Artikelilmiahs

Menampilkan 43.701-43.720 dari 48.763 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4370147065C1B021092STRATEGI PEMASARAN KONTEN BAGI UMKM KULINER DI BANYUMAS MELALUI MICRO-INFLUENCER: DAMPAKNYA TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIANFenomena pemasaran digital yang disebabkan oleh pesatnya perkembangan teknologi mengharuskan para pelaku bisnis untuk menggunakan strategi yang paling efektif untuk menarik minat calon konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh content marketing, micro-influencer, dan kualitas produk terhadap keputusan pembelian UMKM kuliner di Kabupaten Banyumas yang dimediasi oleh customer engagement. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada konsumen UMKM kuliner di Kabupaten Banyumas. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah SEM-PLS untuk menganalisis pengaruh variabel satu sama lain. Data yang dihasilkan dalam penelitian menunjukkan bahwa content marketing dan micro-influencer mampu mempengaruhi keputusan pembelian, customer engagement mampu memediasi pengaruh content marketing dan micro-influencer terhadap keputusan pembelian, namun kualitas produk tidak dapat mempengaruhi keputusan pembelian.The phenomenon of digital marketing caused by the rapid development of technology requires business people to use the most effective strategies to attract potential customers. This study aims to analyze the effect of content marketing, micro-influencers, and product quality on purchasing decisions for culinary MSMEs in Banyumas Regency mediated by customer engagement. This research uses quantitative methods. The data collection process was carried out by distributing questionnaires to consumers of culinary MSMEs in Banyumas Regency. The data analysis technique used in this research is SEM-PLS to analyze the influence of variables on each other. The data generated in the study shows that content marketing and micro-influencers are able to influence purchasing decisions, customer engagement is able to mediate the influence of content marketing and micro-influncer on purchasing decisions, but product quality cannot influence purchasing decisions.
4370247066F1B021067PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA PENGADILAN NEGERI PURWOKERTOPermasalahan akan kinerja pegawai ASN yang rendah dalam organisasi publik sering kali diperbincangkan oleh masyarakat karena ketidakpuasan terhadap pelayanan publik yang diberikan. Sehingga, diharapkan untuk memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai di antaranya budaya organisasi dan lingkungan kerja yang diduga dapat mempengaruhi kinerja pegawai. Penelitian in bertujuan untuk mengetahui pengaruh budaya organisasi dan lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai di Pengadilan Negeri Purwokerto. Metode penelitiannya adalah kuantitatif dengan pendekatan survey melalui kuesioner. Adapun teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis statistik deskriptif, Uji Korelasi Kendall Tau, Uji Korelasi Konkordansi Kendall W, dan Uji Regresi Logistik Ordinal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji Korelasi Kendall Tau dan Korelasi Konkordansi Kendall W terdapat hubungan antara budaya organisasi dan lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai. Selanjutnya, hasil regresi ordinal menunjukkan bahwa budaya organisasi dan lingkungan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai pada Pengadilan Negeri Purwokerto baik secara parsial maupun simultan.
Kata Kunci: Budaya Organisasi, Lingkungan Kerja, Kinerja Pegawai
The problem of low performance of ASN employees in public organizations is often discussed by the public due to dissatisfaction with the public services provided. So, it is expected to pay attention to factors that affect employee performance including organizational culture and work environment which are thought to affect employee performance. This study aims to determine the effect of organizational culture and work environment on employee performance at Pengadilan Negeri Purwokerto. The research method is quantitative with a survey approach through a questionnaire. The data analysis techniques in this study used descriptive statistical analysis, Kendall Tau Correlation Test, Kendall W Concordance Correlation Test, and Ordinal Logistic Regression Test. The results showed that the Kendall Tau Correlation and Kendall W Concordance Correlation tests showed a relationship between organizational culture and work environment on employee performance. Furthermore, the ordinal regression results show that organizational culture and work environment have a positive and significant effect on employee performance at Pengadilan Negeri Purwokerto both partially and simultaneously.
Keywords: Organizational Culture, Work Environment, Employee Performance
4370347067D1A021108Hubungan Umur dan Tingkat Pendidikan dengan Partisipasi Pemuda dalam Program Pembuatan Pupuk Kompos di Desa Melung Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara umur dan tingkat pendidikan dengan partisipasi pemuda dalam program pembuatan pupuk kompos di Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Penetapan sampel wilayah diambil secara purposive sampling. Analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu Analisis Deskriptif dan Analisis Rank Spearman. Pemilihan responden dilakukan secara purposive sampling dan ditujukan kepada anggota Kelompok Peternak Muda Desa Melung yang berjumlah 30 orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa responden di Desa Melung memiliki rentan umur 16-22 tahun, tingkat pendidikan berada pada kategori SMA dan partisipasi pemuda terhadap program pembuatan pupuk kompos pada kategori tinggi. Berdasarkan hasil analisis korelasi Rank Spearman terdapat hubungan yang sangat lemah antara umur pemuda dengan partisipasi dalam program pembuatan pupuk kompos (0,123) dan terdapat hubungan yang sangat lemah antara tingkat pendidikan pemuda dengan partisipasi dalam program pembuatan pupuk kompos (0,093) di Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. This study aims to determine the relationship between age and education level with youth participation in the composting program in Melung Village, Kedungbanteng District, Banyumas Regency. The research method used is the survey method. The determination of the area sample was taken by purposive sampling. The analysis used in this study was Descriptive Analysis and Spearman Rank Analysis. The selection of respondents was carried out by puposive sampling and was aimed at members of the Young Farmers Group of Melung Village totaling 30 people. The results of the study showed that respondents in Melung Village had an age range of 16-22 years, education level was in the high school category and youth participation in the composting program was in the high category. Based on the results of the Spearman Rank correlation analysis, there was a very weak relationship between youth age and participation in the composting program (0.123) and there was a very weak relationship between youth education level and participation in the composting program (0.093) in Melung Village, Kedungbanteng District, Banyumas Regency.
4370447068G1A021078Pengaruh Paparan Elektromagnetik Telepon Seluler Terhadap Kadar Hemoglobin dan Jumlah Eritrosit pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) WistarLatar Belakang: Paparan elektromagnetik telepon seluler frekuensi tinggi (800–2200 MHz)
dapat berdampak buruk bagi kesehatan, termasuk pada proses eritropoiesis. Penilaian kadar
hemoglobin dan jumlah eritrosit merupakan indikator penting untuk skrining anemia.
Tujuan: Mengetahui pengaruh paparan gelombang elektromagnetik telepon seluler terhadap
kadar hemoglobin dan jumlah eritrosit tikus putih (Rattus norvegicus) Wistar. Metode
Penelitian: Metode true experimental design dengan desain penelitian post test only with
control group. Jumlah sampel terdiri dari 28 ekor tikus putih (Rattus novegicus) jantan galur
Wistar yang dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok 1 sebagai kelompok kontrol yang
dimasukkan ke kandang perlakuan selama 45 hari tanpa diberikan paparan elektromagnetik
telepon seluler dan kelompok 2, 3, 4 sebagai kelompok perlakuan yang dimasukkan ke
kandang perlakuan dan diberikan paparan elektromagnetik telepon seluler 2100 MHz
dengan mode panggilan Whatsapp selama 2 jam/hari selama 15, 30, dan 45 hari. Kadar
hemoglobin dan jumlah eritrosit diukur menggunakan metode otomatis Hematology
Analyzer. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA Welch. Hasil: Rerata kadar hemoglobin
kelompok 1= 16,07 g/dL, 2= 16,90 g/dL, 3= 16,53 g/dL, dan 4= 16.47 g/dL Rerata jumlah
eritrosit kelompok 1= 8,15 juta/μL, 2= 8,61 juta/μL, 3= 8,56 juta/μL, dan 4= 8,89 juta/μL.
Uji ANOVA Welch menunjukkan nilai p>0,05 untuk kadar hemoglobin dan jumlah eritrosit,
yang berarti tidak ada perbedaan signifikan antar kelompok. Kesimpulan: Paparan
elektromagnetik telepon seluler selama 15, 30, dan 45 hari tidak memberikan pengaruh
signifikan terhadap kadar hemoglobin dan jumlah eritrosit dalam darah tikus putih (Rattus
norvegicus) Wistar.
Background: Exposure to high-frequency (800–2200 MHz) electromagnetic radiation from
mobile phones had a negative impact on health, including the process of erythropoiesis.
Objectives: To determine the effects of mobile phone electromagnetic exposure on
hemoglobin levels and erythrocyte counts in Wistar rats. Methods: This study used a true
experimental design with a post-test only with a control group design. A total of 28 male
Wistar rats were divided into 4 groups. Group 1 was the control group, placed in the
treatment cage for 45 days without exposure to electromagnetic radiation from mobile
phones. Group 2, 3, and 4 were the treatment groups, placed in the treatment cage and
exposed to 2100 MHz electromagnetic radiation from mobile phones from Whatsapp for 2
hours/day for 15, 30, and 45 days. Hemoglobin levels and erythrocyte counts were measured
using a Hematology Analyzer. Data were analyzed using the ANOVA Welch test. Results:
The mean hemoglobin levels are as follows: group 1 is 16.07 g/dL, group 2 is 16.90 g/dL,
group 3 is 16.53 g/dL, and group 4 is 16.47 g/dL. The mean erythrocyte counts are: group 1
is 8.15 million/μL, group 2 is 8.61 million/μL, group 3 is 8.56 million/μL, and group 4 is 8.89
million/μL. The ANOVA Welch test shows a p-value>0.05 for hemoglobin levels and
erythrocyte counts. Conclusion: Electromagnetic exposure from mobile phones for 15, 30,
and 45 days does not have a significant effect on hemoglobin levels and erythrocyte counts
in the blood of Wistar rats.
4370547069G1A021061Hubungan Lama Paparan Pestisida dengan Kejadian Hipertensi pada Petani di Desa Tambaksari Kidul BanyumasLatar Belakang: Prevalensi hipertensi pada petani di Indonesia merupakan yang tertinggi ketiga dibanding pekerjaan lain, yaitu sebesar 36,1%. Salah satu faktor yang dapat berhubungan dengan tingginya prevalensi hipertensi pada petani adalah lama paparan pestisida. Tujuan: Mengetahui hubungan lama paparan pestisida dengan kejadian hipertensi pada petani di Desa Tambaksari Kidul, Banyumas. Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional dan metode purposive sampling dengan jumlah sampel 80 berdasarkan penghitungan dengan rumus Slovin. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik. Hasil: Rata-rata lama paparan pestisida responden 1.921,98 jam. Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan namun lemah antara lama paparan pestisida dengan kejadian hipertensi (p = 0,026; r = 0,242). Uji regresi logistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara lama paparan pestisida dengan kejadian hipertensi (p = 0,064). Kesimpulan: Lama paparan pestisida memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi pada petani, namun setelah mempertimbangkan variabel perancu lain, hubungan menjadi tidak signifikan.Background: Prevalence of hypertension among farmers in Indonesia is the third highest compared to other occupations, at 36.1%. One of the factors that might be associated with the high prevalence of hypertension among farmers is the length of pesticide exposure. Objectives: Determine relationship between the length of pesticide exposure and the incidence of hypertension among farmers in Tambaksari Kidul Village, Banyumas. Methods: Analytical observational study with cross-sectional design and purposive sampling method with a sample size of 80 based on calculation with Slovin formula. Data analysis was performed using Chi-Square and logistic regression. Result: Average length of pesticide exposure among respondents was 1,921.98 hours. Chi-Square result showed a weak significant relationship between the length of pesticide exposure and the incidence of hypertension (p = 0.026; r = 0.242). Logistic regression result indicated that there was no significant relationship between the length of pesticide exposure and the incidence of hypertension (p = 0.064). Conclusion: The length of pesticide exposure has a weak significant relationship with the incidence of hypertension among farmers. However, after considering other confounding variables, the relationship becomes not significant.
4370647147F1B021065PENETAPAN PRIORITAS DAN PARTISIPASI MASYARAKAT
(STUDI KASUS PERENCANAAN PEMBANGUNAN UNTUK PENGENTASAN KEMISKINAN)
Prioritas perencanaan pembangunan adalah aspek penting bagi pemerintah daerah untuk menentukan arah pembangunan dengan mempertimbangkan sumber daya yang dimiliki. Bappelitbangda bertanggung jawab memastikan perencanaan pembangunan untuk pengentasan kemiskinan berjalan sesuai prosedur dan menghasilkan penurunan kemiskinan yang signifikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis penetapan prioritas dan partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan untuk pengentasan kemiskinan. Penelitian ini dikaji menggunakan aspek-aspek perencanaan pembangunan menurut M.L. Jhingan yang meliputi prioritas, dan partisipasi masyarakat. Metode Penelitian adalah Metode Kualitatif, data yang digunakan diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sumber data sekunder diperoleh dari laporan dan dokumen yang berkaitan dengan perencanaan pembangunan. Validitas dan reliabilitas menggunakan teknik Triangulasi sumber. Penentuan prioritas yang baik terbukti mampu untuk menurunkan angka kemiskinan meskipun belum signifikan. Dalam penetapan prioritas Bappelitbangda Purbalingga melewati beberapa proses seperti Musrenbang dari tingkat desa hingga kabupaten di tingkat akhir untuk menetapkan rancangan prioritas yang sudah disusun sebelumnya, Musrenbang di Kabupaten Purbalingga telah dilaksanakan sesuai prosedur dan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Tetapi tingkat partisipasi peserta forum sangat beragam. Kesimpulan penelitian ini adalah secara keseluruhan prioritas perencanaan pembangunan dalam pengentasan kemiskinan sudah berjalan sesuai prosedur yang ada dan memiliki hasil penurunan angka kemiskinan, namun masih perlu dilakukan perbaikan.Priority development planning is an important aspect for local governments to determine the direction of development by considering the resources they have. Bappelitbangda is responsible for ensuring that development planning for poverty alleviation runs according to procedures and results in a significant reduction in poverty. This research aims to analyze priority setting and community participation in development planning for poverty alleviation. This research was studied using aspects of development planning according to M.L. Jhingan which includes priorities and community participation. The research method is a qualitative method, the data used was obtained through interviews, observation and documentation. Secondary data sources were obtained from reports and documents related to development planning. Validity and reliability using source triangulation techniques. Determining good priorities has been proven to be able to reduce poverty rates, although not yet significantly. In determining priorities, Bappelitbangda Purbalingga goes through several processes such as Musrenbang from village to district level at the final level to determine the priority plans that have been prepared previously. Musrenbang in Purbalingga Regency has been carried out according to procedures and involves various elements of society. But the level of participation of forum participants varies widely. The conclusion of this research is that overall development planning priorities in poverty alleviation have been running according to existing procedures and have resulted in reducing poverty rates, but improvements still need to be made.
4370747070C1G021035THE ECONOMIC AND ENVIRONMENTAL IMPACT OF WASTE RECYCLING MANAGEMENT BASED ON THE CIRCULAR ECONOMY AT TPST KEDUNGRANDU BANYUMAS REGENCYPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak ekonomi, profitabilitas, dan lingkungan dari pengelolaan daur ulang sampah berbasis ekonomi sirkular di TPST Kedungrandu, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini berfokus pada bagaimana penerapan prinsip ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah dapat berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat lokal, peningkatan profitabilitas pengelolaan sampah, dan pengurangan dampak lingkungan. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian ini mengumpulkan data primer melalui wawancara, observasi langsung, dan studi dokumentasi di TPST Kedungrandu, serta didukung oleh data sekunder untuk analisis yang lebih komprehensif. Variabel utama yang diukur meliputi peningkatan pendapatan masyarakat, profitabilitas operasional dan daur ulang, efisiensi sumber daya, serta pengurangan volume sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sistem daur ulang sampah berbasis ekonomi sirkular memberikan dampak positif terhadap pendapatan masyarakat lokal dan meningkatkan profitabilitas operasional pengelolaan sampah. Sistem ini mengoptimalkan pendapatan dari produk daur ulang sekaligus mengelola biaya operasional secara efektif. Selain itu, penerapan sistem ini juga berhasil mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA dan emisi karbon, menciptakan peluang kerja baru, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah berkelanjutan, serta mendorong produksi barang daur ulang yang bernilai ekonomi. Temuan ini menekankan bahwa integrasi prinsip ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah tidak hanya meningkatkan hasil ekonomi dan profitabilitas, tetapi juga mengatasi tantangan lingkungan yang kritis. Penelitian ini memberikan wawasan berharga bagi pemerintah daerah, pengelola TPST, dan masyarakat luas, dengan menyoroti potensi praktik ekonomi sirkular untuk secara bersamaan mencapai tujuan ekonomi, profitabilitas, dan lingkungan.This study aims to analyze the economic, profitability, and environmental impacts of waste recycling management based onthe circular economy at TPST Kedungrandu, Banyumas Regency.The research focuses on how the application of circular economy principles in waste management contributes to increasing local community income, improving waste profitability, and reducing environmental impacts. Using a quantitative approach, this study collects primary data through interviews, direct observations, and documentation studies at TPST Kedungrandu, supported bysecondary data for a more comprehensive analysis. Key variablesmeasured include the increase in community income, operational and recycling profitability, resource efficiency, and the reduction of waste volume sent to landfills. The results reveal that the implementation of a circular economy- based wasterecycling system has positively impacted local community incomeand improved the profitability of waste management operations. The system has optimized revenues from recycled products while managing operational costs effectively. Moreover, it has reduced landfill waste and carbon emissions, created new job opportunities, increased public awareness of sustainable waste management, and encouraged the production of economically valuable recycled goods. The findings highlight that the integration of circular economy principles in waste management not only enhances economic and profitability outcomes but also addresses critical environmental challenges. This research provides valuable insights for local governments, TPST managers, and the broader community, emphasizing the potential ofcircular economy practices to simultaneously achieve economic, profitability, and environmental objectives.
4370847071I1B021012Analisis Faktor yang Memengaruhi Kualitas Tidur pada Penyandand Diabetes Melitus Tipe 2 Latar Belakang: Kualitas tidur yang buruk merupakan salah satu masalah utama pada populasi penyandang diabetes melitus tipe 2. Tidur, sebagai bagian penting dari pola hidup sehat, setara dengan perilaku gaya hidup lain dalam pengelolaan DM tipe 2. Penyandang diabetes melitus tipe 2 sering mengalami gejala klinis berupa poliuria, polidipsia, dan polifagia. Selain itu, Penyandang DM tipe 2 rentan mengalami stres dan kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kualitas tidur pada penyandang diabetes melitus tipe 2 yang mengikuti prolanis di Puskesmas Purwokerto Timur 1.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional, kuantitatif analitik korelasi. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Sampel yang digunakan berjumlah 63 partisipan. Data diperoleh melalui pengisian kuesioner Sleep Hygiene Index (SHI) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) yang telah teruji valid dan reliabel. Hipotesis diuji dengan menggunakan Spearman’s Rank dan uji regresi logistik biner.
Hasil Penelitian: Analisis bivariat menunjukan tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan lama menderita terhadap kualitas tidur pada penyandang diabetes melitus tipe 2 yang mengikuti Prolanis di Puskesmas Purwokerto Timur 1. Berdasarkan analisis regeresi multivariat, faktor dominan yang memengaruhi kualitas tidur pada penyandang diabetes melitus tipe 2 yang mengikuti Prolanis di Puskesmas Purwokerto Timur 1 adalah sleep hygiene tingkat buruk (OR=9.067; CI=1.724-47.675) dan tingkat sedang (OR=3.733; CI=0.955-14592).
Kesimpulan: Sleep hygiene buruk merupakan faktor yang paling besar memengaruhi kualitas tidur. partisipan dengan sleep hygiene buruk berpotensi 9 kali memiliki kualitas tidur yang buruk, dibandingkan dengan partisipan yang memiliki sleep hygiene baik.
Kata kunci: Analisis faktor, diabetes melitus tipe 2, kualitas tidur, sleep hygiene









1Mahasiswa Jurusan Keperawatan, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman
2,3Dosen Jurusan Keperawatan, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirma
Background: Poor sleep quality is a major issue among individuals with type 2 diabetes mellitus (T2DM). Sleep, as a critical component of health lifestyle, is equivalent to other lifestyle behaviors in the management of T2DM. Individuals with T2DM often experience clinical symptoms such as polyuria, and polydipsia. Furthermore, they are more vulnerable to stress and anxienty, which can exacerbate sleep distrubances. This study aims to analyze the factors affecting sleep quality in type 2 diabetes mellitus patients in Prolanis program at Purwokerto Timur 1 Primary Healthcare Center.
Methodology: This study employed a cross-sectional design with an analytical correlational approach. The sampling technique used purposive sampling, involving 63 participants. Data were collected through the Sleep Hygiene Index (SHI) and Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaires. The hypothesis was tested using Spearman’s Rank corellation and binary logistic regression test.
Results: Bivariate analysis indicated no significant relationship between gender, education level, and duration of diabetes among type 2 diabetes mellitus patients in Prolanis program at Purwokerto Timur 1 Primary Healthcare Center. Based on the result of multivariate regression analysis, it was found that the dominant factors influencing in this population were poor sleep hygiene (OR=9.067; CI=1.724-47.675) and moderate sleep hygiene (OR=3.733; CI=0.955-14592).
Conclusion: Poor levels of sleep hygiene are the biggest factor affecting sleep quality. Participants with poor sleep hygiene had a ninefold increased risk of experiencing poor sleep quality compared to those with good sleep hygiene.
Keywords: factor analysis, sleep hygiene, sleep quality, type 2 diabetes mellitus









1Students of Nursing Departement, Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University 2,3Lecturer of Nursing Departement, Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University
4370947095I1J021035THE EFFECT OF MANGO PEEL (Mangifera Indica L.) BREWING ON FASTING BLOOD SUGAR LEVELS IN WISTAR RATS (Rattus Norvegicus) INDUCED BY ALLOXANLatar Belakang: Diabetes merupakan penyakit yang disebabkan oleh gangguan metabolisme pada pancreas, yang mengakibatkan produksi insulin tidak mencukupi. Kondisi ini menyebabkan peningkatan kadar gula darah dalam darah, yang dikenal sebagai hiperglikemia dan kondisi ini mempengaruhi kadar gula darah puasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh seduhan kulit mangga (Mangifera Indica L) terhadap kadar gula darah puasa pada tikus wistar (Rattus Norvegicus) yang diinduksi aloksan.
Metodelogi: Penelitian ini menggunakan desain true experimental pretest-posttest with control group. Sampel terdiri dari 24 tikus yang dibagi ke dalam 6 kelompok: kontrol sehat (A), kontrol negative (B), seduhan kulit mangga arumanis (C), mangga manalgi (D), mangga indramayu (E), dan
glibenklamid (F). pengukuran gula darah puasa dilakukan dengan glucometer, dan data dianalisis menggunakan One Way ANOVA serta uji post hoc Duncan.
Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa seduhan kulit mangga efektif menurunkan kadar gula darah puasa. Hasil rerata selisih pretest-posttest dengan dosis yang sama adalah kulit mangga arumanis 120.50 ± 7.594 mg/dL, kulit mangga manalagi 140.75 ± 5.058 mg/dL, dan kulit
mangga indramayu 165.75 ± 2.500 mg/dL.
Kesimpulan: Pemberian seduhan kulit mangga indramayu dengan dosis 100 mg/200gBB terbukti
paling efektif dalam menurunkan kadar gula darah puasa
Background: Diabetes is a disease caused by metabolic disorders in the pancreas, leading to inadequate insulin production. This condition causes an increase in blood sugar levels in the blood, a condition known as hyperglycemia, which impacts fasting blood sugar levels. This study aims to determine the effect of mango peel (Mangifera Indica L) brewing on fasting blood sugar levels in alloxan induced Wistar rats (Rattus Norvegicus)
Methodology: This research employed a true experimental pre-test and post-test design with the control group. A total of 24 rats were divided into six groups: healthy control (A), negative control (B), arumanis mango peel brew 100mg/200gBW (C), manalagi mango 100mg/200gBW (D), indramayu mango 100mg/200gBW (E), and glibenclamide 0,09mg/200gBW (F). Fasting blood sugar levels were measured using a glucometer, and the data were analyzed using One Way ANOVA and Duncan's post hoc test.
Results: The results showed that mango peels were effective in reducing fasting blood sugar levels. The mean pretest-posttest difference with the same dose is arumanis mango peel 120.50 ± 7,594 mg/dL, manalagi mango peel 140.75 ± 5,058 mg/dL, and indramayu mango peel 165.75 ± 2,500
mg/dL.
Conclusion: The administration of Indramayu mango peel brew at a dose of 100 mg/200gBW proved to be the most effective in reducing fasting blood sugar levels.
4371047072I1B021009Hubungan Kadar HbA1c dengan Kualitas Tidur pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Purwokerto Timur II Kabupaten BanyumasLatar Belakang: Kadar HbA1c yang tinggi dengan tanda gejala poliuria, nokturia, dan obstruktif sleep apnea dapat menggangu ritme sirkadian sehingga mengakibatkan kualitas tidur terganggu.
Tujuan: Mengetahui hubungan kadar HbA1c dengan kualitas tidur pada pasien diabetes melitus di Puskesmas Purwokerto Timur II.

Metodologi: Penelitian korelasi kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel dengan consecutive sampling dan total sampel didapatkan 61 partisipan. Analisis data yang digunakan menggunakan uji univariat, bivariat, dan regresi logistik.

Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan memiliki kadar HbA1c buruk sebanyak 31 partisipan (50,8%), dan sebagian besar partisipan memiliki kualitas tidur buruk sebanyak 33 partisipan (54,1%) . Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kadar HbA1c dengan kualitas tidur pada pasien DM di Puskesmas Purwokerto Timur II dengan nilai p value 0,00 < 0,05.

Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kadar HbA1c dengan kualitas tidur pada pasien DM di Puskesmas Purwokerto Timur II.

Kata Kunci: Diabetes melitus, HbA1c, kualitas tidur
Background: High HbA1c levels with signs of polyuria, nocturia and obstructive sleep apnea can disrupt the circadian rhythm, resulting in disturbed sleep quality.
Objective: To determine the correlation HbA1c levels with sleep quality in diabetes mellitus patients at Purwokerto Timur II health center.

Methods: Quantitative correlation research with cross-sectional design, the sampling technique used consecutive sampling with a total sample of 61 participants. Data analysis used univariate, bivariate, and logistic regression test.

Results: The results of the study showed that the majority of participants had poor HbA1c levels, 31 (50,8%) participants and the majority of participants had poor sleep quality, 33 (54,1%) participants, the research results showed there was a significant relationship between HbA1c levels and sleep quality in diabetes mellitus patients at Purwokerto Timur II Community Health Center with a p value of 0,00 < 0,05.

Conclusion: There is a significant correlation between HbA1c levels and sleep quality among diabetes mellitus patients at Purwokerto Timur II health center.
Keywords: Diabetes mellitus, HbA1c, sleep quality.
4371147073I1E021009UPAYA PENURUNAN SKOR IMT PADA ANAK OBESITAS MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL DI SD NEGERI 2 KALIBAGORLatar Belakang: Perkembangan teknologi memicu peningkatan sedentary behavior pada anak-anak, yang menyebabkan penurunan aktivitas fisik dan peningkatan risiko obesitas. Survei di SD Negeri 2 Kalibagor menunjukkan sebanyak 16 siswa/i kelas 4-6 masuk kedalam kategori obesitas. Permainan tradisional seperti betengan dan gobak sodor menjadi salah satu solusi efektif, karena melibatkan aktivitas fisik seperti berlari dan melompat yang mampu meningkatkan pengeluaran energi dan membakar kalori. Pendekatan permainan betengan dan gobak sodor diharapkan dapat menurunkan skor IMT/U pada siswa/i obesitas
Metodologi: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif pre-eksperimental dengan metode One-Group Pretest-Posttest. Sampel penelitian sebanyak 16 orang yang diambil dengan teknik purposive sampling berdasarkan perhitungan IMT/U dengan kategori obesitas. Penelitian dilaksanakan pada 06 September 2024 di SDN 2 Kalibagor. Analisis data dilakukan dengan uji parametrik meliputi Uji Normalitas, Homogenitas, dan Hipotesis.
Hasil Penelitian: Uji paired t-test menunjukkan bahwa permainan tradisional betengan dan gobak sodor memiliki pengaruh terhadap penurunan skor IMT/U pada siswa/i obesitas, dengan nilai signifikansi 0,000. Rata-rata skor IMT/U siswa/i obesitas kelas 4-6 di SDN 2 Kalibagor juga menurun sebesar 0,078 setelah diberikan perlakuan melalui permainan tersebut.
Kesimpulan: Permainan tradisional seperti betengan dan gobak sodor terbukti memberikan pengaruh terhadap penurunan skor IMT/U pada siswa obesitas kelas 4-6 SDN 2 Kalibagor. Hal ini mendukung permainan tradisional sebagai metode aktivitas fisik yang bermanfaat bagi anak obesitas dalam penurunan skor IMT/U.
Kata Kunci: Sedentary Behavior, Obesitas, Skor IMT/U, Permainan Tradisional, Betengan, Gobak Sodor
Background: Technological development triggers an increase in sedentary behavior in children, which leads to decreased physical activity and increased risk of obesity. A survey at SD Negeri 2 Kalibagor showed that 16 students in grades 4-6 were categorized as obese. Traditional games such as betengan and gobak sodor are one of the effective solutions, because they involve physical activities such as running and jumping that can increase energy expenditure and burn calories. The betengan and gobak sodor game approach is expected to reduce IMT/U scores in obese students.
Methodology: This research is a pre-experimental quantitative study with the One-Group Pretest-Posttest method. The study sample was 16 people who were taken by purposive sampling technique based on the calculation of IMT/U with the obesity category. The research was conducted on September 06, 2024 at SDN 2 Kalibagor. Data analysis was carried out with parametric tests including Normality, Homogeneity, and Hypothesis Tests.
Results: The paired t-test shows that traditional games betengan and gobak sodor have an influence on reducing IMT/U scores in obese students, with a significance value of 0.000. The average IMT/U score of obese students in grades 4-6 at SDN 2 Kalibagor also decreased by 0.078 after being given treatment through the game.
Conclusion: Traditional games such as betengan and gobak sodor have been proven to influence the reduction of IMT/U scores in obese students of grades 4-6 at SDN 2 Kalibagor. This supports traditional games as a beneficial method of physical activity for obese children in reducing IMT/U scores.
Keywords: Obesity, IMT/U Score, Traditional Games, Betengan, Gobak Sodor
4371247074C1A021103Pengaruh Luas Panen, Jumlah Produksi, dan Harga Jual Terhadap Pendapatan Petani Kopi Robusta di Kabupaten BanyumasPendapatan petani merupakan salah satu indikator utama dalam kesejahteraan untuk menggambarkan bagaimana tingkat keberhasilan dalam pengelolaan usaha pertanian, sehingga penting untuk memahami faktor-faktor apa saja yang memengaruhi terhadap pendapatan petani. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh luas panen, jumlah produksi, serta harga jual berpengaruh terhadap pendapatan petani kopi robusta di Kabupaten Banyumas dan untuk mengetahui pengaruh signifikan terhadap pendapatan petani kopi robusta di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan data primer yang dianalisis dengan metode regresi linier berganda data panel, serta model terbaik yang terpilih yaitu Common Effect Model (CEM). Sumber data primer yang diolah diperoleh dari melakukan wawancara untuk mengetahui dari tahun 2019-2023 ke enam kecamatan di Kabupaten Banyumas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas panen, jumlah produksi, dan harga jual berpengaruh positif secara signifikan terhadap pendapatan petani di Kabupaten Banyumas. Berdasarkan kesimpulan tersebut, implikasi dari penelitian ini adalah tersedianya dukungan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan melalui optimalisasi luas panen dapat berkontribusi pada peningkatan pendapatan petani. Upaya untuk mencapai pendapatan yang optimal meliputi pemanfaatan fasilitas produksi kopi robusta, penyelenggaraan pelatihan khusus bagi petani, serta pemberian teknologi modern yang mampu meningkatkan efisiensi budidaya kopi robusta di setiap kecamatan di Kabupaten Banyumas. The income of robusta coffee farmers is related to the harvest area, production volume, and selling price. Farmers' income is one of the main indicators of welfare to illustrate the level of success in agricultural management, so it is important to understand the factors that influence farmers' income. The purpose of this study is to determine the impact of harvest area, production quantity, and selling price on the income of robusta coffee farmers in Banyumas Regency and to identify the significant influence on the income of robusta coffee farmers in Banyumas Regency. This research uses primary data analyzed with the panel data multiple linear regression method, with the selected best model being the Common Effect Model (CEM). The primary data processed was obtained through interviews conducted from 2019 to 2023 six sub-districts in Banyumas Regency. The research results indicate that the harvest area, production volume, and selling price have a significantly positive impact on the income of farmers in Banyumas Regency. The implication of this research is that the availability of support to improve land utilization efficiency through the optimization of harvest area can contribute to increasing farmers' income. Efforts to achieve optimal income include the utilization of robusta coffee production facilities, the organization of special training for farmers, and the provision of modern technology capable of enhancing the efficiency of robusta coffee cultivation in each sub-district of Banyumas Regency.
4371347075C1B021022BAMBOO BUSINESS DEVELOPMENT STRATEGY FORMULATION
USING BUSINESS MODEL CANVAS (BMC) APPROACH AND SWOT
ANALYSIS IN AN EFFORT TO IMPROVE COMPETITIVENESS
(Case Study in Legok Village, Bantarkawung District, Brebes
Regency)
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan bisnis bambu dengan menggunakan pendekatan Business Model Canvas (BMC) dan analisis SWOT dalam upaya peningkatan daya saing (Studi kasus di Desa Legok Kecamatan Bantarkawung Kabupaten Brebes. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara. Informan dalam penelitian ini berjumlah 14 orang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah karakteristik informan. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah Business Model Canvas (BMC) dan Analisis SWOT. Para pelaku usaha khususnya pelaku usaha bambu di Desa Legok Kecamatan Bantarkawung Kabupaten Brebes perlu memperhatikan strategi pengembangan usaha. Para pelaku usaha dapat menggunakan Business Model Canvas (BMC) dan Analisis SWOT untuk pengambilan keputusan dalam pengembangan usaha ke depannya.This research aims to formulate a bamboo business development strategy using the Business Model Canvas (BMC) approach and SWOT analysis in an effort to increase competitiveness (Case study in Legok Village, Bantarkawung District, Brebes Regency. The data collection techniques used in this research are observation and interviews. informants in this research is 14. The method used in this research is informant characteristics. The data analysis technique in this research is the Business Model Canvas (BMC) and SWOT Analysis Business people, especially bamboo business people in Legok Village, Bantarkawung District, Brebes Regency, need to pay attention to business development strategies. Business people can use the Business Model Canvas (BMC) and SWOT Analysis for decision making in future business development
4371447076D1A020118POTENSI INFEKSI CACING PARASIT DAN PERTAMBAHAN BOBOT BADAN HARIAN PADA DOMBA YANG DIPELIHARA DI KANDANG PANGGUNG DAN LEMPRAKANDI CV LEMBUSARI FARMUsaha peternakan mempunyai peranan penting dalam aspek kehidupan masyarakat. Domba Garut telah lama menjadi salah satu ras domba yang populer dan penting di Indonesia, terutama dalam konteks pertanian dan peternakan tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kandungan cacing parasit dan pertambahan bobot badan harian pada domba anakan Garut yang dipelihara di kandang panggung dan kandang lemprakan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah masing-masing 3 ekor domba anakan Garut yang dipelihara di kandang panggung dan lemprakan di Lembusari Farm yang berumur 5-6 bulan. Pakan yang diberikan adalah pakan hijauan berupa rumput pakcong dan rumput odot serta diberikan pakan konsentrat. Pakan hijauan diberikan 2,2 kg per ekor per hari dan pakan konsentrat diberikan sebanyak 0,5 kg per ekor per hari. Data yang diambil adalah bobot domba yang ditimbang setiap minggu selama empat minggu untuk mengetahui pertambahan bobot badan harian domba anakan Garut yang dipelihara di kandang panggung dan lemprakan. Feses domba diambil dari kandang panggung dan lemprakan kemudian diuji mikroskopis di Balai Veteriner Purwokerto untuk mengetahui tingkat infeksi telur cacing. Penelitian ini mengkaji efek cacing parasit pada domba di dua jenis kandang, yaitu kandang panggung dan kandang lemprakan dengan metode apung untuk mengetahui jenis cacing perut dan metode sedimentasi untuk mengetahui jenis cacing hati serta perbedaan dalam pertambahan bobot badan harian (PBBH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa domba di kandang lemprakan mengalami infeksi cacing yang lebih tinggi, meliputi cacing Trichostrongyle sp dan Fasciola sp dibandingkan dengan domba di kandang panggung. Domba di kandang lemprakan menunjukkan sanitasi yang kurang optimal dan infeksi cacing yang lebih tinggi. Domba di kandang panggung mempunyai PBBH rata-rata 75 gram per ekor per hari, sementara domba di kandang lemprakan hanya 64,9 gram per ekor per hari. Disimpulkan bahwa domba yang dipelihara di kandang panggung lebih baik jika ditinjau dari tingkat infeksi cacing dan pertambahan bobot badan harian (PBBH).Livestock farming plays an important role in many aspects of people's lives. Garut sheep has long been one of the popular and important sheep breeds in Indonesia, especially in the context of traditional agriculture and animal husbandry. This study aims to determine the differences in parasitic worm content and daily body weight gain in Garut sheep reared in stilt pens and throwing pens. The materials used in this study were 3 Garut ewes reared in stage pens and lemprakan pens at Lembusari Farm, each 5-6 months old. The feed given was forage feed in the form of pakcong grass and odot grass and concentrate feed. The data taken is the weight of the sheep which is weighed every week for four weeks to determine the daily body weight gain of Garut sheep reared in stage cages and slopes. Sheep feces were taken from the stage and lemprakan pens and then tested microscopically at the Purwokerto Veterinary Center to determine the level of worm egg infection. This study examined the effects of parasitic worms on sheep in two types of cages, namely stage cages and lemprakan cages using the floating method to determine the type of stomach worms and the sedimentation method to determine the type of liver worms and differences in daily body weight gain (PBBH). The results showed that sheep in lemprak pens had higher worm infections, including Trichostrongyle sp and Fasciola sp compared to sheep in stage pens. Sheep in slaughterhouse showed less optimal sanitation and higher worm infection. Sheep in stilt pens had an average PBBH of 75 grams per day, while sheep in lemprak pens had only 64.9 grams per day. It was concluded that sheep reared in stilt pens were better in terms of worm infection rate and daily weight gain (PBBH).
4371547077F1B021066KUALITAS PELAYANAN PEMBUATAN PASPOR DENGAN SISTEM ONLINE (STUDI PADA KANTOR IMIGRASI KELAS I TEMPAT PEMERIKSAAN IMIGRASI JAKARTA TIMUR)

Kendala sistem yang sering terjadi di beberapa perangkat pemohon atau masyarakat yang seringkali menjadi keluhan dari masyarakat dalam penggunaan Aplikasi M-Paspor atau sistem online. Penelitian ini akan berfokus pada analisis kualitas pelayanan pembuatan paspor dengan sistem online di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Jakarta Timur melalui teori Lenvine yang terdiri dari aspek responsiveness, responsibility, dan accountability. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Penelitian ini menunjukkan kualitas pelayanan pembuatan paspor dengan sistem online pada Kantor Imigrasi Kelas I TPI Jakarta Timur memperoleh hasil yang baik yang tercermin pada kepuasan masyarakat yang tinggi, efisiensi waktu pelayanan, dan peningkatan kepercayaan terhadap pelayanan publik.frequently become a source of complaints regarding the use of the M-Paspor application or the online system. This study focuses on analyzing the quality of online passport issuance services at the East Jakarta Class I TPI Immigration Office using Levine's theory, which comprises aspects of responsiveness, responsibility, and accountability. The research employs a descriptive qualitative method, with data collected through interviews, observations, and documentation. The findings indicate that the quality of online passport issuance services at the East Jakarta Class I TPI Immigration Office is rated positively, as reflected in high public satisfaction, efficient service times, and increased trust in public services.
4371647078I1B021007Hubungan antara Kohesivitas Kelompok dengan Tingkat Kepuasan Belajar pada Metode Project Based Learning (PjBL) Program Studi S1 Keperawatan di Universitas Jenderal Soedirman Latar Belakang: Kohesivitas kelompok adalah suatu proses dinamis yang tercermin dalam kecenderungan kelompok untuk tetap bersama dan menjaga kebersamaan dalam mencapai tujuan dasar kelompok dan memenuhi kebetuhan afektif anggota kelompok. Kohesivitas menjadi salah satu hal penting dalam kerja kelompok. PjBL merupakan salah satu metode belajar dalam kelompok, banyak faktor memengaruhi kepuasan belajar dalam PjBL.
Tujuan : Mengetahui hubungan antara kohesivitas kelompok dengan tingkat kepuasan belajar pada metode project based learning (PjBL) program studi S1 Keperawatan di Universitas Jenderal Soedirman.
Metodologi: Penelitian ini merupakan kuantitatif analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada mahasiswa keperawatan angkatan 2021, 2022, 2023 di UNSOED. Teknik sampling yang digunakan yaitu proportional random sampling dimana populasi terdapat strata sehingga tiap angkatan dapat terwakili. Total sampel didapatkan 214 mahasiswa. Analisa data pada penelitian ini menggunakan uji Sommers’d.
Hasil: Mayoritas partisipan penelitian berusia 20 tahun dan berjenis kelamin perempuan. Jumlah mahasiswa paling banyak pada angkatan 2023 sebanyak 89 orang (41,6%). Hasil uji korelasi Uji Sommers’d antara kohesivitas kelompok dengan tingkat kepuasan belajar menunjukkan nilai p value <0,001 dengan nilai r 0,937 yang berarti terdapat hubungan bermakna antara kohesivitas kelompok dan tingkat kepuasan belajar pada metode PjBL.
Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kohesivitas kelompok dengan tingkat kepuasan belajar pada metode project based learning (PjBL) program studi S1 keperawatan.
Background: Group cohesiveness is a dynamic process reflected in the group's tendency to stay together and maintain togetherness in achieving basic group goals and fulfilling the affective needs of group members. Cohesiveness is one of the important things in group work. PjBL is one of the methods of learning in groups, many factors affect learning satisfaction in PjBL.
Objective: To determine the relationship between group cohesiveness and the level of learning satisfaction in the project-based learning (PjBL) method of the S1 Nursing study program at Jenderal Soedirman University
Methodology: This study is a quantitative correlation analytic with a cross sectional approach conducted on nursing students class of 2021, 2022, 2023 at UNSOED. The sampling technique used is proportional random sampling where the population has strata so that each generation can be represented. The total sample obtained was 214 students. Data analysis in this study used the Sommers'd test.
Results: The majority of research participants were 20 years old and female. The highest number of students in the 2023 batch was 89 people (41.6%). The results of the Sommers'd Test correlation test between group cohesiveness and level of learning satisfaction showed a p value <0.001 with an r value of 0.937, which means that there is a significant relationship between group cohesiveness and level of learning satisfaction in the PjBL method.
Conclusion: There is a significant correlation between group cohesiveness and the level of learning satisfaction in the project-based learning (PjBL) method of the undergraduate nursing study program.
4371747079J1D020032Karakteristik Masalah dalam Kumpulan Cerpen Kelas 7 SMP Negeri 1 LumbirPenelitian ini bertujuan untuk menggambarkan masalah sosial yang terkandung dalam
kumpulan cerpen Reinkarnasi Haru di Kota Masa Depan. Masalah yang dihadapi dalam
bentuk kemiskinan, kejahatan, disorganisasi keluarga, masalah generasi muda dan lain
lain. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif sementara metode yang digunakan
adalah metode analisis deskriptif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan
sosiologi sastra. Data dalam penelitian ini adalah teks dalam bentuk kalimat dalam
bentuk dialog dan monolog aksi yang terkait dengan masalah sosial, sementara sumber
data adalah kumpulan cerpen Reinkarnasi Haru di Kota Masa Depan. Teknik analisis data
dalam penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data,
dan penarikan simpulan. Sementara dalam teknik pengumpulan data yaitu menggunakan
teknik baca untuk menemukan data data berupa penggalan kata maupun dialog yang
mencangkup bentuk bentuk masalah sosial
This study aims to describe the social problems contained in the short story collection
Reincarnation Haru in the City of the Future. The problems faced are in the form of poverty,
crime, family disorganization, young generation problems and others. This type of research
is qualitative research while the method used is descriptive analysis method. The approach
used is the sociology of literature approach. The data in this study are texts in the form of
sentences in the form of dialogues and monologues of action related to social problems,
while the data source is a collection of short stories Reincarnation Haru in the City of the
Future. While the data collection technique in this research is carried out by collecting data,
reducing data, presenting data, and drawing conclusions. While in the data collection technique, namely using reading techniques to find data in the form of fragments of words
and dialog that cover forms of social problems
4371847080I1B021001Hubungan Durasi Penggunaan Media Sosial Untuk Belajar dengan Tingkat Motivasi Belajar Mahasiswa Sarjana Keperawatan Universitas Jenderal SoedirmanLatar Belakang: Motivasi belajar merupakan faktor penting dalam mencapai keberhasilan akademik terutama bagi mahasiswa. Motivasi belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk perkembangan teknologi. Mahasiswa memanfaatkan media sosial dengan durasi waktu yang berbeda-beda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara durasi penggunaan media sosial untuk belajar dengan tingkat motivasi belajar.
Metodologi: Penelitian kuantitatif analitik korelasi dengan pendekatan Cross Sectional. Pengambilan sampel menggunakan Proportional Random Sampling sebanyak 209 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner durasi penggunaan media sosial dan kuesioner Model Motivasi ARCS-V. Hipotesis diuji menggunakan uji Somers’D.
Hasil Penelitian: Mayoritas responden penelitian berusia 20 tahun, berjenis kelamin perempuan (89,95%). Responden terbanyak yaitu angkatan 2023 (41,15%), mayoritas mempunyai nilai IPK >3,50 (74,64%), media sosial yang dimiliki responden berjumlah 6 jenis aplikasi (30,14%), aplikasi media sosial yang digunakan untuk belajar yaitu Youtube (46,90%). Durasi menggunakan media sosial secara umum yaitu >6 jam/hari (66,51%) dari waktu tersebut yang digunakan untuk belajar yaitu selama 31-45 menit/hari (52,63%). Tingkat motivasi belajar mayoritas berada pada tingkat motivasi sedang (78,95%). Hasil analisis didapatkan nilai p-value <0,001 dan nilai r 0,254 menunjukan kekuatan korelasi sangat lemah. Berdasarkan hasil dapat disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara durasi penggunaan media sosial untuk belajar dengan tingkat motivasi belajar.
Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara durasi penggunaan media sosial untuk belajar dengan tingkat motivasi belajar. Institusi perlu mengelola penggunaan media sosial bagi mahasiswa untuk membantu meningkatkan motivasi belajar mahasiswa.
Background: Motivation to learn is an important factor in achieving academic success, especially for students. Learning motivation is influenced by various factors including technological developments. Students use social media for different durations of time. The aim of this research is to determine the relationship between the duration of using social media for learning and the level of learning motivation.
Method: Correlation analytical quantitative research with a Cross Sectional approach. Sampling used Proportional Random Sampling of 209 respondents. The instruments used were the duration of social media use questionnaire and the ARCS-V Motivation Model questionnaire. The hypothesis was tested using the Somers'D test.
Result: The majority of research respondents were 20 years old, female (89.95%). The largest number of respondents were class of 2023 (41.15%), the majority had a GPA >3.50 (74.64%), the social media owned by respondents amounted to 6 types of applications (30.14%), social media applications used for studying namely YouTube (46.90%). The duration of using social media in general is >6 hours/day (66.51%) of which time is used for studying, namely 31-45 minutes/day (52.63%). The majority of learning motivation levels are at moderate motivation levels (78.95%). The analysis results showed that the p-value was <0.001 and the r-value was 0.254, indicating that the strength of the correlation was very weak. Based on the results, it can be concluded that there is a significant relationship between the duration of using social media for learning and the level of learning motivation.
Conclusion: There is a significant relationship between the duration of using social media for learning and the level of learning motivation. Institutions need to manage the use of social media for students to help increase student learning motivation.
4371947096I1B021038FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI
SELF-COMPASSION PERAWAT GAWAT DARURAT DAN KRITIS DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
Latar belakang: Perawat gawat darurat dan kritis mengahadapi tekanan kerja yang berisiko menyebabkan stress dan burnout. Self-compassion, kemampuan individu untuk menunjukkan kepedulian dan empati terhadap diri sendiri, terbukti penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis serta mendukung performa kerja. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi faktor-faktor yang memengaruhi self-compassion dan menilai hubungan antara work affinity dengan self-compassion perawat di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan total sampel 158 perawat dari ruang IGD, ICU, HCU, ICCU, NICU, dan PICU. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner demografi, Self-Compassion Scale, kuesioner iklim kerja, dan UWES-9. Analisis data menggunakan uji regresi linear untuk menilai hubungan antarvariabel.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia, tingkat pendidikan, lama kerja, iklim kerja, dan work affinity terbukti secara signifikan memengaruhi self-compassion perawat gawat darurat dan kritis, dengan p value masing-masing p=0,002, p=0,000, p=0,000, p=0,000, dan p=0,000. Iklim kerja menjadi faktor paling dominan dalam memengaruhi self-compassion perawat. Hubungan antara self-compassion dan work affinity ditemukan saling memmengaruhi.
Kesimpulan: Faktor-faktor yang memengaruhi self-compassion perawat gawat darurat dan kritis adalah usia, tingkat pendidikan, lama kerja, iklim kerja, dan work affinity. Work Affinity diidentifikasi menjadi prediktor dan pendukung self-compassion untuk meningkatkan performa kerja perawat.
Background: Emergency and critical care nurses face work-related pressures that pose risks of stress, burnout, and fatigue, both physically, emotionally, and intellectually. Self-compassion, the ability of individuals to show care and empathy toward themselves, has proven crucial in maintaining psychological well-being and supporting work performance. This study aims to explore the factors influencing self-compassion and assess the relationship between work affinity and self-compassion at Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional General Hospital.
Methods: This research utilized a descriptive quantitative design with a total sample of 158 nurses from the Emergency Department, ICU, HCU, ICCU, NICU, and PICU in September 2024 Measurements used demographic questionnaires, the Self-Compassion Scale, workplace climate questionnaires, and UWES-9. Data analysis used linear regression tests to evaluate relationships between variables.
Results: The research findings indicate that age, educational level, years of service, work climate, and work affinity significantly influence the self-compassion of emergency and critical care nurses, with p-values of p=0.002, p=0.000, p=0.000, p=0.000, and p=0.000, respectively. Work climate emerged as the most dominant factor affecting nurses' self-compassion. The relationship between self-compassion and work affinity.
Conclusion: The factors influencing self-compassion among emergency and critical care nurses include age, education level, work experience, workplace climate, and work affinity. Work affinity is identified as a predictor and supporter of self-compassion in enhancing nurses' work performance.
4372047082L1A020005Analysis of Mangrove Landscape Based on Water Quality Zoning and Sediment Characteristics in Eastern part of Segara AnakanEkosistem mangrove di Segara Anakan mengalami gangguan seperti alih fungsi lahan, kualitas perairan, dan sedimen di kawasan konservasi tersebut. Hal tersebut juga akan mempengaruhi landscape mangrove, kualitas air, dan karakteristik sedimen. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui kualitas air di Segara Anakan bagian Timur, karakteristik sedimen di Segara Anakan bagian Timur, dan landscape mangrove Segara Anakan bagian Timur berdasarkan kualitas air dan karakteristik sedimen. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan pengambilan data menggunakan line transek pada 15 stasiun dengan masing-masing stasiun terdiri dari 3 plot. Hasil penelitian menunjukkan jika Segara Anakan Timur memiliki suhu perairan berkisar 22-31,23°C, salinitas air 14,5-27,8 ppt, dan pH berkisar 6-8,15. Pada sedimen di Segara Anakan Timur diketahui pH berkisar 4,14-5,8; salinitas 18-22,5 ppt;fosfat 7,2-13,7 mg/kg;pirit 1,37-1,81%;dan tekstur sedimen tanah lumpur berliat. Analisis landscape mangrove berdasarkan zonasi kualitas air dan karakteristik sedimen di Segara Anakan Timur didasarkan pada kerapatan mangrove, yaitu jarang, sedang, rapat, dan sangat rapat. Hasil analisis landscapenya yaitu antara 3 zona pada masing-masing kerapatan memperlihatkan pola zonasi yang dapat dilihat dari jens mangrove yang mendominasi dan kualitas air yang cenderung fluktuatif dengan kondisi sedimen lumpur berliat.

The ecosystem of mangroves in Segara Anakan is disturbed by land conversion water quality and sedimentation. This will give impact mangrove landscape, water quality and characteristics sediment. The study aimed to determine the water quality in the Eastern Part of Segara Anakan, the characteristics of sediment in the Eastern Part of Segara Anakan, and the mangrove landscape of the Eastern Part of Segara Anakan based on water quality and sediment characteristics. The research method used a survey method to collect data using line transects in 15 stations with each station consisting of 3 plots. The results showed that East Segara Anakan had a water temperature ranging from 22-31.23°C, water salinity of 14.5-27.8 ppt, and pH ranging from 6-8.15. In the sediment in East Segara Anakan, the pH is known to range from 4.14-5.8; salinity 18-22.5 ppt; phosphate 7.2-13.7 mg/kg; pyrite 1.37-1.81%; and clayey mud soil sediment texture. Mangrove landscape analysis based on water quality zoning and sediment characteristics in East Segara Anakan is based on mangrove density, namely sparse, moderate, dense, and very dense. The results of the landscape analysis, namely between 3 zones at each density, show a zoning pattern that can be seen from the dominant mangrove species and water quality that tends to fluctuate with clayey mud sediment conditions