Artikelilmiahs

Menampilkan 48.081-48.100 dari 48.725 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4808151723A1D021211Respons Pertumbuhan Morfologi Dua Varietas Bayam (Amaranthus sp.) terihadap
Perbedaan Media Tanam pada Sistem Hidroponik Deep Flow Technique
Bayam merupakan tanaman sayuran dengan kandungan gizi tinggi, namun
produktivitas bayam di Indonesia mengalami penurunan sebesar 0,59% pada periode
2021 hingga 2023 yang berdampak pada penurunan ketersediaan bayam sebesar 1,64%
per kapita per tahun. Sistem Deep Flow Technique (DFT) menjadi salah satu alternatif
untuk meningkatkan produksi bayam. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi
respons dua varietas bayam (Amaranthus sp.) terhadap berbagai media tanam, serta
mengkaji interaksi antara varietas dan media tanam pada sistem hidroponik DFT.
Penelitian dilaksanakan di Greenhouse Desa Srowot, Kabupaten Banyumas,
menggunakan rancangan split plot dengan varietas sebagai petak utama dan media
tanam sebagai anak petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas bayam hijau
memberikan respons terbaik pada sebagian besar variabel pertumbuhan. Media tanam
rockwool merupakan media tanam terbaik dibandingkan cocopeat dan spons. Interaksi
antara varietas dan media tanam terjadi pada variabel luas daun dan jumlah daun pada
beberapa waktu pengamatan. Berdasarkan hasil penelitian, varietas bayam hijau dengan
media rockwool pada sistem hidroponik DFT menghasilkan pertumbuhan terbaik.
Spinach is a nutrient-rich leafy vegetable; however, its productivity in Indonesia
declined by 0.59% during 2021–2023, reducing per capita availability by 1.64%. The
Deep Flow Technique (DFT) hydroponic system is a potential alternative to improve
spinach production. This study evaluated the responses of two spinach varieties
(Amaranthus sp.) to different growing media and their interactions in a DFT system.
The experiment was conducted in a greenhouse using a split-plot design with varieties
as main plots and growing media as subplots. The results showed that the green spinach
variety performed best in most growth variables, while rockwool was the most effective
growing medium. Significant variety × growing media interactions were observed for
leaf area and leaf number. Overall, green spinach grown in rockwool under a DFT
hydroponic system exhibited the best growth.
4808251478E1A022118PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA DI KABUPATEN CIANJURIndonesia memiliki kondisi geografis yang bervariasi, adat istiadat yang beragam, serta sumber daya budaya, termasuk Ekspresi Budaya Tradisional yang kaya. Salah satu daerah yang dianugerahi dengan kekayaan Ekspresi Budaya Tradisional yaitu Kabupaten Cianjur. Perlindungan terhadap Ekspresi Budaya Tradisional menjadi penting untuk mencegah ancaman klaim, komersialisasi, maupun eksploitasi yang dapat merugikan masyarakat dan bangsa Indonesia.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptis analitis. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder dan data primer yang diperoleh dengan studi kepustakaan dan wawancara bersama Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cianjur serta perwakilan sanggar seni perceka Kabupaten Cianjur. Metode analisis data yang digunakan yaitu metode kualitatif dan disajikan dalam bentuk teks naratif
Berdasarkan hasil penelitian, UU Hak Cipta mengatur kewajiban negara untuk menginventarisasi, menjaga, dan memelihara Ekspresi Budaya Tradisional. Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur sudah melakukan inventarisasi terhadap Ekspresi Budaya Tradisional Kabupaten Cianjur. Usaha inventarisasi sebagai wujud perlindungan defensif dan penghargaan untuk komunitas asal tempat lahir
dan tumbuhnya Ekspresi Budaya Tradisional. Upaya menjaga dan memelihara Ekspresi Budaya Tradisional Kabupaten Cianjur diwujudkan melalui kegiatan audiensi dan acara kebudayaan seperti pekan kebudayaan, perlombaan, pertunjukkan, dan lainnya. Upaya menjaga dan memelihara Ekspresi Budaya Tradisional sebagai wujud mempertahankan hak alamiah yang dimiliki oleh komunitas asal sekaligus pemenuhan terhadap hak budaya yang dimiliki masing- masing individu.
Indonesia has varied geographical conditions, diverse customs, and cultural resources, including rich Traditional Cultural Expressions. One of the regions blessed with a wealth of Traditional Cultural Expressions is Cianjur Regency. Protection of Traditional Cultural Expressions is important to prevent threats of claims, commercialization, and exploitation that could harm the Indonesian people and nation
The research method used is a normative juridical method with descriptive analytical research specifications. The data sources used are secondary and primary data obtained through literature studies and interviews with the Head of the Culture Division of the Cianjur Regency Culture and Tourism Office and representatives of the Cianjur Regency Perceka art studio. The data analysis method used is qualitative and presented in the form of narrative text.
Based on the research results, the Copyright Law regulates the state's obligation to inventory, preserve, and maintain Traditional Cultural Expressions. The Cianjur Regency Government has conducted an inventory of Traditional Cultural Expressions in Cianjur Regency. The inventory effort is a form of defensive protection and appreciation for the community where Traditional Cultural Expressions originated and grew. Efforts to preserve and maintain the Traditional Cultural Expressions of Cianjur Regency are realized through public hearings and cultural events such as cultural weeks, competitions, performances, and others. Efforts to preserve and maintain Traditional Cultural Expressions as a form of defending the natural rights of the community of origin while fulfilling the cultural rights of each individual.
4808351477F1A022048Toxic Productivity Among University Students: The Role of Institutional Policy and Student Experience PerspectivesToxic productivity semakin banyak dialami mahasiswa ketika tuntutan akademik, tekanan sosial, dan kebijakan institusional secara bersamaan membentuk budaya kampus yang menormalisasi aktivitas tanpa henti. Penelitian ini mengkaji fenomena tersebut di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jenderal Soedirman, dengan menelusuri bagaimana mahasiswa memaknai regulasi akademik yang berorientasi pada produktivitas serta bagaimana struktur tersebut berinteraksi dengan kecenderungan psikologis mereka. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan pengumpulan data dari 233 mahasiswa melalui kuesioner berskala Likert dan Guttman, lalu dianalisis menggunakan distribusi frekuensi dan statistik deskriptif untuk mengidentifikasi pola perilaku, persepsi terhadap kebijakan institusi, dan dampak yang dialami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak mahasiswa merasakan tekanan untuk terus produktif, yang ditandai rasa bersalah saat beristirahat, beban akademik berlebih, serta penurunan kesejahteraan. Mahasiswa juga menilai bahwa kebijakan institusional, seperti kewajiban berorganisasi dan sistem kredit kegiatan mahasiswa ikut memperkuat budaya pencapaian yang mendorong produktivitas berlebihan. Temuan ini menegaskan bahwa toxic productivity tidak hanya dipengaruhi faktor pribadi dan sosial, tetapi juga ekspektasi struktural kampus. Penelitian merekomendasikan penyesuaian kebijakan yang lebih fleksibel, indikator kinerja yang lebih seimbang, dan penguatan dukungan kesehatan mental untuk menciptakan lingkungan akademik yang lebih sehat.Toxic productivity has become increasingly prevalent among university students as academic expectations, social pressures, and institutional policies collectively shape a culture that normalizes continuous activity. This study examines the phenomenon within the Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Jenderal Soedirman, by exploring how students interpret productivity-oriented academic regulations and how these structures interact with psychological tendencies. Using a descriptive quantitative design, data were collected from 233 undergraduate students through a structured questionnaire employing Likert and Guttman scales, and analyzed using frequency distributions and descriptive statistics to identify behavioral patterns, perceptions of institutional policies, and experienced impacts. The findings show that many students experience persistent pressure to remain productive, often accompanied by guilt during rest, academic overload, and declining well-being. Students perceive institutional requirements such as mandatory organizational involvement and credit-based activity systems as reinforcing an achievement-oriented environment that intensifies excessive productivity. These results demonstrate that toxic productivity arises not only from personal or social factors but also from structural academic expectations that shape bounded rationality in student decision-making. The study concludes that policy adjustments promoting flexibility, balanced performance indicators, and improved mental-health support are essential to mitigating excessive productivity pressures and fostering healthier academic conditions.
4808451564E1A022192Wanprestasi Penjual atas Penolakan Pelunasan Pembayaran Harga dalam Jual Beli Tanah (Studi Putusan Pengadilan Negeri Bantaeng Nomor 1/Pdt.G.S/2024/PN Ban)Wanprestasi atas perjanjian jual beli tanah yang ada dalam masyarakat adalah sengketa menarik yang seringkali dilakukan oleh Pembeli, namun pada kasus ini yang melakukan wanprestasi tersebut adalah penjual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hukum hakim dalam menetapkan unsur-unsur wanprestasi dan akibat hukum dari putusan hakim terhadap wanprestasi yang dilakukan penjual dalam Putusan Nomor 1/Pdt.G.S/2024/PN Ban. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan case, statute, dan conceptual approach dengan spesifikasi preskriptif. Bahan hukum diperoleh melalui studi kepustakaan dan dianalisis secara normatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan Tergugat memenuhi tiga unsur wanprestasi menurut doktrin J. Satrio: adanya perikatan yang sah, debitur tidak memenuhi prestasi, dan adanya unsur kesalahan. Terkait akibat hukum, hakim menjatuhkan putusan berupa pemenuhan perjanjian yang menghukum Tergugat untuk melanjutkan kesepakatan jual beli dengan menerima pelunasan harga tanah. Penulis setuju bahwa akibat hukum berupa pemenuhan perjanjian adalah langkah yang tepat, namun seharusnya amar tersebut diperteas dengan kewajiban formal menghadap Pejabat Pembuat Akta Tanah guna pembuatan Akta Jual Beli agar memberikan kepastian hukum bagi Penggugat.Breach of contract in land sale and purchase agreements in society is an interesting dispute often committed by the Buyer, but in this case, the party comitting the breach is the seller. This study aims to analyze the judge’s legal considerations in determening the elements of breach of contract and the legal consequences of the judge’s decision regarding the breach committed by the seller in Decision Number 1/Pdt.G.S/2024/PN. Ban. This research uses a normative juridical method with case, statute, and conceptual approaches and a prescriptive spesification. Legal materials were obtained through literature studies and analyzed qualitatively normatively. The results showed that the Defendant’s actions fulfilled the three elements of breach of contract according to J.Satrio’s doctrine: the existence of a valid obligation, the debtor’s failure to perform the obligation, and the presence of fault. Regarding the legal consequences, the judge issued a decision in the form fulfillment of the agreement, sentencing the Defendant to continue the sale and purchase agreement by accepting the final payment of the land price. The author agrees that the legal consequence in the form of spesific performance is the appropriate measure; however, the injunction should be reinforced with a formal obligation to appear before a Land Deed Official for the execution of the Sale and Purchase Deed to provide legal certainty for the Plaintiff.
4808551830J0B022008Penerjemahan Dokumen Pengoperasian Mesin Pembuat Pipa ke dalam Bahasa Indonesia menggunakan Metode Penerjemahan Komunikatif di PT Stainless Steel Primavalve MajubersamaPraktik kerja ini bertujuan untuk menerjemahkan dokumen pengoperasian mesin pembuat pipa dari bahasa Mandarin ke dalam bahasa Indonesia di PT Stainless Steel Primavalve Majubersama. Masalah utama yang ditemukan adalah adanya kendala bahasa bagi karyawan lokal dalam memahami instruksi teknis mesin impor sehingga operasional mesin tidak bekerja secara maksimal. Penulis menggunakan metode penerjemahan komunikatif untuk menghasilkan terjemahan yang sesuai dengan bahasa sasaran (Bsa), tidak kaku, mudah dipahami, dan tidak ambigu sehingga mudah disesuaikan dengan pemahaman karyawan lokal. Data dikumpulkan melalui metode jelajah internet, observasi langsung di area mesin, wawancara dengan staff HR, serta studi pustaka. Proses penerjemahan dilakukan melalui tiga tahap yaitu analisis teks sumber, transfer pesan, dan restrukturisasi kalimat ke dalam bahasa Indonesia. Hasil akhir dari kegiatan ini adalah dokumen cetak pengoperasian mesin pembuat pipa yang membantu karyawan lokal dalam memaksimalkan proses produksi perusahaan sehingga hasil produk sesuai dengan standar di PT Stainless Steel Primavalve Majubersama.This work practice aims to translate pipe-making machine operation documents from Chinese into Indonesian at PT Stainless Steel Primavalve Majubersama. The main issue identified was the language barrier for local employees in understanding technical instructions for imported machinery which resulted in suboptimal machine operation. The communicative translation method was employed to produce translations that are contextually accurate and easily understood by the target users. Data were gathered through internet searching, direct observation in the machine area, interviews with HR staff, and literature reviews. The translation process involved three stages: analysis of the source text, message transfer, and restructuring sentences into Indonesian. The final result of this activity is a printed manual for machine operation that assists local employees in maximizing the company's production process, ensuring that products meet the standards of PT Stainless Steel Primavalve Majubersama.
4808651479K1A021049SINTESIS MEMBRAN SELULOSA DARI KULIT NANAS TERMODIFIKASI Na2EDTA UNTUK ADSORPSI LOGAM Fe DALAM AIRPerkembangan industri yang cukup pesat menimbulkan bertambahnya jumlah limbah yang dihasilkan. Salah satu limbah yang berbahaya adalah logam Fe karena sulit terurai dan bersifat toksik sehingga perlu pengolahan yang tepat untuk menguranginya. Metode adsorpsi adalah metode yang paling mudah dan efisien untuk digunakan. Proses adsorpsi dapat menggunakan adsorben berupa membran. Membran sebagai adsorben lebih efisien dibandingkan adsorben dalam bentuk bubuk karena lebih mudah dipisahkan. Pada penelitian ini akan digunakan membran selulosa dari kulit nanas yang termodifikasi dengan Na2EDTA agar terbentuk kompleks stabil dengan adsorbat. Tujuan penelitian adalah mengetahui karakteristik dan kemampuan membran selulosa termodifikasi Na2EDTA serta mengetahui perubahan kadar logam Fe dalam air setelah proses adsorpsi. Karakterisasi membran menggunakan spektrofotometer infra merah dan pengukuran kadar logam Fe menggunakan spektrofotometer absorpsi atom. Membran selulosa termodifikasi Na2EDTA terbukti memiliki kemampuan mengikat logam dengan adanya penurunan konsentrasi larutan logam Fe sebelum dan sesudah proses adsorpsi. Penurunan % adsorpsi yang paling besar pada pH 5, waktu 60 menit, dan konsentrasi larutan uji 10 ppm dengan nilai 41.70%.Rapid industrial development has led to an increase in the amount of waste produced. One type of hazardous waste is iron (Fe) metal, which is difficult to decompose and toxic, requiring proper treatment to reduce it. Adsorption is the easiest and most efficient method to use. The adsorption process can use a membrane as an adsorbent. Membranes are more efficient as adsorbents than powdered adsorbents because it is easier to separate. This study will use cellulose membranes from pineapple skin modified with Na2EDTA to form a stable complex with the adsorbate. This study aims to determine the characteristics and capabilities of Na2EDTA-modified cellulose membranes and to determine the changes in iron metal levels in water after the adsorption process. The membrane was characterised using an infrared spectrophotometer and the Fe metal was measured using an atomic absorption spectrophotometer. The Na2EDTA-modified cellulose membrane was proven to have the ability to bind metals, as evidenced by a decrease in the concentration of the Fe metal solution before and after the adsorption process. The largest decrease in % adsorption occurred at pH 5, 60 minutes, and 10 ppm metal solution with value of 41.70%.
4808751480C1C021027PENGARUH LITERASI KEUANGAN, GAYA HIDUP KONSUMTIF, PENGENDALIAN DIRI, DAN MENTAL ACCOUNTING TERHADAP PERILAKU BERUTANG MAHASANTRI DI PESANTREN PURWOKERTOPenelitian ini dimotivasi oleh pesatnya pertumbuhan lembaga pendidikan Islam, khususnya pesantren di daerah perkotaan seperti Purwokerto. Mahasantri merupakan entitas sosial yang unik dan kompleks karena mereka memainkan peran ganda, sebagai mahasiswa yang diharapkan mengikuti perkembangan zaman, dan sebagai santri yang harus menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional dan agama di pesantren. Sebagai perwakilan Generasi Z, mahasiswa saat ini menghadapi tantangan finansial yang jauh lebih besar daripada generasi sebelumnya. Paparan terhadap budaya yang sangat konsumtif melalui media sosial, kemudahan akses ke platform pinjaman online, dan praktik utang konvensional di antara sesama mahasantri menciptakan kerentanan finansial. Terdapat kontradiksi yang jelas dalam lingkungan pesantren, di mana nilai kesederhanaan seringkali bertentangan dengan budaya isyraf atau perilaku berlebihan. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis secara mendalam faktor-faktor yang memengaruhi perilaku utang mahasiswa pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data primer. Populasi sasaran adalah seluruh mahasiswa di Kabupaten Purwokerto, berjumlah 1.927 orang. Dengan menggunakan rumus Slovin dan margin kesalahan 5%, diperoleh sampel sebanyak 331 responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan kriteria ketat, yaitu mahasiswa Gen-Z aktif (berusia 18-25 tahun) yang memiliki pengalaman atau saat ini memiliki utang. Pengumpulan data dilakukan melalui survei kuesioner menggunakan skala Likert 1-5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku meminjam mahasiswa dipengaruhi secara signifikan oleh dua faktor utama: literasi keuangan, yang bertindak sebagai penghambat (pengaruh negatif), dan gaya hidup konsumtif, yang bertindak sebagai pendorong utama (pengaruh positif). Meskipun mahasiswa memiliki pengendalian diri dan sistem penganggaran pribadi (akuntansi mental), kedua faktor internal ini terbukti tidak cukup untuk mengekang niat meminjam karena tekanan lingkungan perkotaan yang sangat besar dan fenomena FOMO (Fear of Missing Out). Perilaku mahasiswa yang berutang dipicu oleh literasi keuangan yang rendah dan gaya hidup konsumtif yang tinggi, di mana tekanan sosial lebih dominan daripada pengendalian diri.This research is motivated by the rapid growth of Islamic educational institutions, particularly Islamic boarding schools (pesantren) in urban areas like Purwokerto. Mahasantri are unique and complex social entities because they play a dual role: as university students who are expected to keep up with the times, and as santri who must adhere to traditional and religious values in Islamic boarding schools. As representatives of Generation Z, current university students face much greater financial challenges than previous generations. The exposure to a highly consumptive urban culture through social media, easy access to online lending platforms, and conventional debt practices among fellow students create financial vulnerability. There is a clear contradiction in the pesantren environment, where the value of simplicity often clashes with the culture of isyraf or excessive behavior. The main objective of this study is to analyze in depth the factors that influence the debt behavior of Islamic boarding school students. This study uses a quantitative approach with primary data. The target population is all students in Purwokerto District, totaling 1,927 people. Using the Slovin formula and a 5% margin of error, a sample of 331 respondents was obtained. The sampling technique used purposive sampling with strict criteria, namely active Gen-Z students (aged 18-25 years) who had experience with or currently had debt. Data collection was conducted through a questionnaire survey using a 1-5 Likert scale. The results of the study show that the borrowing behavior of university students is significantly influenced by two main factors: financial literacy, which acts as a deterrent (negative influence), and a consumptive lifestyle, which acts as the main driver (positive influence). Although students have self-control and personal budgeting systems (mental accounting), these two internal factors have proven insufficient to curb the intention to borrow due to the immense pressure of the urban environment and the phenomenon of FOMO. The behavior of student debtors is triggered by low financial literacy and high consumptive lifestyles, where social pressure dominates over self-control.
4808851606A1A021003Preferensi Konsumen Rumah Tangga Terhadap Produk Teh Tubruk di Kecamatan Slawi Kabupaten TegalPerubahan pola konsumsi masyarakat yang cenderung memilih produk yang lebih praktis telah mendorong terjadinya pergeseran preferensi konsumen dari teh tubruk ke teh celup dan minuman RTD (Ready to Drink). Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi keberlanjutan produk teh tubruk lokal, termasuk di Kecamatan Slawi yang dikenal sebagai sentra produksi teh tubruk dengan berbagai merek lokal seperti Teh Poci, Tong Tji, Gopek, dan Dua Tang. Perbedaan karakteristik produk, baik dari segi rasa, warna, kemasan, harga, maupun distribusi, berpotensi memengaruhi keputusan pembelian konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui urutan kepentingan atribut yang dipertimbangkan konsumen, menganalisis preferensi konsumen terhadap teh tubruk lokal, serta mengetahui tingkat kepuasan konsumen teh tubruk di Kecamatan Slawi berdasarkan atribut kualitas, harga, merek, rasa, warna teh, kemasan, dan kemudahan memperoleh produk.
Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan teknik accidental sampling terhadap 100 responden konsumen teh tubruk di Kecamatan Slawi. Penelitian dilaksanakan pada 1–30 November 2025. Data yang digunakan terdiri atas data primer dan sekunder yang dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan studi pustaka. Instrumen penelitian telah melalui uji validitas dan reliabilitas untuk memastikan kelayakan pengukuran. Alat analisis yang digunakan meliputi analisis deskriptif, analisis konjoin, dan analisis multiatribut fishbein.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa atribut merek merupakan atribut yang paling dipertimbangkan oleh konsumen dengan nilai kepentingan tertinggi, diikuti oleh atribut harga, warna, rasa, kemasan, dan kemudahan memperoleh produk. Nilai kepentingan atribut merek yang tinggi menunjukkan bahwa konsumen cenderung mengandalkan merek yang telah dikenal luas dan memiliki reputasi baik dalam menentukan pilihan produk. Kepercayaan terhadap merek berfungsi sebagai jaminan kualitas bagi konsumen, sehingga mampu mengurangi risiko ketidakpuasan dalam pembelian. Preferensi konsumen terhadap teh tubruk Slawi menunjukkan bahwa konsumen lebih menyukai teh tubruk dengan merek Teh Poci, harga Rp8.000–Rp12.000, warna seduhan yang pekat, rasa yang sepet, kemasan pack, serta produk yang mudah diperoleh. Berdasarkan tingkat kepuasan konsumen, hasil penelitian menunjukkan bahwa atribut rasa merupakan faktor yang paling memengaruhi kepuasan konsumen terhadap teh tubruk Slawi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun merek menjadi faktor utama dalam menarik minat awal konsumen, kepuasan jangka panjang lebih banyak ditentukan oleh kualitas rasa yang dirasakan saat mengonsumsi produk.
Changes in consumption patterns toward more practical products have encouraged a shift in consumer preferences from traditional loose-leaf tea (teh tubruk) to tea bags and ready-to-drink (RTD) beverages. This shift poses a challenge to the sustainability of local loose-leaf tea products, including those in Slawi Subdistrict, which is widely recognized as a production center for local tea brands such as Teh Poci, Tong Tji, Gopek, and Dua Tang. Differences in product characteristics, including taste, color, packaging, price, and distribution, are expected to influence consumers’ purchasing decisions. This study aims to determine the order of importance of product attributes considered by consumers, analyze consumer preferences for local loose-leaf tea, and assess consumer satisfaction with loose-leaf tea products in Slawi Subdistrict based on attributes of quality, price, brand, taste, tea color, packaging, and ease of availability.
The research employed a survey method using accidental sampling, involving 100 respondents who were consumers of loose-leaf tea in Slawi Subdistrict. The study was conducted from November 1 to November 30, 2025. Both primary and secondary data were collected through questionnaires, interviews, and literature reviews. The research instrument was tested for validity and reliability to ensure measurement accuracy. Data were analyzed using descriptive analysis, conjoint analysis, and multi-attribute fishbein analysis.
The results of the study indicate that brand is the most important attribute considered by consumers, followed by price, color, taste, packaging, and ease of availability. The high importance value of the brand attribute shows that consumers tend to rely on well-known brands with a good reputation when making purchasing decisions. Trust in the brand serves as a guarantee of product quality for consumers, thereby reducing the risk of dissatisfaction in the purchase process. Consumer preferences for loose-leaf tea in Slawi indicate that consumers prefer loose-leaf tea with the Teh Poci brand, a price range of IDR 8,000–12,000, a dark-colored infusion, an astringent taste, pack packaging, and products that are easy to obtain. Based on the level of consumer satisfaction, the results show that taste is the attribute that most strongly influences consumer satisfaction with loose-leaf tea in Slawi. This finding indicates that although brand is the main factor in attracting initial consumer interest, long-term satisfaction is more strongly determined by the quality of taste experienced during consumption.
4808951722A1C021065PERBEDAAN TINGKAT KONSUMSI BAHAN BAKAR TRAKTOR RODA DUA PADA BERBAGAI JENIS PENGOLAHAN TANAH (PRIMER, SEKUNDER, DAN TERSIER) Pengolahan tanah adalah proses penting dalam persiapan lahan pertanian untuk menggemburkan tanah, memperbaiki struktur, dan menekan gulma sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Seiring berkembangnya teknologi pertanian, penggunaan traktor roda dua menjadi alternatif yang dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas pengolahan tanah dibandingkan dengan metode tradisional. Namun, penggunaan traktor juga menimbulkan tantangan seperti meningkatnya konsumsi bahan bakar yang dipengaruhi oleh jenis pengolahan tanah, beban kerja, serta jenis implemen yang digunakan. Pada penelitian-penelitian sebelumnya berfokus pada pengaruh kecepatan kerja, kedalaman olah, dan pola pengolahan saja. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membandingkan secara spesifik tingkat konsumsi bahan bakar pada berbagai jenis pengolahan tanah (primer, sekunder, tersier).
Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei hingga September 2025 di lahan pertanian Desa Kramat, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor perlakuan yaitu jenis pengolahan tanah yang terdiri dari tiga taraf perlakuan, yaitu P1 (pengolahan primer menggunakan bajak singkal), P2 (pengolahan sekunder menggunakan garu sisir), dan P3 (pengolahan tersier menggunakan garu sisir). Masing-masing perlakuan dilakukan secara berurutan P1, P2, dan selanjutnya P3 pada enam plot penelitian masing-masing berukuran 20 m x 10 m. Alat utama yang digunakan adalah traktor roda dua Kubota RD 85 DI-1T, serta alat bantu seperti gelas ukur, stopwach, waterpass, dan meteran. Variabel yang diamati adalah konsumsi bahan bakar (l/ha dan l/jam), waktu total, waktu belok, kapasitas lapang efektif (KLE), dan efisiensi lapang (EL). Data dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis dengan uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) 5%, sedangkan hubungan antar variabel diuji dengan analisis regresi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pengolahan tanah berpengaruh nyata terhadap tingkat konsumsi bahan bakar. Pengolahan primer (P1) memiliki konsumsi bahan bakar tertinggi (18,85 l/ha dan 0,73 l/jam), diikuti pengolahan sekunder (P2) (2,80 l/ha dan 0,58 l/jam), dan terendah pada pengolahan tersier (P3) (1,48 l/ha dan 0,38 l/jam). Hal ini disebabkan oleh perbedaan beban kerja alat, lebar kerja implemen, dan kondisi lahan, dimana pengolahan primer (P1) menggunakan bajak singkal dengan lebar kerja lebih kecil serta mengolah tanah yang belum terolah sehingga menghasilkan bongkahan besar dan beban kerja tinggi dibandingkan pengolahan sekunder (P2) dan tersier (P3).
Pengolahan sekunder (P2) mengolah tanah hasil pengolahan primer (P1) yang dilakukan menggunakan garu sisir dengan lebar kerja yang lebih besar untuk memecah bongkahan tanah hasil pembajakan yang masih berukuran besar. Proses ini menghasilkan bongkahan yang lebih kecil dan beban kerja yang lebih rendah dibandingkan dengan pengolahan primer (P1). Sedangkan pengolahan tersier (P3) mengolah tanah hasil pengolahan sekunder (P2) dilakukan menggunakan garu sisir dengan lebar kerja yang sama, sehingga menghasilkan bongkahan yang lebih kecil lagi dengan beban kerja yang lebih rendah dibandingkan pengolahan sekunder (P2).
Pengolahan primer (P1) menunjukkan waktu total pengolahan dan waktu belok tertinggi, masing-masing sebesar 1.794 s dan 390 s, diikuti oleh pengolahan sekunder (P2) dengan waktu total 328 s dan waktu belok 68 s, sedangkan pengolahan tersier (P3) memiliki waktu terendah, yaitu 261 s dan 50 s. Urutan tersebut berbanding terbalik dengan kinerja lapang, di mana kapasitas lapang efektif dan efisiensi lapang tertinggi dicapai pada pengolahan tersier (P3) sebesar 0,27 ha/jam dan 42,44%, diikuti pengolahan sekunder (P2) sebesar 0,21 ha/jam dan 33,34%, dan terendah pada pengolahan primer (P1) sebesar 0,04 ha/jam dan 31,69%. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar waktu operasi, semakin rendah kapasitas lapang efektif dan efisiensi lapang yang dihasilkan.
Hasil analisis regresi menunjukkan adanya hubungan linier positif antara waktu total dan waktu belok terhadap konsumsi bahan bakar, serta hubungan linier positif antara waktu belok dengan waktu total pengolahan tanah, yang menunjukkan bahwa besarnya waktu belok, maka waktu total pengolahan tanah akan meningkat, sehingga konsumsi bahan bakar yang dibutuhkan juga semakin tinggi. Selain itu, terdapat hubungan linier negatif antara kapasitas lapang efektif dan efisiensi lapang terhadap konsumsi bahan bakar, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai kapasitas lapang efektif dan efisiensi lapang, maka konsumsi bahan bakar semakin rendah akibat meningkatnya efektivitas waktu dan lebar kerja implemen.
Tillage is an important process in the preparation of agricultural land to loosen the soil, improve the structure, and suppress weeds so that plants can grow properly. As agricultural technology develops, the use of two-wheeled tractors is becoming an alternative that can increase the efficiency and productivity of tillage compared to traditional methods. However, the use of tractors also poses challenges such as increasing fuel consumption which is influenced by the type of tillage, workload, and type of equipment used. Previous studies have focused on the influence of working speed, processing depth, and processing pattern only. Therefore, this study was conducted with the aim of specifically comparing the fuel consumption levels in different types of soil cultivation (primary, secondary, tertiary).
This research was conducted from May to September 2025 on agricultural land in Kramat Village, Kembaran District, Banyumas Regency. This study uses a Complete Random Design (RAL) with one treatment factor, namely the type of tillage consisting of three levels of treatment, namely P1 (primary processing using a plow), P2 (secondary processing using a comb rake), and P3 (tertiary processing using a comb rake). Each treatment was carried out sequentially P1, P2, and then P3 on six research plots each measuring 20 m x 10 m. The main tools used are the Kubota RD 85 DI-1T two-wheeled tractor, as well as auxiliary tools such as measuring cups, stopwachs, waterpasses, and meters. The variables observed were fuel consumption (l/ha and l/h), total time, turning time, effective field capacity (KLE), and field efficiency (EL). Data were analyzed using the Kruskal–Wallis test with Duncan's Multiple Range Test (DMRT) 5% follow-up, while the relationship between variables was tested by regression analysis.
The results of the study show that the type of tillage has a real effect on the level of fuel consumption. Primary processing (P1) had the highest fuel consumption (18.85 l/ha and 0.73 l/h), followed by secondary processing (P2) (2.80 l/ha and 0.58 l/h), and the lowest in tertiary processing (P3) (1.48 l/ha and 0.38 l/h). This is due to the difference in the workload of the tools, the width of the implementation work, and the condition of the land, where primary processing (P1) uses a singkal plow with a smaller working width and cultivates uncultivated soil, resulting in large chunks and high workload compared to secondary (P2) and tertiary (P3) processing.
Secondary processing (P2) cultivates the soil from primary processing (P1) which is carried out using a comb rake with a larger working width to break up the pieces of soil from the plough that are still large. This process results in smaller chunks and lower workloads compared to primary processing (P1). Meanwhile, tertiary processing (P3) tillage of the soil resulting from secondary processing (P2) is carried out using a comb rake with the same working width, resulting in even smaller chunks with a lower workload than secondary processing (P2).
Primary processing (P1) showed the highest total processing time and turning time, at 1,794 s and 390 s, respectively, followed by secondary processing (P2) with a total time of 328 s and a turning time of 68 s, while tertiary processing (P3) had the lowest time, namely 261 s and 50 s. This sequence is inversely proportional to field performance, where the highest effective field capacity and field efficiency were achieved in tertiary processing (P3) of 0.27 ha/h and 42.44%, followed by secondary processing (P2) of 0.21 ha/hour and 33.34%, and the lowest in primary processing (P1) of 0.04 ha/h and 31.69%. This shows that the greater the operating time, the lower the effective field capacity and field efficiency produced.
The results of the regression analysis showed that there was a positive linear relationship between the total time and the turning time on fuel consumption, as well as a positive linear relationship between the turn time and the total tillage time, which showed that the greater the turn time, the total tillage time would increase, so that the fuel consumption needed would also be higher. In addition, there is a negative linear relationship between effective field capacity and field efficiency on fuel consumption, which shows that the higher the effective field capacity value and field efficiency, the lower the fuel consumption due to the increased time effectiveness and width of the implementation work.
4809052046C2C022028Pengaruh Pengaturan Kerja Fleksibel Terhadap Kesejahteraan Pekerja Dengan
Keseimbangan Pekerjaan Dan Kehidupan Sebagai Variabel Mediasi Dan
Kestabilan Pendapatan Sebagai Variabel Moderasi, Studi Empiris Pada Pekerja Gig Di Indonesia
Mengangkat fenomena fleksibilitas didalam ekonomi gig, isu kesejahteraan
pekerja (Employee Well-Being) menjadi hal penting yang perlu dikaji lebih lanjut.
Pasalnya, fleksibilitas waktu dan lokasi kerja yang ada masih menunjukan hasil yang
paradoks. Di satu sisi, pengaturan kerja fleksibel (Flexible Working Arrangement)
dianggap sebagai pendukung utama dalam mencapai keseimbangan pekerjaan dan
kehidupan. Namun disisi lain, batasan waktu kerja yang tidak jelas menimbulkan jam
kerja menjadi lebih panjang dan berpotensi mengganggu upaya pekerja mencapai
kesejahteraan yang optimal. Penelitian ini menguji pengaruh langsung dan tidak
langsung dari pengaturan kerja fleksibel terhadap kesejahteraan pekerja dengan
keseimbangan pekerjaan dan kehidupan sebagai variabel mediasi dan kestabilan
penghasilan sebagai variabel moderasi.
Skala pengukuran variabel pengaturan kerja fleksibel mengadopsi dari Albion
(2005) yang terdiri atas 11 item, sedangkan kesejahteraan pekerja menggunakan alat
ukur yang dikembangkan oleh Zheng (2015) terdiri atas 3 dimensi dan 18 item, dan
keseimbangan pekerjaan-kehidupan mengadopsi dari Chang (2009) yang telah
diadaptasi dari Brough (2009) terdiri dari 4 item, serta untuk kestabilan pendapatan
diukur melalui koefisien variasi dari pendapatan responden 3 bulan terakhir. Penelitian
ini adalah penelitian kuantitatif dengan melibatkan 187 responden menggunakan
metode purposive sampling dari populasi pekerja gig yang ada di Indonesia.
Hasil penelitian ini membuktikan adanya hubungan positif dan signifikan dari
variabel pengaturan kerja fleksibel terhadap keseimbangan pekerjaan-kehidupan (R2 =
0,651 ; p<0,001), kesejahteraan pekerja (R2 = 0,561 ; p<0,001) dan variabel
keseimbangan pekerjaan-kehidupan terbukti memediasi secara parsial sebesar (p =
0,035) terhadap kesejahteraan pekerja. Namun kestabilan pendapatan ditemukan tidak
memoderasi hubungan pengaruh antara keseimbangan pekerjaan-kehidupan terhadap
kesejahteraan pekerja (p = 0,084).
Temuan ini mendukung teori permintaan pekerjaan-sumberdaya (JDR) dan
konservasi sumberdaya (COR) yang menjelaskan bahwa pengaturan kerja fleksibel
telah memberi kesempatan bagi pekerja untuk mewujudkan keseimbangan antara
pekerjaan dan kehidupan yang secara tidak langsung mendukung tercapainya
kesejahteraan pekerja. Melalui pengaturan kerja fleksibel pekerja memiliki keleluasaan
dalam menentukan ruang waktu kerja mereka sesuai kebutuhan pribadi masing-masing
yang diharapkan akan meminimalisir konflik peran antara pekerjaan dan kehidupan.
Tidak signifikannya peran moderasi kestabilan pendapatan mengindikasikan bahwa
pada dasarnya fluktuasi pendapatan merupakan karakteristik inheren pada pekerjaan
ini yang telah disadari sejak awal dan diantisipasi oleh pekerja sehingga kestabilan
pendapatan bukan menjadi faktor utama yang memengaruhi efektivitas keseimbangan
pekerjaan-kehidupan terhadap kesejahteraan pekerja.
Highlighting the phenomenon of flexibility within the gig economy, the issue of
employee well-being has become a critical area for further investigation. Flexibility in
work time and location continues to yield paradoxical results; while Flexible Working
Arrangements (FWA) are considered a primary support for achieving work-life
balance, but blurred work boundaries often lead to longer working hours then
potentially hindering optimal well-being. This study examines the direct and indirect
effects of FWA on employee well-being, with work-life balance as a mediating variable
and income stability as a moderating variable.
The FWA variable was measured using a scale adapted from Albion (2005)
consisting of 11 items, while employee well-being utilized Zheng’s (2015) instrument
comprising 3 dimensions and 18 items. Work-life balance was measured using Chang’s
(2009) scale adapted from Brough (2009) with 4 items. Income stability was assessed
through the coefficient of variation of the respondents' income over the last three
months. This quantitative study involved 187 respondents selected through purposive
sampling from the gig worker population in Indonesia.
The findings demonstrate a positive and significant relationship between FWA
and work-life balance (R2 = 0,651 ; p<0,001) and employee well-being (R2 = 0,561 ;
p<0,001). Work-life balance was proven to partially mediate the relationship between
FWA and employee well-being (p = 0,035). However, income stability was found not to
moderate the relationship between work-life balance and employee well-being (p =
0,084).
These findings supporting Job Demand Resources Theory and Conservation
Resources Theory are explain that FWA provides opportunities for workers to achieve
a balance between work and life, which indirectly supports the attainment of well
being. Through FWA, workers gain the autonomy to determine their work space and
time according to personal needs, which is expected to minimize work-life role
conflicts. The insignificance of income stability as a moderator indicates that income
fluctuation is an inherent characteristic of gig work that workers are aware of and have
anticipated from the outset. Consequently, income stability is not the primary factor
influencing the effectiveness of work-life balance on employee well-being.
4809151482I2B024014PENGARUH PENGGUNAAN ALPEVA (ALAT PENDETEKSI VENA) TERHADAP DURASI DAN KETEPATAN PEMASANGAN INFUS DI UNIT GAWAT DARURATABSTRAK
PENGARUH PENGGUNAAN ALPEVA (ALAT PENDETEKSI VENA) TERHADAP DURASI DAN KETEPATAN PEMASANGAN INFUS DI UNIT GAWAT DARURAT

Fuji Indah Resmi¹, Iwan Purnawan², Yunita Sari³

Latar Belakang: Pemasangan infus merupakan tindakan penting di Unit Gawat Darurat (UGD) untuk pemberian cairan dan obat secara cepat. Namun, kesulitan akses vena dapat menyebabkan tusukan berulang, memperpanjang durasi pemasangan, dan menurunkan ketepatan tindakan. Penggunaan alat pendeteksi vena menjadi inovasi yang membantu visualisasi vena. ALPEVA dikembangkan sebagai alat pendeteksi vena dengan fitur pengaturan intensitas cahaya untuk meningkatkan visibilitas vena serta mengurangi kelelahan mata pengguna.
Tujuan: Mengetahui pengaruh penggunaan ALPEVA terhadap durasi dan ketepatan pemasangan infus di unit gawat darurat.
Metode Penelitian: Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap pengembangan alat menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan metode prototyping, serta tahap eksperimen menggunakan quasi experiment dengan rancangan posttest kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi menggunakan ALPEVA dan kelompok kontrol menggunakan vein finder standar, kemudian dibandingkan durasi dan ketepatan pemasangan infus. Analisis data menggunakan uji statistik non parametrik Mann-Whitney.
Hasil: Penggunaan ALPEVA mampu membantu tenaga kesehatan menemukan vena lebih jelas sehingga tindakan pemasangan infus menjadi lebih efisien dan tepat dibanding kelompok kontrol. Perbedaan durasi dan ketepatan pemasangan infus antara kedua kelompok menunjukkan hasil yang bermakna (p<0,05).
Kesimpulan: ALPEVA berpengaruh dalam mempercepat durasi dan meningkatkan ketepatan pemasangan infus di Unit Gawat Darurat serta layak digunakan sebagai inovasi alat bantu keperawatan.
Kata Kunci: ALPEVA, Alat Pendeteksi Vena, Durasi Pemasangan Infus, Ketepatan Pemasangan Infus, Unit Gawat Darurat.


¹Mahasiswa Program Studi Magister Keperawatan, Universitas Jenderal Soedirman
²Pembimbing I, Program Studi Magister Keperawatan, Universitas Jenderal Soedirman
³Pembimbing II, Program Studi Magister Keperawatan, Universitas Jenderal Soedirman
ABSTRACT
THE EFFECT OF USING ALPEVA (VENOUS DETECTION DEVICE) ON THE DURATION AND ACCURACY OF IV PLACEMENT IN THE EMERGENCY ROOM

Fuji Indah Resmi¹, Iwan Purnawan², Yunita Sari³

Background: IV insertion is an important procedure in the Emergency Department (ED) for the rapid administration of fluids and medications. However, difficulty in accessing veins can lead to repeated punctures, prolonging the duration of insertion and reducing the accuracy of the procedure. The use of vein detection devices is an innovation that aids in vein visualization. ALPEVA was developed as a vein detection device with light intensity adjustment features to improve vein visibility and reduce user eye fatigue.
Objective: To determine the effect of using ALPEVA on the duration and accuracy of IV insertion in the emergency department.
Research Method: The research was conducted in two stages, namely the tool development stage using a Research and Development (R&D) approach with the prototyping method, and the experimental stage using a quasi-experiment with a posttest design for the intervention and control groups. The intervention group used ALPEVA and the control group used a standard vein finder, then the duration and accuracy of IV insertion were compared. Data analysis used the Mann-Whitney nonparametric statistical test.
Results: The use of ALPEVA helped healthcare workers locate veins more clearly, making IV insertion more efficient and accurate than in the control group. The difference in the duration and accuracy of IV insertion between the two groups showed significant results (p<0.05).
Conclusion: ALPEVA is effective in accelerating the duration and improving the accuracy of IV insertion in the Emergency Department and is suitable for use as an innovative nursing aid.
Keywords: ALPEVA, Vein Detection Device, IV Insertion Duration, IV Insertion Accuracy, Emergency Department.

1Student of the Master of Nursing Study Programme, Department of Nursing, Faculty of Health Sciences, Universitas Jenderal Soedirman
2Department of Nursing, Faculty of Health Sciences, Universitas Jenderal Soedirman
3Department of Nursing, Faculty of Health Sciences, Universitas Jenderal Soedirman
4809251481I2B024026PENGARUH TAROMAKI (TERAPI ROM JARI KAKI) TERHADAP RENTANG GERAK SENDI JARI KAKI PADA PASIEN STROKE ISKEMIKABSTRAK
PENGARUH TAROMAKI (TERAPI ROM JARI KAKI) TERHADAP RENTANG GERAK SENDI JARI KAKI PADA PASIEN STROKE ISKEMIK

Valerio Basuni Carlo Caryanto1, Saryono2, Endang Triyanto3

Latar Belakang: Stroke iskemik merupakan salah satu penyebab utama kecacatan yang dapat menimbulkan gangguan fungsi motorik, terutama pada ekstremitas bawah. Salah satu dampak yang sering terjadi adalah keterbatasan rentang gerak (ROM) sendi jari-jari kaki yang berpengaruh pada keseimbangan, stabilitas postural, dan kemampuan berjalan. Latihan ROM menjadi bagian penting dalam rehabilitasi, namun pelaksanaannya masih memiliki keterbatasan dalam konsistensi gerakan serta ketergantungan pada tenaga terapis.
Tujuan: Mengidentifikasi Pengaruh TAROMAKI (Terapi ROM Jari Kaki) Terhadap Rentang Gerak Sendi Jari Kaki Pada Pasien Stroke Iskemik
Metode Penelitian: Penelitian dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama adalah pengembangan alat TAROMAKI menggunakan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Tahap kedua menggunakan desain quasi experiment dengan randomized control group pretest-posttest design. Responden sebanyak 90 pasien stroke iskemik, terdiri dari 45 kelompok intervensi dan 45 kelompok kontrol. Kelompok intervensi diberikan latihan ROM jari kaki menggunakan TAROMAKI, sedangkan kelompok kontrol diberikan latihan ROM standar. Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney.
Hasil: Kelompok intervensi menunjukkan peningkatan ROM jari kaki lebih besar dengan median peningkatan 24° (p=0,001; effect size=0,92). Kelompok kontrol mengalami peningkatan median 11° (p=0,001; effect size=0,67). Uji perbandingan antar kelompok menunjukkan perbedaan peningkatan ROM yang signifikan (p=0,001; effect size=0,62).
Kesimpulan: TAROMAKI efektif meningkatkan rentang gerak sendi jari-jari kaki pada pasien stroke iskemik dan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan latihan ROM standar.
Kata Kunci: TAROMAKI, ROM jari kaki, stroke iskemik, rehabilitasi, rentang gerak sendi.

1Mahasiswa Program Studi Magister Keperawatan Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman
2Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman
3Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman

ABSTRACT
THE EFFECT OF TAROMAKI (TOE RANGE OF MOTION THERAPY) ON THE RANGE OF MOTION OF THE TOE JOINTS IN PATIENTS WITH ISCHEMIC STROKE

Valerio Basuni Carlo Caryanto1, Saryono2, Endang Triyanto3
Background: Ischemic stroke is one of the leading causes of disability that can cause motor function impairment, especially in the lower extremities. One of the common effects is limited range of motion (ROM) in the toes, which affects balance, postural stability, and walking ability. ROM exercises are an important part of rehabilitation, but their implementation still has limitations in terms of movement consistency and dependence on therapists.
Objective: To identify the effect of TAROMAKI (Toe ROM Therapy) on the range of motion of the toe joints in ischemic stroke patients.
Research Method: The research was conducted in two stages. The first stage was the development of the TAROMAKI tool using the ADDIE model (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). The second stage used a quasi-experimental design with a randomized control group pretest-posttest design. There were 90 ischemic stroke patients, consisting of 45 intervention groups and 45 control groups. The intervention group was given toe ROM exercises using TAROMAKI, while the control group was given standard ROM exercises. Statistical analysis used the Wilcoxon and Mann-Whitney tests.
Results: The intervention group showed a greater increase in toe ROM with a median increase of 24° (p=0.001; effect size=0.92). The control group experienced a median increase of 11° (p=0.001; effect size=0.67). The comparison test between groups showed a significant difference in ROM improvement (p=0.001; effect size=0.62).
Conclusion: TAROMAKI effectively improves toe joint range of motion in ischemic stroke patients and provides better results than standard ROM exercises.
Keywords: TAROMAKI, toe ROM, ischemic stroke, rehabilitation, joint range of motion.

1Student of the Master of Nursing Study Programme, Department of Nursing, Faculty of Health Sciences, Universitas Jenderal Soedirman
2Department of Nursing, Faculty of Health Sciences, Universitas Jenderal Soedirman
3Department of Nursing, Faculty of Health Sciences, Universitas Jenderal Soedirman

4809351483C2D024002PENGARUH KARAKTERISTIK INTERNAL AUDITOR TERHADAP KEMAMPUAN MENDETEKSI FRAUD DENGAN SKEPTISISME SEBAGAI PEMODERASI (STUDI EMPIRIS PADA AUDITOR INTERNAL PEMERINTAH DIY)Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kecerdasan emosional, komitmen beretika, narsisme antagonis, dan skeptisisme terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud. Penelitian dilakukan pada 114 auditor inspektorat di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan teknik proportionate stratified random sampling dan dianalisis menggunakan SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional dan komitmen beretika berpengaruh positif terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud, sedangkan narsisme antagonis tidak berpengaruh. Skeptisisme berpengaruh positif terhadap kemampuan mendeteksi fraud, namun tidak memoderasi pengaruh kecerdasan emosional, komitmen beretika, maupun narsisme antagonis. Temuan ini mengindikasikan bahwa skeptisisme profesional telah menjadi kewajiban normatif dalam praktik audit. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan metode pengumpulan data yang lebih beragam, memperluas subjek penelitian pada auditor eksternal, serta menguji variabel moderasi lainnyaThis study aims to analyze the influence of emotional intelligence, ethical commitment, antagonistic narcissism, and skepticism on auditors' ability to detect fraud. The study was conducted on 114 inspectorate auditors in the Special Region of Yogyakarta using proportionate stratified random sampling and analyzed using SmartPLS. The results show that emotional intelligence and ethical commitment have a positive effect on auditors' ability to detect fraud, while antagonistic narcissism has no effect. Skepticism has a positive effect on the ability to detect fraud, but does not moderate the influence of emotional intelligence, ethical commitment, or antagonistic narcissism. These findings indicate that professional skepticism has become a normative obligation in audit practice. Future research is recommended to use more diverse data collection methods, expand the research subjects to external auditors, and test other moderating variables.
4809451485I2B024004Pelatihan manajemen bencana terhadap kesiapsiagaan pada mahasiswa: A literature reviewPendahuluan:Pelatihan kesiapsiagaan bencana saat ini sudah mulai dikembangkan mulai dari tingkat pendidikan dasar hingga ke tingkat pendidikan tinggi yaitu mahasiswa dengan tujuan untuk membangun budaya keselamatan dan ketangguhan pada generasi muda. Perguruan tinggi melalui tridharma perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam penanggulangan bencana melalui pembelajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Peran tersebut dapat berlangsung dengan adanya partisipasi aktif dari dosen dan mahasiswa. Tujuan:Untuk meninjau pengaruh pelatihan manajemen bencana terhadap kesiapsiagaan mahasiswa.Metode:Penelitianliteraturreviewdengan pendekatan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses(PRISMA)dan menggunakan PICO. Database pencarian yang digunakan adalah pubmed/NCBI, Scopus,dan Sciencedirect dengan kata kunci "(Student undergraduate) AND (Disaster)) AND (Disaster management training) AND (Disaster Preparedness)".Hasil:Jenis pelatihan penanggulangan bencana terdiri dari pelatihan penanggulangan bencana, tanggap bencana, pendidikan pertolongan pertama, kesiapsiagaan bencana, serta kesiapsiagaan bencana dan tahapan tanggap bencana. Metode pelatihan yang digunakan sama, yaitu simulasiyang dipandu oleh instruktur dan durasi pelatihan bervariasi dan cenderung lama. Durasi pelatihan tercepat adalah 30 menit dan terlama adalah 6 semester.
Background:Disaster preparedness training has now begun to be developed from elementary to higher education, namely students, with the aim of building a culture of safety and resilience in the younger generation. Universities through the tridharma of higher educationhave a strategic role in disaster management through learning, research and community service. This role can take place with the active participation of lecturers and students. Purpose:To examine the effect of disaster management training on student preparedness.Method: Literature review research with the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) approach and using PICO. The search databases used were Pubmed/NCBI, Scopus, and Sciencedirect with the keywords "(Student undergraduate) AND (Disaster)) AND (Disaster management training) AND (Disaster Preparedness)".Results: The types of disaster management training consisted of disaster management training, disaster response, first aid education, disaster preparedness, and stages of disaster preparedness and response. The training method used was the same, namely simulation guided by an instructor and the duration of the training varied and tended to be long. The fastest training duration was 30 minutes and the longest was 6 semesters.Conclusion: Disaster management training for students has been proven to be able to improve disaster preparedness, especially in the campus environment.
4809551486B1A021058Viabilitas Bakteri Nitrifikasi dan Kemampuannya dalam Menurunkan Konsentrasi Logam Cu pada Tanah Asam Bekas Tambang EmasProses pertambangan emas menghasilkan limbah yang mengandung logam berat seperti Hg, Cu, dan Pb. Logam tersebut dapat merusak ekosistem dan menurunkan kualitas tanah. Logam Cu bersifat toksik bagi organisme dan mengganggu proses biologis tanah, sehingga diperlukan perbaikan melalui bioremediasi menggunakan mikroorganisme. Bakteri nitrifikasi dipilih sebagai agen bioremediasi karena mampu memanfaatkan Cu pada tanah asam bekas tambang emas. Terdapat 9 isolat bakteri nitrifikasi (SA12, SA14, SA25, SA26, SA37, BA11, BA12, BA26, dan BA38). Namun, toleransi dan viabilitasnya terhadap Cu pada tanah asam bekas tambang emas belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui toleransi isolat bakteri nitrifikasi terhadap logam Cu, viabilitas isolat bakteri nitrifikasi pada tanah asam bekas tambang emas, dan kemampuan isolat bakteri nitrifikasi dalam mendegradasi logam Cu pada tanah asam bekas tambang emas.
Penelitian dilakukan menggunakan metode survei dan eksperimental. Metode survei dilakukan untuk mengetahui toleransi bakteri nitrifikasi terhadap logam Cu, sedangkan metode eksperimental dilakukan untuk mengetahui kemampuan isolat bakteri nitrifikasi terpilih dalam menurunkan konsentrasi logam Cu dan viabilitasnya pada tanah asam bekas tambang emas. Data toleransi bakteri nitrifikasi terhadap logam Cu dianalisis secara deskriptif. Data viabilitas isolat bakteri nitrifikasi pada tanah asam bekas tambang emas dan kemampuan isolat bakteri nitrifikasi dalam mendegradasi Cu dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada tingkat kepercayaan 95% dan 99%, dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada tingkat kepercayaan 95%. Karakteristik fenotipik isolat bakteri terpilih dianalisis secara deskriptif komparatif mengacu pada Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat SA14, SA37, BA12, BA26, dan BA38 memiliki kemampuan toleransi logam Cu hingga konsentrasi 200 ppm. Viabilitas isolat SA14, SA37, dan BA26 pada tanah asam bekas tambang emas memiliki rerata sebesar 4,78, 5,08, dan 5,03 log CFU/mL pada medium Nitrosomonas Agar, serta sebesar 4,74, 4,70, dan 4,72 log CFU/mL pada medium Nitrobacter Agar, yang menunjukkan kemampuan adaptasi dan kelangsungan hidup isolat pada kondisi cekaman lingkungan. Isolat SA14 dan SA37 mampu menurunkan konsentrasi logam Cu pada tanah asam bekas tambang emas, dengan isolat SA37 menunjukkan penurunan tertinggi sebesar 20%.
The gold mining process produces waste containing heavy metals such as Hg, Cu, and Pb. These metals can damage ecosystems and reduce soil quality. Cu is toxic to organisms and disrupts soil biological processes, requiring remediation through bioremediation using microorganisms. Nitrifying bacteria were selected as bioremediation agents because they are able to utilize Cu in acidic soil from former gold mines. There are nine nitrifying bacterial isolates (SA12, SA14, SA25, SA26, SA37, BA11, BA12, BA26, and BA38). However, their tolerance and viability to Cu in acidic soil from former gold mines are unknown. This study aims to determine the tolerance of nitrifying bacterial isolates to Cu metal, the viability of nitrifying bacterial isolates in acidic soil from former gold mines, and the ability of nitrifying bacterial isolates to degrade Cu metal in acidic soil from former gold mines.
The study was conducted using survey and experimental methods. The survey method was used to determine the tolerance of nitrifying bacteria to Cu metal, while the experimental method was used to determine the ability of selected nitrifying bacterial isolates to reduce Cu metal concentration and their viability in acidic soil from former gold mines. Data on the tolerance of nitrifying bacteria to Cu metal were analyzed descriptively. The data on the viability of nitrifying bacterial isolates in acidic soil from former gold mines and the ability of nitrifying bacterial isolates to degrade Cu were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at a confidence level of 95% and 99%, followed by a Tukey Honestly Significant Difference (HSD) at a confidence level of 95%. The phenotypic characteristics of selected bacterial isolates were analyzed descriptively and comparatively with reference to Bergey's Manual of Determinative Bacteriology.
The results of the study indicate that isolates SA14, SA37, BA12, BA26, and BA38 have Cu metal tolerance up to a concentration of 200 ppm. The viability of isolates SA14, SA37, and BA26 in acidic soil from former gold mines has an average of 4.78, 5.08, and 5.03 log CFU/mL on Nitrosomonas Agar medium, and 4.74, 4.70, and 4.72 log CFU/mL on Nitrobacter Agar medium, indicating the adaptability and survival of the isolates under environmental stress conditions. Isolates SA14 and SA37 were able to reduce the concentration of Cu metal in acidic soil from former gold mines, with isolate SA37 showing the highest reduction of 20%.
4809651487E2A023007PERLINDUNGAN KONSUMEN TERHADAP LAYANAN APLIKASI TIKET.COMPerjanjian antara konsumen dan Tiket.com selaku penyelenggara termasuk ke dalam perjanjian
elektronik karena dilakukan secara online dengan memanfaatkan kecanggihan internet
Kecanggihan internet tidak selalu berdampak positif, tetapi juga berisiko, seperti penyalahgunaan
oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, contohnya kasus pembatalan sepihak yang dilakukan
oleh Tiket.com karena larangan mudik oleh pemerintah. Hal itu Pihak Tiket.com membatalkan
perjalanan tersebut dan pihak konsumen mengajukan permohonan refund ke Tiket.com. Pihak
Tiket.com kepada konsumen akibat ditemukanya indikasi tidak memberikan kejujuran dan
kejelasan kepada konsumen mengenai refund tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
dan menganalisis perlindungan konsumen terhadap layanan aplikasi Tiket.com serta menemukan
Upaya hukum dari permasalahan tersebut. Metode yang digunakan dalam Menyusun penelitian ini
adalah metode yuridis normative dengan spesifikasi penelitian deskriptif analisis, dengan
menggunakan data sekunder yang diperoleh melalui studi pustaka dengan bahan primer. Hasil
Penelitian ini menunjukan bahwa Tiket.com yang melakukan pembatalan sepihak terkait tiket
pesawat atas indikasi tidak memberikan kejujuran dan ketidakjelasan refund termasuk ke dalam
Perbuatan Melawan Hukum (PMH) dan atas kebijakan pembatalan tersebut, Tiket.com
bertentangan dengan UU Perlindungan Konsumen. Guna melindungi hak-hak konsumen,
konsumen dapat mengajukan gugatan ganti kerugian atas PMH yang didasari oleh Pasal 1365
KUH Perdata.
The agreement between consumers and Tiket.com as
organizers are included in the electronic agreement because
it is carried out online by utilizing the sophistication of the
internet Internet sophistication does not always have a
positive impact, but also risks, such as abuse by irresponsible
parties, for example, the case of unilateral cancellation
carried out by Tiket.com due to the ban on homecoming by
the government. Tiket.com canceled the trip and the
consumer submitted a refund request to Tiket.com. The
Tiket.com to consumers due to indications that they did not
provide honesty and clarity to consumers regarding the
refund. This study aims to determine and analyze consumer
protection of Tiket.com application services and find legal
remedies for these problems. The method used in compiling
this research is a normative juridical method with descriptive
research specification analysis, using secondary data
obtained through literature studies with primary material.
The results of this study show that Tiket.com who make
unilateral cancellations related to flight tickets for
indications of not providing honesty and vagueness of
refunds are included in Unlawful Acts (PMH) and for the
cancellation policy, Tiket.com contrary to the Consumer
Protection Law and the ITE Law. To protect consumer
rights, consumers can file a claim for compensation for PMH
based on Article 1365 of the Civil Code.
4809751488E1B021026DEVELOPMENTS IN MORAL OFFENSES IN THE CRIMINAL CODE LAW NUMBER 1 OF 2023 Pembaharuan pada KUHP dalam UU No. 1 Tahun 2023 membawa perubahan yaitu penyesuaian hukum pidana terhadap nilai-nilai kesusilaan, perkembangan sosial, serta kebutuhan masyarakat masa kini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaturan rumusan delik kesusilaan dalam KUHP Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 dan perkembangan perumusan delik kesusilaan dalam KUHP Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif, dengan data sekunder dari studi kepustakaan yang dianalisis secara normatif kualitatif. Pengaturan delik kesusilaan dalam KUHP Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 dirumuskan secara lebih terstruktur dan sistematis dalam Bab XV (Pasal 406–427), mencakup tidak hanya perbuatan asusila seksual tetapi juga perilaku yang mengganggu ketertiban umum dan nilai moral masyarakat, sehingga menunjukkan pembaruan dan penyesuaian terhadap perkembangan norma dan nilai sosial dibandingkan KUHP 1946.The amendments to the Criminal Code in Law No. 1 of 2023 bring about changes, namely the adjustment of criminal law to moral values, social developments, and the needs of today's society. This study aims to examine the formulation of moral offenses in the Criminal Code of Law No. 1 of 2023 and the development of the formulation of moral offenses in the Criminal Code of Law No. 1 of 2023. This study uses a normative juridical approach, with secondary data from literature studies analyzed using qualitative normative analysis. The regulation of indecency offenses in the Criminal Code Law Number 1 of 2023 is formulated in a more structured and systematic manner in Chapter XV (Articles 406–427), covering not only sexual immorality but also behavior that disturbs public order and moral values, thus demonstrating renewal and adjustment to developments in social norms and values compared to the 1946 Criminal Code.
4809851489E1B021049The Violation Of Non-Discrimination Principle By the United States Tariff Measures in 2025 Against Major Trading Partners Under International LawGlobalisasi mendorong ketergantungan perdagangan internasional dan menempatkan prinsip non-diskriminasi sebagai fondasi sistem perdagangan multilateral World Trade Organization. Faktanya, kebijakan tarif unilateral masih sering diterapkan dan berpotensi melanggar prinsip Most-Favoured-Nation serta National Treatment. Amerika Serikat (AS) kembali menerapkan tarif impor tambahan pada 2025 terhadap mitra dagang utama. Kebijakan ini memicu sengketa perdagangan dan menimbulkan ketidakpastian hukum dalam hubungan perdagangan internasional serta melemahkan stabilitas sistem perdagangan multilateral global.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaturan prinsip non-diskriminasi dalam hukum ekonomi internasional berdasarkan GATT dan WTO, serta menganalisis pelanggaran prinsip non-diskriminasi yang dilakukan oleh kebijakan tarif AS terhadap mitra dagang utama pada 2025. Tipe penelitian adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, kasus, dan analisis. Data dalam penelitian ini berasal dari data sekunder yang disajikan dalam bentuk teks naratif dan dianalisis menggunakan metode normatif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, prinsip non-diskriminasi dalam hukum ekonomi internasional diatur dalam Pasal I:1 dan Pasal III GATT 1994, Pasal II dan Pasal XVII GATS, serta ditegaskan dalam kerangka WTO. Kebijakan tarif AS tahun 2025 terbukti melanggar prinsip non-diskriminasi WTO, khususnya kewajiban Most-Favoured Nation (MFN) dan National Treatment (NT), karena menerapkan tarif tambahan secara selektif terhadap negara mitra dagang tertentu. Kebijakan ini merupakan bentuk diskriminasi de jure dan dalam beberapa hal melebihi tarif terikat serta tidak dapat dibenarkan melalui pengecualian keamanan nasional. Akibatnya, kebijakan tersebut melemahkan kepastian hukum dan integritas sistem perdagangan multilateral WTO.
Globalization has increased dependence on international trade and established the principle of non-discrimination as the foundation of the World Trade Organization multilateral trading system. In practice, unilateral tariff policies are still frequently applied and have the potential to violate the Most-Favored-Nation and National Treatment principles. The United States (U.S.) reimposed additional tariffs in 2025 on its major trading partners. This policy has triggered trade disputes and created legal uncertainty in international trade relations, as well as undermining the stability of the global multilateral trading system.
This study aims to analyze the regulation of the principle of non-discrimination in international economic law based on GATT and WTO, as well as to analyze violations of the principle of non-discrimination committed by U.S. tariff policies against major trading partners in 2025. The type of research is normative juridical with a legislative, case, and analytical approach. The data in this study comes from secondary data presented in the form of narrative text and analyzed using qualitative normative methods.
Based on the results of research and discussion, the principle of non-discrimination in international economic law is regulated in Article I:1 and Article III of the 1994 GATT, Article II and Article XVII of GATS, and is confirmed within the WTO framework. The U.S. 2025 tariff policy has been found to violate the WTO principle of non-discrimination, particularly the Most-Favored Nation (MFN) and National Treatment (NT) obligation, as it selectively applies additional tariffs to certain trading partners. This policy constitutes de jure discrimination and, in some cases, exceeds bound tariffs and cannot be justified by national security exceptions. As a result, this policy undermines legal certainty and the integrity of the WTO's multilateral trading system.
4809951743E1B021035IMPLEMENTATION OF REQUIREMENTS FOR DIVORCE OR SEPARATION IN CRIMINAL COMPLAINTS OF ADULTERY
(Study of Decision Number Putusan PN Garut No.64/Pid.B/2025/PN Grt and PN Dobo No. 39/Pid.B/2023/PN Dob)
ABSTRAK
Tindak pidana perzinaan dalam Pasal 284 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) merupakan delik aduan absolut yang hanya dapat diproses berdasarkan pengaduan pihak yang dirugikan. Dalam praktik penegakan hukum, sering muncul anggapan bahwa pengaduan tindak pidana perzinaan harus disertai dengan permohonan cerai atau pisah meja dan ranjang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan permohonan cerai dalam pengaduan tindak pidana perzinaan serta akibat hukum apabila pengaduan tersebut tidak diikuti dengan permohonan cerai. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permohonan cerai bukan merupakan syarat wajib dalam pengajuan pengaduan tindak pidana perzinaan. Perceraian hanya berfungsi sebagai bukti pendukung dan tidak menentukan dapat atau tidaknya perkara pidana diproses. Proses pidana dan perdata merupakan dua ranah yang berbeda, meskipun saling berkaitan dalam praktik. Dengan demikian, fokus utama penegakan hukum terletak pada pemenuhan unsur delik perzinaan dan kecukupan alat bukti, bukan pada adanya gugatan cerai.
ABSTRACT
Adultery under Article 284 of the Criminal Code (KUHP) is an absolute complaint offense that can only be prosecuted based on a complaint from the aggrieved party. In law enforcement practice, there is often an assumption that a complaint of adultery must be accompanied by a petition for divorce or separation. This study aims to analyze the application of divorce petitions in complaints of adultery and the legal consequences if the complaint is not followed by a divorce petition. The research method used is normative legal research with a legislative approach, a case approach, and a conceptual approach. The results of the study show that a divorce petition is not a mandatory requirement in filing a criminal complaint of adultery. Divorce only serves as supporting evidence and does not determine whether or not a criminal case can be processed. Criminal and civil proceedings are two different domains, although they are interrelated in practice. Thus, the main focus of law enforcement lies in fulfilling the elements of adultery and the sufficiency of evidence, not on the existence of a divorce suit
4810051490C1A021002Pengaruh Penggunaan E-Commerce, Promosi, Lifestyle, dan Digital Payment Terhadap Perilaku Konsumtif Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Jenderal SoedirmanPerkembangan teknologi digital telah mendorong perubahan pola konsumsi, khususnya di kalangan mahasiswa. Kemudahan penggunaan e-commerce, intensitas promosi digital, gaya hidup modern, serta pemanfaatan sistem pembayaran digital berpotensi meningkatkan perilaku konsumtif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan e-commerce, promosi, lifestyle, dan digital payment terhadap perilaku konsumtif mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Populasi penelitian adalah mahasiswa aktif FEB Universitas Jenderal Soedirman angkatan 2022 dan 2023, dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Penelitian ini berlandaskan Teori Perilaku Konsumen (Consumer Behavior Theory) yang menjelaskan bahwa perilaku konsumsi dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, seperti stimulus pemasaran, gaya hidup, serta kemudahan teknologi. Hasil uji t menunjukkan bahwa penggunaan e-commerce, promosi, lifestyle, dan digital payment secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif mahasiswa. Selanjutnya, hasil uji F menunjukkan bahwa keempat variabel tersebut secara simultan berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif. Temuan ini menegaskan bahwa faktor-faktor digital dan gaya hidup modern memiliki peran penting dalam membentuk perilaku konsumsi mahasiswa. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kajian perilaku konsumen serta menjadi dasar pertimbangan dalam upaya mendorong perilaku konsumsi yang lebih rasional.The rapid development of digital technology has led to significant changes in consumption patterns, particularly among university students. The ease of using e-commerce platforms, the intensity of digital promotions, modern lifestyles, and the adoption of digital payment systems are factors that potentially increase consumptive behavior. This study aims to analyze the effect of e-commerce usage, promotion, lifestyle, and digital payment on the consumptive behavior of students at the Faculty of Economics and Business, Universitas Jenderal Soedirman. This research employs a quantitative approach using a survey method. The research population consists of active students from the 2022 and 2023 cohorts, selected using purposive sampling. Data were collected through questionnaires and analyzed using multiple linear regression analysis. This study is grounded in Consumer Behavior Theory, which explains that consumption behavior is influenced by internal and external factors, including marketing stimuli, lifestyle, and technological convenience. The results of the t-test indicate that e-commerce usage, promotion, lifestyle, and digital payment individually have a positive and significant effect on students’ consumptive behavior. Furthermore, the F-test results show that all independent variables simultaneously have a significant effect on consumptive behavior. These findings confirm that digital factors and modern lifestyles play an important role in shaping students’ consumption patterns. This study is expected to contribute to the development of consumer behavior studies and provide practical considerations for promoting more rational consumption behavior.