Artikelilmiahs

Menampilkan 341-360 dari 48.725 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
3416325G1B009028DETERMINAN YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS PARU PADA PEKERJA BAGIAN PRODUKSI PT MITRA LESTARI ABADI (MLA) WANGONPencemaran udara di area industri diantaranya disebabkan oleh debu yang timbul dari proses pengolahan atau hasil industri, salah satunya areal pertukangan kayu. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan di areal pertukangan kayu yang berpotensi terhadap pencemaran udara adalah pada saat proses pemotongan, pengetaman, dan penghalusan atau pengamplasan. Dampak dari pencemaran udara dapat menyebabkan penurunan kapasitas paru pada pekerja. Kapasitas paru pekerja di PT Mitra Lestari Abadi sebagian besar tidak normal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh umur,masa kerja, penggunaan APD, keluhan gangguan pernapasan, dan kadar debu personal terhadap kapasitas paru di PT Mitra Lestari Abadi Wangon. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel 53 dengan metode Simple Random Sampling, instrumen penelitian menggunakan kuesioner, personal dust sampler, dan spirometer. Hasil penelitian menunjukan Faktor yang terbukti berpengaruh terhadap kapasitas paru yaitu penggunaan APD dengan nilai p value = 0,000 dan nilai cc = 0,583, keluhan gangguan kesehatan dengan nilai p value = 0,001 dan nilai ρ = 0,499. Saran yang dapat diberikan yaitu melakukan pemeriksaan kesehatan berkala, pengawasan terhadap pekerja mengenai penggunaan alat pelindung diri terutama masker selama bekerja serta sanki yang bersifat administratif apabila dalam bekerja tidak menggunakan alat pelindung diri, dan perlunya pemeriksaan kapasitas fungsi paru karyawan secara periodik.One of the air polution maker in industrial area is dust exspecially in producing proces, for example in wooding area. Activities done in wooding area has potential for air polution particularty when they are sawing ( cutting proces ), reaping and smooting proces. Result of air polution can cause discrease lung capacity of workers. Most of the workers’ lung capacities in PT Mitra Lestari Abadi are not normal. The aim of the research is to know the influence of age, working duration, using of APD, complaint of breathing distrubbance and content of personal dust to the workers in PT Lestari Abadi Wangon. Kind of research used is analitic research by cross sectional. Number of samples 53 with Simple Random Sampling method, instrument research using questionnaires, personal dust sampler, and spirometer. The result of the restarch indicates the proof to lung capacity if the workers use APD by score p value = 0,000 and score cc= 0,538, complaint of healthy disturbance by score p value = 0.001 and score p = 0,499. Sugestion to the workers is regular healthy check obsevation to the workers about the use of protector ( masker ) during working and also give administrative warning if the workers don’t use seif protector and they realize the importance of regular check.
3426292P2PA10001POTENSI SAMPAH DAN STRATEGI PENINGKATAN PARTISIPASI SISWA DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI SMAN 2 PURWOKERTO DAN SMAN BANYUMAS
Secara kuantitas dan kualitas, sampah cenderung berkaitan potensi dan masalah. Potensi yang dimaksud dapat menggunakan sistem daur ulang, sehingga sampah kembali dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi kuantitas sampah, potensi jenis dan jumlah individu lalat, mengetahui partisipasi siswa dalam pengelolaan sampah di SMAN 2 Purwokerto; Mengetahui potensi sampah, potensi lalat dan partisipasi siswa dalam pengelolaan sampaqh di SMAN Banyumas; Menganalisis perbedaan potensi sampah, potensi lalat dan partisipasi siswa di SMAN 2 Purwokerto dan SMAN Banyumas; Serta membuat rancangan strategi peningkatan partisipasi siswa dalam pengelolaan sampah di SMAN 2 Purwokerto dan SMAN Banyumas.
Sampel penelitian ada dua yaitu pertama adalah tumpukan sampah yang ada di SMAN 2 Purwokerto dan SMAN Banyumas, kedua adalah siswa SMAN 2 Purwokerto dan SMAN Banyumas. Tumpukan sampah diambil secara keseluruhan setiap tiga hari sekali untuk mendapatkan data potensi sampah dan potensi lalat, sedangkan siswa menggunakan sample random sampling tiap kelas tiap tingkatan satu kelas untuk mendapatkan data partisipasi. Potensi sampah dengan metoda ditimbang, potensi lalat dengan meletakan umpan makanan dan jaring di tumpukan sampah, dan pertisipasi siswa dengan menggunakan angket. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, uji t, dan analisis SWOT.
Potensi kuantitas sampah di SMAN 2 Purwokerto adalah 1.713 kg, potensi lalat 190 ekor, dan tingkat partisipasinya siswa 57,1%. Potensi kuantitas sampah di SMAN Banyumas 1.371 kg, potensi lalat 109 ekor, dan partisipasi siswa 54%. Ke dua sekolah mempunyai kecenderungan yang sama yaitu partisipasi siswa yang sedang, potensi sampah yang tinggi, dan potensi lalat yang tinggi. Partisipasi siswa yang sedang semestinya dapat menekan kuantitas sampah dan potensi lalat menjadi kecil, tetapi ini tidak terjadi karena partisipasi siswa tidak ada pengawasan bagi yang membuang sampah tidak tepat, belum ada pengelolaan sampah setelah di TPS, serta belum dilakukan pemisahan sampah organik dan non organik baik di tempat sampah depan kelas maupun di TPS, terutama di SMAN 2 Purwokerto. Strategi peningkatan partisipasi siswa dalam pengelolaan sampah di SMAN 2 Purwokerto dilakukan melalui (1) pembentukan ekskul pecinta alam, (2) praktek pengelolaan sampah secara praktis (3), gerakan sehari tanpa sampah dalam sepekan, dan (4) pemisahan sampah menurut jenisnya secara konsisten. Rancangan strategi partisipasi siswa SMAN Banyumas dilakukan melalui (1) optimalisasi ekskul pecinta alam, (2) pengadaan tempat sampah organik dan non organik tiap ruangan, (3) praktek pengelolaan sampah secara praktis, (4) gerakan sehari tanpa sampah dalam sepekan, serta (5) ketersediaan TPS yang membedakan sampah organik dan non organik.
Garbage tends to be related to the potency and problem quantitatively and qualitatively. The potency of garbage is connected to the garbage recycle system which can turn the garbage into the reusable material to fulfill the school needs. This research aims to know the potency of the garbage quality, the potency of fly, and students' participation in garbage management in SMAN 2 Purwokerto; to know the potency of the garbage quality, the potency of fly, and students' participation in garbage management in SMAN Banyumas; to analyze the differences of the potency of garbage quality, the potency of fly, the students' participation in garbage management between SMAN 2 Purwokerto and SMAN Banyumas; and propose alternative strategies in enhancing students' participation in the garbage management in both SMAN 2 Purwokerto and SMAN Banyumas.
The samples of this research included two piles of garbage in both SMAN 2 Purwokerto and SMAN Banyumas; and the students of SMAN 2 Purwokerto and SMAN Banyumas. The pile of garbage was totally taken once in three days to gather the potential garbage data and the potential fly. For the students, random sampling method was applied for each class and each grade to get the participation data. The garbage potency was measured by using scale; the fly potency was measured by using trap which was made by putting food-prey and nets on the piles of garbage; and students' participation was measured by using questionnaires. The data analysis technique was conducted by using descriptive analysis , t-test and SWOT analysis.
The garbage quantity potency in SMAN 2 Purwokerto was 1,713 kg, the fly potency was 190 flies, and the students' participation was 57.1%. The garbage quantity potency in SMAN Banyumas was 1, 371 kg, the fly potency was 109, flies and the students' participation was 54%. Both school have the similar tendency, that is the moderate students' participation, higher garbage potency and higher fly potency. The moderate students' participation should have reduced the garbage potency and the fly potency could have been reduced as well, however, the facts show different things. This happens due to the fact that there is not any sanction for those who throw garbage not in the appropriate place, there is not any post-process from the garbage disposal, there is not any garbage differentiation between organic and inorganic garbage both in garbage disposal and garbage-bin in front of each class, more specifically in SMAN 2 Purwokerto. The strategies to enhance students' participation in garbage management in SMAN 2 Purwokerto were conducted by (1) creating nature-lover extra-curricular activity, (2) practicing the practical garbage process, (3) making a day without littering during a week, and (4) consistently differentiating garbage based on its type. Meanwhile, the alternative strategies which were applied in SMAN Banyumas were conducted by (1) optimizing the nature-lover extra-curricular, (2) providing the organic and inorganic garbage-bin, (3) practicing the practical garbage proses, (4) making a day without littering during a week, and (5) providing garbage-disposal for organic and inorganic garbage.
3436293D1E009162KAJIAN JUMLAH BAKTERI, KADAR ASAM LAKTAT, DAN DAYA TAHAN SUSU KAMBING SAPERA DI CILACAP DAN BOGORPenelitian berjudul “Kajian Jumlah Bakteri, Kadar Asam Laktat dan Daya Tahan Susu Kambing Sapera di Cilacap dan Bogor”dilaksanakan pada 9April sampai 21Juni 2013. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah masing-masing 15 ekor kambing Sapera di Cilacap dan Bogor, sampel susu sebanyak 150ml diambil dari setiap ekor kambing. Metode penelitian adalah survey dengan metode pengambilan sampel secara accident sampling. Data jumlah bakteri dan kadar asam laktat susu dianalisis menggunakan uji t, sedangkan data daya tahan susu dianalisis menggunakan uji tanda Mc Siegel.Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah bakteri di Cilacap dan Bogor berbeda nyata ( thit > ttabel ), sedangkan kadar asam laktat dan daya tahan susu tidak berbeda nyata.Kesimpulan dari penelitian ini adalah perbedaan tempat mempengaruhi jumlah bakteri susu, namun tidak mempengaruhi kadar asam laktat dan daya tahan susu kambing Sapera.Research entitled “The Study of Total Bacteria, Lactic Acid Level, and Shelf Life of Sapera Goat Milk in Cilacap and Bogor ”was conducted from April 9th to June 21st 2013. The materials of this research are 15 Sapera goat from each Cilacap and Bogor, the sample of Sapera goat milk was collected from each goat as musch as 150ml. The method of this research was survey and the sampling method was accident sampling. Total bacteria and lactic acid level data were analysed used t test, while the data of milk shelf life was analysed used symbol test by Siegel. The result showed that total bacteria of Sapera goat milk in Cilacap and Bogor was significantly different (tcount > ttable), while lactic acid level and milk shelf life was not significantly different. The conclusion of this research is total bacteria of Sapera goat milk was affected by place and temperature but lactic acid level and shelf life of Sapera goat milk was not affected.
3446287G1G008032PERBEDAAN JUMLAH FIBROBLAS PADA PERLAKUAN PERIODONTAL PACK DENGAN PENAMBAHAN KITOSAN 2% DAN 4% DALAM PROSES PENYEMBUHAN LUKA PASCA GINGIVEKTOMI (Studi In Vivo pada Kelinci (Oryctolagus cuniculus))Gingivektomi merupakan salah satu bedah periodontal untuk mengatasi penyakit periodontal. Prosedur yang dilakukan pasca gingivektomi diantaranya adalah dengan menutup luka menggunakan periodontal pack. Bahan periodontal pack sekarang ini mulai dikembangkan dengan penambahan bahan lain seperti kitosan. Kitosan adalah produk alami turunan dari kitin yang berpotensi dapat mempercepat penyembuhan luka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan jumlah fibroblas pada periodontal pack yang ditambah kitosan 2% dan 4% dalam proses penyembuhan luka pasca gingivektomi pada hari ke-3, 5 dan 7. Dua puluh tujuh ekor kelinci dibagi dalam tiga kelompok, yaitu kontrol, perlakuan 1 dan perlakuan 2. Perlakuan pada gingiva rahang bawah kelinci dibuat menggunakan punch biopsy diameter 2 mm. Luka pada kelompok kontrol ditutup dengan periodontal pack tanpa kitosan, kelompok perlakuan 1 ditutup dengan periodontal pack yang ditambah kitosan 2 %, dan kelompok perlakuan 2 ditutup dengan periodontal pack yang ditambah kitosan 4%. Tiga ekor kelinci dari tiap kelompok didekapitasi pada hari ke-3, ke-5, dan hari ke-7 setelah perlukaan. Jaringan luka dibuat preparat histologis dengan pengecatan Hematosilin Eosin (HE) untuk mengamati jumlah sel fibroblas. Data jumlah fibroblas dianalisis mengunakan uji statistik one way ANOVA dilanjutkan dengan uji Post-Hoc LSD. Pada uji beda LSD menunjukkan bahwa jumlah fibroblas pada kelompok perlakuan 1 lebih banyak dibandingkan dengan kelompok kontrol dan kelompok perlakuan 2 pada hari ke-3, 5 dan ke-7. Simpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan jumlah fibroblas antara kelompok periodontal pack tanpa kitosan, kelompok periodontal pack yang ditambah kitosan 2% dan kelompok periodontal pack yang ditambah kitosan 4% pada hari ke-3, 5 dan ke-7 pasca gingivektomi pada kelinci.Gingivectomy is one of periodontal surgical to treat periodontal disease. Periodontal pack was used to covered the wound post gingivectomy. Periodontal pack materials currently modificated by addition another materials such as chitosan to wound healing. Chitosan is a natural product derived from chitin which has the potential to accelerate wound healing. The aim of this study was to compare the differences of total fibroblast between sample group which use periodontal pack without chitosan, with chitosan 2% and chitosan 4% in the process of wound healing after gingvectomy on day 3rd, 5th and 7th. Twenty seven rabbits were divided into three groups, which were the negative control group, treatment group one and treatment group two. A wound in the mandible gingiva of rabbit was made by 2 mm diameter punch biopsy. The wound on the control group was covered by using periodontal pack without chitosan, treatment group one was covered by using periodontal pack with chitosan 2% and treatment group two was covered by using periodontal pack with chitosan 4%. Three rabbits from each group were decapitation at 3rd, 5th and 7th day after being wounded. The wounded tissues were processed for histological preparations and stained with Hematoxylin Eosin method in order to observed the number of fibroblast. Data on the number of fibroblast was analyzed using one way ANOVA test and Post-Hoc LSD test. In different test LSD showed that the number of fibroblast in the treatment group one more than the control group and treatment group two, on day 3rd, 5th, and 7th. In conclusion, there is a differences of fibroblast number between group periodontal pack without chitosan, group periodontal pack with chitosan 2% and group periodontal pack with chitosan 4% on day 3rd, 5th, and 7th after gingivectomy in rabbit.
3456294P2PA08005KAJIAN ANALISIS KUALITAS AIR, PERSEPSI DAN AKSEPTABILITAS PELANGGAN PADA DEPOT AIR MINUM ISI ULANG NON MERK
DI SEKITAR KOTA PURWOKERTO

Kajian analisis kualitas air, persepsi dan akseptabilitas pelanggan pada depot air minum isi ulang non merk (DAMIU) di sekitar Kota Purwokerto telah dilakukan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survai terhadap sampel air minum isi ulang dan sampel pelanggan yang mengkonsumsi air minum isi ulang dari DAMIU di sekitar Kota Purwokerto. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling pada enam stasiun DAMIU yaitu stasiun I (Baturaden), II (Karangwangkal), III (Purwanegara), IV (Kober), V (Berkoh) dan VI (Kedungwringin). Sebanyak 285 pelanggan dipilih secara aksidental untuk dijadikan responden penelitian.
Analisis kualitas fisik, kimiawi, dan mikrobiologik air minum isi ulang dilakukan dengan membandingkan nilai rerata pengukuran seluruh parameter air minum isi ulang yang diukur per stasiun DAMIU dengan baku mutu air minum menurut Kepmenkes Nomor 907 Tahun 2002. Analisis persepsi pelanggan tentang kualitas fisik, kimiawi dan mikrobiologik serta akseptabilitas pelanggan tentang produk air minum isi ulang dari DAMIU dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif. Hubungan antara kualitas fisik, kimiawi dan mikrobiologik air minum isi ulang; persepsi pelanggan tentang kualitas fisik, kimiawi dan mikrobiologik; serta akseptabilitas pelanggan tentang produk air minum isi ulang dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi Spearman.
Hasil analisis menunjukkan bahwa parameter bau, warna, rasa, kekeruhan, total padatan terlarut, suhu, pH dan konsentrasi kadmium seluruh sampel air minum isi ulang pada enam stasiun yang diteliti memenuhi baku mutu air minum Kepmenkes Nomor 907 Tahun 2002. Parameter mikrobiologik air minum isi ulang pada empat stasiun yang diteliti belum memenuhi standar baku mutu air minum. Kontaminasi bakteri Escherichia coli ditemukan pada stasiun I, II, dan IV. Bakteri Enterobacter aerogenes ditemukan di stasiun I, II, IV dan V.
Hasil analisis persepsi dan akseptabilitas pelanggan menunjukkan bahwa sebanyak 69,52% responden (198 responden) cenderung memberi persepsi yang baik tentang kualitas fisik, kimiawi dan mikrobiologik air minum. Meskipun persepsi pelanggan tentang kualitas fisik, kimiawi, dan mikrobiologik air minum isi ulang pada semua stasiun cenderung baik, kontaminasi air minum isi ulang oleh bakteri E. coli pada stasiun I, II dan IV menjadikan akseptabilitas pelanggan pada stasiun I, II, dan IV berdasarkan frekuensi pelanggan mengkonsumsi air minum isi ulang dari DAMIU cenderung sedang. Sementara itu, akseptabilitas pelanggan berdasarkan frekuensi pelanggan membeli air minum isi ulang dari DAMIU dalam waktu satu minggu adalah cenderung rendah.
The analysis of water quality, perception and consumers’ acceptability on non-branded refill drinking-water station in around purwokerto has been done. The research was conducted by using survey on the samples of refill drinking-water and customers who consumed the refill drinking-water from DAMIU in around Purwokerto. The purposive sampling technique was used on six observation stations. Those are station I (Baturaden), II (Karangwangkal), III (Purwanegara), IV (Kober), V (Berkoh) and VI (Kedungwringin). There were 285 consumers who were chosen accidentally as respondents of the research to measure the consumers' perception and consumers' acceptability.
The analysis of the physical, chemical, microbiological quality of refill drinking-water was conducted by comparing the average value of all parameters' measurements of refill drinking-water which were measured in each DAMIU by using the standard water quality based on The Decree of The Ministry of Health (Kepmenkes) No 907 Year 2002. The analysis of people's perception on the quality of the physical, chemical and microbiological and also the consumers' acceptability on the product of refill drinking-water from DAMIU was conducted by using descriptive statistics in questions which were listed in questionnaire. The relationship among the physical, chemical, and microbiological quality of refill drinking-water; customers' perception on the physical, chemical, microbiological quality of refill drinking-water and also the customers' acceptability on refill drinking-water from DAMIU was analyzed by using Spearman correlation.
The result showed that parameters of odour, colour, taste, turbidity, total dissolve solvent, temperature, pH, and cadmium concentration which were analyzed was in line with The Decree of The Ministry of Health (Kepmenkes) Number 907 Year 2002. The microbiological parameter of refill drinking-water in four refill drinking-water stations which had been analyzed has not fulfilled the drinking-water standard quality. Escherichia coli bacterial contamination was detected in station I, station II and station IV. Enterobacter aerognes bacteria were found in station I, II, IV, and V.
The statistical analysis of consumers' perception on the physical, chemical, and microbiological quality of refill drinking-water from DAMIU showed a good result. There were 69.52% respondents (198 respondents) considered that the physical, chemical, and microbiological quality of the refill drinking-water was good. Despite the fact that customers' perception on the physical, chemical and microbiological quality of refill drinking-water in all refill drinking-water stations tended to be good, the E. coli contamination in station I, II and IV caused the customers' acceptability on station I, II and IV which was based on the customers' frequency of consuming refill drinking-water from DAMIU tended to moderate. Meanwhile, the customers' acceptability based on the customers' frequency in purchasing refill drinking-water from DAMIU in a week tended to be low.
3466295G1D008106PENGARUH PEMBERIAN PISANG HIJAU PADA ANAK BALITA TERHADAP LAMA HARI DIARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PURWOKERTO BARATLatar belakang: Diare merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak balita di dunia, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Buah pisang mengandung gizi yang sangat besar bagi kesehatan khususnya pada anak balita. Balita membutuhkan makanan tambahan yang mengandung banyak gizi, terutama balita yang mengalami diare. Buah pisang sangat baik untuk penyembuhan diare, karena mempunyai tekstur yang lembut sehingga mudah dicerna oleh tubuh dan mengandung potassium serta pektin yang baik dalam penyembuhan diare.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pisang hijau pada anak balita terhadap lama hari diare di wilayah kerja Puskermas Purwokerto Barat.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasy experiment dengan pendekatan pre-post test with control group design. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini 28 balita yang mengalami diare yang terdiri dari 14 kelompok kontrol dan 14 kelompok perlakuan. Setiap kelompok perlakuan diberikan pisang hijau sebagai terapi komplementer selama 7 hari. Analisis data yang digunakan adalah uji Mc Namer.
Hasil: Setelah pemberian pisang pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, didapatkan rata-rata hari kesembuhan diare <7 hari (46,43%). Hasil uji statistik menggunakan uji Mc Namer didapatkan p value=1,00 yang berarti tidak ada perbedaan lama hari diare pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan.
Kesimpulan: Tidak terdapat pengaruh pemberian pisang pada anak balita yang mengalami diare akut.

Background: Diarrhea is a major cause of morbidity and mortality in children under five in the world, especially in developing countries like Indonesia. Banana contains nutrients that are great for health, especially to the children under five. Toddlers need extra food that contains a lot of nutrients, especially infants with diarrhea. Bananas are very good for healing diarrhea, because it has a soft texture that is easily digested by the body and it contains potassium and pectin both in healing diarrhea.
Objective: This study aimed to determine the effects of green bananas in children under five against the period of diarrhea in the work region Puskesmas Purwokerto Barat.
Methods: This study used quasy experiment design approach with pre-post test control group design. Sampling used purposive sampling. The number of samples in this study 28 infants with diarrhea which consists of 14 groups and 14 control groups. Each treatment group given the green banana as a complementary therapy for 7 days. Analysis of the test data used was Mc Namer.
Results: After the bananas in the treated group and the control group, showed an average day cure diarrhea <7 days (46,43%). The results of the statistical test using the test Mc Namer obtained p value = 1,00, which means there was no difference in the old days of diarrhea in the control group and the treatment group.
Conclusion: There was no effect of banana in children under five with acute diarrhea.
3476296D1D006016ANALISIS KEUNTUNGAN DAN RENTABILITAS USAHA AYAM NIAGA PEDAGING
( Studi Kasus Pada Kemitraan Ismaya Unggas Makmur Di Kabupaten Kebumen)
OPERATING PROFIT AND PROFITABILITY ANALYSIS COMMERCIAL CHICKEN
(Case Study to Partnership Ismaya Unggas Makmur In Kebumen Regency)
Taufik Rustianto Pambudi*, Oenteng Edy D, dan Nunung Noor Hidayat
Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto
*Corresponding author :Taufikrustianto_pambudi@yahoo.com
Penelitian bertujuan mengetahui keuntungan dan rentabilitas usaha peternakan ayam niaga pedaging pada kemitraan Ismaya Unggas Makmur di Kabupaten Kebumen, serta mengetahui pengaruh beberapa faktor ( jumlah ternak, biaya pakan, biaya obat-obatan dan vaksin, pendidikan peternak, umur peternak, pengalaman beternak, serta curahan jam kerja) ternadap keuntungan dan rentabilitas. Penelitian dilakukan secara survei yang dirancang menggunakan metode Purposive Sampling, metode analisis data menggunakan deskriptive statistic (mean dan SD) sedangkan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keuntungan dan rentabilitas digunakan metode analisis regresi linier berganda. Hasil Analisis menunjukan secara bersama variabel indipenden berpegaruh sangat nyata terhadap Keuntungan (p<0,01) dan Variabel Rentabilitas (P<0,01). Koefisien determinasi (R2) pada Keuntungan sebesar 0.7124, menunjukkan bahwa variansi variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel independen sebesar 71.24 persen pada Keuntungan. Selebihnya, sebesar 28.76 persen pada Keuntungan dijelaskan oleh variabel lain (µ) yang tidak dimasukkan dalam model. Nilai Koefisien determinasi (R2) Rentabilitas sebesar 0.2698,bahwa variansi variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel independen sebesar dan 26,98 persen. Selebihnya sebesar 73.03 persen dijelaskan oleh variabel lain (µ) yang tidak dimasukkan dalam model. Hasil uji Secara parsial variabel jumlah ternak berpengaruh sangat nyata terhadap keuntungan dan rentabilitas usaha ayam niaga pedaging pada tingkat kepercayaan 99 persen (P<0.01) dan 95 persen (P<0.05). Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan variabel yang berpengaruh nyata terhadap keuntungan dan rentabilitas adalah jumlah kepemilikan ternak sedanglan variabel lain, dalam penelitian ini berpengaruh tidak nyata terhadap keuntungan dan rentabilitas.The research to find out the profit and profitability of commercial broiler chicken farm in partnership Ismaya Poultry Makmur in Kebumen, as well as the effect of several factors (the number of cattle, cost of feed, cost of medicines and vaccines, education breeder, breeder age, breeding experience, as well as the outpouring of hours of work) to the profit and profitability. Research carried out a survey that is designed using purposive sampling methods, data analysis methods using deskriptive statistics (mean and SD), while to determine the factors that affect the profit and profitability used multiple linear regression analysis method. Analysis results show having an independent variable jointly highly significant profit (p <0.01) and Variable Profitability (P <0,01). The coefficient of determination (R²) on the profit of 0.7124, indicating that the variance of the dependent variable can be explained by the independent variables of 71.24 percent on Benefits. The rest, amounting to 28.76 per cent in Profit explained by other variables (μ) are not included in the models. Value of coefficient of determination (R²) of 0.2698 Profitability, that the variance of the dependent variable can be explained by the independent variables and 26.98 percent for Profitability. The rest of 73.03 percent is explained by other variables (μ) are not included in the models. Partial results of the test variable number of cattle very significant effect on profits and profitability of commercial broiler chicken business at the 99 percent confidence level (P <0:01) and 95 percent (P <0.05), on profitability. Based on these results it can be concluded that the use of variables that significantly affect the profit and profitability is the number of livestock holdings while other variables, in this study did not significantly affect profits and profitability.
3486297F0A010004PENGGUNAAN METODE TALKING STICK DALAM MENINGKATKAN VOCABULARY BAHASA INGGRIS SISWA-SISWI KELAS IV DI SD NEGERI MAJASEM II CIREBON TAHUN AJARAN 2012/2013Bidang studi bahasa Inggris meliputi empat keterampilan yaitu berbicara (speaking), mendengarkan (listening), membaca (reading), dan menulis (writing). Dalam keempat keterampilan tersebut ada beberapa kemampuan yang perlu dimiliki di antaranya kemampuan vocabulary dan pronunciation. Aspek-aspek tersebut dapat membantu siswa dalam memahami bahasa. Kegiatan belajar mengajar biasanya terjadi di lembaga pendidikan, seperti sekolah, untuk mencapai tujuan pengajaran sebenarnya adalah elemen yang paling penting. Penggunaan berbagai teknik diperlukan untuk menentukan keberhasilan proses pengajaran. Salah satunya adalah dengan menggunakan metode talking stick Penulis ingin mengetahui '' keefektivitasan penggunaan metode talking stick dalam meningkatkan kosakata pelajaran bahasa Inggris pada siswa-siswi kelas IV SD Negeri Majasem II Cirebon tahun akademik 2012/2013''. Penulis melakukan praktek kerja di SD Negeri Majasem II Cirebon berfokus pada proses pengajaran siswa kelas IV. Praktek kerja ini dilakukan pada tanggal 26 Januari sampai 23 Februari 2013. Penulis mengamati proses belajar mengajar dengan penggunaan metode talking stick di kelas.
Tujuan dari penggunaan metode talking stick adalah untuk meningkatkan siswa kosakata dalam bahasa Inggris. Metode talking stick menciptakan situasi santai di kelas karena siswa merasa menyenangkan. Para siswa diajak untuk memahami materi dengan memberikan tongkat secara bergiliran sambil menyanyikan sebuah lagu lalu menjawab pertanyaan dari guru, sehingga guru dapat meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya meningkatkan kosa kata dalam bahasa Inggris. Pelaksanaan praktek kerja dilaksanakan selama 1 bulan, setiap hari Sabtu pada pukul 07:00 dalam waktu 90 menit untuk setiap sesi. Dalam proses pengajaran bahasa Inggris guru menggunakan metode talking stick pada akhir proses pengajaran. Teknik ini menggunakan sebuah tongkat dengan ukuran 20 cm. Guru memulai penggunaan metode talking stick dengan memberikan tongkat kepada seorang siswa dan guru memberikan siswa-siswi itu sebuah pertanyaan. Setelah siswa menjawab pertanyaan, siswa tersebut memberikan tongkatnya kepada salah satu temannya untuk mendapatkan pertanyaan dari guru. Sambil memberikan tongkat, siswa harus bernyanyi bersama agar dapat menciptakan suasana yang menyenangkan. Setelah selesai menyanyi, siswa yang memegang tongkat langsung diberi pertanyaan oleh guru. Kegiatan bermain tongkat dan menyanyikan lagu-lagu bahasa Inggris dilanjutkan sampai sebagian besar siswa mendapatkan giliran untuk menjawab pertanyaan dari guru.
Meningkatkan motivasi belajar siswa SD Negeri Majasem II Cirebon dengan menggunakan metode talking stick untuk meningkatkan kosakata dalam mempelajari bahasa Inggris adalah salah satu cara terbaik, hal itu terbukti dari cara belajar mereka yang terlihat lebih semangat dan lebih senang. Namun, guru harus kreatif dalam menerapkan teknik ini. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan teknik ini dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar bahasa Inggris. Selain itu, teknik ini juga dapat meningkatkan kosakata para siswa. Teknik ini sangat efektif untuk diterapkan pada pelajar bahasa Inggris. Hal ini terbukti dari hasil yang diperoleh siswa sebelum dan sesudah metode ini digunakan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai siswa yang meningkat secara signifikan.
English has four skills namely speaking, listening, reading, and writing. In those skills, there are some aspects that students have to master like vocabulary and pronunciation. Those aspects help students comprehend the language. Teaching and learning activities usually occur at educational institution, such as schools, to achieve the purposes of the teaching and it is actually the most important element. The use of various technique is needed to determine the success of the teaching process. One of them is using the talking stick method. The writer wanted to know ‘’the effectiveness of talking stick method usage in improving vocabulary English lesson at the fourth grade student of SD Negeri Majasem II Cirebon academic year 2012/2013 ‘’. The writer did the job training in SD Negeri Majasem II Cirebon focusing on the teaching process of students class IV. The job training was conducted on 26 January to 23 February 2013. The writer observed teaching learning with usage talking stick method in class.
The aim of this job training is to improve vocabulary students in English language. Talking stick method create a relaxed situation in the class because the students feel enjoyable. The students are invited to understand the material by passing a stick in turns while they sing a song together and answer questions from the teacher, so that the teacher can improve the students learning results, especially vocabulary. The implementation of the job training was done for abode 1 month, every Saturday at 7 a.m in 90 minutes for each session. In the English teaching process the teacher applied talking stick technique at the end of the teaching process. This technique uses a stick in 20 cm size. The teacher and students start talking stick game by giving it to one student and the teacher give that student a question. Once the student answering the question, he or she is required to give the baton to his or her friend in order to get a question from the teacher. While providing a stick, the student has to sing together for fun. Having finished the song, the student holding the stick directly is given the question by the teacher. The activities of playing the stick and singing English songs is continued until most students get turns.
Increasing student’s motivation to improve vocabulary in learning English by using talking stick technique was one way in SD Negeri Majasem II Cirebon. It was proved that they looked excited and fun. However, the teacher had to be creative in applying this technique. It suggested that the use of this technique increased student’s motivation in learning English. In addition, this technique also increased the student’s vocabulary. This technique is very effective to be applied to the new English learners. It is proven from the results obtained by the student before and after using this method using. It is shown by the student score which is increasing significantly.
3496298G1D009063PENGARUH CLAY THERAPY TERHADAP FREKUENSI
MUNCULNYA HALUSINASI PADA PASIEN GANGGUAN JIWA DIRSUD BANYUMAS
Latar Belakang : Halusinasi pendengaran salah satu merupakan karakteristik skizofrenia. Halusinasi pendengaran datang dengan berbagai bentuk, yaitu dapat berupa suara-suara yang bising atau mendengung. Pada fase pertama dan kedua halusinasi, pasien akan merasa cemas dan stress. Jika frekuensi halusinasi sering muncul akan menjadi menakutkan dan pasien harus mengikuti perintah halusinasi yang dirasakannya. Hal ini akan berakibat buruk dan pasien menunjukkan perilaku maladaptif seperti bunuh diri, perilaku kekerasan serta mencederai diri sendiri dan orang lain. Diperlukan terapi yang bisa membantu menurunkan frekuensi halusinasi. Clay therapy adalah salah satu terapi seni yang membantu pelepasan kecemasan dan merupakan bagian dari aktifitas yang merangsang motorik.
Tujuan : Mengetahui pengaruh clay therapy terhadap frekuensi munculnya halusinasi pada pasien gangguan jiwa di RSUD Banyumas.
Metode : Penelitian ini jenis pre experiment dengan rancangan one group pre and posttest design. Metode pengambilan sampel adalah consequotive sampling dengan jumlah sampel 14 responden. Clay therapy dilakukan selama 30 menit dalam kurun waktu 3 hari. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon.
Hasil : Hasil analisa statistik dengan uji Wilcoxon dengan α =0,05 didapatkan nilai Z=-3, 384 dan nilai p=0,001
Kesimpulan : Ada pengaruh Clay therapy terhadap frekuensi munculnya halusinasi pada pasien gangguan jiwa di RSUD Banyumas.


Kata Kunci : Clay therapy, frekuensi munculnya halusinasi




Background : Auditory hallucination is one of schizophrenia characteristics. Auditory hallucination occurs in many forms, it could be a noise or buzzing sound. In the first and second phase of hallucination, patient will be anxiety and stress. If the frequency of hallucination occurs oftenly it will be scary the patient should follow the order of hallucination that felt. This situastion will create bad impact and the patient will show maladaptive behaviour such as suicide harassment, even do the self-harming or toward other people. It needs therapy which can help to reduce / decrease frequency hallucination. Clay therapy is one that art therapy helps release anxiety and is part of the motor stimulating activity.
Purpose : To analyse the influence of day therapy toward frequency hallucination emergency of mental disorder patient in RSUD Banyumas
Method : This research is a kind of pre experiment with the design of one group pre and post test design. Method of sampling with the amount of sample 14 respondents. Clay therapy is applied for 30 minute during 3 days. Data analysis use wilcoxon.
Result : Analysis statistic result through wilcoxon test with α=0,05 and Z= -3, 384 and p value=0,001
Summary : There is influence of clay therapy toward frequency of hallucination
emergency of mental disorder patient in RSUD Banyumas


Keywords: Clay therapy, frequency of hallucination,






3506299G1B009014HUBUNGAN SIKAP KERJA ANGKAT DAN FREKUENSI ANGKUT DENGAN KELUHAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS (MSDs) PADA PEKERJA LAUNDRY DI KECAMATAN PURWOKERTO UTARAJURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
2013

INTISARI

SEPTI MAULIDYA

HUBUNGAN SIKAP KERJA ANGKAT DAN FREKUENSI ANGKUT DENGAN KELUHAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS (MSDs) PADA PEKERJA LAUNDRY DI KECAMATAN PURWOKERTO UTARA.

Aktivitas laundry terdapat 5 bagian yaitu penimbangan, pencucian, pengeringan, penyetrikaan dan pengemasan. Bagian-bagian tersebut mempunyai faktor risiko terhadap keluhan MSDs, penimbangan dan pencucian dengan posisi membungkuk, pengeringan dengan posisi berdiri, penyetrikaan dan pengemasan dengan posisi duduk. MSDs adalah keluhan pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan panas, pegal, kram, mati rasa, bengkak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan sikap kerja angkat dan frekuensi angkut dengan keluhan MSDs pada pekerja laundry. Penelitian ini menggunakan metode survey analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian ini sebanyak 150 pekerja laundry yang terdapat di Kecamatan Purwokerto Utara, dengan menggunakan metode Simple Random Sampling. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner dan checklist. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat (uji Chi-Square). Hasil penelitian menunjukan ada hubungan sikap angkat dengan keluhan MSDs pada pekerja laundry bagian pencucian (p=0,041), serta tidak ada hubungan sikap angkat dengan keluhan MSDs pada pekerja laundry bagian penimbangan (p=1,000), pengeringan (p=0,284), penyeterikaan (p=0,143) dan pengemasan (p=0,060). Tidak ada hubungan frekuensi angkut dengan keluhan MSDs pada pekerja laundry bagian penimbangan (p=1,000), pencucian (p=0,075), pengeringan (p=0,589), penyeterikaan (p=0,329) dan pengemasan (p=1,000). Disarankan pemilik jasa laundry menyediakan alat kerja yang ergonomis. Bagi pekerja disarankan bekerja dengan sikap kerja yang benar untuk mengurangi keluhan MSDs.


Kata Kunci : Sikap, Frekuensi, Musculoskeletal Disorders
Daftar Pustaka : 48 (1981-2012)
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
2013

ABSTRACT

SEPTI MAULIDYA

THE CORRELATION BETWEEN RAISE POSTURES AND TRANSPORT FREQUENCIES WITH INDICATION MUSCULOSKELETAL DISORDES (MSDs) ON LAUNDRY WORKERS ON NORTH PURWOKERTO DISTRICT

Laundry activities there are five parts, weighing, washery, drainage, ironing and packing. These parts have risk factors to indication MSDs, weighing and washery in bowing position, drainage in standing position, ironing and packing in sitting position for long time. It is a with indication on skeletal muscule parts felt by someone from as pain, hot, sore, cramping, insensible, swelling. The purpose of this research is to know the correlation between raise postures and transport frequencies with indication MSDs on laundry workers. It used analitik survey method by approach cross-sectional. The reasearch samples are 150 worker on laundry services in North Purwokerto district, the samples taken by simple random sampling tecnichue. Taking data was done by used questionnaire and checklist. Analys data use univariate dan bivariate (Chi-Square test). Result of research shows that there is a relation between raise postures with indication MSDs on laundry workers subdivision washery (p=0,041), and there is no relation between raise postures and indication MSDs on laundry workers subdivision weighing (p=1,000), drainage (p=0,284), ironing (p=0,143) and packing (p=0,060). There is no relation hauling frequencies with indication MSDs on laundry workers subdivision weighing (p=1,000), washery (p=0,075), drainage (p=0,589), ironing (p=0,329) and packing (p=1,000). Suggested for laundry service owner to supply with ergonomic equipment for working. The workers, they must apply the right posture body ,when their working to reduce indication MSDs.


Keywords : Postures, Frequencies, Musculoskeletal
Bibliography : 48 (1981-2012)
3516300G1D009056PERBEDAAN TINGKAT STRES MAHASISWA ANGKATAN 2012 JURUSAN KEPERAWATAN FKIK UNSOED PADA KELOMPOK TERAPI TERTAWA DAN TERAPI HUMOR
Latar belakang : Mahasiswa baru dengan sistem blok tidak terlepas dari stres. Sumber stres paling besar dirasakan berasal dari kehidupan akademik, seperti tugas kuliah, materi kuliah yang kompleks dan adaptasi sosial dengan lingkungan kampus, yang akan berdampak pada kognitif, emosional, fisiologis dan perilaku mahasiswa. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah stres adalah terapi tertawa dan terapi humor karena dapat merangsang pengeluaran endorphin dan serotonin, yang membuat tenang dan mengurangi tingkat hormon stres.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas antara terapi tertawa dan terapi humor terhadap tingkat stres mahasiswa angkatan 2012.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain quasy eksperimental dengan rancangan two group pre post static design. Metode pengambilan sampel dengan total sampling. Sampel berjumlah 40 mahasiswa angkatan 2012 yang dibagi dalam 2 kelompok, yaitu 20 terapi tertawa dan 20 terapi humor. Analisis statistik yang digunakan pada penelitian ini adalah analisa statistik t 2n independent.
Hasil : Hasil analisa pretest tingkat stres mahasiswa pada kelompok terapi tertawa adalah 15 (75%) responden dalam kategori stres ringan dan 5 (25%) responden dalam kategori stres sedang, dan posttest terdapat 20 (100%) responden dalam kategori tidak stres. Hasil analisa pretest tingkat stres mahasiswa pada kelompok terapi humor adalah 13 (65%) responden dalam kategori stres ringan dan 7 (25%) responden dalam kategori stres sedang, dan posttest terdapat 11 (55%) responden dalam kategori tidak stres, 8 (40%) responden dalam kategori stres ringan dan 1 (5%) dalam kategori stres sedang. Berdasarkan hasil analisis dengan uji statistik t 2n independent didapatkan bahwa nilai t hitung 5,635 > t tabel 2.021 dengan demikian Ha diterima.
Kesimpulan : Terdapat perbedaan tingkat stres mahasiswa yang signifikan antara kelompok terapi tertawa dan terapi humor terhadap tingkat stres pada mahasiswa angkatan 2012 jurusan keperawatan FKIK Unsoed.
Background: New Students with the block system can not be separated from stress. The greatest perceived sources of stress comes from academic life, such as assignments, lecture materials are complex, besides social adaptation to the campus will have an impact to the cognitive, emotional, physiological and behavior of students. One of solution to overcome the problem of stress is laughter or humor therapy, because it can stimulate the production of endorphins and serotonin, which create calm and reduce stress hormone levels.
Objective: This study aims to determine the differences between laughter and humor therapy effectiveness toward students stress level.
Methods: This study using the quasy experimental design with two drafts group pre post static design, with total sampling method. The sample consists of 40 students 2012 intake, divided into two groups; 20 for laughter therapy and the rest 20 for humor therapy. The statistical analysis used in this study was a statistical analysis of t 2n independent.
Results: The result of pretest in students’ level of stress on laughter therapy group is 15 (75%) respondents are in mild stress category, and 5 (25%) respondents are in moderate stress category, and the result of posttest is 20 (100%) respondents are in not stress category. The result of pretest in students’ level of stress on humor therapy group is 13 (65%) respondents are in mild stress category and 7 (25%) respondents are in moderate category, and the result of posttest is 11 (55%) respondents are in not stress category, 8 (40%) respondents are in mild stress category and 1 (5%) respondent is in moderate category. Based on the analysis result using statistical tests t 2n independent, found that the value of t calculate (5,635) is greater than t table (2.021). Thus, Ha accepted.
Conclusion: There is a significant difference of level of stress between laughter and humor therapy toward the level of stress in Nursing Majoring Students of Jenderal Soedirman University 2012 intake.
3526302G1D009024PENGARUH CLAY THERAPY TERHADAP KECEMASAN
AKIBAT HOSPITALISASI PADA PASIEN ANAK
USIA PRASEKOLAH DI RSUD BANYUMAS
Latar belakang: Dampak hospitalisasi pada anak salah satunya adalah cemas yang dapat mengganggu proses penyembuhan. Oleh karena itu diperlukan cara untuk mengurangi kecemasan, salah satunya dengan terapi bermain.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh clay therapy sebagai salah satu dari jenis terapi bermain terhadap kecemasan akibat hospitalisasi pada pasien anak usia prasekolah di RSUD Banyumas.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre experiment dengan pendekatan pre test post test one group design. Pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 18 responden. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner kecemasan. Analisis data yang digunakan adalah uji Paired samples t test.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh clay therapy terhadap kecemasan akibat hospitalisasi pada pasien anak usia prasekolah di RSUD Banyumas. Uji statistik Paired samples t test menunjukkan p value> 0,05 (p value 0,257).
Kesimpulan: Tidak ada pengaruh clay therapy terhadap kecemasan akibat hospitalisasi pada pasien anak usia prasekolah di RSUD Banyumas.
Background: Impact of hospitalization to the children are anxious who can disturb recovered process. So that need manner to decrease anxiety, either with play therapy.
Purpose: This research aims to determine the effect of clay therapy as one of play therapy on hospitalization anxiety of preschool children patients in RSUD Banyumas.
Method: This research used design approach pre experiment with pre test post test one group design. Sampling used consecutive sampling with a sample size of 18 respondents. Research instrument used anxiety questionnaire. Analysis of the data used statistical test of paired samples t test.
Result: Result showed that there were no effect of clay therapy on hospitalization anxiety of preschool children patients in RSUD Banyumas. Paired samples t test showed p value> 0,05 (p value=0.257).
Conclusion: There were no effect of clay therapy on hospitalization anxiety of preschool children patients in RSUD Banyumas.
3536303G1D009082HUBUNGAN PARITAS DAN RIWAYAT MENYUSUI DENGAN USIA IBU MENOPAUSESetiap wanita memasuki usia menopause berbeda-beda. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti paritas dan riwayat menyusui. Menopause terjadi karena cadangan folikel primordial habis. Pada kehamilan dan menyusui tidak terjadi menstruasi, sehingga menghemat cadangan folikel primordial dan memperpanjang wanita tersebut masuk usia menopause. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan paritas dan riwayat menyusui dengan usia ibu menopause di kelurahan grendeng purwokerto utara. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Grendeng Purwokerto Utara dengan populasi dalam penelitian ini adalah wanita menopause usia 40 sampai dengan 60 tahun yang berjumlah 874. Sampel penelitian sebanyak 308 responden yang diambil dengan metode cluster random sampling selama masa penelitian pada bulan Maret 2013. Instumen yang digunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji chi square. Hasil analisis menunjukan bahwa ada hubungan paritas dengan usia ibu menopause diketahui nilai p=0,000 (p<α=0,05). Lama menyusui menunjukan ada hubungan signifikan dengan usia ibu menopause diketahui nilai p=0,002 (p<α=0,05). Jumlah anak yang disusui juga menunjukan ada hubungan dengan usia ibu menopause diketahui nilai p=0,000 (p<α=0,05). Hasil penelitian untuk pemberian ASI eksklusif menunjukan tidak adanya hubungan yang signifikan dengan usia ibu menopause diperoleh nilai p=0,084 (p ˃ α=0,05). kesimpulan paritas, riwayat menyusui dapat mempengaruhi usia menopause. Hal tersebut dikarenakan tidak terjadi menstruasi saat kehamilan dan menyusui yang mempengaruhi kadar hormon reproduksi.
Abstract: Every women have difference of entering menopause age. It caused by several factors such as parity. The average age of women entering menopause around 50 years. Menopause occurs because the primordial follicle reserve close to zero, while Pregnancy and breastfeeding without menstruating will backup save primordial follicles and extend women enter menopause age. The purpose of this study was evaluate the relations between parity and history of breastfeeding with age of mother menopause in grendeng village purwokerto north. This research is observational research, which used the cross sectional approach. This population of this research were 874 of 40-60 years old menopausal women and 308 respondents as the research samples were taken during the research in March 2013 used cluster random sampling method. The study, obtained using the chi square test showed the significant association between parity and age at menopause obtained p value = 0.000 (p <α = 0.05). Duration of breastfeeding showed the significant association with age of menopause obtained p value = 0.002 (p <α = 0.05). The number of breast-fed children also showed association with age at menopause results obtained p value = 0.000 (p <α = 0.05) . As for the exclusive breastfeeding did not show a significant association with the age of menopause obtained p value = 0.084 (p> α = 0.05).
3546304G1D009018PENGARUH AROMATERAPI ROSEMARY TERHADAP MEMORI JANGKA PENDEK LANJUT USIA DI PANTI WREDA CATUR NUGRAHA BANYUMASPENGARUH AROMATERAPI ROSEMARY TERHADAP MEMORI JANGKA PENDEK LANSIA DI PANTI WREDA
CATUR NUGRAHA BANYUMAS

Prisca Aria Darma Wijaya 1), Wahyu Ekowati 2), Tulus Setiono 3)

Jurusan Keperawatan FKIK Unsoed


Latar Belakang: Salah satu dampak dari proses penuaan pada lansia adalah penurunan kognitif yang akan berimbas pada penurunan memori jangka pendek. Ada metode untuk meningkatkan memori, salah satunya dengan aromaterapi. Aromaterapi adalah cara penyembuhan dengan menggunakan konsentrasi minyak esensial yang sangat aromatik yang diekstrasi dari tumbuh-tumbuhan.
Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh aromaterapi rosemary terhadap memori jangka pendek lansia di Panti Wreda Catur Nugraha.
Metode: Penelitian ini termasuk jenis pre experiment dengan rancangan one group pre and posttest design, yang dilakukan terhadap 26 lansia. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dengan α = 0,05.
Hasil: Memori jangka pendek lansia sebelum diberikan aromaterapi yaitu 18,38 dan sesudah diberikan aromaterapi menjadi 21,46, dengan p = 0,001.
Kesimpulan: Aromaterapi rosemary dapat meningkatkan memori jangka pendek lansia di panti wreda Catur Nugraha.


Kata kunci: aromaterapi rosemary, lansia, memori jangka pendek
EFFECT OF ROSEMARY AROMATHERAPY TO SHORT TERM MEMORY IN ELDERLY AT NURSING HOME CATUR NUGRAHA BANYUMAS

Prisca Aria Darma Wijaya 1), Wahyu Ekowati 2), Tulus Setiono 3)

Nursing FKIK Unsoed

Background: One of the effects from the agging process in elderly on cognitive decline is going to impact on short-term memory loss. There is a method to improve memory, one of them us aromatherapy. Aromatherapy is a way of healing by using the concentration of highly aromatic essential oils that was extracted from plants.
Objective: This study was conducted to determine the effect of aromatherapy on short-term memory in elderly at nursing home Catur Nugraha.
Methods: This research includes on pre experiment design with one group pre and posttest design. It was conducted on 26 elderly. Data analysis using the Wilcoxon test with α = 0.05.
Results: Elderly short term memory before was given aromatherapy is 18.38 and after given aromatherapy become 21.46, with p = 0.001.
Conclusion: Aromatherapy rosemary can improve short-term memory in elderly at nursing home catur nugraha.


Keywords: aromatherapy rosemary, elderly, short-term memory
3556305G1D009046HUBUNGAN MORNING BRIEFING DENGAN MOTIVASI KERJA PERAWAT DI RSUD BANYUMASLatar Belakang: Morning Briefing membantu menyelesaikan masalah dengan mencarikan solusi yang tepat melalui komunikasi positif. Komunikasi positif merupakan motivasi bagi karyawan dengan menciptakan suasana yang kondusif sehingga tujuan akhir tercapai. Morning briefing sudah diterapkan, namun belum ada evaluasi mengenai pelaksanan kegiatan ini terhadap motivasi kerja perawat di RSUD Banyumas.
Tujuan: Penelitian ini menganalisis hubungan morning briefing dengan motivasi kerja perawat di RSUD Banyumas.
Metode: Rancangan cross sectional dipersiapkan untuk meneliti 124 sampel perawat di 13 ruang rawat inap RSUD Banyumas. Kuesioner Morning Briefing dan Kuesioner Motivasi Kerja Perawat dimodifikasi dan dipakai sebagai instrument pengukuran.
Hasil: Rerata umur responden 30,94 tahun (SD= 5,641, min 22 dan max 45), umur responden 22-29 tahun (42,5%), rerata lama kerja responden 7,35 tahun ( SD= 5,558, min 1 dan max 24), lama kerja 1-8 tahun (69,9%), mayoritas responden perempuan (72,6%), dan pernah training morning briefing (48,4%). Morning briefing (71,8%) dan motivasi kerja perawat (76,6%) dalam kategori sedang. Morning briefing menunjukkan hubungan positif terhadap motivasi kerja perawat (r=0,621, p<0,001). Komunikator kegiatan (r=0,533, p<0,001), isi pesan kegiatan (r=0,633, p<0,001), dan intensitas kegiatan (r=0,404, p<0,001) menunjukkan hubungan positif terhadap motivasi kerja perawat. Morning briefing menunjukkan hubungan positif dengan otonomi kerja (r=0,514, p<0,001), tanggungjawab kerja (r=0,413, p<0,001), kebijakan rumah sakit (r=0,278, p<0,05), hubungan dengan rekan kerja (r=0,497, p<0,001), dan supervisi atasan (r=0,241, p<0,05).
Kesimpulan: Morning briefing dan motivasi kerja perawat di RSUD Banyumas disetiap ruang perawatan dalam kategori sedang. Morning briefing berpengaruh positif terhadap motivasi kerja perawat di RSUD Banyumas.
Saran: RSUD Banyumas perlu melakukan evaluasi mengenai intensitas kegiatan morning briefing dan motivasi kerja perawat yang sudah berjalan. Upaya peningkatan morning briefing dan motivasi kerja perawat perlu dilakukan. Penelitian lebih lanjut perlu untuk mengkaji lebih dalam terkait pelaksanaan morning briefing dan motivasi kerja perawat.
Background: Morning briefing helps to finish problem by finding a solution with positif communication. It is motivation to employes with make condusive situation so that final purpose is reached. Morning briefing have been applied but there was no evaluation for the this activity on nurse work motivation in RSUD Banyumas.
Purpose: This research to analize correlation between morning briefing with nurse work motivation.
Method: Crossectional design used to identify 124 respondents. They are nurse in hospitalization room of RSUD Banyumas. Morning briefing and nurse work motivation questionnaire were modified and used as measurement instrument.
Result: The average of respondent age 30,94 years old (SD=5,641, min 22 and max 45), responden age 22-29 years old (42,5%), the average of work experience responden 7,35 years old (min 1 and max 24), work experience 1-8 years (69,9%), the most of responden were women (72,6%), and have been trained morning briefing (48,4%). Morning briefing (71,8%) and nurse work motivation (76,6%) in moderate categories. Morning briefing showed positive correlation on nurse work motivation (r=0,621, p<0,001). Activity communicatior (r=0,533, p<0,001), activity message (r=0,633, p<0,001), and activity intentivity (r=0,404, p<0,001) showed positive correlation on nurse work motivation. Morning briefing showed positive correlation with work otononimity (r=0,514, p<0,001), work responsibility (r=0,413, p<0,001), hospital policy (r=0,278, p<0,05), work relationship (r=0,497, p<0,001), and head supervision (r=0,241, p<0,05).
Conclution: Morning briefing and nurse work motivation in RSUD Banyumas were on moderate categories in every hospitalization room. There was significant correlation between morning briefing with nurse work motivation in RSUD Banyumas.
Recommendation: RSUD Banyumas need to evaluate about intentifity of process morning briefing activity and nurse work motivation. The efford of morning briefing and nurse work motivation need to increased. Next research need to asses morning briefing and nurse work motivation process.
3566092E1A009198PERAN KORBAN DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA DENGAN UNSUR PENYERTAAN
(Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Banyumas Nomor : 23/Pid.B/2010/PN.Bms)
Kejahatan dapat terjadi tidak terlepas dari peran pelaku maupun korban. Tindak pidana pembunuhan berencana dengan unsur penyertaan yang diatur dalam Pasal 340 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 merupakan salah satu bentuk tindak pidana kejahatan. Korban dalam terjadinya tindak pidana pembunuhan berencana dapat memainkan berbagai peran. Menurut Iswanto, dalam pandangan viktimologi peran korban hendaknya dipertimbangkan sebagai dasar penentuan pertanggungjawaban korban dan menentukan berat ringannya pidana yang dijatuhkan kepada para terdakwa. Dalam perkara Nomor : 23/Pid.B/2010/PN.Bms, korban berperan sebagai participating victim maupun provocative victim. Hakim sebagai pihak yang memiliki wewenang memutus dan mengadili perkara pidana harus menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Keadilan menurut Iswanto adalah keseimbangan perhatian dan perlakuan terhadap setiap orang yang memiliki syarat- syarat yang sama yang terpancar dalam setiap putusan hakim. Dalam Putusan Pengadilan Nomor 23/Pid.B/2010 PN.Bms Majelis Hakim tidak mempertimbangkan peran korban sebagai dasar penjatuhan pidana terhadap para terdakwa. Dengan demikian putusan hakim tersebut belum mencerminkan nilai keadilan.Crime can occur can’t be separated from the role of the offenders and the victim. Premeditated murder complicity which is regulate in article 340 of the Penal Code jo Article 55 clause 1 point 1 of Penal Code is a form of crime. Victim in the occurrence of a criminal offense premeditated murder can take various roles. According to Iswanto in Victimology point of view, the role of victim should be considered as the basis to determine liability of the victim and determine the weight of penalties imposed to the defendant. In premeditated murder complicity case number: 23/Pid. B/2010/PN/Bms, the victim plays a role as participating victim nor provocative victim. Judges as parties who have the authority to judge and make a decision of criminal cases must explore, follow, and understand the legal values and sense of justice that lives within the society. Justice according to Iswanto is balances attention and treatment for anybody who has same requirements that radiated in every judge decision. In court judgment number 23 / 2010 / Pid.B/ Pn.Bms, the judge did not consider the role of victims as a base for impose the criminal sanction to the defendant. Thus judge decision has not reflected value of justice yet.
3576306G1D009009PERBEDAAN KECERDASAN EMOSIONAL PERAWAT DI RUANG INTENSIVE, KEGAWATDARURATAN, DAN RAWAT INAP RSUD BANYUMASPERBEDAAN KECERDASAN EMOSIONAL PERAWAT DI RUANG INTENSIVE, KEGAWATDARURATAN, DAN RAWAT INAP

Sujayanti1), Wastu Adi Mulyono2), Ida Susilowati3)

ABSTRAK

Latar belakang: Kestabilan emosional sangat penting dalam menghadapi keadaan darurat, keluarga yang tertekan, serta situasi sulit lainnya. Oleh karea itu perawat perlu mengembangkan kecerdasan emosionalnya. Lingkugan kerja dapat mempengaruhi kecerdasan emosional. Tipikal ruang intensive, gawatdarurat, dan rawat inap memungkinkan bervariasinya kecerdasan emosional perawat.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan kecerdasan emosional perawat di ruang intensif, kegawatdaruratan dan rawat inap.
Metode: desain cross sectional diaplikasikan untuk meneliti 87 responden di ruang intensive, gawatdarurat dan rawat inap yang dipilih secara Total Sampling dan Simple Random Sampling.
Hasil: uji Kruskal-Wallis menunjukkan kecerdasan emosional di ICU, IGD dan IRNA berbeda bermakna (p=0,013: α = 0,05). Uji Mann-Whitney menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna kecedasan emosional perawat di ruang kegawatdaruratan dan rawat inap (p=0,120), tetapi ada perbedaan kecerdasan emosional antara ruang intensive dan kegawatdaruratan (p=0,014), juga antara ruang intensive dan rawat inap (p=0,043). Hasil uji Chi-Square menunjukkan juga ada hubungan bermakna antara kecerdasar emosional dengan masa kerja dan status pekerjaan dengan p (0,006 dan 0,035).
Kesimpulan: Ada perbedaan kecerdasan emosional perawat di ruang intensive dan kegawatdaruratan, dan juga antara ruang intensive dan rawat inap.

Kata kunci : intensive, iklim organisasi, kecerdasan emosional, kegawatdaruratan, rawat inap.
THE DIFFERENCE EMOTIONAL INTELLIGENCE OF NURSE IN INTENSIVE ROOM, EMERGENCY AND INPATIENT WARDS

Sujayanti1), Wastu Adi Mulyono2), Ida Susilowati3)

ABSTRACT

Background: Emotonal stability is important in controlling emergency, depressed family, and complicated situation. Therefore, nurses should improve their emotional intelegence. Work environment may influeces emotional intelegence. Intensive, emergency, and inpatient wards may develop varies nurses’ emotional intelegence.
Objective: This reseach is to identify emotional inteligence diference between intensive, emergency, and inpatien wards.
Method: cross sectional design was applied to investigate 87 respondents selected by Total Sampling dan Simple Random Sampling in intensive, emergency, ad inpatien wards
Result: Kruskal-Wallis test showed that emotional inteligence in those wards were difference significantly (p=0.013: α = 0.05). Whilst Mann-Whitney test found that emergency and inpatient wards were not different. However, there wee significant diferences between intensive and emergency ward (p=0.014), and between intensive and inpatien ward (p=0.043). Chi-Square test showed significant relationship between emotional intelegence and each work tenure and job status by p (0,006 dan 0,035) respectively.
Conclusion. Nurrses’ emotional intelegence are deference between intensive and emergecy ward and different between intensive and inpatient ward.

Keyword : emergenyc, emotional intelligence, inpatient, intensive, work climate
3586307G1D009039HUBUNGAN BERAT BAYI LAHIR TERHADAP TERJADINYA STRES INKONTINENSIA URIN POST PARTUM DI RSBD PANTI NUGROHO PURBALINGGAABSTRAK Latar belakang: Stres inkontinensia urin merupakan jenis inkontinensia yang sering ditemukan pada post partum. Salah satu faktor risiko yang menyebabkan terjadinya stres inkontinensia urin adalah berat bayi lahir sehingga menyebabkan trauma kandung kemih yang dapat mengakibatkan saraf dan impuls motorik terganggu. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan berat bayi lahir terhadap terjadinya stres inkontinensia urin post partum di RSBD Panti Nugroho Purbalingga. Metode: Penelitian ini menggunakan desain case control. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 111 responden. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner stres inkontinensia urin. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan berat bayi lahir terhadap terjadinya stres inkontinensia urin post partum di RSBD Panti Nugroho Purbalingga. Uji statistik Chi-square tabel 2X2 kontingensi menunjukkan pvalue>0,05 (pvalue 0,770). Kesimpulan: Tidak ada hubungan berat bayi lahir terhadap terjadinya stres inkontinensia urin post partum di RSBD Panti Nugroho Purbalingga. Kata kunci: Stres inkontinensia urin, Berat bayi lahir, Post partum.ABSTRACT Background: Stress urinary incontinence is a common incontinence found during post partum. One of the risk factors which cause stress urinary incontinence is the weight of the newborn causing bladder trauma that finally affects unbalanced motoric nerve and impulse. Purpose: This research is aimed to investigate the relation between the weight of the newborn and post partum stress urinary incontinence in RSBD Panti Nugroho Purbalingga. Method: This research uses case control design. The sampling technique occupied in this research is purposive sampling with 111 respondents. The instrument of the research is the Stress Incontinence Questionnaire. Result: The findings show that there is no relation between the weight of the newborn and post partum stress urinary incontinence in RSBD Panti Nugroho Purbalingga. The statistical test of Chi-square 2X2 table contingency shows pvalue>0,05 (pvalue 0,770). Conclusion: There is no relation between the weight of the newborn and post partum stress urinary incontinence in RSBD Panti Nugroho Purbalingga.
Keyword: Stress urinary incontinence, the weight of the newborn, post partum
3596308P2EA11003TANGGUNG JAWAB PERDATA BANK TERHADAP TINDAKAN FRAUD KARYAWAN YANG MERUGIKAN NASABAHTujuan dari penelitian ini diharapkan agar dapat memberikan sumbangan pemikiran baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis diharapkan memberikan gambaran teori-teori yang relevan untuk dapat meyelesaikan kasus. Secara praktis diharapkan memberikan informasi pengetahuan bagi pihak-pihak yang berkepentingan baik itu lembaga pemerintah, perbankan maupun nasabah.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif yaitu pendekatan yang memandang hukum sebagai suatu sistem normatif yang mandiri, bersifat tertutup dan terlepas dari kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian berupa penemuan hukum in absrtacto dalam hukum in concreto, yaitu dalam usaha menemukan apakah hukumnya sesuai untuk diterapkan dan dimana peraturan tersebut dapat ditemukan. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, bahan hukum tersier.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa, tanggungjawab perdata bank terhadap tindakan fraud karyawan yang merugikan nasabah adalah tanggung jawab langsung. Adapun dasar dari tanggung jawab langsung adalah Pasal 1365 KUHPerdata. Pertanggungjawaban ini terjadi jika perbuatan melawan hukum atau fraud dilakukan oleh pihak bank itu sendiri. Kemudian tanggung jawab tidak langsung, yaitu tanggung jawab berdasarkan pasal 1367 ayat (3) KUHPerdata. Tanggung jawab ini adalah apabila perbuatatan fraud atau perbuatan melawan hukum tersebut dilakukan oleh karyawan bank dan telah memenuhi unsur-unsur pasal tersebut.
Perlindungan terhadap nasabah ada dua yaitu, perlindungan kontraktual dan non-kontraktual. Pelindungan kontraktual yaitu perlindungan yang berasal dari isi perjanjian yang telah sepakati, yaitu perlindungan nasabah untuk mendapatkan haknya berupa pengembalian uang simpanan plus bunga. Sedangkan perlindungan non-kontraktual adalah perlindungan yang berasal dari peraturan Perundang-undangan. Nasabah mendapat perlindungan dari Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
The purpose of this research is expected to be able to contribute ideas both theoretically and practically. Theoretically expected to provide an overview of relevant theories in order to settle the case. Practically expected to provide knowledge to the parties concerned whether government agencies, banks and customers.
The method used in this study is a normative juridical approach that sees the law as an independent normative system which closed and detached from habbitually. This research use type of legal discovery in absrtacto in law in concreto, it is attempt to find out whether the law according to which the rules apply and can be found. Data used in this study is secondary data that consist of primary legal materials, secondary legal materials, legal materials tertiary.
The result of the research concludes that the responsibility of civil bank for fraud action of the employee that harm the customer is the direct responsibility. The basis of the direct responsibility is Article 1365 of the Civil Code. This responsibility happens if the liability tort or fraud committed by the banks themselves. Then, indirect responsibility is the responsibility based on the article 1367 paragraph (3) Civil Code. This responsibility is if fraud action or unlawful act was committed by bank employees and has met the elements of that article.
There are two steps of protection for the customer, contractual protection and non-contractual protection. Contractual protection is protection from the agreement that has been agreed upon, namely the protection of the customer to obtain redress in the form of a refund deposits plus interest. While the non-contractual protection is protection from the legislation. Customers receive the protection of the Law No. 10 year 1998 regarding bank and Law No. 8 year 1999 regarding Consumer Protection.
3606309G1D009064Pengaruh pemberian alat permainan edukatif (APE) terhadap peningkatan kemampuan kognitif anak usia sekolah di SD N 4 Rempoah Abstrak

Latar Belakang : Piaget mengungkapkan anak usia sekolah sedang mengalami tahap operasional konkret dengan perkembangan kognitif membaca, konservasi, klasifikasi dan kombinasi. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan kognitif adalah dengan menggunakan APE.
Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian APE terhadap peningkatan kemampuan kognitif anak usia sekolah di SD N 4 Rempoah Kecamatan Baturraden Tahun Ajaran 2012/2013 pada mata pelajaran Matematika.
Metode : Rancangan one group pretest postest diaplikasikan untuk meneliti 28 sampel siswa kelas 4 sekolah dasar secara total sampling. Analisa data menggunakan pair t test, sedangkan confounding variable menggunakan uji Spearman dan dan uji Fisher.
Hasil : Hasil uji menunjukkan perbedaan nilai matematika sebelum dan setelah aplikasi APE (p=0,000; α=0,05). Usia dan jenis kelamin tidak berhubungan dengan kemampuan kognitif anak (p=0,730 dan p=0,722; α=0,05). Perilaku mendengarkan dan memperhatikan berkorelasi negatif dengan kemampuan kognitif anak dan bermakna (p=0,034, r=-0,413 dan p=0,029 , r=-0,413). Sedangkan persepsi dan kemampuan kognitif anak tidak memiliki hubungan yang bermakna (p=0,945, r=0,14).
Kesimpulan : Terdapat pengaruh pemberian APE terhadap kemampuan kognitif siswa kelas 4 di SD N 4 Rempoah, Kabupaten Banyumas.
Saran : Perlunya studi lebih lanjut dengan memperhatikan variabel mendengarkan, dan memperhatikan.

Kata kunci : Operasional konkret, APE, Matematika
Referensi : 43 (1992-2013)
Abstract

Background: Piaget stated that school-age children experience operational concrete phase including reading conserving, classifying and combining. The ways to improve cognitive ability is using APE, which is designed for optimizing children's ability.
Purpose : This research is identify effect of APE to increase cognitive abilitiy on Mathematic course at SD N 4 Rempoah Baturraden District.
Methods : One group pretest and posttest was applied to investigate 28 samples elementary school students by total sampling. Paired t test, Spearman, and Fisher were used to analyze data.
Results : Results showed mean differences of Mathematic scores between pre and post intervention (p value=0.000; α=0.05). While age and sex were not related significantly to cognitive (p=0,730 dan p=0.722; α=0.05). Listening behavior and attention had negative and significant correlation to cognitive (p=0.034, r=-0.413 dan p=0.029, r=-0.413), while perception did not correlate significantly (p=0.945, r=0.14
Conclusion : APE affects the student’s cognitive ability.
Recommendation : Investigation to variable attention and listening.

Keywords: Operational concrete, APE, Mathematics
Reference: 43 (1992-2013))