulfan tidak menghambat perkembangan tahapan oosit dan tidak menurunkan indeks gonad somatik (IGS) pada ikan nilem (Osteochilus hasselti) betina.Endosulfan is an insecticidal organochlorine, toxic and persistent to aquatic organisms including fish, one of them to the reproduction process of female nilem fish (Osteochilus hasselti). This research aims to determine the effect of endosulfan on the proportion stages of oocyte development and index gonad somatic (IGS) in female nilem (Osteochilus hasselti). The method used in this research was an experimental method with complete randomized design (RAL) using 4 endosulfan treatment concentrations of 0 ppb, 0.88 ppb, 1.76 ppb and 2.64 ppb for 4 weeks of exposure.The data obtained in the analysis with the calculation of the proportion of stages of oocyte development and calculation of index gonad somatic (IGS) were tested using One Way Anova. The results obtained in this research showed that endosulfan did not inhibit the development of oocyte stages and did not decrease the index gonad somatic (IGS) in female nilem (Osteochilus hasselti).
1748721494G1F014030STUDI KARAKTERISASI FISIK PATI AMPAS TAHU SEBAGAI EKSIPIEN DALAM SEDIAAN FARMASILatar Belakang : Ampas tahu adalah limbah yang dihasilkan oleh industri pengolahan tahu yang mengandung karbohidrat tinggi sehingga berpotensi untuk diolah menjadi eksipien dalam sediaan farmasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik dari pati ampas tahu dan perbandingannya dengan pati lain dalam kompendia.
Metodologi : Pati ampas tahu dibuat dengan cara diisolasi menggunakan KOH 0,1% terlebih dahulu kemudian dilakukan proses pembuatan tepung pati ampas tahu. Langkah selanjutnya adalah proses karakterikasi sifat fisik yang meliputi uji penampilan fisik, morfologi partikel, distribusi ukuran partikel, higroskopisitas dan uji susut pengeringan. Hasil yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif yang kemudian dibandingkan dengan pati lainnya dalam kompendia.
Hasil Penelitian : Hasil karakterisasi fisik pati ampas tahu berupa serbuk yang berwarna putih kecoklatan (krem), memiliki bau yang khas pati ampas tahu, dan tidak memiliki rasa, memiliki morfologi dengan bentuk batang, permukaan tidak rata, dan tidak berpori, tergolong dalam serbuk setengah kasar, memiliki sifat higroskopis, dan memiliki nilai susut pengeringan 11,67%.
Kesimpulan : Pati ampas tahu dapat digunakan sebagai eksipien dalam sediaan farmasi ditinjau dari karakteristik fisiknya yang hampir sama dengan pati lainnya serta memenuhi persyaratan sebagai pati dalam kompedia.
Background : a tofu waste is a waste produced by tofu manufacturing industry that containing high-carbohydrate and potentially be processed into excipients in pharmaceutical preparations. The aim of this study is to know the physical characteristic of tofu waste starch and its comparison with other starchs in compendia.
Methods : tofu waste starch is made by isolating with 0,1% KOH, and then processed by making the starch. The next step is process of physical characteristic properties that include physical appearance test, particle morphology, particle size distribution, hygroscopicity and loss of drying test. The results obtained were analyzed descriptively later compared with other starch in the compendia.
Result : Physical characterization of tofu waste starch has white to brown (cream) powder, has a special flavour of starch, and has no taste, the morphology is stick shape, uneven surface, and not porous, rough, has a hygroscopic nature, and has a loss of drying value of 11.67%.
Conclusion : Tofu waste starch can be used as excipients in pharmaceutical preparations based on their physical characteristics that similar to other starch and eligible as starch in the compondia.
1748820700A1M013005PENGEMBANGAN LARU TANGKIS BENTUK CAIR BERBAHAN ARANG SEKAM DAN BEBERAPA JENIS DAUN TERHADAP
SIFAT SENSORI GULA KELAPA KRISTAL
Gula kelapa kristal merupakan hasil olahan nira berbentuk serbuk. Nira mengandung nutrisi yang tinggi sehingga mudah mengalami kerusakan oleh mikroba. Pencegahan yang dilakukan untuk menghambat kerusakan nira yaitu dengan penambahan pengawet (laru) pada nira. Penelitian ini mengembangkan laru tangkis bentuk cair sebagai formula dasar dengan mengganti kapur menggunakanarang sekam yang dikombinasikan dengan beberapa jenis daun. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kombinasi perlakuan terbaik antara formula dan konsentrasi laru alami bentuk cair berbahan arang sekam dan beberapa jenis daun berdasarkan sifat sensori gula kelapa kristal. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial. Faktor yang dicoba yaitu formula (A) yang terdiri dari formula dasar : daun slatri : daun jambu biji (80:10:10) (A1); formula dasar : daun sirih : daun jambu biji (80:10:10) (A2); formula dasar : daun slatri : daun sirih (90:5:5) (A3); formula dasar : daun slatri : daun jambu biji (90:5:5) (A4); formula dasar : daun sirih : daun jambu biji (90:5:5) (A5), dan konsentrasi (K) yang terdiri dari 0,5%; 1%; 1,5%. Variabel yang diamati yaitu variabel sensori meliputi warna, aroma, tekstur, tingkat kemanisan, dan kesukaan. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi perlakuan terbaik berdasarkan sifat sensori gula kelapa kristal adalah formula dasar: daun sirih: daun jambu biji dengan konsentrasi 1,5% (A5K3) yang memiliki warna cokelat (2,73); aroma khas (2,70); tekstur halus (2,93), rasa manis (3,03), dan disukai (2,87). Karakteristik kimia gula kelapa kristal tersebut yaitu pH nira 6,25; berat jenis nira 1,015; total padatan terlarut nira 13oBrix; kadar air 4,0%bb; kadar abu 1,56%bk; total padatan tidak terlarut 1,75%bk; sukrosa 63,34%bk; gula reduksi 11,93%bk.damaged by microbes. It can be prevented by the addition of natural preservation (laru). The development of ‘tangkis’ as a bassic formula that is by replacing the lime with charcoal husk combined with some leaf types. This study aims to determine the best treatment combination between formula and natural laru concentration of charcoal husk and leaf extract based on sensory characteristic of granulated coconut sugar. This study used Factorial Randomized Block Design. The experimental factors are formula (A) include basic formula : soulatri leaf : guava leave (80:10:10) (A1); basic formula : betle leaf : guava leaf (80:10:10) (A2); basic formula :soulatri leaf : betle leaf (90:5:5) (A3); basic formula : soulatri leaf : guava leaf (90:5:5) (A4); basic formula : betle leaf : guava leaf (90:5:5) (A5), and concentration (K) include 0.5%; 1%; 1.5%. The variables observed was sensory variables (color, smell, texture, sweetness level, and likes). The results showed that the best combination treatment of basic formula treatment: betel leaf: guava leaf with concentration of 1.5% (A5K3) is brown color (2.73); typical aroma (2.70); fine texture (2.93), sweet taste (3.03), and preferred (2.87). The chemical characteristics of the granulated coconut sugar are pH of sap 6.25; density of 1.015; total soluble solids of 13oBrix; water content 4.0%wb; ash content 1.56%db; total dissolved solids 1.75%db; sucrose of 63.34%db; sugar reduction of 11.93%db.
1748920708D1E013242PENGARUH KOMBINASI PROBIOTIK DAN VITAMIN C TERHADAP BOBOT DAN KETEBALAN KERABANG TELUR ITIK TEGAL Penelitian berjudul Pengaruh Kombinasi Probiotik dan Vitamin C terhadap Bobot dan Ketebalan Kerabang Telur Itik Tegal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap Pola Faktorial 2 x 2 . Materi yang digunakan dalam penelitian adalah 400 ekor itik Tegal yang diambil telurnya sebanyak 80 butir telur yang diperoleh dari 20 petak kandang. Tiap petak kandang terdapat 20 ekor itik Tegal umur 20 minggu (periode produksi). Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari : (1) pakan basal; (2) probiotik alami; (3) probiotik pabrikan (MEP+); (4) Vitamin C. Bahan pakan basal yang digunakan berupa dedak, nasi aking dan ikan segar. Kandungan nutrien dalam pakan basal yang diberikan pada ternak adalah sebagai berikut : protein kasar 12,0 %; energi metabolisme 2.400 kkal/kg; serat kasar 13,82 %; lemak kasar 8,2 %; kalsium 0,20 %; dan phosphor 1,00 %. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat probiotik alami antara lain Yakult 130 ml, ragi tape 50 g, gula merah 400 g, air kelapa 500 ml, dan air bersih 9000 ml. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa interaksi antara macam probiotik dengan dosis vitamin C berpengaruh tidak nyata (P > 0,05). Macam probiotik dan dosis vitamin C juga berpengaruh tidak nyata (P > 0,05) terhadap Bobot dan Ketebalan Kerabang Telur Itik Tegal. . Kesimpulan dari penelitian ini bahwa penambahan probiotik baik alami maupun pabrikan dan dosis Vitamin C dengan 600 mg / kg dalam pakan itik Tegal tidak meningkatkan bobot dan ketebalan kerabang telur Itik Tegal. The research entitled The Effect of Probiotics and Vitamin C combination on the Weight and Thickness of Eggshell of Tegal duck. The research method used the experimental method with Completely Random Design Factorial Pattern 2 x 2. The material used in this research was 400 Tegal ducks 80 eggs obtained from 20 plots of cages. Each cage contained 20 Tegal ducks at 20 weeks old (production period). The other materials consisted of: (1) basal feed; (2) natural probiotics; (3) commercial probiotics ; (4) Vitamin C. Basal feed comprised bran, rice aking and fresh fish. The nutrient content in the basal were diet: crude protein 12.0%; metabolic energy 2,400 kcal / kg; crude fiber 13.82%; 8.2% crude fat; calcium 0.20%; and phosphorus 1.00%. The ingredients used to make natural probiotics included Yakult 130 ml, yeast 50 g, brown sugar 400 g, 500 ml coconut water, and 9000 ml of fresh water. The equipment used was cage treatment as much as 20 plot, each plot of cage equipped with feeder and drinker. Other tools used are egg tray, scales and micrometers. The result of variance analysis showed that the interaction between probiotic and vitamin C was not significant (P> 0.05). The probiotic and vitamin C did not affect the weight and thickness of eggshell of Tegal duck. The conclusion of this research is that addition of probiotic both natural and commercial and dosage of Vitamin c of 600 mg / kg in Tegal duck feed did not improve the weight and thickness of eggshell of Tegal duck.
1749020721A1L013113APLIKASI CAMPURAN MIKROBA ANTAGONIS UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT LAYU BAKTERI PADA TANAMAN TOMAT DI LAPANGPenyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan salah satu penyakit penting yang dapat menurunkan produksi tomat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemampuan campuran mikroba antagonis untuk menekan penyakit layu bakteri dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat. Penelitian dilaksanakan di Desa Sumbang, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas dan Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman pada bulan Maret 2017 sampai Juni 2017. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan enam kali ulangan. Perlakuan yang dicoba adalah kontrol (tanpa perlakuan), campuran Bacillussp. B8, Bacillus sp. B11 dan Trichoderma sp., campuran Bacillus sp. B8, P. fluorescens P8 dan Trichoderma sp., serta Bakterisida (streptomisin sulfat 20%). Variabel yang diamati adalah masa inkubasi, insidensi penyakit, intensitas penyakit, tinggi tanaman, bobot tanaman, bobot akar, jumlah dan bobot buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan campuran Bacillus sp. B8, Bacillus sp. B11 dan Trichoderma sp. memberikan pengaruh terbaik pada semua komponen patosistem, pertumbuhan dan hasil dibandingkan dengan perlakuan lain. Perlakuan campuran Bacillussp. B8, Bacillus sp. B11 dan Trichoderma sp. dapat menunda masa inkubasi sebesar 23,73%, menekan insidensi penyakit sebesar 33,33% dan intensitas sebesar 31,02%, meningkatkan tinggi tanaman sebesar 19,88%, bobot segar tanaman 41,62%, bobot segar akar sebesar 31,02%, jumlah buah sebesar 46,76% dan bobot segar buah sebesar 82,38%.Bacterial wilt disease caused by Ralstonia solanacearum is one of the important diseases that can decrease tomato production. The objective of this research is to know the ability of mixture of antagonistic microbes to suppress bacterial wilt disease and its effect on growth and yield of tomato plants. The study was conducted in Sumbang Village, Sumbang Subdistrict, Banyumas Regency and Plant Protection Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University from March 2017 to June 2017. The research used Randomized Block Design (RBD) with four treatments and six replications. The treatments were controled (without treatment), Bacillus sp. B8 mixture, Bacillus sp. B11 and Trichoderma sp., Bacillus sp. B8 mixture, P. fluorescens P8 and Trichoderma sp., and Bactericide (streptomycin sulphate 20%). The observed variables were incubation period, disease incidence, disease intensity, plant height, plant weight, root weight, amount and weight of fruit. The results showed that treatment with mixture of Bacillus sp. B8, Bacillus sp. B11 and Trichoderma sp. gave the best effect on all components of pathosystem, growth and yield compared with other treatment. The treatment with mixture of Bacillus sp. B8, Bacillus sp. B11 and Trichoderma sp. can delay incubation period by 23,73%, suppress incidence of disease equal to 33,33% and intensity 31,02%, increase plant height 19,88%, fresh weight of plant 41,62%, root fresh weight 31 , 02%, number of fruit equal to 46,76% and fresh weight of fruit equal to 82,38%.
1749120558G1B013024PERILAKU PENCARIAN PENGOBATAN PENDERITA HIPERTENSI
DI MASYARAKAT KAMPUNG NAGA KABUPATEN TASIKMALAYA
Latar Belakang: Hipertensi adalah kondisi tekanan darah secara menetap berada di atas normal. Perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior), yaitu perilaku untuk melakukan atau mencari pengobatan, dengan berusaha mengobati atau mencari pengobatan ke unit pelayanan kesehatan modern (puskesmas, mantri, dokter praktik), maupun ke fasilitas kesehatan tradisional. Masyarakat Kampung Naga adalah sekelompok masyarakat yang menjujung tinggi nilai tradisi budaya leluhur. Salah satu penyakit yang pengobatannya menggunakan pengobatan tradisional dan modern adalah hipertensi. Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan perilaku pencarian pengobatan penderita hipertensi di masyarakat Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya.
Metodologi: Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dengan pendekatan fenomenologis. Penentuan subyek penelitian dilakukan dengan menggunakan purposive sampling . Subyek penelitian adalah wanita penderita hipertensi dan informan keluarga dan tokoh masyarakat.
Hasil Penelitian: Pengetahuan subyek penelitian tentang definisi hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang harus dikontrol ke pelayanan kesehatan, mengenai tanda dan gejala hipertensi yang dirasakan seperti sakit kepala, pundak terasa berat dan jantung berdebar. Sikap subyek penelitian telah menyadari, dalam melakukan pemeriksaan tekanan darah ke pelayanan kesehatan. Tidak tersedianya sarana kesehatan pengobatan namun terdapat pengobatan tradisional yaitu pengobatan dari tukang jampe. peran tokoh masyarakat di Kampung Naga berperan aktif dalam menangani masyarakat yang sedang menderita sakit serta dukungan keluarga dalam mengantarkan pengobatan. Budaya pengobatan penderita masih melestariakan pengobatan tukang jampe. Presepsi sakit yang dialamipun bervariasi. Perilaku pencarian pengobatan pertama kali yaitu dengan pengobatan tradisional dan tukang jampe, namun pengobatan medispun dilakukan setelah pengobatan tersebut tidak berhasil.
Kesimpulan: Perilaku pencarian pengobatan pada penderita hipertensi di masyarakat kampung naga yaitu menggunakan kombinasi pengobatan tradisional dan pengobatan medis. Kata Kunci: Hipertensi, Perilaku pencarian pengobatan
Health Seeking Behavior Of Hypertension Patiens in Kampung Naga Tasikmalaya distric
ABSTRACT
Background: Hypertension is a condition of blood pressure settled above normal. health seeking behavior that is behaviors to conduct or seek treatment, to self-treat the illness, or seeking treatment into modern health care units as well as to traditional health facilities.Kampung Naga is a group of society that high value of ancestral cultural tradition. The purpose of this study was to describe the hypertension treatment seeking behavior in Kampung Naga, Tasikmalaya District.
Metods : It Used Qualitative research with phenomenological approach. Subjects selected by purposive sampling. The subjects of the study were women with hypertension, the informants was family and community leaders.
Results:Subjects knew the definition of hypertension was high blood pressure that must be controlled to health service, signs and symptoms of hypertension such as headache, shoulder felt heavy and heart pounded. Subjects realized,that they shoud do blood pressure checks to health services. The unavailability of health-care facilities was limited but medicine there is jampe (traditional healer). The role of community leaders in Kampung Naga had an active role in handle a people who were suffering from illness and family support in accompany to health-care. The treatment culture of the patient still preserves the treatment of jampe craftsmen. The perception of illness was varied. The first treatment seeking behavior was with traditional medicine and jampe, however medical treatment was used after the traditional treatment was unsuccessful.
Conclusion: The behavior of seeking treatment in hypertensive patients in Kampung Naga community is using a combination of traditional medicine and medical treatment.
Keywords: hypertension, Health seeking behavior
1749220559G1G013009PERBEDAAN KEKUATAN GESER PERLEKATAN ANTARA RESIN KOMPOSIT DAN RESIN MODIFIED GLASS IONOMER CEMENT (RMGIC) MENGGUNAKAN BAHAN BONDING GENERASI VIII DENGAN TEKNIK TOTAL-ETCH DAN SELF-ETCH
(Kajian In Vitro pada Restorasi Sandwich)
Restorasi sandwich merupakan penggabungan dua macam bahan restorasi dalam satu kavitas yang bertujuan untuk mendapatkan fungsi pengunyahan, estestis dan mencegah celah mikro. Bahan yang digunakan adalah RMGIC sebagai base dan resin komposit sebagai bahan pelapik atas. Untuk melekatkan kedua bahan restorasi dibutuhkan suatu bahan adhesif yang bertujuan untuk memberikan perlekatan yang baik dan optimal pada bahan restorasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kekuatan geser perlekatan antara resin komposit dan resin-modified glass ionomer cement (RMGIC) menggunakan bahan bonding generasi VIII dengan teknik total-etch dan self-etch. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental laboratoris. Penelitian ini menggunakan 20 sampel dibagi dalam 2 kelompok. Pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling. Kelompok I bahan adhesif total-etch diaplikasikan di antara RMGIC dan resin komposit. kelompok II bahan adhesif self-etch diaplikasikan di antara RMGIC dan resin komposit. Sampel direndam dalam saliva buatan selama 24 jam menggunakan inkubator dengan suhu 370C, kemudian semua sampel diuji kekuatan geser perlekatan menggunakan Universal Testing Machine. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan independen t-test. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa antara kedua kelompok terdapat perbedaan kekuatan geser perlekatan yang signifikan yakni p= 0,016 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan kekuatan geser perlekatan antara resin komposit dan RMGIC menggunakan bahan bonding generasi VIII dengan teknik total-etch dan self-etch. Kekuatan geser perlekatan bahan bonding generasi VIII dengan total-etch lebih tinggi dibandingkan dengan self-etch.Restoration sandwich is a combination of two restoration materials in a cavity to get the function of mastication, esthestic and prevent micro-slits. Materials often used are RMGIC as base and composite resin as top coating material. To attach the two restorative materials requires adhesive materials that aim to provide good and optimal attachment. The aim of this study was to determine the difference of shear bond strength between resin composite and glass ionomer cement using 8th generation bonding agent with total-etch and self-etch techniques. The method of this study was laboratory experimental. This study used 20 samples and divided into 2 groups by simple random sampling. In group I, total-etch adhesive was applied between RMGIC and resin composite. In group II, self-etch was applied between RMGIC and resin composit. All of the samples were stored in incubator 370C and soaked in artificial saliva for 24 hours, and then all of the samples were tested for shear bond strength using Universal Testing Mechine. The collected data were analyzed by independent t-test. The result showed significance difference of shear bond strength between two treatment groups (p<0.05). The conclusions of this study was there where difference shear bond strength between resin composite and resin-modified glass ionomer cement using 8th generation bonding agent with total-etch and self-etch technique. Total-etch technique had higher shear bond strength than self-etch technique.
1749320560G1B013099PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DI DESA CILIMUS KABUPATEN KUNINGANLatar Belakang: Produksi sampah rumah tangga setiap hari semakin meningkat. Volume sampah belum sepenuhnya tertangani dapat terjadi peningkatan pembuangan liar sehingga dikhawatirkan akan sulit untuk dikelola. Desa Cilimus wilayah RW 03 masih memanfaatkan sungai sebagai sarana pembuangan sampah. Permasalahan pengelolaan sampah tidak akan dapat diselesaikan jika hanya bertumpu pada pemerintah saja tanpa ada keterlibatan dari masyarakat sebagai sumber penghasil sampah itu sendiri.

Metode: Penelitian ini bersifat kualitatif fenomenologis. Subjek penelitian adalah ibu rumah tangga dan informan adalah Pemerintah Desa Cilimus, Ketua RW, Pengurus KSM dan Kader. Teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Uji keabsahan data memakai metode triangulasi.

Hasil Penelitian: Pengetahuan subjek penelitian tentang pengelolaan sampah dan upaya 3R masih kurang. Sikap subjek penelitian kecenderungan membuang sampah di tempat terbuka seperti sungai dan pembakaran di lahan kosong, sementara terhadap upaya 3R menunjukan belum ada kemauan mengurangi maupun daur ulang sampah karena terkendala kemampuan, keterampilan, dan waktu. Keterbatasan sarana dan prasarana terdapat kesulitan akses ke TPST. Serta peran tokoh masyarakat dalam kegiatan pengelolaan sampah belum maksimal.

Simpulan: Tingkat peran serta subjek penelitian dalam pengelolaan sampah dan upaya 3R belum berperan serta aktif. Subjek penelitian tidak melakukan proses pengolahan sampah sejak dari sumber. Pengelolaan sampah yang dilakukan dengan cara dibakar dan dibuang ke sungai. Saran bagi pihak-pihak terkait agar senantiasa berperan serta aktif dalam upaya menurunkan volume sampah dan mengelola sampah di Desa Cilimus.
Background: The production of household waste keeps increasing. The volume of waste has not yet been fully handled can be increasing disposal, so it is feared it would be difficult to be managed. This is visible in Cilimus village area of RW 03 still make use river as means of waste disposal. The problems of waste management will not be completed, if only handled to the government without any involvement of the society as a source of waste producing itself.

Method: This research was qualitative with phenomenological approach. Subjects of research were housewives and supporting informants were the village government, citizen hood group, administrator’s KSM, and interests group. The data were collected through the interview, observation, and documentation. The validity was tested by using triangulation method.

Results: The result showed that knowledge of the subject of research on waste management and 3R effort still less. The attitude of the subject has the tendency of dump in the open like a river and burning in the empty land. While against the efforts of 3R showed no willingness to reduce and recycle, due to the constrained the ability, skill, and time. Limitations of infrastructure, there is difficulty of access to the TPST. Then community leaders less role in waste management activities.

Conclusion: The level of participation of the subject in the waste management and 3R effort yet to participate actively. The subject does not do trash processing from source. Waste management is done by way of burnt and dump into the river. Advice the relevant parties to continue participate actively reduce waste and waste management in Cilimus village.
1749421495G1F014026PENGEMBANGAN DETEKSI LILIN SECARA KUALITATIF PADA GORENGAN MENGGUNAKAN SMARTPHONELilin merupakan salah satu bahan yang sering ditambahkan pada gorengan. Metode yang biasa digunakan untuk analisis kandungan lilin diantaranya GC-MS, HPLC dan FTIR. Namun metode ini membutuhkan waktu lama, mahal dan peralatan yang rumit. Sehingga diperlukan metode baru yang cepat dan mudah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara analisis kandungan lilin dalam gorengan secara kolorimetri menggunakan smartphone.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan gorengan sebagai objek penelitian. Hasil perubahan warna yang terbentuk setelah penambahan reagen selanjutnya dianalisa menggunakan aplikasi smartphone sehingga dapat mendeteksi kadar lilin yang terkandung dalam gorengan. Hasil penelitian menunjukkan lilin memilki kelarutan paling baik pada pelarut n-hexan. Analisis kualitatif kandungan lilin dalam gorengan secara kolorimetri dilakukan dengan reagen terpilih yaitu NaOH, Schift, serta Curcumin (1 : 2 : 2). Hasil yang didapat menunjukkan bahwa kurva kalibrasi dengan rentang konsentrasi 0-25% memiliki koefisien korelasi r = 0,9537 dengan nilai LOD 2,135%, %RSD untuk konsentrasi lilin 5% dan 10% secara berturut-turut 1,1% ; 2,4% dan p-value > 0,05. Hasil analisis sampel gorengan di pasaran menggunakan KLT dan smartphone menunjukan hasil yang sama.
Background: Wax are one of the ingredients that are often added to fried foods. The usual methods used for the analysis of wax content include GC-MS, HPLC and FTIR. But this method takes a long time, expensive and complicated equipment. So a new method is needed that is fast and easy. The purpose of this research is to know how to analyze the content of wax in fried colorimetri using colorimetri.
Methods: This research is an experimental research using fried food as research object. The result of color change that was formed after the addition of reagent was then analyzed using smartphone application so as to detect the level of wax contained in the fried food. This research consists of several stages: solubility test, reagent making and selection, reagent optimization, candle standard manufacture, sample preparation, performance analysis test with smartphone, TLC analysis and smartphone.
Results: The results showed that wax had the best solubility in n-hexan solvent. Qualitative analysis of wax content in fried colorimetry was done with selected reagents of NaOH, Schift, and Curcumin (1: 2: 2 v/v). The result shows that the calibration curve with the concentration range 0-25% has correlation coefficient r = 0.9537 with LOD 2,135%, %RSD for 5% wax concentration and 10% consecutive 1,1%; 2.4% and p-value > 0.05. The results of analysis of fried samples in the market using TLC and smartphones showed the same results.
1749520563G1G012062PENGARUH KEFIR SUSU KAMBING DAN SAPI TERHADAP RESPON HIDROFOBISITAS BAKTERI Pseudomonas aeruginosa SECARA IN VITROBakteri P. aeruginosa merupakan bakteri aerob yang ditemukan dalam rongga mulut. Bakteri tersebut dapat ditemukan pada infeksi endodontik primer, nekrosis pulpa, abses, dan infeksi pada saluran akar. Pelekatan sel bakteri pada inang terjadi karena adanya interaksi hidrofobik dari komponen permukaan bakteri dengan sel inang. Hidrofobisitas merupakan kemampuan mikroorganisme untuk menjauh dari media berbentuk cair yang dapat mengganggu perlekatannya. Kemampuan tersebut dapat diganggu dengan pemberian suatu bahan, salah satunya kefir. Kefir adalah minuman fermentasi yang memiliki kemampuan probiotik. Kandungan asam laktat pada kefir berfungsi sebagai penghambat bakteri patogen. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh kefir susu kambing dan kefir susu sapi terhadap respon hidrofobisitas P. aeruginosa. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratoris dan rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 7 kelompok yaitu kelompok I: kefir susu kambing 2%, kelompok II: kefir susu kambing 4%, kelompok III: kefir susu kambing 6%, kelompok IV: kefir susu sapi 2%, kelompok V: kefir susu sapi 4%, kelompok VI: kefir susu sapi 6%, dan kelompok VII: kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kefir susu kambing dengan konsentrasi 4% dan kefir susu sapi dengan konsentrasi 6% merupakan konsentrasi yang memiliki pengaruh paling besar dalam menurunkan infeksi bakteri P. aeruginosa. Simpulan penelitian ini adalah kefir susu kambing dan sapi dengan konsentrasi 2%, 4%, dan 6% mampu menurunkan respon hidrofobisitas bakteri P. aeruginosa. Bacteria P. aeruginosa is aerobic bacteria found in oral cavity. The bacteria can cause primary endodontic infection, pulp necrosis, abscess, and root canal infection. The attachment of bacterial cells to the host is affected by hydrophobic interaction of the bacterial surface component with the host cell. Hydrophobicity is the ability of microorganisms to stay away from liquid media that can interfere with is adhesion. The adhesion can be disturbed by some materials, one of them is kefir. Kefir is a probiotic beverage from fermented milk. The content of lactic acid in kefir serves as an inhibitor of pathogenic bacteria. This study aim was to compare the effect between goat milk kefir and cow milk kefir to hydrophobicity response of P. aeruginosa. The research method was experimental laboratory and the research design was complete randomized design with 7 groups, group I: 2% goat milk kefir, group II: 4% goat milk kefir, group III: 6% goat milk kefir, group IV: 2% cow's milk kefir, group V: 4% cow's milk kefir, group VI: 6% cow's milk kefir, and group VII: control. The results showed that 4% goat milk kefir and 6% cow milk kefir groups had the greatest effect in decreasing bacterial infection of P. aeruginosa. Conclusion: goat and cow milk kefir with concentration of 2%, 4%, and 6% can decrease the response of P. aeruginosa bacteria hydrophobicity.
1749621710E1A113075TINJAUAN YURIDIS TERHADAP TRANSAKSI ELEKTRONIK ANTARA ADE DWI PERMANA DENGAN NETMARBLE DALAM APLIKASI SEVEN KNIGHT DITINJAU DARI PERSPEKTIF HUKUM PERDATASkripsi ini berjudul : “Tinjauan Yuridis Terhadap Transaksi Elektronik Antara Ade Dwi Permana dengan Netmarble Dalam Aplikasi Seven Knight Ditinjau Dari Perspektif Hukum Perdata”. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis Transaksi Elektronik Dalam Aplikasi Seven Knight. Permasalahan yang akan dibahas adalah bagaimanakah kontruksi hukum perjanjian jual beli antara Ade Dwi Permana dengan Netmarble.inc selaku developer aplikasi Seven Knight dalam perspektif KUHPerdata dan perlindungan hukum yang diberikan oleh pihak Netmarble kepada Ade Dwi Permana/User dalam hal terjadinya bug/error pada saat pembelian virtual property. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui dan menganalisis konstruksi hukum dan perlindungan hukum dalam kaitannya dengan perjanjian didalam aplikasi Seven Knight dalam perspektif KUHPerdata. Metode penelitian yang digunakan adalah metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dari Bahan Hukum Primer, Bahan Hukum Sekunder dan Bahan Hukum Tersier.
Berdasarkan analisis yang dilakukan diperoleh hasil bahwa perjanjian yang berlangsung antara Ade Dwi Permana dengan Netmarble merupakan perjanjian sewa menyewa dimana dalam perikatan-perikatannya terdiri dari perikatan yang prestasinya berupa memberikan sesuatu dalam bentuk barang untuk dinikmati dalam jangka waktu tertentu dan perikatan yang prestasinya juga memberikan sesuatu dalam bentuk uang, dan juga perlindungan hukum yang diberikan berupa negosiasi antar pihak untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan cara menghubungi pihak Netmarble selaku developer dari aplikasi.
This thesis entitled: "Juridical Review Against Electronic Transactions Between Ade Dwi Permana with Netmarble In Seven Knight Application Viewed From Perspective of Civil Law". This research was conducted to analyze Electronic Transactions In Seven Knight Application. The problem that will be discussed is how the construction of agreement agreement between Ade Dwi Permana and Netmarble.inc as Seven Knight application developer in perspective of Civil Code and legal protection given by Netmarble to Ade Dwi Permana / User in case of bug / error when purchasing virtual property . This research is conducted with the aim of knowing and analyzing law construction and legal protection in relation with sale and purchase agreement in Seven Knight application in perspective of Civil Code. The research method used is the normative juridical method with the approach of legislation. The type of data used is secondary data consisting of Primary Legal Material, Secondary Law Material and Tertiary Law Material.

Based on the analysis, it is found that the agreement between Ade Dwi Permana and Netmarble is a lease agreement which in its engagement consists of an engagement whose performance is in the form of giving something in the form of goods to be enjoyed within a certain period and the engagement whose achievement also gives something in form of money, and also the legal protection provided in the form of negotiations between parties to solve problems encountered by contacting the Netmarble as the developer of the application.
1749720564C1B013102Analisis Pengaruh Return On Assets, Kepemilikan Manajerial,Current Ratio, Sales Growth, Dan Firm Size Terhadap Struktur Modal Pada Perusahaan Food And Beverages Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (Bei) Tahun 2012-2016Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh return on asset, kepemilikan manajerial, current ratio, sales growth, dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal pada perusahaan food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012-2016. Metode pengambilan sampel menggunakan purpossive sampling, diperoleh sampel sebanyak 11 perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa return on asset berpengaruh positif terhadap struktur modal. Kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap struktur modal. Current ratio berpengaruh negatif terhadap struktur modal. Pertumbuhan penjualan berpengaruh negatif terhadap struktur modal. Ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap struktur modal.



Kata kunci: struktur modal, return on asset, kepemilikan managerial, current ratio, sales growth, ukuran perusahaan.

This study aims to analyze the effect of return on assets, managerial ownership, current ratio, sales growth, and firm size to the capital structure of food and beverages companies listed in Indonesia Stock Exchange 2012-2016. Sampling method using purposive sampling, obtained samples of 11 companies. The results showed that the return on assets have a positive effect on capital structure. Managerial ownership has no effect on capital structure. Current ratio negatively affects the capital structure. Sales growth negatively affects the capital structure. The size of the firm has no effect on capital structure.

Keywords: capital structure, Return On Assets (ROA), Managerial Ownership, Current Ratio, Sales Growth, Firm Size.


1749820565C1B011031PENGARUH STRUKTUR ASET, GROWTH, SIZE, RISIKO BISNIS, DAN OPERATING LEVERAGE TERHADAP STRUKTUR MODAL SERTA PENGARUHNYA TERHADAP KINERJA KEUANGAN BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH DI INDONESIATujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh struktur modal dan kinerja keuangan terhadap struktur aset, growth, size, risiko bisnis, dan operating leverage. Judul penelitian ini adalah "Pengaruh Struktur Aset, Pertumbuhan, Ukuran, Risiko Bisnis, dan Leverage Operasi Terhadap Struktur Modal dan Kinerja Keuangan Bank Perkreditan Rakyat Syariah di Indonesia". Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) yang tercatat di Bank Indonesia periode 2013-2015. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Jumlah bank yang digunakan sebagai sampel adalah 26 bank. Penelitian dianalisis dengan analisis regresi linier berganda.
Hasil dari penelitian ini adalah struktur aset, growth,dan sizeberpengaruh positif signifikan terhadap struktur modal. Sedangkan risiko bisnis dan operating leverage tidak mempengaruhi struktur modal. Hasildari penelitian ini juga menunjukkan bahwa struktur aset, growth, dan size secara positif signifikan mempengaruhi kinerja keuangan. Struktur modal secara negatif signifikan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Sedangkan risiko bisnis dan operating leverage tidak mempengaruhi kinerja keuangan. Berdasarkan hasil penelitian ini, pihak manajemen harus lebih optimal dan tepat dalam pengalokasian sumber modal yang dialokasikan untuk aktiva lancar dan aktiva tetap kaitannya dengan pembentukan struktur aset, karena dapat mengoptimalkan struktur modalnya. Selain itu, manajemen perlu lebih berhati-hati dalam menentukan kebijakan utangnya. Pihak manajemen harus cermat dalam menentukan modal asing yang sesuai dengan kemampuan bank, sehingga bank tetap bisa meminimalisir risiko. Selain itu, manajemen juga harus lebih bisa memanfaatkan sumber modal asing, karena dengan pengelolaan yang tepat akan mendapatkan keuntungan lebih besar.
The aim of this study was to analyze the effect of capital structure and financial performance to asset structure, growth, size, business risk, and operating leverage. The title of this research is “The Effect of Asset Structure, Growth, Size, Business Risk, and Operating Leverage to Capital Sructure and Financial Performance of Bank Perkreditan Rakyat Syariah in Indonesia”. The population that used in this study is Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) listed on Central Bank of Indonesia period 2013-2015. Sampling technique was done with purposive sampling method. The number of banks used as sample is 26 banks. The research was analyzed with multiple linear regression analysis.
The result of this research is asset structure, growth, and sizepositively significant affects capital structure. While, business risk and operating leverage did not affect capital structure. The result also shows that asset structure, growth, and size positively significant affects financial performance. Capital structure negatively significant affects financial performance. While, business risk and operating leverage did not affect financial performance. Based on the results of this study, the management should be more optimal and appropriate in the allocation of capital resources allocated for current assets and fixed assets in relation to the formation of asset structures, because it can optimize the capital structure. In addition, management needs to be more careful in determining debt policy. The management must be careful in determining the foreign capital in accordance with the ability of the bank, so that banks can still minimize the risk. In addition, management must also be more able to take advantage of foreign capital sources, because with proper management will more benefit.
1749920562C1A013065Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Usaha Tani Padi Sawah Di Desa Kebanaran Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banarnegara

Penelitian ini berjudul “Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Usahatani Padi Sawah di Desa Kebanaran Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara”. Sektor pertanian masih dominan dalam memberikan kontribusi terhadap pendapatan suatu daerah. Selain itu, di Jawa Tengah hampir 50 persen penduduk bekerja di sektor pertanian. Salah satu subsektor pertanian yang memiliki kontribusi terbesar terhadap PDRB di Jawa Tengah adalah subsektor tanaman pangan, dimana komoditas tanaman pangannya adalah padi. Desa Kebanaran Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara merupakan daerah yang potensial untuk pengembangan usahatani padi karena produktivitas usahatani padi di Desa Kebanaran menduduki tingkat tertinggi yaitu 81,14 kw/ha.
Tujuan penelitan ini adalah: 1) menganalisis pengaruh penggunaan faktor produksi luas lahan, bibit, pupuk, pestisida dan tenaga kerja terhadap hasil produksi padi sawah di Desa Kebanaran Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara, 2) menganalisis tingkat efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi yang dihasilkan oleh petani pada usahatani padi sawah di Desa Kebananaran Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan data primer yang diperoleh melalui wawancara berdasarkan kuisioner. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 70 petani padi sawah di Desa Kebanaran dengan metode random sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah fungsi produksi Cobb-Douglas dan analisis efisiensi alokatif.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: variable bibit, pupuk dan pestisida berpengaruh signifikan terhadap hasil produksi padi sawah di Desa Kebanaran Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara, sedangkan variabel tenaga kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil produksi padi sawah di Desa Kebanaran Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara, penggunaan faktor produksi bibit, pupuk dan pestisida di Desa Kebanaran Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara belum efisien.
Implikasi dari penelitian ini adalah: 1) variabel bibit, pupuk dan pestisida berpengaruh signifikan terhadap hasil produksi padi sawah sedangkan variabel tenaga kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil produksi padi sawah di Desa Kebanaran Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara oleh karena itu sebaiknya petani perlu memperhatikan lagi kualitas dan kuantitasnya serta mengikuti dosis penggunaan faktor produksi sesuai anjuran pemerintah, 2) penggunaan faktor produksi bibit, pupuk dan pestisida di Desa Kebanaran Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara belum efisien, oleh karena itu perlu adanya penambahan dalam penggunaan faktor produksi bibit, pupuk dan pestisida (NPMxi/Pxi>1).

This research is titled “Analysis of Efficient Use of Rice Farm Production Factor in Kebanaran Village Mandiraja District Banjarnegara Regency”. The agricultural sector is still dominant in contributing to the income of a region. In addition, in Central Java nearly 50 percent of the population works in the agricultural sector. One of the agricultural sub-sectors that has the greatest contribution to GRDP in Central Java is the food crops sub-sector, where food crops are rice. Kebanaran Village Mandiraja District Banjarnegara Regency is a potential area for the development of rice farming because the productivity of rice farming in Kebanaran Village occupies the highest level of 81.14 kw / ha.
The purpose of this research is: 1) to analyze the effect of the use of production factors of land area, seeds, fertilizer, pesticide and labor on rice production in Kebanaran Village, Mandiri District, Banjarnegara Regency, 2) To analyze the efficiency level of the use of production factors produced by farmers on rice farming in the Village Kebananaran Mandiraja District Banjarnegara District.
The research method used is survey method with primary data obtained through interview based on questionnaire. The sample used in this research is 70 farmers of paddy rice in Kebanaran Village by random sampling method. Data analysis techniques used are Cobb-Douglas production function and allocative efficiency analysis.
The results of this study indicate that: seed, fertilizer and pesticide variables significantly influence the yield of rice production in Kebanaran Village, Mandiri District, Banjarnegara District, while the labor variable has no significant effect on rice production in Kebanaran Village, Mandiraja District, Banjarnegara Regency, seeds, fertilizers and pesticides in the Village Kebanaran Mandiraja District Banjarnegara not efficient yet.
The implications of this research are: 1) variables of seeds, fertilizers and pesticides have a significant effect on rice paddy production results while labor variables have no significant effect on rice yields in Kebanaran Village, Mandiri District, Banjarnegara District, therefore farmers should pay attention to quality and (2) the use of seed, fertilizer and pesticide production factor in Kebanaran Village, Mandiraja District, Banjarnegara Regency has not been efficient yet, therefore it is necessary to add in the use of seed production factor, fertilizer and pesticide (NPMxi / Pxi > 1).

1750020566G1G013014Pengaruh Photodynamic Therapy (PDT) Menggunakan Methylene Blue Terhadap Jumlah Candida albicans Pada Basis Gigi Tiruan Lepasan Resin AkrilikBasis merupakan bagian gigi tiruan lepasan sebagai pengganti tulang alveolar yang hilang dan berfungsi mendukung gigi tiruan. Bahan yang sering digunakan sebagai basis gigi tiruan yaitu resin akrilik. Basis gigi tiruan dapat menjadi lingkungan hidup berbagai mikroorganisme rongga mulut, salah satunya adalah Candida albicans. C.albicans merupakan mikroorganisme oportunistik dalam rongga mulut yaitu dapat menjadi patogen apabila imun tubuh menurun. Photodynamic therapy (PDT) merupakan salah satu teknik terapi dalam membunuh mikroorganisme seperti C.albicans. PDT memerlukan adanya tiga komponen yaitu sumber cahaya, photosensitizer, dan oksigen. Methylene blue merupakan salah satu photosensitizer yang sering digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh photodynamic therapy menggunakan methylene blue terhadap jumlah C.albicans pada basis gigi tiruan lepasan resin akrilik. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan menggunakan 24 sampel yang dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kontrol negatif, aplikasi PDT dengan energi cahaya per luas area 25 J/cm2, dan 75 J/cm2. Rerata jumlah koloni C.albicans pada kelompok perlakuan PDT dengan energi cahaya per luas area 25 J/cm2 (31,25 CFU/mL) dan 75 J/cm2 (18,75 CFU/mL) lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif (186,25 CFU/mL). Hasil analisis statistik One-way ANOVA dan uji post hoc LSD menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan PDT dengan kelompok kontrol negatif (p<0,05) sedangkan antar kelompok perlakuan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05). Berdasarkan hasil penelitian, PDT menggunakan methylene blue dapat mengurangi jumlah koloni C.albicans pada basis gigi tiruan lepasan resin akrilikDenture base is the part of removable denture as substitute for missing alveolar bone to support the denture. Common material for denture base is acrylic resin. Microorganisms able to live on denture base, for instance Candida albicans. C.albicans is opportunistic fungi that become pathogen organism when immune level of host decreases. Photodynamic therapy (PDT) is one of technique to kill microorganism like C.albicans. PDT require all of three components: light source, photosensitizer, and oxygen. Methylene blue is one of the the common photosensitizer. Aim of this research was to know the effect of photodynamic therapy using methylene blue to Candida albicans colonies on arylic denture base. The study was experimental laboratory with 24 samples divided into three groups, which were negative control, 25 J/cm2 light dose and 75 J/cm2 light dose groups. The average number of C.albicans colonies on PDT groups with 25 J/cm2 light dose (31,25 CFU/mL) and 75 J/cm2 light dose (18,75 CFU/mL) were lower than negative control group (186,25 CFU/mL). Statistic analysis with One-way ANOVA and post hoc LSD showed there was significant difference between PDT treatment groups and negative control group (p<0,05). However there was no significant difference between PDT treatment with 25 J/cm2 and 75 J/cm2 (p>0,05). Based on result of the study, PDT using methylene blue decreased the number of C.albicans colonies on acrylic resin removable denture base.