Artikelilmiahs

Menampilkan 14.141-14.160 dari 49.698 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1414117473A1L011143PENGARUH PEMBERIAN AIR LEMON DAN AIR TEBU SEBAGAI LARUTAN PERENDAM TERHADAP KESEGARAN BUNGA POTONG KRISAN (Chrysanthemum sp.)Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan komposisi air lemon dan air tebu sebagai larutan holding yang tepat untuk memperpanjang kesegaran bunga potong krisan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap. Perlakuan merupakan kombinasi dari dua faktor, empat taraf larutan air lemon yaitu tanpa air lemon, air lemon 2%, air lemon 4%, air lemon 6%, dan empat taraf larutan air tebu yaitu tanpa air tebu, air tebu 2%, air tebu 4%, dan air tebu 6%. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan air lemon 2% dan tanpa air tebu memperpanjang masa kesegaran bunga, mempertahankan warna, dan aroma bunga.The purpose of this research is to determine the composition of lemon water and sugarcane water as holding solvent to extend the vaselife of Chrysanthemum cut flowers. The experimental design used was completely randomized block design. Treatments were combinations of two factors, four levels of lemon water namely without lemon water, 2% lemon water, 4% lemon water, 6% lemon water, and four levels of sugarcane water namely without sugarcane water, 2% sugarcane water, 4% sugarcane water, and 6% sugarcane water. Each treatment was repeated 3 times. The result indicated that 2% lemon water and without sugarcane water extended the vaselife of flowers, preserved the color and scent of flowers.
1414217493A1L012027APLIKASI Bacillus subtilis B209, B211, B298 UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT ANTRAKNOSA DAN PENINGKATAN HASIL CABAIPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh B. subtilis B209, B211, B298 sebagai pengendali penyakit antraknosa pada tanaman cabai; mengidentifikasi penyebab penyakit antraknosa pada cabai; mengetahui pengaruh B. subtilis B209, B211, B298 untuk peningkatan hasil cabai; dan mengetahui perbedaan efektivitas B. subtilis B209, B211, B298. Penelitian ini dilakukan di lahan desa Rempoah, Kecamatan Baturraden, Purwokerto pada bulan April sampai Agustus 2016. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok dengan 5 perlakuan dan 6 ulangan sehingga ada 30 unit percobaan. Jumlah tanaman per unit ada 13, sehingga jumlah tanaman keseluruhan ada 390 tanaman cabai. Variabel yang diamati adalah intensitas penyakit antraknosa, laju infeksi, identifikasi jamur penyebab antraknosa, jumlah buah per tanaman, dan bobot buah segar per tanaman. Hasil terbaik ditunjukan oleh perlakuan B. subtilis B209 menekan penyakit sebesar 66,28%. Ketiga isolat B. subtilis tidak berbeda nyata dengan fungisida. Artinya perlakuan B. subtilis setara dengan fungisida, tetapi dilihat dari keamanan atau resiko pencemaran lingkungan dari penggunaan fungisida maka penggunaan B. subtilis masih lebih baik dan efektif. Berdasarkan identifikasi penyebab penyakit antraknosa pada cabai yang disebabkan oleh jamur C. capsici yaitu gejala antraknosa yang ditimbulkan pada buah cabai adalah berkerut, dengan konidium berbentuk bulan sabit tidak bersekat, sedangkan hasil identifikasi penyebab penyakit antraknosa pada cabai yang disebabkan oleh jamur C. gloeosporioides, konidiumnya berbentuk silindris berujung tumpul. Gejala mula-mula dari bercak coklat kehitaman kecil kemudian bercak membesar dan membusuk pada buah. Perlakuan B. subtilis B298 adalah yang paling efektif meningkatkan jumlah buah sebesar 80,82% dan bobot buah segar/tanaman sebesar 82,1%. Isolat B. subtilis B209 adalah yang paling efektif dalam menekan dan mengendalikan penyakit antraknosa dan isolat B. subtilis B298 adalah yang paling efektif untuk meningkatkan hasil cabai.This study aims to determine the effect of B. subtilis B209, B211, B298 as controlling anthracnose in pepper; identify the cause of anthracnose on pepper; determine the effect of B. subtilis B209, B211, B298 to increase the results of chili; and knowing the difference effectiveness of B. subtilis B209, B211, B298. This research was conducted in the village land Rempoah, Purwokerto in April to August 2016. The experimental design used is a randomized block design with 5 treatments and 6 replications so that there are 30 experimental units. The number of plants per unit of existing 13 plants, so that the overall number of plants there are 390 pepper plants.
The variables measured is the intensity of the anthracnose, the rate of infection, identifying the fungi that cause anthracnose, the number of fruits per plant, and the weight of fresh fruit per plant. The best results are shown by the treatment of B. subtilis B209 suppress the disease by 66.28%. All three isolates of B. subtilis was not significantly different with fungicide. This means that B. subtilis equal treatment with fungicides, but viewed from the safety or risk of environmental pollution from the use of fungicides, the use of B. subtilis is still better and more effective. Based on the identification of the cause of anthracnose on pepper caused by the fungus C. capsici the symptoms of anthracnose caused to the pepper fruit is wrinkled, with a crescent-shaped conidia not insulated, while the result of the identification of the cause of anthracnose on pepper caused by fungi C. gloeosporioides, conidia blunt-ended cylindrical shape. Symptoms initially of small blackish brown spots and then spotting swell and rot on fruit. Treatment B. subtilis B298 is most effectively increase the number of fruits by 80.82% and the weight of fresh fruit / plant amounted to 82.1%. Isolates of B. subtilis B209 is the most effective in suppressing and controlling anthracnose and isolates of B. subtilis B298 is the most effective way to increase the yield of chili.
1414317377A1C111007FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN PETANI LAHAN KERING UNTUK BERUSAHATANI CABAI DI DESA KALIAJIR KECAMATAN PURWANEGARA KABUPATEN BANJARNEGARA


Lahan kering merupakan jenis lahan yang banyak dijumpai di Provinsi Jawa Tengah. Salah satu daerah di Jawa Tengah yang memiliki areal lahan kering yang cukup luas adalah Kabupaten Banjarnegara. Kabupaten Banjarnegara memiliki potensi pertanian yang baik untuk pengembangan berbagai jenis komoditas pertanian, salah satunya adalah tanaman cabai. Desa Kaliajir merupakan salah satu desa di Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara yang membudidayakan cabai di lahan kering berupa tegalan. Keputusan serta kemampuan petani dalam mengusahakan tanaman cabai di lahan kering menjadi penting dalam keberhasilan dan keberlanjutan usahatani tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan petani untuk berusahatani cabai, 2) menganalisis tingkat kapabilitas petani dalam berusahatani cabai, 3) mengidentifikasi komponen pembentuk tingkat kapabilitas petani dalam berusahatani cabai. Penelitian dilaksanakan di Desa Kaliajir Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara pada bulan Desember 2015 sampai dengan Januari 2016. Rancangan pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling, sedangkan untuk menentukan besarnya sampel menggunakan rumus slovin. Jumlah responden sebanyak 63 petani, terdiri dari 52 orang petani yang berusahatani cabai dan 11 orang petani yang berusahatani jagung. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi logistik dan analisis deskriptif dengan bantuan skala pengukuran likert’s summated rating. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan petani untuk berusahatani cabai yaitu umur, pengalaman berusahatani, lingkungan sosial, dan lingkungan ekonomi. Tingkat kapabilitas petani dalam berusahatani cabai secara keseluruhan berada dalam kategori sedang. Komponen pembentuk kapabilitas petani antara lain kapabilitas petani aspek ekonomi dalam kategori sedang, aspek sosial dalam kategori tinggi, dan aspek teknis berusahatani dalam kategori sedang.Dry-land is a kind of land which could be seen a lot in Central Java province. One of the region in Central Java which has large enough area of dry-land is Banjarnegara regency. Banjarnegara regency has good potency to develop many agriculture commodity, and one of them is chili. Kaliajir village is one of the village which cultivating chili on dry-land in a farm of moor and located in Purwanegara sub-district, Banjarnegara. Farmer’s decision and capability in chili cultivation on dry-land becoming the keynof its success and sustainability. The aims of the study are to: 1) analyze several factors which take effect on farmer’s decision on chili cultivation, 2) to analyze farmer’s capability level on chili cultivation, 3) to identify the components farming the level of farmer’s capability on chili cultivation. This study conducted at Kaliajir village on Purwanegara sub-district Banjarnegara on December 2015 till January 2016. Simple random sampling used as sampling design, while the sample size determined by slovin formula. Sixty three sample was chosen which consist of 52 chili farmers and 11 corn farmers. Data analysis used are logistic regression analysis, and descriptive analysis with the help of likert’s summated rating scale measurement. The result of the study has shown that: 1) factors that affecting farmer’s decision to cultivating chili on dry-land are age, experiences, social environment, and economic environment, 2) farmer’s capability rate on chilly cultivation is relatively in the moderate category, 3) components which formed farmer’s capability are the capability on economic aspect in moderate level, social aspect in high level, and cultivation technic aspect in moderate level.
1414417474D1E012345PREVALENSI NEMATODIASIS GASTROINTESTINAL PADA PETERNAKAN SAPI POTONG
MANDIRI DAN KELOMPOK DI KABUPATEN BANYUMAS
Penelitian ini dilaksanakan tanggal 10 Agustus 2016 sampai tanggal 10 September 2016. Tujuan penelitian adalah (1) Mengetahui tingkat prevalensi nematodiasis pada peternakan sapi potong mandiri dan kelompok di Kabupaten Banyumas, (2) Mengetahui perbedaan jenis nematodiasis gastrointestinal pada peternakan sapi potong mandiri dan kelompok yang dipelihara pada berbagai umur di Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah survai dan laboratoris, dengan sasaran penelitian adalah ternak sapi potong yang berumur < 12 bulan dan yang berumur > 12 bulan, variabel pendukung yang digunakan yaitu: kebersihan kandang, frekuensi pembersihan kandang, pemberian obat cacing, jenis pakan, dan jumlah ternak setiap sekat atau batre. Teknik analisis data adalah analisis deskriptif dalam menguraikan tingkat prevalensi nematodiasis di peternakan sapi potong mandiri dan kelompok di Kabupaten Banyumas dengan lokasi pengambilan sampel di Kecamatan Kedungbanteng (Karangnangka dan Beji), Kecamatan Sumbang (Kedung Malang, Karang Gintung, dan Datar), dan Kecamatan Kembaran (Bojongsari dan Purbadana) dan analisis fisher Exact untuk mengetahui perbedaan variabel pendukung terhadap cacing nematoda pada sapi potong. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat prevalensi nematodiasis pada peternakan sapi kelompok sebesar 70% lebih besar dari pada peternakan sapi mandiri sebesar 46,67%. Jenis nematodiasis gastrointestinal pada peternakan sapi potong mandiri dan kelompok yang dipelihara pada berbagai umur tidak jauh berbeda.This research was conducted on August 10, 2016 until September 10, 2016. The research aimed to know the prevalence level on independent and group beef cattle farms in Banyumas, and to know the different types of gastrointestinal nematodiasis on independent and group beef cattle farms within various ages in Banyumas. The research method used were survey and laboratories, with the objects of research were cattle aged <12 months and > 12 months, supporting variables used were: cleanliness of the cage, the frequency of cleaning the cage, drug worm given, type of feeding, and the number of cattle in each bulkhead or battry. The data analysis technique used was descriptive analysis to show the prevalence level of nematodiasis on independent and group beef cattle farms in Banyumas with the sampling area in Kedungbanteng Subdistrict (Karangnangka and Beji), Sumbang Subdistrict (Kedung Malang, Karang Gintung, and Datar), and Kembaran Subdistrict (Bojongsari and Purbadana) and fisher Exact analysis to know the difference in supporting variables toward nematode worms in beef cattle. The results showeds that the prevalence level of nematodiasis on a group cattle farms was 70% higher than the independent cattle farms which was 46.67%. The type of gastrointestinal nematodiasis in various ages of cattle on independent and group beef cattle farm shows almost the same result.
1414517479A1L010120PENAMBAHAN PUPUK KOTORAN SAPI DAN PUPUK ANORGANIK UNTUK PERBAIKAN SIFAT KIMIA INCEPTISOL GUNA MENINGKATAN HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merrill)Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui respon penambahan pupuk kotoran sapi dan pupuk anorganik terhadap sifat kimia Inceptisol, 2) mengetahui respon penambahan pupuk kotoran sapi dan pupuk anorganik terhadap serapan P, K, pertumbuhan dan hasil kedelai, 3) menentukan dosis penambahan pupuk kotoran sapi dan pupuk anorganik yang terbaik untuk meningkatkan sifat kimia tanah inceptisol dan hasil kedelai. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Faktor pertama: 4 dosis pupuk kotoran sapi yaitu: 50 g/polibag, 125g/polibag, 200 g/polibag dan 325 g/polibag. Faktor kedua: 3 dosis pupuk anorganik yaitu: tanpa pemberian pupuk anorganik, pupuk anorganik mengandung urea 0,25g/polibag, SP-36 0,25g/polibag, dan KCl 0,25g/polibag dan pupuk anorganik mengandung urea 0,5g/polibag, SP-36 0,5g/polibag dan KCl 0,5g/polibag. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, umur berbunga, jumlah polong isi, jumlah polong total, bobot biji pertanaman, bobot 100 biji, pH tanah, KTK, C-organik, serapan P, dan serapan K. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) penambahan pupuk kotoran sapi dan pupuk anorganik mampu memperbaiki pH dari berharkat masam menjadi agak masam, KTK dari berharkat rendah menjadi tinggi dan C-organik tetap pada harkat sedang, 2) penambahan pupuk kotoran sapi dan pupuk anorganik mampu meningkatkan serapan P dan K namun tidak mampu menigkatkan pertumbuhan dan hasil kedelai, 3) Dosis pupuk kotoran sapi 25 ton/ha menigkatkan pH tanah dari masam (5,4) menjadi agak masam (5,53), menigkatkan KTK dari berharkat rendah (15,23) menjadi tinggi (37,94) dan pada dosis pupuk anorganik (Urea, SP36, KCl) 50 kg/ha menigkatkan pH tanah dari masam (5,4) menjadi agak masam (5,58), KTK dari berharkat rendah (15,23) menjadi tinggi (37,90), belum diperoleh dosis kotoran sapi dan pupuk anorganik terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil kedelai.The research aims to: 1) know the response to the application of cow manure and inorganic fertilizer against Inceptisol chemical properties, 2) know the response application of cow manure and inorganic fertilizers on the uptake of P, K, growth and yield of soybean, 3) determine the best additional dose of cow manure and inorganic fertilizer to increase Inceptisol chemical properties and the yield of soybean. Research using Randomized Block Design (RBD) with three replications. The first factor: 4 doses of cow manure that is: 50 g/polybag, 125g/polybag, 200 g/polybag and 325 g/polybag. The second factor: 3 doses of inorganic fertilizers that is: without the provision of inorganic fertilizers, inorganic fertilizers containing urea 0,25g/polybag, SP-36 0,25g/polybag, and KCl 0,25g/polybag and inorganic fertilizer containing urea 0,5g/polybag, SP-36 0,5g/polybag and KCl 0,5g/polybag. The observed variables include plant height, leaf number, days to flowering, total number of pods, seed weight per plant, weight of 100 seeds, soil pH, CEC, organic C, adsorption of P and K. The results obtained from this study are: 1) the application of cow manure and inorganic fertilizer were able to increase the pH of acid to slightly acid, CEC from low to high and C-organic remains moderate, 2) the application of cow manure and inorganic fertilizer can increase the absorption of P and K but is not able to increased the growth and yield of soybean, 3) dose of cow manure 25 ton/ha increased pH of acid (5,4) to slightly acid (5,53), increase CEC from low (15,23) to high (37,94) and and dose of inorganic fertilizer (Urea, SP36, KCl) 50 gk/ha increase the pH of acid (5,4) to slightly acid (5,58), CEC from low (15,23) to high (37,90), yet obtained the best dose combination of cow manure and inorganic fertilizer for increasing the growth and soybean yields.
1414617475A1C012028ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI PADI DENGAN TEKNOLOGI BUDIDAYA HAZTON DAN BUDIDAYA KONVENSIONAL DI DESA PEGALONGAN KECAMATAN PATIKRAJA KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui antara padi dengan teknologi budidaya hazton dan budidaya konvensional (1) perbedaan besarnya biaya, produktivitas dan pendapatan usahatani padi; (2) perbedaan efisiensi usahatani padi. Penelitian dilakukan di Desa Pegalongan Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas pada tanggal 25 April sampai 24 Juni 2016. Metode penelitian yang digunakan adalah survey. Pengambilan data dilakukan dengan observasi dan wawancara menggunakan kuisioner dengan pengambilan responden secara sensus untuk petani padi dengan teknologi budidaya hazton dan simple random sampling untuk petani padi budidaya konvensional. Data dianalisis menggunakan analisis biaya, penerimaan dan pendapatan, analisis produktivitas, analisis efisiensi usahatani dan analisis uji beda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Besarnya biaya usahatani padi dengan teknologi budidaya hazton sebesar Rp13.523.833/ha, produktivitas padi sebesar 5,105 ton/ha, dan pendapatan sebesar Rp3.322.667/ha. Besarnya biaya usahatani padi dengan budidaya konvensional sebesar Rp9.847.334/ha, produktivitas padi sebesar 4,028 ton/ha, dan pendapatan sebesar Rp2.237.589/ha. (2) Besarnya efisiensi usahatani ditunjukkan oleh nilai R/C ratio, nilai R/C ratio usahatani padi dengan teknologi budidaya hazton sebesar 1,25 dan 1,22 untuk usahatani padi dengan budidaya konvensional, jika diuji secara statistik maka tidak terdapat perbedaan nyata.The aims of this study are to know between hazton and conventional technique (1) difference of cost, productivity and profit; (2) difference of efficiency rice farming. This study conducted at Pegalongan village on April 25th to June 24th 2016. The research method which is used in this study is survey. Data retrieval has been done using observation and interview method by questionnaire with respondents taking census for rice farmers with cultivation hazton and simple random sampling for rice farmers with conventional cultivation. Data was analyzed by using productivity analysis, cost, income, and profit analysis, farming efficiency analysis, and different test analysis. The result of this study shown that: (1) On rice farming with hazton technique has spend Rp13.523.833/ha as total cost, 5,105 ton/ha as productiviy, and Rp3.322.667/ha as profit, while with conventional technique has spend Rp9.847.334/ha as cost, 4,028 ton/ha as productivity, and Rp2.237.589/ha as profit. (2) The amount of farming efficiency is indicated by the value of R/C ratio, on rice farming with hazton technique value of R/C ratio is 1,25 and with conventional technique is 1,22. Meanwhile statistically, there are no difference between R/C ratio of rice cultivating with hazton technique and conventional technique.
1414717326D1E012304POTENSI HIJAUAN PAKAN DALAM MENUNJANG KETERSEDIAN PAKAN
SAPI PERAH DI KABUPATEN BANJARNEGARA
RINGKASAN
Potensi Hijauan Pakan Dalam Menunjang Ketersedian Pakan Sapi Perah Di Kabupaten Banjarnegara. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 15 September sampai dengan 15 Oktober 2016 di Kecamatan Pejawaran, Wanadadi, Wanayasa, dan Rakit, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini yaitu : 1). Mengetahui potensi hijauan pakan berdasarkan kepemilikan lahan peternak yang digunakan untuk menanam hijauan pakan sebagai pakan sapi perah, 2). Mengetahui jenis hijauan pakan yang diberikan kepada sapi perah, 3) Mengetahui produksi hijauan dan kapasitas tampung ternak berdasarkan potensi hijauan pakan. Materi penelitian yang digunakan adalah seluruh peternak sapi perah yang ada di Kecamatan Pejawaran, Wanadadi, Wanayasa dan Rakit, Kabupaten Banjarnegara. Peubah yang diukur adalah hijauan pakan yang digunakan peternak sapi perah, produksi hijauan, rata-rata kepemilikan lahan, BK, produksi BK, PK dan TDN. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan teknik pengambilan data menggunakan pendekatan purposive samplingdan cara pengambilan sampel menggunakan teknik kuadran. Peternak yang ada di Kabupaten Banjarnegara menggunakan pakan rumput gajahPennisentum purpureum) sebagai pakan utama sapi perahnya. Setiap peternak memiliki lahan sendiri dengan luas rata-rata kepemilikan lahan seluas 6387 m2 (0,63 ha) dan jumlah keseluruhan lahan yang di tanami rumput gajah (yaitu seluas 313000 (31,3 ha) dengan produksi hijauan segar yaitu 9422 ton/tahun, produksi bahan kering (BK) 2350 ton/tahun, produksi PK 237,35 ton/tahun dan produksi TDN 1316 ton/tahun. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan maka Banjarnegara memiiki potensi hijauan yang sangat melimpah, sedangkan populasi sapi perahnya masih kurang dibandingkan dengan produksi hijauan yang ada. Berdasarkan produksi terdapat kelebihan pakan yang dapat menampung ternak berdasarkan jumlah produksi : 1. hijauan segar sebanyak 158 ekor, 2. BK sebanyak 269 ekor, 3. PK = 178 ekor, 4. TDN sebanyak = 197 ekor.

SUMMARY
Forage Feed Potential In Dairy Cows Feeding Availability In Banjarnegara District. The research was conducted on September 15 until October 15, 2016 in the District Pejawaran, Wanadadi, Wanayasa, and Rakit, Banjarnegara, Central Java. The purpose of this study are: 1). Knowing the potential of forage based land ownership of farmers who used to grow forage as feed for dairy cows, 2). Knowing the type of forage given to dairy cows, 3). The research material used is whole dairy farmers in Sub Pejawaran, Wanadadi, Wanayasa and Rakit, Banjarnegara. The parameters measured are forage types by dairy farmer, forage production, average tenure, BK, BK production, PK and TDN. The method used was survey with data collection techniques using purposive sampling approach and way of sampling using the quadrant. Farmers in Banjarnegara district using elephant grass feed (Pennisentum purpureum) as dairy cows main feed. Each farmers own their own land with an area of an average ownership of the land area of 6387 m2 (0.63 ha) and the total amount of land planted with elephant grass (ie an area of 313 000 (31.3 ha) with fresh forage production is 9422 tons / year, production of dry matter (DM) 2350 tons / year, PK production of 237.35 tons / year and TDN production of 1316 tons / year.Based on the results of research that has been done then Banjarnegara memiiki forage potential of this highly abundant, while the dairy cow population is still less than the existing forage production.Based there is an excess production which can accommodate livestock feed based on the amount of production: 1. fresh forage as much as 158 tails, tails 2. BK 269, 3. PK = 178 tails, 4. TDN total = 197 tails.

1414817476D1E011140HUBUNGAN ANTARA UKURAN VITAL STATISTIK AMBING DENGAN PRODUKSI SUSU KAMBING PERAH SAANENPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ukuran vital statistik ambing dengan produksi susu kambing perah Saanen. Materi penelitian yang digunakan adalah kambing Saanen laktasi sebanyak 76 ekor. Data dianalisis dengan menggunakan metode analisis regresi linier berganda. Variabel bebas yang diukur adalah panjang ambing, lebar ambing, dan tinggi ambing, sedangkan variabel terikat yang digunakan adalah produksi susu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan : panjang ambing 25,46 ± 4,09 cm, lebar ambing 13,07 ± 1,59 cm, tinggi ambing 18,50 ± 2,70 cm, dan produksi susu 1,11 ± 0,39 liter per hari. Terdapat hubungan yang erat (P < 0,01) antara produksi susu kambing perah Saanen dengan panjang ambing, lebar ambing, dan tinggi ambing, dengan koefisien korelasi 0,777. Hubungan tersebut dapat diformulasikan dengan persamaan garis regresi Y = -1,131 + 0,049 (PA) + 0,053 (LA) + 0,017 (TA). Sumbangan efektif yang diberikan oleh panjang ambing, lebar ambing, dan tinggi ambing terhadap produksi susu kambing perah Saanen adalah 60,45 persen, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Sumbangan relatif dari panjang ambing 63,68 persen, lebar ambing 24,14 persen, dan tinggi ambing 12,18 persen.This study aims to determine the relationship between size of the udder vital statistics with milk production of dairy Saanen goat. The material used were 76 lactating Saanen goat. This study used multiple linnier regression analysis. The independent variables measured were the udder length, udder width, and udder height, while the dependent variable is the milk production. The results showed that the mean is udder length was 25.46 ± 4.09 cm, udder width was 13.07 ± 1.59 cm, udder height was 18.50 ± 2.70 cm, and milk production was 1.11 ± 0.39 liter per day. There is a close relationship (P < 0.01) between milk production on dairy Saanen goats with the udder length, udder width, and udder height, with a correlation coefficient of 0.777. The relationships can be formulated with the regression line equation Y = -1.131 + 0.049 (PA) + 0.053 (LA) + 0.017 (TA). The effective contribution given by udder length, udder width, and udder height on milk production of dairy Saanen goat was 60.45 percent, while the rest influenced by other factors. The relative contribution of udder length was 63.68 percent, udder width was 24.14 percent, and udder height was 12.18 percent.
1414917467A1C012064PROFIL DAN MOTIVASI PERAJIN GULA KELAPA CETAK DI DESA SUSUKAN KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMASPerajin gula kelapa di Desa Susukan sebagian besar sudah menjalankan usaha gula kelapa lebih dari 15 tahun. Walaupun usaha ini relatif kecil pendapatannya, namun usaha ini tetap ditekuni sehingga peneliti tertarik mengetahui motivasi apa yang mendasarinya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui profil perajin gula kelapa di Desa Susukan Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas, (2) Mengetahui motivasi apa yang mendorong perajin tetap menjalankan usaha gula kelapa di Desa Susukan Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas, (3) Mengetahui keeratan hubungan antara faktor internal yang mendasari motivasi perajin dalam menjalankan usaha gula kelapa di Desa Susukan Kecamatan Sumbang. Penelitian dilaksanakan di Desa Susukan Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas pada bulan Agustus sampai September 2016. Metode penentuan tempat dilakukan secara purposive. Metode yang digunakan dalam penentuan responden adalah metode sensus terhadap 55 perajin gula kelapa yang memiliki usaha di luar gula kelapa. Analisis yang digunakan adalah analisis validitas dan reabilitas, analisis deskriptif, analisis Method of Successive Interval dan analisis korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Profil perajin gula kelapa yaitu terdiri 92,73 persen berusia produktif yaitu rentang usia 15 sampai 60 tahun, 58,18 persen berpendidikan SD, 34,55 persen memiliki jumlah tanggungan lebih dari 4 orang, 43,64 persen melakukan usaha gula kelapa 16 sampai 20 tahun dengan 72,73 persen berpendapatan lebih dari Rp75.000,00 per hari, (2) Motivasi yang mendorong perajin gula kelapa di Desa Susukan tetap menjalankan usaha gula kelapa yaitu jaminan pasar dan kontinuitas usaha gula kelapa yang didukung dengan motivasi rata-rata perajin yang tinggi, (3) Faktor internal yang memiliki keeratan hubungan dengan motivasi perajin meliputi umur, jumlah tanggungan, lama usaha dan pendapatan.Most of coconut palm sugar’s craftsmen in Susukan Village have already undertook businesses for more than 15 years. Even though their revenues are relatively small, nonetheless the craftsmen still undergo the business with the result that the researcher interested to find the reasons that underlying it. The aims of the research are to: (1) Find out the profile of coconut palm sugar’s craftsmen in Susukan Village Sumbang District Banyumas Regency, (2) Find out the motivation that encourage the craftsmen keep going on the coconut palm sugar in Susukan Village Sumbang District Banyumas Regency, (3) Find out the proximity between internal factors that underlie craftsmen motivation undertaking coconut palm sugar business in Susukan Village Sumbang District Banyumas Regency. The research was conducted in Susukan Village Sumbang District Banyumas Regency on August to September 2016. The method of determining the place was done purposively. The research method that used in determining respondents was using census method toward 55 coconut palm sugar’s craftsmen which have another job. The method of analysis are; Validity analysis and Reability analysis, Descriptive analysis, Method of Succesive Interval analysis and Rank Spearman correlation’s analysis. The result of this research shown that: (1) the profile of coconut palm sugar’s craftsmen consist of 92,33 percent in productive age which 15 up to 60 years, 58,18 percent graduated from elementary level, 34,55 percent have the number of dependents more than 4 people, 43,64 percent have already undertook business of coconut palm sugar in a range of 16 to 20 years and 72,73 percent earn income more than Rp75.000,00 per-day. (2) The motivation that encourage coconut palm sugar’s craftsmen in Susukan Village are the guarantee from market which supported by average coconut palm sugar’s craftsmen high level motivation. (3) The internal factors which have correlation with motivation of coconut palm sugar’s craftsmen are; the age, the number of dependents people, experience on coconut palm sugar business and the amount of income.
1415017477A1L012085KAJIAN INTERVAL FERTIGASI DAN FREKUENSI PEMBERIAN BAHAN PEMBENAH TANAH DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) DI LAHAN PASIR PANTAI NUSAWUNGUPenelitian ini bertujuan untuk : 1) menentukan interval fertigasi yang optimum bagi pertumbuhan dan hasil bawang merah di lahan pasir pantai. 2) menentukan frekuensi pemberian bahan pembenah tanah yang memberikan pengaruh terbaik bagi pertumbuhan dan hasil bawang merah di lahan pasir pantai. 3) menentukan kombinasi antara interval fertigasi dan frekuensi pemberian bahan pembenah tanah dengan dosis berbeda yang memberikan pengaruh terbaik bagi pertumbuhan dan hasil bawang merah di lahan pasir pantai. Penelitian dilaksanakan di lahan pasir pantai Jetis, Desa Banjarsari, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, pada bulan Juni sampai September 2016. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan RAKL dengan 2 faktor, 6 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah interval fertigasi terdiri I0 = 7 hari sekali, I1 = 14 hari sekali, I2 = 21 hari sekali. Faktor kedua adalah frekuensi pemberian bahan pembenah tanah terdiri P0 = 1 kali (sebelum tanam), P1 = 2 kali (sebelum tanam dan umur 4 minggu setelah tanam). Data dianalisis dengan cara uji F, apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) interval fertigasi pupuk nitrogen 7 hari sekali (I0) memberikan pengaruh pertumbuhan terbaik pada tinggi tanaman, panjang daun, luas daun, bobot umbi segar, bobot umbi kering, dan bobot tanaman kering serta menghasilkan potensi hasil umbi segar 10,81 ton/ha. (2) Interval fertigasi pupuk nitrogen 14 hari sekali (I1) memberikan pengaruh pertumbuhan terbaik pada bobot daun segar, bobot daun kering, dan bobot tanaman segar bawang merah (3) Frekuensi pemberian bahan pembenah tanah dengan dosis yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata terhadap semua variabel pertumbuhan dan hasil bawang merah (4) Kombinasi antara interval fertigasi 14 hari sekali (I1) dan frekuensi pemberian bahan pembenah tanah sebelum tanam + umur 4 minggu setelah tanam (P1) menunjukan pengaruh terbaik pada variabel pertumbuhan bobot daun kering serta menghasilkan potensi hasil umbi segar 11,51 ton/ha.This research aimed to know 1) determine the optimum interval fertigation effect for growth and yield of shallot in coastal sandy land. 2) determine the frequency of giving soil conditioner that gives the best effect for growth and yield of shallot in coastal sandy land. 3) determine the optimum combination of fertigation intervals and frequency of giving of soil conditioner with different doses that gives the best effect for growth and yield of shallot in coastal sandy land. The research was conducted at Banjarsari village, Nusawungu subdistrict, Cilacap Regency from June to september 2016. This research used completed Randomised Block Design with 2 factors, 6 treatment combinations and 3 replications. The first factor is the interval fertigation consists I0 = 7 days, I1 = 14 days, I2 = 21 days. The second factor is the frequency of the giving of soil conditioner consists P0 = 1 time (before planting), P1 = 2 times (before planting and the age of 4 weeks after planting). Data were analyzed by F test, tested further by DMRT if significantly different. The result show that (1) fertigation intervals of nitrogen fertilizer 7 days once (I0) give best growth effect on plant height, leaf length, leaf area, the weight of fresh bulk, the weight of dry bulk, the weight of dry plants and produce potential fresh tuber yield of 10,81 tonnes/ha (2) fertigation intervals of nitrogen fertilizer 14 days once (I1) give best growth effect on the weight of fresh leaves, the weight of dry leaves, and the weight of fresh shallot crop (3) the frequency of giving of soil conditioner with different doses give no significant effect on all of the growth variables and shallot yield (4) combination of fertigation intervals 14 days once (I1) and the frequency of giving of soil conditioner before planting and age of 4 weeks after planting (P1) showed the best effect on growth variable of dry leaf weight and produce potential fresh tuber yield of 11,51 tonnes/ha.
1415117478A1C112011ANALISIS RISIKO FINANSIAL PADA USAHA CARICA (Carica pubescens) DI DATARAN TINGGI DIENG
(Studi Kasus di Kabupaten Banjarnegara)
Carica merupakan salah satu komoditas buah-buahan yang tumbuh subur di Dataran Tinggi Dieng. Ketersediaan bahan baku yang langka pada saat musim kemarau membuat industri pengolahan manisan Carica tidak berproduksi seperti biasanya bahkan ada yang sampai tidak berproduksi. Kecamatan Batur merupakan sentra pengolahan manisan Carica di Kabupaten Banjarnegara. Penelitian Analisis Risiko Finansial pada Usaha Carica bertujuan untuk: (1) Mengetahui rata-rata keuntungan pada industri pengolahan manisan Carica di Dataran Tinggi Dieng Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara (2) Mengetahui keuntungan pada setiap skala usaha industri pengolahan manisan Carica di Dataran Tinggi Dieng Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara (3) Mengetahui kelayakan industi pengolahan manisan Carica di Dataran Tinggi Dieng (4) Mengetahui risiko kerugian industri pengolahan manisan Carica menurut skala usaha dalam memperoleh keuntungan karena adanya fluktuasi harga bahan baku dan jumlah produksi yang dihasilkan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2016. Penentuan responden menggunakan metode sensus terhadap 26 industri pengolahan manisan Carica. Pengambilan data dilakukan dengan observasi dan wawancara menggunakan kuisioner. Analisis yang digunakan adalah analisis biaya dan keuntungan, analisis R/C Rasio, Analisis Break Even Point (BEP), dan simulasi Monte Carlo.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Keuntungan rata-rata industri pengolahan manisan Carica bulan Juni sebesar Rp58.569.924,81 (2) Dengan menggunakan analisis deterministik dan stokastik keuntungan terbesar diperoleh oleh skala usaha 150 kg/hari dan keuntungan terkecil diperoleh oleh skala usaha 50 kg/hari (3) Penerimaan industri pengolahan manisan Carica di Dataran Tinggi Dieng Bulan Juni 2016 pada saat BEP sebesar Rp509.163,00, jumlah produk pada saat BEP sebesar 33,29 kilogram, harga jual pada saat BEP sebesar Rp16.446,99, dan R/C Rasio sebesar 2,16 artinya industri pengolahan manisan Carica di Dataran Tinggi Dieng layak (4) Dengan menggunakan simulasi Monte Carlo risiko kerugian terbesar adalah pada skala usaha 200 kg/hari yaitu sebesar 30% dan risiko kerugian terkecil adalah pada skala usaha 100 kg/hari yaitu sebesar 0%.

Kata kunci: analisis finansial, Carica, simulasi Monte Carlo
Carica is one of commodity fruits that well-cultivated in Dieng Plateau. The lack of raw materials availability in the dry season making candied Carica processing industry did not produce like usual, some even do not produce. District Batur is sweets Carica processing centers in Banjarnegara region. This research aims to: (1) Determine the average gain in the processing industry of candied Carica in Dieng Plateau, Batur district, Banjarnegara (2) Determine the profit on each scale processing industry confectioner of Carica in Dieng Plateau, Batur district, Banjarnegara (3) Determine the feasibility of processing industry confectioner Carica in Dieng Plateau (4) Knowing the risk of loss of candied Carica processing industry according to the scale of business in profit due to fluctuations in raw material prices and production quantities were produced. The research was conducted in June 2016. The determination of the respondents using the census to 26 Candied Carica processing industry. Data were collected by observation and interview using a questionnaire. The analysis that used was cost-benefit analysis, analysis of R / C ratio, analysis Break Even Point (BEP), and Monte Carlo simulations.
The results showed that: (1) The average profit processing industryes candied Carica June was Rp58.569.924,81 (2) By using deterministic analysis and stokastikk biggest advantage gained by the business scale of 150 kg / day and the smallest gain obtained by the scale of business 50 kg / day (3) Reception at the time of Rp509.163,00 BEP, the number of products at the time amounted to 33.29 kg BEP, BEP selling price at the time of Rp16.446,99, and R / C ratio of 2.16 means the processing industry in the District Batur candied Carica decent (4) using a Monte Carlo simulation biggest losses are in the business scale of 200 kg / day amounting to 30% and the risk of loss is the smallest on the business scale of 100 kg / day is equal to 0%.

Keywords: financial analysis, Carica, Monte Carlo simulation
1415217418G1F013054Pengaruh Pemberian Home Pharmacy Care Terhadap Kepuasan Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Kabupaten Banyumas Diabetes melitus termasuk penyakit kronis yang memerlukan terapi jangka panjang untuk mencapai kontrol glikemik yang optimal. Kontrol glikemik yang optimal dipengaruhi oleh kepuasan pengobatan. Pelayanan kefarmasian di rumah oleh apoteker (home pharmacy care) dapat digunakan sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan kepuasan pengobatan pasien diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelayanan kefarmasian di rumah terhadap kepuasan pengobatan pasien diabetes melitus tipe 2 di Kabupaten Banyumas.
Penelitian ini merupakan penelitian Cross Sectional dengan kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Intervensi yang telah diberikan apoteker berupa home pharmacy care melalui program Comp-Act selama Desember 2015 - Mei 2016. Total pasien yang mengikuti penelitian ini, yaitu 88 orang (kontrol = 39, intervensi = 49). Kepuasan pengobatan diukur menggunakan kuesioner Treatment Satisfaction Questionnaire for Medication (TSQM versi II) yang diuji validitas konstruk terpakai dan reliabilitas.
Hasil uji beda menunjukkan bahwa kelompok intervensi memiliki skor yang lebih besar dibandingkan kelompok kontrol pada domain kepuasan pengobatan berdasarkan efektivitas (71,693 versus 68,796, p = 0,096), domain kepuasan pengobatan berdasarkan efek samping (98 versus 97,051, p = 0,389), domain kenyamanan penggunaan obat (68,612 versus 68,153, p = 0,402), dan domain kepuasan secara umum (69,551 versus 69,153, p = 0,623), namun tidak berbeda signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian home pharmacy care dapat meningkatkan kepuasan pengobatan pasien diabetes melitus tipe 2 dalam mencapai kontrol glikemik yang optimal.
Diabetes mellitus is a chronic disease that requires long-term therapy. Optimal glycaemic control in the management of diabetes mellitus affected by treatment satisfaction. One strategy that can be used to improve treatment satisfaction is conducting home pharmacy care to patients. The purpose of study was to determine the effect of home pharmacy care on treatment satisfaction of patients with type 2 diabetes mellitus in Banyumas.
This research was using Cross Sectional design with the intervention group and the control group. Home pharmacy care intervention have given by pharmacists in Comp-Act Project during December 2015 to May 2016. Total patients who participated in this study was 88 people (control = 39, intervention = 49). Treatment satisfaction was measured using a Treatment Satisfaction Questionnaire for Medication (TSQM version II) which validated and tested its reliability.
The results showed that the intervention group had a greater treatment satisfaction score than the control group on the domain effectiveness (71,693 versus 68,796, p = 0,096), domain side effects (98 versus 97,051, p = 0,389), the domain convenience (68,612 versus 68,153, p = 0,402), and overall satisfaction domain (69,551 versus 69,153, p = 0,623), but not significantly different. This indicated that home pharmacy care intervention could increase treatment satisfaction of diabetic patient in achieving optimal glycemic control.
1415317482C1L012061DETERMINANTS OF GOING CONCERN AUDIT OPINION
(Empirical On Study Banking Companies Listed In Idx 2011-2015)
Going concern adalah kelangsungan hidup suatu badan usaha dan merupakan asumsi dalam pelaporan keuangan suatu entitas. Asumsi ini mengharuskan perusahaan secara operasional memiliki kemampuan mempertahankan kelangsungan hidupnya (going concern) dan akan melanjutkan usahanya di masa depan. Perusahaan diasumsikan tidak bermaksud atau berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara material skala usahanya. Going concern selalu dihubungkan dengan prestasi kerja yang telah dicapai oleh pihak manajemen perusahaan yang disajikan dalam bentuk laporan keuangan. Kelangsungan hidup perusahaan ini menjadi salah satu sorotan yang sangat penting bagi pihak – pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan terutama untuk investor yang ingin melakukan investasi pada perusahaan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh ukuran perusahaan dan kinerja keuangan terhadap opini audit going concern pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2011 – 2015. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap opini audit going concern, sedangkan kinerja keuangan berpengaruh secara signifikan terhadap opini audit going concern.
Going concern is the survival of an enterprise and the assumptions in the financial reporting entity. This assumption requires companies operationally has the ability to survive (going concern) and will continue his efforts in the future. The Company assumed no intention or desire to liquidate or materially reduce their business scale. Going concern is always associated with the performance which has been achieved by the management and presented in financial statements. The viability of the company became one of the important things for the parties who interested in the company, especially for investors who want to invest in the company.
The aims of this result are to determine and analyze the firm size and financial performance toward going concern audit opinion on the manufacturing companies listed in Indonesia Stock Exchange in 2011 - 2015. The results of this study showed that the firm size does not affect the going concern audit opinion and financial performance significantly affect audit opinion going concern.
1415417483A1C112028ANALISIS NILAI TAMBAH DAN EFISIENSI USAHA SABUT KELAPA PADA CV. RESTU SELARAS DI DESA PUCUNG LOR
KECAMATAN KROYA KABUPATEN CILACAP
Agroindustri merupakan industri yang mengolah hasil-hasil pertanian sebagai bahan baku, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing hasil pertanian. CV. Restu Selaras merupakan salah satu industri berskala kecil yang mengolah sabut kelapa menjadi coco mat (kesed sabut kelapa), coco brush (sikat sabut kelapa), dan coco peat (serbuk sabut kelapa). Potensi pengolahan sabut kelapa yang besar belum bisa dimanfaatkan sepenuhnya untuk kegiatan produktif yang dapat meningkatkan nilai tambahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) besarnya biaya produksi, penerimaan dan pendapatan serta nilai tambah coco mat, coco brush dan coco peat;2) besarnya nilai efisiensi usaha pengolahan sabut kelapa. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Penelitian dilakukan pada CV. Restu Selaras di Desa Pucung Lor Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap pada bulan Agustus 2016. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis nilai tambah dengan metode Hayami dan analisis Revenue Cost Ratio (R/C). Hasil penelitian menunjukan total biaya produksi ketiga produk sebesar Rp19.418.333,67, total penerimaan ketiga produk sebesar Rp32.890.000,00, dan total pendapatan untuk ketiga produk sebesar Rp13.471.666,33, Nilai tambah dari produk coco mat sebesar 69,97 persen, nilai tambah dari produk coco brush sebesar 56,07 persen dan nilai tambah produk coco peat sebesar 80,95 persen, artinya nilai tambah dari ketiga produk tergolong tinggi. Nilai efisiensi sebesar 1,69 berarti bahwa perusahaan berada dalam kategori menguntungkan dan layak untuk dikembangkan.Agro-industry is an industrial processing of agricultural products as raw materials, so it can be increase the added value and competitiveness of agricultural products. CV. Restu Selaras is one of the small-scale industrial processing into coco mat, coco brush, and coco peat. Potential large of coconut coir processing can not be fully utilized for productive activities that can increase the value added. This research aims to determine 1) the cost of production, revenue and income of coco mat, coco peat and coco brush; 2) amount of coconut coir processing business efficiency. The research method used was a case study. The research was conducted at CV. Restu Selaras in Pucung Lor Village, Kroya Regency, Cilacap District in August 2016. The analyzed data method using were analysis value-added Hayami method and analysis Revenue Cost Ratio (R/C). Total cost of production for all three products amounted to Rp19,418,333.67, total revenue for all three products amounted to Rp32,890,000.00, and total income for all three products amounted to Rp13,471,666,33. Added value from coco mat products are 69,97 percent, added value from coco brush products are 56,07 percent and added value from coco peat products are 80,95 percent, it means the added value of three products relatively high. Efficiency value is 1,69 means that the company is in the category of profitable and feasible to be developed.
1415517484D1E012261LAMA PEMELIHARAAN DAN BANGSA-BANGSA SAPI POTONG PADA KELOMPOK TANI TERNAK LEMBUSARI CILACAP UNTUK TUJUAN TARGET PASAR YANG BERBEDA
Penelitian bertujuan untuk mengetahui bangsa-bangsa dan lama penggemukkan serta umur penjualan sapi potong pada target pasar yang berbeda yang dilakukan petani peternak Lembusari Kabupaten Cilacap. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survey. Penentuan lokasi ditentukan berdasarkan purposive sampling. Sasaran penelitian yaitu anggota kelompok ternak Lembusari di Desa Gandrungmangu, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap. Variabel yang diukur yaitu bangsa sapi potong yang dipelihara, lama pemeliharaan (penggemukan) sapi potong dan umur sapi potong (bulan) yang dijual. Data yang didapatkan diolah dengan menggunakan analisis deskriptif, analisis uji T dan analisis uji Chi Square. Bangsa sapi potong yang digemukkan oleh peternak pada periode Idul Adha adalah bangsa sapi Bali sebanyak 53,33%, sapi PO 17,04%, sapi Simental 14,07%, sapi Madura 7,41%, sapi Limousin 6,67%, dan sapi Brahman 1,48%. Sedangkan pada periode non Idul Adha adalah bangsa sapi Limousin sebanyak 29,46%, sapi Simental 26,36%, sapi PO 12,40%, sapi Brahman 12,40%, sapi Madura 10,08% dan sapi Bali 9,30%. Lama Pemeliharaan sapi potong pada periode idul adha yaitu 3,79 bulan dan periode non idul adha yaitu 4,08 bulan. Umur penjualan sapi potong pada periode Idul Adha (2,7-3,4 tahun) nyata lebih pendek dibanding non Idul Adha (2,8-3,4 tahun). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lama pemeliharaan sapi potong pada periode Idul Adha dan Non Idul Adha berbeda (P<0,05), karena permintaan pasar yang meningkat pada periode Idul Adha sehingga lama pemeliharaan sapi potong pada periode idul adha akan lebih singkat dibanding periode non Idul Adha. Umur penjualan pada periode Idul Adha dan non Idul Adha berbeda (P<0,05).
The purposes of study were to investigate cattle breeds, the length of rearing and ages at which cattle were sold for different market targets, namely ied al-adha and non ied al-adha in the Lembusari farmer group of Cilacap. The study was conducted using a survey method by interviewing the beef cattle farmers, the locations were determined by purposive sampling. The respondent of the research were the members of Lembusari cattle farmer groups in Gandrungmangu Village, Gandrungmangu District, Cilacap regency. Variables observed were cattle breeds , the length of rearing and age at which cattle were sold (month). The descriptive analysis showed that the majority breeds of cattle being reared for Eid al-adha market were as follows: the Bali cattle (53.33%), the cattle PO (17.04%), the cattle Simental (14.07%), the cattle Madura (7.41%), the cattle Limousin (6.67%) and the cattle Brahman (1.48%). While cattle that were commonly kept for non Eid al-Adha market were as follows: the Limousin (29.46%), the Simental (26.36%), the PO (12.40%), the Brahman (12.40%), the Madura (10.08%) and the Bali (9.30%). The length of rearing of beef cattle for the market of Eid al-Adha was 3.79 month while for market of non Eid al-Adha was 4.08 month. The ages at which cattle were solds in the period Eid al-Adha (2.7-3.4 years) were younger than that in the period of non Eid al-Adha (2.8-3.4 years). The results showed that the length of rearing for the market of Eid al-Adha and period of non Eid al-Adha were siginificantly different (P<0.05). The ages at which cattle were sold in the period of Eid al-adha and period of non Eid al-adha were significantly different (P<0.05).
1415617485A1C012023DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN BANYUMAS JAWA TENGAHKomoditas jagung merupakan komoditas pangan strategis yang ada di Indonesia. Jagung tidak hanya digunakan sebagai bahan pangan, namun juga menjadi bahan penting dalam industri pakan ternak. Kebutuhan jagung yang ada belum mampu dipenuhi seluruhnya oleh produksi jagung dalam negeri sehingga kebutuhannya dipenuhi melalui impor. Perlu adanya upaya peningkatan produksi jagung dalam negeri yang berdaya saing guna memenuhi kebutuhan jagung dalam negeri serta dapat bersaing dengan produk jagung impor. Peningkatan produksi jagung yang berdaya saing dapat terwujud apabila didukung oleh kebijakan pemerintah yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis daya saing komoditas jagung di Kabupaten Banyumas 2) menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap usahatani jagung di Kabupaten Banyumas 3) menganalisis pengaruh penurunan harga output, penurunan jumlah produksi dan peningkatan upah tenaga kerja terhadap daya saing komoditas jagung di Kabupaten Banyumas.
Penelitian dilakukan di Desa Kebanggan, Desa Karanggintung dan Desa Tambaksogra Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 29 April sampai 3 Juni 2016. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Sasaran penelitian adalah petani jagung yang mengusahakan jagung pada tahun 2015. Penentuan jumlah sampel dilakukan dengan metode simple random sampling. Metode analisis yang digunakan adalah analisis Policy Analysis Matrix dan analisis sensitivitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Usahatani jagung di Kabupaten Banyumas memiliki daya saing dan layak untuk dikembangkan 2) Kebijakan pemerintah memberikan dampak yang positif terhadap input, sedangkan di sisi output, kebijakan pemerintah memberikan dampak yang negatif. Secara keseluruhan, kebijakan pemerintah terhadap input dan output tidak memberikan dampak yang menguntungkan bagi usahatani jagung di Kabupaten Banyumas 3) Berdasarkan penurunan harga output sebesar 28,57 persen, penurunan hasil produksi sebesar 21,28 persen dan peningkatan upah tenaga kerja sebesar 30 persen, usahatani jagung di Kabupaten Banyumas masih memiliki daya saing.
Maize is a strategic food commodity in Indonesia. Maize is not only used as food but also an important ingredient in animal feed industry. The demand of maize is can not be fulfilled by local maize production, so it has to be fulfilled by import. An effort was needed to increase local maize production which has competitiveness to the import product of maize. The increase of local maize production could be achieved if it was supported by appropiate government policy. This research aimed to: 1) analyze the competitiveness of maize in Banyumas Regency 2) analyze the impact of government policy to maize farming in Banyumas Regency 3) analyze the impact of the decrease of output price, the decrease of production and the increase of labour cost to the competitiveness of maize in Banyumas Regency.
The research was conducted in Kebanggan Village, Karanggintung Village and Tambaksogra Village, Sumbang Subdistrict, Banyumas Regency. The data taken on April 29th to June 3rd 2016. The method of this research was survey. The target of this research was farmer who did maize farming in 2015. The amount of sampel decided with simple random sampling method. The analysis method used are Policy Analysis Matrix (PAM) and sensitivity analysis.
Research result showed that: 1) Maize commodity in Banyumas Regency has competitiveness and feasible to be develop 2) Government policies give positive impct to the input factor, however on the output, government policies give negative impact, overall government policies to the input and output didn’t give positive impact to maize farming in Banyumas Regency 3) According to the scenario of the decreasing of output price by 28,57 percent, the decreasing of production by 21,28 percent and the increasing of labour cost by 30 percent, maize farming in Banyumas Regency still has competitiveness.
1415717486D1E010136PEMBERIAN EKSTRAK BATANG PISANG TERHADAP TOTAL PROTEIN PLASMA (TPP) DAN FIBRINOGEN DARAH KELINCI YANG TERINFEKSI KOKSIDIOSISPenelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak batang pisang terhadap Total Protein Plasma (TPP) dan jumlah fibrinogen darah pada kelinci yang terinfeksi koksidiosis. Materi yang digunakan adalah Ekstak batang pisang, darah kelinci dan 25 ekor kelinci rex jantan umur 1-2 bulan. Penelitian ini menggunakan metode Eksperimental, yang dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang di ujicobakan yaitu: R0 = 0 mg, R1 = 100 mg, R2 = 200 mg, R3 = 400 mg, R4 = 800 mg. Peubah yang di amati adalah total protein plasma (TPP) dan fibrinogen. Hasil penelitian diperoleh rataan Total Protein Plasma (TPP) kelinci yang terinfeksi koksidiosis 6,31 gr/dL dan rataan Fibrinogen yang terinfeksi koksidiosis 0,38 gr/dL. Hasil analisis variansi menujukan bahwa pemberian ekstrak batang pisang berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap Total Protein Plasma (TPP) dan Fibrinogen darah kelinci yang terinfeksi koksidiosis. Kesimpulanya jumlah Total Protein Plasma dan Fibrinogen darah kelinci mengalami peningkatan namun dalam kisaran normal.This study aims to determine the effect of banana stem extract to Total Protein Plasma (TPP) and the amount of fibrinogen in the blood of infected rabbit coccidiosis. The material used were banana trees extract, the blood of rabbits and 25 males rex rabbits aged 1-2 months. Experimental method used in this study was completely randomized design (CRD). The treatments were R0 = 0 mg, R1 = 100 mg, R2 = 200 mg, R3 = 400 mg, R4 = 800 mg. The observed variables were total plasma protein (TPP) and fibrinogen. The results showed that the average Total Plasma Proteins (TPP) of infected rabbit coccidiosis was 6.31 g / dL and the mean Fibrinogen infected with coccidiosis was 0.38 g / dL. The results of variance analysis showed that extract of banana stems did not significantly affect (P> 0.05) Total Plasma Protein (TPP) and Fibrinogen blood of coccidiosis infected rabbit. In conclusion, the amount Total Plasma Protein and Fibrinogen rabbit blood have increased but within the normal range.
1415817487D1E012247PRODUK FERMENTASI RUMEN (VFA DAN NH3) PADA BERBAGAI HIJAUAN DITAMBAH KONSENTRAT SECARA INVITROPenelitian berjudul Produk Fermentasi Rumen (VFA dan NH3) Pada Hijauan Yang Ditambah Konsentrat Secara In Vitro. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 27 Juli 2016 sampai dengan 2 Agustus 2016 di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar VFA dan NH3 pada beberapa hijauan dalam pakan sapi potong secara In Vitro.
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah cairan rumen sapi potong, konsentrat yang terdiri dari bungkil kelapa, pollard, onggok, dedak padi, mineral, dan urea dan hijauan yang berupa daun katuk, daun pisang, daun waru, dan rumput gajah. Peubah yang diukur adalah VFA dan NH3 menggunakan metode eksperimental dan menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan lima ulangan yaitu P1 : 40 % daun katuk + 60% konsentrat, P2 : 40 % daun pisang + 60% konsentrat, P3 : 40 % daun waru + 60% konsentrat, P4 : 40 % rumput gajah + 60% konsentrat. Apabila perlakuan berpengaruh nyata maka akan dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar VFA dan NH3 (P<0.05). Perlakuan dapat memberikan pengaruh yaitu kadar VFA dan NH3 yang terkandung dalam hijauan mampu memenuhi kebutuhan Nutrien dalam Rumen. Simpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa perlakuan P1 (Daun Katuk) merupakan perlakuan dengan kadar VFA (Volatile fatty acid ) tertinggi diantara keempat perlakuan. Perlakuan P1 (Daun Katuk) merupakan perlakuan dengan kadar Amonia / NH3 tertinggi diantara keempat perlakuan. Berdasarkan uji beda nyata jujur (BNJ), Kadar VFA masing-masing perlakuan dan kontrol Berbeda Nyata (P1 219.170 ± 52.396, P2 213.630 ± 41.029, P3 187.276 ± 59.635, P4 201.500 ± 41.473). Kadar Amonia atau NH3 masing-masing perlakuan dan kontrol Berbeda Nyata (P1 25.058 ± 3.546, P2 10.650 ± 2.268 ,P3 22.226 ± .2.461, P4 11.900 ± 1.683).
This study aims to determine the levels of VFA and NH3 of forage added with concentrate in vitro. The research was conducted on July 27, 2016 until 2 August 2016 in the Laboratory of Animal Nutrition and Food Sciences, Faculty of Animal Science, University of jenderal Sudirman, Purwokerto. The purpose of this study was to determine the levels of VFA and NH3 on some forage in beef cattle feed in vitro.
Material in this study are rumen fluid of beef cattle, concentrate which consist of copra, pollard, cassava, rice bran, minerals, and urea and forage that is katuk leaf, waru leaf, banana leaf and napier grass. The parameters measured were VFA and NH3 using experimental methods and using a completely randomized design with four treatments and five replications were P1: 40% sauropus androgynus L.mer + 60% concentrate, P2: 40% fermented banana leaf + 60% concentrate, P3: 40 % hibiscus tiliateus + 60% concentrate, P4: 40% pennisetum purpereums schumach + 60% concentrate. If a significant effect of treatment then it will continue to honestly significant difference test (HSD).
The results showed that treatment of very significant effect on digestibility of VFA and NH3 (P<0,05). Treatment that can influence the levels of VFA and NH3 contained in forage to meet the needs Nutrients in Rumen. The conclusions of this study stated that the treatment P1 (Katuk Leaf) is treated with high levels of VFA (volatile fatty acid) is the highest among the four treatments. P1 treatment (Katuk Leaf) is treated with ammonia levels / NH3 is the highest among the four treatments. Based on the test honestly significant difference ( HSD ) , VFA levels each treatment and control Different Real (P1 219.170 ± 52.396, P2 213.630 ± 41.029, P3 187.276 ± 59.635, P4 201.500 ± 41.473). Ammonia levels or NH3 each treatment and control different real (P1 25.058 ± 3.546, P2 10.650 ± 2.268 ,P3 22.226 ± .2.461, P4 11.900 ± 1.683).
1415917489D1E010233PEMBERIAN EKSTRAK BATANG PISANG TERHADAP NILAI TROMBOSIT DAN HEMATOKRIT DARAH KELINCI YANG TERINFEKSI KOKSIDIOSISPenelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ekstrak batang pisang terhadap nilai trombosit dan hematokrit darah kelinci yang terinfeksi koksidiosis, selain itu untuk mengetahui level ekstrak batang pisang yang optimum untuk mempertahankan kadar trombosit dan hematokrit dalam kisaran normal. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstrak batang pisang, darah kelinci, kelinci peranakan Rex jantan umur 2-3 bulan (lepas sapih) dengan bobot badan 500-700 gr sejumlah 25 ekor. Penelitian menggunakan metode Eksperimental, dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan dengan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ). Perlakuan terdiri atas R0 : kontrol, R1: 100 mg, R2 : 200 mg, R3 : 400 mg, R4 : 800 mg. Peubah yang diamati adalah trombosit dan hematokrit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata trombosit berkisar antara 256,25x103/mm3 sampai 646,25x103/mm3, dan rata-rata hematokrit berkisar 29,6% sampai 32,1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak batang pisang berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap trombosit dan hematokrit darah kelinci yang terinfeksi koksidiosis. This study aims to determine the effect of banana stem extract on thrombocyte and hematocrit value of the blood of coccidiosis infected rabbit, in addition to know the optimum level of banana stem extract to maintain thrombocyte and hematocrit levels within the normal range. The material used in this study was the extract of banana stems, rabbit blood, 25 Rex rabbit hybrid males aged 2-3 months (weaning) with a body weight of 500-700 grams. Experimental research method was used, with a completely randomized design (CRD) using 4 treatments and 4 replications with a further test of Honestly Significant Difference (HSD). The treatment consisted of R0: control, R1: 100 mg, R2: 200 mg, R3: 400 mg, R4: 800 mg. Variables measured were thrombocyte and hematocrit. The results showed that the average thrombocyte ranged 256,25x103 / mm3 until 646,25x103 / mm3, and the average hematocrit ranges from 29.6% to 32.1%. The results showed that the extract of banana stems did not have significant effect (P> 0.05) on thrombocyte and blood hematocrit of coccidiosis infected rabbit.
1416017253G1A013019HUBUNGAN GAYA HIDUP DENGAN NILAI ANKLE-BRACHIAL INDEX: STUDI CROSS-SECTIONAL PADA MAHASISWA UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANLatar Belakang. Aterosklerosis merupakan penyakit kardiovskuler yang menjadi penyebab kematian terbesar mencapai angka 50% di dunia. Aterosklerosis dapat muncul akibat dari berbagai macam faktor, salah satunya gaya hidup. Deteksi dini aterosklerosis dengan metode noninvasif telah berkembang dan berpotensi mempermudah evaluasi dan pengobatan terhadap risiko gangguan kardiovaskuler. Ankle-Brachial Index sebagai salah satu metode pendeteksi aterosklerosis dapat digunakan untuk membantu tindakan preventif sedini mungkin yang dapat dilakukan bahkan sejak usia muda. Hubungan gaya hidup dengan nilai Ankle-Brachial Index pada usia muda masih belum banyak diteliti.
Tujuan. Mengetahui hubungan gaya hidup dengan nilai Ankle-Brachial Index pada Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman.
Metode. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sembilan puluh tujuh laki-laki usia 18 hingga 40 tahun diambil menjadi subjek penelitian dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Subjek penelitian mengisi kuesioner tentang gaya hidup yang meliputi aktivitas fisik, pola konsumsi energi dan kebiasaan merokok. Setiap subyek penelitian kemudian diukur tekanan sistolik ankle dan brachial menggunakan vascular doppler, kemudian dihitung nilai Ankle-Brachial Index.
Hasil. Terdapat hubungan gaya hidup dengan nilai Ankle-Brachial Index yang bermakna secara statistik (p<0,05). Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara aktivitas fisik dan pola konsumsi energi dengan nilai Ankle-Brachial Index dengan nilai p>0,05. Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara merokok dengan nilai Ankle-Brachial Index dengan nilai p<0,05.
Kesimpulan. Terdapat hubungan gaya hidup dengan nilai Ankle-Brachial Index pada mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman. Gaya hidup yang berhubungan dengan nilai Ankle-Brachial Index adalah merokok.
Background. Atherosclerosis is a cardiovascular disease that became the largest cause of death reached 50% in the world. Atherosclerosis can occur as a result of various factors, one of that is lifestyle. Early detection of atherosclerosis by non-invasive methods have been developed and potentially to simplify the evaluation and treatment on the risk of cardiovascular disorders. Ankle-Brachial Index as one of detecting methods of atherosclerosis can be used to help the preventive measures as early as possible that can be done even from a young age. Relations lifestyle and Ankle-Brachial Index value at a young age has not been understood.
Objective. To understand relations lifestyle and Ankle-Brachial Index score on student of Jenderal Soedirman University.
Methods. This was observational analytic study with cross-sectional approach. Ninety seven men aged between 18 and 40 years chosen by consecutive sampling method participated in this study. The participants filled out questionnaires about lifestyle that includes physical activity, energy consumption patterns and smoking habits. Then each participant was measured the ankle and brachial sistolic pressure, after that calculated Ankle-Brachial Index score.
Result. There was a relationship lifestyle with Ankle-Brachial Index score which was statistically significant (p<0.05). There is no statistically significant relationship between physical activity and energy consumption patterns with Ankle-Brachial Index score with value of p>0.05. There was a statistically significant relationship between smoking and Ankle-Brachial Index score with a value of p<0.05.
Conclusion. There was a relationship lifestyle and Ankle-Brachial Index score on student of Jenderal Soedirman University. Lifestyle related Ankle-Brachial Index score was smoking.