Artikelilmiahs

Menampilkan 6.161-6.180 dari 48.852 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
616115984H1F009033GEOLOGI DAN INDIKASI ZONA MINERALISASI
BERDASARKAN PENGUKURAN GEOLISTRIK METODE WENNER
DAERAH JINGKANG DAN SEKITARNYA KECAMAATAN AJIBARANG
PROVINSI JAWA TENGAH

Daerah penelitian terletak di daerah Jingkang dan sekitarnya, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Secara geomorfologi daerah penelitian terdiri dari tujuh satuan, yaitu Satuan Perbukitan Homoklin Batuanten, Satuan Dataran Denudasional Struktur Lipatan Jingkang, Dataran Aluvial Kaliputih, Dataran Aluvial Kalitapen, Bukit Intrusi Kaliputih, Satuan Lembah Homoklin Kalitapen, dan Satuan Perbukitan Homoklin Kalitapen. Pola aliran pada daerah penelitian terbagi menjadi tiga, yaitu pola aliran rektangular, subdendritik, dan subparalel. Stratigrafi daerah penelitian terdiri dari lima satuan batuan, yaitu Satuan Batupasir terbentuk pada Miosen Akhir hingga Pliosen Awal yang diendapkan pada lingkungan neritik tengah, kemudian Satuan Intrusi Diorit terbentuk pada Miosen Akhir, lalu Satuan Batulempung-batupasir terbentuk pada kala Pliosen diendapkan pada lingkungan neritik tengah hingga neritik tepi. Pada kala Holosen terendapkan Satuan Batupasir Berfragmen dan pada kala resen diendapkan Satuan Endapan Aluvial. Struktur geologi yang terdapat di daerah penelitian yaitu, Antiklin Jingkang, Sinklin Jingkang, dan Sesar Geser Kiri Jingkang. Studi khusus yang dilakukan adalah indikasi zona mineralisasi berdasarkan data geolistrik. Terdapat 3 tempat dilakukannya pengambilan data geolistrik, diperoleh hasil yaitu, pada lokasi 1 nilai resistivitas terendah adalah 1.95 Ωm, lokasi 2 nilai resistivitas terendah adalah 3.70 Ωm, dan pada lokasi 3 nilai resistivitas terendah adalah 1.98 Ωm. Hasil analisis XRF pada sampel batuan tiap lokasi geolistrik bahwa lokasi 1 dan 3 tidak memiliki kandungan unsur emas (Au) sedangkan pada lokasi 2 terdapat kandungan unsur emas (Au) sebesar 4460 ppb. Unsur emas (Au) digunakan sebagai acuan adanya indikasi mineralisasi. Berdasarkan data hasil XRF, penyebaran zona mineralisasi yang memiliki kandungan unsur Au tidak merata, bisa jadi dikarenakan kontrol struktur, yaitu kekar yang terbentuk pada lokasi 1 dan 3 tidak memungkinkan untuk terendapkannya larutan hidrotermal dibandingkan lokasi 2. Atau bisa jadi pada lokasi pengambilan data geolistrik 1 dan 3 juga terdeteksi adanya kehadiran unsur emas (Au) akan tetapi karena hanya dilakukan satu pengujian sampel pada tiap lokasi geolistrik maka untuk membuktikan hal tersebut perlu adanya pengujian sampel keseluruhan pada tiap anomali yang terdeteksi pada lintasan 1 dan 3.The Research area is located in Jingkang area and its surrounding, Subdistrict Ajibarang, District Banyumas, Central Java Province, Indonesia. Geomorphology of this area is divided into seven units. Which is a unit of Batuanten Homocline Hills, unit of the Plain of Denudasional Jingkang Structure of the eological folds, unit Kalitapen alluvial plain, unit of Kaliputih alluvial plain, unit of Kaliputih intrusion hill, Kalitapen omocline valley, and Kalitapen homocline hills. A pattern flow on the research area is divided into three kind, that is rectangular, subparallel, and subdendritic. Stratigraphy of this area is divided into five units, which is sandstone unit deposited on late Miocene-early Pliocene in middle neritic environment, unit diorite intrusion formed on late Miocene, combination mudstone-sandstone unit deposited on Pliocene in the middle-outer neritic. In the Holocene Time Sandstone fragmented unit form in the land environment and in the recent time alluvial plan unit deposited. Structural geology that identified in the research area is jingkang anticline, jingkang sincline, and left slip fault jingkang. A special study executed is an indication zone mineralization based on data of geoelectrical. There are three places the measurement of geoelectrical, and the result is on the site 1 lowest resistivity value is 1.95 Ωm, the 2nd location lowest resistivity value is 3.70 Ωm, and the 3rd location lowest resistivity value is 1.98 Ωm. And then the XRF analysis result in every rock sample in each geoelectrical location indicate that the location 1 and 3 doesn’t detect any gold element (Au), meanwhile on location 2 detect gold element (Au) with amount of content is 4460 ppb. Based on data from the results of XRF, the spread of the mineralized zone which contains an element of Au is not equal, could be due to the structural control, fractures that are formed at locations 1 and 3 are not allowed hydrotermal solution to deposited than location 2. Or it could be the location of geoelectric 1 and 3 also detected the presence of the element gold (Au), but because it is only done one test sample at each location geoelectric then to prove it need for the overall sample testing at each anomaly detected in track 1 and 3.
616215985H1B010010PEMODELAN PENDAPATAN ANGKUTAN PENUMPANG KERETA API DI STASIUN PURWOKERTO DENGAN MENGGUNAKAN REGRESI SPLINE KUADRATIK MULTIVARIABELUntuk memodelkan pendapatan angkutan penumpang kereta api di Stasiun Purwokerto digunakan regresi spline. Pendekatan model yang digunakan adalah model regresi spline kuadratik multivariabel. Model terbaiknya diperoleh dari titik knot optimal yang dipilih dengan Generalized Cross Validation (GCV) yang minimum. Modelnya adalah



,
dengan nilai GCV 10375,49 dan nilai koefisien determinasi sebesar 99,77%.
To model railway passenger transportation revenue in Purwokerto railway Station, the spline regression is used. Here, the approximate model is quadratic spline regression model. The result showed that the best model is obtained from optimal knots, which is selected by minimum Generalized Cross Validation (GCV). The model is



,
with the values of GCV is 10375,49 and determination coefficient is 99,77%.
616316092P2BA13006POTENSI DAUN TREMBILUNGAN (Begonia hirtella Link) SEBAGAI ANTIBAKTERI DAN ANTIFUNGIDaun B. hirtella biasa digunakan masyarakat di daerah pegunungan untuk mengobati gatal karena digigit serangga dan gatal karena infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui jenis pelarut ekstrak daun B. hirtella terbaik terhadap aktivitas antibakteri S. aureus dan E. coli serta antifungi C. albicans (2) mengetahui konsentrasi ekstrak daun B. hirtella minimal yang menunjukkan terbentuknya zona hambat (3) mengetahui kandungan senyawa bioaktif yang terdapat pada masing-masing ekstrak daun B. hirtella . Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang dicobakan adalah jenis pelarut (n-heksan, etil asetat, etanol dan air) dan variasi konsentrasi ekstrak etil asetat 500 ppm, 450 ppm, 400 ppm, 350 ppm, 300 ppm dan 250 ppm terhadap S. aureus, E. coli dan C. albicans. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan perbedaan nyata antara perlakuan dianalisis dengan uji Duncan pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing pelarut ekstrak berpengaruh terhadap mikroba uji dengan perbedaan yang sangat nyata p<0,05. Pelarut ekstrak yang mempunyai zona hambat terbaik adalah etil asetat terhadap S. aureus dengan diameter rata-rata zona hambat 13,75 ±1,26 mm. Peningkatan konsentrasi ekstrak etil asetat 250 ppm sampai 500 ppm meningkatkan zona hambat terhadap mikroba uji. Konsentrasi minimal yang menunjukkan zona hambat adalah 300 ppm. Terbentuknya zona hambat pada mikroba uji disebabkan adanya kandungan senyawa pada ekstrak yang digunakan. Ekstrak n-heksan mengandung stigmasterol, ekstrak etil asetat mengandung neophytadiene, sedangkan pada ekstrak etanol mengandung ethyl palmitate.The leaves are commonly used Begonia hirtella people in mountainous areas to treat itching due to insect bites and itching due to infection. This study aims to (1) determine the type of solvent extract of leaves of B. hirtella best of the antibacterial activity of S. aureus and E. coli and C. albicans antifungal (2) determine the concentration of leaf extract of B. hirtella minimal which indicates the formation of inhibition zone (3) know the content of bioactive compounds contained in each leaf extract B. hirtella. The method used in this study is experimental with completely randomized design (CRD). The treatments tested was the type of solvent (n-hexane, ethyl acetate, ethanol and water) and a variation of the ethyl acetate extract concentration of 500 ppm, 450 ppm, 400 ppm, 350 ppm, 300 ppm and 250 ppm against S. aureus, E. coli and C. albicans. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and the real differences between the treatments were analyzed by Duncan test at 95% confidence level. The results showed that each solvent extracts affect the microbes with a highly significant difference p <0.05. Solvent extracts that have the best inhibitory zone is ethyl acetate against S. aureus with an average diameter of inhibitory zone 13.75 ± 1.26 mm. Increasing concentrations of ethyl acetate extract of 250 ppm to about 500 ppm increase inhibition zone against microbes. The minimum concentration showing inhibition zone was 300 ppm. The formation inhibition zone on microbes due to their compounds in the extract used. Extracts containing stigmasterol n-hexane, ethyl acetate extract containing neophytadiene, while the ethanol extract containing ethyl palmitate.
616415986H1A012056VALIDASI METODE ANALISIS KADAR GLUKOSA MENGGUNAKAN SCANNERPada penelitian ini akan dikembangkan metode kolorimetri untuk menentukan kadar glukosa menggunakan scanner. Metode yang berbasis kolorimetri dalam menentukan kadar glukosa dilakukan dengan mereaksikan glukosa dengan enzim glukosa oksidase yang menghasilkan H2O2. H2O2 ini dideteksi dengan penambahan indikator TiOSO4 untuk membentuk warna kuning. Perubahan warna tercatat dengan menggunakan scanner dan menganalisis dengan menggunakan perangkat lunak Image J. Validasi metode menunjukkan intensitas tertinggi pada warna merah dengan nilai KV sebesar 2,139%; HORRAT sebesar 0,3991; % Recovery sebesar 98,4%; respon yang linear untuk daerah pada rentang konsentrasi 0,5 mM sampai dengan 3,0 mM dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,9989; batas deteksi (LOD) sebesar 0,146 mM; batas kuantifikasi (LOQ) sebesar 0,488 mM; rentang metode sebesar 0,488-138,600 mM. Selanjutnya, TiOSO4 menunjukkan spesifisitas tinggi untuk mendeteksi H2O2 terhadap asam askorbat. Analisis glukosa pada sampel tidak menunjukkan perbedaan nyata secara signifikan antara scanner dengan spektrofotometer UV-Vis (p > 0,05).This study was aimed to develop a colorimetric glucose detection using commercial document scanner. The analysis was based on the colorimetric method to determine glucose levels the reaction of glucose with enzyme glucose oxidase resulted in H2O2. This H2O2 was then detected by adding TiOSO4 to form yellow color. The color changes were recorded using scanner and analyzing using Image J software. The method validation showed that the highest intensity of red color with value KV of 2.139%; HORRAT of 0.3991; % recovery of 98.4% the linear respons concentration range was 0.5 mM to 3 mM with a corelation coefficient of 0.9989; limit detection of 0.146 mM; limit quantification of 0.488 mM; range method of 0.488 – 138.600 mM. Furthermore, TiOSO4 showed high specificity to H2O2 detection against as corbic acid. The glucose analysis of samples did not show a significantly differ between scanner and spectrophotometer UV-Vis (p>0.05).
616515987E1A011155PENGUNGKAPAN PEMBUKTIAN HIPNOTIS DALAM PERKARA PIDANA
(Studi Kajian Kriminalistik di Polres Banyumas)
Teknik Forensik Hipnotis adalah penggunaan hipnosis sebagai alat bantu dalam melakukan investigasi atau penggalian informasi dari memori. Hipnosis ini biasanya digunakan untuk keperluan penyelidikan di kepolisian. Teknik ini tidak membuat orang yang dihipnotis benar-benar tidak sadar dan tidak berdaya tetapi teknik tersebut membantu orang yang terhipnotis untuk tetap sadar dan membuat lebih fokus dalam berpikir dan mengingat suatu kejadian. Hal ini akan memudahkan tugas penyidik dalam mengungkap tindak kejahatan apa yang terjadi dan siapa pelaku dalam tindak pidana tersebut.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis pembuktian dengan teknik hipnotis yang diterapkan oleh penyidik dalam proses penyidikan pada pengungkapan suatu tindak pidana dan mengetahui kendala pembuktian yang menerapkan teknik hipnotis dalam penyidikan suatu tindak pidana dalam lingkup penyidik kepolisisan. Penelitian ini adalah yuridis sosiologis, metode penelitian secara kualitatif dan menggunakan spesifikasi penelitian deskriptif. Metode pengumpulan data secara interview dan studi pustaka.
Hasil penelitian menunjukan, dalam proses penyidikan, penyidik dapat menggunakan teknik Forensik Hipnotis sebagai teknik bantu untuk menemukan alat bukti di tingkat pemeriksaan setelah dilakukan diawal penyidikan sesuai peraturan yang berlaku karena teknik ini tidak serta merta menjadi acuan. Selain itu dalam proses penyidikan, penyidik bisa melakukan gelar perkara untuk menemukan alat bukti baru dan keterangan lain mengenai perkara. Faktor yang menghambat penyidikan teknik Forensik Hipnotis yaitu faktor hukum, penegak hukum, sarana prasarana, masyarakat dan kebudayaan.
Hypnotic Forensic Technique is the use of hypnosis as a supporting instrument in conducting an investigation or information searching from memory. This hypnosis is usually used for investigation demands in the police. This technique does not totally make the people who are hypnotized feel unconscious or powerless but the technique helps the hypnotized people to remain conscious and make them to focus more on thinking and remembering an incident. It can make the investigator easier in revealing crimes, what happens and who the criminals are.
This research is aimed at finding out and analyzing the authentication by using hypnotic technique which is used by the investigator in the process of investigation in disclosing a criminal case and discovering the authentication constraints which use the hypnotic technique in the investigation of a criminal case in the cover of police investigation. This research is judicial sociological, using qualitative research method and descriptive research specification. The methods of data collection are interview and literary study.
The result of the research shows, in the investigation process, the investigator can use the Hypnotic Forensic Technique as a supporting technique to find the evidence instrument in an investigation after it is done at the beginning of the investigation according to the valid regulations because this technique does not merely become a reference. Besides, in the process of the investigation, the investigator can conduct a case to find the new evidence instrument and the other information about the lawsuit. The factors that obstruct the investigation of Hypnotic Forensic Technique are the law, marshals, infrastructures, society and culture.
616615988H1H012021IDENTIFIKASI GEN MUCIN 2 PADA BENIH GURAMI
(Osphronemus gouramy)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan dan jaringan epitelium yang mengekspresikan gen Mucin 2 pada benih gurami (Osphronemus gouramy). Penelitian tentang gen Mucin 2 pada benih gurami (Osphronemus gouramy) merupakan kajian yang pertama kali dilakukan. Mucin 2 adalah salah satu glikoprotein yang menyusun mukus dan berperan penting dalam sistem imun non-spesifik pada ikan. Sampel RNA diekstrak dari kulit, insang, dan saluran pencernaan. Sampel RNA digunakan dalam sintesis cDNA agar dapat teramplifikasi pada mesin PCR. Amplifikasi gen Mucin 2 dari benih gurami telah berhasil dilakukan dan produknya telah berhasil disekuensing. Sekuen nukleotida ditranslasi menjadi urutan asam amino dan sejajar dengan urutan asam amino gen Mucin 2 Danio rerio mulai dari asam amino urutan 78-168.Aims of this research were to identify Mucin 2 gene and to describe epithelium tissue that expressed the gene in giant gouramy (Osphronemus gouramy). This work is the first study about Mucin 2 gene in giant gouramy (Osphronemus gouramy). Mucin 2 gene is one of glycoprotein avalaible at mucus and has important role in non-specific immune system of fish. Sample of RNA was extracted from skin, gill, and intestine samples. Sample of RNA was used in cDNA synthesis for gene amplification in PCR machine. Amplification of Mucin 2 gene in giant gouramy was succesfully conducted and the product was succesfully sequenced. Nucleotide sequence was in silico translated into amino acid sequence which is aligned with 78-168th amino acid sequence Mucin 2 of Danio rerio.
616715991H1H012024ISOLASI BAKTERI PATHOGEN DARI LELE DUMBO (Clarias gariepinus) DI KABUPATEN BANYUMAS DAN DETEKSI Aeromonas hydrophila MENGGUNAKAN TEKNIK
POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR)
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan bakteri pathogen menggunakan teknik isolasi dan deteksi Aeromonas hydrophila yang menginfeksi lele dumbo (Clarias gariepinus) di Kabupaten Banyumas dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan primer Aerofd dan AeroRs. Sampel lele dumbo (Clarias gariepinus) sakit diambil dari tiga daerah berbeda di Banyumas yaitu Pamijen, Rempoah dan Langgongsari. Bakteri diisolasi dan diekstraksi DNAnya untuk digunakan dalam PCR. Hasil penelitian menunjukkan gejala klinis lele dumbo (Clarias gariepinus) yang terserang bakteri pathogen adalah bercak merah pada sirip (punggung, ekor dan dada), sirip gripis, kulit terkelupas dan perut kembung. Delapan isolat bakteri pathogen berhasil didapatkan. Teknik PCR berhasil digunakan untuk mendeteksi Aeromonas hydrophila yang ditunjukkan fragmen DNA dengan ukuran 209 pasang basa pada gel agarose dan konfirmasi sekuen DNA menggunakan analisis BLAST. Hasil analisis BLAST menunjukkan isolat Aeromonas hydrophila dari Kabupaten Banyumas memiliki gen Aerolysin yang sekuennya mirip dengan sekuen gen Aerolysin Aeromonas hydrophila lain di Gen Bank. Empat dari delapan isolat terdeteksi sebagai Aeromonas hydrophila berdasarkan hasil PCR. The aims of this research were to determine occurrence of bacterial pathogen using isolation technique and to detect Aeromonas hydrophila which infected African catfish (Clarias gariepinus) in Banyumas Regency by using Polymerase Chain Reaction (PCR). Fish showed bacterial infection signs were collected from three different areas in Banyumas namely Pamijen, Rempoah and Langgongsari. Bacterial pathogen was isolated and its DNA sample was extracted to be used in PCR technique. Clinical symptoms of bacterial disease included red spots on fins (dorsal, caudal and pectoral), damaged fin, flaky skin and abdominal dropsy. Eight isolates of bacteria were collected. PCR techniques was successfully used to detect Aeromonas hydrophila which is indicated by specific DNA fragment of 209 base pairs on agarose gel and DNA sequence confirmation by using BLAST analysis. BLAST analysis results showed Aerolysin gene of Aeromonas hydrophila which was isolated from Banyumas is highly similiar to Aerolysin gene of Aeromonas hydrophila available in Gen Bank. Four of eight isolates were detected as Aeromonas hydrophila based on the PCR result.
616815995F1C011014HUBUNGAN PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DENGAN INTERAKSI SOSIAL REMAJA DI KELURAHAN GRENDENG PURWOKERTO UTARAAbstrak
Perkembangan teknologi internet dan perubahan budaya menjadikan media sosial menjadi suatu kebutuhan masyarakat, terutama masyarakat modern. Populernya situs jejaring sosial sebagai media informasi saat ini mengindikasikan bahwa media sosial memiliki potensi yang besar untuk menjaring pertemanan. Perkembangan media sosial menjadi salah satu faktor pemicu besarnya pengguna internet di Indonesia. Dari jumlah pengguna internet, 80 persen di antaranya adalah remaja berusia 15 sampai 19 tahun. Untuk pengguna jejaring sosial Facebook, Indonesia berada di peringkat ke-4 besar dunia. Oleh sebab itu, penelitian ini berfokus pada hubungan penggunaan media sosial, yaitu Facebook, Twitter, Instagram, dan Path dengan interaksi sosial remaja.
Hasil penelitian tentang hubungan penggunaan media sosial dengan interaksi sosial remaja di Kelurahan Grendeng, Purwokerto Utara membuktikan bahwa, komunikasi yang tidak dilakukan dengan tatap muka, tidak memperburuk kegiatan berkomunikasi, bahkan dapat menjadi sarana untuk membangun hubungan yang lebih baik. Hal ini membuktikan bahwa Teori CMC yang mengatakan, CMC memuaskan orang dalam berkomunikasi pun terbukti.
Mode komunikasi yang dijalani telah diperantarai oleh Internet dan telah bergerak secara cepat menuju apa yang disebut dengan computer-mediated communication (CMC) atau komunikasi yang dimediasi oleh komputer. Dalam konteks ini, computer-mediated communication (CMC) dipandang sebagai integrasi teknologi komputer dengan kehidupan manusia sehari-hari. Jadi, komunikasi antar individu atau kelompok dapat dilakukan secara intensif dengan menggunakan media sosial, dalam hal ini Facebook, Twitter, Instagram, dan Path.
Kata kunci : Penggunaan Media Sosial, Interaksi Sosial, Remaja, Purwokerto Utara
ABSTRACT
Development of Internet technology and cultural make social media become a necessity of society, especially the modern society. The popularity of social networking sites as a medium of information at this time indicates that social media has a great potential to attract friendship. The development of social media becomes one of the factors the amount of Internet users in Indonesia. From the number of Internet users, 80 percent of whom are teenagers aged 15 to 19 years. For Facebook’s user, Indonesia is ranked 4th of the world. Therefore, this study focuses on the relation of use of social media, namely Facebook, Twitter, Instagram and Path with adolescent social interaction.

Methods of data analysis used in this research is a quantitative analysis , the method of analysis used to analyze the results of a study with numbers and statistical techniques. This research uses correlation coefficient analysis Pearson Product Moment. The correlation results are a strong positive relationship exists between the use of social media with social interaction of teenagers in the Grendeng Village, North Purwokerto with a correlation value of 0,729 . Hypothesis test results , known t arithmetic amounted to 8.408 greater than t table 1,661 known. With it, H0 rejected and Ha accepted, then there is a strong positive relationship between the use of social media with social interaction of teenagers in the Grendeng Village, North Purwokerto.

Results of research on the relation of use of social media with social interaction of teenagers in the Grendeng Village, North Purwokerto prove that, communication is not carried out face to face, not aggravate the communication, it can even be a means to build a better relation. Based of CMC theory, CMC satisfy the communication was proved.

Communication modes have lived mediated by the Internet and has moved rapidly towards the so-called computer-mediated communication (CMC) or communication mediated by computers. In this context, computer-mediated communication (CMC) is seen as the integration of computer technology in everyday human life. Communication between individuals or groups can be conducted intensively by using social media, in this case Facebook, Twitter, Instagram, and Path.
Keywords: Use of Social Media, Social Interactions, Teenager, North Purwokerto
616915992E1A011034ETIOLOGI KRIMINAL PADA WANITA PELAKU TINDAK PIDANA DAN PEMBINAAN NARAPIDANA WANITA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA KLAS II A SEMARANGPenelitian ini berjudul Etiologi Kriminal Pada Wanita Pelaku Tindak Pidana dan Pembinaan Terhadap Narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II A Semarang. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan: 1) Untuk mengetahui penyebab terjadinya tindak pidana yang dilakukan oleh wanita; 2) Untuk mengetahui bentuk pemidanaan terhadap pelaku tindak pidana wanita yang diberlakukan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II A Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yuridis sosiologis karena meneliti bekerjanya hukum dalam masyarakat, yaitu meneliti mengenai penyebab seseorang melakukan tindak pidana dan bagaimana bentuk pembinaan narapidana.
Beragam modus, cara, dan bentuk tindakan kriminal yang dilakukan oleh wanita sekarang ini membuktikan bahwa kaum wanita juga sangat dekat dengan dunia kriminalitas. Yang pada awalnya wanita sering menjadi korban kejahatan sekarang mengalami pergeseran dimana wanita juga dapat menjadi pelaku kejahatan. Wanita yang melakukan tindak kejahatan dan sudah diadili atas kejahatan yang dilakukannya akan melewati masa hukumannya di Lembaga Pemasyarakatan khusus wanita
Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Faktor penyebab terjadinya tindak pidana yang dilakukan oleh wanita adalah karena faktor lingkungan dan adanya dorongan dari dalam dirinya untuk melakukan kejahatan. Sedangkan bentuk pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II A Semarang adalah berupa pembinaan kemandirian dan pembinaan kepribadian.
This research is entitled Criminal Etiology of Female Criminals and Rehabilitation of Female Convicts in Female Correctional Class II Semarang. This research is conducted with several purposes: 1) to find out the cause of crime commited by women; and 2) to understand the legal process against female criminals which is conducted in Female Correctional Facility Class II Semarang. The method used in this research is sociological judicial approach since it deals with researching legal process within society, in particular it studies the cause of crime commited by criminals as well as its form of rehabilitation.
Various modes, method, and form of crime commited by women prove that women are also highly associated with criminality. There is a kind of shift from the idea that women used to become victims of crime to women becoming the commiter of crime. Female criminals who have commited crime and been put into trial will undergo their punishment in Female Correctional Facility.
The result of the research concludes several points. The main factor of female criminals commiting crime is environment and there is urge inside them to commit crime. The form of rehabilitation process conducted in Female Correctional Facility Class II Semarang includes independence and personality rehabilitation.
617015990E1A012082“PERLINDUNGAN HUKUM KORBAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG (Studi tentang Perlindungan terhadap Korban Perdagangan Orang di Kabupaten Banyumas)”Negara Indonesia yang merupakan negara hukum maka hak asasi manusia haruslah dijunjung tinggi. Akan tetapi, perdagangan orang di Indonesia semakin sering terjadi dan korbannya tidak hanya perempuan dan anak-anak, namun juga laki-laki. Korban perdagangan orang mengalami penderitaan yang berat sehingga memerlukan perlindungan yang lebih baik untuk pemulihan kondisinya karena itu permasalahan yang ada ialah mengenai bagaimana bentuk perlindungan hukum bagi korban tindak pidana perdagangan orang yang ada di Banyumas berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada serta faktor penghambat dan pendorong dalam pelaksanaan perlindungan hukum bagi korban.
Perlindungan terhadap korban perdagangan orang dilakukan dalam berbagai bentuk yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 serta Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 mengatur mengenai bentuk perlindungan bagi korban perdagangan orang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode pendekatan yuridis sosiologis dengan spesifikasi penelitian deskriptif. Sumber data yang dipergunakan berasal dari data primer yang didapatkan dari wawancara informan serta data sekunder yang bersumber dari studi kepustakaan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui mengenai bentuk-bentuk perlindungan hukum korban perdagangan orang serta faktor penghambat dan pendorong dalam pelaksanaan perlindungan bagi korban perdagangan orang.
Korban yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak merupakan bagian terburuk dari tindak pidana perdagangan orang. Oleh karena itu pelaksanaan perlindungan terhadap korban merupakan poin utama yang perlu diperhatikan oleh aparat penegak hukum, pemerintah dan masyarakat. Kerjasama yang baik dari berbagai pihak dalam pelaksanaan perlindungan terhadap korban membuat pemenuhan hak-hak korban dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.
Indonesia as a state which is based on law must upheld human rights. But trafficking in person that happened in Indonesia become more frequent and the victims are not only women and children but also men. Victims of human trafficking suffer from severe misery and need better protection for the recovery of their conditions and the issue is about how the implementation of legal protection for human trafficking’s victims in Banyumas based on the regulations and the factors that impede and push the implementation of legal protection for victim.
The protection of victim of human trafficking regulated in many forms of regulations. Act Number 31 year 2014 and Law Number 21 year 2007 regulate the form of protection for the human trafficking victims. The method used in this research is a sosiological juridical approach and the specification of the research is descriptive research. Sources of data used for this research are primary data which is obtained from interviewing the informen and secondary data which is obtained from studying literatures. The purposes of this research are finding out the forms of legal protection for human trafficking crime’s victims and the impeditive factors and the propulsive factor in implementation of protection for victims of human trafficking crime.
The victims are mostly women and children which is the worst part of the crime of trafficking in persons. They play main role in all aspects of life and for the country itself, so that the implementation of proper protection for victims is the main point that need to be considered by law enforcement officials, government and society. Good cooperation between various parties in the implementation of the protection for the human trafficking’s victims make fulfillments of the victim’s rights can be done quickly and precisely.
617115833F1D010056POLITIK TATA RUANG KABUPATEN BANYUMAS: STUDI KASUS PEMBANGUNAN PERUMAHAN SAPPHIRE VILLAGE DI DESA REMPOAH KECAMATAN BATURRADENPenelitian ini berjudul “Politik Tata Ruang Kabupaten Banyumas: Studi Kasus Pembangunan Perumahan Sapphire Village di Desa Rempoah Kecamatan Baturraden”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan mengenai peran pemerintah daerah dan pengembang dalam pembangunan perumahan di Kabupaten Banyumas sesuai dengan Perda Nomor 10 Tahun 2011 tentang RTRW. Selain itu, untuk memahami dan mendeskripsikan mengenai faktor pendukung dan penghambat proses relasi antara pemerintah daerah dan pengembang dalam pembangunan perumahan di Kabupaten Banyumas sesuai dengan Perda Nomor 10 Tahun 2011 tentang RTRW. Metode dari penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif, dimana data yang terkumpul akan disajikan dalam bentuk kata-kata atau berupa paparan.
Hasil dari penelitian ini menunjukan kompleksitas relasi yang terbentuk antara pemilik modal pada pemerintah daerah atau desa serta masyarakat. Demikian peran Perda No. 10 tahun 2011 yang meliputi fungsi sebagai filterisasi terwujudnya suatu ide terhadap suatu wilayah khususnya di Kabupaten Banyumas, Kecamatan Baturraden, Desa Rempoah atas terbangunnya sebuah Perumahan Sapphire Village. Peran pemerintah daerah pada pengembang dalam implementasi RTRW menyikapi permasalahan alih fungsi lahan pertanian yang digunakan untuk pembangunan perumahan PT. Sapphire Sukses yang berada di Desa Rempoah Kecamatan Baturraden tidak sesuai dengan dengan Perda Nomor 10 Tahun 2011 tentang RTRW bahwa lahan yang dimiliki oleh PT tersebut adalah lahan pertanian yang di rubah alih fungsi menjadi perumahan. Adapun faktor pendukung dan penghambat proses pola penggunaan lahan yang dibangun dengan pola komunikasi antara pemerintah daerah dan pengembang dalam pembangunan perumahan Sapphire Village di Desa Rempoah dalam melindungi lahan pertanian dengan implementasi Perda Nomor 10 Tahun 2011 tentang RTRW yang bersifat rasionalitas komunikatif.
This study entitled "Spatial Politics Banyumas: A Case Study of Housing Development Rempoah Sapphire Village in the Village District of Baturraden". The purpose of this study was to describe the role of local governments and developers in housing construction in Banyumas in accordance with Regulation No. 10 Year 2011 on Spatial. In addition, in order to understand and describe the factors supporting and inhibiting the process of relationship between local government and developers in housing construction in Banyumas in accordance with Regulation No. 10 Year 2011 on Spatial. Methods of research used a qualitative descriptive study, which collected data will be presented in the form of words or form of exposure.
The results of this study is to show the complexity relations formed between the owners of capital in local government or village and community. Thus the role of Perda No. 10 of 2011 which includes the filtering function as the realization of an idea to a particular region in Banyumas, District Baturraden, Rempoah Village on the establishment of a Housing Sapphire Village. The role of local governments in the implementation of Spatial developers in addressing the problems over agricultural land is used for residential development PT. Sapphire Success in the village of Rempoah, District Baturraden not in accordance with the Regulation No. 10 Year 2011 on RTRW that land owned by PT is farmland fox conversion to housing. The factors supporting and inhibiting the process of land use patterns that are built with the pattern of communication between local authorities and developers in housing construction in the village Sapphire Rempoah Village in protecting agricultural land with the implementation of Regulation No. 10 Year 2011 on Spatial nature of communicative rationality.
617215989E1A110050PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA PERKOSAAN TERHADAP SAKSI KORBAN ANAK. (Tinjauan Yuridis Putusan No.32/Pid.Sus/2015/PT.Bdg)Alat bukti keterangan saksi merupakan alat bukti yang utama dalam perkara pidana. Khusus terhadap seorang anak yang melihat, mendengar ataupun mengalami sendiri suatu tindak pidana dengan menyebutkan alasan dari pengetahuannya tentang tindak pidana yang sedang diperiksa, oleh undang-undang sebenarnya tidak dilarang untuk menjadi saksi pada pemeriksaan sidang pengadilan, mereka boleh memberikan keterangan tanpa diangkat sumpah. Hal ini diatur di dalam Pasal 171 butir a KUHAP, berdasarkan hal itu maka dibuat perumusan masalah : Bagaimana kekuatan pembuktian saksi korban anak, Bagaimana perlindungan hukum saksi korban anak. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif, dengan sumber data sekunder, serta pengumpulan data melalui studi kepustakaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kekuatan pembuktian saksi anak, mengingat saksi anak sendiri merupakan saksi yang tidak disumpah, maka tidak dapat dianggap sebagai alat bukti. Oleh karena itu saksi anak diharapkan, meskipun bukan sebagai alat bukti dapat dijadikan sebagai keterangan yang dapat menambah atau menguatkan keyakinan hakim, sedangkan perlindungan anak diperlukan agar saksi anak tidak merasa terancam pada saat memberikan kesaksian di Pengadilan. Dalam Pasal 15 f UU No.35 tahun 2014 tentang perubahan UU No.23 tahun 2002 mengatur tentang perlindungan anak secara langsung dan tidak langsung. Kesimpulan: anak yang usianya 15 tahun kebawah dalam memberikan kesaksian tidak diangkat sumpah, sehingga dalam hal ini kesaksian anak tersebut tidak memenuhi syarat formil sehingga tidak mempunyai kekuatan pembuktian, perlindungan saksi korban anak diperlukan untuk melindungi kepentingan dan hak-hak anak terutama ketika di hadapkan di pengadilan.Evidence witness inform evidence is a main in criminal cases.Specifically on a child who sees, hear and own experience a crime citing reason of their knowledge of crimes being examined, by statutes actually are allowed to testify of a court, they could provide information without raised oath. As stated in article 171 grains a kuhap, based on it and made the formulation: matter how the power of the children witness, how legal protection witness the children. The methodology used is juridical normative, with secondary data, and data collection through study literature. The purpose of this research is to find a force of children , considering witness the itself is any witness who does not was sworn in, but cannot be considered as evidence. Hence witness the expected , though not for evidence can be used as proof that can add or corroborate confidence judge , while child protection is required in order witness children do not feel threatened as he expressed his testimony in a court. In article 15 f law no.35 in 2014 revision of the law no.23 year 2002 govern child protection directly or indirectly. Conclusion: child who she is 15 years-old down in giving testimony not raised oath, so that in this testimony of children is not qualified formil so did not have power substantiation , witness protection child victims necessary to protect interests and rights of children especially when in take him in court .
617315994H1E012012DESAIN KOLIMATOR GENERATOR NEUTRON DAN DISTRIBUSI FLUKS NEUTRON HASIL KOLIMASI DI DALAM KEPALA MENGGUNAKAN SOFTWARE MCNPXPenelitian ini memiliki dua tujuan utama untuk BNCT yaitu mendapatkan desain kolimator yang dapat digunakan untuk terapi dan menghitung distribusi fluks neutron hasil kolimasi di kepala menggunakan model kepala Snyder. Simulasi dilakukan dengan MCNPX. Parameter yang divariasi adalah jenis material dan ketebalan setiap bagian kolimator untuk mendapatkan berkas neutron yang memenuhi lima standar IAEA. Pada awalnya kolimator didesain dari sumber CNG D-D, tetapi dua kriteria IAEA tidak terpenuhi. Kolimator didesain ulang menggunakan sumber siklotron 30 MeV. Diperoleh tiga desain kolimator dengan dua desain yang memenuhi semua kriteria IAEA. Distribusi fluks neutron dihitung dari arah superior. Besar fluks neutron termal rata-rata yang diterima otak dari desain kolimator CNG, siklotron I dan II berturut turut adalah 9,51×108 n/cm2s, 1,45×1010 n/cm2s dan 8,97×109 n/cm2s. Penumpukan neutron termal dari kolimator siklotron desain I terjadi pada kedalaman 5 sampai 8 cm, sedangkan kolimator siklotron desain II memberikan penumpukan fluks neutron termal pada kedalaman 4 sampai 8 cm. Fluks neutron terdistribusi paling banyak pada pusat sumbu. Berdasarkan distribusi neutron hasil kolimasi kedua desain dapat digunakan untuk terapi kanker otak dengan BNCT. Perlu dilakukan perhitungan dosimetri dan pembuatan prototype untuk uji pengaplikasian desain ini.This research in BNCT have two aims obtaining the design collimators that can be used for therapy and to calculating the collimated flux neutron distribution in the Snyder head phantom. Simulations were carried out by MCNPX software. Independent variables varied were material and thickness of each collimator’s component to meet five IAEA’s standard of neutron beam. First, collimator is designed by CNG D-D as neutron generator, but neutron beam can’t get all IAEA’s criteria. Collimator is redesigned by cyclotron 30 MeV as neutron generator. The result is three design collimator with two of them meet all IAEA’s criteria. Flux neutron distribution is calculated in superior direction. Average of thermal neutron flux in brain from CNG collimator design, cyclotron I and II are 9,51×108 n/cm2s, 1,45×1010 n/cm2s and 8,97×109 n/cm2s. Thermal neutron build up in the head by collimator cyclotron design I is 5 to 8 cm depth, the design II give build up thermal neutron 4 to 8 cm. Flux neutron have maximum distribution in central axis. Two design collimator can used for brain cancer treatment with BNCT. Dosimetry calculations and manufacture of prototypes are needed to test the application of this design.
617415996H1A012015Sintesis Membran Nanofiltrasi Selulosa Asetat Berbasis Nira Kelapa dengan Aditif Polietilen Glikol (PEG) dan Aplikasinya untuk DesalinasiSintesis membran nanofiltrasi selulosa asetat berbasis nira kelapa dengan aditif PEG menggunakan metode inversi fasa telah berhasil dilakukan. Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu sintesis selulosa mikrobial, sintesis selulosa asetat, sintesis membran selulosa asetat dengan aditif PEG, dan karakterisasi membran yang meliputi uji fluks dan rejeksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa membran nanofiltrasi selulosa asetat dengan aditif PEG memiliki nilai fluks air sebesar 27,52 L/m2.jam dan rejeksi dekstran T-500 sebesar 63,30 %. Membran ini digunakan untuk menurunkan kadar garam dalam sampel air laut dengan cara filtrasi. Parameter yang diukur adalah konsentrasi ion klorida (Cl-). Penurunan konsentrasi Cl- dalam sampel air laut yang diperoleh sebesar 25,00 %.The cellulose acetate nanofiltration membrane based on sap coconut with PEG additive was successfully synthesized by phase inversion method. This research was conducted through some stage which were microbial cellulose synthesis, cellulose acetate synthesis, synthesis of cellulose acetate membrane with PEG additive and characterization of membrane includes flux and rejection test. The result showed that cellulose acetate nanofiltration membrane with PEG additive has a water flux value and rejection of dextran T-500 were 27.52 L/m2.hour and 63.30 %, respectively. The resulted nanofiltration membrane were used to decrease the salt content in seawater by filtration method. The measured parameter was the concentration of chloride ion (Cl-). According to the result that the chloride ion concentration could be decreased up to 25.00 %.
617515997F1F010048AN ANALYSIS OF CONCEPTUAL METAPHOR IN BODY COPY OF ADVERTISEMENTS IN INSTYLE MAGAZINE (SEPTEMBER 2013 EDITION)ABSTRAK
Dea Proborini, Rahajeng. 2016. An Analysis of Conceptual Metaphor in Body Copy of Advertisements in InStyle Magazine (September 2013 Edition). Skripsi. Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman. Pembimbing I: Drs. Ashari, M.Pd. Pembimbing II: Ika Maratus Sholihah, S.S.,M.A. External Examiner: Erna Wardani, S.Pd, M.Hum.
Kata kunci: metafora konsepsional, bidang asal, fungsi bahasa, majalah InStyle.
Peneliti melaksanakan penelitian yang berjudul An Analysis of Conceptual Metaphor in Body Copy of Advertisements in InStyle Magazine (September 2013 Edition). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman serta pengertian mengenai penggunakan konsep – konsep metafora sebagai salah satu strategi persuasif dalam iklan cetak.
Penelitian ini befokus pada analisis penggunaan konsep – konsep metaphor dalam iklan di media cetak. Metafora konsepsional adalah sebuah pemahaman pada satu bidang konsep yang ada dalam istilah bidang konsep yang lain. Dengan kata lain, ini adalah sebuah pengorganisasian ekspresi yang mengandung metafora yang terkonsep dalam dua bidang: bidang asal dan bidang sasaran. Bidang asal adalah istilah yang digunakan untuk mewakili sebuah ekspresi metafora sedangkan bidang sasaran adalah makna sebenarnya yang terkandung dalam ekspresi tersebut. Terdapat 13 bidang asal yang sering digunakan oleh orang – orang pada umumnya dalam bahasa sehari – hari. Selain itu, penelitian ini juga berfokus pada 5 fungsi bahasa untuk mengelompokkan ekspresi atau ungkapan sesuai dengan penggunaanya.
Data penelitian ini adalah iklan pada majalah InStyle yang diterbitkan bulan September tahun 2013. Adapun data yang dipilih dalam penelitian ini adalah semua iklan yang memiliki body copy atau salinan teks yang mengandung ekspresi metafora untuk dikonseptualisasikan ke dalam bidang asal serta dikategorikan ke dalam fungsi bahasanya berdasarkan teori yang digunakan oleh peneliti.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Peneliti menggunakan teknik purposive sampling untuk mengambil data dengan proses yang berdasarkan pada apa yang dibutuhkan dalam penelitian.
Setelah melaksanakan penelitian, terdapat beberapa iklan yang mengandung lebih dari satu istilah bidang asal. Ada 32 iklan yang memiliki 52 ekspresi metafora yang dikategorikan ke dalam 13 bidang asal. Bidang asal yang muncul terbanyak adalah bidang Light and Darkness (7 ekspresi), Cooking and Food (6 ekspresi), Forces, Building and Construction (5 ekspresi), Plants (4 ekspresi), Movement and Direction (4 ekspresi), Health and Illness (3 ekspresi), Money and Economic Transaction, Heat and Cold (2 ekspresi), and Human Body, , Animals, Machine and Tools (1 ekspresi). Selain itu, terdapat 52 fungsi bahasa dengan Informational Function (33 ekspresi, Aesthetic Function (12 ekspresi), Directive Function (6 ekspresi), and Expressive Function (1 ekspresi).
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada pembaca, khususnya mahasiswa yang tertarik dengan studi metafora serta perusahaan periklanan untuk dapat membuat iklan menggunakan metafora konsepsional sebagai strategi persuasif.
ABSTRACT
Dea Proborini, Rahajeng. 2016. An Analysis of Conceptual Metaphor in Body Copy of Advertisements in InStyle Magazine (September 2013 Edition). Thesis. English Language and Literature Study Program, Faculty of Humanities, Jenderal Soedirman University. Supervisor I: Drs. Ashari, M.Pd. Supervisor II: Ika Maratus Sholikhah, S.S.,M.A. External Examiner: Erna Wardani, S.Pd, M.Hum.
Keywords: conceptual metaphor, source domain, language function, InStyle Magazine.
The researcher conducted the analysis entitled An Analysis of Conceptual Metaphor in Body Copy of Advertisements in InStyle Magazine (September 2013 Edition). The aim of this research is to get an understanding and explanation about the use of metaphorical concepts as one of persuasive strategies used in print advertisements.
This research focused on the analysis of the use of metaphorical concepts in print advertisement. Conceptual metaphor is an understanding one conceptual domain in the terms of another conceptual domain. It is an organization of metaphorical expressions conceptualized in two domains; source domain and target domain. Source domain is a conceptual domain represented to understand another conceptual domain and target domain in which the conceptual domain is understood that way. There are 13 source domains that people often use in daily language. In addition, this research is also concerned with 5 language functions to categorize any expressions/utterances based on their uses.
The data of this research is the advertisements of InStyle Magazine published in September 2013. Meanwhile, the samples are all the advertisement that has body copy containing metaphorical expressions to be conceptualized in the source domains and categorized into language functions based on the theory used by the researcher.
The method used in this research is qualitative method. The research used purposive sampling to take the sample in which the process of selecting sample based on the need of the research.
After conducting the research, the researcher found that there were several advertisements that contained more than one source domain. There were 32 advertisements that had 52 metaphorical expressions categorized into 13 source domains. The most frequent source domain is Games and Sport (11 expressions). Then, it is followed by Light and Darkness (7 expressions), Cooking and Food (6 expressions), Forces, Building and Construction (5 expressions), Plants (4 expressions), Movement and Direction (4 expressions), Health and Illness (3 expressions), Money and Economic Transaction, Heat and Cold (2 expressions), and Human Body, , Animals, Machine and Tools (1 expression). In addition, there were 52 expressions of language functions with Informational Function (33 expressions, Aesthetic Function (12expressions), Directive Function (6 expressions), and Expressive Function (1 expression).
This research is expected to have a contribution to the readers, especially the students who are interested in metaphor and the advertisement agency in order to create advertisements using conceptual metaphor as the persuasive strategy.
617615998E1A012195TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG
(Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Cilacap Perkara Nomor: 115/Pid. Sus/2011/ PN. Clp)
ABSTRAK

Secara umum pencucian uang merupakan metode untuk menyembunyikan, memindahkan, dan menggunakan hasil dari suatu tindak pidana, kegiatan organiasi kejahatan, kejahatan ekonomi, korupsi, perdagangan narkotik, dan kegiatan lainnya yang merupakan aktivitas kejahatan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertimbangan hukum Hakim Pengadilan Negeri Cilacap dalam menerapkan unsur-unsur tindak pidana pencucian uang dan Untuk mengetahui dasar pertimbangan hukum Hakim Pengadilan Negeri Cilacap dalam menjatuhkan pidana mengenai tindak pidana pencucian uang dalam putusan Nomor : 115/Pid.Sus/2011/PN.Clp.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan atas pokok permasalahan yang diajukan, maka dapat disampaikan bahwa Pertimbangan hukum Hakim Pengadilan Negeri Cilacap dalam menerapkan unsur-unsur tindak pidana pencucian uang dalam putusan Nomor : 115/Pid.Sus/2011/PN.Clp, adalah Pertimbangan terhadap unsur-unsur dakwaan Alternatif Keempat yaitu melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf b jo Pasal 10 Undang-undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Majelis Hakim berpendapat benar bahwa terdakwa adalah pelaku dari perbuatan pidana dalam perkara ini, merupakan subjek hukum yang melakukan suatu rangkaian perbuatan pidana yang memenuhi semua unsur dari pasal yang didakwakan. Dengan telah terpenuhinya unsur dari dakwaan alternatif keempat, maka dapat dikemukakan bahwa Terdakwa adalah orang yang harus dimintai pertanggungjawaban dalam perkara ini. Oleh karena itu terhadap diri Terdakwa harus dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-undang No. 8 Tahun 2010.
Dasar pertimbangan hukum Hakim Pengadilan Negeri Cilacap dalam menjatuhkan pidana mengenai tindak pidana pencucian uang dalam putusan Nomor : 115/Pid.Sus/2011/PN.Clp. Memperhatikan dakwaan Penuntut Umum dihubungkan dengan fakta yang diperoleh di persidangan, dari pertimbangan unsur-unsur pasal dalam dakwaan Alternatif keempat diketahui bahwa perbuatan terdakwa telah memenuhi semua unsur. Karena dakwaan Penuntut Umum tersebut telah terbukti secara sah dan meyakinkan, maka terdakwa dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana sesuai dakwaan tersebut. Selanjutnya unsur-unsur yang telah terbukti tersebut dijadikan sebagai dasar pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Cilacap untuk menjatuhkan pidana terhadap terdakwa. Pemeriksaan keterangan para saksi, pemeriksaan alat bukti dan keterangan terdakwa yang diajukan di persidangan saling bersesuaian, maka pertimbangan hukum hakim telah sesuai dengan ketentuan sebagaimana dirumuskan Pasal 184 ayat (1) KUHAP. Pertimbangan Majelis Hakim tidak terlepas dari fakta dan keadaan yang memberatkan atau meringankan.
ABSTRACT

In general money Laundering represent method to hide, to removing, and using result of from an doing an injustice, activity of badness organiasi, economic badness, corruption, narcotic commerce, and other activity which represent badness activity.
Target of this research is to know consideration punish Judge of district court Cilacap in applying doing an injustice elements money Laundering and To know consideration base punish Judge of district court Cilacap in dropping crime concerning doing an injustice money Laundering in Number decision : 115/Pid.Sus/2011/PN.Clp
Pursuant to result of solution and research to the raised problems fundamental, hence can be informed that Consideration punish Judge of district court Cilacap in applying doing an injustice elements money laundering in Number decision : 115/Pid.Sus/2011/PN.Clp, is Consideration to Fourth Alternative assertion elements that is impinging Section 5 sentence (1) letter (b) jo Section 10 Law No. 8 Year 2010 about Prevention and Eradication Doing An Injustice Money Laundering. Council Judge have a notion correctness that defendant is perpetrator from in this case crime, representing law subjek conducting an crime network fulfilling all element from asserted section. As fufilled of element from fourth alternative assertion, hence can be told that Defendant is one who have to ask by in this case responsibility. Therefore to Defendant x'self have to be expressed by have proven validly and assure to make a mistake to conduct doing an injustice as arranged in Section 5 sentence (1) Law No. 8 Year 2010.
Consideration base punish Judge of district court Cilacap in dropping crime concerning doing an injustice Money Laundering in Number decision : 115/Pid.Sus/2011/PN.Clp. Paying attention Publik Prosecutor assertion attributed to obtained by fact in conference, from section elements consideration in fourth Alternative assertion known that deed of defendant have fulfilled all element. Because the Public Prosecutor assertion have proven validly and assuring., hence defendant expressed to make a mistake to conduct doing an injustice according to the assertion. Hereinafter elements which have proven the made as Ceremony Judge of district court Cilacap consideration base to drop crime to defendant. Inspection of Boldness witnesses, inspection of evidence appliance and raised by defendant boldness in conference each other is correspond, hence consideration punish judge have pursuant to as formulated by Section 184 sentence (1) KUHAP. Consideration Council Judge is not quit of aggravating circumstance and fact or lighten.
617715999F1F010003ABEL’S RESISTANCE OF AMERICAN MODERN CULTURE ASSIMILATION AS DEPICTED IN HOUSE MADE OF DAWN NOVEL BY N. SCOTT MOMADAYABSTRAK

Widyaningrum, Qomariah. 2016. Abel’s Resistance of American Modern Culture Assimilation as Depicted in House Made of Dawn Novel by N. Scott Momaday. Skripsi, Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Pembimbing: Mrs. Eni Nur Aeni, S.S., M.A., and Mr. Rosyid Dodiyanto, S.S., M.Hum. Penguji: Mrs. Dian Adiarti, S.Pd. M.Hum.
Kata Kunci: teori sosiologi, perlawanan, kebudayaan Amerika modern, asimilasi

Penelitian yang berjudul “Abel’s Resistance of American Modern Culture Assimilation as Depicted in House Made of Dawn Novel by N. Scott Momaday” ini bertujuan untuk mengetahui bentuk perlawanan Abel melawan asimilasi budaya Amerika modern dan alasan-alasan yang menyebabkan perlawanan Abel terhadap asimilasi budaya Amerika modern seperti yang digambarkan dalam novel House Made of Dawn karya N. Scott Momaday. Dalam penelitian ini, peneliti fokus pada Abel sebagai karakter utama di dalam novel.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis data yang merupakan dialog dari novel House Made of Dawn karya N. Scott Momaday. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori Sociological, Resistance, American Modern Culture, dan Assimilation. Ada beberapa langkah yang dilakukan oleh peneliti dalam menganalisis novel untuk menjawab pertanyaan penelitian. Menentukan objek penelitian adalah langkah pertama sebelum membaca novel. Peneliti mencari informasi tentang topik kemudian mengutip isi penting yang relevan dengan masalah penelitian. Setelah itu peneliti mengambil beberapa catatan dari sumber data untuk mendapatkan beberapa poin. Kemudian, langkah terakhir adalah mengatur, menganalisis, dan menjelaskan data.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Abel melakukan dua bentuk perlawanan yaitu publicly declared resistance and disguised resistance. Dalam publicly declared resistance, Abel menunjukkan perlawanan dalam bentuk pekerjaan dengan menolak untuk bekerja di perusahaan atau industri, penghinaan dengan tidak menjawab pertanyaan dari orang kulit putih, dan perbedaan kasta. Sedangkan dalam disguised resistance, Abel melakukan ancaman, kisah balas dendam, agama millennial, dan agama rakyat, mitos bandit dan pahlawan dalam kelas sosial. Alasan yang menyebabkan Abel melakukan perlawanan adalah diskriminasi ras, industrialisasi, perbedaan kepercayaan dan ritual.
ABSTRACT

Widyaningrum, Qomariah. 2016. Abel’s Resistance of American Modern Culture Assimilation as Depicted in House Made of Dawn Novel by N. Scott Momaday. Thesis, English Department, Faculty of Humanities, Jenderal Soedirman University Purwokerto. Supervisors: Mrs. Eni Nur Aeni, S.S., M.A., and Mr. Rosyid Dodiyanto, S.S., M.Hum. Examiner: Mrs. Dian Adiarti, S.Pd. M.Hum.

Keywords: sociological theory, resistance, American modern culture, assimilation

The research entitled “Abel’s Resistance of American Modern Culture Assimilation as Depicted in House Made of Dawn Novel by N. Scott Momaday” is aimed to find out the forms of Abel’s resistance against American modern culture assimilation and the reasons that cause Abel’s resistance of American modern culture assimilation as depicted in House Made of Dawn novel by N. Scott Momaday. In this research, the researcher focuses on Abel as the main character in the novel.
This research uses descriptive qualitative method to analyze the data which are the dialogues of House Made of Dawn novel by N. Scott Momaday. The primary data of this research are analyzed by sociological theory, resistance, American modern culture, and assimilation. There are some steps done by the researcher in analyzing the novel to answer the research questions. Determining the object of the research is the first step before reading novel. The researcher searched for information about the topic, then quoted the important contents that are relevant to the research problems. After that the researcher took some notes from the data source to get some points. Then, the last steps are arranging, analyzing, and describing the data.
The result of this research showed that Abel did two forms of resistance, there were publicly declared resistance and disguised resistance. In publicly declared resistance, Abel showed the resistance of labor issue by refusing to work in industry or factory, humiliation issue by not answering questions from white man, and different caste. Whereas in disguised resistance, Abel did threats, tales of revenge, millennial religions, folk religion, myths of social banditry also class heroes. The reasons that cause Abel’s resistance were racial discrimination, industrialization, different beliefs and rituals.
617816000C1G014037Pengaruh Kompetensi, Independensi, Integritas,
Akuntabilitas dan Due Profesional Care Auditor
Terhadap Kualitas Audit pada
Perwakilan BPKP Provinsi Bengkulu
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif berjudul "Pengaruh Kompetensi, Independensi, Integritas, Akuntabilitas dan Due Profesional Care Auditor Terhadap Kualitas Audit (Studi Pada Perwakilan BPKP Provinsi Bengkulu)". Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan bukti empiris apakah Kompetensi, Independensi, Integritas, Akuntabilitas dan Due Profesional Care Auditor Terhadap Kualitas Audit.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Kompetensi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit; (2) Independensi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit; (3) Integritas berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas audit; (4) Akuntabilitas tidak berpengaruh terhadap kualitas audit; (5) Due professional care tidak berpengaruh terhadap kualitas audit.
Penelitian diharapkan dapat memberikan masukkan bagi Perwakilan BPKP Provinsi Bengkulu dalam mengevaluasi dalam mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas audit khususnya dalam hal yang berhubungan dengan kompetensi, independensi, integritas, akuntabilitas dan due professional care auditor.
This study is a quantitative research entitled “The Influence Of Competence,
Independence, Integrity, Accountability and Due Professional Care on Audit Quality.” The
purposes of this study is to find out empirical evidence that independence, integrity,
accountability and due professional care on audit quality influenced audit quality.
The results in this study shows that (1) Competence didn't influence audit quality; (2)
Independence didn't influence audit quality; (3) Integrity influenced positively on audit quality
partially; (4) Accountability didn't influence audit quality; (5) Due professional didn't
influence audit quality. This study provides a reference for BPKP in Bengkulu for evaluating
factors that influenced audit quality especially in auditor competence, auditor independence,
auditor integrity, auditor accountability and auditor due professional care
617916002E1A009109TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PELAKSANAAN EKSEKUSI SECARA DIBAWAH TANGAN TERHADAP OBJEK FIDUSIA
(Studi Terhadap Putusan Nomor 112/Pdt.G/2014/PN. Pdg)
Skripsi dengan judul “Tinjauan Yuridis Terhadap Pelaksanaan Eksekusi Secara Dibawah Tangan Terhadap Obyek Fidusia” (Studi Terhadap Putusan Nomor 112/Pdt.G/2014/PN. Pdg) ini, dilakukan untuk menganalisis perkara gugatan terhadap pelaksanaan eksekusi secara di bawah tangan oleh Bank. Perkara ini berawal dari adanya perjanjian kredit antara Jasri dengan PT. Bank Perkreditan Rakyat Raga Dana Sejahtera dengan objek jaminan berupa Mobil Truck Mitsubishi dan dibebani jaminan Fidusia. Ketika debitur melakukan wanprestasi, Bank melakukan penarikan objek jaminan dan selanjutnya menjual objek jaminan secara di bawah tangan. Adapun tujuannya adalah untuk mengetahui pelaksanaan eksekusi objek jaminan Fidusia secara dibawah tangan yang dilakukan oleh PT. Bank Perkreditan Rakyat Raga Dana Sejahtera dengan mendasarkan pada aturan eksekusi jaminan menurut Undang-Undang Jaminan Fidusia, dan selanjutnya untuk mengetahui dasar pertimbangan hukum dan putusan Hakim dalam Perkara Nomor 112/Pdt.G/2014/PN.Pdg dalam menyelesaikan sengketa gugatan eksekusi jaminan Fidusia.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode yuridis normatif, dengan spesifikasi penelitian deskriptis analitis dan analisis secara normatif kualitatif. Berdasarkan uraian dalam pembahasan, maka diambil kesimpulan bahwa : Eksekusi secara di bawah tangan yang dilakukan oleh kreditur tidak sesuai dengan syarat dan tata cara eksekusi secara di bawah tangan yang diatur dalam Pasal 29 UUJF, karena tidak dilakukan dengan persetujuan debitur, tidak dilakukan pemberitahuan kepada pihak-pihak yang berkepentingan khususnya debitur ketika melakukan penjualan objek jaminan, dan tidak dilakukan pengumuman melalui surat kabar yang beredar dalam wilayah hukum pihak-pihak yang bersangkutan. Sementara itu dasar pertimbangan dan putusan Hakim yang menyatakan bahwa tindakan kreditur dalam melakukan eksekusi secara di bawah tangan sah menurut hukum adalah tidak tepat, karena pelaksanaan eksekusi tersebut tidak sesuai dengan syarat dan tata cara eksekusi secara di bawah tangan sebagaimana diatur dalam Pasal 29 UUJF.
Thesis with the title " Implementation of Judicial Review Under Execution In Hands Of Fiduciary Objects " (Study Against the Decision No. 112 / Pdt.G / 2014 / PN . PDG) This was done to analyze the lawsuit against the execution in the hands of the Bank . This matter originated from the credit agreement between Jasri with PT . Bank Perkreditan Rakyat Raga Dana Sejahtera with collateral in the form of object Car Truck Mitsubishi and charged with fiduciary guarantee. When a debtor in default , the Bank withdraw security object and then sell collateral objects under hand . The objective is to find out the execution of fiduciary security object is under the hand made by PT . Bank Perkreditan Rakyat Raga Dana Sejahtera by basing on the rules of execution of guarantees under the Act Fiduciary , and further to determine the basis of legal considerations and the Court decision in Case No. 112 / Pdt.G / 2014 / PN.Pdg in resolving disputes lawsuit Fiduciary collateral execution .
The method used is the method of normative juridical , with the specification of descriptive analytical research and qualitative analysis normatively . Based on the description in the discussion , it is concluded that : Execution under hand made by creditors in accordance with the terms and procedures for execution under hand under Article 29 UUJF
, because it is not done with the consent of the debtor , not made a notification to the parties concerned , particularly debtor when making sales collateral object , and not made the announcement in a newspaper circulating in the jurisdiction of the parties concerned. Meanwhile the consideration and decision of the judge stating that the actions of creditors in execution at the hands of lawful is not accurate , because the execution is not in accordance with the conditions and procedures for execution under hand under Article 29 UUJF .
618016003F1C011051UPAYA PELESTARIAN KESENIAN BEGALAN SEBAGAI KOMUNIKASI TRADISIONAL DI KABUPATEN BANYUMASTradisi begalan merupakan aset budaya yang harus diperhatikan, dikembangkan dan dipertahankan karena tradisi yang disajikan berupa kesenian kepada masyarakat sifatnya menghibur serta komunikatif dan edukatif. Namun semua itu akan sia-sia jika komunikasi antarbudaya yaitu budaya orang tua dan budaya remaja tidak berjalan dengan efektif. Akulturasi budaya begalan yang dapat diupayakan melalui komunikasi budaya belum berjalan efektif. Akibatnya tradisi ini sudah jarang telrihat dalam acara pernikahan saat ini.
Dengan mengambil judul “Upaya Pelestarian Kesenian Begalan sebagai Komunikasi Tradisional di Kabupaten Banyumas”, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui upaya melestarikan kesenian begalan sebagai komunikasi tradisional di Kabupaten Banyumas. Menggunakan metode kualitatif, dan informan penelitian ini yaitu keluarga yang melaksanakan begalan saat menikahkan anaknya; pemain/group begalan di Kabupaten Banyumas dan budayawan banyumas. Metode analisis yang digunakan adalah analisis interaktif.
Hasil penelitian diketahui begalan sampai saat ini masih dikenal sebagai tradisi yang didalamnya terdapat pesan-pesan sosial bagi pengenten yang akan melangsungkan pernikahan, dan juga kepada khalayak umum. Pesan tersebut disampaikan melalui media dan juga dialog yang dilakukan oleh pemain begalan. Seiring perjalanan waktu, begalan sudah jarang dijumpai dalam prosesi pernikahan di wilayah perkotaan. Beberapa faktor yang melatarbelakanginya adalah penilaian sebagian masyarakat yang sudah tidak sesuai jaman, faktor pembiayaan, serta pertunjukkannya yang monoton. Faktor tersebut lambat laun menjadi pembuktian bahwa komunikasi budaya kurang berjalan efektif, karena generasi muda kurang berminat mengadakan begalan dalam prosesi pernikahannya, walaupun secara materi isi begalan untuk saat ini banyak group begalan bercorak goyonan guna meningkatkan antusias penonton. Usaha melestarikan begalan dilakukan oleh orang tua kepada anaknya ketika menikahkan anaknya, namun demikian hal ini tidak dilakukan oleh semua orang. Proses komunikasi budaya juga dilakukan ketika begalan tampil, artinya pesan yang disampakan tidak hanya unutk orang tua dan juga mempelai, tetapi semua masyarakat yang menyaksikan.


Tradition begalan are cultural assets that must be considered, developed and maintained because of the tradition that is presented in the form of art to the public are entertaining as well as communicative and educational. But all of that will be in vain if the culture of intercultural communication that parents and youth culture are not operating effectively. Acculturation begalan that can be pursued through cultural communication has not been effective. As a result, this tradition has been rarely seen in the wedding today.

By taking the title "The Art Conservation Efforts Begalan as Traditional Communication at Banyumas", the study aims to find out find out effort to preserve traditional arts begalan as communication in Banyumas. Using qualitative methods, and this research that the informants who have done begalan time to marry his daughter; player / group begalan in Banyumas and Banyumas cultur. The analytical method used is interactive analysis.

The survey results revealed begalan is still known as a tradition in which there are social messages for he bride to be married, and also to the general public. The message conveyed through the media and also the dialogue conducted by the player begalan. Over time, begalan is rarely found in a wedding procession in urban areas. Some of the factors that lie behind them is an assessment of some people who are not suitable age, financial reasons, as well as the show monotonous. These factors gradually became proof that cultural communication is less effective, because the younger generation is less interested in a procession held begalan marriage, although the material content of begalan for many current group begalan patterned expense to increase the enthusiastic audience. Begalan preserving efforts made by parents to their children when their children marry, however this is not done by everyone. The process of cultural communication is also performed when begalan appear, meaning the message delevery not only fatherly parents and the bride, but all the people watching.