Artikelilmiahs
Menampilkan 1.561-1.580 dari 48.725 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1561 | 7589 | G1D010030 | Perkembangan Kognitif Anak Retardasi Mental Pada Pemberian Media Playdough di SLB C Yakut Purwokerto | Retardasi mental (RM) merupakan keadaan dimana anak mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan. Salah satu pertumbuhan dan perkembangan yang mengalami perlambatan adalah kemampuan kognitif. Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk melatih kemampuan kognitif. Penelitian ini memberikan pembelajaran melalui media playdough untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak retardasi mental. Playdough merupakan bahan campuran dari tepung, air, garam dan minyak yang bersifat aman untuk anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media belajar playdough terhadap kemampuan kognitif anak retardasi mental. Penelitian ini menggunakan pre-experiment dengan rancangan one group pre-test post-test design. Anak dengan retardasi mental dihari pertama melakukan pretest tentang angka dan huruf untuk mengukur kemampuan kognitif anak sebelum pemberian media belajar playdough. Kemudian di hari ke 2-6 anak diajarkan tentang angka dan huruf sesuai dengan kurikulum mereka. Di hari ke 7 dilakukan post test mengenai pelajaran yang telah dilakukan di hari ke 2-6. Data yang terkumpul dianalisa secara statistik dengan menggunakan uji Nonparametrik wilcoxon. Uji wilcoxon dipilih karena data tidak terdistribusi normal. Ada pengaruh pemberian media belajar playdough terhadap kemampuan kognitif anak retardasi mental dengan nilai p=0,001 (p<0,5). Hal tersebut dikonfirmasi dari peningkatan nilai yang didapat pada saat post test dengan selisih nilai pretest dan post test sebesar 2,89. Playdough memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan kognitif anak retardasi mental yang ditunjukan dengan lebih tingginya nilai post test yang didapat siswa dibandingkan nilai pretest. | Mental retardation is a condition in which children experience a delay in growth and development . One of the delay in growth and development is cognitive development. There are many ways that can be done to enhance cognitive abilities. This research was to find out the effect of Playdough for Children with Mental Retardation at Yakut C Special School in Purwokerto, Banyumas. This study is a pre - designed experiment with one group pre - test post-test design. Sampling method used is total sampling. Sample size are 17 childrenf rom class 1 and 2. The results showed that the result of statistic test with Wilcoxon was got p=0,001 (p<0,5). It was showed from the increasing of the value obtained in post-test with the number of 2,89. There was a significant effect on the cognitive development of mental retarded children which was showed with higher score obtained by students post-test than pretest at Yakut C Special School in Purwokerto. | |
| 1562 | 7537 | H1L008081 | Rancang Bangun Sistem Informasi Inventori dan Keuangan Menggunakan Visual Basic 6.0 (Studi Kasus di Phone Cell Semarang) | Dengan adanya kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang informasi komputer sangat berperan penting dalam pembuatan sistem informasi. Sebagai salah satu contoh toko ponsel dan aksesoris, Phone Cell yang berlokasi di Plaza Matahari Semarang dituntut untuk mampu mencari keuntungan dalam bentuk materi dengan menekan dan mengatur berbagai anggaran pengeluaran, kemudian mengusahakan pemasukan keuangan dalam jumlah yang lebih besar dari apa yang dianggarkan diharapkan dapat memberikan layanan yang memuaskan bagi para pelanggannya. Untuk mencapai tujuan tersebut maka diperlukan suatu sistem informasi inventori dan keuangan guna kemudahan serta keamanan dalam proses transaksi dan pengelolaan inventori. Dengan menggunakan metode waterfall sebagai basis dari pengembangan sistem, hal ini memungkinkan sistem untuk selalu berkembang baik dari segi basis data maupun dari segi data yang terdapat pada sistem tersebut. | With the get along and development of science, above all in the field of computer information plays an important role in the making of information system. As an example the phone cell and accessories store, the phone cell store where is located in “Plaza Matahari”Semarang was demanded to be able to look for the profit in the form of material by pressing and managing the variety of budgets expenditures, then carrying on financial inclusion on the bigger number from what has been calculated, it is hoped that it could give the best service for the customers. To achieves these objectives, it is needed a system of inventory information and financial to the ease and security on the transaction progressing and inventory management. By using waterfall method as the base from development system, these things enable for the system to grow up well as usual in term of data base or in term of data which is contained on the system. | |
| 1563 | 7591 | E1A009038 | PERANAN BARANG BUKTI SAMPEL BULU KAMBING DALAM TINDAK PIDANA PENCURIAN HEWAN TERNAK ( Studi Putusan No. 83/ Pid.B/ 2012/ PN.Bi ) | ABSTRAK Penelitian ini mengambil judul “Peranan Sampel Bulu Kambing Dalam Tindak Pidana Pencurian Hewan Ternak (Studi Putusan No. 83/Pid.B/2012/Pn.Bi)”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Untuk mengetahui peranan barang bukti sampel bulu kambing dalam Putusan Nomor:83 /Pid.B/2012/PN.Bi. dan pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap tindak pidana pencurian hewan ternak pada kasus Putusan Nomor : 83 /Pid.B/2012/PN.Bi.. Metode penelitian yang dipakai adalah yuridis normatif dan spesifikasi penelitian adalah sinkronisasi hukum. Metode pengumpulan data dengan inventarisasi peraturan undang-undang dan metode analisa data menggunakan normatif kualitatif. Berdasarkan studi putusan dapat disimpulkan bahwa : peranan barang bukti sampel bulu kambing dalam Putusan Nomor:83 /Pid.B/2012/PN.Bi. adalah sebagai bukti pendukung yang menambah keyakinan hakim menjatuhkan Putusan terhadap terdakwa. Pertimbangan hukum hakim menjatuhkan pidana terhadap Putusan Nomor : 83 /Pid.B/2012/PN.Bi., yaitu: 1) Pertimbangan Yuridis (Pasal 363 ayat (1) ke-1, dan ke-3 KUHP tentang "pencurian dengan pemberatan” dan Pasal 183 dan Pasal 184 KUHAP), 2) Pertimbangan Sosiologis (Hal-hal yang memberatkan: Perbuatan Terdakwa sangat meresahkan masyarakat dan hal-hal yang meringankan: terdakwa belum pernah dihukum, terdakwa mengakui perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya, terdakwa merupakan tulang punggung keluarga, dan terdakwa belum menikmati hasil perbuatannya). Kata Kunci : barang bukti, bulu kambing, pencurian hewan ternak | ABSTRACT The title of this research is “The Function Goat feather as Exhibit on the crime of Theft (Study of verdict No. 83/Pid.B/2012/Pn.Bi)”. The aim of this research is to find out the function Goat feather as Exhibit on the crime of Theft, and to investigation consideration of the judge in deciding the criminal theft. Applied research methods and specifications are normative juridical scrutiny is syncing law. Methods of data collection based on the rule of law, and normative method of qualitative analysis. Base on the research can conclusion that the Goat feather as Exhibit on the crime of theft in verdict No. 83/Pid.B/2012/Pn.Bi have support exhibit function. The proof tools will be used in consideration of the judge to decide the matter. There are several consideration of the judge in deciding the criminal theft to decide No. 83/Pid.B/2012/Pn.Bi are 1) Juridical Considerations (Article 363 paragraph (1) of the 1st, and the 3rd of the KUHAP) about theft by weighting 2) Sociologists Considerations, such as the defendant act upsetting people and defendant has not been convicted, defendant admitted his actions and promised not to repeat his actions. Keywords : Exhibit, Goat feather, crime of theft | |
| 1564 | 7101 | H1E009001 | IDENTIFIKASI SISTEM PANAS BUMI BAWAH PERMUKAAN DENGAN METODE GEOLISTRIK TAHANAN JENIS DAERAH PROSPEK PANAS BUMI CIPARI KABUPATEN CILACAP | Identifikasi sistem panas bumi bawah permukaan di daerah prospek panas bumi Cipari Kabupaten Cilacap telah dilakukan dengan metode geolistrik tahanan jenis secara vertikal (sounding) dan lateral (mapping). Akuisisi data menggunakan Naniura Resistivitymeter model NRD 22S dengan konfigurasi Wenner dan Schlumberger. Interpretasi data diolah dengan menggunakan software Res2DINV32 dan Progress 3.0 yang menghasilkan nilai resistivitas batuan bawah permukaan. Berdasarkan data pada model 2D menunjukkan bahwa untuk lintasan 1 kecendrungan nilai resistivitas cukup kecil yaitu berkisar antara 1,53-7,33 Ωm yang mengarah dari Timur ke Barat. Pada lintasan 2 terdapat nilai resistivitas yang cukup kecil yaitu berkisar antara 1,44-5,92 Ωm yang mengarah dari arah Selatan ke Utara, nilai resistivitas yang cukup kecil ini diduga berkaitan dengan sumber panas bumi. Batuan-batuan yang menyusun di bawah permukaan berupa endapan alluvium, lempung dan pasir. | Subsurface identification of the geothermal system at the geothermal prospect of Cipari, Cilacap regency has been carried out by geoelectrical resistivity vertically (sounding) and laterally (mapping) methods. The data acquisition processes use a Resistivitymeter Naniura with the type of 22S NRD with the Wenner and Schlumberger configurations. Data interpretation is processed by Res2DINV32 and Progress 3.0 softwares resulting in the rock subsurface resistivity values. Based on the 2D model, for the line 1 the resistivity value is relatively small is around 1.53 to 7.33 Ωm, which leads from East to West. In the line 2 there are also small resistivity value of 1.44 to 5.92 Ωm, which leads from south to north. Rocks formatting the subsurface are composed from alluvium, clay and sand sediment. | |
| 1565 | 7590 | F1D009048 | GERAKAN SUKU BADUY LUAR DALAM MEMPERJUANGKAN SUNDA WIWITAN SEBAGAI AGAMA YANG DIAKUI DI INDONESIA | Penelitian ini membahas tentang perjuangan komunitas Suku Baduy Luar dalam memperjuangkan Sunda Wiwitan sebagai agama yang diakui di Indonesia. Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah melihat bagaimana strategi dan proses perjuangan komunitas suku Baduy Luar, serta menjelaskan faktor kontekstual pendorong dan penghambat gerakan komunitas Suku Baduy Luar dalam memperjuangkan Sunda Wiwitan sebagai agama yang diakui di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman mengenai gerakan sosial politik komunitas suku Baduy Luar dalam memperjuangkan Sunda Wiwitan sebagai agama yang diakui di Indonesia. Hasil dari penelitian ini Gerakan ini muncul setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan baru, yaitu kebijakan E-KTP. Dengan di terapkannya kebijakan E-KTP tersebut, mengakibatkan Sunda Wiwitan tidak dapat lagi di cantumkan dalam E-KTP suku Baduy Luar. Hal ini kemudian mengundang kekecewaan sehingga mendorong untuk melakukan sebuah gerakan. Dalam proses gerakannya itu sendiri, komunitas suku Baduy Luar menggunakan beberapa strategi diantaranya adalah strategi advokasi dalam strategi ini komunitas suku Baduy di bantu oleh Kasmin selaku anggota DPRD Propinsi Banten dan Imam Prasojo selaku sosiolog UI. Untuk bentuk nyata dari strategi advokasi yang dilakukan komunitas suku Baduy Luar dengan cara menyurati instansi pemerintah daerah hingga Kementerian Dalam Negeri. Selain menggunakan strategi advokasi komunitas suku Baduy Luar juga menggunakan strategi lobbiying, dengan cara medekati para aktor lokal baik itu Kepala Daerah Kabupaten Lebak , anggota DPRD Kabupaten Lebak, hingga Gubernur Banten untuk di buatkan PERDA khusus agar Sunda Wiwitan dapat kembali di cantumkan dalam KTP. Namun, meskipun telah berjalan 3 tahun dari tahun 2010 akhir hingga penelitian ini berlangsung di tahun 2013 gerakan ini belum mendapatkan hasil yang di inginkan. Kesimpulan yang didapat dalam penelitian ini adalah kepatuhan komunitas suku Baduy Luar terhadap Sunda Wiwitan yang sangat kuat, membuat komunitas suku Baduy Luar menuntut Sunda Wiwitan diakui sebagai agama dan dapat di cantumkan dalam kolam agama di KTP. Tujuannya agar mereka mempunyai suatu pengaman yang melindungi mereka saat menjalankan ajaran Sunda Wiwitan, karena dengan tidak memiliki identitas agama dalam KTP membuat komunitas suku Baduy Luar khawatir tidak dapat menjalankan ajaran Sunda Wiwitan ketika berada di luar kawasan tanah ulayat. Oleh karena itu, perjuangan ini dilakukan untuk mendapatkan perlidungan dalam menjalankan ajaran Sunda Wiwitan. | The tittle of this research is “The Movement of Suku Baduy Luar in Struggling Sunda Wiwitan to be recognized as a religion in Indonesia”. The objectives of this research is to know the strategy and the process of Baduy Luar movement and to know some supporting factors also the obstacle of Baduy Luar movement. To analyze this problem in the research, the writer using kualitatif research method with approximation of phenomenology. The result of this research show that the methods used by Baduy Luar tribe are advocation is done by cooperating with assembly at Banten Province. They are Kasmin and Imam Prasojo, a sociologist UI. Concrete form the advocacy strategy Baduy Luar tribe is sending a letter to the government , conduct hearings and visited government institute. While lobbying was done by Kasmin to influence the governor, assembly at regional Banten Propvice, and assembly at regecy Lebak to create regency rule. The process in this movement has been through two stages, namely unpeaceful and stimulation. Now the movement is heading stage of formulation, but until now the movement of Baduy Luar hadn’t get result. Supporting factors in this movement were awareness from Baduy Luar and support from external entity. While restricting factor in this movement is the first, the Baduy Luar edocation level is low. Second, the customs which prohibit doing great action. Third, the movement is only an internal mobilization. Fourth, there is a discretion which is done by bureaucrats causing this movement does not have the political opportunity. | |
| 1566 | 7593 | H1E009006 | Pengaruh Temperatur Annealing Terhadap Konduktivitas Ionik Elektrolit Kaca Zinc-Telluride dengan doping Fe2O3 | Elektrolit kaca Zinc-Telluride dengan komposisi 80 mol % TeO2 : 18 mol % ZnO : 1 mol % LiO2 : 1 mol % Er2O3 : 0,5 mol % Fe2O3 dikarakterisasi dengan menggunakan XRD dan LCR meter. Pemanasan temperatur Zinc-Telluride meliputi Tg (360 ℃), Tc (410 ℃), dan Tg-Tc (390 ℃). Karakterisasi struktur elektrolit kaca dilakukan dengan menggunakan XRD, sedangkan pengaruh temperatur annealing terhadap konduktivitas dikarakterisasi menggunakan LCR meter. Elektrolit kaca memiliki struktur amorf setelah diannealing pada temperatur Tg (360 ℃) dan diantara Tg-Tc (390 ℃). Annealing pada temperatur Tc (410 ℃) menghasilkan struktur kristal Fe2O3 pada elektrolit kaca. Nilai konduktivitas semakin menurun seiring bertambahnya temperatur annealing. Nilai konduktivitas maksimum elektrolit padat Zinc-Telluride terdapat pada sampel yang diannealing pada temperatur Tg (360 ⁰C) dengan nilai 3,81988 x 10-7 S/cm. | Electrolyte Zinc-Telluride glass with a composition of 80 mol % TeO2 : 18 mol % ZnO : 1 mol % LiO2 : 1 mol % Er2O3: 0.5 mol % Fe2O3 were characterized by using XRD and LCR meters. Warming temperatures Zinc-Telluride include Tg (360 ℃), Tc (410 ℃), and Tg-Tc (390 ℃). Characterization of the structure of the glass electrolyte done using XRD, while the effect of annealing temperature on the conductivity were characterized using a LCR meter. Electrolyte glass has an amorphous structure after annealing at a temperature Tg (360 ℃) and between Tg-Tc (390 ℃). Annealing at a temperature Tc (410 ℃) resulted in the crystal structure of Fe2O3 in the glass electrolytes. Conductivity value decreases with increasing annealing temperature. The maximum value of the conductivity of solid electrolyte Zinc-Telluride found in samples annealed at temperatures in Tg (360 ⁰ C) with a value of 3,81988 x 10-7 S / cm. | |
| 1567 | 7595 | E1A009011 | LEMAH SYAHWAT SEBAGAI ALASAN CERAI GUGAT (STUDY TERHADAP PUTUSAN NO.239/PDT.G/2013/PA-JB) | Lemah Syahwat Sebagai Alasan Cerai Gugat (Study Terhadap Putusan No.239/PDT.G/2013/PA-JB) oleh : Pratiwi Kusuma Rahayu E1A009011 ABSTRAK Setiap manusia memiliki hasrat untuk melanjutkan keturunan dengan melakukan perkawinan. Hasrat itu menjadi dorongan untuk adanya bentuk hidup suami istri, hidup berkeluarga, dan akhirnya membentuk suatu masyarakat negara. Tujuan dari perkawinan menurut Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 adalah untuk membentuk suatu keluarga atau rumah tangga yag bahagia kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, meskipun tujuan perkawinan adalah untuk selama-lamanya, akan tetapi undang-undang perkawinan memperbolehkan perceraian dengan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara hukum, dalam artian perceraian merupakan alternatif terakhir yang boleh ditempuh apabila kehidupan rumah tangga tidak dapat dipertahankan. Salah satu putusnya perkawinan karena adanya perceraian, alasan perceraian ini diatur dalam penjelasan Pasal 39 ayat 2 huruf (e) tentang alasan perceraian karena salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri, dari hal tersebut di atas dapat dirumskan permasalahan yaitu, bagaimana pertimbangan hukum hakim dalam mengkualifisir mengenai alasan cerai gugat karena lemah syahwat? Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertimbangan hukum Hakim dalam mengkualifisir mengenai alasan cerai gugat karena lemah syahwat. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif yaitu menitikberatkan pada bahan hukum sekunder untuk mempelajari bahan hukum primer, sekunder dan tersier yang berupa bahan-bahan hukum yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti, yang selanjutnya akan dianalisis secara normatif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Hakim dalam menggali alat bukti lebih tepat mengkualifisir mengenai cacat badan tersebut, termasuk dalam kualifikasi penyakit atau bukan dan hakim menggali mengenai terjadinya lemah syahwat tersebut diakibatkan oleh gangguan fisik atau psikologis, sehingga dapat terbukti bahwa lemah syahwat tersebut termasuk dalam alasan perceraian pada Pasal 39 ayat 2 huruf (e) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang telah dijabarkan dalam Pasal 19 huruf (e) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 yaitu salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami istri, penyakit dalam hal ini berupa lemah syahwat karena dalam penelitian mengenai duduk perkara dan fakta persidangan penyebab suami istri tersebut memutuskan untuk bercerai disebabkan oleh istri tidak mendapatkan nafkah lahir batin karena suami mengalami lemah syahwat. | Weak Desire as the reason for divorce is final (Study Of Ruling No. 239/PDT.G/2013/PA-JB) by : Pratiwi Kusuma Rahayu ABSTRACT Every human being has the desire to continue the descent by conducting marriages. A passion that became the impetus for the existence of life forms living family, husband and wife, and eventually formed a society of States. Purpose of marriage according to law number 1 of 1074 is to form a family or household its happy eternal based on godhood of almighty god, Although the purpose of marriage is forever, but the act of mating allow divorce with reason that can be accounted for by law in a sense a divorce an alternative last that may be taken if domestic life indefensible. One of the breakdown in the marriage because of the divorce, the grounds for divorce are arranged in the explanation of article 39 paragraph 2 subparagraph (e) of the reasons for divorce, because one of the parties had the impairment or illness which resulted in can't run their obligations as a husband or wife, from the above it can be dirumskan issues namely, how judges in legal considerations qualifications regarding the reason for divorce is final because of weak orgasm? This research was conducted to find out the legal considerations the judge in qualifications on the reasons for divorce is final because of weak orgasm. This research using the approach of juricial normative which is focused on the materials law primary, secondary, and tertiary in the form of materials laws relating to the issues to be researched the next one will be analyzed in a normative manner qualitative. Based on the results of the study revealed that the judge in the digging tool more precise evidence regarding the impairment qualifications, included in the qualifications of the disease or not and the justice probe of such desire will be weak due to physical or psychological disorders, so it can be proven that such desire will be included in weak grounds for divorce in article 41 paragraph 2 subparagraph (e) Act No. 1 of 1974, which has been elaborated in article 19 subparagraph (e) Government Regulation No. 9 in 1975 Namely one of the parties get a handicap badan or disease with the effects can ' t run their obligations, as husband and wife, in this form of the disease is weak because of the desire in the research about the trial and the fact that sitting causes the husband and wife decide to divorce caused by the wife did get a living husband experienced as inner born weak orgasm. | |
| 1568 | 7596 | F1F007121 | PERSUASIVE STRATEGIES PRODUCED BY FOUR MAIN CHARACTERS OF GLEE TV SERIES (SEASON ONE, EPISODE 9, 10, 11) | Penelitian ini bertujuan untuk menemukan tipe-tipe speech act, strategi-strategi persuasif, serta hubungan antara speech act dan strategi persuasif dalam serial TV Glee yang dilakukan oleh keempat karakter utamannya dalam melakukan kegiatan persuasi. Sumber data yang digunakan adalah ujaran-ujaran dari keempat karakter dalam serial TV Glee, Berdasarkan analisis data, penulis menggunakan pendekatan deskriptif kulitatif. Data dianalisis melalui teori speech act menurut Searle (1976) dan strategi persuasif menurut Simmons (1976). Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 143 ujaran yang terdiri dari representative (36 ujaran), directive (28 ujaran) commisive (21 ujaran), expressive (56 ujaran), and declarative (2 ujaran). Terdapat 47 ujaran yang termasuk dalam kategori strategi co active dan 20 ujaran yang termasuk dalam kategori strategi combative. Penulis menemukan bahwa untuk mencapai tujuan utama dari persuasi maka strategi- strategi persuasif dapat dijelaskan dengan baik melalui klasifikasi speech act yaitu, representative (29 ujaran), expressive (22 ujaran), directive (17 ujaran) dan commisive (14 ujaran). | The aims of the research are to find out the types of speech act, the persuasive strategies, and the relationship between speech act and persuasive strategies produced by four main characters of Glee TV series in persuading others. The source of the data is four main characters’ utterances of “Glee TV series”. The writer used descriptive qualitative approach. The data collected were analyzed through Speech act theory by Searle (1976) and Persuasive strategy by Simmos (1976). The findings of this study revealed that the characters perform 143 utterances which contain Speech act classifications. They are representative (36 utterances), directive (28 utterances) commisive (21 utterances), expressive (56 utterances), and declarative (2 utterances). There are 47 utterances of co active strategies and 20 utterances of combative strategies. Based on the data analysis, the writer found that in order to achieve the main purpose of persuasion, the persuasive strategies can be communicated with representative (29 utterances), expressive (22 utterances), directive (17 utterances), and commisive (14 utterances). | |
| 1569 | 7602 | H1B008051 | TOTAL VERTEX IRREGULARITY STRENGTH PADA GRAF MÖBIUS LADDER | Total vertex irregularity strength atau tvs(G) , adalah bilangan bulat terkecil k sehingga bobot total titik dari graf dengan bilangan bulat {1,2,...k} tidak beraturan. Artikel ini membahas pelabelan total titik tak beraturan dan tvs pada graf Möbius Ladder dengan n ≥ 3. Selain itu diperoleh bahwa graf MLn mempunyai tvs(MLn)=. | Total vertex irregularity strength, , is the smallest positive integer for which graph has an irregular weight with {1,2,...k} positive integer. In This article discusses the vertex irregular total labeling and tvs of Möbius Ladder graph, n ≥ 3. Further it is obtained that total vertex irregularity strength of Möbius Ladder graph or tvs(MLn)= | |
| 1570 | 7414 | I1C006017 | GEOLOGI DAN POTENSI SUMBERDAYA BATUAN BASALT DAERAH PANUSUPAN DAN SEKITARNYA, KECAMATAN PANUSUPAN, KABUPATEN PURBALINGGA, JAWA TENGAH | Satuan geomorfologi daerah penelitian terbagi atas Satuan Punggungan Aliran Lava Panusupan, Satuan Punggungan Homoklin Panusupan, Satuan Punggungan Aliran Piroklastik Sumampir, dan Satuan Punggungan Homoklin Sumampir. Pola aliran sungai yang terdapat di daerah penelitian adalah pola aliran dendritik dengan tipe genetik sungai yaitu konsekuen dan subsekuen. Stadium erosi sungai masuk ke dalam tahapan sungai muda hingga tua. Stratigrafi daerah penelitian dibagi menjad 3 satuan batuan yang berumur tua sampai muda yaitu satuan lava basalt, satuan batulempung, satuan batupasir. Struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian adalah shear fracture atau shear joint, dan sesar mendatar kanan Panusupan. Sejarah geologi daerah penelitian dimulai pada Kala Miosen Tengah - Miosen Akhir hingga Pliosen, terendapkan satuan lava basalt dan satuan batulempung dan pada masa Pliosen terendapkan batupasir, lalu setelah itu terjadi aktivitas tektonik dan terbentuklah sesar mendatar menganan yang berarah N3250E di daerah Panusupan. Potensi geologi yang ada di daerah penelitian adalah potensi sumber daya alam berupa basalt. Perhitungan cadangan basalt dengan metode penampang tegak di peroleh cadangan sebesar : 416.840.996,7232 Ton. | Geomorphological units of the study area was divided four units which is into Unit the ridge Lava Flow Panusupan, Unit the ridge Homoklin Panusupan, Unit the ridge Sumampir Pyroclastic Flow, and Unit the ridge Homoklin Sumampir. River flow patterns found in the study area is dendritic flow patterns with the genetic type that is consequent and subsequent river. Stadium river erosion into the river stage young to old. Stratigraphic study area was divided three lithologies from old age until which young, basaltic lava units, claystone units, and sandstone units. Geological structures that develop in this area is shear fracture or shear joint, and reverse right slip fault Panusupan. Geological history of the study area begins at Middle Miocene - Late Miocene to Pliocene, in Middle Miocene basalt lava units and in the Pliocene claystone units and sandstone units sedimented, there was tectonic activity and is formed reverse right slip fault in the area that is trending N3250E Panusupan. Geological potential in these area is the potential of natural resources in the form of basalt. Reserve calculation method basalt with cross section has result tonnage is: 416.840.996,7232 Ton. | |
| 1571 | 7597 | E1A010194 | TUGAS DAN WEWENANG KPU DALAM PENYELENGGARAAN PEMILU ANGGOTA LEGISLATIF (Studi komparasi terhadap Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum) | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tugas dan wewenang KPU dalam penyelenggaraan pemilihan umum anggota legislatif di dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum. Kegunaan Penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu hukum, khususnya di bidang Hukum Kepartaian dan Pemilu mengenai perbedaan tugas dan wewenang KPU dalam penyelenggaraan pemilu anggota legislatif. Metode pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode pendekatan Yuridis-Normatif. Spesifikasi Penelitian dalam penelitian ini adalah menggunakan spesifikasi penelitian komparasi, yaitu suatu penelitian dilakukan dengan menggunakan suatu perbandingan hukum dalam hal ini perbandingan dilakukan dengan menggunakan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang penyelenggara pemilihan umum. Bahan hukum dalam penelitian ini diperoleh studi kepustakaan. Metode penyajian bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini. Metode penyajian bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk teks naratif dan disusun secara sistematis sebagai kesatuan yang utuh. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis peraturan perundang-undangan, maka dapat diketahui bahwa: Pengaturan tugas dan wewenang KPU dalam penyelenggaraan pemilihan umum anggota legsilatif dalam pasal 8 ayat 1 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 maupun Undang-Undang Nomor 15 tahun 2011 terdapat perbedaan yang ada di huruf c,e,n,o,p (Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 ) dan huruf c,f,n,o (Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011). | ABSTRACT This study aims to determine the duties and authorities of the KPU in the general election of legislators in the Law No. 22 of 2007 and Law No. 15 of 2011 on the General Election. This study is expected to provide benefits for the legal science development, especially in the field of Political Parties and Election Law regarding the duties and authorities of KPU in the legislative elections. The approach method used in this study is the juridical-normative approach. Specifications in this research study is using comparative study specification, which is a study carried out by using a comparative law in this case the comparison is done by using the Law No. 22 of 2007 and Law No. 15 of 2011 on organizing elections. Material of law obtained in this study from law library research. Method of presentation of legal materials used in this study????. Presentation method of legal materials used in this study are presented in the narrative text form and arranged systematically as a unified whole. Based on the research and analysis of legislation, it can be seen that : Setting the duties and authorities of KPU in the general elective of legislative member in article 8, paragraph 1 of Law No. 22 of 2007 and Law No. 15 of 2011 there are differences in the letters c, e, n, o, p ( Law No. 22 of 2007 ) and the letters c, f, n, o (Law No. 15 of 2011). | |
| 1572 | 7202 | H1F008006 | GEOLOGI DAN STUDI ALTERASI HIDROTERMAL DAERAH SIPEDANG DAN SEKITARNYA, KECAMATAN BANJARMANGU, KABUPATEN BANJARNEGARA, JAWA TENGAH | Daerah penelitian merupakan daerah dengan kondisi geologi yang sangat kompleks, terdapat dua litologi intrusi berumur Pliosen yang menerobos litologi batulempung, batupasir, lava, dan breksi dan struktur berupa sesar. Morfologi daerah penelitian tersusun atas perbukitan dan dataran, secara geomorfologi tersusun atas Satuan Teras Fluvial, Satuan Struktural Dike, Satuan Perbukitan dan Pegunungan Denudasional, Satuan Struktural Gawir Sesar. Stratigrafi daerah penelitian tersusun atas satuan berumur Miosen Tengah – Holosen dengan urutan dari tua ke muda yaitu Satuan Batulempung, Satuan Batupasir, Satuan Lava Andesit, Satuan Breksi Andesit, Satuan Intrusi Diorit, Satuan Endapan Fluvial. Struktur geologi di daerah penelitian diperkirakan terbentuk pada Kala Pliosen diantaranya Sesar Naik Menganan Sijenggung, Sesar Mendatar Menganan Menurun Majatengah, dan struktur yang diperkirakan di daerah Mlaya – Tanjungtirta. Sigeblok – Pekandangan, Sipedang – Pekandangan. Struktur tersebut merupakan jalan bagi fluida hidrotermal untuk mencapai permukaan dan berinteraksi dengan batuan di sampingnya sehingga menghasilkan zona alterasi. Zona alterasi hidrotermal yang terbentuk yaitu Zona Epidot + Aktinolit + Klorit + Kuarsa yang disebandingkan dengan Zona Propilitik, Zona Klorit + Kuarsa + Zeolit + Kalsit yang disebandingkan dengan Zona Sub Propilitik, Zona Kaolinit + Dicktit + Illit Montmorillonit yang disebandingkan dengan Zona Argilik. | The research area is an area with a very complex geological condition, there are two lithological intrusion that was Pliocene who breaks claystone, sandstone, lava, and breccia lithology and fault structures form. Morphology of the research area is composed of hills and plains, the geomorphology composed of Fluvial Terraces, Dyke, Denudational Hills and Mountains, Escarpment. Stratigraphic units of the research area is composed of Middle Miocene – Holocene with sequences from the old to young is Mudstone, Sandstone, Andesite Lava, Andesite Breccia, Diorite Intrusion, Fluvial Deposition. Geological structures in the research area is expected to form on the Pliocene Epoch them Sijenggung Right Reverse Slip Fault, Majatengah Lag Right Slip Fault, and the structure is expected in the area Mlaya – Tanjungtirta, Sipedang – Pekandangan, Sigeblok – Pekandangan. That structure is channel way for hydrothermal fluids to reach the surface and interacts with the rock at his side resulting in alteration zones. Hydrothermal alteration zones that form are Epidote + Actinolite + Chlorite + Quartz Zone equal to Propylitic Zone, Chlorite + Quartz + Zeolit + Calcite Zone equal to Sub Propylitic Zone, Kaolinite + Dicktite + Illite + Montmorillonite Zone equal to Argilic Zone. | |
| 1573 | 7343 | G1A008088 | HUBUNGAN ANTARA RESPONSE TIME EMERGENCY CESAREAN DELIVERY ATAS INDIKASI TAKIKARDI DAN BRADIKARDI DENGAN KELUARAN NEONATAL DI RSUD PROF. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO PERIODE 1 JULI 2011- 30 JUNI 2013 | Latar Belakang. American Academy of Pediatrics dan American College of Obstetricians and Gynecologists (2007) merekomendasikan bahwa rumah sakit harus memiliki standar response time (decision to incision interval) pada tindakan emergency cesarean delivery ≤ 30 menit. Asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir menjadi penyebab kematian 19% dari 5 juta kematian bayi baru lahir setiap tahun. Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara response time emergency cesarean delivery atas indikasi takikardi dan bradikardi dengan keluaran neonatal. Metode. Rancangan penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan pendekatan cohort retrospektif. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan total sampling dari 1 Juli 2011 – 30 Juni 2013. Penelitian ini dilakukan terhadap 275 pasien yang memenuhi kriteria inklusi yang datang ke rumah sakit. Takikardi dan bradikardi didiagnosis menggunakan auskultasi Leanneck/ Doppler. Sumber penelitian adalah rekam medis. Hasil. (1) Terdapat 2359 kasus emergency cesarean delivery dari 3110 kasus persalinan sesarea di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Emergency cesarean delivery yang dilaksanakan atas indikasi takikardi dan bradikardi adalah sebanyak 362 (15,34%) kasus. (2) Mortalitas neonatal sebesar 8 neonatus (2,2%) (3) Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara response time emergency cesarean delivery atas indikasi takikardi dan bradikardi dengan keluaran neonatal pada kelompok pola DJJ takikardi dan bradikardi (p> 0,05). (4) Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara response time emergency cesarean delivery atas indikasi pola DJJ takikardi dengan keluaran neonatal (p> 0,05). (5) Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara response time emergency cesarean delivery atas indikasi pola DJJ bradikardi < 110 denyut per menit dengan keluaran neonatal (p> 0,05). Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan antara response time emergency cesarean delivery atas indikasi takikardi dan bradikardi dengan keluaran neonatal di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto periode 1 Juli 2011- 30 Juni 2013. | Background. American Academy of Pediatrics and the American College of Obstetricians and Gynecologists (2007) recommend that hospital should have a response time standard (decision to incision intervals) on emergency cesarean delivery ≤ 30 minutes. Neonatal asphyxia in newborns cause of death of 19% of 5 million newborn deaths each year. Purpose. To determine the association between response time of emergency cesarean delivery indication of FHR patterns tachycardia and bradycardia with neonatal outcomes. Method. This research design was an observational analytic research using cohort retrospektive approach. Sampling technique uses a total sampling of 1st July 2011 – 30th June 2013. The research was conducted on 275 patients who met study inclusion criteria at maternity unit. FHR patterns tachycardia and bradycardia was diagnosed by auscultation of Leanneck/ Doppler. The research source was medical records. Results. (1) There were 2359 cases of emergency cesarean delivery out of 3110 cases of cesarean delivery in regional general hospital of Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Emergency cesarean delivery which was applied on indication FHR patterns tachycardia and bradycardia were 362 (15.34 %) cases. (2) Neonatal mortality was 8 neonates (2.2%). (3) There were no significant association between the response time of emergency cesarean delivery indication of FHR patterns tachycardia and bradycardia with neonatal outcomes group (p > 0.05). (4) There were no significant association between the response time of emergency cesarean delivery indication of FHR patterns tachycardia with neonatal outcomes (p > 0.05). (5) There were no significant association between the response time of emergency cesarean delivery indication of FHR patterns bradycardia < 110 beats per minute with neonatal outcomes on (p > 0.05). Conclusion. There were no significant association between the response time of emergency cesarean delivery indication of FHR patterns tachycardia and bradycardia with neonatal outcomes in Prof. dr. Margono Soekarjo hospitals period 1st July 2011 – 30th June 2013. | |
| 1574 | 7599 | E1A009125 | PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KORUPSI DI DAERAH ( Studi Implementasi Penyidikan Tindak Pidana Korupsi di Wilayah Cilacap ) | Dalam suatu pemberantasan korupsi, tahap penyidikan merupakan salah satu bagian penting dari tahap yang harus dilalui untuk menuju suatu pembuktian tindak pidana korupsi dan akan menghasilkan putusan yang mampu mendekati kebenaran materiil. Oleh sebab itu keberadaan tahap penyidikan tidak bisa dilepaskan dari adanya ketentuan perundangan yang mengatur tindak pidana korupsi yang penyidikannya dilakukan oleh KPK, Kepolisian dan Kejaksaan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis penerapan penyidikan terhadap tindak pidana korupsi yang dilakukan di wilayah Cilacap dan mengetahui hambatan yang dihadapi oleh penyidik di wilayah Cilacap. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis sosiologis dan menggunakan spesifikasi penelitian deskriptif. Metode Pengambilan informan dengan menggunakan Purposive Sampling dengan criterian based selection dan metode analisis data secara kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, penyidikan yang dilakukan di Cilacap dilakukan oleh Kejaksaan dan Kepolisian. Dalam proses penyidikan, penyidik bisa menggunakan upaya paksa khusus terhadap tersangka untuk menemukan barang bukti dan dapat menggunakan ilmu bantu lain di tingkat pemeriksaan. Selain itu dalam proses penyidikan, penyidik bisa melakukan gelar perkara untuk menemukan alat bukti baru dan keterangan lain mengenai perkara. | In the fight against corruption, the investigation stage was one of the important part from the procedure that must be followed to get a proof of corruption, and will produced a decision which could approach the material truth. There fore the existence of investigation stage cant be separated from the existence of legislative provision that arranged corruption which the investigation was did by KPK, the police, and the attorney according to Act Number 30 Year 2002 about corruption eradication commission. The purposes of this research is to know and to analyze the applying investigation of corruption which commited in Cilacap and also to knowing the obstacle which faced by the investigator in Cilacap. Approaching method that used in this research was socio-juridical and the specification of this research was descriptive research. The Informant taking method with used Purposive Sampling with criterian based selection and data analyze method used qualitative method. Based on the result of research, the investigation which commited in Cilacap was did by the attorney and the police. In the investigation process, investigator can used the special force against suspect to find the evidence and can used criminal psycology in the interrogation level. In addition, in the process of investigation, the investigator may conduct his case to find new evidence and other information about the case. | |
| 1575 | 7598 | C1L010019 | The Effect of Market Structure on Performance in Indonesian Banking Industry (Study at Indonesian Commercial Banking in a Period of 2001-2012) | Laporan keuangan bank umum menunjukkan angka-angka informasi akuntansi yang secara eksplisit dan implisit mempengaruhi pengambilan keputusan pada penentuan kebijakan industry bank. Berdasarkan laporan keuangan bank, interpretasi tentang struktur pasar bank dapat ditentukan dan berhubungan dengan kebijakan akan kekayaan bank. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh struktur pasar pada kinerja bank umum Indonesia menggunakan rasio konsentrasi dan pangsa pasar individu melalui pasar deposit dan kredit market. Terdapat 101 bank terpilih sebagai sampling penelitian dari 120 bank umum Indonesia pada periode 2001-2012 dengan menggunakan purposive sampling. Penelitian ini menggunakan data panel yang menggabungkan data cross section dan data time series, maka alat penelitian ini menggunakan regresi data panel. Hasil dari penelitian ini menyatakan rasio konsentrasi pasar deposit berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja, sementara rasio konsentrasi pasar kredit, pangsa pasar deposit, dan pangsa pasar kredit tidak mempengaruhi kinerja bank umum Indonesia. | The publication of commercial bank financial statement presents the numbers of financial information that explicitly and implicitly impact the decision making process in determining policy of banking industry. Based on the banking financial reporting, the interpretation of banking market structure can be determined, and thus, linked to the policy of banking industry in welfare-related point. The objective of this research is to examine the influence of market structure on Indonesian commercial banking performance by using concentration ratio and individual market share through deposits market channel and credits market channel. There were 101 banks chosen from 120 banks in a period of 2001-2012 as sampling of research by using purposive sampling. This research uses data panel that combines data cross section and data time series, therefore panel data regression is used in this research. The result of panel data analysis has allowed us to conclude that concentration ratio of deposits market has a significant and positive influence on performance, meanwhile concentration ratio of credits market, individual market share of deposits, and individual market share of credits market have no significant effects on performance. | |
| 1576 | 7600 | E1A010077 | LAHIRNYA KEWAJIBAN PARA PIHAK DALAM PERJANJIAN SEWA MENYEWA (HUUR EN VERHUUR) (Studi Kasus terhadap Putusan Nomor 245Pdt.G/2011/PN.SMG antara PT RABAS MITRA SEJATI dan PEMERINTAH KOTA SEMARANG ) | ABSTRAK Sewa-menyewa tanah atau lahan adalah salah satu perjanjian yang sangat populer dalam masyarakat. Perjanjian sewa-menyewa adalah perjanjian timbal-balik yang prestasinya memakan waktu, sehingga keterlambatan penyerahan obyek sewa berakibat hukum terhadap pelaksanaan pembayaran harga sewa yang secara logis berdampak pula pada penghitungan jangka waktu sewanya. Dengan karakter demikian, pelaksanaan perjanjian menjadi tidak patut apabila pemberi sewa ingkar janji (terlambat berprestasi), tetapi penyewa tetap diwajibkan untuk membayar sesuai perjanjian. Peristiwa tersebut terjadi salah satunya dalam perjanjian sewa - menyewa lahan untuk pembanguanan SPBU Pandanaran antara PT Rabas Mitra Sejati dan Pemerintah Kota Semarang. Melalui penelitian yang bersifat yuridis normatif, akan dikaji mengenai kapan seharusnya lahir dan pelaksanaan perjanjian diantara PT Rabas Mitra Sejati selaku penyewa dengan Pemerintah Kota Semarang Selaku pemberi sewa, serta bagaimana akibat hukum dengan pemberi sewa yang melaksanakan kewajiban penyerahan sesuai dengan yang diperjanjikan terhadap jangka waktu sewanya. Secara kualitatif, hal tersebut akan dianalisis melalui fakta didalam Putusan Pengadilan Negeri Semarang Nomor 245/Pdt.G/2011/PN.SMG dan diuraikan secara sistematis sebagai satu kesatuan yang utuh. Dalam perjanjian nomor 590/23 Tahun 2007 disepakati bahwa pemberi sewa wajib menyerahkan lahan tanggal 30 November 2007 dan penyewa wajib membayar sewa mulai tanggal 30 Desember 2007. Sehingga pelaksanaan kewajiban seharusnya pada tanggal tersebut mengingat perjanjian diantara keduanya merupakan perjanjian tertulis dan merupakan perjanjian dengan ketentuan waktu. Tetapi pelaksanaanya pemberi sewa baru melaksanakan kewajiban penyerahan lahan (obyek sewa) pada bulan Februari 2012, terlebih lahan yang diserahkan belum siap pakai dan penyewa baru dapat membangun SPBU pada bulan Maret 2008. Berdasarkan asas exceptio adimpleti non contractus, penyewa membayar harga sewa bulanan baru pada bulan Maret 2011. Mengingat kausa perjanjian sewa-menyewa adalah kenikmatan atas benda, maka seharusnya pelaksanaan kewajiban membayar harga penyewa sejak kausa diperoleh, yakni sejak bulan Maret 2008. Begitupun jangka waktunya tidaklah patut diperhitungkan sesuai perjanjian, melainkan seharusnya sejak kausa perjanjian sewa menyewanya tercapai. | ABSTRACT Land lease is one of the very popular agreement in society. Lease agreement is a reciprocal agreement that takes time in the obligation, so the delay in delivery of the object have consequences of the implementation of the lease payments that is logically impact the calculation of the rental period. With such characters, the implementation of the agreement be inappropriate if the lessor broken promise (late do obligate), but the lessee still obligated to pay under the agreement. The incident occurred in one of the lease land for gas stations of Pandanaran between PT Rabas Mitra Sejati and Semarang City’s Government. Through normative research, will be assessed when supposed to be born and implementation of the agreement between PT Rabas Mitra Sejati as lessee and the Government City of Semarang As lessor, as well as how the law due to the lessor obligations in accordance with the agreed delivery period of the lease . Qualitatively, it will be analyzed by the facts in the Semarang District Court No. 245/Pdt.G/2011/PN.SMG and systematically described as one unified whole. In agreement number 590/23 year 2007 agreed that the lessor shall give the land November 30, 2007 and the lessee shall pay the rental start date of December 30, 2007. So the implementation of the obligations should on that date because the covenant between them is a written agreement and an agreement with the provisions of the time. But the implementation of the obligations to hand over the land (lessor) in February 2012, more than that the land is not ready land so the lessee ready and able to build gas stations in March 2008. Based on the principle of exceptio adimpleti non contractus, the lessee pays a monthly rental price of the new in March 2011. Given causes lease agreement is a delight in the object, then it should be the implementation of the obligation to pay the price of renters since acquired causes, ie since March 2008. Likewise the period is not reckoned according to the agreement, but should have been hired since the cause of the rental agreement is reached. | |
| 1577 | 7601 | C1C010034 | Hubungan Antara Pengawasan Fungsional Aparat Pengawasan Internal Pemerintah Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah di Kabupaten Banyumas | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengawasan fungsional APIP terhadap kinerja pemerintah daerah di Inspektorat Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif berjenis deskriptif dan asosiatif karena adanya variabel-variabel yang akan ditelaah hubungannya serta tujuannya untuk menyajikan gambaran secara terstruktur, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan antar variabel yang diteliti, yaitu Pengaruh Pengawasan Fungsional APIP terhadap Kinerja Pemerintah Daerah di Inspektorat Kabupaten Banyumas. Pengawasan fungsional APIP di Inspektorat Kabupaten Banyumas dilihat dari terlaksananya pemeriksaan pada obyek pemeriksaan sebesar 133,3 persen masuk kategori sangat baik. Selain itu jumlah temuan hasil pemeriksaan yang sudah selesai ditindaklanjuti 87,6 persen yang masuk kategori baik. Kinerja pemerintah daerah dalam keseluruhan penyelenggaraan urusan pemerintahan adalah baik. Pengawasan fungsional APIP berpengaruh signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah. Pengaruh antara pengawasan fungsional APIP dengan kinerja pemerintah daerah sebesar 0,681 atau 68,1 persen yang menunjukkan bahwa terdapat kesesuaian antara pengawasan fungsional APIP dengan kinerja pemerintah daerah. | This study aims to determine the effect of APIP functional control of the performance of local government in Banyumas Inspectorate. This study uses a quantitative approach was descriptive and associative because of the variables that will be explored as well as its relationship to present an overview of the objective structured, factual, and accurate information on the facts and the relationship between the variables studied, the APIP Functional Effects of Control on Government Performance regional Inspectorate in Banyumas. Functional Control APIP in Banyumas Inspectorate seen from examination of the implementation of the inspection object by 133.3 percent in the category very well. In addition, the number of inspection findings actionable completed 87.6 percent are categorized as good. The overall performance of local governments in the implementation of government affairs is good. Functional control APIP has significant effect on the performance of local governments. Effect of the APIP with functional oversight of local government performance by 0,681 or 68.1 percent which indicates that there is a correspondence between the functional control of APIP with local government performance. | |
| 1578 | 7604 | H1F009073 | GEOLOGI DAN KARAKTERISTIK BATULEMPUNG SEBAGAI BAHAN CAMPURAN DALAM INDUSTRI SEMEN DAERAH BANTARJATI DAN SEKITARNYA KECAMATAN CITEREUP KABUPATEN BOGOR PROVINSI JAWA BARAT | Daerah penelitian terletak di daerah Bantarjati dan sekitarnya, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Secara Geografis, daerah penelitian terletak pada 710.000 – 712.500 mE dan 9.285.000 – 9.282.500 mN UTM dengan luas 6,5 km2. Geomorfologi daerah penelitian terdiri dari satuan geomorfologi yaitu Satuan Perbukitan Struktural Antiklin-Sinklin (S9), Satuan Perbukitan Struktural Berlereng Landai (S1) dan Satuan Dataran Fluvial-Aluvial (F4). Startigrafi daerah penelitian tersusun oleh empat satuan batuan tak resmi. Pada Kala Miosen Tengah (N10-N12) diendapkan Satuan Batupasir pada lingkungan neritik Tepi, kemudian pada N13 - N14 Satuan Batugamping dengan lingkungan pengendapan neritik tengah - neritik luar. Pada masa yang sama terendapkan Satuan Batulempung pada lingkungan neritik luar sampai batial atas. Deformasi Plio-Pleistosen diperkirakan terjadi di daerah penelitian yang mengakibatkan terbentuknya struktur berupa antiklin dan sinklin yang berarah barat – timur yang berasosiasi dengan sesar yang berarah relatif utara barat laut – selatan tenggara. Sehingga menyebabkan antiklin yang shifting sejauh satu kilometer. Pada Kala itu juga semua batuan tersingkap ke permukaan dan terjadi erosi yang sangat intensif. Kemudian Pada kala Resen terendapkan Satuan Endapan Aluvial-Fluvial. Sumberdaya batulempung dihitung dengan metode kerucut terpancung yang menghasilkan volume 1.287.986,18 m 3 sedangkan tonasenya yaitu 2.318.375,12 ton. Faktor yang mempengaruhi kualitas batulempung berdasarkan indeks alumina yaitu besar butir, kekompakkan, dan struktur menyerpih. Hubungan antara indeks alumina dengan besar butir saling berlawanan. Jika persentase kelimpahan matriks dan semen naik secara progresif dari indeks alumina rendah, sedangkan persentase matriks dan semen akan turun secara sistematis dari indeks alumina tinggi. | The study area is located in Bantarjati and surrounding area, Citeureup District, Bogor Regency , West Java . Geographically , the study area is located at 710.000 – 712.500 mE and 9.285.000 – 9.282.500 mN UTM with an area of 6,5 km2 . Geomorphology of the study area consists of geomorphological units namely Structural Hill Unit of Anticline-Syncline (S9) , Structural Hill Unit of Slope Slightly (S1) and Plain Unit of Alluvial-Fluvial (F4). Stratigraphy of the study area are composed by four unofficial lithologies. At Kala Middle Miocene ( N10 - N12 ) was deposited Unit Sandstone on the inner neritik environment, then the N13 - N14 was deposited in harmony Limestone Unit on the middle neritik to outter neritik. At the same period was deposited Claystone Unit on outter neritik to upper bathyal. At Kala Plio - Pleistocene deformation estimated to occur in the study area which resulted anticline and syncline structure with tranding West-East that associated fault with tranding NNW-SSE. So resulted shifting anticlne as far as one kilometer. At that time also all the rocks exposed to the surface and eroded intensive rock. In the later of Resen stage deposited Alluvial-Fluvial Sediment Unit. Claystone Resources are calculated by the truncated cone method that produces 1,287,986.18 m3 volume and 2,318,375.12 tons tonnage. The influence factors of claystone quality are based on alumina index such as grain size, compactness, and flake structure. The relationship of alumina index with a grain size is opposites. If percentage of matrix and cement abudance increases progressively from low alumina index, whereas the percentage of matrix and cement abudance will decreases systematically from high alumina index. | |
| 1579 | 7616 | H1B009022 | Pencarian Titik Optimum Menggunakan Response Surface Methodology | Dalam penelitian ini dibahas tentang response surface methodology (RSM) untuk model regresi orde satu. Pencarian titik optimum RSM untuk model regresi orde satu menggunakan metode steepest ascent/descent. Hasil memperlihatkan bahwa tingkat kemurnian oksigen maksimum proses distilasi udara adalah pada suhu -211oC dan tekanan udara 1,1335 bar. | This research focus on response surface methodology (RSM) for regression first order model. The method for finding optimum point is steepest ascent/descent method. The result showed that the maximum response of purity oxygen from air distillation are at temperature of -211oC and 1.1335 bar air pressure. | |
| 1580 | 7605 | E1A007332 | KEKUATAN BUKTI TES DNA DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Banyumas Nomor: 82/PID.B/2009/PN.BMS) | Putusan Nomor 82/Pid.B/2009/PN.Bms dengan kasus “tindak pidana pembunuhan” berdasarkan proses persidangan yang menggunakan bukti tes DNA. Dalam proses sidang pembuktian, berdasarkan alat bukti surat, keterangan saksi-saksi dan keterangan terdakwa bukti tes DNA dikategorikan sebagai alat bukti petunjuk berdasarkan atas persesuaiannya, dari uraian tersebut membuat peneliti tertarik mengambil judul “KEKUATAN BUKTI TES DNA DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (Tinjauan Yurudis Terhadap Putusan Nomor: 82/Pid.B/2009/PN.Bms)” Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui “kekuatan bukti tes DNA dalam mengungkap suatu tindak pidana pembunuhan pada Putusan Pengadilan Negeri Banyumas Nomor: 82/Pid.B/2009/PN.Bms”. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tipe penelitian yuridis normatif, dengan spesifikasi penelitian preskriptif, dalam penelitian ini sumber bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer, sekunder, dan tersier, bahan yang diperoleh disusun secara sistematis dengan pembahasan dan penjabaran hasil-hasil penelitian dengan mendasarkan pada norma-norma dan doktrin-doktrin yang berkaitan dengan materi yang diteliti dan analisis bahan dilakukan dengan metode normatif kualitatif. Hasil penelitian yang telah dilakukan, bahwa kedatangan terdakwa ke rumah kontrakan korban yakni untuk menjalin hubungan kembali dengan korban. Saat mereka sedang bermesraan dikamar korban, terdakwa akan mencium korban namun tiba-tiba korban mendorong terdakwa sehingga terdakwa marah sehingga terdakwa mendorong korban hingga jatuh ke kasur kemudian mencekik leher korban sampai lidah korban menjulur keluar sambil memaksa korban untuk berhubungan badan dalam keadaan korban tidak berdaya. Setelah melakukan hubungan badan terdakwa melilitkan kabel keleher korban sambil ditarik hingga meninggal dan untuk meyakinkan bahwa korban meninggal, terdakwa memukul dada korban. Keesokan harinya jenazah korban dibawa ke bekas depo pasir didaerah desa Notog dan kemudian membakar jenazah korban. Bahwa berdasar keterangan tersebut diatas, Majelis berkeyakinan bahwa benar terdakwa telah melakukan tindak pidana pembunuhan. Pertimbangan hukum hakim dalam memutus perkara Nomor 82/Pid.B/2009/PN.Bms. tersebut dalam amar putusannya menyatakan bahwa perbuatan terdakwa telah memenuhi semua unsur pada Pasal 339 dan 286 KUHP yaitu telah sengaja melakukan pembunuhan yang diikuti dengan tindak pidana lain dan persetubuhan diluar perkawinan dengan seorang perempuan yang diketuhinya sedang dalam keadaan tidak berdaya. Berdasarka hal tersebut terdakwa diputus pidana penjara seumur hidup. | The award number : 82/Pid.B /2009/PN.Bms with a case “criminal act murder” based on a trial that uses evidence DNA tests. In the process of hearing attesting; based on evidence letter, information witnesses and information the defendant evidence DNA tests zoned for evidence clue based on correspondence, from the description s leaving researcher interested take on titles “force evidence DNA tests in a criminal offense homicide” (review juridical verdict against number: 82/Pid.B /2009/PN.Bms )’’ The purpose of this research is to know the proof of “ the power of DNA testing in exposing a criminal act of murder in State Court Verdict Banyumas Number: 82/Pid.B/2009/Bms”. The type of research used in this study i.e. the juridical normative research type, with prescriptive research specifications, in this study the source of legal materials in use are the primary legal materials, secondary, and tertiary, the materials obtained are arranged systematically with the elaboration and discussion of the results of his research with basing on norms and doctrines relating to material researched and analysis done with the method of normative qualitative. The results of the research that has been done, that the return of the defendant to the victim's rented house which is to build a relationship with the victim's back. While they are making out in bed the victim, the defendant will kiss the victim, but the victim suddenly pushed the defendant so that the defendant was angry that the accused encouraged victims to fall into the mattress and then strangle the neck of the victim until the victim's tongue running out while forcing the victim to relate the body in a State of helpless victims. After intercourse the defendant wrapped the victim while keleher cable pulled to death and to assure that the victim died, the accused struck the victim's chest. The next day the corpses of the victims were taken to the former village of Notog in the sand of the depositions and later burned the corpses of victims. That the above description is based, the Tribunal believes that the right of the defendant had committed the crime of murder. Legal consideration of the judge in the case ruled the number 82/Pid. B/2009/PN.Bms. the award stated that deeds injuction defendant has complied with all of the items in section 328 and 284 KUHP which have intentionally committed murder followed by another criminal offence and promiscuity outside of marriage with a woman he knew was in a State of helplessness. The defendant terminated the criminal to life imprisonment. |