Artikelilmiahs

Menampilkan 50.321-50.340 dari 50.361 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
5032126754G1I014038HUBUNGAN ANTARA POWER OTOT TUNGKAI DAN PANJANG TUNGKAI DENGAN KECEPATAN TENDANGAN SABIT PENCAK SILAT
PADA UKM PENCAK SILAT UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
Abstrak

HUBUNGAN ANTARA POWER OTOT TUNGKAI DAN PANJANG TUNGKAI DENGAN KECEPATAN TENDANGAN SABIT PENCAK SILAT
PADA UKM PENCAK SILAT UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Angger Widorotama

Latar Belakang : Tendangan Sabit merupakan jenis tendangan yang sering digunakan di pertandingan pencak silat. Dalam melakukan tendangan sabit dibutuhkan komponen kecepatan supaya tendangan dapat dengan cepat masuk ke sasaran pada lawan, untuk mendapatkan tendangan sabit yang berkualitas dibutuhkan komponen power otot tungkai. Power otot tungkai dimanfaatkan untuk menunjang daya ledak otot yang berkontraksi dan persendian yang bekerja pada saat melakukan tendangan sabit. selain power otot tungkai, panjang tungkai berfungsi untuk mencapai sasaran dengan jangkauan yang jauh dalam melakukan tendangan sabit.
Metodologi Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional untuk mencari hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Faktor yang dihubungkan power otot tungkai yang diukur dengan menggunakan tes standing board jump dan panjang tungkai yang diukur dengan menggunakan pita ukur terhadap kecepatan tendangan sabit yang diukur dengan menggunakan tes kecepatan tendangan selama 10 detik. Penelitian ini menggunakan sampel dari UKM pencak silat UNSOED diambil dengan teknik purposive sampling yang berjumlah 33 orang. Teknik analisis data menggunakan uji normalitas, uji linieritas dan uji homogenitas serta pengujian hipotesis menggunakan rumus korelasi product moment dan korelasi berganda.
Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Ada hubungan yang signifikan antara power otot tungkai dengan kecepatan tendangan sabit kanan dengan nilai korelasi sebesar 0,745. (2) Ada hubungan yang signifikan antara panjang tungkai dengan kecepatan tendangan dengan nilai korelasi sebesar kanan 0,509. (3) Ada hubungan yang signifikan antara power otot tungkai dan panjang tungkai secara bersama-sama dengan kecepatan tendangan sabit kanan dengan nilai 0,792.
Kata Kunci : power otot tungkai, panjang tungkai, kecepatan tendangan sabit
Lampiran 5. Persetujuan Menjadi Responden 57
Lampiran 6. Profil Responden 58
Lampiran 7. Data Tes 59
Lampiran 8. Surat Ijin Penelitian 60
Lampiran 9. Hasil Analisis Deskriptif Putra 66
Lampiran 10. Hasil Analisis Deskriptif Putri 68
Lampiran 11. Uji Normalitas 70
Lampiran 12. Uji Linieritas 71
Lampiran 13. Uji Homogenitas 72
Lampiran 14. Hasil Analisis Korelasi Product Moment 73
Lampiran 15. Hasil Analisis Korelasi Berganda 74
Lampiran 16. Titik Persentase Distribusi F untuk Probabilita = 0,05 75
Lampiran 17. Dokumentasi 76


DAFTAR SINGKATAN

ASEAN : Association of Southeast Asian Nations
BAPPEDALITBANG : Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan ..Pengembangan
Cm : Centi Meter
H1 : Hipotesis 1
H2 : Hipotesis 2
H3 : Hipotesis 3
IPSI : Ikatan Pencak Silat Indonesia
KESBANGPOL : Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik
Kg : Kilo Gram
MP : Merpati Putih
MUNAS : Musyawarah Nasional
P value : Nilai Probabilitas
P : Probabilitas
PJKR : Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi
PKM : Pusat Kegiatan Mahasiswa
POM : Pekan Olahraga Mahasiswa
PSHT : Persaudaraan Setia hati Terate
R : Koefisien Korelasi
Rxy : Koefisien Korelasi X dan Y
Sig : Signifikan
SPSS : Statistical Package For The Social Sciences
UKM : Unit Kegiatan Mahasiswa
UNSOED : Universitas Jenderal Soedirman
X1 : Power Otot Tungkai
X2 : Panjang Tungkai
Y : Kecepatan Tendangan Sabit


Abstrak

HUBUNGAN ANTARA POWER OTOT TUNGKAI DAN PANJANG TUNGKAI DENGAN KECEPATAN TENDANGAN SABIT PENCAK SILAT
PADA UKM PENCAK SILAT UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Angger Widorotama

Latar Belakang : Tendangan Sabit merupakan jenis tendangan yang sering digunakan di pertandingan pencak silat. Dalam melakukan tendangan sabit dibutuhkan komponen kecepatan supaya tendangan dapat dengan cepat masuk ke sasaran pada lawan, untuk mendapatkan tendangan sabit yang berkualitas dibutuhkan komponen power otot tungkai. Power otot tungkai dimanfaatkan untuk menunjang daya ledak otot yang berkontraksi dan persendian yang bekerja pada saat melakukan tendangan sabit. selain power otot tungkai, panjang tungkai berfungsi untuk mencapai sasaran dengan jangkauan yang jauh dalam melakukan tendangan sabit.
Metodologi Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional untuk mencari hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Faktor yang dihubungkan power otot tungkai yang diukur dengan menggunakan tes standing board jump dan panjang tungkai yang diukur dengan menggunakan pita ukur terhadap kecepatan tendangan sabit yang diukur dengan menggunakan tes kecepatan tendangan selama 10 detik. Penelitian ini menggunakan sampel dari UKM pencak silat UNSOED diambil dengan teknik purposive sampling yang berjumlah 33 orang. Teknik analisis data menggunakan uji normalitas, uji linieritas dan uji homogenitas serta pengujian hipotesis menggunakan rumus korelasi product moment dan korelasi berganda.
Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Ada hubungan yang signifikan antara power otot tungkai dengan kecepatan tendangan sabit kanan dengan nilai korelasi sebesar 0,745. (2) Ada hubungan yang signifikan antara panjang tungkai dengan kecepatan tendangan dengan nilai korelasi sebesar kanan 0,509. (3) Ada hubungan yang signifikan antara power otot tungkai dan panjang tungkai secara bersama-sama dengan kecepatan tendangan sabit kanan dengan nilai 0,792.
Kata Kunci : power otot tungkai, panjang tungkai, kecepatan tendangan sabit

Abstract
THE RELATIONSHIP BETWEEN THE POWER OF LEG MUSCLE AND LENGTH LEG WITH THE SPEED OF TENDANGAN SABIT PENCAK SILAT IN JENDERAL SOEDIRMAN UNIVERSITY PENCAK SILAT STUDENT ORGANIZATION
Angger Widorotama
Background : Tendangan Sabit is a kind of kick that is often used in Pencak Silat battle. This kick needs the speed component; therefore, the kick can quickly hit the target point of enemy, while leg muscle power component is needed to get a qualifield tendangan sabit. Leg muscle power is beneficial to support the muscle burst out capacity that has contraction and the joint that work while doing tendangan sabit. Beside leg muscle power, leg length is funcitioned to reach the target within the distan range while doing tendangan sabit.
Methods Research : This research is a correlational descriptive research that use the cross sectional approach to find out the relationship between free variable and bound variable. The relating factor of leg muscle power that is measured with the standing board jump test and leg length that is measured with the measuring tape on the tendangan sabit kanan. Sample from Jenderal Soedirman University Pencak Silat Student Organization with 33 people are taken as simple with the purposive sampling technique. Data analysis technique are the normality test, linearity test and homogenity test. Hypothesist test uses the product moment correlation and double correlation formula.
Result Research : The result of the study shows that : 1) there is significant relationship between leg muscle power and tendangan sabit kanan speed with the 0.745 correlation score. 2) there is significant relationship between leg length and tendangan sabit speed kanan with the 0.509 correlation score. 3) there is significant relationship between leg muscle power and leg length with the tendangan sabit kanan speed by 0.792 correlation score.
Keyword : leg muscle power, leg length, tendangan sabit speed
5032252256D1A022147PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG DAUN WARU DAN TEPUNG DAUN BAMBU SEBAGAI FEED ADITIF TERHADAP KONSUMSI DAN KECERNAAN PROTEIN KASAR DOMBA LOKALPenelitian dengan judul “Pengaruh Penambahan Tepung Daun Waru dan Tepung Daun Bambu Sebagai Feed Aditif Terhadap Konsumsi dan Kecernaan Protein Kasar Domba Lokal” telah dilaksanakan selama 3 bulan di Dusun II Desa Datar, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dosis terbaik penambahan tepung daun Waru (TDW) dan tepung daun Bambu (TDB) sebagai feed additive terhadap konsumsi dan kecernaan protein kasar domba lokal. Sejumlah 24 ekor domba ekor tipis jantan berumur 1-1,5 tahun dengan rataan bobot badan 37,18 ± 3,49 kg yang ditempatkan pada kandang individu diacak secara sempurna sesuai Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk menerima salah satu perlakuan berikut: P0 (silase tebon jagung + konsentrat); P1 ( P0 + TDW 2,49 g/kg konsentrat); P2 (P0 + TDW 1,87 g/kg konsentrat + 0,33 g/kg konsentrat); P3 (P0 + TDW 1,25 g/kg konsentrat + TDB 0,65 g/kg konsentrat) dan setiap perlakuan diulang 6 kali. Konsumsi bahan kering masing-masing domba adalah 4% dari bobot badan. Konsentrat diberikan sebanyak 2,8% dari bobot badan dan silase secara ad libitum terkontrol. Peubah yang diukur adalah konsumsi dan kecernaan protein kasar menggunakan metode koleksi total. Rataan konsumsi protein kasar 0,17 ± 0,04; 0,16 ± 0,01; 0,15 ± 0,01; 0,15 ± 0,02 untuk P0, P1, P2, P3. Rataan kecernaan protein kasar 79,38 ± 2,81; 77,97 ± 0,70; 76,92 ± 2,17; 76,02 ± 1,76 untuk P0, P1, P2, P3. Analisis variansi menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi protein kasar, akan tetapi berpengaruh sangat nyata (P<0,05) terhadap kecernaan protein kasar. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung daun waru dan tepung daun bambu pada level perlakuan yang digunakan tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi protein kasar tetapi berpengaruh sangat nyata terhadap kecernaan protein kasar domba lokal.The research entitled "Pengaruh Penambahan Tepung Daun Waru dan Tepung Daun Bambu Sebagai Feed Aditif Terhadap Konsumsi dan Kecernaan Protein Kasar Domba Lokal" was conducted for three months in Dusun II, Datar Village, Sumbang District, Banyumas Regency, Central Java Province, Indonesia. This study aimed to evaluate the optimal dosage of Waru leaf meal (TDW) and bamboo leaf meal (TDB) supplementation as feed additives on crude protein intake and digestibility in local sheep. A total of 24 thin-tailed male sheep aged 1–1,5 years with an average body weight of 37,18 ± 3,49 kg were housed individually and randomly assigned according to a Completely Randomized Design (CRD) to receive one of the following treatments: P0 (corn stover silage + concentrate); P1 (P0 + TDW 2,49 g/kg concentrate); P2 (P0 + TDW 1,87 g/kg concentrate + TDB 0,33 g/kg concentrate); and P3 (P0 + TDW 1,25 g/kg concentrate + TDB 0,65 g/kg concentrate), with six replications per treatment. Dry matter intake of each sheep was set at 4% of body weight. Concentrate was provided at 2,8% of body weight, while silage was offered ad libitum under controlled conditions. The variables measured were crude protein intake and crude protein digestibility using the total collection method. The average crude protein intake was 0,18 ± 0,03; 0,16 ± 0,01; 0,15 ± 0,01; and 0,15 ± 0,02 kg/head/day for P0, P1, P2, and P3, respectively. The average crude protein digestibility was 80,55 ± 1,21; 77,97 ± 0,70; 76,92 ± 2,17; and 76,02 ± 1,76% for P0, P1, P2, and P3, respectively. Analysis of variance showed that the treatment had no significant effect (P>0.05) on crude protein consumption, but had a very significant effect (P<0.05) on crude protein digestibility. Based on the results of the study, it can be concluded that the provision of hibiscus leaf flour and bamboo leaf flour at the treatment level used did not have a significant effect on crude protein consumption but had a very significant effect on crude protein digestibility of local sheep.
5032352258K1A022007DESAIN MATERIAL FOTOKATALIS AEROGEL BiVO4/g-C3N4/GO UNTUK DEGRADASI METILEN BIRU PADA IRADIASI CAHAYA TAMPAKMetilen biru (MB) merupakan zat warna kationik yang berbahaya dan memerlukan metode pengolahan yang efektif sebelum dilepaskan ke lingkungan. Pada penelitian ini, fotokatalis BiVO₄/g-C₃N₄/GO disintesis melalui metode kopresipitasi dengan variasi massa GO, lalu didapatkan massa optimum pada BGO-2, kemudian fotokatalis serbuk diimobilisasikan ke dalam matriks kitosan menjadi aerogel dengan variasi massa GO serupa dan didapatkan hasil variasi massa GO pada aerogel selaras dengan serbuk yaitu pada ABGO-2. Hasil karakterisasi XRD, SEM EDX, FTIR, dan UV–Vis DRS mengonfirmasi terbentuknya komposit terner BiVO₄/g-C₃N₄/GO. Penambahan GO terbukti meningkatkan luas permukaan spesifik dari 11,13 m² g⁻¹ (BiVO₄) menjadi 33,24 m² g⁻¹ pada komposit BGO-2, disertai penyempitan energi celah pita hingga 2,59 eV pada ABGO-2. Uji aktivitas fotokatalitik menunjukkan bahwa ABGO-2 mampu mendegradasi MB sebesar 75,78% pada pH 9 selama 180 menit, meskipun lebih rendah dibandingkan bentuk serbuk BGO-2 (94,82% pada 120 menit). Namun demikian, ABGO-2 menunjukkan keunggulan dalam stabilitas dan reusabilitas, dengan kinerja yang masih layak
hingga lima siklus penggunaan. Analisis statistik ANOVA menegaskan bahwa penurunan efisiensi degradasi antar siklus bersifat signifikan. Mekanisme degradasi MB pada sistem BiVO₄/g-C₃N₄/GO mengikuti mekanisme Z-scheme, dengan radikal superoksida (•O₂⁻) sebagai spesies reaktif dominan dan GO berperan sebagai mediator transfer elektron.
Methylene blue (MB) is a hazardous cationic dye that requires effective treatment prior to environmental discharge. In this study, the BiVO₄/g-C₃N₄/GO photocatalyst was synthesized via a coprecipitation method with varying GO mass, where the optimum composition was obtained at BGO-2. The powder photocatalyst was
subsequently immobilized into a chitosan matrix to form an aerogel with similar GO mass variations, yielding a consistent optimum at ABGO-2. Characterization by XRD, SEM-EDX, FTIR, and UV–Vis DRS confirmed the formation of the ternary BiVO₄/g-C₃N₄/GO composite. The addition of GO increased the specific surface
area from 11.13 m² g⁻¹ (BiVO₄) to 33.24 m² g⁻¹ in BGO-2, accompanied by band gap narrowing to 2.59 eV in ABGO-2. Photocatalytic activity tests showed that ABGO-2 degraded 75.78% of MB at pH 9 within 180 min, although this was lower than that of the powder BGO-2 (94.82% within 120 min). Nevertheless, ABGO-2
exhibited superior stability and reusability, maintaining acceptable performance over five cycles. ANOVA statistical analysis confirmed that the decrease in degradation efficiency between cycles was significant. The MB degradation mechanism in the BiVO₄/g-C₃N₄/GO system followed a Z-scheme pathway, with superoxide radicals (•O₂⁻) as the dominant reactive species and GO acting as an electron-transfer mediator.
5032452263F1F022076Peran Indonesia Africa Forum dalam Mendorong Inisiatif Pembangunan Berbasis Kemitraan Global South di Ethiopia Pada Tahun 2018-2024Indonesia-Africa Forum menjadi salah satu forum kerjasama lintas region yang berasaskan pada Kerjasama Selatan-Selatan. Selain itu, forum tersebut juga bertujuan sebagai upaya bersama lepas dari warisan kolonial dan paradigma kerjasama tradisional Utara-Selatan. Untuk memahami pergeseran paradigma ini diperlukan penggunaan kerangka teori pascakolonial serta pemahaman tentang landasan konseptual Global South. IAF berfokus pada penciptaan paradigma kerja sama baru berdasarkan prinsip-prinsip seperti kesetaraan, solidaritas, non-intervensi, dan saling menguntungkan, yang mempertanyakan dan berupaya menggantikan model bantuan tradisional kepada dunia berkembang yang didasarkan pada hubungan kekuasaan Utara-Selatan yang berkembang dari neokolonialisme dan struktur kekuasaan yang tidak setara. Secara kualitatif, penelitian ini menggunakan tinjauan pustaka, analisis dokumen sekunder, serta analisis data yang dihasilkan dari kedua metode tersebut secara gabungan menggunakan metodologi studi kasus.The Indonesia-Africa Forum has become one of the cross-regional cooperation forums based on South-South cooperation. Furthermore, the forum also aims to serve as a collective effort to break free from the colonial legacy and the traditional North-South cooperation paradigm. To understand this paradigm shift, it is necessary to employ postcolonial theoretical framework and to understand the conceptual foundations of the Global South. The IAF focuses on creating a new paradigm of cooperation based on principles such as equality, solidarity, non-intervention, and mutual benefit, which challenges and seeks to replace the traditional model of aid to the developing world based on North-South power relations stemming from neocolonialism and unequal power structures. Qualitatively, this research employs a literature review, analysis of secondary documents, and a combined analysis of data generated from both methods using a case study methodology.
5032552260F1D022022Implementasi Program Makan Bergizi Gratis: Dinamika Ekonomi Politik dan Partisipasi Aktor Lokal di Banyumas
Penelitian ini mengkaji pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Banyumas dengan menggunakan perspektif ekonomi politik kelembagaan dari Douglas North (1990). Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus di SD Negeri 2 Purwokerto Lor. Data diperoleh dari 15 informan yang terdiri atas kepala sekolah, guru, orang tua, siswa, serta penyedia makanan melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program telah dijalankan sesuai prosedur dengan dukungan 219 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), tetapi jangkauannya masih terbatas, yakni hanya mencakup 11,23% sekolah dasar dan 18,32% siswa. Permasalahan utama yang ditemukan meliputi keterlambatan distribusi, keterbatasan sarana, serta penurunan kualitas makanan akibat keterikatan anggaran yang kaku (Rp8.000/porsi). Selain itu, struktur kelembagaan yang bersifat terpusat membatasi keterlibatan pihak sekolah, sehingga memunculkan ketegangan antara institusi formal (kebijakan pusat) dan institusi informal (penyesuaian di tingkat lokal). Para aktor lokal cenderung menerima program secara pragmatis: guru memandangnya sebagai kewajiban, orang tua sebagai bentuk bantuan, dan siswa sebagai manfaat langsung. Kondisi ini menciptakan hubungan yang tidak seimbang antara negara dan masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini menegaskan pentingnya reformasi kelembagaan yang mampu menyelaraskan insentif, memperluas partisipasi lokal, serta mengedepankan pendekatan berbasis hak guna menjamin keberlanjutan program.This research examines the implementation of the Free Nutritious Meal Program (MBG) in Banyumas Regency through the lens of Douglas North’s (1990) institutional political economy. A qualitative case study design was applied at SD Negeri 2 Purwokerto Lor. Data were gathered from 15 informants, including the principal, teachers, parents, students, and food providers, using observation, interviews, and documentation, and were analyzed with the interactive model of Miles and Huberman. The results indicate that the program has been carried out procedurally with the support of 219 Nutritious Fulfillment Service Units (SPPG), yet its coverage remains limited, reaching only 11.23% of primary schools and 18.32% of students. Key challenges identified include delays in distribution, limited facilities, and declining food quality due to inflexible budgeting (Rp8,000 per portion). Furthermore, the centralized institutional arrangement constrains school involvement, leading to tensions between formal institutions (central policies) and informal practices (local adjustments). Local actors tend to respond pragmatically: teachers perceive it as an obligation, parents as assistance, and students as a direct benefit. This situation contributes to an imbalanced relationship between the state and society. Accordingly, the study highlights the need for institutional reforms that align incentives, enhance local participation, and adopt a rights-based approach to sustain the program in the long term.
5032652261D1A021140Pengaruh Fortifikasi Mineral Magnesium (Mg) dan Sulfur (S) dalam Pakan Domba terhadap Kecernaan Total Digestible Nutrient (TDN) dan Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen secara In VitroPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh fortifikasi mineral Magnesium (Mg)
dan Sulfur (S) terhadap kecernaan Total Digestible Nutrient (TDN) dan Bahan Ekstrak Tanpa
Nitrogen (BETN) pada pakan domba secara in vitro. Materi yang digunakan meliputi pakan
(jerami padi amoniasi 50% dan konsentrat 50%), cairan rumen domba, serta mineral MgO
dan S. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan Rancangan Acak
Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan tersebut adalah P1
(jerami padi amoniasi 50% dan konsentrat 50%), P2 (P1 + 0,11% Mg), dan P3 (P2 + 0,83%
S). Variabel yang diukur adalah nilai kecernaan TDN dan BETN. Data dianalisis
menggunakan analisis variansi (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan
berpengaruh cenderung nyata terhadap kecernaan BETN (P=0,08) dan berpengaruh sangat
nyata terhadap kecernaan TDN (P˂0,01). Fortifikasi mineral Magnesium (Mg) memberikan
efektivitas yang lebih tinggi dalam meningkatkan nilai kecernaan TDN dan BETN
dibandingkan dengan mineral Sulfur (S) dalam pakan domba.
This study aims to examine the effect of Magnesium (Mg) and Sulfur (S) mineral
fortification on the digestibility of Total Digestible Nutrients (TDN) and Nitrogen-Free
Extract (NTFE) in sheep feed in vitro. The materials used include feed (50% ammoniated
rice straw and 50% concentrate),sheep rumen fluid, and MgO and S minerals. The research
method used is experimental with a Completely Randomized Design (RUPS) consisting of 3
treatments and 6 replications. The treatments are P1 (50% ammoniated rice straw and 50%
concentrate), P2 (P1 + 0.11% Mg), and P3 (P2 + 0.83% S). The variables measured are the
digestibility values of TDN and NTFE. Data were analyzed using analysis of variance
(ANOVA). The results showed that the treatment had a significant effect on the digestibility
of BETN (P=0.08) and a significant effect on the digestibility of TDN (P˂0.01). Magnesium
(Mg) mineral enrichment provided higher effectiveness in increasing the digestibility of
TDN and BETN compared to Sulfur (S) minerals in sheep feed.
5032752264D1A022203PERAN PEMIMPIN KELOMPOK PETERNAK TERHADAP MINAT PETERNAK MELANJUTKAN USAHA DOMBA SAKUB DI KABUPATEN BREBESPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pemimpin kelompok sebagai motivator, sebagai guru, sebagai penasihat, dan minat melanjutkan usaha serta hubungan antara peran pemimpin kelompok dengan minat melanjutkan usaha. Penelitian dilaksanakan pada 28 Januari - 4 Februari 2026 bertempat di Kecamatan Sirampog dan Paguyangan, Kabupaten Brebes dengan responden sebanyak 90 anggota kelompok peternak domba sakub yang ditentukan secara sensus. Metode penelitian secara survei lalu data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menggambarkan bahwa peran pemimpin kelompok peternak domba sakub di Kabupaten Brebes tergolong sedang (77,78%), peran pemimpin berdasarkan indikator sebagai motivator termasuk kategori sedang (67,78%), sebagai guru termasuk kategori sedang (71,11%), dan sebagai penasihat termasuk kategori sedang (73,33%). Hasil uji korelasi Rank Spearman menggambarkan adanya hubungan positif dan signifikan dengan tingkat korelasi sangat lemah antara peran pemimpin kelompok sebagai motivator dengan minat (ρ = 0,248; p 0,018), hubungan positif dan signifikan dengan tingkat korelasi cukup antara peran pemimpin kelompok sebagai guru dengan minat (ρ = 0,342; p < 0,001), serta hubungan positif dan signifikan dengan tingkat korelasi sangat lemah antara peran pemimpin kelompok sebagai penasihat dengan minat (ρ = 0,228; p 0,030). Kesimpulan penelitian ini adalah semakin baik peran pemimpin kelompok akan meningkatkan minat peternak melanjutkan usaha peternakan. Rekomendasi dari penelitian ini adalah pemimpin kelompok peternak harus tetap menjalankan peran dan fungsinya secara optimal sehingga anggota kelompok akan tetap memiliki minat melanjutkan usaha yang kuat.This study aims to determine the role of group leaders as motivators, educators, and advisors, as well as to assess farmers’ interest in continuing their farming business and to analyze the relationship between the role of group leaders and the interest in continuing the business. The research was conducted from January 28 to February 4, 2026, in Sirampog and Paguyangan Subdistricts, Brebes Regency, involving 90 members of sheep farmer groups selected through a census method. The study employed a survey method, with data collected through interviews and observations. The data were then analyzed using descriptive analysis and Spearman Rank correlation. The results indicate that the overall role of group leaders in sheep farmer groups in Brebes Regency falls into the moderate category (77.78%). Specifically, the role as a motivator is categorized as moderate (67.78%), as an educator is moderate (71.11%), and as an advisor is also moderate (73.33%). The results of the Spearman Rank correlation test show a positive and significant relationship with a very weak correlation between the role of group leaders as motivators and farmers’ interest (ρ = 0.248; p = 0.018), a positive and significant relationship with a moderate correlation between the role as educators and farmers’ interest (ρ = 0.342; p < 0.001), and a positive and significant relationship with a very weak correlation between the role as advisors and farmers’ interest (ρ = 0.228; p = 0.030). In conclusion, the better the role of group leaders, the higher the farmers’ interest in continuing their livestock business. It is recommended that group leaders consistently perform their roles and functions optimally to maintain and strengthen farmers’ interest in sustaining their farming enterprises.
5032852277F1B022089Prioritas Penanganan Pengangguran Di Kabupaten Banyumas: Studi Tentang Implementasi Program Promosi Penanaman ModalProgram Promosi Penanaman Modal sebagai upaya Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam
mengurangi pengangguran melalui peningkatan investasi. Namun, peningkatan investasi
belum diikuti penurunan pengangguran karena didominasi investasi padat modal yang
memiliki daya serap tenaga kerja rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan
kinerja implementasi program tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif
dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta
penentuan informan secara purposive sampling pada Bappedalitbang dan DPMPTSP yang
dianalisis menggunakan model interaktif dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa implementasi program belum optimal, ditandai dengan keterbatasan
kemampuan SDM dalam bahasa asing dan teknologi informasi, orientasi pelaksana yang masih
prosedural, serta koordinasi yang belum berfokus pada penyerapan tenaga kerja. Selain itu,
kebijakan kawasan industri turut membatasi investasi padat karya.
The Investment Promotion Program is an effort by the Banyumas Regency Government to
reduce unemployment by increasing investment. However, this increase in investment has not
been accompanied by a decrease in unemployment due to the dominance of capital-intensive
investments with low labor absorption. This study aims to describe the performance of the
program's implementation. The method used was descriptive qualitative, with data collection
techniques through interviews, observation, and documentation. Informants were selected
through purposive sampling at the Bappedalitbang and DPMPTSP. The analysis used an
interactive model with source triangulation. The results indicate that program implementation
is suboptimal, characterized by limited human resource skills in foreign languages and
information technology, procedural implementation, and coordination that does not focus on
labor absorption. Furthermore, industrial area policies also limit labor-intensive investment.
5032952265D1A022198HUBUNGAN ANTARA JUMLAH ANGGOTA DAN LAMA BERGABUNG DENGAN SIFAT KONFORMITAS ANGGOTA KELOMPOK PETERNAK DOMBA SAKUB
DI KABUPATEN BREBES
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah anggota, lama bergabung, serta tingkat konformitas anggota kelompok peternak domba Sakub di Kabupaten Brebes, serta menganalisis hubungan antara jumlah anggota dan lama bergabung dengan sifat konformitas anggota kelompok. Penelitian dilaksanakan di Desa Wanareja Kecamatan Sirampog dan Desa Pandansari Kecamatan Paguyangan dengan jumlah responden sebanyak 90 peternak yang dipilih secara sensus. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah anggota kelompok tidak memiliki hubungan yang nyata dengan sifat konformitas (rs = 0,031), sedangkan lama bergabung memiliki hubungan positif sangat kuat dan signifikan dengan sifat konformitas (rs = 0,847). Tingkat konformitas anggota kelompok sebagian besar berada pada kategori sedang (67,78%), yang menunjukkan bahwa anggota cukup mampu menyesuaikan diri dengan norma dan keputusan kelompok. Kesimpulan penelitian ini adalah lama bergabung dalam kelompok berpengaruh nyata terhadap pembentukan konformitas anggota, sedangkan jumlah anggota tidak berpengaruh signifikan terhadap konformitas dalam kelompok peternak domba Sakub di Kabupaten Brebes.This study aims to determine the number of members, length of membership, and the level of conformity among members of Sakub sheep farmer groups in Brebes Regency, as well as to analyze the relationship between the number of members and length of membership with the conformity behavior of group members. The research was conducted in Wanareja Village, Sirampog District, and Pandansari Village, Paguyangan District, involving 90 farmers selected using a census method. Data were collected through interviews and observations, and analyzed using descriptive analysis and the Spearman Rank correlation test. The results showed that the number of group members had no significant relationship with conformity behavior (rs = 0.031), while the length of membership had a very strong and significant positive relationship with conformity behavior (rs = 0.847). The level of conformity among group members was predominantly in the moderate category (67.78%), indicating that members were sufficiently able to adapt to group norms and decisions. In conclusion, the length of membership significantly influences the formation of conformity among group members, whereas the number of members does not have a significant effect on conformity within Sakub sheep farmer groups in Brebes Regency.
5033052268D1A022100PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG DAUN WARU DAN DAUN BAMBU TERHADAP KONSUMSI DAN KECERNAAN SERAT KASAR PAKAN DOMBA LOKALPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dosis terbaik tepung daun Waru (TDW) dan Bambu (TDB) terhadap konsumsi dan kecernaan serat kasar pakan domba lokal. Penelitian berlangsung di Dusun II, Datar, Kec. Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah selama 3 bulan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 18 ekor domba lokal jantan dengan rataan bobot badan 37,18 ± 3,49 kg dengan umur 1 – 1,5 tahun. Domba tersebut ditempatkan pada kandang individu dan diacak secara sempurna untuk menerima perlakuan: P0 (silase tebon jagung + konsentrat); P1 (P0 + TDW 2,49 g/kg konsentrat); P2 (P0 + TDW 1,87 g/kg konsentrat + TDB 0,33 g/kg); P3 = P0 + TDW 1,25 g /kg konsentrat + TDB 0,65 g /kg konsentrat). Dengan demikian Rancangan Acak Lengkap (RAL) unequal dapat digunakan pada penelitian ini. Perlakuan P0 dan P3 diulang 4 kali dan perlakuan P1 dan P2 diulang 5 kali. Konsentrat diberikan sebanyak 2,8% dari bobot hidup ternak dan silase tebon jagung secara adlibitum terkontrol. Peubah yang diukur adalah konsumsi dan kecernaan serat kasar menggunakan metode koleksi total. Rataan konsumsi serat kasar 0,19 ± 0,05, 0,18 ± 0,02, 0,17 ± 0,01, 0,17 ± 0,03 kg/ekor/hari untuk P0, P1, P2, dan P3. Rataan kecernaan serat kasar 32,92 ± 10,84, 36,54 ± 3,12, 31,46 ± 5,52, 34,20 ± 7,66% untuk P0, P1, P2, dan P3. Analisis variansi menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi dan kecernaan serat kasar. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung daun waru dan daun bambu pada level perlakuan yang digunakan belum mampu meningkatkan konsumsi dan kecernaan serat kasar pada domba lokal.This study aims to examine the effect of the best dose of Waru leaf flour (TDW) and Bamboo (TDB) on the consumption and digestibility of crude fiber in local sheep feed. The study took place in Dusun II, Datar, Sumbang District, Banyumas Regency, Central Java for 3 months. The material used in this study were 18 male local sheep with an average body weight of 37.18 ± 3.49 kg and aged 1 – 1.5 years. The sheep were placed in individual pens and completely randomized to receive the following treatments: P0 (corn stalk silage + concentrate); P1 (P0 + TDW 2.49 g/kg concentrate); P2 (P0 + TDW 1.87 g/kg concentrate + TDB 0.33 g/kg); P3 = P0 + TDW 1.25 g/kg concentrate + TDB 0.65 g/kg concentrate). Thus, an unequal Completely Randomized Design (CRD) can be used in this study. Treatments P0 and P3 were repeated 4 times and treatments P1 and P2 were repeated 5 times. Concentrate was given as much as 2.8% of the livestock's live weight and corn stalk silage was given ad libitum under controlled conditions. The variables measured were crude fiber consumption and digestibility using the total collection method. The average crude fiber consumption was 0.19 ± 0.05, 0.18 ± 0.02, 0.17 ± 0.01, 0.17 ± 0.03 kg/head/day for P0, P1, P2, and P3. The average crude fiber digestibility was 32.92 ± 10.84, 36.54 ± 3.12, 31.46 ± 5.52, 34.20 ± 7.66% for P0, P1, P2, and P3. Analysis of variance showed that the treatment had no significant effect (P>0.05) on crude fiber consumption and digestibility. Based on the results of the study, it can be concluded that the administration of hibiscus leaf and bamboo leaf flour at the treatment level used was not able to increase crude fiber consumption and digestibility in local sheep.
5033152269D1A022065PERTUMBUHAN DIAMETER BATANG DAN KADAR KLOROFIL RED NAPIER (Pennisetum purpureum cv. Red) PADA PERBEDAAN SISTEM TANAM DAN BERBAGAI LEVEL KOMPOSPenelitian dengan judul “Pertumbuhan Diameter Batang dan Kadar Klorofil Red Napier (Pennisetum purpureum cv. Red) pada Perbedaan Sistem Tanam dan berbagai Level Kompos” telah dilaksanakan di lahan Experimental Farm, Laboratorium Agrostologi, dan Laboratorium Ilmu Bahan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh interaksi sistem tanam dan level kompos terhadap diameter batang dan kadar klorofil a, klorofil b, dan total klorofil rumput Red Napier. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput Red Napier (Pennisetum purpureum cv. Red) yang ditanam dengan stek sejak awal penelitian, sedangkan tanaman Gamal (Glirisidia sepium) yang digunakan merupakan tanaman yang telah berumur satu tahun dengan tinggi sekitar ± 80 cm. Pupuk yang digunakan yaitu pupuk kompos dari feses sapi potong sebagai perlakuan dengan dosis 0, 15, dan 30 ton/ha. Lahan yang digunakan sebanyak 24 petak dengan luas setiap petak 7,2 m2 dengan total luas lahan 172,8 m2. Metode penelitian menggunakan jenis experimental dengan rancangan Split Plot Design (SPD). Perlakuan diulang sebanyak empat kali. Sistem tanam sebagai petak utama terdiri atas monokultur dan tumpangsari, sedangkan level kompos sebagai anak petak terdiri atas tiga dosis 0 ton/ha, 15 ton/ha, dan 30 ton/ha. Peubah yang diamati meliputi diameter batang serta kadar klorofil a, b, dan total klorofil Red Napier. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara sistem tanam dan level kompos, maupun pengaruh masing-masing faktor secara tunggal terhadap diameter batang dan kadar klorofil a, klorofil b, dan total klorofil rumput Red Napier (P>0,05). Rataan diameter batang 17,2 ± 0,38 mm pada sistem monokultur dan 16,8 ± 0,49 mm pada sistem tumpangsari (P>0,05). Rataan klorofil a 0,69 ± 0,06 mg /g pada sistem monokultur dan 0,64 ± 0,05 mg /g pada sistem tumpangsari (P>0,05). Rataan klorofil b 0,47 ± 0,12 mg /g pada sistem monokultur dan 0,46 ± 0,02 mg /g pada sistem tumpangsari (P>0,05). Rataan total klorofil 1,16 ± 0,17 mg /g pada sistem monokultur dan 1,10 ± 0,06 mg /g pada sistem tumpangsari (P>0,05). Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penerapan sistem tanam tumpangsari dan level kompos hingga 30 ton/ha tidak meningkatkan diameter batang dan kadar klorofil rumput Red Napier.The study with the title "Stem Diameter Growth and Chlorophyll Content of Red Napier (Pennisetum purpureum cv. Red) in Different Planting Systems and Various Compost Levels " has been carried out on the land of the Experimental Farm, Agrostology Laboratory, and Animal Feedstuff Laboratory, Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University. This study aims to examine the effect of the interaction of the planting system and compost level on the stem diameter and chlorophyll content (chlorophyll a, chlorophyll b, and total chlorophyll) of Red Napier grass. The material used in this study was Red Napier grass (Pennisetum purpureum cv. Red) which planted with cuttings since the beginning of the study, while the Gamal plant (Glirisidia sepium) used was a one-year-old plant with a height of about ± 80 cm. The fertilizer used is compost fertilizer from beef cattle feces. The land used is 24 plots with each plot having an area of 7.2 m2 with a total land area of 172.8 m2. The research method uses an experimental type with a Split Plot Design (SPD) design. The treatment was repeated four times. The planting system as the main plot consists of monoculture and intercropping, while the compost level as a subplot consists of three doses of 0 tons/ha, 15 tons/ha, and 30 tons/ha. The observed variables included stem diameter and chlorophyll content of Red Napier. The data was analyzed using multiple analysis (ANOVA) at the level of 5%. The results showed that there was no interaction between the planting system and the compost level, nor the influence of each factor individually on the stem diameter and the level of chlorophyll a, chlorophyll b, and total chlorophyll of Red Napier grass (P>0.05). The average stem diameter was 17.2 ± 0.38 mm in the monoculture system and 16.8 ± 0.49 mm in the intercropping system (P>0.05). The average chlorophyll a was 0.69 ± 0.06 mg/g in the monoculture system and 0.64 ± 0.05 mg/g in the intercropping system (P>0.05). The mean chlorophyll b was 0.47 ± 0.12 mg/g in the monoculture system and 0.46 ± 0.02 mg/g in the intercropping system (P>0.05). The average chlorophyll total was 1.16 ± 0.17 mg/g in the monoculture system and 1.10 ± 0.06 mg/g in the intercropping system (P>0.05). Based on the results of the study, it was concluded that the application of an intercropping system and a compost level of up to 30 tons/ha did not increase the stem diameter and chlorophyll content of Red Napier grass.
5033253286L1C021036ANALISIS POTENSI GENANGAN TSUNAMI DAN PENENTUAN JALUR EVAKUASI BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN PANDEGLANG, BANTEN Kabupaten Pandeglang merupakan wilayah pesisir dengan tingkat kerentanan yang tinggi terhadap ancaman bencana tsunami akibat posisinya yang berhadapan langsung dengan zona subduksi dan aktivitas vulkanik di Selat Sunda. Metode yang digunakan adalah analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG), dalam memodelkan perluasan genangan menggunakan persamaan Berryman pada tiga skenario ketinggian run-up (6 meter, 10 meter, dan 20 meter). Penentuan rute penyelamatan dari titik bahaya pesisir menuju titik aman diekstraksi menggunakan metode Network Analyst (Closest Facility) dengan membandingkan parameter waktu tempuh (Cutoff Time ) 15, 30, 60 menit, dan tanpa batasan waktu. Hasil pemodelan menunjukan bahwa kawasan pesisir barat dan utara memiliki kerentanan genangan yang jauh lebih tinggi akibat dominasi topografi yang landai. Berdasarkan evaluasi aksesibilitas jaringan jalan, pemodelan rute evakuasi dengan Cutoff Time 15 menit disimpulkan sebagai skenario operasional yang paling realistis dan representatif dalam memfasilitasi mobilitas penyelamatan masyarakat secara cepat dan efektif.

Pandeglang Regency is a coastal area with a high level of vulnerability to tsunami threats due to its location directly facing the subduction zone and volcanic activity in Sunda Strait. The method used is a spatial analysis based on Geographic Information Systems (GIS), to model inundation expansion using the Berryman equation across three run-up height scenarios (6 meters, 10 meters, and 20 meters). The determination of evacuation routes from coastal hazard points to safe points was extracted using the Network Analyst (Closest Facility) method by comparing travel time parameters (Cutoff Time ) of 15, 30, 60 minutes, and no time limit. The modelling results indicate that the western and northern coastal areas exhibit significantly higher flood vulnerability due to the dominance of flat topography. Based on an evaluation of road network accessibility, evacuation route modelling with Cutoff Time of 15 minutes was concluded to be the most realistic and representative operational scenario for facilitating the rapid and effective rescue of the community.
Keywords: Evacuation; GIS; Inundation; Network Analyst; Tsunami
5033353310A1A022049Fluktuasi Harga Dan Integrasi Pasar Horizontal Bawang Merah Di Kabupaten PurbalinggaBawang merah atau dalam bahasa ilmiah disebut dengan Allium cepa L. var. Aggregatum merupakan salah satu komoditas tanaman hortikultura dan komoditas strategis di Indonesia. Produksi dan harga bawang merah di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Purbalingga, cenderung bergerak fluktuatif. Fluktuasi harga bawang merah menyebabkan ketidakpastian dan resiko harga pasar dan menjadi salah satu penyumbang inflasi daerah. Pada Kabupaten Purbalingga, pasar tradisional memiliki konsentrasi yang tinggi dibandingkan kabupaten di wilayah Barlingmascakeb karena pasar utama di Kabupaten Purbalingga memiliki jumlah yang lebih sedikit sehingga memiliki pengaruh dominan terhadap pasar di bawahnya. Pasar Segamas, Pasar Rakyat Bobotsari, dan Pasar Bukateja merupakan pasar kelas 1 di Kabupaten Purbalingga yang menjadi pusat pemantauan harga dan stok kebutuhan pokok serta menjadi pasar kulakan bagi pasar lain di bawahnya. Integrasi pasar diperlukan untuk mendukung efektivitas dan efisiensi kebijakan stabilisasi harga oleh pemerintah karena informasi perubahan harga dapat tersalurkan antar pasar. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui fluktuasi harga komoditas bawang merah di Pasar Segamas, Pasar Rakyat Bobotsari, dan Pasar Bukateja serta menganalisis integrasi pasar secara horizontal pada komoditas bawang merah antara Pasar Segamas, Pasar Rakyat Bobotsari, dan Pasar Bukateja Kabupaten Purbalingga.
Penelitian ini menggunakan metode studi kasus yang dilaksanakan di Pasar Segamas, Pasar Rakyat Bobotsari, dan Pasar Bukateja Kabupaten Purbalingga pada bulan Februari sampai April 2026. Penelitian menggunakan data sekunder berupa harga eceran/konsumen bawang merah mingguan periode Januari 2019 sampai November 2024 yang diperoleh dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Purbalingga. Variabel yang dianalisis meliputi harga eceran mingguan bawang merah di Pasar Segamas, Pasar Bobotsari, dan Pasar Bukateja. Analisis data yang digunakan yaitu koefisien variasi (KV), uji stasioneritas Augmented Dickey Fuller (ADF), penentuan lag optimal, uji stabilitas VAR, uji kausalitas Granger, Vector Autoregression (VAR) in level, Impulse Response Function (IRF), dan Variance Decomposition.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga bawang merah di Pasar Segamas, Pasar Bobotsari, dan Pasar Bukateja selama periode 2019–2024 mengalami fluktuasi yang tinggi dan tidak stabil karena nilai koefisien variasinya melebihi batas toleransi yang ditetapkan Kemendag RI sebesar 23 persen. Ketidakstabilan tersebut terjadi karena tidak ada kepastian waktu dan jumlah pasokan bawang merah yang diperoleh dari pemasok sehingga terjadi ketidakseimbangan antara stok bawang merah dan permintaan konsumen. Hasil analisis VAR in level, impulse response function (IRF), dan forecast error variance decomposition (FEVD) menunjukkan bahwa terjadi integrasi pasar horizontal dalam jangka pendek antar ketiga pasar yang ditunjukkan melalui adanya informasi harga yang tersalurkan antar pasar sehingga membentuk respon dan kontribusi dalam pembentukan harga bawang merah di masing-masing pasar. Pasar Segamas menjadi pasar yang memiliki peran terbesar dalam pembentukan harga bawang merah di Pasar Segamas, Pasar Bobotsari, dan Pasar Bukateja berdasarkan hasil yang konsisten pada analisis kausalitas Granger, VAR in level, IRF, dan FEVD. Hal tersebut terjadi karena Pasar Segamas berperan sebagai pasar kulakan dan price leader bawang merah bagi Pasar Bobotsari dan Pasar Bukateja.
Shallots or scientifically known as Allium cepa L. var. Aggregatum are one of the horticultural and strategic commodities in Indonesia. The production and prices of shallots in Indonesia, particularly in Central Java Province and Purbalingga Regency, tend to fluctuate. Shallot price fluctuations cause market price uncertainty and contribute to regional inflation. In Purbalingga Regency, traditional markets have a high concentration compared to other regencies in the Barlingmascakeb area because the number of main markets in Purbalingga is relatively limited, resulting in a dominant influence on subordinate markets. Segamas Market, Bobotsari People’s Market, and Bukateja Market are Class I markets in Purbalingga Regency that serve as centers for monitoring prices and staple food stocks, as well as wholesale markets for smaller markets under them. Market integration is necessary to support the effectiveness and efficiency of government price stabilization policies because price information can be transmitted among markets. This study aimed to identify shallot price fluctuations and analyze horizontal market integration of shallots among Segamas Market, Bobotsari People’s Market, and Bukateja Market in Purbalingga Regency.
This research employed a case study method conducted at Segamas Market, Bobotsari People’s Market, and Bukateja Market in Purbalingga Regency from February to April 2026. The study used secondary data in the form of weekly retail/consumer shallot prices from January 2019 to November 2024 obtained from the Department of Industry and Trade of Purbalingga Regency. The variables analyzed included weekly retail shallot prices in Segamas Market, Bobotsari Market, and Bukateja Market. The analytical methods used were coefficient of variation (CV), Augmented Dickey-Fuller (ADF) stationarity test, optimal lag determination, VAR stability test, Granger causality test, Vector Autoregression (VAR) in level, Impulse Response Function (IRF), and Variance Decomposition.
The results showed that shallot prices in Segamas Market, Bobotsari Market, and Bukateja Market during the 2019–2024 period experienced high and unstable fluctuations because the coefficient of variation values exceeded the tolerance limit established by the Indonesian Ministry of Trade at 23 percent. This instability occurred due to uncertainty in the timing and quantity of shallot supplies obtained from suppliers, resulting in an imbalance between shallot stocks and consumer demand. The results of the VAR in level, Impulse Response Function (IRF), and Forecast Error Variance Decomposition (FEVD) analyses indicated the existence of short-term horizontal market integration among the three markets, as reflected by the transmission of price information among markets, which generated responses and contributions in the formation of shallot prices in each market. Segamas Market had the greatest role in determining shallot prices in Segamas Market itself, Bobotsari Market, and Bukateja Market based on consistent results from the Granger causality, VAR in level, IRF, and FEVD analyses. This occurred because Segamas Market functions as a wholesale market and a price leader for shallots for Bobotsari Market and Bukateja Market.
503346123G1G009009RESPON HIDROFOBISITAS BAKTERI PEMBENTUK PLAK GIGI
(Streptococcus sanguinis) TERHADAP PAPARAN EKSTRAK UMBI
TANAMAN SARANG SEMUT (Myrmecodia pendens)
DALAM SEDIAAN OBAT KUMUR
Plak gigi merupakan penyebab terjadinya gingivitis. Bakteri S. sanguinis memilikidaya hidrofobisitas kuat, sehingga dapat melekat erat pada permukaan gigi, berperan menjadi perantara melekatnya bakteri lain. Umbi tanaman sarang semut (M. pendens) merupakan salah satu alternatif bahan alam yang berpotensi sebagai antibakteri.Tujuan penelitian ini adalah mengkaji konsentrasi ekstrak M. pendens dari 40%, 20%, 10%, 5% dalam sediaan obat kumur yang mampu menurunkan respon hidrofobisitas bakteri S. sanguinis. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan post test only control group design. Sampel penelitian terdiri dari 21, terbagi dalam 7 perlakuan dengan pengulangan triplo, meliputi kontrol (+) Chlorhexidine gluconate 0,2%, 4 konsentrasi formulasi obat kumur M. pendens, kontrol (-) aquades steril, dan blanko (formulasi obat kumur non ekstrak). Metode preparasi ekstrak menggunakan maserasi, pembuatan formulasi obat kumur dilanjutkan evaluasi stabilitas dan pH, serta uji hidrofobisitas menggunakan spektrofotometer UV-Vis gelombang 550 nm.Data absorbansi dianalisis menggunakan One Way Anova dan LSD. Hasil menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna (p= 0,000; p<0,05) antara obat kumur M. pendens dengan aquades dan Chlorhexidine gluconate 0,2%, serta terdapat penurunan rerata nilai indeks hidrofobisitas seiring dengan kenaikan konsentrasi, dengan konsentrasi 5% (Ab= 51,22%), 10% (Ab= 45,26%), 20% (Ab= 24,78%), dan 40% (Ab= 12,17%). Simpulan penelitian ini adalah ekstrak M. pendens sebagai sediaan obat kumur dapat menurunkan respon hidrofobisitas bakteri S. sanguinis.
Dental plaque is the caused gingivitis. Bacteria S. sanguinis has a strong hydrophobicity, so it can attachedfirmly to the tooth surface, it acts to mediate attachment of other bacteria. Tuber ant (M. pendens) is one of potential alternative natural materials as an antibacterial. The purpose of this study is to examine M. pendensextract concentration of 40%, 20%, 10%, 5% in the mouthwash that can reduce the response of the bacteria S. sanguinishydrophobicity. This research is an experimental laboratory with a post-test only control group design. The sample consisted of 21, divided into 7 treatment with repetition triplo, including control (+)Chlorhexidine gluconate0,2%, 4 concentrations of mouthwash formulations M. pendens, control (-) sterile distilled water, and blank (non extract mouthwash formulations). Extract preparation use macerationmethod, making mouthwash formulation, evaluation pH and stability, and then hydrophobicity test use UV-Vis spectrophotometry absorbance 550 nm. Absorbance data were analyzed use One Way Anova and LSD. Results showed that there is a significant difference p= 0,000 (p<0,05) between mouthwash M. pendens with distilled water and Chlorhexidine gluconate0,2%. There is a decrease in absorbance values from higher concentrations, at a concentration of 5% (Ab = 51.22%), 10% (Ab = 45.26%), 20% (Ab = 24.78%), and 40% (Ab = 12 , 17%).The conclusion of this study is extract of M. pendensin mouthwash can decrease the hydrophobicity of bacterial S. Sanguinis.
5033552266D1A022040HUBUNGAN MOTIVASI DAN ETOS KERJA DENGAN PENDAPATAN PETERNAK DOMBA SAKUB DI KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat motivasi dan etos kerja peternak serta menganalisis hubungan antara motivasi dan etos kerja dengan pendapatan peternak domba Sakub di Kabupaten Brebes. Penelitian dilaksanakan di Desa Pandansari Kecamatan Paguyangan dan Desa Wanareja Kecamatan Sirampog dengan jumlah responden sebanyak 110 peternak yang dipilih secara random sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan pendekatan kuantitatif. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi peternak berada pada kategori sedang (64,55%) dengan indikator kebutuhan fisiologis sebagai motivasi dominan. Etos kerja peternak berada pada kategori tinggi (57,27%) yang tercermin dari sikap disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras dalam menjalankan usaha ternak. Pendapatan peternak domba Sakub tergolong rendah, di mana 52,72% peternak memiliki pendapatan di bawah Rp18,057,292.92 per tahun atau Rp.1.504.774,41 per bulan. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa motivasi memiliki hubungan negatif sangat lemah (rs = 0,172), sedangkan etos kerja memiliki hubungan positif sangat lemah (rs = 0,017) terhadap pendapatan peternak. Kesimpulan penelitian ini adalah motivasi dan etos kerja peternak belum memiliki hubungan yang nyata terhadap pendapatan, yang dipengaruhi oleh kondisi usaha ternak sebagai usaha sampingan, skala usaha yang kecil, serta fluktuasi harga ternak yang menurun.
This study aims to determine the level of motivation and work ethic of farmers and to analyze the relationship between motivation and work ethic with the income of Sakub sheep farmers in Brebes Regency. The research was conducted in Pandansari Village, Paguyangan District, and Wanareja Village, Sirampog District, involving 110 respondents selected through random sampling. The research method used was a survey with a quantitative approach. Data were analyzed using descriptive analysis and the Spearman Rank correlation test. The results showed that farmers' motivation was in the moderate category (64.55%), with physiological needs as the dominant motivating factor. The work ethic of farmers was categorized as high (57.27%), reflected in discipline, responsibility, and hard work in managing livestock enterprises. The income of Sakub sheep farmers was relatively low, with 52.72% of farmers earning below Rp18,057,292.92 per year or Rp1,504,774.41 per month. The correlation analysis indicated that motivation had a very weak negative relationship (rs = 0.172), while work ethic had a very weak positive relationship (rs = 0.017) with farmers' income. The study concludes that motivation and work ethic do not have a significant relationship with farmers' income, which is influenced by livestock farming as a side business, small-scale operations, and declining livestock prices.

5033652267G1A022066PENGARUH NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER (NLC) EKSTRAK ETANOL SAMBILOTO (Andrographis paniculata) TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI GINJAL PADA MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA (CCl4)PENGARUH NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER (NLC) EKSTRAK ETANOL SAMBILOTO (Andrographis paniculata) TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI GINJAL PADA MENCIT YANG DIINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA (CCl4)
Shafa Hilyatunnissa1, Dody Novrial2, Dhadhang Wahyu Kurniawan3
1Program Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman
2Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman
3Departemen Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Jenderal Soedirman

Email: shafa.hilyatunnissa@mhs.unsoed.ac.id

ABSTRAK

Latar belakang: Gagal Ginjal Akut merupakan gangguan pada ginjal yang terjadi secara cepat dan singkat. Salah satu etiologi GGA akut adalah nefrotoksisitas. Senyawa kimia yang dapat memberikan efek toksik pada ginjal diantaranya adalah karbon tetraklorida (CCl4). Senyawa tersebut dapat mempengaruhi gambaran histopatologi ginjal melalui proses inflamasi. Sambiloto diketahui mempunyai beberapa efek farmakologis, seperti antidiabetes, antiinflamasi, antioksidan, dan antikanker. Namun, sambiloto mempunyai biovailabilitas yang rendah. Nanostructured Lipid Carrier (NLC) mempunyai struktur gabungan lipid yang dapat meningkatkan bioavailabiltas senyawa aktif.Tujuan: engetahui pengaruh pemberian Nanostructured Lipid Carrier (NLC) ekstrak etanol sambiloto (Andrographis paniculata) terhadap gambaran histopatologi ginjal pada mencit yang diinduksi karbon tetraklorida (CCl4).
Metode: Penelitian ini menggunakan mencit (Mus musculus) jantan strain Balb/C, usia 6 minggu, dan berat badan 20±4 gram. Penelitian ini terdiri dari empat kelompok, yakni kelompok A (kontrol sehat), kelompok B (kontrol sakit) diberikan induksi CCl4, kelompok C diberikan NLC dan ekstrak etanol sambiloto (EES), D diberikan EES saja, dan E diberikan NLC saja. Preparat ginjal mencit diamati menggunakan mikroskop cahaya pada 5 lapang pandang. Skoring histopatologi ginjal menggunakan skoring histologi Endotelial, Glomerulus, Tubulus, dan Interstisial (EGTI). Hasil: Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan pengaruh NLC ekstrak etanol sambiloto terhadap gambaran histopatologi ginjal yang signifikan secara statistik pada parameter tubulus (p=0,001), endotel (p=0,033), dan interstisial (p=0,009). Kesimpulan: NLC ekstrak etanol sambiloto dapat menurunkan kerusakan pada histopatologi ginjal akibat induksi CCl4

Kata kunci: ekstrak etanol sambiloto, histopatologi ginjal, karbon tetraklorida, NLC
THE EFFECT OF NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER (NLC) OF SAMBILOTO (Andrographis paniculata) ETHANOL EXTRACT ON KIDNEY HISTOPATHOLOGY IN MICE (Mus musculus) INDUCED BY CARBON TETRACHLOROIDE (CCl4)
Shafa Hilyatunnissa1, Dody Novrial2, Dhadhang Wahyu Kurniawan3
1Medical Education Program, Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University
2Department of Anatomical Pathology, Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University
3Department of Pharmacy, Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University

Email: shafa.hilyatunnissa@mhs.unsoed.ac.id
Background: Acute Renal Failure is a kidney disorder that occurs quickly and briefly. One of the etiologies of acute ARF is nephrotoxicity. Chemical compounds that can have toxic effects on the kidneys include carbon tetrachloride (CCl4). This compound can affect the histopathology of the kidneys through the inflammatory process. Sambiloto is known to have several pharmacological effects, such as antidiabetic, anti-inflammatory, antioxidant, and anticancer. However, sambiloto has low bioavailability. Nanostructured Lipid Carrier (NLC) has a lipid compound structure that can increase the bioavailability of active compounds. Object: Ddetermined the effect of administering Nanostructured Lipid Carrier (NLC) ethanol extract of sambiloto (Andrographis paniculata) on the histopathology of the kidneys in mice induced by carbon tetrachloride (CCl4). Methods: This study used male mice (Mus musculus) strain Balb/C, aged 6 weeks, and weighing 20±4 grams. This study consisted of four groups, namely group A (healthy control), group B (sick control) was given CCl4 induction, group C given NLC and bitter ethanol extract (EES), D given EES only, and E given NLC only. Mice kidney preparations were observed using a light microscope in 5 fields of view. Kidney histopathology scoring used Endothelial, Glomerular, Tubular, and Interstitial (EGTI) histology scoring. Results: The results of the Kruskal Wallis test showed a statistically significant effect of NLC of sambiloto ethanol extract on the histopathological features of the kidneys in tubular (p=0.001), endothelial (p=0.033), and interstitial (p=0.009) parameters. Conclusion: NLC ethanol extract of sambiloto can reduce damage to kidney histopathology due to CCl4 induction.

Keywords: ethanol extract of sambiloto, kidney histopathology, carbon tetrachloride, NLC,
5033752273C1A022054Pengaruh Investasi, Kurs Rupiah, Inflasi Dalam Negeri, dan Indeks Produksi Industri terhadap Nilai Ekspor Pakaian Jadi Indonesia ke Amerika Serikat
Ekspor pakaian jadi merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang berperan penting dalam meningkatkan devisa negara, khususnya ke Amerika Serikat sebagai pasar utama. Namun, kinerja ekspor pakaian jadi masih mengalami fluktuasi yang dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi dan kinerja sektor industri domestik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh investasi sektor industri tekstil, nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat, inflasi dalam negeri, dan Indeks Produksi Industri terhadap nilai ekspor pakaian jadi Indonesia ke Amerika Serikat dalam jangka pendek dan jangka panjang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Autoregressive Distributed Lag (ARDL) menggunakan data time series bulanan periode 2022–2024 yang bersumber dari Badan Pusat Statistik dan instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa investasi sektor industri tekstil berpengaruh negatif dan tidak signifikan, nilai tukar rupiah berpengaruh negatif dan signifikan dalam jangka pendek namun tidak signifikan dalam jangka panjang, inflasi berpengaruh negatif namun tidak signifikan, sedangkan Indeks Produksi Industri berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai ekspor pakaian jadi Indonesia. Temuan ini menunjukkan pentingnya penguatan kinerja sektor industri, peningkatan produktivitas, serta stabilitas kondisi makroekonomi untuk mendukung keberlanjutan ekspor pakaian jadi Indonesia ke Amerika Serikat.Garment exports are one of Indonesia’s leading commodities that play an important role in increasing foreign exchange earnings, particularly to the United States as the main export destination. However, the performance of garment exports still experiences fluctuations influenced by macroeconomic conditions and domestic industrial performance. This study aims to analyze the effect of textile industry investment, the rupiah exchange rate against the US dollar, domestic inflation, and the Industrial Production Index on Indonesia’s garment exports to the United States in both the short and long run. This research employs a quantitative approach using the Autoregressive Distributed Lag (ARDL) method with monthly time series data for the period 2022–2024 obtained from Statistics Indonesia and related institutions. The results show that textile industry investment has a negative and insignificant effect, the exchange rate has a negative and significant effect in the short run but insignificant in the long run, inflation has a negative but insignificant effect, while the Industrial Production Index has a positive and significant effect on Indonesia’s garment exports. These findings highlight the importance of strengthening industrial performance, improving productivity, and maintaining macroeconomic stability to support the sustainability of Indonesia’s garment exports to the United States.
5033852291H1D022061PEMODELAN PENILAIAN ESAI OTOMATIS BAHASA INDONESIA MENGGUNAKAN INDOBERT DAN ARSITEKTUR BILSTM–ATTENTIONProses penilaian esai secara manual kerap membutuhkan waktu yang lama dan memiliki kerentanan terhadap bias subjektivitas penilai. Di sisi lain, upaya pengembangan Automated Essay Scoring (AES) untuk bahasa Indonesia masih terkendala oleh minimnya korpus berlabel serta tingginya kompleksitas linguistik yang khas. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan merancang sekaligus mengevaluasi keandalan model AES berbahasa Indonesia. Pendekatan yang diusulkan adalah arsitektur hibrida yang mengintegrasikan IndoBERT, Bidirectional Long Short-Term Memory (BiLSTM), dan mekanisme Self-Attention. Proses pelatihan dan pengujian model memanfaatkan dataset PERSUADE 2.0 yang telah dialihbahasakan secara presisi ke dalam bahasa Indonesia menggunakan arsitektur machine translation NLLB-200. Pada tahap pelatihan, penelitian ini mengimplementasikan fungsi Weighted Smooth L1 Loss guna memitigasi masalah ketimpangan kelas. Langkah tersebut kemudian dipadukan dengan teknik optimasi ambang batas berbasis Nelder-Mead untuk memetakan prediksi regresi yang bersifat kontinu ke dalam ruang ordinal. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa integrasi arsitektur IndoBERT-BiLSTM-Attention mampu menghasilkan performa yang optimal. Kinerja ini dibuktikan dengan perolehan metrik Quadratic Weighted Kappa (QWK) sebesar 0,8508, Exact Accuracy sebesar 63,27%, dan Mean Absolute Error (MAE) sebesar 0,4277. Selain itu, metode kalibrasi kelas yang diaplikasikan terbukti krusial dalam meningkatkan presisi pada kelompok skor minoritas ekstrem hingga mencapai 18,37%. Peningkatan tersebut didukung oleh tingkat stabilitas kinerja yang telah divalidasi menggunakan Bootstrap Confidence Intervals 95% pada rentang nilai [0,8426; 0,8586]. Temuan dari penelitian ini memberikan kontribusi metodologis yang signifikan terhadap kemajuan sistem AES berbahasa Indonesia. Model yang dikembangkan memiliki potensi untuk diimplementasikan sebagai instrumen penunjang evaluasi pendidikan yang lebih efisien, terukur, dan objektif.Manual essay grading is inherently time-consuming and highly susceptible to subjective evaluator bias. The development of Automated Essay Scoring (AES) systems for the Indonesian language, however, remains constrained by a scarcity of labeled corpora and unique linguistic complexities. To address these limitations, this study designs and evaluates a robust Indonesian AES model employing a hybrid architecture that integrates IndoBERT, Bidirectional Long Short-Term Memory (BiLSTM), and a Self-Attention mechanism. The model was trained and evaluated using the PERSUADE 2.0 dataset, which was precisely translated into Indonesian utilizing the NLLB-200 machine translation architecture. To mitigate class imbalance during the training phase, a Weighted Smooth L1 Loss function was implemented. This approach was subsequently combined with a Nelder-Mead threshold optimization technique to effectively map continuous regression predictions into an ordinal space. Empirical evaluations demonstrate that the integrated IndoBERT-BiLSTM-Attention architecture achieves optimal performance, yielding a Quadratic Weighted Kappa (QWK) of 0.8508, an Exact Accuracy of 63.27%, and a Mean Absolute Error (MAE) of 0.4277. Furthermore, the applied class calibration method proved critical in enhancing precision within extreme minority score groups by up to 18.37%. This improvement is corroborated by a high degree of performance stability, validated through 95% Bootstrap Confidence Intervals within the [0.8426, 0.8586] range. These findings offer a significant methodological contribution to the advancement of Indonesian AES systems, positioning the developed model as a highly efficient, scalable, and objective instrument for educational assessment.
5033952272D1A022073PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK BUNGA KECOMBRANG (ETLINGERA ELATIOR) DAN LAMA PEMERAMAN TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN SENSORIS KEJU SUSU SAPIPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan ekstrak bunga kecombrang
(Etlingera elatior) dan lama pemeraman terhadap karakteristik fisikokimia dan sensoris keju
susu sapi, serta menentukan kombinasi perlakuan terbaik. Penelitian dilaksanakan secara
eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan dua
faktor, yaitu lama pemeraman (0, 3, dan 5 hari) dan konsentrasi ekstrak bunga kecombrang
(2,5%, 5%, dan 7,5%). Setiap perlakuan diulang tiga kali sehingga diperoleh 27 unit
percobaan. Parameter yang diamati meliputi karakteristik fisikokimia (pH, kadar air, kadar
abu, kadar protein, kadar lemak, rendemen, dan warna) serta karakteristik sensoris (warna,
aroma, tekstur, dan rasa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak bunga
kecombrang dan lama pemeraman memberikan pengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap
beberapa parameter fisikokimia keju susu sapi. Peningkatan konsentrasi ekstrak bunga
kecombrang dan lamanya pemeraman cenderung menurunkan nilai pH dan kadar air keju.
Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kondisi asam dan aktivitas proteolitik yang
mendorong keluarnya whey dari matriks curd. Kadar abu menunjukkan kecenderungan
meningkat seiring penambahan ekstrak bunga kecombrang yang mengindikasikan
peningkatan kandungan mineral pada keju. Sebaliknya, rendemen keju cenderung menurun
pada perlakuan dengan konsentrasi ekstrak dan lama pemeraman yang lebih tinggi akibat
meningkatnya sineresis. Pengujian sensoris menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan
berpengaruh terhadap tingkat kesukaan panelis. Keju dengan perlakuan penambahan
ekstrak bunga kecombrang 5% dan 7,5% dengan pemeraman 3 hari, serta ekstrak bunga
kecombrang 2,5% dengan pemeraman 5 hari menghasilkan karakteristik warna, aroma,
tekstur, dan rasa yang lebih disukai. Secara umum, penelitian ini menunjukkan bahwa
ekstrak bunga kecombrang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan tambahan alami dalam
pembuatan keju untuk meningkatkan karakteristik produk.
This study aimed to evaluate the effect of torch ginger (Etlingera elatior) extract addition
and ripening time on the physicochemical and sensory characteristics of cow’s milk cheese,
as well as to determine the best treatment combination. The experiment was conducted
using a Completely Randomized Design (CRD) with a factorial pattern consisting of two
factors: ripening time (0, 3, and 5 days) and torch ginger extract concentration (2.5%, 5%,
and 7.5%). Each treatment was replicated three times, resulting in 27 experimental units.
Observed parameters included physicochemical characteristics (pH, moisture content, ash
content, protein content, fat content, yield, and color) and sensory characteristics (color,
aroma, texture, and taste). The results showed that the addition of torch ginger extract and
ripening time had a highly significant effect (p<0.01) on several physicochemical parameters
of cow’s milk cheese. Increasing the concentration of torch ginger extract and extending the
ripening period tended to decrease the pH value and moisture content of the cheese. This
condition was associated with increased acidity and proteolytic activity, which promoted
whey expulsion from the curd matrix. Ash content tended to increase with higher levels of
torch ginger extract, indicating an increase in mineral content in the cheese. Conversely,
cheese yield tended to decrease at higher extract concentrations and longer ripening times
due to enhanced syneresis. Sensory evaluation indicated that treatment combinations
significantly influenced panelists’ preferences. Certain treatments produced more favorable
color, aroma, texture, and taste attributes. Overall, the findings suggest that torch ginger
extract has strong potential as a natural additive in cheese making to improve product
characteristics and add functional value.
5034052274C1C022015Faktor-Faktor yang Memengaruhi Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah (Studi Empiris Pada Aparatur Pemerintah Kabupaten Cilacap)
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kompetensi sumber daya manusia, integritas aparatur, penerapan Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP), dan pemanfaatan Sistem Informasi Pemerintah Daerah (SIPD) terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan kausalitas. Unit analisis penelitian adalah organisasi, yaitu Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Cilacap sebanyak 28 OPD. Data diperoleh melalui kuesioner yang diisi oleh 84 aparatur, kemudian dirata-ratakan untuk mewakili setiap OPD. Analisis data menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan SPSS 29. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integritas aparatur berpengaruh positif terhadap akuntabilitas. Kompetensi sumber daya manusia dan penerapan SPIP tidak berpengaruh terhadap akuntabilitas. Sementara itu, pemanfaatan SIPD berpengaruh negatif terhadap akuntabilitas. Penelitian ini menunjukkan bahwa akuntabilitas lebih dipengaruhi oleh perilaku aparatur dibandingkan sistem dan kemampuan teknis.

This study aims to examine the effect of human resource competence, apparatus integrity, implementation of the Government Internal Control System (SPIP), and the use of the Regional Government Information System (SIPD) on regional financial accountability. This study uses a quantitative method with a causal approach. The unit of analysis is organizational, namely 28 Regional Government Organizations (OPD) in Cilacap Regency. Data were collected through questionnaires and averaged to represent each OPD. Data were analyzed using multiple linear regression. The results show that apparatus integrity has a positive effect on accountability. Human resource competence and SPIP implementation have no effect on accountability. Meanwhile, SIPD utilization has a negative effect on accountability. This study shows that accountability at the organizational level is more influenced by behavioral factors than by systems and technical capabilities.