Artikelilmiahs

Menampilkan 6.501-6.520 dari 48.862 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
65017886G1A010072HUBUNGAN POLIMORFISME GEN ALFA-AKTININ-3 (ACTN3) DENGAN KELINCAHAN PADA ATLET UNIT KEGIATAN MAHASISWA (UKM) SEPAK BOLA DI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO.ABSTRAK
Latar Belakang. Sepak bola merupakan olahraga yang melibatkan banyak pergerakan tubuh sehingga membutuhkan beberapa komponen biomotorik, salah satunya adalah kelincahan. Kelincahan diperlukan agar atlet mampu mengubah arah dan posisi tubuh dengan cepat dalam keadaan bergerak, tanpa kehilangan keseimbangan. Faktor genetik diketahui dapat mempengaruhi performa atletik dalam permainan sepak bola. Polimorfisme gen alfa-aktinin-3 (ACTN3) menunjukkan bahwa genotip RR merepresentasikan performa kekuatan otot, genotip RX merepresentasikan performa kekuatan-ketahanan otot, dan genotip XX merepresentasikan performa ketahanan otot.
Tujuan. Mengetahui hubungan polimorfisme gen alfa-aktinin-3 (ACTN3) dengan kelincahan pada atlet Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sepak bola di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
Metode. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah atlet UKM sepak bola di Universitas Jenderal Soedirman yang berusia 18-23 tahun yang berjumlah 55 orang. Kelincahan diukur dengan menggunakan tes agilitas Illinois, sedangkan polimorfisme gen ACTN3 diidentifikasi menggunakan metode PCR-RFLP dari sampel darah subjek penelitian. Uji Kruskal-Wallis dilakukan untuk mengetahui hubungan polimorfisme gen ACTN3 dengan kelincahan.
Hasil. Tidak terdapat hubungan yang signifikan polimorfisme gen alfa-aktinin-3 dengan kelincahan (p = 0,421). Waktu kelincahan atlet UKM sepak bola di Universitas Jenderal Soedirman yaitu nilai minimum sebesar 10,69 detik, nilai maksimum sebesar 23,50 detik, dan nilai tengah sebesar 18,20 detik. Waktu kelincahan tercepat dimiliki oleh responden dengan genotip RX dan waktu kelincahan terlama dimiliki oleh responden dengan genotip RR.
Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan polimorfisme gen alfa-aktinin-3 dengan kelincahan pada atlet Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sepak bola di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
ABSTRACT
Background. Football is a kind of sport which involves many of body movement where requiring some biomotoric components. One of them is agility. Agility was needed so athletes able to change the direction and position of the body in motion position instantly, without losing any body balance. Genetic factor was known have affected the athletic performance in a football game. The alfa-actinin-3 (ACTN3) gene polymorphism consist of three genotype. The RR genotype represents the performance of muscle strength, the RX genotype represents the strength-endurance performance, and the XX genotype represents the endurance performance.
Objective. The purpose of this study was to investigate the association of the alfa-actinin-3 (ACTN3) gene polymorphism to agility of football athlete in Student Activity Unit at Jenderal Soedirman University Purwokerto.
Methods. This study is an analitic observational study with cross sectional design. The subjects were 55 football athletes in Student Activity Unit at Jenderal Soedirman University where subjects age between 18-23 years old. Agility was measured using the Illinois Agility Test, while the ACTN3 gene polymorphisms were identified using PCR-RFLP method of blood sample of research subjects. Kruskal-Wallis test was conducted to determine the relationship of ACTN3 polymorphism with agility.
Results. There is no significant association of the alfa-actinin-3 (ACTN3) polymorphism with agility (p = 0,421). The observation results shows the agility test value where minimum value of agility test was 10,69 second, the maximum value was 23,50 second, and the median value was 18,20 second. The shortest time to athlete to complete this test is gained by participant with the RX genotype, whereas the longest time is gained by participant with the RR genotype.
Conclusion. There is no association of the alfa-actinin-3 (ACTN3) gene polymorphism with agility of football athlete in Student Activity Unit at Jenderal Soedirman University Purwokerto.
65027889F1C010049Pola Komunikasi antara Pendamping dan Siswa di Panti Sosial Petirahan Anak “Satria” BaturradenPenelitian ini berjudul Pola Komunikasi antara Pendamping dan Siswa di Panti Sosial Petirahan Anak “Satria” Baturraden. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana pola komunikasi yang terjadi antara pendamping dan siswa di PSPA “Satria” Baturraden.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan mendeskripsikan pola komunikasi antara pendamping dan siswa di PSPA “Satria” Baturraden. Data penelitian diperoleh dari beberapa informan, yakni tiga orang Pekerja Sosial yang bertugas sebagai pendamping dan sembilan orang siswa Angkatan X yang diasramakan di PSPA “Satria” Baturraden. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Model analisis data yang diaplikasikan dalam penelitian ini adalah model analisis interaktif milik Milles dan Huberman. Validitas data diuji melalui teknik triangulasi sumber dengan cara membandingkan atau mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh pada waktu dan dengan alat yang berbeda.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pola komunikasi yang terjadi antara pendamping dan siswa di PSPA “Satria” Baturraden ini tidak berdiri sendiri dari empat pola komunikasi yang sudah ada yakni, primer, sekunder, linier, dan sirkular. Ditemukan adanya pola komunikasi baru yang dirasa paling tepat untuk menjelaskan proses komunikasi yang terjalin antara pendamping dan siswa yakni perpaduan antara pola komunikasi linier dan sirkular. Salah satu pola dari perpaduan dua pola tersebut akan muncul lebih dominan dalam situasi dan kondisi tertentu tergantung konteks kegiatan pelayanan dan bimbingan.
The title of this research is Patterns of Communication between The Youth Mentor and Students in Panti Sosial Petirahan Anak "Satria" Baturraden. The purpose of this study is to explain how the patterns of communication that occurs between the youth mentor and student in PSPA "Satria" Baturraden .
The method used is descriptive qualitative, it is to describe patterns of communication between the youth mentors and students in PSPA "Satria" Baturraden. Data were obtained from multiple informants, the three Social Worker who served as a youth mentor and nine students in the dormitory Generation X PSPA "Satria" Baturraden. Data was collected by interview, observation and documentation. The model applied to data analysis in this study was the interactive model belongs Milles and Huberman. Data validity is tested through source triangulation techniques by comparing the degree of confidence or check behind the information obtained at the time and with different tools.
The results of this research indicate that the patterns of communication that occurs between the youth mentor and student in PSPA "Satria" Baturraden is not stand alone with the four existing communication patterns namely, primary, secondary, linear and circular. The new patterns of communication were deemed most appropriate to describe the process of communication that exists between the youth mentor and student, it is a combine of linear and circular patterns of communication. One pattern of fusion of the two patterns will appear more dominant in certain circumstances depend on the context and guidance service activities.
65037892F1F009054A TRANSLATION ANALYSIS OF CULTURAL TERMS OF LASKAR PELANGI NOVEL BY ANDREA HIRATA IN THE RAINBOW TROOPSPenelitian ini difokuskan pada analisis penerjemahan istilah budaya dalam novel Laskar Pelangi dan terjemahannya The Rainbow Troops. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik, metode, dan ideologi yang digunakan oleh penerjemah untuk menerjemahkan istilah budaya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Laskar Pelangi dan versi terjemahan bahasa Inggrisnya The Rainbow Troops. Peneliti mengumpulkan data dengan memilih istilah budaya Indonesia yang ditemukan dalam novel tersebut. Peneliti menemukan 119 data dalam novel tersebut. Teknik yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data adalah content analysis.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada 12 teknik penerjemahan yang diterapkan oleh penerjemah dalam menerjemahkan istilah budaya yaitu: kompensasi dengan 18 data (15%), peminjaman dengan 18 data (15%), amplifikasi dengan 16 data (13%), terjemahan harfiah dengan 15 data (12,6%), padanan tetap dengan 12 data (10%), adaptasi dengan 11 data (9%), transposisi dengan 8 data (6,7%), deskripsi dengan 7 data (6%), reduksi dengan 6 data (5%), generalisasi dengan 6 data (5%), kreasi diskursif dengan 2 data (1,7%), and partikularisasi dengan 1 data (1%).
Berdasarkan sebagian besar teknik penerjemahan yang digunakan oleh penerjemah dapat ditarik kesimpulan bahwa metode terjemahan yang digunakan adalah metode terjemahan komunikatif yang termasuk kedalam kategori bahasa sasaran dan dengan kecenderungan untuk bahasa sasaran dengan kecenderungan ideologi domestikasi.

Kata Kunci: Teknik penerjemahan, Metode penerjemahan, Ideologi penerjemahan, istilah-istilah budaya.
This research was focused on the translation analysis of cultural terms in Laskar Pelangi novel and its translation The Rainbow Troops. This research aimed to find out the techniques, the methods employed by the translator to translate the cultural terms, and the ideology of translation.
The method applied in the research was descriptive qualitative method. The sources of the data in this research were Laskar Pelangi novel and its English version translation The Rainbow Troops. The researcher collected the data by selecting Indonesian cultural terms found in the novel. The researcher found 119 data in the novel. Content analysis technique was used by the researcher in this research for collecting the data.
The result of this research showed that there were 12 translation techniques applied by the translators in translating cultural terms. They were: compensation by 18 data (15%), borrowing by 18 data (15%), amplification by 16 data (13%), literal translation by 15 data (12,6%), established equivalent by 12 data (10%), adaptation by 11 data (9%), transposition by 8 data (6,7%), description by 7 data (6%), reduction by 6 data (5%), generalization by 6 data (5%), discursive creation by 2 data (1,7%), and particularization by 1 data (1%).
Based on the majority of the translation techniques used by the translator, it can be concluded that the method of translation in Laskar Pelangi novel is communicative translation and adaptation method that belong to target-language-oriented category with a tendency to ideology of domestication.

Key words: Translation Techniques, Translation Methods, Ideology of Translation, Cultural Terms.
650410105F1A010034Fenomena Pernikahan Dini
(Alasan Remaja MelakukanPernikahan Dini di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas)
The Phenomenon of Early Marriage
(The Reason Teens do Early Marriage in Sumbang District of Banyumas Regency)
Salah satu akibat dari kenakalan remaja adalah pernikahan dini. Di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas, remaja laki-laki usia 16-18 tahun sebanyak 9 orang yang melakukan pernikahan dini sedangkan remaja perempuan usia 15 tahun sebanyak 6 orang pada tahun 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan remaja melakukan pernikahan dini di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian dilakukan di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Teknik penentuan informan menggunakan Purposive Sampling, dengan 5 sasaran utama (pelaku pernikahan dini) dan 4 sasaran pendukung (keluarga, tetangga dan pegawai KUA). Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Sumber data yang digunakan adalah data primer (transkrip wawancara) dan data sekunder. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif, yang komponennya terdiri atas pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa alasan remaja melakukan pernikahan dini di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas karena remaja perempuan telah hamil di luar nikah, adanya anggapan bahwa pihak laki-laki telah mampu secara ekonomi, perjodohan, stigma tentang perawan tua, pemahaman yang salah mengenai fungsi keluarga, rendahnya pengetahuan kesehatan reproduksi dan ketidaktegasan pemerintah dalam menjalankan undang-undang. Sikap orang tua dalam menyikapi keputusan anaknya untuk melakukan pernikahan dini mayoritas terpaksa menyetujui karena anaknya telah hamil terlebih dahulu dan yang lain menyetujui. Pernikahan dini memiliki dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif dari pernikahan dini adalah pola pikir menjadi lebih dewasa dan peningkatan perekonomian keluarga bagi suami yang memiliki pekerjaan tetap. Dampak negatif dari pernikahan dini adalah hilangnya kesempatan untuk melanjutkan sekolah, perekonomian sulit bagi suami yang belum bekerja secara serabutan dan perceraian. Implikasi yang bisa diambil dari penelitian ini adalah pendidikan sangat penting untuk mencegah pernikahan dini karena dengan mereka sekolah dapat menunda usia pernikahan. Orang tua harus selalu mengawasi anaknya dalam setiap aktifitas namun jangan sampai mengganggu kebebasan anak dalam berekspresi. Pemerintah daerah berkewajiban memberikan sosialisasi atau penyuluhan tentang Undang–Undang Perkawinan dan sosialisasi mengenai dampak negatif dari pernikahan dini bagi anak remaja ataupun orang tua.
Kata kunci : remaja, pergaulan bebas, pernikahan dini, perceraian
The consequences of juvenile delinquency is early marriage. In Sumbang District of Banyumas, male adolescents aged 16-18 years old, there are 9 people did early marriage among girls aged 15 years old as many as 6 people in 2013. The aims of this study is for knowing the reason why teens do early marriage in Sumnbang District of Banyumas. This study used a descriptive qualitative method. The study was conducted in Sumbang District of Banyumas. Determination technique using purposive sampling, with five main target (actor early marriage) and 4 support target (family, neighbors and employees KUA). Data collection techniques using in-depth interviews, observation and documentation. Source of data used is primary data (interview transcripts) and secondary data. The data analysis technique used is interactive analysis, whose components consist of data collection, data reduction, data presentation, and conclusion. The results of this study indicate that the reason teens do early marriage in Sumbang District of Banyumas because adolescent girls has been pregnant out of wedlock, there is an argument that the men had been able to economically, matchmaking, stigma about spinster, misconceptions about of function family, poor knowledge of reproductive health and government indecision in implementing legislation. Parents wisdom in dealing with his son's decision to conduct early marriage majority them perforce agree because their children have been and others agreed. Early marriage has a positive impact and the negative impact. The positive impact of early marriage is more mature mindset and improving the economy of the family for the husband who has a permanent job. The negative impact of early marriage is the loss of the opportunity to continue their education, the economy is difficult for a husband who has not worked odd jobs and divorce. The implications that can be drawn from this research are education very important to prevent the education of early marriage because if they school can delay the age of marriage. Parents should always supervise their children in every activity but do not to interfere with the child freedom of expression. The local government shall provide socialization or extension of Marriage Act and the socialization of the negative impact of early marriage for teenagers or parents.
Keywords: teen, promiscuity, early marriage, divorce
65057893B1J009115KAJIAN ETNOBOTANI TUMBUHAN SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN PANGAN SECARA TRADISIONAL OLEH MASYARAKAT DI KECAMATAN PEKUNCEN KABUPATEN BANYUMASMasyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tidak lepas dari peranan tumbuhan, salah satunya yaitu tumbuhan sebagai bahan tambahan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis dan bagian-bagian tumbuhan bahan tambahan pangan, untuk mengetahui manfaat serta cara pemanfaatanannya oleh masyarakat di Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dengan teknik pengambilan sampel secara acak terpilih (Purposive Random Sampling) dengan melakukan wawancara semi terstruktur. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pangan adalah 34 jenis dari 19 suku. Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pangan adalah umbi, rimpang, biji, batang, daun dan buah. Pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan tambahan pangan antara lain sebagai penyedap rasa dan aroma, pewarna alami, pengawet dan pengasam. Cara pemanfaatannya yaitu dengan cara dimasak, dipotong, diuleg, ditumbuk, diparut, “dikeprek”, disangrai, direbus, dan direndam.


People in fulfilling their needs can’t get loose without plants, one of plants function is as food additives. This study aims to determine the types and parts of plants as an food additives and to know its benefits as well, and then how people can manufacture it Pekuncen District Banyumas Regency. The method used in this research was survey with purposive random sampling and semi-structured interviews. Data were analyzed descriptively. The results this study indicated species of plants found were 34 species of 19 familia. The plants used as food additives were a tubers, rhizomes, seeds, stems, leaves and fruit. Utilization of food additives plant, among others, were as the flavor enhancer and natural flavoring, coloring, preservatives and give acid flavor. The way they were was by cooking, cuting, crushing, shredding, grinding, "dikeprek", roasting, boiling, and marinating.
65067894F1F009057TRUEBA'S WOMEN'S STRUGGLE IN GAINING FREEDOM IN THE HOUSE OF THE SPIRITS BY ISABEL ALLENDEPenelitian yang berjudul Trueba’s Women’s Struggle in Gaining Freedom in The House of The Spirits by Isabel Allende bertujuan untuk mencari tahu perjuangan para wanita Trueba dalam mendapatkan kebebasan mereka dalam novel The House of The Spirits karya Isabel Allende. Data utama penelitian adalah novel The House of The Spirits yang dianalisis melalui tiga karakter wanita utama yaitu Clara, Blanca, dan Alba. Untuk mendapatkan hasil diskusi yang valid, analisis ini menggunakan beberapa teori yang berhubungan dengan penelitian ini. Beberapa teori yang digunakan adalah teori feminisme, khususnya feminisme liberal, karena perjuangan karakter-karakter wanita di dalam novel berhubungan dengan urusan rumah tangga, feminisme dalam karya sastra, dan penjelasan mengenai gambaran wanita di abad kedua puluh, khususnya wanita Amerika Latin karena latar tempat dan waktu dalam novel adalah di Amerika Latin pada awal hingga pertengahan abad dua puluh. Dalam novel The House of The Spirits, Allende menggambarkan perjuangan para wanita dalam mendapatkan hak-hak mereka di luar rumah. Hal ini digambarkan melalui 3 karakter wanita; Clara, Blanca, dan Alba yang merupakan tiga wanita berbeda generasi dalam satu keluarga. Mereka berjuang melawan bentuk dominasi Esteban Trueba, sang kepala keluarga dalam rumah tersebut, untuk mendapatkan kebebasan mereka. Clara, Blanca, dan Alba berjuang dengan cara mereka sendiri di tiap bidang yang berbeda. Clara berjuang di bidang sosial dengan cara membawa kehidupan sosialnya ke dalam rumah. Blanca berjuang di bidang ekonomi dengan cara bekerja untuk menghidupi dirinya dan anak perempuannya. Alba berjuang di bidang politik dengan cara bergabung dengan kaum sosialis yang merupakan lawan politik kakeknya, Esteban Trueba.
Kata Kunci: Wanita, perjuangan, kesetaraan, dan kebebasan.
The research entitled Trueba’s Women’s Struggle in Gaining Freedom in The House of The Spirits by Isabel Allende is aimed to find out the struggle of the Trueba’s women in gaining their freedom in The House of The Spirits by Isabel Allende. The primary source is a novel entitled The House of The Spirits which is analyzed through three main women characters namely Clara, Blanca, and Alba. To get a valid result, the analysis uses some theories, which are related to this research. They are feminism theory, especially liberal feminism because the struggle of women in the novel is related to household, feminism in literature, and the explanation of women in twentieth century especially Latin American women because the place and time setting in the novel are in Latin America at early until mid-twentieth century. In The House of The Spirits, Allende describes about the struggle of women in gaining their right outside the house. It is depicted through three characters; Clara, Blanca and Alba who are different generation women in a family. They struggle to fight against the dominance of Esteban Trueba, who is the householder of the family. Clara, Blanca and Alba struggle in their own ways in each different field. Clara struggles in social field by bringing her social life to the house. Blanca struggles in economic field by working to support herself and her daughter. Alba struggles in political field by joining Socialist, which is the political opponent of her grandfather, Esteban Trueba.
Key Words: Woman, struggle, equality, and freedom.
65077895B1J008164AKTIVITAS ROTEASE DAN AMILASE PADA HEPATOPANKREAS DAN INTESTINE IKAN NILEM (Osteochilus hasselti C.V.)Ikan Nilem (Osteochilus hasselti C.V) merupakan ikan omnivora dari familia Cyprinidae. Jenis pakan yang dikonsumsi berkaitan dengan alat pencernaan yang dimilikinya. Pencernaan pada ikan tersebut terjadi di dalam usus halus dan berlangsung secara enzimatis. Enzim yang aktif pada saluran pencernaannya adalah protease dan amilase yang dihasilkan oleh pankreas dan hepatopankreas. Aktivitas enzim pencernaan diketahui dengan mengukur banyaknya mikromol maltosa dan tirosin yang dihasilkan per menit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan aktivitas protease dan amilase pada hepatopankreas dan intestine ikan Nilem (Osteochilus hasselti C.V.). Hasil penelitian ini diharapkan nantinya akan digunakan sebagai dasar formulasi pemberian pakan yang cocok untuk ikan omnivora salah satunya adalah ikan Nilem (Osteochilus hasselti C.V.). Materi yang digunakan adalah ikan Nilem berukuran 9-16 cm dengan bobot 5-50 g. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode survey dengan purposive random sampling. Teknik pengambilan sampel dengan pola faktorial 3x4 dan empat kali pengulangan. Pengelompokan ikan kedalam tiga ukuran yang berbeda dengan bobot 5-10 g dan panjang 9-10 cm, 11-25 g dan panjang 11-12 cm dan 35-50 g dengan panjang 13-16 cm. Metode analisis yang digunakan yaitu one way analisis of variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT). Hasil uji BNT menunjukkan bahwa aktivitas protease dan amilase ikan Nilem tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan ukuran tubuh ikan. Aktivitas protease dan amilase ikan Nilem berbeda nyata (P<0,05) dengan organ pencernaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemampuan digesti ikan nilem dari berbagai ukuran tidak berbeda; serta ada hubungan antara aktivitas protease dan amilase dengan organ pencernaan ikan Nilem. Nilem fish ( Osteochilus hasselti C.V.) is an omnivorous fish from family Cyprinidae. Type of consumed feed is related to its digestive tract. The digestion of the fish occurs in the small intestine and takes place enzymatically. These active enzymes in its digestive tract are protease and amylase that are produced by pancreas and hepatopancreas. The disgetive enzyme activity is determined by measuring the amount of micromol maltose and tyrosine which are in every minute. This study aimed to determine the differences of protease and amylase activities in the hepatopancreas and intestine of nilem fish (Osteochilus hassetlti C.V.). Later the result study is expected to be used as the basic formulation of suitable feeding for omnivorous fish one of those Nilem fish (Osteochilus hasselti C.V.). The material that was used is Nilem fish that sized length 9-16 cm and weight 5-50 g. The used research method was a survey method with purposive random sampling. The sampling technique with factorial pattern 3x4 and four times repetitions. Grouping fish into three different sizes nilem fish, each of them had weight 5-10 g and 9-10 cm, 11-25 g and 11-12 cm, 35-50g and 13-16 cm. The analysis method that was used was one-way analysis of variance (ANOVA) and followed by the Least Significant Difference (LSD). Result of LSD test indicate that the activity of protease and amylase Nilem fish not different (P>0,05) of the fiish body size. Protease and amylase activity Nilem fish were significantly different (P<0.05) in digestive organs. It can be concluded that there nilem fish digestion ability of various sizes do not different, as well as there is a relationship between protease and amylase activity in the digestive organs of fish Nilem.
65087897H1L009078Rancang Bangun Sistem Elektronik Memo Dinas (SIEMO) Menggunakan YII FrameworkMemo adalah catatan atau pesan yang ditulis seseorang dengan singkat dan jelas. Memo yang bersifat resmi disebut memo dinas, yaitu pesan singkat yang biasa digunakan dalam office atau suatu lembaga. Saat ini hampir semua perusahaan atau lembaga menggunakan memo sebagai media komunikasi. Namun, banyak diantaranya yang masih menggunakan memo dinas manual. Dengan sistem manual tersebut para karyawan banyak menemukan ketidakefektifan dalam proses komunikasi. Banyak informasi terhambat yang disebabkan karena penyampaian memo, surat atau pesan memerlukan waktu cukup lama. Untuk mengatasi masalah tersebut, penulis merancang dan membangun Sistem Elektronik Memo Dinas. Sistem ini merupakan sistem berbasis web menggunakan yii framework. Penggunaan framework dimaksudkan untuk memudahkan pembuatan aplikasi karena sifatnya yang efisien dan mudah dikembangkan. Peracangan sistem ini menggunakan beberapa metode yaitu analisis kebutuhan berupa pengumpulan fakta dan kebutuhan pengguna, desain berdasarkan kebutuhan sistem yang telah didapatkan serta pembuatan kode program dan pengujian sistem. Hasil akhir dari sistem ini berupa memo, disposisi dan surat dinas yang dikirim antar karyawan, atasan kepada bawahan ataupun sebaliknya. Dengan adanya sistem memo yang berbasis web, proses transfer menjadi lebih efektif dan efisien baik dari segi waktu maupun biaya.Memo is a short and obvious message that written by someone. The memo official called official memo is a short message communication service that commonly used in office or institution. Nowadays, almost all of the companies or institution using memo as a media of communication. However, many of them still using manual official memo. In manual system, many employees find the inneffectiveness process of communication. A lot of information is obstructed because of the memo, letter, or message delivery requires a long time. To overcome these problem, the author design and build the official memo electronic system. This system is a web-based system using yii framework. The use of framework is to facilitate the creation of this sistem because it is efficient and easily developed. The system design uses several method such as analysis of system requirement, design system and design code with testing. The final result of this system are the form of memos, letter and disposision that is transferred between employees, subordinates or superiors. With the existence of a web-based system, the transfer process is more effective and efficient in terms of both time and cost.
65097896E1A010131PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN PROSTITUSI SEBAGAI BENTUK TRAFFICKING (Kajian Terhadap Putusan Tindak Pidana Perdagangan Orang di Pengadilan Negeri Purwokerto No.17/Pid.Sus/2013/PN.PWT)Penelitian ini berfokus untuk mengetahui bentuk perlindungan hukum terhadap anak sebagai korban prostitusi sebagai bentuk trafficking baik dalam peraturan perundang-undangan maupun dalam Putusan Tindak Pidana Perdagangan Orang di Pengadilan Negeri Purwokerto No.17/Pid.Sus/2013/PN.PWT. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneitian terhadap hukum sebagai law in a book dan bersifat normatif. Objek penelitian ini juga berdasar pada putusan Pengadilan Negeri Purwokerto No.17/Pid.Sus/2013/PN.PWT.
Bentuk perlindungan hukum yakni perlindungan hukum langsung (konkret) dan tidak lagsung (abstrak) terhadap korban tindak pidana perdagangan orang begitu banyak dalam peraturan perundang-undangan dan pelaksananya. Dalam putusan tersebut, korban tindak pidana perdagangan orang hanya diberikan dalam bentuk perlindungan hukum tidak langsung (abstrak) yakni berupa penjatuhan hukuman penjara terhadap pelaku. Belum nampaknya bentuk perlindungan hukum langsung (konkret) yakni restitusi, kompensasi dan/atau rehabilitasi dirasa belum memberikan perlindungan hukum kepada korban secara berkeadilan. Diharapkan perlindungan hukum terhadap korban semakin menunjukkan keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum secara utuh.
This research focus on knowing the form of law protection to the children as the prostitution victim as the form of trafficking whether in the ordinance regulation or in the Decision of the Criminal Act of Human Trafficking in the Public Court of Purwokerto No.17/Pid.Sus/2013/PN.PWT. The method in this research uses the research to the law as law in a book and normative characteristic. Object in this research also bases on the decision of Public Court of Purwokerto No.17/Pid.Sus/ 2013/PN.PWT.
The form of law protection that is the direct law protection (concrete) and indirect (abstract) to the victim of the criminal act of human trafficking, there is so many ordinance protection and its implementation. In that decision, the victim of criminal act of human trafficking is only given in the form of indirect (abstract) law protection that is the jail punishment to the suspect. Indistinctness the form of the direct (concrete) law protection that is restitution, compensation and/or rehabilitation are thought they have not given the justice law protection to the victim. It is hopefully the law protection to the victim it will be getting better by showing the justice, benefit and law certainty entirely.
651010106H1C010067PEMISAHAN TRAFIK SUARA DAN DATA PADA KOMUNIKASI VOIP DALAM INTERNETWORK VLAN UNTUK MENGURANGI RISIKO TERJADINYA PENYADAPANVoIP merupakan sebuah teknologi yang memungkinkan percakapan suara jarak jauh melalui media internet. Data suara diubah menjadi kode digital dan dialirkan melalui jaringan yang mengirimkan paket-paket data, bukan melalui sirkuit analog seperti telepon biasa. VoIP telah mengubah paradigma masyarakat dari yang semula menggunakan circuit switching kemudian beralih menjadi packet switching. Karena jumlah pengguna yang semakin banyak, maka kebutuhan terhadap teknologi VoIP-pun semakin meningkat sehingga banyak pihak (vendor) yang berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas layanan VoIP mereka. Masalahnya adalah peningkatan kebutuhan tersebut tidak seimbang dengan peningkatan infrastruktur telepon yang ada sekarang dalam mendukung fitur-fitur baru yang ditawarkan oleh teknologi VoIP, sehingga terdapat banyak sekali celah-celah bagi seorang penyerang untuk masuk ke dalam suatu jaringan VoIP. Oleh karena itu, dalam tugas akhir ini penulis menawarkan sebuah solusi yaitu dengan cara memisahkan trafik suara dan data dari komunikasi VoIP pada suatu VLAN yang berbeda berdasarkan pemrioritasan trafik untuk menangani isu-isu keamanan khususnya masalah voice capturing dan pencurian Voice VLAN ID (VVID).
Hasil pengukuran QoS menunjukkan bahwa konfigurasi VLAN pada suatu jaringan VoIP sedikit sekali memberikan pengaruh terhadap kualitas suara yang dihasilkan. Meskipun VLAN memberikan tambahan waktu delay pada saat transmisi dan propagasi tetapi nilai delay yang dihasilkan sangatlah kecil yaitu hanya berkisar 0.01-0.05 ms. Nilai delay dan jitter terbesar diperoleh ketika penulis menerapkan SNORT pada jaringan VLAN yaitu setelah menerapkan langkah mitigasi dengan nilai sebesar 33.08 ms untuk delay dan 0.021 ms untuk jitter. Sedangkan nilai delay dan jitter terendah diperoleh ketika arsitektur jaringan yang digunakan masih berupa jaringan lokal atau LAN yaitu sebesar 32.99 ms untuk delay dan 0.048 ms untuk jitter. Meskipun demikian nilai delay dan jitter yang diperoleh dari semua rancangan arsitektur jaringan pengujian yaitu sebelum menggunakan VLAN, setelah konfigurasi VLAN dan setelah menerapkan langkah mitigasi masih termasuk ke dalam kategori baik atau wajar dengan rata-rata nilai MOS antara 4.6 sampai 4.7.
VoIP is a technology that allows voice conversations remotely via the internet. The voice data is converted into the digital code and streamed through the network that sends a bunch of data packets rather than using analog circuits just like in the regular phone. VoIP has changed the paradigm of using circuit switching to packet switching. Due to the growing number of users, then demand for VoIP technology is rapidly increasing so that there are many parties (vendors) who are competing to improve the quality of their VoIP services. The problem is the increase in demand is not balanced by the increase in current telephony infrastructure in support of the new features offered by VoIP technology, so there are many crevices for an attacker to gain the access into a VoIP network. Therefore, in this report the author offers a solution that is by separating voice and data traffic of VoIP communication in a different VLAN based on the traffic prioritization to handle those security issues, especially in voice capturing and sniffing Voice VLAN ID (VVID) issues.
QoS measurement results show that the VLAN configuration on a VoIP network only gives a little affect to the sound quality. Although VLANs provide additional time delay during transmission and propagation, but the resulting value is very small and only ranged from 0.01 to 0.05 ms. Largest delay and jitter values obtained when the authors apply SNORT on VLAN network, that is after applying the mitigation techniques which equal to 33.08 ms for delay and 0.021 ms for jitter. While the lowest delay and jitter values obtained when the experimental architecture used the local network or LAN that is equal to 32.99 ms for delay and 0.048 ms for jitter. Nevertheless, delay and jitter values obtained from all the experimental network architecture design, which before using VLAN, after VLAN configuration and after applying mitigation techniques are still included in the category of good or fair to average MOS values between 4.6 to 4.7.
651110926B1J010016Struktur Komunitas Mikrozoobentos Hubungannya Dengan Material Tersuspensi Di Sungai Banjaran Kabupaten BanyumasMikrobentos merupakan kelompok bentos yang berukuran lebih kecil dari 0,1 mm. Mikrobentos terdiri dari dua kelompok yaitu mikrozoobentos dan mikrofitobentos. Mikrozoobentos merupakan biota yang sebagian besar terdiri dari Protozoa, Rotifera, Nematoda, Cilliata dan Gastrotricha. Sungai Banjaran dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk keperluan irigasi, perikanan, mandi, cuci dan kakus (MCK), pembuangan sampah dan diambil batu serta pasir untuk penambangan di bagian muara, sehingga akan mempengaruhi organisme akuatik yang hidup di dalamnya termasuk mikrozoobentos.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kualitas parameter fisika, kimia khususnya konsentrasi Total Suspended Solid (TSS) di Sungai Banjaran, struktur komunitas mikrozoobentos di Sungai Banjaran serta hubungan antara TSS dengan kelimpahan mikrozoobentos di Sungai Banjaran. Penelitian ini menggunakan metode survey pada 7 lokasi berdasarkan rona lingkungan yang ada di Sungai Banjaran. Metode Pengambilan sampel purposive sampling dilakukan 3 kali ulangan dengan interval waktu 2 minggu sekali. Parameter utama adalah jumlah jenis dan individu mikrozoobentos serta nilai TSS, parameter pendukung yaitu suhu, kecepatan arus, jenis substrat, kecerahan, pH, BOD, dan DO. Analisis data untuk mengetahui konsentrasi TSS dengan cara deskriptif, struktur komunitas mikrozoobentos menggunakan indeks keanekaragaman, indeks dominansi, indeks kemerataan, indeks kesamaan dan untuk mengetahui hubungan konsentrasi TSS dengan kelimpahan mikrozoobentos menggunakan analisis Regresi dan Kolerasi.
Kualitas air di Sungai Banjaran Kabupaten Banyumas masih baik untuk mendukung kehidupan organisme akuatik termasuk mikrozoobentos. Struktur komunitas mikrozoobentos di perairan Sungai Banjaran Kabupaten Banyumas terdiri dari 2 Filum yaitu, Filum Protozoa terdiri dari 10 spesies dan Filum Rotifera terdiri dari 9 spesies, dengan kelimpahan relatif mikrozoobentos pada ke-7 stasiun sebesar 99,76%. Keanekaragaman mikrozoobentos di Sungai Banjaran tergolong rendah, dominansi tergolong rendah atau tidak ada yang mendominasi, tingkat kemerataan mikrozoobentos pada tiap stasiunnya tidak merata dan merata, dan kesamaan jenis antar stasiun rendah dan sedang. Hubungan antara konsentrasi TSS dan kelimpahan mikrozoobentos di sungai Banjaran menunjukkan hubungan yang sangat rendah atau dapat diabaikan (r = 0,11), yang berarti bahwa kelimpahan mikrozoobentos ditentukan oleh TSS sebesar 1,21% dan 98,79% ditentukan oleh faktor lain diantaranya jenis substrat.
Mikrobentos are benthic groups that smaller than 0,1 mm. Mikrobentos consists of two groups: mikrozoobentos and mikrofitobentos. Mikrozoobentos are biota which largely consists of Protozoa, Cilliata, Rotifera, Nematodes, and Gastrotricha. Banjaran river used by local people for the purposes of irrigation, fishing, bathing, washing and toilet (MCK), waste disposal and retrieved the stone and sand for mining in the estuary, so that will affect aquatic organisms that live in it including mikrozoobentos.
This study aimed to assess quality parameters of physics, chemistry, especially the concentration of Total Suspended Solid (TSS) in Banjaran River, structure community of mikrozoobentos in Banjaran River as well as the relationship between TSS with abundance mikrozoobentos Banjaran River. This study used survey methode at 7 locations based on existing environmental setting in Banjaran River. Sampling was performed 3 repetitions with interval of 2 weeks the main parameter are the number of species and individuals mikrozoobentos as well as the value of TSS, supporting parameters such as temperature, flow rate, type of substrate, brightnes, pH, BOD, and DO. Analysis of the data to determine the concentration of TSS in a descriptive way, the community structure mikrozoobentos used diversity index, dominance index, evenness index, similarity index and to determine the relationship between the abundance mikrozoobentos with TSS concentration used regression analysis and Correlation.
Water quality in the Banjaran River still good to support life aquatic organisms including mikrozoobentos. Structure community of mikrozoobentos in Banjaran River consists of 2 Phylum it’s Phylum Protozoa consists of 10 species and phylum Rotifera consists of 9 species, relative abundance mikrozoobentos on the 7th station at 99.76%. Diversity of mikrozoobentos in Banjaran River is low, dominance is low or no one dominates, the level of evenness mikrozoobentos at each station on average is unequal, and the similarity between the station on average types of low. The relationship between the concentration of TSS and mikrozoobentos abundance in the Banjaran River showed a very low or negligible (r = 0,11), this imply that mikrozoobentos abundance determined by TSS at 1,21% and 98,79% is determined by other factors such as type of substrate.
651211332C1C011002PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE, KUALITAS AUDITOR, LEVERAGE, DAN SIZE PERUSAHAAN TERHADAP
KONSERVATISME AKUNTANSI
(Studi Empiris Perusahaan Manufaktur yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia)
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh Good Corporate Governance, kualitas auditor, leverage, dan size perusahaan terhadap konservatisme akuntansi. Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan manufaktur yang tercatat di Bursa Efek Indonesia selama periode 2009-2013. Jumlah perusahaan manufaktur yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah 27 perusahaan dengan pengamatan selama lima tahun. Berdasarkan metode purposive sampling, total sampel penelitian adalah 135 data laporan keuangan dan laporan tahunan. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara bersama-sama komite audit, frekuensi pertemuan komite audit, kualitas auditor, leverage, dan size perusahaan berpengaruh signifikan terhadap konservatisme akuntansi. Sementara, leverage dan size perusahaan berpengaruh signifikan terhadap konservatisme akuntansi. Sedangkan komite audit, frekuensi pertemuan komite audit, dan kualitas auditor tidak berpengaruh signifikan terhadap konservatisme akuntansi.
ABSTRACT
The purpose of this research is to determine the effect of Good Corporate Governance, auditor quality, leverage, and firm size on accounting concervatism. This research used a sample of companies listed on the Indonesia Stock Exchange during the period 2009 to 2013. Number of manufacturing firms sampled this research were 27 companies with over five years of observation. Based on purposive sampling method, the total sample was 135 financial statements and annual reports. Testing this hypothesis using multiple regression analysis.
The result showed that simultaneously audit committee, frequency of audit committee meeting, audit quality, leverage and firm size influences significantly on accounting concervatism. While, leverage and firm size influences significantly on accounting concervatism. On the other hand, audit committee, frequency of audit committee meeting,and audit quality had no significant effect on accounting concervatism.
65137898E1A010049IDE PIDANA KERJA SOSIAL DALAM KEBIJAKAN FORMULASI HUKUM PIDANA BAGI ANAK DALAM RANGKA PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA ANAK DI INDONESIAPidana penjara bagi anak memberikan dampak buruk sehingga perlu dipikirkan bentuk pemidanaan yang lain. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan dan metode pendekatan analisis yang bertujuan untuk mencari alternatif pemidanaan bagi anak. Data yang terkumpul kemudian diolah, disajikan, dan dianalisa secara kualitatif dengan penyajian teks naratif.
Hasil penelitian menyatakan bahwa kebijakan pengaturan pidana kerja sosial dalam hukum pidana anak tertuang dalam RUU KUHP Tahun 2010. Pidana kerja sosial diatur dalam Pasal 65 dan Pasal 86, sedangkan formulasi pidana kerja sosial untuk anak diatur dalam Pasal 116 dan Pasal 120 RUU KUHP Tahun 2010. Pidana kerja sosial dapat diterapkan sebagai pidana pokok dengan syarat sebagai alternatif dari pidana penjara dan denda yang ringan. Manfaat yang diharapkan dari ide pidana kerja sosial bagi tujuan pemidanaan terhadap anak adalah dapat memberikan perlindungan secara integratif yaitu antara perlindungan masyarakat dan pelaku anak serta korban sehingga dengan tujuan pemidanaan yang integratif diharapkan anak dapat memperbaiki diri sesuai dengan kebutuhan diri anak sehingga berguna bagi masa depan.
Imprisonment for a child gives a devastating effect so need to think about the other forms of punishment. The research is a legal research using statute approach and analitycal approach which aims to find an alternative punishment for children. The collected data is then processed, presented, and analyzed qualitatively with the presentation of narrative text.
The result of the study states that the policy settings of community service order in the juvenile criminal law contained in the Draft of the Criminal Code of 2010. The community service order is set in the Article 65 and Article 86, whereas the law formulation of community service order for children set out in Article 116 and Article 120 of the Draft of the Criminal Code 0f 2010. The community service order can be apply as a main criminal with requirement as an alternative for imprisonment and light fines. The expected benefits of the idea of community service order for the purposes of criminal punishment against children is to provide protection that is integrated between the protection of the public, perpetrators of child and victims, so that with the integrative punishment purpose, the child are expected to improve themselves according to the needs of the child so it is useful for the future.
65147899F1C010022KOMUNIKASI ORGANISASI PADA KANTOR DAERAH TELEKOMUNIKASI TEMANGGUNGPenelitian ini berjudul Komunikasi Organisasi Pada Kantor Telekomunikasi Temanggung (Kandatel Temanggung). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan komunikasi organisasi di Kandatel Temanggung dengan mencakup tiga aspek, yaitu bentuk, jaringan, dan arus atau aliran pesan komunikasi organisasi.
Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik pemilihan informan purposive sampling atau sampel bertujuan. Informan yang dipilih berjumlah tujuh orang yang memiliki karakteristik tertentu, yaitu unsur pimpinan dan staf yang mengetahui terjadinya proses komunikasi di Kandatel Temanggung.
Hasil penelitian ini menunjukkan komunikasi yang terjadi di Kandatel Temanggung sudah berjalan dengan mencakup tiga aspek komunikasi organisasi, yaitu bentuk pesan, jaringan, dan aliran pesan. Komunikasi yang berbentuk verbal terjadi secara lisan dan tulisan. Komunikasi lisan salah satunya terjadi saat karyawan membicarakan pekerjaan dalam suatu forum atau meeting baik secara langsung/tatap muka atau melalui telepon. Sedangkan komunikasi tulisan dilakukan melalui Nota Dinas Elektronik (NDE), SMS, BBM, dan email. Selain bentuk verbal, pesan berbentuk nonverbal juga terjadi di Kandatel Temanggung, seperti kinesik (bahasa tubuh) dan proksemik (pengaturan jarak). Komunikasi organisasi di Kandatel Temanggung berada di jaringan formal terjadi saat jam kerja, bisa melalui rapat atau perbincangan antarkaryawan. Kemudian jaringan informal terjadi saat di luar jam kerja (istirahat, makan siang, olahraga, dan rekreasi). Dilihat dari arus atau aliran pesan, pesan mengalir secara vertikal, (baik dari atasan ke bawahan atau dari bawahan ke atasan), horisontal (memiliki kedudukan yang sama), dan diagonal (antardivisi yang memiliki kedudukan berbeda).
This study titled Organizational Communication In Temanggung Telecommunication Office (Kandatel Temanggung). The purpose of this study is to explain communication organization in Kandatel Temanggung includes three aspects, there are the forms, networks, and message flows in organizational communication.
A method used is descriptive qualitative method with purposive sampling informant selection techniques or sample aims. Informants were selected totaling seven, who have certain characteristics, that is employees having knowledge of the communication process in Kandatel Temanggung.
Results this study is the communication in Kandatel Temanggung has been running with three aspects of organizational communication, there are message forms, networks, and message flows. Forms of verbal message occurs orally and by written. Oral communication occurs when one employee to discuss the work in a forum or meeting either in person/face to face or over the phone. While written communications made through Electronic Office Memorandum (Nota Dinas Elektronik/NDE), SMS, BBM, and email. In the other hand, nonverbal messages form also occurs in Kandatel Temanggung, such as kinesik (body language) and proksemik (spacing). Based on the network, organizational communication in Kandatel Temanggung occurs formally during working hours, either through meetings or conversations among employees. Then informal network occurs when outside working hours (breaks, lunch, sports, and recreation). Based on the current or flow of messages occurs vertically (both from superiors to subordinates or from subordinates to superiors), horizontal (have the same position), and diagonal (between divisions that have different positions).
65157901P2BA11046PERUBAHAN TROPIK KEBIASAAN MAKANAN (FOOD HABITS) IKAN NILEM (Osteochilus hasselti) BERDASARKAN PERBEDAAN HABITAT DI SUNGAI PELUS KABUPATEN BANYUMAS
MATIUS PARADA, Program Studi Ilmu Biologi, Program Pascasarjana Universitas Jenderal Soedirman. Perubahan Tropik Kebiasaan Makanan (food habits) Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) Berdasarkan Perbedaan Habitat di Sungai Pelus Kabupaten Banyumas. Pembimbing I: Dr. rer. nat. W. Lestari, M.Sc., Pembimbing II: Dr. rer . nat. Moh. Husein Sastranegara, M.Si.
Ikan nilem (O. hasselti ) adalah salah satu ikan air tawar yang memiliki prospek yang cukup menjanjikan karena merupakan ikan budidaya untuk konsumsi. Berdasarkan statistik perikanan budidaya (DKP, 2002), produksi ikan nilem cenderung menurun. Padahal ikan tersebut mempunyai potensi cukup besar dalam pengembangannya di masa yang akan datang karena memiliki keunggulan utama. Jumlah populasi ikan nilem dalam suatu perairan biasanya ditentukan oleh pakan yang ada, kuantitas dan kualitas pakan yang tersedia, serta kemudahan mendapatkan pakan. Kondisi habitat dan waktu yang berbeda di Sungai Pelus akan menyebabkan perbedaan tropik kebiasaan makanan ikan nilem, komponen lingkungan merupakan faktor penentu bagi jumlah populasi, pertumbuhan dan kondisi ikan di suatu perairan. Apabila makanan suatu jenis ikan diketahui, maka ikan tersebut dapat diketahui predator atau kompetitor, makanan utama, dan makanan tambahan ikan tersebut.
Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis komposisi pakan alami yang tersedia di Sungai Pelus, menganalisis kondisi umum perairan Sungai Pelus tahun 2012 dan 2013 serta interaksinya dengan kekayaan spesies plankton, menganalisis kebiasaan makanan ikan nilem yang tertangkap di Sungai Pelus, dan menganalisis perubahan tropik pakan alami ikan nilem di Sungai Pelus. Metode yang digunakan adalah metode survei dan pengambilan sampel secara purposive random sampling. Komposisi pakan alami dan kekayaan spesies di analisis dengan ANOVA. Pengaruh faktor fisika dan kimia terhadap komposisi pakan alami dianalisis dengan Principal Component Analysis (PCA). komposisi pakan alami di perut antar stasiun dianalisis dengan Uji Beda (t-Test/Paired Sample Test). Perubahan tingkat tropik ditentukan berdasarkan pada hubungan antara tingkat tropik pakan (Ttp) dan kebiasaan makanan ikan (iP).
Hasil analisis menunjukkan komposisi pakan alami yang tersedia di Sungai Pelus pada tahun 2012 tertinggi pada stasiun 1 (298,50 ind/l), dan terendah pada stasiun 5 (84,00 ind/l), sementara itu tahun 2013 tertinggi pada stasiun 2 (288,00 ind/l), dan terendah pada stasiun 5 (204,00 ind/l). Kondisi umum perairan Sungai Pelus tahun 2012 serta interaksinya dengan kekayaan spesies plankton memperlihatkan bahwa kekayaan spesies plankton dipengaruhi oleh nilai faktor pertama berurutan oleh COD, DO, Kedalaman, Penetrasi, Kecepatan Arus, pH, Temperatur, dan BOD Sedangkan tahun 2013 berurutan dipengaruhi oleh Kedalaman, Penetrasi, Kecepatan Arus, Temperatur, pH, BOD, COD dan DO. Kebiasaan makan Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) yang tertangkap di Sungai Pelus pada kelima stasiun berbeda. Pada tahun 2012 stasiun 1 habitatnya batuan pakan alami di perut terbesar pada jenis Plagiotropis lapiodeptera (iP 61,22%), stasiun 2 habitatnya juga batuan terbesar pada jenis Navicula insuta (iP 66,53%), stasiun 3 habitatnya batuan dan sebagian lumpur dan stasiun 4 habitatnya batuan dan lumpur terbesar pada jenis Navicula insuta (iP 56,07 % dan iP 40,86 %), dan stasiun 5 habitatnya lumpur dan pasir terbesar pada jenis Hemialus hauckii dan Navicula insuta (iP 50 % dan iP 50%). Pada tahun 2013 juga berbeda, stasiun 1 terbesar pada jenis Navicula insuta (iP 30,36 %), stasiun 2 pada jenis Coscinodiscus oculus (iP 42,08%), stasiun 3 pada jenis Cerataulina smithii (iP 33,21%), stasiun 4 dan 5 pada jenis Cosconodiscus oculus (iP 43,06%) dan (iP 35,90%). Perubahan tropik pakan alami Ikan Nilem pada Sungai Pelus antar stasiun mengalami perubahan, pada tahun 2012 menempati tingkat tropik antara 1 - 3,38, sedangkan pada tahun 2013 menempati tingkat tropik antara 1– 6,18.
MATIUS PARADA, Postgraduate Program, Jenderal Soedirman University. Tropic Changes in Food Habits of Nilem Fish (Osteochilus hasselti) Based on Differences habitat in River Pelus, Banyumas Regency. Supervisors : Dr. rer. nat. W.Lestari, M.Sc., and Dr. rer . nat. Moh. Husein Sastranegara, M.Si.
Nilem fish (O. hasselti ) is one freshwater fish that has a promising prospect as a cultured fish for consumption. Based on aquaculture Statistics (DKP, 2002), Nilem fish production tends to decrease although the fish has a large potential and major advantage in its development in the future. The number of nilem fish populations in the waters usually determined by the existing feed, the quantity and quality of feed available. Habitat conditions and time differences in the Pelus River would cause differences of nilem fish food habits trophic. Components of the environment where a decisive factor for the total population, growth and condition of fish in the waters. If food was a kind of fish is known, then the fish can be determined predators or competitors, main meals, and food additives such fish.
The objective of this study were to analyze the general conditions River of Pelus in 2012 and 2013 its interactions with species Plankton richness, analyze differences in the composition of natural food available in the river, to analyze differences in the composition of natural food in the stomach of nilem fish at the fifth station, and analyze changes trophic of nilem fish at the fifth station. The method used a survey and sampling methods used purposive random sampling. Effect of physical and chemical factors on the composition of natural food were analyzed by Principal Component Analysis (PCA). Differences in the composition and species richness of natural food analyzed by ANOVA, differences in the composition of natural food in the stomach between stations was analyzed with different test (t-Test/Paired Sample Test). Changes in trophic level was determined based on the relationship between trophic levels of feed (Ttp) and the food habits of fish (iP).
The analysis showed the common condition of Pelus River in 2012 and its interactions with species richness showed that richness of nilem influenced by the value of the first factor sequentially by COD, DO, Depth, Penetration, High Flow, pH, Temperature, adn BOD. Whereas in 2013 consecutive influenced by Depth, Penetration, Flow speed, Temperature, pH, BOD, COD and DO. The abundace of natural food available in the water habitat in 2012 by the highest at station 1 (298.50 ind/l) and the lowest at station 5 (84.00 ind/l), while the highest was in 2013 at station 2 (288.00 ind/l), and the lowest at station 5 (204.00 ind/l). Based on the habitat, The composition of natural food in the Nilem fish stomach was different at the fifth stations. in 2012, at the station one with rock habitats has the largest natural food in the stomach is Plagiotropis lapiodeptera (iP 61.22 %), station 2, with rock habitat also has the largest on the type of Navicula insuta (iP 66.53 %), station 3 (rocks habitat and some mud) and station 4 (rocks habitat and mud) has the largest on the type of Navicula insuta (iP iP 56.07% and 40.86%) and station 5 (mud and sand habitats) has the largest on the type Hemialus hauckii and Navicula insuta (iP iP 50 % and 50 %). In 2013 it is different, station one has the largest natural food in the stomach content on the type of Navicula insuta (iP 30.36 %), station 2 on the type of Coscinodiscus oculus (iP 42.08 %), station 3 on the type Cerataulina smithii (iP 33.21 %), station 4 and 5 on the type Cosconodiscus oculus (iP 43.06 %) and (iP 35.90 %). Natural food trophic of Nilem fish at the fifth station changes. Tropic level in 2012 occupies a value between 1 to 3.38, while in 2013 the value of tropic levels between 1 to 6.18.
65167012P2FB09070EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH (BOS) SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN PURWOKERTO UTARA TAHUN 2010/2011Salah satu program pendidikan di Indonesia yang dilaksanakan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan alokasi anggaran cukup besar adalah Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Melalui program BOS, pemerintah pusat memberikan dana ke sekolah-sekolah setingkat SD dan SMP negeri dan swasta yang bersedia memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan. Program ini mulai dilaksanakan pada Juli 2005 bersamaan dengan awal tahun pelajaran 2005/2006. Pelaksanaan program BOS selama kurun waktu 2005/2006 sampai dengan 2010/2011 terus mengalami dinamika. Pengaruh positif program BOS adalah adanya percepatan pencapaian program Wajib Belajar Dikdas 9 Tahun (Kemdiknas : 2010). Di sisi lain, pada tahun 2010, muncul beberapa kasus hukum yang berhubungan dengan pelaksanaan program BOS.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Sekolah Dasar di Kecamatan Purwokerto Utara Tahun 2010/2011. Penelitian ini dilakukan di 3 (tiga) SD yang ada di Kecamatan Purwokerto Utara, yaitu SDN 1 Bobosan, SDN 2 Pabuwaran, dan SDN 5 Grendeng. Ketiga sekolah tersebut dipilih karena jumlah siswanya yang paling banyak, paling sedikit, dan di antara keduanya. Jumlah siswa tersebut mempengaruhi pengelolaan dana BOS. Jumlah informan 15 orang yang terdiri atas kepala sekolah, bendahara BOS, guru kelas, komite sekolah, dan orang tua/wali siswa. Penentuan informan yang dijadikan sebagai narasumber menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan datanya menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumenter. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif-deskriptif model interaktif (interactive model) dari Miles and Huberman.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa (1) Pelaksanaan program BOS SD di Kecamatan Purwokerto Utara tahun 2010/2011 dilihat dari pemetaan sasaran ternyata telah mencapai tujuan umum program tersebut, namun tujuan khusus program tersebut tidak sepenuhnya tercapai. Di sisi lain, pelaksanaan program BOS ternyata berdampak negatif terhadap program manajemen berbasis sekolah (MBS) karena partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah menjadi rendah. Dilihat dari klarifikasi nilai, ternyata dana BOS yang dialokasikan ke SD belum mencukupi semua pengeluaran sekolah. Formulasi pengalokasian dana BOS untuk suatu sekolah belum memenuhi unsur keadilan karena tidak memperhatikan keberadaan jumlah siswa miskin dan kebutuhan nyata sekolah. (2) Sumber daya manusia (SDM) dan sarana prasarana yang ada di sekolah belum menunjang keberhasilan pelaksanaan program BOS SD di Kecamatan Purwokerto Utara tahun 2010/2011. Penyaluran dana BOS oleh pemerintah ternyata tidak diimbangi dengan penyiapan SDM dan sarana prasarana yang diperlukan. Pelaksana program BOS di sekolah belum sepenuhnya memahami tentang rambu-rambu penggunaan dana BOS, sehingga memunculkan adanya kesalahan-kesalahan dalam penyusunan laporan penggunaannya. Penyaluran dana BOS ke sekolah juga tidak selalu tepat waktu. Penggunaan dana BOS berdasarkan alokasi jenis belanja tidak bisa terealisir sebagaimana mestinya karena tingginya belanja guru/pegawai honorer dan pengadaan buku paket siswa.
One of the educational programs in Indonesia are carried out in an effort to improve the quality of human resources with a large enough budget allocation is The School Operational Assistance (SOA). Through the SOA program , the central government provides funds to the schools at the primary and secondary public and private that are willing to meet the conditions set. The program commenced in July 2005 coincided with the start of the school year 2005/2006. Implementation of the SOA program during the period 2005/2006 to 2010/2011 continues to dynamics. Positive influence BOS program is the accelerated achievement of program 9-Year Compulsory Basic Education (Kemdiknas : 2010). On the other hand, in 2010, appeared several legal cases related to the implementation of the SOA program. This study aimed to evaluate the implementation of the School Operational Aid (SOA) Elementary School in the District of North Purwokerto Year 2010/2011.
The research was conducted in three elementary schools in the District of North Purwokerto, namely SDN 1 Bobosan, SDN 2 Pabuwaran, and SDN 5 Grendeng. Three schools were chosen because of the number of students the most, at least, and in betwee. The number of students affect the management of SOA. Number of informants 15 people consisting of the principal, treasurer SOA, classroom teachers, school committees , and parents/guardians of students. Determination of informants who serve as a resource using purposive sampling technique. Collecting data using interviews, observations, and documentary. Analysis of the data in this study was a qualitative - descriptive interactive model (interactive model) of Miles and Huberman.
This study concludes that (1) Implementation of the SOA program Elementary in the District of North Purwokerto year 2010/2011 views of its target mappings have common goals of the program, but the program objectives not fully achieved. On the other hand, the implementation of the SOA program had a negative impact on program based management (SBM) for community participation in the provision of education in schools is low. Judging from the clarification of values, it turns out that the SOA funds allocated to elementary schools have not met all the expenses. The SOA funds allocation formulation for a school has not met the elements of justice for not paying attention to where the number of poor students and the real needs of schools. (2) Human resources (HR) and the existing infrastructure in schools has not been the success of the implementation of the SOA program in the District Elementary North Purwokerto year 2010/2011 . The SOA disbursement by the government was not offset by the preparation of human resources and infrastructure necessary . The SOA program implementers in schools not fully understand about the signs of SOA funds , giving rise to the existence of errors in the preparation of its use . The SOA fund distribution to the schools were not always on time . Use of the funds allocated by type of expenditure can not be realized as it should because of the high expenditure teachers / temporary personnel and procurement of textbooks students .
65177902H1K008016KELIMPAHAN KEPITING BAKAU (SCYLLA SERRATA) PADA ZONASI YANG BERBEDA DI DESA MOJO KECAMATAN COMAL KABUPATEN PEMALANGPenelitian “Kelimpahan kepiting bakau (Scylla serrata) pada zonasi yang berbeda di kawasan Desa Mojo, Kecamatan Ulujami, Pemalang” telah dilakukan pada bulan Oktober-November 2013. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Apakah terdapat perbedaan kelimpahan dan morfometri jenis kepiting bakau S. serrata pada zonasi yang berbeda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi atau survey, pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode line transek dengan pendekatan deskriptif dan untuk pengamatan morfometri digunakan metode deskriptif kuantitati. Data di tabulasi dan di analisis menggunakan uji beda nyata terkecil (BNT) menggunakan program SPSS versi 16 for windows. Hasil dari Penelitian menunjukan Kelimpahan kepiting bakau S. serrata tertinggi didapat pada stasiun 3 (0,0275ind/m2), stasiun 2 (0,025 ind/m2), stasiun 1 (0,175ind/m2). Analisis karakter morfometri kepiting bakau antar stasiun tidak memiliki kecenderungan (P≥0,05), satu spesies kepiting bakau Scylla serrata, dapat dibedakan berdasarkan warna, karapas, bentuk duri frontal margin, bentuk dan jumlah duri pada cheliped carpus, serta corak pada pleopod.Aesearch about " Abundance kepting mangrove ( Scylla serrata ) in different areas Mojo Village , Ulujami , Pemalang " was conducted in October -November 2013. The purpose of this study to determine abundance and morphometry deferent of mud crab S. serrata at different ang . A survey method way used by the line transect sampling method with a descriptive approach, Morphometry observations were used qulitative assessed, are analyze least significant difference test ( LSD ) using SPSS version 16 for windows . The results showed that abundance of mud crab S. serrata at station 3 wg 0.0275 ind/m2), (0.025 ind/m2), station 2 (0.175 ind/m2) station 1 at. Morphometre characters were at defereent not (P ≥ 0.05). One species of mud crab Scylla serrata, could be distinguished by color, shells, spine form of the frontal margin, shape and number of spines on the cheliped Carpus, and the pattern of pleopod.
651810107H1B010020PEMODELAN REGRESI SPLINE LINIER MENGGUNAKAN METODE MAXIMUM LIKELIHOOD UNTUK DATA TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA TERHADAP TINGKAT INFLASI DI INDONESIAAnalisis regresi nonparametrik digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan variabel tak bebas bila kurva regresi yang akan diselidiki tidak diketahui. Salah satu model regresi nonparametrik adalah regresi spline. Regresi spline merupakan modifikasi dari fungsi polinomial tersegmen. Jika regresi spline berorde satu maka disebut regresi spline linier. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memodelkan hubungan antara tingkat pengangguran terbuka terhadap tingkat inflasi di Indonesia dengan menggunakan metode maximum likelihood. Model regresi spline yang terbaik ditentukan berdasarkan kriteria MSE. Dari hasil penelitian diperoleh model regresi spline terbaik adalah model regresi spline dengan enam titik knot yaitu λ1=2,78, λ2=6,4, λ3=6,59, λ4=9,35, λ5=10,03, dan λ6=12,55, dengan nilai MSE sebesar 0,08277356. Koefisien determinasi sebesar 0,9680997, menunjukkan bahwa variasi tingkat pengangguran terbuka di Indonesia yang dapat dijelaskan oleh variabel tingkat inflasi adalah sebesar 96,8%. Hasil uji F menunjukkan bahwa pada taraf signifikansi 5%, model regresi spline linier dengan enam titik knot merupakan model yang sesuai untuk menjelaskan hubungan tingkat pengangguran terbuka dengan tingkat inflasi di Indonesia.Nonparametric regression analysis is used to determine the relationship between independent variables and the dependent variable when the curve of regression that will be investigated is unknown. One of regression models nonparametric is spline regression. Spline regression is a modification of segmented polynomial function. If the spline regression has one order then it is called linear spline regression. The aim of this research is to model relationship between the rate of open unemployment to the rate of inflation in Indonesia and using maximum likelihood method. The best spline regression model is determined of the MSE criteria. Base on the results of this research, it’s obtain that the best estimation of linear spline regression for data is a linear regression spline with six knots point, which are λ1=2,78, λ2=6,4, λ3=6,59, λ4=9,35, λ5=10,03, and λ6=12,55, with the value of MSE is 0,08277356. A determination coefficient is0,9680997, it’s indicates that the variation of the rate of open unemployment in Indonesia which can be explained by the variable of the rate of inflation is 96,8%.The result of F-test shows that at the 5% significance level, a linear regression spline with six knots point is appropriate models to determine the relationship of the rate of open unemployment to the rate of inflation in Indonesia.
651910108H1L010009RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI SURAT KETERANGAN CATATAN KEPOLISIAN
(STUDI KASUS POLISI RESORT KABUPATEN PURBALINGGA)
Sistem informasi surat keterangan catatan kepolisian berbasis web studi kasus polisi resort kabupaten purbalingga merupakan suatu sistem yang bertujuan untuk membatu staf bagian skck polres kabupaten purbalingga dalam melakukan penerbitan maupun pengelolaan skck. Serta mempermudah pemohon skck dalam melakukan proses pendaftaran. Kegiatan yang ditunjang oleh sistem ini antara lain mengelola data staf, data pemohon, data tindak pidana, data skck, dan fitur statistik. Sistem informasi ini dibuat dengan berbasis web yang dibangun menggunakan salah satu framework yang mengguakan bahasa pemrograman java web yaitu Play Framework. Sistem informasi ini dibuat menggunakan metode waterfall dengan beberapa penyesuaian terhadap masalah yang ada.Web base information system of police record certificate, case studies police resort purbalingga is a system that aims to help police record certificate division staff's of police resort purbalingga in issuing and managing police record certificate. Also make it easier for applicant to do the registration process. Activities which supported by this system such as managing staff data, applicant data, criminal data, police record certificate data and statistic feature. This information system was made with web based that developed using one of framework which using web java programming language that is Play Framework. This system information was made using waterfall method with some adaptation to occured problem.
652010109F1B007027KEGAGALAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN RETRIBUSI PARKIR PASAR DI KABUPATEN BANYUMAS (STUDI KASUS RETRIBUSI PARKIR DI PASAR WAGE)
Tulisan ini dalam rangka menjelaskan kegagalan implementasi kebijakan retribusi parkir pasar di Kabupaten Banyumas. Retribusi parkir pasar merupakan salah satu dari berbagai jenis retribusi jasa umum yang termuat didalam Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas No. 19 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum. Implementasi kebijakan retribusi parkir pasar berada dalam lingkup kebijakan retribusi pelayanan pasar. Dalam Lampiran VI Perda No. 19 Tahun 2011 terdapat keterangan jumlah berbagai tarif di pasar, termasuk adalah retribusi parkir pasar. Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif. Fakta yang terjadi menunjukkan bahwa implementasi kebijakan retribusi parkir di pasar belumlah berjalan sesuai dengan Perda No. 19 Tahun 2011. Hal tersebut dikarenakan; pertama, masih lemahya komitmen dan koordinasi diantara Dinperindagkop Kab. Banyumas, UPT Pasar Wage dan Pengelola Parkir. Kedua, belum profesionalnya pengelola parkir pasar dalam memungut retribusi parkir dan menyetorkannya ke Dinperindagkop Kabupaten Banyumas sesuai peraturan yang berlaku. Ketiga, ketidaktahuan masyarakat tentang kebijakan implementasi kebijakan retribusi parkir, dikarenakan tidak adanya upaya serius dari pihak-pihak terkait untuk menyampaikan tarif sesuai peraturan yang berlaku, sehingga tidak terdapat dukungan positif masyarakat kepada implementasi Perda No. 19 Tahun 2011.This paper in order to explain the failure of policy implementation in the market parking levy on Banyumas. Parking levy in market is one of the various types of public service levies contained in Regulation No. Banyumas regency 19 of 2011 on Public service levies. Implementation of policies parking fees are within the scope of the policy market retribution market services. In Annex VI Regulation No. 19 In 2011 there is a description of the number of different fares in the market, including market is parking fees. The method used is descriptive analysis method. The fact that the case shows that the implementation of parking fees at market policy has not been run in accordance with Regulation No. 19 Year 2011. This is because; first, still lemahya commitment and coordination among Dinperindagkop Kab. Banyumas, Market Unit Wage and business parking. Second, not professional parking management market in collecting parking fees and deposit it into Dinperindagkop Banyumas according to regulations. Third , public ignorance about policy implementation policies parking fees , due to the absence of serious efforts of the parties to submit the appropriate rate applicable regulations , so there is no positive support to the implementation of Regulation No. community 19 of 2011 .