Artikelilmiahs

Menampilkan 38.881-38.900 dari 48.949 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
3888144396F1F020021Kerja Sama Indonesia dan United Nations High Commissioner For Refugees (UNHCR) dalam Penanganan Pengungsi Afghanistan di Indonesia Pada Tahun 2017-2022Pengungsi dari Afghanistan telah menjadi tantangan kemanusiaan yang signifikan, dengan dampak yang luas terhadap negara-negara yang menjadi tujuan akhir, termasuk Indonesia. Penanganan pengungsi ini memerlukan kerja sama antarnegara dan organisasi internasional, salah satunya adalah antara Indonesia dan United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerja sama antara Indonesia dan UNHCR dalam penanganan pengungsi Afghanistan di Indonesia selama periode 2017-2022. Konsep humanitarian assistance dan teori rezim akan menjadi landasan untuk memahami dinamika kerja sama dalam konteks penanganan pengungsi. Melalui pendekatan ini, penelitian ini mengeksplorasi peran, kebijakan, dan strategi yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia dan UNHCR dalam menangani masalah pengungsi Afghanistan. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang mendalam tentang efektivitas kerja sama dalam penanganan pengungsi, serta implikasinya terhadap kebijakan nasional dan internasional di masa depan. Dengan demikian, kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan UNHCR dalam penanganan pengungsi Afghanistan di Indonesia merupakan aspek penting dalam upaya kemanusiaan global.Refugees from Afghanistan have become a significant humanitarian challenge, affecting a wide range of destination countries, including Indonesia. Handling these refugees requires cooperation between countries and international organizations, one of which is between Indonesia and the United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). This research aims to analyze the cooperation between Indonesia and UNHCR in handling Afghan refugees in Indonesia during the 2017-2022 period. The concept of humanitarian assistance and regime theory will be the basis for understanding the dynamics of cooperation in the context of handling refugees. Through this approach, this research explores the roles, policies, and strategies used by the Government of Indonesia and UNHCR in handling the Afghan refugee problem. The findings of this research are expected to provide deep insights into the effectiveness of cooperation in handling refugees, as well as its implications for future national and international policies. Thus, cooperation between the Government of Indonesia and UNHCR in handling Afghan refugees in Indonesia is an important aspect of global humanitarian efforts.
3888241444A1A019038OPTIMALISASI PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI USAHATANI MINA PADI DI DESA PANEMBANGAN KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMASUsahatani mina padi merupakan usahatani inovatif yaitu budidaya ikan dan padi di sawah secara bersamaan. Keterbatasan petani dalam memperoleh faktor produksi menuntut petani untuk menggunakan faktor produksi secara efisien. Oleh karena itu diperlukan optimalisasi untuk mengetahui kombinasi faktor produksi optimal sehingga petani mendapatkan keuntungan maksimum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kombinasi penggunaan faktor produksi usahatani mina padi yang optimal, menganalisis perbedaan keuntungan usahatani mina padi pada musim tanam pertama dengan usahatani mina padi pada musim tanam kedua. Pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Metode analisis menggunakan analisis keuntungan, analisis optimasi, dan uji beda. Keuntungan usahatani mina padi pada musim tanam pertama sebesar Rp6.115.340,00 dan pada musim tanam kedua sebesar Rp6.487.589,00. Hasil estimasi model optimasi menunjukkan bahwa penggunaan sumber daya pertanian belum optimal. Penggunaan faktor produksi belum optimal yang ditunjukkan dengan penggunaan input yang masih berlebih seperti benih ikan, benih padi, pupuk ponska, pupuk urea, pakan, dan tenaga kerja pada musim tanam pertama dan penggunaan modal, benih padi, pupuk ponska, pupuk urea, pakan, dan tenaga kerja pada musim tanam kedua. Terdapat perbedaan signifikan antara keuntungan petani mina padi pada musim tanam pertama dengan keuntungan petani mina padi padi pada musim tanam kedua.Mina padi farming is an innovative farming, namely the cultivation of fish and rice in paddy fields simultaneously. Limitations of farmers in obtaining factors of production require farmers to use factors of production efficiently. Therefore it is necessary to optimize to determine the optimal combination of production factors so that farmers get the maximum profit. This study aims to calculate the profits of mina padi farming, analyze the combination of the optimal use of production factors for mina padi farming, analyze the differences in the profits of mina padi farming in the first growing season with mina padi farming in the second growing season. Sampling using simple random sampling method. The analytical method uses profit analysis, optimization analysis, and different test. The profit of mina padi farming in the first planting season is Rp6,115,340.00 and in the second planting season is Rp6,487,589.00. The optimization model estimation result showed that the use of farming resource was not yet optimal. The use of production factors is not optimal as indicated by the excessive use of inputs such as capital, land, rice seeds, urea fertilizer, feed, and labor in the first growing season and the use of capital, land, ponska fertilizer, urea fertilizer, feed, and labor in the second growing season. There is a significant difference between the profits of mina padi farmers in the first growing season and the profits of mina padi farmers in the second growing season.
3888341445H1D016051PENGOLAHAN DATA TRACER STUDY DENGAN PERBANDINGAN
NAÏVE BAYES CLASSIFIER DAN ALGORITMA C4.5 PADA ALUMNI
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
Data mining, sebagai bagian dari Knowledge Data Discovery, menggunakan
metode seperti Naïve Bayes Classifier dan Decision Tree C4.5 untuk melakukan
prediksi lebih jauh menggunakan data yang telah ada. Organisasi pemerintahan,
seperti Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti)
memanfaatkan data dalam jumlah besar, salah satunya adalah dalam program
Tracer Study (TS) yang digunakan untuk melacak jejak alumni di pasar kerja.
Namun menurut Kemenristekdikti sendiri, penggunaan data Tracer Study masih
belum maksimal. Penelitian ini fokus pada TS di Fakultas Teknik Universitas
Jenderal Soedirman, dengan metode Data Mining, membandingkan Naïve Bayes
dan Decision Tree C4.5 dalam memprediksi relevansi jurusan dan pekerjaan
alumni, sebagai salah satu bentuk langkah awal dalam pemanfaatan data TS. Dari
hasil penelitian ini didapatkan akurasi sebesar 40% untuk prediksi menggunakan
Naive bayes serta akurasi yang sama, 40% untuk algoritma C4.5.
As a part of Knowledge Data Discovery, Data Mining uses methods such as Naive
bayes and Decision Tree C4.5 to make further predictions using the available
dataset. Government organizations, Ministry of Research, Technology, and
Higher Education (Kemenristekdikti) in particular, harness large amounts of
data, including the Tracer Study (TS) program, used to track alumni's paths in the
job market. However, according to Kemenristekdikti itself, the utilization of
Tracer Study data has not been maximized. This research focuses on TS within the
Faculty of Engineering at Jenderal Soedirman University, applying Data Mining
techniques, comparing Naïve Bayes and Decision Tree C4.5 to predict the
relevance of majors and alumni's occupations, as an initial step in utilizing TS
data. The results of this study revealed an accuracy of 40% for predictions using
Naive Bayes and an equal accuracy of 40% for the C4.5 algorithm.
3888446199I1E018009 NILAI KORELASI SCHOOL WELL-BEING ASPEK HAVING DAN ASPEK LOVING SMP NEGERI 1 SUMBANG TERHADAP PRESTASI OLAHRAGA SISWALatar Belakang: School well-being adalah suatu gambaran sekolah yang nyaman, aman dan menyenangkan, sebagai upaya mengembangan siswa dalam segi afektif, kognitif, dan psikomotorik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi school well-being aspek kondisi sekolah (having) dan aspek hubungan sosial (loving) terhadap prestasi olahraga siswa SMP Negeri 1 Sumbang.

Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif untuk menggambarkan situasi secara objektif dengan menggunakan angka. Instrumen kuesioner digunakan untuk memperoleh data dari sampel, jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 35 siswa yang tergabung dan aktif dalam ekstrakulikuler di sekolah. Analisis korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan school well-being aspek having dan aspek loving, serta untuk mengetahui korelasi digunakan uji pearson product moment.

Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukan kondisi school well-being aspek having dan aspek loving di SMP Negeri 1 Sumbang cukup ditunjukan dengan persentase aspek having 73% dan aspek loving 77% . Selain itu, nilai korelasi school well-being aspek having dan aspek loving dangan prestasi olahraga memiliki nilai korelasi 0,213.

Kesimpulan: Kondisi school well-being aspek having dan aspek loving di SMP Negeri 1 Sumbang memiliki kondisi yang cukup. Selain itu, antara school well-being aspek having dan aspek loving dengan prestasi olahraga siswa SMP Negeri 1 Sumbang memiliki korelasi.

Kata Kunci: School Well-Being, Aspek Having, Aspek Loving, Prestasi Olahraga
Background: School well-being is an image of a school that is comfortable, safe and fun, as an effort to develop students in affective, cognitive, and psychomotor aspects. The purpose of this study is to determine the correlation of school well-being aspects of school conditions (having) and aspects of social relations (loving) to the sports achievement of SMP Negeri 1 Sumbang students.

Methodology: This research is a descriptive quantitative research to describe the situation objectively using numbers. The questionnaire instrument was used to obtain data from the sample, the number of samples in this study was 35 students who were members and active in extracurricular activities at school. Correlation analysis was used to determine the relationship between school well-being aspects of having and loving, and to determine the correlation was used the Pearson product lemon test.

Research Results: The results of the study showed that the condition of school well-being, the having aspect and the loving aspect at SMPN 1 Sumbang was quite shown by the percentage of the having aspect 73% and the loving aspect 77%. In addition, the correlation value of school well-being, having and loving aspects with sports achievement has a significance value of 0.213.

Conclusion: The condition of school well-being, the having aspect and the loving aspect at SMP Negeri 1 Sumbang has sufficient conditions. In addition, there is a correlation between the school well-being aspect and the loving aspect with the sports achievements of SMP Negeri 1 Sumbang students.

Keywords: School Well-Being, Aspect Having, Aspect of Loving, Sports Achievement
3888541447F1B016030COLLABORATIVE GAVERNANCE DALAM PENGELOLAAN EKOWISATA
(Studi Kasus di Ekowisata Curug Telu Desa Karangsalam Baturraden)
Tujuan penelitian ini yakni mengetahui proses collaborative governance yang dilakukan dalam pengembangan ekowisata Curug Telu di Desa Karangsalam. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Sasaran penelitian ini yakni pemerintah melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Banyumas, pihak swasta yang terkait pengembangan wisata, Kelompok Sadar Wisata dan Masyarakat di Desa Karangsalam. Hasil penelitian menunjukkan beberapa poin kesimpulan. Aspek pertama proses tingkat formalitas mengenai kesepakatan yang terjalin dalam proses kolaborasi dan konstribusi kesepakatan dimana stakeholder sudah memahami pentingnya potensi Desa Karangsalam untuk dikembangkan dengan melakukan program seperti pelatihan pramuwisata, bahasa inggris praktis, dan pelatihan potensi kewirausahaan. Aspek kedua tingkat durasi tercermin dalam pengembangan fasilitas dan prasarana penunjang wisata serta akses transportasi. Aspek ketiga yaitu tingkat fokus terwujud dalam Pemberian pemahaman kepariwisataan dan Sapta Pesona yang dilakukan oleh tiap-tiap stakeholder yang diwaikili oleh Kelompok Sadar Wisata Tirta Kamulyan. Aspek keempat yaitu tingkat institusional memanfaatkan situs media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Youtube. Penggunaan media sosial bertujuan suntuk publikasi sebagai jalan efektif. Selain itu, dalam sistem pengelolaan dan pendanaannya, Kelompok Sadar Wisata dikelola secara swadaya dengan dibantu Dinas Pariwisata.The purpose of this research is to find out the process of collaborative governance carried out in the development of Curug Telu. The research method used is qualitative with a descriptive approach. The target of this research is the government through the Banyumas Regency Tourism Office, private parties related to tourism development, Tourism Awareness Groups and Communities in Karangsalam Village. The results of the study show several points of conclusion. The first aspect is the formality level process regarding agreements that are established in the collaboration process and agreement contributions where stakeholders already understand the importance of Karangsalam Village's potential for development by carrying out programs such as tour guide training, practical English, and entrepreneurial potential training. The second aspect of the duration level is reflected in the development of tourism supporting facilities and infrastructure as well as transportation access. Focus manifested in the provision of understanding of tourism and Sapta Pesona which is carried out by each stakeholder represented by the Tirta Kamulyan Tourism Awareness Group. The fourth aspect is the institutional level of utilizing social media sites such as Facebook, Twitter and Youtube. The use of social media is aimed at all publications. In addition, in its management and funding system, the Tirta Kamulyan Awareness Group is managed independently with the assistance of the Tourism Office.
3888641448J1C017033Representasi Maskulinitas pada Anime Grand BluePenelitian ini berjudul “Representasi Maskulinitas pada Anime Grand Blue”. Penelitian ini membahas mendeskripsikan tokoh tentang gambaran gender maskulinitas seseorang yang ada dalam bentuk anime. Jenis penelitian merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data yang dikumpulkan berupa anime yang berjudul “Grand Blue” karya Kenji Inoue yang diadaptasi menjadi anime oleh studio Zero-G. Penelitian ini menggunakan teori maskulinitas dari John Beynon. Data yang disajikan dalam bentuk dekskriptif serta didukung dengan percakapan dialog dan potongan screenshoot. Hasil penelitian menemukan dalam anime Grand Blue tokoh Kitahara Iori berdasarkan teori maskulinitas John Beynnon memiliki karakter sifat maskulinitas tradisional yaitu; 1) No sissy stuff, 2) Be a big wheel, 3) Be a sturdy oak, dan 4) Give em hell. Selain itu terdapat pula data sifat maskulinitas new man yang ada pada tokoh Kitahara Iori dengan memenuhi poin ciri-ciri sebagai berikut; 1) Memiliki tubuh yang fit, sehat dan maskuler. 2) Sangat ambisius, memiliki daya saing dan pencapaian yang tinggi untuk menunjukan kesuksesannya. 3) Suka menikmati waktu luang kadang playboy dan orang asyik dalam berpesta. 4) Pemberani, suka berpetualang dan mencoba hal-hal baru. Kesimpulan dari data yang diperoleh ditemukan bahwa dalam teori maskulinitas John Beynon terdapat tiga jenis tipe maskulinitas yaitu tradisional, new man, dan metroseksual. Pada tokoh Kitahara Iori sifat maskulinitas yang terbentuk adalah sifat maskulinitas tradisional dan new man.This research is entitled “Representation of Masculinity in the Grand Blue Anime”. This research discusses describing characters about the gender image of a person’s masculinity that exists in the form of anime. The type of research is qualitative descriptive research. The source of data collected is an anime entitled “Grand Blue” by kenji Inoue which was adapted into anime by Zero-G studio. This research uses John Beynon’s theory of masculinity. The data is presented in descriptive form and supported by dialog conversations and screenshoots. The results of the study found that in anime Grand Blue, the character Kitahara Iori based on John Beynon’s Masculinity theory has traditional masculinity traits, namely; 1) No sissy stuff, 2) Be a big wheel, 3) Be a sturdy oak, 4) and Give em hell. In addition, there is also data on the nature of new man masculinity in Kitahara Iori’s character by fulfilling the following characteristics; 1) Having a fit body, 2) Very ambitious, has high competitiveness and achievement to show his success. 3) Likes to enjoy leisure sometimes be a playboy and a fun person in partying. 4) and Brave, adventurous and trying new things. The conclusion from the data obtained found that in John Beynon’s theory of masculinity there are thre types of masculinity, namely traditional, new man, and metrosexual. In Kitahara Iori’s character, the masculinity traits formed are traditional masculinity and new man masculinity.
3888741449J1A019003Metrosexual Masculinity in the Trend of Men Using SkincareWanita cenderung menggunakan produk kecantikan atau perawatan tubuh, namun kini pria juga menggunakan produk perawatan tubuh. Prioritas masyarakat modern terhadap penampilan telah mendorong pria untuk mulai menggunakan produk perawatan kulit. Pria yang memperhatikan penampilannya disebut metroseksual. Penggunaan perawatan kulit oleh pria menjadi aspek yang menarik dari penelitian ini karena perawatan kulit secara tradisional diasosiasikan dengan wanita. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui maskulinitas metroseksual dalam praktik konsumsi perawatan kulit oleh pria. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data penelitian diperoleh dari kuesioner dengan lima responden. Kerangka teoritis utama untuk mengkaji data dalam penelitian ini adalah konsumsi oleh Sassatelli (2007) dan maskulinitas metroseksual oleh Hall (2014). Empat dari lima responden adalah pria metroseksual yang menunjukkan karakteristik metroseksual seperti kecanggihan, feminitas, dan heteroseksualitas. Menurut teori Hall, hanya satu responden yang tidak memenuhi karakteristik metroseksual. Berdasarkan data, peneliti menemukan bahwa identitas metroseksual dipengaruhi oleh seberapa sering mereka mengonsumsi perawatan kulit dalam aktivitas sehari-hari.Women tend to use beauty or body care products, but now men also use body care products. Modern society's priority to appearance has pushed men to begin using skincare products. Men who pay attention to their appearance are called metrosexuals. The use of skincare by men is interesting aspect of this study because skincare has traditionally been associated with women. Therefore, this study aims to discover metrosexual masculinity in the practice of skincare consumption by men. This research used qualitative methods. The research data were obtained from questionnaires with five respondents. The primary theoretical frameworks for examining the data in this research are consumption by Sassatelli (2007) and metrosexual masculinities by Hall (2014). Four out of five respondents are metrosexual guys who show metrosexual characteristics such as sophistication, femininity, and heterosexuality. According to Hall's theory, only one respondent did not meet the metrosexual characteristics. Based on the data, researchers have discovered that metrosexual identity is influenced by how they much skincare they consume skincare in their daily activities.
3888841450F1D019068ANALISIS PERAN AKTOR DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA DI DESA KETENGERPariwisata di pedesaan (agrowisata) dianggap sebagai alat untuk mengatasi masalah yang dihadapi penduduk desa seperti pengangguran yang meningkat, penurunan pendapatan pemerintah daerah dan petani, penurunan standar hidup dan kekurangan infrastruktur yang memadai. Ekowisata harus memungkinkan kontak dengan alam dan masyarakat lokal, yang manfaatnya harus diprioritaskan lebih tinggi daripada pendatang baru di desa Wisata Ketenger. Hal ini juga diharapkan untuk meminimalkan kerugian sosial dan ekologis, dan juga memastikan kontak yang intensif dengan alam. Perspektif ini secara sah dikaitkan dengan pariwisata berkelanjutan. Namun dasar untuk keberlanjutan bukanlah perlindungan lingkungan (sosial dan alam), tetapi memastikan (juga dalam arti ekonomi) kondisi untuk pembangunan sosial serta pertumbuhan ekonomi. Pembangunan masyarakat lokal membutuhkan antara lain tingkat sumber daya ekonomi yang sesuai, yang seringkai tidak dapat diproduksi dengan maksimal. Penelitian ini dilandasi oleh perspektif pengembangan pariwisata, dimana perspektif ini berpandangan bahwa keberhasilan dalam pengembangan pariwisata di suatu daerah sangat tergantung pada kemampuan para aktor dalam mengintegrasikan kedua sisi tersebut secara berimbang ke dalam sebuah rencana pengembangan pariwisata.Riset bertujuan untuk lebih mengetahui peran serta dari pihak terkait yang dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan dan pelestarian wisata di Desa Ketenger. Metode penelitian kualitatif untuk mengidentifikasikan peran aktor dalam pengembangan pariwisata Desa Wisata Ketenger, yang selanjutnya dapat dideskripsikan bahwa Lembaga Masyarakat Desa Hutan sangat berperan terhadap berkembangnya wisata di Desa Ketenger. Tourism in the countryside (agritourism) is considered a tool to address the villagers' problems, such as rising unemployment, declining local government and farmer incomes, declining living standards, and lack of adequate infrastructure. Ecotourism should allow contact with nature and local communities, whose benefits should prioritize above newcomers to Ketenger Tourism Village. Furthermore, to minimize social and ecological losses and ensure intensive contact with nature. This perspective is legitimately associated with sustainable tourism. Nevertheless, the basis for sustainability is not protecting the (social and natural) environment but ensuring (also in an economic sense) the conditions for social development and economic growth. The development of local communities requires, among other things, an appropriate level of economic resources, which as a frame, cannot be produced to their full potential. This research is based on the perspective of tourism development, where this perspective believes that success in tourism development in an area is highly dependent on the ability of actors to integrate the two sides in a balanced manner into a tourism development plan. Hence, the research aims to discover more about the participation of related parties that can contribute to developing and preserving tourism in Ketenger Village. Otherwise, qualitative research methods to identify the role of actors in the development of tourism in Ketenger Tourism Village, which can then be described as the Forest Village Community Organization playing a significant role in tourism development in Ketenger Village.
3888941451F1A019061Analisis Vonis Hukum pada Kasus Kekerasan Seksual dalam Berita Online www.liputan6.com Tahun 2019-2021Artikel ini berjudul "Analisis Vonis Hukum pada Kasus Kekerasan Seksual dalam Berita Online www.liputan6.com Tahun 2019-2021". Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan ragam vonis hukum beserta dengan faktor yang meringankan maupun memberatkan vonis hukum pada kasus kekerasan seksual yang dilihat melalui media surat kabar. Penelitian dilakukan dengan metode analisis isi pada berita daring www.liputan6.com periode tahun 2019 sampai dengan tahun 2021. Sampel pada penelitian ini diperoleh melalui teknik sampling jenuh dengan jumlah sampel sebesar 59. Pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi pada media surat kabar. Analisis data pada penelitian ini berupa analisis data deskriptif yang kemudian diolah menjadi distribusi frekuensi dan disajikan dengan diagram batang atau phi chart. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa ragam vonis hukum yang paling banyak diberikan pada pelaku kekerasan seksual yang ditampilkan melalui berita daring www.liputan6.com tahun 2019-2021 yaitu pemidanaan dengan persentase sebesar 79.6%. Kemudian, pada faktor yang meringankan atau memberatkan vonis hukum pada pelaku kekerasan seksual yang ditampilkan melalui berita daring www.liputan6.com tahun 2019-2021, hasil menunjukkan bahwa stratifikasi sosial yang dimiliki oleh pelaku kekerasan seksual paling banyak yaitu stratifikasi sosial kelas atas dengan persentase sebesar 50.8%.This article is entitled "Analysis of Legal Sentences in Cases of Sexual Violence in Online News www.liputan6.com for 2019-2021". The purpose of this study is to describe the various legal sentences along with mitigating and aggravating factors in legal sentences in cases of sexual violence seen through the newspaper media. The research was conducted using the content analysis method on online news www.liputan6.com for the period 2019 to 2021. The sample in this study was obtained through a saturated sampling technique with a total sample of 59. Data collection was carried out by means of a documentation study on newspaper media. Data analysis in this study was in the form of descriptive data analysis which was then processed into a frequency distribution and presented with a bar chart or phi chart. The results of this study indicate that the most common types of legal sentences given to perpetrators of sexual violence are shown through the online news www.liputan6.com in 2019-2021, namely punishment with a percentage of 79.6%. Then, on the mitigating or aggravating factors in legal sentences for perpetrators of sexual violence which are displayed through the online news www.liputan6.com in 2019-2021, the results show that the most social stratification owned by perpetrators of sexual violence is upper class social stratification with a percentage of 50.8%.
3889041453F2A021008ANALISIS ASAS PENGELOLAAN KEUANGAN DESA PADA PEMERINTAHAN DESA DI KABUPATEN CILACAPRINGKASAN

Latar belakang dari penelitian ini adalah Pemerintahan Desa harus menerapkan asas pengelolaan keuangan desa dari proses perencanaan sampai pelaporan sehingga proses pengawasan dan pemeriksaan pertanggungjawaban keuangan Desa juga akan lebih efektif. Asas pengelolaan keuangan desa yang diterapkan menjadi harapan untuk mengatasi permasalahan yang ada dalam pengelolaan keuangan Desa. Proses pengelolaan keuangan Desa seringkali ditemukan berbagai macam masalah yaitu efektivitas dan efisiensi, prioritas, kebocoran, dan penyimpangan serta rendahnya profesionalisme. Pengelolaan keuangan yang baik dapat berpengaruh secara signifikan terhadap pengelolaan kepemerintahan Desa. Maka perlu diterapkan asas pengelolaan keuangan Desa yang terdiri dari transparansi, akuntabilitas, partisipasi masyarakat, tertib dan disiplin anggaran. Pemerintah Desa akan berjalan dengan lancar asalkan pengelolaan keuangan yang dilaksanakan dapat berjalan sesuai dengan asas pengelolaan keuangan Desa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengkaji asas pengelolaan keuangan Desa pada Pemerintahan Desa di Kabupaten Cilacap.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah pemerintah desa atau perangkat desa yang ada di Desa Glempang dan Desa Karangreja Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap. Berdasarkan hal tersebut peneliti memakai metode purposive sampling dalam hal penentuan sampling melalui informan kunci. Metode pengumpulan data dilakukan untuk mendapat data primer dan sekunder. Tahapan ini dilakukan melalui wawancara dengan informan kunci. Pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi dan observasi. Analisa data dilakukan dengan menginput dan mengolah hasil survey lapangan sesuai parameter yang digunakan.
Hasil Penelitian ini menunjukan bahwa dalam pelaksanaan asas pengelolaan keuangan di Desa Glempang masih belum semua sesuai dengan asas yang berlaku. Dari ke empat asas pengelolaan keuangan desa yang memenuhi yaitu asas transparansi, partisipasi masyarakat, tertib dan disiplin anggaran. Sedangkan asas akuntabilitas di Desa Glempang belum terpenuhi karena pendapatan yang besar menyebabkan kegiatan yang banyak menyebabkan laporan pertanggungjawaban mengalami banyak perubahan sehingga berdampak kurang akuntabelnya laporan realisasi. Di Desa Karangreja juga masih belum memenuhi asas yang berlaku. Dari ke empat asas pengelolaan keuangan desa yang memenuhi yaitu asas akuntabilitas, partisipasi masyarakat, tertib dan disiplin anggaran. Sedangkan asas transparansi di Desa Karangreja belum terpenuhi karena sumber daya manusia yang kurang memadai dan pendapatan yang kecil menyebabkan kurangnya fasilitas sarana prasarana yang memadai, sehingga tidak terpampang banner realisasi APBDes yang merupakan sarana transparansi kepada masyarakat.
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu dalam pelaksanaan asas pengelolaan keuangan Desa pada Pemerintah Desa di Kabupaten Cilacap sudah cukup baik walaupun masih belum semua asas berlaku. Upaya yang dilakukan dalam meningkatkan asas pengelolaan keuangan Desa seperti, melakukan pelatihan keuangan Desa secara rutin, melakukan penyuluhan sehingga aparat desa dapat menyelesaikan dokumen dengan efektif dan efisien, dan memperbaiki manajemen waktu dan kualitas SDM perangkat Desa agar selalu mengikuti perkembangan IT.
Kata Kunci : Transparansi, Akuntabilitas, Partisipasi Masyarakat, Tertib dan Disiplin Anggaran, Pengelolaan Keuangan Desa
SUMMARY

The ground of this research is that the Village Government must apply the principles of village financial management from the planning process to reporting so that monitoring and examining Village financial accountability will also be more effective. The principle of village financial management that is applied is the hope of overcoming existing problems in village financial management. The Village financial management process often needs to be addressed: effectiveness and efficiency, prioritization, leakage, irregularities, and low professionalism. Sound financial management can have a significant effect on the management of village governance. Then it is necessary to apply the principles of village financial management, which consist of transparency, accountability, community participation, order, and budget discipline. The Village Government will run smoothly as long as the financial management can run according to the principles of Village financial management. This study aimed to analyze and study the principles of village financial management in village administration in the Cilacap district.
The method used in this research is descriptive with a qualitative approach. The subjects of this study were the village government or village officials in Glempang Village and Karangreja Village, Maos District, Cilacap Regency. Based on this, the researcher used a purposive sampling method to determine sampling through critical informants. Data collection methods are carried out to obtain primary and secondary data. This stage is carried out through interviews with key informants. Data collection is done by documentation and observation. Data were analyzed by inputting and processing field survey results according to the parameters.
The results of this study indicate that in implementing the principles of financial management in Glempang Village, not all of them follow the applicable principles. The four principles of village financial management fulfill the principles of transparency, community participation, order, and budget discipline. Meanwhile, the principle of accountability in Glempang Village has yet to be fulfilled because the significant income causes a lot of activities that cause the accountability report to experience many changes in order realization the report is less accountable. In Karangreja Village, it still needs to meet the applicable principles. The four principles of village financial management fulfill the principles of accountability, community participation, order, and budget discipline. Meanwhile, the principle of transparency in Karangreja Village has not been fulfilled due to inadequate human resources and minor income, causing a lack of adequate infrastructure facilities, so the banner for realizing the APBDes is not displayed, which is a means of transparency to the community.
This study concludes that implementing the principles of village financial management in the village government in the Cilacap district is quite good, although not all principles apply. Efforts have been made to improve the principles of village financial management, such as conducting regular village financial training, conducting counseling so that village officials can complete documents effectively and efficiently, and improving time management and the quality of village human resources. Hence, they are always up-to-date on IT developments.
Keywords: Transparency, Accountability, Community Participation, Order and Budget Dicipline, The Village Financial Management
3889141456I1E019030Hubungan Komponen Kondisi Fisik dan Antropometri Terhadap Akurasi Shooting Peserta Ekstrakurikuler Futsal Putra SMP Negeri 1 SumbangHUBUNGAN KOMPONEN KONDISI FISIK DAN ANTROPOMETRI
TERHADAP AKURASI SHOOTING PESERTA EKSTRAKURIKULER
FUTSAL PUTRA SMP NEGERI 1 SUMBANG

Latar Belakang: Futsal memiliki beberapa teknik dasar, salah satunya shooting yang membutuhkan
beberapa komponen fisik dan antropometri sebagai penunjang keberhasilan melakukan tendangan
shooting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara power otot tungkai, kekuatan
otot perut, koordinasi mata-kaki, keseimbangan, dan panjang tungkai terhadap akurasi shooting pada
permainan futsal.
Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional untuk
mengetahui hubungan variabel bebas dengan terikat. Teknik sampling pada penelitian ini yaitu total
sampling dengan jumlah 30 peserta ekstrakurikuler futsal putra SMP Negeri 1 Sumbang yang
dilaksanakan pada bulan Juni 2023. Analisis data menggunakan uji korelasi product moment,
korelasi ganda, sumbangan efektif dan relatif.
Hasil Penelitian: Pengambilan keputusan uji korelasi adalah jika diperoleh nilai signifikansi lebih
kecil dari 0,05 (sig. < 0,05) menunjukan terdapat hubungan. Berdasarkan hasil analisis product
moment, diperoleh nilai signifikansi hubungan (X1) dengan (Y) sebesar 0,019, (X2) dengan (Y)
sebesar 0,002, (X3) dengan (Y) sebesar 0,001, (X4) dengan (Y) sebesar 0,003, dan (X5) dengan (Y)
sebesar 0,000. Korelasi ganda diperoleh nilai sebesar 0,000. Sumbangan Efektif (X1) 6,97%, (X2)
19,40%, (X3) 18,69%, (X4) -3,73% dan (X5) 17,09%. Sumbangan Relatif (X1) 11,93%, (X2)
33,21%, (X3) 32,01%, (X4) -6,39%, dan (X5) 29,27%.
Kesimpulan: Hasil analisis data menunjukkan bahwa power otot tungkai, kekuatan otot perut,
koordinasi mata-kaki, keseimbangan, dan panjang tungkai memiliki hubungan yang signifikan
dengan akurasi shooting.
Kata Kunci: Futsal, Komponen kondisi fisik, Antropometri, Akurasi Shooting.
Abstract
THE CORRELATIONOF COMPONENTS OF PHYSICAL AND ANTHROPOMETRIC CONDITIONS
AGAINST THE SHOOTING ACCURACY OF EXTRACURRICULAR PARTICIPANTS
MEN'S FUTSAL SMP NEGERI 1 SUMBANG

Background: Futsal has several basic techniques, one of which is shooting which requires several
physical and anthropometric components to support the success of shooting kicks. This study aims
to determine the relationship between leg muscle power, abdominal muscle strength, eye-foot
coordination, balance, and leg length on shooting accuracy in futsal games.
Methodology: This research is a quantitative research with a correlational approach to determine
the relationship between independent and bound variables. The sampling technique in this study is
a total sampling with 30 extracurricular male participants of SMP Negeri 1 Sumbang which will be
held in June 2023. Data analysis using product moment correlation test, multiple correlation,
effective and relative contribution.
Research Results: Correlation test decision making is if a significance value is obtained smaller
than 0.05 (sig. < 0.05) shows a relationship. Based on the results of product moment analysis, the
significance value of the relationship (X1) with (Y) of 0.019, (X2) with (Y) of 0.002, (X3) with (Y)
of 0.001, (X4) with (Y) of 0.003, and (X5) with (Y) of 0.000. Double correlation obtained a value
of 0.000. Effective Contribution (X1) 6.97%, (X2) 19.40%, (X3) 18.69%, (X4) -3.73% and (X5)
17.09%. Relative Contribution (X1) 11.93%, (X2) 33.21%, (X3) 32.01%, (X4) -6.39%, and (X5)
29.27%.
Conclusion: Data analysis shows that leg muscle power, abdominal muscle strength, eye-foot
coordination, balance, and leg length have a significant relationship with shooting accuracy.
Keywords: Futsal, Physical condition component, Anthropometry, Shooting Accuracy
3889241455I1E019037Pengaruh Latihan Pliometrik Stride Jump Crossover dan Lateral Bound Terhadap Power Otot TungkaiLatar Belakang: Power adalah salah satu kondisi fisik yang dibutuhkan hampir disetiap cabang
olahraga. Power otot tungkai sangat penting untuk dilatih karena tungkai merupakan anggota tubuh
dominan yang berfungsi sebagai penopang berat badan dan menjadi tumpuan pada saat melakukan
aktifitas seperti melompat, berjalan, berlari dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh latihan pliometrik stride jump crossover dan lateral bound terhadap power
otot tungkai.
Metodologi: Desain penelitian ini menggunakan “Two Group Pre-test, Post-test Design”. Sampel
dalam penelitian ini berjumlah 20 pemain bulutangkis PB. Bintang Perkasa Brebes. Teknik analisis
data menggunakan uji-t dengan nilai signifikansi <0.05 yang dibantu dengan aplikasi SPSS versi 25.
Hasil Penelitian: Hasil analisis data menggunakan uji paired sample t-test kelompok treatment
stride jump crossover yaitu nilai signifikansi sebesar 0.004 dan kelompok treatment laterl bound
sebesar 0.001. Kemudian, hasil analisis menggunakan uji independent sample t-test nilai signfikansi
sebesar 0.786.
Kesimpulan: Terdapat pengaruh signifikan dari latihan stride jump crossover terhadap power otot
tungkai. Terdapat pengaruh signifikan dari latihan lateral bound terhadap power otot tungkai. Tidak
terdapat perbedaaan yang signifikan antara kelompok treatment stride jump crossover dan lateral
bound terhadap power otot tungkai.
Kata Kunci: Latihan, pliometrik, power, otot, tungkai.
1Mahasiswa Jurusan Pendidikan Jasmani FIKes Universitas Jenderal Soedirman.
2Dosen Jurusan Pendidikan Jasmani FIKes Universitas Jenderal Soedirman.
Background: Power is one of the physical conditions needed in almost every sport. Leg muscle
power is very important to train because the legs are the dominant limbs that function as weight
support and become a fulcrum when doing activities such as jumping, walking, running and so
on. This study aims to determine the effect of pliometric stride jump crossover and lateral
bound exercises on leg muscle power.
Methodology: This research design uses "Two Group Pre-test, Post-test Design". The sample in this
study amounted to 20 PB badminton players Bintang Perkasa Brebes. The data analysis technique
uses a t-test with a significance value of <0.05 assisted by the SPSS application version 25.
Research Results: The results of data analysis using paired sample t-test stride jump
crossover treatment group are significance value of 0.004 and groupk treatment laterl
bound of 0.001. Then,the result of the analysis using the independent sample t-test signficance value
of 0.786.
Conclusion: There is a significant effect of stride jump crossover training on leg muscle power.
There is a significant effect of lateral bound exercise on leg muscle power. Therewas no significant
difference between the stride jump crossover and lateral bound treatment groups on leg
muscle power.
Keywords: Exercise, pliometric, power, muscle, limb.
1 Students of the Department of Physical Education, FIKes, Jenderal Soedirman University.
2 Lecturer of the Department of Physical Education, FIKes, Jenderal Sudirman University.
3889341457I1A019079FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERSEPSI MAHASISWA S1 FIKES TERHADAP KEKERASAN SEKSUAL
DI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
Latar Belakang: Kekerasan seksual mengancam perguruan tinggi dan perguruan tinggi berada di posisi ketiga sebagai lokasi rawan kekerasan seksual (15%). Berdasarkan laporan, mahasiswa Unsoed berpersepsi terdapat risiko terjadi kekerasan maupun pelecehan seksual (32,7%). Hal ini berdampak keamanan civitas akademika baik dalam jangka pendek maupun panjang pada fisik, mental, sosial, dan kerugian ekonomi.Oleh karena itu, pemaparan pengetahuan mengenai kekerasan seksual telah dilakukan kepada mahasiswa/i khususnya pada mahasiswa angkatan 2022 sebagai bentuk pencegahan dan penanganan merujuk dari Permendikbudristek No. 30 Tahun 2021. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi mahasiswa SI Fikes terhadap kekerasan seksual.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan pendekatan Kuntitatif dengan desain penelitian cross sectional, dengan populasi mahasiswa SI FIkes angkatan tahun 2022 jurusan Kesehatan Masyarakat, Keperawatan, PJKR di Universitas Jenderal Soedirman. Jumlah sampel 100 orang menggunakan teknik cluster sampling. Penggumpulan data menggunakan google form. Analisis menggunakan uji chi square.
Hasil Penelitian: Terdapat hubungan antara pengetahuan (p= 0,000); riwayat paparan kekerasan seksual (p=0,015); akses media sosial dan internet (p=0,000) dengan persepsi kekerasan seksual mahasiswa. Tidak ada hubungan antara jenis kelamin (p=0,536) dan persepsi intraksi relasi kuasa (p=0,785)
Kesimpulan: Faktor-faktor yang berhubungan pada persepsi kekerasan seksual pada mahasiswa yang berhubungan adalah faktor pengetahuan, paparan kekerasan seksual dan akses media sosial dan internet. Peningkatan pengetahuan kekerasan seksual dapat dilakukan melalui media baik secara online maupun cetak supaya kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi dapat dicegah.
Background: Sexual violence threatens universities and universities are in third position as locations prone to sexual violence (15%). Based on reports, Unsoed students perceive that there is a risk of violence or sexual harassment (32.7%). This has an impact on the security of the academic community as well as in the short and long term on physical, mental, social, and economic losses. Therefore, the presentation of knowledge about sexual violence has been carried out to students, especially to students class of 2022 as a form of prevention and treatment referring to Permendikbudristek No. 30 of 2021 about prevention and response to sexual violence in universities. This study aims to find out the factors related to the perceptions of SI Fikes students towards sexual violence.
Methods: This research used quantitative approach with a cross-sectional research, with a population of SI FIkes class of 2022 students majoring in Public Health, Nursing, Physical Education Health and Recreation at Jenderal Soedirman University. The total sample is 100 people using cluster sampling technique. Data collection using google form. Data were analyzed using the chi square test.
Results: Result indicate student with knowledge (p-value = 0.000); History of Exposure to Sexual Violence (p-value = 0.015); access of Social Media and Internet (p-value = 0.000) have an understanding of student sexual violence. There is no relationship between gender (p=0.536) and perception of the interaction of power relations (p=0.785)
Conclusion: Factors related to perceptions of sexual violence among college students are knowledge, exposure to sexual violence and use of social media and the internet. Increasing knowledge of sexual violence can be done through media both online and in print so that sexual violence in the college environment can be prevented.
3889445172L1C019048Analisis Kesesuaian Kualitas Perairan untuk Budidaya Kerang Hotate (Patinopecten yessoensis) di Teluk Funka Hokkaido JepangTeluk Funka merupakan salah satu kawasan penting sentra produksi dan produktif untuk pengembangan budidaya kerang hotate (Patinopecten yessoensis). Keberhasilan budidaya erat kaitannya dengan kondisi perairan yang baik untuk menunjang kelangsungan hidup kerang. Tingkat kesesuaian perairan untuk budidaya sangat diperlukan sebagai dasar pengembangan keberhasilan usaha budidaya yang berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai parameter kualitas air dan kesesuaian kualitas perairan untuk budidaya kerang hotate serta mengetahui tingkat produksi budidaya kerang hotate di perairan Teluk Funka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum parameter kualitas air memperoleh nilai yang berada pada kisaran toleransi untuk budidaya kerang hotate. Kisaran nilai yang sesuai untuk parameter fisika, suhu 7,6–13,1°C, TDS 513,9–733 mg/l, kedalaman 28,0–30,4 m, dan arus 1,2–6,8 cm/s. Parameter kimia, salinitas berkisar antara 33–34 ppt, dan pH 7,8–8. Paramter biologi dengan kelimpahan fitoplankton berkisar 15.149–17.060 ind/l, keanekaragaman 2,19–2,91 (sedang), keseragaman 0,58–0,77 (sedang) dan dominansi 0,08–0,20 (rendah). Secara umum kualitas perairan di Teluk Funka sesuai untuk lokasi budidaya kerang hotate. Selanjutnya, terdapat peningkatan produksi budidaya kerang hotate sekitar 2% (7,07 ton) selama 5 tahun (2019–2023).Funka Bay is one of the important production centers and productive areas for the development of hotate clam (Patinopecten yessoensis) aquaculture. The success of aquaculture is closely related to good water conditions to support the survival of clams. The level of water suitability for aquaculture is needed as the basis for the development of a successful sustainable aquaculture business. The purpose of this study was to determine the value of water quality parameters and the suitability of water quality for hotate clam cultivation and determine the level of production of hotate clam cultivation in the waters of Funka Bay. The results showed that in general, water quality parameters obtained values that were in the tolerance range for hotate clam cultivation. The range of suitable values for physical parameters, temperature 7.6-13.1°C, TDS 513.9-733 mg/l, depth 28.0-30.4 m, and current 1.2-6.8 cm/s. Chemical parameters, salinity ranged from 33-34 ppt, and pH 7.8-8. Biological parameters with phytoplankton abundance ranging from 15,149-17,060 ind/l, diversity 2.19-2.91 (medium), uniformity 0.58-0.77 (medium) and dominance 0.08-0.20 (low). In general, the water quality in Funka Bay is suitable for hotate mussel farming. Furthermore, there is an increase in hotate clam aquaculture production of about 2% (7.07 tons) over 5 years (2019-2023).
3889541458I1A019104DUKUNGAN ORANG TUA TERHADAP KESIAPAN MENIKAH PADA TUNAGRAHITA USIA EMERGING ADULTHOOD DI KECAMATAN MANDIRAJA KABUPATEN BANJARNEGARALatar Belakang: Pernikahan perlu dipersiapkan agar individu dapat menjalankan peran serta tugas sebagai pasangan dan orang tua dengan baik. Perkawinan yang dilakukan tanpa persiapan dapat menimbulkan risiko dan tantangan. Semua individu berhak untuk melakukan perkawinan, tidak terkecuali penyandang tunagrahita. Keterbatasan yang dimiliki oleh penyandang tunagrahita menyebabkan peranan orang tua dalam kesiapan perkawinan pada individu tersebut menjadi lebih penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dukungan sosial orang tua dalam kesiapan menikah pada tunagrahita usia emerging adulthood.
Metodologi: Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subjek penelitian berjumlah 6 informan utama dan 8 informan pendukung yang diperoleh menggunakan purposive sampling dan snowball sampling. Analisis data kualitatif menggunakan analisis tematik.
Hasil Penelitian: Hasil menunjukkan bahwa dukungan orang tua mengenai kesiapan menikah kepada anak tunagrahita, yaitu dukungan informatif berupa pemberian informasi mengenai kesiapan menikah seperti kesiapan finansial dan nasihat untuk menjaga pergaulan, serta diskusi mengenai keinginan bekerja dan pendidikan seksual. Dukungan emosional berupa rasa kepedulian terhadap kondisi kesiapan menikah. Dukungan penghargaan, yaitu dalam bentuk pujian serta hadiah berupa uang sebagai apresiasi atas kemandirian yang dilakukan anak. Terakhir, dukungan instrumental berupa penyediaan biaya uang saku dan fasilitas dalam bentuk melatih skill di tempat pelatihan, di tempat usaha, atau di rumah serta membantu anak dalam mencari pekerjaan.
Kesimpulan: Pemberian dukungan orang tua terhadap kesiapan menikah anak tunagrahita dalam bentuk dukungan informatif, emosional, penghargaan, dan instrumental. Dukungan sosial tersebut perlu diberikan kepada anak berkebutuhan khusus selama orang tua mampu memberikan dukugan tersebut agar anak mampu melakukan tugas perkembangannya di fase dewasa.
Background: Marriage needs to be prepared so that individuals can fulfill their responsibilities as spouses and parents. Lack of planning can pose risks and challenges, especially if they are not properly considered. All individuals have the right to marry, including persons with disabilities. The limitations possessed by people with Intellectual Disabilities (ID) make the role of parents in preparing these individuals for marriage more important. This study aims to find out how much social support parents have for marriage readiness among adults with ID.
Methodology: The research was conducted using a qualitative research design with a phenomenological approach. The research subjects consisted of six main informants and eight supporting informants, who were obtained using purposive sampling and snowball sampling. Qualitative data analysis using thematic analysis.
Results: The results show that parental support regarding marriage readiness for adults with ID is informative support in the form of providing information about marriage readiness, such as financial readiness and advice on maintaining relationships, as well as discussion of desires regarding work and sexual education. Emotional support in the form of a sense of concern for the condition of readiness for marriage Appreciation support, namely in the form of praise as well as gifts in the form of money, as an expression of appreciation for the independence of the child. Finally, instrumental support in the form of providing pocket money and facilities in the form of training skills at the training center, at places of business, or at home, as well as helping children find jobs.
Conclusion: Providing parental support for adults with ID for marriage readiness takes the form of informative, emotional, appreciation, and instrumental support. This social support needs to be given to children with special needs as long as the parents are able to provide this support so that children are able to fulfill their developmental tasks in adulthood.
3889641459F1A019117Makna Maskulinitas Laki-laki Milenial Pengguna Produk dan Jasa Klinik Kecantikan Di Larissa Aesthetic Center Purwokerto Artikel hasil penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna maskulinitas laki-laki milenial yang menjadi konsumen klinik kecantikan, untuk mendeskripsikan karakter laki-laki maskulin dan alasan mengapa laki-laki milenial memutuskan untuk menjadi konsumen klinik kecantikan serta untuk mendeskripsikan dominasi maskulin yang terjadi saat ini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi fenomenologi. Lokasi penelitian ini di Klinik Kecantikan Larissa Aesthetic Center Purwokerto. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sumber data diperoleh melalui data primer dan data sekunder. Hasil dari penelitian dianalisis menggunakan analisis interaktif menurut Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa laki-laki milenial yang menjadi konsumen klinik kecantikan memiliki alasan tertentu yaitu karena memiliki masalah pada bagian wajah dan ingin menunjang penampilan serta dikarenakan adanya dorongan agen sosial meliputi keluarga, teman dan pekerjaan. Hasil penelitian ini juga menunjukan adanya pergeseran makna maskulinitas serta pergeseran karakter laki-laki maskulin yang terjadi pada aspek fisik. Awalnya laki-laki tidak peduli terhadap penampilan namun saat ini justru semakin peduli pada penampilan. Makna dominan mengenai maskulinitas laki-laki saat ini menampilkan laki-laki maskulin sebagai laki-laki yang memperlihatkan sisi feminimnya dengan berdandan, memiliki sifat narsis atau memuji diri, berkulit putih, tampil lebih modern dengan gaya berbusana dan tatanan rambut terbaru, heteroseksual, dan memiliki tubuh berototThe purpose of this research article is to analyze the meaning of masculinity among millennial men who are consumers of beauty clinics, to describe masculine male characteristics and reasons why millennial men decide to become consumers of beauty clinics, as well as to describe the current masculine dominance. This research employs a qualitative research method with a phenomenological study. The research takes place at Larissa Aesthetic Center Purwokerto. Data collection techniques include interviews, observations, and documentation. Data sources are obtained from primary and secondary data. The research findings are analyzed using interactive analysis according to Miles and Huberman. The results of this study indicate that millennial men
1

who are consumers of beauty clinics have specific reasons, namely, they have facial problems and want to enhance their appearance, and there is social pressure from family, friends, and work. The research also reveals a shift in the meaningof masculinity and a shift in masculine male characteristics, particularly in the physical aspect. Initially, men were indifferent to their appearance, but now they are increasingly concerned about it. The dominant meaning of masculinity for men today portrays masculine men as individuals who exhibit their feminine side by grooming, displaying narcissistic traits or self-praise, having fair skin, adopting a more modern appearance through clothing and the latest hairstyles, being heterosexual, and having a muscular body.
3889741460I1A019106STUDI KOMPARASI PRAKTIK PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA DAERAH PERDESAAN DAN PERKOTAAN DI KABUPATEN BANYUMASLatar Belakang : ASI Eksklusif adalah pemberian ASI tanpa ada tambahan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai berumur 6 bulan, kecuali obat dan vitamin. Kabupaten Banyumas merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki cakupan pemberian ASI Eksklusif sebesar 65,2%, belum mencapai target nasional yaitu sebesar 80% cakupan pemberian ASI Eksklusif. Permasalahan dalam memberikan ASI eksklusif masih banyak ditemui baik di daerah perdesaan maupun perkotaan di Kabupaten Banyumas.
Tujuan : Mengetaui perbedaan praktik pemberian ASI Eksklusif pada daerah perdesaan dan perkotaan di Kabupaten Banyumas
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan jenis komparatif dan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini yaitu ibu yang mempunyai anak usia 6-12 bulan di Desa Klapagading Kulon dan Kelurahan Teluk . Sampel sebanyak 134 responden dengan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian ini berupa kuesioner dan dokumentasi. Analisis data yag dilakukan adalah univariat serta bivariat menggunakan uji Mann-whitney.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan variabel yang ada perbedaan pemberian ASI Eksklusif daerah perdesaan dan perkotaan di dengan praktik pemberian ASI Eksklusif yaitu sikap (p value: 0,020), dukungan keluarga (p value: 0,003). Sedangkan yang tidak ada perbedaan adalah pengetahuan (p value: 0,809) dan ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan (p value: 0,451).
Kesimpulan : Terdapat perbedaan praktik pemberian ASI Eksklusif pada daerah perdesaan dan perkotaan di Kabupaten Banyumas yaitu sikap dan dukungan keluarga.


Background: Exclusive breastfeeding is the provision of breast milk without any additional food and drink to infants from birth until 6 months of age, except for medicine and vitamins. Banyumas Regency is one of the regencies in Central Java Province that has an exclusive breastfeeding coverage of 65.2%, which has not reached the national target of 80% exclusive breastfeeding coverage. There are still many problems in providing exclusive breastfeeding in both rural and urban areas in Banyumas Regency.
Objective: To find out the differences in exclusive breastfeeding practices in rural and urban areas in Banyumas Regency.
Methods: This study used a quantitative design with a comparative type and cross sectional approach. The population of this study were mothers who had children aged 6-12 months in Klapagading Kulon Village and Teluk Village. The sample was 134 respondents with simple random sampling technique. The research instruments were questionnaires and documentation. Data analysis was done is univariate and bivariate using Mann-whitney test.
Results: The results showed that the variables that had differences in exclusive breastfeeding in rural and urban areas with exclusive breastfeeding practices were attitude (p-value: 0.020), family support (p-value: 0.003). While there is no difference is knowledge (p-value: 0.809) and the availability of health care facilities (p-value: 0.451).
Conclusion: There are differences in exclusive breastfeeding practices in rural and urban areas in Banyumas Regency, namely attitude and family support.Keywords: exclusive breastfeeding, rural, urban.




3889841461A1C019010PRODUKSI SELEDRI (Apium Graveolens L.) DI DATARAN RENDAH MENGGUNAKAN SISTEM AEROPONIK DENGAN ZONE COOLING DAN ANALISIS SEBARAN SUHU PADA CHAMBERSeledri merupakan salah satu tanaman yang tumbuh di dataran tinggi. Namun, perubahan lahan pertanian menjadi areal permukiman menyebabkan produksi seledri mengalami penurunan. Pemenuhan kebutuhan seledri dipasaran memerlukan solusi dalam pembudidayaanya, sehingga dataran rendah menjadi salah satu lokasi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan lahan produksi seledri. Sistem aeroponik dengan pengaplikasian zone cooling dalam greenhouse dapat menjadi salah satu penggunaan teknologi dari permasalahan yang dihadapi untuk peningkatan produksi seledri. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pertumbuhan tanaman seledri menggunakan sistem aeroponik dengan aplikasi zone cooling serta mendapatkan pola sebaran suhu pada chamber untuk produksi seledri di dataran rendah. Hasil penelitian menunjukkan tinggi tanaman mencapai rata-rata 49,09 cm pada saat pemanenan (7 MST), jumlah daun 61,3 helai/tanaman, rata-rata bobot basah 31,17 gram/tanaman, rata-rata bobot kering 2,48 gram/tanaman, dan rata-rata bobot akar 6,79 gram/tanaman. Suhu udara pada chamber terdistribusi dengan baik. Pada saat suhu udara di dalam greenhouse mencapai 35 – 40ºC, suhu udara di dalam chamber dapat dipertahankan 10 – 14ºC. Hal ini menunjukkan bahwa pengendalian dengan zone cooling melalui aeroponik efektif dalam menurunkan suhu di daerah perakaran tanaman. Hasil analisis menggunakan software Surfer menunjukkan kontur yang seragam. Namun sebaran suhu dari setiap waktu berbeda karena dipengaruhi intensitas cahaya dan arah datang matahari.The celery is one of the plants that grows in the highlands. However, the change of agricultural land into residential areas caused celery production to decrease. Meeting the needs of celery in the market requires a solution in its cultivation, so that the lowlands become one of the locations that can be used to overcome the problem of land for celery production. The aeroponic system with the application of zone cooling in a greenhouse can be one of the technological uses of the problems encountered to increase celery production. The purpose of this study was to determine the growth of celery plants using an aeroponic system with zone cooling applications and to obtain temperature distribution patterns in the chamber for celery production in the lowlands. The results showed that the plant height reached an average of 49.09 cm at the time of harvest (7 WAP), the number of leaves was 61.3 leaves/plant, the average wet weight was 31.17 grams/plant, the average dry weight was 2.48 gram/plant, and the average root weight is 6.79 gram/plant. The air temperature in the chamber is well distributed. When the air temperature in the greenhouse reaches 35 – 40ºC, the air temperature in the chamber can be maintained at 10 – 14ºC. This shows that zone cooling control through aeroponics is effective in reducing the temperature in the plant root area. The results of the analysis using Surfer software show uniform contours. However, the temperature distribution from each time is different because it is influenced by the intensity of light and the direction of the coming sun.
3889944398J1B020018Emosi Dasar Tokoh Leostrada dalam Novel Dan Hujan Pun Berhenti Karya Farida SusantyNovel Dan Hujan Pun Berhenti menarik untuk dikaji karena tokoh utama memiliki berbagai emosi yang berpengaruh pada kehidupan tokoh utama. Novel tersebut perlu dikaji untuk mengetahui apa yang melatarbelakangi terjadinya emosi yang beragam pada tokoh utama. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan klasifikasi emosi dasar tokoh utama dalam novel Dan Hujan Pun Berhenti karya Farida Susanty. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah simak catat dan studi pustaka. Penelitian ini menggunakan kajian psikologi sastra. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori klasifikasi emosi David Krech. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tokoh Leostrada memiliki emosi dasar yang terdiri dari empat emosi senang, lima emosi marah, tiga emosi takut dan tiga emosi sedih. he novel Dan Hujan Pun Berhenti is interesting to study because the main character exhibits various emotions that influence their life. The novel needs to be studied to understand what underlies the occurrence of diverse emotions in the main character. This research aims to describe the classification of basic emotions of the main character in the novel Dan Hujan Pun Berhenti by Farida Susanty. The method used in this research is qualitative descriptive. Data collection techniques used are note-taking and literature study. This research utilizes literary psychology analysis. The theory used in this research is David Krech's theory of emotion classification. Based on the research results, it can be concluded that the character Leostrada exhibits four emotions of happiness, five emotions of anger, three emotions of fear, and three emotions of sadness.
3890046228A1F020060Optimasi Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) Senyawa
Fenolat dari Ekstrak Daun Kakao (Theobroma Cocoa)
dan Evaluasi Antioksidannya Menggunakan Response
Surface Methodology (RSM)
Pemanfaatan daun kakao saat ini seringkali hanya menjadi pupuk atau pakan
ternak saja. Rendahnya eksplorasi tersebut mengindikasikan kurangnya teknologi
dan informasi mengenai pemanfaatan dari daun kakao. Daun kakao mengandung
senyawa-senyawa fenolat yang dapat berperan sebagai antioksidan. Kondisi
tersebut membuat adanya potensi pemanfaatan daun kakao sebagai limbah yang
lebih bernilai, seperti menjadi bahan baku minuman herbal berkhasiat. Dalam hal
menghasilkan senyawa-senyawa aktif tersebut diperlukan metode ekstraksi yang
tepat. Jenis ekstraksi yang digunakan merupakan ekstraksi dengan bantuan
ultrasonik atau ultrasound-assisted extraction (UAE). Penggunaan jenis UAE
memiliki keunggulan, seperti mudah digunakan, biaya yang murah, dan tidak
membutuhkan waktu lama. Perbedaan metode ekstraksi yang digunakan dapat
memengaruhi jumlah dan karakteristik ekstrak yang berbeda juga. Penelitian saat
ini belum menemukan kondisi ekstraksi pada daun kakao dengan bantuan UAE
secara optimal. Adapun tujuan dari penelitian untuk: (1) mengetahui kondisi
optimal proses ekstraksi (Konsentrasi pelarut, Durasi ekstraksi, Rasio pelarut dan
bahan) ekstrak daun kakao dengan UAE dalam menghasilkan senyawa fenolat dan
aktivitas antioksidan tertinggi menggunakan rancangan response surface methods
(RSM); (2) mengidentifikasi kandungan fitokimia atau senyawa bioaktif pada
ekstrak daun kakao yang dihasilkan pada kondisi proses ekstraksi yang optimal.
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian Central Composite Design
(CCD) yang merupakan jenis dari RSM dengan tiga faktor yaitu konsentrasi etanol
(70-90%), durasi ekstraksi (30-60 menit), dan rasio pelarut-bahan (5:1 – 15:1 v/b).
Hasil ekstrak yang didapatkan dari rancangan tersebut kemudian dievaluasi
berdasarkan hasil uji respon, yaitu aktivitas antioksidan (%), kadar total fenolik
(mg/g), dan kadar total flavonoid (mg/g). Hasil uji respon tersebut kemudian
dievaluasi untuk dilakukan optimasi menggunakan RSM.
Formula optimal yang dihasilkan oleh sistem dari variabel dependen, yaitu
konsentrasi etanol (89,34%), durasi ekstraksi (45,87 menit), dan rasio pelarut-bahan
(10,025:1). Hasil uji variabel respon pada formula optimal didapatkan nilai aktivitas
antioksidan (44,48%), kadar total fenolik (129,54 mg/g), dan kadar total flavonoid
(49,11mg/g). Selanjutnya, sampel dilakukan analisa karakterisasi lebih lanjut
melalui uji FT-IR dan GC-MS dalam upaya mengetahui senyawa bioaktif yang
terkandung pada sampel ekstrak dengan formula optimal. Hasil analisa GC-MS
tersebut menunjukkan teridentifikasi senyawa 2,4-Di-tert-butylphenol yang
merupakan senyawa golongan fenolat. Senyawa fenolat diketahui memiliki struktur
cincin ring benzene dan gugus -OH yang terikat. Gugus fungsi tersebut terdeteksi
pada uji FT-IR pada puncak bilangan gelombang 3366 ccm-1. Berdasarkan evaluasi
hasil uji respon dan formula optimal yang diperoleh, metode RSM dapat digunakan
sebagai metode pada optimasi proses ekstrasi daun kakao.
The current utilization of cocoa leaves is often only as fertilizer or animal
feed. The low of exploration indicates a lack of technology and information on the
utilization of cocoa leaves. Cocoa leaves known as a leaves contained phenolic
compounds that can act as antioxidants. Thus, the condition makes the potential
utilization of cocoa leaves as a more valuable waste, such as raw materials for
efficacious herbal drinks. In terms of producing these active compounds, a proper
extraction method is needed. The type of extraction used is ultrasound-assisted
extraction (UAE). The use of UAE has advantages, such as easy to use, low cost,
and does not require a long time. Differences in the extraction methods used can
affect the amount and characteristics of its extracts. Current research has not found
yet the optimal extraction conditions for cocoa leaves with the help of UAE
optimally. The objectives of the study were to: (1) determine the optimal conditions
of the extraction process (solvent concentration, time duration, solvent and material
ratio) of cocoa leaf tea with UAE in producing the highest phenolic compounds and
antioxidant activity using response surface methods (RSM); (2) identify the
phytochemical content or bioactive compounds in cocoa leaf tea extract produced
under optimal extraction process conditions.
This study used a Central Composite Design (CCD) which is type of RSM
with three factors: ethanol concentration (70-90%), extraction time (30-60
minutes), and solvent-material ratio (5:1 - 15:1 v/b). The extracts obtained from the
design were then evaluated based on the response test results, that is antioxidant
activity (%), total phenolic content (mg/g), and total flavonoid content (mg/g). The
test results of response were then evaluated to get optimized using RSM.
The optimal formula produced by the system from dependent variables,
namely ethanol concentration (89.34%), extraction time (45.87 minutes), and
solvent-material ratio (10.025:1). The results of the response variable test on the
optimal formula obtained antioxidant activity value (44.48%), total phenolic
content (129.54 mg/g), and total flavonoid content (49.11 mg/g). Furthermore, the
samples were tested to further characterization analysis through FT-IR and GC-MS
tests in order to determine the bioactive compounds contained in the extract samples
with the optimal formula. The results of the GC-MS analysis showed that the
compound 2,4-Di-tert-butylphenol was identified which is a compound of the
phenolate group. Phenolic compounds are known to have a benzene ring structure
and a bound -OH group. The functional group was detected in the FT-IR test at a
peak wave number of 3366 cm-1. Based on the evaluation of the response test
results and the optimal formula obtained, the RSM method can be used as a method
for optimizing the cocoa leaf extraction process.