Artikelilmiahs

Menampilkan 41.061-41.080 dari 48.888 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4106143215E1A020116Penanganan Pemulihan Dokumen Pertanahan Apabila Terjadi Kebakaran (Studi Di Kantor Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Brebes)Penanganan pemulihan dokumen pertanahan seperti buku tanah dan surat ukur yang terbakar sangat penting dilakukan supaya kekuatan pembuktian sertipikat tetap sempurna. Penanganan pemulihan dokumen pertanahan telah di atur di dalam Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 6 Tahun 2010 tentang Penanganan Bencana dan Pengembalian Hak Hak Masyarakat Atas Aset Tanah di Wilayah Bencana. Bencana kebakaran menimpa kantor ATR/BPN Kabupaten Brebes menyebabkan terbakarnya 477.584 buku tanah dan 505.127 surat ukur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penanganan pemulihan dokumen pertanahan dan apa kendala yang dialami oleh kantor ATR/BPN Kabupaten Brebes dalam penanganan pemulihan dokumen pertanahan yang terbakar. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis empiris. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder yang diperoleh dengan metode wawancara mendalam, studi kepustakaan, dan studi dokumenter. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pemulihan dokumen pertanahan oleh ATR/BPN Kabupaten Brebes dilakukan sesuai dengan ketentuan Pasal 18 dan Pasal 19 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 6 Tahun 2010 bahwa pemegang hak atas tanah harus menyerahkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk pemulihan dokumen pertanahan. Jumlah sumber daya manusia yang kurang, Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 6 Tahun 2010 yang kurang detail, sulit diketahuinya keberadaan sertipikat asli, dan rusak atau musnahnya sarana dan prasarana yang ada menjadi kendala kantor ATR/BPN Kabupaten Brebes dalam melakukan pemulihan dokumen pertanahan.The handling of land document recovery, such as land books and survey documents that have been damaged by fire, is crucial to ensure the continued validity of certificate evidence. A fire disaster struck the ATR/BPN office in Brebes Regency, resulting in the burning of 477,584 land books and 505,127 survey documents. This research aims to understand how the recovery of land documents is managed and what challenges the ATR/BPN office in Brebes Regency faces in handling the restoration of burnt land documents. The research approach used in this study is an empirical juridical method. The data sources include primary and secondary data that obtained through in-depth interviews, literature review, and documentary studies. The research findings indicate that the recovery of land documents by the ATR/BPN office in Brebes Regency is carried out in accordance with the provisions of Article 18 and Article 19 of the Regulation of the Head of Agency Number 6 of 2010. The regulation stipulates that land rights holders must submit the required documents for the recovery of land documents. Challenges faced by the ATR/BPN office in Brebes Regency are shortage of human resources, less detailed regulations in the Regulation of the Head of Agency Number 6 of 2010, difficulty in determining the existence of original certificates, and the damage or destruction of existing facilities and infrastructure.
4106243214I1C019009PENGEMBANGAN MODEL HEWAN UNTUK ANALISIS
KETOKSIKAN AKIBAT DIETILEN GLIKOL (DEG) PADA
ORGAN GINJAL MELALUI PENGAMATAN HISTOPATOLOGI
Dietilen Glikol (DEG) merupakan senyawa organik yang ditemukan sebagai cemaran dari pelarut propilen glikol dan gliserin penyebab ketoksikan pada ginjal. Keracunan setelah paparan DEG disebabkan oleh metabolitnya yang dihasilkan dari proses metabolisme di ginjal maupun hati. Pada kondisi keracunan DEG, ginjal mengalami gangguan seperti toksisitas tubulus ginjal, peradangan, kerusakan glomerulus, pembengkakan endothelial, dan inflamasi hemoragi pada jaringan interstitial. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis toksik DEG yang dapat menyebabkan keracunan hingga kerusakan pada ginjal. Histopatologi merupakan pemeriksaan yang paling akurat untuk mendeteksi adanya cedera ginjal. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan hewan coba tikus (Rattus norvegicus) dengan 4 kelompok perlakuan yaitu kelompok A: kontrol normal (tikus sehat tanpa perlakuan), kelompok B: diinduksi DEG 1 g/kg BB, kelompok C: diinduksi DEG 3 g/kg BB, serta Kelompok D: diinduksi DEG 5 g/kg BB. Dilakukan penilaian kuantitatif menggunakan skoring The EGTI (Endothelial, Glomerulus, Tubulus dan Interstitial). Pada kelompok perlakukan dengan dosis 1,3, dan 5 g/kg BB yang diberikan menimbulkan tanda ketoksikan dari pengamatan makroskopik dan mikroskropik. Secara makroskopik ditemukan perubahan warna ginjal dari merah bata menjadi coklat muda (kekuningan). Akan tetapi, perbedaan tidak ditemukan pada bentuk dan ukuran ginjal. Pengamatan mikroskopik dengan pewarnaan H&E menunjukkan kerusakan pada glomerulus, tubulus dan interstitial pada kelompok DEG dosis 1,3, dan 5 g/kg BB dibanding kelompok kontrol normal. Kelompok DEG 1 g/kg BB secara signfikan (p <0,05) menunjukkan perbedaan tingkat kerusakan pada glomerulus dan tubulus dibanding dengan kelompok DEG 3 g/kg BB. Namun, jika dibandingkan dengan kelompok DEG 5 g/kg BB ditemukan perbedaan kerusakan pada parameter glomerulus, tubulus dan interstitial. Adapun data rerata skoring antara kelompok 3 g/kg BB dengan kelompok 5 g/kg BB juga menunjukkan perbedaan bermakna pada jaringan tubulus dan interstitial. Pemberian DEG pada dosis 3 g/kg BB dan 5 g/kg pada tikus galur winstar (Rattus norvegicus) mampu menyebabkan ketoksikan sekaligus kerusakan pada jaringan glomerulus maupun tubulus secara signifikan. Model hewan untuk analisis keracunan dietilen glikol dapat dibuat menggunakan dosis dietilen glikol 3 dan 5 g/kg BB.Diethylene Glycol (DEG) is an organic compound found as contamination from propylene glycol and glycerin solvents that causes kidney toxicity. Poisoning after exposure to DEG is caused by its metabolites resulting from metabolic processes in the kidneys and liver. In conditions of DEG poisoning, the kidneys experience disorders such as renal tubular toxicity, inflammation, glomerular damage, endothelial thickening, and hemorrhagic inflammation in the interstitial tissue. This study aims to determine the toxic dose of DEG that can cause poisoning to damage to the kidneys and is expected to be a reference in the development of test animal models for DEG metabolomics profile analysis. Histopathology is recognized as the most appropriate examination to detect the presence of kidney injury. This research is an experimental study using rat (Rattus norvegicus) animals with 4 treatment groups, they group A: normal control (healthy rats without treatment), group B: induced by DEG 1 g/kg BW, group C: induced by DEG 3 g /kg BW, and Group D: induced DEG 5 g/kg BW. A quantitative assessment was carried out using The EGTI (Endothelial, Glomerular, Tubular and Interstitial) scoring. In the treatment group, doses of 1,3 and 5 g/kg BW caused signs of toxicity from macroscopic and microscopic observations. Macroscopically, a change in kidney color was found from brick red to light brown (yellowish). However, no differences were found in the shape and size of the kidneys. Microscopic observation with H&E staining showed damage to the glomerulus, tubules and interstitium in the DEG group at doses of 1,3 and 5 g/kg BW compared to the normal control group. The 1 g/kg BW DEG group showed significant differences in the level of glomeruli and tubule damage (p < 0.05) compared to the 3 g/kg BW DEG group. However, when compared with the DEG 5 g/kg BW group, differences were found in damage to glomerular, tubular and interstitial parameters. The average score data between the 3 g/kg BW group and the 5 g/kg BW group also showed significant differences in tubular and interstitial tissue. Administration of DEG at a dose of 3 g/kg and 5 g/kg BW to Winstar strain rats (Rattus norvegicus) was able to cause toxicity as well as significant damage to glomerular and tubular tissue. Animal models for analyzing diethylene glycol poisoning can be created using diethylene glycol doses of 3 and 5 g/kg BW.
4106343217F1B019058Collaborative Governance Dalam Fasilitasi Rekrutmen Tenaga Kerja Lokal Pada Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Purbalingga Salah satu program Dinas Tenaga Kerja dalam meningkatkan optimalisasi penyerapan tenaga kerja lokal adalah melalui Antar Kerja Lokal dengan fasilitasi rekrutmen tenaga kerja lokal. Dalam prosesnya, pelaksanaan fasilitasi rekrutmen dilaksanakan dengan menjalin kerjasama antarstakeholder dalam bentuk kolaborasi meliputi pihak pemerintah, pihak pemberi kerja, dan masyarakat lokal. Proses kerjasama tersebut akan dideskripsikan melalui perspektif Collaborative Governance menggunakan metode kualitatif deskriptif. Peneliti mengamati proses tersebut menggunakan teori Russel M. Linden yang berfokus pada dasar kolaborasi, hubungan, komitmen, dukungan, dan kepemimpinan kolaboratif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan fasilitasi rekrutmen tenaga kerja lokal belum berjalan secara optimal. Dalam proses pelaksanaannya, fasilitasi rekrutmen masih terkendala SOP yang belum jelas dan rinci sehingga masing-masing stakeholder seringkali tidak melaksanakan apa yang seharusnya dilakukan. Proses komunikasi dan koordinasi masih kurang karena tidak adanya jadwal pertemuan rutin, serta dukungan sarana informasi yang masih rendah sehingga menghambat penyampaian informasi kepada masyarakat. Hal tersebut mengakibatkan komitmen kolaborasi terhadap pelaksanaan program juga rendah. Implikasi dari hasil penelitian tersebut diharapkan proses kolaborasi melibatkan lebih banyak sektor lain karena program mengentaskan pengangguran tidak hanya menjadi tanggungjawab Dinnaker tetapi seluruh instansi dan lembaga daerah.One of the programs of the Manpower Office in enhancing the optimization of local labor absorption is through Local Job Placement with the facilitation of local labor recruitment. In the process, the implementation of recruitment facilitation is carried out by fostering collaboration among stakeholders, including the government, employers, and the local community. This collaboration process will be described from the perspective of Collaborative Governance using a qualitative descriptive method. The researcher observes this process using Russel M. Linden's theory, which focuses on the basics of collaboration, relationships, commitment, support, and collaborative leadership. The results of this research indicate that the implementation of local labor recruitment facilitation has not been optimal. In its execution, recruitment facilitation is still hindered by unclear and detailed Standard Operating Procedures (SOPs), resulting in stakeholders often not carrying out what they are supposed to do. Communication and coordination processes are still lacking due to the absence of regular meeting schedules and low support for information facilities, hindering the dissemination of information to the community. This has led to a low level of collaborative commitment to the program implementation. The implications of these research findings suggest that the collaboration process should involve more sectors because addressing unemployment is not only the responsibility of the Manpower Office but also of all government agencies and local institutions.
4106443209L1C017052Analisis Kerapatan Mangrove sebagai Perangkap Sampah Plastik di Kawasan Mangrove Muara Kali Ijo Kabupaten KebumenKawasan mangrove secara alami mampu menjebak sampah melalui sistem perakarannya yang unik. Padatnya aktivitas penduduk menghasilkan sampah plastik yang bervariasi sehingga sampah yang dalam berbagai jenis, jumlah dan ukuran dapat terdistribusi ke daerah mangrove. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik sampah plastik pada ekosistem mangrove di Muara Kali Ijo, Kabupaten Kebumen dan menganalisis hubungan antara karakteristik sampah plastik dengan kerapatan mangrove di kawasan tersebut. Metode yang digunakan adalah observasi dengan mengumpulkan sampah plastik kemudian dianalisis berdasarkan kategorinya berdasarkan KLHK. Sampah diambil dari 3 stasiun dengan 3 kali ulangan dalam bentuk plot ukuran 10m x 10m. Hasil penelitian menunjukan bahwa total sampah plastik yang ditemukan di Muara Kali Ijo sebanyak 2,86 keping/m2, untuk berat total sampah plastik sebesar 34 gram/m2. Hasil yang didapat bahwa jenis sampah plastik yang dominan yaitu jenis PL 07 (kantong plastik), sedangkan untuk berat didominasi PL 22 (serpihan fiberglass). Spesies mangrove yang ditemukan pada ketiga stasiun yaitu Nypha fruticans, Rizhophora mucronata dan Avicennia alba. Hubungan kerapatan mangrove dengan jumlah keping dan berat sampah plastik menunjukan hubungan yang sangat lemah. Terdapat faktor lain yang mempengaruhi kepadatan sampah plastik pada ekosistem mangrove.Mangrove area naturally has the ability to trap waste through its unique root system. The density of human activities generates a variety of plastic waste, which can be distributed in various types, quantities, and sizes to the mangrove area. The objective of this research was to identify the characteristics of plastic waste in the mangrove ecosystem at Muara Kali Ijo, Kebumen Regency, and analyze the relationship between the characteristics of plastic waste and the mangrove density in that area. The method used was observation by collecting marine debris and analyzing it based on its categories according to the Ministry of Environment and Forestry. The waste was collected from 3 stations with 3 replications in plots measuring 10m x 10m. The results of the study showed that the total plastic waste found in Muara Kali Ijo was 2.86 pieces/m2, with a total weight of 34 grams/m2. The dominant type of plastic waste was PL 07 (plastic bags), while the dominant weight was PL 22 (fiberglass fragments). The mangrove species found at all three stations were Nypha fruticans, Rizhophora mucronata, and Avicennia alba. The relationship between mangrove density and the quantity and weight of marine debris showed a very weak correlation. There are other factors influencing the density of marine debris in the mangrove ecosystem.
4106543218I1A020062Pengaruh Perilaku Kebersihan Perorangan, Kebiasaan Merokok, dan Penggunaan Bahan Bakar Memasak Terhadap Kejadian Tuberkulosis di Kelurahan TelukLatar Belakang: Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis yang masih menjadi permasalahan kesehatan dunia. Penyakit ini disebabkan oleh
interaksi antara agen, pejamu, dan lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh
perilaku kebersihan perorangan, kebiasaan merokok, dan penggunaan bahan bakar memasak
terhadap kejadian Tuberkulosis di Kelurahan Teluk.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain kasus kontrol.
Populasi kasus dalam penelitian ini yaitu seluruh penderita tuberkulosis di Kelurahan Teluk dari
bulan Januari sampai Agustus 2023. Populasi kontrol yaitu masyarakat yang bertempat tinggal
terdekat dengan penderita. Sampel pada penelitian ini sebesar 36 kasus yang diambil menggunakan
teknik total sampling dan 72 kontrol menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data
dengan wawancara menggunakan kuesioner kemudian dianalisis menggunakan analisis univariat,
bivariat dengan uji chi-square, multivariat dengan uji regresi logistik berganda.
Hasil Penelitian: Variabel yang berhubungan dengan kejadian tuberkulosis adalah kebiasaan
menggunakan masker (0,031) dan menjemur kasur (0,025). Sedangkan variabel yang tidak
berhubungan yaitu kebiasaan mencuci tangan (0,187), membersihkan rumah (0,726), merokok
(0,153), penggunaan bahan bakar memasak (0,090). Variabel yang berpengaruh terhadap kejadian
tuberculosis adalah kebiasaan menjemur kasur (0,021) dengan nilai OR 2,872 dan penggunaan
bahan bakar memasak (0,039) dengan nilai OR 3,125.
Kesimpulan: Variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian tuberkulosis di Kelurahan Teluk
adalah penggunaan bahan bakar memasak.
Background: Tuberculosis is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis that
remains a global health problem. This disease is caused by the interaction between the agent, the
host, and the environment. The purpose of this study was to determine the effect of personal hygiene
behavior, smoking habits, and the use of cooking fuel on the incidence of Tuberculosis in Teluk
Village.
Methods: This study used a type of quantitative research with a case control design. The case
population in this study were all tuberculosis patients in Teluk Village from January to August 2023.
The control population was people who lived closest to the patients. The sample in this study was
36 cases taken using total sampling technique and 72 controls using purposive sampling technique.
Data collection by interview using a questionnaire and then analyzed using univariate analysis,
bivariate with chi-square test, multivariate with multiple logistic regression test.
Results: Variables related to the incidence of tuberculosis are the habit of using masks (0,031) and
drying mattresses (0,025). While unrelated variables were the habit of washing hands (0,187),
cleaning the house (0,726), smoking (0,153), and use of cooking fuel (0,090). The variables that
influence the incidence of tuberculosis are the habit of drying mattresses (0,021) with an OR value
of 2,872 and the use of cooking fuel (0,039) with an OR value of 3,125.
Conclusion: The variable that most influences the incidence of tuberculosis in Teluk Village is the
use of cooking fuel.
4106643219D1A019102PENGKAJIAN BERAT JENIS, LEMAK, DAN BAHAN KERING TANPA LEMAK SUSU SEGAR DI KECAMATAN BATURRADEN DAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini dilaksanakan pada tanggal 15-30 November 2023 dan bertujuan untuk mengkaji perbedaan berat jenis, lemak, dan bahan kering tanpa lemak susu segar di Kecamatan Baturraden dan Kecamatan Cilongok. Materi penelitian yang digunakan adalah data kualitas susu segar Kecamatan Baturraden dan Cilongok bulan Januari hingga Oktober 2023 yang sudah diukur di Koperasi PESAT beserta sampel pakannya. Data penelitian dianalisis menggunakan analisis parametrik meliputi analisis regresi linier berganda dan uji beda “t”. Rataan berat jenis, lemak, dan bahan kering tanpa lemak di Kecamatan Baturraden adalah 26,89±1,68g/ml; 4,07±0,63%; dan 7,95±0,45%, dan di Kecamatan Cilongok adalah 26,40±2,41g/ml; 4,24±0,47%; dan 7,96±0,69%. Hasil uji beda “t” menunjukkan hasil yang berbeda tidak nyata (P>0,05). Hasil analisis regresi linier berganda diperoleh persamaan Y = 0,698 – 0,793X1 + 3,675X2 dengan nilai R2=0,92 dan R=0,96 dapat menduga hubungan dan pengaruh yang kuat antara berat jenis dengan lemak dan bahan kering tanpa lemak susu segar di dua kecamatan tersebut.This research was conducted on 15-30 November 2023 and aimed to examine differences in density, fat, and solid non fat of fresh milk in Baturraden District and Cilongok District. The research material used is data on the quality of fresh milk from Baturraden and Cilongok Districts from January to October 2023 which has been measured at the PESAT Cooperative along with feed samples. Research data was analyzed using parametric analysis including multiple linear regression analysis and the "t" difference test. The average density, fat, and solid non fat in Baturraden District is 26,89 ± 1,68g/ml; 4,07±0,63%; and 7,95±0,45%, and in Cilongok District it was 26,40±2,41g/ml; 4,24±0,47%; and 7,96 ± 0,69%. The results of the "t" difference test showed that the results were not significantly different (P>0.05). The results of multiple linear regression analysis obtained the equation Y = 0,698 – 0,793X1 + 3,675X2 can estimate the strong relationship and influence between density, fat, and solid non fat of fresh milk in these two sub-districts.
4106743220B1A019107VIABILITAS ISOLAT BAKTERI LG50 DALAM MINUMAN
FUNGSIONAL TERENKAPSULASI ALGINAT PADA MODEL
SALURAN PENCERNAAN SECARA IN VITRO
Minuman probiotik adalah pangan fungsional yang mengandung bakteri probiotik yang dapat memberikan keuntungan bagi saluran pencernaan. Salah satu bakteri probiotik yang umum sebagai agensia probiotik adalah Lactobacillus sp. Isolat BAL LG50 merupakan isolat BAL yang memiliki karakteristik serupa dengan genus Lactobacillus. terdapat pada limbah industri, pertanian, dan dekomposisi bahan biologis yang mencemari lingkungan. Isolat LG50 belum diketahui kemampuan dan diuji ketahanannya sebagai agensia probiotik yang dapat bertahan pada pH lambung dan usus halus. Pada penelitian ini digunakan starter campuran dari beberapa isolat; LG50, L. acidophilus sp. dan S. thermophilus sp. untuk meningkatkan kualitas minuman probiotik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui viabilitas isolat BAL LG50 pada kondisi saluran pencernaan ketika dienkapsulasi menggunakan bahan penyalut alginat. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola Faktorial dengan 2 faktor percobaan, yaitu yaitu jenis isolat BAL yaitu S1 (campuran LG-50, L. acidophilus sp. dan S. thermophilus sp.); S2 (campuran L. acidophilus sp. dan S. thermophilus sp.); S3 (Isolat LG50). Faktor kedua adalah variasi pH yaitu P1 3,0; P2 4,0; P3 7,0; P4 8,0. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95%, dan dilanjutkan dengan uji lanjut BNT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa viabilitas isolat BAL LG50 pada simulasi asam lambung sebesar 83,82% pada pH 3 dan 86,85% pada pH 4. Viabilitas isolat BAL LG50 pada simulasi usus halus sebesar 88,03% pada pH 7 dan 86,18% pada pH 8. Viabilitas pada perlakuan S3 (Isolat LG50) memenuhi standar untuk pangan probiotik.Probiotic drinks are one of functional foods that contains probiotic bacteria that can provide benefits for the digestive tract. One of the probiotic bacteria that commonly used as probiotic agent is Lactobacillus sp. LG50 is a lactic acid bacteria (LAB) that has similar characteristics to the genus Lactobacillus LG50 has not been tested and known for its resistance as a probiotic agent that can survive the pH of the stomach and small intestine (gastrointestinal). In this study, mixture starter of LG50, L. acidophilus sp. and S. thermophilus sp. was used which aims to improve the quality of probiotic drinks. The purpose of this study was to determine the viability of LG50 in the condition of digestive tract when encapsulated using sodium alginate as coating material. The research method that used is Completely Randomized Design with factorial pattern with lactic acid bacteria (LAB) isolate type factors of S1 (mixture of LG50, L. acidophilus sp. and S. thermophilus sp.); S2 (mixture of L. acidophilus sp. and S. thermophilus sp.); S3 (LG50). And pH levels factors of P1 3,0; P2 4,0; P3 7,0; P4 8,0. The obtained data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) with 95% confidence level and the Least Significant Difference (LSD) follow-up test. The result showed that The viability of BAL LG50 isolate in simulated gastric juice was 83,82% at pH 3 and 86,85% at pH 4. The viability of BAL LG50 isolates in simulated intestinal juice was 88.03% at pH 7 and 86,18% at pH 8. Viability in S3 treatment (LG50) meets the standards for food probiotics.
4106843221F1B020063Kinerja Inspektorat dalam Melakukan Fungsi Pengawasan (Studi Kasus di Inspektorat IV Kemendikbudristek)Kinerja organisasi publik merupakan salah satu prinsip dalam gagasan New Public Management, di mana penilaian kinerja aparatur publik harus diukur berdasarkan tingkat keberhasilannya dalam menjalankan pekerjaan. Inspektorat Jenderal sebagai APIP (Aparat Pengawasan Intern Pemerintah) memiliki posisi dan peran yang sangat strategis baik ditinjau dari aspek fungsi manajemen maupun dari segi pencapaian visi dan misi serta program pemerintah. Inspektorat IV di bawah Inspektorat Jenderal Kemendikbudristek memiliki sasaran pengawasan mencakup satuan kerja bidang pendidikan tinggi dan vokasi yaitu Ditjen Pendidikan Tinggi, Ditjen Pendidikan Vokasi, Perguruan Tinggi Negeri dan Balai Besar, serta satuan kerja di lingkungan Inspektorat Jenderal. Namun pada kenyataannya, Inspektorat IV masih menghadapi berbagai permasalahan terkait dengan fungsinya sebagai aparat pengawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kinerja Inspektorat IV Kemendikbudristek dalam melakukan fungsi pengawasan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis data sekunder serta menggunakan indikator kinerja organisasi publik menurut Dwiyanto (2002). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek produktivitas, responsivitas, dan akuntabilitas Inspektorat IV telah berjalan dengan baik. Namun pada aspek kualitas pelayanan masih terdapat permasalahan terkait kesenjangan pemahamanan substansi pengawasan dan koordinasi dengan sasaran pengawasan.The performance of public organizations is one of the principles in the New Public Management concept, where the evaluation of public agency performance should be measured on the basis of the level of success in carrying out the work. The Inspectorate-General as APIP (Government Internal Monitoring Unit) has a very strategic position and role both in terms of management functions and the achievement of vision and mission as well as government programs. The Inspectorate IV under the Inspectorate-General of the Minister of Education, Culture, Research and Technology has a supervisory objective that includes the work units in the field of higher education and vocation, namely, the Department of Higher Education, the Directorate of Vocational Education, State Colleges and the House of Representatives, as well as the work unit in the area of the Inspection General. But in reality, Inspectorate IV still faces various problems related to its function as a surveillance apparatus. The aim of this research is to find out how the Inspectorate IV performs in carrying out its supervisory functions. The method used in this research is a qualitative method by collecting data through interviews, documentation, and observation. The technique for selecting informants in this research is purposive sampling. The focus of the research is on performance indicators of public organizations, namely productivity, quality of service, responsiveness, and accountability submitted by Dwiyanto et al (2002). The results show that the indicators of productivity, responsiveness, and accountability of Inspectorate IV have been going well. However, the quality of the service is still has problems due to gaps in the comprehension of the surveillance substance and problems related to coordination with the supervisory target.
4106943222I1B020031Pengaruh Pemberian Aromaterapi Peppermint terhadap Nyeri Perineum pada Ibu PostpartumAbstrak

PENGARUH AROMATERAPI PEPPERMINT TERHADAP NYERI PERINEUM PADA IBU POSTPARTUM
Teguh Triana1, Desiyani Nani2, Aprilia Kartikasari3

Latar Belakang : Luka ruptur perineum spontan maupun episiotomi merupakan luka yang terjadi ketika proses persalinan yang mengakibatkan nyeri dan jika tidak ditangani dapat menyebabkan ketidaknyamanan, dispareunia, maupun perdarahan. Aromaterapi peppermint memiliki kandungan menthol, meton, dan asetat mentil. Mekanisme aromaterapi dimulai dari olfactory epithelium hingga pengeluaran hormon endorfin dan serotonin yang menghambat transmisi sinyal nyeri.
Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh aromaterapi peppermint dalam menurunkan skala nyeri perineum pada ibu postpartum

Metodologi : Metode penelitian ini adalah quasi experiment dengan rancangan pre and post with control group design dengan menggunakan purposive sampling terhadap 34 responden. Instrumen yang digunakan adalah Numeric Rating Scale (NRS) dan diuji menggunakan uji Independent t-test.
Hasil Penelitian : Mayoritas responden pada penelitian ini adalah ibu postpartum yang berusia 20-35 tahun dengan pendidikan terakhir SMA, tidak bekerja, ibu multipara yang mengalami ruptur perineum spontan dengan luka perineum derajat 2. Rerata skala nyeri pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (4,29 dan 4,76) merupakan skala nyeri sedang. Sedangkan skala nyeri posttest pada kelompok eksperimen (2,82) yaitu skala nyeri ringan dan pada kelompok kontrol (4,47) yaitu skala nyeri sedang.
Kesimpulan : Terdapat pengaruh pemberian aromaterapi peppermint terhadap nyeri perineum pada ibu postpartum.
Kata Kunci : Postpartum, Nyeri Perineum, Aromaterapi Peppermint

1Mahasiswa Jurusan Keperawatan FIKes Universitas Jenderal Soedirman
2Departemen Jurusan Keperawatan FIKes Universitas Jenderal Soedirman
3Departemen Jurusan Keperawatan FIKes Universitas Jenderal Soedirman
Abstract

THE EFFECT OF PEPPERMINT AROMATHERAPY ON PERINEAL PAIN IN POSTPARTUM MOTHERS
Teguh Triana1, Desiyani Nani2, Aprilia Kartikasari3

Background: Spontaneous perineal rupture or episiotomy wounds are injuries that occur during the birth process which cause pain and if left untreated can cause discomfort, dyspareunia or bleeding. Peppermint aromatherapy contains menthol, methone and menthyl acetate. The aromatherapy mechanism starts from the olfactory epithelium to the release of endorphin and serotonin hormones which inhibit the transmission of pain signals.

Objective: To determine the effect of peppermint aromatherapy in reducing the perineal pain scale in postpartum mothers.

Methodology: This research method is a quasi experiment with a pre and post with control group design using purposive sampling of 34 respondents. The instrument used was the Numeric Rating Scale (NRS) and tested using the Independent t-test.

Research Results: The majority of respondents postpartum mothers aged 20-35 years with a high school education, unemployed, multiparous who experienced spontaneous perineal rupture with grade 2 perineal wounds. The average pain scale pretest in the experimental group and control group was (4.29 and 4.76) which is a moderate pain scale. Meanwhile, the pain scale posttest in the experimental group was (2.82), namely a mild pain scale and in the control group (4.47), namely a moderate pain scale.

Conclusion: There is an effect of peppermint aromatherapy on perineal pain in postpartum mothers.

Keywords: Postpartum, Perineal Pain, Peppermint Aromatherapy

1Student of Nursing Departement FIKes, Jenderal Soedirman University
2Departement of Nursing, FIKes, Jenderal Soedirman University
3Departement of Nursing, Jenderal Soedirman University
4107043223F1A017051Representasi Islam Moderat dalam Film Religi 3 Doa 3 Cinta (2008)Genre film religi merupakan gambaran kontemplatif untuk melihat nuansa religiusitas kehidupan kelompok masyarakat tertentu. Film sebagai media komunikasi dimanfaatkan sebagai media representasi atas solusi permasalahan yang sedang bergulir dalam kehidupan beragama. Salah satu solusi yang sering diangkat adalah moderasi beragama di Indonesia. Istilah Islam moderat sangat sering dijadikan sebagai antitesis dari paham Islam yang ekstrem yang berkembang di Indonesia. Film 3 Cinta 3 Doa karya Nurman Hakim menjadi salah satu film religi indonesia yang menyampaikan isu Islam moderat. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana film 3 Doa 3 Cinta merepresentasikan Islam moderat. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana film 3 Doa 3 Cinta merepresentasikan Islam moderat.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan menentukan ciri-ciri yang spesifik sesuai dengan tujuan penelitian. Metode pengumpulan data dilakukan dengan memahami isi film, memilih adegan yang sesuai, dan menyusun laporan. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan semiotika Roland Barthes.
Berdasarkan hasil penelitian, Islam moderat direpresentasikan dalam film 3 Doa 3 Cinta melalui makna yang terdapat dalam beberapa adegan. Makna tersebut adalah Islam moderat menolak penafsiran teks agama secara tekstual, menolak paham Islam radikal, menolak arabisasi di Indonesia dan menerima modernisasi.
Berdasarkan hasil penelitian terdapat beberapa implikasi. Pertama, film religi Indonesia dapat mencontoh keberanian Nurman Hakim dalam merepresentasikan realitas kehidupan beragama di Indonesia. Kedua, produksi film di Indonesia harus banyak memproduksi film religi. Ketiga, memperbanyak menonton film religi. Keempat, penelitian selanjutnya dapat meneliti perkembangan pesan dakwah Islam moderat dalam film religi Indonesia. Kelima, penelitian selanjutnya dapat menganalisis dampak adanya film 3 Doa 3 Cinta bagi kehidupan beragama di Indonesia.
The religious film genre is a contemplative picture to see the religious nuances in the lives of certain groups of people. Cinema, as a means of communication, is used as a representative means to address the issues that are circling in religious life. One solution often mentioned is religious moderation in Indonesia. The term moderate Islam is often used as an antithesis to the radical Islam ideology growing in Indonesia. Nurman Hakim's film 3 Doa 3 Cinta is one of Indonesia's religious films that raises the issue of moderate Islam. The question is how the film 3 Doa 3 Cinta represents moderate Islam. The purpose of this study is to find out how the movie 3 Doa 3 Cinta depicts moderate Islam.
This study used descriptive qualitative research by identifying specific characteristics based on the research objectives. The data collection method is to learn the movie content, select appropriate scenes and write a report. The data analysis method in this study will use the semiotics of Roland Barthes.
Based on research result, the moderate Islam in the movie 3 Doa 3 Cinta is expressed through the meanings found in several scenes. This means that moderate Islam rejects the textual interpretation of religious texts, rejects radical Islamic ideas, rejects the Arabization of Indonesia, and embraces modernization.
Based on the research results, there are several implication. First, Indonesian religious films can emulate Nurman Hakim's courage in representing the reality of religious life in Indonesia. Second, film production in Indonesia must produce a lot of religious films. Third, watch more religious films. Fourth, further research can examine the development of moderate Islamic preaching messages in Indonesian religious films. Fifth, further research can analyze the impact of the film 3 Doa 3 Cinta on religious life in Indonesia.
4107144993G1A020002HUBUNGAN PENGETAHUAN KELUARGA DENGAN PENGENDALIAN
GLUKOSA DARAH PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2
DI KECAMATAN SUMBANG BANYUMAS
Latar Belakang – Diabetes Melitus (DM) tipe 2 adalah suatu penyakit kronis yang memiliki
ciri adanya defisiensi dan resistensi insulin. Penyakit ini diperkirakan akan terus meningkat
secara global dan menjadi permasalahan dunia. Tatalaksana DM merupakan hal yang penting untuk menghindari dari komplikasi. Keluarga memiliki peran penting dalam mendukung pasien dengan DM, termasuk mempengaruhi kebiasaan dan pengetahuan mengenai pengendalian glukosa.
Tujuan – Mengetahui hubungan pengetahuan keluarga terhadap pengendalian glukosa darah penderita DM tipe 2 di Kecamatan Sumbang Banyumas
Metode – Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional pada keluarga pasien diabetes melitus tipe 2. Responden dipilih meggunakan teknik consecutive sampling dan data kadar HbA1c didapatkan melalui data sekunder.
Hasil – Responden dalam penelitian ini berjumlah 58 orang. Hasil penelitian menunjukan responden dengan pengetahuan baik berjumlah 2, pengetahuan cukup berjumlah 11, dan pengetahuan kurang berjumlah 45. Pasien dengan pengendalian glukosa yang terkendali sebanyak 15 dan pengendalian yang tidak terkendali sebanyak 43. Hasil uji chi square didapatkan nilai p 0.089 yang berarti tidak terdapat hubungan antara pengetahuan keluarga terhadap pengendalian glukosa darah pasien DM tipe 2.
Kesimpulan – Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan keluarga terhadap pengendalian glukosa darah penderita DM tipe 2 di Kecamatan Sumbang Banyumas.
Background – Type 2 diabetes mellitus (DM) is a chronic metabolic disorder characterized
by insulin resistance and relative insulin deficiency. Its prevalence is increasing globally,
posing significant public health challenges. Effective management of DM is crucial to
prevent complications. Family plays a pivotal role in supporting patients with DM, include
influencing their health behaviors and knowledge acquisition related to glucose control.
Objectives – To determine the correlation between family’s knowledge and blood glucose
control among type 2 DM patient in Sumbang district Banyumas.
Methods – An analytical observational study with cross-sectional approach was conducted
among families of type 2 DM patients. Participants were selected using consecutive
sampling and blood glucose control data were collected through medical records.
Results – The study involved 58 respondents. Two respondents classified as having good
knowledge, 11 with moderate knowledge, and 45 with poor knowledge. Among the patients,
15 had controlled glucose levels, while 43 did not. Fisher’s exact test yielded a p-value of
0.089, indicating no correlation between family knowledge and the control of blood glucose
levels in type 2 DM patients.
Conclusions – There is no significant association between family knowledge and the control of blood glucose levels among type 2 DM patients in Sumbang district, Banyumas.
4107243226B1A019038Hubungan Komposisi Morfologi Sand Dollar dengan Karakteristik Perairan Pulau Cemara Besar dan Kecil, Kepulauan KarimunjawaSand dollar (Laganum laganum) adalah kelompok hewan bentik yang termasuk ke dalam kelas
Echinoidea dengan tubuh pipih menyerupai koin serta mampu mengubah struktur habitat hidupnya
dengan menyusun ulang substrat yang dilewatinya bersamaan dengan aktivitas harian sebagai biofilter
dan bioturbator. Penelitian mengenai komposisi Sand dollar berupa variasi morfologi corak pada sisi
aboral serta interaksinya dengan faktor lingkungan karakteristik habitat di Pulau Cemara Besar dan
Cemara Kecil perlu dilakukan untuk memperbaharui data terkait sebagai acuan pemanfaatan habitat
di wilayah Kepulauan Karimunjawa. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui komposisi morfotipe
Sand dollar yang terdapat di Pulau Cemara Besar dan Pulau Cemara Kecil, Kepulauan Karimunjawa
dan menganalisis hubungan antara komposisi morfologi Sand dollar dengan karakteristik perairan.
Metode yang digunakan yaitu purposive random sampling di delapan stasiun dengan masing-masing
stasiun sebanyak sembilan plot pengambilan sampel. Tahapan penelitian yaitu mengambil sampel Sand
dollar, identifikasi spesies, karakterisasi morfotipe, mengukur parameter perairan seperti kecepatan
arus, kedalaman, pH, suhu, dan salinitas, kemudian analisis korelasi multivariat antara komposisi
morfotipe Sand dollar dan karakteristik lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1 spesies
Sand dollar yang ditemukan di Pulau Cemara Besar dan Pulau Cemara Kecil yaitu Laganum laganum
(Leske, 1778) sebanyak 379 individu dengan komposisi morfotipe sebanyak 31 jenis. Parameter berupa
pH, partikel substrat ukuran 500-999,9 µm, bahan organik total, partikel substrat ukuran 0-249,9 µm
dan salinitas merupakan karakteristik lingkungan yang memiliki kontribusi besar terhadap komposisi
morfotipe Sand dollar di Kepulauan Karimunjawa
The Sand dollar (Laganum laganum) is a benthic animal belonging to the class Echinoidea with
a flat, coin-like body capable of altering its habitat structure by rearranging the substrate it traverses
during daily activities as a biofilter and bioturbator. Research on the Sand dollar's composition,
including morphological variations on the aboral side and its interactions with environmental factors
characteristic of the habitat on Pulau Cemara Besar and Cemara Kecil, is necessary to update relevant
data for habitat utilization in the Karimunjawa Islands. The research aims to determine the morphotype
composition of Sand dollars on Pulau Cemara Besar and Cemara Kecil Island in the Karimunjawa
Islands and analyze the relationship between Sand dollar morphological composition and water
characteristics. The method employed was purposive random sampling at eight stations, each with nine
sampling plots. The research stages included Sand dollar sampling, species identification, morphotype
characterization, measuring water parameters such as current velocity, depth, pH, temperature, and
salinity, followed by multivariate correlation analysis between Sand dollar morphotype composition
and environmental characteristics. The results revealed one Sand dollar species found on Cemara Besar
Island and Cemara Kecil Island, namely Laganum laganum (Leske, 1778), with a total of 379
individuals and 31 morphotype compositions. Parameters such as pH, substrate particle size of 500-
999.9 µm, total organic matter, substrate particle size of 0-249.9 µm, and salinity were environmental
characteristics contributing significantly to the Sand dollar morphotype composition in the
Karimunjawa Islands.
4107343227A1D018054PERUBAHAN MORFOLOGI DAN BIOKIMIA BEBERAPA KULTIVAR PISANG TERINFEKSI Banana Bunchy Top VirusKerdil pisang merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman pisang yang disebabkan oleh Banana bunchy top virus (BBTV). Penyakit ini mampu menyebabkan kehilangan hasil pisang hingga 100%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan morfologi, dan biokimia beberapa kultivar pisang terinfeksi BBTV. Penelitian dilakukan dengan mengamati dan menganalisis bibit tanaman pisang uji kultivar Mas, Cavendish, Kepok, dan Raja secara morfologi dan biokimia. Parameter yang diamati berupa perubahan morfologi, meliputi luas daun, lingkar batang, dan warna daun. Perubahan biokimia yang diamati meliputi kandungan fenol total, klorofil, protein dan gula total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman pisang yang terinfeksi BBTV mengalami perubahan morfologi dan biokimia. Perubahan morfologi ditunjukkan melalui adanya penurunan luas daun sebesar 16% pada kultivar Mas, 82% kultivar Cavendish, 61% kultivar Kepok, dan 21% pada kultivar Raja. Perubahan biokimia ditunjukan melalui adanya perubahan kandungan fenol, klorofil, protein dan gula total. Kandungan fenol mengalami peningkatan sebesar 71% pada kultivar Mas, dan 78% pada kultivar Cavendish. Kandungan total klorofil mengalami penurunan pada kultivar Mas sebesar 87%. Kandungan protein menurun pada kultivar Kepok sebesar 57%. Kenaikan kandungan gula total terjadi pada semua kultivar yang diinfeksi, yaitu sebesar 314% pada kultivar Mas, 274% pada kultivar Cavendish, 275% pada kultivar Kepok, dan 270% pada kultivar Raja.Banana stunting is an important disease in banana plants caused by Banana bunchy top virus (BBTV). Information about this disease is not widely available. The research was conducted in two stages, including the BBTV infection stage and the biochemical analysis stage of the tested banana plant seeds. The first stage of the research was aimed at obtaining information about changes in the morphology of banana plants infected with BBTV. The second phase of the research was aimed at obtaining information on biochemical changes in the test plants. The test plants used were banana cultivars of Mas, Cavendish, Kepok, and Raja. Parameters observed were morphological changes, namely by comparing the morphology of healthy plants with BBTV infected plants. Variables used include leaf area, stem circumference, and leaf color. Biochemical analysis was carried out both on test plants infected and not infected with BBTV, which included total phenol, chlorophyll, protein and total sugar content. The results showed that banana plants infected with BBTV underwent morphological and biochemical changes. Morphological changes were indicated by a decrease in leaf area of 16% in the Mas cultivar, 82% in the Cavendish cultivar, 61% in the Kepok cultivar, and 21% in the Raja cultivar. Biochemical changes are indicated by changes in the content of phenol, chlorophyll, protein and total sugar. The phenol content increased by 71% in the Mas cultivar and 78% in the Cavendish cultivar. The total chlorophyll content decreased in the Mas cultivar by 87%. The protein content decreased in the Kepok cultivar by 57%. The increase in total sugar content occurred in all infected cultivars, namely 314% in Mas cultivar, 274% in Cavendish cultivar, 275% in Kepok cultivar, and 270% in Raja cultivar.
4107443228B1A019092Kemampuan Senyawa Antioksidan Streptomyces sp. SAE4034 Sebagai Penghambat Penuaan Yeast yang Mengalami Stres OksidatifPenuaan merupakan proses alami yang terjadi seiring bertambahnya usia dari suatu individu. Proses tersebut terjadi karena kemampuan regenerasi dan stabilisasi dari suatu jaringan telah berkurang atau berhenti. Salah satu faktor yang dapat mempercepat proses penuaan adalah tingginya tingkat radikal bebas. Radikal bebas dapat ditekan dengan menambahkan antioksidan eksogen pada tubuh melalui minuman, makanan, dan produk kecantikan yang bersifat antiaging. Streptomyces sp. SAE4034 diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang kuat sehingga berpotensi sebagai sumber antioksidan alami, tetapi belum diketahui kemampuannya sebagai agensia antiaging. Kemampuan antiaging dapat diketahui melalui pengujian biokimia pada sel yeast Saccharomyces cerevisiae. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui konsentrasi ekstrak Streptomyces sp. SAE4034 yang tepat dalam mempertahankan masa hidup yeast dan mengetahui aktivitas antiaging senyawa antioksidan dari Streptomyces sp. SAE4034 pada sel yeast yang mengalami stres oksidatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kasar Streptomyces sp. SAE4034 mampu menjadi agensia antiaging pada sel yeast S. cerevisiae. Berdasarkan rataan diameter koloni yeast, konsentrasi ekstrak 250 µg/mL mampu mempertahankan masa hidup sel yeast S. cerevisiae yang optimal, baik pada masa inkubasi 7 hari maupun 11 hari. Pengujian toleransi stres oksidatif dengan metode spot test menunjukkan bahwa pemberian konsentrasi 250 µg/ml dapat memperpanjang masa hidup yeast yang diberikan cekaman H2O2 pada konsentrasi 3 mM. Hasil penghitungan jumlah sel yeast dengan metode TPC menunjukkan bahwa pada cekaman H2O2 konsentrasi 3 mM memperlihatkan sel yeast yang masih dapat tumbuh dengan jumlah sel pada hari ke 7 sebesar 105 sel/mL dan pada hari ke 11 sebesar 104 sel/mL.Aging is a natural process that occurs as an individual ages. The process occurs because the regeneration and stabilization ability of a tissue has diminished or stopped. One of the factors that can accelerate the aging process is the high level of free radicals. Free radicals can be suppressed by adding exogenous antioxidants to the body through antiaging drinks, foods, and beauty products. Streptomyces sp. SAE4034 is known to have strong antioxidant activity, making it a potential source of natural antioxidants, but its ability as an antiaging agent is unknown. Antiaging ability can be known through biochemical testing on Saccharomyces cerevisiae yeast cells. The purpose of this study was to determine the appropriate concentration extract of Streptomyces sp. SAE4034 in maintaining yeast lifespan and to determine the antiaging activity of antioxidant compounds from Streptomyces sp. SAE4034 on yeast cells that experience oxidative stress. The results showed that the crude extract of Streptomyces sp. SAE4034 was able to act as an antiaging agent on on yeast S. cerevisiae cells. Based on the average diameter of yeast colonies, the extract concentration of 250 µg/mL was able to maintain the optimal life span of S. cerevisiae yeast cells, both during the 7 day and 11 day incubation periods. Oxidative stres tolerance testing with the spot test method showed that the provision of a concentration of 250 µg/ml can extend the life span of yeast given H2O2 stress at a concentration of 3 mM. The number of yeast cell that treated with 3 mM of H2O2 are 105 cells/mL on 7 days of incubation and 104 cells/mL on 11 days of incubation. Which indicates that the yeast still grow under stress oxidative.
4107543229E1B020019STUDENTS' LEGAL ASPIRATIONS TOWARD THE RULES PROHIBITING SEXUAL VIOLENCE ON CAMPUS
(Study at the Faculty of Law, Jenderal Soedirman University)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspirasi hukum mahasiswa terhadap aturan larangan kekerasan seksual di kampus serta pengaruh faktor sarana dan prasarana, komunikasi dan motivasi terhadap aspirasi hukum mahasiswa tentang aturan larangan kekerasan seksual di kampus di Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan yuridis empiris, dan spesifikasi penelitian deskriptif. Lokasi penelitian di Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman. Pengambilan sampel melalui metode simple random sampling. Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder yang diperoleh dengan metode angket, dokumenter, dan kepustakaan. Pengolahan data secara coding, editing, dan tabulasi. Analisis data kuantitatif menggunakan metode distribusi frekuensi analisis, tabel silang analisis, analisis isi, dan analisis perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat aspirasi hukum mahasiswa terhadap aturan larangan kekerasan seksual di kampus Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman adalah sedang. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian terhadap 4 (empat) indikator meliputi sedangnya pencegahan kekerasan seksual di kampus, sedangnya tingkat penanganan korban kekerasan seksual di kampus, kurang baiknya mekanisme penanganan kekerasan seksual di kampus, dan sedangnya sanksi pelaku kekerasan seksual di kampus. Sedangkan, faktor sarana dan prasarana sebagai faktor sosial cenderung kurang berpengaruh secara signifikan terhadap aspirasi hukum mahasiswa tentang aturan larangan kekerasan seksual di kampus, faktor komunikasi dan faktor motivasi sebagai faktor personal berpengaruh secara positif terhadap aspirasi hukum mahasiswa tentang aturan larangankekerasan seksual di kampus.
Kata Kunci : Aspirasi Hukum Masyarakat; Aturan Larangan Kekerasan Seksual di Kampus; Komunikasi; Motivasi; Sarana dan Prasarana.
This study aims to determine the legal aspirations of students on the rules prohibiting sexual violence on campus as well as the influence of facilities and infrastructure, communication, and motivation factors on students' legal aspirations regarding the rules prohibiting sexual violence on campus at the Faculty of Law, Jenderal Soedirman University. This research uses quantitative methods, empirical juridical approaches, and descriptive research specifications. The research location is at the Faculty of Law, Jenderal Soedirman University. Sampling through a simple random sampling method. The data used includes primary and secondary data obtained by questionnaire, documentary, and literature. Data processing by coding, editing, and tabulation. Quantitative data analysis uses frequency distribution, cross-table analysis, content analysis, and comparative analysis. The results showed that the level of legal aspirations of students towards the rules prohibiting sexual violence on the campus of the Faculty of Law, Jenderal Soedirman University is moderate. This is evidenced by the results of research on 4 (four) indicators, including the moderate prevention of sexual violence on campus, the moderate level of handling of victims of sexual violence on campus, the poor mechanism for handling sexual violence on campus, and the moderate sanctions for perpetrators of sexual violence on campus. Meanwhile, facilities and infrastructure factors as social factors tend to have a less significant effect on students' legal aspirations about the rules prohibiting sexual violence on campus, and communication factors and motivational factors as personal factors have a positive effect on students' legal aspirations about the rules prohibiting sexual violence on campus.
Keywords : Community Legal Aspirations; Rules prohibiting sexual violence on campus; Communication; Motivation; Facilities and Infrastructure.
4107642930C1B020015PENGARUH WORK LIFE BALANCE, EFIKASI DIRI, DAN ETHICAL LEADERSHIP TERHADAP KINERJA KARYAWAN DENGAN EMPLOYEE ENGAGEMENT SEBAGAI VARIABEL MEDIASI (Studi pada UMKM di Kecamatan Purwanegara)Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji work life balance, efikasi diri dan ethical leadership akan pengaruhnya pada kinerja karyawan UMKM, diperluas dengan memasukkan employee engagement sebagai mediasi. Variabel yang diteliti adalah kinerja karyawan sebagai variabel dependen, untuk variabel independen meliputi work life balance, efikasi diri, dan ethical leadership, serta employee engagement sebagai variabel mediasi. Metode pengumpulan data dengan kuesioner melalui kertas dan google form.
Populasi pada penelitian ini adalah karyawan UMKM di wilayah Kecamatan Purwanegara. Sebanyak 100 karyawan UMKM dipilih sebagai sampel menggunakan metode purposive sampling. Kriteria pemilihan responden yaitu (1) karyawan UMKM yang berada di Kecamatan Purwanegara, (2) sudah bekerja minimal 3 bulan dan (3) sudah berkeluarga atau memiliki keluarga. Data yang terkumpul dianalisis dengan metode Structural Equation Modelling (SEM) melalui software SmartPLS 4.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) work life balance tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan, (2) efikasi diri memiliki pengaruh signifikan terhadap Kinerja Karyawan, (3) ethical leadership memiliki pengaruh signifikan terhadap Kinerja Karyawan, (4) work life balance memiliki pengaruh signifikan terhadap employee engagement, (5) efikasi diri memiliki pengaruh signifikan terhadap employee engagement, (6) ethical leadership memiliki pengaruh signifikan terhadap employee engagement, (7) employee engagement memediasi hubungan antara work life balance terhadap kinerja karyawan, (8) employee engagement tidak memediasi hubungan antara efikasi diri terhadap kinerja karyawan, dan (9) employee engagement tidak memediasi hubungan antara ethical leadership terhadap kinerja karyawan.
This study aims to develop and test work life balance, self-efficacy and ethical leadership for their influence on the performance of MSME employees, expanded by including employee engagement as mediation. The variable studied is employee performance as the dependent variable, for independent variables including work life balance, self-efficacy, and ethical leadership, and employee engagement as a mediating variable. Data collection methods with questionnaires via paper and google form.
The population in this study were MSME employees in the Purwanegara District area. A total of 100 MSME employees were selected as samples using purposive sampling method. The criteria for selecting respondents are (1) MSME employees in Purwanegara District, (2) have worked for at least 3 months and (3) are married or have a family. The collected data were analyzed using the Structural Equation Modeling (SEM) method through SmartPLS 4 software.
The results showed that: (1) work life balance has no significant effect on employee performance, (2) self efficacy has a significant effect on employee performance, (3) ethical leadership has a significant effect on employee performance, (4) work life balance has a significant effect on employee engagement, (5) self efficacy has a significant effect on employee engagement, (6) ethical leadership has a significant influence on employee engagement, (7) employee engagement mediates the relationship between work life balance on employee performance, (8) employee engagement does not mediate the relationship between self efficacy on employee performance, and (9) employee engagement does not mediate the relationship between ethical leadership on employee performance.
4107743231H1E019030RANCANGAN ALAT MATERIAL HANDLING DALAM RANGKA MENGURANGI FAKTOR RISIKO PADA PROSES PRODUKSI KOKTAIL DI UMKM NANASQUKenyamanan dan kesehatan pekerja sangat penting bagi suatu perusahaan dalam melakukan kegiatan produksi untuk menjaga kinerja yang baik. CV NanasQu merupakan sebuah badan usaha yang bergerak dibidang produksi makanan yang berada di Purbalingga, Jawa Tengah. Menurut hasil observasi yang sudah didapatkan, terdapat beberapa postur kerja yang berisiko mengalami cedera dalam melakukan pekerjaan sehingga perlu dilakukan perbaikan untuk mengurangi risiko cedera yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis postur kerja dalam melakukan material handling yang dilakukan oleh pekerja selain itu juga untuk memperbaiki postur kerja dengan membuat rancangan material handling. Penelitian ini menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA), Standar Nasional Indonesia (SNI) 9011:2021, Ergonomic Function Deployment (EFD), Recommended Weight Limit (RWL) dan Lifting Index (LI). Hasil penelitian menunjukan terdapat nilai skor REBA yang masuk kedalam kategori risiko tinggi sehingga perlu dilakukan perbaikan, selain skor REBA juga terdapat nilai LI yang lebih besar dari 1 sehingga berisiko menimbulkan cidera. Berdasarkan metode EFD didapatkan desain troli yang sesuai dengan keinginan konsumen atau customer needs, berdasarkan analisis yang sudah dilakukan pada desain troli, didapatkan penurunan nilai skor REBA. The comfort and health of workers is very important for a company in carrying out production activities to maintain good performance. CV NanasQu is a business entity operating in the food production sector located in Purbalingga, Central Java. According to the observations that have been obtained, there are several work postures that pose a risk of injury while carrying out work, so improvements need to be made to reduce the risk of injury. This research aims to analyze the work posture in material handling carried out by workers, as well as to improve work posture by creating a material handling design. This research uses the Rapid Entire Body Assessment (REBA), Indonesian National Standard (SNI) 9011:2021, Ergonomic Function Deployment (EFD), Recommended Weight Limit (RWL) and Lifting Index (LI) methods. The research results show that there are REBA score values that fall into the high risk category so improvements need to be made, apart from the REBA score there are also LI values that are greater than 1 so there is a risk of causing injury. Based on the EFD method, a trolley design was obtained that was in accordance with consumer desires or customer needs. Based on the analysis that had been carried out on the trolley design, a decrease in the REBA score was obtained.
4107843232A1F019054Optimasi Proporsi Isolat Protein Kedelai dan Susu Cair pada Produksi Cookies Berbasis Mocaf (Modified Cassava Flour)Konsumsi rata-rata cookies termasuk cukup tinggi di Indonesia dan umumnya cookies dibuat dari terigu. Potensi peningkatan konsumsi cookies dapat menyebabkan ketergantungan pangan berbasis terigu. Ketergantungan tersebut perlu dikurangi dengan meningkatkan konsumsi dan produksi bahan pangan lokal. Mocaf yang terbuat dari singkong merupakan salah satu alternatif substitusi terigu. Pada penelitian sebelumnya, telah ditemukan alternatif penggunaan mocaf pada beberapa produk diversifikasi salah satunya cookies, tetapi biasanya produk memiliki kadar protein rendah. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan modifikasi dengan menambahkan isolat protein kedelai dan susu cair serta mengoptimasi formula sebagai upaya untuk meningkatkan kadar protein maupun perbaikan sensori pada cookies mocaf. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menetapkan proporsi isolat protein kedelai dan susu cair pada pembuatan cookies mocaf yang memiliki respon sensori optimum meliputi intensitas warna kuning kecokelatan, milky flavor, beany flavor, cassava flavor, kerenyahan, aftertaste pahit, dan kesukaan secara keseluruhan, menggunakan metode RSM; (2) mengkaji pengaruh proporsi isolat protein kedelai dan susu cair terhadap karakteristik sensori produk cookies mocaf dengan formula yang diperoleh dari software Design Expert; (3) membandingkan karakteristik sensori dan kimia produk cookies mocaf formula optimum dengan formula kontrol. Penelitian ini menggunakan metode Response Surface Methodology dengan rancangan percobaan Central Composite Design. Data yang diperoleh dianalisis dengan software Design Expert V.13 dan SPSS IBM Statistics 25 menggunakan uji T 95%. Penelitian ini menghasilkan formula optimum cookies mocaf dengan proporsi isolat protein kedelai 9,295% dan susu cair 15,303%. Hasil uji sensori menunjukkan peningkatan proporsi isolat protein kedelai menyebabkan peningkatan respon intensitas warna kuning kecokelatan, beany flavor, kerenyahan, dan aftertaste pahit, serta menyebabkan penurunan respon milky flavor, cassava flavor, dan kesukaan. Peningkatan proporsi susu cair menyebabkan peningkatan respon milky flavor dan kesukaan, serta menyebabkan penurunan respon intensitas warna kuning kecokelatan, beany flavor, cassava flavor, kerenyahan, dan aftertaste pahit. Produk optimum memiliki skor sensori milky flavor, beany flavor, cassava flavor, kerenyahan, aftertaste pahit, dan kesukaan yang lebih tinggi dibandingkan produk kontrol, sedangkan skor sensori intensitas warna kuning kecokelatan lebih rendah dibandingkan produk kontrol. Produk optimum memiliki nilai rataan kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, yang lebih tinggi, sedangkan kadar karbohidrat memiliki nilai rataan yang lebih rendah dibandingkan produk kontrol. Produk optimum memiliki kadar air sebesar 3,46%; kadar abu 2,37 %; kadar protein 7,12%; kadar lemak 22,29%: kadar karbohidrat 68,23%; serat pangan total 4,27% gula total 29,65%; kalium 25,78mg/100g; dan natrium 583,97mg/100g.The average consumption of cookies is high in Indonesia and cookies is generally made from wheat flour. The potential increase in cookies consumption may lead to wheat-based food dependence. This dependence needs to be reduced by increasing consumption and production of local food ingredients. Mocaf, which is made from cassava is an alternative to replace wheat flour. In previous research, the use of mocaf has been found in several diversified products, one of them is cookies, but usually the products have low protein content. Therefore, in this research, modifications were made by adding soy protein isolate and liquid milk, also optimizing the formula to increase protein levels and improve the sensory of mocaf cookies.This research aims to: (1) determining the proportion of soy protein isolate and liquid milk in the making of mocaf biscuits which has optimum sensory response include yellow-brown color intensity, milky flavor, beany flavor, cassava flavor, crispness, bitter aftertaste, and overall preference, using the RSM method; (2) examining the effect of soy protein isolate and liquid milk proportion on the sensory characteristics of mocaf cookies products with the formula obtained from Design Expert software; (3) comparing the sensory and chemical characteristics of the optimum formula mocaf cookies with the control formula. This research uses Response Surface Methodology with Central Composite Design experimental design. The data obtained were analyzed with Design Expert V.13 software and SPSS IBM Statistics 25 using 95% T test. This research resulted the optimum formula of mocaf cookies with the proportion of soy protein isolate 9.295% and liquid milk 15.303%. The sensory test results showed that the increase of soy protein isolate caused increasing yellow-brown color intensity, beany flavor, crispness, and bitter aftertaste, also caused decreasing milky flavor, cassava flavor, and overall preference. The increase of liquid milk proportion caused increasing milky flavor and overall preference, also caused decreasing yellow-brown color intensity, beany flavor, cassava flavor, crispness, and bitter aftertaste. The optimum product has milky flavor, beany flavor, cassava flavor, crispness, bitter aftertaste, and overall preference scores that are higher than the control product, while the yellow-brown color intensity sensory score is lower than the control product. The optimum product has a higher average value of water content, ash content, protein content, fat content, while the carbohydrate content has a lower average value than the control product. The optimum product has a water content of 3.46%; ash content of 2.37%; protein content of 7.12%; fat content of 22.29%: carbohydrate content of 68.23%; total dietary fiber 4.27% total sugar 29.65%; potassium 25.78mg/100g; and sodium 583.97mg/100g.
4107943233F1B019048Collaborative Local Governance pada Program Smart Fisheries Village (SFV) di Desa Panembangan Kecamatan CilongokLatar belakang penelitian ini didasari oleh UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang menjelaskan bahwa desa perlu dilindungi dan diberdayakan agar mampu menjadi kuat, maju dan mandiri. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah yaitu melalui Program Smart Fisheries Village (SFV). Desa Panembangan merupakan salah satu desa yang berhasil menerapkan program ini dan dijadikan sebagai pilot project oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Keberhasilannya dalam menerapkan program ini selain dari potensi desa dan teknologi yang dimilikinya, tentunya kolaborasi yang dilakukan antar aktor juga menjadi kunci keberhasilan program ini dari awal berdiri hingga saat ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana praktik collaborative local governance pada implementasi Program Smart Fisheries Village (SFV) di Desa Panembangan. Penelitian ini menggunakan model collaborative governance yang dikemukakan oleh Emerson, dkk yang berfokus pada dinamika kolaborasi, tindakan kolaborasi, dampak dan adaptasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Teknik pemilihan informan dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik purposive samping Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik kolaborasi antar aktor pada Program Smart Fisheries Village (SFV) di Desa Panembangan ini cukup berhasil dan sudah memenuhi komponen kolaborasi milik Emerson, dkk. Hasil dari kolaborasi ini juga mampu memberikan dampak yang positif baik dari segi peningkatan sumber daya manusia, ekonomi, infrastruktur, maupun sarana dan prasarana.The background of this research is grounded in Law Number 6 of 2014 concerning Villages, which emphasizes the need to protect and empower villages to become strong, advanced, and independent. One of the efforts that the government can undertake is through the Smart Fisheries Village (SFV) Program. Panembangan Village is one of the villages that has successfully implemented this program and is designated as a pilot project by the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries (KKP). Its success in implementing this program, in addition to the village's potential and technology, is undoubtedly attributed to the collaboration among actors, which has been a key factor in the success of the program from its inception to the present. The aim of this research is to understand the practice of collaborative local governance in the implementation of the Smart Fisheries Village (SFV) Program in Panembangan Village. This research utilizes the collaborative governance model proposed by Emerson, et al., focusing on collaboration dynamics, collaboration actions, impact, and adaptation. The research method employed is descriptive qualitative. The informant selection technique in this research is purposive sampling. The results indicate that the collaborative practices among actors in the Smart Fisheries Village (SFV) Program in Panembangan Village have been quite successful and have met the collaboration components proposed by Emerson, et al. The outcomes of this collaboration have also positively impacted human resource development, the economy, infrastructure, as well as facilities and amenities.
4108043234I1A020016PENGARUH KARAKTERISTIK DAN LINGKUNGAN FISIK RUMAH TERHADAP KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI KELURAHAN GRENDENG Latar Belakang: Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang menjadi penyebab utama kematian. Tahun 2021, kasus terkonfirmasi di Indonesia sebanyak 443.235 kasus. Kejadian penyakit tuberkulosis merupakan interaksi antara faktor pejamu, agen, dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh karakteristik (umur, jenis kelamin, pendidikan, paparan asap rokok) dan lingkungan fisik rumah (luas ventilasi, jenis lantai, kepadatan rumah) terhadap kejadian tuberkulosis paru.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain studi case control, melibatkan 46 responden yang terbagi menjadi 23 kasus dan 23 kontrol. Uji chi square digunakan untuk mengetahui hubungan antar variabel dan uji regresi logistik untuk mengetahui besar pengaruh antar variabel. Pengambilan data dilaksanakan pada November-Desember 2023 menggunakan instrumen kuesioner dan pengukuran.
Hasil Penelitian: Variabel luas ventilasi diperoleh nilai p=0,038 dan OR= 5,403, luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat berisiko 5,403 kali lebih tinggi terhadap kejadian tuberkulosis paru. Variabel paparan asap rokok dengan nilai p=0,049 dan OR= 4,920, orang yang terpapar asap rokok berisiko 4,920 kali lebih tinggi terhadap kejadian tuberkulosis paru. Variabel umur diperoleh nilai p=0,480 dan OR= 1,662 jenis kelamin dengan nilai p=0,296 dan OR= 2,223; jenis lantai dengan p=0,239 dan OR=3,014.
Kesimpulan: Luas ventilasi dan paparan asap rokok memiliki pengaruh terhadap kejadian tuberkulosis para. Diharapkan Dinas Kesehatan Banyumas dapat melakukan penyuluhan mengenai syarat rumah sehat guna mencegah peningkatan kejadian tuberkulosis.
Background: Pulmonary tuberculosis is an infectious disease that is the main cause of death. In 2021, there were 443,235 confirmed cases in Indonesia. The incidence of tuberculosis is an interaction between host, agent and environmental factors. This study aims to determine how much influence characteristics (age, gender, education, exposure to cigarette smoke) and the physical environment of the house (ventilation area, floor type, house density) have on the incidence of pulmonary tuberculosis.
Methodology: This research used a case control study design, involving 46 respondents divided into 23 cases and 23 controls. The chi square test is used to determine the relationship between variables and the logistic regression test to determine the magnitude of the influence between variables. Data collection was carried out in November-December 2023 using questionnaires and measurement instruments.
Results: The ventilation area variable obtained a value of p=0.038 and OR= 5.403, ventilation area that did not meet the requirements had a 5.403 times higher risk of pulmonary tuberculosis. The variable exposure to cigarette smoke with a value of p=0.049 and OR= 4.920, people who are exposed to cigarette smoke have a 4.920 times higher risk of pulmonary tuberculosis. The age variable obtained a value of p=0.480 and OR= 1.662, gender with a value of p=0.296 and OR= 2.223; floor type with p=0.239 and OR=3.014.
Conclusion: Ventilation area and exposure to cigarette smoke have an influence on the incidence of para-tuberculosis. It is hoped that the Banyumas Health Service can provide education regarding the requirements for a healthy home to prevent an increase in the incidence of tuberculosis.