Artikelilmiahs
Menampilkan 18.081-18.100 dari 50.044 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 18081 | 21550 | A1H014020 | PEMBUATAN BIOETANOL DARI KULIT NANAS DENGAN FERMENTASI MENGGUNAKAN RAGI ROTI Saccharomyces cerevisiae | Menipisnya Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berasal dari fosil tidak diimbangi dengan laju penggunaannya yang semakin meningkat, untuk menangani permasalahan tersebut, salah satunya adalah mencari sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui contohnya adalah bioetanol. Bioetanol dapat diproduksi dengan memanfaatkan limbah dengan kandungan gula, pati, dan selulosa yang tinggi. Kulit nanas merupakan limbah dengan kandungan gula dan selulosa yang cukup tinggi sehingga potensial untuk dimanfaatkan dalam pembuatan bioetanol. Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) memahami teknik produksi bioetanol dari bahan baku kulit nanas menggunakan ragi roti Saccharomyces cerevisiae. (2) mengetahui konsentrasi S. cerevisiae dan waktu fermentasi untuk menghasilkan kadar etanol yang maksimum. Variabel yang digunakan adalah penambahan konsentrasi ragi 7,5%; 10%; dan 12,5% dengan waktu fermentasi 7; 10; dan 13 hari. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi kadar glukosa sebelum dan sesudah fermentasi, kadar bioetanol, dan rendemen bioetanol. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis sidik ragam, jika berpengaruh nyata maka akan dilanjutkan dengan uji perbandingan ganda menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hidrolisis kulit nanas menghasilkan kadar glukosa tertinggi sebesar 0,352% (v/m) pada konsentrasi H2SO4 0,3 M dengan waktu hidrolisis 1 jam. Pembuatan bioetanol dari kulit nanas dengan fermentasi menggunakan ragi roti (fermipan) menghasilkan kadar bioetanol tertinggi yaitu sebesar 3,639% (v/v) pada konsentrasi ragi 12,5% pada hari ke 13 fermentasi dan rendemen bioetanol tertinggi sebesar 6,146% pada konsentrasi ragi 12,5% pada hari ke 13 fermentasi. | Decrease of fuel not be balance from fossil between rate of uses increase, for solving the problem, one of the solution is to search a new alternative energy which can renewable energy is bioethanol. Bioethanol could produced by ultilizing the waste containing high contents glucose, starch, and cellulose. Pineapple peel are the waste with high enought glucose and cellulose contents. Thus, pineapple peel potential be used to produce bioethanol. The aims of this research were (1) knowing the techniques of bioethanol production from raw matterial pineapple peel uses yeast is Saccharomyces cerevisiae. (2) knowing conssentrate S. Cerevisiae and time of fermentation to produced maximum high levels of ethanol. Variable is used the added of yeast concetrate 7.5%: 10% and 12.5% with time of fermentation 7:10 and 13 days. Analysis data which is conducted research covers levels of glucose before and after fermentation, levels of bioethanol, bioethanol yield content. The results of research process were analyzed by analysis of variance, if the result of analysishas significantly effect it will be tested by double comparison test uses Duncan Multiple Range Test (DMRT) at 5% level. The results of research shows that hydrolysis pineapple peel produced high levels of glucose amount 0.352% (v/m) on consentrate H2SO4 0.3 M with time of hydrolysis 1 hour. Produced bioethanol from pinneaple peel with fermentation uses yeast of bread produced high levels of bioethanol 3.639% (v/v) on concentrate yeast 12.5% on the 13 day fermentation and with high levels yield of bioethanol amount 6.146% on concentration yeast 12.5% on the 13 day fermentation. | |
| 18082 | 21683 | E1A012275 | KEKUATAN ALAT BUKTI TESTIMONIUM DE AUDITU DALAM TINDAK PIDANA PENCABULAN (Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Nomor 90/PID.SUS/2016/PN.BMS) | ABSTRAK KEKUATAN ALAT BUKTI TESTIMONIUM DE AUDITU DALAM TINDAK PIDANA PENCABULAN (Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Nomor 90/PID.SUS/2016/PN.BMS) Oleh: Zahrah Mahabbah (E1A012275) . Testimonium de Auditu adalah keterangan yang hanya mendengar saja, penyaksian menurut kata orang, keterangan tangan kedua. Karena mendengar dari ucapan orang lain, maka Testimonium de Auditu ini mirip dengan sebutan gosip atau rumor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan alat bukti Testimonium de Auditu dalam Putusan Nomor 90/Pid.Sus/2016/Pn.Bms. Pertimbangan hukum hakim dalam memutus perkara tindak pidana pencabulan dalam Putusan Nomor 90/Pid.Sus/2016/Pn.Bms. Berdasarkan penelitian ini diperoleh hasil bahwa kekuatan alat bukti Testimonium de Auditu dalam Putusan Nomor 90/Pid.Sus/2016/Pn.Bms dan pertimbangan hukum hakim dalam memutus perkara tindak pidana pencabulan dalam Putusan Nomor 90/Pid.Sus/2016/Pn.Bms adalah sebagai berikut: Kekuatan alat bukti testimonium de auditu dalam tindak pidana pencabulan pada Putusan No. 90/Pid.Sus/2016/Pn.Bms. “tidak memiliki kekuatan pembuktian” didasarkan pada tidak terpenuhinya salah satu syarat, yakni “keterangan pihak ketiga tersebut termasuk ke dalam yang sering dikecualikan dari kesaksian testimonium de auditu”.. Pertimbangan hukum hakim dalam memutus perkara tindak pidana pencabulan pada Putusan No. 90/Pid.Sus/2016/Pn.Bms. “telah sesuai dan memenuhi rasa keadilan” didasarkan pada fakta-fakta yang terungkap di persidangan, serta tuntutan pidana penuntut umum dan ancaman pidana dari delik yang bersangkutan dihubungkan dengan fungsi dan tujuan pemidanaan, maka Majelis Hakim menjatuhkan pidana selama 17 (tujuh belas) tahun dan pidana denda sebesar Rp.50.000.000,-(lima puluh juta rupiah). Kata Kunci: Testimonium de Auditu, Tindak Pidana Pencabulan. | ABSTRACT POWER OF PROFESSIONAL TESTIMONIUM DE AUDITU IN CRIMINAL ACT (Juridical Review On Decision Number 90 / PID.SUS / 2016 / PN.BMS) By: Zahrah Mahabbah (E1A012275) . Testimonium de Auditu is a listening test only, the testimony of the word, second hand. Having heard from other people's utterances, Testimonium de Auditu is similar to a rumor or rumor. This study aims to determine the strength of evidence Testimonium de Auditu in Decision Number 90 / Pid.Sus / 2016 / Pn.Bms. Judge's judicial consideration in deciding criminal offenses of abuses in Decision Number 90 / Pid.Sus / 2016 / Pn.Bms. Based on this research, it is found that the strength of Testimonium de Auditu evidence in Decision Number 90 / Pid.Sus / 2016 / Pn.Bms and judge's legal consideration in deciding criminal offenses in Decision Number 90 / Pid.Sus / 2016 / Pn.Bms are as follows: The strength of evidence testimonium de auditu in a criminal offense on Decision No. 90 / Pid.Sus / 2016 / Pn.Bms. "Has no evidentiary power" based on the non-fulfillment of any of the terms, namely, "such third party statements are included in those often excluded from the testimonium de auditu testimony". Judge's legal consideration in deciding criminal offenses of abuses in Decision No. 90 / Pid.Sus / 2016 / Pn.Bms. "According to the facts revealed in the hearing, and the criminal prosecution of the public prosecutor and the criminal penalty of the offense concerned shall be connected with the function and purpose of the crime, the Panel of Judges shall impose a penalty of 17 (seventeen) years and a fine of Rp.50.000.000, - (fifty million rupiah). Keywords: Testimonium de Auditu, Criminal Acts of Abuse | |
| 18083 | 21055 | H1D012065 | PENGARUH PENAMBAHAN CALCIUM STEARATE DAN SUPERPLASTICIZER TERHADAP INFILTRASI ION KLORIDA DAN KUAT TEKAN BETON MUTU 40 MPA | Berbagai prasarana penunjang seperti pilar jembatan, pelabuhan, breakwater dan sebagainya tidak terlepas dari beton bertulang sebagai komponen utama dalam dunia konstruksi. Namun beton bertulang sangat sensitif terhadap beberapa kondisi lingkungan, termasuk lingkungan korosif. Struktur beton pada lingkungan korosif mempunyai risiko tinggi korosi yang menyebabkan penurunan kekuatan. Diperlukan pencegahan atau inovasi pada beton yang dirancang untuk konstruksi di lingkungan korosif, karena jika dibiarkan akan berpengaruh terhadap waktu layan beton tersebut. Oleh karena itu, penelitian beton dengan bahan tambah calcium stearate diharapkan menjadi inovasi beton kedap terhadap air terutama lingkungan korosif. Calcium stearate dapat dijadikan bahan tambah untuk pembuatan beton kedap air karena calcium stearate tidak mengandung unsur yang dapat merusak beton seperti klorida dan sulfat dan calcium stearate memiliki sifat hydrophobic. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan calcium stearate terhadap infiltrasi ion klorida dan kuat tekan beton mutu 40 MPa. Penggunaan superplasticizer pada kadar 0,25% dari berat semen. Variasi penambahan calcium stearate adalah 0 kg, 1 kg, 5 kg, dan 10 kg per m3 beton. Hasil penelitian menunjukkan penurunan kuat tekan pada kandungan calcium stearate 1 kg, 5 kg, dan 10 kg berturut – turut sebesar 0,52%, 24,47% dan 19,79% bila dibandingkan dengan benda uji tanpa kandungan calcium stearate. Infiltrasi ion klorida yang terjadi pada beton memiliki tendensi menurun dengan penambahan calcium stearate yang semakin banyak dengan hasil penurunan berturut-turut sebesar 23,52%, 70,56%, dan 83,80% % bila dibandingkan dengan benda uji tanpa kandungan calcium stearate. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan calcium stearate sebagai bahan tambah pada beton kedap air dengan sistem integral waterproofing sangat efektif | Various infrastructure supporting as the pillars of the bridge, harbour, breakwater and so on is very much related to reinforced concrete as the main components of in construction. But reinforced concrete is highly sensitive to some environmental conditions, including corrosive Concrete structures on corrosive environment had high risk of corrosion that causes in a reduction of strength. Precautions or innovations are required for concrete reinforcement that is designed for construction in corrosive environments, because if its left will have an influence to durability of the concrete reinforcement itself. For that reason, concrete with calcium stearate as addictive substance are expected to become innovation of waterproofing concrete especially on corrosive environment. Calcium stearate can be used as the addictive substance for the manufacture of waterproofing concrete because calcium stearate does not contain negative element for concrete such as chloride and sulphate and it has hydrophobic properties. The purpose of this study was to determine the effect of calcium stearate against the chloride ions ingress and the compressive strength on concrete grade 40 MPa. Using superplasticizer at 0.25% of the weight of cement. Variations of calcium stearate addition are 0 kg, 1 kg, 5 kg, and 10 kg per m3 of concrete. The results showed that decrease in compressive strength at the content of calcium stearate 1 kg, 5 kg and 10 kg or decrease by 0,52%, 24,47% dan 19,79% when compared to the specimen without the content of calcium stearate. The infiltrating of chloride ions that occurs in concrete has a tendency to decrease with the addition of calcium stearate are more and more with the results of successive reduction of 23.52%, 70.56%, and 83.80%% when compared to the specimen without the content of calcium stearate. This shows that the use of calcium stearate as an additive in waterproofing concrete with integral waterproofing system is very effective. | |
| 18084 | 21052 | D1E013248 | HUBUNGAN KARAKTERISTIK PETERNAK DENGAN MINAT PETERNAK TERHADAP ADOPSI TEKNOLOGI PUPUK KOMPOS PADA PETERNAK SAPI PERAH DI KECAMATAN KERTEK KABUPATEN WONOSOBO | Penelitian berjudul “Hubungan Karakteristik Peternak dengan Minat Peternak terhadap Adopsi Teknologi Pembuatan Pupuk Kompos pada Peternak Sapi Perah di Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo”. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik peternak sapi perah yang dilihat dari jumlah ternak yang dipelihara dengan lama beternak, serta hubungan karakteristik peternak dengan minat peternak terhadap adopsi teknologi pembuatan pupuk kompos pada peternak sapi perah di Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo. Penelitian dilaksanakan pada 2-15 Agustus 2017 di Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo. Penelitian ini menggunakan metode survei pada peternak sapi perah di wilayah Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo dengan pendekatan karakteristik eksploratif. Metode penentuan wilayah dilakukan dengan purposive sampling. Pemilihan sampel kelompok dilakukan dengan cara memilih 2 kelompok peternak sapi perah yang berada di Kecamatan kertek dan penentuan responden dilakukan secara sensus pada seluruh anggota kelompok peternak yang terpilih di Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo. Jumlah responden sebanyak 40 peternak. Variabel yang diamati dan diukur adalah jumlah ternak yang dipelihara (X1) dan lama beternak (X2) serta minat peternak terhadap adopsi teknologi pembuatan pupuk kompos (Y). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara jumlah ternak yang dipelihara dengan minat peternak sesudah dilakukan penyuluhan tentang inovasi teknologi pembuatan pupuk kompos. Sedangkan terdapat hubungan yang signifikan antara lama beternak dengan minat peternak sesudah dilakukan penyuluhan tentang adopsi inovasi teknologi pembuatan pupuk kompos. Kata kunci : Sapi perah, Jumlah ternak, Lama beternak, minat peternak, pupuk kompos. | The research entitled "Relationship of Breeder Characteristics with Farmer's Interests on Technology Adoption of Compost Fertilizer on Dairy Farmers in Distric Kertek Kabupaten Wonosobo". This study is to determine the characteristics of dairy farmers seen from the number of livestock maintained with the long breeding interest of farmers on the technology adoption of compost fertilizer on dairy farmers in Kecamatan Kertek, Wonosobo regency. The research was conducted on 2-15 August 2017 in Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo. This research used survey method on dairy farmers in Kertek District, Wonosobo Regency with explorative descriptive approach. The method of determining the area by purposive sampling. Selection of group sample by selecting 2 groups of dairy farmers located in District Kertek and determination of respondents conducted by census on all members of the selected group of farmers in Kecamatan Kertek, Wonosobo regency. The number of respondents is 40 farmers. The variables observed and measured were the number of livestock kept (X1), the long breeding (X2) and the interest of farmers on the adoption of the technology of making compost fertilizer (Y). The results showed no significant relationship between the number of livestock maintained with the interest of farmers after the counseling about the technological innovations of making compost. There is a significant relationship between the long breeding with the interests of farmers after the counseling about the adoption of technological innovations making compost fertilizer. Keyword : Dairy cow, Number of livestock, Long breeding, breeder interest, compost fertilizer. | |
| 18085 | 21057 | H1K013026 | Pemetaan Kedalaman Sistem Akustik (Multibeam Echosounder) Sebagai Dasar Penentu Elevasi Dermaga Tanjung Intan Cilacap | Kedalaman perairan berdasarkan pada fenomena pasang surut merupakan langkah penting olah gerak kapal di kolam pelabuhan Tanjung Intan, Cilacap, dan merupakan informasi penting untuk mengetahui elevasi dermaga. Tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan kedalaman kolam pelabuhan dan menentukan nilai elevasi dermaga Tanjung Intan, Cilacap. Pemetaan kedalamaan kolam pelabuhan menggunakan metode akustik (multibeam echosounder) dengan data pasang surut. Data di proses menggunakan software Hypack, Arcmap 10.1 dan Ms. Exel. Kedalaman terendah 2 m dan kedalaman terdalam 18 m. Nilai konstanta harmonik pasang surut untuk LLWL adalah 1,92 m, HHWL adalah 4,65 m, muka surutan (Zo) adalah 0,814 m dan MSL adalah 3,34 m yang digunakan sebagai referensi bidang vertikal (datum) dan nilai elevasi dermaga di kolam dermaga Tanjung Intan Cilacap adalah 3,356 m. Kedalaman aman di kolam dermaga Tanjung Intan Cilacap ialah 8,8 m. | Bathymetry based on tidal phenomenon is an important step for manuver ship in the port of Tanjung Intan, Cilacap and an important information of the port elevation. The aimed of this research are to map port depth and determine the elevation of port dock of Tanjung Intan Cilacap. Bathymetry in the port was used acoustic method (multibeam echosounder) and tidal data. The data processed with software Hypack, Arcmap 10.1 and Ms.Excel. The lowest depth was 2 m and the deepest depth was 18 m. The value of tidal harmonic constants for LLWL was 1.92 m, HHWL was 4.65 m, Zero Datum (Z0) value was 0.814 m and MSL was 3.34 m used as datum reference and port elevation value of Tanjung Intan, Cilacap was 3,356 m. The safe depth in port water of Tanjung Intan Cilacap was 8,8 m. | |
| 18086 | 21624 | G1B014032 | HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN DAN PRAKTIK PSN DENGAN KEJADIAN DBD DI KOTA PURWOKERTO | Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Kabupaten Banyumas khususnya Kota Purwokerto yang merupakan wilayah endemis DBD dengan prevalensi selalu tinggi setiap tahunnya. Tingginya kasus DBD berkaitan dengan kualitas lingkungan dan perilaku pencegahan DBD yaitu praktik PSN. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan faktor lingkungan dan praktik PSN dengan kejadian DBD di Kota Purwokerto. Metodologi: Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan case control. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penduduk Kota Purwokerto berjumlah 246.706 jiwa. Jumlah sampel sebanyak 40 responden terdiri dari 20 kasus dan 20 kontrol dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan observasi. Data dianalisis ke dalam univariat dan bivariat . Hasil Penelitian: Variabel yang berhubungan adalah jumlah kontainer (0,000), keberadaan larva Aedes sp (0,000), dan praktik PSN (0,011). Variabel yang tidak berhubungan adalah kondisi kontainer (0,449), keberadaan vegetasi (0,112), kepadatan hunian (0,157), dan kepadatan penduduk. Kesimpulan: Variabel yang berhubungan dengan kejadian DBD di Kota Purwokerto adalah jumlah kontainer, keberadaan larva Aedes sp, dan praktik PSN. Saran yang diberikan diantaranya kepada masyarakat untuk mengurangi jumlah kontainer. | Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a vector borne disease that becomes a public health problem in the Banyumas Regency especially Purwokerto City is an endemic area of DHF with a high prevalence in every year. It could be related with the quality of environment and preventive measure of dengue fever which is done by the host in this case is Mosquitos Nest Elimination (MNE). This research aimed to analyze the relationship of environmental factor and the MNE practice with DHF incidence in Purwokerto City. Methods: This research was an observational analytic using case control approach. The population in this research were 246.706 people. The samples of this research were 20 cases and 20 controls by purposive sampling technique. The research instruments were questionnaire and observation sheet. The data was analyzed into univariate and bivariate. Results: Variables which associated with the incidence of DHF were amount of container (0,000), existence of larvae Aedes sp (0,000), and practice of Mosquitos Nest Elimination (0,011). While the variables which are not associated with the incidence of DHF were condition of the container (0,449), existence of vegetation (0,112), housing density (0,157), and population density. Conclusion: The variables associated with the incidence of DHF in Purwokerto City are amount of container, existence of larvae Aedes sp, and practice of MNE. Advice given to the community should reduce the amount of container. | |
| 18087 | 21056 | F1F013008 | Persuasion Techniques in Animal Farm Novel by George Orwell (A Pragmatic Study) | ABSTRAK Etikawati, Norma. 2018. Persuasion Techniques in Animal Farm Novel by George Orwell (Pragmatics study). Skripsi. Pembimbing 1: Asrofin Nur Kholifah, S.S., M.Hum. Pembimbing 2: Indriyati hadiningrum, S.S., M.Pd. Penguji: Ika Maratus Sholikhah, S.S., M.A. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Universitas Jenderal Soedirman, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Inggris, Program Studi S1 Sastra Inggris, Purwokerto. Penelitian yang berjudul berjudul Persuasion Techniques in Animal Farm Novel by George Orwell (Pragmatics study)bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi teknik persuasif yang dihasilkan oleh para babi di dalam novel Animal Farm oleh George Orwell; (2) menunjukan penggunaan teknik persuasif dari ujaran–ujaran yang dihasilkan oleh para babi di dalam novel Animal Farm oleh George Orwell. Penelitian ini menganalisis teknik persuasif berdasarkan teori dari Rank. Teori tersebut adalah: attention getting, confidence building, desire stimulating, urgency stressing, dan response seeking. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis data yang berupa ujaran–ujaran yang dihasilkan oleh para babi di dalam novel Animal Farm oleh George Orwell. Data yang dikumpulkan diperoleh dari membaca novel berulangkali, mengumpulkan ujaran–ujaran yang mengandung persuasif, dan mengelompokan ujaran-ujaran yang dihasilkan oleh para babi di dalam novel Animal Farm oleh George Orwell kedalam jenis-jenis teknik persuasif. Dari analisis data, saya menemukan 203 teknik persuasif di dalam ujaran-ujaran yang terdiri dari 74 attention getting: 1 physical attention getting, 10 emotional attention getting, and 63 cognitive attention getting; 22 confidence building: 6 authority figure, and 16 friend figure; 81 desire stimulating: 69 explicit claim, and 12 implicit suggestion; 6 urgency stressing; and also 21 response seeking. Kemudian, penggunaan dari teknik persuasif tersebut dapat berbeda dari setiap ujaran, dan setiap babi di dalam novel Animal Farm oleh George Orwell juga memiliki teknik yang dominan dibandingkan dengan tekik lainnya. . | ABSTRACT Etikawati, Norma. 2018. Persuasion Techniques in Animal Farm Novel by George Orwell (Pragmatics study). Thesis. Supervisor 1: Asrofin Nur Kholifah, S.S., M.Hum. Supervisor 2: Indriyati hadiningrum, S.S., M.Pd. External Examiner: Ika Maratus Sholikhah, S.S., M.A. Ministry of Research, Techology and Higher Education, Jenderal Soedirman University, Humanities Faculty, English Department, English Study Program, Purwokerto. This research entitled Persuasion Techniques in Animal Farm Novel by George Orwell (Pragmatics study) aims to: (1) identify the persuasion technique that produced by the pigs in the novel Animal Farm by George Orwell; (2) show the application of persuasion techniques of utterances produced by the pigs in the novel Animal Farm novel by George Orwell. This research analyzes persuasion techniques based on Rank’s theory. Those are attention getting, confidence building, desire stimulating, urgency stressing, and response seeking. This research uses descriptive qualitative method in analyzing the data which are utterances produced by the pigs in Animal Farm novel by George Orwell. The data are collected by repeatedly reading the novel, collecting the utterances containing persuasion, and categorizing the utterances produced by the pigs in Animal Farm novel by George Orwell into the types of persuasion techniques. From the data analysis, I find 203 persuasion techniques in the utterances that consist of 74 attention getting: 1 physical attention getting, 10 emotional attention getting, and 63 cognitive attention getting; 22 confidence building: 6 authority figure, and 16 friend figure; 81 desire stimulating: 69 explicit claim, and 12 implicit suggestion; 6 urgency stressing; and also 21 response seeking. Then, the application of those techniques can be different from each utterance and each pig character in the novel Animal Farm by George Orwell also has their dominant technique. | |
| 18088 | 21059 | B1J013007 | RESPON TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogeae L.) DARI BEBERAPA SUMBER NITROGEN TERHADAP HASIL DAN KANDUNGAN PROTEIN | Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan salah satu tanaman polong-polongan yang memiliki nilai ekonomi tinggi karena memiliki kandungan protein yang relatif tinggi, namun produksi kacang tanah di Indonesia terus menurun sehingga kebutuhan kacang tidak terpenuhi. Salah satu cara untuk meningkatkan hasil kacang adalah dengan pemberian pupuk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan respon tanaman kacang tanah dari beberapa sumber nitrogen terhadap hasil dan kandungan protein dan untuk mengetahui korelasi antara hasil dengan kandungan protein kacang tanah. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan RAL (rancangan acak lengkap), perlakuan terdiri dari: kontrol, pemberian rhizobuim, pupuk kandang, urea dan kompos dengan 3 ulangan. Parameter yang diamati adalah jumlah polong per tanaman, bobot biji per tanaman, berat 100 biji, jumlah bintil akar per tanaman, kandungan protein dan korelasi antara hasil dan kandungan protein. Data dianalisis dengan uji F dan dilanjutkan dengan uji BNT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari semua kelompok perlakuan, pemberian sumber nitrogen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil dan kandungan protein, korelasi positif antara hasil dengan kandungan protein dan aplikasi pupuk sangat efektif dalam meningkatkan hasil dan kandungan protein kacang tanah. | Peanut (Arachis hypogaea L.) is one of the leguminous plants that have high economic value because it has a relatively high protein content, but peanut production in Indonesia continues to decline so the need will peanut unfulfilled. One way to increase the yield of peanuts is by giving fertilizer. The aim of this research is to know the difference of peanut plant response from several sources of nitrogen to yield and protein content and to know the correlation between yield with peanut protein content. This research conducted by experimental using RAL (rancangan acak lengkap), the treatment consisted of: control, giving rhizobuim, manure, urea and compost with 3 replications. Parameters observed were number of pods per plant, seed weight per plant, weight of 100 seeds, number of root nodules per plant, protein content and correlation between yield and protein content. The data were analyzed by F test and continued with BNT test. The results showed that of all treatment groups the provision of nitrogen sources had a significant effect on protein yield and content, the positive correlation between the results with protein content and manure application was most effective in improving the yield and content of peanut protein. | |
| 18089 | 21625 | H1D014050 | KAJIAN KARAKTERISTIK DASAR ASPAL MODIFIKASI DENGAN PENAMBAHAN PLASTIK POLYETHYLENE TEREPHTHALATE (PETE/PET) | Perkerasan jalan di Indonesia pada saat ini sebagian besar menggunakan aspal minyak (aspal konvensional) dengan penetrasi 60/70. Akan tetapi penggunaan aspal konvensional masih memiliki kelemahan, salah satunya adalah perkerasan jalan tidak mampu menahan beban lalu lintas yang berlebihan dan temperatur tinggi sehingga menimbulkan deformasi. Salah satu cara untuk meningkatkan mutu campuran beraspal adalah dengan menambahkan plastik yang dalam istilah kimianya disebut polimer. Pemberian bahan tambahan polimer diharapkan memberikan penambahan pada sifat-sifat fisik aspal seperti kepekaan terhadap temperatur dengan meningkatkan nilai titik lembek, dan kinerja terhadap stabilitas yang lebih besar dari aspal konvensional atau aspal penetrasi 60/70. Salah satu material yang bisa dimanfaatkan dalam kaitan ini adalah limbah plastik Polyethylene Terephthalate (PETE/PET). Limbah plastik PETE/PET dipilih sebagai polimer karena sifat plastik PETE/PET yang tahan terhadap panas dan juga mampu untuk menaikkan titik lembek aspal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dasar aspal modifikasi plastik PETE/PET (Penetrasi, titik lembek, titik nyala dan titik bakar, berat jenis, daktilitas, dan viskositas) serta mengetahui persentase kadar plastik PETE/PET untuk menghasilkan aspal modifikasi yang memenuhi standar Bina Marga. Dalam pelaksanaannya, penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen laboratorium. Variasi penambahan plastik Polyethylene Terephthalate (PETE/PET) yang digunakan adalah 0%, 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, 9%, 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50%. Pengujian aspal modifikasi dengan penambahan plastik Polyethylene Terephthalate (PETE/PET) menunjukkan hasil yang signifikan terhadap penetrasi, titik lembek, dan nilai daktilitas. Secara keseluruhan, kualitas aspal yang dimodifikasi dengan plastik Polyethylene Terephthalate (PETE/PET) menghasilkan sifat yang lebih baik dibandingkan dengan aspal murni. | The road pavements in Indonesia at present mostly use oil asphalt (conventional asphalt) with 60/70 penetration. However, the use of conventional asphalt still has a few weaknesses, one of those is deformation that is caused by traffic load and hight temperature. An alternative way to improve asphalt mixtures quality is by adding plastics that in their chemical terms are called polymers. The addition of polymer additives is expected to add physical properties of asphalt such as temperature sensitivity by increasing softening point value, and performance against greater stability than conventional asphalt or 60/70 penetration asphalt. One of the materials that can be utilized in this respect is plastic waste of Polyethylene Terephthalate (PETE / PET). PETE / PET plastic waste is selected as a polymer because of the heat-resistant PETE / PET also can raise the softening point of asphalt. Aims of this research are to find the basic characteristic of PETE / PET modified asphalt modification (penetration, softening point, flash point and burn point, specific gravity, ductility, and viscosity) and to know the percentage of PETE / PET plastic content to produce modified asphalt to reach Bina Marga standard .This research was conducted by laboratory experimental method. Variations of addition of Polyethylene Terephthalate (PETE / PET) plastic used are 0%, 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, 9%, 10%, 20%, 30 %, 40%, and 50%. Modified asphalt tested with the addition of Polyethylene Terephthalate (PETE / PET) plastic showed significant results on penetration, softening point, and ductility value. Overall, asphalt quality modified with Polyethylene Terephthalate (PETE / PET) plastics yields better properties than pure asphalt. | |
| 18090 | 21068 | C1J013040 | FACTORS AFFECTING INDONESIA MILK IMPORT IN 1995-2015 | Pembangunan industri pertanian merupakan prioritas bagi pemerintah Indonesia untuk mencapai swasembada. Susu merupakan sub-sektor industri yang penting dengan lebih dari 100,000 peternak dan lebih dari 800,000 ton produksi susu. Impor susu dilakukan karena produksi susu domestik belum dapat mencukupi kebutuhan susu domestik. Ketersediaan susu di Indonesia sebesar 79.63 persen disuplai dari impor, sedangkan produksi susu domestik hanya berkontribusi sebesar 20.37 persen. Penelitian ini mencoba untuk mengidentifikasi faktor-faktor kunci dari permintaan impor susu Indonesia pada 1995-2015 lewat perubahan dari konsumsi susu, produksi susu, harga susu Indonesia, nilai tukar Rupiah, dan GNI per kapita Indonesia. Tipe dari penelitian ini adalah penelitian asosiatif. Teknik analisis adalah analisis regresi linier berganda. Variabel terikat adalah impor susu Indonesia. Variabel bebas adalah konsumsi susu Indonesia, produksi susu Indonesia, harga susu Indonesia, nilai tukar Rupiah, dan GNI per kapita Indonesia. Hasil dari penelitian ini yaitu: 1) Variabel yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap impor susu Indonesia adalah konsumsi susu Indonesia, nilai tukar Rupiah, dan GNI per kapita Indonesia. Sedangkan, variabel yang berpengaruh tidak signifikan adalah produksi susu Indonesia dan harga susu Indonesia. 2) Variabel yang paling berpengaruh terhadap impor susu Indonesia adalah konsumsi susu Indonesia. Implikasi yang dapat dinyatakan sebagai rekomendasi dalam kebijakan industri susu yaitu: 1) Pemerintah Indonesia diharapkan mengembangkan sebuah rancangan yang komprehensif untuk pembangunan industri susu bersama institusi terkait (GKSI, IPS, dan peternak susu) dengan tujuan untuk kerjasama dalam menciptakan iklim bisnis yang kondusif guna menghadapi tingginya permintaan produk susu. 2) Pemerintah perlu mendorong optimalisasi dari kapasitas produksi dan investasi yang ada dalam faktor pendukung (pekerja, bahan baku, energi, dan infrastruktur) dengan tujuan untuk meningkatkan industri susu dalam negeri yang berdaya saing. | The development of agricultural industry is the priority for the government of Indonesia to achieve self-sufficiency. Milk is an important industrial sub-sector with over 100,000 dairy farmers and over 800,000 tons milk production. Importing milk is done because domestic milk production has not been able to meet domestic milk demand. The availability of milk in Indonesia is 79.63 percent is supplied from import, as the domestic milk production contributes only 20.37 percent. This research examines to identify the key determinants of Indonesia milk import demand in 1995-2015 by the changes of Indonesia milk consumption, milk production, milk price, Rupiah exchange rate and Indonesia GNI per capita. The type of this research is associative research. The analysis technique is multiple linear regression analysis. The dependent variable is Indonesia milk import. The independent variables are Indonesia milk consumption, Indonesia milk production, Indonesia milk price, Rupiah exchange rate and Indonesia GNI per capita. The findings of this research are: 1) The variables that have significant effects on Indonesia milk import in 1995-2015 are Indonesia milk consumption, Rupiah exchange rate and Indonesia GNI per capita. Meanwhile, the variables that have insignificant effects are Indonesia milk production and Indonesia milk price. 2) The variable that has the most influential effect on Indonesia milk import in 1995-2015 is Indonesia milk consumption. The implications that may be implied as the recommendations for milk industry policy are: 1) The Government of Indonesia should develop a comprehensive blueprint for milk industry development with the related institutions (IPS, GKSI and dairy farmers) with the aim of increasing partnerships to create a conducive business climate to overcome the high demand of milk. 2) The government needs to encourage the optimization of existing production capacity and investment on supporting factors (employment, raw materials, energy and infrastructures) in order to increase the competitiveness of domestic milk industry. | |
| 18091 | 21076 | C1J011024 | THE EFFECTS OF BI RATE, INFLATION RATES, EXCHANGE RATES AND MONEY SUPPLY ON INVESTMENT INTEREST RATES AT COMMERSIAL BANKS IN INDONESIA (The Case of Indonesian State Banks and Private Banks,Period 2009–2015) | Penelitian ini membahas tingkat bunga melalui instrumen moneter Bank Sentral, yang bertujuan untuk mengetahui pengaruhnya. Hipotesis dari karya ilmiah ini adalah Pengaruh BI Rate, Inflasi, Kurs Rupiah, dan Jumlah Uang Beredar terhadap Suku Bunga Investasi pada Bank Komersial di Indonesia (Studi kasus dari State Banks dan Private Banks, Periode 2009 - 2015). Pengumpulan data dari Bank Indonesia dengan sampel yang berjumlah 84 data series untuk bulan Januari 2009 – Desember 2015. Data yang dianalisis dengan menggunakan regresi linear berganda dan elastisitas. Serta diinput data untuk menganalisis adalah data perubahan (∆) dari masing-masing variabel. Adapun temuan dalam penelitian ini adalah, Pertama, terdapat pengaruh signifikan positif antara BI rate dengan suku bunga investasi pada State Banks sebesar 0,289 dan Private Banks adalah 0,204. Kedua, tingkat inflasi berpengaruh signifikan negatif terhadap suku bunga investasi pada State Banks adalah (-0,042), namun pada Private Banks tidak berpengaruh terhadap suku bunga investasi sebesar 0,025. Ketiga, besarnya kurs rupiah tidak berpengaruh terhadap suku bunga investasi pada State Banks adalah 0,029 dan Private Banks adalah 0,028. Keempat, pada jumlah uang beredar berpengaruh signifikan negatif terhadap suku bunga investasi pada Private Banks adalah (-0,673), sedangkan State Banks tidak berpengaruh pada suku bunga investasi sebesar 0,267. Secara simultan semua variabel bebas berpengaruh signifikan terhadap suku bunga investasi pada State Banks dan Private Banks di Indonesia. Secara analisis elastisitasnya bahwa diperoleh hasil yang paling dominan elastis terdapat pada variabel BI rate terhadap suku bunga investasi pada State Banks, namun pada Private Banks yaitu jumlah uang beredar, secara teori bahwa BI rate sebagai salah satu instrumen utama moneter pada Bank Sentral yang cukup berpengaruh dalam penyebarannya. | This study discusses the interest rate through monetary instrument in the Central Bank, which aims to determine the effect and relationship of both. The hypothesis of this scientific paper is the Effect of BI Rate, Inflation Rate, Rupiah Exchange Rate and Money Supply on Investment Interest Rate at Commercial Banks in Indonesia (The Case of Indonesian State Banks and Private Banks, Period 2009 - 2015). This study is conducted data collection from Bank Indonesia with a sample of 84 data series to January 2009 - December 2015. The data are analyzed by statistical analysis using multiple linear regression and elasticity. The data inputted to analyze is the data change (∆) of each variable. The findings in this research are, First, there is a significant positive effect between the BI rate with investment interest rate at State Banks and Private Banks each of 0.289 and 0.204. Second, the inflation rate gives significant negative effect on investment interest rate at State Banks is (-0.042), but inflation at Private Banks gives no effect on investment interest rate is 0.025. Third, the amount of the rupiah exchange rate gives no effect on investment interest rate at State Banks is 0.029 and Private Banks is 0.028. Fourth, the money supply gives significant negative effect on investment interest rate at Private Banks is (-0.673), on the other side of State Banks has no effect on investment interest rate is 0.267. Simultaneously all independent variables gives significant effect on investment interest rate at State Banks and Private Banks in Indonesia. The elasticity analysis shows that the most dominant elastic result is in the variable of BI rate to investment interest rate at State Banks, whereas at Private Banks is the money supply, but generally theories that BI rate as one of the main monetary instruments in the Central Bank is quite influential in its spread. | |
| 18092 | 20898 | B1J013130 | STRUKTUR KOMUNITAS DAN INDEKS EKOLOGIS FOSIL POLEN PADA SAMPEL GAMBUT DI RAWA LAKBOK, JAWA BARAT | Rekonstruksi paleoekologi dilakukan dengan menganalisis komunitas mikrofosil dari hasil coring suatu lapisan sedimen. Untuk melakukan analisis komunitas polen diperlukan parameter kuantitatif diantaranya kekayaan spesies, keanekaragaman, dan kemerataan dalam ukuran indeks. Beberapa indeks keanekaragaman telah digunakan untuk mempelajari keanekaragaman fosil polen. Banyak metode untuk mengukur keanekaragaman namun tidak semua mampu menggambarkan struktur komunitas dengan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekayaan dan kelimpahan fosil polen dan spora dengan menggunakan indeks ekologi dan membandingkan indeks ekologi dengan komunitas fosil polen dan spora untuk mengetahui korelasinya sehingga diperoleh indeks yang tepat. Penelitian ini dilakukan terhadap sampel gambut yang berasal dari Desa Sukamulya, Kecamatan Lakbok. Preparasi sedimen untuk sediaan mikroskop menggunakan metode Moore & Webb yang dimodifikasi oleh Setijadi. Data yang diperoleh dianalisis dengan Indeks Shannon, Indeks Simpson, Indeks Margalef, Rarefaction, Indeks Kemerataan (PAST ver 0.99) dan Canonical Correspondence Analysis (Canoco V4.5). Hasil identifikasi ditemukan sebanyak 26 tipe polen dan spora yang termasuk dalam 9 spesies dan 17 genus tumbuhan penghasilnya. Berdasarkan analisis sporomorf, indeks keanekaragaman sampel Rawa Lakbok berkisar antara 1,43-2,63 dan memiliki keragaman yang cukup merata (0,60-0,85) dengan dominasi spora. CCA menunujukkan bahwa korelasi antara indeks ekologi dan komunitas menunjukkan nilai tertinggi pada inddeks kemerataan (0,635) sehingga tidak dapat ditentukan salah satu indeks yang tepat menggambarkan komunitas. Indeks kekayaan, keragaman, dan kemerataan secara bersama-sama perlu digunakan agar mampu memberikan gambaran komunitas secara tepat. | The reconstruction of paleoecology is done by analyzing the microfossil community from the coring results of a sedimentary layer. To analyze the pollen community, quantitative parameters include species richness, diversity, and evenness in index size. Several diversity indices have been used to study the diversity of fossil pollen. There are many methods for measuring diversity but not all are able to properly describe the structure of the community. The purpose of this study was to determine the richness and abundance of fossil pollen and spore by using ecological index and compare ecological index with fossil polen and spore communities to obtain the right index. This research was conducted on peat samples from Sukamulya Village, Lakbok District. Sediment samples were prepared using standard methods that has been modified by Setijadi. The data obtained were analyzed by Shannon Index, Simpson Index, Margalef Index, Rarefaction, Evenness Index (PAST ver 0.99) and Canonical Correspondence Analysis (Canoco V4.5). This research found 26 types pollen and spores that were categorized into 9 species and 17 genera of producing plants. Based on the sporomorphic analysis, species diversity of the Lakbok Swamp ranged from 1,43-2,63 and the diversity is quite evenly (0,60-0,85) with spore dominance. The CCA shows that the correlation between the ecological and community indices shows the highest value in the evenness index (0,635) so it can not be determined one of the appropriate indices describes the community. Species richness, diversity, and evenness index together should be used in order to provide a precise picture of the community. | |
| 18093 | 21061 | F1F013013 | NINA’S DOPPELGANGER HALLUCINATION CASE IN BLACK SWAN MOVIE DIRECTED BY DARREN ARONOFSKY | Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui tentang halusinasi doppelganger pada film Black Swan karya Aronofsky. Terlebih lagi, penelitian ini akan mejelaskan apakah kriteria doppelganger pada karakter memiliki kesamaan pada beberapa mitos yang ada. Penelitian ini juga akan menjelaskan bagaimana karakter utama dalam film tersebut mengalami halusinasi doppelgangernya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis data. Sebagai tambahan, teori psikologi sastra digunakan untuk menganalisis kondisi psikis karakter utama dalam film, teori doppelganger oleh Lloyd juga akan digunakan untuk menganalisis kriteria doppelganger dalam film. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa adanya persamaan antara doppelganger kriteria milik Lloyd dan halusinasi doppelganger pada karakter utama. Persamaan-persamaan tersebut antara lain omen of bad luck (pertanda nasib buruk), demonic twin (kembaran yang jahat) dan omen of death (pertanda kematian). Melalui penelitian ini juga dapat diketahui bahwa lewat halusinasi doppelganger, karakter utama mengalami gangguan psikotik seperti kecemasan dan gangguan obsesif kompulsif. Selain itu, karakter utama positif memiliki obsesi untuk mencapai tujuannya dengan sempurna sehingga dia mengalami halusinasi doppelganger. | This research aims to figure out the doppelganger hallucination in Aronofsky’s Black Swan. Furthermore, it explains whether the criteria of doppelganger of character have in common with some myths. It also explains how the main character in Black Swan experiences her doppelganger hallucinations. This research is using qualitative method in analyzing the data. In addition, psychology in literature is used to analyzed the psychic condition of the main character in the movie and Lloyd’s doppelganger theory is also used to analyzed the doppelganger criteria in the movie. The result of this research shows that there are similarities between Lloyd’s doppelganger criteria and doppelganger hallucination of the main character. The similarities are omen of bad luck, demonic twin and also omen of death. It also can be found that through the doppelganger hallucination, the main character is suffering from psychotic breaks such as anxiety and obsessive compulsive disorder. Additionally, the main character positively has obsession to reach her goal perfectly that resulting doppelganger hallucination of her. | |
| 18094 | 21062 | C1J013033 | THE FACTORS AFFECTING THE NUMBER OF TOURIST VISITS AT OWABONG WATERPARK IN BOJONGSARI SUB-DISTRICT, PURBALINGGA | Penelitian ini berjudul “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kunjungan Wisata ke Owabong Waterpark di Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga” bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendapatan, biaya perjalanan, jarak dan usia terhadap tingkat kunjungan wisatawan dalam melakukan kunjungan ke Owabong Waterpark. Penelitian ini merupakan penelitian survey terhadap pengunjung Owabong Waterpark dengan menggunakan metode aksidental sampling. Data yang diperoleh dari penelitian berupa kualitatif dan kuantitatif data yang berasal dari data primer dengan menggunakan teknik questionare based interview. Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan analasis regresi linear berganda model double log, uji statistik dan uji asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pendapatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap total kunjungan wisata di Owabong Waterpark. Variabel biaya perjalanan dan jarak berpengaruh negative dan signifikan terhadap total kunjungan wisata di Owabong Waterpark. Sedangkan, variabel usia pengunjung berpengaruh tidak signifikan terhadap total kunjungan wisata di Owabong Waterpark. Berdasarkan hasil uji T diketahui variabel pendapatan paling berpengaruh terhadap total kunjungan wisata di Owabong Waterpark. Implikasi yang dapat diberikan kepada pihak pengelola Owabong Waterpark yaitu untuk terus meningkatkan sarana dan prasarana yang ada untuk mempertahankan kualitas objek wisata, selalu melakukan inovasi berbagai wahana yang menarik pengunjung, melakukan promosi seperti diskon harga tiket masuk agar menjangkau seluruh elemen masyarakat baik yang berpendapatan rendah maupun tinggi, mengadakan promosi yang lebih gencar lagi terutama di social media agar lebih dikenal oleh masyarakat diluar kota Purbalingga dan akan menjadikan Owabong Waterpark tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan local saja. | This research entitled “The Factors Affecting The Number of Tourist Visits at Owabong Waterpark in Bojongsari Sub-District, Purbalingga” aimed to determine the effect of income, travel cost, distance and visitor age on the number of tourist visit during a visit to Owabong Waterpark. This research is a survey research to visitors of Owabong Waterpark using accidental sampling method. Data obtained from the research was in the form of qualitative and quantitative data derived from primary data using questionnaire based interview technique. Analytical technique in this research used multiple linear regression analysis, namely double log model, statistical test, and classical assumption test. The result indicated that income variable had a positive and significant effect on the number of tourist visits at Owabong Waterpark. Travel Cost and distance variables have a negative and significant effect on the number of tourist visits at Owabong Waterpark. Meanwhile, age variable had insignificant effect on the number of tourist visits at Owabong Waterpark. Based on T test, income variable is the most influential variable affecting the number of tourist visits in Owabong Waterpark The implications of this research to the management of Owabong Waterpark is to continously improve the existing facilities and infrastructures to maintain the quality of tourist attraction, always innovate various vehicles attracting the visitors, conduct promotions such as discounted admission ticket to reach all elements of community both low and high income, conduct more vigorous promotions, especially in social media to be better known by the community outside Purbalingga so that Owabong Waterpark is not only visited by local tourists, but also foreign tourists. | |
| 18095 | 21294 | F1F012072 | Symbols of Japanese Culture in Benjamin Martin’s Samurai Awakening | Penelitian ini berjudul “symbol of Japanese culture in Samurai Awakening” bertujuan untuk menemukan symbol yang terlihat pada samurai awakening. Data utama dalam penelitian ini menggunakan novel Samurai Awakening yang ditulis oleh Benjamin Martin. dalam menganalisis data, peneliti menggunakan teori new criticism yang berfokus pada symbol untuk mendukung menganalisis karya sastra. penilitian ini juga di dukung oleh mitos dan budaya Jepang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dalam menganalisis data utama penelitian ini. Metode analisis dalam penelitian ini dimulai dari membaca novel, mencari simbol dalam karakter di dalam novel, menganalisis data dengan menggunakan kritik baru mengenai simbol, mitos dan budaya Jepang dan menyimpulkan hasil analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan tujuh simbol yang tergambar dalam novel yaitu Oni, Ninigi, Golden Tiger, Yurei, Kami, Obake dan Okami. | Rabbani, Zakiyyah Silmi. 2018. Symbols Japanese Culture in Samurai Awakening Benjamin Martin.Thesis. Supervior I: Mia Fitria Agustina, S.S, SE., M.A. Supervisor II : Rizki Februansyah, S.S., M.A. External Examiner : Muhammad Taufiqurrohman, S.S., M.Hum. Ministry of Research Technology and Higher Education. Jenderal Soedirman University. Faculty of Humanities. English Department. English Study Program. Purwokerto. This research entitled “Symbols Japanese Culture in Samurai Awakening Benjamin Martin” aims to figure out the symbols which depicted in samurai awakening. The main data of this research are from Samurai Awakening written by Benjamin martin. In analyzing the data, the researcher uses new criticism to analyze symbols. This research is also supported by myth and Japanese culture. This research also uses descriptive qualitative method in analyzing the main data of this research. The method of analysis in this research is started from reading the novel, finding out symbols in the character in novel, analyzing the data using new criticism on symbol, myth and Japanese culture and concluding the result of analysis. The result of this research shows seven symbols depicted in novel; there | |
| 18096 | 21063 | G1A014027 | HUBUNGAN ANTARA KADAR Alpha Fetoprotein (AFP) DENGAN KADAR BILIRUBIN PADA PASIEN KARSINOMA HEPATOSELULER PRIMER | Latar Belakang : Karsinoma hepatoseluler (KHS) merupakan penyebab kematian akibat kanker kelima di dunia. Alpha fetoprotein (AFP) adalah suatu glikoprotein yang disintesis oleh hati yang dapat dijadikan sebagai skrining tes untuk mendeteksi KHS. Peningkatan kadar AFP berhubungan dengan penurunan fungsi hati. Fungsi hati dapat dilihat melalui enzim hati seperti bilirubin. Bilirubin merupakan produk akhir pemecahan heme dari degradasi hemoglobin eritrosit melalui sistem retikuloendotelial terutama di hati dan limpa. Tujuan : Mengetahui hubungan antara kadar Alpha Fetoprotein (AFP) dengan kadar bilirubin (indirek, direk, dan total) pada pasien karsinoma hepatoseluler primer. Metode : Penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional dan teknik total sampling. Analisa yang digunakan ialah Uji Fisher. Subjek penelitian berjumlah 30 sampel merupakan pasien dengan diagnosis karsinoma hepatoseluler primer yang datang berobat ke RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto pada periode waktu Januari-Desember 2017. Hasil : Uji Fisher menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara kadar AFP dengan kadar bilirubin indirek (p = 0,049). Namun, tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar AFP dengan kadar bilirubin direk (p = 0.628) dan kadar AFP dengan kadar bilirubin total (p= 0,708). Kesimpulan : Kadar AFP berhubungan dengan kadar bilirubin indirek pada pasien Karsinoma Hepatoseluler primer. | Background: Hepatocellular carcinoma (HCC) is the fifth leading cause of cancer worldwide. Alpha fetoprotein (AFP) is a glycoprotein synthesized by the liver that commonly used as a biomarker to detect HCC, while bilirubin is the breakdown product of heme catabolism. Elevated AFP and bilirubin levels may indicate the possibility of liver damage. Aim: To investigate the association between serum alpha-fetoprotein (AFP) and bilirubin (indirect, direct, and total) levels in primary hepatocellular carcinoma patients. Methods: A cross-sectional study was performed among 30 HCC patients who were treated at Prof. Dr. Margono Seokarjo Purwokerto Hospital in 2017. Fisher Test was used to determine the associations between serum AFP and bilirubin levels. Results: Significant association was shown between AFP levels and indirect bilirubin levels (p = 0.049), whereas, there was no significant association between AFP levels and direct bilirubin levels (p = 0.628) and AFP levels with total bilirubin (p = 0.708). Conclusions: Our results suggest that serum AFP levels are significantly associated with indirect bilirubin levels in patients with primary hepatocellular carcinoma. | |
| 18097 | 21064 | F1D012051 | AKTIVISME DARING DALAM PENOLAKAN HAK MEREK EKSKLUSIF TEMPE MENDOAN DI BANYUMAS | Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan aktivisme digital di Kabupaten Banyumas dalam penolakan hak merek eksklusif tempe mendoan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan paradigma konstruktivisme dan pendekatan studi kasus. Penelitian ini juga menggunakan teknik analisis kualitatif deskriptif, dalam model analisis interaktif Miles dan Huberman. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa kehadiran budaya media baru yang lahir dari globalisasi telah melahirkan idealisme dan optimisme baru dalam aktivitas politik terutama di ranah lokal Banyumas. Media baru juga telah digunakan sebagai alat untuk membangun aktivisme sosial. Aktivisme sosial di media baru menjadi fenomena baru dalam proses politik perlawanan dan partisipasi publik untuk mempengaruhi proses politik di ranah virtual. Namun di sisi lain Banyumas belum sepenuhnya siap menerima aktivisme digital karena ketidak mapanannya konten kreator yang berkualitas ditambah dengan kurangnya edukasi etika menggunakan media dan pemahaman literasi media yang masih kurang. Dari analisis yang dibuat setidaknya aktivisme digital dalam penolakan eksklusif tempe mendoan di Kabupaten Banyumas dapat menggambarkan sebuah bentuk dan alur diamana proses kedewasaan masyarakat yang ternaungi oleh global village belum sepenuhnya bisa dikatakan sebagai masyarakat yang siap, pengaruh teknologi dan framing media yang dapat merubah dan membentuk pemahaman nilai budaya yang sepenuhnya bisa mempengaruhi kepentingan pribadi maupun publik. | The purpose of this research is to describe the digital activism in Banyumas Regency in rejection of capitalization tempe mendoan. This research uses qualitative method with constructivism paradigm and case study approach. This research also uses descriptive qualitative analysis techniques, in Miles and Huberman interactive analysis model. The results of this research indicate that the presence of a new media culture born from globalization has given birth to new idealism and optimism in political activity, especially in the local realm of Banyumas. New media has also been used as a tool for building social activism. Social activism in new media becomes a new phenomenon in the political process of resistance and public participation to influence the political process in the virtual realm. But on the other hand Banyumas is not fully ready to accept digital activism because of its lack of quality content of creators added with the lack of ethics education using media and understanding of media literacy is still lacking. From the analysis that made at least the digital activism in denial of capitalization tempe mendoan in Banyumas regency can describe a form and groove in the process of maturity society which shaded by global village not yet can be said as ready society, influence of technology and media framing that can change and form value comprehension a culture that can fully affect both private and public interests. | |
| 18098 | 21065 | G1A014033 | Hubungan Dukungan Orang Tua dengan Kemampuan Inteligensi pada Siswa SDIT Topkids Sokaraja | Masyarakat masih menganggap bahwa inteligensi merupakan jaminan kesuksesan masa depan. Salah satu cara untuk menyatakan tinggi rendahnya tingkat inteligensi adalah dengan menerjemahkan hasil tes inteligensi menjadi nilai yang dinamakan intelligence quotient (IQ). Nilai IQ yang tinggi menunjukkan bahwa seseorang memiliki fungsi intelektual yang tinggi. Tinggi rendahnya nilai IQ dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya faktor lingkungan seperti dukungan sosial dari orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara dukungan orang tua dan kemampuan inteligensi pada siswa SDIT Topkids Sokaraja. Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan pendekatan cross sectional. Subjek yang diteliti berjumlah 40 orang. Tingkat dukungan orang tua didapatkan dengan menggunakan kuesioner dukungan orang tua. Tingkat IQ didapatkan dengan menggunakan CFIT Skala 2A yang dibantu oleh psikolog. Rerata tingkat dukungan orang tua pada siswa SDIT Topkids Sokaraja berada pada kategori positif (57,5%). Rerata kemampuan inteligensi pada siswa SDIT Topkids Sokaraja berada pada kategori rata-rata (50%). Hasil analisis korelasi Spearman p = 0,231 (p > 0,05) menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan orang tua dan kemampuan inteligensi. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara dukungan orang tua dan kemampuan inteligensi pada siswa SDIT Topkids Sokaraja. | There is a perception in society that intelligence is a guarantee of success future. The way people use to find out someone's level of intelligence is to translate their intelligence test results into a nominal score named intelligence quotient (IQ). A high IQ score indicates that a person has a high intellectual function. A high IQ score is influenced by several factors, such as surroundings environment factor like parent's social support. This study aims to determine whether there was a relationship between parent support and intelligence capability in SDIT Topkids Sokaraja students. This research used cross sectional approach of observational method with 40 people as the subjects. Parent support levels were obtained using a parent support questionnaire. IQ levels were obtained by using CFIT Scale 2A assisted by psychologist. The average level of parent support of SDIT Topkids Sokaraja students was in positive category (57,5%). The average intelligence capability of SDIT Topkids Sokaraja students was in the average category (50%). The result of Spearman corelation analysis, p = 0,231 (p > 0,05), showed that there was no significant relationship between parent support and intelligence capability. So it can be concluded that there was no relationship between parent support and intelligence capability of SDIT Topkids Sokaraja students. | |
| 18099 | 21066 | G1A014106 | FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PTERYGIUM PADA NELAYAN DI KAMPUNG NELAYAN SIDAKAYA CILACAP | Latar Belakang: Pterygium merupakan kejadian iritatif yang disebabkan oleh sinar ultraviolet yang sering terjadi pada pekerja diluar ruangan seperti petani dan nelayan. Pterygium pada nelayan dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor usia, genetika, lamanya terpapar sinar UV dan lamanya masa kerja menjadi nelayan. Prevalensi pterygium menurut RISKESDAS tahun 2013 menunjukan bahwa pekerja nelayan, petani memiliki prevalensi tertinggi sebesar 15.8% dibanding katarak. Tujuan: Mengetahui faktor yang berhubungan dengan pterygium pada nelayan di Desa Sidakaya Cilacap. Metode: Penelitian yang digunakan cross sectional dan teknik consecutive sampling. Analisa yang digunakan ialah Chi-square. Subjek penelitian berjumlah 100 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil: Terdapat 65 responden terkena pterygium. Faktor yang berhubungan dengan pterygium antara lain usia, lamanya terkena paparan sinar UV dan lamanya masa kerja dengan p value < 0.05 dan faktor yang tidak berhubungan dengan pterygium antara lain genetika dengan p value p > 0.05. Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara usia, lamanya terpapar sinar UV dan lamanya masa kerja dengan pterygium pada nelayan di Desa Sidakaya Cilacap. | Background: Pterygium is an irritant incident caused by ultraviolet light that often occurs in outdoor workers such as farmers and fishermen. Pterygium in fishermen can be caused by several factors such as age, genetics, duration of exposure to UV rays and length of work to fishermen. The prevalence of pterygium according to RISKESDAS in 2013 shows that fishermen workers, farmers have the highest prevalence of 15.8% compared to cataracts. Objective: To identify factors related to the incidence of pterygium in fishermen in Sidakaya Village Cilacap. Methods: Observational analytic research with research design used was cross sectional design and consecutive sampling technique. The analysis used is chi square. Subjects were 65 respondents who met the inclusion criteria. Results: There were 65 respondents suffering from pterygium. Factors related with pterygium include age, duration of exposure to UV rays and length of work with p value < 0.05 and factors not related to pterygium include genetics with p value p > 0.05. Conclusion: There is a significant correlation between age, duration of exposure to UV rays and length of work with pterygium in fishermen in Sidakaya Village Cilacap. | |
| 18100 | 21067 | B1J013129 | Upaya Memacu Regenerasi Kalus Beberapa Kultivar Tebu dengan Konsentrasi BAP Berbeda | Tebu merupakan salah satu komoditas pertanian dengan nilai ekonomi tinggi. Pasokan bibit secara konvensional belum mampu memenuhi kebutuhan gula nasional. Solusi yang tersedia untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menggunakan teknik produksi bibit yang baik seperti kultur in vitro dan penggunaan kultivar unggul seperti Kidang Kencana, PSDK 923, PS 862, dan PSJT 941 tebu. Penelitian ini telah dilakukan untuk mempelajari pengaruh BAP terhadap regenerasi kalus kultivar tebu ini dan untuk mengetahui konsentrasi BAP terbaik untuk merangsang regenerasi mereka pada kultur in vitro. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pada pola perlakuan faktorial. Variabel yang diamati adalah regenerasi kalus dan parameter yang diukur meliputi pembentukan struktur globular, heart-shaped, torpedo, cotyledonary, dan munculnya dan jumlah tunas. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis varians (ANOVA) kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara kultivar tebu dan konsentrasi BAP berpengaruh nyata terhadap regenerasi kalus tebu secara in vitro dan konsentrasi optimum regenerasi kalus tebu adalah 5 μM dengan kombinasi perlakuan V3B1 (kultivar PS 862 dan BAP 5 μM) merupakan kombinasi perlakuan terbaik pada regenerasi kalus tebu secara in vitro. | Sugarcane is one of agricultural commodities with high economic value. Conventional seed supply has not been able to meet the national sugar requirement. The available solution to overcome this problem is using a good seedling production techniques such as in vitro culture and the use of superior cultivars such as Kidang Kencana, PSDK 923, PS 862, and PSJT 941 sugarcane. This research has been conducted to study the effect of BAP on the callus regeneration of these sugarcane cultivars and to determine the best BAP concentration to stimulate their regeneration in in vitro cultures. This research has been carried out experimentally using Completely Randomized Design (RAL) on factorial treatment pattern. The variable observed was the callus regeneration and the parameters measured included the formation of globular, heart-shaped, torpedo, cotyledonary-like structure, and the shoot emergence and number. The data obtained were analyzed using an analysis of variance (ANOVA) followed an Honestly Significant Differences (BNJ) test at 95% level of confidence. The results showed that the interaction of sugarcane cultivars and BAP concentration on sugarcane callus regeneration gave significant effect in in vitro culture and the optimal concentration for sugarcane callus regeneration was 5 μM with combination of V3B1 treatment (cultivar PS 862 and BAP 5 μM) as the best treatment combination on sugarcane callus regeneration in in vitro culture. |