Artikelilmiahs

Menampilkan 41.041-41.060 dari 48.889 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4104143630J0A020018Translating Short Movie Subtitle Entitled "Daya" from Indonesian into EnglishLaporan Tugas Akhir ini disusun berdasarkan praktik kerja secara mandiri yang dilaksanakan pada 21 Agustus 2023 – 15 September 2023. Tujuannya adalah untuk menerjemahkan film pendek “Daya” yang diproduksi oleh Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta dengan menjelaskan teknik dan proses penerjemahan yang telah dipelajari, serta menyelesaikan masalah dan solusi pada proses penerjemahan.
Metode yang digunakan dalam penulisan Tugas akhir ini yaitu, observasi, studi literatur, dan praktik langsung. Observasi dilakukan untuk mencari film pendek yang akan penulis terjemahkan, film pendek “Daya” akhirnya terpilih untuk dijadikan kegiatan praktik kerja. Studi literatur dilakukan untuk mengumpulkan data dari menonton film “Daya” dan menulis transkrip Bahasa Indonesia. Praktik langsung dilakukan untuk memahami plot, karakter, dan konteks dari film pendek “Daya” agar hasil terjemahan lebih akurat.
Selama praktik kerja terdapat beberapa kendala, diantaranya mencari terjemahan yang sepadan serta beberapa kosa kata yang sulit diterjemahkan, dan kecenderungan menggunakan tata bahasa Bahasa Indonesia, hal ini memengaruhi hasil terjemahan menjadi kurang padan. Beberapa solusi untuk mengatasi masalah yang ditemukan adalah dengan mencari dialog serupa dalam bahasa target serta menggunakan kamus daring maupun luring, dan dengan bantuan pembimbing dengan merekomendasikan kata atau kalimat terjemahan yang sesuai padanannya.
This Final Report is compiled based on an independent job training conducted from August 21, 2023 to September 15, 2023. The purpose is to translate a short movie “Daya” produced by the Yogyakarta City Tourism Office by explaining the translation techniques and processes that have been learned, moreover to find the obstacles and solutions in the translation process
The methods used in writing this Final Report are observation, literature study, and hand on practice. Observation was carried out to find the short movie that the writer would translate. The short movie "Daya" was finally selected to be the job training object. Literature study was carried out to collect data from watching the movie "Daya" and writing the Indonesian transcript. Direct practice was carried out to understand the plot, characters, and context of the short movie "Daya" so that the translation results are more accurate.
During the job training, there were several obstacles, including finding equivalent translations and some difficult vocabulary, and the tendency to use Indonesian structure. This influenced the translation results to be less equivalent. Several solutions to overcome the problems found were to find similar dialogues in the target language and use online and offline dictionaries, and with the help of supervisors by recommending the appropriate equivalent translation words or sentences.
4104243508I1A020051Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penerapan 5R di Bengkel Wilayah Kerja
Puskesmas Baturraden I (Dalam Rangka Pengendalian Tuberkulosis di Tempat Kerja)
Latar Belakang: Langkah pengendalian ancaman TB di tempat kerja dapat diadakan melalui penerapan housekeeping dengan prinsip 5R. Prinsip 5R menekankan perbaikan keseluruhan tempat kerja secara ringkas, rapi, resik disertai kegiatan rawat dan rajin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan 5R di bengkel wilayah kerja Puskesmas Baturraden I
Metodologi: Penelitian kuantitatif ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 54 pekerja melalui metode total sampling. Variabel yang diteliti, yaitu usia, masa kerja, tingkat pendidikan, pengetahuan, sikap, ketersediaan fasilitas, dan dukungan rekan kerja. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan lembar observasi, lalu dianalisis secara univariat dan bivariat melalui uji Chi-Square, kecuali variabel pendidikan menggunakan uji Korelasi Spearman Rank.
Hasil Penelitian: Faktor yang berhubungan dengan penerapan 5R adalah tingkat pendidikan, pengetahuan, sikap, dan ketersediaan fasilitas, sedangkan variabel usia, masa kerja, dan dukungan rekan kerja tidak berhubungan dengan penerapan 5R.
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan, pengetahuan, sikap, dan ketersediaan fasilitas dengan penerapan 5R.
Saran: Pekerja diharapkan mengikuti pelatihan implementasi 5R di bidang bengkel yang diselenggarakan oleh BLK.
Background: Measures to control the threat of TB in the workplace can be carried out through the implementation of housekeeping with the 5R principles that emphasize the overall improvement of the workplace in a concise, neat, clean manner accompanied by care and diligence activities. This study aims to identify the factors influencing the 5R implementation in the workshop of the Baturraden I Health Center working area.
Methods: This quantitative study used an analytic observational method with a cross-sectional approach, involving 54 workers through total sampling. The variables studied were age, work periods, education level, knowledge, attitude, availability of facilities, and coworker support. Data were collected using questionnaires and observation sheets, then analyzed univariately and bivariate using the Chi-Square test, except for the education level variable using the Spearman Rank Correlation test.
Results: The findings reveal that education level, knowledge, attitude, and availability of facilities significantly correlate with the 5R implementation. Conversely, age, work periods, and coworker support show no significant association.
Conclusion: There is a relationship between education level, knowledge, attitude, and availability of facilities with the 5R implementation.
Suggestion: Workers must attend 5R implementation in the workshop field organized by BLK.
4104343669J1A017026SIGN LANGUAGE USED BY DEAF AND HEARING COUPLE
IN SIGN DUO YOUTUBE CHANNEL
Penelitian berjudul "Penggunaan Bahasa Isyarat Oleh Pasangan Tuli Dan Pendengar Di Saluran YouTube Sign Duo" bertujuan untuk mengungkap berbagai jenis elemen bahasa isyarat, dan komunikasi antara pasangan tuli dan pendengar juga dengan orang lain dalam kehidupan nyata. Dengan menggunakan metodologi kualitatif, penelitian ini menggunakan purposive sampling untuk memilih sampel yang relevan, dengan fokus pada ASL (American Sign Language) yang digunakan dalam saluran YouTube Sign Duo. Temuan mengungkapkan lima jenis elemen bahasa isyarat: handshape (33%), orientation (13%), location (21%), movement (20%), dan facial expression (13%). Komunikasi antara pasangan tuli dan pendengar menggunakan ASL (American Sign Language). Dalam kaitannya dengan unsur bahasa isyarat, di antara 88 data yang dianalisis, 46 data (33%), handshape adalah yang paling banyak ditemukan pada elemen bahasa isyarat sebagai cara termudah untuk berkomunikasi, terutama dengan ASL (American Sign Language) yang digunakan oleh pasangan tuli dan pendengar di saluran YouTube Sign Duo. Sebagian besar data yang digunakan adalah untuk nama seseorang, hewan, makanan, merek atau nama produk, akronim, lokasi atau tempat, nama acara, juga beberapa kalimat yang tidak memiliki tanda isyarat itu sendiri. Penelitian selanjutnya, orang perlu belajar bahasa isyarat dan ketika menggunakan bahasa isyarat, harus berhati-hati karena beberapa tanda memiliki arti yang berbeda, juga penggunaan bahasa isyarat di era digital.The study titled "Sign Language Used By Deaf And Hearing Couple In Sign Duo YouTube Channel" aims to uncover the various types of elements of sign language, and communication between a deaf and hearing couple also with other people in real life. Utilizing a qualitative methodology, the research employed purposive sampling to select relevant samples, focusing on the American Sign Language that used in Sign Duo YouTube channel. The findings revealed five types of element of sign language: handshape (33%), orientation (13%), location (21%), movement (20%), and facial expression (13%). The communication between a deaf and hearing couple is used ASL (American Sign Language). In relation to elements of sign language, among the 88 data analyzed, 46 data (33%), handshape is the most found in elements of sign language as the easiest way for communicating, especially with ASL (American Sign Language) used by deaf and hearing couple in Sign Duo YouTube channel. Notably, the data used to sign a name of a person, animals, foods, brands or products names, acronym, location or places, name of event, also some sentence that not have sign itself. Future research, people need to learn sign language and when using sign language, people should be careful because some signs have different meanings, also sign language use in digital era.
4104443200D1A017051KADAR LEMAK, UJI SENSORI DAN WARNA DARI SOSIS MASAK DAGING
AYAM YANG DISUPLEMENTASI LEMAK DAN TEPUNG MOCAF DENGAN TARAF BERBEDA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lemak ayam dan tepung mocaf terhadap kadar lemak, uji sensori (rasa, tekstur) dan warna sosis masak daging ayam. Peran lemak yang ditambahkan pada sosis yaitu untuk menghasilkan sosis yang kompak, dan menjaga kestabilan sosis. Mocaf merupakan salah satu bahan pangan lokal yang kaya karbohidrat. Perlakuan yang digunakan sebanyak 4 perlakuan dan diulang 5 kali. Variabel yang diukur antara lain kadar lemak, uji sensori (rasa dan tekstur), dan warna. Perlakuan terhadap peubah dalam penelitian ini adalah P0 (sebagai control), P1 (penambahan lemak), P2 (penambahan tepung mocaf), dan P3 (penambahan lemak dan tepung mocaf). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan lemak dan tepung mocaf dengan persentase berbeda memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) sehingga dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Hasil penelitian tersebut adalah berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar lemak dan rasa namun tidak berpengaruh terhadap tekstur. Hasil dari pengukuran warna menghasilkan nilai yang berpengaruh terhadap indeks b*, namun tidak memberikan pengaruh terhadap indeks L dan a*. Penambahan lemak ayam dan tepung mocaf pada sosis meningkatkan kadar lemak, warna lebih kekuningan, dan rasa yang enak sedang, namun tekstur sosis sama.This research aims to determine the effect of chicken fat and mocaf flour on fat content, sensory tests (taste, texture) and color of cooked chicken meat sausages. The role of fat added to sausages is to produce compact sausages and maintain the stability of the sausages. Mocaf is a local food ingredient that is rich in carbohydrates. The treatments used were 4 treatments and repeated 5 times. The variables measured include fat content, sensory tests (taste and texture), and color. The treatment variables in this study were P0 (as control), P1 (addition of fat), P2 (addition of mocaf flour), and P3 (addition of fat and mocaf flour). Based on the research results, it shows that the addition of fat and mocaf flour with different percentages has a very significant effect (P<0,01) so it is continued with the honest real difference test (BNJ). The results of this research were that it had a very significant effect (P<0,01) on fat content and taste but had no effect on texture. The results of color measurements produce values that influence the b* index, but do not influence the l* and a* indices. The addition of chicken fat and mocaf flour to the sausage increases the fat content, the color is more yellowish, and the taste is moderate, but the texture of the sausage is the same.
4104543201I1E018042PERTAPAN GERDUREN SEBAGAI SARANA DAN
PRASARANA PEMBELAJARAN
AKTIVITAS LUAR KELAS
Latar Belakang: Aktivitas luar kelas tidak sekedar memindahkan pelajaran ke luar kelas, tetapi dilakukan dengan mengajak siswa menyatu dengan alam dan melakukan beberapa aktivitas yang mengarah pada terwujudnya perubahan perilaku siswa terhadap lingkungan melalui tahap-tahap penyadaran, pengertian, perhatian, tanggung jawab dan aksi atau tingkah laku. Aktivitas Luar Kelas yang akan menarik siswa untuk terlibat dan merasakan serta mengenal lingkungan dan apa yang mereka pelajari.Wisata Pertapan menyediakan berbagai fasilitas berupa sarana dan prasarana yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai pembelajaran Aktivitas Luar Kelas.
Metodologi: Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan dari observasi, wawancara, dokumentasi). Data yang diperoleh berupa data kualitatif, analisis data bersifat untuk memahami makna, memahami keunikan, mengkonstruksi fenomena, dan menemukan hipotesis.
Hasil Penelitian: Berdasarkan hasil penelitian ini yang didapat melalui beberapa informan, terkait dengan obyek wisata Pertapan mengenai sebagai proses kegiatan aktivitas luar kelas. Hal ini dikarenakan Obyek Wista Pertapan berpotensi untuk kegiatan-kegiatan aktivitas luar kelas dan mempunyai spot-spot alam yang cukup bagus. Disamping itu, pemandangan yang bagus, udara sejuk, dan cocok untuk melakukan kegiatan olahraga masyarakat . Dengan adanya dukungan masyarakat, di Objek Wisata Pertapan akan lebih terkenal dan berkembang. Dengan masyarakat membagikan melalui media sosial seperti, facebook, instagram, youtube, dan media sosial lainnya. Objek Wisata Pertapan masih kurang dimanfaatkan sebagai prasarana kegiatan pembelajaran di luar kelas oleh guru dan siswa di Kabupaten Banyumas.
Kesimpulan: Faktor pendukung olahraga masyarakat sekitar untuk di Objek Wisata Pertapan selain memiliki fasilitas yang bagus, wisata Pertapan memiliki spot-spot andalan seperti pegunungan, pedesaan dan wisata kuliner yang dapat dikunjungi setelah melakukan kegiatan olahraga aktivitas luar kelas. Faktor penghambat wisata pertapan adalah lahan parkir yang kurang luas. Kemudian untuk kondisi jalan dari sekolah menuju tempat masih alami sehingga harus berhati-hati karena jalanan licin, kemudian untuk akses jalan menuju Wisata Pertapan masih perlu perbaikan untuk kenyamanan pengunjung ketika mengunjunginya.
Outdor activities does not just move lessons outside the classroom, but is carried out by inviting students to be one with nature and carrying out several activities that lead to the realization of changes in students' behavior towards the environment through the stages of awareness, understanding, attention, responsibility and action or behavior. Outdoor activities (activities outside the classroom) will attract students to get involved and experience and get to know the environment and what they are learning. Pertapan Tourism provides various facilities in the form of facilities and infrastructure that have the potential to be developed as out-of-class learning activities.
This research was conducted using a case study approach. The data collection technique was carried out using triangulation (a combination of observation, interviews, documentation). The data obtained is in the form of qualitative data, data analysis is to understand meaning, understand uniqueness, construct phenomena, and find hypotheses.
Based on the results of this research obtained through several informants, related to the Pertapan tourist attraction as an outbound activity process. This is because the Pertapan tourist attraction has the potential for outbound activities and has quite good natural spots. Besides that, the views are good, the air is cool, and suitable for community sports activities. With community support, the Pertapan tourist attraction will become more famous and develop. With the public sharing via social media such as Facebook, Instagram, YouTube and other social media. The Pertapan tourist attraction is still underutilized as infrastructure for learning activities outside the classroom by the scholl in Banyumas Regency.
Supporting factors for sports in the surrounding community at the Pertapan tourist attraction, apart from having good facilities, Pertapan tourism has mainstay spots such as mountains, villages and culinary tourism which can be visited after doing outbound sports activities. The inhibiting factor for hermitage tourism is insufficient parking space. Then the condition of the road from the school to the place is still natural so you have to be careful because the road is slippery, then the access road to Pertapan Tourism still needs improvement for the comfort of visitors when visiting it.

4104643165H1C020037ANALISIS PENGARUH GEOMETRI PELEDAKAN TERHADAP FRAGMENTASI BERDASARKAN KARAKTERISTIK GEOLOGI TEKNIK DI QUARRY DAERAH UNGGULINO, KECAMATAN PURIALA, KABUPATEN KONAWE, SULAWESI TENGGARAQuarry adalah area penambangan terbuka batuan dan mineral non logam, termasuk material batu yang dibutuhkan sebagai bahan timbunan bendungan. Dalam pengambilan material di quarry terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan yaitu massa batuan, kestabilan lereng, dan juga metode ekskavasi, seperti kasus di daerah penelitian untuk kebutuhan konstruksi Bendungan Ameroro. Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode Rock Mass Rating (RMR), Safe Cut Slope, Slope Mass Rating (SMR), penentuan geometri peledakan, dan analisis prediksi fragmentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga lereng yang diteliti memiliki nilai RMR dalam kategori Good Rock, menandakan kestabilan lereng yang baik dengan sudut kemiringan yang aman sebesar 65o. Geometri peledakan aktual di lapangan memiliki burden 3m dan spacing 3m yang menghasilkan fragmentasi berukuran boulder;cobble;pebble;very fine secara berurutan sebesar 67,10%;20,95%;10,66%;0,45%. Berdasarkan hasil analisis, diajukan dua geometri peledakan yang dianggap optimal dengan burden 1,96m;spacing 2,72m dan burden 2,48m;spacing 3,19m. Fragmentasi dari geometri usulan pertama secara berurutan sebesar 63,85%;32,64%;3,49%;0,01%, sedangkan fragmentasi dari geometri usulan kedua secara berurutan sebesar 74,68%;22,01%;3,27%;0,02%. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam mengoptimalkan metode ekskavasi di quarry, meningkatkan efisiensi fragmentasi, dan memastikan kestabilan lereng yang amanA quarry is an open mining area for non-metallic rocks and minerals, including stone materials needed for dam embankment construction. In the extraction of materials from a quarry, several aspects need to be considered, such as rock mass, slope stability, and excavation methods, as in the case of the research area for the construction needs of the Ameroro Dam. In this study, the methods employed include the Rock Mass Rating (RMR), Safe Cut Slope, Slope Mass Rating (SMR), determination of blasting geometry, and fragmentation prediction analysis. The research results indicate that the three examined slopes have RMR values in the Good Rock category, signifying good slope stability with a safe slope angle of 65 degrees. The actual blasting geometry in the field has a burden of 3m and spacing of 3m, resulting in sequential fragmentation sizes of boulder; cobble; pebble; very fine at 67.10%; 20.95%; 10.66%; 0.45%, respectively. Based on the analysis, two proposed blasting geometries considered optimal are presented: burden 1.96m; spacing 2.72m and burden 2.48m; spacing 3.19m. The fragmentation from the first proposed geometry sequentially measures 63.85%; 32.64%; 3.49%; 0.01%, while the fragmentation from the second proposed geometry sequentially measures 74.68%; 22.01%; 3.27%; 0.02%. Therefore, this research significantly contributes to optimizing excavation methods in quarries, improving fragmentation efficiency, and ensuring slope stability for safety.
4104743202J0A020045Creating an English Pocket Book for Asarasa Coffee and Eatery Employees in Elsotel Hotel PurwokertoLaporan hasil praktik kerja ini berjudul “CREATING AN ENGLISH
POCKET BOOK FOR ASARASA COFFEE AND EATERY EMPLOYEES IN
ELSOTEL HOTEL PURWOKERTO”. Praktik tersebut dilaksanakan pada
tanggal 2 Mei 2023 sampai 2 Juni 2023 di Elsotel Purwokerto. Tujuan dalam
praktik kerja tersebut adalah untuk membuat sebuah buku saku Bahasa Inggris
yang ditujukan kepada karyawan ‘Asarasa Coffee and Eatery’ yang dikelola di
bawah Departemen ‘Food and Beverage’ dari Elsotel Purwokerto. Tujuan
lainnya yaitu mengidentifikasi kesulitan atau halangan yang berhubungan
dalam proses pembuatan buku saku Bahasa Inggris untuk ‘Asarasa Coffee and
Eatery’ dan mengidentifikasi solusi terkait kesulitan atau halangan tersebut.
Elsotel Purwokerto adalah hotel Bintang 3 yang didirikan pada tahun
2022 di Kota Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia. Elsotel menyediakan
layanan perhotelan bagi tamunya, baik tamu domestik atau asing. Salah satu
layanan yang diberikan oleh Elsotel kepada tamunya adalah layanan restoran
yang bernama ‘Asarasa Coffee and Eatery’.
Saat praktik kerja berlangsung, penulis menemukan banyak tamu asing
yang menggunakan layanan perhotelan dari Elsotel Purwokerto, terutama
layanan restorannya yang bernama ‘Asarasa Coffee and Eatery’. Layanan
restoran tersebut dikelola di bawah Departemen ‘Food and Beverage’ dari
Elsotel Purwokerto. Tamu asing menggunakan layanan tersebut untuk sarapan,
pemesanan langsung di restoran, maupun untuk layanan ‘room service’ dalam
pemesanan makanan atau minuman.
Oleh karena itu, karyawan yang bertugas dalam pelayanan tersebut harus
mampu menguasai Bahasa Inggris untuk mencegah terjadi miskomunikasi
antara karyawan dan tamu asing karena komunikasi yang baik antara karyawan
dan tamu dapat memberikan citra yang baik pada restoran maupun hotel itu
sendiri. Dalam praktik kerja ini penulis menggunakan metode observasi,
dokumentasi, dan wawancara dalam pengumpulan data.
Terdapat beberapa kesulitan atau halangan yang penulis temukan saat
melakukan praktik kerja di Elsotel Purwokerto. Diantaranya adalah kurangnya
karyawan yang dapat berkomunikasi dengan baik dalam Bahasa Inggris,
kurangnya bahan ajar bagi karyawan untuk meningkatkan kemampuan
berbahasa Inggris, kekurangan karyawan ditambah jam kerja yang tinggi sehingga menghambat karyawan untuk belajar Bahasa Inggris, kesalahan
penulisan nama benda Bahasa Inggris pada daftar inventaris, dan daftar
inventaris yang belum diperbarui. Namun, terdapat solusi untuk membantu
dalam mengatasi kesulitan dan halangan yang dihadapi karyawan ‘Asarasa
Coffee and Eatery’, yaitu dengan penggunaan buku saku yang dibuat oleh
penulis. Terdapat juga solusi untuk kesulitan atau halangan yang didapati
penulis dalam proses pembuatan buku saku, yaitu melakukan pengecekan
ulang terhadap nama barang yang ada di daftar inventaris dan melakukan
konsultasi dengan karyawan terkait.
This job training report is entitled “CREATING AN ENGLISH POCKET
BOOK FOR ASARASA COFFEE AND EATERY EMPLOYEES IN
ELSOTEL HOTEL PURWOKERTO”. The job training was conducted from
May 2nd 2023 – June 2nd 2023 at Elsotel Purwokerto. The purpose of this job
training is to create an English pocket book for the employees of the Asarasa
Coffee and Eatery which is managed under the Food and Beverage Department
of Elsotel Purwokerto. Other purposes are identifying the obstacles related to
creating an English Pocket Book for Asarasa Coffee and Eatery of Elsotel
Purwokerto and the solutions to overcome the obstacles in creating the pocket
book.
Elsotel is a 3-star hotel that was established in 2022 in Purwokerto,
Central Java, Indonesia. It provides hospitality services for their guests, both
local guests and foreign guests. One of the services that Elsotel offers to its
guests is the hotel restaurant called Asarasa Coffee and Eatery.
During the job training, the author found out that Elsotel Purwokerto has
many foreign guests who use its services and hospitality, especially in its hotel
restaurant, which is named Asarasa Coffee and Eatery, managed by the Food
and Beverage Department. The foreign guests use their service either for the
breakfast service, order directly in the restaurant, or their room service to order
food and drink.
Therefore, the employees who handled the particular field had to be able
to communicate in English to prevent miscommunication between the
employees and the foreign guests or customers. Good communication between
the employees and guests could lead to good impressions of the restaurant and
the hotel itself. The author used the observation, documentation, and interview
methods to obtain the materials during the job training.
There are several obstacles that the author found when carrying out the
job training in the Elsotel Purwokerto, such as the lack of staffs who are able
to communicate in fluent English, lack of materials to learn and improve staffs’
ability to enrich their English communication ability, staffs shortage that result
in limited time of English training among the staffs, error in names of the items
in their inventory list, and the dated inventory list. However, there are also
solutions to overcome these obstacles such as enriching their English vocabulary and practicing English conversations that are related to their work
tasks, which is provided in the pocket book that is created by the author. There
are also solutions to overcome the obstacles that the author faced during the
process of creating the pocket book by double-checking the items’ names and
consulted with the related staffs.
4104843203I1B020013RELATIONSHIP BETWEEN KNOWLEDGE AND ATTITUDES ABOUT FIRST AID FOR COCONUT TREE FALL VICTIMS IN PAGERAJI VILLAGELatar Belakang: Sektor pertanian dan perkebunan menduduki peringkat keempat dengan jumlah korban kecelakaan kerja terbanyak, salah satunya adalah pemanjat pohon kelapa. Kecelakaan kerja merupakan keadaan darurat yang perlu ditangani secara cepat, tepat, dan hati-hati untuk meminimalisir kecacatan dan kematian (time- saving is life saving) melalui tindakan yang disebut pertolongan pertama. Keterlibatan masyarakat awam dalam memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan kerja sangat penting karena tenaga kesehatan tidak selalu ada. Pengetahuan sangat diperlukan seseorang dalam memberikan pertolongan pertama, karena kurangnya pengetahuan dapat membuat seseorang ragu dalam memberikan pertolongan pertama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap tentang pertolongan pertama pada korban pohon kelapa tumbang di desa Pageraji.
Metodologi: Model penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif analitik. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 402 dengan menggunakan teknik kuota sampling. Data diolah dengan menggunakan analisis univariat dan bivariat. Analisis bivariat menggunakan Somers’d.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 181 responden (45,0%) mempunyai pengetahuan baik tentang pertolongan pertama pada korban jatuh dari pohon kelapa. Hampir seluruh responden sebanyak 393 responden (97,8%) mempunyai sikap pertolongan pertama dengan kategori positif. Sebagian besar responden mempunyai pengetahuan pertolongan pertama yang baik dan sikap positif yaitu sebanyak 176 responden (43,8%). Namun hasil statistik menggunakan Somers’d menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap pertolongan pertama (p=0,566) serta kekuatan korelasi sangat lemah dan arah korelasi negatif (-0,007).
Kesimpulan: Pengetahuan dan sikap pertolongan pertama pada korban jatuh dari pohon kelapa di desa Pageraji tidak mempunyai hubungan yang signifikan.
Background: The agriculture and plantation sector is ranked fourth as highest number of work accident victims, for example is coconut tree climbers. Work accidents are emergencies that need to be handled quickly, precisely, and carefully to minimize disability and death (time-saving is life-saving) through actions called first aid. The involvement of the layperson in providing first aid for work accidents is very important because the health workers is not always be around. Knowledge is necessary for someone in providing first aid because a lack of knowledge can make a person hesitate in providing first aid. This study aims to determine the relationship between knowledge and attitude about first aid for coconut tree fall victims in Pageraji village.
Methodology: The research model used is analytical quantitative approach. The number of respondents in this study was 402 using quota sampling technique. The data were processed using univariate and bivariate analysis. The bivariate analysis using somers’d.
Research Results: The result shows that 181 respondents (45.0%) have good knowledge about first aid for victims of falls from coconut trees. Almost all respondents, 393 respondents (97.8%) had a first-aid attitude that was in the positive category. Most respondents had good first-aid knowledge and a positive attitude, as much as 176 respondents (43.8%). However, statistical results using somers’d show that there is no significant relationship between first aid knowledge and attitudes (p=0.566) and the strength of the correlation is very weak and the direction of the correlation being negative (-0,007).
Conclusion: Knowledge and attitudes of first aid for victims who fell from coconut trees in Pageraji village did not have a significant relationship.
4104943204H1C020022ANALISIS KUALITAS MASSA BATUAN MENGGUNAKAN METODE ROCK
MASS RATING (RMR) DAN REKOMENDASI OPTIMALISASI
PENAMBANGAN PADA TAMBANG BATU GAMPING DAERAH TIPAR
KECAMATAN AJIBARANG, KABUPATEN BANYUMAS, JAWA TENGAH
Kegiatan penambangan memerlukan kajian geologi teknik terlebih Dalam penambangan yang dilakukan dengan cara tambang terbuka (quarry), dimana hal ini sangat dipengaruhi oleh stabilitas lereng, yang dapat mengakibatkan tidak amannya suatu lahan tambang. Maka dari itu, diperlukan kajian mengenai kualitas penyusun massa batuan agar dapat memberikan rekomendasi optimalisasi penambangan yang optimal serta aman. Metode yang digunakan adalah pengambilan data kondisi lereng dengan menggunakan metode scanline. Hasil penelitian menunjukan bahwa analisis kestabilan lereng menunjukkan nilai Rock Mass Rating (RMR) sedang hingga baik.Mining activities require engineering geology studies, especially in mining carried out by means of open pit mining (quarry), where this is strongly influenced by slope stability, which can result in unsafe mining. Therefore, it is necessary to study the quality of rock mass constituents in order to provide recommendations for optimal and safe mining optimization. The method used is data collection of slope conditions using the scanline method. The results showed that the slope stability analysis showed moderate to good Rock Mass Rating (RMR) values.
4105043205K1B019002Penentuan Rute Terpendek Bus Rapid Transit Kota Tasikmalaya Menggunakan Algoritma Koloni SemutKota Tasikmalaya merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 2021, Kota Tasikmalaya memiliki jumlah sepeda motor sebanyak 199.145 unit, disusul mobil penumpang sebanyak 28.568 unit, truk sebanyak 10.951 unit dan bus sebanyak 702 unit. Setiap tahunnya angka tersebut akan terus meningkat sehingga salah satunya dapat menimbulkan kemacetan di kota Tasikmalaya. Salah satu cara untuk mengurangi dampak tersebut adalah dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke moda transportasi umum khususnya bus seperti Bus Rapid Transit (BRT), yang diharapkan program ini dapat dicanangkan oleh pemerintah Kota Tasikmalaya. Oleh karena itu, untuk mewujudkan program tersebut diperlukan suatu metode untuk mencari rute terpendek agar sistem BRT berjalan efisien, yaitu dengan menggunakan Algoritma Koloni Semut (AKS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil rute terpendek dari 22 halte yang tersedia di Kota Tasikmalaya dengan menggunakan AKS. Metode ini menghasilkan rute terpendek dari Halte Dewi Sartika ke 22 halte lainnya tepat satu kali dan kembali ke lokasi awal serta mempunyai panjang jalur terpendek sebesar 19,9 km dengan perubahan intensitas jejak semut sebesar 0,0503.Tasikmalaya City is one of the cities in West Java Province. In 2021, Tasikmalaya City had 199,145 units of motorcycles, followed by 28,568 units of passenger cars, 10,951 units of trucks and 702 units of buses. Every year these numbers will continue to increase so that can cause congestion in the Tasikmalaya City. One of ways to reduce this impact is to reduce the use of private vehicles and switch to public transportation modes, especially buses such as Bus Rapid Transit (BRT), which is expected to be launched by the Tasikmalaya City government. Therefore, to realize the program, a method is needed to find the shortest route so that the BRT system runs efficiently, namely by using the Ant Colony Algorithm (AKS). This research aims to determine the results of the shortest route from 22 bus stops that available in Tasikmalaya City using AKS. This method produces the shortest route from Dewi Sartika Bus Stop to 22 other bus stops exactly once and returns to the starting location and has a shortest path length of 19.9 km with a change in ant trail intensity of 0.0503.
4105143206L1C019052KONTAMINASI LOGAM BERAT KROMIUM (Cr) LIMBAH INDUSTRI TEKSTIL PADA SEDIMEN DI PANTAI JERUKSARI KABUPATEN PEKALONGANPantai Jeruksari Kabupaten Pekalongan merupakan salah satu muara dari aliran Sungai Sengkarang. Sepanjang aliran sungai Sengkarang banyak terdapat kegiatan industri batik. Banyaknya industri batik yang membuang limbahnya ke sungai Sengkarang berpotensi menyumbangkan cemaran berupa logam berat kromiun (Cr). Logam berat tersebut bersifat toksik dan terurai dalam jangka waktu lama di perairan, sehingga keduanya dapat terakumulasi dalam sedimen. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survey dengan teknik sampling menggunakan metode random sampling. Pengukuran logam pada sampel sedimen dilakukan menggunakan metode Spektrometri Serapan Atom (SSA)-Nyala pada SNI 8910:2021. Untuk mengetahui tingkat pencemaran dilakukan analisis menggunakan Contamination Factor (CF), Enrichment Factor (EF), Geoaccumulation Index (Igeo), dan Potential Ecological Risk Index (PERI). Konsentrasi logam berat Cr pada sedimen di Stasiun 1 sampai 6 berkisar antara 7,76-15,66 mg/kg dengan rata-rata sebesar 11,51 mg/kg. Konsentrasi logam Cr tersebut masih berada di bawah ambang batas dan memenuhi baku mutu. Tingkat pencemaran logam Cr di Pantai Jeruksari, Kabupaten Pekalongan berdasarkan indeks CF, EF, Igeo, dan PERI termasuk dalam kategori tidak tercemar.Jeruksari Beach in Pekalongan Regency serves as one of the estuaries for the Sengkarang River. The entire stretch of the Sengkarang River is characterized by a significant presence of batik industry activities. The considerable discharge of industrial wastewater into the Sengkarang River raises concerns about potential contamination with heavy metal chromium (Cr). Chromium is a toxic heavy metal that decomposes slowly in aquatic environments, leading to its accumulation in sediments. This study employed a survey method with random sampling techniques to assess the extent of contamination. Metal measurements in sediment samples were conducted using Flame Atomic Absorption Spectrometry (FAAS) based on the SNI 8910:2021 standard. Pollution levels were analyzed through Contamination Factor (CF), Enrichment Factor (EF), Geoaccumulation Index (Igeo), and Potential Ecological Risk Index (PERI). The concentrations of heavy metal Cr in sediments at Stations 1 to 6 ranged from 7.76 to 15.66 mg/kg, with an average of 11.51 mg/kg. These concentrations fall below the threshold limits, meeting water quality standards. Based on CF, EF, Igeo, and PERI indices, the level of chromium pollution in Jeruksari Beach, Pekalongan Regency, is categorized as non-polluted.
4105244990H1B020045ANALISIS PERBANDINGAN INTENSITAS GOYANGAN DENGAN METODE JMA-SIS DAN LT-MSIS PADA BANGUNAN STUKTUR BAJA TINGKAT RENDAH DAN MENENGAHIndonesia termasuk negara yang rawan akan gempa karena berada di wilayah Ring of Fire (Cincin Api) yang merupakan persimpangan tiga lempeng tektonik dunia. Dalam menghadapi tantangan gempa bumi, respons struktural terhadap gempa sangat penting untuk memastikan keamanan dan ketahanan bangunan. Metode analisis respons struktural terhadap gempa terus berkembang untuk meningkatkan efektivitasnya.Sejalan dengan ditemukannya metode baru lt-mSIS oleh Nanang Gunawan Wariyatno yang mengadaptasi dari metode JAM-SIS yang dikembangkan oleh Japan Meteorological Agency (JMA), penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan nilai intensitas goyangan dari metode lt-mSIS dengan JMA-SIS pada model struktur baja Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) tingkat rendah dan menengah. Metode lt-mSIS yang dibahas dalam penelitian ini adalah lt-mSIS 1 dan lt-mSIS Σ yang memiliki perbedaan dalam menentukan periode (T) bangunan.Nilai deviasi adalah perbandingan nilai intensitas goyangan (mSIS) dari metode JMA-SIS dan lt-mSIS yang menentukan hasil dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata deviasi pada semua model yaitu model A (2 tingkat), B (4 tingkat), C (6 tingkat), D (8 tingkat) dan E (10 tingkat) memiliki kecenderungan nilai yang meningkat seiring meningkatnya jumlah lantai model bangunan. Peningkatan tertinggi terjadi pada Model B dan model C. Penelitian ini menunjukkan bahwa hasil metode lt-mSIS tidak terlalu berbeda dengan JMA-SIS, ditandai dengan deviasi yang kecil dan analisis validasi korelasi serta NMSE yang baik untuk semua model bangunan.Indonesia is a country prone to earthquakes due to its location in the Ring of Fire, where three of the world's tectonic plates intersect. In facing the challenges posed by earthquakes, structural response to seismic activity is crucial to ensuring the safety and resilience of buildings. Methods for analyzing structural response to earthquakes continue to evolve to improve their effectiveness. Following the discovery of the new lt-mSIS method by Nanang Gunawan Wariyatno, which adapts the JAM-SIS method developed by the Japan Meteorological Agency (JMA), this research aims to compare the shaking intensity values of the lt-mSIS and JMA-SIS methods on low and medium-rise Special Moment Resisting Frame (SMRF) steel structures. The lt-mSIS methods discussed in this study are lt-mSIS 1 and lt-mSIS Σ, which differ in determine the building's period (T). Deviation value is the comparison of shaking intensity values (mSIS) between the JMA-SIS and lt-mSIS methods, which determines the results of this research. The results show that the average deviation in all models, namely Model A (2 stories), B (4 stories), C (6 stories), D (8 stories), and E (10 stories), tends to increase with the number of floors in the building models. The highest increase occurred in Models B and C. This research indicates that the results of the lt-mSIS method are not significantly different from the JMA-SIS method, marked by small deviations and strong correlation validation and NMSE analysis for all building models.
4105343207F1B019091ANALISIS INOVASI PELAYANAN PERTANAHAN AKHIR PEKAN (PELATARAN) KANTOR AGRARIA DAN TATA RUANG
BADAN PERTANAHAN NASIONAL KABUPATEN BANYUMAS
Pelayanan publik merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan dasar
warga negara atas barang, jasa, dan administrasi yang terkait dengan kepentingan
publik. Pelayanan publik menjadi fokus studi ilmu administrasi publik karena
merupakan tugas dan kewajiban para birokrat dalam melayani masyarakat. Di
Indonesia, pelayanan publik masih menghadapi berbagai masalah rumit yang
memerlukan perhatian khusus dari para birokrat untuk mencari solusi yang tepat.
Salah satu instansi pemerintahan yang menyelenggarakan pelayanan publik di
bidang pertanahan adalah Badan Pertanahan Nasional (BPN). Permasalahan utama
dalam penelitian ini adalah bagaimana Inovasi Pelayanan Pertanahan Akhir Pekan
(Pelataran) di BPN Kabupaten Banyumas dapat mengatasi masalah pertanahan dan
meningkatkan kualitas pelayanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis
Inovasi Pelayanan Pertanahan Akhir Pekan di BPN Kabupaten Banyumas
Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode
deskriptif. Fokus penelitian menggunakan Rogers 1983 yang terdiri dari 5 fokus
yaitu: Keuntungan Relatif, Kesesuaian, Kerumitan, Kemungkinan Dicoba, Mudah
diamati Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan
dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman, yang
meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil
studi ini memberikan wawasan tentang efektivitas Inovasi Pelayanan Pertanahan
Akhir Pekan dan memberikan rekomendasi untuk perbaikan lebih lanjut.
Hasil penelitian dari Inovasi Pelayanan Pertanahan Akhir Pekan (Pelataran)
di BPN Kabupaten Banyumas yakni adanya Relative advantage, sangat
dimudahkan dan bahkan dapat memaksimalkan optimalisasi pelayanan karena
didukung dengan kemampuan dari sumber daya pegawainya yang sudah terbiasa
dan mahir dalam melakukan penerapan inovasi Pelataran, Compatibility, adanya
inovasi Pelataran ini dibilang sudah baik dilihat dari kemudahan yang di rasakan
oleh pegawai dalam menggunakan layanan, Complexity adanya inovasi Pelataran
ini tidak memiliki kerumitan yang berarti sehingga sudah dapat dikatakakan baik,
Triability adanya inovasi Pelataran ini hanya memerlukan proses yang sebentar
sehingga dapat memeduhkan pengguna dalam pemprosesan, Observability adanya
inovasi Pelataran ini hasil atau dokumen yang diberikan untuk isinya sudah sesuai
dengan apa yang diharapkan.
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah di uraikan tersebut, peneliti
menyimpulkan bahwa Inovasi Pelayanan Pertanahan Akhir pekan (Pelataran) di
Kantor Pertanahan Kabupaten Banyumas bisa dikatakan berhasil, walaupun masih
perlunya peningkatan sosialisasi terhadap masyarakat terkait inovasi Pelataran guna
untuk memajukan inovasi kearah yang lebih baik lagi
Public services are an effort to fulfill citizens' basic needs for goods, services
and administration related to the public interest. Public service is the focus of public
administration studies because it is the duty and obligation of bureaucrats in serving
the community. In Indonesia, public services still face various complex problems
that require special attention from bureaucrats to find the right solutions. One of
the government agencies that provides public services in the land sector is the
National Land Agency (BPN). The main problem in this research is how innovation
in Weekend Land Services (Pelataran) at BPN Banyumas Regency can overcome
land problems and improve service quality. The aim of this research is to analyze
Weekend Land Service innovations at BPN Banyumas Regency.
This research method uses a qualitative approach with descriptive methods.
The research focus uses Rogers 1983 which consists of 5 focuses, namely: Relative
Advantage, Compatibility, Complexity, Triability, Observability. Data collection is
carried out through observation, in-depth interviews, and documentation. Data
analysis uses the Miles and Huberman model, which includes data collection, data
reduction, data presentation, and conclusions. The results of this study provide
insight into the effectiveness of the Weekend Land Service Innovation and provide
recommendations for further improvement.Based on the results of the research that
has been described, the researcher concludes that the Weekend Land Service
Innovation (Plataran) at the Banyumas Regency land office can be said to be
successful, although there is still a need to increase socialization to the community
regarding yard innovation in order to advance innovation in a better direction.
The results of research from Weekend Land Service Innovation (Plataran)
at BPN Banyumas Regency are that there is a relative advantage, it is very easy and
can even maximize service optimization because it is supported by the capabilities
of its employee resources who are used to and proficient in implementing the
Pelataran innovation, compatibility, and availability. This Platform innovation is
said to be good, seen from the ease felt by employees in using the service, the
Complexity of this Platform innovation does not have significant complexity so it
can be said to be good, the Triability of this Platform innovation only requires a
short process so it can ease the user in processing, Observability of innovation in
this courtyard, the results or documents provided for the contents are in accordance
with what is expected.
Based on the results of the research that has been described, the researcher
concludes that the Weekend Land Service Innovation (Plataran) at the Banyumas
Regency Land Office can be said to be successful, although there is still a need to
increase socialization to the community regarding Pelataran innovation in order to
advance innovation in a better direction.
4105443208I1B020029Hubungan Persepsi Primipara tentang Perubahan Peran Menjadi Orang Tua terhadap Risiko Depresi PostpartumLatar Belakang: Transisi menjadi orang tua membutuhkan banyak penyesuaian terutama bagi primipara. Kegagalan mencapai harapan menjadi ibu yang baik dapat memicu timbulnya stres yang kemudian berkembang menjadi depresi postpartum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persepsi primipara tentang perubahan peran menjadi orang tua terhadap risiko depresi postpartum. Metodologi: Penelitian kuantitatif bersifat analitik korelatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan proporsional random sampling dengan sampel 81 responden. Instrumen yang digunakan adalah Parenting Sense of Competence Scale (PSOC) untuk mengukur persepsi dan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) untuk mengukur risiko depresi. Hipotesis diuji menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil Penelitian: Rerata skor persepsi responden sebesar 72,14 dan rerata geometri skor risiko depresi postpartum responden 8,78. Hasil EPDS menunjukkan 43,2% responden tidak memiliki risiko depresi, 40,8% responden memiliki risiko depresi, dan 21,0% responden mengalami depresi postpartum. Hasil uji Pearson menunjukkan nilai p 0,005 (p-value <0,05) dan nilai r -0,311 yang menunjukkan arah hubungan berlawanan dengan kekuatan korelasi rendah. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara persepsi primipara tentang perubahan peran menjadi orang tua terhadap risiko depresi postpartum. Tenaga kesehatan perlu melakukan edukasi sejak masa kehamilan dan skrining risiko depresi sebagai pencegahan depresi postpartum.Background: Transitioning to parenthood requires adjusting, especially for primiparas. Failure to meet expectations of good mothering may induce stress that develops into postpartum depression. This study aims to determine the relationship between primiparas' perceptions of changing parental roles and risk of postpartum depression. Method: Quantitative research is a cross-sectional correlational analysis. Sampling used proportional random sampling with a sample of 81 respondents. Instruments used were the Parenting Sense of Competence Scale (PSOC) for perceptions and the Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) for depression risk. Hypotheses were tested using Pearson's correlation test. Results: Respondents' mean perception score was 72.14. Respondents' geometric mean postpartum depression risk score was 8.78. The EPDS results showed that 43.2% of the respondents had no depression risk, 40.8% had depression risk, and 21.0% had postpartum depression. Pearson's test results showed a value of p= 0.005 (p-value <0.05) and r= -0.311, indicating an inverse relationship with low correlation strength. Conclusion: There is an association between primiparous perceptions of parental role change and risk of postpartum depression. Health workers need to conduct education since pregnancy and depression risk screening as prevention of postpartum depression.
4105544991C1A020012Analisis Struktur, Perilaku, dan Kinerja Industri Knalpot di Kabupaten PurbalinggaThis study aims to (1) Determine the market structure in the exhaust industry in Purbalingga Regency based on market share measurement, industry concentration ratio and barrier to entry, (2) Determine the behavior of companies in the exhaust industry in Purbalingga Regency based on product strategy, price strategy, and promotion strategy, (3) Determine the performance of the exhaust industry in Purbalingga Regency based on the level of profitability.

This study uses a quantitative descriptive method, where quantitative data is collected from respondents who answered an open questionnaire to determine the frequency and percentage of responses. This approach refers to objective measurements and scientific statistical analysis to describe a phenomenon or event that is happening today using meaningful numbers.

The exhaust industry in Purbalingga Lor Village, Purbalingga District, Purbalingga Regency is included in the form of monopolistic market classification known through market share measurement, market concentration ratio of the four largest companies, Herfindahl-Hirschman Index (IHH), and Minimum Efficiency Scale (MES) based on sales variables. In order to be able to face competition, each company has different industry behaviors. The difference is due to the difference in market structure in the industry. Industry behavior can be known by analyzing the strategies determined by the Company in entering the market and achieving maximum market profits such as pricing strategies, product strategies and promotional strategies. The existence of the market structure and behavior is likely to affect the company's performance. In this study, industry performance is measured using Price Cost Margin (PCM) and efficiency, which indicates how effectively a company can generate profits from its operations.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui struktur pasar di industri exhaust di Kabupaten Purbalingga berdasarkan pengukuran pangsa pasar, rasio konsentrasi industri dan barrier to entry, (2) Mengetahui perilaku perusahaan di industri exhaust di Kabupaten Purbalingga berdasarkan strategi produk, strategi harga, dan strategi promosi, (3) Menentukan kinerja industri exhaust di Kabupaten Purbalingga berdasarkan tingkat profitabilitas.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, di mana data kuantitatif dikumpulkan dari responden yang menjawab kuesioner terbuka untuk mengetahui frekuensi dan persentase tanggapan. Pendekatan ini mengacu pada pengukuran objektif dan analisis statistik ilmiah untuk menggambarkan suatu fenomena atau peristiwa yang terjadi saat ini dengan menggunakan angka yang bermakna.

Industri knalpot di Desa Purbalingga Lor, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga termasuk dalam bentuk klasifikasi pasar monopoli yang dikenal melalui pengukuran pangsa pasar, rasio konsentrasi pasar empat perusahaan terbesar, Indeks Herfindahl-Hirschman (IHH), dan Skala Efisiensi Minimum (MES) berdasarkan variabel penjualan. Agar dapat menghadapi persaingan, setiap perusahaan memiliki perilaku industri yang berbeda-beda. Perbedaannya disebabkan oleh perbedaan struktur pasar di industri. Perilaku industri dapat diketahui dengan menganalisis strategi yang ditentukan oleh Perseroan dalam memasuki pasar dan mencapai keuntungan pasar yang maksimal seperti strategi penetapan harga, strategi produk dan strategi promosi. Adanya struktur dan perilaku pasar kemungkinan akan mempengaruhi kinerja perusahaan. Dalam penelitian ini, kinerja industri diukur menggunakan Price Cost Margin (PCM) dan efisiensi, yang menunjukkan seberapa efektif perusahaan dapat menghasilkan keuntungan dari operasinya.
4105643210I1B020012Hubungan Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Emosional dengan Self-Care Lansia Pascastroke NonhemoragikAbstrak
HUBUNGAN KECERDASAN SPIRITUAL DAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN SELF-CARE LANSIA PASCASTROKE NONHEMORAGIK DI KLINIK SARAF RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO
Fatma Fathunnimah1, Arif Setyo Upoyo2, Wastu Adi Mulyono2
Latar Belakang: Stroke bukan hanya berdampak pada fisik dan emosional pasien, tetapi juga pada keluarga. Oleh karena itu, kemampuan self-care merupakan hal yang dapat diandalkan dalam perawatan. Meskipun demikian dampak emosi dan spiritual mungkin berkaitan dengan kemampuan self-care pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional dengan self-care lansia pascastroke nonhemoragik.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan rancangan cross-sectional study. Lokasi penelitian di Klinik Saraf RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo pada bulan November 2023. Total 107 lansia pascastroke nonhemoragik dipilih menggunakan teknik consecutive sampling berpartisipasi dalam penelitian ini. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kecerdasan spiritual adalah The Spiritual Intelligence Self Report Inventory (SISRI), Emotional Intelligence untuk mengukur kecerdasan emosional, dan Barthel Index untuk mengukur kemampuan self-care. Uji hipotesis menggunakan uji Rank Spearman, uji Mann-Whitney, dan uji Kruskal-Wallis.
Hasil penelitian: Lansia pascastroke nonhemoragik sebagian besar berjenis kelamin laki-laki dengan usia lansia pertengahan yang memiliki status gizi normal dan dukungan keluarga baik dengan tinggal bersama suami/istri dan anak walaupun mayoritas memiliki tingkat pendidikan terakhir SD. Sebagian besar lansia mengalami stroke pertama dengan lama stroke >2 tahun dan memiliki komorbid utama hipertensi. Mayoritas responden memiliki tingkat kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional sedang, sedangkan kemampuan self-care cukup tinggi. Perbedaan rerata self-care berdasarkan karakteristik responden tidak menunjukkan adanya variasi kecuali pada variabel status gizi dan tingkat keparahan stroke. Hasil uji korelasi menunjukkan kecerdasan emosional terdapat hubungan bermakna dengan self-care lansia pascastroke (р = 0,016), sedangkan kecerdasan spiritual tidak terdapat hubungan bermakna dengan self-care lansia pascastroke (р<0,001).
Kesimpulan: Kecerdasan spiritual tidak berhubungan dengan self-care lansia pascastroke nonhemoragik sedangkan kecerdasan emosional berhubungan dengan self-care lansia pascastroke nonhemoragik
Kata kunci: kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, self-care lansia pascastroke
1Mahasiswa Jurusan Keperawatan FIKes Universitas Jenderal Soedirman
2Dosen Jurusan Keperawatan FIKes Universitas Jenderal Soedirman

ABSTRACT
The Relationship Between Spiritual Intelligence, Emotional Intelligence, And Self-Care Among Nonhemorrhagic Post-Stroke Elderlies
Fatma Fathunnimah1, Arif Setyo Upoyo2, Wastu Adi Mulyono2
Department of Nursing, Faculty of Health Science
Jenderal Soedirman University Purwokerto, Indonesia

Jl. Dr. Soeparno, Karangwangkal, Purwokerto Utara 532123 Telp (0281) 642838
Email: fatmafthn45@gmail.com
Background: Stroke not only has a physical and emotional impact on the patient but also the family. Hence, the ability to self-care is something that can be relied on in maintenance. However, the emotional and spiritual impact may be related to the ability of a self-care patient. This research aims to analyze the relationship between spiritual intelligence, emotional intelligence, and self-care among non-hemorrhagic post-stroke elderlies.
Methods: This research uses a design cross-sectional study. The research location is at the Neurological Clinic of Prof. RSUD. Dr. Margono Soekarjo in November 2023. A total of 107 elderly people after non-hemorrhagic strokes were selected using consecutive sampling and participated in this research. The instruments used to measure spiritual intelligence are The Spiritual Intelligence Self Report Inventory (SISRI), Emotional Intelligence to measure emotional intelligence, and the Barthel Index to measure the ability to self-care. Hypothesis testing uses the Spearman Rank test, Mann-Whitney test, and Kruskal-Wallis test.
Result: The majority of elderly people following non-hemorrhagic stroke are middle-aged men who have normal nutritional status and good family support by living with their husband/wife and children, although the majority have at least an elementary school education. Most elderly people experience their first stroke with a stroke duration of >2 years and have the main comorbidity of hypertension. The majority of respondents have a moderate level of spiritual intelligence and emotional intelligence, while the ability to self-care is high enough. The mean difference in self-care based on the characteristics of the respondents did not show any variation except in the variables of nutritional status and stroke severity. The correlation test results show that emotional intelligence has a significant relationship with self-care post-stroke elderly (p = 0.016), while spiritual intelligence has no significant relationship with self-care post-stroke elderly (p<0,001).
Conclusion: Spiritual intelligence is not related to self-care for non-hemorrhagic post-stroke elderly, while emotional intelligence is related to self-care for non-hemorrhagic post-stroke elderly.
Keywords: emotional intelligence, self-care post-stroke elderly, spiritual intelligence.
1Student of Nursing Department, FIKes, Jenderal Soedirman University
2,3Department of Nursing Department, FIKes, Jenderal Soedirman University
4105743211I1C019003Pengembangan Model Hewan Untuk Analisis Ketoksikan Pada Organ Hati Akibat Dietilen Glikol (DEG) Melalui Pengamatan HistopatologiDietilen glikol (DEG) merupakan cemaran yang ditemukan pada
sediaan sirup dengan pelarut gliserin atau propilen glikol.
Cemaran DEG di dalam sirup dapat menimbulkan ketoksikan
dan kerusakan pada organ manusia salah satunya organ hati.
Penelitian ini, dilakukan untuk mengetahui dosis DEG yang
dapat menimbulkan tanda ketoksikan dan kerusakan organ hati
pada hewan uji tikus. Penelitian ini menggunakan hewan uji
tikus galur wistar sebanyak 24 ekor terbagi dalam 4 kelompok
perlakuan : kontrol normal, induksi DEG 1 g/kgBB, induksi
DEG 3 g/kgBB, dan induksi 5 g/kgBB tikus. Pemberian DEG
dilakukan dua kali sehari dosis terbagi selama 3 hari. Kemudian
dilakukan pengamatan makroskopis dan histopatologi pada
organ hati. Hasil penelitian menunjukkan pada dosis DEG 1, 3, 5
g/kg BB yang diberikan menimbulkan adanya tanda ketoksikan
dilihat dari pengamatan makroskopis yang mengubah warna
organ hati dari merah bata menjadi kecoklatan. Pengamatan
histopatologi organ hati tikus menunjukkan kerusakan pada
induksi DEG 1, 3 dan 5 g/kg BB. Pada dosis 1 g/kg BB tikus
mengalami kerusakan pada aktivasi sel Kupffer, degenerasi
hepatosit dan dilatasi sinusoid, sedangkan pada dosis 3 dan 5
g/kg BB mengalami kerusakan berupa peningkatan aktivasi sel
Kupffer, degenerasi sel hepatosit, dilatasi sinusoid, dan nekrosis.
Pemberian dietilen glikol menunjukkan ketoksikan dari
pengamatan makroskopik dan histopatologi hati berupa
perubahan warna organ hati, peningkatan aktivasi sel Kupffer,
degenerasi sel hepatosit, dilatasi sinusoid dan nekrosis. Dosis
yang menyebabkan keracunan dan kerusakan hati akibat DEG
terjadi pada dosis 1, 3 dan 5 g/kg BB.
Diethylene glycol (DEG) is a contaminant found in syrup
preparations with glycerin or propylene glycol as solvents. DEG
contamination in syrup can cause toxicity and damage to human
organs, one of which is the liver. This research was carried out
to determine the dose of DEG that could cause signs of toxicity
and liver damage in rat test animals. This research used 24
Wistar rats as test animals divided into 4 treatment groups:
normal control, DEG induction 1 g/kgBB, DEG induction 3
g/kgBB, and induction 5 g/kgBB rats. DEG was given twice a
day in divided doses for 3 days. Then macroscopic and
histopathological observations were carried out on the liver. The
results of the study showed that the DEG dose of 1, 3, 5 g/kg BB
given caused signs of toxicity seen from macroscopic
observations which changed the color of the liver from brick red
to brownish. Histopathological observations of rat livers showed
damage to DEG induction at 1, 3 and 5 g/kg BB. At a dose of 1
g/kg BB rats experienced damage in the form of Kupffer cell
activation, hepatocyte degeneration and sinusoid dilatation,
whereas at doses of 3 and 5 g/kg BB rats experienced damage in
the form of increased Kupffer cell activation, hepatocyte cell
degeneration, sinusoid dilatation and necrosis. Administration of
diethylene glycol showed toxicity from macroscopic and
histopathological observations of the liver in the form of changes
in liver color, increased Kupffer cell activation, hepatocyte cell
degeneration, sinusoidal dilatation and necrosis. The doses that
caused poisoning and liver damage due to DEG occurred at
doses of 1, 3 and 5g/kg BB.
4105843212C1B020045Pengaruh Struktur Regulasi, Struktur Kognitif, dan Lokus Kendali Internal terhadap Niat Berwirausaha Generasi Z (Studi Kasus pada Program Studi S1 Manajemen Reguler dan Internasional Universitas Jenderal Soedirman)Generasi Z yang lahir di era teknologi canggih dikenal mempunyai karakteristik yang individualis, kreatif, dan lebih suka bekerja sendiri. Kebanyakan dari generasi Z memiliki preferensi menjadi seorang wirausahawan. Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) melakukan berbagai strategi atau program untuk mencetak banyak lulusan agar menjadi wirausahawan. Namun, berbagai strategi yang dilakukan masih kurang diminati oleh mahasiswa Program Studi S1 Manajemen Reguler dan Internasional UNSOED selaku Generasi Z. Niat berwirausaha khususnya di kalangan generasi Z perlu ditingkatkan dalam hal ini. Tujuan dari penelitian kuantitatif ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi niat generasi Z untuk menjadi wirausaha. Variabel dalam penelitian ini yaitu struktur regulasi, struktur kognitif, dan lokus kendali internal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survey. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner. Populasi penelitian adalah Generasi Z Program Studi S1 Manajemen Reguler dan Internasional UNSOED berjumlah 847. Teknik pengambilan sampel menggunakan non probability sampling, yaitu dengan metode purposive sampling. Dengan perhitungan rumus Slovin ditetapkan sampel sejumlah 90. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur regulasi, struktur kognitif, dan lokus kendali internal berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat berwirausaha. Gen Z, born in the era of advanced technology, is known to have individualistic, creative characteristics and prefers to work alone. Most of Gen Z have a preference to become entrepreneurs. Jenderal Soedirman University (UNSOED) carries out various strategies or programs to produce many graduates to become entrepreneurs. However, the various strategies carried out are still less popular with UNSOED Regular and International Management Undergraduate Study Program students as Gen Z. Entrepreneurial intentions, especially among Gen Z, need to be increased in this regard. The aim of this quantitative research is to identify the factors that influence Gen Z's intention to become entrepreneurs. The variables in this research are regulative structure, cognitive structure, and internal locus of control. The method used in this research is the survey method. Data collection was carried out using a questionnaire. The research population was Gen Z from the UNSOED Regular and International Management Undergraduate Study Program, totaling 847. The sampling technique used non-probability sampling, namely the purposive sampling method. By calculating the Slovin formula, a sample size of 90 was determined. The research results show that regulatory structure, cognitive structure, and internal locus of control have a positive and significant effect on entrepreneurial intentions. Meanwhile, external locus of control has no effect on generation Z's entrepreneurial intentions.
4105943213F1B019014IMPLEMENTASI PROGRAM LAYANAN ANTAR KELUARGA SAMPAI
KE RUMAH (LAYAR KUSUMAH) SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN
PELAYANAN SOSIAL DI DINAS SOSIAL KOTA TASIKMALAYA
Program Layar Kusumah merupakan program yang berfokus pada
permasalahan keterbatasan aksesibilitas masyarakat miskin kepada layanan
kebutuhan dasar dan sistem sumber yang dapat meningkatkan keberfungsian sosial
masyarakat agar taraf kesejahteraan sosialnya meningkat serta dapat berusaha
keluar dari kemiskinan yang menjadi akar permasalahan kemiskinan di kota
Tasikmalaya.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif.
Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih mendalam implementasi
program Layar Kusumah yang dilakukan oleh Dinas Sosial Kota Tasikmalaya
sebagai upaya meningkatkan pelayanan sosial. Penelitian ini mengadopsi model
implementasi Ripley dan Franklin (1986). Maka, aspek implementasi yang menjadi
fokus peneltian ini adalah compliance (kepatuhan) dan what’s happening (apa yang
terjadi.
Hasil penelitian menunjukan implementasi yang telah dilakukan melalui
serangkaian program tersebut terlaksana dengan baik. Namun, terdapat beberapa
tujuan yang belum tercapai hal ini karena banyaknya aktor yang terlibat dimana
program Layar Kusumah dalam sumber daya manusia masih belum memadai,
anggaran yang kurang, sarana prasarana yang tidak lengkap, karena masalah krusial
program Layar Kusumah adalah program ini belum formal atau tidak tetdaftar pada
bidang rehabilitasi sosial, sehingga hal ini menyebabkan belum adanya dasar
hukum atau kebijakan yang mengatur tentang program Layar Kusumah.
The screen kusumah program is a program that focuses on the problem of
limited accessibility of poor people to basic needs services and resource systems
that can improve the social functioning of the community so that the level of social
welfare increases and they can try to get out of poverty which is the root of the
problem of poverty in the city of Tasikmalaya.
This research uses descriptive qualitative research methods. So this
research aims to find out more deeply about the implementation of the Layar
Kusumah program carried out by the Tasikmalaya City Social Service as an effort
to improve social services. This research adopts the implementation model of Ripley
and Franklin (1986). So, the implementation aspects that are the focus of this
research are compliance and what's happening.
The research results show that the implementation that has been carried out
through a series of programs has been carried out well. However, there are several
goals that have not been achieved, this is because there are many actors involved,
where the Layar Kusumah program's human resources are still inadequate, the
budget is lacking, the infrastructure is incomplete, because the crucial problem with
the Layar Kusumah program is that this program is not yet formal or not. registered
in the field of social rehabilitation, so this results in the absence of a legal basis or
policy that regulates the Layar Kusumah progra
4106044992G1A020022Hubungan Antara Indeks Massa Tubuh dan Tingkat Aktivitas Fisik dengan Kadar Hemoglobin Pada Siswi SMAN 1 Rawalo Kabupaten BanyumasLatar Belakang: Anemia meningkat baik di dunia maupun di Indonesia. Prevalensi anemia di Indonesia meningkat dari 37% di tahun 2013 menjadi 48,9% di tahun 2018. Data Dinas Kesehatan Banyumas tahun 2014 menunjukkan bahwa terdapat 5,1% remaja putri di SMA dengan anemia. Anemia merupakan kondisi saat kadar hemoglobin dibawah nilai normalnya yaitu 11,0 g/dL. Rendahnya kadar hemoglobin menyebabkan tidak tercukupinya kebutuhan fisiologis tubuh untuk penghantaran oksigen ke otak, otot, dan jaringan penting lainnya sehingga menimbulkan daya tahan menurun, mudah lemas, lapar, konsentrasi belajar terganggu, dan produktivitas kerja rendah. Kadar hemoglobin dapat dipengaruhi berbagai faktor. Meningkatkan pengetahuan mengenai anemia penting dalam usaha untuk meningkatkan kesehatan wanita, kesehatan anak, kinerja sekolah, produktivitas dan kehamilan yang lebih baik.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara indeks massa tubuh dan tingkat aktivitas fisik dengan kadar hemoglobin pada siswi SMAN 1 Rawalo Kabupaten Banyumas tahun ajaran 2023/2024.
Metode: Penelitian dilakukan secara cross sectional menggunakan data sekunder. Sampel berupa total sampel berjumlah 50 siswi. Indeks massa tubuh didapatkan dari pengukuran berat badan dan tinggi badan, tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner IPAQ, dan kadar hemoglobin diukur menggunakan metode Point of Care Test.
Hasil: Uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dengan kadar hemoglobin (p=0,989). Uji korelasi Pearson menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat akitivitas fisik dengan kadar hemoglobin (p=0,954).
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dan tingkat aktivitas fisik dengan kadar hemoglobin pada siswi SMAN 1 Rawalo Kabupaten Banyumas.
Background: The global prevalence of anemia is increasing, in Indonesia it increased from 37% in 2013 to 48,9% in 2018. Data from Banyumas Health Department in 2014 reported that there are 5,1% female adolescents with anemia. Anemia is a condition when the hemoglobin level is below the normal value of 11 g/dL. Low hemoglobin level cause the body's physiological needs for oxygen delivery to the brain, muscles and other important tissues to be inadequate, resulting in decreased endurance, weakness, hunger, impaired concentration on learning and low work productivity. Hemoglobin levels are related to various factors. Increasing knowledge about anemia becomes crucial in efforts to improve women’s health, children’s health, school performance, productivity and better pregnancies.
Objective: This study aims to determine the relationship between body mass index and physical activity levels with hemoglobin levels in female students at SMAN 1 Rawalo Banyumas for the 2023/2024 academic year.
Methods: The research used secondary data and was conducted cross-sectionally. The sample consisted of a total sample of 50 female students. Body mass index was obtained from measuring body weight and height, physical activity levels were measured using the IPAQ questionnaire, and hemoglobin levels were measured using the Point of Care Test method.
Results: Spearman's test shows that there is no correlations between body mass index and hemoglobin levels (p=0.989). Pearson's test shows that there is no correlations between physical activity levels and hemoglobin levels (p=0,954).
Conclusions: There are no correlations between body mass index and physical activity level with hemoglobin levels on female students at SMAN 1 Rawalo Banyumas.