Artikel Ilmiah : A1G011009 a.n. YUSUF ANDRI PUSPITA
| NIM | A1G011009 |
|---|---|
| Namamhs | YUSUF ANDRI PUSPITA |
| Judul Artikel | ’’Analisis Komparatif Finansial antara Sistem SLPHT Dengan Konvensional Pada Usahatani Kentang ( Studi Kasus Di Dusun Bambangan Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga) |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Kentang (Solanum ruberosum L) merupakan tanaman pangan yang bernilai ekonomi tinggi yang dapat mendatangkan keuntungan bagi pengusaha industri makanan olahan, pedagang, dan petani yang membudidayakan. Salah satu wilayah yang cocok untuk pengembangan usahatani sayuran di Kabupaten Purbalingga adalah Dusun Bambangan Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja. Produktivitas kentang di wilayah tersebut rata-rata sebesar 187,68 kuintal per hektar. Luas panen sebesar 202 hektar dan total produksi kentang sebanyak 3791,10 ton selama 1 musim tanam. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan besarnya biaya usahatani, penerimaan usahatani, dan keuntungan usahatani kentang antara sistem SLPHT dengan konvensional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September – Oktober 2013 di Dusun Bambangan Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja, dengan menggunakan rancangan Stratified Random Sampling,di dapat 32 (16 petani sistem SLPHT yaitu strata I 4, strata II 4, strata III 8 sedangkan 16 petani sistem konvensional yaitu strata I 6, strata II 5, strata III 5 ) dari 160 petani. Metode analisis yang digunakan adalah analisis biaya dan pendapatan, analisis kelayakan usahatani, dan analisis varians dengan uji beda t. Hasil penelitian menunjukan bahwa : Besarnya biaya rata-rata pada usahatani kentang sistem SLPHT sebesar Rp54.898.653,00, sedangkan pada usahatani sistem konvensional sebesar Rp48.414.814,00. Biaya usahatani kentang pada system SLPHT lebih besar 1,1 kali dari pada sistem konvensional. Besarnya Penerimaan rata-rata pada usahatani kentang sistem SLPHT sebesar Rp86.016.139,00, sedangkan pada usahatani sistem konvensional Rp94.906.581,00. Penerimaan usahatani kentang pada sistem SLPHT lebih kecil 1,2 kali dari pada sistem konvensional. Besarnya keuntungan rata-rata pada usahatani kentang sistem SLPHT sebesar Rp31.117.486,00, sedangkan pada usahatani sistem konvensional Rp46.491.767,00. Keuntungan usahatani kentang pada sistem konvensional lebih besar 1,2 kali dari pada sistem SLPHT. Dilihat dari segi ekonomi usahatani kentang sistem konvensional lebih menguntungkan akan tetapi sistem SLPHT sangat memberikan dampak yang positif pada usahatani ketang karena sistem SLPHT program dimana mengurangi dapak dari penggunaan pestisida yang berlebih. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Potato (Solanum tuberosum L) is crops of high economic value that can be profitable for the processed food industry entrepreneurs, merchants, and farmers cultivate. One of the areas suitable for the development of vegetable farming in Purbalingga is Hamlet Village Bambangan Kutabawa District of Karangreja. The products of potato in this region by the average are 187.68 quintals per hectare. The area of Harvested are 202 hectares and the total production of potatoes as much as 3791.10 tons during the first growing season. The purpose of this study was to compare the cost of farming, farm receipts, and farm profits potatoes between SLPHT with the conventional system. This research was conducted in September - October 2013 in the hamlet Bambangan Village Kutabawa District of Karangreja, using design Stratified Random Sampling, on may 32 (16 farmers system SLPHT that strata I 4, strata II 4, stratum III 8 and 16 farmers conventional system that is I 6 strata, strata II 5, stratum III 5) of 160 farmers. The analytical method used is the analysis of costs and revenues, farming feasibility analysis, and analysis of variance to test different. The results showed that: The cost of the average potato farm SLPHT system for Rp 54.898.653, 00, whereas in conventional farming systems for Rp 48.414.814, 00. Cost of potato farming in the SLPHT system 1.1 times greater than in conventional systems. Reception is average magnitude in potato farming SLPHT system for Rp86.016.139, 00, whereas in conventional systems Rp 94.906.581, 00 farming. Potato farm receipts in the SLPHT system 1.2 times smaller than conventional systems. The amount of the average profit on a potato farm SLPHT system are Rp 31.117.486, 00, whereas in conventional systems are Rp 46.491.767, 00 farming. Advantages of potato farming in the conventional system are 1.2 times greater than the SLPHT system. Seen from an economic point of potato farming more profitable conventional system but the system SLPHT very positive impact on farm tight because the system SLPHT program which reduces the impact of excessive pesticide use. |
| Kata kunci | Usahatani Kentang, Sistem SLPHT, Sistem Konvensional |
| Pembimbing 1 | Dr.Ir.Teguh Djuharyanto,MP |
| Pembimbing 2 | Ir.Hj.Endang Sriningsih,MP |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2015 |
| Jumlah Halaman | 15 |
| Tgl. Entri | 2015-11-15 21:14:35.71803 |