Home
Login.
Artikelilmiahs
48064
Update
ZULFA FARIDA
NIM
Judul Artikel
Analisis Autokorelasi Spasial Kejadian Diabetes Melitus di Kabupaten Banyumas Tahun 2024
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Latar Belakang: Kasus DM (Diabetes Melitus) di Kabupaten Banyumas pada tahun 2024 mencapai 21.580 kasus dan mengalami peningkatan di beberapa kecamatan dibandingkan tahun 2023. Tingginya angka kejadian DM memerlukan analisis autokorelasi spasial untuk mengetahui hubungan antara faktor agen, lingkungan, dan fasilitas kesehatan dengan kejadian DM berdasarkan wilayah yang diamati sehingga dapat membantu dalam menentukan kebijakan dan intervensi pencegahan DM bagi pemangku kepentingan terkait. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional dengan pendekatan studi ekologi. Sampel penelitian menggunakan total populasi dari 27 kecamatan di Kabupaten Banyumas. Analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dengan penyajian peta kuantil tematik dan analisis statistik inferensial dengan analisis bivariat Global Moran's dan LISA menggunakan aplikasi GeoDa. berdasarkan variabel merokok. Hasil: Hasil analisis spasial Global Moran's menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai variabel obesitas, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak seimbang, pendidikan rendah, dan ekonomi lemah, maka semakin tinggi pula angka kejadian DM di Kabupaten Banyumas. Kemudian, hasil analisis LISA menunjukkan bahwa di Kecamatan Pekuncen dan Kecamatan Purwojati terbentuk hotspot pada variabel merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak seimbang, ekonomi lemah, pendidikan rendah, usia ≥40 tahun, dan daerah perkotaan. Kesimpulan: Hotspot DM terbentuk di Kecamatan Pekuncen berdasarkan variabel merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak seimbang, ekonomi lemah, usia ≥40 tahun, dan wilayah perkotaan. Selain itu, hotspot DM juga terbentuk di Kecamatan Purwojati berdasarkan variabel merokok.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Background: DM (Diabetes Mellitus) cases in Banyumas Regency in 2024 reached 21,580 cases and increased in several sub-districts compared to 2023. The high rate of DM requires spatial autocorrelation analysis to determine the relationship between agent, environment, and health facility factors with DM incidence based on the observed area so that it can assist in determining DM prevention policies and interventions for relevant stakeholders. Methods: This study used observational research with an ecological study approach. The research sample used the total population of 27 sub-districts in Banyumas Regency. The data analysis used was descriptive statistical analysis with the presentation of thematic quantile maps and inferential statistical analysis with bivariate analysis of Global Moran's and LISA using the GeoDa. Results: The results of the Global Moran's spatial analysis showed that the higher the value of the variables obesity, lack of physical activity, unbalanced diet, low education, and weak economy, the higher the incidence of DM in Banyumas Regency. Then, the results of the LISA analysis show that in Pekuncen Subdistrict and Purwojati Subdistrict, hotspots are formed on the variables of smoking, lack of physical activity, unbalanced diet, weak economy, low education, age ≥40 years, and urban areas. Conclusion: DM hotspots were formed in Pekuncen Sub-district based on the variables of smoking, physical inactivity, unbalanced diet, economic deprivation, age ≥40 years, and urban area. In addition, DM hotspots were also formed in Purwojati Sub-district based on smoking variables.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save