Artikelilmiahs

Menampilkan 23.721-23.740 dari 51.906 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
2372128631G1A016062EFEK LAMA WAKTU PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL SELEDRI (Apium graveolens L.)
TERHADAP KADAR TUMOR NECROSIS FACTOR-α PADA
TIKUS PUTIH (Sprague dawley) MODEL
ISCHEMIA REPERFUSION INJURY
Latar Belakang: Ischemia Reperfusion Injury (IRI) atau cedera iskemia reperfusi adalah cedera yang terjadi akibat penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara cepat, mendadak, dan gangguan aliran darah menuju organ, diikuti dengan pemulihan aliran darah ke organ tersebut yang akan menyebabkan inflamasi dan merusak organ ginjal. Seledri (Apium graveolens L.) mempunyai efek farmakologis antioksidan dan antiinflamasi karena mengandung senyawa aktif seperti apigenin, glikosida iridoid, tannin, flavonoid, alkaloid dan saponin. Aktivitas antioksidan serta antiinflamasi seledri dapat mencegah kerusakan seluler yang dapat menekan peningkatan regulasi TNF-α stimulated dari molekul adhesi seluler vascular, molekul adhesi intraseluler, E-selectin MRA dan IL -1β.
Tujuan: Untuk mengetahui efek lama waktu pemberian ekstrak etanol seledri terhadap pencegahan peningkatan kadar TNF-α tikus model ischemia reperfusion injury.
Desain Penelitian: Metode penelitian adalah eksperimental dengan post-test only with control group design. Dua puluh lima ekor tikus putih dibagi dalam 5 kelompok. Kelompok A sebagai kontrol sehat, kelompok B sebagai kontrol sakit, kelompok C (1000 mg/kgBB selama 7 hari), kelompok D (1000 mg/kgBB selama 14 hari), dan kelompok E (1000 mg/kgBB selama 28 hari). Pada hari ke-8, ke-15 dan ke-29 setelah pemberian ekstrak, kelompok B, C, D, E dibedah dan dibuat model IRI.
Hasil: Kadar TNF-α dengan metode ELISA kelompok A adalah 36,88±8,9, kelompok B 38,81±2,35, kelompok C 28,85±13, kelompok D 25,91±12,2, Kelompok E 23,60±12,3. Uji Kruskal-Wallis menunjukan nilai p=0,039 (p<0,05). Uji post hoc Mann-Whitney menunjukan terdapat perbedaan bermakna antara minimal 2 kelompok.
Kesimpulan: Pemberian ekstrak etanol daun seledri (Apium graveolens L.) dapat menurunkan peningkatan kadar TNF-α pada tikus putih (Rattus norvegicus) model ischemia reperfusion injury.

Background: Ischemia Reperfusion Injury (IRI) or reperfusion injury is an injury caused due decrease function of kidney which happens quickly, suddenly or interruption of blood flow to organs followed by the recovery of blood flow into those organs then causes inflammation and damages the kidney. Celery (Apium graveolens L.) has pharmacological antioxidants and anti-inflammatory because it contains active compounds such as apigenin, iridoid glycosides, tannin, flavonoid and saponin. Antioxidants as well as anti- inflammatory activities of celeries can prevent cellular damages which can suppress the increase regulation of TNF-α stimulated from Vascular cell adhesion molecule, intracellular adhesion molecule, E-selectin MRA and IL -1β
Objective: The purpose of this research is to discover the effect of the length of time of the celery (Apium graveolens L.) administration in preventing the increase in TNF-α levels of IRI's albino rat (Sprague dawley) models.
Methods: The method of this research is experimental with post-test only with control group design. Twenty-five albino rats are divided into 5 groups. Group A as healthy control, Group B as control of pain, Group C (1000 mg/kgBB for 7 days), Group D (1000 mg/kgBB for 14 days), and Group E (1000 mg/kgBB for 28 days). On the 8th, 15th, and 29th days after administration of extracts, Group B, C, D, and E were dissected and made into IRI models.
Result: ELISA method is used to discover TNF-α levels average TNF-α levels of group A=36,88±8,9; B=38,81±2,35; C=28,85±13; D=25,91±12,2; E=23,60±12,3. Kruskal-Wallis test result indicates p level =0,039 (p<0,05). Mann-Whitney post hoc test showed a significant difference between minimum 2 groups.
Conclusions: The administration of celery (Apium graveolens L.) extracts for 14 to 28 days can decreases the increase in TNF-α levels of rat models of Ischemia Reperfusion Injury.
2372226872B1A015082Identifikasi Golongan Darah pada Sampel Darah Kering yang Dipapar pada Substrat Tembok, Waktu, dan Lingkungan BerbedaDarah memiliki peranan penting untuk mengungkapkan berbagai kasus hukum maupun kasus kriminal. Darah biasanya ditemukan pada berbagai substrat seperti pakaian, pisau, lantai, tembok, besi, kain, kertas dan gunting. Pemeriksaan golongan darah dilakukan dalam proses penyelidikan berfungsi untuk identifikasi korban maupun pelaku. Beberapa metode identifikasi forensik yang umum dilakukan untuk identifikasi golongan darah yaitu direct agglutination, elusi absorpsi, inhibisi absorpsi dan beberapa metode lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh masing-masing substrat, waktu, kondisi lingkungan dan interaksi ketiganya terhadap keberhasilan identifikasi golongan darah kering yang diuji. Pengambilan sampel dilakukan di Fakultas Biologi Unsoed dan identifikasi dilakukan di labfor cabang semarang. Berdasarkan penelitian ini diperoleh informasi bahwa darah kering dalam kondisi indoor pada substrat tembok tanpa lepa dapat diidentifikasi hingga waktu paparan 120 jam, sedangkan darah pada tembok yang dilepa tanpa dilapisi cat, dilapisi cat tembok, dan dilapisi cat minyak dapat diidentifikasi hingga waktu paparan 140 jam. Darah kering dalam kondisi outdoor pada substrat tembok tanpa lepa dapat diidentifikasi hingga waktu paparan 72 jam, pada tembok yang dilepa tanpa dilapisi cat dan dilapisi cat tembok dapat diidentifikasi hingga waktu paparan 96 jam, dan pada tembok yang dilepa dan dilapisi cat minyak dapat diidentifikasi hingga waktu paparan 120 jam. Kondisi permukaan substrat berpengaruh terhadap keberhasilan identifikasi golongan darah sampel darah kering. Kondisi lingkungan (hujan) berpengaruh terhadap keberhasilan identifikasi golongan darah sampel darah kering. Terdapat interaksi antara substrat, waktu, dan kondisi lingkungan terhadap keberhasilan identifikasi golongan darah sampel darah kering.Blood has an important role in uncovering various legal and criminal cases. Blood is usually found in various fields such as clothing, knife, floor, wall, iron, cloth, paper and scissor. Blood group identification is conducted in the investigation process to identify victims and perpetrators. Some of common forensic identification methods are used to identify blood groups are direct agglutination, absorption elution, inhibition of absorption and several other methods. The purpose of this study was to determine the effect of each substrate, time, enviromental condition and interaction of the successful identification of the dried blood groups test. Sampling was conducted at the Faculty of Biology Unsoed and identification was carried out in the Semarang branch laboratory. Based on this research, can be obtained information that the dry blood in indoor conditions on the wall substrate without plaster can be identified up to 120 hours of exposure time, while blood on the walls that plaster without coated paint, coated with wall paint, and coated with oil paint can be identified up to the time of exposure 140 hours. Dry blood in outdoor conditions on wall substrates without plaster can be identified up to 72 hours of exposure time, on walls that are coated without paint and coated with wall paint can be identified up to 96 hours of exposure time, and on walls that are leped and coated with oil paint can be identified up to 120 hours of exposure. Surface condition of the substrate influences the successful identification of blood groups from dried blood samples. Environmental conditions (rain) affect the successful identification of blood groups from dried blood samples. There is an interaction between substrate, time, and environmental conditions on the successful identification of blood groups of dried blood samples.
2372326873B1B015018SPECIES DIVERSITY AND RELATIONSHIPS AMONG MARINE ORNAMENTAL FISH MEMBERS OF LABRIDAE FAMILY IN THE SOUTH COAST OF WEST JAVATerumbu karang adalah ekosistem bawah laut yang ditandai oleh karang pembentuk terumbu. Terumbu karang terbentuk dari koloni polip karang yang disatukan oleh kalsium karbonat. Invertebrata laut dan vertebrata hidup di ekosistem terumbu karang, termasuk ikan hias. Satu keluarga yang terdiri dari ikan hias yang hidup di terumbu karang adalah Labridae. Keluarga Labrida besar dan beragam, dengan lebih dari 600 spesies dalam 81 genera, yang dibagi menjadi sembilan subkelompok atau suku. Beberapa dari mereka mendiami terumbu karang Indonesia. Namun, data ilmiah terbatas tersedia pada keanekaragaman ikan hias di Labridae dari Pantai Selatan Jawa Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi tentang keanekaragaman spesies dan hubungan filogenetik antara spesies keluarga ikan Labridae di Pantai Selatan Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei dengan teknik purposive sampling. Parameter yang diamati termasuk morfometrik, karakter meristik dan hubungan evolusi antara spesies dalam spesies keluarga Labridae yang dikumpulkan dari Pantai Selatan Sukabumi dan Garut, Jawa Barat. Data morfologis dianalisis secara deskriptif berdasarkan data morfometrik dan meristik. Identifikasi tingkat spesies dilakukan dengan merujuk pada buku panduan identifikasi. Hubungan filogenetik telah dianalisis secara statistik menggunakan metode cladistics seperti yang diterapkan dalam PAUP 4.0 menggunakan algoritma parsimoni maksimum.
Berdasarkan pengamatan, ada 9 spesies dari 6 genera Labridae yang ditemukan. Yaitu Cheilio inermis, Novaculichthy staeniourus, Halichoeresm arginatus, Halichoeres hortulanus, Halicho eresminiatus, Thalassomanigro fasciatum, Thalassomalunare, Stethojulistrilineata, dan Corisbatuensisare berasal spesies. Pengamatan untuk pohon filogenetik menggunakan PAUP 4.0 menunjukkan bahwa Cheilioinermis adalah spesies basal sedangkan yang lainnya adalah spesies turunan. Acanthurus maculiceps adalah kelompok luar yang diambil dari Familia Acanthuridae.
A coral reef is an underwater ecosystem characterized by reef-building corals. Reefs are formed of colonies of coral polyps held together by calcium carbonate. Marine invertebrate and vertebrate live on the coral reef ecosystem, including ornamental fish. One family that consisted of ornamental fish which lives on coral reefs is Labridae. The Labridaefamily is large and diverse, with over 600 species in 81 genera, which are divided into nine subgroups or tribes. Some of them inhabit Indonesian coral reefs. However, limited scientific data are available on ornamental fish diversity in Labridae from the South Coast of West Java. The purpose of the research is to give information about species diversity and phylogenetic relationships among species of Labridae fish family in the South Coast of West Java. This research was conducted using a survey method with a purposive sampling technique. The observed parameters including morphometric, meristic characters and evolutionary relationships among species within Labridae family species collected from the South Coast of Sukabumi and Garut, West Java. Morphological data were analyzed descriptively based on morphometric and meristic data. Species-level identification was performed by referring to the identification guide book. Phylogenetic relationships have been analyzed statistically using cladistics method as implemented in PAUP 4.0 applying maximum parsimony algorithm.
Based on the observation, there are 9 species of 6 genera of Labridae found. Namely Cheilio inermis, Novaculichthy staeniourus, Halichoeresm arginatus, Halichoeres hortulanus, Halicho eresminiatus, Thalassomanigro fasciatum, Thalassomalunare, Stethojulistrilineata, and Corisbatuensisare derived species. The observation for phylogenetic tree using PAUP 4.0 showed that Cheilioinermis is basal species while the others are derived species. Acanthurus maculiceps is the outgroup that taken from Familia Acanthuridae.
2372426874B1A015063PEMBERIAN INOKULUM FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) CAMPURAN TERHADAP KEMUNCULAN PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG SCLEROTIUM PADA TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum frutescens) DAN CABAI MERAH (Capsicum annuum)Cabai rawit (Capsicum frutescens) dan Cabai merah (Capsicum annuum) termasuk sayuran dan buah yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat, dan juga memiliki banyak manfaat. Saat ini, permintaan pasar untuk cabai rawit dan cabai merah sangat tinggi maka harus dilakukan penyetaraan dari sektor produksi tersebut. Cara penanganan yang konvensional seperti pemberian pestisida atau pemberian zat kimiawi lainnya kurang efektif dikarenakan mengakibatkan efek samping yang memiliki dampak yang cukup besar, sehingga digunakan teknik alternatif yaitu dengan menggunakan Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) dengan demikian, maka dilakukan penelitian tentang Pemberian Inokulum Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) Campuran Terhadap Kemunculan Penyakit Busuk Pangkal Batang Sclerotium pada Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens) dan Cabai Merah (Capsicum annuum). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian inokulum FMA campuran dalam menekan intensitas penyakit busuk pangkal batang sclerotium pada tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens) dan tanaman cabai merah (Capsicum annuum) dan untuk mengetahui dosis optimal FMA campuran dalam menekan intensitas penyakit busuk pangkal batang sclerotium pada tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens) dan tanaman cabai merah (Capsicum annuum). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dosis berbeda dari inokulum FMA campuran (0, 10, 15, 20, 25 g FMA dengan medium pembawa zeolit / tanaman). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan pemberian inokulum FMA campuran terhadap intensitas penyakit busuk pangkal batang sclerotium pada tanaman cabai rawit dan cabai merah dapat menurunkan intensitas penyakit busuk pangkal batang Sclerotium sebesar 22% dan pada tanaman cabai merah sebesar 11%.Cayenne pepper (Capsicum frutescens) and red chili (Capsicum annuum), including vegetables and fruit are widely consumed by the public, and also have many benefits. At present, the market demand for cayenne pepper and red chili is very high, so equalization must be made from the production sector. The conventional way of handling such as the administration of pesticides or other chemicals is less effective because it causes side effects that have a large enough impact, so an alternative technique is used that is to use Arbuscular Mycorrhizal Fungi (FMA) thus, research on the administration of Arbuscular Mycorrhoid Fungi Inoculum is thus carried out. (FMA) Mixture of Sclerotium Stem Rot Rotation in Capsicum frutescens and Capsicum annuum. The purpose of this study was to determine the effect of mixed FMA inoculums in suppressing the intensity of sclerotium stem rot rot disease in cayenne pepper (Capsicum frutescens) and red chili peppers (Capsicum annuum) and to determine the optimal dose of mixed AMF in suppressing the intensity of sclerotium stem rot rot on cayenne plants (Capsicum frutescens) and red chili plants (Capsicum annuum). This study used a Completely Randomized Design (CRD) with different doses of mixed AMF inoculums (0, 10, 15, 20, 25 g FMA with zeolite / plant carrier medium). The results of this study indicate that the treatment of mixed AMF inoculums on the intensity of sclerotium stem rot disease in cayenne and red chili plants can reduce the intensity of Sclerotium stem rot disease by 22% and in red chili plants by 11%.
2372526875I1D015041PENGARUH PUASA RAMADHAN TERHADAP PERUBAHAN DISTRIBUSI LEMAK ABDOMINAL PADA MAHASISWA DENGAN STATUS GIZI LEBIH DI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Abstrak

PENGARUH PUASA RAMADHAN TERHADAP PERUBAHAN DISTRIBUSI LEMAK ABDOMINAL PADA MAHASISWA DENGAN STATUS GIZI LEBIH DI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Rosswandari Mangestika W1, Saryono2, Dika Betaditya2


1Mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi Universitas Jenderal Soedirman
2DosenProgram Studi Ilmu Gizi Universitas Jenderal Soedirman

Program Studi Ilmu Gizi Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakkultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman
Jl. Dr. Soeparno Karangwangkal Purwokerto 53123


Latar Belakang: Penumpukan lemak berlebih pada abdomen disebut obesitas sentral. Timbunan lemak tidak akan terjadi apabila ada keseimbangan asupan dan aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh puasa terhadap perubahan distribusi lemak abdomen pada subjek dengan status gizi lebih, karena ketika puasa terjadi perubahan asupan dan aktivitas fisik.

Metode: Penelitian eksperimental ini menggunakan rancangan one group pre post test design. Subjek dalam penelitian ini merupakan mahasiswa dengan gizi lebih berjumlah 56 orang. Pengambilan data dilakukan dua kali yaitu sebelum dan minggu ke tiga puasa Ramadhan. Instrumen yang digunakan yaitu body tape measurement, skinfold caliper, kuesioner SQ-FFQ dan IPAC. Data asupan lemak, aktivitas fisik, dan tebal lemak abdomen dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon. Data lingkar perut, rasio lingkar pinggang dan panggul (RLPP), dan tebal lemak suprailiac dianalisis mengunakan Uji T berpasangan.

Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan yang signifikan pada asupan lemak, aktivitas fisik, lingkar perut, RLPP, dan tebal lemak suprailiac sebelum dan sesudah puasa Ramadhan dengan nilai p<0,05. Tebal lemak bagian abdomen tidak mengalami perubahan yang ditunjukkan dengan nilai p sebesar 0,378 (p>0,05).

Kesimpulan: Puasa Ramadhan dapat mempengaruhi asupan lemak, aktivitas fisik dan distribusi lemak pada bagian abdomen.

Kata Kunci: Puasa Ramadhan, Asupan lemak, Aktivitas fisik, Abdomen
Abstract

THE EFFECT OF RAMADAN FASTING ON THE ABDOMINAL FAT DISTRIBUTION IN OVERWEIGHT AND OBESE STUDENT OF JENDERAL SOEDIRMAN UNIVERSITY


Rosswandari Mangestika W, Saryono, Dika Betaditya


1Mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi Universitas Jenderal Soedirman
2DosenProgram Studi Ilmu Gizi Universitas Jenderal Soedirman

Program Studi Ilmu Gizi Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakkultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman
Jl. Dr. Soeparno Karangwangkal Purwokerto 53123



Introduction: The accumulation of excess fat in the abdomen is called central obesity. Excessive fat deposits is not going to happen if there is a balance of food intake and physical activity. This study aims to look at the effect of fasting to changes in abdominal fat distribution in overweight and obese subjects, because during fasting changes in intake and physical activity.

Methods: This experimental study used a one group pre post test design. Subjects in this study were 56 students with overweight and obese. Data collection was carried out twice before and third week of Ramadan fasting. The instruments used body tape measurement, skinfold caliper, SQ-FFQ and IPAC questionnaire. Data of fat intake, physical activity, and abdominal fat thickness were analyzed using Wilcoxon Test. While data on waist circumference, waist and hip circumference ratio (WHCR), and suprailiac fat thickness were analyzed using the paired T-test.

Result: The results showed that a significant decrease in fat intake, physical activity, waist circumference, waist and hip circumference ratio (WHCR), and suprailiac fat thickness before and after Ramadan fasting with p value <0,05. Abdominal fat thickness has not changes as indicated by p value 0,378 (p>0,05).

Conclusion: Ramadan fasting can affect to fat intake, physical activity, abdominal fat distribution.

Keywords: Ramadan Fasting, Fat Intake, Physical Activity, Abdomen
2372626876B1J014145PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI BAHAN TAMBAHAN TERHADAP PERTUMBUHAN MISELIUM JAMURPAHA AYAM (Coprinus comatus)Coprinus comatus merupakan salah satu jamur pangan yang potensial untuk dibudidayakan secara komersial. Jamur C. comatus termasuk ke dalam jamur edible dan medicinal. Tubuh buah C. comatus mengandung antioksidan dan beberapa asam amino esensial. Jamur C. comatus tumbuh optimal pada medium yang mengandung suplemen. penambahan suplemen pada medium tanam jamur bertujuan untuk memberikan nutrisi yang dibutuhkan jamur. Suplemen ditambahkan dengan jumlah tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi jenis suplemen dan konsentrasi suplemen yang optimal untuk pertumbuhan jamur C. comatus.
Penelitian ini dilaksanakan di C.V. Asa Agro Corporation, Cianjur pada bulan Desember 2018 hingga Maret 2019. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola Faktorial dengan dua faktor uji yaitu jenis dan konsentrasi suplemen. Suplemen yang digunakan yaitu dedak padi (bekatul), dedak jagung (ampok), dedak gandum (polar), dan tepung gandum. Konsentrasi suplemen yang digunakan yaitu 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%.
Hasil yang didapat dari penelitian ini yaitu penambahan suplemen dengan konsentrasi berbeda berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan miselium jamur C. comatus. Suplemen yang baik untuk menumbuhkan jamur C. comatus adalah ampok jagung dan dedak padi. Konsentrasi yang optimal untuk pertumbuhan miselium jamur C. comatus adalah dedak jagung dengan konsentrasi 5% dan dedak padi dengan konsentrasi 15%.
Coprinus comatus is one of the potential edible mushrooms for commercial cultivation. C. comatus is a group of edible and medicinal mushrooms. The body of C. comatus contains antioxidants and several essential amino acids. C. comatus mushrooms grow optimally on medium with supplements. The addition of supplements into the medium aims to provide the nutrients that mushrooms need. Supplements are added in certain amounts. This study aims to determine the optimal combination of supplement types and supplement concentrations for C. comatus growth.
This research was conducted at C.V. Asa Agro Corporation, Cianjur in December 2018 to March 2019. The research was conducted with an experimental method using a completely randomized design factorial pattern with two test factors namely the type and dosage of supplements. Supplements used are rice bran (bran), hominy (ampok), wheat bran (polar), and whole wheat flour. The supplementary concentration used are 0%, 5%, 10%, 15%, and 20%.
The results obtained from this study are the addition of supplements with different doses significantly affect the micelial growth of C. comatus. A good supplement for growing C. comatus is hominy and rice bran. The optimal concentration for the growth of C. comatus mycelium is hominy with a concentration of 5% and rice bran with a concentration of 15%.
2372726871B1A015118DAYA SERAP KARBONDIOKSIDA PADA BUAH-BUAHAN DI BOTANIA GARDEN (BOGAR) KARANGCENGIS BUKATEJA PURBALINGGAPemanasan global adalah peristiwa yang terjadi pada bumi karena peningkatan suhu rata – rata atmosfer. Peningkatan suhu tersebut disebabkan oleh meningkatnya emisi gas rumah kaca di atmosfer sebagai dampak dari meningkatnya aktifitas manusia yang banyak menyumbangkan emisi gas rumah kaca seperti dari kegiatan industri, pembakaran hutan, dan transportasi. Gas yang dominan menyusun gas rumah kaca di atmosfer bumi adalah karbondioksida (CO2), karbon monoksida (CO), metana (CH4), nitrogen monoksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC5), perfluorokarbon (PFC5), dan sulfur heksafluorida (SF6). Karbondioksida merupakan gas rumah kaca yang dominan di atmosfer bumi. Guna menekan terjadinya pemanasan global maka diperlukan upaya untuk menyerap karbondioksida baik mlalui pengembangan hutan maupun perkebunan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui jumlah karbondioksida yang dapat diserap oleh pohon buah – buahan yang ada pada perkebunan buah-buahan di Botania Garden Karangcengis dan mengetahui jenis tanaman buah di Kebun Buah Botania Garden Karangcengis yang memiliki daya serap paling tinggi terhadap CO2. Penelitian akan menggunakan metode survey dengan teknik pengambilan sampel menggunakan petak kuadrat 10 m x 10 m. Spesies tanaman buah-buahan yang digunakan pada penelitian ini adalah jeruk (Citrus sp.), belimbing (Averrhoa carambola), jambu citra (Syzygium aqueum), dan jambu kristal (Psidium guajava). Parameter yang diamati yaitu jumlah daun per pohon, luas daun, massa karbohidrat dan kerapatan pohon. Data hasil penelitian akan dianalisis menggunakan analisis varian (ANOVA) dan jika hasil signifikan yang didapat menunjukkan perbedaan yang nyata maka dilakukan uji lanjut dengan metode BNT (Beda Nyata Terkecil) dengan tingkat kesalahan 5%.Global warming is an event that occurs on the earth due to an increase in the average temperature of the atmosphere. The increase in temperature is caused by increasing greenhouse gas emissions in the atmosphere as a result of increasing human activities that contribute a lot of greenhouse gas emissions such as from industrial activities, forest fires, and transportation. The dominant gas composing greenhouse gases in the Earth's atmosphere is carbon dioxide (CO2), carbon monoxide (CO), methane (CH4), nitrogen monoxide (N2O), hydrofluorocarbons (HFC5), perfluorocarbons (PFC5), and sulfur hexafluoride (SF6). Carbon dioxide is the dominant greenhouse gas in the Earth's atmosphere. In order to reduce global warming, efforts are needed to absorb carbon dioxide through the development of forests and plantations. The purpose of the study was to determine the amount of carbon dioxide that can be absorbed by fruit trees in fruit plantations in Karangcengis Botania Garden and find out the types of fruit plants in the Botcengis Botania Garden Fruit Garden which has the highest absorption capacity of CO2. The research will use a survey method with sampling techniques using a 10 m x 10 m squared plot. Fruit species used in this study were oranges (Citrus sp.), Starfruit (Averrhoa carambola), guava image (Syzygium aqueum), and crystal guava (Psidium guajava). The parameters observed were the number of leaves per tree, leaf area, carbohydrate mass and tree density. The results of the research data will be analyzed using variance analysis (ANOVA) and if significant results obtained show significant differences then further testing is done with the BNT method (Smallest Real Difference) with an error rate of 5%.
2372826896G1F012035HUBUNGAN PENGETAHUAN, PAPARAN PROMOSI
DAN PEMANFAATAN APOTEK DENGAN PERILAKU SWAMEDIKASI NYERI CEDERA PADA MAHASISWA PJKR UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO
Latar Belakang: Mahasiswa Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) merupakan mahasiswa yang rutin melakukan olahraga, yang dengan aktivitas tersebut rentan mengalami nyeri cedera. Salah satu cara untuk menangani nyeri cedera tersebut yaitu dengan melakukan swamedikasi. Pengetahuan, paparan promosi dan pemanfaatan apotek dapat mempengaruhi perilaku swamedikasi nyeri cedera.

Tujuan: Mengetahui hubungan pengetahuan, paparan promosi dan pemanfaatan apotek dengan perilaku swamedikasi nyeri cedera mahasiswa PJKR Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

Metodologi: Rancangan penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan pendekatan deskriptif korelatif yang menggunakan teknik stratified random sampling. Jumlah responden 115 mahasiswa PJKR angkatan tahun 2015, 2016, 2017, 2018. Analisis data menggunakan Product Moment dan Spearman.

Hasil: Hasil menunjukkan 66% responden memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi, 66.1% responden terpapar promosi dari internet, 98.3% responden menggunakan apotek sebagai sarana swamedikasi, dan 56% responden berperilaku baik dalam melakukan swamedikasi nyeri cedera. Hasil analisis bivariat menunjukkan yang berhubungan dengan perilaku swamediksi nyeri cedera adalah pengetahuan (p=0.000) dan pemanfaatan apotek (p=0.000). Tidak terdapat hubungan antara paparan promosi dengan perilaku swamedikasi nyeri cedera mahasiswa PJKR (p= 0.073).

Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pengetahuan, pemanfaatan apotek dengan perilaku sewamedikasi nyeri cedera pada mahasiswa PJKR. Tidak terdapat hubungan antara paparan promosi dengan perilaku swamedikasi nyeri cedera pada mahasiswa PJKR

Kata Kunci: swamedikasi nyeri cedera, pengetahuan, perilaku, paparan promosi, pemanfaatan apotek.
Background: Physical Education and Recreational Education (PJKR) students are students who routinely do sports, with these activities vulnerable to get pain. One way to deal with the pain of injury is by doing self medication injury. Knowledge, exposure to promotion and utilization of pharmacies can influence self-medication injury behavior.

Objective: To determine the relationship of knowledge, exposure to promotion and use of pharmacies with pain behavioral self-medication Physical Education and Recreational Education (PJKR) students of Jenderal Soedirman University, Purwokerto.

Methods: The design of this study used a cross sectional method with a correlative descriptive approach using stratified random sampling techniques. The number of respondents is 115 Physical and Recreational Education (PJKR) students class of 2015, 2016, 2017, and 2018. The data analysis use Product Moment and Spearman.

Results: The results showed 66% of respondents had a high level of knowledge, 66.1% of respondents were exposed by promotions from the internet, 98.3% of respondents used pharmacies as a means of self-medication injury, and 56% of respondents behaved well in self-medication injury. The results of the bivariate analysis showed that related to the behavior of pain injury predictions are knowledge (p = 0,000) and pharmacy utilization (p = 0,000). There was no relationship between promotional exposure with self-medication behavioral of Physical and Recreational Education (PJKR) students (p = 0.073).

Conclusion: There is a relationship between knowledge, utilization of pharmacies with behavioral injury medicated pain in Physical and Recreation Education (PJKR) students. There is no relationship between promotional exposure with self-medication injury behavior in Physical and Recreation Education (PJKR) students

Keywords: self medication injury, knowledge, behavior, promotion exposure, pharmacy utilization.
2372928803F1B015040Implementasi Program Penyediaan Air Minum Dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) Di Desa Kedungrandu Kecamatan Patikraja Kabupaten BanyumasPenelitian ini berjudul Implementasi Program Penyediaan Air Dan
Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) Di Desa Kedungrandu Kecamatan
Patikraja Kabupaten Banyumas. Secara umum permasalahan pertama pada
Program Pamsimas di Desa Kedungrandu ialah pada proses pelaksanaannya
mengalami hambatan yang berakibat ketidakberlanjutan program. Penelitian
ini menggunakan teori Ripley dan Franklin dengan aspek Whats Happening.
Penelitian ini menunjukan bahwa Implementasi Program Pamsimas tidak
berjalan dengan baik/terhenti, pada perspekstif what’s happening yang dapat
menentukan faktor apa yang menjadi kegagalan Program Pamsimas yaitu,
ketidaksiagapan pengurus dalam mengatasi mesin rusak, sehingga
mengakibatkan terbengkalainya sarana program, laporan kegiatan tidak
terdokumentasi dengan rapi, kurangnya pengawasan yang ketat bagi
masyarakat yang mencuri saluran air serta tidak ada upah tambahan buat
petugas dikarenakan pengeluaran lebih banyak daripada pemasukan.
This study is entitled Implementation of Community Based Water
Supply and Sanitation Program (Pamsimas) in Kedungrandu Village,
Patikraja District, Banyumas Regency. In general, the first problem with the
Pamsimas Program in Kedungrandu Village was that the implementation
process experienced obstacles which resulted in program sustainability. This
research uses Ripley and Franklin's theory with Whats Happening aspect.
This research shows that the implementation of the Pamsimas Program is
not going well / stalled, in what perspective is happening that can determine
what factors are failures of the Pamsimas Program namely, the lack of
preparedness of the management in overcoming damaged machines,
resulting in the neglect of program facilities, activity reports are not neatly
documented, lack of strict supervision for people who steal waterways and
no additional wages for officers due to spending more than income.
2373025908D1A015182HUBUNGAN JUMLAH ANGGOTA DAN LAMA TERBENTUKNYA KELOMPOK DENGAN PERAN KELOMPOK PETERNAK SAPI PERAH DI KECAMATAN PEKUNCEN KABUPATEN BANYUMASMayoritas peternak sapi perah di Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas tergabung dalam kelompok peternak. Kelompok peternak memiliki peran yang penting yaitu menjalankan fungs tugas kelompok sebagai wadah belajar, wadah kerjasama, dan unit produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan jumlah anggota dan lama terbentuknya kelompok dengan peran kelompok. Penelitian dilaksanakan dengan metode survey. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan rank spearmen. Penetapan sampel wilayah ditentukan dengan metode purposive sampling yaitu Kecamatan Pekuncen dengan pertimbangan kecamatan tersebut terdapat banyak kelompok peternak sapi perah. Pengambilan sampel kelompok dilakukan secara random sampling yaitu sebanyak 50%. Pemilihan responden dilakukan secara sensus pada semua anggota kelompok terpilih. Hasil penelitian menunjukan mayoritas jumlah anggota kelompok peternak berjumlah <16 anggota. Mayoritas lama terbentuknya kelompok peternak sapi perah terbentuk <16 tahun. Peran kelompok peternak sapi perah sebagai wadah belajar, wadah kerjasama, dan unit produksi cukup baik. Hubungan jumlah anggota (0,348) dan lama terbentuknya kelompok (0,307) dengan peran kelompok sebagai wadah belajar memiliki korelasi lemah. Hubungan jumlah anggota (0,386) dan lama terbentuknya kelompok (0,291) dengan peran kelompok sebagai wadah kerjasama memiliki korelasi lemah. Hubungan jumlah anggota (0,211) dan peran kelompok sebagai unit produksi memiliki korelasi lemah. Hubungan lama terbentuknya kelompok (0,192) dan peran kelompok sebagai unit produksi memiliki korelasi tidak nyata.The majority of dairy farmers in Pekuncen, Banyumas are members of farmers group. Farmer groups have an important role, that is, carrying out the functions of group assignments as a learning container, cooperation forum, and production unit. This research aims to analyze the correlation between number of members and the duration of group formation with the role of the dairy farmers group in Pekuncen, Banyumas. The research was conducted by survey method. The data obtained were analyzed using descriptive analysis and rank spearmen. The determination of the sample area is determined by the purposive sampling method, which is the Pekuncen with the consideration of the district that there are many of dairy farmers groups. Group sampling is done by random sampling, which is as much as 50%. The selection of respondents was carried out by census of all members of the selected group. The results showed the majority number of members group <16 members. The majority of the duration of group formation formed <16 years. The role of the dairy farmers group as a forum for learning, a forum for cooperation, and a production unit is quite good. The correlation between the number of members (0.348) and the duration of group formation (0.307) with the group's role as a learning container has a weak correlation. The correlation between the number of members (0.386) and the duration of group formation (0.291) with the group's role as a forum for cooperation has a weak correlation. The correlation of the number of members (0,211) and the role of groups as production units has a weak correlation. The old relationship of group formation (0.192) and the role of the group as a unit of production have no real correlation.
2373126877J1B015033TOPONIMI DALAM OBJEK WISATA ALAM DI KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini berjudul "Toponimi dalam Objek Wisata Alam di Kabupaten Banyumas". Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk, makna dan latar belakang penamaan yang terdapat pada nama-nama tempat wisata alam di Kabupaten Banyumas. Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data pada penelitian ini adalah seluruh nama tempat wisata alam yang terdaftar di Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata, Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode cakap dan simak. Metode cakap diwujudkan dalam teknik dasar yaitu teknik pancing, sedangkan teknik lanjutannya adalah teknik cakap bertemu muka dan cakap tak bertemu muka. Pada metode simak diwujudkan dengan teknik dasar teknik sadap, sedangkan teknik lanjutannya yaitu teknik simak libat cakap. Penerapan dari kedua metode tersebut disertai dengan teknik rekam dan teknik catat. Analisis data yang dilakukan dengan menggunakan metode padan, yaitu padan intralingual dan ekstralingual. Metode padan diwujudkan dengan teknik dasar dan teknik lanjutan. Teknik dasarnya adalah teknik pilah unsur penentu, sedangkan teknik lanjutannya adalah teknik hubung banding menyamakan hal pokok. Penyajian hasil analisis data pada penelitian ini menggunakan metode penyajian formal dan informal.
Hasil penelitian di lapangan data diperoleh sebanyak 26 (dua puluh enam) nama tempat wisata alam di Kabupaten Banyumas. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, bentuk toponimi pada tempat wisata alam di Banyumas terdapat tiga bentuk toponimi yaitu 1 frasa endosentrik koordinatif, 23 frasa endosentrik atributif, dan 2 kata majemuk. Kedua, makna pada toponimi tempat wisata alam di Kabupaten Banyumas meliputi makna referensial dan kontekstual yang diperoleh berdasarkan pendapat atau keterangan informan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui 18 makna referensial dan 9 makna kontekstual. Ketiga, terdapat dua jenis penamaan yang digunakan pada toponimi tempat wisata alam di Kabupaten Banyumas yaitu 26 penyebutan sifat khas dan 1 penemu dan pembuat. Keempat, terdapat penggunaan aspek topinimi yaitu 18 menggunakan aspek fisik dan 8 menggunakan aspek sosial. Kelima, terdapatnya 10 penggunaan unsur generik (umum), dan 24 menggunakan unsur spesifik (khusus).
This research is entitled "Toponimi dalam Objek Wisata Alam di Kabupaten Banyumas". This study aims to describe the form, meaning and background of the naming contained in the names of natural tourist attractions in Banyumas Regency. The form of this research is qualitative descriptive. The data sources in this study are all names of natural tourist attractions registered at the Department of Youth, Sports, Culture and Tourism, Banyumas Regency. The method used to collect data is the proficient method and see. Capable method is manifested in basic techniques, namely fishing techniques, while the advanced technique is the technique capable of meeting face to face and capable of not meeting face to face. The referral method is realized by the basic technique of tapping technique, while the follow-up technique is skillful listening. The application of the two methods is accompanied by recording and recording techniques. Data analysis is carried out using the equivalent method, which is intralingual and extralingual. The matching method is realized by basic techniques and advanced techniques. The basic technique is the sorting technique of the determining element, while the advanced technique is the comparative connection technique that equates the main thing. Presentation of the results of data analysis in this study using formal and informal presentation methods.
The results of the research in the data field were obtained as many as 26 (twenty six) names of natural tourist attractions in Banyumas Regency. Based on the results of the data analysis carried out several things can be concluded. First, the form of toponymy in natural tourist attractions in Banyumas consists of three toponymy forms, namely 1 coordinative endocentric phrases, 23 attributive endocentric phrases, and 2 compound words. Second, the meaning of the toponymy of natural tourist attractions in Banyumas Regency includes referential and contextual meanings obtained based on the opinions or information of the informant. Based on the results of the study it was found that 18 referential meanings and 9 contextual meanings. Third, there are two types of naming used in the toponymy of natural tourist attractions in Banyumas Regency, namely 26 mention of distinctive characteristics and 1 inventor and maker. Fourth, there is the use of topimi aspects, namely 18 using physical aspects and 8 using social aspects. Fifth, there are 10 common elements and 24 spesific elements.
2373226878G1B012002HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP
PENGGUNAAN LAPTOP PADA MAHASISWA
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN++++++++++
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP PENGGUNAAN LAPTOP PADA MAHASISWA JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
Tri haryani(1), Nur Ulfah(2), Siti Harwanti(3)
(1)Mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman
(2,3)Dosen Peminatan K3 Jurusan Kesehatan Masyaakat Universitas Jenderal Soedirman
Latar Belakang: Banyak mahasiswa menggunakan laptop tanpa mempunyai pengetahuan yang baik mengenai cara penggunaan laptop terutama terkait dengan aspek ergonominya. Dampak sikap penggunaan laptop yang tidak baik bagi penggunanya adalah gangguan kesehatan pada pengguna itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan sikap penggunaan laptop pada mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik kuantitatif secara crossectional. Populasi berjumlah 465 mahasiswa dengan sampel 85 yang dipilih secara Proportional Random Sampling. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat (Chi square).
Hasil : Hasil penelitian menyatakan responden memiliki pengetahuan baik 55,3 %, dan 52,9% sikap tidak mendukung dalam penggunaan laptop. Hasil uji bivariat menyatakan mahasiwa memiliki pengetahuan buruk dengan sikap tidak mendukung (76,3%) lebih besar dibandingan dengan mahasiswa yang pengetahuan baik dengan sikap mendukung (66%). Uji chi square menunjukan p-value 0,000 (<0,05).
Simpulan: Ada hubungan antara pengetahuan dengan sikap penggunaan laptop pada mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman
Saran : Diadakan penyuluhan secara langsung kepada mahasiswa tentang penggunaan laptop yang benar untuk memberikan pengetahuan dan kesadaran akan sikap mahasiswa dalam menggunaan laptop
ABSTRACT
Background: Many students use laptops without having good knowledge about how to use laptops related to ergonomic aspects, The impact of the attitude of using a laptop that is not good for its users is a health disorder on the user himself. The purpose of this research is to know the correlation between knowledge and attitude to use laptop in students of Public Health, Jenderal Soedirman University
Methods: This study uses a quantitative analytic cross-sectional design.The population of 465 students with a sample of 85 respondents selected by Proportional Random Sampling. Data were collected by interview using a questionnaire. Data analysis was carried out in stages including univariate analysis and bivariate (Chi square).
Results: The results of the study stated that respondents had 55.3% bad knowledge about laptops, and 52.9% of attitudes did not support the use of laptops. Bivariate test results stated that students have bad knowledge with an attitude of non-support (76,3%) is greater than students who have good knowledge with a supportive attitude (66%). Chi square test showed a p-value of 0.000 (<0.05).
Conclusion: There is a correlation between knowledge and attitute in the students of Majoring Public Health, Jenderal Soedirman University.
Suggestion: Direct counseling was held to students about the correct use of laptops to provide knowledge and awareness of student attitudes in using laptop.
2373326879B1A015090PREVALENSI MONYET EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) YANG TERINFEKSI NEMATODA PARASIT USUS DI DESA CIKAKAK KABUPATEN BANYUMASCikakak merupakan salah satu desa dari 12 desa yang ada di wilayah Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas. Desa Cikakak menjadi tempat wisata karena adanya Masjid Saka Tunggal dan terdapat populasi monyet yang jumlahnya cukup banyak. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) merupakan jenis primata dengan tingkat adaptasi yang tinggi pada berbagai habitat. Spesies ini termasuk jenis primata sosial yang dalam kehidupannya tidak pernah terlepas dari interaksi sosial atau hidup bersama dengan individu lain. Primata ini dapat berpotensi sebagai sumber infeksi parasit yang bersifat penyakit zoonosis salah satunya nematoda parasit usus.Infeksi nematoda parasit usus yang terdapat pada hospes dapat terjadi melalui kontaminasi telur infektif pada makanan. Tinja sebagai sumber utama infeksi parasit dalam tergolong dalam infeksi Soil Transmitted Helminths (STH).Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jenis nematoda parasit usus dan prevalensi monyet ekor panjang yang terinfeksi. Rancangan percobaan yang digunakan adalah metode survey dengan teknik pengambilan sampel secara eksidental sampling. Pengambilan sampel dilakukan dengan 3 kali ulangan dengan interval waktu 2 minggu. Variabel penelitian ini adalah prevalensi infeksi nematoda parasit dan parameternya adalah jumlah feses yang positif mengandung telur nematoda parasit dan jenis nematoda yang menginfeksi.Data dianalisissecara deskriptif dari hasil identifikasi jenis parasit dan perhitungan prevalensi jenis telur. Hasil penelitian didapatkan prevalensi monyet ekor panjang dikategorikan sebagai infeksi biasa dan terdapat 5 spesies yang ditemukan yaitu Strongyloides sp.,Ascaris sp.,Trichuris sp.,Ancylostomasp., dan Oesophagostomum sp.Cikakak is one of 12 villages in Wangon Subdistrict, Banyumas Regency. Cikakak Village became a tourist spot due to the existence of the Saka Tunggal Mosque and was home to quite a lot of monkeys. Long-tailed monkey (Macaca fascicularis) is a type of primate with a high level of adaptation in various habitats. This species belongs to the type of social primate in his life. Never separated from social interaction or living together with other individuals. This primate can be denied as a source of parasitic infection which is a zoonotic disease, one of which is intestinal parasitic nematodes. Intestinal parasitic nematode infections in the host can occur through contamination of infective eggs in food. Feces as the main source of deep parasitic infections are classified as Soil Transmitted Helminths (STH) infections. The purpose of this study was to study the types of intestinal parasitic nematodes and the prevalence of protected long-tailed monkeys. The experimental design used was a survey method with sampling techniques using an incidental sample. Sampling was carried out with 3 replications at intervals of 2 weeks. The variables of this study are nematode parasitic infections and the parameters are the number of positive feces containing parasitic nematode eggs and the type of infecting nematodes. Data were analyzed descriptively from the results of parasite type testing and calculation of egg type prevalence. The results showed that the prevalence of long-tailed monkeys was categorized as an ordinary infection and there were 5 species found, namely Strongyloides sp., Ascaris sp., Trichuris sp., Ancylostoma sp., And Oesophagostomum sp.
2373426880B1J014125PENGGUNAAN BEBERAPA JENIS SUPLEMEN DENGAN KONSENTRASI BERBEDA PADA PERTUMBUHAN JAMUR TIRAM PUTIH (Hipsizygus ulmarius) Hipsizygus ulmarius termasuk salah satu jenis jamur tiram yang sudah dibudidayakan. Keberhasilan budidaya jamur H. ulmarius ditentukan antara lain oleh medium tanam yang digunakan. Penambahan suplemen biasa digunakan untuk menambah nutrisi medium tanam dan mempercepat pertumbuhan jamur H. ulmarius. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui interaksi antara jenis medium tanam dan jenis suplemen yang baik dalam produksi jamur H. ulmarius. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas empat jenis suplemen yaitu DP : dedak padi; DJ : dedak jagung; PL : polar; TG : tepung gandum dengan lima kosentrasi yang berdeda yaitu 0%; 5%; 10%; 15%; dan 20%. Masing-masig perlakuan diulang 4 kali, sehingga terdapat 80 unit percobaan. Variabel bebas yaitu jenis suplemen dan kosentrasi. Variabel terikat yaitu pertumbuhan jamur tiram putih. Parameter utama yaitu berat basah tubuh buah. Parameter pendukung yaitu kecepatan pertumbuhan miselium, kepadatan miselium, kemunculan tubuh buah I (pertama kali), pH medium tanam, dan rasio C/N medium tanam. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analisis ragam (ANOVA) danhasilnya beda nyata antar perlakuan, maka dilakukan uji Duncan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa kombinasi jenis dan konsentrasi berpengaruh terhadap bobot basah tubuh buah jamur tiram putih H. ulmarius. Hasil berpengaruh signifikan (P<0,05), jenis suplemen dedak padi (DP) dengan konsentrasi 20% menunjukan hasil terbaik yaitu 31.846,25 gram dengan miselium yang padat, pH medium 6,8 dan rasio C/N adalah 72,31%Hipsizygus ulmarius is one type of oyster mushroom that has been cultivated. The success of H. ulmarius cultivation is determined among others by the planting medium used. The addition of other ingredients or supplements is commonly used to add nutrients to the growing medium and accelerate the growth of H. ulmarius. The purpose of this research was to determine the interaction between the types of planting medium and the types of supplements that were good in the production of H. ulmarius. The research method used a Completely Randomized Design (CRD) with four types of supplements, named DP: rice bran; DJ: corn bran; PL: polar; TG: Wheat flour. Each supplement has five different concentrations of 0%; 5%; 10%; 15%; and 20%. Each treatment was repeated 4 times, so that there were 80 experimental units. The independent variables were supplement type and concentration. The dependent variable is the growth of H. ulmarius. The main parameter is the fruit body's wet weight. Supporting parameters were the mycelium growth rate, mycelium density, the initial growth of the fruit body, the pH of the planting medium, the C / N ratio of the planting medium. The data obtained were analyzed used Analysis of Variance (ANOVA) and the results were significantly different between treatments, then the Duncan test was carried out at 5% level. The results showed that the combination of species and concentration affected the wet weight of the H. ulmarius. The results had a significant effect (P <0.05), the type of rice bran supplement (DP) with a concentration of 20% showed the best results of 31.846,25 grams with solid mycelium, medium pH 6.8 and C / N ratio was 72.31%.
2373526805I1D015004GAMBARAN SISA MAKANAN SEBELUM DAN SETELAH DIBERIKAN EDUKASI GIZI PADA PASIEN RUANG RAWAT INAPLatar Belakang : Persentase sisa makanan menggambarkan daya terima pasien terhadap makanan yang disajikan oleh rumah sakit. Apabila sisa makanan terjadi secara terus-menerus dapat memperlambat proses penyebuhan. Penatalaksanaan asuhan gizi salah satunya yaitu edukasi gizi penting dilakukan pada pasien untuk meningkatkan pengetahuan. Motivasi yang diberikan ahli gizi pada pasien menunjukkan bahwa asupan dan tingkat kecukupan energi yang meningkat, sehingga dapat menurunkan sisa makanan. Penelitian dilakukan pada pasien ruang rawat inap untuk mengetahui gambaran perubahan sisa makanan sebelum dan setelah diberikan edukasi gizi, penelitian dilaksanakan di ruang rawat inap kelas I, II, dan III di RSUD Majalengka.
Metode : Desain penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan uji deskriptif. Sampel yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah sebesar 54 responden. Instrumen penelitian menggunakan formulir sisa makanan comstock.
Hasil : Hasil penelitian menggambarkan bahwa sisa makanan pada makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur dan buah mengalami penurunan setelah diberikan edukasi gizi.
Kesimpulan : Pemberian edukasi gizi oleh ahli gizi pada pasien rawat inap dapat menurunkan sisa makanan.

Background: The percentage of food waste reflects the patient's acceptability of the food served by the hospital. If food waste occurs continuously it can slow down the healing process. One of the nutrition care management methods is nutrition education that is important for patients to increase their knowledge. The motivation given by nutritionists to patients shows that the intake and level of energy sufficiency increases so that it will reduce food waste. The study was conducted on inpatient patients to find a picture of changes in food waste before and after nutrition education was given, the research was carried out in inpatient rooms class I, II, and III in Majalengka Hospital.
Method: The design of this study uses descriptive analysis with descriptive testing. The sample involved in this study was 54 respondents. The research instrument used comstock food waste forms.
Results: The results of the study illustrate that food waste in staple foods, animal side dishes, plant-based side dishes, vegetables and fruit has decreased after nutrition education was given.
Conclusion: Provision of nutrition education by nutritionists to inpatients can reduce food waste.
2373626882B1J013210Studi Karakter Morfometrik, Meristik dan Truss Morphometrics Ikan Montok (Pennahia macrocephalus, Tang, 1937)Ikan montok (Pennahia macrocephalus) memiliki nilai ekonomis yang penting dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Saat ini permintaan pasar yang tinggi hanya mengandalkan hasil tangkapan nelayan saja tanpa adanya pengelolaan untuk masa mendatang, sehingga dikhawatirkan populasi ikan montok akan menurun. Pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi turunnya populasi ikan montok yaitu dengan cara konservasi. Upaya konservasi memerlukan data-data ilmiah berupa informasi taksonomik yang dapat digunakan sebagai pembeda antara ikan jantan dan betina. Informasi tersebut berupa karakter morfologi yang meliputi truss morphometrics, morfometrik standar dan meristik. Penelitian tentang ikan montok masih jarang dilakukan di Indonesia. Hal ini yang mendasari dilakukannya penelitian ikan montok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendapatkan karakter morfologi, morfometrik standar, truss morphometrics, dan meristik yang dapat digunakan untuk membedakan antara ikan montok jantan dan betina.
Metode penelitian menggunakan teknik survey dan pengambilan sampel dengan teknik Purposive Random Sampling. Sampel ikan montok diperoleh dari TPI Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC) sebanyak 60 ekor, dengan dua kali ulangan. Variabel yang diamati pada penelitian ini yaitu karakter morfologi, morfometrik standar, meristik, dan truss morphometrics. Parameter yang diukur yaitu perbandingan rasio antara jarak truss dengan panjang standar. Karakter morfologi yang diamati yaitu bentuk tubuh, bentuk dan posisi mulut, bentuk sirip caudal, dan tipe sisik. Karakter morfometrik standar yang diukur Pre Orbital Length, Eye Diameter, Post Orbital Length, Head Length, First Pre-dorsal Length, First Dorsal Fin Base Length, Second Dorsal Fin Base Length, Pre-caudal Peduncle Base Length, Pre-caudal Peduncle Length, Total Length, Mouth Length, Pre-operculum Length, First Pre-pectoral Fin Length, First Pre-pelvic Fin Length, Second Pre-pectoral Fin Length, Second Pre-pelvic Fin Length, First Pre-anal Fin Length, Second Pre-anal Fin Length, Second Pre-dorsal Length, Pectoral Fin Length, Pectoral Fin Base Length, Pelvic Fin Base Length, Anal Fin Base Length, Pelvic Fin Length. Karakter meristik yang dihitung yaitu jumlah sisik garis rusuk, jumlah sisik diatas garis rusuk, jumlah sisik dibawah garis rusuk, jumlah sisik yang mengelilingi batang ekor, jumlah jari-jari sirip pectoral, jumlah jari-jari sirip ventral, jumlah jari-jari keras sirip dorsal, jumlah jari-jari lemah sirip dorsal, jumlah jari-jari sirip anal, jumlah jari-jari sirip ekor. Karakter truss morphometrics yang diukur yaitu jarak truss yang sudah ditentukan sebanyak 14 titik. Data hasil pengamatan karakter morfologi dianalisis secara deskriptif, sedangkan pengukuran karakter morfometrik standar, meristik dan truss morphometrics dilakukan analisis statistik dengan uji t menggunakan SPSS Versi 16.0 antara ikan montok jantan dan betina..
Hasil penelitian menunjukkan karakter truss morphometrics dapat digunakan untuk membedakan antara ikan montok jantan dan ikan montok betina yaitu pada jarak pangkal depan sirip dorsal dengan ujung belakang sirip dorsal, jarak antara jarak ujung belakang sirip dorsal dengan ujung belakang sirip ventral, jarak antara ujung belakang sirip dorsal dengan batas badan dan ekor bagian ventral, jarak antara batas badan dan ekor bagian dorsal dengan batas badan dan ekor bagian ventral dan jarak antara batas badan dan ekor bagian dorsal dengan pelipatan ekor bagian ventral.
Montok fish (Pennahia macrocephalus) has an important economic value and widely consumed by the community. Nowdays, high market demand only relies on fishermen’s catch without any management, so that to be worried the population of montok fish will be descending. The prevention to reduce the descending of the population is a conservation. Conservation requires some scientifics data like taxonomic information that can apply sexual differences. Morphological characters, meristics, standard morphometrics, and truss morphometrics are the information. Researches about montok fish are rarely in Indonesia. This is what underlies the study of montok fish. This study aims to determine and obtain morphological characters, standard morphometrics, truss morphometrics, and meristics that can be used to distinguish between male and female montok fish.
The research method uses survey and sampling techniques with purposive random sampling techniques. Montok fish samples were obtained from the TPI of the Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC) of 60 fishes. The variables observed in this study were morphological characters, standard morphometrics, meristics, and truss morphometrics. The measured parameters are the ratio of the distance between the truss distance and the standard length. Morphological characters observed are body shape, mouth shape, caudal fin shape, and type of scales. Standard morphometric characters measured in Pre Orbital Length, Eye Diameter, Post Orbital Length, Head Length, First Pre-dorsal Length, First Dorsal Fin Base Length, Second Dorsal Fin Base Length, Pre-caudal Peduncle Base Length, Pre-caudal Peduncle Length, Total Length, Mouth Length, Pre-operculum Length, First Pre-pectoral Fin Length, First Pre-pelvic Fin Length, Second Pre-pectoral Fin Length, Second Pre-pelvic Fin Length, First Pre-anal Fin Length, Second Pre-anal Fin Length, Second Pre-dorsal Length, Pectoral Fin Length, Pectoral Fin Base Length, Pelvic Fin Base Length, Anal Fin Base Length, Pelvic Fin Length. The calculated meristics characters are the number of ribs scales, the number of scales above the ribs line, the number of scales under the ribs line, the number of scales surrounding the tail shaft, the number of pectoral fin fingers, the number of ventral fin fingers, the number of dorsal fin hard fingers, the number of fingers is weak in the dorsal fin, the number of fingers of the anal fin, the number of fingers of the tail fin. The character of the measured truss morphometrics is the distance of the truss that has been determined as many as 14 points. Data from observations of morphological characters are analyzed descriptively, while measurements of standard morphometric characters, meristics and truss morphometrics are carried out statistical analysis using t test from SPSS Version 16.0 between male and female montok fish.
The results showed truss morphometrics character can be used to distinguish between male montok fish and female montok fish which is at the front base of the dorsal fin with the back end of the dorsal fin, the distance between the back end of the dorsal fin and the rear end of the ventral fin, the distance between the back end of the dorsal fin with the ventral body and tail, the distance between the body boundary and the dorsal tail with the ventral body and tail boundary and the distance between the body boundary and the dorsal tail with the ventral tail folding.
2373726884J1D015011Pola Afiksasi Pembentuk Verba dan Nomina dalam Teks Laporan Hasil Observasi Karya Siswa Kelas X Jurusan Teknik Audio Video 1 SMK Negeri 2 PurwokertoPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola afiksasi pembentuk verba dan nomina serta makna gramatikal yang dihasilkannya dalam teks laporan hasil observasi karya siswa kelas X jurusan TAV 1 SMK N 2 Purwokerto. Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif . Penelitian ini menggunakan metode simak dalam pengumpulan datanya. Teknik yang digunakan adalah teknik sadap sebagai teknik dasar serta teknik simak bebas libat cakap dan teknik catat sebagai teknik lanjutannya. Data dianalisis menggunakan metode agih serta teknik baca markah sebagai teknik lanjutannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 62 kata berkelas verba dengan verba berprefiks me- yang paling banyak digunakan sebanyak 34 verba. Kemudian ditemukan 35 kata berkelas nomina, dengan nomina bersufiks -an yang paling banyak digunakan sebanyak 10 nomina. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa siswa dapat menggunakan verba dan nomina yang memiliki makna gramatikal dalam membuat teks laporan hasil observasi. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi guru dan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah.This research aims to describe the affixation patterns forming verbs and nouns as well as the grammatical meaning generated in the observation report text by the tenth grade student of Audio Video Engineering 1 at Purwokerto 2 State Vocational High School. The Form of this research is a descriptive qualitative. This research used the obsevational method in data collection. The technique used are tapping as a basic technique with non-participant observation technique and writing technique as the further one. Data was analyzed using distributional method and markig reading technique as an advance technique. The results of this research showed that there are 62 verbs class words with many of them using verbs with “me-“ prefix there are 34 verbs. Than there are 35 nouns class words with mostly using nouns with “-an” suffix there are 10 nouns. The results of this research also showed that student can use verbs and nouns having grammatical meaning in making observation report text. The result of this research can use as material reference for teacher and student in learning process at school.
2373828945B1A015009ESTIMASI STOK KARBON PADA CAGAR ALAM BANTARBOLANG PEMALANG JAWA TENGAHTotal jumlah materi hidup pada suatu pohon disebut biomassa yang diantaranya terdiri atas senyawa karbon dan merupakan hasil penyerapan karbon dari atmosfer melalui proses fotosintesis. Senyawa karbon yang ada di atmosfer diserap dan dimetabolisme. Hasil metabolismenya disimpan dalam biomassa pohon. Pepohonan yang dapat diandalkan sebagai penyimpan karbon salah satunya adalah yang ada di Cagar Alam yang merupakan kawasan suaka alam dengan keadaan alamnya yang mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya yang perlu dilindungi karena banyak menyimpan karbon. Bantarbolang salah satu cagar alam yang mempunyai struktur dan komposisi vegetasi yang kompleks, sehingga memiliki potensi karbon tersimpan yang relatif banyak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui spesies pohon dengan kandungan karbon tersimpan paling tinggi dan untuk mengestimasi jumlah karbon yang tersimpan di Cagar Alam Bantarbolang, Pemalang, Jawa tengah.
Penelitian dilakukan menggunakan metode survei pada Cagar Alam Bantarbolang. Cagar ini dibuat tiga stasiun penelitian dan setiap stasiun penelitian dibuat lima petak kuadrat berukuran 20 m x 20 m yang diletakkan secara selang-seling di sepanjang transek pada stasiun tersebut. Pada setiap kuadrat tersebut, jumlah jenis pohon, jumlah individu setiap jenis pohon, dan diukur diameter batang pohon setiap individunya dihitung. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif.
Hasil penelitian mendapatkan 10 spesies pohon penyusun vegetasi Cagar Alam Bantarbolang yaitu Tectona grandis, Gluta renghas, Cinnamomum sintoc, Streblus asper, Carpinus caroliniana, Amoora aphanamixis, Syzygium cumini, Ficus variegata, Mangifera sp., dan Senna siamea. Cadangan karbon per pohon paling tinggi adalah Tectona grandis sebesar 220,79 ton/ha, sedangkan yang paling rendah adalah Ficus variegata sebesar 0,07 ton/ha. Cagar Alam Bantarbolang secara keseluruhan dengan luas 25 ha memiliki cadangan karbon sebesar 5965,25 ton karbon.
The total amount of living matter in a tree is called biomass which includes carbon compounds and the result of carbon sequestration from the atmosphere through the process of photosynthesis. Carbon compounds in the atmosphere are absorbed and metabolized. The results of its metabolism are stored in tree biomass. One of the trees that can be relied upon for storing carbon is the one in the Nature Reserve which is a nature reserve area with a natural condition that has a unique plant, animal, and ecosystem that needs to be protected because it stores a lot of carbon. Bantarbolang is one of the nature reserves that has a complex structure and composition of vegetation, so as to produce a lot of stored carbon. The purpose of this study is to determine the amount of carbon stored in the Bantarbolang Nature Reserve. The study was conducted using survey methods. Bantarbolang Nature Reserve was chosen by 3 research stations. Each station has 5 m2 of size 20 m x 20 m which are placed alternately along the transect. Each square is calculated by the number of trees of each type. The parameter measured is the rod diameter. Data collected were analyzed using descriptive analysis. The results of this study were 10 species of trees making up the environment Bantarbolang Nature Reserve, namely Tectona grandis, Gluta renghas, Cinnamomum sintoc, Streblus asper, Carpinus caroliniana, Amoora aphanamixis, Syzygium cumini, Ficus variegata, Mangifera sp., and Senna siamea. The highest carbon stock per tree was Tectona grandis of 220.79 tons/ha. The total capability of the Bantarbolang Nature Reserve to contribute carbon with an area of 25 ha was 5965.25 tonC.
2373926885G1B012094PERBEDAAN ANTARA PERASAN TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) DAN PERASAN KUNYIT (Curcuma domestica Val) DALAM MENURUNKAN JUMLAH BAKTERI TOTAL PADA DAGING SAPIPERBEDAAN ANTARA PERASAN TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) DAN PERASAN KUNYIT (Curcuma domestica Val) DALAM MENURUNKAN JUMLAH BAKTERI TOTAL PADA DAGING SAPI
Isni Kurnia Dewi, Saudin Yuniarno, Suratman
Latar Belakang: Daging menjadi media yang baik bagi pertumbuhan bakteri baik bakteri patogen maupun bakteri pembusuk. Kunyit dan temulawak mempunyai kandungan antibakteri. Kunyit mengandung kurkuma dan minyak atsiri sedangkan temulawak mengandung minyak atsiri golongan xantorhizol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perasan temulawak dan perasan kunyit dalam menurunkan jumlah bakteri total pada danging sapi.
Metodologi: Jenis penelitian ini adalah penelitian true experiment, dengan menggunakan posttest only with control group design. Metode yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan yaitu pemberian perasan temulawak konsentrasi 5%, 10%, 15%, dan pemberian perasan kunyit konsentrasi 5%, 10%, 15%. Penelitian ini menggunakan 28 sampel daging sapi masing-masing seberat 20gram yang dibagi menjadi 7 kelompok, yaitu kelompok kontrol dan enam kelompok perlakuan. Daging sapi direndam pada masing masing perlakuan, kemudian diuji jumlah angka total bakteri. Data dianalisis menggunakan uji Kruskall Wallis dan dilanjutkan dengan uji Post Hoc Mann Whitney.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata penurunan jumlah bakteri antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan kecuali pada temulawak konsentrasi 5%. Jumlah bakteri paling rendah terdapat pada kunyit konsentrasi 15%. Jumlah bakteri pada kunyit lebih rendah dibandingkan jumlah bakteri pada temulawak, yaitu kunyit konsentrasi 15% sebanyak 3,75 koloni/gram diikuti kunyit konsentrasi 10% sebanyak 9,5 konloni/gram dan kunyit konsentrasi 5% sebanyak 17,5 koloni/gram. Pada temulawak konsentrasi 15% sebanyak 13 koloni/gram diikuti temulawak konsentrasi 10% sebanyak 18,5 koloni/gram dan kunyit konsentrasi 5% sebanyak 22,5 koloni/gram. Semakin tinggi konsentrasi maka jumlah bakteri akan semakin rendah.
Kesimpulan: Kunyit konsentrasi 15% mempunyai kemampuan untuk menurunkan jumlah bakteri paling tinggi
Kata kunci: Kunyit, Temulawak, Antibakteri
THE DIFFERENCE BETWEEN SULUTION TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) AND TURMERIC (Curcuma domestica Val) IN DECREASING THE TOTAL AMMOUNT OF BACTERRIA IN BEEF
Isni Kurnia Dewi, Saudin Yuniarno, Suratman
Background: Meat is the good medium for bacterial growth both pathogenic bacteria and spoilage bacteria. Turmeric and temulawak have antibacterial efect. Turmeric containing Curuma and essential oil and than tumeric containing xantorhizol. This study aims to determine the difference solution temulawak and solution tureric in decreasing the total amount of bacteria in beef.
Method: This study was a true experimental study, using posttest only with control group design. The study design used was complete randomized design (CRD) with 6 treatment that give are temulawak in concentrate 5%, 10%, 15 % and turmeric in concentrate 5%, 10%, 15 %. The study using 28 sample beef each sample was 20 gr , that is divided into 7 groups. The one in the control group and six in the treatment group. Beef soaked in each treatment, and then the total amount of bacteria were tested. Analysis of data using Kruskall Wallis and than continue with Post Hoc Mann Whitney.
Result: The result this study showed that temulawak and turmeric can lower the amount of bacteria with significantly, except tumeric in 5% concentrate. The least amount of bacteria found in tutmeric concentrate 15%. The amount of bacteria in turmeric is lower than the number of bacteria in temulawak, there are turmeric concentration of 15% is 3.75 colonies / gram followed by turmeric concentration of 10% is 9.5 concloni / gram and turmeric concentration of 5% is 17.5 colonies / gram. In temulawak, the amount of 15% concentration is 13 colonies / gram followed by temulawak concentration of 10% is 18.5 colonies / gram and turmeric concentration of 5% is 22.5 colonies / gram. If the concentration increased, the number of bacteria are decreased.
Conclusion: Turmeric concentration of 15% has the ability to reduce the highest amount of bacteria
Keyword : Tumeric, Temulawak, Antibacterial.
2374026883B1A015123MORFOLOGI KEPITING Albunea symmysta (ALBUNEIDAE:CRUSTACEAE) DARI PANTAI PARANGKUSUMO YOGYAKARTAFamilia Albuneidae terdiri atas Sembilan Genus dan salah satunya yaitu Albunea. Distribusi Albunea di Indonesia telah dilaporkan oleh beberapa peneliti terdahulu, diantaranya terdapat di pesisir Cilacap, Kebumen, Yogyakarta, Aceh, dan Bengkulu. Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang dilakukan di Pantai Parangkusumo Yogyakarta telah ditemukan kepiting yang memiliki morfologi hampir sama dengan dengan spesies Albunea symmysta yang pernah ditemukan sebelumnya di lokasi yang berbeda. Atas dasar hal tersebut maka telah dilakukan kajian untuk mengetahui kepastian nama spesiesnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kepiting Albunea yang dimiliki oleh yang berasal dari pantai Parangkusumo Yogyakarta serta untuk mengetahui semua karakter performa dan meristik milik kepiting Albunea yang berasal dari pantai Parangkusumo. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dan pengambilan sampel secara purposive random sampling. Sampel dari pantai Parangkusumo diambil sebanyak dua kali dengan interval waktu dua minggu, pengambilan sampel dilakukan hingga memperoleh jumlah sampel sebanyak 60 ekor. Identifikasi dilakukan berdasarkan karakter morfologi, yang meliputi performa, morfometri dan meristik. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk performa dan meristik, sedangkan morfometrik dengan uji T.
. Berdasarkan pengamatan performa morfologi, meristik, hasil penelitian yang didapat yaitu kepiting Albunea yang diperoleh dari Parangkusumo Yogyakarta adalah spesies Albunea symmysta yang memiliki karakter karapas dengan bentuk hampir empat persegi panjang, memiliki antenula yang sangat panjang, karapas dengan permukaan rata, memiliki dactylus pertama subchelate, memiliki 9-12 buah duri anterolateral dan memiliki tujuh buah segmen flagella antena.
Albuneidae is consists of nine genera, one of them is Albunea. Albunea distribution, in Indonesia has been reported by several previous researchers, including those on the coast of Cilacap, Kebumen, Yogyakarta, Aceh, and Bengkulu. Based on the results of a preliminary survey conducted at Parangkusumo Beach, Yogyakarta, has found crabs who have similar morphology as the species Albunea symmysta which is found before. Based on this situation a study was conducted to determine the certainty of the species name. This study aims to identify Albunea crabs from the Parangkusumo coast of Yogyakarta and to know all performance and meristic character who Albunea crabs originating from Parangkusumo has. This research was conducted using a survey method with purpossive random sampling technique. Sampling was carried out in the area Parangkusumo beach, Samples were taken twice with two weeks intervals , each time is repeated three times. The crabs from Cilacap is a collection of the Animal Taxonomy Laboratory Faculty of Biology Unsoed. Identification was carried out based on the morphologycal charcters, include performance and meristic. Data analysis of performance and meristic was carried out by making morphologycal descriptions
Based on observations of morphological performance and meristik, research results obtained are Albunea crabs obtained from Parangkusumo Yogyakarta are Albunea symmysta species that have carapace character with almost rectangular shape, have very long antenula, carapace with flat surface, have the first subchelate dactylus, has 9-12 anterolateral spines and has seven flagella antenna segments