Home
Login.
Artikelilmiahs
55201
Update
MUHAMAD ZULFA JILAN
NIM
Judul Artikel
UJI PERFORMANSI GASIFIER DOWNDRAFT BERDASARKAN JENIS BIOMASSA
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Kebutuhan energi di Indonesia terus meningkat, sementara ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang semakin menipis mendorong pengembangan energi alternatif yang berkelanjutan. Biomassa, khususnya limbah kayu sengon (Falcataria moluccana) dan mahoni (Swietenia macrophylla), berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan melalui teknologi gasifikasi menggunakan reaktor gasifier downdraft. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis uji performansi gasifier downdraft berdasarkan perbedaan jenis biomassa melalui empat parameter, yaitu analisis proksimat, sisa abu pembakaran, stabilitas pembakaran, dan karakteristik nyala api. Penelitian dilaksanakan di PT. Astana Wirakarya dan Laboratorium Teknik Sistem Termal dan Energi Terbarukan, Jurusan Teknologi Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, selama bulan Maret–Juli 2026. Kedua jenis biomassa dipersiapkan melalui tahap pembersihan dan pengeringan hingga kadar air di bawah 15%, kemudian diuji proksimat dan diproses dalam reaktor gasifier downdraft dengan pengamatan temperatur pada zona pirolisis, oksidasi, dan reduksi menggunakan termokopel tipe K, serta pengamatan visual terhadap karakteristik nyala api. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu sengon memiliki karakteristik proksimat yang lebih menguntungkan untuk gasifikasi dibandingkan mahoni, yaitu kadar air lebih rendah (13,90% berbanding 14,85%), kadar abu lebih rendah (1,44% berbanding 2,58%), dan kadar karbon terikat lebih tinggi (9,45% berbanding 7,78%). Sisa abu pembakaran menunjukkan rata-rata 3,42% pada sengon dan 3,08% pada mahoni. Pada aspek stabilitas pembakaran, sengon mencapai kondisi stabil lebih cepat (rata-rata 12,5 menit) dengan Fuel Consumption Rate lebih rendah (0,875 kg/jam) dibandingkan mahoni (22 menit dan 1,31 kg/jam). Karakteristik nyala api sengon menunjukkan bentuk memanjang, terarah, dan stabil, sedangkan mahoni menunjukkan nyala yang lebih berfluktuasi dengan ignition delay kayu sengon sebesar 0,875 kg/jam, sedangkan biomassa mahoni sebesar 1,31 kg/jam yang lebih lama. Secara keseluruhan, biomassa kayu sengon menunjukkan performansi gasifier downdraft yang lebih baik dibandingkan kayu mahoni pada kondisi pengujian penelitian ini. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi ilmiah dalam pemilihan jenis biomassa yang lebih efisien untuk pengembangan teknologi gasifikasi berbasis energi terbarukan.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Indonesia's energy needs keep growing, and as fossil fuel reserves continue to shrink, there's a clear push toward developing sustainable alternative energy sources. Biomass—particularly wood waste from sengon (Falcataria moluccana) and mahogany (Swietenia macrophylla)—shows strong potential as a renewable energy source through gasification technology using a downdraft gasifier reactor. This study set out to evaluate the performance of a downdraft gasifier using these two biomass types, looking at four key parameters: proximate analysis, combustion ash residue, combustion stability, and flame characteristics. The research was carried out at PT. Astana Wirakarya and the Laboratory of Thermal Systems and Renewable Energy Engineering, Department of Agricultural Technology, Jenderal Soedirman University, from March to July 2026. Both biomass types were first cleaned and dried until their moisture content dropped below 15%, then tested for proximate composition and processed in the downdraft gasifier reactor. Temperature was tracked across the pyrolysis, oxidation, and reduction zones using type-K thermocouples, alongside visual observation of the resulting flame. The results showed that sengon wood had more favorable proximate properties for gasification than mahogany—lower moisture content (13.90% vs. 14.85%), lower ash content (1.44% vs. 2.58%), and higher fixed carbon (9.45% vs. 7.78%). Ash residue after combustion averaged 3.42% for sengon and 3.08% for mahogany. In terms of combustion stability, sengon reached a stable burn faster, averaging 12.5 minutes, and used fuel more efficiently, with a lower Fuel Consumption Rate of 0.875 kg/hour compared to mahogany's 22 minutes and 1.31 kg/hour. Sengon's flame was also more consistent—elongated, well-directed, and stable—while mahogany's flame fluctuated more and took longer to ignite. Overall, sengon wood delivered better downdraft gasifier performance than mahogany under the conditions tested in this study. These findings are expected to serve as a useful scientific reference for choosing more efficient biomass fuels going forward, supporting the broader development of renewable, gasification-based energy technology.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save