Artikelilmiahs

Menampilkan 14.061-14.080 dari 49.691 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1406117405D1E012326Pengaruh Lama Pembaluran Jus Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus) Terhadap Kualitas Fisik Daging Dada Itik Petelur Afkir
Tujuan penelitian mengetahui lama waktu pembaluran jus buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) terhadap kualitas fisik daging itik petelur afkir. Data diambil pada tanggal 23 sampai dengan 25 September 2016 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak dan Laboratorium Ilmu Bahan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Materi yang digunakan adalah 20 potong daging dada itik petelur afkir dan buah naga merah 300 g. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu daging itik petelur afkir tanpa pembaluran (K0), dibalur buah naga merah dengan konsentrasi 20% selama 30 menit (K1), 60 menit (K2), 90 menit (K3) dan setiap perlakuan diulang 5 kali. Peubah yang diukur yaitu pH, keempukan, susut masak dan daya ikat air. Data diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan uji lanjut ortogonal polinominal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembaluran menggunakan buah naga merah berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap keempukan dan susut masak daging dada itik petelur afkir serta berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pH namun berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap daya ikat air. Rataan pH daging dada itik petelur afkir masing-masing adalah; K0: 6,18; K1: 6,05; K2: 6,00; K3: 5.92; Keempukan K0: 0,069 mm/g/detik, K1: 0,071 mm/g/detik, K2: 0,075 mm/g/detik, K3: 0,092 mm/g/detik. Susut masak K0: 22%, K1: 38%, K2: 44%, K3: 72%. Daya ikat air (DIA) K0: 33,65%, K1: 33,10%, K2: 41,12%, K3: 46,55%. Kesimpulan, pembaluran dengan konsentrasi 20% jus buah naga merah selama 60 menit menghasilkan penurunan pH, peningkatan keempukan, dan susut masak pada daging dada itik petelur afkir, namun daya ikat air relatif sama.This study aimed to find out the effect of the length of coating of red dragon fruit juices (hylocereus polyrhizus) to the physical quality of breast meat of culled laying ducks. Data were collected 23 to 25 September 2016 at the Post Harvest Technology Laboratory and Feedstuff Laboratory, the Faculty of Animal Husbandry, Jeneral Sudirman University, Purwokerto. The materials used were 20 pieces of breast meat of culled laying ducks and 300 g of red dragon fruit. The method used was experimental method using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments, (K0) meat without red dragon fruit juice coating, whereas K1, K2 and K3 treatments were meat coated in red dragon fruit juice as much as 20% for 30, 60 and 90 minutes respectively. Each treatment was repeated 5 times. Parameters measured were pH, tenderness, cooking shrinkage and water holding capacity. Data were analyzed using analysis of variance and continued with polinominal orthogonal test. The results showed that coating red dragon fruit juice has a highly significant effect (P <0.01) to the cooking shrinkage and significant effect (P <0.05) to pH and tenderness of breast meat of culled laying ducks, but not significantly (P> 0.05) affect water holding capacity. The mean pH of breast meat of culled laying ducks, respectively; K0: 6,18; K1: 6,05; K2: 6,00; K3: 5.92; Tenderness: K0: 0,069 mm/g/sec, K1: 0,071 mm/g/sec, K2: 0,075 mm/g/sec, K3: 0,092 mm/g/sec. Cooking shrinkage: K0: 22%, K1: 38%, K2: 44%, K3: 72%. Water holding capacity (WHC): K0: 33,65%, K1: 33,10%, K2: 41,12%, K3: 46,55%. In conclusion, wrapping with a 20% concentration of red dragon fruit juice for 60 minutes resulted in a less pH, increased tenderness and shrinkage cook of the breast meat of culled laying ducks, but has relatively similar water holding capacity.
1406217398H1C012022Perancangan Sistem Konveyor Dilengkapi Dengan Deteksi Objek Menggunakan CMUcam Berbasis PLC dan HMI Machine Vision atau MV merupakan teknologi yang mampu membuat sebuah mesin untuk dapat melihat dan mengenali sebuah objek. Untuk dapat melihat dan mengenali objek tentu saja sebuah mesin membutuhkan komponen tambahan berupa kamera untuk dapat mengambil citra dari objek dan komponen yang dapat mengolah citra yang ditangkap serta mengubahnya menjadi bahasa yang dimengerti oleh mesin. Pada penelitian ini kamera digital CMUcam 5 digunakan sebagai perangkat MV, perangkat PLC menggunakan Mitsubishi FX2N-32MR untuk mengendalikan sistem konveyor, dan HMI menggunakan Vijeo Citect SCADA. CMUcam 5 digunakan untuk mengenali objek yang dibedakan sesuai warna dan ukuran. Objek yang terdeteksi oleh CMUcam 5 dikirimkan datanya ke Arduino. Melalui Arduino data tersebut diubah menjadi sinyal input ke PLC dengan melalui modul relay. CMUcam mendeteksi objek sesuai dengan warna dan ukuran. Pembedaan warna dibedakan sesuai dengan signature, signature 1 untuk objek berwarna merah dan signature 2 untuk objek berwarna kuning. Untuk ukuran dibagi menjadi tiga buah kategori ukuran yaitu kecil, sedang, dan besar. Tinggi dari objek dideteksi dan didapatkan bahwa range untuk objek merah kecil 34-38 pixel, merah sedang 41-44 pixel, dan merah besar 41-49 pixel. Sedangkan range untuk objek kuning kecil 35-38 pixel, kuning sedang 41-49 pixel, dan kuning besar 49-48. Koordinat x yang paling baik untuk mendeteksi objek yaitu antara 100 sampai 210 satuan pixel. Secara keseluruhan sistem Konveyor dengan Kamera CMUcam 5 sebagai pendeteksi objek dapat berfungsi dengan baik, terbukti dengan objek merah kecil dan sedang disimpan pada penyimpanan merah, objek kuning kecil dan sedang disimpan pada penyimpanan kuning, dan objek berukuran besar dibuang ke pembuang dengan kesalahan 0%. Komunikasi PLC dengan HMI juga berjalan stabil terbukti dengan mesin dapat dikontrol dan dimonitor melalui HMI.Machine Vision or MV is a technology that is capable of making a machine to be able to see and recognize an object. To be able to see and recognize objects certainly an engine requires additional components such as cameras to be able to capture the image of the objects and components that can process the captured image and turn it into a language known by the machine. In this study, CMUcam 5 is used as a MV device, Mitsubishi FX2N-32MR used as PLC device for controlling the conveyor system, and Vijeo Citect SCADA is used to establish HMI system. CMUcam 5 is used to recognize objects wich are distinguished by color and size. The data of detected object will be sent by CMUcam 5 Arduino. The data will be converted into the input signal to the PLC by Arduino via relay module. CMUcam detect objects according to color and size. Color distinction distinguished according to the signature, signature 1 for red object and signature 2 for yellow objects. For the size, object divided into three categories, small object, medium object, and large object. After the experiment found that the height of red objects are 34-38 pixel for small red object, 41-44 pixel for medium red object, and 41-49 pixel for big red object. For the yellow objects are 35-38 pixel for small yellow object, 41-49 pixel for medium yellow object, and 49-48 pixel for big yellow object. The best x coordinate to detecting an object that is between 100-210 pixel units. Overall, the conveyor system with CMUcam 5 as camera for object detection can run well, proven by the small and medium red object being stored on the red storage area, the small and medium yellow object being stored on the yellow storage area, and the big object-sized is dumped into disposal sites and the system runs with 0% error. Communications between PLC and HMI running perfectly and stable, proven by the machine can be controlled and monitored by HMI.
1406317409A1L012113Pengaruh Lama Penyinaran Lampu LED dan Aerasi Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) pada Hidroponik Indoor dengan Sistem Sumbu (Wick System)Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) lama penyinaran lampu LED yang optimum terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada pada hidroponik indoor dengan sistem sumbu, 2) lama aerasi yang optimum terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada pada hidroponik indoor dengan sistem sumbu, 3) interaksi lama penyinaran lampu LED dan lama aerasi yang optimum terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada pada hidroponik indoor dengan sistem sumbu. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, pada bulan Juli sampai dengan bulan September 2016. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) dengan dua faktor perlakuan, yaitu lama penyinaran lampu LED dan lama pemberian aerasi. Petak utamanya (Main Plot) adalah lama penyinaran lampu LED dan anak petaknya (Sub Plot) adalah lama pemberian aerasi. Faktor pertama merupakan lama penyinaran lampu LED yang terdiri dari tiga taraf, yaitu 12 jam, 18 Jam, dan 24 Jam. Faktor kedua merupakan lama aerasi yang terdiri dari tiga taraf, yaitu 12 jam, 18 Jam, dan 24 Jam. Kedua faktor tersebut didapatkan 9 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan. Data dianalisis menggunakan Uji F, apabila terdapat keragaman dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kesalahan 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama penyinaran lampu LED 24 jam memberikan hasil terbaik pada tinggi tanaman (46,91 cm), panjang daun (19,60 cm), luas daun (1620,81 cm2), jumlah stomata pukul 12.00 (27,55 unit), lebar bukaan stomata pukul 07.00 (1,51 µm), bobot tanaman segar (8,53 g/tan), bobot tanaman kering (0,36 g), dan bobot hasil tanaman (8,40 g/tan). Lama aerasi 24 jam memberikan hasil terbaik pada kadar klorofil yaitu 16,61 mg/g. Tidak terdapat interaksi yang berpengaruh nyata antara lama penyinaran lampu LED dengan lama aerasi.This research aimed to know : 1) the optimum lighting period of LED on growth and yield of the lettuce in an indoor hydroponics with wick system, 2) the optimum aeration period on growth and yield of the lettuce in an indoor hydroponics with wick system 3) the optimum interaction between lighting period of LED and aeration period on growth and yield of the lettuce in an indoor hydroponics with wick system. This research was conducted in the Laboratory of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman on July to September 2016. This research used a Split Plot Design with two factors of treatments, the lighting period of LED and aeration period. The first major lighting period of LED as the special plot (main plot), while the aeration period as the second factor is placed as a plot child (sub plot). The first factor was lighting period of LED consist of three levels : 12 hours, 18 hours, and 24 hours. The second factor was aeration period consist of three levels : 12 hours, 18 hours, and 24 hours. Both of factors are obtained 9 combinated treatment with three replications. Data were analyzed by F test, then continued with DMRT test with an alpha of 5 %, when there was a generated variaton. The result showed that 24 hours treatment of lighting period of LED effect to the highest result reached by plant height (46,91 cm), leaf length (19,60 cm), leaf area (1620,81 cm2), number of stomata at 12.00 a.m. (27,55 unit), wide porus of stomata at 07.00 a.m.(1,51 µm), fresh weight of plants (8,53 g/plants), dry weight of plants (0,36 g) and yield weight of plants (8,40 g/plants). The aeration of 24 hours period reached the highest result by leaf greenness levels was 16,61 mg/g. There was not interaction between lighting period of LED and aeration period.
1406417400C1G014094PENGARUH MATURITAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH DAN KAPABILITAS APARAT PENGAWASAN INTERN PEMERINTAH TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAHPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh maturitas Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dan kapabilitas Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh LKPD di Indonesia tahun 2014 dan 2015 yang telah diperiksa oleh BPK. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive sampling. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah maturitas SPIP dan kapabilitas APIP. Pengujian hipotesis menggunakan model analisis regresi logistik ordinal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa maturitas SPIP berpengaruh positif terhadap kualitas LKPD. Sedangkan kapabilitas APIP tidak berpengaruh positif terhadap kualitas LKPD. Nilai Pseudo R-Square menunjukkan bahwa pengaruh variabel bebas terhadap kualitas LKPD hanya sebesar 10,4%, sedangkan sisanya sebesar 89,6% dijelaskan oleh faktor-faktor lain di luar model penelitian ini.
The purpose of this research was to examine the influence of the maturity of internal government’s control system (SPIP) and the capability level of Government Internal Supervisory Apparatus (APIP) on the quaility of local government’s financial reports (LKPD). The populations of this research were audited local government’s financial reports in Indonesia by the year of 2014 and 2015. The sampling method which was used in this research was purposive sampling. The independent variables used in this research were the maturity of SPIP, and the capability level of APIP. Hypothesis testing was done by using ordinal logistic regression analysis.
The result showed that the maturity of SPIP had positive effects on the quality of local government’s financial reports. On the other hand, the capability level of APIP was not proven to have significant effects on the quality of local government’s financial reports. The value of Pseudo R-Square showed that the influence of the independent variables to the quality of local government’s financial reports were only 10,4% while the remaining variables of 89,6% were explained by other factors outside the regression models of this research.
1406517401C1A012039Pengaruh Investasi, Tenaga Kerja, dan Human Capital Investment Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Subosukawonosraten Tahun 2006-2014Penelitian ini mengambil judul: “Pengaruh Investasi, Tenaga Kerja, dan Human Capital Investment Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Subosukawonosraten Tahun 2006-2014”.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variabel investasi, tenaga kerja, dan human capital investment terhadap pertumbuhan ekonomi di Subosukawonosraten serta untuk mengetahui variabel yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Subosukawonosraten.
Lokasi penelitian ini adalah kawasan Subosukawonosraten yaitu Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen dan Klaten. Metode penelitian ini adalah metode penelitian survey, dan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan hasil analisis data dengan menggunakan Random Effect Model (REM) menunjukan bahwa investasi dan tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Subosukawonosraten dan human capital investment berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Subosukawonosraten. Variabel tenaga kerja merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Subosukawonosraten.
Implikasi dari kesimpulan di atas yaitu pemerintah diharapkan mampu memperluas dan meningkatkan investasi pada daerah-daerah di Subosukawonosraten, dengan cara menetapkan suku bunga yang rendah untuk kredit investasi dan kredit modal kerja, sehingga hal tersebut akan memacu peningkatan kredit di masyarakat yang akan berdampak investasi semakin meningkat pula. Mengingat tenaga kerja merupakan variabel yang paling berpengaruh di Subosukawonosraten, maka diharapkan program-program peningkatan kualitas SDM yang akan memasuki pasar kerja, seperti mengadakan pelatihan-pelatihan sesuai bidang yang dibutuhkan.
The title of this research is “The Effect of Investment, Labour, and Human Capital Investment to the Economic Growth in Subosukawonosraten in 2006-2014”. The purpose of this research is to know the effect of investment variabel, labor and human capital investment to the economic growth in Subosukawonosraten and to know the most influential variabel to the economic growth in subosukawonosraten.
This research located in subosukawonosraten. Subosukawonosraten region consist of Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen dan Klaten. This research use survey method research and the type of research that use in this research is qualitative descriptive analysis.
The result of the research and data analysis that use Random Effect Model (REM) shows that investment and labour have positive effect and significant to the economic growth in subosukawonosraten whereas Human Capital Investment influential but not significant to the economic growth in subosukawonosraten. labour is the most influential variabel to the economic growth in subosukawonosraten.
The implication from this research is the government is be expected to extended and increase the investment in subosukawonosraten areas. The way that government can use is determine low interest rate for credit investment and working capital investment, thus it will stimulate the increasing of credit in the society and it will influence to the increasing of investment. Considering labour is the most influential variabel in the economic growth in subosukawonosraten, so the government is be expected to held programs that will increase the quality of labour that will enter to the labour market, like held the trainings based on the field that needed.
1406617402H1L012084SISTEM INFORMASI RENTAL MOBIL MEINOVA (SIR_NOVA) DENGAN SMS GATEWAY BERBASIS WEBSistem Informasi Rental Mobil dengan sms gateway berbasis web adalah suatu sistem yang digunakan untuk memudahkan proses peminjaman mobil dan mengelola penyewaan, serta untuk meningkatkan pelayanan terhadap customer. Kegiatan perentalan mobil ini dilakukan oleh pemilik rental (owner), admin dan pelanggan (customer). Informasi yang dihasilkan dari sistem ini antara lain jenis dan tipe mobil, harga sewa mobil, serta informasi penyewaan. Berdasarkan penelitian, pelayanan yang diberikan terhadap customer sangat terbatas dan kurang efisien, dikarenakan tidak adanya sistem yang mampu memberikan informasi terkait mobil yang akan disewakan dan tidak adanya sistem yang dapat melakukan reservasi mobil secara online.
Pengembangan sistem dilakukan berdasarkan tahapan waterfall dengan bahasa pemrograman PHP dan MySQL. Hasil dari pengembangan sistem ini adalah sebuah sistem untuk transaksi pemesanan serta telah mengatasi masalah yang berhubungan dengan kualitas informasi.

Car rental information sistem of meinova (sir_nova) with sms gateway based web is a sistem used to facilitate the process for rent a car and to manage data of leasing, and to increase the service. This activity was did by owner, admin and customer. The information generated from the sistem are kind of the car and type the cars for rent, the price of each car for rent, and rent information. Based on research, the service provided to the customer is very limited and not efficient because there is no sistem to give the information about the car and no sistem to do a reservation.
Development of the sistem was did by waterfall method and language program PHP and MySQL. The results of the development of this sistem is a sistem for booking transaction and have resolve the problem about information quality.

1406717403G1A013126Hubungan Mekanisme Koping dengan Tingkat Depresi pada Orangtua Anak Skizofrenia yang Dirawat Inap di RSUD BanyumasLatar Belakang: Konsekuensi emosi, sosial, dan finansial yang dialami seseorang dengan skizofrenia memberikan efek nyata pada keluarganya yang dapat dialami terus-menerus dan menyebabkan berbagai masalah termasuk stress. Mekanisme koping merupakan tindakan dan pikiran yang dilakukan sebagai upaya dalam mengatasi stress yang dialami dan dapat digolongkan menjadi problem-focused coping (PFC) dan emotion-focused coping (EFC). Depresi merupakan suatu gangguan jiwa yang dipengaruhi stress psikososial dan dapat berupa gejala, sindrom, maupun diagnosis.
Tujuan: Mengetahui hubungan mekanisme koping dengan tingkat depresi pada orang tua anak skizofrenia yang dirawat inap di RSUD Banyumas.
Metode: Rancangan observasional analitik dengan wawancara langsung menggunakan LMMPI, Brief Cope Inventory dan Beck Depression Inventory-II (BDI–II) terhadap keseluruhan sampel (total sampling) sebanyak 23 orang.
Hasil: Mayoritas responden menggunakan metode problem-focused coping (56.5%) dalam menghadapi stress yang dialaminya. Tingkat depresi yang dialami pengguna PFC mencapai 53.9% namun hanya terbagi dalam depresi ringan dan sedang. Tidak ditemukan hubungan yang bermakna (p=0.307) antara mekanisme koping dengan tingkat depresi pada orangtua anak skizofrenia yang dirawat inap di RSUD Banyumas
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan mapun bermakna secara klinis antara mekanisme koping dengan tingkat depresi pada orangtua anak skizofrenia yang dirawat inap di RSUD Banyumas
Background: Emotional, social, and financial consequences felt by schizophrenia patients can give significant burden towards their family which can become the source of many problems including stress. Coping mechanism is defined as all actions and thoughts done in order to relieve stress, usually categorized as problem-focused coping (PFC) and emotion-focused coping (EFC). Depression is known as mental health problem which can be affected by psycho-social stressors, and can be categorized further into symptom, syndrome, or diagnosis.
Objective: To know the correlation between coping mechanism and depression level on parents of schizophrenia inpatients at RSUD Banyumas.
Methods: Observational-analytic design, done by direct interview using LMMPI, Brief Cope Inventory and Beck Depression Inventory-II (BDI-II) questionnaire towards total sample of 23 respondents.
Result: The majority (56.5%) of respondents preferred PFC when coping on their stress. The depression level of respondents using PFC was around 53.9% but only categorized into mild and moderate depression. No significant correlation (p=0.307) was found between coping mechanism and depression level on parents of schizophrenia inpatients at RSUD Banyumas.
Conclusion: There’s no significant nor clinically meaningful correlation between coping mechanism and depression level on parents of schizophrenia inpatients at RSUD Banyumas.
1406817406G1A013122PERBEDAAN TINGKAT STRES ANTARA ORANGTUA YANG MEMILIKI SATU ANAK SKIZOFRENIA DAN ORANGTUA YANG MEMILIKI LEBIH DARI SATU ANAK SKIZOFRENIA DI RSUD BANYUMAS.Latar Belakang: Anak skizofrenia merupakan anak yang membutuhkan perhatian yang khusus. Orang tua yang memiliki anak skizofrenia memiliki tanggung jawab tersendiri dibandingkan dengan anak normal yang membuat tingkat stres orangtua yang memiliki anak skizofrenia lebih tinggi. Terlebih jika terdapat orangtua yang memiliki jumlah anak skizofrenia tidak hanya satu, tetapi lebih dari satu. Jumlah anak inilah yang mungkin dapat mempengaruhi perbedaan tingkat stres masing masing orangtua.
Tujuan Penelitian: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan tingkat stres antara orang tua yang memiliki satu anak skizofrenia dan orang tua yang memiliki lebih dari satu anak skizofrenia di RSUD Banyumas.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan rancangan observasional analitik dengan wawancara langsung menggunakan Lie Minnesota Multhiphasic Personality (LMMPI) dan Depresi Anxiety Stres Scale (DAAS) terhadap seluruh sampel (total sampling) sebanyak 60 orang.
Hasil: Hasil yang didapat dari 60 responden yang terdiri dari 30 orang tua yang memiliki satu anak skizofrenia dan 30 orang tua yang memiliki lebih dari satu anak skizofrenia dengan uji analisis Mann-Whitney yaitu p=0,045 (p<0,05) menunjukan terdapat perbedaan yang bermakna pada tingkat stres antara orang tua yang memiliki satu anak skizofrenia dan orang tua yang memiliki lebih dari satu anak skizofrenia di RSUD Banyumas.
Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna pada tingkat stres antara orang tua yang memiliki satu anak skizofrenia dan orang tua yang memiliki lebih dari satu anak skizofrenia di RSUD Banyumas..
Background: Schizophrenic child is a child who needs special attention. Parents of children with schizophrenia have different responsibility than those of normal children which makes their stress level higher. Even more if the parents have more than one schizophrenic child. The number of children may affect the differences in parents’ stress level.
Objective: This study was aimed to know the differences in stress level between parents who have a child with schizophrenia and parents who have more than one child with schizophrenia in RSUD Banyumas
Methods: This study used observational-analytic design by direct interview using Lie Minnesota Multhiphasic Personality (LMMPI) and Depression Anxiety Stress Scale (DAAS) towards all respondents (total sampling), 60 people in total.
Result: The result acquired from 60 respondents which consisted of 30 parents with one schizophrenia child and 30 parents with more than one schizophrenia child with Mann-Whitney analysis test was p=0,045 (p<0,05) which showed significant differences of stress level between parents who have a child with schizophrenia and parents who have more than one child with schizophrenia in RSUD Banyumas
Kesimpulan: Significant differences existed in stress level of parents who have a child with schizophrenia and parents who have more than one child with schizophrenia in RSUD Banyumas
1406917407C1G014121FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESADARAN MENGIKUTI TAX AMNESTY (STUDI KASUS PADA KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA PURWOKERTO)Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris faktor-faktor yang
mempengaruhi kesadaran mengikuti tax amnesty (studi kasus pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Purwokerto). Objek penelitian adalah kesadaran mengikuti tax amnesty, kesadaran membayar pajak, pengetahuan dan pemahaman peraturan perpajakan, persepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan, dan tingkat kepercayaan terhadap sistem pemerintahan dan hukum.
Populasi penelitian ini adalah 133.596 wajib pajak orang pribadi. Teknik
pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan sampel sebanyak 100
responden. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran membayar pajak, dan pengetahuan
dan pemahaman peraturan perpajakan berpengaruh terhadap kesadaran mengikuti tax amnesty, sedangkan persepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan dan tingkat kepercayaan terhadap sistem pemerintahan dan hukum tidak berpengaruh terhadap kesadaran mengikuti tax amnesty. Hal ini menandakan perlunya peningkatan kesadaran mengikuti tax amnesty melalui pemanfaatan pajak yang tepat dan perbaikan sistem pemerintahan dan hukum.
This research aims to empirically examine factors that influence tax amnesty awareness (case study in The First Tax Services Office Purwokerto). This research objects were paying tax awareness, knowledge and understanding of tax regulation, a good perception of the effectiveness of the taxation system, and trust in governmental and law system.
The population of this research was 133.596 singular tax payers. The sampling technique in this research was purposive sampling with total samples of 100 respondents. The data collected by using questionnaires and data analysis technique used was multiple regression analysis.
The results showed that paying tax awareness and knowledge and understanding of tax regulation affect tax amnesty awareness. While a good perception of the effectiveness of the taxation system and the trust in governmental and law system had no effect on tax amnesty awareness. It means that government need to increase tax amnesty awareness by tax using truely and improvements of governmental and law system.
1407017410G1A013025PERBEDAAN DIAMETER DAN TEBAL EPITEL TUBULUS SEMINIFERUS
TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) JANTAN
PASCA INDUKSI BERBAGAI MODEL STRES SLEEP DEPRIVATION
Paradoxical sleep deprivation (PSD) dan total sleep deprivation (TSD) dapat menyebabkan gangguan aksis HPA, aksis HPG, dan peningkatan stres oksidatif yang berhubungan dengan masalah infertilitas pria. Sleep recovery (SR) dapat menginduksi pengeluaran hormon melatonin sebagai antioksidan untuk memperbaiki fungsi reproduksi pria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan diameter dan tebal epitel tubulus seminiferus pada tikus putih jantan yang diinduksi model stres PSD, TSD, PSD dengan SR, dan TSD dengan SR. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental post test only with control group design. Hewan coba dibagi menjadi 5 kelompok (6 ekor tiap kelompok). Kelompok perlakuan terdiri atas kelompok kontrol (KI), kelompok PSD (KII), kelompok TSD (KIII), kelompok PSD dengan SR (KIV), dan kelompok TSD dengan SR (KV). Perlakuan stres dan SR sama-sama diberikan selama 4 hari. Diameter dan tebal epitel tubulus seminiferus diukur menggunakan Image Raster 3. Rerata diameter dan tebal epitel tubulus seminiferus tertinggi terdapat pada kelompok kontrol (351,21±5,11 dan 112,16±7,90), sedangkan rerata terendah terdapat pada kelompok TSD (338,66±17,10 dan 107,44±12,68). Uji ANOVA menunjukkan rerata diameter dan tebal epitel tubulus seminiferus tidak signifikan, yaitu p=0,598 dan p=0,895 (p>0,05). Penelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan rerata diameter dan tebal epitel tubulus seminiferus pada tikus putih jantan yang diinduksi model stres PSD, TSD, PSD dengan SR, dan TSD dengan SR.Paradoxical sleep deprivation (PSD) and total sleep deprivation (TSD) can cause disrupt of HPA axis, HPG axis, and increased oxidative stress which related with male infertility. Sleep recovery (SR) can induce secretion of melatonin as an antioxidant to improve male reproduction function. The aim of this study was to know the difference in diameter and epithelial height of seminiferous tubule male albino rats after exposed by various sleep deprivation stress model. This research was experimental post-test only with control group design. Rats were divided into 5 group (6 animals each group). The treatment group contain of control group (KI), PSD group (KII), TSD group (KIII), PSD with SR group (KIV), TSD with SR group (KV). Stress and SR was exposed for 4 days. Diameter and epithelial height of seminiferous tubule was measured by Image Raster 3. Mean diameter and epithelial height of seminiferous tubule was highest in control group (351,21±5,11 and 112,16±7,90), while the lowest mean found in TSD group (338,66±17,10 and 107,44±12,68). ANOVA test showed mean diameter and epithelial height of seminiferous tubule were not significant differences p=0,598 and p=0,895 (p>0,05). This research showed there were no differences in diameter and epithelial height of seminiferous tubule after exposed by various sleep deprivation stress model (p>0,05).
1407117412C1G014116Evaluasi Penerapan Manajemen Risiko di Inspektorat Jenderal Kementerian KeuanganPenelitian ini merupakan penelitian kualitatif terhadap penerapan manajemen risiko di Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan. Penelitian ini mengambil judul “Evaluasi Penerapan Manajemen Risiko di Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan manajemen risiko di Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan. Untuk mengetahui bagaimana penerapan manajemen risiko di Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan hal tersebut, penelitian menggunakan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 191 Tahun 2008 tentang Penerapan Manajemen Risiko di Lingkungan Departemen Keuangan sebagai kriteria penilaian.
Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui Focus Group Discussion (FGD), studi kepustakaan, serta wawancara terhadap tiga belas orang responden yang merupakan pejabat, pelaksana, dan auditor internal penerapan manajemen risiko di Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif menurut Creswell (2012) dalam menganalisis dan menginterpretasikan data yang telah dikumpulkan tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, penerapan manajemen risiko di Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan sudah baik. Hal ini tercermin dari hasil penilaian evaluasi penerapan manajemen risiko Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan yang menunjukkan nilai sebesar 76,92. Adapun elemen pendukung baiknya hasil penilaian evaluasi penerapan manajamen risiko adalah (1) komitmen pimpinan baik, (2) dukungan sumber daya baik, dan (3) manajemen risiko membantu pencapaian tujuan organisasi.
Namun penerapan manajemen risiko di Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan belumlah sempurna, penerapan manajemen risiko terkendala beberapa hal berikut: (1) kesenjangan pemahaman konsep dan manajemen risiko, (2) tidak menggunakan Standard Operating Procedures (SOP), (3) budaya menegasikan Indikator Kinerja Utama (IKU) dan (4) rencana penanganan yang telah dilakukan belum memenuhi persyaratan kumulatif penanganan risiko yang memadai. Sebagai langkah perbaikan penerapan manajemen risiko di Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan, implikasi dari penelitian ini adalah (1) pemutakhiran dan internalisasi SOP dan (2) peningkatan pemahaman konsep dan manajemen risiko secara intensif.
This study is a qualitative research about the application of Risk Management in Inspectorate General of The Ministry of Finance. The title of this study is “Evaluation of The Application of Risk Management in Inspectorate General of The Ministry of Finance”. The purpose of this study is to know how Risk Management is being applied in Inspectorate General of The Ministry of Finance. To know about how it is applied, this study used the Minister of Finance’s Decree number
191/PMK.09/2016 on The Application of Risk Management in The Ministry of
Finance as an assesment criteria.
Data was collected through Focus Group Discussion, study of literatures, as well as interviews with thirteen respondents which comprises of authorities, staffs and internal auditors of the application of risk management in Inspectorate General of The Ministry of Finance. This study used a qualitative analysis according to Creswell (2012) in analyzing and interpreting the data collected.
The results showed that, the application of risk management in the Inspectorate General of the Ministry of Finance is at Level 4 (Risk Managed). This is reflected in the results of the evaluation of risk management application in Inspectorate General of the Ministry of Finance which showed a score of 76.92. As for the factors that support the good results of the evaluations are (1) good commitment from the Management (2) well-supported resources (3) risk management helps the achievement of organization’s objectives.
However, the implementation of risk management in the Inspectorate General of the Ministry of Finance is still imperfect, some obstacles that hinder the application of risk management are: (1) gaps in the understanding of risk management concept, (2) not having any Standard Operating Procedures, (3) the habit of negating the Key Performance Indicator, and (4) mitigation plans didn’t meet the cumulative requirement of adequate risk mitigation. As corrective measures for the application of risk management in Inspectorate General of The Ministry of Finance of Indonesia, the implications of this study are: (1) update and internalization of the Standard Opearting Procedures and (2) intensive improvement of conceptual understanding of risk management.
1407217433D1E012151KADAR PROTEIN DAN KESTABILAN BUIH TEPUNG PUTIH TELUR PADA METODE FREEZE DRAYING DENGAN LAMA FERMENTASI YANG BERBEDATujuan penelitian untuk mengkaji pengaruh lama fermentasi terhadap kadar protein dan kestabialan buih tepung putih telur yang dibuat menggunakan metode freeze drying. Pengambilan data dilaksanakan mulai 12 Juli 2016 sampai 10 Agustus 2016 bertempat di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan, Laboratorium Kimia Organik Fakultas Matematika, dan Laboratarium Riset Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Penelitian menggunakan metode experiment menggunakan desain Rancangan Acak Lengkap. P1 : lama fermentasi 3 jam, P2 : lama fermentasi 6 jam, P3 : lama fermentasi 9 jam dan P4 : lama fermentasi 12 jam.Setiap perlakuan diulang lima kali. Data yang diperoleh dianalisis variansi dan dilanjutkan uji orthogonal polynomial bila perlakuan berbeda nyata. Hasil perlakuan menunjukan bahwa lama fermentasi pengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap kadar protein tepung dan kestabilan buih tepung putih telur. Hasil uji lanjut orthogonal polynomial menunjukkan bahwa makin lama fermentasi meningkatkan kadar protein namun kestabilan buih tepung putih telur menurun, masing-masing mengikuti persamaan garis Y = 12,33 + 3,43X (r = 0,99) dan Y = 90,26 - 0,49X (r = 0,86). Kesimpulan dari penelitian adalah semakin lama fermentasi putih telur menggunakan Saacharomyces cereviceae meningkatkan kadar protein tepung putih telur namun menurunkan kestabilan buihThe purpose of this experiment to investigate effects of fermentation time on protein content and foam stabillity egg white powder that processed by freeze drying method. Researched was implemented from July 12nd to August 10th 2016 in Animal Production Laboratory of Animal Science Faculty, Organic Chemistry Laboratory of Mathematics and Natural Sciences Faculty, and Research laboratory of Jenderal Soedirman University Purwokerto. Experimental method was used the design Completely Randomized Design, as the treatment is fermentation time P1 = 3 hours’ fermentation, P2 = 6 hours’ fermentation, P3 = 9 hours’ fermentation and P4 = 12 hours’ fermentation. Each treatments were replicated five times data analyzed using variance analysis and polynomial orthogonal test if on treatment sicnificant or highly significant effect. The result showed that fermentation time highly sicnificant effect (P<0.01) on protein contentand foam stability of egg white powder. The result of Orthogonal polynomial test on protein content increase while foam stabillity decrease, each followed equation Y = 12,33 + 3,43X (r = 0,99), and Y = 90,26 - 0,49X (r = 0,86). The conclusion, different fermentation time egg white by Saccharimyces cereviceae were to be continued incresing protein content and it decrease foam stabillity.
1407317408A1L112017RESPON LIMA GENOTIP KEDELAI (Glycine max (L.) Merril) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK HAYATI Penelitian respon genotip kedelai terhadap pemberian pupuk hayati bertujuan untuk: 1) Mengkaji respon lima genotip kedelai terhadap pemberian pupuk hayati 2) Mengetahui dosis pupuk hayati yang memberikan pengaruh terbaik terhadap lima genotip kedelai dan 3) Mengetahui genotip kedelai yang menghasilkan produksi terbaik. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot). Faktor yang dicoba ada dua, faktor pertama adalah dosis pupuk M-Bio Porasi yang terdiri dari 3 taraf yaitu, D0 (tanpa dosis M-Bio Porasi), D1 (5 l dosis M-Bio Porasi per hektar) dan D2 (10 l dosis M-Bio Porasi per hektar). Pemupukan dosis M-Bio Porasi D1 (5 l dosis M-Bio Porasi per hektar) dan D2 (10 l dosis M-Bio Porasi per hektar) diberikan setelah 20 hari setelah tanam pada sekitar perakaran tanaman kedelai. Faktor kedua adalah penggunaan genotip kedelai yang terdiri dari Varietas Grobogan (G1), Galur A10-2 (G2), Galur Pr 69 (G3), Galur Pr 26 (G4) dan Galur Pr 65 (G5). Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, diameter batang, jumlah buku cabang utama, jumlah daun, jumlah cabang produkti, berat kering tajuk, berat kering akar, jumlah polong, jumlah biji, bobot kering biji, bobot kering biji per petak efektif dan bobot 100 biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Repon genotip kedelai terhadap pemberian pupuk hayati terlihat dari pertumbuhan dan hasil genotip kedelai yang optimal 2) Pertumbuhan dan hasil kedelai yang tinggi dapat dicapai dengan pemberian dosis pupuk 10 l dosis M-Bio Porasi per hektar 3) Genotip Pr 65 dan Pr 69 menunjukan penampilan terbaik pada semua variabel.The Research of reponse soybean genotypes on biofertilizer aims to 1 ) Determine response of five soybean genotypes to treatment on biofertilizer 2) Knowing the best dose that gives effect of five soybean genotypes and 3 ) Knowing soybean genotypes that best production. The experimental design used was split plot design with two factors and three replications. The first factor is the dose of biofertilizer M - Bio porasi which three levels, D0 ( without a dose of M - Bio porasi ) , D1 ( 5 l dose of M - Bio porasi/hectare ) and D2 ( 10 l dose M - Bio porasi/hectare ). Biofertilization dose of M - Bio porasi D1 and D2 dose given 20 day after plant at about the roots of soybean plants. The second factor is the use of soybean genotypes of varieties Grobogan ( G1 ), line A10-2 ( G2 ), line Pr 69 ( G3 ), line Pr 26 ( G4 ) and line Pr 65 ( G5 ). The variables measured were plant height, stem diameter, number of books main branches, number of leaves, number of branches produktiv, wet weight of shoot, root wet weight, number of pods, number of seeds, seeds wet weight, seed per plot effective wet weight and weight of 100 seed. The results showed that 1) Reponse soybean genotypes of biofertilizer can be seen from the the growth and yield of genotypes soybeans an optimal 2) Growth and yields of soybean that can be achieved with a dose of biofertilizer 10 l M-Bio porasi dose per hectare 3) Genotypes of Pr 65 and Pr 69 showed the best performance on all variable.
1407417413G1A013092Perbedaan tingkat depresi orang tua yang memiliki satu anak skizofrenia dan orang tua yang memiliki lebih dari satu anak skizofrenia di RSUD BanyumasLatar Belakang: Skizofrenia merupakan sindrom dengan variasi penyebab dan perjalanan penyakit yang luas, akibat pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya. Bagi orang tua, tentunya sangat prihatin apabila mereka mempunyai anak skizofrenia, faktor ini memicu konflik keluarga serta mempunyai beban yang menimbulkan masalah emosional dan sosial pada orang tua sehingga menjadi depresi. Prevalensi depresi di Indonesia yaitu sebesar 6% atau sekitar 16 juta orang dari seluruh penduduk.
Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui perbedaan tingkat depresi antara orang tua yang memiliki satu anak skizofrenia dan orang tua yang memiliki lebih dari satu anak skizofrenia di RSUD Banyumas.
Metode Penelitian: Desain penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampling adalah total sampling dengan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner Lie Minnesota Multiphasic Personality Inventory (L-MMPI) dan kuesioner Beck Depression Inventory (BDI). Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney.
Hasil: Responden sebanyak 60 orang tua terdiri dari 30 orang tua yang memiliki satu anak skizofrenia dan 30 orang tua yang memiliki lebih dari satu anak skizofrenia. Analisis data dengan uji Mann-Whitney didapatkan p=0,021 (p<0,05) menunjukan bahwa terdapat perbedaaan signifikan pada tingkat depresi orang tua yang memiliki satu anak dan lebih dari satu anak skizofrenia.
Kesimpulan: Terdapat perbedan tingkat depresi antara orang tua yang memiliki satu anak skizofrenia dan orang tua yang memiliki lebih dari satu anak skizofrenia di RSUD Banyumas.
Background: Schizophrenia is a syndrome with variation of causes and pathogenesis, due to genetic, physical, and socio-culture influences. For parents, it is certainly a concern to have a child with schizophrenia, this factor can spark family conflict, emotional, and social problems of parents which can result in depression. The prevalence of depression in Indonesia is as much as 6% out of 16 million people.
Objective: To know the differences in depression level between parents who have a child with schizophrenia and parents who have more than one child with schizophrenia in RSUD Banyumas
Methods: The design of this study was analytic observational with cross-sectional approach. The sampling method was total sampling with inclusion and exclusion criterias. The instruments used in this study were Lie Minnesota Multiphasic Personality Inventory (L-MMPI) and kuesioner Beck Depression Inventory (BDI). Mann-Whitney test was used to analyse the data.
Result: The data acquired from 60 respondents which consisted of 30 parents who have one child with schizophrenia and 30 parents who have more than one child with schizophrenia which then analysed using Mann-Whitney test showed the value of p=0,021 (p<0.05). This showed significant differences in depression level between parents who have a child with schizophrenia and parents who have more than one child with schizophrenia in RSUD Banyumas
Conclusion: Significant differences existed in depression level of parents who have a child with schizophrenia and parents who have more than one child with schizophrenia in RSUD Banyumas.
1407517414G1A013119PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA ORANG TUA YANG MEMILIKI SATU ANAK SKIZOFRENIA DAN ORANG TUA YANG MEMILIKI LEBIH DARI SATU ANAK SKIZOFRENIA
DI RSUD BANYUMAS
Latar Belakang: Beban fisik dan emosional orang tua dalam proses perawatan anak yang mengalami gangguan skizofrenia dapat menjadi masalah. Orang tua yang memiliki jumlah anak lebih dari satu memerlukan lebih banyak waktu untuk mengurus kebutuhan anak-anaknya. Orang tua yang mengalami kesulitan dalam mengkoping stressornya, maka dapat mengalami kecemasan.
Tujuan Penelitian: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan antara orang tua yang memiliki satu anak skizofrenia dan orang tua yang memiliki lebih dari satu anak skizofrenia di RSUD Banyumas.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan rancangan observasional analitik dengan wawancara langsung menggunakan Lie Minnesota Multhiphasic Personality (LMMPI) dan Anxiety Analog Scale (AAS) terhadap seluruh sampel (total sampling) sebanyak 60 orang.
Hasil: Hasil yang didapat dari 60 responden yang terdiri dari 30 orang tua yang memiliki satu anak skizofrenia dan 30 orang tua yang memiliki lebih dari satu anak skizofrenia dengan uji analisis Mann-Whitney yaitu p=0,048 (p<0,05) menunjukan terdapat perbedaan yang bermakna pada tingkat kecemasan antara orang tua yang memiliki satu anak skizofrenia dan orang tua yang memiliki lebih dari satu anak skizofrenia di RSUD Banyumas.
Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna pada tingkat kecemasan antara orang tua yang memiliki satu anak skizofrenia dan orang tua yang memiliki lebih dari satu anak skizofrenia di RSUD Banyumas.

Background: Physical and emotional burden of parents in caring with children who experience schizophrenia can be a problem. Parents who have more children will need more time to take care of the children needs. Parents who have problems in coping with their stress will experience anxiety.
Objective: This study was aimed to know the differences in anxiety level between parents who have a child with schizophrenia and parents who have more than one child with schizophrenia in RSUD Banyumas
Methods: This study was an observational-analytic study which was done by direct interview using Lie Minnesota Multhiphasic Personality (LMMPI) and Anxiety Analog Scale (AAS) towards all samples (60 people)
Result: The result acquired from 60 respondents which consisted of 30 parents with one schizophrenia child and 30 parents with more than one schizophrenia child with Mann-Whitney analysis test was p=0,048 (p<0,05) which showed significant differences of anxiety level between parents who have a child with schizophrenia and parents who have more than one child with schizophrenia in RSUD Banyumas
Conclusion: Significant differences existed in anxiety level of parents who have a child with schizophrenia and parents who have more than one child with schizophrenia in RSUD Banyumas
1407617415H1C013016IDENTIFIKASI OBJEK ALZHEIMER CITRA SAGITAL OTAK MAGNETIC RESONANCE IMAGE (MRI) DENGAN METODE WATERSHED BERDASARKAN NILAI CLINICAL DEMENTIA RATING (CDR)Penyakit alzheimer atau demensia senil dari tipe Alzheimer merupakan penyakit kronik, progresif, dan merupakan gangguan degeneratif otak dan diketahui mempengaruhi memori, kognitif dan kemampuan untuk merawat diri. Penyusutan luas hippocampus pada otak merupakan salah satu gambaran yang terjadi pada penderita alzheimer. Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah suatu teknik penggambaran penampang tubuh berdasarkan prinsip resonansi magnetik inti atom hidrogen. Teknik penggambaran MRI relatif kompleks karena gambaran yang dihasilkan tergantung pada banyak parameter. Alat tersebut memiliki kemampuan membuat gambaran potongan organ manusia tanpa banyak memanipulasi tubuh pasien, contoh : potongan koronal, sagital dan aksial. Untuk memperoleh dimensi bagian hippocampus suatu citra MRI digunakan metode segmentasi watershed. Watershed mampu melakukan segmentasi terhadap batas-batas tepi secara otomatis, sehingga dapat dikenali bagian hippocampus. Visualisasi sel hippocampus dilakukan dengan mensegmentasi potongan citra yang didapatkan dari OASIS (Open Access Series of Image Studies), selanjutnya potongan citra dilakukan proses rekonstruksi hingga mendapat visualisasi citra hippocampus secara dua dimensi dan kemudian dilakukan perhitungan luas hippocampus. Alzheimer disease or senile dementia of Alzheimer type is a chronic, progressive, and degenerative disorder of the brain that affects memory, cognitive and ability to take care of themselves. Depreciation in the hippocampus area of the brain is one of the condition that occurs in a person suffering Alzheimer. Magnetic Resonance Imaging (MRI) is a cross-sectional body imaging techniques based on the principles of nuclear magnetic resonance of hydrogen atoms. MRI imaging technique is relatively complex because the image generated from the technique depends on many parameters. The tool is able to create a picture of human organs without giving many manipulation to the patient's body, for example: pieces of coronal, sagittal and axial. In obtaining the dimension of hippocampus, the MRI image segmentation method that is used is watershed. Watershed is able to segment the borders of the edges automatically, so that it can be recognized by hippocampus. Visualization of hippocampus cells is done by segmenting the image pieces obtained from OASIS (Open Access Series of Image Studies), then the piece of image is reconstructed to get a visualization image of the hippocampus in two dimensions and calculate the area of the hippocampus.
1407717416E1A012098TINJAUAN YURIDIS PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA PADA PENYELENGGARAAN PERGURUAN TINGGI NEGERI BADAN HUKUMPerguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) merupakan badan hukum penyelenggara pendidikan tinggi yang lahir setelah diundangkannya Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Pada dasarnya perguruan tinggi negeri adalah unit kerja pemerintah yang bertugas memberikan pelayanan pendidikan tinggi. Namun model demikian dianggap menghambat pengembangan perguruan tinggi, atas dasar itulah PTN-BH dibentuk. Dalam penyelenggaraannya PTN-BH berpijak kepada otonomi akademik dan otonomi non akademik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsepsi PTN-BH sebagai penyelenggara pendidikan tinggi serta pengelolaan keuangan negara dalam penyelenggaraan PTN-BH . Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pendekatan Peraturan Perundang-undangan (statute approach) dan Pendekatan Konseptual (conceptual approach).
Hasil Penelitian menunjukan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum dikonsepsikan sebagai sebuah badan hukum mandiri yang terlepas dari birokrasi kementerian yang bertugas menyelenggarakan pendidikan tinggi. Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum memiliki keistimewaan dalam pengelolaan keuangan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) serta Kekayaan Negara yang mengecualikan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan di bidang keuangan negara.
Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) is a legal entity of higher education which provide services of the higher education, formed after the enactment Higher Education Act Number 12 of 2012. Basically, the state university are a unit of the government tasked providing services of higher education. But that model is considered detaining of development of higher education, that’s the basis establishing of PTNBH. The implementation of PTNBH based on the academic freedom and institutionally autonomy.
This research aims to determine the conception of PTNBH as organizer of higher education as well as public financial management in organizing of PTNBH. The method that was used in this research is statute approach and conceptual approach.
The results of the research showed that universities legal entities is an independent legal entity regardless from the bureaucracy of the ministry organizing of the higher education. PTNBH have privileges in the financial management sourced of income and expenditure budgets of the state (APBN), income and expenditure budgets of the local government (APBD), non-tax revenue (PNBP), and the wealth of the state which exclude provisions the legislation of public finance.
1407817417A1L012136Aplikasi Nematoda Entomopatogen Heterorhabditis sp. untuk Pengendalian Hama Ulat Daun Kubis (Plutella xylostella L.) di LapangSalah satu kendala utama dalam upaya peningkatan produksi kubis adalah adanya serangan ulat daun kubis (Plutella xylostella L,). Selama ini, pengendalian P. xylostella lebih bertumpu pada penggunaan pestisida kimia sintetik yang menimbulkan dampak negatif. Pengendalian dengan menggunakan nematoda entomopatogen merupakan alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas nematoda entomopatogen Heterorhabditis sp. dalam menekan populasi, intensitas serangan Plutella xylostella dan mempertahankan hasil tanaman kubis. Penelitian dilaksanakan dari bulan April 2016 sampai Agustus 2016, di Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto dan di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (Randomized Completely Block Design) dengan Sembilan perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan tersebut terdiri dari P0 = Kontrol (tanpa perlakuan), P1, P2, P3 = Perlakuan NEP dengan konsentrasi 400 JI/ml air, 600 JI/ml air, 800 JI/ml air, sedangkan P4, P5, P6, P7 dan P8 = perlakuan insektisida sintetik. Variabel yang diamati adalah populasi Plutella xylostella L., intensitas serangan hama, populasi imago, bobot segar tanaman kubis. Selanjutnya, data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji F 5% kemudian dilanjutkan dengan menggunakan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil analisis menunjukan bahwa nematoda entomopatogen Heterorhabditis isolat Cilongok konsentrasi 400 Jl/ml, 600 Jl/ml dan 800 Jl/ml tidak mampu menekan populasi larva, intensitas serangan, populasi imago Plutella xylostela L. dan mempertahankan bobot tanaman kubis di lapang. One of the main obstacles in the effort to increase the production of cabbage is the attack of cabbage moth (Plutella xylostella L). During this time, controlling P. xylostella is more reliant on the use of synthetic chemical pesticides which negatively impact. Biological control using entomopathogenic nematodes is an alternative environment friendly pest control. The research aim to determine the effectiveness of entomopathogenic nematodes Heterorhabditis sp. in suppressing populations cabbage moth (Plutella xylostella L) and maintaining crop of cabbage. This research was conducted from April until August 2016 at Laboratory of Plant Protection, Agriculture Faculty of Jenderal Soedirman University Purwokerto and Serang village, Karangreja, Purbalingga. The experiment used Randomized Complete Block Design (RCBD) with 9 treatments and 3 replications. The treatments were P0 = Control (without treatment), P1, P2, P3 = Treatment of entomopathogenic nematodes under the concentration of 400 JI / ml of water, 600 JI / ml of water and 800 JI / ml of water, P4, P5, P6, P7, P8 = treatment of insecticide. Observed variables were larva population of Plutella xylostella L., the intensity of attacks, the population of imago, fresh weight of cabbage. All of the observed characters were analyzed by using F test at the 5% level of error then followed by using Duncan Multiple Range Test (DMRT). Results of the analysis showed that entomopathogenic nematodes Heterorhabditis sp. isolates Cilongok concentration of 400 Jl / ml, 600 Jl / ml and 800 Jl / ml was not able to suppress larval populations, the intensity of attack, the population of imago Plutella xylostela L. and maintain the weight of cabbage plants in the field.
Keywords: Cabbage, cabbage moth (Plutella xylostella L.), Heterorhabditis sp
1407917404F1F011013HUMAN TREATMENTS TOWARD TIGERS IN INDIA AS DEPICTED IN R.K NARAYAN'S "A TIGER FOR MALGUDI"Oktaviani, Pranantika. 2017. Human Treatments toward Tigers in India as depicted in R.K Narayan’s A Tiger for Malgudi. Skripsi .Pembimbing 1: Rizki Februansyah, S.S., M.A, Pembimbing 2: Eni Nur Aeni, S.S., M.A., Penguji: Aidatul Chusna, S.S., M.A, Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Universitas Jenderal Soedirman, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Bahasa Inggris, Program Studi Sastra Inggris, Purwokerto.
Kata Kunci: hewan, manusia, perlakuan, penyiksaan hewan, hak untuk hewan.
Penelitian berjudul Human Treatments toward Tigers in India as depicted in R.K Narayan’s A Tiger for Malgudi ini bertujuan untuk menjabarkan perlakuan kontradiktif manusia terhadap hewan dalam novel. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis data utama. Sumber data untuk penelitian ini adalah novel berjudul A Tiger for Malgudi dimana isu penyiksaan hewan dan hak untuk hewan yang berhubungan dengan perlakuan kontradiktif ditemukan.
Teori utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekokritisisme. Teori pendukung yang berkaitan dengan isu penyiksaan hewan dan hak untuk hewan juga digunakan untuk menjawab rumusan masalah. Pertama, peneliti menggunakan teori tentang penyiksaan hewan untuk menjabarkan perlakuan negative oleh manusia terhadap hewan dalam novel. Kedua, teori tentang hak untuk hewan digunakan dalam perlakuan positif manusia.
Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa perlakuan negatif terhadap hewan dideskripsikan dengan menyiksa hewan. Ada dua jenis penyiksaan hewan yang disebutkan dalam novel. Yang pertama adalah penyiksaan hewan dalam bentuk hiburan. Bisnis hiburan yang kejam berdasarkan novel adalah termasuk sirkus dan kebun binatang. Yang kedua adalah penyiksaan hewan dalam perburuan. Dalam novel, perburuan hewan liar dan pelanggaran hukum konservasi merupakan tindakan negatif yang dilakukan manusia terhadap hewan. Perlakuan positif terhadap hewan dalam novel digambarkan dengan memperjuangkan hak untuk hewan. Poin penting untuk hal ini adalah kesetaraan untuk manusia dan hewan dan kebebasan untuk hewan. Kesetaraan untuk hewan dan manusia menggarisbawahi simbolisme pertapa dan representasi ajaran Hindu yang berkaitan dengan hubungan antara manusia-hewan. Dalam kebebasan untuk hewan, penggambaran hutan sebagai bentuk kebebasan mewakili usaha memperjuangkan hak untuk hewan sebagaimana digambarkan dalam novel.

The research entitled Human Treatments toward Tigers in India as depicted in R.K Narayan’s A Tiger for Malgudi is aimed at describing the contradictive treatments, both negative and positive ways, conducted by human toward animals in the novel. This research uses qualitative method in analyzing the main data. The data source for this research was the novel entitled A Tiger for Malgudi where the animal abuse and animal rights issues which related to the contradictive treatments are found.
The main theory applied in this research is ecocriticism. Supporting theories related to animal abuse and animal rights issues are also used to answer the research questions. First, animal abuse theory is used to describe the negative treatments conducted by human against the animals in the novel. Second, the animal rights theory is applied in the human’s positive treatments.
From this research it can be concluded that the negative treatments toward animals are described as abusing animals. There are two main types of animal abuse mentioned in the novel. The first is animal abuse in entertainment. The abusive entertainment businesses based on the novels are including circus and zoo. The second is animal abuse in hunting. In the novel, wildlife poaching and violation against conservation law are considered as negative treatments conducted by human against animals. The positive treatments toward animals in the novel are depicted as establishing the animal rights. The important points for this part are equality for human and animals and freedom for animals. The equality for human and animals highlights the symbolism of a hermit and the representation of Hinduism philosophy related to human-animal relationship. In the freedom for animals, the depiction of forest as freedom represents the animal rights establishment effort as depicted in the novel.

1408017422H1K011033IDENTIFIKASI JENIS DAN HABITAT KERANG MUTIARA DI PERAIRAN PANTAI TIMUR NUSAKAMBANGAN, CILACAPPenelitian ini berjudul “Identifikasi Jenis dan Habitat Kerang Mutiara pada Perairan Pantai Timur Nusakambangan Cilacap”. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis dan habitat kerang mutiara di perairan pantai Timur Nusakambangan Cilacap. Penelitian di lakukan dengan metode survei. Lokasi penelitian di bagi menjadi 3 stasiun. Pengambilan sampel di laksanakan pada bulan September 2016 dengan teknik stratified random sampling. Parameter penelitian yang di amati yaitu jenis, jumlah, panjang, lebar dan habitat kerang. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menemukan 3 jenis kerang yang potensial sebagai kerang mutiara, yaitu jenis Atrina fragilis, Atrina vexillum dan Placuna placenta. Habitat kerang mutiara berdasarkan parameter fisika-kimia air yaitu jenis substrat mulai dari berpasir, pasir berlumpur sampai lumpur berpasir, kedalaman 1-5 m, suhu ±29 ºC, salinitas 31-33 ppt, arus 24.57-29.94 cm/detik, DO 5.5-6.5 ppm, pH 6-7, serta konsentrasi nitrat ±0.01 mg/l dan fosfat 0.34-0.45 mg/l.
A research entitled "Identification of the pearl oyster species and habitats in the East Coast Nusakambangan Cilacap waters ". Reseach purpose was to determine kinds and habitats in East Coast Nusakambangan Cilacap waters. Research was done with survey methods. research locations were divided into 3 stations. Sampling was to be done in September 2016 with stratified random sampling technique. The research parameters observed was namely, amount, length, width and oyster habitats. The data were descriptively analyzed. The results shows that found three kinds of oyster were potential as pearl oyster, that was Atrina fragilis, Atrina vexillum and Placuna placenta. Pearl oyster habitat base on physico-chemical water parameters that substrates ranging from sandy, silty sand to sandy silt, depth 1-5 m, temperature ± 29 °C, salinity 31-33 ppt, flow 24.57-29.94 cm/s, DO 5.5- 6.5 ppm, pH 6-7, and the concentration of nitrate ± 0.01 mg/l and phosphate 0.34 to 0.45 mg/l.