Artikelilmiahs

Menampilkan 23.721-23.740 dari 50.268 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
2372126866E1A014161PENERAPAN PRINSIP - PRINSIP TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK ATAU GOOD CORPORATE GOVERNANCE DI PT BANK PEMBANGUNAN DAERAH JAWA TENGAHPENERAPAN PRINSIP - PRINSIP TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK ATAU GOOD CORPORATE GOVERNANCE DI PT BANK PEMBANGUNAN DAERAH JAWA TENGAH
Good Corporate Governance merupakan sistem tata kelola perusahaan yang menjelaskan hubungan antara Pemegang Saham, Dewan Komisaris, Dewan Direksi, Manager, Karyawan, dan pihak-pihak yang terkait di dalamnya yang menentukan arah kinerja perusahaan. Penerapan prinsip Good Corporate Governance juga harus dilakukan dalam bisnis perbankan untuk meningkatkan nilai, melindungi kepentingan stakeholders, dan menjaga kepercayaan masyarakat sebagai lembaga intermediasi dan kepercayaan.
Penelitian ini dilakukan dengan metode pendekatan yuridis-normatif, spesifikasi penelitian deskriptif-analitis, metode pengumpulan data dengan studi kepustakaan dan wawancara, metode penyajian data dengan teks naratif, Data sekunder dan primer yang telah dikumpulkan, diolah dan disajikan secara sistematis. Metode analisis data yang digunakan adalah metode normatif kualitatif.
Berdasarkan data hasil penelitian dapat diketahui bahwa PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah telah menerapkan prinsip Good Corporate Governance yakni transparansi (transparency), akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban (responsibility), kemandirian (independency), serta kewajaran dan kesetaraan (fairness) sesuai dengan ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 55/POJK:03 tentang penerapan Tata Kelola bagi Bank Umum.
THE IMPLEMENTATION OF PRINCIPLES OF GOOD CORPORATE GOVERNANCE AT PT BANK PEMBANGUNAN DAERAH IN CENTRAL JAVA
Good Corporate Governance is a corporate governance system that explains the relationship between the Shareholders, the Board of Commisioners, the Board of Directors, the Manager, the Employee, and the parties involved in it that determine the direction of the company’s performance. The implementation of Good Corporate Governance principles should also be done in the banking business to increase value,protect the interest stakeholders, and maintain public trust as an intermediary and trust institution.
This research is conduct by the method of juridical-normative approach, specification of descriptive-analytical research, methods of data collection with library studies and interviews, data presentation method with narrative texts, secondary and primary data that has been collected,and presented systematically. The data analysis method that used are qualitative normative method.
Based on the data of research can be seen that PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah has applied to the principles of Good Corporate Governance transparency, accountabilit, responsibility, independence and fairness in accordance with the provisions regulation of the Financial Services Authority Number 55 / POJK: 03 about the implementation of corporate Governance for Commercial Banks.
2372228802E1A014144KEDUDUKAN ALAT BUKTI VIDEO DALAM SUATU PERKARA TINDAK PIDANA PENODAAN AGAMA (Studi Terhadap Putusan Perkara Nomor : 537/Pid.B/2016/PN JKT.UTR )
Penelitian ini berjudul “Kedudukan Alat Bukti Videodalam Suatu Perkara Tindak Pidana Penodaan Agama (Studi Terhadap Putusan Perkara Nomor : 537/Pid.B/2016/PN JKT.UTR )”. Latar belakang masalah penelitian ini adalah untuk meneliti bagaimana kedudukan alat bukti video dan penerapannya dalam kasus penodaan agama oleh Ir. Basuki Tjahaja Purnama. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian hukum normatif dan menggunakan pendekatan kasus (Case Approach), pendekatan perundang-undangan (Statute Approach) serta pendekatan konseptual (Conceptual Approach). Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan mengenai kedudukan alat bukti video dan penerapannya dalam kasus penodaan agama yang dilakukan oleh Ir. Basuki Tjahaja Purnama terdapat beberapa unsur dalam pasal 156a yang tidak terpenuhi.This study is entitled "The Position of Video Evidence in a Case of Religious Blasphemy (Study of Case Verdict Number: 537 / Pid.B / 2016 / PN JKT.UTR)". The background of this research problem is to examine how the position of video evidence and its application in the case of blasphemy by Ir. Basuki Tjahaja Purnama. The research method used in this study is a normative legal research method and uses a case approach, a statutory approach and a conceptual approach Based on the results of the analysis conducted on the position of video evidence and its application in the case of blasphemy by Ir. Basuki Tjahaja Purnama there are several elements in clause 156a that are not met.
2372326827B1B015007DECOLORIZATION OF INDIGOSOL BLUE DYE USING Trametes versicolor F200 AND Aspergillus sp.
The dyeing process of batik eventually produces much of wastewater. The difficult degradation and the dangers posed within the synthetic dyes are the main concerns in finding efficient wastewater treatment. Biological treatment has been known to be an effective technique of reducing or eliminating color intensity in wastewater. Fungi is one organism that has the ability to decompose many environmental pollutants. The aims of this research were to determine the ability of fungal isolates in decolorizing the synthetic dyes and analyzed which treatment has the highest decolorization percentage. Fungal isolates of Trametes versicolor F200 and Aspergillus sp. were used as a biological agent to decolorize of Indigosol Blue dye. The decolorization percentage was analyzed by spectrophotometer method. The result showed that T. versicolor F200 and Aspergillus sp. able to decolorize Indigosol Blue dye. The decolorization treatment of Indigosol Blue dyes using T. versicolor F200 showed the highest decolorization percentage. The dyeing process of batik eventually produces much of wastewater. The difficult degradation and the dangers posed within the synthetic dyes are the main concerns in finding efficient wastewater treatment. Biological treatment has been known to be an effective technique of reducing or eliminating color intensity in wastewater. Fungi is one organism that has the ability to decompose many environmental pollutants. The aims of this research were to determine the ability of fungal isolates in decolorizing the synthetic dyes and analyzed which treatment has the highest decolorization percentage. Fungal isolates of Trametes versicolor F200 and Aspergillus sp. were used as a biological agent to decolorize of Indigosol Blue dye. The decolorization percentage was analyzed by spectrophotometer method. The result showed that T. versicolor F200 and Aspergillus sp. able to decolorize Indigosol Blue dye. The decolorization treatment of Indigosol Blue dyes using T. versicolor F200 showed the highest decolorization percentage.
2372426867B1B015030BIOPULPING OF BAGASSE USING DIFFERENT TYPES OF WHITE ROT FUNGI AND DIFFERENT INCUBATION TIMESBagasse adalah residu berserat yang tersisa setelah tebu dihancurkan untuk mengekstrak jusnya. Sebagian besar terdiri dari bahan lignoselulosa yang dapat menyediakan bahan untuk produksi kertas melalui proses biopulping. Jamur busuk putih (WRF) adalah produsen enzim ligninolitik ekstraseluler yang memiliki kemampuan untuk termineralisasi senyawa lignin. Tiga jenis jamur busuk putih yang digunakan dalam penelitian ini adalah Phanerochaete chrysosporium, Pleurotus ostreatus dan Schizophyllum commune. Masing-masing diinokulasi pada substrat ampas tebu dalam waktu 0, 15, dan 30 hari inkubasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara jamur busuk putih dan waktu inkubasi dalam proses biopulping dan untuk menyelidiki jamur dan waktu inkubasi yang paling tepat untuk menghasilkan bahan yang baik untuk pembuatan kertas yang diperoleh dari ampas tebu. Desain eksperimental dilakukan dengan menggunakan Completely Randomized Design (CRD) dengan pola faktorial dalam dua faktor dan dianalisis dengan menggunakan Analisis Varians (ANNOVA) kemudian diikuti oleh Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada pengaruh signifikansi yang sangat berbeda dari perawatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa S. commune adalah jamur yang paling efektif untuk menurunkan kadar lignin yang sangat tinggi (17,38% menjadi 8,88%) pada 30 hari inkubasi, sedangkan P. chrysosporium adalah jamur paling efektif untuk menurunkan kadar selulosa dalam jumlah kecil ( 23,64% hingga 19,38%) selama 30 hari masa inkubasi.Bagasse is fibrous residue that remains after the sugarcane is crushed to extract it’s juice. It mostly consists of lignocellulosic materials that may provide material for paper production through biopulping process. White rot fungi (WRF) is producers of extracellular ligninolytic enzymes that has the capability to mineralize lignin compounds. Three types of white rot fungi that were used in this study are Phanerochaete chrysosporium, Pleurotus ostreatus and Schizophyllum commune. Each of it was inoculated on bagasse substrate within 0, 15, and 30 days of incubation. This study was aimed to know the effect of interaction between white rot fungi and incubation time in the biopulping process and to investigate the most appropriate fungus and incubation time to produce good material for paper making obtained from sugarcane bagasse. The experimental design was done by using Completely Randomized Design (CRD) with a factorial pattern in two factors and analyzed by using Analysis of Variance (ANNOVA) then followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) on highly different significance effect of the treatment. The result of this study showed that S. commune is the most effective fungi to degrade highly lignin content (17.38% to 8.88%) at 30 days of incubation, while P. chrysosporium is the most effective fungi to lowering cellulose content in small amount (23.64% to 19.38%) during 30 days of incubation.
2372526868B1A015031KOMPOSISI VEGETASI GULMA PADA TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum) DI PERKEBUNAN TEBU PUSLITAGRO JATITUJUH MAJALENGKAPerkebunan tebu Pusat Penelitian Agronomi (Puslitagro) Jatitujuh Majalengka merupakan salah satu perkebunan tebu yang menanam tebu jenis lahan kering. Gulma adalah masalah utama yang dihadapi pada budidaya tebu lahan kering. Kehadiran gulma akan mempersulit pemeliharaan dan panen serta menurunkan kualitas penebangan tebu, baik yang dilakukan secara manual maupun mekanik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan keanekaragaman spesies gulma di daerah perkebunan tebu Puslitagro Jatitujuh Majalengka sebagai dasar dalam pengendalian gulma dan mengetahui faktor-faktor lingkungan abiotik di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, keanekaragaman spesies gulma di Perkebunan Tebu Pusitagro Jatitujuh Majalengka terdapat 46 spesies yang terdiri dari 16 famili. Kemerataan gulma tergolong tinggi, dari data yang didapat masing-masing area lebih dari satu. Area Kidang Kencana Timur (1,94) tergolong tinggi, area Kidang Kencana Tengah (1,89) tergolong tinggi, dan area Rancabugang (1,83) tergolong tinggi. Keanekaragaman spesies gulma tertinggi terdapat pada area Kidang Kencana Timur (3,15) dengan suhu udara 30°C, kelembaban tanah 75%, dan pH tanah netral (7,1).Sugarcane Plantation The Center for Agronomic Research (Puslitagro) of Jatitujuh Majalengka is one of the sugarcane plantations that cultivates sugarcane types of dry land. This study aims to determine the composition and diversity of weed species in the sugarcane plantation area of Puslitagro Jatitujuh Majalengka as a basis for weed control and to know abiotic environmental factors in the field. The results Biodiversity research of weed. Evenness of weed is high, from the data obtained evenness index value of each area is more than one. Kidang Kencana Timur area (1.94), Kidang Kencana Tengah area (1.89), and Rancabugang area(1.83). Weed species diversity is highest in Kidang Kencana Timur area has a temperature of 30 ° C, 75% soil moisture, and soil ph neutral (7.1).
2372626869I1B015017Pengaruh Video Edukasi Terhadap Kepatuhan Latihan Jasmani Pasien Diabetes Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Purwokerto Timur IILatar Belakang: Diabetes Mellitus adalah penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat dan membutuhkan manajemen yang baik. Latihan jasmani merupakan salah satu pilar penatalaksanaan diabetes mellitus. Keefektifan modifikasi latihan jasmani sangat dipengaruhi oleh sejauh mana pasien mematuhi anjuran tenaga kesehatan. Upaya untuk meningkatkan kepatuhan pasien yaitu dengan pemberian pendidikan kesehatan. Media video dipercaya mampu meningkatkan kepatuhan pasien diabetes mellitus.
Metode: Penelitian ini menggunakan quasi eksperimen pretest-posttest with control group. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling yakni sebanyak 19 responden pada masing-masing kelompok. Analisis data menggunakan uji t berpasangan dan t tidak berpasangan
Hasil: Hasil analisis menggunakan uji t berpasangan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kepatuhan latihan jasmani antara sebelum dan sesudah pemberian video edukasi pada kelompok intervensi (p=0,000), tetapi tidak ada perbedaan pada kelompok kontrol (p= 0,834). Hasil analisis menggunakan uji t tidak berpasangan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan perubahan kepatuhan setelah diberikan video edukasi antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p=0,000).
Kesimpulan: Video edukasi dapat meningkatkan kepatuhan latihan jasmani pasien diabetes mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Purwokerto Timur II.
Kata Kunci : Edukasi latihan jasmani diabetes mellitus, kepatuhan, video
Background: Diabetes Mellitus is a chronic disease with an increasing prevalence and requires good management. Physical exercise is one of the management of diabetes mellitus. The effectiveness of physical exercise modification is strongly influenced by the extent to which patients complied the advice of health workers. Efforts to improve patient compliance is by providing health education. Video media is believed to be able to increase the compliance of patients with diabetes mellitus.
Method: This study used a quasi-experimental pre-post test with control group design. The sampling technique used was purposive sampling with 19 respondents in each group. Data analysis using paired t test and unpaired t test.
Results: The results of analysis using paired t test showed that there were differences in physical exercise compliance between before and after the provision of educational videos in the intervention group (p=0000), but there were no differences in the control group (p=0,834). The results of the analysis using unpaired t test showed that there were differences in changes in compliance after being given an educational video between the intervention group and the control group (p=0,000).
Conclusion: Educational videos can improve physical exercise adherence to patients with diabetes mellitus in the work area of East Purwokerto II Health Center.
Keywords : Diabetes Mellitus physical exercise education, physical exercise adherence of Diabetes Mellitus, video
2372726888G1G014007PERBANDINGAN KEKUATAN PELEKATAN PUSH-OUT MENGGUNAKAN
GUTTA PERCHA KONVENSIONAL DAN SEALER BIOCERAMIC
DENGAN GUTTA PERCHA BIOCERAMIC
DAN SEALER RESIN EPOKSI
Perawatan saluran akar (PSA) merupakan perawatan endodontik yang bertujuan mempertahankan gigi agar tetap dapat berfungsi. Indikasi dilakukan perawatan saluran akar antara lain gigi dengan kelainan jaringan pulpa, berupa pulpitis irreversibel atau nekrosis pulpa, dan kelainan jaringan periapikal yang merupakan kasus endodontik. Penyebab kegagalan perawatan saluran akar adalah obturasi saluran akar yang tidak hermetis. Salah satu upaya untuk mencapai keberhasilan saluran akar adalah obturasi saluran akar yang fluid tight seal yaitu kemampuan untuk mencegah merembesnya cairan jaringan ke dalam saluran akar. Kekuatan pelekatan sealer terhadap dinding saluran akar juga dapat membantu keberhasilan perawatan saluran akar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis perbedaan kekuatan pelekatan push-out menggunakan gutta percha konvensional dan sealer bioceramic dengan gutta percha bioceramic dan sealer resin epoksi. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris yang dilakukan secara in vitro dengan rancangan penelitian posttest-only with control group design dengan menggunakan 16 gigi premolar rahang bawah yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok I obturasi menggunakan gutta percha konvensional dan sealer bioceramic, kelompok II obturasi menggunakan gutta percha bioceramic dan sealer resin epoksi. Pengujian dilakukan menggunakan Universal Testing Machine. Hasil yang diperoleh dihitung dalam rumus, kemudian diuji dengan uji Independent t-test didapatkan signifikan 0,002 yang artinya perbedaan yang bermakna (p<0,05) antara kelompok I dengan kelompok II. Penelitian ini menunjukkan bahwa kekuatan pelekatan push-out menggunakan gutta percha konvensional dan sealer bioceramic lebih tinggi dibandingkan dengan gutta percha bioceramic dan sealer resin epoksi.THE PUSH-OUT BOND STRENGTH OF CONVENTIONAL
GUTTA PERCHA AND BIOCERAMIC SEALER WITH
BIOCERAMIC GUTTA PERCHA AND
EPOXY RESIN SEALER
2372826870I1A015015PERILAKU BUANG AIR BESAR DI JAMBAN EMPANG
DESA LEMAHJAYA KECAMATAN WANADADI
KABUPATEN BANJARNEGARA
ABSTRAK
PERILAKU BUANG AIR BESAR DI JAMBAN EMPANG
DESA LEMAHJAYA KECAMATAN WANADADI
KABUPATEN BANJARNEGARA
Putri Andini(1), Heryanto(2), Kuswanto(2)
(1)Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman
(2)Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman
Latar belakang : Buang air besar sembarangan merupakan masalah sanitasi
serius yang dihadapi sebagian besar negara berkembang. Buang Air Besar
Sembarangan (BABS) adalah perilaku atau tindakan membuang tinja atau kotoran
manusia di tempat terbuka. Tujuan Penelitian untuk menggambarkan perilaku
buang air besar di jamban empang Desa Lemahjaya Kecamatan Wanadadi
Kabupaten Banjarnegara dengan variable pengetahuan, sikap, perilaku, budaya,
fasilitas pendukung, peran petugas kesehatan, peran tokoh masyarakat.
Metodologi : Penelitian ini mengunakan metode penelitian deskriptif kualitatif.
Subyek penelitian adalah dari ibu rumah tangga sebanyak tujuh orang dan
informan pendukung yaitu petugas sanitarian puskesmas, kader kesehatan, dan
tokoh masyarakat. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman
Hasil penelitian : Pemahaman subyek penelitian tentang buang air besar
sembarangan adalah buang air besar yang dilakukan bukan pada tempatnya
sehingga dapat menularkan penyakit seperti diare, disentri, kolera, polio dan
hepatitis. Perilaku buang air besar dijamban empang merupakan kebiasaan yang
dilakukan sejak zaman nenek moyang dan karena belum memiliki jamban sehat
maka tidak ada pilihan lain selain buang air besar di jamban empang. Selain itu
terdapat budaya dimana tinja dijadikan sebagai pengganti pakan ikan sehingga
masyarakat merasa rugi apabila tinja di buang begitu saja. Hal ini didukung oleh
tingginya angka kepemilikan jamban empang sehingga petugas kesehatan harus
lebih aktif memberikan penyuluhan untuk merubah pola pikir masyarakat.
Dukungan tokoh masyarakat di perlukan untuk menumbuhkan kesadaran
masyarakat bahwa buang air besar di jamban empang bukan merupakan hal yang
benar.
Kesimpulan : perilaku buang air besar di jamban empang merupakan kebiasaan
masyarakat setempat sehingga sulit mengubah kebiasaan tersebut apabila bukan
kemauan dari diri sendiri
Kata kunci : perilaku, buang air besar di jamban empang
ABSTRACT
BEHAVIOR OF DEFECATION AT THE POND LATRINE
IN LEMAHJAYA VILLAGE WANADADI SUB DISTRICT
BANJARNEGARA REGENCY
Putri Andini(1), Heryanto(2), Kuswanto(2)
(1)Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman
(2)Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman
Background: Open Defecation is a serious sanitation problem facing most
developing countries. Open defecation (OD) is a behavior or action to dispose of
stools or human impurities in the open. Research aims to describe the behavior of
defecation at the pond in Lemahjaya village Wanadadi subdistrict Banjarnegara
District with variable knowledge, attitudes, behaviors, culture, supporting
facilities, the role of health officers, character roles Community.
Methodology: This study uses qualitative descriptive research methods. The
subjects of the study were from a housewife of seven people and supporting
informant is the sanitarian health center staff, health cadres, and community
leaders. Data analysis using Miles and Huberman models
Research results: The understanding of research subjects about open defecation
is defecation that is not in place that can transmit diseases such as diarrhea,
dysentery, cholera, Polio and hepatitis. Defecation in the pond laterine is is a habit
that has been done since the time of ancestors and because it does not have a
healthy latrines then there is no choice but to defecate in pond laterine. In addition
there is a culture where the stool is used as a substitute for fish feed so that people
feel the loss when feces in the waste. This is supported by the high availability of
pond latrines so that officials must be more active in providing counseling to
change the public mindset. The support of community leaders is needed to raise
public awareness that defecating in ponds is not the right thing.
Conclusion: behavior in ponds laterine is a habit of the local community so it is
difficult to change these habits if not the will of yourself
Keywords: behavior, defecation in the pond laterine
2372928631G1A016062EFEK LAMA WAKTU PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL SELEDRI (Apium graveolens L.)
TERHADAP KADAR TUMOR NECROSIS FACTOR-α PADA
TIKUS PUTIH (Sprague dawley) MODEL
ISCHEMIA REPERFUSION INJURY
Latar Belakang: Ischemia Reperfusion Injury (IRI) atau cedera iskemia reperfusi adalah cedera yang terjadi akibat penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara cepat, mendadak, dan gangguan aliran darah menuju organ, diikuti dengan pemulihan aliran darah ke organ tersebut yang akan menyebabkan inflamasi dan merusak organ ginjal. Seledri (Apium graveolens L.) mempunyai efek farmakologis antioksidan dan antiinflamasi karena mengandung senyawa aktif seperti apigenin, glikosida iridoid, tannin, flavonoid, alkaloid dan saponin. Aktivitas antioksidan serta antiinflamasi seledri dapat mencegah kerusakan seluler yang dapat menekan peningkatan regulasi TNF-α stimulated dari molekul adhesi seluler vascular, molekul adhesi intraseluler, E-selectin MRA dan IL -1β.
Tujuan: Untuk mengetahui efek lama waktu pemberian ekstrak etanol seledri terhadap pencegahan peningkatan kadar TNF-α tikus model ischemia reperfusion injury.
Desain Penelitian: Metode penelitian adalah eksperimental dengan post-test only with control group design. Dua puluh lima ekor tikus putih dibagi dalam 5 kelompok. Kelompok A sebagai kontrol sehat, kelompok B sebagai kontrol sakit, kelompok C (1000 mg/kgBB selama 7 hari), kelompok D (1000 mg/kgBB selama 14 hari), dan kelompok E (1000 mg/kgBB selama 28 hari). Pada hari ke-8, ke-15 dan ke-29 setelah pemberian ekstrak, kelompok B, C, D, E dibedah dan dibuat model IRI.
Hasil: Kadar TNF-α dengan metode ELISA kelompok A adalah 36,88±8,9, kelompok B 38,81±2,35, kelompok C 28,85±13, kelompok D 25,91±12,2, Kelompok E 23,60±12,3. Uji Kruskal-Wallis menunjukan nilai p=0,039 (p<0,05). Uji post hoc Mann-Whitney menunjukan terdapat perbedaan bermakna antara minimal 2 kelompok.
Kesimpulan: Pemberian ekstrak etanol daun seledri (Apium graveolens L.) dapat menurunkan peningkatan kadar TNF-α pada tikus putih (Rattus norvegicus) model ischemia reperfusion injury.

Background: Ischemia Reperfusion Injury (IRI) or reperfusion injury is an injury caused due decrease function of kidney which happens quickly, suddenly or interruption of blood flow to organs followed by the recovery of blood flow into those organs then causes inflammation and damages the kidney. Celery (Apium graveolens L.) has pharmacological antioxidants and anti-inflammatory because it contains active compounds such as apigenin, iridoid glycosides, tannin, flavonoid and saponin. Antioxidants as well as anti- inflammatory activities of celeries can prevent cellular damages which can suppress the increase regulation of TNF-α stimulated from Vascular cell adhesion molecule, intracellular adhesion molecule, E-selectin MRA and IL -1β
Objective: The purpose of this research is to discover the effect of the length of time of the celery (Apium graveolens L.) administration in preventing the increase in TNF-α levels of IRI's albino rat (Sprague dawley) models.
Methods: The method of this research is experimental with post-test only with control group design. Twenty-five albino rats are divided into 5 groups. Group A as healthy control, Group B as control of pain, Group C (1000 mg/kgBB for 7 days), Group D (1000 mg/kgBB for 14 days), and Group E (1000 mg/kgBB for 28 days). On the 8th, 15th, and 29th days after administration of extracts, Group B, C, D, and E were dissected and made into IRI models.
Result: ELISA method is used to discover TNF-α levels average TNF-α levels of group A=36,88±8,9; B=38,81±2,35; C=28,85±13; D=25,91±12,2; E=23,60±12,3. Kruskal-Wallis test result indicates p level =0,039 (p<0,05). Mann-Whitney post hoc test showed a significant difference between minimum 2 groups.
Conclusions: The administration of celery (Apium graveolens L.) extracts for 14 to 28 days can decreases the increase in TNF-α levels of rat models of Ischemia Reperfusion Injury.
2373026872B1A015082Identifikasi Golongan Darah pada Sampel Darah Kering yang Dipapar pada Substrat Tembok, Waktu, dan Lingkungan BerbedaDarah memiliki peranan penting untuk mengungkapkan berbagai kasus hukum maupun kasus kriminal. Darah biasanya ditemukan pada berbagai substrat seperti pakaian, pisau, lantai, tembok, besi, kain, kertas dan gunting. Pemeriksaan golongan darah dilakukan dalam proses penyelidikan berfungsi untuk identifikasi korban maupun pelaku. Beberapa metode identifikasi forensik yang umum dilakukan untuk identifikasi golongan darah yaitu direct agglutination, elusi absorpsi, inhibisi absorpsi dan beberapa metode lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh masing-masing substrat, waktu, kondisi lingkungan dan interaksi ketiganya terhadap keberhasilan identifikasi golongan darah kering yang diuji. Pengambilan sampel dilakukan di Fakultas Biologi Unsoed dan identifikasi dilakukan di labfor cabang semarang. Berdasarkan penelitian ini diperoleh informasi bahwa darah kering dalam kondisi indoor pada substrat tembok tanpa lepa dapat diidentifikasi hingga waktu paparan 120 jam, sedangkan darah pada tembok yang dilepa tanpa dilapisi cat, dilapisi cat tembok, dan dilapisi cat minyak dapat diidentifikasi hingga waktu paparan 140 jam. Darah kering dalam kondisi outdoor pada substrat tembok tanpa lepa dapat diidentifikasi hingga waktu paparan 72 jam, pada tembok yang dilepa tanpa dilapisi cat dan dilapisi cat tembok dapat diidentifikasi hingga waktu paparan 96 jam, dan pada tembok yang dilepa dan dilapisi cat minyak dapat diidentifikasi hingga waktu paparan 120 jam. Kondisi permukaan substrat berpengaruh terhadap keberhasilan identifikasi golongan darah sampel darah kering. Kondisi lingkungan (hujan) berpengaruh terhadap keberhasilan identifikasi golongan darah sampel darah kering. Terdapat interaksi antara substrat, waktu, dan kondisi lingkungan terhadap keberhasilan identifikasi golongan darah sampel darah kering.Blood has an important role in uncovering various legal and criminal cases. Blood is usually found in various fields such as clothing, knife, floor, wall, iron, cloth, paper and scissor. Blood group identification is conducted in the investigation process to identify victims and perpetrators. Some of common forensic identification methods are used to identify blood groups are direct agglutination, absorption elution, inhibition of absorption and several other methods. The purpose of this study was to determine the effect of each substrate, time, enviromental condition and interaction of the successful identification of the dried blood groups test. Sampling was conducted at the Faculty of Biology Unsoed and identification was carried out in the Semarang branch laboratory. Based on this research, can be obtained information that the dry blood in indoor conditions on the wall substrate without plaster can be identified up to 120 hours of exposure time, while blood on the walls that plaster without coated paint, coated with wall paint, and coated with oil paint can be identified up to the time of exposure 140 hours. Dry blood in outdoor conditions on wall substrates without plaster can be identified up to 72 hours of exposure time, on walls that are coated without paint and coated with wall paint can be identified up to 96 hours of exposure time, and on walls that are leped and coated with oil paint can be identified up to 120 hours of exposure. Surface condition of the substrate influences the successful identification of blood groups from dried blood samples. Environmental conditions (rain) affect the successful identification of blood groups from dried blood samples. There is an interaction between substrate, time, and environmental conditions on the successful identification of blood groups of dried blood samples.
2373126873B1B015018SPECIES DIVERSITY AND RELATIONSHIPS AMONG MARINE ORNAMENTAL FISH MEMBERS OF LABRIDAE FAMILY IN THE SOUTH COAST OF WEST JAVATerumbu karang adalah ekosistem bawah laut yang ditandai oleh karang pembentuk terumbu. Terumbu karang terbentuk dari koloni polip karang yang disatukan oleh kalsium karbonat. Invertebrata laut dan vertebrata hidup di ekosistem terumbu karang, termasuk ikan hias. Satu keluarga yang terdiri dari ikan hias yang hidup di terumbu karang adalah Labridae. Keluarga Labrida besar dan beragam, dengan lebih dari 600 spesies dalam 81 genera, yang dibagi menjadi sembilan subkelompok atau suku. Beberapa dari mereka mendiami terumbu karang Indonesia. Namun, data ilmiah terbatas tersedia pada keanekaragaman ikan hias di Labridae dari Pantai Selatan Jawa Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi tentang keanekaragaman spesies dan hubungan filogenetik antara spesies keluarga ikan Labridae di Pantai Selatan Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei dengan teknik purposive sampling. Parameter yang diamati termasuk morfometrik, karakter meristik dan hubungan evolusi antara spesies dalam spesies keluarga Labridae yang dikumpulkan dari Pantai Selatan Sukabumi dan Garut, Jawa Barat. Data morfologis dianalisis secara deskriptif berdasarkan data morfometrik dan meristik. Identifikasi tingkat spesies dilakukan dengan merujuk pada buku panduan identifikasi. Hubungan filogenetik telah dianalisis secara statistik menggunakan metode cladistics seperti yang diterapkan dalam PAUP 4.0 menggunakan algoritma parsimoni maksimum.
Berdasarkan pengamatan, ada 9 spesies dari 6 genera Labridae yang ditemukan. Yaitu Cheilio inermis, Novaculichthy staeniourus, Halichoeresm arginatus, Halichoeres hortulanus, Halicho eresminiatus, Thalassomanigro fasciatum, Thalassomalunare, Stethojulistrilineata, dan Corisbatuensisare berasal spesies. Pengamatan untuk pohon filogenetik menggunakan PAUP 4.0 menunjukkan bahwa Cheilioinermis adalah spesies basal sedangkan yang lainnya adalah spesies turunan. Acanthurus maculiceps adalah kelompok luar yang diambil dari Familia Acanthuridae.
A coral reef is an underwater ecosystem characterized by reef-building corals. Reefs are formed of colonies of coral polyps held together by calcium carbonate. Marine invertebrate and vertebrate live on the coral reef ecosystem, including ornamental fish. One family that consisted of ornamental fish which lives on coral reefs is Labridae. The Labridaefamily is large and diverse, with over 600 species in 81 genera, which are divided into nine subgroups or tribes. Some of them inhabit Indonesian coral reefs. However, limited scientific data are available on ornamental fish diversity in Labridae from the South Coast of West Java. The purpose of the research is to give information about species diversity and phylogenetic relationships among species of Labridae fish family in the South Coast of West Java. This research was conducted using a survey method with a purposive sampling technique. The observed parameters including morphometric, meristic characters and evolutionary relationships among species within Labridae family species collected from the South Coast of Sukabumi and Garut, West Java. Morphological data were analyzed descriptively based on morphometric and meristic data. Species-level identification was performed by referring to the identification guide book. Phylogenetic relationships have been analyzed statistically using cladistics method as implemented in PAUP 4.0 applying maximum parsimony algorithm.
Based on the observation, there are 9 species of 6 genera of Labridae found. Namely Cheilio inermis, Novaculichthy staeniourus, Halichoeresm arginatus, Halichoeres hortulanus, Halicho eresminiatus, Thalassomanigro fasciatum, Thalassomalunare, Stethojulistrilineata, and Corisbatuensisare derived species. The observation for phylogenetic tree using PAUP 4.0 showed that Cheilioinermis is basal species while the others are derived species. Acanthurus maculiceps is the outgroup that taken from Familia Acanthuridae.
2373226874B1A015063PEMBERIAN INOKULUM FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) CAMPURAN TERHADAP KEMUNCULAN PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG SCLEROTIUM PADA TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum frutescens) DAN CABAI MERAH (Capsicum annuum)Cabai rawit (Capsicum frutescens) dan Cabai merah (Capsicum annuum) termasuk sayuran dan buah yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat, dan juga memiliki banyak manfaat. Saat ini, permintaan pasar untuk cabai rawit dan cabai merah sangat tinggi maka harus dilakukan penyetaraan dari sektor produksi tersebut. Cara penanganan yang konvensional seperti pemberian pestisida atau pemberian zat kimiawi lainnya kurang efektif dikarenakan mengakibatkan efek samping yang memiliki dampak yang cukup besar, sehingga digunakan teknik alternatif yaitu dengan menggunakan Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) dengan demikian, maka dilakukan penelitian tentang Pemberian Inokulum Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) Campuran Terhadap Kemunculan Penyakit Busuk Pangkal Batang Sclerotium pada Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens) dan Cabai Merah (Capsicum annuum). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian inokulum FMA campuran dalam menekan intensitas penyakit busuk pangkal batang sclerotium pada tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens) dan tanaman cabai merah (Capsicum annuum) dan untuk mengetahui dosis optimal FMA campuran dalam menekan intensitas penyakit busuk pangkal batang sclerotium pada tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens) dan tanaman cabai merah (Capsicum annuum). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dosis berbeda dari inokulum FMA campuran (0, 10, 15, 20, 25 g FMA dengan medium pembawa zeolit / tanaman). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan pemberian inokulum FMA campuran terhadap intensitas penyakit busuk pangkal batang sclerotium pada tanaman cabai rawit dan cabai merah dapat menurunkan intensitas penyakit busuk pangkal batang Sclerotium sebesar 22% dan pada tanaman cabai merah sebesar 11%.Cayenne pepper (Capsicum frutescens) and red chili (Capsicum annuum), including vegetables and fruit are widely consumed by the public, and also have many benefits. At present, the market demand for cayenne pepper and red chili is very high, so equalization must be made from the production sector. The conventional way of handling such as the administration of pesticides or other chemicals is less effective because it causes side effects that have a large enough impact, so an alternative technique is used that is to use Arbuscular Mycorrhizal Fungi (FMA) thus, research on the administration of Arbuscular Mycorrhoid Fungi Inoculum is thus carried out. (FMA) Mixture of Sclerotium Stem Rot Rotation in Capsicum frutescens and Capsicum annuum. The purpose of this study was to determine the effect of mixed FMA inoculums in suppressing the intensity of sclerotium stem rot rot disease in cayenne pepper (Capsicum frutescens) and red chili peppers (Capsicum annuum) and to determine the optimal dose of mixed AMF in suppressing the intensity of sclerotium stem rot rot on cayenne plants (Capsicum frutescens) and red chili plants (Capsicum annuum). This study used a Completely Randomized Design (CRD) with different doses of mixed AMF inoculums (0, 10, 15, 20, 25 g FMA with zeolite / plant carrier medium). The results of this study indicate that the treatment of mixed AMF inoculums on the intensity of sclerotium stem rot disease in cayenne and red chili plants can reduce the intensity of Sclerotium stem rot disease by 22% and in red chili plants by 11%.
2373326875I1D015041PENGARUH PUASA RAMADHAN TERHADAP PERUBAHAN DISTRIBUSI LEMAK ABDOMINAL PADA MAHASISWA DENGAN STATUS GIZI LEBIH DI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Abstrak

PENGARUH PUASA RAMADHAN TERHADAP PERUBAHAN DISTRIBUSI LEMAK ABDOMINAL PADA MAHASISWA DENGAN STATUS GIZI LEBIH DI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Rosswandari Mangestika W1, Saryono2, Dika Betaditya2


1Mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi Universitas Jenderal Soedirman
2DosenProgram Studi Ilmu Gizi Universitas Jenderal Soedirman

Program Studi Ilmu Gizi Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakkultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman
Jl. Dr. Soeparno Karangwangkal Purwokerto 53123


Latar Belakang: Penumpukan lemak berlebih pada abdomen disebut obesitas sentral. Timbunan lemak tidak akan terjadi apabila ada keseimbangan asupan dan aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh puasa terhadap perubahan distribusi lemak abdomen pada subjek dengan status gizi lebih, karena ketika puasa terjadi perubahan asupan dan aktivitas fisik.

Metode: Penelitian eksperimental ini menggunakan rancangan one group pre post test design. Subjek dalam penelitian ini merupakan mahasiswa dengan gizi lebih berjumlah 56 orang. Pengambilan data dilakukan dua kali yaitu sebelum dan minggu ke tiga puasa Ramadhan. Instrumen yang digunakan yaitu body tape measurement, skinfold caliper, kuesioner SQ-FFQ dan IPAC. Data asupan lemak, aktivitas fisik, dan tebal lemak abdomen dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon. Data lingkar perut, rasio lingkar pinggang dan panggul (RLPP), dan tebal lemak suprailiac dianalisis mengunakan Uji T berpasangan.

Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan yang signifikan pada asupan lemak, aktivitas fisik, lingkar perut, RLPP, dan tebal lemak suprailiac sebelum dan sesudah puasa Ramadhan dengan nilai p<0,05. Tebal lemak bagian abdomen tidak mengalami perubahan yang ditunjukkan dengan nilai p sebesar 0,378 (p>0,05).

Kesimpulan: Puasa Ramadhan dapat mempengaruhi asupan lemak, aktivitas fisik dan distribusi lemak pada bagian abdomen.

Kata Kunci: Puasa Ramadhan, Asupan lemak, Aktivitas fisik, Abdomen
Abstract

THE EFFECT OF RAMADAN FASTING ON THE ABDOMINAL FAT DISTRIBUTION IN OVERWEIGHT AND OBESE STUDENT OF JENDERAL SOEDIRMAN UNIVERSITY


Rosswandari Mangestika W, Saryono, Dika Betaditya


1Mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi Universitas Jenderal Soedirman
2DosenProgram Studi Ilmu Gizi Universitas Jenderal Soedirman

Program Studi Ilmu Gizi Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakkultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman
Jl. Dr. Soeparno Karangwangkal Purwokerto 53123



Introduction: The accumulation of excess fat in the abdomen is called central obesity. Excessive fat deposits is not going to happen if there is a balance of food intake and physical activity. This study aims to look at the effect of fasting to changes in abdominal fat distribution in overweight and obese subjects, because during fasting changes in intake and physical activity.

Methods: This experimental study used a one group pre post test design. Subjects in this study were 56 students with overweight and obese. Data collection was carried out twice before and third week of Ramadan fasting. The instruments used body tape measurement, skinfold caliper, SQ-FFQ and IPAC questionnaire. Data of fat intake, physical activity, and abdominal fat thickness were analyzed using Wilcoxon Test. While data on waist circumference, waist and hip circumference ratio (WHCR), and suprailiac fat thickness were analyzed using the paired T-test.

Result: The results showed that a significant decrease in fat intake, physical activity, waist circumference, waist and hip circumference ratio (WHCR), and suprailiac fat thickness before and after Ramadan fasting with p value <0,05. Abdominal fat thickness has not changes as indicated by p value 0,378 (p>0,05).

Conclusion: Ramadan fasting can affect to fat intake, physical activity, abdominal fat distribution.

Keywords: Ramadan Fasting, Fat Intake, Physical Activity, Abdomen
2373426876B1J014145PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI BAHAN TAMBAHAN TERHADAP PERTUMBUHAN MISELIUM JAMURPAHA AYAM (Coprinus comatus)Coprinus comatus merupakan salah satu jamur pangan yang potensial untuk dibudidayakan secara komersial. Jamur C. comatus termasuk ke dalam jamur edible dan medicinal. Tubuh buah C. comatus mengandung antioksidan dan beberapa asam amino esensial. Jamur C. comatus tumbuh optimal pada medium yang mengandung suplemen. penambahan suplemen pada medium tanam jamur bertujuan untuk memberikan nutrisi yang dibutuhkan jamur. Suplemen ditambahkan dengan jumlah tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi jenis suplemen dan konsentrasi suplemen yang optimal untuk pertumbuhan jamur C. comatus.
Penelitian ini dilaksanakan di C.V. Asa Agro Corporation, Cianjur pada bulan Desember 2018 hingga Maret 2019. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola Faktorial dengan dua faktor uji yaitu jenis dan konsentrasi suplemen. Suplemen yang digunakan yaitu dedak padi (bekatul), dedak jagung (ampok), dedak gandum (polar), dan tepung gandum. Konsentrasi suplemen yang digunakan yaitu 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%.
Hasil yang didapat dari penelitian ini yaitu penambahan suplemen dengan konsentrasi berbeda berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan miselium jamur C. comatus. Suplemen yang baik untuk menumbuhkan jamur C. comatus adalah ampok jagung dan dedak padi. Konsentrasi yang optimal untuk pertumbuhan miselium jamur C. comatus adalah dedak jagung dengan konsentrasi 5% dan dedak padi dengan konsentrasi 15%.
Coprinus comatus is one of the potential edible mushrooms for commercial cultivation. C. comatus is a group of edible and medicinal mushrooms. The body of C. comatus contains antioxidants and several essential amino acids. C. comatus mushrooms grow optimally on medium with supplements. The addition of supplements into the medium aims to provide the nutrients that mushrooms need. Supplements are added in certain amounts. This study aims to determine the optimal combination of supplement types and supplement concentrations for C. comatus growth.
This research was conducted at C.V. Asa Agro Corporation, Cianjur in December 2018 to March 2019. The research was conducted with an experimental method using a completely randomized design factorial pattern with two test factors namely the type and dosage of supplements. Supplements used are rice bran (bran), hominy (ampok), wheat bran (polar), and whole wheat flour. The supplementary concentration used are 0%, 5%, 10%, 15%, and 20%.
The results obtained from this study are the addition of supplements with different doses significantly affect the micelial growth of C. comatus. A good supplement for growing C. comatus is hominy and rice bran. The optimal concentration for the growth of C. comatus mycelium is hominy with a concentration of 5% and rice bran with a concentration of 15%.
2373526871B1A015118DAYA SERAP KARBONDIOKSIDA PADA BUAH-BUAHAN DI BOTANIA GARDEN (BOGAR) KARANGCENGIS BUKATEJA PURBALINGGAPemanasan global adalah peristiwa yang terjadi pada bumi karena peningkatan suhu rata – rata atmosfer. Peningkatan suhu tersebut disebabkan oleh meningkatnya emisi gas rumah kaca di atmosfer sebagai dampak dari meningkatnya aktifitas manusia yang banyak menyumbangkan emisi gas rumah kaca seperti dari kegiatan industri, pembakaran hutan, dan transportasi. Gas yang dominan menyusun gas rumah kaca di atmosfer bumi adalah karbondioksida (CO2), karbon monoksida (CO), metana (CH4), nitrogen monoksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC5), perfluorokarbon (PFC5), dan sulfur heksafluorida (SF6). Karbondioksida merupakan gas rumah kaca yang dominan di atmosfer bumi. Guna menekan terjadinya pemanasan global maka diperlukan upaya untuk menyerap karbondioksida baik mlalui pengembangan hutan maupun perkebunan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui jumlah karbondioksida yang dapat diserap oleh pohon buah – buahan yang ada pada perkebunan buah-buahan di Botania Garden Karangcengis dan mengetahui jenis tanaman buah di Kebun Buah Botania Garden Karangcengis yang memiliki daya serap paling tinggi terhadap CO2. Penelitian akan menggunakan metode survey dengan teknik pengambilan sampel menggunakan petak kuadrat 10 m x 10 m. Spesies tanaman buah-buahan yang digunakan pada penelitian ini adalah jeruk (Citrus sp.), belimbing (Averrhoa carambola), jambu citra (Syzygium aqueum), dan jambu kristal (Psidium guajava). Parameter yang diamati yaitu jumlah daun per pohon, luas daun, massa karbohidrat dan kerapatan pohon. Data hasil penelitian akan dianalisis menggunakan analisis varian (ANOVA) dan jika hasil signifikan yang didapat menunjukkan perbedaan yang nyata maka dilakukan uji lanjut dengan metode BNT (Beda Nyata Terkecil) dengan tingkat kesalahan 5%.Global warming is an event that occurs on the earth due to an increase in the average temperature of the atmosphere. The increase in temperature is caused by increasing greenhouse gas emissions in the atmosphere as a result of increasing human activities that contribute a lot of greenhouse gas emissions such as from industrial activities, forest fires, and transportation. The dominant gas composing greenhouse gases in the Earth's atmosphere is carbon dioxide (CO2), carbon monoxide (CO), methane (CH4), nitrogen monoxide (N2O), hydrofluorocarbons (HFC5), perfluorocarbons (PFC5), and sulfur hexafluoride (SF6). Carbon dioxide is the dominant greenhouse gas in the Earth's atmosphere. In order to reduce global warming, efforts are needed to absorb carbon dioxide through the development of forests and plantations. The purpose of the study was to determine the amount of carbon dioxide that can be absorbed by fruit trees in fruit plantations in Karangcengis Botania Garden and find out the types of fruit plants in the Botcengis Botania Garden Fruit Garden which has the highest absorption capacity of CO2. The research will use a survey method with sampling techniques using a 10 m x 10 m squared plot. Fruit species used in this study were oranges (Citrus sp.), Starfruit (Averrhoa carambola), guava image (Syzygium aqueum), and crystal guava (Psidium guajava). The parameters observed were the number of leaves per tree, leaf area, carbohydrate mass and tree density. The results of the research data will be analyzed using variance analysis (ANOVA) and if significant results obtained show significant differences then further testing is done with the BNT method (Smallest Real Difference) with an error rate of 5%.
2373626896G1F012035HUBUNGAN PENGETAHUAN, PAPARAN PROMOSI
DAN PEMANFAATAN APOTEK DENGAN PERILAKU SWAMEDIKASI NYERI CEDERA PADA MAHASISWA PJKR UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO
Latar Belakang: Mahasiswa Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) merupakan mahasiswa yang rutin melakukan olahraga, yang dengan aktivitas tersebut rentan mengalami nyeri cedera. Salah satu cara untuk menangani nyeri cedera tersebut yaitu dengan melakukan swamedikasi. Pengetahuan, paparan promosi dan pemanfaatan apotek dapat mempengaruhi perilaku swamedikasi nyeri cedera.

Tujuan: Mengetahui hubungan pengetahuan, paparan promosi dan pemanfaatan apotek dengan perilaku swamedikasi nyeri cedera mahasiswa PJKR Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

Metodologi: Rancangan penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan pendekatan deskriptif korelatif yang menggunakan teknik stratified random sampling. Jumlah responden 115 mahasiswa PJKR angkatan tahun 2015, 2016, 2017, 2018. Analisis data menggunakan Product Moment dan Spearman.

Hasil: Hasil menunjukkan 66% responden memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi, 66.1% responden terpapar promosi dari internet, 98.3% responden menggunakan apotek sebagai sarana swamedikasi, dan 56% responden berperilaku baik dalam melakukan swamedikasi nyeri cedera. Hasil analisis bivariat menunjukkan yang berhubungan dengan perilaku swamediksi nyeri cedera adalah pengetahuan (p=0.000) dan pemanfaatan apotek (p=0.000). Tidak terdapat hubungan antara paparan promosi dengan perilaku swamedikasi nyeri cedera mahasiswa PJKR (p= 0.073).

Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pengetahuan, pemanfaatan apotek dengan perilaku sewamedikasi nyeri cedera pada mahasiswa PJKR. Tidak terdapat hubungan antara paparan promosi dengan perilaku swamedikasi nyeri cedera pada mahasiswa PJKR

Kata Kunci: swamedikasi nyeri cedera, pengetahuan, perilaku, paparan promosi, pemanfaatan apotek.
Background: Physical Education and Recreational Education (PJKR) students are students who routinely do sports, with these activities vulnerable to get pain. One way to deal with the pain of injury is by doing self medication injury. Knowledge, exposure to promotion and utilization of pharmacies can influence self-medication injury behavior.

Objective: To determine the relationship of knowledge, exposure to promotion and use of pharmacies with pain behavioral self-medication Physical Education and Recreational Education (PJKR) students of Jenderal Soedirman University, Purwokerto.

Methods: The design of this study used a cross sectional method with a correlative descriptive approach using stratified random sampling techniques. The number of respondents is 115 Physical and Recreational Education (PJKR) students class of 2015, 2016, 2017, and 2018. The data analysis use Product Moment and Spearman.

Results: The results showed 66% of respondents had a high level of knowledge, 66.1% of respondents were exposed by promotions from the internet, 98.3% of respondents used pharmacies as a means of self-medication injury, and 56% of respondents behaved well in self-medication injury. The results of the bivariate analysis showed that related to the behavior of pain injury predictions are knowledge (p = 0,000) and pharmacy utilization (p = 0,000). There was no relationship between promotional exposure with self-medication behavioral of Physical and Recreational Education (PJKR) students (p = 0.073).

Conclusion: There is a relationship between knowledge, utilization of pharmacies with behavioral injury medicated pain in Physical and Recreation Education (PJKR) students. There is no relationship between promotional exposure with self-medication injury behavior in Physical and Recreation Education (PJKR) students

Keywords: self medication injury, knowledge, behavior, promotion exposure, pharmacy utilization.
2373728803F1B015040Implementasi Program Penyediaan Air Minum Dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) Di Desa Kedungrandu Kecamatan Patikraja Kabupaten BanyumasPenelitian ini berjudul Implementasi Program Penyediaan Air Dan
Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) Di Desa Kedungrandu Kecamatan
Patikraja Kabupaten Banyumas. Secara umum permasalahan pertama pada
Program Pamsimas di Desa Kedungrandu ialah pada proses pelaksanaannya
mengalami hambatan yang berakibat ketidakberlanjutan program. Penelitian
ini menggunakan teori Ripley dan Franklin dengan aspek Whats Happening.
Penelitian ini menunjukan bahwa Implementasi Program Pamsimas tidak
berjalan dengan baik/terhenti, pada perspekstif what’s happening yang dapat
menentukan faktor apa yang menjadi kegagalan Program Pamsimas yaitu,
ketidaksiagapan pengurus dalam mengatasi mesin rusak, sehingga
mengakibatkan terbengkalainya sarana program, laporan kegiatan tidak
terdokumentasi dengan rapi, kurangnya pengawasan yang ketat bagi
masyarakat yang mencuri saluran air serta tidak ada upah tambahan buat
petugas dikarenakan pengeluaran lebih banyak daripada pemasukan.
This study is entitled Implementation of Community Based Water
Supply and Sanitation Program (Pamsimas) in Kedungrandu Village,
Patikraja District, Banyumas Regency. In general, the first problem with the
Pamsimas Program in Kedungrandu Village was that the implementation
process experienced obstacles which resulted in program sustainability. This
research uses Ripley and Franklin's theory with Whats Happening aspect.
This research shows that the implementation of the Pamsimas Program is
not going well / stalled, in what perspective is happening that can determine
what factors are failures of the Pamsimas Program namely, the lack of
preparedness of the management in overcoming damaged machines,
resulting in the neglect of program facilities, activity reports are not neatly
documented, lack of strict supervision for people who steal waterways and
no additional wages for officers due to spending more than income.
2373825908D1A015182HUBUNGAN JUMLAH ANGGOTA DAN LAMA TERBENTUKNYA KELOMPOK DENGAN PERAN KELOMPOK PETERNAK SAPI PERAH DI KECAMATAN PEKUNCEN KABUPATEN BANYUMASMayoritas peternak sapi perah di Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas tergabung dalam kelompok peternak. Kelompok peternak memiliki peran yang penting yaitu menjalankan fungs tugas kelompok sebagai wadah belajar, wadah kerjasama, dan unit produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan jumlah anggota dan lama terbentuknya kelompok dengan peran kelompok. Penelitian dilaksanakan dengan metode survey. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan rank spearmen. Penetapan sampel wilayah ditentukan dengan metode purposive sampling yaitu Kecamatan Pekuncen dengan pertimbangan kecamatan tersebut terdapat banyak kelompok peternak sapi perah. Pengambilan sampel kelompok dilakukan secara random sampling yaitu sebanyak 50%. Pemilihan responden dilakukan secara sensus pada semua anggota kelompok terpilih. Hasil penelitian menunjukan mayoritas jumlah anggota kelompok peternak berjumlah <16 anggota. Mayoritas lama terbentuknya kelompok peternak sapi perah terbentuk <16 tahun. Peran kelompok peternak sapi perah sebagai wadah belajar, wadah kerjasama, dan unit produksi cukup baik. Hubungan jumlah anggota (0,348) dan lama terbentuknya kelompok (0,307) dengan peran kelompok sebagai wadah belajar memiliki korelasi lemah. Hubungan jumlah anggota (0,386) dan lama terbentuknya kelompok (0,291) dengan peran kelompok sebagai wadah kerjasama memiliki korelasi lemah. Hubungan jumlah anggota (0,211) dan peran kelompok sebagai unit produksi memiliki korelasi lemah. Hubungan lama terbentuknya kelompok (0,192) dan peran kelompok sebagai unit produksi memiliki korelasi tidak nyata.The majority of dairy farmers in Pekuncen, Banyumas are members of farmers group. Farmer groups have an important role, that is, carrying out the functions of group assignments as a learning container, cooperation forum, and production unit. This research aims to analyze the correlation between number of members and the duration of group formation with the role of the dairy farmers group in Pekuncen, Banyumas. The research was conducted by survey method. The data obtained were analyzed using descriptive analysis and rank spearmen. The determination of the sample area is determined by the purposive sampling method, which is the Pekuncen with the consideration of the district that there are many of dairy farmers groups. Group sampling is done by random sampling, which is as much as 50%. The selection of respondents was carried out by census of all members of the selected group. The results showed the majority number of members group <16 members. The majority of the duration of group formation formed <16 years. The role of the dairy farmers group as a forum for learning, a forum for cooperation, and a production unit is quite good. The correlation between the number of members (0.348) and the duration of group formation (0.307) with the group's role as a learning container has a weak correlation. The correlation between the number of members (0.386) and the duration of group formation (0.291) with the group's role as a forum for cooperation has a weak correlation. The correlation of the number of members (0,211) and the role of groups as production units has a weak correlation. The old relationship of group formation (0.192) and the role of the group as a unit of production have no real correlation.
2373926877J1B015033TOPONIMI DALAM OBJEK WISATA ALAM DI KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini berjudul "Toponimi dalam Objek Wisata Alam di Kabupaten Banyumas". Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk, makna dan latar belakang penamaan yang terdapat pada nama-nama tempat wisata alam di Kabupaten Banyumas. Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data pada penelitian ini adalah seluruh nama tempat wisata alam yang terdaftar di Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata, Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode cakap dan simak. Metode cakap diwujudkan dalam teknik dasar yaitu teknik pancing, sedangkan teknik lanjutannya adalah teknik cakap bertemu muka dan cakap tak bertemu muka. Pada metode simak diwujudkan dengan teknik dasar teknik sadap, sedangkan teknik lanjutannya yaitu teknik simak libat cakap. Penerapan dari kedua metode tersebut disertai dengan teknik rekam dan teknik catat. Analisis data yang dilakukan dengan menggunakan metode padan, yaitu padan intralingual dan ekstralingual. Metode padan diwujudkan dengan teknik dasar dan teknik lanjutan. Teknik dasarnya adalah teknik pilah unsur penentu, sedangkan teknik lanjutannya adalah teknik hubung banding menyamakan hal pokok. Penyajian hasil analisis data pada penelitian ini menggunakan metode penyajian formal dan informal.
Hasil penelitian di lapangan data diperoleh sebanyak 26 (dua puluh enam) nama tempat wisata alam di Kabupaten Banyumas. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, bentuk toponimi pada tempat wisata alam di Banyumas terdapat tiga bentuk toponimi yaitu 1 frasa endosentrik koordinatif, 23 frasa endosentrik atributif, dan 2 kata majemuk. Kedua, makna pada toponimi tempat wisata alam di Kabupaten Banyumas meliputi makna referensial dan kontekstual yang diperoleh berdasarkan pendapat atau keterangan informan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui 18 makna referensial dan 9 makna kontekstual. Ketiga, terdapat dua jenis penamaan yang digunakan pada toponimi tempat wisata alam di Kabupaten Banyumas yaitu 26 penyebutan sifat khas dan 1 penemu dan pembuat. Keempat, terdapat penggunaan aspek topinimi yaitu 18 menggunakan aspek fisik dan 8 menggunakan aspek sosial. Kelima, terdapatnya 10 penggunaan unsur generik (umum), dan 24 menggunakan unsur spesifik (khusus).
This research is entitled "Toponimi dalam Objek Wisata Alam di Kabupaten Banyumas". This study aims to describe the form, meaning and background of the naming contained in the names of natural tourist attractions in Banyumas Regency. The form of this research is qualitative descriptive. The data sources in this study are all names of natural tourist attractions registered at the Department of Youth, Sports, Culture and Tourism, Banyumas Regency. The method used to collect data is the proficient method and see. Capable method is manifested in basic techniques, namely fishing techniques, while the advanced technique is the technique capable of meeting face to face and capable of not meeting face to face. The referral method is realized by the basic technique of tapping technique, while the follow-up technique is skillful listening. The application of the two methods is accompanied by recording and recording techniques. Data analysis is carried out using the equivalent method, which is intralingual and extralingual. The matching method is realized by basic techniques and advanced techniques. The basic technique is the sorting technique of the determining element, while the advanced technique is the comparative connection technique that equates the main thing. Presentation of the results of data analysis in this study using formal and informal presentation methods.
The results of the research in the data field were obtained as many as 26 (twenty six) names of natural tourist attractions in Banyumas Regency. Based on the results of the data analysis carried out several things can be concluded. First, the form of toponymy in natural tourist attractions in Banyumas consists of three toponymy forms, namely 1 coordinative endocentric phrases, 23 attributive endocentric phrases, and 2 compound words. Second, the meaning of the toponymy of natural tourist attractions in Banyumas Regency includes referential and contextual meanings obtained based on the opinions or information of the informant. Based on the results of the study it was found that 18 referential meanings and 9 contextual meanings. Third, there are two types of naming used in the toponymy of natural tourist attractions in Banyumas Regency, namely 26 mention of distinctive characteristics and 1 inventor and maker. Fourth, there is the use of topimi aspects, namely 18 using physical aspects and 8 using social aspects. Fifth, there are 10 common elements and 24 spesific elements.
2374026878G1B012002HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP
PENGGUNAAN LAPTOP PADA MAHASISWA
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN++++++++++
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP PENGGUNAAN LAPTOP PADA MAHASISWA JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
Tri haryani(1), Nur Ulfah(2), Siti Harwanti(3)
(1)Mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman
(2,3)Dosen Peminatan K3 Jurusan Kesehatan Masyaakat Universitas Jenderal Soedirman
Latar Belakang: Banyak mahasiswa menggunakan laptop tanpa mempunyai pengetahuan yang baik mengenai cara penggunaan laptop terutama terkait dengan aspek ergonominya. Dampak sikap penggunaan laptop yang tidak baik bagi penggunanya adalah gangguan kesehatan pada pengguna itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan sikap penggunaan laptop pada mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik kuantitatif secara crossectional. Populasi berjumlah 465 mahasiswa dengan sampel 85 yang dipilih secara Proportional Random Sampling. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat (Chi square).
Hasil : Hasil penelitian menyatakan responden memiliki pengetahuan baik 55,3 %, dan 52,9% sikap tidak mendukung dalam penggunaan laptop. Hasil uji bivariat menyatakan mahasiwa memiliki pengetahuan buruk dengan sikap tidak mendukung (76,3%) lebih besar dibandingan dengan mahasiswa yang pengetahuan baik dengan sikap mendukung (66%). Uji chi square menunjukan p-value 0,000 (<0,05).
Simpulan: Ada hubungan antara pengetahuan dengan sikap penggunaan laptop pada mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman
Saran : Diadakan penyuluhan secara langsung kepada mahasiswa tentang penggunaan laptop yang benar untuk memberikan pengetahuan dan kesadaran akan sikap mahasiswa dalam menggunaan laptop
ABSTRACT
Background: Many students use laptops without having good knowledge about how to use laptops related to ergonomic aspects, The impact of the attitude of using a laptop that is not good for its users is a health disorder on the user himself. The purpose of this research is to know the correlation between knowledge and attitude to use laptop in students of Public Health, Jenderal Soedirman University
Methods: This study uses a quantitative analytic cross-sectional design.The population of 465 students with a sample of 85 respondents selected by Proportional Random Sampling. Data were collected by interview using a questionnaire. Data analysis was carried out in stages including univariate analysis and bivariate (Chi square).
Results: The results of the study stated that respondents had 55.3% bad knowledge about laptops, and 52.9% of attitudes did not support the use of laptops. Bivariate test results stated that students have bad knowledge with an attitude of non-support (76,3%) is greater than students who have good knowledge with a supportive attitude (66%). Chi square test showed a p-value of 0.000 (<0.05).
Conclusion: There is a correlation between knowledge and attitute in the students of Majoring Public Health, Jenderal Soedirman University.
Suggestion: Direct counseling was held to students about the correct use of laptops to provide knowledge and awareness of student attitudes in using laptop.