Artikelilmiahs
Menampilkan 23.801-23.820 dari 50.277 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 23801 | 28806 | H1A016018 | PREDIKSI PEMANFAATAN SPEKTRUM FREKUENSI UNTUK JARINGAN 5G NR (NEW RADIO) DI INDONESIA | Frekuensi merupakan sumber daya alam terbatas yang terdapat di seluruh penjuru di dunia, seiring berkembangnya zaman, frekuensi yang sebelumnya hanya dimanfaatkan makhluk hidup untuk berkomunikasi, dapat dimanfaatkan untuk berkomunikai jarak jauh, dan seiring dengan berkembangnya teknologi dalam dunia telekomunikasi, akan semakin banyak frekuensi yang dapat dimanfaatkan. Hadirnya 5G menyebabkan adanya pemanfaatan spektrum frekuensi yang lebih luas dibandingkan dengan perkembangan teknologi generasi sebelumnya. Jerman sebagai salah satu pelopor standar 5G di Eropa maupun di Dunia dapat memberikan gambaran bagaimana 5G akan dimanfaatkan nantinya, dari segi teknologi, frekuensi, dan pengaplikasian terutama di bidang komunikasi seluler. Benchmarking bertujuan untuk membandingkan dan memberikan gambaran kesiapan serta pemanfaatan kedepannya terutama dari segi frekuensi. Kebutuhan yang tidak lagi menitikberatkan pada kecepatan dan kapasitas data, tetapi delay sekecil mungkin serta pemanfaatan untuk skala besar menjadi tantangan baru terutama untuk Indonesia. Bagaimana Indonesia mempersiapkan jaringan backbone fiber sebaik mungkin, serta regulasi frekuensi terutama pada C-band yang umumnya digunakan untuk keperluan komunikasi satelit, mengingat Indonesia adalah negara kepulauan. Ternyata, selain aspek tersebut masih banyak kendala dan tantangan yang harus dihadapi Indonesia untuk menyediakan layanan 5G mendatang. | Frequency is a limited natural resources spread all over the world, as the time develop, frequency which previously only used by living things to communicate, can be used for long distance communication, and along with the developing telecommunication technology, more and more frequencies can be utilized. The presence of 5G causes a wider uses of frequency spectrum compared to the previous generations. German as one of the pioneers of 5G standard in Europe and in the World can provide an illustration of how 5G will be utilized later, in terms of technology, frequency, and applications in cellular communication. Benchmarking aims to compare and provide a picture of readiness and future utilization, especially in terms of frequency. Necesities that no longer focus on speed and data capacity, but the smallest possible delay and utilization for large scale is the new challenges especially for Indonesia. How Indonesia prepares the best fiber backbone network, as well as frequency regulation, especially in C-band which is generally used for satellite communication purposes, considering that Indonesia is an archipelago. It turns out, besides these aspects there are still many obstacles and challenges that must be faced by Indonesia to provide future 5G services. | |
| 23802 | 26931 | C1C015025 | ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI PADA USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM) BORDIR DI KOTA TASIKMALAYA | Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) adalah belum menggunakan informasi akuntansi yang sesuai dengan pedoman penyusunan yang semestinya. Dampaknya pelaku UMKM mengambil keputusan hanya dengan taksiran yang didasarkan atas pemahaman dari pemiliknya saja bukan didasarkan pada informasi yang valid. Selain itu, pelaku UMKM sulit untuk mendapat akses kredit pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari perbankan karena dianggap tidak bankable yang mengakibatkan UMKM sulit untuk mengembangkan usahanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenjang pendidikan, masa memimpin, skala usaha, pelatihan akuntansi dan faktor sosial terhadap penggunaan informasi akuntansi pada UMKM bordir di Kota Tasikmalaya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pelaku UMKM bordir yang tercatat di Dinas Koperasi dan UMKM Kota Tasikmalaya pada tahun 2018. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sensus (total sampling) dengan sampel berjumlah 59 responden. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik survei dengan menyebarkan kuesioner kepada responden. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda dibantu dengan software SPSS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial jenjang pendidikan, masa memimpin, skala usaha, pelatihan akuntansi dan faktor sosial berpengaruh positif terhadap penggunaan informasi akuntansi pada UMKM bordir di Kota Tasikmalaya. Implikasi dari penelitian ini yaitu untuk meningkatkan penggunaan informasi akuntansi maka para pelaku UMKM bordir di Kota Tasikmalaya perlu meningkatkan pendidikan, pengalaman dalam mengelola usaha, skala usaha, pelatihan akuntansi dan sosialisasi dengan sesama pelaku usaha terkait penggunaan informasi akuntansi. | Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) usually ignore accounting information for finance management. This study aims to determine the effect of education levels, leadership period, business scales, accounting training and social factors on the use of accounting information on embroidery MSMEs in Tasikmalaya City. This type of research is quantitative research. The population in this study are all embroidery MSMEs registered in the Cooperative and MSMEs department in Tasikmalaya City in 2018. The sampling technique is a census (total sampling) with a sample of 59 respondents. Data collection techniques using survey techniques by distributing questionnaires to respondents. Data analysis techniques in this study is multiple linear regression analysis. The results of this study indicate that partially the level of education, leadership period, business scale, accounting training and social factors have a positive effect on the use of accounting information on embroidery MSMEs in the City of Tasikmalaya. The implication of this research is to increase the use of accounting information, the embroidered MSMEs in Tasikmalaya City need to increase education, experience in managing businesses, business scale, accounting training and socialization with fellow business actors related to the use of accounting information. | |
| 23803 | 26932 | A1A015033 | Analisis Marjin Pemasaran Tahu di Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus | Kecamatan Bae merupakan salah satu daerah produksi tahu di Kabupaten Kudus. Berkembangnya suatu usaha salah satunya dipengaruhi oleh pola pemasarannya. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui saluran pemasaran pada industri kecil tahu di Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus dan 2) mengetahui besarnya a) biaya pemasaran dan keuntungan pemasaran, b) rasio keuntungan dan biaya, c) marjin pemasaran dan d) producer’s share pada setiap saluran pemasaran di Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Penentuan tempat penelitian dilakukan dengan sengaja (purposive). Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1 April 2019 hingga 1 Mei 2019. Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Metode penentuan responden produsen tahu di Kecamatan Bae dilakukan secara sensus, sedangkan penentuan sampel responden lembaga pemasaran menggunakan metode snowball sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis biaya pemasaran dan keuntungan pemasaran, rasio keuntungan dan biaya, marjin pemasaran, dan producer’s share. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) terdapat tiga pola saluran pemasaran tahu yaitu, saluran pemasaran I terdiri atas Produsen - Konsumen, saluran pemasaran II terdiri atas Produsen - Pedagang pengecer - Konsumen. Saluran pemasaran III terdiri atas Produsen - Pedagang Besar - Pedagang pengecer - Konsumen dan 2) Biaya pemasaran dan keuntungan pemasaran terbesar pada saluran III. Rasio keuntungan dan biaya terkecil pada saluran III. Marjin pemasaran terkecil yaitu saluran I. Producer’s share terbesar pada saluran I. | Bae District is one of tofu producers area in Kudus Regency. The development of business is influenced by marketing pattern. This research aims to: 1) knowing the marketing channels in small tofu industries in Bae District, Kudus Regency and 2) knowing the amount of a) marketing costs and marketing profits, b) cost and profits ratio, c) marketing margins and d) producer’s share in each marketing channel in Bae District, Kudus Regency. Determination of the location of the study was done by deliberately (purposive). This research was conducted on April 1, 2019, until May 1, 2019. The research method used was a survey. The method of determining the respondents of tofu producers in Bae District is carried out in census, meanwhile, determining the sample of respondents of marketing institutions using the snowball sampling method. Analysis of the data used is marketing costs and marketing profits, profits and costs ratio,marketing margin analysis, and producer's share analysis. The results showed that: 1) there are three patterns of marketing channels to know namely, marketing channels I consist of Producers - Consumers. Marketing channels II consist of Producers - Retailers - Consumers. Marketing channel III consists of Producers -Wholesalers - Retailers --Consumers and 2) The biggest marketing costs and marketing profits on channel III. The lowest profit and cost ratio in channel III. The smallest marketing margin is channel I. Producer’s largest share on channel I. | |
| 23804 | 28637 | C1H016016 | The Effect of Incentives Towards Turnover Intentions Mediated by Continuance Commitmend and Moderated by Job Status | Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh insentif yang diterapkan oleh perusahaan transportasi online terhadap turnover intentions serta untuk mengetahui peran moderasi status pekerjaan dan pengaruh tidak langsung insentif terhadap turnover intentions melalui komitmen kontinuan. Sampel penelitian yang digunakan yaitu purposive sampling dari 100 responden yang terdiri dari 50 untuk status penuh waktu dan 50 untuk status paruh waktu. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis Regresi dengan casua step-model untuk menguji efek mediasi dan metode Sub-Grup untuk menguji efek moderasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa insentif dan komitmen kontinuan memiliki efek negatif terhadap turnover intentions. Hasil juga menunjukkan bahwa insentif tidak berpengaruh terhadap komitmen kontinuan. Komitmen kontinuan tidak dapat memediasi pengaruh insentif terhadap turnover intentions dan status pekerjaan tidak dapat memoderasi pengaruh insentif terhadap turnover intentions. Implikasi dari penelitian ini yaitu perusahaan harus lebih memperbaiki aspek penerapan insentif serta mempertimbangkan kembali insentif pada mitra pengemudi dengan status penuh waktu. selain itu, Perusahaan juga dapat memperlakukan mitra pengemudi sesuai dengan jenis status pekerjaan. | The objective of this research is to find out the effect of incentives implemented by online transportation company towards turnover intentions also to find out the moderating role of job status and the indirect effect of incentives toward turnover intentions through continuance commitment. The research sample determined by purposive sampling from 100 respondents which 50 for full-time status and 50 for part-time status. The analysis method in this research used Regression analysis with casua step-model to test the mediating effect and Sub-Group method to test the moderating effect. The results shows that the incentives and continuance commitment had a negative effect towards turnover intentions. Results also show that the incentives have no effect toward continuance commitment. Continunace commitment can not mediate the effect of incentives towards turnover intentions and job status can not moderate the effect of incentives towards turnover intentions. The implication of this research that the companies should more consider in the implementation of the incentives and reconsider incentives on their full-time driver partners. Companies also can treat driver partners according to the type of job status. | |
| 23805 | 26934 | E2B017015 | MEKANISME NOTARIS DALAM MENGHINDARI TRANSAKSI KEUANGAN MENCURIGAKAN DAN IMPLIKASI HUKUM PENOLAKAN PEMBUATAN AKTA | Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) atau Money Laundering, merupakan kejahatan serius yang sangat mengganggu keuangan dan perekonomian negara dalam mewujudkan tujuan materiil negara Indonesia yaitu "mencerdaskan kehidupan bangsa dan kesejahteraan rakyat." Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) menurut Tubagus Irman memiliki 3 (tiga) metode dasar untuk memindahkan dana ilegal dari satu sistem transaksi ke sistem lainnya yaitu, usaha legal, transaksi jual beli, negara-negara bebas pajak luar negeri. Metode Tindak Pidana Pencucian uang yang berkaitan dengan Notaris salah satunya adalah transaksi jual-beli. Jual beli yang dimanipulasi dapat dilakukan dengan jual-beli properti, real estate, atau jenis transaksi pribadi lainnya yang dapat di manipulasi untuk menyembunyikan alur perolehan ilegal dan memberikan sumber nyata pendapatan legal bagi pelaku kejahatan pencucian uang. Tujuan penelitian ini untuk Menganalisis mekanisme Notaris dalam menghindari Transaksi Keuangan Mencurigakan terhadap akta yang dibuatnya, Menganalisis Implikasi hukum yang timbul ketika Notaris menolak membuatkan akta yang dianggap sebagai Transaksi Keuangan Mencurigakan. Notaris dapat dimanfaatkan oleh para pelaku tindak pidana pencucian uang dalam menyamarkan atau menyembunyikan uang hasil tindak pidana, oleh karena negara berupaya mencegah dengan dibentuknya lembaga PPATK. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa mekanisme notaris dalam menghindari transaksi keuangan mencurigakan dengan cara menerapkan prinsip mengenali pengguna jasa dengan tata cara melalui identifikasi Pengguna Jasa, verifikasi Pengguna Jasa; dan pemantauan Transaksi Pengguna Jasa.Implikasi hukum atau akibat hukum yang timbul ketika Notaris menolak membuatkan akta atau memutus hubungan usaha dengan pengguna jasa yang dianggap atau berindikasi sebagai transaksi keuangan mencurigakan dan dapat berakibat terjadinya tindak pidana pencucian uang adalah notaris wajib melaporkannya ke PPATK dalam Pasal 24 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 9 Tahun 2017 tentang Penerapan Prinsip Mengenali Pengguna Jasa Bagi Notaris. | Money Laundering, is a serious crime that seriously disrupts the country's finances and economy in realizing the material goals of the Indonesian state, namely "to educate the nation's life and people's welfare." Money Laundering according to Tubagus Irman has 3 (three) basic methods to move illegal funds from one transaction system to another, namely, legal business, buying and selling, foreign tax-exempt countries. One of the methods of money laundering related to a notary is the sale and purchase transaction. Manipulated sale and purchase can be carried out with the sale of property, real estate, or other types of personal transactions that can be manipulated to hide the flow of illegal earnings and provide a real source of legal income for money laundering criminals. The purpose of this study is to Analyze the mechanism of Notary in avoiding Suspicious Financial Transactions to the deed he made, Analyze the legal implications that arise when the Notary Public refuses to make a deed which is considered as Suspicious Financial Transaction. Notaries can be used by money launderers in disguising or hiding the proceeds of crime, therefore the state is trying to prevent the formation of PPATK institutions. The results of this study indicate that the notary mechanism in avoiding suspicious financial transactions by applying the principle of recognizing service users with procedures through identification of Service Users, verification of Service Users; and monitoring of User Transactions. Legal implications or legal consequences arising when a Notary refuses to make a deed or cut off business relations with service users deemed or indicated as suspicious financial transactions and may result in the crime of money laundering is a notary must report it to PPATK in Article 24 Minister of Law and Human Rights Regulation No. 9 of 2017 concerning Application of the Principle of Recognizing Service Users for Notaries. | |
| 23806 | 26933 | A1F015034 | Optimasi Suhu dan Waktu Ekstraksi Cair pada Bubuk Daun Kecombrang (Etlingera elatior) | Penggunaan bahan pengawet sintesis tidak direkomendasikan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) karena berisiko menimbulkan penyakit kanker (carcinogen agent). Salah satu bahan alami yang memiliki potensi sebagai pengawet alami adalah tanaman kecombrang. Daun kecombrang (Etlingera elatior) diketahui memiliki senyawa bioaktif meliputi polifenol, alkaloid, dan flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk: 1)mengetahui kandungan senyawa bioaktif ekstrak cair daun kecombrang menggunakan pelarut air secara kualitatif; 2)mengetahui pengaruh suhu dan waktu terhadap kualitas ekstrak cair daun kecombrang secara kuantitatif, 3)mengetahui formula optimum ekstraksi cair daun kecombrang dan hasil respons aktual secara kuantitatif nilai pH, total fenol dan total flavonoid pada formula optimum. Penelitian ini menggunakan metode Response Surface Methodology (RSM) dengan program Design Expert v10. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Central Composit Design (CCD) dengan dua faktor uji, diperoleh 13 formulasi perlakuan. Faktor yang dicobakan pada penelitian ini yaitu suhu dan waktu ekstraksi cair. Suhu terdiri atas tiga taraf yaitu 40oC, 50oC, dan 60oC, serta waktu terdiri atas tiga taraf yaitu 3, 4 dan 5 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1)kandungan senyawa bioaktif yang terdapat dalam ekstrak cair daun kecombrang menggunakan pelarut air adalah fenol, flavonoid, alkaloid, steroid, tanin dan saponin, 2)ekstrak cair daun kecombrang seiring dengan kenaikan suhu cenderung menghasilkan nilai pH yang rendah, total fenol dan total flavonoid yang tinggi serta seiring dengan penambahan lama waktu cenderung menghasilkan ekstrak cair daun kecombrang dengan nilai pH yang rendah, total fenol dan total flavonoid yang rendah, 3)formula optimum ekstraksi cair daun kecombrang yaitu ekstraksi menggunakan suhu 51oC dengan lama waktu 3 jam menghasilkan respons aktual secara kauntitatif nilai pH 4,35, kadar fenol 327,13 mg TAE/100 g dan kadar flavonoid 24,911 mg QE/100 g. | The use of preservative synthesis is not recommended by Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) because of the risk of causing cancer (carcinogen agent). One of the natural ingredients that has the potential as a natural preservative is the kecombrang plant. Kecombrang leaves (Etlingera elatior) are known to have bioactive compounds including polyphenols, alkaloids, and flavonoids. This study aims to: 1) determine the content of the bioactive compound liquid kecombrang leaves extract qualitatively using water solvents; 2) knowing the effect of temperature and time on the quality of liquid extract of kecombrang leaves quantitatively, 3) knowing the optimum formula of liquid extraction of kecombrang leaves and the actual response results quantitatively the pH value, total phenol and total flavonoids in the optimum formula. This study uses the Response Surface Methodology (RSM) method with the Design Expert v10 program. The experimental design used was Central Composit Design (CCD) with two test factors, obtained 13 treatment formulations. The factors that were tried in this study were temperature and liquid extraction time. The temperature consists of three levels, namely 40oC, 50oC, and 60oC, and time consists of three levels namely 3, 4 and 5 hours. The results showed that 1) the content of bioactive compounds contained in liquid extracts of kecombrang leaves using water solvents were phenols, flavonoids, alkaloids, steroids, tannins and saponins, 2) liquid extracts of kecombrang leaves along with rising temperatures tended to produce low pH values, total high phenol and total flavonoid along with the addition of time tends to produce liquid extract of kecombrang leaves with a low pH value, total phenol and low total flavonoids, 3) optimum liquid extraction of kecombrang leaves extraction is extraction using 51oC with a duration of 3 hours resulting in qualitative response with pH value of 4.35, total phenol of 327.13 mg TAE / 100 g and total flavonoids of 24.911 mg QE / 100 g. | |
| 23807 | 26935 | G1A015056 | Hubungan Preeklamsia Terhadap Bayi Kecil Masa Kehamilan (KMK) Di RS DKT Wijayakusuma Purwokerto | HUBUNGAN PREEKLAMSIA TERHADAP BAYI KECIL MASA KEHAMILAN (KMK) DI RS DKT WIJAYAKUSUMA PURWOKERTO ABSTRAK Latar belakang: Preeklamsia (PE) merupakan salah satu hipertensi dalam kehamilan yang berhubungan dengan sejumlah kasus bayi kecil masa kehamilan (KMK) dan kematian perinatal di seluruh dunia. Terdapat inkonsistensi antara penelitian mengenai hubungan preeklamsia terhadap terjadinya KMK, tetapi pada kenyataannya tidak semua ibu preeklamsia melahirkan bayi dengan KMK. Tujuan: Mengetahui ada tidaknya hubungan preeklamsia terhadap bayi kecil masa kehamilan (KMK) di RS DKT Wijayakusuma Purwokerto. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan metode kohort retrospektif. Subjek penelitian berjumlah 112 pasien: 56 pasien ibu hamil dengan preeklamsia dan 56 pasien ibu hamil normal. Data diambil dari rekam medik yaitu usia ibu, usia kehamilan, paritas, dan data berat bayi yang dilahirkan. Dikelompokkan menjadi normotensi, dan preeklamsia menggunakan metode sampling konsekutif. Hasil dan pembahasan: Sebanyak 112 subjek; berusia <20 tahun sebanyak 1 subjek (1,8%) pada PE dan normotensi, berusia 20-35 tahun; 34 subjek (60,7%) pada PE dan normotensi, dan berusia >35 tahun; 21 subjek (37,5%) pada PE dan normotensi. Usia kehamilan; pada usia kehamilan preterm sebanyak 9 subjek (16,1%) pada PE dan 7 subjek (12,5%) pada normotensi, usia kehamilan aterm; sebanyak 47 subjek (83,9%) pada PE dan 49 subjek (87,5%) pada normotensi. Paritas; pada primigravida sebanyak 8 subjek (14,3%) pada PE dan 16 subjek (28,6%) pada normotensi, dan pada multigravida sebanyak 48 subjek (85,7%) pada PE dan 40 subjek (71,4%) pada normotensi. Hasil analisis bivariat menggunakan uji chi-square menyatakan bahwa hubungan preeklamsia terhadap bayi kecil masa kehamilan (KMK) (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara preeklamsia dengan bayi kecil masa kehamilan (KMK) di RS DKT Wijayakusuma Purwokerto. Kata Kunci : Hipertensi Dalam Kehamilan, Kecil Masa Kehamilan (KMK), Preeklamsia | RELATIONSHIP OF PREECLAMPSIA WITH SMALL FOR GESTATIONAL AGE (SGA) IN DKT WIJAYAKUSUMA HOSPITAL PURWOKERTO ABSTRACT Background: Preeclampsia (PE) is one of the hypertension in pregnancy that is associated with a number of cases of small for gestational age (SGA) and perinatal deaths worldwide. There are inconsistencies between researches regarding the relationship of preeclampsia to the occurrence of SGA, but in reality not all mothers with preeclampsia give birth to infants with SGA. Objective: To find out whether there was a correlation between preeclampsia with small for gestational age (SGA) at DKT Wijayakusuma Hospital Purwokerto. Method: This study was an observational analytic study with cohort retrospective method. Result and Discussion: The research subjects were of 112 subjects; aged <20 years was 1 subject (1.8%) in both PE and normal pregnancies, aged 20-35 years were 34 subjects (60.7%) in both PE and normal pregnancies, and >35 years old were 21 subjects (37.5%) in both PE and normal pregnancies. The gestational age; preterm gestational age were 9 subjects (16,1%) with PE, and 7 subjects (12,5%) with normal pregnancies, aterm gestational age were 47 subjects (83,9%) with PE and 49 subjects (87,5%) with normal pregnancies. The parity status; primigravida were 8 subjects (14.3%) with PE and 16 subjects (28,6%) with normal pregnancies, and multigravida were 48 subjects (85.7%) with PE and 40 subjects (71,4%) with normal pregnancies. The results of the bivariate analysis using the chi-square test that there was a correlation between preeclampsia and small for gestational age (SGA) (p<0,05). Conclusion: There was a significant relationship between preeclampsia with small for gestational age (SGA) at DKT Wijayakusuma Hospital in Purwokerto. Keywords: Hypertension in Pregnancy, Preeclampsia, Small for Gestational Age (SGA) | |
| 23808 | 26936 | K1B015006 | Sistem Matematika Himpunan Interval | Makalah ini membahas tentang sistem matematika himpunan interval. Operasi aritmatika interval yang digunakan adalah operasi penjumlahan, operasi perkalian, dan operasi perkalian skalar dengan interval. Operasi aritmatika interval merupakan operasi biner yang bersifat asosiatif dan komutatif. Pada himpunan interval, sifat distributif operasi perkalian skalar terhadap operasi penjumlahan interval dipenuhi. Namun, sifat distributif operasi perkalian interval terhadap operasi penjumlahan interval hanya dipenuhi untuk interval-interval tertentu. Keberadaan elemen identitas terhadap operasi aritmatika interval tersebut dipenuhi. Namun, keberadaan elemen invers terhadap operasi penjumlahan dan perkalian interval tidak dipenuhi. Sistem matematika yang dapat dibentuk dari himpunan interval dan operasi aritmatika interval yaitu semigrup, monoid, grup, semi-ring dan semi-modul. | The research discussed about the algebraic structures of interval sets. The arithmetic operations in this sets are interval addition, multiplication, and scalar multipication. Those interval arithmetic operations are binary operation, and also associative and commutative. For any interval sets, scalar multiplication does distribute over addition. Although, for some intervals, multiplication does not distribute over addition. Note that, we must hold the existance of identity for interval addition and multiplication, and not for existance of inverses. The research showed that algebraic structures are built by interval set and interval arithmetic operation, normely semigroup, monoid, group, semi-ring and semi-module. | |
| 23809 | 28638 | D1A016162 | PENGARUH LAMA PENYIMPANAN DINGIN TERHADAP TOTAL BAKTERI ASAM LAKTAT (BAL) DAN KADAR ASAM LAKTAT KEFIR SUSU-KOLOSTRUM SAPI (Effect Of Cold Storage Duration Of Total Lactic Acid Bacteria (LAB) And Lactic Acid Content Of Milk-Colostrum Kefir) | Penelitian berjudul Pengaruh Lama Penyimpanan Dingin Terhadap Total Bakteri Asam Laktat (BAL) dan Kadar Asam Laktat Kefir Susu-Kolostrum Sapi dilakukan pada tanggal 6-23 Januari 2020. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan dingin terhadap total BAL dan kadar asam laktat kefir susu-kolostrum sapi dengan waktu simpan sampai 12 hari. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah susu sapi sebanyak 2,5 liter, kolostrum sapi 2,5 liter, biji kefir 250 gram, aquades 5 liter, NaCl 0,85%, NaOH 0,1 N, media MRSA 122,76 gr, dan Indikator Phenolptalien (PP) 1%. Metode penelitian menggunakan metode experimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 5 perlakuan dan setiap perlakuan terdiri dari 4 ulangan. Perlakuan penelitian yaitu kefir susu-kolostrum sapi disimpan dingin dengan P0 penyimpanan 0 hari (sebagai kontrol), P1 penyimpanan 3 hari, P2 penyimpanan 6 hari, P3 penyimpanan 9 hari, P4 penyimpanan 12 hari. Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah total BAL (cfu/ml) dan kadar asam laktat (%). Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan ANAVA dan dilanjutkan dengan uji ortogonal polinomial. Hasil penelitian menunjukkan lama penyimpanan sampai hari ke 12 terhadap total BAL rataan yang dihasilkan sebesar 9,70±0,13 log cfu/ml sampai dengan 9,46±0,20 log cfu/ml. Rataan hasil pengujian kadar asam laktat sebesar 1,08±0,08% sampai dengan 1,19±0,06%. Analisis variansi menunjukkan bahwa lama penyimpanan sampai hari ke 12 pada kefir susu-kolostrum sapi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap total BAL dengan persamaan y = -0,0013x4+0,0305x3-0,2173x2+0,4737x+9,7 dan R² = 46,43%, dan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar asam laktat dengan persamaan yaitu y = -9E-05x4+0,0016x3-0,0053x2+0,0014x+1,0825 dan R2 = 54,41%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa lama penyimpanan dingin sampai dua belas hari pada kefir susu-kolostrum sapi menyebabkan total BAL dan kadar asam laktat menurun. | The study entitled The Effect of Cold Storage Duration on Total Lactic Acid Bacteria (LAB) and Lactic Acid Content of Milk-Colostrum of Cow was conducted on 6-23 January 2020. This study aims to determine the effect of cold storage duration on total LAB and Lactic acid content of milk-colostrum kefir cow up to 12 days. The material used in this study was 2.5 liters of cow's milk, 2.5 liters of cow colostrum, 250 grams of kefir seeds, 5 liters of distilled water, 0.85% NaCl, 0.1 N NaOH, 122.76 gr MRSA media, and 1% Phenolptalien Indicator (PP). The research method uses the experimental method with a completely randomized design (CRD) using 5 treatments and each treatment consists of 4 replications. The research treatments were cow's milk-colostrum kefir kept cold with P0 storage for 0 days (as a control), P1 storage for 3 days, P2 storage for 6 days, P3 storage for 9 days, P4 for storage for 12 days. The variables measured in this study were total LAB (cfu / ml) and lactic acid content (%). The data obtained were then analyzed with ANAVA and continued with the orthogonal polynomial test. The results showed storage time up to twelve days of the total BAL produced was 9.70 ± 0.13 log cfu / ml to 9.46 ± 0.20 log cfu / ml. The average test results of lactic acid content were 1.08 ± 0.08% to 1.19 ± 0.06%. Analysis of variance showed that the length of storage up to twelve days on cow-colostrum milk kefir had a significant effect (P <0.05) on total LAB with the equation y = -0.0013x4 + 0.0305x3-0.2173x2 + 0.4737x + 9 , 7 and R² = 46.43%, and have a very significant effect (P <0.01) on lactic acid content with the equation y = -9E-05x4 + 0.0016x3-0.0053x2 + 0.0014x + 1.0825 and R2 = 54.41%. Based on these results it can be concluded that the length of cold storage up to twelve days in cow milk-colostrum kefir causes total LAB and lactic acid content to decrease. | |
| 23810 | 28807 | H1C014024 | Analisis Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida Surya-Angin Untuk Beban Penerangan Jalan di Desa Surorejan Kabupaten Kebumen | Kabupaten Kebumen yang menyimpan potensi energi surya yang bisa digunakan sebagai sumber energi pembangkit listrik. Pemanfaatan energi surya sebagai PLTS dan angin sebagai PLTB sangat diminati dan mulai dikembangkan untuk kebutuhan listrik sehari-hari, salah satunya sebagai penerangan jalan. Dengan pemasangan lampu jalan ini akan digunakan untuk penerangan jalan dimalam hari dimana lampu penerangan jalan ini akan diaplikasikan pada jalan kampung menuju pantai dan biasanya terletak pada jangkauan yang jauh dari saluran distribusi PLN, sehingga harus menyediakan catu dayanya secara mandiri. PLTS tidak sepenuhnya bisa menyuplai beban listrik untuk penerangan jalan dengan sendiri oleh karena itu perlu digabungkan dengan PLTB agar sistem bekerja secara optimal. Dari masalah tersebut maka dilakukan penelitian dengan tujuan simulasi perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTH) surya-angin untuk beban penerangan jalan. Jumlah beban yang akan disuplai oleh sistem PLTH adalah sebesar 3,6 kW dari total penggunaan energi listrik per hari. Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTH) surya-angin untuk beban penerangan jalan menggunakan software HOMER untuk menganalisis tentang total cost dan perbandingan kehandalan dalam hal electrical. Berdasarkan hasil simulasi Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTH) menghasilkan produksi energi 2.270 kWh/yr yaitu dari photovoltaic sebesar 72,5% dan turbin angin sebesar 27,5% dengan menggunakan PV 80 Wp sebanyak 15, turbin angin 300 Wp sebanyak 2 dan baterai VRLA KAYABA 18 Ah 12 V sebanyak 40. Total Cost Perencanaan PLTH adalah sebesar Rp. 67.823.157 dengan COE sebesar Rp. 2.608. Net Present Value akan bernilai positif pada tahun ke 2. Berdasarkan hasil simulasi Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTH) surya-angin untuk beban penerangan jalan di desa Surorejan Kabupaten Kebumen tersebut sangat layak untuk diusahakan. | Kebumen Regency which stores the potential of solar energy that can be used as an energy source for electricity generation. Utilization of solar energy as PLTS and wind as PLTB are in great demand and have begun to be developed for daily electricity needs, one of which is as street lighting. With the installation of this street lamp will be used for street lighting at night where the street lighting will be applied to the village road to the beach and is usually located at a distance far from the PLN distribution channel, so it must provide its power supply independently. PLTS cannot fully supply the electricity load for street lighting by itself and therefore needs to be combined with PLTB so that the system works optimally. From this problem, a study was carried out with the aim of simulating solar-wind hybrid power plant planning for street lighting loads. The total load to be supplied by the PLTH system is 3.6 kW of the total electricity usage per day. Solar-Wind Hybrid Power Plant Planning for street lighting loads using HOMER software to analyze the total cost and reliability comparison in electrical matters. Based on the simulation results of the Hybrid Power Plant (PLTH) produces 2,270 kWh / yr of energy production from photovoltaics by 72.5% and wind turbines by 27.5% by using 80 80 Wp PV as much as 15, 300 Wp wind turbines by 2 and VRLA batteries KAYABA 18 Ah 12 V as many as 40. The total cost of PLTH planning is Rp. 67,823,157 with COE of Rp. 2,608. Net Present Value will be positive in year 2. Based on the simulation results of solar-wind Hybrid Power Generation (PLTH) for road lighting loads in the village of Surorejan, Kebumen Regency is very feasible to be undertaken. | |
| 23811 | 26958 | G2A017004 | PERBANDINGAN GEN ica A/D PADA Methicilin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) PENGHASIL BIOFILM ANTARA TENAGA KESEHATAN DI RUMAH SAKIT DENGAN MASYARAKAT UMUM DI BANYUMAS | Latar Belakang: Staphylococcus berasal dari kata staphyle berarti kelompok buah anggur, coccus berarti bulat dan aureus berarti keemasan. Methicilin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) telah menjadi pathogen utama di Negara berkembang. Munculnya strain bakteri yang resisten terhadap banyak antibiotik termasuk bakteri Staphylococcus aureus, merupakan masalah yang serius, apalagi didukung kemampuan bakteri ini dalam membentuk biofilm, menyebabkan agen antimikroba dan respon sistem imun tidak efektif dalam mengeliminasi sel biofilm. Menurut data yang diumumkan WHO, lebih dari 60 % infeksi mikroba disebabkan oleh biofilm. Produksi biofilm pada S. aureus difasilitasi oleh adanya gen ica, yang merupakan suatu gen operon terdiri atas ica A, B, C dan D Tujuan: Mengetahui perbandingan gen ica A/D pada MRSA penghasil biofilm antara tenaga kesehatan di rumah sakit dan masyarakat umum di Banyumas. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional yang bertujuan menggambarkan gen ica AD pada MRSA penghasil biofilm antara tenaga kesehatan di RS TK.III Wijayakusuma Purwokerto dibandingkan dengan masyarakat umum di Banyumas. Sampel diambil menggunakan metode nasal swab. Pemeriksaan mikrobiologis dilakukan untuk identifikasi strain MRSA. Identifikasi biofilm menggunakan microtiter plate biofilm assay, setelah itu mendeteksi gen ica A/D. Hasil: Total 120 sampel yang diperiksa, satu sampel (0,008%) menunjukkan hasil MRSA dan 6 sampel (0,05%) menunjukkan hasil MSSA. Total 7 sampel dilakukan pemeriksaan biofilm menunjukkan satu sampel dengan hasil moderate biofilm, 2 sampel weak biofilm, 4 sampel non biofilm. Pemeriksaan deteksi gen ica A/D dilakukan pada 3 sampel yang menunjukkan hasil moderate biofilm dan weak biofilm. Hasil yang didapatkan yaitu pada 3 sampel menunjukkan hasil gen ica A/D yang positif. Perbandingan antara gen ica A/D pada tenaga kesehatan di Rumah Sakit dengan masyarakat umum tidak dapat dilakukan, karena sampel MRSA hanya ditemukan pada kelompok tenaga kesehatan di Rumah Sakit. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan gen ica A/D pada MRSA penghasil biofilm antara tenaga kesehatan di Rumah Sakit dibandingkan dengan masyarakat umum di Kabupaten Banyumas, karena hanya ditemukan 1 sampel MRSA yaitu pada kelompok tenaga kesehatan. | The emergence bacterial strains which are resistant to an antibiotic, including MRSA has become a serious problem, especially when supported by the bacteria’s ability to produce biofilm can cause microbial agent not effective in eliminating the biofilm. Biofilm production in S. aureus is facilitated by the existence of the ica AD gene. The aims of this study is to know the positivity of ica A/D gen in biofilm-producing MRSA between healthcare workers in hospital and general population. This study was a cross-sectional study aimed to portray the ica AD gen of biofilm-producing MRSA between healthcare workers in Hospital compared to the general population. Biofilm was identified using microtiter plate biofilm assay, the ica A/D gen detection was done. The results is one sample (0,008%) showed MRSA result and six samples (0,05%) showed an MSSA result. Total of 7 samples underwent biofilm examination, there was one sample with moderate biofilm, two samples with weak biofilm, and four samples showed no biofilm. It was known that 3 samples showed positive ica A/D gen. Comparison of ica A/D gen in healthcare workers and general population could not be done, because the MRSA samples were found only in the healthcare workers. | |
| 23812 | 26941 | C1A015016 | Analisis Pendapatan Usaha Kerajinan Kepek Jago di Desa Nusawungu Kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keuntungan, dan efisiensi usaha kerajinan kepek jago di Desa Nusawungu Kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap. Analisis data yang digunakan adalah analisis keuntungan dan analisis R/C ratio. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa usaha kepek jago merupakan usaha yang menguntungkan. Besarnya keuntungan yang diperoleh adalah sebagai berikut. Keuntungan usaha kerajinan kepek jago rotan sebesar Rp.577.546,00 per bulan. Keuntungan usaha kerajinan kepek jago fiber sebesar Rp.863.265,00 per bulan, kemudian keuntungan usaha kerajinan kepek jago plastik sebesar Rp.547.414,00 per bulan, sedangkan keuntungan usaha kerajinan kepek jago bambu sebesar Rp.863.484,00 per bulan. Secara ekonomis, usaha kerajinan kepek jago sudah efisien dengan nilai R/C ratio masing-masing sebesar 2,11 untuk kepek jago rotan, 2,38 untuk kepek jago fiber, 2,94 untuk kepek jago plastik, dan 6,78 untuk kepek jago bambu. | The purpose of this study was to determine the profitability and efficiency of kepek jago handicraft business in Nusawungu Village, Nusawungu District, Cilacap Regency. Analysis of the data used is profit analysis and R / C ratio analysis. Based on the results of the study, it was found that handicfart business of kepek jago is a profitable business, the profitability of rattan kepek jago craft is Rp.577,546.00. The profit of the fiber kepek jago craft business is Rp.863,265.00, then the profit of the plastic kepek jago craft business is Rp.547,414.00, while the profit of the bamboo kepek jago craft business is Rp.863,484.00. Economically, the business of kepek jago craft is efficient with an R / C ratio of 2.11 for rattan kepek jago, 2.38 for fiber kepek jago, 2.94 for plastic kepek jago, and 6.78 for bamboo kepek jago. | |
| 23813 | 26709 | K1C015054 | PEMBUATAN ALAT UKUR LAJU ALIRAN SUNGAI SECARA REALTIME MENGGUNAKAN PELAMPUNG BER-GPS DAN MODUL GSM | Laju aliran sungai menjadi salah satu faktor yang penting untuk diketahui karena dapat berpengaruh terhadap kondisi bawah air di hulu sungai hingga ke hilir. Namun belum tersedia alat ukur yang dapat menentukan laju aliran sungai pada banyak titik. Penelitian ini telah membuat alat ukur laju aliran sungai yang dapat mengukur pada banyak titik dengan menggunakan pelampung yang ditanami modul GPS dan GSM sehingga dapat dipantau secara realtime jarak jauh. Berdasarkan hasil pengujian akurasi dan presisi posisi GPS didapatkan nilai rata-rata pergeseran antara titik sebenarnya dan titik uji sebesar 10,97 meter dan nilai rata-rata akurasi laju GPS sebesar 84,20 %. Pengujian alat mendapatkan nilai rata-rata laju aliran sungai pada bendungan gerak sungai serayu sebesar 0,0342 m/s. Alat ini dapat dipantau secara realtime dengan selang waktu rata-rata antar pengiriman data sebesar 41 detik, dan selang waktu rata-rata antara waktu data terukur dan terkirim sebesar 18 detik. Alat ini mengirimkan informasi data laju, posisi dan waktu sehingga dapat mengetahui laju aliran sungai pada tiap titik yang dilewatinya dan juga dapat mengetahui laju rata-rata. | River flow velocity can be an important factor to know because it can effect the underwater condition of the river. But there is no measurement tool that can determine river flow velocity at each point. This research has made a measuring instrument for the river flow velocity using a buoy planted with GPS and GSM modules so it can be monitored in realtime over long distances. Based on the results of testing the accuracy and precision of the GPS position, the average value of the actual point and test point shift is 10,97 meters and the average value of GPS speed accuracy is 84,20%. Based on the result of testing this measuring instrument, the average river flow velocity of serayu river moving dam is 0,0342 m/s. This device can be monitored in realtime with an average interval between data transfer is 41 seconds, and the average time interval between the measured time and sent data is 18 seconds. This device sends it’s velocity and position data information so it can know the river flow velocity at multi point. | |
| 23814 | 26939 | G1G014013 | Pengaruh Aplikasi Gel Ekstrak Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa) Terhadap Kadar Deoksipiridinolin (DPD) pada Tikus (Rattus norvegicus) Galur Sprague dawley Model Periodontitis | Periodontitis merupakan kondisi inflamasi kronis pada jaringan pendukung gigi yang ditandai dengan adanya kehilangan perlekatan gigi dan resorpsi tulang alveolar, yang disebabkan oleh degradasi kolagen tipe I dan menimbulkan peningkatan kadar deoksipiridinolin (DPD). Ekstrak kelopak bunga rosela memiliki berbagai senyawa aktif seperti antosianin, flavonoid, fenol, tannin, dan vitamin C yang dapat berperan sebagai antioksidan dengan menghambat reaksi stress oksidatif. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh gel esktrak kelopak bunga rosela terhadap kadar DPD pada tikus (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley model periodontitis. Rancangan penelitian ini yaitu post-test only control group design menggunakan dua puluh lima ekor tikus (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley jantan terbagi 5 kelompok: kelompok perlakuan menggunakan gel ekstrak rosela konsentrasi 5% (P1), 10% (P2), 20% (P3), kelompok kontrol sehat (K1), dan kelompok kontrol negatif (K2). Induksi periodontitis menggunakan Aggregatibacter actinomycetemcomitans (Aa) pada kelompok K2, P1, P2, dan P3 dengan dosis 1 McFarland dimasukkan pada sulkus gingiva gigi insisivus bawah tikus selama 7 hari. Tikus pada kelompok perlakuan diberikan gel ekstrak rosela selama 14 hari setelah induksi bakteri Aa. Eutanasia tikus dilakukan setelah pengambilan saliva pada hari ke-15. Kadar DPD pada saliva ditentukan menggunakan metode ELISA dan data dianalisis menggunakan One-Way ANOVA dan analisis Post-Hoc LSD. Hasil penelitian menunjukkan rerata kadar DPD pada kelompok P1 (14,903 ng/mL), P2 (14,888 ng/mL), P3 (14,770 ng/mL), dan K1 (16,062 ng/mL) lebih rendah dibandingkan dengan K2 (18,930 ng/mL). Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan bermakna (p<0,05). Hasil uji Post-Hoc LSD menunjukkan adanya perbedaan bermakna (p<0,05) antara K2 dengan K1 dan K2 dengan semua kelompok perlakuan, namun tidak ada perbedaan bermakna (p>0,05) antara K1 dengan kelompok perlakuan dan antar kelompok perlakuan. Penelitian ini membuktikan bahwa aplikasi gel ekstrak kelopak bunga rosela berpengaruh terhadap kadar DPD pada tikus model periodontitis. | Periodontitis is a chronic inflammatory disease that causes periodontal tissue damage characterized by attachment loss and alveolar bone resorption, which is caused by the degradation of type I collagen and causes an increase in deoxypyridine levels (DPD). Roselle extract has various active compounds such as anthocyanin, flavonoid, phenol, tannin, dan vitamin C as antioxidant by inhibiting oxidative stress reactions. This study was to discover the effect of roselle calyx extract gel toward DPD levels of Sprague dawley rat (Rattus norvegicus) in periodontitis model. Design of this research was post-test only control group design used twenty-five male Sprague dawley rats divided into 5 groups: treatment groups using roselle extract gel concentration 5% (P1), 10% (P2), 20% (P3), healthy control group (K1), and negative control group (K2). Aggregatibacter actinomycetemcomitans (Aa) dose of 1 McFarland inserted to gingival sulcus of mandible for 7 days in K2, P1, P2, and P3 groups to induced the periodontitis. Rats in treatment groups were received roselle extract gel for 14 days after induced by Aa. Euthanasia was carried out after saliva collection on the 15th day. Levels of DPD in saliva were determined using the ELISA method and data were analyzed using One-Way ANOVA and Post-Hoc LSD. The results showed a lower of DPD levels in P1 (14,903 ng/mL), P2 (14,888 ng/mL), P3 (14,770 ng/mL), and K1 (16,062 ng/mL) compare to K2 (18,930 ng/mL). One-Way ANOVA test showed there were significant differences (p<0,05). Post-Hoc LSD test showed significant differences (p<0,05) K2 compare to K1 and K2 compare to all treatment groups, but no significant differences K1 compare to all treatment groups and inter-treatment groups (p>0,05). Rosella extract gel is proven to effect the DPD levels of a rat model of periodontitis. | |
| 23815 | 28639 | H1B015027 | PEMODELAN STABILITAS LERENG DAN ANALISIS HUJAN PADA DAERAH RAWAN LONGSOR DI KABUPATEN PURBALINGGA (SLOPE STABILITY MODELING AND RAIN ANALYSIS OF LANDSLIDE PRONE AREAS IN PURBALINGGA DISTRICT) | Menurut data 10 tahun terakhir yang dihimpun oleh BNPB yang dipublikasikan online (bnpb.go.id), menyatakan bahwa ada 63 kejadian tanah longsor, dengan rincian : 46 rumah rusak berat, 54 rumah rusak sedang, 31 rumah rusak ringan, 9 orang meninggal dunia, dan 8 orang luka-luka. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan lokasi-lokasi daerah rawan longsor di Kabupaten Purbalingga berdasarkan nilai faktor keamanan lereng dan juga untuk mengetahui korelasi antara stabilitas lereng dengan curah hujan harian. Metode yang digunakan dalam menentukan faktor keamanan lereng adalah dengan perhitungan mekanik menggunakan data spasial yang didapatkan dengan interpolasi kriging pada aplikasi R Studio dan juga menggunakan interpolasi IDW pada aplikasi QGIS. Perhitungan dianalisis dengan asumsi bahwa tanah lempung organik dan juga longsor akan terjadi bila tanah jenuh atau kadar air mencapai 100%. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini yaitu validasi 47,17%, merupakan hasil perbandingan antara 50 daftar desa pada analisis faktor keamanan lereng dengan 106 desa yang pernah terjadi longsor dan juga semakin lebat curah hujan, maka semakin berpengaruh untuk kestabilan lereng tersebut. | According to the last 10 years of data compiled by BNPB published on (bnpb.go.id), there were 63 occurrences of landslides causing 46 houses heavily damaged, 54 houses were moderately damaged, 31 houses were lightly damaged, 9 people died, and 8 people were injured. This research aims to map the locations of landslide prone areas in Purbalingga district based on the slope stability or safety factor values and also to find out the correlation between slope stability and daily rainfall. The method used in determining the safety factor of slope is by calculation of parameters triggering landslide mechanism using spatial data obtained from field measurements and interpolated in space using kriging and IDW interpolation in the R Studio application. Calculations are analyzed assuming that soil organic clay and also landslide will occur when the soil is saturated or water content reaches 100%. The results shows that the model can predict landslide locations about 47.17%. This is obtained from a comparison between 50 villages from the safety factor analysis with 106 villages that have landslide incidents record. Moreover, it is found that increasingly dense rainfall as the more influential for the stability of the slope. | |
| 23816 | 26918 | E1A015196 | PERAN SATUAN PETUGAS ANTI MAFIA BOLA TERHADAP PENGUNGKAPAN TINDAK PIDANA PENGATURAN SKOR (MATCH FIXING) | Di Indonesia telah terjadi kejahatan dalam olahraga sepak bola ,salah satu jenis kejahatan yang terjadi pada dunia olahraga sepak bola Indonesia saat ini yaitu Tindak Pidana Pengaturan Skor. Tindak Pidana Pengaturan Skor biasanya dilakukan oleh lebih dari satu orang dalam suatu kelompok dan dilakukan secara terorganisir. Dalam proses penegakan hukum yang dilakukan oleh satuan petugas anti mafia bola terhadap tindak pidana Pengaturan Skor diawali dengan proses penyelidikan lalu penyidikan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana implementasi satuan petugas anti mafia bola dalam mengungkap tindak pidana pengaturan skor. Metode pndekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis sosiologis, dengan spesifikasi deskriptif, dan lokaso penelitian di Polda Metro Jaya. Jenis dan sumber data adalah data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data terdiri dari data primer berupa wawancara dan data sekunder berupa studi kepustakaan. Metode penyajian data berbentuk teks naratif dan metode analisis kualitatif. Dari hasil penelitian ini menyebutkan bahwa pejabat penyidik di Satuan Petugas Anti Mafia Bola Polda Metro Jaya dalam pemeriksaan pendahuluan pada tingkat penyidikan sudah menetapkan lebih dari 14 tersangka setelah melalui proses-proses tahapan penyelidikan, penyidikan, dan penetapan tersangka dan Satuan Petugas Anti Mafia Bola Polda Metro Jaya telah sesuai dengan PERKAP Nomor 14 Tahun 2012 Tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana dalam melakukan proses penyelidikan, penyidikan. | In Indonesia there has been a crime in football sports, one of the types of crimes that occur in the world of Indonesian football sports today is match fixing. The match fixing arrangement is usually done by more than one person in a group and performed in an organized. In the process of law enforcement conducted by a unit of anti Mafia ball officers against the criminal offence the score was initiated by the investigation process and investigation. The purpose of this research is to know how to implement an Anti Mafia ball officer unit in revealing criminal offence scoring settings. The approach method used in the study was sociological juridical, with descriptive specifications, and local research at Polda Metro Jaya. Data types and sources are primary data and secondary data. Data collection methods consist of the primary data of interviews and secondary data of literature studies. Methods of presenting data form narrative text and qualitative analysis methods. From the results of the study mentions that the investigator office in the Anti Mafia Ball Officers unit of the police in a preliminary examination at the investigation level has set more than 14 suspects after going through the investigation stage process, Investigation, and determination of suspects and the Anti Mafia ball officers of the police of Metro Jaya has been in accordance with the PERKAP 14 year 2012 about the management of criminal investigation in conducting investigation process, investigation. | |
| 23817 | 26972 | L1C015018 | PERUBAHAN LUASAN LAGUNA BERDASARKAN SEBARAN TSS DAN ARUS DI LAGUNA SEGARA ANAKAN BARAT, CILACAP | ABSTRAK Laguna Segara Anakan (LSA) memiliki karakteristik wilayah yang unik dengan keanekaragaman hayati sumber daya alam yang tinggi. Wilayah LSA dipengaruhi oleh faktor alami (aliran air tawar muara DAS Citanduy dan tingginya tingkat sedimentasi), faktor tersebut menyebabkan perubahan pada tanah, karena memicu penurunan luasan badan air laguna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan luasan laguna berdasarkan sebaran TSS dan Arus. Diperlukan pendekatan spasial sementara untuk menghindari pengaruh faktor tersebut, Pendekatan spasial dilakukan dengan menggunakan metode penginderaan jauh dengan Sistem Informasi Geografis, dengan pengolahan data citra Landsat Multi-Temporal (tahun 2008, 2013 dan 2018) data citra landsat digunakan untuk menganalisis perubahan luasan laguna dan untuk pendugaan nilai TSS menggunakan algoritma TSS. Hasil analisis perubahan luasan laguna menunjukkan bahwa terjadi perubahan luas laguna dari tahun 2008 1.150 ha turun menjadi 1,023 ha pada tahun 2013 lalu luasan kembali mengalami penurunan luasan pada tahun 2018 menjadi 952,27 ha. 1.199 ha menjadi 1.043 ha, hal ini sesuai dengan nilai konsentrasi TSS yang tinggi di Laguna Segara Anakan Barat yaitu dari hasil analisa citra satelit Landsat-8 didapatkan nilai material padatan tersuspensi berkisar 0-255 mg/L pada hasil pengolahan citra. | ABSTRACT Segara Anakan Lagoon (SAL) has unique regional characteristics with high biodiversity of natural resources. LSA areas are affected by natural factors (the flow of freshwater estuary in the Citanduy watershed and high levels of sedimentation), these factors cause changes in the soil, because it triggers a decrease in lagoon water bodies. The purpose of this study was to determine changes in lagoon area based on the distribution of TSS and Flow. A temporary spatial approach is needed to avoid the influence of these factors. The spatial approach is carried out using the remote sensing method with Geographic Information Systems, with processing of Multi-Temporal Landsat image data (in 2008, 2013 and 2018) Landsat image data is used to analyze changes in lagoon area and to estimation of TSS values using the TSS algorithm. The results of the analysis of changes in lagoon area indicate that there was a change in lagoon area from 2008 1,150 ha down to 1,023 ha in 2013 and then the area again decreased in 2018 to 952.27 ha. 1,199 ha to 1,043 ha, this is in accordance with the high TSS concentration value in Laguna Segara Anakan Barat, from the analysis of Landsat-8 satellite imagery obtained the value of suspended solid material ranging from 0-255 mg / L in the results of image processing. | |
| 23818 | 26942 | L1B015053 | PENGARUH PENAMBAHAN VITAMIN C PADA PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) | Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas budidaya air tawar yang digemari masyarakat. Setiap tahun permintaan akan konsumsi ikan nila terus meningkat. Oleh karena itu produksi budidaya ikan nila(Oreochromis niloticus) terus ditingkatkan. Peningkatan produksi harus diingringi dengan ketersdiaan nutrisi yang mencukupi. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan memberikan tambahan vitamin C pada pakan untuk mendukung pertumbuhan dan metabolisme ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai pertumbuhan berat mutlak dan pertumbuhan panjang mutlak, laju pertumbuhan harian (LPH), Laju pertumbuhan spesifik (LPS) dan kelulushidupan (SR) pada ikan nila (Oreochromis niloticus) yang dipelihara dan diberikan penambahan vitamin C pada pakan dengan dosis berbeda. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental yang terdiri dari 4 perlakuan dan 10 kali ulangan ikan. Perlakuan yang diberikan antara lain (P1) Pakan komersil tanpa penambahan vitamin C, (P2) Pakan komersil dengan penambahan vitamin C sebanyak 150mg/kg pakan, (P3) Pakan komersil dengan penambahan vitamin C sebanyak 300 mg/kg pakan dan (P4) Pakan komersil dengan penambahan vitamin C sebanyak 450 mg/kg pakan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa perlakuan hanya berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan harian (P<0.05). Perlakuan menggunakan Pakan komersil dengan penambahan vitamin C sebanyak 450 mg/kg pakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan. Kata kunci : Ikan nila (Oreochromis niloticus), Vitamin C, Pertumbuhan, Kelulushidupan. | Tilapia (Oreochromis niloticus) is one of the freshwater commodities favored by the community. Every year the demand for tilapia consumption continues to increase. Therefore the production of tilapia (Oreochromis niloticus ) continues to be improved. Increased production must be supplemented with adequate nutritional availability. One method used is to provide additional vitamin C in feed to support growth and metabolism of fish. This study aims to determine the value of growth absolute weight and absolute length growth, daily growth rate (DGR), specific growth rate (SGR) and survival (SR) in tilapia (Oreochromis niloticus) which is maintained and given the addition of vitamin C to diets with different doses. The research consists of 4 treatments and 10 repetitions of fish. The treatment given includes (P1) Commercial feed without the addition of vitamin C, (P2) Commercial feed by adding vitamin C as much as 150mg / kg of feed, (P3) Commercial feed by adding vitamin C as much 300 mg / kg feed and (P4) Commercial feed with additive Vitamin C ingredients as much as 450 mg / kg of feed. Based on the results of the study it was known that the treatment only significantly affected the daily growth rate (P <0.05). The treatment using commercial feed with the addition of vitamin C as much as 450 mg / kg of feed has a significant effect on growth and survival. Keywords : tilapia (Oreochromis niloticus ), Vitamin C, Growth, Survival Rate. | |
| 23819 | 26943 | L1C015007 | PROFIL SUHU VERTIKAL DAN POTENSI PEMANFAATANNYA SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF OCEAN THERMAL ENERGY CONVERSION (OTEC) DI PERAIRAN INDONESIA | Penelitian ini berjudul profil suhu vertikal dan potensi pemanfaatannya sebagai energi alternatif Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC). Kebutuhan energi di era sekarang ini sangat meningkat terutama energi listrik, dimana hampir semua peralatan membutuhkan energi listrik, sementara sumber energi listrik masih banyak berasal dari sumberdaya non hayati sehingga diperlukan energi alternatif guna mendukung kelestarian lingkungan yang berkelanjutan. Salah satu energi alternatif adalah OTEC. OTEC merupakan sebuah teknologi yang memanfaatkan energi panas yang berasal dari perbedaan suhu permukaan dan air laut dalam dan menghasilkan listrik. Metode yang digunakan yaitu metode survei dengan data sekunder, data diperoleh dari HYCOM dan dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan suhu permukaan di beberapa wilayah perairan Indonesia yaitu berkisar sebesar 27 ˚C - 29 ˚C. Selisih suhu 20 ˚C rata - rata didapat pada kedalaman perairan yang mencapai 500 m. Berdasarkan keempat musim potensi daya OTEC tertinggi terdapat pada wilayah Papua sebesar 175 MW sedangkan terendah wilayah Sulawesi Tenggara 82 MW di musim timur. Berdasarkan potensi rata – rata keempat musim daya tertinggi juga didapat pada wilayah papua 168 MW dan terendah pada Sulawesi Utara 88 MW. | This study entitled the vertical temperature profile and its potential use as an alternative energy Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC) in Indonesian waters. Energy needs are greatly increasing in this era, especially electricity, where almost all equipment requires electrical energy, while there are still many sources of electrical energy from non-biological resources and alternative energy is needed to support sustainable environment. One alternative energy is OTEC. OTEC is a technology that utilizes thermal energy from different surface temperatures and deep sea water and produces electricity. The method used is a survey method with secondary data, data obtained from HYCOM and analyzed descriptively and quantitatively. The results of the study showed the surface temperature in some areas of Indonesia, ranging from 27 °c to 29 °c. The temperature difference of 20 °c on average is obtained at a depth of water reaching 500 m. Based on the fourth season, the highest potential of OTEC power is in Papua region of 175 MW while the lowest region of Southeast Sulawesi 82 MW in east season. Based on the average potency of the fourth highest power season also gained in Papua 168 MW and lows in North Sulawesi 88 MW. | |
| 23820 | 26911 | C1A015010 | ANALISIS KOMPARATIF USAHA BUDIDAYA UDANG SISTEM TRADISIONAL DENGAN SISTEM SEMI-INTENSIF DI DESA PANTAI BAKTI KECAMATAN MUARAGEMBONG KABUPATEN BEKASI | Penelitian ini mengambil judul: “Analisis Komparatif Usaha Budidaya Udang Sistem Tradisional dengan Sistem Semi-Intensif Di Desa Pantai Bakti Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi”. Penelitian ini merupakan penelitian yang membahas tentang perbandingan keuntungan antara usaha budidaya udang sistem tradisional dengan sistem semi-intensif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perbandingan pendapatan dan efisiensi antara usaha budidaya udang sistem tradisional dengan sistem semi-intensif. Jumlah responden yang di ambil dalam penelitian ini berjumlah 84 responden, dimana 79 responden merupakan petambak udang dengan sistem tradisional dan 5 responden merupakan petambak udang dengan sistem semi-intensif, penentuan responden dilakukan dengan menggunakan metode purposive random sampling. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menggunakan analisis keuntungan dan uji t sampel independen untuk data keuntungan usaha budidaya udang, didapatkan bahwa keuntungan dalam usaha budidaya udang sistem semi-intensif lebih tinggi bila dibandingkan dengan keuntungan dalam usaha budidaya udang sistem tradisional dengan nilai probabilitas kesalahan sebesar 0,004 dan selisih keuntungan sebesar Rp352.322 per 100 m2. Selain itu, dalam analisis efisiensi ekonomis menggunakan rumus nilai R/C rasio dan uji t sampel independen untuk data nilai R/C rasio usaha budidaya udang, didapatkan bahwa nilai R/C rasio usaha budidaya udang sistem tradisional lebih tinggi bila dibandingkan dengan nilai R/C rasio usaha budidaya udang sistem semi-intensif dengan nilai probabilitas kesalahan sebesar 0,000. Implikasi dari penelitian ini yaitu dalam budidaya udang dengan sistem tradisional di Desa Pantai Bakti, petambak dapat meningkatkan keuntungan dengan cara menggunakan pakan dalam proses budidaya. Hal tersebut dapat dilakukan untuk menambah bobot berat pada udang. Apabila dilihat pada nilai efisiensi ekonomis, usaha budidaya udang sistem semi-intensif lebih rendah bila dibandingkan dengan sistem tradisional. Hal tersebut terjadi karena usaha budidaya udang sistem semi-intensif masih dalam tahap permulaan. Oleh karena itu dalam tahap permulaan usaha budidaya udang sistem semi-intensif diperlukan adanya pembinaan mengenai budidaya dengan sistem tersebut sehingga petambak dapat menjalankan budidaya dengan tepat. | This research entitled: "Comparative Analysis of Traditional Shrimp Farming System and Semi-intensive Shrimp Farming System at Pantai Bakti Village Muaragembong Subdistrict Bekasi Regency”. This research entitled: "Comparative Analysis of Traditional Shrimp Farming System and Semi-intensive Shrimp Farming System. The purpose of this research are to compare the profit and the efficiency of traditional shrimp farming system and semi-intensive shrimp farming system. The The number of respondents in this research were 84 respondents, which is 79 respondents are shrimp farmers with traditional system farming and 5 respondents are shrimp farmers with semi-intensive system farming,the respondents is determined by using purposive random sampling method. Based on the results of research and data analysis using profit analysis and independent sample t test for data on the profitability of shrimp farming, it was found that the profits in the semi-intensive shrimp farming system was higher when compared to the profits in the traditional shrimp farming system with an error of probability value is 0.004 and the difference of the profit is IDR 352,322 per 100 m2. In addition, in the analysis of economic efficiency using the formula R/C ratio value and independent sample t test for data on the R/C value of the shrimp farming systems, it was found that the R/C ratio of the traditional shrimp farming system was higher when compared to the R/C ratio of semi-intensive shrimp farming system with an error of probability value is 0,000. The implication of this research is that in traditional shrimp farming system in Pantai Bakti Village, farmers can increase profits by using feed in the cultivation process. This can be done to add weight of the shrimp. When viewed in terms of economic efficiency), the semi-intensive shrimp farming system is lower than the traditional shrimp farming system. That happens because the semi-intensive shrimp farming system is still in its initial stages. Therefore, in the early stages of the semi-intensive shrimp farming system, it is necessary to provide guidance regarding cultivation with the system so that farmers can carry out the cultivation appropriately. |