Home
Login.
Artikelilmiahs
54023
Update
MUHAMMAD ARIEF HIDAYAT
NIM
Judul Artikel
Risk management analysis of beef cattle agribusiness to mitigate foot-and-mouth disease outbreak: A case study in Banyumas, Indonesia
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terus menjadi ancaman signifikan bagi usaha peternakan sapi potong rakyat di negara-negara berkembang; namun, penerapan prinsip-prinsip manajemen risiko dalam pencegahan PMK di tingkat peternakan masih belum banyak diteliti. Penelitian ini mengkaji kemampuan manajemen risiko pada agribisnis sapi potong di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia, melalui empat dimensi: identifikasi risiko, evaluasi risiko, mitigasi risiko, dan kemampuan adaptif, dengan menggunakan data survei dari 29 peternak yang terdampak wabah PMK tahun 2022. Metode *purposive sampling* diterapkan untuk mencerminkan keragaman praktik usaha peternakan sapi potong rakyat. Peternak yang terlibat dalam aspek manajemen, pemeliharaan, hingga pemasaran dipilih untuk merepresentasikan keragaman praktik, pengalaman, dan sistem manajemen di kalangan peternak rakyat. Data menunjukkan bahwa peternak tidak melakukan vaksinasi sebelum wabah terjadi dan menggunakan pengobatan herbal sebagai respons utama terhadap infeksi. Sekitar dua pertiga peternak melaporkan adanya 1 hingga 2 ekor sapi yang terinfeksi per peternakan, dengan durasi penyakit berkisar antara 15 hingga 21 hari. Meskipun peternak mampu mengenali gejala awal, respons yang mereka ambil kurang tepat, yakni dengan menjual sapi yang terinfeksi, sehingga memperparah penyebaran penyakit di sepanjang rantai pasar. Tren ini mengindikasikan bahwa kerentanan usaha peternakan sapi potong lebih banyak disebabkan oleh kelemahan sistemik dalam integrasi manajemen risiko dibandingkan semata-mata oleh faktor biologis. Penelitian ini merupakan salah satu yang pertama mengintegrasikan perilaku adaptif peternak ke dalam kerangka kerja manajemen risiko yang terstruktur, serta memberikan wawasan yang relevan bagi kebijakan untuk memperkuat pengendalian PMK yang berkelanjutan dalam konteks peternakan rakyat dengan keterbatasan sumber daya.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Foot-and-Mouth Disease (FMD) continues to pose a significant threat to smallholder beef cattle agriculture in developing nations, however the incorporation of risk management principles into farmlevel FMD prevention remains understudied. This study examined the risk management capabilities of beef cattle agribusiness in Banyumas Regency, Central Java, Indonesia, across four dimensions: risk identification, risk evaluation, risk mitigation, and adaptive ability, utilizing survey data from 29 farmers affected during 2022 FMD outbreak. The purposive sampling was applied to reflect the diverse business practices of smallholder beef cattle. Farmers experiencing management and maintenance involvement in marketing samples were chosen to reflect the diversity of practices, experiences, and management systems among smallholder farmers. The data indicated that farmers did not vaccinate cattle before the outbreak and utilized herbal treatment as the primary response to infection. Around two-thirds of the farmers reported 1 to 2 cattle infected per farm, while the disease lasted for 15 to 21 days. While farmers were able to recognize early symptoms, their response was poorly managed by selling the infected cattle, which amplified the spread of disease across the market chain. This trend suggests that the susceptibility of beef cattle agriculture was largely due to systemic deficiencies in risk management integration rather than solely biological causes. This research is among the first to integrate farmers adaptive behaviors into a structured risk management framework providing policy-relevant insights for bolstering sustainable FMD control in resource-limited smallholder contexts.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save