Artikelilmiahs
Menampilkan 22.581-22.600 dari 50.201 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 22581 | 25165 | A1D015178 | ANALISIS STOMATA, KLOROPLAS, DAN KROMOSOM TANAMAN JERUK KEPROK (Citrus reticulata) HASIL KULTUR ENDOSPERMA | Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengindentifikasi tanaman jeruk keprok hasil kultur endosperma dengan analisis stomata, 2) mengindentifikasi tanaman jeruk keprok hasil kultur endosperma dengan analisis kloroplas, dan 3) mengindentifikasi tanaman jeruk keprok hasil kultur endosperma dengan analisis kromosom. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2018 sampai Januari 2019 di Laboratorium Pemuliaan Tanaman Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Malang. Penelitian ini menggunakan 7 aksesi jeruk keprok Garut hasil kultur endosperma dan satu tanaman induk jeruk keprok Garut. Analisis kloroplas dilakukan dengan menggunakan metode AgNO3 1% mengacu pada metode Singgit dan Beck (2003). Analisis kromosom dilakukan dengan menggunakan metode squash mengacu pada metode Burun dan Emiruglo (2007). Analisis data dilakukan dengan aplikasi Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) Statistics 22.0. Hasil pensejajaran dari 7 aksesi jeruk keprok Garut hasil kultur endosperma menunjukkan bahwa aksesi GT 224 (tanaman induk keprok Garut) merupakan aksesi yang memiliki konsistensi terhadap jumlah kromosom, jumlah stomata, dan jumlah kloroplas. . | This research aimed to 1) identify mandarin citrus (Citrus reticulata) plants grown from endosperm culture with stomata analysis, 2) identify mandarin citrus (C. reticulata) plants grown from endosperm culture with chloroplasts analysis, and 3) identify mandarin citrus (C. reticulata) plants grown from endosperm cultures with chromosome analysis. This research was conducted in October 2018 until January 2019 at the Plant Breeding Laboratory of Indonesian Citrus and Subtropical Fruits Research Institute (ICSFRI), Malang. This research uses 7 accessions of Garut mandarin from endosperm culture and mother plant of Garut mandarin. Stomata analysis was done using the nail polish method referring to the Molish (1918) methods. Chloroplast analysis was done using the 1% AgNO3 method referring to the Singgit and Beck (2003) methods. Chromosome analysis was done using the squash method referring to the Burun and Emiruglo (2007) methods. Data analysis was carried out with the Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) application Application 22.0. Alignment results from 7 Garut mandarin accessions resulting from endosperm culture showed that accession of GT 224 (mother plant of Garut mandarin) was consistent with a number of a chromosome, number of stomata, and number of chloroplasts. | |
| 22582 | 25166 | A1L012059 | Pengaruh Kombinasi Benzyl Amino Purine (BAP) dan Naphthalene Acetic Acid (NAA) Terhadap Induksi Beberapa Genotipe Pisang (Musa paradisiaca L.) Secara In Vitro | Pisang merupakan tanaman hortikultura yang banyak tumbuh di lingkungan tropis yang memiliki potensi tinggi untuk dikelola. Tanaman pisang telah menjadi komoditas ekspor dan impor di pasar internasional. Peningkatan produksi pisang perlu dilakukan agar dapat bersaing dengan Negara lain salah satu caranya dengan menyediakan bibit unggul. Bibit unggul dapat diperoleh dari kultur in vitro. Keberhasilan kultur in vitro dipengaruhi dengan ZPT. ZPT yang sesuai dapat meningkatkan pertumbuhan eksplan dan sebaliknya ZPT yang tidak sesuai akan menghambat pertumbuhan eksplan. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui pengaruh pemberian Benzyl Amino Purine (BAP) dan Naphthalene Acetic Acid (NAA) terhadap perbanyakan tanaman pisang, dan 2) mengetahui kombinasi BAP dan NAA terbaik yang cocok untuk tanaman pisang terhadap perbanyakan secara kultur in vitro. Pada penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan menggunakan dua faktor, yaitu faktor genotipe dan faktor kombinasi ZPT. Genotipe pisang yang digunakan yaitu pisang ambon (Musa acuminata), pisang kepok (M. paradisiacal forma Typica), pisang mas (M. acuminata), pisang susu (M. acuminata), dan pisang tanduk (M. acuminate var. Typica). Faktor kombinasi ZPT yang diberikan adalah P1 (MS tanpa BAP dan NAA); P2 (MS + BAP 1 ppm + NAA 0,05 ppm); dan P3 (MS + BAP 3 ppm + NAA 0,05 ppm). Hasil Penelitian yang diperoleh yaitu tingkat kontaminasi pada penelitian ini sebesar 51,67%, meliputi eksplan yang terkontaminasi jamur sebesar 26,11% dan eksplan yang terkontaminasi bakteri sebesar 25,56%. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa : 1) pada penelitian ini varietas pisang yang paling responsif terhadap kombinasi ZPT yang diberikan yaitu pisang ambon, dan 2) pemberian ZPT kombinasi antara BAP dan NAA yang terbaik pada penelitian ini terjadi pada eksplan dengan perlakuan media P2 (MS + BAP 1 ppm + NAA 0,05 ppm ). | Banana is a horticulture plant that grows in tropical environments and has high potential due to increasing consumption. Increasing banana production needs to be done by providing superior seedlings. Superior seedlings can be obtained from in vitro culture. The success of in vitro culture is strongly influenced by Plant Growth Regulation (PGR).This research aimed to: 1) determine the effect of giving Benzyl Amino Purine (BAP) and Naphthalene Acetic Acid (NAA) to the micropropagation of banana plants, and 2) determine the best combination of BAP and NAA suitable for banana plants in vitro culture multiplication. A completely randomized block (RCBD) was used with two factors which were banana genotype and combination of BAP and NAA. The banana genotypes were pisang ambon (Musa acuminata), pisang kepok (M. paradisiacal forma Typica), pisang mas (M. acuminata), pisang susu (M. acuminata), dan pisang tanduk (M. acuminate var. Typica). Combinations of BAP and NAA that were used in this research were P1 (MS without ZPT); P2 (MS + BAP 1 ppm + NAA 0,05 ppm); and P3 (MS + BAP 3 ppm + NAA 0,05 ppm). The results showed that level of contamination in this study of 51.67%, including explants contaminated with fungi of 26.11% and explants contaminated with bacteria of 25.56%. The most responsive banana variety for the given combination of BAP and NAA was pisang ambon. The best combination of BAP and NAA in this study was with addition of BAP 1 ppm + NAA 0,05 ppm. | |
| 22583 | 25167 | A1D015028 | Keragaman Genetik Tanaman Jeruk Keprok (Citrus reticulata) Hasil Kultur Endosperma Berdasarkan Marka Mikrosatelit | Jeruk merupakan komoditas buah-buahan yang banyak digemari masyarakat Indonesia, salah satunya yaitu jeruk tanpa biji. Salah satu teknik untuk mendapatkan jeruk tanpa biji adalah melalui kultur endosperm yang memiliki level ploidi triploid. Tanaman yang memiliki level ploidi triploid biasanya akan menjadi tanaman yang steril atau tidak berbiji. Penelitian ini bertujuan untuk 1) membandingkan rasio panjang dan lebar daun tiga jenis jeruk keprok (C. reticulata) sebagai tanaman induk dan tanaman hasil kultur endosperma 2) mengidentifikasi tanaman induk jeruk keprok dan tanaman jeruk keprok hasil kultur endosperma dengan marka Inter Simple Sequence Repeats (ISSR), dan 3) mengidentifikasi tanaman induk jeruk keprok dan tanaman jeruk keprok hasil kultur endosperma dengan marka Simple Sequence Repeats (SSR). Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober 2018 sampai Januari 2019 di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Malang. Tanaman yang digunakan dalam penelitian adalah tanaman induk jeruk keprok Garut dan tujuh aksesi hasil kultur endosperma. Penelitian ini dibagi menjadi lima bagian utama yaitu karakterisasi berdasarkan karkater morfologi, isolasi DNA, uji kualitas dan kuantitas DNA, amplifikasi DNA, dan analisis data. Visualisasi hasil PCR dianalisis dengan aplikasi NTSYS 2.1. Identifikasi tanaman dengan penanda morfologi memiliki beberapa kelemahan karena faktor lingkungan. Identifikasi dengan penanda molekuler diperlukan untuk melengkapi informasi morfologi yang diperoleh dan lebih akurat hasilnya. Identifikasi dengan penanda molekular SSR lebih sesuai digunakan karena menunjukkan keragaman genetik yang rendah atau tidak ada keragaman genetik antara tanaman induk jeruk keprok dan tanaman hasil kultur endosperma jika dibandingkan dengan marka ISSR. Perubahan yang diinginkan dalam tanaman hasil kultur endosperma ditunjukkan tidak hanya dalam karakteristik morfologi tetapi juga secara molekular utamanya berdasarkan marka SSR. | Citrus is the third most important fruit commodity in Indonesia, especially seedless citrus. One technique to get seedless citrus is by endosperm culture technique which is possessing triploidy sets of the chromosome. Plants that have triploidy sets of the chromosome will usually become sterile or seedless plants. This research aimed to 1) compare ratio of the length and width of the leaves between three types of mandarin (C. reticulata) as mother plants and mandarin accessions grown from endosperm cultures, 2) identify mother plantand mandarin accessions from endosperm cultures with Inter Simple Sequence Repeats (ISSR) markers and 3) identify mother plant and mandarin accessions from endosperm cultures with Simple Sequence Repeats (SSR) markers. The research was conducted at Indonesian Citrus and Subtropical Fruits Research Institute (ICSFRI) Batu started from October 2018 until January 2019. The plants used in the study were Garut mandarin and seven accessions grown from endosperm cultures. The research process consisted of characterization based on morphological marker, DNA isolation, quantitative and qualitative analysis of extracted DNA, PCR amplification, and data analysis. Identification of plants with morphological markers has several disadvantages due to environmental factors. Identification with molecular markers is needed to complete the morphological information obtained and more accurately the results. SSR markers are more suitable to be used in this study compared to ISSR markers because the results are in accordance with the objectives of this study, which is not expected to have high genetic diversity. Identification with SSR molecular markers is more suitable because it showed low genetic diversity or no genetic diversity between mother plants and plants endosperm cultures when compared to ISSR markers. The desired changes in the plants produced by endosperm cultures was shown not only in the morphological characteristic but also in the molecular properties particularly by SSR markers. | |
| 22584 | 25168 | E1A115006 | Kebijakan Pemerintah Daerah Banyumas Memberikan Perlindungan Hak Fasilitas Bagi Penyandang Disabilitas Yang Menjadi Pegawai Negeri Sipil Berdasarkan Sistem Merit | Penyandang disabilitas berhak mendapatkan pekerjaan layak dan kesamaan kesempatan, khusus nya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil serta mendapatkan perlindungan bagi penyandang disabilitas berupa hak fasilitas untuk menunjang kinerja. Berdasarkan Sistem Merit juga tidak membedakan penyandang disabilitas sebagai Pegawai Negeri Sipil dan pada peraturan di atas telah memberikan perlindungan sebelum dan selama penyadang disabilitas yang menjadi Pegawai Negeri Sipil, Pemerintahan Kabupaten Banyumas mempunyai penyadang disabilitas yang menjadi PNS yang tersebar pada dinas/instansi. Permasalahanya bagaimana bentuk kebijakan yang keluarkan Pemerintahan Daerah Kabupaten Banyumas untuk memberikan hak fasilitas beserta hak fasilitas apa saja yang seharusnya di dapatkan oleh penyandang disabilitas yang menjadi Pegawai Negeri Sipil. Jenis penelitian hukum ini menggunakan normatif yuridis dengan metode pendekatan perundang-undangan dan analitis. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data yang di sajikan berupa preskriptif yang di susun secara inventarisasi, identifikasi dan sinkronisasi. Berdasarkan hasil penelitian Pemerintah Kabupaten Banyumas telah mengeluarkan Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas No 19 Tahun 2014 tentang Perlindungan Dan Pelayanan Bagi Penyandang Disabilitas berdasarkan Sistem Merit prinsip aspek adil, sudah memberikan perlindungan sebelum dan selama menjadi Pegawai Negeri Sipil mengenai hak fasilitas dan Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas telah memberikan hak fasilitas berupa keselamatan kerja, jaminan sosial, kesehatan dan fasilitas kerja, namun fasilitas kerja belum mengatur secara konkrit mengenai fasilitas khusus yang dibutuhkan penyandang disabilitas beserta kriteria aksesbilitas penempatan penyandang disabilitas pada dinas/instansi di wilayah Pemerintahan Kabupaten Banyumas. | Persons with disabilities have the right to get decent jobs and equal opportunities, specifically working as civil servants and getting protection for persons with disabilities in the form of facilities to support performance. Based on the Merit System also does not differentiate persons with disabilities as Civil Servants and in the above regulations have provided protection before and as long as the disabled persons who are Civil Servants, the Government of Banyumas Regency has disability people who become civil servants who are spread to agencies. The problem is how the form of the policy that issued the Regional Government of Banyumas Regency to give facilities rights along with the rights of any facilities that should be obtained by persons with disabilities who become Civil Servants. This type of legal research uses juridical normatives with the method of legislation and analytical approaches. The data source used in this study is secondary data. The data presented is prescriptive in form of inventory, identification and synchronization. Based on the results of the research, the Banyumas District Government has issued the Banyumas District Regulation No. 19 of 2014 concerning Protection and Services for Persons with Disabilities based on the Merit System, the fair aspect principle, had provided protection before and during becoming Civil Servants regarding facilities rights and the Banyumas District Government had provided facility rights in the form of work safety, social security, health and work facilities, but work facilities have not arranged concretely regarding the special facilities needed by persons with disabilities along with the criteria for accessibility of persons with disabilities in agencies the Government of Banyumas Regency | |
| 22585 | 25169 | E1A015128 | PERLINDUNGAN HUKUM PENGUPAHAN PEKERJA BORONGAN PADA PERUSAHAAN BULU MATA PT. BRALING WISNU SATRIYA PURBALINGGA | Penelitian ini berjudul “Perlindungan Hukum Pengupahan Pekerja Borongan Pada Perusahaan Bulu Mata PT. Braling Wisnu Satriya Purbalingga”. Penelitian ini berjudul “Perlindungan Hukum Pengupahan Pekerja Borongan Pada Perusahaan Bulu Mata PT. Braling Wisnu Satriya Purbalingga”. Belum adanya regulasi secara khusus mengenai pengupahan pekerja borongan menyebabkan adanya hak-hak pekerja borongan yang tidak terpenuhi. Perlindungan hukum pengupahan bagi pekerja borongan diperlukan agar pemenuhan hak-hak pekerja borongan lebih terjamin. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis pengupahan pekerja borongan pada PT. Braling Wisnu Satriya. (2) Menganalisis pengupahan yang dilaksanakan apakah sudah memberikan perlindungan hukum bagi pekerja borongan PT. Braling Wisnu Satriya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan analisis. Metode pengumpulan bahan hukum dilakukan melalui studi kepustakaan dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, menunjukan bahwa: (1) Pengupahan yang dilakukan bagi pekerja borongan PT. Braling Wisnu Satriya menggunakan sistem upah borongan, yaitu didasarkan pada banyaknya hasil produksi masing-masing pekerja. Hal tersebut menyebabkan ketidakmerataan upah yang diterimaoleh pekerja mulai dari dibawah, sesuai atau lebih dari upah minimum. (2) PT. Braling Wisnu Satriya telah menerapkan beberapa kebijakan perlindungan hukum pengupahan terhadap pengupahan pekerjanya sesuai dengan Pasal 88 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaann namun belum sepenuhnya dijalankan tepat dengan isi ketentuan peraturan perundang-undangan. | This research entitled “Legal Protection For Piece Worker Remuneration at PT. Braling Wisnu Satriya Eyelash Factory”. The absence of specific regulations regarding piece worker remuneration causes rights of piece workers are not fulfilled. Legal protection for piece worker remuneration is needed so it can fulfil the rights of piece worker This research aims were: (1) to analyze piece worker remuneration at PT. Braling Wisnu Satriya. (2) To analyze the remuneration which has been implemented, has provides legal protection to all the PT. Braling Wisnu Satriya’s piece worker. This research method using a normative juridical approach with the statute approach and the analytical approach. The legal materials obtained from library research and interviews. As the results shown that: (1) The remuneration that used for all piece worker at PT. Braling Wisnu Satriya is payment by result, means the employee is paid based on a worker's quantitative output or production. That causes wage inequality for all the piece worker, because there are some piece worker who got below or above the minimum wage based on their each ability. (2) PT. Braling Wisnu Satriya has providing legal protection under Article 88 Act No. 13 of 2003 on Manpower, but it’s still not in accordance with the provisions of regulation. | |
| 22586 | 25923 | F1B113061 | KUALITAS PELAYANAN ADMINISTRASI TERPADU KECAMATAN (PATEN) DI KECAMATAN REMBANG KABUPATEN PURBALINGGA | Pelayanan merupakan suatu tindakan atau perbuatan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dalam bentuk bantuan layanan suatu urusan, sehingga orang lain tersebut mendapatkan keringanan atas urusannya. Berbicara mengenai pelayanan (public service) tidak hanya berhubungan dengan sarana dan prasarana melainkan yang lebih penting adalah unsur manusia yang memberikan pelayanan. Tuntutan didalam pelayanan tidak hanya menyangkut kualitas orang yang dilayani namun yang lebih penting adalah kualitas tersebut. Kualitas pelayanan memegang peran penting untuk mencapai tingkat kepuasan pelanggan. Citra kualitas pelayanan bukan menjadi sudut pandang atau persepsi pihak pemerintah, melainkan berdasarkan sudut pandang pelanggan atau penerima pelayanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis Kualitas Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN) di Kecamatan Rembang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengambilan sampel menggunan teknik accidental sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan jumlah responden sebanyak 100. Uji validitas menggunakan korelasi Product Moment. Uji reliabilitas menggunakan Cronbach’s Alpha. Teknik analisis data menggunakan distribusi frekuensi dan nilai rata – rata (mean). Hasil penelitian menunjukan bahwa kualitas PATEN masuk dalam kategor sedang dengan persentase 67% (67 responden). Dengan hasil masing – masing indikator , Tangible 52% (52 responden) menyatakan kurang setuju, Reliability 42% (42 responden) menyatakan setuju, Responsiveness 56% (56 responden) kurang setuju, Assurance 61% (61 responden) menyatakan setuju dan Emphaty 59% (59 responden) menyatakan kurang setuju. | Service is an act or deed given by a person to others in the form of service assistance of a business, so that the other person obtain waivers for his dealings. Speaking of service (public service) not only related to facilities and infrastructure but more important is the human element that provides service. The demands in the service not only concern the quality of people who are served but more importantly is the quality. Quality of service plays an important role to achieve the level of customer satisfaction. Image quality of service is not a point of view or perception of government, but rather based on the perspective of customer or service recipient. The purpose of this research is to analyze the quality of integrated Administrative Services sub-district (PATENT) in the district Rembang. The method used in this research is a quantitative method with a descriptive approach. Sampling techniques use accidental sampling techniques. The data collection method uses a questionnaire with a total of 100 respondents. The validity test uses the Product Moment correlation. Reliability test using Cronbach's Alpha. Data analysis techniques use a frequency distribution and an average value (mean). The results showed that the quality of the PATENT entered in a category with a percentage of 67% (67 respondents). With the results of each-each indicator, Tangible 52% (52 respondents) expressed the lack of consent, Reliability 42% (42 respondents) expressed consent, Responsiveness 56% (56 respondents) less agree, Assurance 61% (61 respondents) stated agreed and Emphaty 59% (59 Respondents) expressed less concur. | |
| 22587 | 25173 | E1A115069 | ANALISIS PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PRODUSEN OBAT TRADISIONAL DALAM PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL PADA STRUKTUR PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA | ANALISIS PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PRODUSEN OBAT TRADISIONAL DALAM PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL PADA STRUKTUR PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA Oleh: Apita Pandasari E1A115069 ABSTRAK Penelitian ini membahas mengenai perlindungan hukum produsen obat tradisional dalam pelayanan kesehatan tradisional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sinkronisasi peraturan perlindungan hukum terhadap produsen obat tradisional dan bentuk-bentuknya dalam pelayanan kesehatan tradisional pada struktur peraturan perundang-undangan Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif. Metode pendekatan yang digunakan adalah pendekatan peraturan perundang-undangan (Statue Approach) dan pendekatan analitis (Analytical Approach) dengan spesifikasi penelitian inventarisasi peraturan perundang-undangan, sinkronisasi hukum, dan penemuan hukum in concreto. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa pengaturan perlindungan hukum bagi produsen obat tradisional dalam pelayanan kesehatan tradisional pada struktur peraturan perundang-undangan Indonesia telah menunjukkan taraf sinkronisasi. Artinya, peraturan yang lebih rendah derajatnya telah sesuai dengan peraturan yang lebih tinggi derajatnya dan peraturan yang lebih tinggi derajatnya menjadi dasar pembentukan peraturan yang lebih rendah. Bentuk perlindungan hukum bagi produsen obat tradisional dalam pelayaan kesehatan tradisional dalam peraturan perundang-undangan Indonesia meliputi: jaminan pengaturan bagi produsen obat tradisional untuk mengolah, memproduksi, mengedarkan, mengembangkan, meningkatkan, dan menggunakan obat tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya; jaminan pengaturan untuk memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari klien atau keluarganya; jaminan pengaturan untuk memperoleh imbalan jasa atau pembayaran; jaminan pengaturan untuk mengikuti pelatihan promotif bidang kesehatan dan kesempatan untuk mengembangkan profesinya; jaminan pengaturan untuk memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan Standar Profesi, Standar Pelayanan Profesi, dan Standar Prosedur Operasional; jaminan pengaturan untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia, moral, kesusilaan, serta nilai-nilai agama; jaminan pengaturan untuk menolak keinginan Penerima Pelayanan Kesehatan atau pihak lain yang bertentangan dengan Standar Profesi, kode etik, standar pelayanan, Standar Prosedur Operasional, atau ketentuan Peraturan Perundang-undangan; jaminan pengaturan untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan; jaminan pengaturan untuk menerima hak-hak lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. Kata Kunci: Perlindungan Hukum, Produsen Obat Tradisional, Pelayanan Kesehatan Tradisional. | ANALYSIS OF LEGAL PROTECTION OF TRADITIONAL DRUG PRODUCERS IN TRADITIONAL HEALTH SERVICES ON THE STRUCTURE OF INDONESIAN LAW REGULATIONS By: Apita Pandasari E1A115069 ABSTRACT This study investigates the legal protection of traditional drug producers in traditional health services. The aim of this study is to comprehend the synchronization of legal protection regulations of traditional drug producers and the forms of it in traditional health services in the structure of Indonesian law regulations. This study uses normative juridical research method. The approach method used is the Statue Approach and Analytical Approach in the specifications of research on inventory regulations, legal synchronization, and discovery of laws in concreto. Based on the results of the research, it is discovered that the regulations of legal protection of traditional drug producers in traditional health services in the structure of Indonesian law regulations has shown a level of synchronization. This means that the lower-level regulations are in accordance with the higher-level regulations and the higher-level regulations are the basis of the formation of lower regulations.The forms of legal protection of traditional drug producers in traditional health services in Indonesian laws and regulations includes: guarantee arrangements for producers of traditional medicines to process, produce, distribute, develop, improve, and use traditional drugs that is guaranteed for both of the benefit and the safety; guarantee arrangements to get complete and honest information from clients or their families; guarantee of arrangements for receiving compensation for services or payments; guarantee arrangements for participating in health promotion training and opportunities to develop their profession; guarantee of arrangements to obtain legal protection as long as carrying out duties in accordance with Professional Standards, Professional Service Standards, and Standard Operating Procedures; guarantee of regulation to get protection for occupational safety and health, guarantee of regulation to be treated in accordance with human dignity, morality, decency, and religious values; guarantee of regulation to reject the will of Health Service Recipients or other parties that conflict with Professional Standards, ethic codes, service standards, Standard Operating Procedures, or provisions of Legislation; guarantee of arrangements for good name rehabilitation if legally proven that consumer losses are not caused by goods and / or services traded; guarantee of regulation to accept other rights stipulated in the provisions of other laws and regulations. | |
| 22588 | 25174 | F1D014022 | KONFLIK DALAM PENGEMBANGAN WISATA ALAM WANASUTA DI KABUPATEN BANYUMAS | ABSTRAK Artikel hasil penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan konflik dalam pengembangan Wisata Alam Wanasuta di Kabupaten Banyumas, memahami dan mendeskripsikan aktor-aktor yang terlibat dalam konflik pengembangan Wisata Alam Wanasuta di Kabupaten Banyumas, serta mengetahui dan mendeskripsikan faktor kontekstual penyebab konflik tersebut. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan studi kasus dalam bingkai perspekti strukturalis dan paradigma non-positivisme khususnya konstruktivisme. Teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling dan snowball sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi serta teknik analisis datanya menggunakan teknik analisis interaktif. Sedangkan untuk keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa: pertama, konflik pengembangan Wisata Alam Wanasuta di Kabupaten Banyumas berawal dari adanya ketidakjelasan pemasukan keuangan dari hasil pembukaan wisata. Konflik semakin bertambah karena adanya kekecewaan, kecemburuan, ketidakadilan, tidak merata yang dirasakan oleh pihak pemuda dan pemerintah desa terhadap pihak perhutani. Kedua, beberapa aktor yang terlibat dalam konflik pengembangan Wisata Alam Wanasuta adalah sebagai berikut: 1) Kiswoto dari pihak perhutani (mandor); 2) Triswoyo dari pihak pemuda (Ketua Pemuda Pancasila); 3) Suyitno dari pihak pemuda (Ketua Pemuda Grumbul Karanggedang) yang terlibat secara langsung dan pemerintah desa tidak terlibat secara langsung. Ketiga, faktor kontekstual penyebab konflik tersebut terdiri dari: 1) interaksi antaraktor; 2) transformasi konflik; 3) perbedaan individu; 4) perbedaan kepentingan, 5) perbedaan status. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pokok utama konflik yang terjadi adalah pendapatan dan tidak adanya transparansi keuangan yang dapat menimbulkan dugaan adanya korupsi dalam satu struktur serta konflik merupakan suatu fenomena yang terjadi karena berawal dari kebohongan dari individu maupun kelompok tertentu. | ABSTRACT This research-based paper aims at understanding and describing conflicts in the development of Wanasuta Nature Tourism in Banyumas Regency, understanding and describing the actors involved in the Wanasuta Nature Tourism conflict in Banyumas Regency, and knowing and describing the contextual factors that cause the conflict. By using a qualitative method and a case-study approach in the framework of the structuralist perspective and the constructivism paradigm. The informant selection technique used purposive sampling and snowball sampling. Data collection techniques using in-depth interviews, observation and documentation studies and data analysis techniques using interactive analysis techniques. Whereas the validity of the data uses the source triangulation technique. The results of this study reveales that first, the conflict of developmenting of Wanasuta Nature Tourism in Banyumas Regency began with an unclear financial income from the opening of the tour. The conflict grew due to disappointment, jealousy, injustice, unevenness felt by the youth and the village government towards Perhutani. Second, the actors involved in the conflict in the development of Wanasuta Nature Tourism is as follows: 1) Kiswoto from Perhutani (foreman); 2) Triswoyo from the youth (Chair of Pemuda Pancasila); 3) Suyitno from the youth (Chair of Pemuda Grumbul Karanggedang) who is directly involved and the village government not directly involved. Third, the contextual factors cause the conflict consists of: 1) interactions between factors; 2) transformation of conflicts; 3) individual differences; 4) differences in interests; 5) differences in status. This study reveales that the main point of the conflict that occurred was income and lack of financial transparency that could leading to allegations of corruption in one structure and conflict was a phenomenon that occurred becomet originated cause by lies from certain individuals and groups. | |
| 22589 | 26124 | E1A014027 | KESADARAN HUKUM DOKTER TERHADAP PANDUAN PRAKTIK KLINIS DALAM PELAYANAN KESEHATAN (STUDI DI RUMAH SAKIT PERMATA BUNDA KOTA PURWODADI) | KESADARAN HUKUM DOKTER TERHADAP PANDUAN PRAKTIK KLINIS DALAM PELAYANAN KESEHATAN (Studi di Rumah Sakit Permata Bunda Kota Purwodadi) Oleh : Fandi Baktiar Ardiyanto E1A014027 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesadaran hukum dokter terhadap panduan praktik klinis dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit Permata Bunda Kota Purwodadidan faktor yang cenderung memengaruhi kesadaran hukum dokter terhadap panduan praktik klinis dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit Permata Bunda Kota Purwodadi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan yuridis sosiologis, dan spesifikasi penelitian deskriptif. Penelitian ini mengambil lokasi di rumah sakit Permata Bunda Kota Purwodadi dengan responden sebanyak 24 orang dokter. Pengambilan sampel penelitian mengunakan simple random sampling. Jenis dan sumber data meliputi data primer dan data sekunder yang diperoleh dengan metode angket, dokumenter dan kepustakaan. Data yang terkumpul diolah dengan menggunakan metode coding, editing dan tabulasi, kemudian disajikan secara naratif dan tabel data. Analisis data kuantitatif mengunakan metode statistik sederhana, sedangkan analisis data kualitatif menggunakan metode analisis isi dan analisis perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesadaran hukum dokter terhadap panduan praktik klinis dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit Permata Bunda Kota Purwodadi adalah tinggi. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian terhadap empat indikator meliputi tingginya pengetahuan hukum dokter, tingginya pemahaman hukum dokter, besarnya sikap hukum dokter yang setuju serta besarnya perilaku hukum dokter yang sesuai. Faktor-faktor yang cenderung memengaruhi kesadaran hukum dokter terhadap panduan praktik klinis dalam pelayanan kesehatan meliputi faktor kedisiplinan sebagai faktor personal, faktor kerjasama dan faktor masa kerja sebagai faktor sosial. | LAW AWARENESS OF DOCTOR TOWARDS CLINIC PRACTICAL GUIDANCE IN HEATH CARE (A Study in Permata Bunda Hospital, Purwodadi) By: Fandi Baktiar Ardiyanto E1A014027 ABSTRAK This research aims to recognize law awareness of doctors towards clinic practical guidance in health care in Permata Bunda Hospital in Puwodadi City and the factor that tends to influence the law awareness of doctors towards clinic practical guidance in health care in Permata Bunda Hospital of Purwodadi City. This research applied quantitative research method with juridical sociology, and descriptive research specification. This research took place in Permata Bunda Hospital in Purwodadi city with the number of respondents of 24 doctors. Sampling method in this research used simple random sampling. Type and source of data include primary and secondary data obtained using questionnaire method, documentary as well as literature. The data collected was processed using coding, editing, and tabulation, which then were presented in narrative way and data table. Quantitative data analysis used simple statistic method, while the qualitative data analysis used content analysis method and comparative analysis method. The research result shows that the level of law awareness of doctors towards clinic practical guidance in Permata Bunda Hospital of Purwodadi City is high. It is proven with the research result towards four indicators including general knowledge of the doctors, high level of law understanding of the doctors, great number of doctors’ law attitude who agreed as well as appropriate law attitude of the doctors. The factors that tend to influence doctors law awareness towards clinic practical guidance in health care include discipline factor as personal factor, collaboration and tenure as the social factors. | |
| 22590 | 26043 | G1B015004 | Hubungan Persepsi Pasien tentang Kualitas Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Minat Pemanfaatan Ulang Pelayanan di Poli Gigi Puskesmas Kabupaten Banyumas | Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan di tingkat kecamatan bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat dengan kualitas yang baik. Kualitas jasa pelayanan kesehatan ditentukan dari lima dimensi service quality yaitu keandalan, ketanggapan, jaminan, empati dan bukti fisik. Persepsi pasien tentang kualitas pelayanan kesehatan merupakan bentuk dari keyakinan pasien terhadap pelayanan kesehatan yang didapatkan yang kemudian akan mempengaruhi keputusan dan minat pasien untuk berkunjung berikutnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan persepsi pasien tentang kualitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut dengan minat pemanfaatan ulang pelayanan di poli gigi puskesmas di Kabupaten Banyumas. Jenis penelitian ini adalah observasi analitik dengan rancangan penelitian cross sectional study. Teknik pengambilan sampel puskesmas menggunakan purposive sampling dan pengambilan sampel responden menggunakan teknik simple random sampling. Penelitian dilakukan di 8 lokasi sampel puskesmas di Kabupaten Banyumas dengan jumlah responden sebanyak 95 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner SERVQUAL. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square dilanjutkan dengan uji koefisien kontingensi. Hasil menunjukkan terdapat hubungan persepsi pasien tentang kualitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut yaitu dimensi keandalan (p=0,049), ketanggapan (p=0,001), jaminan (p=0,000) dan empati (p=0,000), sedangkan tidak terdapat hubungan persepsi pasien tentang dimensi bukti fisik (p=0,122) dengan minat pemanfaatan ulang pelayanan di poli gigi puskesmas di Kabupaten Banyumas. Simpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara persepsi pasien tentang kualitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut dengan minat pemanfaatan ulang pelayanan di poli gigi puskesmas di Kabupaten Banyumas. | Public Health Center as a health service facility at the sub-district level is responsible for the provision of good quality public health services. The quality of health services is determined from five dimensions of service quality, such as reliability, responsiveness, assurance, empathy, and tangible. Patient's perception of the quality of health services is a form of patient's trust in the health services that are obtained which will then influence patient’s decisions and interests for their next visit. The purpose of this study was to determine the relationship of patient’s perceptions about the quality of dental and oral health service with revisit interest of services in the dental polyclinic in Banyumas District. This type of research was analytic observation with a cross sectional study design. The public health center sampling technique used purposive sampling and for the respondent sampling used simple random sampling method. The study was conducted in 8 sample locations of public health centers in Banyumas District with 95 respondents. The research instrument used the SERVQUAL questionnaire. Bivariate analysis used chi-square test followed with contingency coefficient. The results showed that there was a correlation between patient’s perceptions of the quality of dental and oral health services, such as reliability (p=0,049), responsiveness (p=0,001), assurance (p=0,000) and empathy (p=0,000), whereas there was no relationship between patient’s perceptions tangible dimension (p=0,122) with a revisit interest of services in the dental polyclinic in the Banyumas Regency. The conclusion of this study, there is a correlation between patient’s perceptions about the quality of dental and oral health services with a revisit interest of services in the dental polyclinic in Banyumas Regency. | |
| 22591 | 25177 | C1B015051 | PENGARUH CITRA KOTA, AKSESIBILITAS DAN ELECTRONIC WORD OF MOUTH TERHADAP KEPUTUSAN BERKUNJUNG KE KOTA BANDUNG | Menanggapi meningkatnya persaingan di antara kota-kota sebagai tujuan wisata sejak tahun 1990-an, saat ini banyak kota semakin terlibat dalam mengembangkan citra suatu kota, oleh karena itu, Kota Bandung harus menciptakan citra kota yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung. Tidak hanya citra kota yang menjadi pertimbangan wisatawan dalam menentukan keputusan berkunjungnya, tetapi faktor aksesibilitas menuju Kota Bandung dan informasi mengenai Kota Bandung yang diperoleh wisatawan melalui electronic word of mouth juga menjadi pertimbangan penting bagi wisatawan. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu regresi linear berganda. Hasil yang diperoleh dari perhitungan tersebut menunjukan bahwa citra kota, aksesibilitas dan electronic word of mouth berpengaruh positif terhadap keputusan berkunjung ke Kota Bandung. | Responding to competition in cities as a tourist destination since the 1990s, today many cities are involved in developing the image of the city, by cities, the City of Bandung must create a city image that can attract tourists to visit. Not only is the image of the city a consideration of tourists in deciding their visit decisions, but accessibility factors towards the city of Bandung and information about the city of Bandung that is obtained by tourists through electronic word of mouth is also an important consideration for tourists. The method used in this study is multiple linear regression. The city obtained from these calculations showed positive city-to-city, accessibility and word of mouth on the decision to visit Bandung. | |
| 22592 | 25178 | E1A015036 | IMPLEMENTASI PEMENUHAN HAK-HAK NARAPIDANA NARKOTIKA DALAM PELAYANAN KESEHATAN DI LINGKUNGAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN (Studi di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Lamongan) | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pemenuhan hak-hak narapidana narkotika dalam pelayanan kesehatan di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Lamongan dan faktor-faktor yang cenderung memengaruhi implementasi pemenuhan hak-hak narapidana narkotika dalam pelayanan kesehatan di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Lamongan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan yuridis sosiologis, dan digunakan metode survei, kepustakaan dan dokumenter dengan spesifikasi penelitian deskriptif. Penelitian ini mengambil lokasi di Lapas Klas IIB Lamongan dengan responden sebanyak 65 (enam puluh lima) orang narapidana narkotika. Pengambilan sampel penelitian melalui metode simple random sampling. Jenis dan sumber data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder yang diperoleh dengan metode angket, dokumenter dan kepustakaan. Pengolahan data dilakukan secara coding, editing, dan tabulasi kemudian disajikan secara naratif dan tabel data. Analisis data kuantitatif mengunakan metode statistik sederhana, sedangkan analisis data kualitatif menggunakan metode analisis isi dan analisis perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pemenuhan hak-hak narapidana narkotika dalam pelayanan kesehatan di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Lamongan adalah efektif. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian terhadap 8 (delapan) indikator meliputi efektifnya pelayanan kesehatan dasar rawat jalan, efektifnya pelayanan rawat inap, efektifnya pengendalian infeksi, efektifnya rujukan laboratorium, efektifnya pelayanan obat dasar, efektifnya penanganan gawat darurat, efektifnya skrining berkala TB dan HIV, efektifnya pengendalian wabah penyakit, serta faktor kepuasan faktor fasilitas dan faktor kerjasama yang mempengaruhi implementasi pemenuhan hak-hak narapidana dalam pelayanan kesehatan di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan. | This research aims to determine the implementation of the rights of narcotics prisoners in healthcare services in the Correctional institution environment of Klas IIB Lamongan and factors that tend to affect the implementation of the fulfillment of rights Narcotics inmates in the health service in the Correctional institution environment of Klas IIB Lamongan. This research used quantitative research methods with sociological juridical approaches and used methods of surveys, libraries, and documenters with descriptive research specifications. This research is taking location in Klas IIB Lamongan with respondents as much as 65 (sixty-five) narcotic convicts. A sampling of research through simple random sampling methods. The types and sources of data used include primary data and secondary data obtained by poll methods, documentaries and libraries. Data processing is done in coding, editing, and tabulation and then presented in narrative and data table. Quantitative data analysis uses simple statistical methods, while the analysis of qualitative data using the method of content analysis and comparative analysis. The results showed that the implementation of the fulfillment of the rights of narcotic convicts in health services in the Correctional institution environment of Klas IIB Lamongan is effective. This is evidenced by the results of the study of 8 (eight) indicators covering the effectiveness of basic health care outpatient, effective inpatient service, effective infection control, effective referral laboratory, effective service the basic remedy, effective emergency handling, effective screening of TB and HIV, periodic screencasts, effective control of disease outbreak, as well as facilities factor satisfaction factor and cooperation factors affecting the implementation of the fulfillment of prisoners rights in healthcare services in correctional institutions. | |
| 22593 | 25179 | E1A115053 | PERSPEKTIF HUKUM DIPLOMATIK MENGENAI PERJANJIAN YANG TELAH DIBUAT SEBAGAI DAMPAK PENGUSIRAN DIPLOMAT RUSIA DI BEBERAPA NEGARA | Setiap negara mengirim perwakilannya untuk melakukan sebuah perundingan dengan negara lain dalam rangka terwujudnya kepentingan bersama. Negara penerima berhak melakukan persona non grata kepada perwakilan diplomatik dari negara pengirim, apabila telah ada sengketa yang tidak mudah diselesaikan. Pengusiran perwakilan diplomatik yang terjadi dalam kasus keracunan Sergei Skripal merupakan bentuk rasa kecewa negara Inggris kepada Rusia dan diikuti oleh beberapa negara lain di antaranya Amerika Serikat. Berbagai kemungkinan diakibatkan oleh kejadian tersebut, seperti mengganggu kelangsungan hubungan diplomatik yang baik, dan terhadap keberlangsungan perjanjian-perjanjian yang telah ada. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaturan mengenai pengusiran atau persona non grata perwakilan diplomatik, serta dampak pengusiran perwakilan diplomat Rusia atas perjanjian yang telah dibuat antara Rusia dengan Inggris dan negara lainnya. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif. Penelitian ini menggunakan sumber data berupa data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan. Analisis data berdasarkan normatif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat diketahui bahwa Pasal 4 dan 9 Konvensi Wina 1961 menyatakan negara penerima berhak melakukan persona non grata kepada perwakilan diplomatik asing, dengan atau tanpa alasan sebagai bentuk rasa kecewa. Adanya intervensi dengan melakukan pengusiran yang dilakukan oleh negara lain menjadi wujud rasa simpati kepada Inggris, agar Rusia tetap bertanggung jawab menyelesaikan kasus tersebut. Pasal 63 Konvensi Wina 1969 menyatakan putusnya hubungan diplomatik antara kedua pihak yang terkait dalam suatu perjanjian internasional, tidak mempengaruhi hubungan hukum antara kedua negara ini sebagaimana telah ditentukan dalam perjanjian internasional tersebut. | Each State sends its representatives to conduct a negotiation with other countries in order to create common interests. The receiving State has the right to conduct persona non grata to diplomatic representatives from the sending State, if there is a dispute that can’t be resolved easily. The expulsion of diplomatic representative in the case of the poisoning of Sergei Skripal was a form of England State's disappointment to Russia and followed by several other States including the United States. Every possibility caused by this incident can disrupt the continuity of good diplomatic relations, as well as the continuity of existing agreements. The purpose of this research is to know about the arrangements for expulsion or persona non grata diplomatic representative, as well as the impact of expulsion of representatives of Russian diplomats under agreements that had been made. The research method used in this writing is normative juridical with descriptive research specification. This study uses data sources in the form of secondary data obtained through literature studies. Analized by qualitative normative. Based on the results of the research and discussion, it can be seen that Articles 4 and 9 of the Vienna Convention 1961 explains receiving State has the right to conduct persona non grata against foreign diplomatic representatives, with or without reason as a form of feeling disappointed. The intervention by conducting evictions carried out by other States is a form of sympathy for the England State, in order that Russia still has to be responsible for resolving the case. Article 63 of The Vienna Convention 1969 be explains the termination of diplomatic relations between the two parties involved in an international agreement does not affect the legal relation between the two countries as determined in the international agreement. | |
| 22594 | 25180 | E1A015051 | PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN KENDARAAN BERMOTOR ATAS KERUGIAN YANG DI DERITA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM PUTUSAN PENGADILAN NEGERI MARISA NOMOR : 15/Pdt.Sus-BPSK/2017/PN.Mar | ABSTRAK PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN KENDARAAN BERMOTOR ATAS KERUGIAN YANG DI DERITA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM PUTUSAN PENGADILAN NEGERI MARISA NOMOR : 15/Pdt.Sus-BPSK/2017/PN.Mar Oleh : Dini Diniyawati E1A015051 Penelitian ini mengkaji tentang perlindungan hukum terhadap konsumen kendaraan bermotor atas kerugian yang di derita berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap konsumen kendaraan bermotor atas kerugian yang di derita berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dalam Putusan Pengadilan Negeri Marisa Nomor : 15/Pdt.Sus-BPSK/2017/PN.Mar. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan yuridis normatif, spesifikasi penelitian adalah deskriptif dengan menggunakan data sekunder yang disajikan dengan urauan secara sistematis dan logis, kemudian dianalisis secara normatif-kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data maka dapat diambil suatu simpulan bahwa konsumen telah mendapatkan perlindungan hukum berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yaitu berdasarkan Pasal 7 huruf (g) UUPK, bahwa pelaku usaha memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian. Sedangkan tanggung jawab PT Hasjrat Abadi Cabang Marisa sebagai pelaku usaha diatur dalam Pasal 19 angka (1) UUPK yaitu bertanggungjawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan. | ABSTRACT LEGAL PROTECTION OF MOTORIZED VEHICLE CONSUMERS ON THE LOSSES SUFFERED BASED ON LAW NUMBER 8 OF 1999 CONSUMER PROTECTION IN THE DECISION OF THE MARISA STATE COURT NUMBER: 15/Pdt.Sus-BPSK/2017/PN.Mar By: Dini Diniyawati E1A015051 This study examines legal protection for consumers of motor vehicles for losses suffered under Law Number 8 of 1999 concerning Consumer Protection. This study aims to determine the legal protection of consumers of motor vehicles for losses suffered under Law No. 8 of 1999 concerning Consumer Protection in the Marisa District Court DecisionNumber: 15/Pdt.Sus-BPSK/2017/PN.Mar. The approach method used in this study is a normative juridical approach, the specification of this study is descriptive using secondary data wich in presented with a systematic and logical description, then the data will be analyzed in a normative-qualitative way. Based on the results of research and data analysis, it can be concluded that consumers have obtained legal protection based on Law Number 8 of 1999 concerning Consumer Protection, which is based on Article 7 letter (g) of the Consumer Protection Act, that business actors provide compensation, compensation and / or replacement if the goods and / or services received or utilized are not in accordance with the agreement. While the responsibility of PT Hasjrat Abadi Branch Marisa as a business actor is regulated in Article 19 number (1) of the Consumer Protection Act, which is responsible for providing compensation for consumer damage, pollution and / or loss due to consuming goods and / or services produced or traded. | |
| 22595 | 25181 | D1A015174 | PENGARUH TIPE PENGOLAHAN ARES PISANG (MUSA PARADISIACA ) DAN KLOBOT JAGUNG (ZEA MAYS) TERHADAP FAKTOR HIGROSKOPIS DAN LUAS PERMUKAAN SPESIFIK | Penelitian berjudul Pengaruh tipe pengolahan Ares Pisang (Musa paradisiaca) dan Klobot Jagung (Zea mays) terhadap Faktor Higroskopis dan Luas Permukaan Spesifik dilaksanakan mulai tanggal 19 November 2018 sampai dengan 28 Januari 2018. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengkaji pengaruh fermentasi dan amoniasi pada ares pisang dan klobot jagung terhadap faktor higroskopis dan luas permukaan spesifik; 2) Mengkaji jenis pengolahan terbaik pada ares pisang dan klobot jagung ditinjau dari faktor higroskopis dan luas permukaan spesifik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode experimen. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan beda nyata jujur (BNJ). Pengolahan yang dipilih pada penelitian ini berupa amoniasi dan fermentasi pada ares pisang dan klobot jagung. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan amoniasi dan fermentasi berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap faktor higroskopis dan berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap luas permukaan spesifik. Hasil uji lanjut menunjukkan tidak ada perbedaan faktor higroskopis antar perlakuan pada ares pisang dan klobot jagung sedangkan pada luas permukaan spesifik antar perlakuan terdapat perbedaan. Jenis pengolahan terbaik untuk klobot jagung ditinjau dari faktor higroskopis yaitu fermentasi sedangkan untuk ares pisang yaitu tanpa pengolahan. Selanjutnya ditinjau dari luas permukaan spesifik jenis pengolahan terbaik untuk ares pisang adalah amoniasi sedangkan untuk klobot jagung yaitu tanpa pengolahan. Kesimpulannya adalah Perlakuan amoniasi dan fermentasi tidak mempengaruhi faktor higroskopis tetapi mempengaruhi luas permukaan spesifik ares pisang dan kobot jagung, perlakuan amoniasi maupun fermentasi meningkatkan faktor higroskopis ares pisang dan perlakuan amoniasi pada ares pisang meningkatkan luas permukaan spesifik. Perlakuan fermentasi menurunkan faktor higroskopis klobot jagung sedangkan luas permukaan spesifik menurun saat dilakukan pengolahan berupa amoniasi dan fermentasi. | The study entitled The Effect of Processing Type of Banana Stems (Musa paradisiaca ) and Corn Husk (Zea mays ) on Hygroscopic Factors and Specific Surface Area was conducted from November 19th, 2018 to January 28th, 2019. This study aims to: 1) examine the effect of fermentation and ammoniation on the level of banana stems and corn husk on hygroscopic factors and specific surface area; 2) assess which treatment is best for both variables. The method of this research is Experiment. The experimental design of this study was complete randoised design. The data obtained was processed using analysis of variance and it was continued with a Tukey HSD test. The processing chosen in this research was ammonia and fermentation on the banana stems and cornhusk. The results of the study aimed at ammoniation and fermentation treatment had a significant effect (P <0.05) on hygroscopic factors and had a very significant effect (P <0.01) on specific surface area. The results of the follow-up tests showed no difference in hygroscopic factors between treatments on the banana stems and cornhusk while on the specific surface area between treatments there were differences. The best type of processing for cornhusk in terms of hygroscopic factors is fermentation while for banana stems is without processing. Furthermore, in terms of the specific surface area of the best type of processing for banana stems, it is ammonia, whereas for cornhusk it is without processing. The conclusion is that ammoniation and fermentation treatment increases the hygroscopic factor of banana stems and the treatment in the form of ammonia on banana stems increases its specific surface area. The fermentation treatment decreases the hygroscopic factor of cornhusk while the specific surface area decreases when processing in the form of ammonia and fermentation. | |
| 22596 | 25183 | A1L013187 | PENGARUH PEMBERIAN FREKUENSI DAN KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR (POC) SO-KONTAN FERT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SELADA PADA SISTEM ORGANIK | Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui frekuensi dan konsentrasi Pupuk Organik Cair (POC) SO-Kontan Pert terhadap peningkatan pertumbuhan tanaman selada, 2) mengetahui kombinasi terbaik antara frekuensi pemupukan dan konsentrasi Pupuk Organik Cair (POC) SO-Kontan Fert. Penelitian dilakukan di green house milik petani di Desa Windujaya, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus sampai September 2018. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan pola faktorial yaitu faktor pertama konsentrasi 4 ml L-1, 6 ml L-1, dan 8 ml L-1. Faktor kedua yaitu frekuensi pemupukan 1, 2 dan 3 kali. Variabel yang di amati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, bobot segar akar, bobot kering akar, serta volume akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi 8 ml L-1 dengan frekuensi 3 kali memberikan pertumbuhan dan hasil yang maksimal. | This study aims to 1) Determine the frequency and concentration of Liquid Organic Fertilizer (LOF) at SO-Kontan to increase the growth of lettuce plants, 2) find out the best combination of fertilization frequency and Liquid Organic Fertilizer concentration (LOF) SO-Kont Fert. The research was conducted in a farmer's green house in Windujaya Village, Kedungbanteng District, Banyumas Regency. This study was conducted in August to September 2018. The experimental design used was a Complete Randomized Block Design (CRBD) with a factorial pattern, namely the first factor concentration of 4 ml L-1, 6 ml L-1, and 8 ml L-1. The second factor is the frequency of fertilizing 1, 2 and 3 times. The variables observed were plant height, leaf number, leaf area, plant fresh weight, plant dry weight, root fresh weight, root dry weight, and root volume. The results showed that the concentration of 8 ml L-1 with a frequency of 3 times gave maximum growth and yield. | |
| 22597 | 25184 | E1A015094 | PRAPERADILAN YANG MENGABULKAN PERMOHONAN PENETAPAN TERSANGKA DALAM PERKARA KORUPSI BANK CENTURY (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor: 24/Pid.Pra/2018/PN.Jkt.Sel) | Praperadilan merupakan salah satu instrumen dalam sistem peradilan pidana Indonesia yang berfungsi sebagai upaya koreksi terhadap kemungkinan terjadinya tindakan yang tidak sah selama proses Penyidikan maupun Penuntutan. Kewenangan lembaga praperadilan secara limitatif ditentukan oleh KUHAP, yang telah mengalami perluasan melalui Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 21/PUU-XII/2014. Berdasarkan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku dalam hukum positif Indonesia, penetapan tersangka baru sebagaimana diputus oleh hakim pemeriksa perkara Nomor: 24/Pid.Pra/2018/PN.Jkt.Sel tidaklah termasuk dalam kewenangan pemeriksaan praperadilan. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian preskriptif analisis. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh melalui metode pengumpulan data dengan studi dokumen atau kepustakaan. Data-data yang diperoleh disajikan dalam bentuk uraian/ narasi dan menggunakan metode analisis normatif kualitatif. Hasil penelitian maupun pembahasan menunjukkan bahwa penetapan tersangka baru yang menjadi amar putusan hakim dalam perkara a quo telah bertentangan dengan asas legalitas yang berlaku dalam hukum acara pidana, karena penetapan tersangka baru bukanlah objek pemeriksaan praperadilan sebagaimana secara limitatif telah diatur dalam hukum positif Indonesia. Penetapan tersangka telah ditentukan sebagai kewenangan mutlak dari penyidik. Hal ini tidak terlepas dari adanya ketentuan yang mensyaratkan diketemukannya bukti permulaan yang terdiri dari minimal dua alat bukti untuk dapat menetapkan tersangka. Bukti permulaan sebagai syarat untuk dapat menetapkan seseorang menjadi tersangka hanya dapat diperoleh melalui prosedur pemeriksaan pendahuluan. | Pretrial is one of the instruments in the Indonesian criminal justice system that serves as an effort to correct the possibility of unauthorized acts during the investigation and prosecution process. The authority of the pretrial institution is limitatively determined by the Criminal Procedure Code, which has judicially reviewed through the Decision of the Constitutional Court Number 21/PUU-XII/2014. Based on the legal provisions that apply in Indonesian positive law, the determination of new suspects as decided by the judge Number: 24/Pid.Pra/2018/PN.Jkt.Sel is not included in the authority of pretrial examinations. This study uses a normative juridical approach with prescriptive analysis research specifications. The data used is secondary data obtained through methods of collecting data by studying documents or literature. The data obtained is presented in the form of a description / narration and analyzed using qualitative normative methods. The results of the study show that the determination of new suspects who are judges in the case has contradicted to the principle of legality that applies in criminal procedural law, because the determination of new suspects is not the object of pretrial examination as determined limitatively in Indonesian positive law. Determination of the suspect has been determined as the absolute authority of the investigator. This is inseparable from the provision that requires the discovery of preliminary evidence consisting of at least two shreds of evidence to be able to determine the suspect. Preliminary evidence as a condition for being able to determine a person as a suspect can only be obtained through a preliminary examination procedure. | |
| 22598 | 25907 | C1A015027 | DAMPAK PEMBANGUNAN BANDARA INTERNASIONAL JAWA BARAT TERHADAP KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA TANI DI DESA SUKAMULYA KECAMATAN KERTAJATI KABUPATEN MAJALENGKA | Pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) merupakan realisasi rencana pembangunan Provinsi Jawa Barat yang kemudian dijadikan pembangunan nasional. Pembangunan BIJB membutuhkan dukungan dari masyarakat, salah satunya adalah pembebasan tanah. Terjadinya pembebasan tanah tersebut berdampak pada kondisi sosial ekonomi masyarakat yang bekerja di sektor pertanian. Penelitian ini mengambil judul : “Dampak Pembangunan BIJB Terhadap Kesejahteraan Rumah Tangga Tani Di Desa Sukamulya Kecamatan Kertajati Kabupaten Majalengka”. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak pembangunan BIJB terhadap pendapatan rumah tangga tani sebelum dan sesudah adanya pembangunan BIJB dan tingkat kesejahteran rumah tangga tani sebelum dan sesudah adanya pembangunan BIJB dengan menggunakan pendekatan deskriptif komparatif. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan data primer diperoleh melalui wawancara dan kuesioner pada rumah tangga tani yang terkena pembebasan tanah pertanian. Teknik pengumpulan sampel dilakukan menggunakan metode simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 76 responden. Teknik analisis data yang digunakan adalah metode analisis pendapatan dan analisis uji beda sampel berpasangan (paired sample t-test). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya perbedaan pendapatan rumah tangga tani sebelum dan sesudah adanya pembangunan BIJB dengan t-hitung > t-tabel (-3,725 > -1,66571) dengan nilai taraf signifikan lebih kecil dari 0,05 (0.000 < 0,05). Kemudian rumah tangga tani yang terdampak akibat pembangunan BIJB di Desa Sukamulya Kecamatan Kertajati Kabupaten Majalengka yang termasuk dalam kategori sejahtera turun, sehingga dikatakan belum sejahtera atau berada di bawah standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) Kabupaten Majalengka menurut Badan Pusat Statistik. Untuk mengurangi dampak negatif alih fungsi lahan pertanian terhadap rumah tangga tani di mana dengan mempertimbangkan kriteria ekonomi, sosial, dan lingkungan yakni melalui 1) penyediaan alternatif lapangan kerja dengan adanya pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan pendapatan dan tingkat kesejahteraan rumah tangga tani, 2) tukar guling lahan agar petani dapat membeli lahan semula yang dibebaskan dengan harga yang sesuai dengan kemampuan petani, dikarenakan harga lahan yang tersedia semakin naik setiap tahunnya. | The construction of the West Java International Airport (BIJB) is a realization of the development plan of West Java Province which was later made into national development. BIJB development requires support from the community, one of which is land acquisition. The occurrence of land acquisition has an impact on the socio-economic conditions of the people who work in the agricultural sector. The study takes the title : "Impact of BIJB Development on Farmer Household Welfare in Sukamulya Village, Kertajati District, Majalengka Regency". The purpose of this research was to analyze the impact of BIJB development on farm household income before and after the BIJB development and the level of welfare of farm households before and after the BIJB development by using a comparative descriptive approach. The research method used is a survey method with primary data obtained through interviews and questionnaires on farm households affected by the release of agricultural land. The sample collection technique was carried out using simple random sampling method with a total sample of 76 respondents. The data analysis technique used is the income analysis method and different paired sample t-test analysis. Based on the results of the study indicate that there are differences in farm household income before and after the BIJB development with t-count> t-table (-3,725 > -1,66571) with a significant value of less than 0.05 (0.000 <0.05). Then the farming households affected by the construction of the BIJB in Sukamulya Village, Kertajati Subdistrict, Majalengka Regency which fall into the category of prosperity fell, so that it was said to be not prosperous or under the Majalengka Regency Decent Living Standard (KHL) according to the Central Bureau of Statistics. To reduce the negative impact of conversion of agricultural land to farm households where taking into account economic, social and environmental criteria, namely through 1) providing alternative employment opportunities by providing training and assistance to increase income and welfare levels of farm households, 2) rolling swaps land so that farmers can buy the original land that was released at a price in accordance with the ability of farmers, because the price of available land is increasing every year. | |
| 22599 | 25187 | F1A014012 | TA’DZIM SANTRI DI PONDOK PESANTREN DARUSSALAM, DESA DUKUHWALUH, KECAMATAN KEMBARAN | Sikap ta’dzim merupakan salah satu sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang dan tidak hanya santri yang melakukanya. Terciptanya sikap ta’dzim harus didukung oleh lingkungan masyarakat agar tetap dapat dipertahankan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk sikap di Pondok Pesantren Darussalam (PPDS) Desa Dukuhwaluh, Kecamatan Kembaran agar santri mampu menghindari perbedaan seiring perkembangan zaman seperti sekarang ini dan tetap menanam sikap ta’dzim kepada Kiai. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Sasaran penelitian ini adalah santri, pengurus santri dan dewan asatidz pondok pesantren Darussalam. Metode pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi serta dokumentasi kepada informan yang memiliki informasi yang lengkap dan akurat, memiliki karakteristik tertentu dan memahami dengan baik (purposive sampling), analisis data yang digunakan adalah analisi data interakrtif. Hasil penelitian ini menjelasakan bahwa santri pondok pesantren Darussalam (PPDS) memiliki sikap ta’dzim yang berbeda-beda. Sikap ta’dzim yang dilakukan santri yakni untuk mencari ridhonya guru yang nantinya akan bermanfaat untuk ilmunya dan kehidupannya kelak. Perbedaan sikap ta’dzim yang dilakukan santri dapat disesuaikan dengan situasi saat itu yakni santri mendefinisikan perbedaan sikap ta’dzim sesuai dengan pengalaman pribadinya masing-masing. Jadi, perbedaan sikap ta’dzim bukan karena santri tidak mengerti akan arti dan makna dari ta’dzim tetapi bagaimana santri menginterpretasi sikap ta’dzim tersebut. Faktor yang menyebabkan perbedaan sikap ta’dzim yang dilakukan santri ada dua yakni faktor internal (dari diri santri) dan faktor eksternal (lingkungan). Upaya yang dilakukan santri dalam menjaga sikap ta’dzim adalah dengan mempunyai sikap hormat, etika yang baik, disiplin dan mengikuti aturan–aturan yang telah ditetapkan. | Ta'dzim's attitude is one of the attitudes that must be possessed by everyone and it’s not just the attitudes for the santri to do it. The creation of a ta'dzim attitude must be supported by the community in order to maintain it. This study aimed to determine the form of attitudes at the Islamic Boarding School of Darussalam (PPDS) in Dukuhwaluh Village, Kembaran District so that santri were able to avoid changes along the current era and still cultivate a ta'dzim attitude to Kiai. This study uses descriptive qualitative methods. The targets of this research were santri, santri’s keeper/administrator and the asatidz of pondok pesantren Darussalam. The method of data collection is done by interviewing, observing and documenting informants who have complete and accurate information, have certain characteristics and knowledgeable about the object (purposive sampling), the data analysed by interactive data analysis method.The results of this study explain that the Islamic boarding school students of Darussalam (PPDS) have a different attitude. Ta'dzim's attitude, which is carried out by santri, is to find a teacher who will be useful for his knowledge and their after life. The difference in ta'dzim's attitude made by santri can be adjusted to the situation at that time, the santri defined the difference in ta'dzim attitude according to their personal experiences. So, the difference in attitudes of ta'dzim is not because the santri do not understand the meaning of ta'dzim itself but how the santri interpret the ta'dzim's attitude in their own way. There are factors that cause differences in ta'dzim's attitude by santri, the first one is internal factors (from the students) and the second one is external factors (environment). The efforts made by the santri in maintaining ta'dzim's attitude are to have a respectful attitude, good ethics, discipline and follow the rules that have been set. | |
| 22600 | 25188 | E1A015034 | PENERAPAN PASAL 52 UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN TERKAIT KEWENANGAN BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN (STUDI PUTUSAN NOMOR 54/PDT.SUS.BPSK/2017/PN.TSM.) | Penelitian ini mengkaji tentang Kewenangan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen berdasarkan Pasal 52 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen dalam sengketa antara Ita Witasari dengan Bank Tabungan Negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kewenangan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Tasikmalaya berdasarkan Pasal 52 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dalam Putusan Nomor 54/Pdt.Sus.BPSK/2017/PN. Tsm. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan yuridis normatif, spesifikasi penelitian adalah preskriptif dengan menggunakan data sekunder yang disajikan dengan uraian secara sistematis dan logis, kemudian dianalisa secara normatif-kualitatif. Hasil penelitian pada Putusan Nomor 54/Pdt.Sus.BPSK/2017/PN.Tsm ini menunjukan bahwa antara Ita Witasari dan Bank Tabungan Negara tidak ada hubungan hukum keperdataan, karena Ita Witasari bukan merupakan nasabah yang terikat perjanjian dengan Bank melainkan pihak ketiga, Ita Witasari hanya terikat perjanjian dengan Afif Naofal yang merupakan sengketa perdata murni, oleh karena itu BPSK tidak berwenang untuk mengadili perkara tersebut karena tidak termasuk kualifikasi sengketa konsumen. Hal ini didasarkan pada Pasal 52 huruf k UUPK, Pasal 1 angka (8) dan Pasal 17 huruf b Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 Tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen. | This study examines the Authority of the Consumer Dispute Settlement Agency based on Article 52 of Law Number 8 of 1999 concerning Consumer Protection in a dispute between Ita Witasari and the State Savings Account. This study aims to determine the authority of the Tasikmalaya City Dispute Settlement Agency based on Article 52 of Law Number 8 of 1999 concerning Consumer Protection in Decision Number 54 / Pdt.Sus.BPSK / 2017 / PN. Tsm. The yuridisnormatif method is being used in this study, the research is a prescriptive specification by using secondary data, presented in a systematic and logical way, and analyzed in normative-qualitative. The results of the study on Decision Number 54 / Pdt.Sus.BPSK / 2017 / PN.Tsm shows that between Ita Witasari and Bank Tabungan Negara there is no civil law relationship, because Ita Witasari is not a customer who is bound by an agreement with the Bank, but as a third person , Ita Witasari is only bound by an agreement with Afif Naofal, as a pure civilian dispute, therefore BPSK is not authorized to try the case because it is not included in the consumer dispute qualifications. This is based on Article 52 letter k UUPK, Article 1 number (8) and Article 17 letter b , Decision of the Minister of Industry and Trade Number 350 / MPP / Kep / 12/2001 concerning Implementation of Duties and Authorities of the Consumer Dispute Settlement Agency. |