Artikelilmiahs

Menampilkan 24.401-24.420 dari 50.309 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
2440128689D1A015090Kesiapan Peternak Kambing Di Kabupaten Banyumas Menghadapi Revolusi Industri 4.0Era revolusi industri 4.0 yang sedang berlangsung saat ini perlu disikapi dan disikapi peternak kambing dengan baik supaya peternak dapat supaya dapat pempersiapakan strategi usaha peternakan kambing menghadapi industri 4.0. Penelitian bertujuan untuk menganalisis perternak kambing di Kabupaten Banyumas yang dilihat dari revolusi digital (Pilar infrastruktur, Pilar keterjangkauan, dan Pilar skill). Penetapan sampel wilayah dilakukan dengan metode purposive sampling yaitu dengan mengambil Kecamatan Baturaden, Kecamatan Karanglewas, dan Kecamatan Kalibagor. Setiap Kecamatan terpilih diambil satu desa secara acak yaitu Desa Suro, Desa Karangsalam, dan Desa Tamansari. Selanjutnya dari desa terpilih diambil responden menggunakan rumus Slovin, total responden berjumlah 78 peternak. Analisis yang digunakan yaitu Analisis Deskriptif, Readiness Subindex dan SWOT. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Peternak kambing di kabupaten Banyumas mayoritas tidak siap menghadapi revolusi industi 4.0 yaitu 92,31%. The era of the industrial revolution 4.0 that is taking place at this time needs to be addressed and addressed by goat breeders properly so that breeders can be able to prepare their goat breeding business strategies facing industry 4.0. The research aims to analyze the goat farmers in Banyumas Regency as seen from the digital revolution (infrastructure pillars, pillars of affordability, and skills pillars). Determination of the sample area is done by purposive sampling method, namely by taking Baturaden District, Karanglewas District, and Kalibagor District. Each village was chosen one village at random, namely Suro Village, Karangsalam Village, and Tamansari Village. Furthermore, from the selected villages respondents were taken using the Slovin formula, a total of 78 respondents were farmers. The analysis used is Descriptive Analysis, Readiness Subindex and SWOT. The results of this study indicate that the majority of goat breeders in Banyumas district are not ready to face the industrial revolution 4.0 which is 92.31%.
2440227456F1A014011Mengungkap Kehidupan Pria Penata Rias di PurwokertoArtikel ini mendeskripsikan kehidupan pria penata rias yang jarang diketahui masyarakat. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hal-hal yang melatarbelakangi seorang pria bekerja sebagai penata rias dan cara mereka memposisikan dirinya di tengah keluarga dan masyarakat, serta mengetahui identitas gender, ekspresi gender, dan orientasi seksual pria penata rias di Purwokerto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa informan bekerja sebagai penata rias karena ia memiliki bakat dan passion di bidang tersebut, adanya dorongan dari masyarakat sekitar, serta adanya peluang bisnis pada bidang tata rias. Pria penata rias memposisikan dirinya di tengah keluarga dan masyarakat antara lain sebagai pekerja seni, tukang make up, dan tulang punggung keluarga. Disamping itu, dua dari tiga informan mengidentifikasi diri sebagai waria, dan informan lainnya mengidentifikasi dirinya sebagai sosok yang maskulin. Adapun kehidupan pria penata rias di Purwokerto memiliki front stage dan back stage dimana mereka harus berpenampilan sesuai dengan tuntutan masyarakat, namun mereka lebih menyukai berpenampilan feminim.This article described make up men’s life which is known by public rarely. The main of this research is to find out things that underlie a man works as make up men, and to find out the way they position themselves between their family and public. Also, to find out their gender identities, gender expressions, and sexual orientation. The results of this research showing that some informant works as make up men cause he has skill and passions at those fields, there are support from other people, and there are business opportunities. The make up men position themselves between their family and community as an artworkers, make up artist, and a breadwinner. Besides that, two of three informant indentified themselves as a shemale, and others informant indentified himself as a masculine person. The informant has a front stage and back stage which is they must look according to communities claim, but actually they more comfortable with feminim looks.
2440327457F1A014046MOTIF MAHASISWA UNSOED MENGUNGGAH KONTEN AGAMA MELALUI INSTAGRAMArtikel ini mendeskripsikan motif mahasiswa Unsoed mengunggah konten agama melalui Instagram. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Lokasi penelitian di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto dengan informan mahasiswa Unsoed yang aktif mengunggah konten agama melalui Instagram, mahasiswa pengguna Instagram secara umum dan dosen. Teknik pengumpulan data penelitian dengan menggunakan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Validasi data yang digunakan adalah triangulasi sumber. Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat dua motif yang melekat pada tindakan mahasiswa yang menunggah konten-konten agama melalui Instagram, yaitu because motif dan in order motif. Because motif atau alasan yang melatarbelakangi mahasiswa mengunggah konten agama melalui Instagram adalah karena keikutsertaan mahasiswa dalam lembaga dakwah fakultas dan organisasi-organisasi Islam, rutin mengikuti kajian keagamaan, dan mengikuti akun-akun dakwah yang dijadikan sebagai rujukan dalam mengunggah konten agama di Instagram. Sementara in order motif atau tujuan yang ingin dicapai dari tindakan mahasiswa membagikan konten agama melalui Instagram yaitu untuk memberikan pemahaman mengenai agama Islam, memberikan motivasi, dan memanfaatkan Instagram sebagai media untuk berdakwah bagi para mahasiswa.This article is describing the motives of Unsoed students shared religious content via Instagram. This study used qualitative research method. The location of the research was in Jenderal Soedirman University (Unsoed) Purwokerto with research informant namely Unsoed students who shared religious content via Instagram, Unsoed Students uses Instagram and teacher. Reseaech data colletion techniques using interviews, observation and documentation. The data validation used is source triangulation. Data analysis techniques used interactive analysis. The result of this research suggest that there are two motives attached to the actions of Unsoed students shared the religious content via Instagram wich is because motive and in order motive. Because motive or reason behind the Unsoed student shared religious content via Instagram are participation of the Unsoed student in the faculty of islamic institution and Islamic organization, usually following religious studies and follow dakwah accounts for references to shared religious content via Instagram. While in order motive or the purpose of Unsoed students shared religious content via Instagram was to give understanding of religion, to provide motivation and use Instagram as a media to preach for students.
2440427458A1D015148RESPON PERTUMBUHAN TIGA VARIETAS SELADA (Lactuca sativa L.) TERHADAP NILAI ELECTRICAL CONDUCTIVITY (EC) PADA SISTEM HIDROPONIK RAKIT APUNGPenelitian bertujuan untuk mengetahui varietas selada terbaik, mengetahui pengaruh nilai EC terhadap pertumbuhan selada, dan pengaruh pertumbuhan dan produksi tiga varietas selada terhadap variasi nilai EC yang digunakan dalam sistem hidroponik rakit apung. Penelitian dilaksanakan di screenhouse Pondok Pesantren Darul Qur’an Desa Karangtengah Kecamatan Baturraden. Penelitian dimulai pada bulan November 2018 sampai Januari 2019. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan petak terbagi (split plot design) dengan dasar rancangan acak kelompok atas dua faktor. Faktor pertama adalah variasi nilai EC yang terdiri dari tiga taraf perlakuan sebagai mainplot, sedangkan faktor kedua adalah varietas selada yang terdiri dari tiga taraf perlakuan sebagai subplot. Nilai EC terdiri dari tiga macam yaitu E1 = 2,5 mS/cm, E2 = 3,5 mS/cm dan E3 = 4,5 mS/cm serta varietas terdiri dari tiga taraf yaitu V1 = Kriebo, V2 = Crish Green dan V3 = New Grand Rapid. Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar terpanjang, volume akar, bobot tanaman segar, bobot tajuk segar, bobot akar segar, luas daun dan kandungan klorofil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas terbaik terdapat pada varietas Chris Green. Pengaruh nilai EC terbaik terdapat pada taraf nila EC 4,5 mS/cm. Kombinasi perlakuan nilai EC dan varietas terbaik pada perlakauan E3V5, E3 dengan nilai EC 4,5 mS/cm dan V5 adalah varietas Chris Green.The aim of this research is to: (1) find out the best lettuce varieties used the floating hydroponic system, (2) know the influence the EC value on lettuce growth planted with the floating hydroponic system, and (3) know the influence of Growth and production of three varieties of lettuce to variations in the EC value of a floating hydroponic system. Research conducted in Screenhouse of Pondok Pesantren Darul Qur'an Village Karangtengah District Baturraden. The research began in November 2018 to January 2019. The design used in the study was a splitplot design with a basis for the group's randomized two-factor designs. The first factor is a variation of the EC value consisting of three levels of treatment as the mainplot, while the second factor is a lettuce variety consisting of three levels of treatment as a subplot. The value of EC consists of three kinds of E1 = 2.5 mS/cm, E2 = 3.5 mS/cm and E3 = 4.5 mS/cm as well as varieties consisting of three levels namely V4 = Kriebo, V5 = Chris Green and V6 = New Grand Rapid. The variables observed in this study were plant height, leaf number, longest root length, root volume, fresh plant weight, fresh canopy weight, fresh root weight, leaf area, and chlorophyll content. The results showed that Chris Green is best in the varieties. The best value of EC was 4.5 mS/cm. The combination of EC value treatment and the best variety on E3V5, E3 with EC value of 4.5 mS/cm and V5 are varieties of Chris Green.
2440528900D1E014279Hubungan Antara Waktu Tempuh Terhadap Penyusutan Bobot Badan Sapi Bali dan Analisis Usaha di CV. Lembusari FarmPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan waktu tempuh yang berbeda dengan penyusutan bobot badan sapi Bali dan menghitung kerugian yang terjadi akibat penyusutan bobot badan sapi Bali. Materi yang digunakan adalah sapi bali sebanyak 75 ekor dengan rentang waktu tempuh 3 kategori yaitu, 21-30 jam waktu tempuh, 31-40 jam waktu tempuh dan 41-50 jam waktu tempuh. Metode penelitian ini menggunakan metode survei dengan penetapan sempel secara stratified random sampling. Analisis data menggunakan analisis regresi sederhana. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan analisis koefisien korelasi menunjukkan bahwa adanya hubungan yang nyata antara waktu tempuh terhadap penyusutan bobot badan sebesar 0,311. Hasil dari penelitian menunjukan koefisien korelasi waktu tempuh dengan kerugian sebesar 0,298. Penambahan 1 jam waktu tempuh berpengaruh terhadap penyusutan bobot badan sebanyak 0,418 kg dan berpengaruh terhadap kerugian sebanyak Rp 17.252,00.
This study aims to study the relationship between different travel times with Bali cattle body weight loss and calculate the losses that occur due to Bali cattle body weight loss. The material used is 75 Bali cattle with a range of 3 categories, namely 21-30 hours of travel time, 31-40 hours of travel time and 41-50 hours of travel time. This research method uses a survey method with stratified random sampling. Data analysis uses simple regression analysis. Based on the results of research using correlation coefficient analysis shows that there is a real relationship between travel time to body weight loss of 0.311. The results of the study showed a correlation coefficient of travel time with a loss of 0.298. The addition of 1 hour travel time affects the weight loss of 0.418 kg and affects the loss of Rp. 17,252.00.
2440627367A1D115001PENGKAJIAN POPULASI HAMA Scirpophaga incertulas DAN MUSUH ALAMINYA PADA APLIKASI METABOLIT SEKUNDER JAMUR ENTOMOPATOGEN DI SISTEM BUDIDAYA PADI KONVENSIONAL, ORGANIK DAN SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi metabolit sekunder jamur entomopatogen di dalam teknik budidaya terhadap 1) populasi 2) intensitas dan 3) populasi musuh alami hama penggerek batang padi kuning . Penelitian ini dilaksanakan di lahan sawah Desa Brobot, Bojongsari, Purbalingga, pada bulan Maret 2019 sampai Juli 2019. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan rancangan petak tersarang dimana teknik budidaya sebagai sarang dan metabolit sekunder yang tersarang. Perlakuan yang digunakan adalah insektisida di sistem budidaya konvensional , isolat Cipete di sistem budidaya SRI, isolat Papringan di sistem budidaya SRI, isolat Pasir Kulon di sistem budidaya SRI, isolat Kalisalak di sistem budidaya SRI, isolat Cipete di sistem budidaya Organik, isolat Papringan di sistem budidaya Organik, isolat Pasir Kulon di sistem budidaya Organik, isolat Kalisalak di sistem budidaya Organik. Variabel pengamatan yang diamati adalah populasi hama, jumlah kelompok telur, intensitas serangan, dan populasi musuh alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Aplikasi metabolit sekunder jamur entomopatogen Isolat Pasir kulon di teknik budidaya SRI dan Isolat Ciepete di teknik budidaya Organik dimana tidak ditemukan populasi penggerek batang padi kuning pada setiap pengamatan; 2) Populasi hama penggerek batang padi kuning tertinggi pada perlakuan dengan pestisida kimia yang tersarang di dalam teknik budidaya konvensional sebesar 0,30 imago/rumpun; 3) Aplikasi metabolit sekunder jamur entomopatogen Isolat Ciepete di teknik budidaya SRI mampu menekan intensitas serangan penggerek batang padi kuning dimana perlakuan tersebut tidak ditemukan kerusakan akibat serangan hama PBPK; 4) Aplikasi metabolit sekunder jamur entomopatogen di teknik budidaya SRI maupun Organik tidak mempengaruhi populasi musuh alami.This research was aimed for knowing the effect of secondary metabolites entomopathogenic fungi in cultivation system on 1) population, 2) intensity of the attack, and 3) population of natural enemy of yellow stem borer (Scirpophaga incertulas). This research was conducted in the rice fields of Brobot Village, Bojongsari, Purbalingga, Central Java from March 2019 to July 2019. This research was conducted using non factorial nest plot design where cultivation technique as nest and secondary metabolite that are nest in cultivation technique. The treatment used is a conventional insecticide (P0(T1)), isolat Cipete in SRI cultivation system (P1(T2)), isolat Papringan in SRI cultivation system (P2(T2)), isolat Pasir Kulon in SRI cultivation system (P3(T2)), isolat Kalisalak in SRI cultivation system (P4(T2)), isolat Cipete in organic cultivation system (P1 (T3)), isolat Papringan in organic cultivation system (P2(T3)), isolat Pasir Kulon in organic cultivation system (P3(T3)), isolat Kalisalak in organic cultivation system (P4(T3)). Observed variable observations are the population of pests, the number of egg groups, the intensity of attacks, and the natural enemy population. The results showed that 1) Application of secondary metabolites of fungi fungi P3(T2) (Isolate Pasir Kulon in SRI) and P1(T3) (Ciepete isolates in organic) where there is no population of yellow rice stem borer (Scirpophaga incertulas) on every observation 2) Population of the highest yellow rice stem borer (Scirpophaga incertulas) in the treatment of P0(T1) which is a treatment with chemical pesticides that were nest in conventional cultivation techniques of 0.30 imago/clump; 3)Application of secondary metabolite of fungi P1(T2) (The Isolat Cipete in SRI) was able to suppress the intensity of attacks of yellow rice stem borer (Scirpophaga incertulas) where the treatment is not found damage caused by pest attack yellow rice stem borer; 4) Application of secondary metabolite of fungi fungus Beauveria sp., Paecilomyces sp. and Fusarium sp. In SRI and organic cultivation techniques do not affect the natural enemy population Lycosa sp., Oxyopes sp., Argiope sp., Atypena sp., Tetrahnatha sp., Paederus sp., Coccinella sp., and Ophinea sp.
2440728690E1A114065ANALISIS PERLINDUNGAN HUKUM PSIKOLOG KLINIS DALAM PELAYANAN KESEHATAN PADA STRUKTUR PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIAPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui sinkronisasi pengaturan perlindungan hukum dan bentuk perlindungan hukum psikolog klinis dalam pelayanan kesehatan pada struktur peraturan-perundangan Indonesia.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan (Statue Approach), pendekatan analitis (Analytical Approach), pendekatan konseptual (Conceptual Approach). Spesifikasi penelitian yang digunakan adalah inventarisasi hukum, sinkronisasi hukum dan penemuan hukum in concreto. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dengan studi kepustakaan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan mengenai perlindungan hukum psikolog klinis dalam pelayanan kesehatan pada struktur peraturan perundang-undangan di Indonesia telah menunjukkan adanya sinkronisasi. Artinya, bahwa antara peraturan yang lebih rendah derajatnya telah sesuai dengan peraturan yang lebih tinggi derajatnya dan peraturan yang lebih tinggi derajatnya menjadi dasar pembentukan peraturan yang lebih rendah Bentuk perlindungan hukum psikolog klinis dalam pelayanan kesehatan pada struktur peraturan perundang-undangan di Indonesia meliputi jaminan pengaturan hak-hak psikolog klinis sebagai anggota Himpunan Psikolog Indonesia, jaminan pengaturan perlindungan hukum, jaminan pengaturan memperoleh informasi yang lengkap dan benar dari pasien dan/atau keluarganya, jaminan pengaturan melaksanakan tugas sesuai dengan kompetensi dan kewenangan, jaminan pengaturan imbalan jasa profesi, jaminan pengaturan perlindungan terhadap risiko kerja, keselamatan dan kesehatan kerja, jaminan pengaturan memperoleh perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia, moral, kesusilaan, serta nilai-nilai agama, jaminan pengaturan pengembangan profesi, jaminan pengaturan untuk menolak keinginan penerima pelayanan kesehatan atau pihak lain yang bertentangan dengan peraturan, jaminan pengaturan hak lain.
This study aims to determine the synchronization of legal protection arrangements and forms of legal protection for clinical psychologists in health services in the Indonesian regulatory structure.
The research method used is a normative juridical method with the statutory approach method (Statue Approach), analytical approach (Analytical Approach), conceptual approach (Conceptual Approach). The research specifications used are legal inventory, legal synchronization ,and legal discovery in concreto. The type of data used is secondary data obtained from the literature.
The results showed that the regulation regarding the legal protection of clinical psychologists in health services in the structure of laws and regulations in Indonesia has shown a synchronization. This means that between the lower degree regulations are following the higher degree regulations and the higher degree regulations form the basis for the establishment of lower regulations. The form of legal protection for clinical psychologists in health services in the statutory structure in Indonesia includes guaranteeing the regulation of rights. the rights of clinical psychologists as members of the Indonesian Psychologist Association, guarantees for legal protection arrangements, guarantees for the arrangement of the complete and correct information from patients and / or their families, guarantees for carrying out duties following competence and authority, guarantees for arrangements for professional services, guarantees for protection against risks work, occupational safety and health, guarantees for arrangements to obtain treatment following human dignity, morals, decency, and religious values, guarantees for development with a profession, the guarantee of arrangement to refuse the wishes of the recipient of health services or other parties that contravene regulations, guarantees regulation of other rights.
2440827460A1A015004ANALISIS RANTAI PASOK GULA KELAPA KRISTAL DI DESA RANCAMAYA, KECAMATAN CILONGOK, KABUPATEN BANYUMASGula kelapa kristal merupakan salah satu produk unggulan di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas yang cukup berpotensi membuka peluang usaha di pedesaan. Rantai pasok gula kelapa kristal yang selama ini telah ada umumnya merupakan rantai pasok yang tidak teroganisir dengan baik, karena adanya pembagian keuntungan antar lembaga pemasaran yang tidak merata, oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian mengenai analisis rantai pasok gula kelapa kristal agar dapat diketahui saluran yang paling efisien. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui kondisi rantai pasok gula kelapa kristal di Desa Rancamaya, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas; dan 2) mengetahui saluran pemasaran yang efisien pada rantai pasok gula kelapa kristal di Desa Rancamaya, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Rancamaya, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Penentuan tempat penelitian dilakukan dengan sengaja (purposive). Penelitian ini dilaksanakan pada Tanggal 21 Februari 2019 sampai dengan 22 Maret 2019. Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif, marjin pemasaran, producer’s share, Persentase Keuntungan dan Biaya Pemasaran, dan Efisiensi Pemasaran Metode Acharya. Metode pengambilan sampel untuk perajin menggunakan simple random sampling, sedangkan untuk lembaga pemasaran menggunakan snowball sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi rantai pasok gula kelapa kristal yang menyangkut aliran barang, aliran informasi, dan aliran uang di daerah penelitian termasuk kategori baik. Marjin pemasaran terkecil terdapat pada saluran II sebesar Rp49.678 per kilogram, nilai producer’s share terbesar yaitu saluran pemasaran II sebesar 22,434 persen, persentase biaya pemasaran terkecil terdapat pada saluran II yaitu sebesar 11,367 persen dari marjin pemasaran, dan persentase keuntungan pemasaran gula kelapa kristal terbesar terdapat pada saluran pemasaran II sebesar 88,631 persen. Nilai rasio efisiensi pemasaran tertinggi terdapat pada saluran pemasaran II yaitu sebesar 0,26.Crystal coconut sugar is one of the superior products in the District of Cilongok, Banyumas Regency which has the potential to open business opportunities in rural areas. The existing coconut sugar supply chain which has been around generally is a supply chain that is not well organized, because there is an unequal distribution of profits between marketing institutions and only benefits some of the parties involved in it, therefore research on chain analysis is necessary supply of crystalline coconut sugar so that the most efficient channel can be identified. This study aims to 1) determine the condition of the supply of crystal coconut sugar in Rancamaya Village, Cilongok District, Banyumas Regency; and 2) knowing efficient marketing channels in the crystal coconut sugar supply chain in Rancamaya Village, Cilongok District, Banyumas Regency. This research was conducted in Rancamaya Village, Cilongok District, Banyumas Regency. Determination of the place of research carried out deliberately (purposive). This research was conducted on February 21, 2019 until March 22, 2019. The data analysis method used descriptive analysis, marketing margins, producer’s share, Percentage of Profit and Cost of Marketing, and Marketing Efficiency of the Acharya Method. The sampling method for craftsmen used simple random sampling, while for marketing institutions it used snowball sampling. The results of this study indicate that the condition of the supply chain of coconut sugar which involves the flow of goods, information flow, and money flow in the study area is included in both categories. The smallest marketing margin is in channel II of Rp.49,678 per kilogram, the biggest producer's share value is marketing channel II of 22.434 percent, the smallest marketing cost percentage is in channel II which is 11.336 percent of marketing margin, and the biggest percentage of marketing profit of coconut sugar there are marketing channels II of 88.631 percent. The highest marketing efficiency ratio is found in marketing channel II, which is 0.26.
2440927462F1B015065Pengaruh Partisipasi Masyarakat dan Komunikasi Organisasi Terhadap Keberhasilan Implementasi Program Kampung Keluarga Berencana (Studi Pada Kelurahan Karangpucung Kecamatan Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas)Program kampung keluarga berencana atau kampung KB merupakan program pembangunan yang memiliki tujuan utama untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Salah satu wilayah yang melaksanakan program kampung KB adalah Kelurahan Karangpucung, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan implementasi program pembangunan adalah partisipasi masyarakat dan komunikasi organisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara partisipasi masyarakat dan komunikasi organisasi terhadap keberhasilan implementasi program kampung keluarga berencana di Kelurahan Karangpucung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif asosiatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Teknik analisis data menggunakan korelasi product moment, korelasi parsial, korelasi berganda, regresi linier sederhana, dan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara partisipasi masyarakat dan komunikasi organisasi terhadap keberhasilan implementasi program kampung keluarga berencana di Kelurahan Karangpucung. Hal ini ditunjukkan oleh nilai pengaruh antara partisipasi masyarakat terhadap keberhasilan implementasi program kampung keluarga berencana sebesar 0,443, nilai pengaruh antara komunikasi organisasi terhadap keberhasilan implementasi program kampung keluarga berencana sebesar 0,396, dan nilai pengaruh antara partisipasi masyarakat dan komunikasi organisasi secara bersama-sama terhadap keberhasilan implementasi program kampung keluarga berencana sebesar 0,492.The kampung keluarga berencana program or kampung KB is a development program that has the main goal to improve the quality of human life. One of the areas that have implemented kampung KB is Karangpucung Village, Purwokerto Selatan District, Banyumas Regency. Several factors that may affect the successful implementation of development programs are the community participation and organizational communication. The purpose of this research is to determine whether there is a significant effect between community participation and organizational communication on the implementation of the kampung keluarga berencana program in Karangpucung Village. This research uses quantitative associative method. The sampling technique used is simple random sampling. The data analysis techniques used are product moment correlation, partial correlation, multiple correlation, simple liniear regression, and multiple regression. The result showed that the community participation and organizational communication had a significant effect on the successful implementation of the kampung keluarga berencana program in Karangpucung Village. This is indicated by the value of the effect between community participation on the successful implementation of the kampung keluarga berencana program is 0,443, the value of effect between organizational communication on the successful implementation of the kampung keluarga berencana program is 0,396, and the value of effect between community participation and organizational communication on the successful implementation of the kampung keluarga berencana program is 0,492.
2441028909A1L112058PENGARUH KONSENTRASI KITOSAN SEBAGAI UPAYA MEMPERPANJANG MASA SIMPAN BUAH TOMAT (Solanum lycopersicum L.) PADA BERBAGAI SUHU
The effect of chitosan concentration as an effort to extend the shelf life of tomatoes (Solanum lycopersicum L..) at various temperatures
ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui konsentrasi kitosan yang memberikan pengaruh terbaik terhadap daya simpan tomat, 2) mengetahui suhu yang memberikan pengaruh terbaik terhadap daya simpan tomat, 3) mengetahui kombinasi perlakuan yang tepat antara konsentrasi kitosan dengan suhu terhadap daya simpan tomat. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman mulai tanggal 23 sampai dengan 31 januari 2020. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan 2 faktor, faktor pertama adalah kitosan yang terdiri 4 taraf yaitu kitosan 0, 5, 10, dan kitosan 15ppm. Faktor kedua adalah faktor suhu yang terdiri 3 taraf yaitu suhu ruang (260C – 270C), suhu kulkas (100C), dan suhu AC (200C). Variabel yang diamati meliputi susut bobot, kekerasan buah, padatan total terlarut, kadar vitamin C, dan uji organoleptik. Analisis data menggunakan Uji F pada taraf kesalahan 5%. Pemberian kitosan 10ppm dan suhu kulkas (100C) dapat mempertahankan susut bobot, kekerasan buah, padatan total terlarut, dan uji organoleptik. Konsentrasi yang dianjurkan 10ppm dengan suhu kulkas (100C), 2) Suhu kulkas 100C mampu mempertahankan kekerasan buah tomat. 3) tidak terdapat pengaruh interaksi nyata antara kitosan dengan berbagai suhu terhadap susut bobot, kekerasan buah, padatan total terlarut, kadar vitamin C tanaman.
ABSTRACT
This study aims to 1) determine the concentration of chitosan that gives the best effect on the storability of tomatoes, 2) determine the temperature that gives the best effect on the storability of tomatoes, 3) determine the combination of the right treatment between the concentration of chitosan with temperature on the shelf life of tomatoes. This research was conducted at the Agronomy and Horticulture Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University from 23 to 31 January 2020. This study used a factorial randomized block design with 2 factors, the first factor was chitosan consisting of 4 levels, namely chitosan 0, 5, 10, and chitosan 15ppm. The second factor is the temperature factor which consists of 3 levels namely room temperature (260 C – 270 C), refrigerator temperature (100 C), and AC temperature (200 C). The observed variables included weight loss, fruit hardness, total dissolved solids, vitamin C levels, and organoleptic tests. Data analysis using the F test at an error level of 5%. Provision of 10ppm chitosan and refrigerator temperature (100 C) can maintain weight loss, fruit hardness, total dissolved solids, and organoleptic tests. The recommended concentration is 10ppm with a refrigerator temperature (100 C), 2) A refrigerator temperature of 100 C is able to maintain the hardness of tomatoes. 3) there is no significant interaction effect between chitosan with various temperatures on weight loss, fruit hardness, total dissolved solids, vitamin C levels of plants.
2441127464I1E015024PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PLYOMETRIC DOUBLE LEG TUCK JUMP DI PASIR DAN TANAH TERHADAP POWER OTOT TUNGKAI SISWA EKSTRAKURIKULER BOLA VOLI PUTRA SMA/SMK NEGERI DI PURWOKERTOLatar belakang: Pembinaan pelatih bola voli memiliki peluang yang besar untuk mendapat kejuaraan karena dibina oleh pelatih voli secara langsung, Pembinaan pelatihan tersebut seharusnya kualitas pembibitan atlet dapat dimaksimalkan. Salah satu latihan yang dapat menunjang keberhasilan pembinaan pelatihan yaitu latihan plyometric double leg tuck jump.
Tujuan penelitian: Untuk menganalisis perbedaan pengaruh latihan plyometric double leg tuck jump di pasir dan tanah terhadap power otot tungkai siswa ekstrakurikuler bola voli putra SMA/SMK Negeri di Purwokerto.
Metodelogi : Desain penelitian ini menggunakan eksperimen semu (Quasi Experiment) dengan rancangan two groups pretest-postest design. Teknik pengambilan sampling adalah ordinal sampling sebanyak 24 siswa. Instrumen dalam penelitian ini yaitu vertical jump test. Analisis data menggunakan uji t test dan uji independent t test.
Hasil penelitian: Hasil uji t test power otot tungkai responden sebelum dan sesudah latihan plyometric double leg tuck jump menunjukkan hasil yang sama sebesar p=0,000. Sedangkan hasil uji independent t test terhadap rerata power otot tungkai antar kelompok tanah dan pasir menunjukkan p=0,000.
Kesimpulan: Terdapat perbedaan skor power otot tungkai yang signifikan saat sebelum dan sesudah latihan plyometric double leg tuck jump di pasir sebesar 18,4%, terdapat perbedaan skor power otot tungkai yang signifikan saat sebelum dan sesudah latihan plyometric double leg tuck jump di tanah 9% dan terdapat perbedaan yang signifikan antara skor power kelompok pasir dan tanah sebesar 9,4%.
Kata kunci: Latihan plyometric double leg tuck jump, pasir, power, tanah.
THE DIFFERENT EFFECT EXERCISE PLYOMETRIC DOUBLE LEG TUCK JUMP BETWEEN THE SAND AND GROUND ON THE POWER LIMB MUSCLES STUDENTS VOLLEYBALL’S EXTRACURRICULAR SENIOR HIGH SCHOOL/STATE VOCATIONAL SCHOOLS IN PURWOKERTO

The background: The development coach volley ball having a big championship to obtain because were coached by volley coach directly , development that the training was supposed to be the quality of breeding an athlete can be maximized. Exercise plyometric double leg tuck jump can increase the development coach volley.
Research objectives: This research identified the different effect the exercise of plyometric double tuck leg jump between the sand and ground media on power limb muscles students volleyball’s extracurricular senior high school / state vocational schools in purwokerto
Methodology: The research used quasi-experiment with two groups pretest-postest group design. Ordinal pairing as the sampling techniques took 24 students as the samples. Vertical jump test as the research instrumen. Analyse the data used Paired t and independent t tests.
Results: The Paired t test showed the before and after respondent power limb muscles about the exercise of plyometric double tuck leg jump between the sand and ground media in the value results as much as p = 0,000. Whereas, the result from independent t test on the avarage power limb muscles between the ground and sand groups showed p = 0,000.
Conclusion: Before and after the exercise of plyometric double tuck leg jump give significant score power limb muscles differences in sand of 18,4%, before and after the exercise of plyometric double tuck leg jump give significant score power limb muscles differences in ground of 9%, and both of the ground and sand groups have significant score power limb muscles of 9,4%.
Keywords: exercise plyometric double leg tuck jump, sand, power, the ground


Education Physical, Health And Recreation Student, Health Sciences Faculty, Jenderal Soedirman University.

2441228691F1A015088Komunitas Vespa Gembel Dan Gaya Hidup Kaum Remaja di BanjarnegaraPenelitian ini mendiskusikan tentang sebuah komunitas vespa yang memiliki ciri khas dan gaya hidup berbeda dengan komunitas motor lain. Dengan atribut dan simbol-simbol yang terkesan aneh mereka membentuk komunitas vespa gembel. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi anggota remaja komunitas vespa gembel yang aktif dan untuk mengetahui bentuk gaya hidup yang dilakukan anggota remaja komunitas vespa gembel. Penelitian ini adalah metode kualitatif,sasaran utama dalam penelitian ini adalah kaum remaja yang bergabung dalam komunitas vespa gembel di Banjarnegara. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis interaktif dari Miles dan Huberman yang Meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Kesimpulan penelitian ini, munculnya komunitas vespa gembel disebabkan keinginan remaja sosial kelas menengah kebawah untuk menunjukan eksistensinya.Bentuk gaya hidup yang mereka lakukan yaitu dengan menciptakan hal-hal baru seperti bentuk berpakaian, kendaraan dan gaya hidup yang berbeda dengan komunitas motor lain. Saran dalam penelitian ini, bagi komunitas vespa gembel seharusnya tetap menjaga kesan yang baik terhadap masyarakat pada umumnya dalam segala aktifitas komunitas vespa gembel dan masyarakat pada umumnya diharapkan tidak langsung memandang sebelah mata komunitas vespa gembel sebagai orang yang selalu berprilaku menyimpang tetapi sebagai keberagaman dalam dunia otomotif di Indonesia.
Kata kunci: komunitas vespa, aktualisasi, gaya hidup
ABSTRACT
This study discusses a Vespa community that has different characteristics and lifestyles with other motorcycle communities. With attributes and symbols that seem strange they form a Vespa gembel community. The purpose of this study was to determine the motivation of active members of the Vespa gembel community and to find out about the lifestyle of the members of the Vespa gembel community. This research is a qualitative method, the main target in this study is young people who join the Vespa gembel community in Banjarnegara. Data collection techniques used were interviews, observation, and documentation. The data analysis technique used is an interactive
analysis technique from Miles and Huberman which includes data collection, data reduction, data presentation and conclusion drawing.
The conclusion of this study, the emergence of Vespa gembel community is caused by the desire of middle-class social adolescents to show their existence. The form of lifestyle that they do is to create new things such as forms of clothing, vehicles and lifestyles that are different from other motorcycle communities. Suggestions in this study, for the Vespa gembel community should still maintain a good impression of the community in general in all activities of the Vespa gembel community and the community in general are expected not to directly look at the eyes of the Vespa gembel community as people who always behave deviant but as diversity in the automotive world in Indonesia.
Keywords: Vespa community, actualization, lifestyle
2441327465A1D115058KARAKTER FISIOLOGI DAN HASIL TANAMAN KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptants Poir.) PADA BERBAGAI KONSENTRASI PUPUK NITROGEN DALAM SISTEM FERTIGASI SPRINKLE
DI LAHAN PASIR PANTAI
Tanaman kangkung darat adalah sayuran yang penting di kawasan asia. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menentukan pengaruh konsentrasi pupuk N dalam sistem fertigasi sprinkle di lahan pasir pantai terhadap karakter fisiologi dan hasil kangkung darat, 2) menentukan pengaruh sistem fertigasi sprinkle di lahan pasir pantai terhadap karakter fisiologi dan hasil kangkung darat, dan 3) menentukan interaksi antara konsentrasi pupuk N dan sistem fertigasi sprinkle di lahan pasir pantai terhadap karakter fisiologi dan hasil kangkung darat. Penelitian dilaksanakan pada Mei sampai Juli 2019 di lahan pasir Pantai Jetis, Desa Banjarsari, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor. Faktor pertama yaitu sistem fertigasi (F) yang terdiri atas 2 taraf, yaitu F1= Fertigasi Manual dan F2= Fertigasi Sprinkle. Faktor kedua yaitu konsentrasi pupuk nitrogen (K) yang terdiri atas 3 taraf, yaitu K1= 1 g N/l, K2= 5 g N/l, dan K3= 10 g N/l. Variabel yang diamati yaitu luas daun, kandungan klorofil, warna daun, lebar bukaan stomata, kerapatan stomata, laju pertumbuhan relatif, laju asimilasi bersih, serapan N, bobot tanaman segar, bobot tanaman kering, jumlah cabang, jumlah daun, jumlah tanaman perumpun, dan hasil tanaman kangkung. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F. Apabila terdapat keragaman dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Pemberian konsentrasi pupuk N sampai 10 g N/l mampu meningkatkan kerapatan stomata siang 147,74 /mm2 atau 83,13%, kehijauan daun 30,51 atau 61,82%. Pengaruh konsentrasi pupuk N terhadap hasil tanaman memberikan hasil 16,11 t/ha 2) Penggunaan fertigasi sprinkle yang diberikan secara otomatis di lahan pasir pada mampu meningkatkan kehijauan daun 27,69, kerapatan stomata siang 104,61 /mm2, lebar bukaan stomata 5,66 µ. Pengaruh sistem fertigasi terhadap hasil tanaman memberikan hasil 16,11 t/ha. 3) Terjadi interaksi antara perlakuan fertigasi sprinkle dan konsentrasi pupuk N pada kehijauan daun sebesar 30,6 dan warna daun sebesar 214,48. Interaksi fertigasi dan konsentrasi pupuk N terhadap hasil tanaman memberikan hasil 16,11 t/ha.Kangkung is an important leaf vegetable in the Asian region. The purpose of this research is to: 1) determine the effect of N fertigation concentration in sprinkle fertigtion system in the coastal sandy land on physiological character and yield of kangkung, 2) determine the effect of the sprinkle fertigation system on coastal sandy land on physiological character and yield of kangkung, and 3) determine the effect of interactions between N fertigation concentration and the sprinkle fertigation system in the coastal sandy land to physiological character and yield of kangkung.The research was conducted from May to July 2019 in Jetis coastal sandy land, Banjarsari village, Nusawungu Districts, Cilacap regency. The research design used a Randomized Complete Block Design (RCBD) with two factors. The first factor was the fertigation system (F) consisting of 2 levels, F1 = Manual Fertigation and F2 = Sprinkle Fertigation. The second factor was N fertigation concentration (K) consisting of 3 levels, K1 = 1 g N/l, K2 = 5 g N/l, K3=10 g N/l. The variables observed were leaf area, chlorophyll content, leaf color, stomata opening width, stomata density, relative growth rate, net assimilation rate, N uptake, fresh and dry plant weight, number of branches, number of leaves, number of plants in a clump, and kangkung plants yield. The data obtained were analyzed using F test if there is diversity followed test by Duncan Multiple Range Test (DMRT) of 5% level. The results showed that: 1) Concentration is fertilizer N 10 g N / l was able to increase the density of daytime stomata 147.74 / mm2 or 83.13%, leaf greenness 30.51 or 61.82%. Effect of N fertigation concertration on crop yields of 16.11 t/ha. 2) The use of sprinkle fertigation was can increase leaf greenness 27.69, daytime stomata density 104.61 / mm2, width of stomata opening 5, 66 µ. The effect of the fertigation system on crop yields 16.11 t/ha. 3) There was interaction between the sprinkle fertigation treatment the concentration of N fertigation on the greenness of leaves was 30.6 and leaf coloring 214.48. The interaction of fertigation and concentration of N fertigation on crop yields of 16.11 t/ ha.
2441427463I1E015053PENGARUH LATIHAN PASSING BERPASANGAN ARAH TETAP DAN PASSING BERPASANGAN DALAM KOTAK TERHADAP AKURASI SHORT PASSLatar Belakang: Sepakbola adalah olahraga yang populer di dunia dan digemari oleh masyarakat Indonesia. Dalam penelitian ini terdapat metode latihan passing berpasangan arah tetap dan passing berpasangan dalam kotak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan passing berpasangan arah tetap dan passing berpasangan dalam kotak terhadap akurasi short pass Taruna FC U-16 Purbalingga.

Metodologi: Penelitian ini menggunakan two group pretest posttest design. Desain ini adalah menggunakan dua grup yang diawali dengan pretest dan diakhiri dengan posttest. Instrumen yang digunakan adalah tes passing ke target gawang kecil dengan lebar 1 meter dari jarak 10 meter dan dilakukan sebanyak 10 kali kesempatan . Subjek penelitian ini adalah pemain sepakbola Taruna FC U-16 berjumlah 20 anak. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji statistik Shapiro-Wilk.

Hasil Penelitian: Berdasarkan hasil penelitian peningkatan kemampuan terhadap akurasi short pass Taruna FC U-16 Purbalingga diperoleh p = 0.001 < 0.05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan ada pengaruh latihan passing berpasangan arah tetap dan passing berpasangan dalam kotak terhadap akurasi short pass pemain Taruna FC U-16 Purbalingga.

Kesimpulan: Terdapat pengaruh latihan passing berpasangan arah tetap dan passing berpasangan dalam kotak terhadap akurasi short pass pemain Taruna FC U-16 Purbalingga.

Kata Kunci: Latihan, Passing, Akurasi, Short, Pass
Background: Football is a popular sport in the world and it is favored by the Indonesian people. There are two methods of passing in football, they are paired passing exercise in fixed direction and paired passing in a box. The aim of this study is to find out the effect of them toward the short pass accuracy of Taruna FC U-16 Purbalingga.

Methods: This study uses two group pretest posttest designs. This design consist of two groups which begin with a pretest and with a posttest. The instrument used is passing test to a small goalpost target, which has 1 meter wide, from 10 meter distance and it has 10 times chances. The subject of this research is twenty Taruna FC U-16 football players. The data analysis technique used in this study is Shapiro wilk statistical test.
Results: The data obtained in this study bassed on the research result is p = 0.001 < 0.05. According to the result, it can be concluded that there is effect of paired passing exercise in fixed directions and paired passing in a box toward the short pass accuracy of Taruna FC U-16 Purbalingga football players.

Conclusion: There is the effect of paired passing exercise in fixed directions and paired passing in a box toward the short pass accuracy of Taruna FC U-16 Purbalingga football players

Keywords: Training, Passing, Accuracy, Short, Pass
2441527467I1E015050PENGARUH METODE LATIHAN ROPE JUMP TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN SHOOTING SEPAKBOLA KELAS OLAHRAGA SMPN 1 BATURADENLatar Belakang: Sepakbola merupakan olahraga yang disukai pada elmen masyarakt terutama anak-anak, remaja, dan orang tua. Terdapat metode latihan rope jump. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode latihan rope jump terhadap peningkatan kemampuan shooting sepakbola kelas olahraga SMPN 1 Baturaden.

Metodologi: Penelitian ini menggunakan one group pretest posttest design. Desain ini adalah menggunakan satu kelompok eksperimen dengan melakukan pretest, tratment dan posttest. Instrumen yang digunakan adalah tes shooting bobby Charlton yang dilakukan dua kali dan diambil nilai terbaik. Subjek penelitian ini adalah pemain sepakbola kelas olahraga SMPN 1 Baturaden berjumlah 16 anak. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji statistic Shapiro-Wilk.

Hasil Penelitian: Berdasarkan hasil penelitian peningkatan kemampuan shooting sepakbola kelas olahraga SMPN 1 Baturaden diperoleh p=0,000 < 0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan ada pengaruh metode latihan rope jump terhadap peningkatan kemampuan shooting sepakbola kelas olahraga
SMP N 1 Baturaden.

Kesimpulan: Terdapat pengaruh metode latihan rope jump terhadap peningkatan kemampuan shooting sepakbola kelas olahraga SMPN 1 Baturaden.

Kata Kunci: Latihan, Rope Jump, Shooting, Sepakbola
Background of Study: Football is a popular sport in the community especially for children, teenagers, and elderly people. There is a rope jump exercise method. This study aimed to determine the influence of rope jump training method to increase football shooting skills of sport class in State Junior High School 1 Baturaden.

Method of Study: This study used One Group Pretests Posttest Design. The design used a single experiment group by Pretest, Treatment and Posttest. The instrument was used a shooting test of Charlton Bobby that performed twice and taken the best value. The subject of this study was the football player of sport class in State Junior High School 1 Baturaden which numbered 16 children. The data analysis techniques in this study used the statistic Shapiro-Wilk test.

Results of Study: According to the study results of the increase of football shooting skills of sport class in State Junior High School 1 Baturaden, it was gained p = 0,000 < 0.05. Based on these results can be concluded there was influence of rope jump training method to increase football shooting skills of sports class in State Junior High School 1 Baturaden.

Conclusion: There was an influence of rope jump training method to increase the football shooting skill of sports class in State Junior High School 1 Baturaden.

Keywords: Practice, Rope Jump, Shooting, Football
2441628910G1H013039MAKNA ASUPAN KOPI PADA PELANGGAN OLYF TREE CAFÉ AND RESTO PURWOKERTOLatar Belakang: Konsumsi kopi di Indonesia meningkat pesat dalam beberapa waktu terakhir. Sejak era third wave budaya minum kopi di Indonesia mengalami banyak pergeseran dari era sebelumnya. Kopi tidak lagi dipandang hanya sebagai bagian dari minuman, tetapi juga memiliki maknya yang meliputi fisiologis dan sosial budaya. Makna fisiologis berkaitan erat dengan fungsi kafein sebagai kandungan utama pada kopi. Makna sosial budaya menjadi bagian dari pembentuk kebiasaan minum kopi.
Metodologi: Penelitian dilakukan dengan penelitian kualitatif, yakni dengan melakukan indepth interview pada beberapa responden. Responden yang dipilih yakni pelanggan, peminum kopi, berada pada rentang usia 18-65, dan mampu berkomunikasi dengan baik. Terdapat enam orang responden yang dipilih sesuai dengan kriteria tersebut. Penelitian dilakukan pada rentang waktu bulan September sampai dengan Desember tahun 2019.
Hasil Penelitian: Hasil wawancara mendalam dengan responden tersebut menunjukkan makna yang muncul dari tindakan minum kopi responden yakni makna fisiologis dan makna sosial-budaya. Makna fisiologis yang muncul adalah minum kopi bermakna sebagai stimulant (pada 4 responden) dan depresan (pada 2 responden). Makna sosial budaya yang muncul adalah minum kopi bermakna sebagai sosialisasi (pada 2 responden), gaya hidup postmodern (pada 2 responden), dan prestise (pada 2 responden).
Kesimpulan: Minum kopi pada peanggan Olyf Tree Café and Resto memiliki makna secara fisiologis sebagai stimulan dan depresan, serta makna sosial budaya sebagai ajang sosialisasi, memenuhi prestise, dan berkaitan dengan gaya hidup postmodern.
Kata Kunci: Makna Asupan, Kopi, Pelanggan Café
Background: Coffee consumption in Indonesia has raised lately. Since the third wave era of coffee, coffee drinking culture has shifted into a new culture of coffee drinking. Nowadays coffee is not just a beverage, but it also has some physiology and socio-cultural function. The physiological function of coffee drinking is related to the function of caffeine as the main substance in a cup of coffee. The socio-cultural takes part on making coffee drinking habit and behavior.
Methods: This study was a qualitative study, designed with in-depth interview technique on gaining informations on subjects. The subject was classified with some criteria that was a loyal customer, coffee drinker, in the age between 18 to 65 years old, and able to communicate well. There are six subjects that was chosen on this study. This study held between September and December on the year of 2019.
Results: The in-depth interview result showed some finding on subjects’ purpose on coffee drinking were classed in two groups, which was physiological and socio-cultural. The physiological purpose of coffee drinking, as shown by the subject, was due to stimulant (as proven by 4 subjects) and depressant (as proven by 2 subjects). The socio-cultural purpose of coffee drinking was for socialization (as proven by 2 subjects), postmodern lifestyle (as proven by 2 subjects), and prestige (as proven by 2 subjects).
Conclusion: Coffee drinking culture, act, and habit on subject has physiological and socio-cultural purposes. The physiological purpose is to help subject as a daily ergogenic aid that acts as stimulant or depressant. The socio-cultural purpose on coffee drinking is as an act of socializing, fulfilling prestiges, and linked to postmodern culture and lifestyle.
Keywords: Purpose of consumption, coffee, café customer
2441727469L1A015006POLA HUBUNGAN SOSIAL EKONOMI NELAYAN JURAGAN, BAKUL DAN BURUH DI CILACAP SELATANPenelitian ini berjudul “Pola Hubungan Sosial Ekonomi Nelayan Juragan, Bakul, dan Buruh di Cilacap Selatan” yang dilakukan pada bulan Agustus 2019. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pola hubungan sosial ekonomi nelayan juragan, bakul, dan buruh. Penelitian ini menggunakan metode survey yaitu dengan melakukan wawancara kepada responden. Hasil penelitian menunjukan bahwa hubungan antara nelayan juragan, bakul, dan buruh membentuk pola patron-klien yaitu hubungan individu yang lebih tinggi kedudukan sosial ekonominya dengan individu yang lebih rendah kedudukan sosial ekonominya. Keberadaan nelayan juragan atau pemilik kapal memiliki kapasitas modal yang lebih banyak terkait kepemilikan kapal dan pemenuhan semua perlengkapan yang dibutuhkan dalam penangkapan ikan dan dioperasionalkan oleh ABK. ABK dan tekong inilah yang menjadi buruh bagi para juragan, yang menyediakan tenaganya guna menjalankan usaha penangkapan ikan. Selain itu keberadaan bakul juga memiliki kapasitas yang besar dalam kepemilikan modal, bakul akan meminjamkan modalnya kepada nelayan saat musim paceklik dan nelayan harus menjual hasi tangkapnnya kepada bakul.This study is entitled The Social Economic Relations Pattern of Juragan, Bakul, and Labor Fishermen in South Cilacap. The purpose of this study is to determine the pattern of socio-economic relations of fishermen owners, seller, and laborers. This study uses a survey method by conducting interviews with respondents. The results showed that the relationship between fishermen owners, sellers, and laborers formed a patron-client pattern, namely the relationship of individuals with higher socioeconomic positions and individuals with lower socioeconomic positions. The existence of a fisherman skipper or boat owner has more capital capacity related to ship ownership and the fulfillment of all equipment needed for fishing and is operated by ABK. The crew and the tekong are the laborers of the skipper, who provide their energy to run a fishing business. Besides the existence of the seller also has a large capacity in capital ownership, the seller will lend his capital to fishermen during the lean season and the fisherman must sell his catch to the seller.
2441827471H1K013015KONDISI OSEANOGRAFI TERHADAP TINGKAT KERAPATAN MANGROVE DI SEGARA ANAKAN BAGIAN TIMUR, KABUPATEN CILACAPLaguna Segara Anakan Bagian Timur, Kabupaten Cilacap merupakan kawasan estuarin ekosistem mangrove berciri khas yang unik dengan adanya Pulau Nusa Kambangan yang membatasi dengan Samudera Hindia. Hal ini menyebabkan adanya pengaruh aspek oseanografi dari masukkan air laut Pelawangan Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor oseanografi beserta parameter faktor pendukung pertumbuhan mangrove serta memetakan secara spasial kedalam sebuah peta. Penelitian dilaksanakan bulan Oktober 2018 – Maret 2019. Metode penelitian adalah survey dengan teknik pengambilan sampel Cluster with Stratified Sampling. Analisa data secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan aspek oseanografi pada ekosistem mangrove di Bagian Timur Segara Anakan meliputi salinitas berkisar 17-34 ppt; temperatur dengan rentang 27 - 29 oC; pH air berkisar 7,1 – 7,5; pasang surut bertipe Campuran dengan tipe ganda lebih menonjol (Condong Ganda); kecepatan arus rentan 0,36 - 0,73 m/s tergolong kedalam tingkat kecepatan sedang - cepat; nilai rataan kedalamaan sekitar stasiun berkedalaman antara 0,4 – 5,2 m. Parameter sedimen meliputi pH (5,29 - 6,38), nitrat (0,09 - 0,22 %), fosfat (7,17 - 18,27 %), C-organik (1,18 -1,92 %), dan fraksisedimen didominasi oleh liat. Sebaran jenis mangrove yang dipetakan menunjukkan adanya perbedaan karakteristik pada tiap stasiun penelitian. Kerapatan ekosistem mangrove menunjukkan adanya hubungan penyesuaian mangrove terhadap faktor oseanografi namun tidak signifikan.East Segara Anakan Lagoon, Cilacap District is an estuarine mangrove ecosystem that have a unique characteristic with Nusa Kambangan Island bordered with Indian Ocean. This causes impact on oceanography aspect from incoming water from East Pelawangan. The purpose of this research were to analysed oceanography factors and parameter supporter factors of mangrove growth and also mapped it spatially. This research was done on October 2018 to March 2019. The research methods was survey with cluster with stratified sampling and all of the data were analysed descriptively. The result of this research showed that oceanography aspect on mangrove ecosystem on East Segara Anakan Region included salinity ranged 17–34 ppt; temperature ranged 27–29°C; water pH around 7.1–7.5; tidal type was mixed with double type was more prominent; current speed was susceptible (0.36–0.73 m/s) classified on medium – high speed; and the average of depth around sampling station was 0.55 m. Sediment parameters included pH (5,29 - 6,38), nitrate (0,09 - 0,22 %), phosphate (7,17 - 18,27 %), C-organic (1,18 -1,92 %), and sediment fraction dominated with clay. Distribution mangrove mapping showed there was a different characteristic on every research station. Mangrove ecosystem density showed there was an adaptive shape on oceanography factor but not significant.
2441927470F1D015051DEMOKRASI PROSEDURAL DALAM PELAKSANAAN PILKADES: STUDI KASUS PENCALONAN SUAMI-ISTERI DALAM PILKADES SERENTAK DI KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2017Artikel hasil penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan demokrasi di desa dalam kasus pencalonan suami-isteri pada pilkades serentak di Kabupaten Banjarnegara Tahun 2017, serta menjelaskan fenomena yang memengaruhi berkembangnya pencalonan tersebut. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan komparatif dalam bingkai perspektif strukturalis dan paradigma non-positivisme, hasil penelitian ini menggungkapkan bahwa pelaksanaan pilkades ternyata tidak serta merta melahirkan demokrasi di desa seperti yang diharapkan. Justru pilkades melahirkan oligharki kekuasaan elit, yaitu penguasaan oleh segelintir orang yang memanfaatkan celah pilkades untuk merebut kekuasaan sehingga tidak menumbuhkan oposisi akibat pelemahan yang dilakukan oleh elit. Problem relasi sosial juga lahir pada saat pelaksanaan pilkades yaitu kohesivitas kekeluargaan, pertemanan dan ketetanggan bisa pecah akibat dari proses pilkades. Penyelenggaraan pilkades yang demokratis juga tidak akan tercapai jika corak masyarakatnya bersifat klientilistik, artinya orientasi masyarakat dalam memilih juga dipengaruhi oleh politik uang yang dianggapnya sebagai bentuk transaksi atas kepedulian kades (patron) terhadap pemilihnya (client).
Selain itu, penelitian ini juga menemukan fenomena yang memengaruhi pencalonan suami-isteri adalah akibat dari diterapkannya Permendagri No.112 tahun 2014. Peraturan tersebut pada intinya melarang skema pencalonan tunggal dalam pilkades dengan membatasi minimal calon yang ditentukan adalah 2 dan maksimal 5. Dapat dipahami bahwa aturan tersebut pada dasarnya adalah untuk menjaga iklim kontestasi politik di tingkat desa agar lebih kompetitif dalam menjaring kandidat terbaik diantara pilihan kandidat yang lain. Namun, aturan tersebut nyatanya memiliki celah yang disalahartikan sekedar memenuhi aspek kuantitas saja, tanpa menumbuhkan iklim kompetisi. Padahal untuk menilai kualitas demokrasi secara prosedural dapat dilihat melalui dua aspek yaitu, tingkat kontestasi dan tingkat partisipasi.

Kata kunci: Demokrasi Prosedural, Pencalonan Suami-Isteri, Pilkades Serentak.
This article aims to explain the democracy in the village in the case of the candidacy of husband and wife in the election of concurrent village head in Banjarnegara district in 2017, as well as explaining the phenomenon affecting the development of candidacy The. Using qualitative methods and comparative approaches in structural perspective frames and non-positivism paradigms, the results of the study reveal that the implementation of village head elections did not necessarily give birth Democracy in the village as expected. Thus the election of village head gave birth to the elite power Oligharki, which is mastery by a handful of people who utilize the gap of village head elections to seize power so as not to cultivate the opposition due to the weakening made by the elite. The Problem of social relations was also born during the implementation of the village head, which is the cohesivity of the family, friendship and unwillingness can be broken from the process of selecting the village head. The implementation of the Democratic village head election will also not be achieved if the community pattern is clientilistic, meaning that the orientation of the community in choosing is also influenced by the political money he considers as a form of transactions on (patron) of the village head.
In addition, the study also found a phenomenon affecting the candidacy of husbands and wives was the result of the issuance of Permendagri No. 112 in 2014. The regulation essentially prohibits a single candidacy scheme in the selection of village heads by limiting the minimum of the prescribed candidates to 2 and a maximum of 5. It is understandable that the rules are essentially to keep the climate of political contestation at the village level to be more competitive in the capture of the best candidates among other candidate options. However, the rules are in fact a gap that is misinterpreted just to meet the aspect of the quantity alone, without growing the competition climate. Whereas to assess the quality of procedural democracy can be seen through two aspects namely, the level of contestation and participation rate.

Keywords: Procedural Democracy, Husband and wife candidacy, Simultaneous selection of village heads.

2442027474F1B013024EFEKTIVITAS PROGRAM PENYULUHAN PERTANIAN LAPANGAN DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PETANI KOPI DI DUSUN SEMAYA DESA SUNYALANGU KECAMATAN KARANGLEWAS KABUPATEN BANYUMASPermasalahan kemiskinan adalah permasalahan umum yang dihadapi di hampir seluruh daerah di Indonesia, salah satu sektor pekerjaan yang melekat dengan permasalahan kemiskinan yaitu pada sektor pertanian, Dalam upaya mengatasi hal tersebut pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa program penyuluhan pertanian. Kecamatan Karanglewas adalah salah satu Kecamatan di Kabupaten Banyumas yang menjalankan kebijakan penyuluhan pertanian melalui balai penyuluhan pertanian Kecamatan Karanglewas. Dalam pelaksanan program pertanian lapangan masih ditemui banyak permasalahan khususnya dalam penyuluhan pada petani kopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektifitas program penyuluhan pertanian lapangan dalam meningkatkan kualitas petani kopi di Dusun Semaya Desa Sunyalangu Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas.
Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode survey, pengambilan responden menggunakan Simple Random Sampling. Metode analisis data yang digunakan adalah distribusi frekuensi, skor maksimal dan minimal, mean, modus, dan Kruskal-Wallis.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Efektivitas Program Penyuluhan Pertanian Lapangan Dalam Meningkatkan Kualitas Petani Kopi Di Dusun Semaya Desa Sunyalangu Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas Tidak Efektif dengan rata-rata pemahaman program 3,00, rata-rata tepat sasaran 3,20, rata-rata tepat waktu 2,15, rata-rata tercapainya tujuan 2,43, dan rata-rata perubahan nyata 2,59.
Kesimpulan hasil penelitian ini Efektivitas Program Penyuluhan Lapangan Dalam Meningkatkan Kualitas Petani kopi di Dusun Semaya Desa Sunyalangu Kecamatan Karanglewas tidak efektif dalam meningkatkan kualitas petani kopi dan masih perlu banyak yang ditingkatkan seperti contohnya penampungan aspirasi petani, waktu penyuluhan, sarana dan prasana, dan jumlah penyuluh demi tercapainya tujuan program penyuluhan pertanian lapangan.
The problem of poverty is a common problem faced in almost all regions in Indonesia, one of the employment sectors that is attached to the problem of poverty is the agricultural sector. In an effort to overcome this the government issues a policy in the form of an agricultural extension program. Karanglewas Subdistrict is one of the Subdistricts in Banyumas Regency which carries out an agricultural extension policy through the Balai Penyuluhan Pertanain Kecamatan Karanglewas. In implementing the field agriculture program, there were still many problems encountered, especially in counseling coffee farmers. This study aims to determine the effectiveness of the field agricultural extension program in improving the quality of coffee farmers in Semaya Hamlet, Sunyalangu Village, Karanglewas District, Banyumas Regency. The research method used is a descriptive quantitative approach to the survey method, taking respondents using Simple Random Sampling. Data analysis methods used are frequency distribution, maximum and minimum scores, mean, mode, and Kruskal-Wallis.
The results showed that the effectiveness of the Field Agricultural Extension Program in Improving the Quality of Coffee Farmers in Semaya Hamlet, Sunyalangu Village, Karanglewas Subdistrict, Banyumas District Not Effective with an average understanding of the program 3.00, average on target 3.20, average on time 2 , 15, the average goal achievement is 2.43, and the average real change is 2.59.
The conclusion of this research is the Effectiveness of Field Agricultural Extension Program in Improving the Quality of Coffee Farmers in Semaya Hamlet, Sunyalangu Village, Karanglewas District, is not effective in improving the quality of coffee farmers and still needs to be improved a lot, for example, to collect the aspirations of farmers, extension time, facilities and infrastructure, and the number of extension workers for the sake of achieving the objectives of the field agricultural extension program.