Artikelilmiahs

Menampilkan 43.661-43.680 dari 48.776 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4366147029C1G019004THE DEVELOPMENT STRATEGY OF WEAVING INDUSTRY IN PEKUNCEN VILLAGE, JATILAWANG, BANYUMAS


SUMMARY

Pembangunan di sektor industri dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan nasional dan kesejahteraan penduduk. Kabupaten Banyumas memiliki total 13 industri unggulan daerah yang salah satunya adalah industri tekstil. Pemerintah Kabupaten Banyumas memiliki perhatian di industri tekstil, khususnya terhadap pengembangan industri tenun di Kecamatan Somagede, Banyumas dan Jatilawang, namun keberlanjutan pengembangan tenun terhambat di Kecamatan Jatilawang.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian mixed method sequential. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Penelitian ini dilakukan di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang. Teknik pengumpulan data yaitu dengan wawancara dan kuesioner.
Hasil penelitian ini menunjukkan aspek yang menjadi prioritas utama yaitu SDM, prioritas kedua yaitu pemasaran, prioritas ketiga yaitu produk dan prioritas keempat yaitu kelembagaan. Permasalahan yang menjadi prioritas dalam pengembangan industri tenun di Desa Pekuncen pada aspek SDM adalah kurangnya motivasi dan loyalitas SDM terhadap industri tenun. Prioritas permasalahan pada aspek kelembagaan yaitu belum mampu menciptakan organisasi yang tepat untuk mengembangkan industri tenun. Prioritas permasalahan pada aspek pemasaran yaitu tidak adanya kerjasama pelaku usaha dengan mitra usaha. Prioritas permasalahan pada aspek produk yaitu belum ada inovasi produk tenun Desa Pekuncen. Solusi yang menjadi prioritas dalam pengembangan industri tenun di Desa Pekuncen pada aspek SDM adalah mendatangkan tenaga ahli dan mengadakan pembekalan bersertifikat. Prioritas solusi pada aspek kelembagaan yaitu membentuk lembaga di Desa Pekuncen yang memiliki fungsi menaungi penenun. Prioritas solusi pada aspek pemasaran yaitu membuat kesepakatan kerja sama antara pelaku usaha dan mitra usaha. Prioritas solusi pada aspek produk yaitu Melakukan pengembangan produk dari segi warna dan motif. Strategi yang menjadi prioritas utama dalam pengembangan industri tenun di Desa Pekuncen adalah pengembangan kapasitas & kapabilitas SDM. Kedua, Optimalisasi pemasaran melalui berbagai media. Ketiga, Pengembangan produk tenun Desa Pekuncen. Keempat, Menyusun rencana induk pengembangan industri tenun.
Hasil dari penelitian ini memberikan implikasi pada strategi Pengembangan kapasitas & kapabilitas SDM dengan Implikasi bagi pelaku usaha yaitu selalu belajar meningkatkan kapasitas dan kapabilitas, implikasi bagi pemerintah yaitu mendatangkan tenaga ahli untuk pelaku usaha, implikasi bagi akademisi yaitu memasukkan tenun ke dalam konsep keilmuan. Kemudian, Menyusun rencana induk pengembangan industri tenun dengan Implikasi bagi pelaku usaha yaitu Menyusun hal-hal penting kaitannya pengembangan industri tenun, implikasi bagi pemerintah yaitu membuat roadmap pengembangan industri tenun, implikasi bagi akademisi yaitu memberikan sumbangan pemikiran untuk rencana induk pengembangan industri tenun. Selanjutnya, Optimalisasi pemasaran melalui berbagai media dengan Implikasi bagi pelaku usaha yaitu membuat dan mengembangkan media pemasaran untuk produk, implikasi bagi pemerintah yaitu memberikan bantuan alat untuk pelaku usaha, implikasi bagi akademisi yaitu memberikan materi pembelajaran tentang pemasaran di berbagai media. Kemudian, Pengembangan produk tenun Desa Pekuncen dengan Implikasi bagi pelaku usaha yaitu mengembangkan produk berupa warna dan motif, implikasi bagi pemerintah yaitu memberikan bantuan alat untuk pelaku usaha, implikasi bagi akademisi yaitu memberikan sumbangan riset berupa pengembangan produk terkini.

Kata Kunci: Industri Tenun, Strategi Pengembangan. SDM, Pemasaran, Produk, Pemasaran
SUMMARY
Development in the industrial sector is intended to increase national income and the welfare of the population. Banyumas Regency has a total of 13 regional leading industries, one of which is the textile industry. The government of Kabupaten Banyumas pays attention to the textile industry, especially to the development of the weaving industry in Somagede, Banyumas and Jatilawang sub-districts, but the sustainability of weaving development is hampered in Jatilawang sub-district.
This research uses mixed method sequential research.The data sources used were primary data and secondary data. This research was conducted in Pekuncen Village, Jatilawang District. The data collection techniques were interviews and questionnaires.
The results of this study show that the top priority aspects are human resources, the second priority is marketing, the third priority is products and the fourth priority is institutions. The priority problem in the development of the weaving industry in Pekuncen Village in the aspect of human resources is the lack of motivation and loyalty of human resources to the weaving industry. The priority problem in the institutional aspect is the inability to create the right organisation to develop the weaving industry. The priority problem in the marketing aspect is the absence of cooperation between business actors and business partners. The priority problem in the product aspect is that there is no innovation of weaving products in Pekuncen Village. Priority solutions in the development of the weaving industry in Pekuncen Village in terms of human resources are bringing in experts and organising certified training. The priority solution for institutional aspects is to form an institution in Pekuncen Village that has the function of housing weavers. Priority solutions in the marketing aspect are to make a cooperation agreement between business actors and business partners. The priority solution for the product aspect is to develop the product in terms of colours and motifs. The strategy that becomes the main priority in developing the weaving industry in Pekuncen Village is the development of human resource capacity and capability. Second, optimising marketing through various media. Third, developing weaving products in Pekuncen Village. Fourth, Developing a master plan for the development of the weaving industry.
The results of this study provide implications for the strategy of developing the capacity & capability of human resources with implications for business actors, namely always learning to improve capacity and capability, implications for the government, namely bringing in experts for business actors, implications for academics, namely incorporating weaving into scientific concepts. Then, Developing a master plan for the development of the weaving industry with implications for business actors, namely compiling important things related to the development of the weaving industry, implications for the government, namely making a roadmap for the development of the weaving industry, implications for academics, namely contributing ideas to the master plan for the development of the weaving industry. Furthermore, Optimising marketing through various media with implications for business actors, namely creating and developing marketing media for products, implications for the government, namely providing tool assistance for business actors, implications for academics, namely providing learning materials about marketing in various media. Then, Pekuncen Village weaving product development with implications for business actors, namely developing products in the form of colours and motifs, implications for the government, namely providing tool assistance for business actors, implications for academics, namely providing research contributions in the form of the latest product development.
Keywords: Weaving Industry, Development Strategy. HR, Marketing, Product, Marketing

4366247030G1A021077ANALISIS FAKTOR PREDIKTOR PERBAIKAN DEFISIT NEUROLOGIS PADA PASIEN STROKE ISKEMIK RAWAT INAP DI RSUD MARGONO SOEKARJOLatar Belakang: Stroke iskemik merupakan jenis stroke yang paling umum dengan insidensi tinggi secara global dan tingkat kecacatan signifikan. Pemulihan pasien stroke iskemik bervariasi, dipengaruhi oleh berbagai faktor. Namun, pembahasan mengenai faktor yang berhubungan dengan perbaikan defisit neurologis masih terbatas. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perbaikan defisit neurologis pada pasien stroke iskemik. Metode: Penelitian ini adalah studi analitik observasional retrospektif dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan dari rekam medis 185 pasien stroke iskemik rawat inap berusia >18 tahun tanpa riwayat stroke sebelumnya di RSUD Margono Soekarjo periode Januari 2023–Agustus 2024, menggunakan metode total sampling. Variabel terikat adalah perbaikan defisit neurologis, sementara variabel bebasnya mencakup usia, jenis kelamin, komorbiditas, derajat keparahan stroke, tekanan darah saat masuk, GCS saat masuk, prehospital delay, dan jenis terapi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square atau uji Fisher pada variabel yang tidak memenuhi syarat, serta regresi logistik. Hasil: Analisis bivariat menunjukkan usia (p=0,020) dan derajat keparahan stroke (p=0,001) sebagai faktor signifikan dalam perbaikan defisit neurologis. Analisis multivariat menunjukkan bahwa derajat keparahan stroke (p=0,003) serta usia (p=0,021) menjadi faktor prediktor perbaikan defisit neurologis. Pasien stroke berat memiliki peluang lebih besar untuk perbaikan neurologis dibandingkan stroke yang lebih ringan. Selain itu, pasien usia lanjut memiliki peluang perbaikan lebih besar dibandingkan usia yang lebih muda. Kesimpulan: Derajat keparahan stroke dan usia merupakan faktor prediktor dalam perbaikan defisit neurologis pada pasien stroke iskemik.Background: Ischemic stroke is the most common type of stroke with a high incidence globally and significant disability. Recovery of ischemic stroke patients varies, influenced by various factors. However, there is limited discussion on factors associated with neurological improvement. Objective: To analyze the factors associated with neurological improvement in ischemic stroke patients. Methods: This study was a retrospective observational analytic study with a cross-sectional design. Data were collected from the medical records of 185 hospitalized ischemic stroke patients aged >18 years without a history of previous stroke at RSUD Margono Soekarjo in the period January 2023-August 2024, using the total sampling method. The dependent variable was neurological improvement, while the independent variables included age, gender, comorbidities, stroke severity, blood pressure on admission, GCS on admission, prehospital delay, and type of therapy. Data were analyzed using Chi-square test or Fisher test and logistic regression. Results: Bivariate analysis showed age (p=0.020) and stroke severity (p=0.001) as significant factors in neurological improvement. Multivariate analysis showed that stroke severity (p=0.003) and age (p=0.021) were predictors of neurological improvement. Severe stroke patients had a greater chance of neurologic improvement than milder strokes. In addition, older patients had a greater chance of improvement than younger age. Conclusion: Stroke severity and age are predictors of neurological improvement in ischemic stroke patients.
4366347031I1E020039PENGARUH LATIHAN PLYOMETRICS TERHADAP KECEPATAN TENDANGAN DOLLYO CHAGI ATLET DI BANYUMAS TAEKWONDO CLUBLatar Belakang: Kecepatan tendangan Dollyo Chagi merupakan elemen krusial dalam Taekwondo, terutama dalam pertandingan. Observasi menunjukkan kurang optimalnya kecepatan tendangan atlet Banyumas Taekwondo Club yang berdampak pada hasil kompetisi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh latihan Plyometrics terhadap peningkatan kecepatan tendangan Dollyo Chagi.
Metodologi Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain Eksperimen One-Group Pretest-Posttest. Sampel terdiri dari 10 atlet Banyumas Taekwondo Club berusia 14–17 tahun, dipilih menggunakan metode purposive sampling. Latihan Plyometrics dilakukan selama 14 pertemuan dalam lima minggu. Data kecepatan tendangan diukur sebelum (pretest) dan setelah (posttest) perlakuan menggunakan instrumen milik Jati, (2016) yang telah tervalidasi. Analisis data untuk uji noemalitas menggunakan Shapiro Wilk, Uji homogenitas menggunakan Uji Levene, dan Uji hipotesis menggunakan uji Paired Sample T-test.
Hasil Penelitian: Hasil analisis statistik menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kecepatan tendangan Dollyo Chagi, sebanyak 60% atlet mencapai kategori "sangat baik" pada posttest.setelah pelaksanaan latihan Plyometrics. Rata-rata pretest 6,13 detik, rata-rata posttest 4,34 detik. Pada hasil uji hipotesis menunjukan p < 0,05, artinya terdapat pengaruh latihan plyometrics terhadap kecepatan tendangan dollyo chagi atlet di Banyumas Taekwondo Club.
Kesimpulan: Latihan Plyometrics terbukti efektif meningkatkan kecepatan tendangan Dollyo Chagi pada atlet Banyumas Taekwondo Club. Hasil ini dapat dijadikan dasar pengembangan program latihan bagi pelatih dan atlet Taekwondo.
Background: The speed of the Dollyo Chagi kick is a crucial element in Taekwondo, especially during competitions. Observations revealed that the Dollyo Chagi kick speed of athletes in Banyumas Taekwondo Club was suboptimal, affecting competition outcomes. Therefore, this study aimed to know the effect of Plyometrics training on improving the speed of the Dollyo Chagi kick.
Methodology: This study employed a One-Group Pretest-Posttest Experimental Design. The sample consisted of 10 athletes from the Banyumas Taekwondo Club, aged 14–17 years, selected using purposive sampling. Plyometric training was conducted over 14 sessions within five weeks. Kick speed data were measured before (pretest) and after (posttest) the intervention using a validated instrument developed by Jati, (2016). Data analysis included the Shapiro-Wilk test for normality, Levene's test for homogeneity, and the Paired Sample T-test for hypothesis testing.
Research Results: The statistical analysis results showed a significant improvement in Dollyo Chagi kick speed, with 60% of the athletes reaching the "excellent" category in the posttest after plyometric training. The average pretest time was 6.13 seconds, while the average posttest time was 4.34 seconds. Hypothesis testing results indicated 𝑝 <0.05, demonstrating that plyometric training had a significant effect on the Dollyo Chagi kick speed of athletes at the Banyumas Taekwondo Club.
Conclusion: Plyometrics training effectively improved the Dollyo Chagi kick speed of athletes in Banyumas Taekwondo Club. These results can serve as a foundation for developing training programs for Taekwondo coaches and athletes.
4366447032C1B021005PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY, GENDER DIVERSITY, DAN INTELLECTUAL CAPITAL TERHADAP FINANCIAL DISTRESSPenelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Corporate Social Responbility, Gender Diversity, Intellectual Capital terhadap Financial Distress. Sampel penelitian berjumlah 19 Perusahaan Consumer Cyclical yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun 2021-2023 yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan total observasi 57. Penelitian ini menggunakan teknis analisis data regresi berganda dengan variabel dependen adalah financial distress dan variabel independen adalah Corporate Social Responbility, Gender Diversity, dan Intellectual Capital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Corporate Social Responsibility berpengaruh negatif terhadap Financial Distress. Sedangkan, Gender Diversity dan Intellectual Capital berpengaruh positif terhadap Financial Distress. Penelitian ini menunjukkan bahwa Perusahaan Consumer Cyclical perlu meningkatkan pengungkapan CSR sesuai pedoman Global Reporting Initiative (GRI) karena pengungkapan CSR yang tinggi dapat menurunkan tingkat financial distress, meningkatkan legitimasi masyarakat, dan menarik minat pemegang saham untuk berinvestasi. This study aims to examine the effect of Corporate Social Responsibility, Gender Diversity, Intellectual Capital on Financial Distress. The research sample amounted to 19 Consumer Cyclical Companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) from 2021-2023 which were selected using purposive sampling technique with a total of 57 observations. This study uses multiple regression data analysis techniques with the dependent variable being financial distress and the independent variables being Corporate Social Responsibility, Gender Diversity, and Intellectual Capital. The results showed that Corporate Social Responsibility has a negative effect on Financial Distress. Meanwhile, Gender Diversity and Intellectual Capital have a positive effect on Financial Distress. This study shows that Consumer Cyclical Companies need to increase CSR disclosure according to Global Reporting Initiative (GRI) guidelines because high CSR disclosure can reduce the level of financial distress, increase public legitimacy, and attract shareholders to invest.
4366547033C1B021017PERAN MODERASI PERCEIVED ORGANIZATIONAL SUPPORT PADA PENGARUH DIGITAL LITERACY TERHADAP KINERJA PEGAWAI DINSOSPERMASDES KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh digital literacy terhadap kinerja pegawai, dengan menambahkan variabel moderasi berupa perceived organizational support. Fokus penelitian diarahkan pada pegawai Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsospermasdes) Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data yang dikumpulkan melalui kuesioner. Teknik pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode nonprobability sampling dengan teknik total sampling, melibatkan 91 responden yang telah bekerja di Dinsospermasdes Kabupaten Banyumas selama minimal satu tahun dan terlibat langsung dalam penggunaan teknologi di tempat kerja. Pengolahan data dilakukan menggunakan Moderated Regression Analysis (MRA) dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 23. Hasil analisis menunjukkan bahwa digital literacy memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Dengan kata lain, pegawai dengan tingkat digital literacy yang lebih tinggi menunjukkan performa kerja yang lebih baik. Selain itu, perceived organizational support ditemukan berperan sebagai moderasi yang memperkuat hubungan antara digital literacy terhadap kinerja pegawai. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya dukungan organisasi dalam mengoptimalkan pengaruh digital literacy terhadap kinerja pegawai.This study aims to analyze the effect of digital literacy on employee performance, by adding a moderating variable in the form of perceived organizational support. The research focus is directed at employees of the Social and Community Empowerment and Village Service (Dinsospermasdes) of Banyumas Regency. This research uses a quantitative approach with data collected through questionnaires. The sampling technique was carried out using nonprobability sampling method with total sampling technique, involving 91 respondents who have worked at the Social and Community Empowerment Agency of Banyumas Regency for at least one year and are directly involved in the use of technology in the workplace. Data processing was carried out using Moderated Regression Analysis (MRA) with the help of SPSS version 23 software. The analysis results show that digital literacy has a positive and significant influence on employee performance. In other words, employees with higher levels of digital literacy show better work performance. In addition, perceived organizational support was found to play a moderating role that strengthens the relationship between digital literacy and employee performance. This finding underscores the importance of organizational support in optimizing the effect of digital literacy on employee performance.
4366647034G1A021060Pengaruh Intervensi Relaksasi Napas Dalam Terhadap Tanda Vital dan Skor SRQ-20 Pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Purwokerto Barat, Kabupaten BanyumasLatar belakang: Perubahan yang persisten pada tanda vital dan keadaan psikologis pada ibu hamil dapat menyebabkan risiko komplikasi maternal dan fetal dalam jangka pendek dan panjang. Oleh karena itu, ibu hamil membutuhkan intervensi yang aman yang berefek relaksasi menyeluruh pada tubuh. Relaksasi napas dalam adalah salah satu terapi nonfarmakologi yang membuat tubuh merasakan relaksasi secara fisiologis, kognitif, dan behavioral. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervensi relaksasi napas terhadap tanda vital dan skor Self Reported Questionnaire-20 pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode cohort retrospective study dengan desain pre-post test dari data sekunder. Sampel penelitian diperoleh dengan metode total sampling yang berjumlah 22 ibu hamil. Variabel bebas penelitian ini adalah intervensi relaksasi napas dalam. Sementara variabel terikat penelitian ini adalah tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, laju denyut nadi, laju pernapasan, dan skor SRQ-20. Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired T-Test bagi data variabel yang terdistribusi normal dan uji Wilcoxon bagi data variabel yang terdistribusi tidak normal. Hasil: Hasil menunjukkan intervensi relaksasi napas dalam berpengaruh signifikan terhadap tekanan darah sistolik (p = 0,001) dan laju pernapasan (p = 0,004). Namun, tidak ditemukan pengaruh signifikan pada tekanan darah diastolik (p = 0,653), laju denyut nadi (p = 0,477), dan skor SRQ-20 (p = 0,07). Kesimpulan: Relaksasi napas dalam efektif menurunkan tekanan darah sistolik dan laju pernapasan pada ibu hamil, tetapi tidak memengaruhi tekanan darah diastolik, laju denyut nadi, dan skor SRQ-20 secara signifikan.Background: Persistent changes in vital signs and psychological conditions in pregnant women can lead to maternal and fetal complications in both the short and long term. Therefore, pregnant women require safe interventions that provide comprehensive relaxation effects on the body. Deep breathing relaxation is one non-pharmacological therapy that induces relaxation physiologically, cognitively, and behaviorally. Objective: This study aimed to examine the effect of deep breathing relaxation on vital signs and Self-Reported Questionnaire-20 (SRQ-20) scores in pregnant women in the working area of Puskesmas Purwokerto Barat, Banyumas Regency. Methods: The study was conducted using a cohort retrospective study method with a pre-post test design based on secondary data. A total of 22 pregnant women were selected as the sample through total sampling. The independent variable in this study was deep breathing relaxation, while the dependent variables included systolic blood pressure, diastolic blood pressure, heart rate, respiratory rate, and SRQ-20 score. Data analysis was performed using the Paired T-Test for normally distributed variables and the Wilcoxon test for non-normally distributed variables. Results: The results show that deep breathing relaxation significantly affects systolic blood pressure (p = 0.001) and respiratory rate (p = 0.004). However, no significant effect is found on diastolic blood pressure (p = 0.653), heart rate (p = 0.477), and SRQ-20 score (p = 0.07). Conclusion: In conclusion, deep breathing relaxation is effective in lowering systolic blood pressure and respiratory rate in pregnant women but does not significantly affect diastolic blood pressure, heart rate, or SRQ-20 score.
4366747035C1A021026Pengaruh Inflasi, Penyertaan Modal dan Penerimaan Pinjaman Daerah Terhadap Kapasitas Fiskal di Kabupaten BanyumasAngka Indeks Kapasitas Fiskal Daerah yang semakin menurun dari tahun ke tahun membuktikan bahwa kontribusi kemandirian fiskal daerah masih relatif rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh inflasi, penyertaan modal, dan penerimaan pinjaman daerah dalam jangka pendek dan jangka panjang terhadap kapasitas fiskal daerah di Kabupaten Banyumas. Metode analisis yang digunakan adalah Auto Regressive Distributed Lag (ARDL). Data yang digunakan adalah data time series Kabupaten Banyumas selama periode 2009-2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kapasitas fiskal daerah dalam jangka pendek namun tidak berpengaruh terhadap kapasitas fiskal dalam jangka panjang. Penyertaan modal berpengaruh positif dan signifikan terhadap kapasitas fiskal daerah dalam jangka pendek dan dalam jangka panjang, sedangkan penerimaan pinjaman daerah berpengaruh negatif signifikan dalam jangka pendek namun dalam jangka panjang tidak berpengaruh terhadap kapasitas fiskal. Penelitian ini masih menggunakan tahun dan variabel yang terbatas. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya dapat menambahkan tahun dan variabel lain.The decreasing number of Regional Fiscal Capacity Index from year to year proves that the contribution of regional fiscal independence is still relatively low. This study aims to analyse the effect of inflation, equity participation, and regional loan receipts in the short and long term on regional fiscal capacity in Banyumas Regency. The analysis method used is Auto Regressive Distributed Lag (ARDL). The data used is time series data of Banyumas Regency during the period 2009-2023. The results show that inflation has a negative and significant effect on regional fiscal capacity in the short term but has no effect on fiscal capacity in the long term. Capital participation has a positive and significant effect on regional fiscal capacity in the short term and in the long term, while the receipt of regional loans has a significant negative effect in the short term but in the long term has no effect on fiscal capacity. This study still uses limited years and variables. Therefore, future research can add other years and variables.
4366847036H1A021035ANALISIS KONSUMSI ENERGI LISTRIK PADA SISTEM PENDINGIN/AIR CONDITIONER DI
GEDUNG PT PERTAMINA PATRA NIAGA FUEL TERMINAL REWULU
Analisis konsumsi energi pada Gedung PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu bertujuan untuk
menganalisis konsumsi energi yang berfokus pada sistem pendingin atau air conditioner pada Gedung PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu. Penelitian ini berfokus pada audit energi awal (preliminary audit) dengan pengumpulan data langsung dari lapangan, hanya pada gedung yang difungsikan untuk bekerja. Hasil analisis menunjukkan bahwa sistem pendingin di Gedung PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu secara keseluruhan tergolong efisien. Nilai kinerja sistem pendingin dengan CSPF menunjukkan kinerja sangat baik, namun beberapa area seperti aula membutuhkan perbaikan untuk meningkatkan efisiensi. Suhu ruangan umumnya sesuai standar SNI, tetapi beberapa ruangan seperti
Control Room dan Ruang Server memiliki suhu terlalu rendah bernilai 21°C, yang dapat meningkatkan konsumsi energi. Rekomendasi Peluang Hemat Energi (PHE) meliputi penyesuaian suhu, jam operasional, penggunaan AC aktif di setiap ruangan dan penyesuaian kapasitas AC sesuai kebutuhan ruangan. Penerapan PHE 1 dan PHE 2 berhasil menghemat energi hingga 15,87% dan 15,38%, dengan penghematan biaya masing-masing Rp 2.591.531,92 dan Rp 1.160.487,91 per bulan.
The analysis of energy consumption at the PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu building aims
to evaluate energy usage, focusing on the cooling system or air conditioning in the building. This study emphasizes a preliminary energy audit through direct on-site data collection, specifically targeting buildings designated for work activities. The analysis results indicate that the cooling system at PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu Building is generally efficient. The cooling system's performance, as indicated by the CSPF value, is classified as excellent. However, certain areas, such as the auditorium, need improvement to enhance efficiency. Room temperatures generally comply with the SNI standards, but some spaces, such as the Control Room and Server Room, have excessively low temperatures of 21°C, which may increase energy consumption. The recommended Energy Saving Opportunities (PHE) include temperature adjustments, operational hours optimization, the use of active air conditioners in each room, capacity adjustments based on room needs. The application of PHE 1 and PHE 2 successfully reduced energy consumption by 15.87% and 15.38%, respectively, resulting in cost savings of Rp 2,591,531.92 and Rp 1,160,487.91 per month.
4366947037C1C019086Pengaruh Orientasi Etis, Sensitivitas Etis, Equity Sensitivity, Dan Penalaran Moral Terhadap Persepsi Etis Mahasiswa Atas Pelanggaran Etika Profesi AkuntanPenelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh orientasi etis (idealisme dan relativisme), sensitivitas etis, equity sensitivity, dan penalaran moral atas pelanggaran etika profesi akuntan. Metode pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive sampling. Sampel pada penelitian ini adalah mahasiswa S1 akuntansi angkatan 2020-2021 yang telah mengambil mata kuliah auditing I, auditing II, dan etika bisnis & profesi. Kuesioner disebarkan melalui platform online yaitu google form. Hasil responden yang diperoleh sebanyak 80 responden mahasiswa atau sebanyak 38,5% responden. Hipotesis pada penelitian ini diuji dengan analisis regresi linear berganda melalui SPSS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orientasi relativisme, sensitivitas etis, equity sensitivity, dan penalaran moral berpengaruh positif terhadap persepsi etis mahasiswa, sedangkan orientasi idealisme tidak berpengaruh terhadap persepsi etis mahasiswa atas pelanggaran etika profesi akuntan. This research is a quantitative research that aims to test and analyze the influence of ethical orientation (idealism and relativism), ethical sensitivity, equity sensitivity, and moral reasoning regarding violations of accounting professional ethics. The sampling method in this research used purposive sampling. The sample in this study were undergraduate accounting students from the 2020-2021 class who had taken auditing I, auditing II, and business & professional ethics courses. The questionnaire was distributed via platform online that is google form. The results obtained were 80 student respondents or 38,5% of respondents. The hypothesis in this study was tested using multiple linear regression analysis via SPSS. The results of this study indicate that the orientation of relativism, ethical sensitivity, equity sensitivity, and moral reasoning have a positive effect on students’ ethical perceptions, while idealism orientation have no effect on students’ ethical perception of violations of accounting professional ethics.
4367047038F1B021054Kapasitas Kelembagaan pada Tata Kelola Kelitbangan dalam Mewujudkan Daerah yang Inovatif (Studi Kasus di Bappedalitbang Kabupaten Purworejo)Semakin kompleksnya permasalahan pembangunan di daerah, maka dibutuhkan langkah-langkah inovatif untuk mengakselerasi penyelesaiannya. Oleh karena itu, dibutuhkan kapasitas tata kelola kelitbangan yang kuat untuk dapat mengakselerasi pembangunan daerah berbasis riset-riset inovatif yang dihasilkan. Namun, implementasi hasil riset ke dalam pembangunan daerah di Kabupaten Purworejo masih sangat minim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan kapasitas kelembagaan pada tata kelola kelitbangan di Bappedalitbang Kabupaten Purworejo dalam mewujudkan daerah yang inovatif berbasis hasil-hasil riset melalui model kapasitas kelembagaan yang dikemukakan oleh Charles Lusthaus (2002) yang terdiri dari 8 aspek antara lain, kepemimpinan strategis, struktur organisasi, manajemen keuangan, sumber daya manusia, infrastruktur, manajemen program, manajemen proses, dan hubungan antar organisasi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan ditentukan melalui teknik purposive sampling. Penelitian ini menunjukkan bahwa kapasitas kelembagaan pada tata kelola kelitbangan di Bappedalitbang Kabupaten Purworejo belum berjalan dengan optimal karena masih lemah dalam beberapa aspek-aspek kapasitas kelembagaan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya pengembangan kapasitas kelembagaan pada tata kelola kelitbangan agar dapat meningkatkan efektivitas pelaksanaan penelitian dan pengembangan, memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan, serta mendorong penerapan hasil-hasil riset secara optimal untuk mewujudkan daerah yang inovatif.The increasing complexity of development problems in the regions requires innovative steps to accelerate their resolution. Therefore, a strong capacity for R&D governance is needed to accelerate regional development based on innovative research produced. However, the implementation of research results into regional development in Purworejo Regency is still very minimal. This study aims to determine and describe the institutional capacity in R&D governance at Bappedalitbang Purworejo Regency in realizing an innovative region based on research results through the institutional capacity model proposed by Charles Lusthaus (2002) which consists of 8 aspects, including strategic leadership, organizational structure, financial management, human resources, infrastructure, program management, process management, and inter-organizational relationships. The research method used in this study is a descriptive qualitative research method. Data collection was carried out through interviews, observations, and documentation. Informants were determined through purposive sampling techniques. This study shows that the institutional capacity in R&D governance at Bappedalitbang Purworejo Regency has not been running optimally because it is still weak in several aspects of institutional capacity. Therefore, it is necessary to make efforts to develop institutional capacity in R&D governance in order to increase the effectiveness of research and development implementation, strengthen synergy between stakeholders, and encourage the optimal application of research results to create innovative regions.
4367147039C1B021071Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Niat Mengadopsi Teknologi Informasi dan Komunikasi Pada Karyawan PT Perkebunan Tambi: Langkah Awal Menghadapi Perkembangan AIKemajuan teknologi di era Industri 5.0 menyoroti penggabungan manusia dengan teknologi cerdas, termasuk Artificial Intelligence, untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan organisasi. PT Perkebunan Tambi, sebuah perusahaan agroindustri terkemuka di Indonesia, harus memahami faktor-faktor penentu yang mempengaruhi kesediaan karyawan untuk menerima Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai langkah awal untuk penerapan AI. Penelitian ini bermaksud untuk menguji elemen-elemen tersebut dengan menggunakan kerangka kerja DOI, TAM, TOE, dan UTAUT. Metodologi kuantitatif digunakan melalui survei terhadap tenaga administrasi di PT Perkebunan Tambi. PLS-SEM digunakan untuk analisis data guna menilai keterkaitan antar variabel seperti Relative Advantage, Compatibility, Social Influence, Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use, dan Intention to Use, dengan Generasi sebagai variabel moderasi. Temuan menunjukkan bahwa Relative Advantage dan Compatibility secara substansial mempengaruhi Perceived Usefulness dan Perceived Ease of Use. Social Influence memberikan efek langsung dan tidak langsung terhadap keinginan untuk memanfaatkan TIK, dengan penggabungan Perceived Usefulness dan Perceived Ease of Use sebagai mediator. Perceived Ease of Use memiliki terhadap hubungan Perceived Usefulness pada Intention to Use. Pengaruh moderasi dari Generasi tidak signifikan, disebabkan oleh dominasi responden Milenial. Usulan strategis mencakup peningkatan budaya teknologi, memberikan pelatihan adaptasi digital, dan mengembangkan infrastruktur untuk memfasilitasi integrasi AI. Studi ini menawarkan wawasan teoretis tentang literatur adopsi teknologi dan rekomendasi praktis untuk perusahaan agroindustri yang sedang menjalani transformasi berbasis AI.Technological advancements in the Industry 5.0 era highlight the merging of humans with intelligent technologies, including Artificial Intelligence, to improve organizational efficiency and sustainability. PT Perkebunan Tambi, a leading agro-industrial company in Indonesia, must understand the determinants that influence employees' willingness to accept Information and Communication Technology (ICT) as a first step for AI implementation. This research intends to examine these elements using the DOI, TAM, TOE, and UTAUT frameworks. Quantitative methodology was used through a survey of administrative personnel at PT Perkebunan Tambi. PLS-SEM was used for data analysis to assess the relationship between variables such as Relative Advantage, Compatibility, Social Influence, Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use, and Intention to Use, with Generation as a moderating variable. The findings show that Relative Advantage and Compatibility substantially affect Perceived Usefulness and Perceived Ease of Use. Social Influence has direct and indirect effects on the desire to utilize ICT, with the incorporation of Perceived Usefulness and Perceived Ease of Use as mediators. Perceived Ease of Use has a relationship with Perceived Usefulness on Intention to Use. The moderating effect of Generation is not significant, due to the dominance of Millennial respondents. Strategic suggestions include improving technology culture, providing digital adaptation training, and developing infrastructure to facilitate AI integration. This study offers theoretical insights into the technology adoption literature and practical recommendations for agro-industrial companies undergoing AI-based transformation.
4367247040G1B020016Aktivitas Fraksi dari Ekstrak Etanol Daun Saga (Abrus precatorius) Terhadap Degradasi Biofilm Bakteri Fusobacterium nucleatumLatar Belakang: Periodontitis merupakan peradangan jaringan periodontal yang menyebabkan destruksi jaringan periodontal permanen, salah satunya disebabkan oleh biofilm bakteri flora normal, yaitu Fusobacterium nucleatum. Degradasi biofilm merupakan salah satu cara dalam terapi periodontitis. Tanaman saga dikenal dapat menjadi obat herbal penyakit seputar gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas fraksi dari ekstrak etanol daun saga terhadap degradasi biofilm F. nucleatum; Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian post test only with control group secara in vitro menggunakan 3 jenis fraksi yaitu fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi residu dengan 3 konsentrasi yaitu 3,125 mg/mL, 6,25 mg/mL, dan 12,5 mg/mL. Penelitian ini menggunakan kontrol negatif berupa DMSO 1% dan 2 kontrol positif berupa chlorhexidine gluconate 0,2% dan metronidazol. Uji degradasi biofilm dilakukan menggunakan microtitter plate assay dengan pewarnaan kristal violet 1% dan pembacaan menggunakan microplate reader pada panjang gelombang 600 nm. Analisis data mengunakan One-way ANOVA dan Two-way ANOVA, yang selanjutnya dilakukan uji post-hoc LSD dan Tukey HSD; Hasil: Hasil uji menunjukan seluruh fraksi dan tingkatan konsentrasi mampu mendegradasi biofilm lebih baik secara bermakna (p≤0,05) dibandingkan dengan kontrol negatif, kecuali pada kelompok fraksi residu konsentrasi 3,125 mg/mL (p>0,05). Perbandingan persentase degradasi biofilm antar fraksi dan antar konsentrasi menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara konsentrasi 3,125 mg/mL dengan 12,5 mg/mL, serta perbedaan yang bermakna antara semua jenis fraksi. Hasil juga menunjukan fraksi n-heksan konsentrasi 3,125 mg/mL paling efektif dalam mendegradasi biofilm F. nucleatum karena memiliki efektivitas yang sama dengan kontrol positif chlorhexidine gluconate 0,2%; Kesimpulan: Simpulan pada penelitian ini adalah terdapat aktivitas pada fraksi dari ekstrak etanol daun saga (Abrus precatorius) dalam mendegradasi biofilm bakteri Fusobacterium nucleatum.Background: Periodontitis is a chronic inflammatory disease causing permanent destruction of periodontal tissues. Fusobacterium nucleatum is a key bacterium involved in periodontitis biofilm formation. Biofilm degradation is crucial for periodontitis treatment. This study aimed to investigate the antibiofilm activity of ethanol extract fractions from Abrus precatorius leaves against F. nucleatum; Methods: An in vitro experimental study was conducted using nine treatment groups, consisting of three fractions (n-hexane, ethyl acetate, and residual) at three concentrations (3.125, 6.25, and 12.5 mg/mL). Chlorhexidine gluconate 0.2% and metronidazole served as positive controls, while 1% DMSO was used as a negative control. Biofilm degradation was assessed using microtiter plate assay with crystal violet 1% staining and ELISA Reader at 600 nm. Data analysis employed one-way and two-way ANOVA, followed by post-hoc LSD and Tukey HSD tests; Results: Results showed that all fractions at various concentrations effectively degraded biofilm (p≤0,05) compared to the negative control, except for the residual fraction at 3,125 mg/mL. Two-way ANOVA revealed significant differences between concentrations and fractions. The n-hexane fraction at 3.125 mg/mL demonstrated the highest biofilm degradation efficacy, comparable to chlorhexidine gluconate 0.2%; Conclusion: This study concludes that Abrus precatorius leaf ethanol extract fractions exhibit antibiofilm activity against F. nucleatum.
4367347041B1A020103Degradasi Limbah Degreasing Menggunakan Jamur Trichoderma sp. Terimobilisasi Abu Boiler pada Waktu Inkubasi BerbedaSaat ini perkembangan dunia industri di Indonesia mengalami kemajuan yang cukup pesat. Limbah degreasing merupakan salah satu penyebab dari permasalahan lingkungan. Degradasi limbah dilakukan dengan memanfaatkan mikroorganisme, salah satunya jamur Trichoderma sp. Jamur digunakan dalam mendegradasi limbah serta ditingkatkan dengan menggunakan metode imobilisasi Abu boiler berpotensi sebagai bahan pendukung imobilisasi karena memiliki luas permukaan yang besar dan stabilitas yang tinggi Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan jamur Trichoderma sp. yang terimobilisasi abu boiler pada lama waktu inkubasi berbeda dalam degradasi limbah degreasing, dan mengetahui lama waktu inkubasi yang efektif pada penggunaan jamur Trichoderma sp. yang terimobilisasi abu boiler dalam degradasi limbah degreasing. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 7 perlakuan dan 4 kali pengulangan yaitu kontrol jamur Trichoderma sp., kontrol abu boiler, inkubasi Jamur Trichoderma sp. terimobilisasi abu boiler selama 0, 24, 72, 120, dan 168 jam. Variabel bebas yang diamati yaitu waktu inkubasi, sedangkan variabel terikat dalam yaitu kemampuan jamur Trichoderma sp. terimobilisasi abu boiler dalam degradasi limbah degreasing. Parameter utama yang diukur adalah persentase dekolorisasi limbah degreasing sedangkan parameter pendukung adalah DO, pH, suhu, pengamatan mikroskopis pelet miselium, dan pemakaian berulang pelet miselium terimobilisasi abu boiler. Data hasil uji kemampuan degradasi dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dengan tingkat kesalahan sebesar 5% kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur dengan tingkat kesalahan 5%. Hasil penelitian meenunjukkan bahwa perlakuan jamur Trichoderma sp. terimobilisasi abu boiler dapat mendegradasi limbah degreasing. Penggunaan jamur Trichoderma sp. terimobilisasi abu boiler dengan waktu inkubasi 168 jam mampu memberikan hasil yang paling tinggi dengan rata-rata persentase dekolorisasi sebesar 90,29%. Hasil tersebut didukung oleh pengukuran kadar DO, nilai pH, nilai suhu, pengamatan mikroskopis pelet miselium, dan pemakaian berulang pelet miselium terimobilisasi abu boiler sampai 3X.Currently, the development of the industrial in Indonesia is progressing quite rapidly. Waste degreasing is one of the causes of environmental problems. Waste degradation is carried out by utilizing microorganisms, one of which is fungi Trichoderma sp. Fungi are used to degrade waste and are improved using the immobilization method. Boiler ash has potential as a supporting material for immobilization because it has a large surface area and high stability. This research aims to determine the ability of fungi. Trichoderma sp. immobilized boiler ash at different incubation times in waste degradation degreasing, and knowing the effective incubation time for using mushrooms Trichoderma sp. which immobilizes boiler ash in waste degradation degreasing. This research used an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 7 treatments and 4 repetitions, namely fungal control Trichoderma sp., boiler ash control, fungal incubation Trichoderma sp. immobilized boiler ash for 0, 24, 72, 120, and 168 hours. The independent variable observed was incubation time, while the dependent variable was the ability of the fungus Trichoderma sp. immobilized boiler ash in waste degradation degreasing. The main parameter measured is the percentage of waste decolorization degreasing while the supporting parameters were DO, pH, temperature, microscopic observation of mycelium pellets, and repeated use of boiler ash immobilized mycelium pellets. Data from degradation ability tests were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) with an error rate of 5% then continued with the Honest Significant Difference test with an error rate of 5%. The research results showed that the fungal treatment Trichoderma sp. immobilized boiler ash can degrade waste degreasing. Use of mushrooms Trichoderma sp. immobilized boiler ash with an incubation time of 168 hours was able to provide the highest results with an average decolorization percentage of 90.29%. These results are supported by measurements of DO levels, pH values, temperature values, microscopic observations of mycelium pellets, and repeated use of boiler ash immobilized mycelium pellets up to 3X.
4367447042F1A020089INTERAKSI SOSIAL ANAK PENGGUNA GADGET (Studi Deskriptif di Sekolah Dasar Kabupaten Bekasi)Pergeseran interaksi tatap muka menjadi online yang disebabkan penggunaan gadget membawa perubahan pada pola interaksi, terutama pada anak. Dengan keterbatasan mereka dalam menyaring informasi, interaksi berbasis gadget dapat membuat mereka terpapar pengaruh negatif. Akses anak terhadap gadget dipengaruhi oleh keluarga, termasuk pada keluarga berstatus ekonomi rendah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan gadget oleh siswa dari keluarga berstatus ekonomi rendah dan pemanfaatannya untuk berinteraksi. Penelitian kuantitatif ini menggunakan teknik sampling sensus, dengan responden siswa kelas 4 dan 5 di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Bekasi yang memiliki akun media sosial. Data diperoleh melalui kuesioner dan dianalisis secara deskriptif. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki gadget dan dapat menyeimbangkan penggunaannya untuk kebutuhan pendidikan, hiburan, serta sosial. Siswa juga tidak terikat dengan gadget untuk berinteraksi, terlihat dari sebagian besar siswa yang memilih bertemu secara langsung sebagai cara berkomunikasi dengan teman bermain. Dalam interaksi di media sosial, siswa memanfaatkan fitur interaktif, seperti tanda like. Menariknya, sebagian besar siswa merasa lebih terbuka ketika berinteraksi di media sosial karena kenyamanan, kondisi lingkungan, serta pengalaman mereka. Sebelum berinteraksi dengan orang lain, siswa mempertimbangkan kesamaan hobi, kepribadian, usia, dan pengalaman. Bentuk interaksi yang diterapkan siswa di media sosial turut mencerminkan pola hubungan sosial dan popularitas mereka.The shift from face-to-face to online interactions caused by the use of gadgets brings changes to interaction patterns, especially in children. With their limitations in filtering information, gadget-based interactions can expose them to negative influences. Children's access to gadgets is influenced by their families, including those with low economic status. This study aims to describe the use of gadgets by students from low economic status families and their utilization for interaction. This quantitative study used a census sampling technique with respondents in grades 4 and 5 in one elementary school in Bekasi Regency who have social media accounts. Data were obtained through questionnaires and analyzed descriptively. The results show that most students own gadgets and can balance their use for education, entertainment, and social needs. Students are also not tied to gadgets to interact, as seen from most students who choose to meet in person as a way to communicate with playmates. In interactions on social media, students utilize interactive features, such as likes. Interestingly, most students feel more open when interacting on social media due to their comfort, environmental conditions, and experiences. Before interacting with others, students consider similarities in hobbies, personality, age, and experience. The form of interaction that students apply on social media also reflects their social relationship patterns and popularity.
4367547043C1A021039PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH, JUMLAH UMKM, PDRB SEKTOR PERDAGANGAN, TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA TERHADAP KEMISKINAN DI TUJUH DAERAH PROVINSI JAWA TENGAHABSTRAK : Kemiskinan masih menjadi masalah global pembangunan ekonomi di berbagai negara, terutama negara berkembang termasuk Indonesia. Hal ini disebabkan karena kemiskinan merupakan masalah multidimensi yang menyangkut berbagai aspek kehidupan mulai dari aspek ekonomi, politik, sosial budaya, psikologi dan aspek lainnya, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), PDRB Sektor Perdagangan Besar dan Eceran, jumlah UMKM, Tingkat Pengangguran Terbuka, serta pengaruh Tingkat Pengangguran Terbuka sebagai variabel mediasi antara jumlah UMKM dan Kemiskinan di tujuh wilayah Jawa Tengah dalam kurun waktu 2014-2023 yang dianalisis dengan regresi data panel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, secara simultan Pendapatan Asli Daerah (PAD), PDRB Sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Jumlah UMKM, Tingkat Pengangguran Terbuka berpengaruh signifikan terhadap persentase penduduk miskin, Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara parsial tidak berpengaruh terhadap persentase penduduk miskin, PDRB Sektor Perdagangan Besar dan Eceran secara parsial berpengaruh negatif signifikan terhadap persentase penduduk miskin, Jumlah UMKM secara parsial tidak berpengaruh terhadap persentase penduduk miskin, Tingkat Pengangguran Terbuka secara parsial tidak berpengaruh terhadap persentase penduduk miskin, variabel Tingkat Pengangguran Terbuka tidak mampu menjadi variabel mediasi antara jumlah UMKM dengan persentase penduduk miskin.
Abstract : Poverty is still a global problem of economic development in various countries, especially developing countries including Indonesia. This is because poverty is a multidimensional problem that involves various aspects of life ranging from economic, political, socio-cultural, psychological and other aspects, which are influenced by various factors. This study aims to look at the effect of Regional Original Revenue (PAD), GRDP of the Wholesale and Retail Trade Sector, the number of MSMEs, the Open Unemployment Rate, as well as the effect of the Open Unemployment Rate as a mediating variable between the number of MSMEs and Poverty in seven regions of Central Java in the 2014-2023 time period analyzed by panel data regression. The results of this study indicate that, simultaneously, Regional Original Revenue (PAD), GRDP of the Wholesale and Retail Trade Sector, Number of MSMEs, Open Unemployment Rate have a significant effect on the percentage of poor people, Regional Original Revenue (PAD) partially has no effect on the percentage of poor people, GRDP of the Wholesale and Retail Trade Sector partially has a significant negative effect on the percentage of poor people, Number of MSMEs partially has no effect on the percentage of poor people, Open Unemployment Rate partially has no effect on the percentage of poor people, Open Unemployment Rate variable is not able to be a mediating variable between the number of MSMEs and the percentage of poor people.
Keywords: Poverty, PAD, GRDP, MSMEs, Unemployment
4367647044I1B021074Gambaran Perilaku Pencegahan Gastritis pada Mahasiswa Keperawatan yang Sedang Menjalani Tugas AkhirLatar Belakang: Gastritis adalah peradangan pada mukosa lambung yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti infeksi bakteri, pola makan yang tidak teratur, dan konsumsi makanan yang tidak sehat. Prevalensi gastritis tinggi di kalangan siswa yang sedang mempersiapkan tugas akhir mereka karena gaya hidup yang buruk dan stres akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui deskripsi perilaku pencegahan gastritis pada mahasiswa keperawatan yang sedang menjalani tugas akhir; di Universitas Jenderal Soedirman.
Metode: Studi deskriptif kuantitatif yang melibatkan 112 peserta, dan menggunakan pengambilan sampel dengan teknik pengambilan sampel total. Data diperoleh menggunakan kuesioner perilaku pencegahan gastritis yang diisi menggunakan google form dan proses pengumpulan data dipantau langsung oleh peneliti, dan pengolahan data diolah menggunakan analisis univariat.
Hasil Penelitian: Mayoritas peserta adalah perempuan (90,1%), tinggal sendiri (70,5%), memiliki golongan darah B (29,5%), dan memiliki riwayat sakit perut (65,2%). Mayoritas mahasiswa keperawatan Unsoed memiliki kategori perilaku pencegahan gastritis sedang (83%).
Kesimpulan: Sebagian besar peserta memiliki kategori perilaku pencegahan gastritis sedang, namun masih ada peserta yang memiliki kategori perilaku pencegahan gastritis yang buruk. Ini harus menjadi perhatian untuk masa depan.
Background: Gastritis is an inflammation of the gastric mucosa caused by various factors such as bacterial infections, irregular diet, and unhealthy food consumption. The prevalence of gastritis is high among students who are preparing their final projects due to poor lifestyle and academic stress. This study aims to determine the description of gastritis prevention behavior in nursing students who are undergoing a final project; thesis at Jenderal Soedirman University.
Method: Quantitative descriptive study involving 112 participants, and using sampling with a total sampling technique. Data was obtained using a gastritis prevention behavior questionnaire filled out using a google form and the data collection process was monitored directly by the researcher, and data processing was processed using univariate analysis.
Research Result: The majority of participants were female (90.1%), living alone (70.5%), having blood type B (29.5%), and having a history of stomach pain (65.2%). The majority of Unsoed nursing students have a category of moderate gastritis prevention behavior (83%).
Conclusions: Most of the participants had a category of moderate gastritis prevention behavior, but there were still participants who had a category of bad gastritis prevention behavior. This must be a concern for the future.
4367747045C1A021115Analisis Tingkat Pendidikan Perempuan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan, Tingkat Keterlibatan Perempuan di Parlemen, dan Tingkat Pengangguran Terbuka Terhadap Kemiskinan di Wilayah Eks Karesidenan Kedu.Kemiskinan di wilayah Eks Karesidenan Kedu telah menjadi masalah signifikan,
menyebabkan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Tengah dalam beberapa tahun
terakhir. Kesetaraan gender merupakan faktor kunci dalam mencapai kesejahteraan ekonomi, sebagaimana ditekankan dalam RPJMN 2020-2024 yang memprioritaskan pengarusutamaan gender untuk mempercepat pembangunan dan memastikan perempuan memiliki kesempatan yang setara dalam ekonomi dan masyarakat. Penelitian ini menggunakan Indeks Pembangunan Gender untuk mengevaluasi pendidikan perempuan dan Indeks Pemberdayaan Gender untuk menilai partisipasi ekonomi dan politik. Tujuannya adalah menganalisis pengaruh Tingkat Pendidikan Perempuan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan, Tingkat Keterlibatan Perempuan di Parlemen, dan Tingkat Pengangguran Terbuka dari tahun 2009-2023. Dengan menggunakan regresi data panel, hasil penelitian menunjukkan bahwa Tingkat Pendidikan Perempuan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan, dan Tingkat Keterlibatan Perempuan di Parlemen berpengaruh negatif terhadap kemiskinan, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka berpengaruh positif terhadap kemiskinan.
Poverty in the former Kedu Residency area has emerged as a significant issue leading to the highest poverty rates in Central Java in recent years. Gender equality is a key factor in achieving economic welfare as emphasized in the 2020-2024 RPJMN, which prioritizes gender mainstreaming to boost development and ensure equal opportunities for women in the economy and society. This study employs the Gender Development Index to evaluate women’s education and the Gender Empowerment Measure to assess economic and political participation. It aims to analyze the effect of Female Education Level, Female Labor Force Participation Rate, and Open Unemployment Rate on poverty in the former Kedu Residency region from 2009 to 2023. Using panel data regression, the findings reveal that Female Education Level, Female Labor Force Participation Rate, and Female Parliamentary Involvement negatively affect poverty, while the Open Unemployment Rate positively influences poverty levels.
4367847046C1A021016Analisis Pengaruh Jumlah Penduduk, IPM, Pertumbuhan Ekonomi dan Ruang Fiskal terhadap Kemiskinan di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah Tahun 2016 - 2022Kemiskinan adalah masalah kompleks yang melibatkan aspek sosial, ekonomi, dan budaya. Di Jawa Tengah,
kemiskinan menghadirkan masalah serius, sebagaimana dibuktikan dengan peringkat provinsi ini sebagai provinsi
yang memiliki jumlah rata-rata individu miskin tertinggi kedua di Indonesia, bersama dengan tingkat kesenjangan
pendapatan yang melampaui rata-rata nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang
mempengaruhi kemiskinan, yaitu ukuran penduduk, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pertumbuhan ekonomi,
dan ruang fiskal. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari periode 2016 hingga 2022 yang bersumber dari
Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Keuangan, dengan analisis menggunakan metodologi regresi data panel
melalui pendekatan Fixed effect model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran populasi memiliki efek positif
yang signifikan terhadap kemiskinan, menunjukkan bahwa peningkatan populasi cenderung memperburuk tingkat
kemiskinan. Sebaliknya, IPM memiliki efek negatif yang signifikan, menunjukkan bahwa peningkatan kualitas
pendidikan, kesehatan, dan pendapatan dapat secara efektif mengurangi kemiskinan. Ruang fiskal memiliki efek
positif yang signifikan terhadap kemiskinan, menyiratkan bahwa meskipun ada peningkatan anggaran daerah,
efektivitas alokasi mereka tetap menjadi kendala. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi tidak menunjukkan efek
yang signifikan terhadap kemiskinan, terutama karena pemerataan manfaat ekonomi di dalam masyarakat.
Poverty is a complex issue involving social, economic, and cultural aspects. In Central Java, poverty presents a serious problem, as evidenced by the province's ranking as having the second-highest average number of poor individuals in Indonesia, along with a level of income disparity that surpasses the national average. This study aims to analyze the factors influencing poverty, namely population size, Human Development Index (HDI), economic growth, and fiscal space. The research utilizes secondary data from the period of 2016 to 2022, sourced from the Central Statistics Agency (BPS) and the Ministry of Finance, with the analysis employing a panel data regression methodology through the Fixed Effect Model approach. The results indicate that population size has a significant positive effect on poverty, suggesting that an increase in population tends to exacerbate poverty levels. In contrast, the HDI has a significant negative effect, indicating that improvements in education, health, and income quality can effectively reduce poverty. Fiscal space has a significant positive effect on poverty, implying that despite the increase in regional budgets, the effectiveness of their allocation remains a constraint. Meanwhile, economic growth does not show a significant effect on poverty, primarily due to the unequal distribution of economic benefits within the society.
4367947047C1A021004Diversifikasi Konsumsi Pangan Pokok Berbasis Potensi Lokal Sebagai Upaya Mewujudkan Ketahanan Pangan di Kabupaten BanyumasPertumbuhan penduduk di Kabupaten Banyumas terus meningkat, tetapi produksi pangan tidak dapat mengejar pace ini. Salah satu prinsip utama dalam mencapai ketahanan pangan terletak pada upaya untuk menciptakan keanekaragaman konsumsi pangan atau disebut pula diversifikasi konsumsi pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan perilaku diversifikasi pangan pokok, faktor faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan di Kabupaten Banyumas melalui perilaku diversifikasi pangan pokok, serta upaya dan tindakan yang seharusnya dilakukan pemerintah dan masyarakat setempat untuk menyukseskan program diversifikasi konsumsi pangan pokok berbasis potensi lokal di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif dan data yang digunakan adalah jenis data panel tahun 2020-2023 dari 27 kecamatan di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan variabel Ketahanan Pangan sebagai variabel dependen dan variabel Luas Panen, Produktivitas Beras, Produktivitas Jagung, Produktivitas Ubi Kayu dan Produktivitas Ubi Jalar sebagai variabel independen. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial variabel Luas Panen, Produktivitas Beras, dan Produktivitas Ubi Jalar berpengaruh positif dan signifikan terhadap Ketahanan Pangan di Kabupaten Banyumas. Variabel Produktivitas Jagung dan Produktivitas Ubi Kayu tidak berpengaruh signifikan terhadap Ketahanan Pangan di Kabupaten Banyumas. Secara simultan seluruh variabel berpengaruh signifikan terhadap ketahanan pangan di Kabupaten Banyumas. Implikasi yang dapat dilakukan adalah mendorong peningkatan luas panen serta meminimalisir konversi lahan di Kabupaten Banyumas setiap tahunnya untuk keperluan non-pertanian.Population growth in Banyumas Regency continues to increase, but food production cannot keep up with this pace. One of the main principles in achieving food security lies in efforts to create diversity in food consumption or also known as diversification of food consumption. This research aims to determine the conditions and behavior of staple food diversification, the factors that influence food security in Banyumas Regency through staple food diversification behavior, as well as the efforts and actions that should be taken by the government and local communities to make the staple food consumption diversification program based on local potential a success in the Regency. Banyumas. This research uses a quantitative approach method and the data used is panel data for 2020-2023 from 27 sub-districts in Banyumas Regency. This research uses the Food Security variable as the dependent variable and the variables Harvest Area, Rice Productivity, Corn Productivity, Cassava Productivity and Sweet Potato Productivity as independent variables. The results of this research show that partially the variables Harvest Area, Rice Productivity, and Sweet Potato Productivity have a positive and significant effect on Food Security in Banyumas Regency. The variables Corn Productivity and Cassava Productivity do not have a significant effect on Food Security in Banyumas Regency. Simultaneously, all variables have a significant effect on food security in Banyumas Regency. The implication that can be made is to encourage an increase in harvested area and minimize land conversion in Banyumas Regency every year for non-agricultural purposes.
4368047048F1B021081Efektivitas Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Dalam Pengentasan Kemiskinan Ekstrem di Kabupaten Banyumas Tahun 2024Kemiskinan ekstrem merupakan permasalahan kompleks yang memerlukan intervensi terukur untuk pengentasan yang berkelanjutan. Kabupaten Banyumas dengan tingkat kemiskinan ekstrem sebesar 0,76% pada tahun 2023, berupaya menanggulangi permasalahan ini melalui Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Penelitian ini berfokus pada efektivitas program menggunakan lima dimensi Campbell yang terdiri dari keberhasilan program, keberhasilan sasaran, kepuasan terhadap program, tingkat output dan imput, dan pencapaian tujuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui kuesioner, wawancara, dan observasi. Sampel penerima manfaat dipilih dari 27 Kecamatan menggunakan rumus slovin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kabupaten Banyumas secara umum tergolong efektif dalam kategori tinggi dengan presentase 81,8%. Presentase yang diperoleh dalam setiap dimensi yaitu dimensi keberhasilan program 58% tergolong dalam kategori sedang. Dimensi keberhasilan sasaran 71,6% tergolong dalam kategori sedang. Dimensi kepuasan terhadap program 59% tergolong dalam kategori sedang. Dimensi tingkat input dan output 61,4% tergolong dalam kategori sedang. Dimensi pencapaian tujuan menyeluruh 64,8% tergolong dalam kategori sedang.Extreme poverty is a complex issue that requires a measured intervention for sustainable eradication. Banyumas Regency, with an extreme poverty rate of 0.76% in 2023, is striving to address this issue through the Unfit for Habitation House (RTLH) Program. This research focuses on the program's effectiveness using five Campbell dimensions consisting of program success, target success, satisfaction with the program, level of output and input, and goal achievement. The method used in this research is a descriptive quantitative method with data collection through questionnaires, interviews, and observations. The beneficiary sample was selected from 27 sub-districts using the Slovin formula. The results showed that the Unfit for Habitation House (RTLH) Program in Banyumas Regency was generally categorized as highly effective with a percentage of 81.8%. The percentages obtained in each dimension are: program success dimension 58% categorized as moderate. Target success dimension 71.6% categorized as moderate. Satisfaction with the program dimension 59% categorized as moderate. Input and output level dimension 61.4% categorized as moderate. Overall goal achievement dimension 64.8% categorized as moderate.