Artikelilmiahs

Menampilkan 16.581-16.600 dari 49.979 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1658119860A1C110013EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI USAHATANI SEMANGKA PADA LAHAN PASIR DI DESA GLEMPANGPASIR KECAMATAN ADIPALA KABUPATEN CILACAP Desa Glempangpasir merupakan salah satu desa penghasil buah semangka. Semangka merupakan tanaman semusim yang tumbuh merambat. Semangka memiliki kulit yang keras, berwarna hijau pekat atau hijau muda dengan garishijau tua tergantung varietas. Usahatani semangka ini memegang peranan penting sebagai penyumbang pendapatan keluarga, sebab merupakan sumber pendapatan bagi petani yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Faktor produksi semangka yaitu luas lahan, bibit, pupuk kandang, pupuk urea, pupuk ZA, pupuk NPK, pestisida dan tenaga kerja. Penggunaan faktor produksi tersebut harus efisien, agar diperoleh keuntungan maksimum. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mengetahui pengaruh penggunaan faktor produksi terhadap produksi semangka di Desa Glempangpasir Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap; 2) mengetahui efisiensi penggunaan faktor produksi pada usahatani semangka di Desa Glempangpasir Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap. Penelitian ini dilakukan pada 26 Maret sampai 26 Juni 2015 di Desa Glempangpasir Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap dengan sasaran penelitian petani yang berusahatani semangka. Pemilihan responden dilakukan dengan metode sensus petani semangka sebanyak 41 responden. Data penelitian berupa primer dan sekunder diambil dengan cara wawancara, kuisioner, dan observasi langsung. Metode analisis yang digunakan adalah analisis biaya dan pendapatan, analisis fungsi Cobb Douglas serta efisiensi penggunaan faktor produksi.Hasil analisis menunjukan bahwa penerimaan rata-rata per hektar petani semangka di Desa Glempangpasir adalah Rp343.177.500 dan biaya produksi rata-rata per hektar sebesar Rp119.800.919 sehingga keuntungan yang diterima adalah Rp223.376.581 per hektar. Faktor produksi yang berpengaruh secara signifikan pada usahatani semangka di Desa Glempangpasir adalah luas lahan, bibit, pupuk urea, pestisida, pupuk kandang sedangkan pupuk NPK, pupuk ZA dan tenaga kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap usahatani semangka. Glempangpasir is village annuals growing vines is a native.Watermelon having tough bark, green concentrated or green young by a green line old depends varieties.Farming watermelon hold of this an important role as to family income, for is a source of income for farmers that are supposed to be enhancing the welfare of farmers. Watermelon the production factor their land, seeds, manure, fertilizer urea, fertilizer ZA, fertilizer NPK, pesticides and labor. The usage of production factor have to be efficient, so that can gain maximum profit.The purpose of this research was 1 ) know influence the use of production factor watermelon against production in the village Glempangpasir in Adipala district; for 2 ) know the efficient use of the production in farming watermelon in the village Glempangpasir in Adipala district case. Research have done since 26 March until 26 june 2015 in Glempangpasir town, Adipala District and Cilacap Region with farmers as research target. The choosing of this respondent was held with census of watermelon monoculture farmers as many as 41 respondents. Research data most can be primary and secondary that get by interview, quisioner, and direct observation. The analiytical method that used is cost analysis and gain, production function Cobb Douglas analysis, also efficiency of usage of production factor analysis.Results of the research showed average gain per hectare of watermelon farmers in Glempangpasir village is Rp343.177.500 and average production cost per hectare is Rp119.800.919 so the profit is Rp223.376.581 per hectare. Production factor an influential significantly in farming watermelon in the village Glempangpasir is broad land , seeds , fertilizer urea , pesticides , manure NPK, fertilizer za, and labor while fertilizer do not affect significant impact on farming watermelon.
1658219861H1C014040IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK SEL DARAH PUTIH (LEUKOSIT) PADA DATA YANG TIDAK TERKONTROL DENGAN MENGGUNAKAN METODE K-MEANS CLUSTERING

Darah merupakan cairan yang sangat penting yang terdapat didalam tubuh manusia. Fungsi utama darah bagi manusia adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh [1]. Sebagai pemegang peran penting dalam system kekebalan tubuh (imunitas), sel leukosit memang menjadi objek yang tidak kalah pentingnya dengan sel darah merah [2].
Darah kerap kali mengalami gangguan, Karena darah merupakan bagian sensitive dari tubuh yang keberadaan jumlahnya seringkali menjadi alasan penyakit tertentu. Leukosit merupakan darah putih yang jumlah lebih dan kurangnya dari kondisi normal akan membawa dampak pada penyakit berbahaya, diantaranya yaitu AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) dan ALL (Acute Lymphoblastic Leukemia).
Maka dari itu identifikasi sel darah putih menjadi sangat penting adanya dengan berbagai maca alat atupun metode pengolahan citra. Image processing merupaka metode paling simpel dan mudah dalam menganalisis kondisi suatu darah tertentu, termasuk sel darah putih. Pada penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah morfologi citra (diameter, keliling, luas), statistik tekstur (mean, deviation, smoothness, skewness, uniformity, dan entropy) dan pengenalan pola tekstur sel darah putih. Metode yang digunakan dalam segmentasi sel darah putih ini adalah K-Means Clustering. Selain itu dilakukan pula metode pencarian keseragaman objek pada data pengolahan citra dengan menggunakan metode Fuzzy C-Means Clustering
Blood is a very important fluid contained in the human body. The main function of blood for humans is to transport the oxygen required by cells throughout the body [1]. As the holder of an important role in the immune system (immunity), leukocyte cells are indeed an object that is not less important with red blood cells [2]. Blood is often disturbed, because blood is a sensitive part of the body whose existence is often the reason for certain diseases. Leukocyte is a white blood that the number more and the lack of normal conditions will have an impact on dangerous diseases, including AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) and ALL (Acute Lymphoblastic Leukemia). Therefore the identification of white blood cells becomes very important with the various tools or image processing methods. Image processing is the simplest and easiest method of analyzing the condition of a particular blood, including white blood cells. In this study the object of research is the morphology of the image (diameter, circumference, area), texture statistics (mean, deviation, smoothness, skewness, uniformity, and entropy) and recognition of white blood cell texture patterns. The method used in this segmentation of white blood cells is K- Means Clustering. Besides, there is also search method of uniformity of object in image processing data by using Fuzzy C-Means Clustering method
1658321567A1L014088Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonimum L.) terhadap Jenis dan Frekuensi Pemberian POC di Lahan Pasir PantaiPenelitian ini bertujuan untuk : 1) menentukan jenis POC yang paling baik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah di lahan pasir pantai, 2) menentukan frekuensi pemberian POC yang paling baik bagi pertumbuhan dan hasil bawang merah di lahan pasir pantai, 3) menentukan kombinasi antara jenis dan frekuensi pemberian POC yang memberikan pengaruh terbaik bagi pertumbuhan dan hasil bawang merah di lahan pasir pantai. Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai November 2017, di lahan pasir pantai Jetis, Nusawungu, Cilacap. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Penelitian terdiri atas 2 faktor. Faktor pertama adalah jenis POC terdiri dari Nasa (P1), Trubus (P2), produksi petani (P3). Faktor kedua adalah frekuensi pemberian POC terdiri dari 4 hari sekali (I1), 9 hari sekali (I2), 14 hari sekali (I3). Data dianalisis menggunakan uji F, apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) jenis POC Trubus memberikan bobot umbi segar tertinggi dengan potensi hasil 10,62 ton/ha. (2) Frekuensi pemberian POC 9 hari sekali memberikan hasil paling baik pada bobot tanaman segar, diameter umbi, bobot umbi segar dan hasil umbi segar dengan potensi 9,13 ton/ha. (3) Kombinasi antara jenis POC Trubus dan frekuensi pemberian POC 9 hari sekali memberikan bobot umbi segar tertinggi dengan potensi 12,57 ton/ha.This research aims to 1) determine the best type of liquid organic fertilizer, 2) determine the best application frequency of liquid organic fertilizer, (3) determine the best combination of type and application frequency of liquid organic fertilizer. This research was conducted in September until November 2017, at Jetis coastal sandy land, Nusawungu, Cilacap. The experimental design used was Completely Randomized Block Design (CRBD). The research consist of 2 factors. The first factor was type of liquid organic fertilizer, that consisted : Nasa (P1), Trubus (P2) and production of farmer (P3). The second factor was application frequency of liquid organic fertilizer : once every four days (I1), once every nine days (I2) and once every fourteen days (I3). Data were analyzed by F test, tested further by DMRT 5% if significantly different. The result showed that (1) Type of liquid organic fertilizer of Trubus gave the highest fresh tuber weight with a yield potential of 10,62 ton/ha. (2) The frequency of liquid organic fertilizer once every nine days gave the best yield on fresh plant weight, tuber diameter, fresh tuber weight and fresh tuber yield with yield potential of 9,13 ton/ha. (3) The combination of the type liquid organic fertilizer of Trubus and the application frequency of liquid organic fertilizer once every nine days give the highest fresh tuber weight with yield potential 12,57 ton/ha.
1658419871B1J013047IDENTIFIKASI SECARA MORFOLOGI JAMUR KOPROFIL DI KAWASAN WISATA PANTAI PARANGTRITIS YOGYAKARTAJamur koprofil adalah jamur yang tumbuh sebagai saprofit pada berbagai jenis kotoran khususnya kotoran binatang peliharaan dan hewan herbivora liar, baik di padang rumput, daerah terbuka, taman zoologi, tumpukan kotoran di sepanjang pinggir jalan atau sepanjang kolam yang terinvestasi oleh material lignoselulosik. Beberapa di antaranya merupakan dekomposer utama pada limbah kotoran khususnya pada hewan herbivora. Keberadaan jamur ini di alam perlu dikenali karena berdasarkan beberapa laporan penelitian diketahui bahwa jamur koprofil memiliki keragaman yang tinggi, mudah dijumpai di berbagai daerah terutama pada musim penghujan dengan tingkat kelembapan sekitar 70-80%. Beberapa jenis jamur koprofil memiliki kandungan senyawa yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, misalnya pada bidang kesehatan.
Kawasan wisata pantai Parangtritis memiliki kondisi iklim yang mendukung untuk pertumbuhan jamur koprofil, dan masyarakat sudah mengetahui keberadaan jamur tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keragaman jamur koprofil (jumlah genera jamur) di kawasan wisata pantai Parangtritis. Metode yang digunakan adalah metode survai dengan pengambilan sampel secara purposive random sampling. Jamur yang telah didapat diamati struktur makromorfologinya, kemudian dideterminasi dengan gambar pada buku identifikasi jamur makroskopik Toxic and Hallucinogenic Mushroom Poisoning, buku Psilocybin Mushrooms of the World, serta diidentifikasi menggunakan software MycoKey4.1. Berdasarkan hasil inventarisasi dapat diperoleh 8 genera yang berbeda dari hasil analisis secara deskriptif. Genera jamur koprofil tersebut terdiri atas Hypholoma, Marasmius, Conocybe, Stropharia, Mycena, Panaeolus, Coprinopsis, dan Psilocybe.
Coprophyl fungi is a group of fungi that grow as saprophyte in various types of dung, especially in pets and wild herbivorous animals dung, whether in grasslands, open areas, zoological parks, piles of dung along the roadside or along the ponds invested by lignocellulosic materials. Some of these are major decomposers in sewage, especially in herbivorous animals. The existence of this fungi in nature needs to be recognized because based on several research reports, coprophyl fungi is high in diversity and easy to find in various regions, especially in the rainy season with humidity levels around 70-80%. Some types of coprophyl fungi contain compounds that can be used for various purposes, for example in the health field.
Parangtritis beach resort area has a favorable climatic conditions for the growth of coprophyl fungi, and people already know the existence of these fungi. The research purposes is to know the diversity of coprophyl fungi (the number of fungi genera) in the Parangtritis beach tourist area. The research method is a survey method with purposive random sampling. Then, the macromorphological structure of those fungi is observed and determined based on the picture in the macroscopical fungi identification book of the Toxic and Hallucinogenic Mushroom Poisoning, Psilocybin Mushrooms of the World, and identified using MycoKey4.1 software. From the inventory results, 8 different genera is obtained based on descriptive analysis. The coprophyl fungi genera consist of Hypholoma, Marasmius, Conocybe, Stropharia, Mycena, Panaeolus, Coprinopsis, and Psilocybe.
1658519917A1C013035Analisis Usaha Agroindustri Tape Ketan di Kecamatan Cibeureum, Kabupaten KuninganAgroindustri tape ketan Kuningan merupakan usaha industri makanan yang mengolah beras ketan menjadi tape ketan melalui proses fermentasi yang banyak di produksi di Kabupaten Kuningan. Agroindustri tape ketan termasuk kedalam usaha industri kecil yang hanya memiliki jumlah rata-rata tenaga kerja 12 orang dan cenderung hanya memperhitungkan penerimaan yang diperoleh tanpa memperhitungkan biaya yang digunakan, keuntungan bersih yang diperoleh serta kurang memperhatikan risiko usaha yang mungkin terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui besarnya biaya, penerimaan dan keuntungan usaha agroindustri tape ketan, 2) Mengetahui tingkat efisiensi usaha agroindustri tape ketan, dan 3) Mengetahui besar risiko usaha pada agroindustri tape ketan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai dan pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive), dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Cibeureum merupakan wilayah sentra produksi tape ketan terbesar di Kabupaten Kuningan. Analisis data yang digunakan meliputi: analisis biaya, penerimaan, keuntungan, efisiensi (R/C ratio), dan analisis risiko. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan biaya total rata-rata yang dikeluarkan pada usaha tape ketan yaitu sebesar Rp 35.418.042,40 dan penerimaan rata-rata sebesar Rp 65.198.866,67, sehingga didapat keuntungan rata-rata sebesar Rp 29.780.824,27. Nilai R/C rata-rata sebesar 1,84 yang berarti usaha yang dijalankan sudah efisien. Besarnya nilai koefisien variasi (CV) adalah sebesar 0,44 sedangkan besarnya nilai batas keuntungan adalah sebesar Rp 3.459.054,57. Hal ini dapat diartikan bahwa agroindustri tape ketan di Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan mempunyai risiko yang kecil.The glutinous tape agroindustry based in Kuningan, is a food industry business that process glutinous rice into glutinous tape through fermentation process that many prduced in Kuningan District. The business of glutinous tape is include into small industry enterprises which only have an average workforce is 12 people and tend to only take into account the receipts obtained without taking into acount the cost used, net profits earned and less attention to business risk that my ocur. This research aims to: 1) knowing the cost, acceptance and profits of agroindustry tape glutinous business, 2) knowing efficiency level of glutinous tape agroindustry business and 3) knowing the business risk on glutinous tape agroindustry. This reasearch implemented on April 2017. The research method used is survey method and location selection is doing with a purposive, with the consideration that Cibeureum Subdistrict is the largest production area of glutinous tape in Kuningan District. Analysis of data used include: cost analysis, revenue, profit, efficiency (R/C Ratio), and risk analysis. Based on the result obtained the average total cost incurred on glutinous tape business that is equal to: Rp 35.418.042,40 and average revenue is Rp 65.198.866,67, so the average profit is gained Rp 29.780.824,27. The average value of R/C is 1,84, which means that the business is efficient. The value of the coefficient varriation (CV) is 0,44 while the value of the profit limit is equal to Rp 3.459.054,57. This can be intrepreted that the business of glutinous tape in Cibeureum Subdistrict, Kuningan District have a small risk.
1658619574G1F013033AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH PISANG KEPOK (Musa acuminata x balbisiana ) TERHADAP BAKTERI PENYEBAB DIARE (Vibrio cholerae dan Bacillus cereus)
Latar Belakang: Diare adalah buang air besar dengan tinja berbentuk cair dapat/tanpa disertai lendir dan darah. Diare akut dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, pengobatan pertama diare ini menggunakan antibiotik. Namun penggunaan antibiotik saat ini berisiko dengan timbulnya efek samping yang tidak diinginkan. Alternatif pengobatan lain adalah dengan obat tradisional, salah satunya adalah kulit pisang dapat digunakan sebagai antidiare dan memiliki aktivitas antibiotik. Kulit pisang kepok (Musa acuminata x balbisiana) mengandung alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol kulit pisang kepok (Musa acuminata x balbisiana) terhadap bakteri Vibrio cholerae dan Bacillus cereus.
Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Kulit pisang kepok diektraksi dengan cara maserasi dengan etanol 96 %, skrining fitokimia senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin, uji aktivitas antibakteri dengan metode dìlusi cair untuk mengetahui Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM). Konsentrasi larutan uji yang digunakan 1000, 500, 250, 125, 62,5 μg/mL. Sebagai kontrol positif digunakan tetrasiklin 30 µg/mL (Vibrio cholerae) dan cifrofloksasin 8 µg/mL (Bacillus cereus), kontrol negatif digunakan pelarut DMSO 10 % dan kontrol bakteri.
Hasil Penelitian: Hasil pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol kulit pisang kepok, Kadar Hambat Minimum (KHM) ekstrak etanol kulit pisang kepok (Musa acuminata x balbisiana) didapatkan pada konsentrasi 1000 µg/mL pada bakteri Vibrio cholerae dan pada konsentrasi 500 µg/ml pada bakteri Bacillus cereus. Sedangkan Kadar Bunuh Minimum (KBM) ekstrak etanol kulit pisang kepok (Musa acuminata x balbisiana) terhadap Vibrio cholerae dan Bacillus cereus didapatkan dengan konsentrasi >1000 µg/mL.

Kesimpulan: Ekstrak etanol kulit pisang kepok kuning (Musa acuminata x balbisiana) dapat menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio cholerae dan Bacillus cereus, namun lemah untuk dijadikan sebagai antibakteri.

Kata kunci:, Kulit pisang kepok (Musa acuminata x balbisiana), KHM, KBM, Vibrio cholerae, Bacillus cereus
Background of the Study: Diarrhea is a defecate of liquid faces with /without mucus and blood. Acute diarrhea can be caused by a bacterial infection, the first treatment of this diarrhea using antibiotics. However, the use of antibiotics is currently at risk of unwanted side effects. Another alternative treatment is traditional medicine, one of them is banana peel that can be used as antidiarrheal and it has antibiotic activity. Kepok Banana (Musa acuminata x balbisiana) contain alkaloids, flavonoids, saponins and tannins that able to inhibit bacterial growth. This research aims to determine antibacterial activity of ethanol extract of Kepok Banana (Musa acuminata x balbisiana) against Vibrio cholerae and Bacillus cereus bacteria.
Research Method: This research is an experimental research. Banana peel was extracted by maceration with ethanol 96%, phytochemical screening of alkaloid compounds, flavonoids, saponins and tannins, antibacterial activity test by liquid diffusion method to determine Minimum Inhibitory Rate and Minimum Mortality Rate. The solute concentration were used 1000, 500, 250, 125, 62,5 μg/mL. As a positive control used 30 μg/mL tetracycline (Vibrio cholerae) and 8 μg / mL cifrofloxacin (Bacillus cereus) and negative control were used 10% DMSO solvent, and control bacteria.
Results: The results of antibacterial activity test of ethanol extract of kepok banana peel showed Minimum Inhibitory Concentrations (MIC) extract of ethanol extract kepok banana (Musa acuminata x balbisiana) were obtained at 1000 μg/ mL concentration in Vibrio cholerae bacteria and at 500 μg/mL concentration in bacteria Bacillus cereus. While the Minimum Bactericidal Concentration of ethanol extract of kepok banana (Musa acuminata x balbisiana) to Vibrio cholerae and Bacillus cereus was > 1000 μg/mL.

Conclusion: The banana peel extract (Musa acuminata x balbisiana) can not be used as an antibacterial against Vibrio cholerae and Bacillus cereus bacterial.

Keywords: Kepok Banana Peel (Musa acuminata x balbisiana), MIC, MBC, Vibrio cholerae, Bacillus cereus
1658719918A1C113019Tahap Adopsi Teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) oleh Petani Padi di Desa Pajerukan Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui proses tahapan adopsi teknologi PTT yang dicapai petani padi; 2) Mengetahui faktor-faktor sosial ekonomi yang berhubungan dengan adopsi teknologi PTT di Desa Pajerukan Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknis pengambilan sampel simple random sampling. Jumlah sampel sebanyak 34 petani. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Mei 2017. Pada kuisioner dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Analisis yang digunakan dalam penelitian adalah analisis deskriptif dengan bantuan skala pengukuran ordinal serta analisis korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian untuk tahap adopsi teknologi PTT meliputi pemilihan kualitas benih dengan rincian 9 % pada tahap evaluasi dan 91 % pada tahap adopsi. Pembenihan sebanyak 2 % pada tahap evaluasi dan 98 % pada tahap adopsi. Penyiapan lahan sebanyak 100 % pada tahap adopsi. Penanaman sebanyak 1 % pada tahap kesadaran, 38 % pada tahap evaluasi, dan 61 % pada tahap adopsi. Pengairan 100 % berada ditahapan adopsi. Pemupukan sebanyak 41 % pada tahap evaluasi dan 59 % pada tahap adopsi. Pengendalian hama penyakit sebanyak 4 % pada tahap kesadaran, 4 % pada tahap tumbuh minat, 14 % pada tahap evaluasi 3 % mencoba, dan 75 % sudah berada pada tahap adopsi. Penyiangan sebanyak 3 % pada tahap kesadaran, 12 % tahap evaluasi, 6 % mencoba, dan 79 % mencapai tahap adopsi. Pemeriksaan sebanyak 100 % berada ditahapan adopsi. Pemanenan sebanyak 20 % pada tahap evaluasi dan 80 % pada tahap adopsi. Variabel sosial ekonomi secara simultan memiliki hubungan yang signifikan terhadap tahapan adopsi inovasi PTT. Secara rinci variabel sosial ekonomi yang memiliki hubungan yang signifikan terhadap adopsi inovasi PTT adalah pendidikan dan pendapatan sedangakan variabel umur, luas lahan, status kepemilikan lahan, pengalaman berusahatani, dan intensitas pertemuan dengan penyuluh pertanian tidak memiliki hubungan yang signifikan.This research aimed: 1) Known the process of adoption phase of ICM technology achieved by the farmers; 2) Known the socio-economic factors related to the adoption of ICM technology in Pajerukan Village, Kalibagor, Banyumas. The research used survey method with simple random sampling technique. The sample size of the research were 34 farmers. The research was conducted on April until May, 2017. The questionnaire was tested with validity test and reliability test. In this research used descriptive analysis assisted by ordinal scale and used Rank Spearman correlation analysis. The results of the research for the adoption inovation of ICM technology include seed selection was 9 % in evaluation and 91% in adoption. Germination was 2 % in evaluation and 98 % in adoption. Soil tillage was 100 % in the adoption. Planting was 1 % in awareness, 38 % in evaluation, and 61 % in adoption. Irrigation was 100% in adoption. Fertilization was 41 % in evaluation and 59 % in adoption. Pest and disease control was 4 % in awareness, 4 % in interest, 14 % in evaluation, 3 % in trial, and 75 % in adoption. Weed control was 3 % in the awareness, 12 % in evaluation, 6 % in trial, and 79 % in adoption. Plant control was 100 % are in adoption. Harvesting was 20 % in evaluation and 80 % in the adoption. Socioeconomic variables simultaneously had significant corelation with adoption of ICM technology. Variable income and education level had corelation with adoption of ICM technology, while variable age, farm size, farm ownership, farming experience, and intensity of meetings with agricultural extention workers did not have significant corelation with adoption of ICM technology.
1658819896H1F012075Geologi Dan Studi Litofasies Batuan Karbonat Daerah Banjarejo Dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi D.I. YogyakartaDaerah penelitian berada di Desa Banjarejo dan sekitarnya, kecamatan Tanjungsari, kabupaten Gunungkidul, provinsi Yogyakarta, dengan koordinat 449000mE – 456000mE dan 910000mN – 9108000mN. Memiliki luas penelitian 72 km2 (8x9 km). Penelitian dilakukan untuk mengetahui tatanan geologi serta penyebaran litofasies batuan karbonat di daerah penelitian. Geomorfologi daerah penelitian terbagi menjadi 3 satuan, yaitu Perbukitan karst Tanjungsari, Dataran karst Kemadang, serta Lembah Karst Baron. Berdasarkan pengamatan secara megaskopis, satuan batuan di daerah penelitian dibagi menjadi satuan batugamping bioklastik, dan satuan batugamping klastik fragmenter yang terendapkan secara menjari pada kala Miosen Tengah – Miosen akhir pada batimetri neritik tengah. Kajian studi khusus litofasies batuan karbonat menggunakan konsep Standard Microfasies Types (SMF) oleh Wilson (1975) menggunakan data sayatan petrografi sampel batuan serta persentase keterdapatan fosil yang terkandung di dalamnya. Berdasarkan konsep tersebut, litofasies daerah penelitian terdiri dari 3 tipe SMF, yaitu SMF 10 (bioclastic packstone/wackestone with worn skeletal grains), SMF 18 (grainstone/packstone with abundant foraminifera or algae), dan SMF 23 (Homogenous, non fosiliferous micrite).. Dari ketiga tipe SMF tersebut, didapatkan asosiasi litofasies berupa litofasies lower packstone, wackestone, upper packstone, dan mudstone. Ketiga asosiasi litofasies tersebut diinterpretasikan terendapkan pada lingkungan pengendapan zona fasies FZ 7 (open marine platform) dan FZ 8 ( Restricted platform).
Research area is located in Banjarejo and surroundings area, Tanjungsari district, Gunungkidul regency, Yogyakarta province, by coordinate 449000mE – 456000mE and 910000mN – 9108000mN. It has 72 km2 (8x9 km) research area. This research was conducted to determine geological order and the distribution of lithofacies carbonate rocks in research area. Geomorfology of research area is divided into 3 unit, they are Tanjungsari Karst Hill, Kemadang Karst Plain, and Baron Valley of Karst. Based on megascopic observation, geological unit of rocks in research area is divided into bioclastic limestones, and clastical fragmenter limestone that is deposited in Middle Miocen – Late Miocen time on middle neritic zone. Specific study of lithofacies carbonate rockss employed the concept of Standard Microfacies Types (SMF) by Wilson (1975), using thin sections of rock sample and the percentage of fossil contained in it. Based on that concept, lithofacies of this research area consists of 3 SMF type, they are SMF 10 (bioclastic packstone/wackestone with worn skeletal grains), SMF 18 (grainstone/packstone with abundant foraminifera or algae), dan SMF 23 (Homogenous, non fosiliferous micrite). From those 3 SMF type, it is known that lithofacies association of the research area consists of lower packstone, wackestone, upper packstone, and mudstone lithofacies. Those 4 litofacies association is being interpreted deposited in FZ 7 (open marine platform) and FZ 8 ( Restricted platform).
1658919865H1F012087GEOLOGI DAN HIDROGEOLOGI DAERAH KARANGDADAP DAN SEKITARNYA, KECAMATAN KALIBAGOR, KABUPATEN BANYUMAS, PROVINSI JAWA TENGAHAir merupakan sumber daya alam yang sangat mutlak dibutuhkan oleh makhluk hidup, namun jumlah air yang tersedia tidak sebanding dengan percepatan pertumbuhan makhluk hidup, sehingga keberadaannya baik secara kuliatas maupun kuantitas perlu dikelola dengan baik. Lokasi penelitian berada di Desa Karangdadap, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, merupakan salah satu dari tujuh Kecamatan di Kabupaten Banyumas sebagai daerah rawan kekeringan. Pertumbuhan ekonomi di kawasan Kalibagor dan sekitarnya yang pada akhir–akhir ini semakin bertambah banyak maka hal ini tentunya akan berdampak dengan meningkatnya kebutuhan air di kawasan ini. Namun demikian, belum ada yang melakukan penelitian secara komprehensif mengenai hidrogeologi. Penelitian didaerah ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi dan hidrogeologi meliputi keadaan airtanah, litostratigrafi jenis akifer, parameter hidraulik dan klimatologi daerah daerah penelitian. Metode penelitian berupa pengamatan geologi yakni kondisi litologi, geomorfologi dan hidrogeologi. Pengamatan hidrogeologi meliputi: pengukuran kedalaman sumur dangkal, pengeboran sumur, uji pemompaan (pumping test), parameter hidraulik, dan analisis data klimatologi. Daerah penelitian memiliki tipologi sistem akuifer endapan aluvial fluvial dengan jenis akifer tertekan, Airtanah yang dikeluarkan dari sumur bor memiliki debit 2,4 liter/detik, dengan ketebalan akifer dari sumur adalah 6 meter. Konduktivitas hidraulik dari akuifer adalah 4,5264 m/hari, Transmisivitas 27,1584 m²/hari, dan storativitas 0,0000123. Dari data klimatologi 3 stasiun pengamat curah hujan yaitu stasiun purwokerto memiliki curah hujan rata-rata 3428,467 mm/tahun, rata-rata evapotranspirasi 1404,362 mm/tahun dan water surplus 2024,105 mm/tahun. Stasiun Sampang memiliki rata-rata curah hujan 1671,383 mm/tahun, rat-rata evapotranspirasi 1277,194 mm/tahun dan water surplus 860,6057 mm/tahun, dan Satsiun merden memiliki rata-rata curah hujan 3042,558mm/tahun, rata-rata evapotranspirasi 1093,534 mm/tahun dan water surplus 1949,025 mm/tahun. Secara umum daerah penelitian memiliki cadangan air yang cukup, terutama dibagian utara daerah penelitian, sedangkan untuk daerah selatan tergolong cukup sulit untuk memperoleh air bersih.Water is a natural resource that is absolutely necessary for the organism, However, its number is not equal to the rate of organism growth, so its existence both quality and quantity need to be managed properly. The research is located in Karangdadap Village, Kalibagor District, Banyumas Regency, one of seven districts in Banyumas District as drought-prone areas. The economic growth in Kalibagor and it around recently has an impact in increasing water demand. However, there was no one doing research comprehensively on hydrogeology.This research aims to know the geological and hydrogeological conditions include the condition of groundwater, lithostratigraphic and type of aquifer, hydraulic parameters and climatology of the study areas. The form of the research method is a geological observation of lithology, geomorphology, and hydrogeology.The hydrogeological observations are depth measurement of shallow wells, well drilling, pumping test, hydraulic parameters, and climatological data analysis. The typology of the area has precipitated aquifer system alluvial fluvial of depressed aquifer type.The water discharge of groundwater from the artesian well has 2.4 liters/sec, with aquifer thickness of wells is 6 meters. The hydraulic conductivity of the aquifer is 4,5264 m/day, Transmissivity 27,1584 m²/day, and storativity 0.0000123. From the 3 climatological data of rainfall stations observer, in Purwokerto station has rainfall average 3428,467 mm/year, evapotranspiration average 1404,362 mm/year and water surplus 2024,105 mm/year. Sampang station has an rainfall average of 1671,383 mm/year, average evapotranspiration 1277,194 mm/year and water surplus 860,6057 mm/year, and Satres merden has rainfall average of 3042,558mm/year, evapotranspiration average 1093,534 mm/year and water surplus 1949,025 mm/year. In general, the area of the study has sufficient water reserves, especially in the northern part are of the research, while for the south it is quite difficult to get clean water.
1659019866F1A013067STRATEGI BERTAHAN HIDUP (SURVIVAL STRATEGY) RUMAH TANGGA PENDERES DI PEDESAAN BANYUMASKabupaten Banyumas dikenal sebagai sentra gula kelapa terbesar di Indonesia, namun masih banyak permasalahan yang belum selesai di ranah penderes sebagai petani gula kelapa. Permasalahan tersebut diantaranya harga gula yang fluktuatif, pendapatan keluarga penderes yang kecil, risiko cuaca dan kecelakaan penderes, sistem bagi hasil dengan pemilik pohon, permasalahan pada saluran pemasaran, dan sistem kontrak antara penderes dengan pengepul. Berdasarkan permasalahan tersebut para penderes memiliki pilihan rasional dalam menentukan strategi yang lebih menguntungkan dan memberikan dampak negatif paling rendah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi bertahan hidup (survival strategy) internal dan eksternal rumah tangga penderes gula kelapa, serta strategi yang diterapkan jika penderes sebagai kepala keluarga sudah tidak mampu menderes lagi. Penelitian ini dilakukan di Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, dengan metode penelitian kualitatif. Data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Metode analisis yang digunakan adalah model interaktif Miles dan Huberman dan penelitian ini menggunakan teknik triangulasi data untuk menjamin validitas data.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa berdasarkan pilihan-pilihan rasional rumah tangga penderes dalam bertahan hidup menggunakan strategi internal dan eksternal. Strategi internal merupakan strategi yang dilakukan dengan cara mengolah modal yang dimiliki di dalam rumah tangga mereka. Strategi internal meliputi pelibatan anggota rumah tangga dalam produksi gula, serta dengan cara mencari sumber penghasilan lain yang didapatkan melalui anak yang bekerja, pekerjaan sampingan, juga dengan melakukan penghematan. Strategi eksternal melibatkan jaringan sosial yang mereka miliki, yaitu dengan berutang, melakukan sistem bagi hasil dan memanfaatkan bantuan dari mana pun. Strategi eksternal melibatkan rumah tangga dengan strategi konsolidasi serta akumulasi. Pihak eksternal lain yang turut mendukung kehidupan penderes yaitu pemerintah desa maupun kabupaten. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terpecahnya hubungan antara penderes dan pihak koperasi mengakibatkan berkurangnya dukungan terhadap kehidupan penderes. Hal tersebut mengakibatkan, pandangan masa depan penderes jika sudah tidak mampu bekerja/mengalami kecelakaan hanya mengandalkan tabungan dan santunan dari pemerintah
Banyumas regency is known as the largest coconut sugar center in Indonesia, but there are still many unfinished problems in the realm of penderes as coconut sugar farmers. These problems include fluctuating sugar prices, low penile family income, weather risks and penderes accidents, revenue-sharing systems with tree owners, marketing channel problems, and contracting systems between the collecting and hiring banners. Based on these problems the penderes have a rational choice in determining the more profitable strategy and the lowest negative impact. This study aims to determine the survival strategy internal and external households coconut sugar penderes, and strategies applied if the penderes as the head of the family is not able to menderes again. This research was conduct in Sokawera Village, Cilongok District, Banyumas Regency, with qualitative research method. Data obtained from observation, interview, and documentation study. The analytical method used is Miles and Huberman interactive model and this research uses data triangulation technique to guarantee data validity. The results revealed that based on rational choices of penile households in survival using internal and external strategies. Internal strategy is a strategy that is done by processing capital owned in their household. Internal strategies include involving household members in sugar production, as well as by finding other sources of income earned through working children, side jobs, as well as saving. External strategies involve the social network they have, that is by owing, sharing the system and utilizing help from anywhere. External strategies involve households with consolidation and accumulation strategies. Other external parties that support the penderes life are the village and district governments. The results revealed that the fragmentation of the relationship between the penderes and the co-operatives resulted in less support for the life of the penderes. This results in, the future view of the penderes if it is not able to work / have an accident just rely on savings and compensation from the government.
1659121378A1L113014Respon Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Kelengkeng Dataran Rendah Varietas Kristal (Dimocarpus longan Lour.) Dengan Berbagai Pupuk Dan PemangkasanPenelitian bertujuan untuk mengetahui: 1) pengaruh beberapa dosis pupuk NPK yang optimal terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kelengkeng dataran rendah varietas kristal, 2) pengaruh berbagai cara pemangkasan yang optimal terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kelengkeng dataran rendah varietas kristal dan 3) kombinasi antara pengaruh dosis pupuk NPK dengan berbagai cara pemangkasan dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kelengkeng dataran rendah varietas kristal. Penelitian ini dilaksanakan di desa Banjarsari Kulon, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas selama 5 bulan dimulai dari bulan April 2017 sampai Agustus 2017. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor yang terdiri dari berbagai macam pupuk (tanpa diberi pupuk, pupuk N,P dosis 30 g/tanaman, pupuk PK dosis 7 g/tanaman, dan pupuk NPK dosis 50 g/tanaman) dan pemangkasan (tanpa dipangkas, pemangkasan tunas muda, dan pemangkasan tunas tua) sehingga terdapat 12 perlakuan, percobaan diulang sebanyak tiga kali. Variabel yang diamati yaitu: kandungan klorofil, tinggi tanaman, luas daun, jumlah daun dan pertambahan diameter batang. Data pengamatan dianalisis dengan uji F dan uji lanjut dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) respon pemberian pupuk N,P 30 g/tanaman memberikan hasil yang paling baik pada variabel jumlah kandungan klorofil 40,84 cm2, 2) respon perlakuan pemangkasan tunas muda memberikan hasil yang terbaik pada pertambahan diameter batang sebesar 1,81 mm dan 3) tidak adanya kombinasi perlakuan pemupukan dan pemangkasan yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kelengkeng.The research aims to determine: 1) the effect of some optimal doses of NPK fertilizer on the growth and yield of lowland longan varieties of crystal varieties, 2) the effect of various optimal pruning ways on the growth and yield of lowland longan of crystal varieties and 3) the effect of dose NPK fertilizers with various ways of pruning can affect the growth and yield of lowland longan varieties of crystal. This research was conducted in Banjarsari Kulon Village, Sumbang Subdistrict, Banyumas Regency for 4 months starting from April 2017 until August 2017. This research used Completely Randomized Block Design (CRBD) with two factors consisting of various fertilizers (without fertilizer, fertilizer NP dose of 30 g / plant, fertilizer PK dose 7 g / plant, and NPK dose 50 g / plant) and pruning (without pruning, pruning of young shoots, and pruning old shoots) so that there are 12 treatments, repeated trials three times. The variables observed were: chlorophyll content, plant height, leaf area, number of leaves, increase of diameter stem. Observational data were analyzed by F test and continued test with Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at 5% error level. The results showed that 1) the response of fertilizer N, P 30 g / plant gave the best result on the variable of chlorophyll content 40.84 cm2, 2) the response of the young shoots treatment gave the best result on the stem diameter increase of 1.81 mm and 3) the absence of a combination of fertilizer and pruning treatments that can enhance the growth and yield of the plant.
1659221568A1L014071KAJIAN Trichoderma harzianum ISOLAT JAHE DALAM FORMULA CAIR BERBAHAN TEPUNG JAGUNG TERHADAP PENYAKIT REBAH SEMAI (Pythium sp.) PADA BIBIT MENTIMUNPenyakit rebah semai yang disebabkan Pythium sp. merupakan salah satu penyakit utama yang menurunkan produksi mentimun. Penggunaan pestisida sintetis menimbulkan potensi bahaya bagi kesehatan manusia, degradasi lingkungan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan perubahan ekosistem jika tidak ditangani secara tepat. Trichoderma harzianum adalah agensia mapan dan mudah didapatkan sebagai alternatif pengendalian patogen tanaman. Kendala yang dihadapi dalam penerapan mikroba ini adalah medium pembawanya. Tepung jagung merupakan salah satu medium alternatif yang dapat digunakan untuk formula medium cair T. harzianum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi tepung jagung yang tepat untuk medium cair T. harzianum, mengetahui pengaruh aplikasi T. harzianum dalam berbagai konsentrasi medium cair tepung jagung terhadap penekanan penyakit rebah semai, dan terhadap pertumbuhan bibit mentimun.
Penelitian telah dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu in vitro di Laboratorium Perlindungan Tanaman dan in planta di rumah plastik Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman pada bulan September 2017 sampai Januari 2018. Pengujian in vitro menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan, meliputi perlakuan formula cair Potato Dextrose Broth (PDB), tepung jagung konsentrasi 5 g/L, 10 g/L, 15 g/L, dan 20 g/L. Masing-masing perlakuan diulang 5 kali. Pengujian in planta menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 6 perlakuan, meliputi kontrol dan 5 formula T. harzianum. Masing-masing perlakuan diulang 5 kali. Variabel yang diamati meliputi kepadatan konidium, masa inkubasi, kejadian penyakit, area under disease progress curve (AUDPC), potensi tumbuh maksimum, daya kecambah, tinggi tanaman, panjang akar, bobot segar akar, dan bobot segar tanaman.
Hasil penelitian menunjukkan, kepadatan konidium T. harzianum tertinggi pada formula medium cair tepung jagung konsentrasi 20 g/L sebesar 3,67x106 konidium/mL, tetapi belum mampu menyamai T. harzianum dalam medium PDB. Aplikasi T. harzianum yang efektif menekan penyakit rebah semai adalah perlakuan T. harzianum dalam formula cair tepung jagung konsentrasi 15 g/L, yaitu mampu menekan kejadian penyakit 71,43%, menunda masa inkubasi 35,83%, dan nilai AUDPC sebesar 195 %hari.
Damping-off caused by Pythium sp. is one of main cucumber decreasing diseases. The use of synthetic pesticides potential results in hazard to human health, environmental degredation, biological biodiversity loss, and ecosystem changed when the pesticide not handled appropriately. Trichoderma harzianum is settled and easily available agent as plant pathogen control alternative. Problem in the application of this microbe is the carrier media. Corn starch is one of alternative media used for liquid media formula of T. harzianum. This research aimed to determine the right corn starch concentration for T. harzianum liquid media, the effect of the media application on T. harzianum in various concentration of corn starch on suppression of the disease, and on cucumber seedling growth.
The research was conducted in two stages, i.e., in vitro test at the Laboratory of Plant Protection and in planta one at the plastic house, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, from September 2017 up to January 2018. Completely Randomized Design was used in in vitro test with five treatments consisted of liquid formula from Potato Dextrose Broth (PDB), from corn starch with concentration of 5 g L-1, 10 g L-1, 15 g L-1, and 20 g L-1. Each treatment was repeated five times. In in planta one, Randomized Block Design was used with six treatments, consisted of control, and five formulas of T. harzianum. Each treatment was repeated five times. Variables observed were conidia density, incubation period, disease incidence, area under disease progress curve (AUDPC), maximum growth potential, germination, plant height, root length, root fresh weight, and crop fresh weight.
Result of the research showed that the highest T. harzianum conidia density was found in the formula of corn starch with contentration of 20 g L-1 as 3.67x106 conidia mL-1, but it was not similar to T. harzianum in the PDB. The effective application of T. harzianum to suppress the disease was the liquid with concentration of 15 g L-1, indicated by suppressing the disease incidence as 71.43%, delaying incubation period as 35.83%, and AUDPC as 195 %day.
1659319872D1E013257KADAR PROTEIN KASAR, SERAT KASAR DAN BAHAN ORGANIK DAUN UBI JALAR, KEMBANG SEPATU, KACANG PANJANG DAN KACANG TANAH PADA RANSUM RUMINANSIAPenelitian yang berjudul “Kadar protein kasar, serat kasar dan bahan organik daun ubi jalar, daun kembang sepatu, daun kacang panjang dan daun kacang tanah pada ransum ruminansia.”. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kadar protein kasar, serat kasar dan bahan organik yang paling baik dari daun ubi jalar, daun kembang sepatu, daun kacang panjang dan daun kacang tanah. Data diambil pada tanggal 28 Maret sampai 8 April 2017 di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Materi penelitian yang digunakan berupa daun ubi jalar, daun kembang sepatu, daun kacang panjang dan daun kacang tanah, konsentrat yang terdiri dari pollard, bungkil kelapa, onggok, mineral, dedak padi, dan urea. Imbangan kosentrat dengan hijauan yang digunakan adalah 60 : 40. Metode penelitian yaitu eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diuji yaitu P1 (Konsentrat 60% + 40% daun ubi jalar), P2 (Konsentrat 60% + 40% daun kembang sepatu), P3 (Konsentrat 60% + 40% daun kacang panjang), dan P4 (Konsentrat 60% + 40% daun kacang tanah). Peubah yang diukur yaitu kadar protein kasar, serat kasar dan bahan organik. Data yang diperoleh diuji terhadap peubah respon, dilakukan sidik ragam dan kemudian dianalisis menggunakan analisis variansi dan diuji lanjut dengan uji beda nyata jujur (BNJ).Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) pada uji kandungan protein kasar, serat kasar dan bahan organik. Berdasarkan uji lanjut beda nyata jujur dengan membandingkan nilai tengah perlakuan didapatkan hasil bahwa kandungan protein kasar masing- masing perlakuan berbeda nyata (P1 , P2, P3, P4). Kandungan serat kasar masing- masing perlakuan berbeda nyata (P1, P2, P3, P4) kandungan bahan organik masing masing perlakuan juga beda nyata(p1 p2 p3 p4). Kesimpulan dari penelitian menyatakan bahwa P1 (daun ubi jalar 40% + konsentrat 60%) merupakan pakan yang paling baik untuk digunakan sebagai pakan alternatif pada saat musim kemarau.This research titled “Crude protein, Crude fiber, and Organic matter of sweet potato leaf, Hibiscus rosa-sinensis leaf, longbean leaf, and peanut leaf in ruminant rations” was conducted on March 28 to April 8, 2017 at Animal Feed and Nutrition Science Laboratory of Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The aim of this study was to determine the levels of crude protein, crude fiber, and organic matter contents of ruminant rations which was added with sweet potato leaf, Hibiscus rosa-sinensis leaf, longbean leaf, and peanut leaf. The material used in this study was beef cattle concentrate contained pollard, coconut meal, cassava by-product meal, mineral, rice bran, and urea. The treatments used were the addition of 40% of sweet potato leaf (P1), Hibiscus rosa-sinensis leaf (P2), longbean leaf (P3), and peanut leaf (P4). The method used was experimental method using Completely Randomized Design (CRD) with five replications on each treatment. Data were analyzed using Analysis of Variance with Tukey’s Test. The analysis of variance showed that there was a highly significant (P<0.01) effect of treatments on crude protein, crude fiber, and organic matter contents. The Tukey’s Test showed that there was a significant (P<0.05) effect on crude protein, crude fiber, and organic matter contents. Sweet potato leaf in beef cattle of heat amounts can be used ration as an alternative feed during dry season.
1659419869E1A013300PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN PENGGUNA JASA KEBUGARAN CELEBRITY FITNESS BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN (Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor 184 K/Pdt.Sus-BPSK/2016)Kesehatan adalah modal yang sangat penting dalam melakukan segala aktivitas sehari-hari. Olahraga adalah salah satu cara dalam menjaga kesehatan. Saat ini sudah banyak didirikan pusat-pusat kebugaran, salah satunya Celebrity Fitness. Namun dalam kenyataanya pusat-pusat kebugaran tersebut kurang memperhatikan kewajiban dan pertanggungjawaban yang dilaksanakan, sehingga terlaksana tidak sebagaimana mestinya. Seperti dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 184 K/Pdt.Sus-BPSK/2016 Steven Roy sebagai konsumen tidak melaksanakan kewajibannya kepada pihak Celebrity Fitness selaku pelaku usaha, maka Celebrity Fitness mempunyai alasan untuk tidak memberikan perlindungan terhadap keberlanjutan atas haknya sebagai anggota Celebrity Fitness. Berdasarkan hal ini penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang Putusan Mahkamah Agung Nomor 184 K/Pdt.Sus-BPSK/2016.
Metode pendekatan yang digunakan adalah metode pendekatan yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan analisis. Data yang digunakan adalah data sekunder yang berupa peraturan perundang-undangan, buku literatur, dan situs-situs internet. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, dimana menjelaskan uraian-uraian fakta hukum kemudian dikaitkan dengan hasil penelitian yang ada.
Putusan Hakim Mahkamah Agung dalam menerapkan hukumnya sudah tepat karena Celebrity Fitness selaku pelaku usaha sudah memenuhi seluruh kewajibannya kepada Steven Roy dan member Celebrity Fitness lainnya yaitu telah beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya, memberikan informasi yang benar, jelas, jujur dan tidak memperlakukan konsumen secara diskriminatif. Hal tersebut telah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Keolahragaan.

Kata kunci : Perlindungan Hukum, Perlindungan Konsumen, Konsumen Fitness Center.
The health is the important asset in daily activity. Phisical exercise is one of the ways to maintance the health. Today there are so many fitness centers founded, including Celebrity Fitness. Meanwhile, in the fact those fitness centers tend to be irresponsible for implementation obligations. Acordingly not worked as it should be. As in the Decision of Supreme Court Number 184 K/Pdt.Sus-BPSK/2016 Steven Roy doesn’t do his obligations as a customer to Celebrity Fitness as a business firm. Therefore, Celebrity Fitness has a reason not to protect his due as a member of Celebrity Fitness. Based on this particular metter writer interested to researching through Decision of Supreme Court Number 184 K/Pdt.Sus-BPSK/2016.
The approach method which be used is normative juridical with legislative and analitical approach. The data which be used is secondary source are legislative rules, literary books, and internet website. The data analysis is description of legal fact that will be atributed to result.
The Decision of Supreme Court in applying punishment is proper. Because Celebrity Fitness as a business firm has provide entire obligations to Steven Roy and other members Celebrity Fitness, by doing business with good intentions, giving the right informations, being assertive, honest, and treathing customers without any discriminations. Apropriateness as in Consumer Protection Law Number 8/1999, Law of Republic Indonesia Number 3/2005 as regards National sports system and Goverment Regulation Number 16/2007 with reference to sports event.


Keywords : Law protection, consumer righ protection, consumer fitness center.
1659521379D1E014155EFEK PENAMBAHAN FERMEHERBAFIT ENKAPSULASI DALAM PAKAN TERHADAP PANJANG DAN PERSENTASE BOBOT USUS AYAM BROILERPenelitian bertujuan untuk mengetahui efek penambahan fermeherbafit enkapsulasi terhadap panjang dan persentase bobot usus ayam broiler. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 80 ekor DOC ayam broiler strain MB (Multi Breeder) 202 Platinum yang dipelihara sampai umur 35 hari. Percobaan dilakukan dengan metode eksperimental in vivo dan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Rancangan terdiri dari 5 perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali dengan masing-masing ulangan terdiri dari 4 ekor ayam. Perlakuan terdiri dari R0 = penggunaan 0% fermeherbafit enkapsulasi; R1 = penggunaan 1,5% fermeherbafit non-enkapsulasi, R2 = penggunaan 1,5% fermeherbafit enkapsulasi, R3 = penggunaan 3% fermeherbafit enkapsulasi, dan R4 = penggunaan 4,5% fermeherbafit enkapsulasi dalam pakan. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penambahan fermeherbafit enkapsulasi dalam pakan berpengaruh tidak nyata (p>0.05) terhadap panjang usus duodenum, jejenum dan ileum. Penambahan fermeherbafit enkapsulasi dalam pakan berpengaruh tidak nyata (P>0.05) terhadap persentase bobot usus jejenum dan ileum, tetapi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap persentase bobot usus duodenum. Uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) terhadap persentase bobot usus duodenum menunjukkan jika R1 berbeda nyata dengan R3. Dapat disimpulkan bahwa penambahan fermeherbafit hingga level 3% dalam pakan mampu menaikkan persentase bobot usus duodenum hingga 20,7% per bobot hidup. Akan tetapi, penambahan fermeherbafit enkapsulasi sampai level 4,5% dalam pakan menghasilkan panjang usus duodenum, jejenum dan ileum serta persentase bobot usus jejenum dan ileum yang relatif sama.The purpose of this study was to determine the effects of Fermeherbafit Encapsulation addition in Feed to the Length and Percentage of Intestine Weight of Broiler Chickens. The materials used in this research were 80 DOC broiler chickens strain Multi Breeder (MB) 202 Platinum which are maintained until the age of 35 days. The experiments were performed with in vivo experimental methods and used Completely Randomized Design (CRD). The design consisted of 5 treatments, and each treatment was repeated four times with each replication contained four chickens. The treatment consisted of R0 = feed contained of 0% fermeherbafit encapsulation; R1 = feed contained of 1,5% fermeherbafit non-encapsulation; R2 = feed contained of 1,5% fermeherbafit encapsulation; R3 = feed contained of 3,0% fermeherbafit encapsulation; and R4 = feed contained of 4,5% fermeherbafit encapsulation. Analysis of variance showed that the used of fermeherbafit encapsulation in feed not significant (P>0,05) on length of duodenum, jejenum and ileum intestines. The used of fermeherbafit encapsulation in feed not significant (P>0,05) to percentage of the weight of jejenum and ileum intestines but significant (P<0,05) to percentage of the weight of duodenum intestines. The Further tested of Honesty Significant Difference (HSD) on percentage of the weight of duodenum intestines showed that R1 was significant different with R3. It could be concluded that the addition of fermeherbafit encapsulation up to levels 3% in the feed was able to raised the percentage of the weight of duodenum intestine up to 20,7% per life of weight. However, the addition of fermeherbafit encapsulation up to levels 4.5% in feed produced the length of duodenum, jejenum dan ileum intestines, as well as the percentage of the weight of jejenum and ileum intestines are relatively similar.
1659621380D1E014153SIFAT ORGANOLEPTIK DAN KEKENYALAN BAKSO DAGING SAPI
DENGAN BAHAN PENGENYAL YANG BERBEDA
Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh dari penambahan bahan pengenyal yang berbeda pada bakso daging sapi terhadap sifat organoleptik dan kekenyalan. Materi yang digunakan adalah daging sapi 5000 gram, Sodium Tripolifosfat (STPP) 12,5 gram, karagenan 50 gram, agar-agar 50 gram, gelatin 50 gram. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) untuk sifat organoleptik dengan 25 panelis dan Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk kekenyalan dengan 4 perlakuan dan 5 kali ulangan. Penggunaan bahan pengenyal yang berbeda sebagai perlakuan, terdiri dari 4 yaitu P0 = 0,25 % STPP, P1 = 1 % karagenan, P2 = 1% agar-agar, dan P3 = 1% gelatin. Variabel yang diamati adalah sifat organoleptik dan kekenyalan. Hasil penelitian menunjukan bahwa rataan skala sifat organoleptik rasa dari P0, P1, P2 dan P3 masing-masing adalah 13,392 (lebih enak); 13,926 (lebih enak); 10,108 (enak); dan 12,006 (enak). Rataan skala sifat organoleptik tekstur dari P0, P1, P2 dan P3 masing-masing adalah 12,878 (agak halus); 15,014 (agak halus); 12,553 (agak halus); dan 13,454 (agak halus). Rataan skala sifat organoleptik tingkat kesukaan dari P0, P1, P2 dan P3 masing-masing adalah 13,288 (lebih suka); 14,200 (lebih suka); 9,348 (suka); dan 12,608 (lebih suka). Rataan nilai kekenyalan dari P0, P1, P2 dan P3 masing-masing adalah 0,0609., 0,0614., 0,0577 dan 0,0645 mm/g/dt. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penggunaan bahan pengenyal yang berbeda berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap sifat organoleptik (rasa, tekstur, tingkat kesukaan) tetapi berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap kekenyalan bakso daging sapi. Kesimpulan, penambahan bahan pengenyal karagenan 1% memiliki rasa yang paling enak, tekstur yang paling halus dan tingkat kesukaan yang paling disukai oleh panelis. Penambahan bahan pengenyal (STPP, karagenan, agar-agar dan gelatin) memiliki tingkat kekenyalan yang sama.This study aimed to examine the effect of the addition of additional ingredients on beef meatball to organoleptic properties and elasticity. The material used in this study was 5000 grams of beef, 12.5 gram Sodium Tripolyphosphate (STPP), 50 gram carrageenan, 50 gram jelly, 50 gram gelatin. The method used was experimental method using Group Randomized Design (GRD) to organoleptic properties with 25 panelists and Completely Randomized Design (CRD) to elasticity with 4 treatments and 5 replications. The use of different fillers material as treatment, consisting of 4 is P0 = 0.25% STPP, P1 = 1% carrageenan, P2 = 1% jelly, and P3 = 1% gelatin. The variables observed were organoleptic properties and elasticity. The result showed that the mean scale of taste organoleptic properties of P0, P1, P2 and P3 were 13.392 (better), 13.926 (better), 10.108 (delicious), and 12.006 (delicious) respectively. The mean scale texture organoleptic properties of P0, P1, P2 and P3 were 12.878 (somewhat subtle); 15.014 (somewhat subtle); 12.553 (somewhat subtle); and 13.454 (somewhat subtle) respectively. The mean scale of the level of pleasure organoleptic properties of P0, P1, P2 and P3 were 13.288 (prefer); 14.200 (prefer); 9.348 (like); and 12.608 (prefer) respectively. The mean of the elasticity of P0, P1 P2 and P3 were 0.0609, 0.0614, 0.0577 and 0.0645 mm/g/dt respectively. The result of variance analysis showed that the use of different thermal ingredients very significant effect (P<0,01) on organoleptic properties (taste, texture, levels of pleasure) but had no significant effect (P>0,05) on elasticity of beef meatball. The conclusions, addition of 1 % carrageenan has the most delicious taste, the most subtle textures and the most levels of pleasure favored by panelist. Addition of the additional ingredients (STPP, carrageenan, jelly and gelatin) has the same levels of elasticity.
1659721383H1A012012KARAKTERISTIK BIOPLASTIK BERBAHAN DASAR PATI
SUKUN (Artocarpus altilis) DENGAN PENAMBAHAN PLASTICIZER SORBITOL
ABSTRAK
Penelitian tentang pemanfaatan sukun untuk pembuatan bioplastik dengan menggunakan sorbitol sebagai plasticizer telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan plasticizer sorbitol terhadap sifat fisik bioplastik dari pati sukun yang dihasilkan dengan mengetahui persentase penurunan berat bioplastik dari pati sukun pada uji biodegradasi. Bioplastik dari pati sukun dibuat dengan penambahan sorbitol sebagai plasticizer dengan 2 variasi konsentrasi yaitu 0% dan 30% dari berat pati untuk memperbaiki sifat fisiknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film bioplastik yang dihasilkan memiliki nilai higroskopisitas antara 20-30,43%, kelarutan dalam air antara 19,5-28,6%, dan kelarutan dalam asam antara 32,35-46,88%. Uji biodegradasi dilakukan dengan mengubur film dalam wadah berisi tanah dengan wakru penguburan 10 hari. Persentase penurunan berat film setelah proses biodegradasi antara 37,74-40%.
The research about the utilization of breadfruit for bioplastics using Sorbitol as plasticizer had been done. This research’s purpose was to know the effect of sorbitol plasticizer addition toward the physical properties of bioplastics and to know the percentage of bioplastics weight loss from the breadfruit starch using biodegradation test. Bioplastics was made from breadfruit starch with addition sorbitol as plasticizer with 2 different concentrations 0% and 30% from the weight starch to repair bioplastics physical properties. The results showed that bioplastics films which were produced had hygroscopicity values 20-30.43%, water solubility 19.5-28.6%, and acid solubility 32.35-46.88%. Biodegradation test was done by burying the film in a soil-filled container during 10-day burial time. The percentage of film’s weight loss after degradation process between 37.74-40%.
1659821385A1L013179Aplikasi Pupuk Mikoriza terhadap Pertumbuhan Anggrek Dendrobium dengan Berbagai Jenis Media TanamPenelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui dosis pupuk mikoriza yang paling tepat untuk pertumbuhan anggrek, 2) mengetahui jenis media tanam terbaik untuk pertumbuhan anggrek, dan 3) mengetahui kombinasi terbaik antara pupuk mikoriza dan jenis media tanam. Penelitian dilaksanakan di screen house, Desa Datar, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas dan Laboratorium Perlindungan Tanaman Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto pada bulan April sampai September 2017. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah dosis mikoriza terdiri dari tanpa mikoriza, 10 g/tanaman (20 spora/tanaman), dan 20 g/tanaman (40 spora/tanaman). Faktor kedua adalah jenis media tanam tediri arang sekam, pakis, dan kadaka. Terdapat 9 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan, sehingga diperoleh 27 unit percobaan. Variabel yang diamati yaitu pertambahan tinggi tanaman, pertambahan jumlah daun, pertambahan luas daun, jumlah akar, panjang akar terpanjang, jumlah anakan baru, persentase infeksi mikoriza dan kandungan klorofil. Hasil penelitan menunjukkan bahwa 1) pupuk mikoriza pada dosis 10 g/tanaman (20 spora/tanaman) mampu meningkatkan jumlah akar dan persentase infeksi akar tanaman anggrek dendrobium. 2) penggunaan media tanam arang sekam, pakis, dan kadaka memberikan pertumbuhan tanaman anggrek yang sama. 3) Tidak terdapat interaksi antara pupuk dan jenis media, dan belum diperoleh kombinasi yang tepat untuk pertumbuhan tanaman anggrek dendrobium.This research aims to study 1) the most suitable dosage of mycorrhiza fertilizers for orchid growth, 2) the best planting media types for orchid growth, and 3) the best combination between mycorrhiza fertilizer and planting media type. The research was conducted in screen house, Datar Village, Sumbang Subdistrict, Banyumas Regency and Plant Protection Laboratory of Jenderal Soedirman University, Purwokerto from April to September 2017. This experiment design was Randomized Complete Block Design (RCBD) with 2 factors. The first factor was a dose of mycorrhizal consisting of without mycorrhiza fertilizer 10 grams (20 spores) and 20 grams (40 spores). The second factor was the type of planting medium charcoal husk, fern, and kadaka. There were 9 treatment combinations with 3 replications, resulting in 27 experimental units. Variables observed were plant height increase, leaf number increase, leaf area increase, root number, longest root length, number of new tillers, percentage of mycorrhiza infection and chlorophyll content. The results showed that 1) mycorrhiza fertilizers at doses 10 g/plant (20 spores/plant) was able to increase the number of roots and the percentage of root infections of dendrobium orchid plants. 2) the use of charcoal, fern, and kadaka gives the same growth of orchid plants. 3) there was no interaction between the fertilizer and the type of media, because it has not obtained the right combination for the growth of dendrobium orchid plants.
1659919862F1B111012PENGARUH KAPASITAS DAN JIWA KEWIRAUSAHAAN TERHADAP PENINGKATAN KINERJA PENGURUS KOPERASI SERBA USAHA DI KECAMATAN PURBALINGGA KABUPATEN PURBALINGGAPenelitian ini dilatarbelakangi oleh tujuan pengembangan ekonomi yang berbasis pada potensi local dengan menggunakan koperasi. Sesuai dalam UU Nomor 25 Tahun 1992, salah satu fungsi koperasi adalah untuk mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi sosialnya. Pada kenyataannya, kinerja organisasi tergantung pada kinerja individu pegawai. Pada satu sisi, kinerja individu dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kemampuan/kapasitas dan keterampilan (mental dan fisik), dan juga motivasi. Itu berarti untuk meningkatkan kinerja pengurus koperasi sangat dibutuhkan kapasitas dan juga motivasi berjiwa kewirausahaan. Sehingga, Menjadi menarik untuk dipertanyakan peningkatan kinerja pengurus koperasi serba usaha di Kecamatan Purbalingga.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survey, dan teknik analisis dengan menggunakan korelasi Kendall Tau-b, konkordansi Kendall W, dan Regresi Ordinal untuk mengetahui pengaruh antara variabel bebas yaitu kapasitas individu, dan jiwa kewirausahaan dengan variabel terikat yaitu kinerja. Lokasi penelitian KSU di Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, yang sasarannya anggota koperasi, pengurus koperasi (terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara), karyawan koperasi, serta pengawas koperasi. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik disproportionate stratified random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner,studi documenter, dan wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja Pengurus koperasi (Y) menunjukkan tinggi. Hal ini dibuktikan oleh data yang menyatakan bahwa 47 orang responden dari 92 menyatakan kinerja pengurus koperasi adalah tinggi. Sedangkan 28 orang menilai sedang dan 17 orang menilai rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kapasitas individu (X1) berpengaruh terhadap kinerja Pengurus dan Pegawai Koperasi Serba Usaha di Kecamatan Purbalingga sebesar 46,8 %, Jiwa Kewirausahaan (X2) berpengaruh terhadap kinerja Pengurus dan Pegawai Koperasi Serba Usaha di Kecamatan Purbalingga sebesar 58%. Seluruh hubungan tersebut memiliki arah positif dan juga signifikan. Kemudian, secara bersama-sama kapasitas, dan jiwa kewirausahaan berpengaruh terhadap kinerja Koperasi Serba Usaha di Kecamatan Purbalingga sebesar 65,6%. Hal tersebut berarti bahwa semakin besar tingkat kapasitas, dan jiwa kewirausahaan, maka semakin besar pula kinerja pengurus dan pegawai Koperasi Serba Usaha di Kecamatan Purbalingga, begitu juga sebaliknya.
This research is motivated by the purpose of economic development based on local potential by using cooperatives. In accordance with Law No. 25 of 1992, one of the functions of cooperatives is to develop the potential and economic capacity of members in particular and society in general to improve the social economic welfare. In fact, organizational performance depends on the performance of individual employees. On the one hand, individual performance is influenced by several factors such as ability / capacity and skill (mental and physical), as well as motivation. That means to improve the performance of cooperative management is needed capacity and also motivation entrepreneurial spirit. Thus, it becomes interesting to question the performance improvement of the all-round business cooperative management in Purbalingga sub-district.
The research method used is survey method, and analytical technique using Kendall Tau-b correlation, Kendall W concordance, and Ordinal Regression to know the influence between independent variable that is individual capacity, and entrepreneurial spirit with dependent variable that is performance. The research location of KSU in Purbalingga sub-district, Purbalingga District, which targeted cooperative members, cooperative management (consisting of chairman, secretary, and treasurer), cooperative employees, and cooperative supervisor. Sampling technique using disproportionate stratified random sampling technique. Data collection using questionnaires, documentary studies, and interviews.
The results showed that the performance of Cooperative Management (Y) showed high. This is evidenced by data stating that 47 respondents from 92 stated the performance of cooperative management is high. While 28 people rated moderate and 17 people rate low. The results showed that the individual capacity (X1) had an effect on the performance of the Management and Employees of Multipurpose Cooperative in Kecamatan Purbalingga by 46.8%, Entrepreneurship Soul (X2) had an effect on the performance of the Management and Employees of Multipurpose Cooperative in Purbalingga Sub-District by 58%. The whole relationship has a positive and significant direction. Then, jointly capacity, and entrepreneurial spirit affect the performance of Multipurpose Cooperative in Purbalingga Sub-District by 65.6%. This means that the greater the capacity level, and the entrepreneurial spirit, the greater the performance of administrators and employees of the Multipurpose Cooperative in Purbalingga sub-district, and vice versa
1660019868D1E013131ANALISIS EKONOMI RUMAH TANGGA PETERNAK KAMBING PERAH DI KECAMATAN DUKUHTURI KABUPATEN TEGALTujuan penelitian ini adalah : 1) Menganalisis ekonomi rumah tangga peternak kambing perah meliputi sumber pendapatan rumah tangga dan pengeluaran rumah tangga peternak kambing perah; 2) Mengetahui kontribusi pendapatan usaha ternak kambing perah terhadap pendapatan rumah tangga peternak; 3) Menganalisis faktor sosial (skala usaha, umur peternak dan lama beternak) yang berpengaruh terhadap kontribusi pendapatan usaha kambing perah. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode survei terhadap peternak kambing perah yang ada di Kecamatan Dukuhturi. Teknik penetapan sampel wilayah yang dilakukan secara purposive sampling (sengaja) dengan memilih daerah yang mempunyai populasi kambing perah tertinggi. Sampel peternak diambil secara sensus di Kecamatan Dukuhturi dengan jumlah responden 21 peternak. Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif, pendapatan usaha ternak kambing perah di analisis secara cash flow, kontribusi pendapatan usaha ternak kambing dihitung dengan membandingkan pendapatan ternak kambing perah terhadap pendapatan rumah tangga peternak. Sedangkan untuk mengetahui faktor sosial (skala usaha, umur peternak dan lama beternak) yang berpengaruh terhadap kontribusi pendapatan usaha kambing perah digunakan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa : 1) Ekonomi rumah tangga peternak meliputi sumber pendapatan dan alokasi pengeluaran rumah tangga peternak. Sumber pendapatan rumah tangga peternak terdiri dari usaha kambing perah 66,33%, usaha ternak non kambing perah 2,47%, usaha tani 1,84% dan usaha non tani-ternak 29,36% dengan total pendapatan rumah tangga sebesar Rp. 10.326.198,-. Alokasi pengeluaran rumah tangga ditujukan untuk konsumsi pokok pangan 92,71%, konsumsi non pangan 2,58% dan investasi 4,71% dengan total alokasi pengeluaran sebesar Rp. 2.524.666,-; 2) Kontribusi pendapatan usaha kambing perah terhadap pendapatan rumah tangga sebesar 66,33%; 3) Faktor sosial (umur, lama beternak dan skala usaha) tidak berpengaruh terhadap kontribusi pendapatan yang disebabkan oleh kemampuan fisik, cara berpikir, dan persaingan usaha.The objectives of this study were: 1) to analyze the household economy which include dairy goat farmer household income and household expenditure; 2) to know the contribution of dairy goat farming to the household income; 3) to analyze social factors (business scale, farmers's age and farming experience) that affect the contribution of income of dairy goat.The research was conducted by using survey method of dairy goat farmer in Dukuhturi District. Determination technique of sample area conducted by purposive sampling (deliberately) by selecting area having highest dairy goat population. The sample of farmer was taken by census in Dukuhturi sub-district with 21 respondents. Data were analyzed by descriptive analysis, dairy business income in cash flow analysis, contribution of goat farming income with dairy goat yield to household income of farmer. Meanwhile, to know social factors (business scale, breeder's age and long breeding) that affect the contribution of multiple business profit. The result of the research showed that: 1) the farm household's economy includes the source of income and the allocation of household expenditure of farmer. Source of income farmer household consist of 66.33% from dairy goat business, 2.47% non goat livestock business, 1.84% cattle farming and non farm-cattle business 29.36% with total household income of Rp. 10.326.198,-; 2) the contribution of dairy goat income to total family income was 66.33 percent; 3) social factors (business scale, farmers's age and farming experience) have no influence either jointly or partially to income contribution caused by physical ability, way of thinking and business competition.