Artikelilmiahs

Menampilkan 23.741-23.760 dari 50.268 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
2374126879B1A015090PREVALENSI MONYET EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) YANG TERINFEKSI NEMATODA PARASIT USUS DI DESA CIKAKAK KABUPATEN BANYUMASCikakak merupakan salah satu desa dari 12 desa yang ada di wilayah Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas. Desa Cikakak menjadi tempat wisata karena adanya Masjid Saka Tunggal dan terdapat populasi monyet yang jumlahnya cukup banyak. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) merupakan jenis primata dengan tingkat adaptasi yang tinggi pada berbagai habitat. Spesies ini termasuk jenis primata sosial yang dalam kehidupannya tidak pernah terlepas dari interaksi sosial atau hidup bersama dengan individu lain. Primata ini dapat berpotensi sebagai sumber infeksi parasit yang bersifat penyakit zoonosis salah satunya nematoda parasit usus.Infeksi nematoda parasit usus yang terdapat pada hospes dapat terjadi melalui kontaminasi telur infektif pada makanan. Tinja sebagai sumber utama infeksi parasit dalam tergolong dalam infeksi Soil Transmitted Helminths (STH).Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jenis nematoda parasit usus dan prevalensi monyet ekor panjang yang terinfeksi. Rancangan percobaan yang digunakan adalah metode survey dengan teknik pengambilan sampel secara eksidental sampling. Pengambilan sampel dilakukan dengan 3 kali ulangan dengan interval waktu 2 minggu. Variabel penelitian ini adalah prevalensi infeksi nematoda parasit dan parameternya adalah jumlah feses yang positif mengandung telur nematoda parasit dan jenis nematoda yang menginfeksi.Data dianalisissecara deskriptif dari hasil identifikasi jenis parasit dan perhitungan prevalensi jenis telur. Hasil penelitian didapatkan prevalensi monyet ekor panjang dikategorikan sebagai infeksi biasa dan terdapat 5 spesies yang ditemukan yaitu Strongyloides sp.,Ascaris sp.,Trichuris sp.,Ancylostomasp., dan Oesophagostomum sp.Cikakak is one of 12 villages in Wangon Subdistrict, Banyumas Regency. Cikakak Village became a tourist spot due to the existence of the Saka Tunggal Mosque and was home to quite a lot of monkeys. Long-tailed monkey (Macaca fascicularis) is a type of primate with a high level of adaptation in various habitats. This species belongs to the type of social primate in his life. Never separated from social interaction or living together with other individuals. This primate can be denied as a source of parasitic infection which is a zoonotic disease, one of which is intestinal parasitic nematodes. Intestinal parasitic nematode infections in the host can occur through contamination of infective eggs in food. Feces as the main source of deep parasitic infections are classified as Soil Transmitted Helminths (STH) infections. The purpose of this study was to study the types of intestinal parasitic nematodes and the prevalence of protected long-tailed monkeys. The experimental design used was a survey method with sampling techniques using an incidental sample. Sampling was carried out with 3 replications at intervals of 2 weeks. The variables of this study are nematode parasitic infections and the parameters are the number of positive feces containing parasitic nematode eggs and the type of infecting nematodes. Data were analyzed descriptively from the results of parasite type testing and calculation of egg type prevalence. The results showed that the prevalence of long-tailed monkeys was categorized as an ordinary infection and there were 5 species found, namely Strongyloides sp., Ascaris sp., Trichuris sp., Ancylostoma sp., And Oesophagostomum sp.
2374226880B1J014125PENGGUNAAN BEBERAPA JENIS SUPLEMEN DENGAN KONSENTRASI BERBEDA PADA PERTUMBUHAN JAMUR TIRAM PUTIH (Hipsizygus ulmarius) Hipsizygus ulmarius termasuk salah satu jenis jamur tiram yang sudah dibudidayakan. Keberhasilan budidaya jamur H. ulmarius ditentukan antara lain oleh medium tanam yang digunakan. Penambahan suplemen biasa digunakan untuk menambah nutrisi medium tanam dan mempercepat pertumbuhan jamur H. ulmarius. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui interaksi antara jenis medium tanam dan jenis suplemen yang baik dalam produksi jamur H. ulmarius. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas empat jenis suplemen yaitu DP : dedak padi; DJ : dedak jagung; PL : polar; TG : tepung gandum dengan lima kosentrasi yang berdeda yaitu 0%; 5%; 10%; 15%; dan 20%. Masing-masig perlakuan diulang 4 kali, sehingga terdapat 80 unit percobaan. Variabel bebas yaitu jenis suplemen dan kosentrasi. Variabel terikat yaitu pertumbuhan jamur tiram putih. Parameter utama yaitu berat basah tubuh buah. Parameter pendukung yaitu kecepatan pertumbuhan miselium, kepadatan miselium, kemunculan tubuh buah I (pertama kali), pH medium tanam, dan rasio C/N medium tanam. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analisis ragam (ANOVA) danhasilnya beda nyata antar perlakuan, maka dilakukan uji Duncan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa kombinasi jenis dan konsentrasi berpengaruh terhadap bobot basah tubuh buah jamur tiram putih H. ulmarius. Hasil berpengaruh signifikan (P<0,05), jenis suplemen dedak padi (DP) dengan konsentrasi 20% menunjukan hasil terbaik yaitu 31.846,25 gram dengan miselium yang padat, pH medium 6,8 dan rasio C/N adalah 72,31%Hipsizygus ulmarius is one type of oyster mushroom that has been cultivated. The success of H. ulmarius cultivation is determined among others by the planting medium used. The addition of other ingredients or supplements is commonly used to add nutrients to the growing medium and accelerate the growth of H. ulmarius. The purpose of this research was to determine the interaction between the types of planting medium and the types of supplements that were good in the production of H. ulmarius. The research method used a Completely Randomized Design (CRD) with four types of supplements, named DP: rice bran; DJ: corn bran; PL: polar; TG: Wheat flour. Each supplement has five different concentrations of 0%; 5%; 10%; 15%; and 20%. Each treatment was repeated 4 times, so that there were 80 experimental units. The independent variables were supplement type and concentration. The dependent variable is the growth of H. ulmarius. The main parameter is the fruit body's wet weight. Supporting parameters were the mycelium growth rate, mycelium density, the initial growth of the fruit body, the pH of the planting medium, the C / N ratio of the planting medium. The data obtained were analyzed used Analysis of Variance (ANOVA) and the results were significantly different between treatments, then the Duncan test was carried out at 5% level. The results showed that the combination of species and concentration affected the wet weight of the H. ulmarius. The results had a significant effect (P <0.05), the type of rice bran supplement (DP) with a concentration of 20% showed the best results of 31.846,25 grams with solid mycelium, medium pH 6.8 and C / N ratio was 72.31%.
2374326805I1D015004GAMBARAN SISA MAKANAN SEBELUM DAN SETELAH DIBERIKAN EDUKASI GIZI PADA PASIEN RUANG RAWAT INAPLatar Belakang : Persentase sisa makanan menggambarkan daya terima pasien terhadap makanan yang disajikan oleh rumah sakit. Apabila sisa makanan terjadi secara terus-menerus dapat memperlambat proses penyebuhan. Penatalaksanaan asuhan gizi salah satunya yaitu edukasi gizi penting dilakukan pada pasien untuk meningkatkan pengetahuan. Motivasi yang diberikan ahli gizi pada pasien menunjukkan bahwa asupan dan tingkat kecukupan energi yang meningkat, sehingga dapat menurunkan sisa makanan. Penelitian dilakukan pada pasien ruang rawat inap untuk mengetahui gambaran perubahan sisa makanan sebelum dan setelah diberikan edukasi gizi, penelitian dilaksanakan di ruang rawat inap kelas I, II, dan III di RSUD Majalengka.
Metode : Desain penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan uji deskriptif. Sampel yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah sebesar 54 responden. Instrumen penelitian menggunakan formulir sisa makanan comstock.
Hasil : Hasil penelitian menggambarkan bahwa sisa makanan pada makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur dan buah mengalami penurunan setelah diberikan edukasi gizi.
Kesimpulan : Pemberian edukasi gizi oleh ahli gizi pada pasien rawat inap dapat menurunkan sisa makanan.

Background: The percentage of food waste reflects the patient's acceptability of the food served by the hospital. If food waste occurs continuously it can slow down the healing process. One of the nutrition care management methods is nutrition education that is important for patients to increase their knowledge. The motivation given by nutritionists to patients shows that the intake and level of energy sufficiency increases so that it will reduce food waste. The study was conducted on inpatient patients to find a picture of changes in food waste before and after nutrition education was given, the research was carried out in inpatient rooms class I, II, and III in Majalengka Hospital.
Method: The design of this study uses descriptive analysis with descriptive testing. The sample involved in this study was 54 respondents. The research instrument used comstock food waste forms.
Results: The results of the study illustrate that food waste in staple foods, animal side dishes, plant-based side dishes, vegetables and fruit has decreased after nutrition education was given.
Conclusion: Provision of nutrition education by nutritionists to inpatients can reduce food waste.
2374426882B1J013210Studi Karakter Morfometrik, Meristik dan Truss Morphometrics Ikan Montok (Pennahia macrocephalus, Tang, 1937)Ikan montok (Pennahia macrocephalus) memiliki nilai ekonomis yang penting dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Saat ini permintaan pasar yang tinggi hanya mengandalkan hasil tangkapan nelayan saja tanpa adanya pengelolaan untuk masa mendatang, sehingga dikhawatirkan populasi ikan montok akan menurun. Pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi turunnya populasi ikan montok yaitu dengan cara konservasi. Upaya konservasi memerlukan data-data ilmiah berupa informasi taksonomik yang dapat digunakan sebagai pembeda antara ikan jantan dan betina. Informasi tersebut berupa karakter morfologi yang meliputi truss morphometrics, morfometrik standar dan meristik. Penelitian tentang ikan montok masih jarang dilakukan di Indonesia. Hal ini yang mendasari dilakukannya penelitian ikan montok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendapatkan karakter morfologi, morfometrik standar, truss morphometrics, dan meristik yang dapat digunakan untuk membedakan antara ikan montok jantan dan betina.
Metode penelitian menggunakan teknik survey dan pengambilan sampel dengan teknik Purposive Random Sampling. Sampel ikan montok diperoleh dari TPI Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC) sebanyak 60 ekor, dengan dua kali ulangan. Variabel yang diamati pada penelitian ini yaitu karakter morfologi, morfometrik standar, meristik, dan truss morphometrics. Parameter yang diukur yaitu perbandingan rasio antara jarak truss dengan panjang standar. Karakter morfologi yang diamati yaitu bentuk tubuh, bentuk dan posisi mulut, bentuk sirip caudal, dan tipe sisik. Karakter morfometrik standar yang diukur Pre Orbital Length, Eye Diameter, Post Orbital Length, Head Length, First Pre-dorsal Length, First Dorsal Fin Base Length, Second Dorsal Fin Base Length, Pre-caudal Peduncle Base Length, Pre-caudal Peduncle Length, Total Length, Mouth Length, Pre-operculum Length, First Pre-pectoral Fin Length, First Pre-pelvic Fin Length, Second Pre-pectoral Fin Length, Second Pre-pelvic Fin Length, First Pre-anal Fin Length, Second Pre-anal Fin Length, Second Pre-dorsal Length, Pectoral Fin Length, Pectoral Fin Base Length, Pelvic Fin Base Length, Anal Fin Base Length, Pelvic Fin Length. Karakter meristik yang dihitung yaitu jumlah sisik garis rusuk, jumlah sisik diatas garis rusuk, jumlah sisik dibawah garis rusuk, jumlah sisik yang mengelilingi batang ekor, jumlah jari-jari sirip pectoral, jumlah jari-jari sirip ventral, jumlah jari-jari keras sirip dorsal, jumlah jari-jari lemah sirip dorsal, jumlah jari-jari sirip anal, jumlah jari-jari sirip ekor. Karakter truss morphometrics yang diukur yaitu jarak truss yang sudah ditentukan sebanyak 14 titik. Data hasil pengamatan karakter morfologi dianalisis secara deskriptif, sedangkan pengukuran karakter morfometrik standar, meristik dan truss morphometrics dilakukan analisis statistik dengan uji t menggunakan SPSS Versi 16.0 antara ikan montok jantan dan betina..
Hasil penelitian menunjukkan karakter truss morphometrics dapat digunakan untuk membedakan antara ikan montok jantan dan ikan montok betina yaitu pada jarak pangkal depan sirip dorsal dengan ujung belakang sirip dorsal, jarak antara jarak ujung belakang sirip dorsal dengan ujung belakang sirip ventral, jarak antara ujung belakang sirip dorsal dengan batas badan dan ekor bagian ventral, jarak antara batas badan dan ekor bagian dorsal dengan batas badan dan ekor bagian ventral dan jarak antara batas badan dan ekor bagian dorsal dengan pelipatan ekor bagian ventral.
Montok fish (Pennahia macrocephalus) has an important economic value and widely consumed by the community. Nowdays, high market demand only relies on fishermen’s catch without any management, so that to be worried the population of montok fish will be descending. The prevention to reduce the descending of the population is a conservation. Conservation requires some scientifics data like taxonomic information that can apply sexual differences. Morphological characters, meristics, standard morphometrics, and truss morphometrics are the information. Researches about montok fish are rarely in Indonesia. This is what underlies the study of montok fish. This study aims to determine and obtain morphological characters, standard morphometrics, truss morphometrics, and meristics that can be used to distinguish between male and female montok fish.
The research method uses survey and sampling techniques with purposive random sampling techniques. Montok fish samples were obtained from the TPI of the Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC) of 60 fishes. The variables observed in this study were morphological characters, standard morphometrics, meristics, and truss morphometrics. The measured parameters are the ratio of the distance between the truss distance and the standard length. Morphological characters observed are body shape, mouth shape, caudal fin shape, and type of scales. Standard morphometric characters measured in Pre Orbital Length, Eye Diameter, Post Orbital Length, Head Length, First Pre-dorsal Length, First Dorsal Fin Base Length, Second Dorsal Fin Base Length, Pre-caudal Peduncle Base Length, Pre-caudal Peduncle Length, Total Length, Mouth Length, Pre-operculum Length, First Pre-pectoral Fin Length, First Pre-pelvic Fin Length, Second Pre-pectoral Fin Length, Second Pre-pelvic Fin Length, First Pre-anal Fin Length, Second Pre-anal Fin Length, Second Pre-dorsal Length, Pectoral Fin Length, Pectoral Fin Base Length, Pelvic Fin Base Length, Anal Fin Base Length, Pelvic Fin Length. The calculated meristics characters are the number of ribs scales, the number of scales above the ribs line, the number of scales under the ribs line, the number of scales surrounding the tail shaft, the number of pectoral fin fingers, the number of ventral fin fingers, the number of dorsal fin hard fingers, the number of fingers is weak in the dorsal fin, the number of fingers of the anal fin, the number of fingers of the tail fin. The character of the measured truss morphometrics is the distance of the truss that has been determined as many as 14 points. Data from observations of morphological characters are analyzed descriptively, while measurements of standard morphometric characters, meristics and truss morphometrics are carried out statistical analysis using t test from SPSS Version 16.0 between male and female montok fish.
The results showed truss morphometrics character can be used to distinguish between male montok fish and female montok fish which is at the front base of the dorsal fin with the back end of the dorsal fin, the distance between the back end of the dorsal fin and the rear end of the ventral fin, the distance between the back end of the dorsal fin with the ventral body and tail, the distance between the body boundary and the dorsal tail with the ventral body and tail boundary and the distance between the body boundary and the dorsal tail with the ventral tail folding.
2374526884J1D015011Pola Afiksasi Pembentuk Verba dan Nomina dalam Teks Laporan Hasil Observasi Karya Siswa Kelas X Jurusan Teknik Audio Video 1 SMK Negeri 2 PurwokertoPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola afiksasi pembentuk verba dan nomina serta makna gramatikal yang dihasilkannya dalam teks laporan hasil observasi karya siswa kelas X jurusan TAV 1 SMK N 2 Purwokerto. Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif . Penelitian ini menggunakan metode simak dalam pengumpulan datanya. Teknik yang digunakan adalah teknik sadap sebagai teknik dasar serta teknik simak bebas libat cakap dan teknik catat sebagai teknik lanjutannya. Data dianalisis menggunakan metode agih serta teknik baca markah sebagai teknik lanjutannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 62 kata berkelas verba dengan verba berprefiks me- yang paling banyak digunakan sebanyak 34 verba. Kemudian ditemukan 35 kata berkelas nomina, dengan nomina bersufiks -an yang paling banyak digunakan sebanyak 10 nomina. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa siswa dapat menggunakan verba dan nomina yang memiliki makna gramatikal dalam membuat teks laporan hasil observasi. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi guru dan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah.This research aims to describe the affixation patterns forming verbs and nouns as well as the grammatical meaning generated in the observation report text by the tenth grade student of Audio Video Engineering 1 at Purwokerto 2 State Vocational High School. The Form of this research is a descriptive qualitative. This research used the obsevational method in data collection. The technique used are tapping as a basic technique with non-participant observation technique and writing technique as the further one. Data was analyzed using distributional method and markig reading technique as an advance technique. The results of this research showed that there are 62 verbs class words with many of them using verbs with “me-“ prefix there are 34 verbs. Than there are 35 nouns class words with mostly using nouns with “-an” suffix there are 10 nouns. The results of this research also showed that student can use verbs and nouns having grammatical meaning in making observation report text. The result of this research can use as material reference for teacher and student in learning process at school.
2374628945B1A015009ESTIMASI STOK KARBON PADA CAGAR ALAM BANTARBOLANG PEMALANG JAWA TENGAHTotal jumlah materi hidup pada suatu pohon disebut biomassa yang diantaranya terdiri atas senyawa karbon dan merupakan hasil penyerapan karbon dari atmosfer melalui proses fotosintesis. Senyawa karbon yang ada di atmosfer diserap dan dimetabolisme. Hasil metabolismenya disimpan dalam biomassa pohon. Pepohonan yang dapat diandalkan sebagai penyimpan karbon salah satunya adalah yang ada di Cagar Alam yang merupakan kawasan suaka alam dengan keadaan alamnya yang mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya yang perlu dilindungi karena banyak menyimpan karbon. Bantarbolang salah satu cagar alam yang mempunyai struktur dan komposisi vegetasi yang kompleks, sehingga memiliki potensi karbon tersimpan yang relatif banyak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui spesies pohon dengan kandungan karbon tersimpan paling tinggi dan untuk mengestimasi jumlah karbon yang tersimpan di Cagar Alam Bantarbolang, Pemalang, Jawa tengah.
Penelitian dilakukan menggunakan metode survei pada Cagar Alam Bantarbolang. Cagar ini dibuat tiga stasiun penelitian dan setiap stasiun penelitian dibuat lima petak kuadrat berukuran 20 m x 20 m yang diletakkan secara selang-seling di sepanjang transek pada stasiun tersebut. Pada setiap kuadrat tersebut, jumlah jenis pohon, jumlah individu setiap jenis pohon, dan diukur diameter batang pohon setiap individunya dihitung. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif.
Hasil penelitian mendapatkan 10 spesies pohon penyusun vegetasi Cagar Alam Bantarbolang yaitu Tectona grandis, Gluta renghas, Cinnamomum sintoc, Streblus asper, Carpinus caroliniana, Amoora aphanamixis, Syzygium cumini, Ficus variegata, Mangifera sp., dan Senna siamea. Cadangan karbon per pohon paling tinggi adalah Tectona grandis sebesar 220,79 ton/ha, sedangkan yang paling rendah adalah Ficus variegata sebesar 0,07 ton/ha. Cagar Alam Bantarbolang secara keseluruhan dengan luas 25 ha memiliki cadangan karbon sebesar 5965,25 ton karbon.
The total amount of living matter in a tree is called biomass which includes carbon compounds and the result of carbon sequestration from the atmosphere through the process of photosynthesis. Carbon compounds in the atmosphere are absorbed and metabolized. The results of its metabolism are stored in tree biomass. One of the trees that can be relied upon for storing carbon is the one in the Nature Reserve which is a nature reserve area with a natural condition that has a unique plant, animal, and ecosystem that needs to be protected because it stores a lot of carbon. Bantarbolang is one of the nature reserves that has a complex structure and composition of vegetation, so as to produce a lot of stored carbon. The purpose of this study is to determine the amount of carbon stored in the Bantarbolang Nature Reserve. The study was conducted using survey methods. Bantarbolang Nature Reserve was chosen by 3 research stations. Each station has 5 m2 of size 20 m x 20 m which are placed alternately along the transect. Each square is calculated by the number of trees of each type. The parameter measured is the rod diameter. Data collected were analyzed using descriptive analysis. The results of this study were 10 species of trees making up the environment Bantarbolang Nature Reserve, namely Tectona grandis, Gluta renghas, Cinnamomum sintoc, Streblus asper, Carpinus caroliniana, Amoora aphanamixis, Syzygium cumini, Ficus variegata, Mangifera sp., and Senna siamea. The highest carbon stock per tree was Tectona grandis of 220.79 tons/ha. The total capability of the Bantarbolang Nature Reserve to contribute carbon with an area of 25 ha was 5965.25 tonC.
2374726885G1B012094PERBEDAAN ANTARA PERASAN TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) DAN PERASAN KUNYIT (Curcuma domestica Val) DALAM MENURUNKAN JUMLAH BAKTERI TOTAL PADA DAGING SAPIPERBEDAAN ANTARA PERASAN TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) DAN PERASAN KUNYIT (Curcuma domestica Val) DALAM MENURUNKAN JUMLAH BAKTERI TOTAL PADA DAGING SAPI
Isni Kurnia Dewi, Saudin Yuniarno, Suratman
Latar Belakang: Daging menjadi media yang baik bagi pertumbuhan bakteri baik bakteri patogen maupun bakteri pembusuk. Kunyit dan temulawak mempunyai kandungan antibakteri. Kunyit mengandung kurkuma dan minyak atsiri sedangkan temulawak mengandung minyak atsiri golongan xantorhizol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perasan temulawak dan perasan kunyit dalam menurunkan jumlah bakteri total pada danging sapi.
Metodologi: Jenis penelitian ini adalah penelitian true experiment, dengan menggunakan posttest only with control group design. Metode yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan yaitu pemberian perasan temulawak konsentrasi 5%, 10%, 15%, dan pemberian perasan kunyit konsentrasi 5%, 10%, 15%. Penelitian ini menggunakan 28 sampel daging sapi masing-masing seberat 20gram yang dibagi menjadi 7 kelompok, yaitu kelompok kontrol dan enam kelompok perlakuan. Daging sapi direndam pada masing masing perlakuan, kemudian diuji jumlah angka total bakteri. Data dianalisis menggunakan uji Kruskall Wallis dan dilanjutkan dengan uji Post Hoc Mann Whitney.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata penurunan jumlah bakteri antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan kecuali pada temulawak konsentrasi 5%. Jumlah bakteri paling rendah terdapat pada kunyit konsentrasi 15%. Jumlah bakteri pada kunyit lebih rendah dibandingkan jumlah bakteri pada temulawak, yaitu kunyit konsentrasi 15% sebanyak 3,75 koloni/gram diikuti kunyit konsentrasi 10% sebanyak 9,5 konloni/gram dan kunyit konsentrasi 5% sebanyak 17,5 koloni/gram. Pada temulawak konsentrasi 15% sebanyak 13 koloni/gram diikuti temulawak konsentrasi 10% sebanyak 18,5 koloni/gram dan kunyit konsentrasi 5% sebanyak 22,5 koloni/gram. Semakin tinggi konsentrasi maka jumlah bakteri akan semakin rendah.
Kesimpulan: Kunyit konsentrasi 15% mempunyai kemampuan untuk menurunkan jumlah bakteri paling tinggi
Kata kunci: Kunyit, Temulawak, Antibakteri
THE DIFFERENCE BETWEEN SULUTION TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) AND TURMERIC (Curcuma domestica Val) IN DECREASING THE TOTAL AMMOUNT OF BACTERRIA IN BEEF
Isni Kurnia Dewi, Saudin Yuniarno, Suratman
Background: Meat is the good medium for bacterial growth both pathogenic bacteria and spoilage bacteria. Turmeric and temulawak have antibacterial efect. Turmeric containing Curuma and essential oil and than tumeric containing xantorhizol. This study aims to determine the difference solution temulawak and solution tureric in decreasing the total amount of bacteria in beef.
Method: This study was a true experimental study, using posttest only with control group design. The study design used was complete randomized design (CRD) with 6 treatment that give are temulawak in concentrate 5%, 10%, 15 % and turmeric in concentrate 5%, 10%, 15 %. The study using 28 sample beef each sample was 20 gr , that is divided into 7 groups. The one in the control group and six in the treatment group. Beef soaked in each treatment, and then the total amount of bacteria were tested. Analysis of data using Kruskall Wallis and than continue with Post Hoc Mann Whitney.
Result: The result this study showed that temulawak and turmeric can lower the amount of bacteria with significantly, except tumeric in 5% concentrate. The least amount of bacteria found in tutmeric concentrate 15%. The amount of bacteria in turmeric is lower than the number of bacteria in temulawak, there are turmeric concentration of 15% is 3.75 colonies / gram followed by turmeric concentration of 10% is 9.5 concloni / gram and turmeric concentration of 5% is 17.5 colonies / gram. In temulawak, the amount of 15% concentration is 13 colonies / gram followed by temulawak concentration of 10% is 18.5 colonies / gram and turmeric concentration of 5% is 22.5 colonies / gram. If the concentration increased, the number of bacteria are decreased.
Conclusion: Turmeric concentration of 15% has the ability to reduce the highest amount of bacteria
Keyword : Tumeric, Temulawak, Antibacterial.
2374826883B1A015123MORFOLOGI KEPITING Albunea symmysta (ALBUNEIDAE:CRUSTACEAE) DARI PANTAI PARANGKUSUMO YOGYAKARTAFamilia Albuneidae terdiri atas Sembilan Genus dan salah satunya yaitu Albunea. Distribusi Albunea di Indonesia telah dilaporkan oleh beberapa peneliti terdahulu, diantaranya terdapat di pesisir Cilacap, Kebumen, Yogyakarta, Aceh, dan Bengkulu. Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang dilakukan di Pantai Parangkusumo Yogyakarta telah ditemukan kepiting yang memiliki morfologi hampir sama dengan dengan spesies Albunea symmysta yang pernah ditemukan sebelumnya di lokasi yang berbeda. Atas dasar hal tersebut maka telah dilakukan kajian untuk mengetahui kepastian nama spesiesnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kepiting Albunea yang dimiliki oleh yang berasal dari pantai Parangkusumo Yogyakarta serta untuk mengetahui semua karakter performa dan meristik milik kepiting Albunea yang berasal dari pantai Parangkusumo. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dan pengambilan sampel secara purposive random sampling. Sampel dari pantai Parangkusumo diambil sebanyak dua kali dengan interval waktu dua minggu, pengambilan sampel dilakukan hingga memperoleh jumlah sampel sebanyak 60 ekor. Identifikasi dilakukan berdasarkan karakter morfologi, yang meliputi performa, morfometri dan meristik. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk performa dan meristik, sedangkan morfometrik dengan uji T.
. Berdasarkan pengamatan performa morfologi, meristik, hasil penelitian yang didapat yaitu kepiting Albunea yang diperoleh dari Parangkusumo Yogyakarta adalah spesies Albunea symmysta yang memiliki karakter karapas dengan bentuk hampir empat persegi panjang, memiliki antenula yang sangat panjang, karapas dengan permukaan rata, memiliki dactylus pertama subchelate, memiliki 9-12 buah duri anterolateral dan memiliki tujuh buah segmen flagella antena.
Albuneidae is consists of nine genera, one of them is Albunea. Albunea distribution, in Indonesia has been reported by several previous researchers, including those on the coast of Cilacap, Kebumen, Yogyakarta, Aceh, and Bengkulu. Based on the results of a preliminary survey conducted at Parangkusumo Beach, Yogyakarta, has found crabs who have similar morphology as the species Albunea symmysta which is found before. Based on this situation a study was conducted to determine the certainty of the species name. This study aims to identify Albunea crabs from the Parangkusumo coast of Yogyakarta and to know all performance and meristic character who Albunea crabs originating from Parangkusumo has. This research was conducted using a survey method with purpossive random sampling technique. Sampling was carried out in the area Parangkusumo beach, Samples were taken twice with two weeks intervals , each time is repeated three times. The crabs from Cilacap is a collection of the Animal Taxonomy Laboratory Faculty of Biology Unsoed. Identification was carried out based on the morphologycal charcters, include performance and meristic. Data analysis of performance and meristic was carried out by making morphologycal descriptions
Based on observations of morphological performance and meristik, research results obtained are Albunea crabs obtained from Parangkusumo Yogyakarta are Albunea symmysta species that have carapace character with almost rectangular shape, have very long antenula, carapace with flat surface, have the first subchelate dactylus, has 9-12 anterolateral spines and has seven flagella antenna segments
2374926886I1B015033PERBEDAAN KUALITAS HIDUP LANSIA HIPERTENSI YANG AKTIF MENGIKUTI PROLANIS DENGAN YANG KURANG AKTIF PROLANISLatar Belakang: Sesuai dengan pertambahan usia lansia akan mengalami perubahan dalam segi fisik, kognitif, sosial, dan seksual. Kualitas hidup lansia dipengaruhi oleh usia, pendidikan, status pernikahan, keluarga, finansial, tempat tinggal, depresi, penyakit, cedera dan akses pelayanan kesehatan. Perbedaan kualitas hidup lansia aktif PROLANIS dengan yang kurang aktif PROLANIS terletak pada tingkat pendidikan, pendapatan, jenis kegiatan dan jarak tempuh.
Tujuan: Mengetahui perbedaan kualitas hidup lansia hipertensi yang aktif mengikuti PROLANIS dengan yang kurang aktif mengikuti PROLANIS.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain studi komparatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah 30 lansia aktif dan 30 lansia kurang aktif. Pengukuran kualitas hidup lansia menggunakan instrument WHOQOL-BREFF. Uji yang digunakan adalah uji Mann-whitney dan uji t-tidak berpasangan.
Hasil Penelitian: Hasil uji Mann-whitney menunjukkan terdapat perbedaan pada aspek kualitas hidup secara umum (p=0,017), aspek kesehatan secara umum (p=0,010), aspek psikologis (p=0,001), aspek hubungan sosial (p=0,011) dan aspek lingkungan (p=0,029). Hasil uji t tidak berpasangan menunjukkan tidak terdapat perbedaan pada aspek fisik (p=0,401).
Kesimpulan: Terdapat perbedaan pada kualitas hidup secara umum, kesehatan secara umum, domain psikologis, domain sosial dan domain hubungan dengan lingkungan tetapi pada domain fisik tidak terdapat perbedaan antara lansia aktif mengikuti PROLANIS dengan lansia kurang aktif.
Background: In compliance with the age of the elderly will experience changes in terms of physical, cognitive, social, and sexual. Quality of life of the elderly is influenced by age, education, marital status, family, financial, housing, depression, disease, injury and health services access. The difference quality of life elderly active with less active PROLANIS is located on level of education, income, type of activity and the distance traveled.
Objective: This study aimed to find out the difference the quality of life of elderly hypertension who are actively participating in PROLANIS with those who are less actively participating in PROLANIS.
Methods: This study used comparative study design and cross-sectional approach. The sample used in the study was 30 active and 30 less active elderly. Measuring the quality of life of the elderly using the WHOQOL-BREF instrument. Data were analysed Mann-Whitney and unpaired t-test.
Results: The Mann-Whitney test result showed differences in aspects of the general quality of life (p=0.017), general health (p=0.010), psychological (p=0,001), social (p=0.011) and environmental (p=0.029). The result showed no difference in physical (p=0,401).
Conclusion: There was difference in the general quality of life, general health, psychological domain, social relationships domain, but there was no difference in the psychological domain in the elderly with PROLANIS active and less active.
2375026887G1G014020PERBANDINGAN KELARUTAN KALSIUM GIGI DESIDUI YANG DIAPLIKASI FUNCTIONALIZED TRICALCIUM PHOSPHATE (FTCP) DAN CASEIN PHOSPHOPEPTIDE AMORPHOUS CALCIUM PHOSPHATE
(CPP-ACP) DALAM MINUMAN BERPERISA ASAM
Demineralisasi merupakan proses hilangnya ion-ion mineral dari email gigi. Demineralisasi email gigi disebabkan oleh faktor utama yaitu zat asam yang terkandung dalam minuman ringan. Salah satu minuman ringan yang sering dikonsumsi anak-anak adalah minuman berperisa asam. Strategi pencegahan demineralisasi gigi lebih efektif sejak diperkenalkannya bahan-bahan remineralisasi yaitu Functionalized Tricalcium Phosphate (fTCP) dan Casein Phosphopeptides Amorphous Calcium Phosphate (CPP-ACP). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kelarutan kalsium gigi desidui yang diaplikasi fTCP dan CPP-ACP dalam minuman berperisa asam. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris yang dilakukan secara in vitro dengan rancangan penelitian posttest-only with control group design. Sampel pada penelitian ini menggunakan metode simple random sampling. Sampel sebanyak 27 gigi desidui insisivus 1 dan 2 rahang atas yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: kelompok I (aplikasi fTCP), kelompok II (aplikasi CPP-ACP), dan kelompok III (tidak diaplikasikan bahan remineralisasi). fTCP dan CPP-ACP diaplikasikan selama 5 menit lalu dialiri saliva buatan selama 24 jam menggunakan Incubator Modified with Saliva (IMWS). Sampel direndam dalam minuman berperisa asam selama 5 menit. Minuman asam diukur menggunakan alat Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). Hasil uji AAS menunjukkan rerata nilai kelompok I sebesar 1,850 ppm, kelompok II sebesar 2,801 ppm, dan kelompok III sebesar 3,877 ppm. Hasil dari uji One Way Anova dan Post hoc LSD menunjukkan terdapat perbedaan yang sangat bermakna antar kelompok I dengan kelompok II, kelompok II dengan kelompok III, dan kelompok I dengan kelompok III. Penelitian ini menunjukkan bahwa kelarutan kalsium gigi desidui yang diaplikasi fTCP lebih rendah dibandingkan dengan CPP-ACP dalam minuman berperisa asam. Demineralization is a process of mineral ions lost from tooth enamel. Tooth enamel demineralization is mainly caused by acid content in soft drinks. One of the soft drinks that is often consumed by children is acid beverages. Strategies to prevent dental demineralization are more effective since the introduction of remineralization materials, including Functionalized Tricalcium Phosphate (fTCP) and Casein Phosphopeptides Amorphous Calcium Phosphate (CPP-ACP). The aim of this study was to determine the comparison of calcium solubility of primary teeth applied with fTCP and CPP-ACP before immersion in acidic drinks. Type of the research was in vitro experimental laboratory with posttest-only control group design. The study was using sample random sampling method. The samples were 27 primary maxillary central and lateral incisors which divided into three groups: group I (fTCP application), group II (CPP-ACP application), and group III (without remineralization material application). The samples were applied with fTCP and CPP-ACP for 5 minutes followed with immersion in artificial saliva for 24 hours using Incubator Modified with Saliva (IMWS). The samples were soaked in acid beverage for 5 minutes. Calcium solubility of the samples in acid beverage was measured using the Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). The AAS test results showed the calcium solubility were 1.850 ppm in group I, 2.801 ppm in group II, and 3.877 ppm in group III. The results of One Way Anova and Post hoc LSD test showed significant differences between group I and group II, group II and group III, group I and group III. Based on results of the study can be concluded that the calcium solubility of primary teeth after fTCP application was lower than CPP-ACP application followed with immersion in acid beverage.
2375126889B1J012207KANDUNGAN LOGAM BERAT KADMIUM (Cd) PADA Amphibalanus amphitrite DI PERAIRAN SUNGAI DONAN DAN PLAWANGAN TIMUR CILACAPBanyaknya industri besar dan pemukiman masyarakat di kawasan Sungai Donan dan Plawangan Timur sangat memungkinkan menjadikan kedua tempat tersebut sebagai tempat pembuangan limbah cair yang salah satu kemungkinan kandungannya adalah kadmium (Cd). Jumlah kadmium yang masuk ke perairan dapat mempengaruhi kehidupan organisme laut termasuk teritip intertidal Amphibalanus amphitrite yang banyak ditemukan di daerah tersebut. Sebagai bentos sesil intertidal pada tiang beton dermaga dengan cara makan filter-feeder membuatnya selalu terpapar dan mampu mengakumulasi cemaran logam Cd yang bersifat toksik bagi organisme perairan. Sehingga teritip A. amphitrite, ditambah dengan ukurannya yang tidak terlalu besar, sangat ideal sebagai organisme indikator cemaran logam Cd. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam Cd yang terakumulasi pada A. amphitrite dari berbagi lokasi di muara Sungai Donan dan Plawangan Timur. Hasil penelitian didapatkan berdasarkan jenis sampelnya, nilai akumulasi logam Cd pada lokasi pengambilan sampel adalah 3,8 µg/g untuk Dermaga Nusakambangan. Berdasarkan ukurannya, A. amphitrite besar memiliki nilai akumulasi logam Cd lebih besar daripada A. amphitrite kecil yaitu sebesar 3,1 µg/kg. Berdasarkan bagian tubuhnya, sampel cangkang dan daging A. amphitrite lebih besar akumulasi logam beratnya daripada sampel cangkang maupun sampel daging A. amphitrite yaitu sebesar 4,3 µg/kg. Perbandingan analisis kandungan logam Cd pada A.amphitrite antar lokasi pengambilan sampel adalah lokasi dengan akumulasi logam berat Cd pada A. amphitrite terbesar terdapat pada Dermaga Nusakambangan sebesar 3,8 µg/kg, diikuti dengan Dermaga Tanjung Intan sebesar 3,3 µg/kg, Dermaga Pengayoman sebesar 3,2 µg/kg, Dermaga Batubara sebesar 1,6 µg/g dan kandungan logam Cd terkecil terdapat pada Dermaga Sleko sebesar 1,6µg/g. Nilai kandungan logam Cd pada A. amphitrite di Perairan Sungai Donan dan Plawangan Timur Cilacap tidak melebihi standar baku mutu yang telah ditetapkan SNI-7387 Tahun 2009 yaitu 1,0 mg/kg. Melihat kadar akumulasi cemaran logam Cd yang cukup besar pada A. amphitrite yang mempunyai rentang hidup yang tidak terlalu panjang dapat dinyatakan A. amphitrite dapat digunakan sebagai bioindikator dan sebagai buffer cemaran Cd yaitu hewan yang dapat mengurangi polutan logam Cd pada perairan Sungai Donan dan Plawangan Timur Cilacap. A lot of big industry and community settlement are located in Donan River and Plawangan Timur region that make it possible to be a liquid waste landfill that contains cadmium (Cd). Amounts of cadmium that enter water area can affect some organism including intertidial bernacels (A.amphitrite) that can be found in those area. Bernacels are intertidial benthos cecil that stick on dock concrete pole, wich is a filter feeder that always make it exposed and accumulated toxic metal accumulation Cd in organism. A.amphitrite has a small shape that is ideal to be Cd metal indicator accumulation organism. Purpose of this research is know accumulation of cadmium that contained in A.amphitrite around Donan River and Plawangan Timur estuary. The results of this reseach are obtained by the type of the sampels, accumulation value of metal Cd at the location of the sampel is 3,8 µg/g in Nusakambangan. By the size, larrge A. amphitrite has the value of accumulated metal Cd biger than small A. amphitrite 3,2 µg/g. Based on part of the body, the accumulation shell and meat sampels A. amphitrite biger than the shell sampells or meat sampels its about 4,2 µg/g. Comparison of metal Cd content analysis on A. amphitrite betwen sampele smpling location is location with heavy metal accumulation Cd at the largest A.amphitrite found on the Nusakambangan dock it is about 3,8 µg/kg, Followed by Tanjung Intan dock it is about 3,3 µg/g, Pengayoman dock it is about 3,2 µg/g, Batubara dock it is about 1,6 µg/g, and the most small amount is located in Sleko dock it is about 0,17 µg/g. The value of metal Cd content on A. amphitrite in the river waters of Donan and east bank of Cilacap does not exceed the quality standard that have been determined SNI-7387 year 2009 1,0 mg/kg. Trough accumulation of Cd metal that contained in A.amphitrite is high enough to used as bioindicator and Cd contamination buffer that mean an animal that can be used to reduce accumulation Cd metal polutan that have short live range in Donan River and Plawangan Timur.
2375226893G1F012085EVALUASI INTERAKSI OBAT YANG POTENSIAL TERJADI PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF RAWAT INAP RSUD. PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTOInteraksi obat potensial adalah kejadian yang berpotensi adanya interaksi antara dua obat atau lebih yang mengakibatkan perubahan efektifitas atau toksisitas obat. Gagal jantung merupakan penyakit yang mempunyai resiko tinggi terjadi interaksi obat yang potensial karena adanya polifarmasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi interaksi obat yang potensial terjadi pada pasien gagal jantung kongestif.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-evaluatif. Data diambil secara retrospektif dari rekam medik pasien gagal jantung kongestif rawat inap di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto pada tahun 2019. Teknik pengambilan sampel berdasarkan metode random sampling. Analisis data dilakukan secara deskriptif berdasarkan pada literature Drug Interactions Facts dan Stockley’s drug interaction.
Hasil penelitian pada 95 pasien menunjukkan bahwa terdapat 236 kejadian interaksi obat yang potensial pada 67 pasien (71%). Kejadian interaksi obat yang paling banyak adalah interaksi dengan mekanisme yang belum diketahui (46%) interaksi dengan tingkat signifikansi 5 (30%), interaksi dengan onset delayed (76%) interaksi dengan tingkat keparahan minor dan moderate (39,5%) dan interaksi dengan dokumentasi possible (44%). Obat-obat yang berpotensi paling sering menimbulkan interaksi obat yang potensial yaitu digoksin dengan furosemide (8,9%) dan furosemide dengan aspirin (7,2%).
Kata kunci: Interaksi obat, Gagal Jantung, RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo
ABSTRACT

Potential drug interactions are events that have the potential for interactions between two or more drugs that result in changes in the effectiveness or toxicity of the drug. Heart failure is a disease that has a high risk of potential drug interactions due to polypharmacy. This study was conducted to evaluate potential drug interactions in patients with congestive heart failure. This research is a descriptive-evaluative research. The data was taken retrospectively from the medical records of congestive heart failure inpatients at Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto in 2019. The sampling technique was based on the random sampling method. Data analysis was performed descriptively based on Drug Interactions Facts literature and Stockley's drug interaction. The results of 95 patients showed that there were 236 potential drug interactions in 67 patients (71%). The most common drug interactions were interactions with unknown mechanisms (46%) interactions with a significance level of 5 (30%), interactions with delayed onset (76%) interactions with minor and moderate severity (39.5%) and interactions with possible documentation (44%). Potential drugs most often cause potential drug interactions are digoxin with furosemide (8.9%) and furosemide with aspirin (7.2%).
Keywords: Drug interactions, Heart Failure, Prof. RSUD Dr. Prof. Margono Soekarjo
2375326891G1F012089GAMBARAN FAKTOR PENGHAMBAT KONSELING DI APOTEK KOTA PURWOKERTOLatar Belakang : Konseling adalah proses interaktif antara Apoteker dengan pasien/keluarga pasien yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran dan kepatuhan sehingga terjadi perubahan perilaku dalam penggunaan obat dan menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien sehingga kualitas hidup pasien meningkat. Namun, dalam prakteknya ditemukan berbagai faktor yang menghambat pelayanan konseling. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor penghambat konseling di apotek Kota Purwokerto.
Metodelogi : Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan cross-sectional. Data diambil di Apotek Kota Purwokerto dengan menggunakan kuesioner terbuka. Responden penelitian adalah Apoteker Pengelola Apotek (APA) atau Apoteker Pendamping yang telah ditentukan dan memenuhi kriteria inklusi. Penentuan responden dilakukan dengan metode Stratified random sampling, kemudian dilakukan pemilihan sampel secara acak. Data dianalisis dengan cara memberikan skor 1-5 berdasarkan jawaban Apoteker pada lembar kuesioner
Hasil Penelitian : Responden yang mengikuti penelitian berjumlah 31 Apoteker dengan karasteristik apoteker ialah 90,32% Apoteker adalah perempuan, 61,29% berumur 30-40 tahun, 48,38% lulus pada tahun 2000-2009, 64,51% telah berpraktek selama 1-10 tahun. Faktor penghambat konseling di apotek Kota Purwokerto adalah kurangnya waktu pasien 15,38%, ketebatasan SDM 13,28%, kurangnya waktu apoteker 11,18%.
Kesimpulan : Apoteker perlu meningkatkan kualitas pelaksanaan konseling dengan cara menyediakan waktu khusus untuk konseling dan menambah jumlah Apoteker di Apotek.
Background : Counseling is an interactive process between Pharmacists and patients / families of patients to increase knowledge, understanding, awareness, and complications so that increase safety in drug use and solve problems to improve patient quality. However, in practice various factors have been found to hamper counseling services. The purpose of this study was to study the inhibiting factors of counseling in Purwokerto City pharmacy.
Methodology : This study is a non-experimental study with a cross-sectional design. Data was taken at community pharmacy in purwokerto by using an open questionnaire. The research respondents were Pharmacists Managing Pharmacy (APA) or Assistance Pharmacists who had been determined and met the inclusion criteria. Determination of respondents is done by the method of Stratified random sampling, then a random sample selection. Data were analyzed by giving a score of 1-5 based on the answer Pharmacists on the questionnaire sheet.
Research Results : Respondents who took this research were taken 31 Pharmacists with pharmacistic characteristics are 90.32% Pharmacists were women, 61.29% aged 30-40 years, 48.38% graduated in 2000-2009, 64.51 % have practiced for 1-10 years. The inhibiting factors of counseling in Purwokerto City are lack of patient time 15.38%, human resources 13.28%, lack of pharmacist time 11.18%, communication obstacles 16.78%, lack of counseling room 12.58%, lack of pharmacist skills to conducting counseling 4.89%.
Conclusion : Pharmacists need to improve the quality of the implementation of counseling by providing special time for counseling and increasing the number of Pharmacists at the Pharmacy.
2375426894B1B015006THE DIVERSITY AND ABUNDANCE OF TERMITES (ORDER: ISOPTERA) AT ALTITUDE 200 M ASL KARST AREA SOUTHERN GOMBONG, KEBUMEN REGENCYTermites are social insects that have a very wide distribution. The termites in the forest ecosystem have many species and feeding habits, it can be said that diversity and abundance determine the role in the termite ecosystem. The termite are very important as a mediator for decomposition of the ecosystem of karst area. Therefeore, the aim of this study was to determine the diversity and abundance of termites in kasrt area at an altitude of 200 m asl Southern Gombong, Kebumen Regency. The study was conducted in a survey method and arranged as follows, in which 20 sub transect size of 5 m x 2 m as repetition and the termite was found is taken to vial bottle with alcohol 70% for identification. The data analysis using F test and continue with the LSD analysis. The study was obtained three diversity of termite in the karst area, there are M. gilvus, M. inspiratus and S. javanicus. The abundance of termite was obtained by M. gilvus is highest than the other termite with percentage of 90% while the abundance of termites based on plot was obtain in plot 1 with percentages 30,4%.Termites are social insects that have a very wide distribution. The termites in the forest ecosystem have many species and feeding habits, it can be said that diversity and abundance determine the role in the termite ecosystem. The termite are very important as a mediator for decomposition of the ecosystem of karst area. Therefeore, the aim of this study was to determine the diversity and abundance of termites in kasrt area at an altitude of 200 m asl Southern Gombong, Kebumen Regency. The study was conducted in a survey method and arranged as follows, in which 20 sub transect size of 5 m x 2 m as repetition and the termite was found is taken to vial bottle with alcohol 70% for identification. The data analysis using F test and continue with the LSD analysis. The study was obtained three diversity of termite in the karst area, there are M. gilvus, M. inspiratus and S. javanicus. The abundance of termite was obtained by M. gilvus is highest than the other termite with percentage of 90% while the abundance of termites based on plot was obtain in plot 1 with percentages 30,4%.
2375526895B1J013179KARAKTERISTIK GENETIK GALUR KEDELAI (Glycine max (L) Merr.)
HASIL SELEKSI GALUR MURNI BERDASARKAN MARKA RAPD
Kedelai (Glycine max (L) Merr.) merupakan plasma nutfah yang memiliki keanekaragaman genetik cukup tinggi di Indonesia. Hal ini membuka peluang bagi perakitan varietas kedelai lokal yang unggul. Salah satu teknik pemuliaan varietas lokal yang dapat dilakukan adalah seleksi galur murni (pure line selection). Melalui seleksi galur murni varietas lokal diperoleh keanekaragaman galur/genotipe kedelai dalam populasi. Upaya ini perlu didukung dengan metode analisis molekuler yang tidak dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Salah satu marka molekuler yang dapat digunakan adalah marka RAPD (Random Amplified Polimorphic DNA).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui polimorfisme tiga galur kedelai, yaitu galur No. 02, No. 76, dan No. 71, hasil seleksi galur murni dari populasi campuran varietas lokal di Banyumas berdasarkan marka RAPD dan mengetahui hubungan kekerabatan galur kedelai tersebut dengan varietas lokal, Slamet dan Grobogan, sebagai pembanding. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Genetika dan Molekuler Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), sedangkan penanaman benih kedelai dilakukan di greenhouse Fakultas Biologi UNSOED. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2019 sampai dengan Juli 2019.
Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Tahapan prosedur kerja terdiri atas 1) isolasi DNA genom tanaman kedelai, 2) elektroforesis dan visualisasi DNA hasil isolasi, 3) pengukuran kualitas dan kuantitas DNA hasil isolasi, 4) amplifikasi marka RAPD dengan teknik PCR, dan 5) elektroforesis dan visualisasi hasil PCR. Amplifikasi marka RAPD dilakukan menggunakan 10 primer acak, yaitu OPA-02, OPA-09, OPA-10, OPA-13, OPB-02, OPB-03, OPB 07, dan OPB-11. Analisis kelompok (cluster analysis) dilakukan menggunakan MEGA.10 dengan metode UPGMA
Hasil analisis RAPD menunjukkan bahwa kelima sampel kedelai memiliki tingkat polimorfisme yang rendah, yaitu 17,02%. Primer yang mengamplifikasi lokus polimorfik adalah OPA-02, OPA-09, OPB-02, OPB-04, OPB 07, OPB-11, dan OPB-12. Sementara itu, primer yang mengamplifikasi lokus monomorfik adalah OPA-10, OPA-13, OPB-03 dan OPB-12. Meskipun nilai polimorfisme lokus yang diperoleh rendah, teknik RAPD dapat mendeteksi perbedaan antara galur dan varietas yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil analisis klaster menunjukkan bahwa ketiga galur yang diteliti lebih berkerabat dekat dengan varietas lokal Slamet daripada varietas Grobogan.
Soybean (Glycine max) germplasm has a high genetic diversity in Indonesia. This condition provides a great opportunity to produce superior local varieties. One of various tehniques for breeding local varieties is the pure line selection. Through the pure line selection of local varieties, genetic diversity of soybean genotipe or line within a population can be obtained. This breeding effort needs to be suported by molecular analysis which is not affected by the enviromental factors. RAPD (Random Amplified Polimorphic DNA) marker is one of various moleculer techniques that can be used.
This study aimed to asses genetic diversity of three soybean lines, i.e. line No. 02, No. 76, and No 71, obtained from pure line selection from a mixed population of local varieties in Banyumas based on RAPD markers, and to determine the genetic relationship of the soybean lines with local varieties, i.e. Slamet and Grobogan as comparison. The study was conducted at the Genetics and Molecular Laboratory of the Faculty of Biology of Jenderal Soedirman University (UNSOED), while the planting of soybean seeds was carried out in the greenhouse of the Faculty of Biology of UNSOED. The study was conducted in March 2019 to July 2019.
The study was conducted in a survey method with a purposive sampling technique. The molecular works included 1) genomic DNA extraction, 2) electrophoresis and visualization of the isolated DNA, 3) measurement of quality and quantity of isolated DNA, 4) amplification of RAPD markers through PCR technique and 5) electrophoresis and visualization of the PCR products. RAPD analysis was carried out using 10 primers, i.e OPA-02, OPA-09, OPA-10, OPA-13, OPB-02, OPB-03, OPB-04, OPB 07, OPB-11, and OPB-12. Cluster analysis was done using MEGA.10 software with the UPGMA (Unweight Pairwise Group Methode Analysis).
Based on the results of the study, RAPD analysis reveals that the five soybean samples show low level of polymorphism, which is 17,02%. Primers that produce polymorphic loci include OPA-02, OPA-09, OPB-02, OPB-04, OPB 07, and OPB-11. While, Primers that produce monomorphic loci are OPA-10, OPA-13, OPB-03, and OPB-12. Although polymorphism level is low, the RAPD technique is able to detect differences between lines and cultivars used in this study. The cluster analysis shows that the three lines in this study have closer-relationship with local variety Slamet than Grobogan.
2375626897B1J014132Keragaman dan Kelimpahan Kupu - Kupu Famili Papilionidae di Cagar Alam Bantarbolang Pemalang, Jawa TengahPenelitian mengenai keanekaragaman kupu-kupu famili Papilionidae di Cagar Alam Bantarbolang Pemalang, Jawa Tengah belum pernah dilakukan sebelumnya. Mengingat pentingnya familia Papilionidae di alam dan untuk mengantisipasi kerusakan habitatnya maka perlu diadakan penelitian mengenai keanekaragaman kupu-kupu familia Papilionidae. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman dan kelimpahan kupu-kupu famili Papilionidae di Cagar Alam Bantarbolang Pemalang, Jawa Tengah. Penelitian dilakukan di Cagar Alam Bantarbolang Pemalang, Jawa Tengah dengan menggunakan metode survey. Penelitian menggunakan metode survey dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode Pollard Walk. Stasiun penelitian di bagi menjadi 5 stasiun berdasarkan jarak dari tepi hutan ke dalam hutan yaitu 0 m, 50 m, 100 m, 150 m, dan 200 m dari tepi hutan.. Setiap stasiun dibuat transek sebanyak 4 garis transek tetap dengan panjang 200 m dan lebar 5 m. Penangkapan kupu-kupu dilakukan menggunakan jaring serangga sepanjang garis transek. Data kekayaan spesies dan kelimpahan dihitung keragamanya menggunakan indeks Shannon-Wienner, indeks dominasi Simpson, dan indeks kemerataan (Shannon Evenness E). Penghitungan indeks keragaman menggunakan bantuan software Biodiversity Pro. Hasi penelitian menunjukan Keanekaragaman kupu-kupu famili papilionidae di kawasan cagar alam Bantarbolang pada jarak 0 – 150 m tepi hutan masuk kategori sedang karena memiliki nilai 1≤H’≤3. Keanekaragaman pada jarak 200 m tepi hutan masuk kategori rendah karena memiliki nilai ≤3. Kelimpahan kupu-kupu famili Papilionidae cenderung mengalami penurunan dari 0 m tepi hutan kearah 200 m tepi hutan hutan dikarenakan adanya efek tepi hutan berupa faktor lingkungan meliputi suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya. Spesies kupu-kupu paling jarang ditemukan adalah Papilio coon coon dan terdapat species langka yang dilindungi yaitu Troides HelenaA research related to Familia Papilionidae butterfly varieties has never conducted in Bantarbolang Nature Reserve of Pemalang, Central Java. In the importance of Familia Papilionidae to environment, and to prevent its extinction, thus a research is necessary to observe more about Famila Papilionidae butterfly varieties. This research aims to discover the varieties and affluences of butterflies in Papilionidae type in Bantarbolang Nature Reserve, Pemalang, Central Java. Survey method is preferred in engaging this research. In addition, sampling technique method by Pollard Walk is utilized as well. Research station are divided into 5 stations based on distance of edge of the forest along inside it from 0 m, 50 m, 100 m, 150 m, and 200 m from the edge. Every stations contains 4 transect lines within 200m long and 5 m wide. Butterflies seizure done by applying huge insect nets along the transect lines. Species variety quantification uses Shannon-Wienner index, Simpson’s domination index, and Shannon Eveness’ index. Variety index accounting uses Biodiversity Pro software. The results of the study show the diversity of the butterfly family papilionidae in the Bantarbolang nature reserve at a distance of 0 - 150 m of the edge of the forest into the medium category because it has a value of 1≤H'≤3. Diversity at a distance of 200 m from the forest edge is low because it has a value of ≤3. The abundance of butterfly Papilionidae family tends to decrease from 0 m of the edge of the forest towards 200 m of the edge of the forest because of the effects of the edge of the forest in the form of environmental factors including temperature, humidity, and light intensity. The most rarely found butterfly species is Papilio coon coon and there is a rare protected species, Troides Helena
2375726898F2C017016KOMUNIKASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA HUTAN PADA PROGRAM PERHUTANAN SOSIAL DI KELOMPOK TANI HUTAN GUNUNG GAJAH LESTARITujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan bagaimana proses komunikasi pemberdayaan pada saat perencanaan dan implementasi program program perhutanan sosial di Kelompok Tani Hutan Gunung Gajah Lestari. Metode penelitian studi kasus dengan analisisi deskriptif kualitatif. Obyek penelitian adalah proses Komunikasi Pemberdayaan Masyarakat pada perencanaan dan implementasi Program Perhutanan Sosial yang ada di Kelompok Tani Hutan (KTH) Gunung Gajah Lestari. Subyek Penelitian adalah Kelompok Tani Hutan (KTH) Gunung Gajah Lestari Lokasi penelitian di Desa Gongseng Kecamatan Randudongkal Kabupaten Pemalang. Teknik pengumpulan data melalui pengamatan, wawancara, dokumentasi.

Hasil penelitian menjelaskan bahwa proses komunikasi pemberdayaan masyarakat pada perencanaan program perhutanan sosial di KTH Gunung Gajah Lestari telah dilakukan dengan cara berkelompok. Komunikator utama adalah pendamping dengan pesan yang disampaikan adalah tahapan program seperti sosialisasi, pengajuan permohonan, verifikasi dan penyusunan rencana pemanfaatan hutan. Pada tahap Implementasi proses komunikasi dilakukan pada saat pelaksanaan program seperti penataan pola tanam, pemanfaatan akses permodalan dll. Kendala yang dihadapi oleh KTH antara lain masih adanya resistensi dari oknum Perum Perghutani kepada petani, tidak ada sinergisitas antara pemerintah daerah, dinas terkait dengan pendamping maupun KTH.

Saran yang diberikan dalam penelitian ini adalah perlunya sinergisitas dan singkronisasi terhadap pemangku kebijakan dalam mengaktualisasi program perhutanan sosial dilapangan, perlu sinergisitas antar pemangku kepentingan kehutanan pada fase permodalan hingga dukungan insfrastruktur, perlu adanya standar pendampingan serta perlu adanya penelitian lanjutan terkait pemberdayaan, manajemen hingga pola bisnis yang ada di KTH.
The research objective is to describe how the empowerment communication process during the planning and implementation of social forestry programs in the Gunung Gajah Lestari Forest Farmers Group. Case study research method with qualitative descriptive analysis. The object of research is the process of Community Empowerment Communication in the planning and implementation of the Social Forestry Program in the Gunung Gajah Lestari Forest Farmers Group. The research subjects were the Gunung Gajah Lestari Forest Farmer Group (KTH). The location of the study was in Gongseng Village, Randudongkal District, Pemalang Regency. Data collection techniques through observation, interviews, documentation.

The results of the study explained that the communication process of community empowerment in the planning of social forestry programs in KTH Gunung Gajah Lestari was carried out in groups. The main communicator is a companion with the message delivered is the stages of the program such as socialization, submission of requests, verification and preparation of forest utilization plans. At the stage of the implementation of the communication process carried out during the implementation of the program such as structuring cropping patterns, utilization of capital access, etc. Constraints faced by KTH include the continued resistance from Perum Perghutani to farmers, there is no synergy between local governments, agencies related to assistants or KTH.

Suggestions given in this research are the need for synergy and synchronization with policy makers in actualizing social forestry programs in the field, synergy between forestry stakeholders in the capital phase to infrastructure support, the need for assistance standards and the need for further research related to empowerment, management to business patterns in KTH.
2375826899H1A015049STUDI ANALISIS FILTER AKTIF MENGGUNAKAN INVERTER SUMBER TEGANGAN TIGA FASE DENGAN KONTROL ARUS PIDalam sistem tenaga listrik, kualitas daya merupakan salah satu faktor yang penting diperhatikan. Pada umumnya peralatan elektronik memerlukan kualitas daya listrik yang baik, namun kualitas daya listrik yang diberikan berasal dari sumber masih kurang baik. Faktor yang mengakibatkan menurunnya kualitas daya listrik ialah harmonisa. Adanya harmonisa bukan saja menggangu kualitas tegangan dan kestabilan frekuensi tetapi juga mengakibatkan masalah lain. Untuk mengurangi harmonisa yaitu dengan metode pemasangan filter aktif.
Inverter dengan gelombang keluaran berupa gelombang sinusoidal murni ini pada umumnya memiliki daya atau kapasitas tinggi yang diperuntukan untuk menyupalai beban induktif dan motor listrik dengan lebih baik apabila dibandingkan dengan gelombang keluaran inverter lainnya. VSI tiga fase lebih sesuai sebagai inverter untuk filter aktif karena VSI lebih tinggi dalam efisiensi. Kontrol yang digunakan PI karena menghasilkan response yang lebih cepat dari kontroler integral tapi mampu menghilangkan offset yang ditinggalkan kontroler P sehingga sifatnya yang sederhana dan efektif. Pada penelitian kali ini menggunakan filter aktif, dengan peralatan elektronika daya yang lebih modern, memiliki kestabilan dan kehandalan dalam mengatasi harmonisa yang memiliki range variable lebar.
Hasil penelitian setelah dipasang filter aktif dengan variasi nilai beban kelipatan 2Ω sampai 20Ω pada Perubahan nilai THD sesudah menggunakan filter mengalami penurunan sebesar 0.186% dengan nilai frekuensi fundamental 50 Hz. Penurunan mangnitudo harmonisa sebesar 17.632 % sedangkan nilai magnitudo arus sebesar 29.60 A. Selain itu meningkatkan nilai efisiensi dengan rata-rata sebesar 98.69 % dan memperbaiki faktor daya.
In electric power systems, power quality is one of the important factors to consider. In general, electronic equipment requires good electrical power quality, but the quality of the electrical power provided comes from sources that are still not good. Factors that cause a decrease in the quality of electric power are harmonics. The existence of harmonics not only disturbs the quality of the voltage and frequency stability but also causes other problems. To reduce harmonics, namely by using the active filter method.
Inverters with output waves in the form of pure sinusoidal waves generally have high power or capacity that is intended to supply inductive loads and electric motors better when compared to other inverter output waves. Three-phase VSI is more suitable as an inverter for active filters because VSI is higher in efficiency. The control used by the PI is because it produces a response that is faster than the integral controller but is able to eliminate the offset left by controller P so that it is simple and effective. In this study using active filters, with power equipment that is more modern, has stability and reliability in overcoming harmonics that have a wide variable range.
The results of the study after installing an active filter with variations in the value of multiples of 2Ω to 20Ω on the change in THD value after using the filter decreased by 0.186% with a fundamental frequency value of 50 Hz. The decrease in the magnitude of harmonics is 17,632% while the value of current magnitude is 29.60 A. In addition, it increases the efficiency value by an average of 98.69% and improves the power factor.
2375926900H1A015032DESAIN SISTEM PENGENDALIAN CONTROL VALVE MENGGUNAKAN METODE FUZZY INFERENCE SYSTEM PADA STEAM DRUM BOILERSalah satu industri di Indonesia yang memerlukan otomatisasi adalah industri Migas (minyak dan gas). Control valve merupakan salah satu piranti yang vital pada Industri Migas karena mengatur buka tutup aliran bahan bakar ataupun hasil produksi migas, sehinga sedikit saja kesalahan kendali akan berakibat fatal. Sebagian besar industri migas yang ada di Indonesia menggunakan PID sebagai kendali control valve nya. Nilai parameter yang digunakan berdasar pada kebiasaan atau pengalaman operator, sehingga sistem kendalinya cukup bergantung pada kemampuan dan pengalaman operator sehingga sangat mungkin terjadi kesalahan kontrol pada sistem tersebut. Pada penelitian ini dilakukan pemodelan sistem kendali control valve pada steam drum boiler menggunakan Fuzzy Inference System dengan tiga variabel input yaitu level, flow dan temperature yang akan menghasilkan output bukaan control valve pada saluran output feedwater. Steam drum boiler memiliki fungsi untuk menampung air dan uap hasil pembakaran pada economizer, dimana air dan uap tersebut dipisahkan oleh suatu selaput yang menjaga presentasi air dan uap supaya tetap seimbang. Saat level air dalam steam drum masih terlalu tinggi artinya uap air hasil pembakaran di economizer masih terlalu basah (tinggi kandungan air) sehingga suhu pembakaran perlu ditingkatkan dengan cara memperbesar aliran fuel gas yang digunakan sebagai bahan bakar burner. Sistem ini akan disimulasikan menggunakan Simulink yang berisi Fuzzy Logic Controller atau Fuzzy Inference System. Fuzzy Inference System yang dirancang memiliki 125 rule dengan range VeryLow, Low, Normal, High, dan VeryHigh sehingga rule-rule yang dirancang ini mampu mewakili semua kondisi yang diperlukan pada proses berjalannya sistem pengendalian control valve. Salah satu data ujinya adalah Level = 90 (VeryHigh), Flow = 62 ( Normal), dan Temperature = 225 (Normal) sehingga output Bukaan Valve = 13 (VeryLow). Nilai error dari sistem ini sebesar 4,512 % sehingga sistem ini memliki tingkat akurasi yang tinggi.One of the industries in Indonesia that requires automation is the Oil and Gas (oil and gas) industry. The control valve is one of the vital tools in the Oil and Gas Industry because it regulates the opening and closing of the flow of fuel or oil and gas production so that a slight error in control will be fatal. Most of the oil and gas industry in Indonesia uses PID as the control valve. The parameter values used are based on the operator's habits or experience so that the control system is sufficiently dependent on the operator's ability and experience so that there is a possibility of error control on the system. In this research, the control valve control system on the steam drum boiler is modeled using a Fuzzy Inference System with three input variables namely level, flow, and temperature which will produce an open control valve output on the feedwater output channel. Steam drum boiler has a function to store water and steam from combustion in the economizer, where the water and steam are separated by a membrane that keeps the water and steam presentation in balance. When the water level in the steam drum is still too high, it means that the water vapor from the combustion in the economizer is still too wet (high water content) so the combustion temperature needs to be increased by increasing the flow of fuel gas used as a burner fuel. This system will be simulated using Simulink which contains a Fuzzy Logic Controller or Fuzzy Inference System. Fuzzy Inference System is designed to have 125 rules with a range of Very Low, Low, Normal, High, and Very High so that the rules designed are able to represent all the conditions needed in the process of running the control valve control system. One of the test data is Level = 90 (VeryHigh), Flow = 62 (Normal), and Temperature = 225 (Normal) so that the valve opening output = 13 (Very Low). The error value of this system is 4.512% so this system has a high level of accuracy.
2376028633C1I016050THE EFFECT OF FINANCIAL RATIOS ON THE CHANGE IN EARNINGS IN JAKARTA ISLAMIC INDEX (JII) AND FTSE BURSA MALAYSIA HIJRAH SHARIAH INDEX (FBMHS) PERIOD 2017-2018Penelitian ini mengambil judul “Pengaruh Rasio Keuangan terhadap Perubahan Laba pada Jakarta Islamic Indeks (JII) dan FTSE Bursa Malaysia Hijrah Shariah Indeks (FBMHS) periode 2017-2018.” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio profitabilitas terhadap perubahan laba emiten di Jakarta Islamic Indeks (JII) dan FTSE Bursa Malaysia Hijrah Shariah Indeks (FBMHS). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan data sekunder berupa laporan keuangan perusahaan yang terdaftar di JII dan FBMHS tahun 2017 hingga 2018. Populasi penelitian merupakan seluruh perusahaan yang terdaftar di JII sebanyak 30 perusahaan dan terdaftar di FBMHS sebanyak 30 perusahaan dalam kurun waktu dua tahun. Dari total 60 perusahaan tersebut diambil sampel penelitian sebanyak 29 perusahaan yang ditentukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linier berganda dengan SPSS 23. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio likuiditas yaitu current ratio berpengaruh secara positif signifikan, sementara rasio solvabilitas yaitu debt to equity ratio, dan rasio profitabilitas yaitu return on asset berpengaruh secara positif tidak signifikan terhadap perubahan laba. Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan untuk menguji adanya perbedaan perubahan laba antara JII dengan FBMHS menunjukkan tidak adanya perbedaan perubahan laba pada kedua indeks saham syariah tersebut. Namun di sisi lain, hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pada rasio solvabilitas yaitu debt to equity ratio antara JII dengan FBMHS. Implikasi dari penelitian ini yaitu sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan untuk meningkatkan keuntungannya dari tahun ke tahun, sebagai bahan pertimbangan bagi investor sebelum melakukan investasi, dan menjadi motivasi bagi peneliti selanjutnya.This study takes the title "The Effect of Financial Ratios on The Changes in Earnings in Jakarta Islamic Index (JII) and FTSE Bursa Malaysia Hijrah Shariah Index (FBMHS) for the 2017-2018 period." This study aims to determine the effect of liquidity ratios, solvency ratios, and profitability ratios on changes in earnings of listed companies in the Jakarta Islamic Index (JII) and the FTSE Bursa Malaysia Hijrah Shariah Index (FBMHS). This study uses quantitative methods with secondary data in the form of financial statements of companies registered in JII and FBMHS in 2017 to 2018. The study population is all companies registered in JII as many as 30 companies and registered in FBMHS as many as 30 companies within a period of two years. From the total of 60 companies, 29 companies were selected as the research samples using the purposive sampling method. This study uses multiple linear regression analysis techniques with SPSS 23. The results show that the liquidity ratio that is current ratio significantly positive effect, while the solvency ratio that is debt to equity ratio, and profitability ratios that is return on assets have a positive not significant effect on earnings changes. In addition, the results of research conducted to examine the differences in earnings changes between JII and FBMHS show no difference in earnings changes on the two Islamic Stock Indexes. But on the other hand, the results of the study showed a difference in the solvency ratio, that is debt to equity ratio between JII and FBMHS. The implications of this research are as a consideration for companies to increase profits from year to year, as a material consideration for investors before investing, and a motivation for next researchers.