Artikelilmiahs
Menampilkan 23.681-23.700 dari 50.262 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 23681 | 26831 | B1K014035 | Isolation and Characterization of Plant Growth Promoting Rhizobacteria from Ipomoea sp. Rhizospheres Growing in Iron Sand Soil | Iron sand field, is mostly found along the Indonesia coast. It has low organic matter, contains 38-59% iron (Fe) and sand particles. These characteristics can be called as extreme environments, however there are bacteria capable of growing and surviving in such habitats. Several genera are known as PGPR agents such as Rhizobium, Azospirillum, Azotobacter and Pseudomonas. The research objectives were to measure total population of bacteria from rhizosphere of Ipomoea sp. in iron sand soils, to investigate the ability of bacterial isolates capable of fixing nitrogen, solubilizing phosphate, and producing plant growth hormone such as IAA, and to identify plant growth promoting rhizobacteria isolated from plant rhizospheres candidates growing in iron sand soils. Isolation on NA medium showed that the population were ranged from 1.59 x 105 to 5.2 x 105 CFU.g-1. There were 22 bacterial isolates originated from the media of Ashby, Caceres, and Pikovskaya. Six isolates (A4, A10, C10, P2, P3, and P4) showed high ability to fix nitrogen, solubilize phosphate, and produce IAA. Isolate P4 grew in nitrogen fixing and phosphate solubilizing assay as well as IAA producing. It showed high value of phosphate index (275 mm). Bacterial identification indicated that four isolates (C10, P2, P3, P4) were species members of genus Bacillus and two isolates (A4, A10) were identified as species members of Actinomycetes. | Iron sand field, is mostly found along the Indonesia coast. It has low organic matter, contains 38-59% iron (Fe) and sand particles. These characteristics can be called as extreme environments, however there are bacteria capable of growing and surviving in such habitats. Several genera are known as PGPR agents such as Rhizobium, Azospirillum, Azotobacter and Pseudomonas. The research objectives were to measure total population of bacteria from rhizosphere of Ipomoea sp. in iron sand soils, to investigate the ability of bacterial isolates capable of fixing nitrogen, solubilizing phosphate, and producing plant growth hormone such as IAA, and to identify plant growth promoting rhizobacteria isolated from plant rhizospheres candidates growing in iron sand soils. Isolation on NA medium showed that the population were ranged from 1.59 x 105 to 5.2 x 105 CFU.g-1. There were 22 bacterial isolates originated from the media of Ashby, Caceres, and Pikovskaya. Six isolates (A4, A10, C10, P2, P3, and P4) showed high ability to fix nitrogen, solubilize phosphate, and produce IAA. Isolate P4 grew in nitrogen fixing and phosphate solubilizing assay as well as IAA producing. It showed high value of phosphate index (275 mm). Bacterial identification indicated that four isolates (C10, P2, P3, P4) were species members of genus Bacillus and two isolates (A4, A10) were identified as species members of Actinomycetes. | |
| 23682 | 26832 | B2A015006 | KONTAMINAN Staphylococcus aureus DAN DETEKSI GEN PENYANDI STAPHYLOCOCCAL ENTEROTOKSIN A (SEA) PADA SUSU SAPI | Abstrak Produk peternakan seperti susu mempunyai nilai gizi yang sangat tinggi. Nilai gizinya yang tinggi menyebabkan susu menjadi media pertumbuhan mikroorganisme. Salah satu bakteri patogen yang umum susu sapi antara lain Staphylococcus aureus. Konsumsi makanan maupun minuman yang mengandung bakteri S. aureus dapat mengakibatkan keracunan makanan. S. aureus dapat menghasilkan berbagai macam enterotoksin tetapi dari kasus wabah keracunan yang pernah terjadi, Staphylococcal Enterotoksin A (SEA) adalah yang paling sering ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi adanya kontaminasi S. aureus dan keberadaan gen penyandi SEA pada susu sapi siap konsumsi. Sampel yang digunakan dalam penelitian diambil dari tempat kedai penjualan susu sapi siap konsumsi di seputaran Kota Kediri. Metode penelitian meliputi identifikasi dan penghitungan jumlah S. aureus serta amplifikasi gen penyandi SEA menggunakan forward primer TCATTGCCCTAACGTTGACA dan reverse primer GCCATAAATTGATCGGCACT dengan produk PCR sepanjang 432 bp. Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 5 isolat dari 25 sampel susu sapi terkontaminasi S. aureus dan gen penyandi SEA tidak terdeteksi pada semua isolat S. aureus tersebut. Meskipun S. aureus yang berhasil diidentifikasi tidak membawa gen SEA, tetapi masih ada potensi bakteri ini menyandi gen enterotoksin yang lain sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mendeteksi gen enterotoksin S. aureus selain gen SEA. Kata Kunci : Staphylococcus aureus, Gen penyandi Staphylococcal Enterotoksin A (SEA), Susu Sapi. | Abstract Livestock products such as milk have very high nutritional value. Its high nutritional value causes milk to become a good medium for growth of microorganisms. One of the common pathogenic bacteria in cow's milk is Staphylococcus aureus. Consumption of food and beverages that contain S. aureus can lead to food poisoning. S. aureus is able produce various types of enterotoxins, but from cases of food poisoning outbreaks that have occurred, Staphylococcal Enterotoxin A (SEA) was the most frequently found. This study aimed to detect the presence of S. aureus contamination and SEA-encoding gene in ready-to-consume cow's milk. Samples used in the study were taken from the shop which sold ready-to-consume cow's milk in Kediri City. Research methods included identification and counting of the number of S. aureus and amplification of SEA-encoding gene using forward primer TCATTGCCCTAACGTTGACA and reverse primer GCCATAAATTGATCGGCACT with PCR products of 432 bp. Based on the results of the study, 5 out of 25 samples of cow's milk were contaminated with S. aureus and SEA encoding genes were not detected in all S. aureus isolates. Although all S. aureus isolates that have been identified did not carry the SEA gene, but there is still the potential for this bacteria to encode other enterotoxin genes so that further research is needed to detect other S. aureus enterotoxin genes. Key Words : Staphylococcus aureus, Staphylococcal Enterotoksin A (SEA) Coding gene, Cow’s milk | |
| 23683 | 26833 | I1D015049 | PENGARUH SUHU, WAKTU TUNGGU DAN KEBERSIHAN ALAT MAKAN TERHADAP JUMLAH E.Coli PADA FORMULA CAIR | Abstrak PENGARUH SUHU, WAKTU TUNGGU DAN KEBERSIHAN ALAT MAKAN TERHADAP JUMLAH E.Coli PADA FORMULA CAIR KOMERSIAL DAN FORMULA CAIR NON KOMERSIAL Riza Fatimah, Friska Citra Agustia, Dika Betaditya Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman Latar Belakang : Pada saat makanan cair mengalami waktu tunggu, terjadi perubahan suhu dan perubahan total bakteri. Makanan yang disimpan dan dibiarkan lebih dari 1 jam tanpa adanya pengaturan suhu dapat meningkatkan risiko cemaran mikroba. Proses penyajian makanan dan keadaan alat makan yang digunakan dapat mempengaruhi kualitas makanan yang disajikan, serta banyaknya jumlah kuman yang terdapat pada peralatan makan dapat disebabkan oleh berbagai sumber kontaminan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu, waktu tunggu dan kebersihan alat makan terhadap jumlah E.Coli pada formula cair komersial dan formula cair non komersial. Metodologi : Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian pre eksperimental dengan desain One¬-Shot Case Study. Sampel penelitian ini yaitu formula cair komersial yaitu formula cair merk P sebanyak 6 sampel dan formula cair non komersial yaitu formula sonde TKTP sebanyak 6 sampel, serta sampel alat makan yaitu gelas sebanyak 3 sampel. Pengujian E.Coli menggunakan Uji MPN, pengujian total kuman menggunakan Uji ALT, dan pengujian kebersihan alat makan menggunakan Uji Usap Alat Makan. Hasil : Selama waktu tunggu, terjadi penurunan suhu di seluruh sampel. Hasil pengujian pada seluruh sampel didapatkan hasil jumlah E.Coli yaitu 0/100 ml contoh uji, hasil pengujian angka kuman yaitu 0 CFU/ml, dan hasil pengujian total angka kuman pada alat makan yaitu 0 CFU/cm2 pada seluruh sampel. Kesimpulan : Tidak ada pengaruh suhu, waktu tunggu, dan kebersihan alat makan terhadap jumlah E.Coli pada formula cair komersial dan formula cair non komersial. Kata kunci : E.Coli, Suhu, Waktu Tunggu, Kebersihan Alat Makan | Abstract EFFECT OF TEMPERATURE, HOLDING TIME AND HYGIENE OF FOOD UTENSILS TO TOTAL E.COLI IN COMMERCIAL LIQUID FORMULA AND NON-COMMERCIAL LIQUID FORMULA Riza Fatimah, Friska Citra Agustia, Dika Betaditya Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman Background : When liquid food is in holding time, changes in temperature and changes in total bacteria occur. Foods stored and left for more than 1 hour without temperature regulation can increase the risk of microbial contamination. The process of serving food and the state of food utensils used can affect the quality of the food served, as well as a large number of germs found in tableware, which can be caused by various sources of contaminants. This study aims to determine the effect of temperature, holding time and hygiene of food utensils on the amount of E. coli in commercial liquid formulas and non-commercial liquid formulas. Methods : The research method used is a pre-experimental research method with One-Shot Case Study design. The sample of this research is a commercial liquid formula, which is liquid formula P as many as 6 samples and non-commercial liquid formula TKTP as many as 6 samples, and food utensils samples are glass as many as 3 samples. Testing E. Coli using the MPN Test, total germ testing using the ALT Test, and hygiene of food utensils testing using the Swab Test. Results : During the holding time, there was a decrease in temperature in all samples. The test results on all samples obtained the amount of E.Coli is 0/100 ml of the test sample, the results of testing the number of germs are 0 CFU/ml, and the results of testing the number of germs on the food utensils is 0 CFU/cm2 in all samples. Conclusion : There is no effect of temperature, holding time, and hygiene of food utensils on the amount of E.Coli in commercial liquid formulas and non-commercial liquid formulas. Key words : E. Coli, Temperature, Holding Time, Hygiene Of Food Utensils | |
| 23684 | 26834 | B1B015014 | AGGLUTINATION CAPABILITY OF BLOOD EXPOSED TO DIFFERENT FABRICS AT VARIOUS EXPOSURE TIMES | Noda darah adalah salah satu jejak biologis yang sebagian besar dan penting ditemukan di TKP, yang biasanya disimpan pada pakaian yang dikenakan oleh korban dan / atau tersangka dalam bentuk kering. Darah kering telah mengalami hemolisis sementara antigen diasumsikan tetap meskipun sel darah rusak. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki, mengidentifikasi dan menguji efek dari kain yang berbeda (sebagai substrat), berbagai waktu paparan darah, dan lokasi sampel yang berbeda pada kemampuan aglutinasi darah, serta, untuk mengevaluasi interaksi antara substrat, paparan waktu, dan lokasi sampel pada kemampuan aglutinasi darah. Sampel darah yang digunakan diendapkan pada kain yang berbeda termasuk kapas, denim, linen, dan poliester yang terpapar hingga 144 jam dalam kondisi indoor dan outdoor. Kemampuan aglutinasi darah diperiksa menggunakan uji absorpsi-elusi dan dihasilkan hasil di mana denim adalah kain terbaik untuk menjaga dan memulihkan darah dan antigen hingga 144 jam. Selanjutnya, tiga jenis kain lainnya ditemukan mempengaruhi kemampuan aglutinasi darah setelah terpapar pada kondisi luar ruangan selama lebih dari 96 jam. | Bloodstain is one of the biological traces mostly and importantly found at the crime scenes, which is usually deposited on the clothing worn by the victim and/or the suspect in the form of dry form. The dried blood has undergone hemolysis meanwhile the antigen is assumed to remain even if the blood cell is damaged. This research was aimed to investigate, identify and examine the effect of different fabrics (as substrate), various blood exposure times, and different sample locations on the agglutination capability of blood, as well as, to evaluate the interactions between the substrate, the exposure time, and the sample location on the agglutination capability of blood. The blood samples used were deposited on different fabrics including cotton, denim, linen, and polyester exposed up to 144 hours under indoor and outdoor conditions, respectively. Agglutination capability of blood was examined using absorption-elution assay and were generated results in which denim was the best fabric for preserving and recovering blood and antigen up to 144 hours. Furthermore, the other three fabric types were found to influence the agglutination capability of blood after exposure to outdoor conditions for more than 96 hours. | |
| 23685 | 26839 | B1A015070 | PENGARUH PEMBERIAN INOKULUM FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) CAMPURAN TERHADAP INTENSITAS PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG PADA VARIETAS TANAMAN TOMAT (Solanum lycopersicum) YANG BERBEDA | Tomat (Solanum lycopersicum) merupakan tanaman hortikultura dari keluarga Solanaceae yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat dan bernilai ekonomi tinggi. Tanaman ini banyak mengalami masalah salah satunya yaitu penyakit busuk pangkal batang oleh Sclerotium rolfsii. Penggunaan pestisida yang terus menerus akan menimbulkan bermacam-macam masalah kesehatan dan pencemaran lingkungan sehingga diperlukan alternatif lain untuk memecahan masalah ini. Penggunaan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) adalah salah satu alternatif untuk mengendalikan penyakit busuk pangkal batang. Inokulasi FMA ke tanaman tersebut dapat menurunkan penyakit busuk pangkal batang. Fungi mikoriza memiliki kemampuan untuk melakukan persaingan dengan S. rolfsii seperti kompetisi nutrisi, persaingan kolonisasi dan dapat meningkatkan serapan hara tanaman serta membantu tanaman menjadi lebih tahan terhadap penyakit. Varietas yang digunakan yaitu tomat ceri var. cerasiforme dan tomat plum var. roma. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh interaksi antara dosis FMA campuran dan varietas tanaman tomat serta dosis efektif FMA campuran dalam menekan intensitas penyakit busuk pangkal batang. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama adalah dosis FMA campuran (M) yang terdiri dari 5 taraf, yaitu 0, 5, 10, 15, dan 20; faktor kedua adalah varietas tanaman tomat (B) yang terdiri dari 2 taraf, yaitu tomat ceri dan tomat plum. Ulangan masing – masing 3 kali. Parameter utama yang diamati yaitu intensitas penyakit, sedangkan parameter pendukung yang diamati yaitu derajat infeksi, masa inkubasi, pH tanah, temperatur, dan kelembaban udara. Data yang diperoleh dianalisis mengunakan Uji ragam dengan Standar Kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh interaksi antara dosis FMA campuran dan varietas tanaman tomat. Dosis FMA campuran yang efektif untuk menekan intensitas penyakit busuk pangkal batang pada tanaman tomat ceri (Solanum lycopersicum) var. cerasiforme dan tomat plum (Solanum lycopersicum) var. roma adalah inokulasi FMA campuran 15g/tanaman. | Tomato (Solanum lycopersicum) is a horticultural crop of the Solanaceae family that is widely used by people and has high economic value. This plant has many problems, one of which is stem rot disease by Sclerotium rolfsii. The continued use of pesticides will cause a variety of health problems and environmental pollution, so other alternatives are needed to solve this problem. The use of Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) is one alternative to controlling stem rot disease. Inoculation of AMF to these plants can reduce stem rot disease. Mycorrhizal fungi have the ability to compete with S. rolfsii such as nutrition competition, colonization competition and can increase plant nutrient uptake and help plants become more resistant to disease. The varieties used are cherry var tomatoes. cerasiforme and plum var tomatoes. Rome. The purpose of this study was to determine the effect of interactions between mixed AMF doses and tomato plant varieties as well as effective AMF doses in suppressing the intensity of stem rot disease. This research uses an experimental method completely randomized design (CRD) factorial pattern. The first factor is the mixed AMF dose (M) consisting of 5 levels, namely 0, 5, 10, 15, and 20; the second factor is the variety of tomato plants (B) which consists of 2 levels, namely cherry tomatoes and plum tomatoes. Repeat 3 times each. The main parameters observed were the intensity of the disease, while the supporting parameters observed were the degree of infection, incubation period, soil pH, temperature, and humidity. The data obtained were analyzed using Variance Test with a Standard Error of 5%. The results showed that there was no interaction effect between mixed AMF doses and tomato plant varieties. The effective dose of AMF mixtures to suppress the intensity of stem rot disease in var cherry tomato (Solanum lycopersicum) plants. cerasiforme and plum tomato (Solanum lycopersicum) var. Rome is an inoculation of AMF mix of 15g / plant. | |
| 23686 | 26840 | B1A015052 | PENAMBAHAN Bifidobacterium sp. Bb2E UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS YOGHURT | Yoghurt merupakan produk pangan fungsional hasil fermentasi dari susu yang melibatkan peran bakteri asam laktat (BAL) Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophillus. Menurut beberapa penelitian terdapat BAL yang memiliki ketahanan lebih baik dalam saluran pencernaan manusia, yaitu Bifidobacterium sp.. Selain itu, Bifidobacterium sp. memiliki manfaat diantaranya adalah meningkatkan fungsi pencernaan, menurunkan kolestrol, sebagai antioksidan dan anti inflamasi, mengurangi gejala alergi, serta dianggap sebagai salah satu bakteri probiotik yang penting salam tubuh manusia. Tujuan dari penelitian adalah mengetahui pengaruh penambahan Bifidobacterium sp. Bb2E terhadap kualitas yoghurt dan mengetahui konsentrasi Bifidobacterium sp. Bb2E yang terbaik dari segi organoleptik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, sehingga terdapat 12 unit percobaan. Perlakuan yang diterapkan adalah perbandingan konsentrasi starter yoghurt yang berbeda dari BAL L. bulgaricus, S. thermophillus dan substitusi Bifidobacterium sp. Bb2E dengan perbandingan 2:2:0 (Y0), 2:2:1 (Y1), 2:2:2 (Y2), dan 2:2:3 (Y3). Variabel dalam penelitian ini, variabel bebas, yaitu konsentrasi Bifidobacterium sp. Bb2E dan variabel terikat, yaitu kualitas yoghurt. Parameter utama adalah kadar asam laktat. Parameter pendukung, yaitu total BAL pada yoghurt, nilai pH, dan sifat organoleptik pada yoghurt. Data yang diperoleh diolah dengan Analysis of Variance (ANOVA) dengan taraf kesalahan 5%. Penambahan Bifidobacterium sp. Bb2E tidak memberi pengaruh nyata terhadap kualitas yoghurt dari segi kadar asam laktat, pH, dan total Bakteri Asam Laktat dan yoghurt dengan starter Lactobacillus bulgaricus : Streptococcus thermophillus : Bifidobacterium sp. Bb2E dengan perbandingan konsentrasi 2:2:3 merupakan yoghurt yang disukai konsumen dengan nilai rata-rata tertinggi pada uji organoleptik. | Yogurt is a functional food products that fermented from pure milk which involves the role of lactic acid bacteria (LAB) Lactobacillus bulgaricus and Streptococcus thermophillus. According to several researches Bifidobacterium sp. have benefits such as improving digestive function, lowering cholestrol, as antioxidant and anti-inflammatory, reduces allergy symptoms, and is considered one of the important probiotic bacteria regards the human body. The purpose of this research is to know the influence of addition of Bifidobacterium sp. Bb2E due to the quality of yoghurt and to know the best concentration of yogurt that modified by Bifidobacterium sp. Bb2E. The method used in this research was an experimental method with treatments arranged based on Completely Randomized Design The combination of Bifidobacterium sp. Bb2E starter (L. bulgaricus : S. thermophillus : Bifidobacterium sp. Bb2E) in various concentration were 2:2:0 (Y0), 2:2:1 (Y1), 2:2:2 (Y2), and 2:2:3 (Y3). The independent variable was the concentration of Bifidobacterium sp. Bb2E, while the dependent variable was the quality of yogurt. The main parameter was the levels of lactic acid and the supporting parameters with total of LAB on yogurt, pH value, and the organoleptic. Data was analysed using the Analysis of Variance (ANOVA) with 5% error level. The result showed that the addition of Bifidobacterium sp. Bb2E did not given real influence the quality of yoghurt. Organoleptic test showe that yogurt with 2:2:3 (Y3) starter concentration was preferred in taste, aroma, and homogeneity. | |
| 23687 | 26835 | B1B015017 | THE EFFECT OF CRYOPRESERVATION METHOD TO THE QUALITY OF BOVINE CUMULUS CELLS PRIMARY CULTURE | Sel kumulus adalah salah satu donor nucleus yang memenuhi kualifikasi untuk teknologi Somatic Cell Nuclear Transfer (SCNT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode yang sesuai untuk sel kumulus sapi dari kultur primer. Beberapa suhu beku yang digunakan adalah -20oC, -80oC, dan -196oC (N2 cair). Jenis cryoprotectants (CPs) yang digunakan adalah 10% Ethylene Glycol (EG) atau 10% Dimethyl Sulfoxide (DMSO) dalam Dulbecco's Phosphate Buffer Saline (DPBS) + 20% dari media New Born Calf Serum (NBCS). Evaluasi pasca thawing menunjukkan bahwa efisiensi viabilitas sel pada perlakuan -20oC secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan sel yang diberi perlakuan -196oC. Efisiensi viabilitas sel tertinggi diperoleh pada sel yang disipan di kriomedium yang mengandung 10% DMSO pada suhu -196oC. Sel yang diberi perlakuan -80oC dan -196oC post-thawed mampu melekat pada substrat pada hari ke-2 kultur. Namun, mereka menunjukkan konfluensi sel yang rendah (9% - 18,75%). Konfluensi sel tertinggi diperoleh pada sel yang disimpan di -80oC dalam kriomedium yang mengandung 10% EG. Kesimpulannya, suhu -80oC dan -196oC dengan 10% DMSO atau 10% EG CP sesuai untuk kriopreservasi kultur primer sel kumulus. | Cumulus cell is one of the suitable donor nuclear for Somatic Cell Nuclear Transfer (SCNT) technology. This study was aimed to find out the suitable method for primary cultured bovine cumulus cells. The different freezing temperatures used were -20oC, -80oC, and -196oC (liquid N2). The types of cryoprotectants (CPs) used were 10% of Ethylene Glycol (EG) or 10% of Dimethyl Sulfoxide (DMSO) in Dulbecco’s Phosphate Buffer Saline (DPBS) + 20% of New Born Calf Serum (NBCS) medium. Post-thawing evaluation showed that the viability efficiency of -20oC treated cells was significantly lower compared to -196oC treated cells. The highest cell viability efficiency was obtained by preserving the cells in cryomedium containing 10% DMSO at -196oC. Post-thawed cells of -80oC and -196oC treatment capable to attach on the substrate on day-2 of culture. However, they showed low cell confluency (9% - 18.75%). The highest confluency was obtained on the cell stored -80oC in cryomedium containing 10% EG. In conclusion, temperature of -80oC and -196oC with 10% DMSO or 10% EG CP were suitable for cumulus cells primary culture cryopreservation. | |
| 23688 | 26836 | B1B015009 | BIO-PULPING OF BAGASSE AS THE MATERIAL FOR PAPER MAKING USING DIFFERENT SPECIES OF WHITE ROT FUNGI AND INCUBATION TIME | Biopulping didefinisikan sebagai proses biologis degradasi lignin dengan memanfaatkan mikroorganisme. Mikroorganisme yang sudah dikenal dalam mendegradasi lignin dan selulosa adalah sekelompok jamur pelapuk putih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies jamur pelapuk putih paling efektif dari G.lucidum, P.tuber-regium, dan T.versicolor dalam degradasi lignin dan selulosa dengan waktu inkubasi yang berbeda pada substrat ampas tebu. Efektivitas biopulping ditunjukkan oleh degradasi kadar lignin tertinggi dan degradasi kadar selulosa terendah. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap dengan pola dua faktorial. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah jenis jamur pelapuk putih dan waktu inkubasi sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah kadar lignin dan selulosa. Parameter utama adalah kadar lignin dan selulosa, sedangkan parameter pendukungnya adalah pH, penurunan berat substrat dari bagasse dan pertumbuhan miselium. Hasil penelitian menunjukkan degradasi lignin dan selulosa pada semua perlakuan, degradasi lignin dan selulosa terbaik ditunjukkan oleh spesies T.versicolor dan P.tuber-regium dalam waktu 30 hari setelah inkubasi. | The Biopulping is defined as the biological process of lignin degradation by utilizing microorganisms that produce some enzymes. A microorganism which widely known in the degradation of lignin and cellulose is a group of white rot fungi. The aims for this research to know the most effective white rot fungi species of G.lucidum, P.tuber-regium, and T.versicolor in degradation lignin and cellulose concentration with different incubation time on bagasse substrate. The effectivity of biopulping indicated by the highest degradation of lignin concentration and the lowest degradation of cellulose concentration. This study used an experimental design with Completely Randomized design with a two factorial pattern. The independent variable of this study is white rot fungi species and incubation time while the dependent variable is the concentration of lignin and cellulose. The main parameter was the concentration of lignin and cellulose, supporting parameter was pH, weight loss of substrate and mycelial growth. The result showed the degradation of lignin and cellulose in all treatment, the best degradation of lignin and cellulose showed by species T.versicolor and P.tuber-regium within 30 days of incubation. | |
| 23689 | 26837 | B1A015087 | Kekayaan Spesies dan Hubungan Kekerabatan Ikan Hias Familia Acanthuridae di Pantai Ujung Genteng Sukabumi dan Taman Manalusu Garut, Jawa Barat | Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, termasuk di dalamnya keanekaragaman ikan hias terumbu karang. Komunitas ikan merupakan salah satu komponen utama dari terumbu karang dan mempunyai peranan penting pada ekosistem terumbu karang. Familia Achanturidae termasuk salah satu familia ikan yang mendominasi terumbu karang. Familia Acanthuridae terdiri atas 6 genera yaitu Naso, Prionurus, Paracanthurus, Zebrasoma, Acanthurus, dan Ctenochaetus. Belum pernah ada penelitian yang mengkaji hubungan kekerabatan anggota Familia Acanthuridae dari kedua daerah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah menyediakan informasi mengenai hubungan kekerabatan antara spesies ikan hias dari Familia Acanthuridae di Pantai Ujung Genteng Sukabumi dan Taman Manalusu Garut, Jawa Barat. Variabel utama yang diamati dalam penelitian ini adalah hubungan kekerabatan ikan hias Familia Acanthuridae dari Pantai Ujung Genteng Sukabumi dan Taman Manalusu Garut, Jawa Barat dengan parameter yang digunakan adalah jumlah spesies dan jumlah individu setiap spesies serta hubungan kekerabatan antar spesies ikan anggota Familia Acanthuridae. Data deskripsi morfologi, meristik, dan morfometrik dianalisis dengan cara membandingkan data yang didapatkan dengan karakter yang terdapat dalam Allen & Erdmann (2012). Hubungan kekerabatan dianalisis melalui rekonstruksi pohon filogeni berdasarkan pada algoritma maximum parsimony dalam software PAUP dengan ulangan sebanyak 1000 pseudoreplicates. Hubungan kekerabatan diantara Familia Acanthuridae menunjukkan bahwa Naso brevirostris dan Naso lituratus merupakan basal group sementara Acanthurus lineatus, A. triostegus, A. guttatus, A. maculiceps, A. nigrofuscus, A. nigricauda, A. nigricans, A. xanthopterus, and Acanthurus sp. merupakan kelompok spesies yang paling maju. | Indonesia is a country with a high biodiversity, including the diversity of the coral reef ornamental fishes. Fishes community was one of the main component of the coral reef and has an important role to the coral reef ecosystem. Acanthuridae was one of the family from the ornamental fishes that commonly found in the coral reef ecosystem. The Acanthuridae consists of 6 genera including Naso, Prionurus, Paracanthurus, Zebrasoma, Acanthurus, and Ctenochaetus. There has never been a study that examined the phylogenetic relationship of the Acanthuridae family in both area. The purpose of this study is to provide an information about the phylogenetic relationship beetwen the ornamental fishes from the Acanthuridae family at Ujung Genteng Beach Sukabumi and Taman Manalusu Beach Garut, West Java. The main variables that considered in this study were the phylogenetic relationship of the ornamental fishes from the Acanthuridae family at Ujung Genteng Beach Sukabumi and Taman Manalusu Beach Garut, West Java. The parameter used in this study were the phylogenetic relationship between the Acanthuridae family. Morphological description, meristics, and morphometrics data was done by comparing those data with several characters that mentioned in Allen & Erdmann (2012). Phylogenetic relationship was analyzed based on the phylogenetic tree based on the parsimony algorithm in software PAUP with 1000 pseudoreplicates. The phylogenetic tree of the Acanthuridae family shows that Naso brevirostris and Naso lituratus represents basal group, while Acanthurus lineatus, A. triostegus, A. guttatus, A. maculiceps, A. nigrofuscus, A. nigricauda, A. nigricans, A. xanthopterus, and Acanthurus sp. are the most advanced species. | |
| 23690 | 26838 | B1A015055 | PREFERENSI RAYAP (ISOPTERA: TERMITIDAE) PADA BERBAGAI TONGGAK POHON DI KAWASAN CAGAR ALAM BANTARBOLANG PEMALANG JAWA TENGAH | Termite family Termitidae is a type of wood-eating termites, humus, or materials consisting of cellulose. This familia termite has a role in helping the ecosystem as a decomposer by destroying wood or other organic material and returning it as nutrients to the soil. Preference or prefer food sources that exist in the environment, influential in supporting the development of termites. The purpose of this study is to find out the type of wood that is a food preference for termites and species of the termite family Termitidae in the Bantarbolang Pemalang Nature Reserve in Central Java. This research was conducted at the Bantarbolang Nature Reserve located in the Kebon Gede Village Area, Bantarbolang District, Pemalang Regency, Central Java. The research method used survey method with termite sampling technique on the milestone paying attention to the depth of entering the forest (0 m, 50 m, 100 m, 150 m and 200 m) from the edge of the forest and paying attention to the age of the post since cutting trees. Termite species were taken on teak (Tectona grandis), Wangkal (Albizia procera), and Mahoni (Switenia marcrophilla) stakes found in areas of 0 m to 200 m. The data obtained were analyzed using analysis of variance (ANOVA). The termites taken are inserted into vial bottles containing 70% alcohol and all termite colonies are counted to determine the number of individual termites. Measurement of environmental parameters include temperature, humidity, soil pH, canopy cover and light intensity. The results obtained by a species of termite Macrotermes gilvus familia Termitidae. The results of data analysis using the f test on teak (Tectona grandis), Wangkal (Albizia procera), and Mahoni (Switenia marcrophilla) milestones show that the significance value is > 0.05, which means the age of the milestone and the distance of the milestone from the forest edge do not affect significantly to the presence of Macrotermes gilvus termites on these wooden posts. The conclusion of this study is that the preferences of Macrotermes gilvus termites for various wooden stakes in the Bantarbolang Nature Reserve are not influenced by the age of the stakes and the distance of the wooden stakes from the edge of the forest. Keyword : Bantarbolang Nature Reserve, preferences, termites | Rayap familia Termitidae merupakan jenis rayap pemakan kayu, humus, atau bahan-bahan yang terdiri dari selulosa. Rayap Familia ini memiliki peran dalam membantu ekosistem sebagai dekomposer dengan cara menghancurkan kayu atau bahan organik lainnya dan mengembalikan sebagai hara ke dalam tanah. Preferensi atau lebih menyukai sumber makanan yang ada di lingkungannya, berpengaruh dalam mendukung perkembangan rayap.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jenis kayu yang menjadi preferensi makan rayap serta spesies rayap familia Termitidae di kawasan Cagar Alam Bantarbolang Pemalang Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan di Cagar Alam Bantarbolang yang terletak di Wilayah Desa Kebon gede, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Metode penelitian menggunakan metode survey dengan teknik pengambilan sampel rayap pada tonggak memperhatikan kedalaman masuk hutan (0 m, 50 m, 100 m, 150 m dan 200 m) dari tepi hutan dan memperhatikan umur tonggak sejak pemotongan pohon. Spesies rayap diambil pada tonggak kayu jati (Tectona grandis), Wangkal (Albizia procera), dan Mahoni (Switenia marcrophilla) yang terdapat pada area 0 m sampai 200 m. Data yang didapat di analisis menggunakan analisis of variance (ANOVA). Rayap yang diambil dimasukan kedalam botol vial yang berisi alkohol 70% dan seluruh koloni rayap dihitung untuk mengetahui jumlah individu rayap. Pengukuran parameter lingkungan meliputi temperatur, kelembapan udara, pH tanah, tutupan kanopi dan intensitas cahaya. Hasil penelitian didapat satu spesies rayap Macrotermes gilvus familia Termitidae. Hasil analisis data menggunakan uji f pada tonggak kayu jati (Tectona grandis), Wangkal (Albizia procera), dan Mahoni (Switenia marcrophilla) menunjukan bahwa nilai signifikasi adalah > 0,05, yang artinya umur tonggak dan jarak tonggak dari batas tepi hutan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kehadiran rayap Macrotermes gilvus pada tonggak kayu tersebut. Kesimpulan penelitian ini adalah preferensi rayap Macrotermes gilvus terhadap berbagai tonggak kayu pada Cagar Alam Bantarbolang tidak dipengaruhi oleh umur tonggak dan jarak tonggak kayu dari tepi hutan. Kata kunci: cagar alam Bantarbolang, preferensi, rayap | |
| 23691 | 27027 | A1C015025 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PETANI PADI DALAM PENGGUNAAN ALAT DAN MESIN PERTANIAN DI KABUPATEN BANYUMAS | Mekanisasi pertanian merupakan penggunaan teknologi mekanis dalam berbagai operasi usahatani dan kemudian mengambil alih tenaga manusia dan ternak dalam proses produksi pertanian. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi petani dalam menggunakan alsintan, sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor dan variabel yang mempengaruhi petani dalam penggunaan alsintan. Sebanyak 100 responden diwawancarai dengan menggunakan metode stratified sampling yang disebar di Kabupaten Banyumas. Analisis yang digunakan adalah analisis faktor yang bertujuan untuk mengidentifikasi faktor. Hasil penelitian menunjukkan 7 faktor yang mempengaruhi : a) pengetahuan dan keterbukaan perkembangan teknologi, b) informasi dan bantuan pemerintah, c) efisiensi pengelolaan tanaman, d) harga dan kemudahan perawatan alat, e) ketersediaan suku cadang dan bengkel alsintan, f) geografis dan infrastuktur, g) jenis alat. | Mechanization of agriculture is the use of mechanical technology in various farming operations and then takes over human and livestock power in the agricultural production process. There are several factors that can influence farmers in using Alsintan, so the purpose of this study is to find out the factors and variables that influence farmers in using Alsintan. A total of 100 respondents were interviewed using the stratified sampling method distributed in B anyumas Regency. The analysis used is factor analysis which aims to identify factors. The results showed 7 factors that influenced: a) Knowledge and Openness of Technology Development, b) Government Information and Assistance, c) Efficiency of Plant Management, d) Prices and Ease of Maintenance of Tools, e) Availability of Parts and Repair Shops, f) Geographical and Infrastructure, g) Type of Tool. | |
| 23692 | 26842 | B1K014008 | MOLECULAR PHYLOGENY OF TEDDY BEAR, SKYSCRAPER, LEMON QUEEN SUNFLOWER CULTIVARS AND COMMON SUNFLOWER USING RAPD MARKERS | Helianthus atau bunga matahari adalah genus tanaman yang terdiri dari sekitar 70 spesies. Bunga matahari dan anggota Helianthae lainnya dibudidayakan di daerah beriklim sedang dan beberapa daerah tropis sebagai tanaman pangan untuk manusia, sapi, dan unggas, dan sebagai tanaman hias. Bunga matahari bernilai dari sudut pandang ekonomi dan ornamental. Ada banyak kultivar bunga matahari termasuk Teddy Bear, Skyscraper, dan Lemon Queen. Variasi di antara kultivar ini dapat dipelajari menggunakan teknik molekuler dan hasilnya dapat digunakan untuk mengembangkan filogeni di antara mereka. Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) adalah salah satu teknik molekuler yang dapat digunakan untuk tujuan ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk filogeni dari tiga kultivar bunga matahari dan bunga matahari biasa berdasarkan penanda RAPD. Primer RAPD yang digunakan dalam penelitian ini adalah OPA-2, OPA-9, OPA-13, OPB-2, OPB-4, OPB5, OPB-7, dan OPB-11. RAPD adalah teknik dasar PCR yang memperkuat fragmen DNA dengan primer acak. Analisis data berdasarkan data molekuler menunjukkan bahwa Lemon Queen dan Skyscraper memiliki hubungan terdekat diikuti oleh Teddy Bear, dan Common sunflower. | Helianthus or sunflower is a genus of plants comprising about 70 species. Common sunflower and other member of Helianthae are cultivated in temperate regions and some tropical regions as food crops for humans, cattle, and poultry, and as ornamental plants. The common sunflower is valuable from an economic and ornamental point of view. There are many cultivars of sunflower including teddy bear, skyscraper, and lemon queen. Variation among these cultivars can be studied using molecular techniques and the result can be used to develop the phylogeny among them. Random Amplified DNA Polymorphism (RAPD) is one of molecular techniques that can be used for this purpose. The purpose of this study was to the phylogeny of three sunflower cultivars and common sunflower based on RAPD markers. Therefore, RAPD primers used in this study are OPA-2, OPA-9, OPA-13, OPB-2, OPB-4, OPB5, OPB-7, and OPB-11. RAPD is a PCR base technique which amplify DNA fragments with random primers. Data analysis based on molecular data showed that Lemon Queen and Skyscraper has the closest relationship followed by Teddy Bear, and Common sunflower at the farthest. | |
| 23693 | 29033 | D1A016090 | Pengaruh Penggunaan Berbagai Acidifier sebagai Feed Additive dalam Pakan yang Mengandung Probiotik terhadap Kadar Lemak dan Kolesterol Daging Ayam Broiler | Wira Adi Herlambang. Penelitian berjudul Pengaruh Penggunaan Berbagai Acidifier sebagai Feed Additive dalam Pakan yang Mengandung Probiotik terhadap Kadar Lemak dan Kolesterol Daging Ayam Broiler. Penelitian dilaksanakan di Experimental Farm Fakultas Peternakan, Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, dan Laboratorium Pertanian Terpadu Universitas Jenderal Soedirman. Materi yang digunakan meliputi ayam broiler strain CP 707 sebanyak 200 ekor. Penelitian ini terdiri dari 4 percobaan dan setiap percobaan diulang sebanyak 5 kali, setiap unit percobaan terdiri dari 10 ekor ayam. Percobaan yang dilakukan meliputi: R0: Pakan basal; R1: Pakan basal + 1% acidifier asam sitrat; R2: Pakan basal + 1% acidifier asam laktat; R3: Pakan basal + 1% acidifier asam format. Pengaruh perlakuan terhadap peubah respon, diuji menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), perlakuan yang berpengaruh nyata akan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata (P > 0,05) terhadap kadar lemak dan kadar kolesterol daging ayam broiler. Rataan kadar lemak bagian dada pada setiap perlakuan yaitu: R0: 2,751 ± 0,39%; R1: 3,187 ± 0,79%; R2: 2,584 ± 0,39%; R3: 3,029 ± 0,26% dan bagian paha: R0: 4,869 ± 2,11%; R1: 4,166 ± 2,04%; R2: 3,637 ± 0,93%; R3: 5,226 ± 2,34%, sedangkan rataan kadar kolesterol bagian dada setiap perlakuan yaitu: R0: 107,82 ± 34,06 mg/g; R1: 101,73 ± 42,19 mg/g; R2: 80,31 ± 17,13 mg/g; R3: 87,80 ± 19,95 mg/g dan bagian paha: R0: 114,67 ± 28,73 mg/g; R1: 105,70 ± 21,66 mg/g; R2: 95,03 ± 21,03 mg/g; R3: 130,40 ± 24,95 mg/g. Kesimpulannya yaitu jenis acidifier yang mampu menghasilkan kadar lemak dan kolesterol terendah adalah asam laktat. | Wira Adi Herlambang. The research titled The Influence of Various Uses of Acidifier as Feed Additive in Feed Containing Probiotics on Fat and Cholesterol Levels of Broiler Chicken Meat. The research was conducted at the Experimental Farm, Faculty of Animal Husbandry, Laboratory of Nutrition and Animal Feed Sciences, and the Integrated Agriculture Laboratory of Jenderal Soedirman University. The research used 200 day-old-chick CP 707 broiler chickens. The study has 4 treatments and each treatment was replicated by 5 times, each replication consisted of 10 chickens. The treatments are: R0: basal feed; R1: basal feed + 1% citric acid ; R2: basal feed + 1% lactic acid ; R3: Basal feed + 1% formic acid. The influence of treatment to the variable’s response, analyzed using Completely Randomized Design (CRD), the treatments that have significant effect will analyzed using Honestly Significant Difference test (HSD). The results showed that treatment not significantly effected (P > 0,05) to the fat and cholesterol levels of broiler chicken meat. The average fat level of breast part for each treatment is: R0: 2,75 ± 0,39%; R1: 3,18 ± 0,79%; R2: 2,58 ± 0,9%; R3: 3,03 ± 0,26% and thigh part is: R0: 4,87 ± 2,11%; R1: 4,17 ± 2,04%; R2: 3,64 ± 0,93%; R3: 5,23 ± 2,34%, and the average cholesterol level of breast part for each treatment is: R0: 107,82 ± 34,06 mg/g; R1: 101,73 ± 42,19 mg/g; R2: 80,31 ± 17,13 mg/g; R3: 87,80 ± 19,95 mg/g and thigh part is: R0: 114,67 ± 28,73 mg/g; R1: 105,70 ± 21,66 mg/g; R2: 95,03 ± 21,03 mg/g; R3: 130,40 ± 24.95 mg/g. The conclusion is the variance of an acidifier that can produce the lowest levels of fat and cholesterol is lactic acid. | |
| 23694 | 26844 | B1A015065 | PEMBERIAN INOKULUM FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) CAMPURAN TERHADAP KEMUNCULAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM PADA TANAMAN SEMANGKA [Citrullus lanatus (Thunb.) Matsum. & Nankai] BERBIJI DAN NON BIJI | Tanaman semangka (Citrullus lanatus) merupakan tanaman yang berasal dari wilayah kering Afrika Utara dan sekarang dibudidayakan di hampir seluruh wilayah dunia sebagai buah yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Upaya budidaya dan pemuliaan tanaman semangka menjadi sangat penting terutama yang berkaitan dengan ketahanan terhadap penyakit. Salah satu penyakit yang dominan pada tanaman semangka adalah penyakit layu fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum. Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dapat digunakan sebagai alternatif dalam mengendalikan penyakit layu fusarium. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dan dosis FMA campuran yang efektif dalam mengurangi intensitas penyakit layu Fusarium pada tanaman semangka berbiji dan non biji. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dosis berbeda dari inokulum FMA campuran (0, 5, 10, 15, 20 g) FMA dengan medium pembawa zeolit / tanaman. Parameter utama yang diamati adalah masa inkubasi penyakit dan intensitas penyakit, sedangkan parameter pendukung yang diamati adalah pH, suhu, kelembaban udara, dan derajat infeksi. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Uji ragam (uji F) dengan Standar Kesalahan 5%. Hasil yang signifikan dilanjutkan dengan Uji BNT dengan Standar Kesalahan 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pada pemberian inokulum FMA campuran dalam mengurangi intensitas penyakit layu Fusarium pada tanaman semangka berbiji dan non biji. Dosis yang efektif untuk mengurangi intensitas penyakit layu Fusarium adalah pemberian inokulum FMA campuran 10 g/tanaman pada tanaman semangka berbiji dan 15 g/tanaman pada tanaman semangka non biji. | Watermelon (Citrullus lanatus) is a plant originating from the dry region of North Africa and is now cultivated in almost all regions of the world as a fruit that has high economic value. Efforts to cultivate and breed watermelons become very important related to defense against disease. One of the dominant diseases in watermelon is fusarium wilt disease caused by Fusarium oxysporum. Mycorrhiza is a symbiotic mutualism between certain fungi and higher plants. Arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) can be used as an alternative in reducing fusarium wilt effect. The purpose of this research is to know the effect and effective dose of AMF mixture inoculum to reduce Fusarium wilt disease in seeded and seedless watermelon. This research used a completely randomized design (CRD) with different doses of mixed AMF inoculums (0, 5, 10, 15, 20 g) AMF with zeolite / plant carrier medium. The main parameters discussed are the disease intensity and disease incubation period, while the supporting parameters observed were pH, temperature, humidity, and degree of infection. The data obtained were analyzed using Variance Test (F test) with a Standard Error of 5%. The results of this research shows that there is effect of inoculation AMF mixture inoculum to reduce Fusarium wilt disease in seeded and seedless watermelon. The effective dose of AMF mixture to reduce the Fusarium wilt disease in seeded watermelon is inoculation AMF mixture dose 10 g / plant and inoculation AMF mixture dose 15 g/ plant in seedless watermelon. Keyword : Watermelon, Fusarium, Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) | |
| 23695 | 26841 | B1A015132 | Deteksi Virus Dengue dan Chikungunya pada Nyamuk Aedes spp. di Kecamatan Cilongok menggunakan Metode Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) | DBD dan chikungunya merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah di Indonesia. Kecamatan Cilongok merupakan salah kecamatan endemis DBD dan pernah mengalami KLB chikungunya. Deteksi virus pada nyamuk sebelum menginfeksi manusia penting sebagai peringatan dini dalam upaya pencegahan wabah di daerah endemis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui infeksi virus Dengue dan Chikungunya pada nyamuk Aedes spp. yang ditangkap. Penelitian ini dilakukan di empat desa di Kecamatan Cilongok yang meliputi Desa Cilongok, Pernasidi, Kalisari, dan Jatisaba, pengambilan sampel dilakukan secara purposive. Deteksi virus Dengue dan Chikungunya pada nyamuk dilakukan menggunakan metode Reverse-Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Hasil positifitas virus dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan potensi transmisi virus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nyamuk Aedes spp. yang tertangkap tidak mengandung virus Dengue dan Chikungunya. | Cilongok sub district is one of the dengue and chikungunya endemic area in Banyumas regency. Virus detection in mosquitoes before infecting humans is an early warning to prevent outbreaks in endemic areas. The purposes of this study is to determine dengue and chikungunya virus infections in Aedes spp. This study was conducted in four villages (Cilongok, Pernasidi, Kalisari, and Jatisaba) in Cilongok sub district. The samples in this study was collected purposively. Reverse-Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) was used to detect dengue and chikungunya viruses in mosquitoes.The result analyzed descriptively to estimate potential of virus transmissions in the Cilongok sub district. The result showed that the detection result from Aedes spp. mosquitoes in this study is negative. | |
| 23696 | 26845 | B1A015053 | KARAKTERISTIK MORFOLOGI IKAN BELANAK (Mugil cephalus & Valamugil seheli) DARI TPI TEGAL KAMULYAN, CILACAP JAWA TENGAH | Ikan Belanak memiliki keunikan pada bibir bagian atas lebih tebal daripada bagian bawah, namun antara ikan jantan dan betina masih sulit dibedakan secara morfologinya. Ikan belanak tidak menunjukkan adanya dimorfisme seksual secara jelas, sehingga identifikasi jenis kelamin perlu dilakukan penelitian dengan teknik morfometrik yang telah banyak dibuktikan mampu mengidentifikasi perbedaan jantan dan betina pada populasi ikan. Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu: (1) Dapatkah karakter morfologi digunakan sebagai dasar pembeda jenis kelamin ikan belanak (Mugil cephalus dan Valamugil seheli). (2) Karakter morfologi manakah yang dapat digunakan untuk membedakan ikan jantan dan betina. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) Mengetahui perbedaan jenis kelamin ikan belanak (Mugil cephalus dan Valamugil seheli) berdasarkan performa, truss morfometrics, morfometrik standard dan meristik. (2) Mengetahui karakter morfologi yang dapat digunakan untuk membedakan jenis kelamin ikan belanak (Mugil cephalus dan Valamugil seheli) jantan dan betina. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, dan sampel diambil dengan teknik purposive random sampling yaitu sampel dipilih secara khusus sesuai dengan tujuan penelitian. Variabel yang diamati yaitu peforma morfologi, morfometrik standar, meristik dan truss morphometrics. Data hasil pengamatan performa morfologi dan meristik dianalisis secara deskriptif. Data pengukuran morfometrik dan truss morphometrics dianalisis dengan menggunakan uji ‘t’. Hasil penelitian menunjukan bahwa ikan belanak yang di perdagangkan di TPI Tegal Kamulyan Cilacap Jawa Tengah terdapat dua spesies yakni, Mugil cephalus dan Valamugil seheli. Karakter morfologi dapat mengidentifikasi jenis kelamin ikan belanak (Mugil cephalus dan Valamugil seheli). | Mullets fish has a uniqueness which the upper lip is thicker than the bottom lip, but between male and female fish is still difficult to distinguish morphologically. Mullet fish does not show obvious sexual dimorphism, so the gender identification needs to be done with morphometric research that has been proven to be able to identify differences in male and female in fish populations. Based on description above, the problems that needs to find out in this research are: (1) Can morphological characters be used as a basis for sex differentiation of mullet fish (Mugil cephalus and Valamugil seheli). (2) Which morphological characters can be used to distinguish male and female fish. Based on these problems, the objectives of this study are to: (1) Determine the gender differences in mullets (Mugil cephalus and Valamugil seheli) based on morphological performance, morphometric in truss, standard and meristic. (2) Knowing the morphological characteristics that can be used to distinguish the sex of mullet fish (Mugil cephalus and Valamugil seheli) male and female. The method used in this study was survey method. The sample was taken by purposive random sampling technique that the sample was specifically chosen according to the purpose of the study. The variables observed were performance morphology, standard morphometrics, meristic and truss morphometrics. The data of morphological and meristic performance observation were analyzed descriptively. Morphometric and truss morphometrics measurement data were analyzed using the 't' test. The results showed that there were two species of Mulletfish, named Mugil cephalus and Valamugil seheli, traded at TPI Tegal Kamulyan Cilacap Jawa Tengah. Morphological characters could identify male and female of mullet fish (Mugil cephalus and Valamugil seheli). | |
| 23697 | 26846 | B1A015081 | DETEKSI MOLEKULER VIRUS CHIKUNGUNYA PADA NYAMUK Aedes aegypti MENGGUNAKAN METODE TWO-STEP REVERSE TRANSCRIPTASE POLYMERASE CHAIN REACTION (RT-PCR) | Demam Chikungunya adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Alphavirus dari familia Togaviridae dengan gejala postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat (arthalgia). Penyakit Chikungunya dapat ditularkan ke manusia melalui nyamuk vektor Aedes aegypti. Kejadian Luar Biasa (KLB) Chikungunya di Indonesia pertama kali dilaporkan pada tahun 1973 di Samarinda dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah lainnya. Data surveil menunjukkan hampir setiap tahun terjadi KLB di berbagai wilayah di Indonesia. Pada tahun 2013 terjadi kejadian KLB Chikungunya di Purwokerto Utara, khususnya wilayah Bancarkembar dan Grendeng. Hingga saat ini belum ditemukan obat ataupun vaksin untuk mencegah penyakit Chikungunya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui infeksi virus Chikungunya pada nyamuk dewasa Ae. aegypti. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive Ae. aegypti. Parameter yang diamati adalah positif nyamuk yang terinfeksi virus Chikungunya. Analisis data secara deskriptif dengan mengamati kemunculan pita DNA pada UV Transilluminator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa amplikon cDNA CHIKV tidak terdeteksi dengan metode Two step RT-PCR. | The Chikungunya fever is a disease caused by an Alphavirus from the family Togaviridae with the symptoms of a patient's posture that is bent over by severe joint pain (arthalgia). Chikungunya disease can be transmitted to humans through an Aedes aegypti as a vector. The outbreak of Chikungunya in Indonesia was first reported in 1973 in Samarinda and then spread to various other regions. Surveillance data show almost every year of the outbreak occurred in various regions in Indonesia. In 2013 there was the outbreak of Chikungunya in North Purwokerto, especially in Bancarkembar and Grendeng.Until now, the medicine or vaccine has not been found to prevent Chikungunya disease. The purpose of this research is to know the infection of virus Chikungunya on Ae. aegypti. This research was conducted by surveying methods with sampling techniques using purposive sampling Ae. aegypti. The observed parameter is th positivity of virus Chikungunya. Analysis data by observing the appearance of DNA band on UV Transilluminator. The results that the amplikon cDNA CHIKV is not detected by the two step RT-PCR method. | |
| 23698 | 26847 | B1A015015 | DETEKSI MOLEKULER VIRUS DENGUE SEROTIPE 3 PADA NYAMUK Aedes aegypti DI WILAYAH PURWOKERTO TIMUR MENGGUNAKAN METODE NESTED RT-PCR | Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk tersebut merupakan vektor utama dalam penularan virus Dengue (DENV) dengan ciri khas tubuh dan tungkainya ditutupi sisik dengan garis-garis putih keperakan. Persebarannya luas di daerah tropis dan subtropis, Purwokerto termasuk daerah endemis DBD dan sekaligus ditemukan nyamuk sebagai vektornya. Kecamatan Purwokerto Timur menempati urutan tertinggi dari banyaknya kejadian DBD di wilayah Banyumas, bahkan kejadian luar biasa (KLB) yang terjadi di Kelurahan Sokanegara pada tahun 2016 hingga menyebabkan kematian. Berdasarkan penelitian sebelumnya menyatakan bahwa virus Dengue yang paling banyak ditemukan di Purwokerto adalah serotipe 3. Oleh karena itu, deteksi molekuker nyamuk Ae. aegypti perlu dilakukan berkaitan dengan prediksi penularan Dengue untuk memperoleh informasi awal dalam pencegahan dan pengendalian DENV. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeteksi virus Dengue serotipe 3 pada nyamuk dewasa Ae. aegypti sebagai vektornya. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survei dengan pendekatan secara cross sectional dan teknik pengambilan sampel purposive. Parameter yang di amati adalah positivitas DENV serotipe 3 pada nyamuk. Analisis data survei dilakukan dengan melihat positivitas DENV pada nyamuk. Hasil penelitian menunjukkan DENV serotipe 3 tidak terdeteksi pada nyamuk. | Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease caused by the Dengue virus and transmitted through by bite of Ae. aegypti. This mosquito is the main vector transmission of DENV with characteristics of the body and limbs are covered with scales silvery white lines. Mosquitoes are widespread in tropical and subtropical regions, and Purwokerto is an endemic of DHF and at the same time found mosquitoes as the vectors. East Purwokerto is the highest region of DHF cases in Banyumas, and the outbreak was happened in Sokanegara on 2016 until cause death. Based on previous research states that the most found Dengue virus in Purwokerto is serotype 3. Therefore, detection molecular of Ae. aegypti need to be carried out in relation to prediction of dengue transmission to obtain preliminary information on the prevention and control of DENV. The purpose of this research is to detects Dengue virus in adult mosquitoes Ae. Aegypti as vector of DENV. The research method used is survey method withcross sectional and purposive sampling technique. The parameter observed is a positivity DENV serotype 3 on mosquitoes. The analysis of the survey data is a positivity DENV of mosquitoes. The results of the research showed that based on entomological survey in East Purwokerto, DENV serotype 3 was not detected in mosquitoes. | |
| 23699 | 26843 | I1E015011 | PENGARUH LATIHAN PENDEKATAN TAKTIK DAN STRATEGI TERHADAP KEMAMPUAN PASSING PADA PESERTA EKSTRAKURIKULER FUTSAL PUTRA DI SMA AL IRSYAD AL ISLAMIYYAH PURWOKERTO. | Abstrak PENGARUH LATIHAN PENDEKATAN TAKTIK DAN STRATEGI TERHADAP KEMAMPUAN PASSING PESERTA EKSTRAKURIKULER FUTSAL PUTRA DI SMA AL IRSYAD AL ISLAMIYYAH PURWOKERTO Muhammad Bachtiar Rokhman, Indrajati Kusuma, Rohman Hidayat Latar Belakang: Futsal adalah olahraga yang sedang popular pada saat ini dan sudah digemari oleh masyarakat Indonesia. Dalam penelitian ini terdapat metode latihan pendekatan taktik dan strategi. Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui latihan pendekatan taktik dan strategi terhadap kemampuan passing pada peserta ekstrakurikuler futsal SMA AL Irsyad Purwokerto. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, menggunakan desain penelitian two group pretest posttest design. Desain ini adalah menggunakan dua grup diawali dengan pretest dan diakhiri dengan posttest. Teknik pengambilan sampel dengan cara total sampling. Instrumen tes yang digunakan yaitu tes passing control selama 30 detik. Subjek penelitian ini adalah peserta ekstrakurikuler futsal SMA AL Irsyad Purwokerto. Data dianalisis menggunakan uji-t (paired sample t-test dan independent sample t-test). Hasil Penelitian: Berdasarkan analisis data hasil penelitian tes kemampuan passing diperoleh kelompok taktik dengan nilai Sig. 0,003 < 0,05 dan kelompok strategi dengan nilai Sig. 0,001 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan nilai Sig < 0,05 maka ada pengaruh latihan yang signifikan. Kemudian untuk hasil analisis uji independent sample t-test didapat nilai Sig. 0,795 > 0,05 dan disimpulkan tidak ada perbedaan pengaruh latihan yang signifikan. Kesimpulan: Terdapat pengaruh latihan pendekatan taktik dan strategi terhadap kemampuan passing. Tidak ada perbedaan pengaruh kedua latihan terhadap kemampuan passing. Kata Kunci : Futsal, Pendekatan Taktik, Strategi, kemampuan Passing. | Abstract The Effects of Tacticsand Strategy in Passing Approach on Futsal Extracurricular In Al Irsyad Al Islamiyah Senior High SchoolPurwokerto. Muhammad Bachtiar Rokhman, Indrajati Kusuma, Rohman Hidayat Backgrounds: Futsal is one of the most popular exercise in nowadays in Indonesia. In this research, the methods of tactic and strategy in passing approach is aimed to know what the exercise training of tactics and strategy in passing approach in Al Irsyad Al Islamiyah Senior High School Purwokerto. Methodology: The research is used two groups pretest posttest design methods. This methods took two groups was began with pretest, and ended with posttest. The sampling technics is collected by used total sampling. This research is taken a passing control test in 30 seconds as the instrument of tests. The subject of the research was taken by the students extracurricular in Al Irsyad Al Islamiyah Senior High School Purwokerto. The data analysis is used t-test (paired sample t-test and independent sample t-test). Findings: Based on the findings of the research, the passing test is effects on both groups ability. It is seen by the score of the passing test: tactic group is Sig.0,003< 0,05, meanwhile the strategy group gets Sig. 0,001 < 0,05. It can be concluded sig value < 0,05 there was a significant effect. Then for analysis results independent t test the sig value 0,795 > 0,05 and concluded there was no significant differences in the effect of exercise. Conclusion: The research is affected on tactics and strategy in passing approach, and it is not differences of the effect on both test in the passing. Keywords: futsal, tactics, strategy, passing. | |
| 23700 | 26853 | B1B015028 | ISOLATION AND IDENTIFICATION OF ENDOPHYTIC FUNGI INHABITING MORINGA (Moringa oleifera Lam.) BASED ON MORPHOLOGY AND ITS rDNA SEQUENCES | Moringa oleifera Lam. adalah pohon kecil, abadi yang termasuk famili moringaceae. Tanaman ini dikenal luas untuk keperluan nutrisi dan pengobatan. Mereka dapat berhubungan dengan mikroorganisme yang memiliki manfaat simbiosis yang disebut mikroorganisme endofit. Jamur endofit adalah mikroorganisme yang mampu hidup di dalam jaringan tanaman tanpa membahayakan inangnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kultur murni endofit jamur dari M. oleifera dan kemudian mengidentifikasi mereka berdasarkan identifikasi morfologi. Identifikasi morfologis dilakukan dengan mengamati karakteristik makro dan mikro morfologi jamur endofit. Ada 20 jamur endofit yang diisolasi dari lamina, tangkai daun, dan batang M. oleifera. Genus yang diperoleh adalah Cladosporium, Colletotrichum, Fusarium, Phomopsis, Phyllosticta, miselia sterilia putih, dan miselia sterilia hitam (Dematiaceae). | Moringa oleifera Lam. is a small, perennial tree that belongs to moringaceae family. This plant is widely known for its nutritional and medicinal purposes. They can associates with microorganism which has benefits symbiosis called endophytic microorganism. Endophytic fungi are microorganisms which able to live within the plant tissues without harming their host. This study was aimed at obtaining a pure culture of fungal endophytic from M. oleifera and then identifying them based on morphological identification. The morphological identification was done by observed the macro- and micro- morphological characteristics of endophytic fungi. There are 20 endophytic fungal were isolated from lamina, petiole, and stem of M. oleifera. The genus obtained were Cladosporium, Colletotrichum, Fusarium, Phomopsis, Phyllosticta, white mycelia sterilia, and black mycelia sterilia (Dematiaceae). |