| NIM | F1A020111 |
| Namamhs | MUFIDZATUL ASYIFA |
| Judul Artikel | AKULTURASI TRADISI “NJENENGI” DAN AKIKAH DI DESA KARANGNANGKA KECAMATAN KEDUNGBANTENG KABUPATEN BANYUMAS |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Tradisi njenengi dan akikah memiliki keterkaitan erat dalam kehidupan masyarakat Muslim Indonesia, khususnya di Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Pemberian nama tidak hanya berfungsi sebagai identitas, tetapi juga merepresentasikan harapan dan nilai-nilai keluarga. Penelitian ini bertujuan mengkaji proses akulturasi antara tradisi njenengi sebagai budaya lokal Jawa dan praktik akikah sebagai ajaran Islam yang dilaksanakan secara bersamaan dalam prosesi kelahiran. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi non-partisipatif, dan dokumentasi. Informan meliputi tokoh masyarakat, tokoh agama, dukun bayi, serta orang tua yang melaksanakan kedua tradisi tersebut. Analisis data dilakukan melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan uji keabsahan menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akulturasi berlangsung melalui strategi integrasi budaya, di mana unsur adat seperti bubur merah putih dan peran dukun bayi tetap dipertahankan, tetapi dimaknai ulang agar selaras dengan nilai-nilai Islam. Pelaksanaan kedua tradisi dalam satu rangkaian prosesi menjadi wujud syukur, doa, serta penguatan solidaritas sosial masyarakat. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | The njenengi tradition and the practice of aqiqah are closely intertwined in the lives of Indonesian Muslim communities, particularly in Karangnangka Village, Kedungbanteng District, Banyumas Regency. Naming a child functions not only as a marker of identity but also as an expression of familial hopes and values. This study aims to examine the process of acculturation between the njenengi tradition as a local Javanese culture and aqiqah as an Islamic practice, both of which are performed together in a single birth ceremony. This research employs a qualitative approach, utilizing in-depth interviews, non-participant observation, and documentation as data collection techniques. Informants include community leaders, religious leaders, traditional birth attendants, and parents who perform both traditions. Data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing, with source triangulation to ensure validity. The findings reveal that acculturation occurs through a strategy of cultural integration, in which traditional elements such as red-and-white porridge and the role of traditional birth attendants are maintained but reinterpreted to align with Islamic values. The combined implementation of both traditions represents gratitude, prayer, and the strengthening of social solidarity within the community. |
| Kata kunci | Akulturasi, Tradisi Njenengi, Akikah, Budaya Jawa, Islam, Desa Karangnangka |
| Pembimbing 1 | Dr. Elis Puspitasari, M.Si. |
| Pembimbing 2 | Niken Paramarti Dasuki, M.Si. |
| Pembimbing 3 | Agung Kurniawan S.Pd., M.Si. |
| Tahun | 2026 |
| Jumlah Halaman | 15 |
| Tgl. Entri | 2026-02-14 19:48:49.930097 |
|---|