Artikelilmiahs
Menampilkan 361-380 dari 52.036 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 361 | 6322 | G1F009052 | AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID TOTAL DARI EKSTRAK DAUN SLATRI (Calophyllum soulattri) | AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID TOTAL DARI EKSTRAK DAUN SLATRI (Calophyllum soulattri) INTISARI Daun slatri (Calophyllum soulattri) yang mengandung flavonoid, tanin, xantone, dan kumarin, berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antioksidan dan kadar flavonoid total ekstrak etanol daun slatri. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental laboratorium yang meliputi uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) ditentukan oleh besarnya hambatan serapan radikal DPPH yang dinyatakan dengan IC50. Kadar flavonoid total ditentukan dengan metode kolorimetri dengan pereaksi AlCl3 yang dinyatakan sebagai prosentase rutin dalam ekstrak. Hasil penelitian menunjukkan IC50 ekstrak etanol daun slatri terhadap DPPH dengan sebesar 39,63 ± 14,99 ppm dan kadar flavonoid total ekstrak daun slatri sebesar 25,677 ± 0,046 % rutin dalam ekstrak. | ANTIOXIDANT ACTIVITY AND DETERMINATION TOTAL FLAVONOID CONTENT OF SLATRI LEAVE EXTRACT (Calophyllum soulattri) ABSTRACT Slatri leaves (Calophyllum soulattri) which contains flavonoids, tanin, xhantone, and cumarin, has potential as an antioxidant. This research objective is to find antioxidant activity and count the concentration of flavonoid total ethanol extract of slatri leaves. This research was conducted with laboratory experimental methods which include antioxidant activity assay using DPPH (2,2-diphenyl-1-pikrilhidrazil) is determined by the amount of DPPH radical absorption barriers represented by IC50. Levels of total flavonoids was determined by colorimetric method with AlCl3 reagent routinely expressed as a percentage in the extract. The results showed IC50 leaf ethanol extract against DPPH with slatri of 39.63 ± 14.99 ppm and total flavonoid content of leaf extracts slatri of 25.677 ± 0.046% in the extract routine. | |
| 362 | 22281 | H1C014073 | ANALISIS SISTEM PHOTOVOLTAIC BUS DC TERHUBUNG JALA-JALA MENGGUNAKAN PSIM | Berkaitan dengan pembangkit energi terbarukan, seperti pembangkitan terdistribusi, masalah efisiensi juga terdapat pada jenis sistem distribusi yang diterapkan. Dengan memanfaatkan sumber-sumber energi terbarukan seperti photovoltaic cell dan fuel cell dimana sumber-sumber tersebut menghasilkan keluaran DC, maka penggunaan sistem distribusi AC dapat menimbulkan lebih banyak losses akibat banyaknya proses konversi tegangan. Penggunaan sistem distribusi DC pada pembangkitan terdistribusi melibatkan lebih sedikit konverter, sehingga sistem distribusinya menjadi lebih efektif dan berpotensi mempunyai efisiensi sistem yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui unjuk kerja pada masing-masing topologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sistem dc. Topologi yang digunakan pada penelitian ini yaitu on-grid dan off-grid yang akan dianalisa unjuk kerjanya dari sisi pembangkit dan sisi beban dengan menggunakan software PSIM. PSIM adalah salah satu produk dari perusahaan Powersim yang ditujukan khusus untuk keperluan simulasi di bidang elektronika daya (power electronics). Dari hasil simulasi dapat disimpulkan, efisiensi sistem paling rendah yaitu 86,57% dengan losses sebesar 135,775 W terjadi pada konfigurasi PV-baterai dan jala-jala dengan nilai resistansi 0,5 Ohm. Sedangkan, presentase efisiensi paling tinggi yaitu 99,39% dengan nilai resistansi beban 12 Ohm pada konfigurasi jala-jala dan PV-tanpa baterai dengan losses sebesar 0,804535329 W; konfigurasi jala-jala dengan losses sebesar 0,294 W; dan konfigurasi PV-tanpa baterai dengan losses sebesar 0,8049 W. | According to renewable energy, such as distributed generation, efficiency problem also occurred in applied distribution system. To utilize renewable energies such as photovoltaic cell and fuel cell which produce DC power, thus with AC distribution system can produce more losses than DC distribution system because of more process in power conversion. In distributed generation with DC distribution system that use less converter, the distribution system is more effective and potentially have better efficiency system. This paper objective is to know system performance in each topologies in PLTS on grid with DC system. Topologies that include in this paper are on-grid topology and off grid topology. That would be analyzed the system performance in generation and load with PSIM software. PSIM software is one product of POWERSIM company for simulation in power electronics. The conclusions is that the lowest system efficiency is 86,57%, in PV-24 V battery and grid configuration, 0,5 load resitance with losses about 135,775 W. Whereas the greatest system efficiency is 99,39% with 12 Ohm load resistance. We can get the greatest system efficiency in grid and PV no battery with losses about 0,804535329 W; grid configuration with losses about 0,294 W; PV no battery configuration with losses about 0,8049 W. | |
| 363 | 6323 | G1B009034 | EVALUASI PENGELOLAAN SAMPAH (Studi Kualitatif Evaluasi Pengelolaan Sampah di Kelurahan Grendeng Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas) | Kepadatan penduduk akan mengakibatkan peningkatan produksi sampah setiap harinya, sehingga diharapkan agar pengelolaannya dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Pandangan masyarakat masih menganggap sampah merupakan barang yang tidak mempunyai nilai, sehingga mereka memperlakukan sampah menurut keinginan mereka sendiri. Pelaksanaan pengelolaan sampah diperlukan aspek-aspek pengelolaan sampah yang berkesinambungan. Untuk itu diperlukan evaluasi pengelolaan sampah sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 6 Tahun 2012 dengan harapan aspek-aspek pengelolaan sampah dapat sesuai dengan peraturan dan dapat berkesinambungan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengelolaan sampah di Kelurahan Grendeng Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas. Mtode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Subyek penelitian diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 5 orang yang terdiri dari 1 orang sebagai informan utama dan 4 orang sebagai informan pendukung. Cara pengumpulan data dengan wawancara mendalam, observasi, analisis dokumen, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa evaluasi pengelolaan sampah di Kelurahan Grendeng Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas belum semua aspek pengelolaan sampah sesuai dengan Peraturan, sehingga menimbulkan ketidaklancaran dalam pelaksanaan pengelolaan dan menimbulkan dampak kesehatan, dampak lingkungan, dan dampak sosial ekonomi pada wilayah tersebut yang merugikan bagi masyarakat. | Purwokerto of Banyumas District. Methods that used was qualitative descriptive. Respondent obtained by purposive sampling amounted to 5 people consisting of one major informer and 4 people as supporters informer. The data, collected in deep interview, observation, document analysis, and documentation. The result indicated that of not all aspects of waste management in regulations, why so that the implementation of the management not clear and society got disadvanteges. | |
| 364 | 6324 | G1B009024 | FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KETIDAKBERHASILAN PENGOBATAN TUBERKULOSIS PARU (TB PARU) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS | Indonesia menduduki peringkat terbesar keempat insiden kasus tuberkulosis di dunia. Upaya penanggulangan TB Paru yang telah dilakukan yaitu melalui program DOTS, dengan salah satu upayanya adalah pengobatan yang dilakukan selam 6 bulan. Proses pengobatan yang memakan waktu lama sehingga besar kemungkinan terjadinya drop out pengobatan sehingga proses pengobatan tidak berhasil. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan ketidakberhasilan pengobatan TB Paru di wilayah kerja Puskesmas II Kembaran. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analitik dengan pendekatan kasus kontrol. Kasus adalah penderita TB paru yang drop out/putus pengobatan, sedangkan kontrol adalah penderita TB paru yang pengobatan lengkap dan dinyatakan sembuh. Jumlah sampel 40 sampel, dengan rincian kasus sebanyak 8 orang dan kontrol sebanyak 32 orang. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan hanya variabel kepatuhan minum obat yang terbukti berhubungan dengan ketidakberhasilan minum obat (p=0,000). Variabel-variabel yang tidak terbukti berhubungan yaitu usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, kepatuhan kontrol dahak, kategori PMO, Perilaku PMO dan keterjangkauan ke pelayanan kesehatan. Penderita TB Paru sebaiknya melakukan pengobatan secara patuh dengan berobat teratur dan meminum obat sesuai dosis, kontrol dahak dilakukan sesuai prosedur (3 kali selama masa pengobatan) serta meningkatkan pendidikan kesehatan kepada penderita dengan cara konsultasi selama kontrol pengobatan dan menguatkan peran keluarga sebagai PMO. | Indonesia was ranked the fourth largest incident tuberculosis cases in the world. Pulmonary tuberculosis control efforts that have been done that is through the DOTS program, with one of his efforts was the treatment done during 6 months. Treatment process that takes a long time so the greater the risk of drop out of treatment so that the treatment process was not successfull. The purpose of this study was to determine the factors associated with unsuccesfull treatment of pulmonary tuberculosis in the Public Health’s Center II Kembaran. The method used an analytical method with a case-control approach. Cases are pulmonary tuberculosis patients who drop out/default of treatment, while the controls were pulmonary tuberculosis patients who complete treatment and was declared cured. Number of samples was 40 samples, with details of the case as many as 8 sample and control as many as 32 samples. Statistical test was used chi-square test. Results of research conducted only variable medication adherence showing to be associated with the failure to take medication (p-value = 0.000). While the variables of age, gender, education, employment, compliance control sputum, category of treatment observer, treatment observer’s behavior and affordability to health care was not shown to be associated with the unsuccesfull treatment. Pulmonary tuberculosis patients should take medication regularly with treatment and take medication as prescribed, control of sputum token at 3 times during the treatment period and to improve health education to patients with consultation program during the control treatment. | |
| 365 | 6328 | G1B009053 | FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KETERAMPILAN PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA PADA PETUGAS SURVEILANS DEMAM BERDARAH DENGUE PUSKESMAS DI KABUPATEN BANYUMAS | Petugas surveilans tingkat puskesmas yang ada di Kabupaten Banyumas dianggap masih kurang maksimal dalam pelaksanaan tugasnya. Terbukti sebanyak 66,7% petugas surveilans puskesmas belum melakukan analisis data, tetapi hanya sampai pendataan kasus. Kemampuan analisis data harus dikuasai oleh setiap petugas surveilans untuk menghasilkan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mengambil keputusan dengan cepat dan tepat dalam penanganan penyakit Demam Berdarah Dengue. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan tingkat keterampilan penyajian dan analisis data pada petugas surveilans Demam Berdarah Dengue di tingkat puskesmas di Kabupaten Banyumas. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan pendekatan cross-sectional study. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 35 petugas surveilans puskesmas, metode pengambilan sampel dengan purposive sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Berdasarkan hasil analisis, dari 6 variabel (tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, lama bekerja, pelatihan, motivasi pimpinan dan kelengkapan sarana pengolahan data) menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik dengan tingkat keterampilan penyajian dan analisis data. Saran bagi Dinas Kesehatan yaitu memberikan pelatihan tentang penyajian dan analisis data untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas surveilans, serta memberikan kelengkapan sarana pengolahan data berupa buku petunjuk teknis sebagai sarana penunjang untuk meningkatkan pengetahuan petugas. | Surveillance officer in Banyumas Health Service Center considered still insufficient execution of his duty. Proved to 66,7% 39 surveillance officers have not done an analysis of data, but just case registered. Data analysis ability must be mastered by every surveillance officer to get information that can be used quickly as a basic decision and precisely to handle Dengue Haemoragic Fever. This research aimed to know the factors related to skill level on presentation and analysis of data on Dengue Haemoragic Fever Surveillance officer in Banyumas Health Service Center. This research was quantitative using cross-sectional study approach. The amount of sampels in this study was 35 surveillance officers, with purposive sampling method which meet the criteria of exclusion and inclusion. The result showed that of 6 variables (educational level, level of knowledge, work, training, motivational leadership and completeness of data processing ) were no association with skill level of presentation and analysis of data. Suggestion for Health Departement, provide training about the presentation and analysis of data to improve knowledge level and skill level of surveillance officers, and also give the completeness of data processing facility in the form of a technical manual to improve their knowledge. | |
| 366 | 6326 | G1D008044 | HUBUNGAN PRESTASI AKADEMIK, KETERAMPILAN PSIKOMOTOR DAN KEMATANGAN EMOSI MAHASISWA PROFESI NERS UNSOED TERHADAP KEMAMPUAN MERAWAT KLIEN GANGGUAN JIWA | Latar Belakang : Prestasi akademik adalah pencapaian tingkat keberhasilan karena usaha belajar dilakukan secara optimal. Keterampilan psikomotor adalah keterampilan individu merawat sesuai prosedur keamanan penuh bagi kliennya. Kematangan emosi adalah pencapaian tingkat kedewasaan dari perkembangan emosi. Pada saat profesi ners mahasiswa dilihat kemampuanya dalam merawat klien gangguan jiwa. Tujuan Penelitian : Mengetahui hubungan prestasi akademik, keterampilan psikomotor dan kematangan emosi mahasiswa profesi ners Unsoed terhadap kemampuan merawat klien gangguan jiwa. Metode Penelitian : Penelitian kuantitatif non-eksperimental menggunakan pendekatan cross sectional. Menggunakan teknik total sampling, yang berjumlah 61 mahasiswa. Analisa data menggunakan Rank Spearman. Hasil Penelitian : Hasil analisis Rank Spearman data tidak terdistribusi secara normal atau homogen sehingga mempengaruhi datanya tidak tersebar merata di setiap range, namun mengelompok di 1 range mengakibatkan pengaruh terhadap hasil korelasi dan menyebabkan hasilnya tidak berhubungan antara prestasi akademik, keterampilan psikomotor dan kematangan emosi terhadap kemampuan mahasiswa profesi ners dalam merawat klien gangguan jiwa. Kesimpulan : Tidak ada hubungan signifikan prestasi akademik, keterampilan psikomotor dan kematangan emosi mahasiswa profesi ners Unsoed terhadap kemampuan merawat klien gangguan jiwa. | Background : Academic achievement is the achievement level of success because of the efforts done in an optimal learning. Psychomotor skills are individual skills appropriate care for full security procedures for its clients. Attainment of emotional maturity is the maturity level of emotional development. In Phase profession seen his student nurses ability's caring for clients with mental disorders. Goal : To identify the relationship of academic achievement, psychomotor skills and emotional maturity of the student professional nurses Unsoed client's ability to treat mental disorders. Methods : A quantitative non-experimental study using cross-sectional approach. Using total sampling techniques that amounted to a total of 61 students. Data analysis using the Spearman Rank. Results : Spearman Rank analysis showed no significant association of academic achievement, psychomotor skills and emotional maturity of the student nurses ability caring for clients with mental disorders. Conclusion : There is no significant relationship of academic achievement, psychomotor skills and emotional maturity of the student nurses ability caring for clients with mental disorders. | |
| 367 | 6333 | G1B009078 | EFEKTIVITAS MEDIA LEAFLET DAN FILM DALAM PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PENCEGAHAN HIV/AIDS PADA SISWA SMP MUHAMMADIYAH 3 PURWOKERTO | Masa remaja merupakan masa yang rentan, dan menurut Survey Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) tahun 2007, pengetahuan remaja umur 15-24 tahun tentang kesehatan reproduksi masih rendah dan terdapat 55,2% remaja usia 15-24 tahun yang pernah melakukan perilaku berisiko, sehingga remaja sangat rentan terhadap masalah-masalah kesehatan terutama kesehatan reproduksi diantaranya adalah HIV/AIDS. Hal tersebut mendorong untuk dilakukan pemberdayaan diri dengan menggunakan pendidikan kesehatan untuk membantu diri sendiri dan keluarga dalam mencegah HIV/AIDS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas media film dan leaflet dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap pencegahan HIV/AIDS. Hasil penelitian ini menunjukkan ada perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap setelah pendidikan kesehatan baik yang menggunakan media leaflet maupun film. Media film lebih efektif dibandingkan leaflet, sehingga media film dapat digunakan sebagai alternatif pendidikan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap siswa Sekolah Menengah Pertama. | Adolescence is the susceptible, and according by Indonesia Young Adult Reproductive Health Survey in 2007, knowledge of youth aged 15-24 years of reproductive health is still low and there is 55.2% of youth aged 15-24 years ever do a risky behavior, so that young adult are particularly susceptible to health problems especially reproductive health including HIV/AIDS. The purpose of this study was to determine the effectiveness of media in improving knowledge and attitudes in preventing HIV/AIDS. The results of this study showed a difference in the level of knowledge and attitudes after health education who use media leaflet and film. Media film more effective than leaflets, so that media film can be used as an alternative education health to improve knowledge and attitude students junior high school. | |
| 368 | 6334 | P2BA11047 | OPTIMASI PAKAN BUATAN BERBASIS MEAT AND BONE MEAL (MBM) SEBAGAI PROTEIN UNTUK PERTUMBUHAN DAN SINTASAN JUVENIL LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus) | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sintasan, perbandingan efisiensi pakan dan kinerja pertumbuhan Lobster air Tawar (Cherax quadricarinatus) yang diberi pakan komersil dengan pakan berbahan baku meat and bone meal (MBM). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan masing-masing perlakuan terdiri dari 5 ulangan. Untuk mengetahui pengaruh antar perlakuan dilakukan analisis ragam, dan jika ada perbedaan nyata antara perlakuan dilakukan uji beda nyata Duncan. Parameter yang diamati adalah, laju pertumbuhan harian, pertambahan berat dan bobot tubuh, efisiensi pakan (FCR), kelangsungan hidup (SR) dan hepato somatik indeks. Parameter kualitas air yang diukur adalah suhu, pH, daya larut oksigen (DO). Pakan perlakuan berupa pakan dari tepung ikan dengan 5 kombinasi MBM yang terdiri dari Pakan A sebagai kontrol (100% tepung ikan), Pakan B(25% MBM dan 75% tepung ikan),Pakan C(50% MBM dan 50% tepung ikan), pakan D(75% MBM dan 25% tepung ikan), dan Pakan E(100% MBM) Kadar protein pakan A adalah 25,92%, pakan B 25,98%, pakan C 24,55%, pakan D 23,17% dan pakan E 21,97% udang diberi pakan sampai kenyang (at satiation) dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari yaitu pagi dan malam hari. Pemeliharaan udang dilakukan selama 8 minggu dengan melakukan sampling 7 hari sekali. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sintasan tidak menunjukan perbedaan yang tidak nyata (P> 0,05) sintasan lobster yang tinggi yaitu pada perlakuan pakan PA (K) yaitu 92%. Konversi ratio pakan antara perlakuan pakan A, B, C, D, dan E tidak berbeda nyata (P > 0,05) FCR tertingi dicapai pada perlakuan pakan PE. Laju pertumbuhan harian tidak memberikan pengaruh perbedaan yang nyata (P< 0,05), Dari hasil penelitian didapat bahwa laju pertumbuhan yang tertinggi dicapai pada perlakuan PD. Hepato somatic indek menujukan pengaruh yang nyata (P<0,05) berat tertinggi dicapai pada perlakuan PC dan frekuensi molting menunjukan tidak ada perbedaan nyata (P> 0,05) yaitu paling tinggi dicapai pada kelompok perlakuan pakan PD. Selama penelitian, parameter fisika air pada semua perlakuan masih berada pada kisaran yang layak untuk pemeliharan juvenile lobster air tawar. | This research is aim to determine the survival rate, feed efficiency ratio and growth performance of freshwater lobster (Cherax quadricarinatus) that were fed with commercial feed made from meat and bone meal (MBM). This research uses a completely randomized design with 5 treatments and each treatments consist of 5 repetitions. To determine the effect between treatments it is required analysis of variance, and if there is a real difference between the treatments, the significantly different Duncan test was needed. Observed parameters are, daily growth rate, weight gain and body weight, feed efficiency (FCR), survival (SR) and hepato somatic index. Measured water quality parameters were temperature, pH, solubility of oxygen (DO). Feed treatment in the form of fish meal with MBM combination consists of Feed A as a control (100% fish meal), Feed B (25% MBM and 75% fish meal), Feed C (50% MBM and 50% fish meal) , feed D (75% MBM and 25% fish meal), and feed E (100% MBM). The amount of protein in feed A is 25.92%, B is 25.98%, C is 24.55%, D is 23.17% and E is 21.97%. Shrimp fed to satiety (at satiation) with the frequency of feeding 2 times a day that is morning and evening. Shrimp maintenance done for 8 weeks by sampling once at 7 days Based on the research results, it is found that the survival rate show a difference that is not significant (P> 0.05). Lobster survival rate is highest at the feed treatment PA (K) is 92%. Feed ratio conversion between feed treatments A, B, C, D, and E were not significantly different (P >0.05). The highest FCR achieved in feed treatment PE. Daily growth rate does not give significant differences (P <0.05). From the research results it is found that the highest growth rate achieved in the treatment PD. Hepato-somatic index shows significant effect (P <0.05) the highest weight achieved in the treatment PC and the molting frequency showed no significant differences (P> 0.05) the highest achieved in the group of feed treatment PD. During the research, physical parameters of the water in all treatments still in the appropriate range for the maintenance of juvenile freshwater lobster. | |
| 369 | 6356 | P2AA11001 | RESPON EMPAT VARIETAS PADI TERHADAP DOSIS PUPUK ANORGANIK DAN BOKASHI | Guna mencapai produktivitas padi yang tinggi dan lestari, perlu dikembangkan teknologi usahatani “intensifikasi yang rasional”, dengan memadukan pemberian pupuk anorganik dan pupuk organik secara seimbang. Untuk mengetahui pengaruh pupuk organik dan kombinasinya dengan pupuk anorganik (N, P, K) terhadap peningkatan hasil padi sawah, telah dilaksankan percobaan. Pecobaan dilaksanakan selama tujuh bulan yaitu mulai bulan Agustus 2011 sampai dengan bulan Pebruari 2012 pada lahan sawah di Desa Datar, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas dengan ketinggian tempat 160 meter di atas permukaan laut. Percobaan dilakukan dengan bentuk rancangan petak-petak terbagi tiga faktor, yaitu: varietas (Ciherang, Inpari XIII, IR 64, dan Situbagendit) sebagai petak utama, dosis pupuk anorganik (0% anjuran, tanpa pemberian pupuk urea, SP-36, dan KCl; 50% dosis anjuran, 131,76 kg urea/ha, 50 kg SP-36/ha, dan 50 kg KCl/ha; dan 100% dosis anjuran, 263,51 kg urea/ha, 100 kg SP-36/ha, dan 100 kg KCl/ha) sebagai anak petak, dan dosis bokhasi (0 t/ha, 5 t/ha, 10 t/ha, dan 15 t/ha) sebagai anak-anak petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas IR 64 menghasilkan bobot gabah per rumpun tertinggi (26,93 g). Hal ini berkaitan dengan tingginya bobot gabah permalai (4,16 g). Pemakaian bokashi pada dosis 0 t/ha, 5 t/ha, 10 t/ha dan 15 t/ha tidak memberikan pengaruh terhadap variabel pertumbuhan maupun variabel produksi dari keempat varietas padi yang diuji. Pemakaian pupuk anorganik pada dosis anjuran 100 % (263,51 kg urea/ha, 100 kg/ha SP-36100, dan 100 kg/ha KCl) menghasilkan tinggi tanaman tertinggi (97,389 cm), jumlah anakan II tertinggi (25,67 batang), dan jumlah daun tertinggi (77,19 helai). Pemberian pupuk anorganik belum memberikan pengaruh terhadap bobot gabah per malai. Interaksi ketiga faktor, varietas Ciherang yang dipupuk dengan dosis pupuk anorganik 0% anjuran dan pupuk bokashi 10 t/ha menghasilkan jumlah gabah per malai tertinggi, yaitu 195,41 butir. | Agriculture technology ” rational intentification” needs to be improved in order to reach highest and eternal productivity of paddy, it’s conducted with integrating anorganic fertilizers and organic fertilizers equilibrately. In the aim to know the influence of organic fertilizers and its combination with anorganic fertilizers (N, P, K) to the growth of paddy, there had been held a research. The research has conducted for seven months, started from August 2011 to February 2012 in paddy field, Datar village, Sumbang subdistrict, Banyumas regency with the high place 160 above sea level. The experimental designed was split-split plot design with the factors are: varietas Ciherang, Inpari XIII, IR 64, and Situbagendit) as main plot, the dosages of anorganic fertilizers (0% recommendation), without urea fertilizers giving, SP-36, and KCl, 50% recommended dose, 31,76 kg urea/ha, 50 kg SP-36/ha, and 50 kg KCl/ha; 100% recommended dose, 263,51 kg urea/ha, 100 kg SP-36/ha, and 100 kg KCl/ha) as sub plot, and dosages of bokashi as sub-sub plot.The result of this research showed that variety IR 64 has the high yield (26,93 g). It related to the high yield per malai (4,16 g). The usages of Bokashi of dosages 0 t/ha, 5 t/ha, 10 t/ha and 15 t/ha did not give the influence to the growth and production of all variety of paddy. The usages of anorganic fertilizer to the dose of 100% (263,51 kg area/ha, 100 kg/ha SP-36100, and 100 kg.ha KCl) had the highest plant growth (97,389 cm), the highest amount of second sub (25,67 stems) and the higher leave (77,19 sheets), whereas the application of anorganic fertilizers had not given influence to grains per malai. Interaction of the third factor variety Ciherang which was fertilized with anorganic fertilizers dosages 0 % and Bokashi addition 10 t/ha gave the higher number of grains per malai, it is 195,41 grains. | |
| 370 | 6335 | P2BA11048 | PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG KUNYIT (Curcuma longa L) DALAM RANSUM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN BENIH IKAN NILA (Oreochromis niloticus) | Salah satu aspek yang sudah mulai diteliti untuk meningkatkan pertumbuhan pada ikan sebagai bahan tambahan pakan adalah bioaktif tanaman. Selain bersifat alami, kunyit merupakan tanaman yang banyak digunakan dalam kehidupan manusia dan diketahui mempunyai zat berkhasiat dapat meningkatkan nafsu makan, meningkatkan penyerapan makanan pada usus dan juga dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan kapang. Oleh karena itu, dilakukan penelitian terhadap penggunaan kunyit sebagai tambahan pakan ikan nila. Tepung kunyit dicampurkan ke dalam pakan standard ikan nila yang berprotein sedang berkisar antara 28 – 30% dengan berbagai dosis kunyit sebanyak 0%, 2%, 4%, 6% dan 8%. Pakan diberikan pada benih ikan nila dengan berat rata-rata 6,64 gram dan dipelihara hingga 70 hari, dengan tiap perlakuan terdiri dari 5 ulangan dan tiap ulangan terdiri dari 5 ekor ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian penambahan tepung kunyit pada pakan dapat meningkatkan pertambahan berat ikan nila secara nyata (P<0,05) yang menyebabkan perubahan yang signifikan terhadap pertumbuhan, tetapi tidak meningkatkan sintasan ikan nila dan penambahan tepung kunyit 4% pada pakan komersil menghasilkan pertambahan berat ikan nila yang terbaik. | The use of plant bioactive to increase growth in fish feed are now widely investigated. Turmeric or Curcuma longa are commonly used by human and known to have active ingredients to improve the absorption of food in the intestines, increase appetite and antimicrobial. Therefore a research was conducted to evaluate the possibility of using these plant bioactive as a food additive of fish feed nile. Turmeric powder mixed into the feed protein standard nile fish are ranging from 28-30% with various doses of turmeric 0%, 2%, 4%, 6% and 8%. Feed given to fish fry nile with an average weight of 6.64 grams and was kept up to 70 days, with each treatment consisted of 5 repetitions and each repetition consisted of 5 fish. The research results showed that the addition of the provision of turmeric powder on the fish feed to increase growth nile significantly (P<0.05), leading to significant changes in the growth, but did not increase the survival rates of fish nile and turmeric powder 4% increase in feed resulted in heavy commercial nile fish the best. | |
| 371 | 6336 | G1B009080 | PENGARUH SOSIALISASI BUKU KERJA PENGGUNAAN BUKU KIA TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP KADER TENTANG PENGGUNAAN BUKU KIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KALIBAGOR | Buku KIA merupakan salah satu kebijakan pemerintah untuk membantu meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak yang digunakan oleh kader Posyandu dan ibu hamil serta ibu yang memiliki balita. Penggunaan buku KIA oleh kader di wilayah kerja Puskesmas Kalibagor belum maksimal. Penggunaan buku KIA oleh kader dapat maksimal melalui sosialisasi buku kerja dalam penggunaan buku KIA yang disertai dengan pemberian buku kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sosialisasi buku kerja terhadap tingkat pengetahuan dan sikap kader tentang penggunaan buku KIA di wilayah kerja Puskesmas Kalibagor. Jenis penelitian Quasi Eksperiment dengan rancangan penelitian one group pre test and post test design. Pengambilan sampel dengan teknik Purposive Sampling. Jumlah sampel sebanyak 61 kader Posyandu. Data dianalisis dengan Paired T-test dan Wilcoxon. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan sikap antara pretest dengan postest 1. Terjadi peningkatan pengetahuan dan sikap antara postest 1 dan postest 2, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan pengetahuan dan sikap kader terhadap buku kerja penggunaan buku KIA. Saran dari penelitian ini diharapkan Puskesmas setempat dapat memberikan fasilitas buku kerja penggunaan buku KIA untuk memaksimalkan fungsi penggunaan buku KIA oleh kader. | KIA book is the one of the Government's policy to help improve maternal and child health degrees used by cadres of Posyandu and pregnant women and also mothers who have toddlers. Use of KIA book by cadres in the Kalibagor public health center hasn’t been fullest. Use of KIA book by cadres can be maximal with socialization workbook of using KIA book done by giving of the workbook. The research aims to analysis influence socialization workbook toward knowledge and attitude cadres about using KIA book in the Kalibagor public health center. The research design is quasi experiment one group pre test and post test design. The sample with purposive of sampling techniques. The sample as much as 61 cadres of Posyandu. Data were analyze with Paired T-Test and Wilcoxon. Bivariat analysis results indicating an increase in knowledge and attitude between pretest with postest 1. An increase of knowledge and attitude between the 1st and 2nd postest, so it can be inferred that there is an increase of knowledge and attitudes about the workbook using KIA book. Advice from the research expected the public healyh center can give fasility the book work for using KIA book by cader to be maximum. | |
| 372 | 6700 | D1E008149 | Analaisis Kebutuhan Investasi Usaha Peternakan Ayam Niaga Pedaging DI Kabupaten Purbalingga | Penelitian berjudul analisis kebutuhan investasi usaha peternakan ayam niaga pedaging diKabupaten Purbalingga dilaksanakan mulai tanggal 8 Maret sampai 15 April 2013. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui investasi yang paling dibutuhkan dan sumber-sumber investasi dalam agribisnis ayam niaga pedaging. 2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan investasi dalam agribisnis ayam niaga pedaging. 3) Mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi dalam penyediaan investasi agribisnis ayam niaga pedaging. Penelitian dilakukan dengan metode survei. Sasaran penelitian adalah peternakan ayam niaga pedaging di Kabupaten Purbalingga. Penetapan sampel wilayah menggunakan metode purposive sampling yaitu dengan memilih kecamatan yang memiliki populasi yang cukup tinggi. Terpilih tiga kecamatan yaitu kecamatan Pengadegan, Kecamatan Kejobong dan Kecamatan Kaligondang. Masing-masing kecamatan dipilih dengan menggunakan metode stratisfied random sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa untuk investasi yang paling dibutuhkan yaitu, 1) Pembuatan kandang dan bangunan. 2) Pengadaan sapronak. 3) Pembelian bibit ternak (DOC). Analisis kebutuhan investasi dihitung menggunakan analisis fungsi investasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap investasi pengadaan sapronak adalah pendapatan dengan nilai koefisien regresi 0.2827 dan skala usaha dengan nilai koefisien regresi sebesar 0.3643. Hasil penelitian menunjukan faktor yang berpengaruh terhadap investasi pembelian ternak adalah pendapatan dengan koefisien regresi 0.1152 dan skala usaha dengan nilai koefisien regresi 0.3383. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor yang mempengaruhi kebutuhan investasi pembuatan kandang dan bangunan adalah skala usaha dengan nilai koefisien regresi 0.3806. Masalah yang dihadapi peternak dalam membuat usaha peternakan di Kabupaten Purbalingga adalah 1) Pinjaman modal yang sulit dari Bank. 2) Jumlah investasi yang cukup besar dalam usaha peternakan ayam niaga pedaging. 3) Pengembalian modal membutuhkan waktu yang cukup lama. | The research titled analysis of needed investment for broiler chicken farm in purbalingga was conducted on March 18 until 15 April 2013. The purpose of the research were, 1) to know the most needed investment and sources of investment for broiler chicken farm. 2) to analyze the factors influencing the needed investment for broiler chicken farm. 3) to identify the problems in providing the investment for broiler chicken farm. the research was use survey method. The objective of the research was broiler chicken farm in purbalingga. The sample area of research was chosen using purposive sampling method which choose the area that have high population. Three area were chosen, pengadegan, kejobong and kaligondang. Each area were chosen using stratisfied random sampling. The result of the research showed things that most needed for investment were, 1) preparation for housing. 2) purchasing poultry production facilities. 3) purchasing DOC (Day Old Chick).The investment and business scale (P<0.05) results showed that the factors influencing the providing poultry facilities and business scale. The results also showed the factors influencing the purchase of livestock were income and business (P<0.05). The factors influencing investments for housing were business scale (P<0.05). The problems that occured in broiler chicken farm in purbalingga were, 1) difficulty to obtain loans from the bank. 2) the large investment in broiler chicken farm. 3) the loan return takes a long time. | |
| 373 | 6338 | G1B009077 | HUBUNGAN KONDISI RUMAH DENGAN KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS | TuberkulosisParu (TB Paru) merupakanpenyakitmenularkronis yang disebabkanolehkumanMycobacterium tuberculosis.Indonesia menyumbang TB paruterbesarkeempat di duniasetelah India, Cina, danAfrika Selatan.Jumlahpasien TB paru di Indonesia sekitar 5,8% dari total pasien TB paru di dunia. KabupatenBanyumasterdapat 748 kasus TB paru yang ditemukan di Puskesmas, kasustertinggiberada di wilayahkerjaPuskesmas II Kembaran.Penelitianinibertujuanuntukmenganalisisantaraventilasirumah, kepadatanpenghuni, pencahayaan, jendelakamartidur, jendelaruangtamu, kelembapanudara, jenislantai, danjenisdindingdengankejadian TB paru.Jenispenelitianadalahobservasianalitikdenganrancanganstudikasuskontrol.Jumlahsampel 100 yang terdiridari 50 kasusdan 50 kontrol.Kasusadalahwarga yang terkena TB parudankontroladalahwarga yang tidakterkena TB paru yang tercatat di Puskesmas II Kembaran.Analisisdata dilakukansecaraunivariat, bivariat, danmultivariatmenggunakanmetoderegresilogistik. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwafaktor yang berhubungandengankejadian TB paruadalahkepadatanpenghuni, ventilasirumahdanjendelakamartidur.Upaya yang perludiperhatikanuntukpencegahan TB paruyaknirespondendiharapkanlebihmeningkatkankondisikesehatanrumahterutamadilihatkepadatanpenghunirumahyaknidenganmemperhatikanpenggunaankamartidur yang adadengansemestinyadantidakmelebihikapasitas yang sudahditentukan | Pulmonary tuberculosis is a chronic infectious disease that caused by Mycobacterium Tuberculosis bacteria. Indonesia is the fourth biggest contribution in tuberculosis prevalence in the world after India, China, and South Africa. The total pulmonary tuberculosis patients in Indonesia around 5,8% of total pulmonary tuberculosis patients in the world. In Banyumas district exists 748 cases of pulmonary tuberculosis that found in Puskesmas II Kembaran. This research aims to analyze relation between house ventilation, occupant density, illumination, bedroom windows, guestroom windows, air humidity, floors type, and wall type with incidence of pulmonary tuberculosis. This study is analytic observational using case-control study. There were 100 subject of sample consisting of 50 case and 50 control. The cases were citizen who suffer pulmonary tuberculosis and control were citizen who not suffer pulmonary tuberculosis that recorded in Puskesmas II Kembaran. Data analysis was conducted by univariate, bivariate, and multivariate with logistic regression method. The result indicated that risk factor of pulmonary tuberculosis are occupant density (p value = 0,005; OR = 4,112; CI 95% = 1,524-11,096), house ventilation (p value = 0,007; OR = 3,781; CI 95% = 1,440-9,931), and bedroom windows (p value = 0,048; OR = 2,728; CI 95% = 1,008-7,388). Effort that needs to be noticed for prevention pulmonary tuberculosis is respondent expected more increase home health condition particularly occupant density, with notice aught bedroom purpose in proper order and not over capacity already being determined. | |
| 374 | 6340 | G1B009090 | Studi kualitas air sumur gali di desa Karangkemiri Kecataman Maos Kabupaten cilacap | Sumber air sangat dibutuhkan untuk dapat menyediakan air yang baik dari segi kualitas dan kuantitasnya. Desa Karangkemiri Kecamatan Maos Kabupaten Cilacap merupakan salah satu daerah yang banyak menggunakan sumur gali sebagai sumber air bersih, tetapi masih banyak sumur gali yang air sumurnya berwarna kuning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air sumur gali di Desa Karangkemiri. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh sumur gali sebanyak 474 sumur dengan sampel sebanyak 40 sumur gali. Berdasarkan hasil analisis univariat, terdapat 38 sumur gali (95%) dengan bibir sumur setinggi ≥70 cm dan dinding sumurnya terbuat dari bahan yang kedap air. Lebar lantai sumur minimal 1,5 m sebanyak 22 sumur gali (55%). Semua sumur gali memiliki jarak SPAL <11 m, sedangkan 32 sumur memiliki jarak dengan jamban <11 m. Responden yang meletakkan ember timba di lantai setelah digunakan untuk mengambil air sebanyak 12 responden (30%). Sebanyak 33 responden (82,7%) mencuci piring dan baju di dekat sumur. Sebanyak 6 responden (15%) selalu membiarkan air menggenang di sekitar sumur dan 31 responden (77,5%) selalu membiarkan sumur dalam keadaan terbuka. Sumur yang memenuhi syarat kualitas air berdasarkan parameter suhu yaitu sebanyak 3 sumur (7,5%). Dapat dilakukan penelitian eksperimen cara untuk menghilangkan atau menyelesaikan permasalahan tingginya total Coliform air sumur gali di Desa Karangkemiri. | Water sources is needed to supply clean water both quality or quantity. One of water sources that still exist in Karangkemiri fillage, Maos-Cilacap Regency is dug well, but there’s still much dug well wich has dirty water. The aim of this research is to know the correlation of quality the dug well water in Karangkemiri. This research use descriptive observational metode. Population of this research as much as 474 dug well and 40 as samples. Univariat analysis shows that there are 38 dug well (95%) bordered by waterproof materials as high as ≥ 70 cm. minimum length of well floor is 1,5 m as much as 22 dug well (55%). The distarce of dug well with drainase is < 11 m, and 32 of them keep distance with toilet as far as < 11 m. Respondents who put the pail on the floor after used as 12 respondents (30%), and 33 respondents (82,7%) washing tools and clothes close to the dug well. Six respondents (15%) always let water stagnated around the well and as much as 31 respondents (77,5%) always let them opened. As much as 7,5% dug well fulfill the quality water requerements based on temperature parameter. Research of experimental can be done to eliminate or resolve the problems of the high total coliform water wells dug in the village Karangkemiri. | |
| 375 | 6342 | P2BA11011 | DINAMIKA POPULASI Lactobacillus plantarum PADA FERMENTASI DENGAN MEDIA CAMPURAN ONGGOK DAN LIMBAH CAIR TAHU DALAM MENINGKATKAN KADAR PROTEIN | Onggok merupakan limbah pertanian yang sering menimbulkan masalah lingkungan, karena berpotensi sebagai polutan.Sejauh ini permasalahan terjadi karena hanya 21 %limbah saja yang sudah dimanfaatkan untuk bahan pangan, pakan ternak, pupuk dan produk lain. Begitu juga dengan limbah cair tahu. Limbah ini sering dibuang secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu sehingga menghasilkan bau busuk dan mencemari lingkungan. Tanpa proses penanganan yang baik, limbah tahu menyebabkan dampak negatip seperti polusi air, sumber penyakit, meningkatkan pertumbuhan nyamuk dan menurunkan estetika lingkungan. Onggok dan limbah cair tahu dapat dimanfaatkan untuk mengurangi pencemaran lingkungan melalui pengolahan menjadi bahan pakan berkualitas melalui proses fermentasi. Fermentasi merupakan aplikasi metabolisme mikroba untuk mengubah bakan baku menjadi produk yang bernilai tinggi, seperti asam-asam organik, protein sel tunggal, biopolimer dan antibiotika. Sejauh ini belum ditemukan penelitian yang memanfaatkan media campuran onggok dan limbah cair tahu sebagai media fermentasi asam laktat oleh bakteri Lactobacillus plantarum dengan harapan dapat meningkatkan kandungan proteinnya, sehingga penelitian ini akan difokuskan pada masalah tersebut. Tujuan penelitian ini untukmengevaluasi dinamika pertumbuhan Lactobacillus plantarum dalam media campuran onggok dan limbah cair tahu.Tujuan kedua untuk mengkaji komposisi campuran media onggok dan limbah cair tahu yang paling baik sebagai media pertumbuhan Lactobacillusplantarum. Tujuan ketiga untuk Mengevaluasi efektivitas penggunaan Lactobacillus plantarum sebagai inokulan dalam fermentasi untuk meningkatkan nilai protein media campuran onggok dan limbah cair tahu. Penelitian bersifat eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak lengkap (RAL) dengan faktor tunggal sebagai perlakuan yaitu 4 komposisi campuran media yang diuji terdiri dari campuran media dengan C/N ratio 4, 7,10 dan 13. Variabel bebas adalah komposisi campuran media, variable tergantung adalah pertumbuhan bakteri dan kandungan protein. Setiap perlakuan dilakukan 6 kali ulangan. Pengamatan dilakukan pada hari ke-0, hari ke-2, hari ke-4 dan hari ke-6 fermentasi. Parameter utama yang diukur adalah jumlah bakteri dan kadar protein, sebagai parameter tambahan adalah pH dan total gula tereduksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan C/N ratio 4:1, 7:1, 10:1 dan 13:1 pada media onggok dan limbah cair tahu tidak memberikan pengaruh yang nyata pada jumlah koloni L. plantarum maupun kadar protein kasar. Peningkatan jumlah L. plantarum pada proses fermentasi tidak maksimal karena penurunan pH yang begitu tajam. | Onggok was agricultural wastes which caused environmental problems, due to its potential as pollutant. It was mainly due to the fact that up to now around 21 % only such waste had been used as valuable products such as food, feed, fertilizer and other products. Other case, tofu liquid waste becomes problem also. It often discarded directly to environment without any process which would produce foul odor and harm to the environment. Onggok and tofu liquid waste can be improved their value through fermentation which help reducing the environment problem. Fermentation was application microbial metabolism for transform raw materials into product which has higher value, such as organic acids, single cell protein, biopolymer and antibiotics. So far, there was any information has been found concerning the utilization of onggok- tofu waste mixture as Lactobacillus plantarum fermentation media. Thus, this study was aimed to used such for Lactobacillus plantarum in order to improve the protein content. The aims of this study is to evaluate the dynamics of growth of Lactobacillus plantarum in the onggok and tofu liquid waste mixed media.The second aim is to examine the composition of the mixed media most well know as a medium for the growth of Lactobacillus plantarum. The third aim is to evaluate the effectiveness of the use of Lactobacillus plantarum as an inoculant in fermentation to increase the value of protein onggok and tofu liquid waste mixed media. The method used was experimental method using a completely randomized design (CRD) with a single factor, as treatments are 4 kinds of tested media wich were mixture of media with the C / N ratio of 4, 7, 10 and 13. The independent variable was the composition of mixed media, dependent variable was the growth of bacteria and protein content. Each treatment was with 6 replications. Observations were done on day 0, day 2, day 4 and day 6 of fermentation. The primary outcome measured was the number of bacteria and protein levels, additional parameters were pH and reducing sugar. Results of this research showed that treatment of C / N ratio of 4, 7, 10 and 13 in the media onggok and tofu liquid waste was not give significant effect on the number of colonies of L. plantarum and crude protein levels. Increase in the number of L. plantarum in the fermentation process was not optimal due to the decrease in pH is so sharp. | |
| 376 | 6343 | P2BA11020 | EFEKTIFITAS BAKTERI Bacillus subtilis DALAM PENGIKATAN LOGAM Pb, Zn, Fe, Cu, Cd | Pesatnya perkembangan teknologi dan industri mengakibatkan tingginya pencemaran lingkungan oleh logam berat, seperti Pb, Zn, Fe, Cu dan Cd. Penanggulangan logam berat biasanya dilakukan dengan menggunakan teknik kimia dan fisika, namun alternatif lain adalah dengan teknik biologi yang lebih efisien, pengikatan logam lebih tinggi dan bahan baku mudah didapat. Bakteri yang berpotensi mengurangi pencemaan logam adalah Bacillus subtilis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pengikatan logam Pb, Zn, Fe, Cu, Cd oleh B. subtilis; menguji toleransi B. subtilis terhadap logam Pb, Zn, Fe, Cu, Cd pada berbagai konsentrasi; dan mendeteksi tempat akumulasi logam Pb, Zn, Fe, Cu, Cd pada B. subtilis. Data yang diperoleh dari pengukuran logam menggunakan metode AAS, kemudian dianalisis menggunakan ANOVA dan BNJ dengan tingkat kesalahan 5% untuk mengetahui perbedaan efektifitas pada setiap perlakuan dan tempat akumulasi logam pada B. subtilis. Analisis toleransi B. subtilis terhadap logam dilakukan secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa B. subtilis mampu mengikat logam Pb, Zn, Fe, Cu dan Cd dengan presentasi efektifitas masing-masing adalah sebesar 17,45 %, 7,53 %, 80 %, 16,67 % dan 81,94 %. B. subtilis paling baik mentoleransi logam Pb. Logam Pb dan Cd diakumulasi pada dinding sel, logam Zn diakumulasi di dalam sitoplasma, sedangkan logam Fe dan Cu diakumulasi pada dinding sel dan sitoplasma. | The rapid development of technology and industries lead to higher environmental pollution by heavy metals, such as Pb, Zn, Fe, Cu and Cd. Reduction of heavy metals was typically done using chemical and physical approach. Another alternative was biological technique which was more efficient due to its higher metal binding and readily available as materials. Bacillus subtilis was a potential bacterium in reducing metal contamination. This study aimsed to determine the B. subtilis binding effectiveness of Pb, Zn, Fe, Cu, Cd, to test the bacterial tolerance to metals Pb, Zn, Fe, Cu, Cd at varied concentrations, and to detect the accumulation sites of Pb, Zn, Fe, Cu, Cd whitin B. subtilis. Data were obtained from measurements using a metal AAS method. Result of the experiments were analyzed with analysis of variance (ANOVA) and HSD test error rate of 5 % to know the difference in effectiveness of each treatment and the accumulation of metals in B. subtilis. Tolerance analysis of B. subtilis to metals were done descriptively. The results showed that B. subtilis was able to bind Pb, Zn, Fe, Cu and Cd with the percentages effectiveness of 17.45%, 7.53%, 80%, 16.67% and 81.94% respectively. B. subtilis was mostly toleratant to Pb. Pb and Cd were accumulated in the cell walls, metal Zn was accumulated in the cytoplasm, whereas Fe and Cu were accumulated in both the cell wall and cytoplasm. | |
| 377 | 6380 | F1B009062 | ORIENTASI KEBIJAKAN PENATAAN PEMASANGAN REKLAME DI KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini membahas tentang Penataan Pemasangan Reklame yang merupakan salah satu permasalahan mencolok di Kabupaten Banyumas. Permasalahan itu antara lain, pemasang reklame liar yang tidak berizin, tidak membayar pajak reklame dan tidak sesuai aturan, sehingga pelanggaran yang tercatat cukup banyak. Hal ini akan baik apabila adanya suatu peraturan yang jelas dan berdasar hukum, tentang peraturan penataan pemasangan reklame. Di dalam peraturan dengan jelas dicantumkan cara pemasangan reklame, jenis reklame yang diijinkan untuk di pasang, tempat-tempat mana saja yang diijinkan untuk dijadikan tempat pemasangan, ukuran, jarak, dan juga waktu lama pemasangan. Dalam penelitian ini, metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pemilihan sampel menggunakan purposive sampling. Metode analisis data dengan menggunakan medel analisis interaktif menurut Miles dan Huberman. Penelitian ini dalam membahas penataan pemasangan reklame menggunakan Dari hasil penelitian terlihat bahwa belum berjalan dengan baik, pada perencanaan terlihat pada tidak adanya suatu peraturan khusus yang mengatur penataan pemasangan reklame, sehingga reklame yang ada hanya diatur menggunakan aturan yang dibuat oleh SKPD terkait yaitu sebuah pedoman yang hanya tercantum pada formulir perizinan reklame. Belum terjalinnya kordinasi yang jelas antar SKPD terkait, yaitu tidak adanya pembahasan secara khusus untuk penataan pemasangan reklame yang kemudian menjadikan permasalahan ini semakin bertambah. Setiap SKPD mengatur sendiri dalam penertiban reklame sesuai dengan kajian masing-masing SKPD, contohnya dalam kegiatan sosialaisasi yang diadakan masing-masing SKPD. Pengawasan yang belum terjadi secara maksimal oleh SKPD terkait, ini juga disebabkan tidak adanya kejelasan tugas pokok dan fungsi pengawasan yang dilakukan berkat kerjasama antar SKPD terkait. Pengawasan dilakukan oleh semua SKPD dengan mengacu pada tugasnya masing-masing, sesungguhnya akan lebih baik apabila ada koordinasi dari SKPD agar pengawasan hanya dijalankan oleh sebuah tim, yang sudah jelas tugas dan fungsinya. | The reseacrh explained about mounting arrangement reclame which the one of striking problem in Banyumas of district. The problems are illegal reclame installer are not licensed, not pay reclame tax and unsuitable rules so a lot of violation recorded. It is better if any clear rules and based of law about mounting arrangement reclame. In this clear rules include the way to arrangement place, size, distance and also the time for arrangement. The research method used is descriptive qualitative method approach. Sample selection techniques used purposive sampling. The analysis data methods is used the interctive analysis model by Miles and Huberman. From the result of research shows that is not going well, because there are not any special rules to arranged about mounting arrangement reclame, so the reclame just be regulated with related SKPD’s rules, is a rules listed of permitted from reclame. There are not clear coordination inter related SKPD’s, there is no especially explained to mounting arrangement reclame then the problems be more, each SKPD’s arranged it self in regulating reclame suitable with SKPD’s study. The example in socialitation acivity that held each SKPD’s. The controlling has not occured to the maximum by related SKPD’s, also caused not any clear main taks and controlling function hold by cooperation with related SKPD’s. Controlling do by all SKPD refer with each tasks, actually will be better if any coordination from SKPD so cotrolling just do by a team, that clear task and fuction. | |
| 378 | 6344 | P2BA11012 | PERBANDINGAN EFEKTIVITAS MEIOGINOGENESIS DAN MITOGINOGENESIS IKAN NILEM (Osteochilus hasselti Valenciennes,1842) | Penelitian ini melaporkan perbandingan efektifitas dosis iradiasi UV (5950 J/m2, 11900 J/m2; dan 17850 J/m2) untuk inaktivasi materi genetis jantan ikan nilem, kemudian fertilisasi dilanjut diploidisasi dengan kejut panas 40oC selama 90 detik pada 3 menit setelah fertilisasi (meioginogenesis) dan 25 menit setelah fertilisasi (mitoginogenesis). Total 10 perlakuan: 1 kontrol positif (P0), 3 kontrol negatif (P1-P3), 3 meioginogenesis (P4-P6), 3 mitoginogenesis (P7-P9). Tiap perlakuan diulang enam kali. Variabel yang diamati yaitu fertilitas, penetasan, morfologi larva dan sintasan umur 30 hari. Hasilnya menunjukan bahwa perlakuan yang diberikan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap fertilitas, penetasan, morfologi larva dan sintasan umur 30 hari. Dosis iradiasi UV yang diberikan terbukti efektif untuk inaktivasi spermatozoa, dibuktikan dari data sintasan umur 30 hari dan morfologi larva. Hasil uji lanjut membuktikan bahwa meioginogenesis lebih efektif dibandingkan mitoginogenesis, dibuktikan dari data fertilitas, penetasan, morfologi larva dan sintasan umur 30 hari pada meioginogenesis lebih baik hasilnya dibandingkan mitoginogenesis. Disimpulkan bahwa meioginogenesis lebih efektif dibandingkan mitoginogenesis dengan dosis iradiasi UV 5950 J/m2, 11900 J/m2 atau 17850 J/m2, dilanjut fertilisasi dan kejut panas 40oC selama 90 detik pada 3 atau 25 menit setelah fertilisasi. | Gynogenesis is reproductive biotechnology to obtain new offspring containing only maternal genetic material. Gynogenesis organism could be developed in 3 steps. The first is the inactivation of genetic material of spermatozoa, the second is by fertilization of inactivated sperm with oocyte resulting the haploid offspring and the third is diploidization of gynogentic zygote. Diploidization of the gynogenetic zygote might be achieved by retention of second polar body (meiogynogenesis) or blockage of the first cleavage (mitogynogenesis). Gynogenesis presents many advantages, i.e. homozygosity acceleration, clones only in two generations, female population creation, accelerating selection process and the determination of female genotype. There is further research to know the effective of meiogynogenesis and mitogynogenesis in shark minnow fish. Shark minnow fish is the most cultivated cyprinid fish in Central Java. It is potential to develop seed production of fisheries in Central Java. The purpose of this study were to compare the effective of meiogynogenesis and mitogynogenesis shark minnow fish and compare the fertility, hatching, and survival rates and the offspring morphology of meiogynogenesis and mitogynogenesis shark minnow fish. The research was conducted in Animal Physiology Laboratory of Biology Faculty of Jenderal Soedirman University. Research involved milt and shark minnow eggs. The experimental study applied a complete randomized design, with 10 treatments in sixtuplicate, four of them were the control treatments. One was positive control no irradiation, no heat shocked (P0), three negative control of UV irradiation (3, 6, 9 min) no heat shocked (P1, P2, P3). The three meioginogenesis treatments (P4, P5, P6) were UV irradiation (3, 6, 9 min) followed by heat shocked (40oC for 90 sec) at 3 min from fertilization and the three mitoginogenesis (P7, P8, P9) were UV irradiation (3, 6, 9 min) followed by heat shocked (40oC for 90 sec) at 25 min from fertilization. Fertilization rate, hatching rate, survival rate 30th days and the offspring morphology of shark minnow fish were data assessed. Quantitative data were F-tested and consequently LSD-tested. The results showed that the treatments were very significantly different (P<0.01) for fertility, hatching, and 30-d survival rates and offspring morphology. UV Irradiation dosage was effective to block paternal genetic material based on haploid offspring survival rate, which survive for maximum 3 days. The LSD test showed that meiogynogenesis was better than mitogynogenesis for UV irradiation dosage of 5950 J/m2, 11900 J/m2 and 17850 J/m2. Fertility, hatching and 30-d survival rates were very significantly different (P<0.01) with positive control and negative control. Abnormal morphology of shark minnow offspring rate of meiogynogenesis P4 and P5 did not show a significant different (P> 0.05) with positive control P0 and mitogynogenesis P8 and P9 did not show a significant different (P> 0.05) with positive control P0. Data analysis showed that UV irradiation for 3, 6 and 9 minutes or dosage 5950 J/m2, 11900 J/m2, 17850 J/m2 and heat shocked 40oC for 90 seconds influenced the fertility, hatching, and 30-d survival rates and offspring morphology. UV irradiation dosage was effective to sperm inactivation of shark minnow fish without reducing capability to fertile shark minnow oocytes based on fertility, hatching, and 30-d survival rates and offspring morphology. Heat shocked of 40oC for 90 seconds at 3 minutes post-fertilization was effective to prevent of second polar body, hence meiogynogenetic organism developed. Meanwhile, the heat shocked at 25 minutes post-fertilization could block first cleavage, so mitogynogenetic organism could develop. Based on research variable, it was clear that fertility, hatching, 30-d survival rates and offspring morphology of meiogynogenetic organisms was better than mitogynogenetic organism. It could be concluded that shark minnow meiogynogenesis was more effective than meiogynogenesis, using UV irradiation for 3, 6 and 9 minutes followed by heat shocked 40oC for 90 seconds at 3 minutes or 25 minutes post-fertilization. Meiogynogenesis was more effective than mitogynogenesis, which could be seen from the variables (fertility, hatching and 30-d survival rates, and offspring morphology). UV irradiation dosages (5.950 J/m2, 11.900 J/m2 or 17.850 J/m2) and heat shocked (40oC for 90 sec) were effective to shark minnow gynogenesis process. The best UV irradiation to gynogenesis was 11.900 J/m2. The implications of this research was meiogynogenesis better than mitogynogenesis in gynogenesis biotechnology to freshwater and endanger fishes in which accelerated homozygosity, clones only in two generations, created female population, accelerates selection process and female genotip determination. | |
| 379 | 6346 | P2BA11028 | AKTIVITAS ANTIBAKTERI ASAM EIKOSAPENTAENOAT (EPA) DAN ASAM α-LINOLENAT (ALA) TERHADAP BAKTERI PATOGEN PENCEMAR AIR | Frekuensi infeksi yang diakibatkan oleh konsumsi air yang tercemar bakteri patogen (Enterococcus faecalis, Salmonella typhi, Shigella flexneri, Pseudomonas aeruginosa, dan Vibrio cholerae) menjadi penyebab kematian utama di negara berkembang seperti Indonesia. Penanggulangan penyakit tersebut biasanya dengan menggunakan produk antibiotika, namun sekarang antibiotika telah diragukan keamanan dan efektifitasnya. Zat alternatif yang dapat berpotensi sebagai antibakteri alami dan ramah lingkungan adalah asam eikosapentaenoat (EPA) dan asam α-linolenat (ALA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas EPA dan ALA; menentukan besar konsentrasi kadar hambat minimum (KHM) EPA dan ALA; dan mengkaji interaksi yang terjadi antara EPA dan ALA dalam melakukan aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri patogen pencemar air. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan menggunakan pola faktorial. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji jarak ganda Duncan. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode dilusi agar dan penentuan interaksi antibakteri dengan metode uji time-kill curve. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa EPA dan ALA berpengaruh nyata (P<0,05) dalam menurunkan pertumbuhan bakteri pathogen pencemar air. Bakteri P. aeruginosa, S. flexneri, dan V.cholera sudah menurun pertumbuhannya pada kadar hambat minimum EPA (10 ppm) dan ALA (10 ppm); E. faecalis pada EPA (20 ppm) dan ALA (10 ppm); serta S. typhi pada EPA (30 ppm) dan ALA (10 ppm). Hasil kombinasi EPA dan ALA berjumlah > log10 dari salah satunya saja. Oleh karena itu, interaksi yang terjadi antara kedua antibakteri tersebut yaitu antagonisme. | Infections frequency caused by consumption of waterborne pathogenic bacteria (Enterococcus faecalis, Salmonella typhi, Shigellaflexneri, Pseudomonas aeruginosa, and Vibrio cholerae) is being the major cause of death in developing countries such as Indonesia. Antibiotics use to solve this problem, but antibiotics have safety and effectivity hesitation. Substances that can be potentially as harmless antibacterials are eicosapentaenoic acid (EPA) and α-linolenic acid (ALA). The aims of this research were to determine the activity of EPA and ALA; determine the levels of minimum inhibitory concentration (MIC) of EPA and ALA; and examine the interaction that occured between EPA and ALA in activity as antibacterial against waterborne pathogenic bacteria. The experiments used factorial design, were analyzed with analysis of variance (ANOVA), followed by Duncan's multiple range test. Antibacterial activities determined by agar dilution method while antibacterial interaction with time-kill curve method. The results showed that EPA and ALA was significantly different (P<0,05) in reducing the growth of waterborne pathogenic bacteria. Bacterium P. aeruginosa, S. flexneri, and V. cholerae had been reducing growth in the EPA minimum inhibitory concentration (10 ppm) and ALA (10 ppm); E. faecalis in the EPA (20 ppm) and ALA (10 ppm), and S. typhi in EPA (30 ppm) and ALA (10 ppm). Result of the combination was at least log10 more than that from either drug alone. Consenquently, interactions that occured between the two antibacterials called antagonism. | |
| 380 | 6347 | P2BA11042 | MITOGINOGENESIS IKAN NILEM (OsteochilushasseltiValenciennes 1842) DENGAN IRADIASI ULTRAVIOLET DAN KEJUT TEMPERATUR DINGIN 4° C. | Ginogenesis, merupakan bioteknologi untuk mendapatkan keturunan dengan materi genetis hanya dari betina saja,diperoleh dengan tiga tahap, yaitu(1) inaktivasi materi gentis jantan, (2) fertilisasi menggunakan spermatozoa yang materi genetisnya inaktif sehingga zigot haploid dari materi genetis betina saja, dan (3) diploidisasi zigot. Inaktifasi materi genetis dilakukan dengan iradiasi sinar Ultra Violet (UV), diploidisasi dilakukan dengan cara mencegah pembelahan pertama zigot menggunakan kejut temperatur dingin. Diketahui kejut temperatur panas efektif mencegah pembelahan pertama zigot nilem yang dilakukan pada menit ke 20 atau 25 dari waktu fertilisasi.Mitoginogenesis memiliki kelebihan dibanding meioginogenesis yaitu individunya homozigot.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan prosedur mitoginogenesis nilem menggunakan iradiasi UV 254 nm dilanjutkan dengan kejut temperatur dingin 4° C. Penelitian eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 7 perlakuan iradiasi milt encer dengan 1 buah lampu UV 254 nm jarak 15 cm selama 5 atau 7 menit (Dosis 9.916,74 J/m2 atau 13.883,44 J/m2) untuk inaktivasi spermatozoa, dilanjutkan kejut temperatur dingin 4° C selama 10 atau 20 menit pada 20 menit dari waktu fertilisasi untuk diploidisasi zigot. Unit penelitian diulang 4 kali, 7 perlakuan yaitu,perlakuan tanpa iradiasi dan tanpa kejut dingin (1 perlakuan kontrol positif), perlakuan iradiasi UV 254 nm selama 5 atau 7 menit dilanjutkan dengan kejut temperatur dingin selama 10 atau 20 menit (4 perlakuan mitoginogenesis), dan perlakuan iradiasi UV 254 nm selama 5 atau 7 menit tanpa kejut dingin (2 perlakuan kontrol negatif). Variabel penelitianadalah fertilitas, penetasan, abnormalitas larva umur 3 hari, dan rerata kelangsungan hidup benih umur 30 hari. Data sebelum dianalisis, ditransformasi (ke arcsinatau akar kuadrat lalu arcsin). Analisis menggunakan ANOVA singlefactor pada program SPSS versi 18 dan analisis uji lanjut untuk yang signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbukti berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap fertilitas, abnormalitas larva, dan kelangsungan hidup benih ikan nilem, namun tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap penetasan telur ikan nilem. Rerata fertilitas mitoginogenesis tertinggi (87,43 ± 2,80%) yaitu perlakuan iradiasi UV selama 5 menit dan kejut dingin selama 20 menit. Rerata penetasanmitoginogenesis tertinggi (78,80 ± 24,15%) yaitu perlakuan iradiasi UV selama 7 menit dan kejut dingin selama 20 menit. Rerata abnormalitas larvamitoginogenesis tertinggi (98,63 ± 2,04%) yaitu perlakuan iradiasi UV selama 7 menit dan kejut dingin selama 20 menit. Nilai rerata kelangsungan hidup benihmitoginogenesis tertinggi (1,86 ± 3,23%) yaitu perlakuan iradiasi UV selama 5 menit dan kejut dingin selama 10 menit.Tingginya nilai abnormalitas larva dan rendahnya nilai kelangsungan hidup benih dimungkinkan karena adanya depresi inbreeding, haploid syndrome, dan mutasi gen yang ekspresinya berupa abnormalitas larva akibat perlakuan dosis iradiasi atau kejut dingin yang digunakan. Hasil analisis data rerata persentase penetasan membuktikan bahwa lama kejut temperatur dingin (10 atau 20 menit) yang digunakan untuk diploidisasi zigot menunjukkan hasil yang tidak berbeda secara statistik (P>0,05). Perlu dikaji lebih lanjut mengenai efek iradiasi dosis UV 254 nm selama 5 atau 7 menit (9.916,74 J/m2 atau 13.883,44 J/m2) pada larva abnormal yang dimungkinkan telah terjadi mutasi gen. Disimpulkan bahwa mitoginogenesis ikan nilem dengan perlakuan yang digunakan terbukti efektif walaupun nilai sintasannya rendah. | Gynogenesis, is a biotechnology to get offspring with genetic material from the femaleonly. Three stages has to be done, namely (1) inactivation of the male genetic material, (2) fertilization using inactivated genetic material spermatozoa,resulted in haploid zygote from female genetic material only, and (3) zygote diploidization, by preventing the first zygote division. Heat shockat 20 or 25 minutes from the time of fertilization, has been proven effectively prevent shark minnow first zygote division.Mitogynogenesis has advantages over the meiogynogenesis since produce homozygoteindividual. This research aims to get shark minnow fish mitogynogenesis procedures applied254 nm UV irradiation ofindividual is spermatozoa, then were used for fertilization followed by 4° C cold shock of zygot at 20 min from fertilization time. Experimentapplied a Complete Random Design (CRD), 7 treatments: irradiation with one 254 nm UV lamp at 15 cm distance for 5 or 7 minutes or the dose of 9916.74 J/m2 or 13883.44 J/m2 for sperm-inactivation, and zygote diploidization via 4° C shock for 10 or 20 minutes at 20 min from fertilization time.The 7 treatments consist of treatment without irradiation and cold shock (1 positive control treatment), 254 nm UV irradiation 9916.74 J/m2 or 13883.44 J/m2 followed by cold shock for 10 - 20 minutes (4 mitogynogenesis treatments), and 254 nm UV irradiation 9916.74 J/m2 or 13883.44 J/m2 without cold shock (2 negative control treatments).Research variable are fertility rate, hatching rate, 3 days larvae abnormalities rate, and 30days old survival seeds rate. Data were transformed to arcsin or square root then arcsin for analysis. Analysis using ANOVA single factor the SPSS version 18 software. Results showed that mitogynogenesis treatments highly significant (P<0.01) different on fertility rate, larval abnormalities rate, and survival of 30 days seedrate, however had no significant different (P> 0.05) effected the hatching rate. The highest fertility rate (87.43 ± 2.80%) was from the UV irradiation for 9916.74 J/m2 followed by cold shock for 20 minutes treatment. The highest hatching rate (78.80 ± 24.15%), was from the UV irradiation 13883.44 J/m2 followed by cold shock for 20 minutes treatment. The highest larval abnormalities rate (98.63 ± 2.04%) was from the UV irradiation 13883.44 J/m2followed by cold shock for 20 minutes treatment. The highest survival rate (1.86 ± 3.23%), was the UV irradiation 9916.74 J/m2 follewed by cold shock for 10 minutes treatment.The high rate of larvae abnormalities and low rate of seed survival might be due in pat to inbreeding depression, haploid syndrome, and/or gene mutations which expressed in the form of larvae abnormalities as a result of irradiation dosage treatment and/or the use of cold shock.Duration of cold shock (10 or 20 min) both proveneffective for zygote diploidization, as from analysis result they were not significantly different (P> 0.05). It needs a further study how the UV irradiation dose of 9916.74J/m2 or 13883.44 J/m2 effects on abnormal larvae due to from a gene mutation.As a conclusion that shark minnow fish mitogynogenesis treatments proved to be effective, despite the low survival rate up to 30 days old seed. |