Artikelilmiahs
Menampilkan 16.341-16.360 dari 49.958 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 16341 | 19653 | H1L010021 | Rancang Bangun Sistem Informasi Persediaan Barang Berbasis Web (Studi Kasus EKG Mart Ciamis) | ABSTRAK RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PERSEDIAAN BARANG BERBASIS WEB (STUDI KASUS EKG MART CIAMIS) Fahmi Prayuda Bidang kewirausahaan dalam penyedia jasa pelayanan jual beli adalah salah satu bidang yang memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. EKG Mart Ciamis merupakan penyedia jasa pelayanan yang menyediakan sarana yang dalam pengelolaan proses kegiatan masih menggunakan pencatatan di buku berupa pendataan barang, pendataan barang masuk, pendataan barang keluar dan membuat laporan. Di sisi lain dengan semakin berkembangnya teknologi, perangkat elektronik penyimpanan data menggunakan perangkat komputer dirasa lebih aman dan mudah. Maka dari itu, dibutuhkan SISTEM INFORMASI PERSEDIAAN BARANG yang memanfaatkan komputer berbasis web untuk melakukan pendataan barang masuk dan barang keluar untuk mempermudah transaksi. Sistem ini dirancang menggunakan DFD (Data Flow Diagram) dan ERD (Entity Relationship Diagram) serta dibangun menggunakan bahasa pemrograman Php dengan menggunakan Framework Yii dan database MySQL. Sistem ini dapat memudahkan untuk melakukan penyimpanan data dan mengelola proses transaksi dengan lebih efisien. Kata kunci : web, EKG Mart Ciamis, Framework Yii. | ABSTRACT THE DESIGN AND DEVELOPMENT OF WEB-BASED INVENTORY INFORMATION SYSTEM (CASE STUDY AT EKG MART CIAMIS) Fahmi Prayuda The field of entrepreneurship in service providers selling and buying is one of the areas that take advantage of advances in information technology. EKG Mart Ciamis is a service provider that provides facilities in the management of the activity process still using the recording in the book in the form of data collection, data entry, data collection and reporting. On the other hand with the development of technology, electronic data storage devices using computer perceived more secure and easy. Therefore, it takes INFORMATION SYSTEMS OF INVENTORY that utilize web-based computer to perform data collection of goods and goods out to facilitate the transaction. This system is designed using DFD (Data Flow Diagram) and ERD (Entity Relationship Diagram) and built using Php programming language using Yii Framework and MySQL database. This system can make it easier to store data and manage transaction processes more efficiently. Keywords : web, EKG Mart Ciamis, Yii Framework. | |
| 16342 | 19654 | H1L010027 | Rancang Bangun Sistem Informasi Akademik Berbasis Web (Studi Kasus SMP N 2 Cijeungjing Kabupaten Ciamis) | Sistem informasi akademik berbasis web di SMP Negeri 2 Cijeungjing merupakan sistem informasi akademik yang dibuat dalam rangka memberikan kemudahan bagi pihak sekolah dalam proses pengelolaan dan pengolahan data akademik siswa, yaitu dengan menyediakan sistem yang dapat menampung sekaligus mengolah data akademik siswa menjadi laporan berupa rapor akademik siswa yang dapat dicetak langsung dari sistem. Sistem informasi akademik ini juga dapat melakukan pengelolaan jadwal pelajaran dan data kelas untuk membantu pengelolaan dan penyampaian jadwal pelajaran dan data kelas. Metode yang digunakan dalam pembangunan sistem informasi akademik ini adalah metode waterfall sehingga pengembangan dilakukan secara sistematis dan dilaksanakan secara berurutan. Pengembangan sistem informasi dilakukan dengan menggunakan framework PHP yaitu Yii framework. Dengan dibangunnya sistem informasi akademik ini diharapkan dapat membantu sekolah dalam melakukan pengelolaan data akademik siswa agar lebih efisien. | Web-based academic information system in SMP Negeri 2 Cijeungjing is an academic information system created in order to provide convenience for the school in the process of managing and processing student academic data, by providing a system that can accommodate student’s academic data and at the same time processing it into a report in the form of student academic report cards which can be printed directly from the system. This academic information system can also manage the lesson schedule and class data to assist the process of managing and broadcasting lesson schedules and class data. The method used in the development of the system is waterfall method so that development is done systematically and implemented in sequence. System development is done by using framework of PHP which is Yii framework. This web-based academic information system is expected to assist the school in managing student’s academic data so that the process can be more efficient. | |
| 16343 | 19655 | H1D010072 | TINJAUAN KINERJA GEDUNG DINDUKCAPIL KABUPATEN PURBALINGGA DENGAN ANALISIS PUSHOVER | Gempa bumi merupakan bencana yang sulit diprediksi kapan dan dimana terjadinya tidak terkecuali di Indonesia yang merupakan negara yang dilalui oleh cincin api pasifik. Dengan ditetapkannya SNI 03-1726-2012 yang membatalkan dan menggantikan SNI 03-1726-2002, maka untuk gedung yang direncanakan setelah tahun 2012 perlu ditinjau ketahanan strukturnya dengan peraturan terbaru. Gedung Dindukcapil Purbalingga merupakan gedung yang termasuk kategori resiko III, sehingga dalam rangka mitigasi bencana gempa bumi dipandang perlu untuk meninjau kinerjanya. Hasil analisis diketahui memiliki simpangan yang terjadi pada lantai teringgi pada bidang sumbu X sebesar 20,48 mm dan pada bidang sumbu Y sebesar 62,6 mm pada tingkat statik linier, pada tingkat pushover sebesar 108 mm pada bidang X dan 118 mm pada bidang Y kedua tingkat tersebut masih dibawah simpangan izin maksimum sebesar 128 mm. Target perpindahan dengan menggunakan metode spektrum kapasitas sebesar 60 mm pada bidang X yang terletak pada langkah ke 5 hirarki plastisifikasi dan 72 mm pada bidang Y terletak pada langkah ke 5 hirarki plastisifikasi. Gaya seismik yang bekerja pada analisis pushover pada sumbu X sebesar 609510,9 kg dan sumbu Y sebesar 687598,1 kg, pada kedua gaya masing-masing sumbu telah menggunakan 225% dari gaya seismik rencana sebesar 270442,84 kg. Batas plastisifikasi pada Bidang X terletak pada langkah ke dua dan bidang Y pada langkah pertama, desain keduanya memenuhi konsep strong colloum and weak beams. Langkah keruntuhan pada umbu X sebesar 14 langkah sementara sumbu Y sebesar 9 langkah. Kinerja gedung adalah Immediate Occupancy dengan rasio simpangan pada target perpindahan sumbu X sebesar 0,007% dan sumbu Y sebesar 0,008%, keduanya belum melewati batas kinerja Immediate Occupancy sebesat 0,01%. | Earthquake is a disaster that can’t be predicted when and where will be occurred, Indonesia is not an exception a country that traversed by Pacific Ring of Fire. With the enactement SNI 03-1726-2012 that cancel and replaced old regulation the SNI 03-1726-2002, then any buildings that planned at 2012 forward it’s structural behavior must be reviewed with the new regulation. Dindukcapil building at Purbalingga district is one of the buildings with category risk at III, so in context of earthquake disaster mitigation is necessary to evaluate it’s structural performance according to latest regulation. The result of the analysis is known to have the deviation that occurring at the highest floor on the X axis of 20.48 mm and on the axis Y of 62.6 mm at the linear static level, at the pushover level 108 mm in the X axis and 118 mm in the Y axis, the result are still below the maximum permissible deviation at 128 mm. The result after using capacity spectrum method of target displacement the X axis get target displacement at 60 mm that placed at 5th step in plasticification hierarchy table and Y axis at 72 mm that also placed at 5th step in plasticification hierarchy table. The maximum seismic force that act in pushover analysis at X axis at 609510,9 kg and Y axis at 6875598,1 kg, with that means both axis using more than 225% of seismic force design at 270442,84 kg. Plasticification limit in X axis lies in 2nd steps and Y axis at 1st step, both the axis passed the design of strong column and weak beams. Collapse steps at X axis are 14 step meanwhile in Y axis are 9 step. Performance building is Immediate Occupancy with deviation ratio at X axis are 0,007% and Y axis are 0,008%, both of them yet surpassed the Immediate Occupancy category limit at 0,01%. | |
| 16344 | 19656 | G1F013052 | EVALUASI TINGKAT KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN TERHADAP AKTIVITAS LAYANAN KEFARMASIAN OLEH APOTEKER DI PUSKESMAS PANGANDARAN KECAMATAN PANGANDARAN | Latar Belakang: Kualitas pelayanan kefarmasian di puskesmas bisa dievaluasi dengan mengukur kepuasan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan terhadap aktivitas layanan kefarmasian yang diberikan oleh apoteker kepada pasien di Puskemas Pangandaran Kecamatan Pangandaran. Metodologi: Metode survei dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel accidental sampling kepada 100 pasien rawat jalan yang mendapatkan pelayanan kefarmasian oleh apoteker. Analisis tingkat kepuasan pasien diukur dengan kuesioner yang membandingkan harapan dan kenyataan yang hasilnya dilakukan analisis gap. Data karakteristik pasien didapatkan dari form kesediaan partisipasi. Analisis bivariat dilakukan untuk melihat perbedaan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata tingkat harapan dan kenyataan termasuk dalam ketegori tinggi. Gap rata-rata keseluruhan item dari nilai harapan dan kenyataan sebesar 0,58 temasuk dalam klasifikasi kepuasan sedang. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada karakteristik jenis kelamin terhadap kepuasan pasien (p>0,05), serta terdapat perbedaan signifikan pada karakteristik usia dan tingkat pendidikan terhadap kepuasan pasien (p<0,05). Kesimpulan: Pasien merasa cukup puas dengan pelayanan kefarmasian yang diberikan oleh apoteker dan tidak ada perbedaan kepuasan pasien pada karakteristik jenis kelamin, namun terdapat perbedaan kepuasan pasien pada karakteristik usia dan tingkat pendidikan. Kata Kunci: Tingkat kepuasan, harapan, kenyataan, layanan kefarmasian, karakteristik pasien, Kecamatan Pangandaran. | Background: The quality of pharmaceutical services at public health center can be evaluated by measuring patients satisfaction. This research aimed to determine the satisfaction level with pharmaceutical services provided by pharmacists to patients at Pangandaran Public Health Center, Pangandaran Sub-district. Methodology: This research used cross sectional approach for the survey method. The sampling technique used was accident sampling to 100 outpatients who get pharmaceutical services by pharmacists. The patients satisfaction level was analyzed by using questionnaire, comparing expectation and reality which the result was analyzed by using gap analysis. The patient characteristics data were obtained from the participation willingness form. The bivariate analysis was also performed to see the difference. Results: The results showed that the mean values of expectation and reality were included in the high category. The mean item gap of expectation and reality values was 0.58, included in the medium satisfaction classification. The results of the analysis showed that there was no significant difference between the characteristics of sex and patients satisfaction (p > 0.05), and there was a significant difference between the characteristics of age and education level and patients satisfaction (p < 0.05). Conclusions: The patients felt quite satisfied with the pharmaceutical services provided by the pharmacists, and there was no difference between patients satisfaction and the characteristics of sex, but there was a difference between patients satisfaction and the characteristics of age and education level. Keywords: satisfaction level, expectation, reality, pharmaceutical services, patients characteristics, Pangandaran Sub-district. | |
| 16345 | 19657 | G1F013032 | IDENTIFIKASI RASIO PENGHAMBATAN COX-2/COX-1 OLEH FRAKSI ETIL ASETAT DAUN JARAK PAGAR (Jatropa curcas Linn.) DENGAN METODE IN VITRO | Jarak pagar (J. curcas) merupakan tanaman yang memiliki potensi sebagai obat antiinflamasi. Daun J. curcas mengandung flavonoid, fenol, glikosida, alkaloid, tanin, dan saponin. Senyawa flavonoid memiliki aktivitas antiinflamasi yang menghambat akumulasi leukosit di daerah inflames. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui selektivitas penghambatan FEA terhadap COX-1 atau COX-2 berdasarkan nilai rasio penghambatan yang dihasilkan berdasarkan nilai IC50 COX-2/ IC50 COX-1. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan post test with control group. Kontrol positi dan senyawa uji dibuat 5 variasi konsentrasi yaitu 6,25 ppm, 12,5 ppm, 25 ppm, 50 ppm, dan 100 ppm. Pengujian selektivitas dilakukan menggunakan metode Colorimetric COX (ovine) Inhibitor Screening Assay berdasarkan rendahnya nilai absorban senyawa hasil oksidasi N,N,N9,N9-tetrametil-p-fenilendiamin (TMPD). Hasil penelitian menunjukkan nilai % penghambatan terbesar yaitu pada konsentrasi 100 ppm dengan % penghambatan 88.913 % pada COX-1 dan 91.383 % pada COX-2. Nilai IC50 pada COX-1 dan COX-2 FEA yaitu 0.038 dan 0.033 dengan rasio penghambatan 0.874 dimana rasio tersebut < 1,0 sehingga dapat dinyatakan lebih selektif menghambat enzim COX-2 dibandingkan COX-1. | Background: Jatropha curcas (J. curcas) is a plant that has potential as an anti-inflammatory drugs. J. curcas leaves can contain flavonoids, phenols, glycosides, alkaloids, tannins, and saponins. Flavonoid compounds have anti-inflammatory activity that inhibits the accumulation of leukocytes in the inflames region. This study aims to determine the inhibitory selectivity of FEA to COX-1 or COX-2 based on the value of inhibition ratio generated based on IC50 COX-2 / IC50 COX-1 value. Method: This study used an experimental method with post test control group design. Positive control and test compound were made 5 concentration variations ie 6.25 ppm, 12,5 ppm, 25 ppm, 50 ppm, and 100 ppm. Selectivity test was performed using Colorimetric COX (ovine) Inhibitor Screening Assay method based on the low absorbance value of oxidation compound of N, N, N9, N9-tetramethyl-p-phenylenediamine (TMPD). Result: The result show that the highest percentage of inhibition is at 100 ppm concentration with 88.913% inhibition in COX-1 and 91.383% in COX-2. The value of IC50 on COX-1 and COX-2 FEA is 0.038 and 0.033 with an inhibition ratio of 0.874 where the ratio is <1.0 so it can be expressed more selectively inhibiting COX-2 enzyme than COX-1. Conclusion: FEA J. curcas selectively inhibits COX-2 | |
| 16346 | 19658 | G1F013030 | IDENTIFIKASI RASIO PENGHAMBATAN COX-2/COX-1 OLEH FRAKSI KLOROFORM DAUN JARAK PAGAR (Jatropa curcas Linn.) DENGAN METODE IN VITRO | Daun jarak pagar merupakan salah satu obat tradisional yang merupakan famili Euphorbiaceae yang diketahui memiliki efek antiinflamasi. Hasil skrining fitokimia daun jarak pagar menunjukkan bahwa daun jarak pagar mengandung terpenoid, tanin, alkaloid, fenol, flavonoid, glikosida, dan saponin. Senyawa yang diduga berpotensi sebagai antiinflamasi adalah terpenoid Penelitian ini menggunakan metode cox (ovine) colorimetric screening assay. Fraksi kloroform dibuat menjadi 5 variasi konsentrasi yaitu 6,125 ppm; 12,5 ppm; 50 ppm; dan 100 ppm. Fraksi kloroform daun jarak pagar tersebut diuji secara invitro dengan melihat aktivitas penghambatannya terhadap enzim siklooksigenase dan selanjutnya dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 450 nm menggunakan ELISA reader. Dari hasil absorbansi yang didapat selanjutnya dapat dicari nilai % penghambatan dan IC50. Dari nilai IC50 yang telah didapat,selanjutnya dapat dicari rasio penghambatan COX-2/COX-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi fraksi klorofrom daun jarak pagar yang menghasilkan penghambatan paling tinggi yaitu pada konsentrasi 100 ppm dengan nilai % penghambatan terhadap COX-1 dan COX-2 berturut – turut sebesar 88,63% dan 88,54%. Nilai IC50 dari masing – masing penghambatan COX-1 dan COX-2 berturut turut adalah 12,53 ppm dan 12,6 ppm sehingga didapatkan rasio sebesar 1,005. Fraksi kloroform daun jarak pagar tidak selektif dalam menghambat enzim siklooksigenase | Jatropha leaves is one of the traditional medicine that include in Euphorbiaceae family which has anti-inflammatory effect. The results of phytochemical screening of jatropha leaves showed that jatropha leaves contain terpenoid, tannins, alkaloids, phenols, flavonoids, glycosides, and saponins. The anti-inflammatory compound is terpenoid. This study used using cox (ovine) colorimetric screening assay method. The chloroform fraction was made into 5 concentration variations ie 6,125 ppm; 12.5 ppm; 50 ppm; And 100 ppm. The chloroform fraction of jatropha leaves was tested invitro by observing its inhibitory activity against cyclooxygenase enzymes and then read their absorbance at 450 nm wavelength using ELISA reader. From the obtained absorbance further can be found the value of % inhibition and IC50. From the value of IC50 that has been obtained, COX-2/ COX-1 inhibition ratio can be found. The results showed that the concentration chlorophorm fraction of Jatropha leaf that produced the highest inhibition was at 100 ppm concentration with value of inhibition to COX-1 and COX-2 respectively 88,63% and 88,54%. IC50 values of each COX-1 and COX-2 inhibition respectively were 12.53 ppm and 12.6 ppm to obtain a ratio of 1.005. Chloroform fractions of jatropha leaves are not selective in inhibiting cyclooxygenase enzymes. | |
| 16347 | 19659 | G1F012077 | GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP KONSUMSI SUPLEMEN OLAHRAGA PADA FITNESS CENTRE DI KABUPATEN PURBALINGGA | INTISARI Penggunaan Suplemen olahraga sudah sangat lazim dilakukan oleh anggota fitness centre. Pengetahuan yang baik diperlukan untuk mengurangi kejadian yang tidak diinginkan pada kasus konsumsi suplemen sehingga perlu dicari gambaran tingkat pengetahuannya. Selain itu, pengetahuan sangat mempengaruhi pengambilan keputusan dari seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penggunaan suplemen olahraga dan mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap konsumsi suplemen olahraga pada fitness centre di Purbalingga. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif bersifat cross-sectional. Dilakukan selama empat bulan pada beberapa fitness centre di Purbalingga. Data diambil pada 65 responden yang tersebar di beberapa fitness centre. Intrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner berdasarkan penelitian terdahulu dan telah diuji validasi dan reliabilitasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden 38 orang (58,5%) memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dan 36 orang (55,4%) menunjukan sikap yang baik. Suplementasi asam amino menjadi yang paling banyak digunakan dengan (53,8%). Sumber media informasi yang paling banyak didapat oleh responden adalah melalui pelatih atau instruktur sebesar 55,4%. Untuk para responden disarankan lebih banyak mencari informasi terbaru tentang suplemen dan untuk apoteker dapat berperan aktif dengan melakukan penyuluhan tentang suplemen olahraga. | The usage of sports supplements is very common for fitness center members. Knowledge level of the members is very needed, it can reduce unwanted incidents because of wrong supplement consumption. In other side, knowledge influences member to make a decision. This study aims to determine the usage characteristics of sports supplement and to determine the description of knowledge and consumption behavior of sports supplement at fitness center which is exist in Purbalingga. This study used the cross-sectional methode as descriptive observational. Data were taken of 65 respondents in some fitness centre. The instrument of study uses questionnaire based on previous study that had been tested the validation and the reliabitity. The result showed that 38 respondents of the populations (58,5%) have a high knowledge and 36 respondent (55,4%) have a good behaviour. The used of amino acid supplement is the most uses by the members (53,8%). Mostly they get the informations from their coach/trainers of 55,4%. Preferably, the members of fitness centre or the respondents looking for the newest information related sport supplements and pharmacists should be more active to doing the counseling related sport supplements. | |
| 16348 | 19660 | C1A010062 | ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN PEMULUNG DI KABUPATEN BANYUMAS (Studi Kasus pada Anggota Paguyuban Pemulung Kedung Randu Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas) | Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh curahan jam kerja, jenis kelamin, maupun umur terhadap pendapatan pemulung, untuk mengetahui faktor yang paling dominan mempengaruhi pendapatan pemulung, dan untuk mengetahui tingkat pendapatan pemulung Desa Kedung Randu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, dalam memenuhi standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Bagi penulis, penelitian ini merupakan kesempatan untuk menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan serta sebagai sarana untuk menerapkan teori yang sudah diperoleh selama kuliah, disamping sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada program studi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Bagi Pemerintah Daerah, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan bahan pertimbangan dalam merumuskan dan menerapkan berbagai kebijakan, khususnya yang terkait dengan upaya untuk meningkatan pendapatan para anggota Paguyuban Pemulung Kedung Randu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas. Selanjutnya, bagi pemulung, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan bahan pertimbangan serta memotivasi para anggota Paguyuban Pemulung Kedung Randu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, untuk terus meningkatkan pendapatannya. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian yaitu curahan jam kerja dan umur berpengaruh positif terhadap pendapatan pemulung, sedangkan jenis kelamin berpengaruh negatif terhadap pendapatan pemulung. Curahan jam kerja mempunyai pengaruh yang paling dominan terhadap pendapatan pemulung. Persentase pendapatan Paguyuban Pemulung Desa Kedung Randu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, terdapat 53 responden atau 93 persen responden tidak layak karena belum memenuhi Standar KHL Kabupaten Banyumas sebesar Rp1.336.820,79. Kemudian terdapat 4 responden atau 7 persen responden sudah layak karena sudah memenuhi Standar KHL Kabupaten Banyumas sebesar Rp1.336.820,79. Rata-rata pendapatan pemulung Desa Kedung Randu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, belum dapat memenuhi standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL). | The purpose of this research is to know the influence of work hour, sex, and age to scavengers income, to know the most dominant factor influence the scavengers income, and to know the income level of scavengers of Kedung Randu Village, District Patikraja, Banyumas, in fulfilling the standard of KHL. For the writer, this research is an opportunity to add knowledge, experience and insight as well as a means to apply the theory that has been obtained during the lecture, in addition as one of the requirements to obtain a degree in Economic Studies and Development Study (IESP) in Faculty of Economics And Business of General Soedirman University of Purwokerto. For the Local Government, the results of this study are expected to contribute thought and consideration in formulating and implementing various policies, especially those related to efforts to increase the income of members of Kedung Randu Pemuda Community, District Patikraja, Banyumas. Furthermore, for the scavengers, the results of this study are expected to contribute thoughts and materials considerations and motivate members of Circle Pemulung Kedung Randu, District Patikraja, Banyumas, to continue to increase revenue. Based on the results of research conducted, it can be formulated research hypothesis that the work hour and age brackets have a positive effect on waste income, whereas gender negatively affect the income of waste pickers, work hour has the most dominant influence to scavengers income. Percentage of income Paguyuban Scavengers Kedung Randu Village, District Patikraja, Banyumas, there are 53 respondents or 93 percent of respondents is not feasible because it has not meet KHL Standard Banyumas of Rp1, 336,820.79. Then there are 4 respondents or 7 percent of respondents is feasible because it meets KHL Standard Banyumas of Rp1.336.820,79. The average income of scavengers Kedung Randu Village, District Patikraja, Banyumas, has not been able to meet the standards of KHL. | |
| 16349 | 19639 | A1C013056 | STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA INDUSTRI LANTING DI DESA LEMAHDUWUR KECAMATAN KUWARASAN KABUPETEN KEBUMEN | Kabupaten Kebumen memiliki berbagai industri yang cukup berpotensi untuk dikembangkan, salah satunya adalah industri lanting. Industri lanting di Desa Lemahduwur memiliki prospek yang baik tetapi industri tersebut memiliki beberapa masalah seperti masalah dalam pemasaran, sumber daya manusia, bahan baku, dan sumber modal sehingga pengrajin lanting sulit untuk mengembangkan kapasitas produksi dan pemasaran produk lanting. Penelitian ini bertujuan untuk: 1)mengetahui besarnya keuntungan usaha dan R/C, 2)mengidentifikasi kemungkinan faktor yang mempengaruhi pengembangan usaha, 3)menentukan alternatif strategi terbaik dalam pengembangan industri lanting di Desa Lemahduwur. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Penelitan dilakukan di Desa Lemahuwur, Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen pada bulan Februari sampai dengan Maret 2017. Penentuan responden menggunakan metode sensus terhadap 44 responden. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis biaya, penerimaan dan pendapatan, analisis Revenue Cost Ratio (R/C), dan analisa keputusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri lanting di Desa Lemahduwur dibagi kedalam tiga tipe usaha yaitu tipe A, B, dan C. Keuntungan usaha industri lanting di Desa Lemahduwur tipe A, B, dan C masing-masing adalah Rp1.977; Rp2.133; dan Rp2.010 per kg lanting yang dihasilkan. R/C rasio industri lanting di Desa Lemahduwur tipe A, B, dan C masing-masing adalah 1,22; 1,24; dan 1,21. Faktor yang dapat mempengaruhi pengembangan usaha industri lanting di Desa Lemahduwur adalah faktor penjualan. Jika dilakukan pengembangan 100%, 50%, dan 25%, kemungkinan produk terjual 100% adalah 0,85, kemungkinan produk terjual 95% dengan 5% dikembalikan dan tidak layak jual adalah 0,15. Alternatif terbaik pengembangan usaha industri lanting tipe A adalah pengembangan usaha 25%, tipe B adalah pengembangan usaha 50%, dan tipe C adalah pengembangan usaha 50% disesuaikan dengan kemampuan pengrajin dalam menambah modal | Kebumen regency has a variety of industries that is ample potential to be developed, one of them is a lanting industry. Lanting industries in the village Lemahduwur has good prospects, but it has some problems in term of marketing, human resources, raw material, and capital, so that lanting employers difficult to develop the capasity of production and marketing of lanting product. This research aims to: 1) determine the profit of business and the R/C ratio, 2) identify factor probability that influence the development of enterprises, 3) determine the best alternative in the development of lanting industry in the village of Lemahduwur. The method used was survey. The research was conducted in the village of Lemahduwur, Kuwarasan Subdistrict, Kebumen Regency in February to March 2017. The determination of respondents used the census method on 44 respondens. The data analysis used were descriptive analysis, analysis of cost, revenue, and income, analysis of Revenue Cost Ratio (R/C), and decision analysis. The result showed that the lanting industries in the village of Lemahduwur are devided into three types of business; types A, B, and C. The profit of lanting industry in the village Lemahduwur for types A, B and C are Rp1.977; Rp2.133; and Rp2.010 per kg of lanting produced. R/C ratio of lanting industry for types A, B, and C are respectively 1.22; 1.24; and 1.21. Factors that influence the development of lanting industry in the village Lemahduwur is sales factor. If the development is done, the probability of products sold 100% is 0.85, the probability of products sold 95% with a 5% return products and not worth selling is 0.15. The best alternative development of lanting industries type A is the business development 25%, type B is the business development 50%, and the type C is the business development 50% depend on the employers ability to raise capital. | |
| 16350 | 18764 | A1L113058 | PENGARUH LAMA PERENDAMAN DAN KONSENTRASI LARUTAN DUA MACAM PEWARNA MAKANAN TERHADAP MUTU BUNGA SEDAP (Polianthes tuberosa) | Sedap malam (Polianthes tuberosa) merupakan salah satu tanaman hias populer dan penting, baik dari aspek estetika dan nilai komersial. Sedap malam pada umumnya dikembangkan sebagai bunga potong. Masa kesegaran yang pendek dari bunga sedap malam merupakan salah satu kendala dalam pasca panen bunga potong. Hal tersebut dapat diatasi dengan penggunaan larutan pewarna makanan dan larutan peraga. Pemberian larutan kombinasi pewarna yang tepat, baik konsentrasi dan lama perendamannya, dapat meningkatkan mutu dari bunga potong sedap malam menjadi lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui konsentrasi larutan pewarna yang terbaik untuk pewarnaan bunga potong sedap malam, (2) mengetahui lama perendaman yang terbaik untuk pewarnaan bunga potong sedap malam, dan (3) mengetahui kombinasi konsentrasi larutan pewarna dan lama perendaman yang terbaik pada pewarnaan bunga potong sedap malam. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Kelurahan Karangwangkal, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupatan Banyumas, dengan ketinggian tempat 110 mdpl pada bulan April 2017 sampai dengan Mei 2017. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap, dengan dua faktor. Faktor pertama berupa konsentrasi pewarna makanan yaitu: 0 ml/l (P0); 25 ml/l pewarna makanan merah + 25 ml/l pewarna makanan biru (P1), 30 ml/l pewarna makanan merah +30 ml/l pewarna makanan biru (P2), dan 35 ml/l pewarna makanan merah + 35 ml/l pewarna makanan biru (P3). Faktor kedua berupa lama perendaman yang meliputi 2 jam (W1), 4 jam (W2), dan 6 jam (W3). Variabel pengamatan meliputi volume larutan pewarna terserap, volume larutan peraga terserap, uji kesukaan, lama kesegaran bunga, warna bunga, dan variabel pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) konsentrasi larutan pewarna yang terbaik untuk pewarnaan bunga potong sedap malam adalah 25 ml/l pewarna makanan merah + 25 ml/l pewarna makanan biru, (2) lama perendaman yang terbaik untuk pewarnaan bunga potong sedap malam adalah selama 6 jam, (3) kombinasi perlakuan konsentrasi larutan dan lama perendaman yang terbaik pada pewarnaan bunga potong sedap malam adalah konsentrasi 25 ml/l pewarna merah + 25 ml/l pewarna biru dengan lama perendaman 6 jam. | Tuberose (Polianthes tuberosa) is an important and popular decorative plant, aesthetically and comercially. Tuberose is developed as cut flower. The problem from tuberose post-harvest handling is found that its freshness is short. The problem can be solved by using solution of food colouring and also pulsing solution. Giving the right combination dye solution, both from concentration and immersion time, may improve the tuberose quality. This research goals are (1) to know the best solutions concentration for tuberose colouring, (2) to know the best immersion time for tuberose colouring, and (3) to know the best combination of solutions concentration and immersion time for tuberose colouring. This research was conducted at Laboratorium of Agronomi & Hortikultura, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, North Purwokerto district, Banyumas regency, with place altitude are 110 meters above sea level (masl) in April 2017 until Mei 2017. Randomized Complete Block Design (RCBD) was used in this research, with two experimental factors. First factor is food colouring concentration, that is: 0 ml/l (P0); 25 ml/l red dye + 25 ml/l blue dye (P1); 30 ml/l red dye + 30 ml/l blue dye (P2); and 35 ml/l red dye + 35 ml/l blue dye (P3). Second factor is immersion time, 2 hours (W1); 4 hours (W2); and 6 hours (W3). Observed variables are volume of dye absorbed, volume of pulsing solution absorbed, favourite test, vase life, flower colour and supported variables. The results of this research showed that (1) the best concentration for tuberose colouring was 25 ml/l red dye + 25 ml/l blue dye; (2) the best immersion time for tuberose colouring was 6 hours; and (3) the best combination between solution concentration and immersion time was 25 ml/l red dye + 25 ml/l blue dye for 6 hours. | |
| 16351 | 19662 | A1C012067 | EFISIENSI PEMASARAN EMPING MELINJO DI KECAMATAN KEDUNGBANTENG KABUPATEN BANYUMAS | Kecamatan Kedungbanteng merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Banyumas yang menjadi salah satu sentra industri pengolahan emping melinjo di Kabupaten Banyumas. Pemasaran emping melinjo melibatkan beberapa lembaga pemasaran yang mempengaruhi panjang pendeknya saluran pemasaran dan tingkat efisiensi pemasaran dalam suatu usaha. Tujuan penelitian : (1) Mengidentifikasi saluran pemasaran emping melinjo di Kecamatan Kedungbanteng, (2) Menganalisis besar marjin pemasaran pada masing-masing saluran pemasaran emping melinjo, (3) Menganalisis besar persentase bagian yang diterima perajin (farmer’s share) dari harga di tingkat konsumen pada setiap saluran pemasaran, (4) Mengetahui saluran pemasaran emping melinjo yang paling efisien. Penelitian ini dilakukan tanggal 16 Januari sampai 15 Februari 2017 di Desa Dawuhan Kulon dan Desa Kalisalak Kecamatan Kedungbanteng dengan sasaran penelitian perajin emping melinjo dan pedagang perantara. Metode penelitian adalah metode survey. Pengambilan data menggunakan metode sensus untuk perajin dan metode snowball sampling untuk pedagang perantara. Jumlah perajin responden 60 orang dan pedagang perantara 10 orang. Analisis data menggunakan analisis deskriptif, analisis marjin pemasaran, farmer’s share, dan analisis efisiensi pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Saluran pemasaran emping melinjo : Saluran I yaitu perajin – pedagang pengumpul – pedagang besar – pedagang pengecer - konsumen, Saluran II yaitu perajin – pedagang pengumpul – pedagang pengecer - konsumen dan Saluran III yaitu perajin – pedagang besar – pedagang pengecer – konsumen. (2) Marjin pemasaran saluran I, II dan III masing-masing sebesar Rp 12.000,00 per kilogram, Rp 12.857,00 per kilogram dan Rp 11.000,00 per kilogram. (3) Farmer’s share saluran I, II dan III masing-masing sebesar 71,43 persen, 69,97 persen dan 75 persen. (4) Saluran pemasaran emping melinjo yang paling efisien terdapat pada saluran III, karena nilai efisiensi pemasaran terkecil yaitu 10,425 persen. | Kedungbanteng District is one of District in Banyumas Regency and also one of industrial centers of emping melinjo processing in Banyumas Regency. Marketing of emping melinjo involving several marketing agencies that will affect the short length of marketing channels and the level of marketing efficiency in a business. This research aims to: (1) Identify marketing channel of emping melinjo in Kedungbanteng District, (2) Analyze the amount of marketing margin at each marketing channel of emping melinjo, (3) Analyze the amount percentage of share received by craftsmen (Farmer's share) of the consumer-level price on each marketing channel, (4) Knowing the most efficient marketing channel of emping melinjo. This research on January 16 to February 15 2017 in Dawuhan Kulon Village and Kalisalak Village, the aim of researcher is crafter of emping melinjo and intermediary trader. The research method used survey method. Sampling using census methods for craftsmen and snowball sampling method for intermediary traders. The respondents of craftsmen is 60 people and intermediary traders is 10 people. Data analysis uses descriptive analysis, marketing margin, farmer's share, and marketing efficiency. The results : (1) marketing channel of emping melinjo in Kedungbanteng District has three: Channel I is craftsman - collector trader - wholesaler - retailer, Channel II is crafter - collector trader - retailer and Channel III is craftsman - wholesalers - retailers. (2) marketing margin channel I, II and III is Rp 12,000 per kilogram, Rp 12,857.00 per kilogram and Rp 11,000 per kilogram. (3) Farmer's share of channel I, II and III is 71.43 percent, 69.97 percent and 75 percent. (4) The most efficient marketing channel of emping melinjo is in channel III, because it has the smallest marketing efficiency value. | |
| 16352 | 19051 | A1C010089 | EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI PADA AGROINDUSTRI TEPUNG TAPIOKA (Studi Kasus pada Kelompok Pengrajin Tapioka “Manunggal Sari” Desa Gumelar Kecamatan Gumelar Kabupaten Banyumas). | Kecamatan Gumelar merupakan salah satu kecamatan yang sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai pengrajin tepung tapioka, khususnya di Desa Gumelar. Pada tahun 2013, para pengrajin tapioka Desa Gumelar membentuk kelompok pengrajin “Manunggal Sari” yang diketuai oleh Bapak Riswo. Agroindustri tepung tapioka di Desa Gumelar memiliki peranan yang sangat penting bagi perekonomian masyarakat. Proses produksi tepung tapioka tidak lepas dari penggunaan faktor produksi yaitu ubi kayu, bahan bakar, dan tenaga kerja. Penggunaan faktor produksi tersebut harus efisien, agar diperoleh keuntungan optimum. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui besarnya pendapatan yang diterima pengrajin tepung tapioka di Desa Gumelar; 2) mengetahui pengaruh penggunaan faktor-faktor produksi terhadap hasil produksi tepung tapioka di Desa Gumelar; dan 3) mengetahui efisiensi penggunaan faktor produksi pada usaha tepung tapioka di Desa Gumelar. Pengambilan data dilakukan pada 20 November sampai 20 Desember 2015 dengan sasaran penelitian pengrajin tapioka anggota Kelompok “Manunggal Sari” Desa Gumelar. Pemilihan responden dilakukan dengan metode sensus sebanyak 32 orang. Metode analisis yang digunakan adalah analisis biaya dan pendapatan, analisis fungsi produksi Cobb-Douglas serta analisis efisiensi penggunaan faktor produksi.Faktor produksi yang diteliti adalah ubi kayu, solar, dan tenaga kerja. Hasil analisis menunjukkan penerimaan rata-rata per bulan pengrajin tepung tapioka di Kecamatan Gumelar adalah Rp169.980.850,00 dan biaya produksi rata-rata per bulan sebesar Rp125.062.865,28 sehingga keuntungan yang diterima adalah Rp44.917.984,72 dengan nilai R/C ratio sebesar 1,36. Faktor produksi yang berpengaruh pada usaha tepung tapioka di Kecamatan Gumelar adalah ubi kayu dan bahan bakar, sedangkan faktor produksi tenaga kerja tidak berpengaruh terhadap usaha tepung tapioka. Analisis efisiensi penggunaan faktor produksi menunjukkan ubi kayu belum efisien dan bahan bakar tidak efisien. | Gumelar is one of the sub-districts which produces tapioca flour, specifically in the village of Gumelar. In 2013, the craftsmen tapioca in Gumelar village forms the Group "Manunggal Sari", chaired by Mr. Riswo. Agro-industries of tapioca flour in Gumelar has a very important role in the community economy. The production process of tapioca flour influenced by the production, namely manioc, fuel, and labor. The use of production factors should be streamlined, in order to obtain the maximum benefit. This research aims for: 1) knowing the magnitude of the revenue received in the villages of tapioca flour craftsmen Gumelar; 2) knowing how the use of production factors towards the production of tapioca flour results in the village of Gumelar; and 3) knowing the efficiency use of production factors on tapioca flour in the village of Gumelar. The data retrieval is done on November 20 to December 20, 2015 in Gumelar village with target research tapioca craftsmen as a member of the group "Manunggal Sari" Gumelar village. The selection of respondents is performed by the census method as much as 32 people. Analytical methods used are cost and revenue analysis, production factor analysis of the Cobb-Douglas as well as the analysis of the efficiency of the use of production factors. Production factors examined are manioc, solar, and labor. The analysis results show of the average admissions per month craftsman tapioca flour in Gumelar was Rp169,980,850.00 and the average production cost per month, amounting to Rp125,062,865.28 so that benefits received was Rp44,917,984.72 with a value of the R/C ratio of 1.36. Influential of production factors efforts on tapioca flour in Gumelar was manioc and fuel, while the influential labor production factors are not effort against tapioca flour. Analysis of the efficiency of the use of cassava production factor is inefficient and yet fuel not efficient. | |
| 16353 | 19661 | F2A015017 | IMPLEMENTASI KEBIJAKAN DANA DESA ( Studi Penggunaan Dana Desa di Desa Gumelem Kulon Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara ) | Indikator penilaian kinerja implementasi kebijakan memperhatikan beberapa aspek antara lain akses, bias, ketepatan layanan, akuntabilitas dan kesesuaian program dengan kebutuhan. Desa Gumelem Kulon pada Dua tahun pertama menjadi yang terbesar dari 266 desa lainnya di Kabupaten Banjarnegara dalam penerimaan dana desa (DD) dan merupakan salah satu desa yang dapat menggambarkan kondisi geografis secara umum Kabupaten Banjarnegara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis implementasi kebijakan dana desa di Desa Gumelem Kulon Kabupaten Banjarnegara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan teknik pemilihan informan purposive sampling. Hasil penelitian ini yaitu Implementasi Dana Desa di Kabupaten Banjarnegara Studi Penggunaan DD di Desa Gumelem Kulon belum berjalan secara optimal. Beberapa aspek yang belum terpenuhi secara optimal diantaranya: pertama, dari sisi Aspek akses, sosialisasi yang dilakukan pada dua tahun pertama masih dengan metode lisan dan belum tersampaikan secara maksimal. Kedua, terjadi bias atau penyimpangan yaitu seluruh pemakaian DD 100% digunakan untuk pembanguna fisik, belum mengarah kepada pemberdayaan masyarakat. Ketiga, peneliti menemukan bahwa masyarakat Desa Gumelem Kulon sebagian besar masih berpendapat bahwa pembangunan fisik lebih penting dari pada pemberdayaan. Merujuk pada pembahasan hasil penelitian, beberapa aspek yang menunjukan keberhasilan implementasi kebijakan diantaranya yaitu: Pertama, ada tradisi lokal songolasan yang mampu untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan dana desa. Namun songolasan sebagai media lokal ternyata belum mampu mengantarkan pada partisipasi ideal. Hal tersebut disebabkan karena songolasan adalah media informal, sedangkan usulan yang bisa dilaksanakan dengan anggaran dana desa adalah usulan yang melaui prosedur musyawarah berjenjang secara formal. Kedua, kegiatan pembangunan yang direalisasikan sesuai dengan kegiatan yang direncanakan. Ketiga, pemerintah Desa Gumelem Kulon sudah melaksanakan pertanggungjawaban secara horisontal kepada BPD sebagai wakil dari masyarakat dan pertanggung jawaban secara vertikal kepada bupati melaui camat. Kata Kunci: Implementasi kebijakan, dana desa, akses, penyimpangan, ketepatan layanan, akuntabilitas, program dan kebutuhan. | The indicator of performance appraisal of policy implementation must notice some aspects, which are: access, refraction, accuracy of the service, accountability, and suitability of the program with the needs. Gumelem Kulon Village, in these first two years, reaches the biggest Village Fund among the others 266 villages, and it become one of the examples of the geographic condition of Banjarnegara Regency. The purpose of this research is to describe and analyze the implementation of Village Fund in Gumelem Kulon Village, in Banjarnegara Regency. This research uses qualitative method, with purposive sampling technique. The result of this research shows that the implementation of Village Fund in Gumelem Kulon Village hasn’t runs optimally. Some aspects that haven’t fulfilled optimally are: First, the socialization in these two years still using verbal method, so the program hasn’t socialized optimally. Second, there is refraction or deviation in implementation, which is 100% of Village Fund allocated to physical development so there’s no allocation for human empowerment. Third, the researcher found that most of the people in Gumelem Kulon thought that physical development is more important than empowerment. There are also some success achievements in implementation of the policy. First, there’s a local tradition called songolasan which is success to increase the people’s participation in implementation of Village Fund. But, songolasan as a local tradition hasn’t been able to reach ideal participation. That’s because songolasan is an informal media, meanwhile the proposal that can be applied with Village Fund is the proposal through the formal procedure. Second, the development activity is match with the development plan. Third, the Gumelem Kulon Village’s government has showed their responsible horizontally to the BPD (Badan Permusyawaratan Desa or Village Consultative Agency) as the representation of the people, and vertically to the regent through the district. | |
| 16354 | 19566 | G1F013058 | AKTIVITAS FRAKSI ETIL ASETAT DAUN SRIKAYA (Annona squamosa Linn.) TERHADAP KADAR ASAM URAT PADA MENCIT YANG DIINDUKSI POTASIUM OKSONAT | ABSTRAK Latar Belakang: Hiperurisemia merupakan keadaan dimana terjadi peningkatan kadar asam urat diatas normal. Peningkatan kadar asam urat dapat disebabkan oleh peningkatan produksi asam urat maupun penurunan ekskresi asam urat. Daun srikaya (Annona squamosa L.) telah terbukti dapat menurunkan kadar asam urat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui aktivitas fraksi etil asetat (FEA) daun srikaya (A. squamosa L.) serta pengaruh peningkatan dosis FEA daun srikaya (A. squamosa L.) terhadap peningkatan aktivitas hipourisemia pada mencit yang diinduksi potasium oksonat. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Post Test Only Controlled Group Design menggunakan mencit yang terbagi dalam 5 kelompok dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Kelompok tersebut diberikan perlakuan selama 7 hari dengan pemberian aquades pada kontrol negatif, Allopurinol 10 mg/kgBB pada kontrol positif, dan FEA daun srikaya (A. squamosa L.) dosis 94,5; 189; dan 378 mg/kgBB. Pada hari ke-8 semua kelompok diinduksi dengan potasium oksonat 250 mg/kgBB, kemudian diberikan perlakuan dan dilakukan pengambilan darah. Darah yang didapatkan kemudian direaksikan dengan pereaksi kit TBHBA dan diukur kadar asam uratnya menggunakan spektrofotometer UV Visibel. Hasil kadar asam urat dianalisis menggunakan uji statisika Kruskal Wallis dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil: Rata-rata kadar asam urat pada pemberian FEA daun srikaya (A. squamosa L.) dosis 94,5; 189; dan 378 mg/kgBB berturut-turut adalah 2,127 ± 0,876; 2,471 ± 0,846 dan 2,027 ± 0,426 mg/dl. Hasil rata-rata kadar asam urat tersebut menunjukkan bahwa peningkatan dosis FEA daun srikaya (A. squamosa L.) tidak memberikan peningkatan aktivitas hipourisemia pada mencit yang diinduksi potasium oksonat. Kesimpulan: FEA daun srikaya (A. squamosa L.) belum memberikan aktivitas hipourisemia pada mencit yang diinduksi potasium oksonat. | ABSTRACT Background: Hyperuricemia is an abnormally high level of uric acid in the blood. Increasing of uric acid levels can be caused by the increasing of uric acid production and decreasing of uric acid excretion. The leaves of custard apple (Annona squamosa L.) can reduced uric acid levels. The aim of this study is to determine the activity of ethyl acetate fraction (FEA) custard apple leaf (A. squamosa L.) and the effect of increasing the dose of FEA in custard apple leaf (A. squamosa L.) to increasing of hypouricemic activity in mice with potassium oxonate-induced. Method: This was an experimental study with Post Test Only Controlled Group Design used mice were divided into 5 groups with Completely Randomized Design (CRD). The group given treatment for 7 day with aquadest in negative control, Allopurinol 10 mg/kg in positive control, and FEA of custard apple leaves (A. squamosa L.) with the dose 94,5; 189; and 378 mg/kg. On the 8th day of the treatment, all groups were induced with potassium oxonate 250 mg/kg and then the blood of the sample was taken after the treatment. The blood was reacted with TBHBA of reagent kit and measured the uric acid level using Visible UV spectrophotometer. The results of uric acid levels were analyzed using Kruskal Wallis statistic test with 95% confidence level. Result: The average of uric acid level in FEA of custard apple leaves (A. squamosa L.) with the dose 94,5; 189; and 378 mg/kg continuity is 2,127 ± 0.876; 2,471 ± 0,846 and 2,027 ± 0,426 mg/dl. Thus, the conclution is the uric acid level shows that the increasing of FEA of custard apple leaf (A. squamosa L.) dose did not present an activity of hypouricemic in mice with potassium oxonate-induced. Conclusion: FEA of custard apple leaf (A. squamosa L.) had not given the activity of hypouricemic in mice which were induced with potassium oxonate. | |
| 16355 | 19677 | G1F013015 | EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI GESTASIONAL DI INSTALASI RAWAT JALAN RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO TAHUN 2015 | Pemberian obat yang tidak tepat pada hipertensi gestasional, dapat berlanjut menjadi preeklampsia, eklampsia, dan kematian pada ibu maupun janin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase ketepatan penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi gestasional di instalasi rawat jalan RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto tahun 2015 dilihat dari kriteria tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien dan tepat dosis. Desain penelitian ini adalah observasional dengan pengambilan data secara retrospektif. Sampel berupa sampel jenuh yaitu 89 pasien, dengan 61 pasien masuk dalam kriteria inklusi, meliputi pasien dengan diagnosa hipertensi gestasional, tidak ada tanda preeklampsia/eklampsia, serta mempunyai rekam medik yang lengkap. Data dianalisis secara deskriptif, berupa karakteristik pasien, pola penggunaan obat antihipertensi, ketepatan indikasi, tepat obat, tepat dosis yang dibandingkan Queensland clinical guideline (2015), dan tepat pasien dibandingkan BNF 68 (2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien hipertensi gestasional rawat jalan sebagian besar berusia 21-39 tahun (93,44%), usia kehamilan 21-36 minggu (83,61%), kategori hipertensi gestasional sedang (77,05%), dan pasien tidak mempunyai riwayat penyakit (73,77%). Pasien yang mendapatkan obat antihipertensi sebanyak 24 pasien (39,34%) berupa monoterapi, yaitu metildopa (50%), nifedipin (45,83%), atau amlodipin (4,17%). Hasil evaluasi penggunaan obat menunjukkan bahwa 32 pasien (52,46%) tepat indikasi, 22 pasien (95,65%) tepat obat, 22 pasien (100%) tepat pasien, dan 10 pasien (50%) tepat dosis. Rasionalitas penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi gestasional di instalasi rawat jalan RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto tahun 2015 ditemukan pada 10 pasien (16,39%) yang memenuhi semua kriteria tepat indikasi, obat, pasien dan dosis. | The giving wrong medicine for patients who have gestational hypertension continued to preeclampsia, eclampsia, perinatal and maternal mortality. This study was aimed to know the percentage of the appropriate antihypertension drug use for gestational hypertension in outpatient installation in hospital Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto in 2015 is seen by the criteria of appropriate indication, drug, patient, and also dose. This study design is an observational by taking datas in retrospective. This sample is a total sampling with 89 patients, 61 patient are included in inclusive criteria, there is gestational hypertension patient, no indication of preeclampsia/eclampsia, also have a complete medic record. The data is analysed descriptively, like the form of the patients characteristic, patterns of drug use, the appropriate indications, drug and also dose that are compared to Queensland Clinical Guideline (2015), and the appropriate patients that is compared to BNF 68 (2014). The result showed that gestational hypertension patients in outpatient installation mostly at the age of 21-39 years old (93,44%), at the age of pregnancy 21-36 weeks (83,61%), category of moderate gestational hypertension (77,05%), and patient without history disease (73,77%). Patient who get antihypertension drug are 24 people (39,34%), as monotherapy, those are methyldopa (50%), nifedipine (45,83%), or amlodipine (4,17%). The result showed that patients who were given antihypertensive medication with right indication were 32 patient (52,46%), right drug were 22 patient (95,65%), right patient were 22 patient (100%), and right dose were 10 patient (50%). The rasionality of antihypertension drug use for gestational hypertension patients in outpatient installation in hospital Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto in 2015 is in these 10 patient (16,39%) who is completely included in all criteria of the right indication, drug, patient, and dose. | |
| 16356 | 19664 | H1G013036 | ASPEK PERTUMBUHAN IKAN BANDENG (Chanos chanos Forsskal, 1775) PADA HABITAT WADUK SEMPOR DAN PANTAI KABUPATEN KEBUMEN | Ikan bandeng (Chanos chanos) hidup di laut pada daerah pantai atau litoral salah satunya di Pantai Kebumen. Ikan bandeng tergolong sebagai ikan euryhaline, sehingga dapat hidup pada perairan laut, payau, dan tawar. Pemerintah Kabupaten Kebumen melakukan penebaran ikan bandeng di perairan Waduk Sempor. Tujuan penebaran tersebut untuk memanfaatkan relung makanan yang belum dimanfaatkan oleh jenis ikan yang ada di perairan waduk. Penelitian ini perlu dilakukan untuk mengkaji bagaimana perbedaan aspek pertumbuhan dari ikan bandeng dimasing-masing habitat. Penelitian ini meliputi analisis hubungan panjang berat, faktor kondisi, diet, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukan sifat pertumbuhan isometrik di waduk dan perairan pantai, dengan nilai b di Waduk Sempor 2.8312 dan Pantai Kebumen 3.2769. Faktor kondisi (K) ikan bandeng pada kedua habitat adalah rendah (0.6806±0.1715 untuk Waduk Sempor dan 0.7145±0.1025 untuk Pantai Kebumen) yaitu kurang dari 1. Faktor kondisi ikan bandeng tidak ada perbedaan yang signifikan antar habitat (uji t, p>0.05). Ikan bandeng termasuk dalam ikan planktivorous. Kualitas air waduk dan pantai masih dalam kondisi baik untuk kehidupan ikan bandeng. | Milkfish (Chanos chanos) is a marine spesies found in coastal areas or littoral areas, one of them on the Coast of Kebumen. Milkfish is classified as euryhaline fish, so it can live in marine, brackish, and freshwater. Kebumen Regency Government made stocking of milkfish in Sempor Reservoir. The purpose of the stocking is to utilize the untapped niche food by species of fish in the reservoir. This study was carried out to examine how is the difference from the growth aspect of milkfish in each habitat. The study included an analysis of length weight relationship, condition factor, diet, and water quality. The results of this study showed the growth of milkfish in reservoir and coastal areas had the characteristic of isometric, with a value of b in Sempor Reservoir of 2.8312 and Coast of Kebumen of 3.2769. The condition factor (K) of milkfish in both habitats is low (0.6806 ± 0.1715 for Sempor Reservoir and 0.7145 ± 0.1025 for Coast of Kebumen) that is less than 1. There was not a significant difference in condition factor between habitats (t test, p > 0.05). Milkfish is included in planktivorous fish. The water quality of the reservoir and the coastal is still in good condition for the life of milkfish. | |
| 16357 | 19665 | E1A010032 | ANALISIS NORMATIF KEWENANGAN PEMBINAAN PEGAWAI NEGERI SIPIL | ANALISIS NORMATIF KEWENANGAN PEMBINAAN PEGAWAI NEGERI SIPIL Oleh: KARTIKA DEWI E1A010032 ABSTRAK Kewenangan pembinaan PNS dipegang oleh Presiden selaku Kepala Pemerintahan. Wewenang pembinaan PNS merupakan kewenangan Presiden yang tertuang di dalam Peraturan Perundang-undangan yaitu Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 Pasal 53. Berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) bahwa sistem pembinaan merupakan bagian dalam manajemen Pegawai Negeri Sipil. Pada sistem pembinaan terdapat dua sistem, yaitu sistem karier dan sistem prestasi kerja. Permasalahan yang akan dibahas adalah kewenangan pembinaan Pegawai Negeri Sipil dan kendala setelah berlakunya Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara. Metode penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, dan analisis. Data yang digunakan adalah data sekunder yang berupa peraturan perundang-undangan, buku-buku literatur, dan situs-situs internet. Penelitian ini diperoleh bahwa kewenangan pembinaan PNS dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 Tentang ASN telah dijelaskan. Pembinaan PNS merujuk pada Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 2017 Tentang Manajemen PNS. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 2017 Tentang Manajemen PNS ini tidak menjelaskan mengenai secara rinci sistem pembinaan PNS yaitu sistem karier dan sistem prestasi kerja, serta Kendala pembinaan PNS dikarenakan masih adanya kekurangan dalam pengawasan terhadap pelaksanaan pembinaan Pegawai Negeri Sipil, serta dalam pembinaan Pegawai Negeri Sipil belum adanya peraturan yang baru secara khusus mengenai pembinaan Pegawai Negeri Sipil. | THE ANALYSIS OF NORMATIVE AUTHORITY ON THE CONSTRUCTION OF CIVIL SERVANTS BY: KARTIKA DEWI E1A010032 ABSTRACT Authorizes the construction of Civil Servants is held by the President as the head of Government. Authorized construction of the Civil Servants is the President of the authority is contained in Legislation, namely Act No. 5 of 2014 Article 53. Based on Act No. 5 of 2014 on the Civil State Apparatus that is part of the coaching system in the management of Civil Servants. On the system construction of the two systems, i.e. systems of career and work achievement system. Issues that will be discussed is the authority on the construction of civil servant and constraints after the enactment of Act No. 5 of 2014 on the Civil State Apparatus. Research methods with normative juridical approach to legislation, and analysis. The data used are secondary data in the form of legislation, literature books, and internet sites. This research was obtained that authorizes the construction of the Civil Servants in Act No. 5 of 2014 on the Civil State Apparatus have been described. The construction of Civil Servants refer to Government Regulation No. 11 of 2017 on the Management of Civil Servants. Based on Government Regulation No. 11 of 2017 on the Management of Civil Servants is not to explain in detail the system of construction of Civil Servants, namely the system of career and work achievement systems, as well as the constraints of the construction of Civil Servants due to the existence of shortcomings in supervision still towards the implementation of the construction of Civil Servant, as well as in the construction of Civil Servant has not the existence of the new regulation specifically concerning the construction of the Civil Servant. Keywords: Authority, Construction Of Civil Servant, Civil State Apparatus | |
| 16358 | 19666 | H1G013032 | PRODUKTIVITAS BOUKE AMI SEBAGAI ALAT TANGKAP CUMI (Loligo sp.) DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN (PPI) MUARA ANGKE JAKARTA UTARA | Produktivitas merupakan suatu ukuran yang menyatakan bagaimana baiknya sumber daya diatur dan dimanfaatkan untuk mencapai hasil yang optimal. Alat tangkap Bouke ami adalah alat tangkap yang diklasifikasikan sebagai jaring angkat (lift Net) dengan target tangkapan cumi-cumi. Tingginya sumberdaya ikan di Indonesia, khususnya di laut Jawa memberikan peluang untuk memanfaatkan secara optimal. Alat tangkap Bouke ami adalah alat tangkap yang dominan di PPI Muara Angke. Alat tangkap jaring Bouke ami seluruhnya adalah PE (Polyethylene) dengan bukaan mulut jaring mencapai 15 meter. Jaring menggunakan tiang gawang dengan bahan bambu sepanjang 17 meter. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui berapa besar faktor-faktor produksi yang secara bersama-sama mempengaruhi produktivitas Bouke ami sebagai alat tangkap cumi di PPI Muara Angke Jakarta Utara. Objek dalam penelitian ini adalah unit alat tangkap Bouke ami dan hasil tangkapan Bouke ami yaitu cumi-cumi di PPI Muara Angke Jakarta Utara. Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah alat tulis, lembar kuesioner, kamera digital dan komputer. Penelitian ini menggunakan metode survei. Analisis model produksi yang digunakan adalah model Cobb Douglas. Faktor-faktor produksi yang berpengaruh positif terhadap produktivitas alat tangkap Bouke ami hanyalah faktor tinggi jaring, jumlah bahan bakar, jumlah tenaga kerja, jumlah lampu, dan warna lampu. Di luar kelima faktor tersebut yaitu faktor ukuran kapal, mesh size jaring, kekuatan mesin, ukuran lampu, lama pengoperasian dan kecepatan menarik jaring memberikan pengaruh negatif terhadap produktivitas Bouke ami. Faktor yang paling berpengaruh terhadap produktivitas alat tangkap Bouke ami di PPI Muara Angke yaitu faktor ukuran kapal, jumlah bahan bakar, jumlah tenaga kerja dan kecepatan menarik jaring. Hasil tangkapan Bouke ami di PPI Muara Angke yaitu di ambil dari rata-rata 1 Trip. Cumi-cumi 61%, Bawal 9%, ikan Tenggiri, ikan Tongkol dan jenis ikan lainnya dengan persentase 10%. | Productivity is a size of the statement about how to manage resources well and used to reach optimal results. Bouke ami fishing gear is a fishing gear that classified as an elevator net (lift Net) with catch targetis squids. The high number of fish resources in Indonesia, especially in the Java sea provides opportunity to utilizeit optimally. Bouke ami fishing gear is the dominant catch tool in PPI Muara Angke. All of the net fishing equipment of Bouke ami is PE (Polyethylene) with net mouth opening reached 15 meters. The net uses long bamboo pole 17 meters. This research aims is to know the factors of production together against productivity of fishing gear of Bouke ami in PPI Muara Angke. Objects in this study is the unit of fishing gear Bouke ami and the catch of Bouke ami is squids in PPI Muara Angke, North Jakarta. The tools of this research are stationery, questionnaire sheet, digital camera and computer. This research used survey method. Analysis of the production model used is Cobb Douglas model. Factors of production that positively affect the productivity of fishing equipment Bouke ami,is only the factor of the net high, the amount of fuel, the amount of labor, the number of lights, and the color of the lamp. Outside the five factors are ship size factor, mesh size nets, engine strength, lamp size, duration of operation and net pull speed give negative effect against Bouke ami productivity. The most influential factor to the productivity of fishing gear in the PPI Muara Angke is the size factor of the ship, the amount of fuel, the amount of labor and the speed of attracting the net. The catch of Boukeami in PPI Muara Angke is taken from an average of 1 Trip. Squid 61%, Bawal 9%, Mackerel fish, Tongkol fish and other types of fish with a percentage of 10%. | |
| 16359 | 19667 | F1B013025 | PENGARUH BUDAYA ORGANISASI, DISIPLIN KERJA DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI DI BADAN KEPEGAWAIAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DAERAH (BKPPD) KOTA BEKASI | Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Kota Bekasi adalah instansi pemerintah yang melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang kepegawaian yang meliputi pelayanan administrasi pegawai, pembinaan pegawai serta pendidikan dan pelatihan, sehingga pegawai di BKPPD Kota Bekasi dituntut untuk selalu memberikan kinerja yang baik agar tercapainya tujuan yg ingin dicapai. Kita ketahui bahwa kinerja birokrat saat ini dianggap tidak maksimal, terkesan bertele-tele, tidak inovatif, dan prosedur yang membingungkan. Namun di BKPPD Kota Bekasi memiliki kinerja pegawai yang baik, hal ini dibuktikan dari capaian-capain hasil kinerja BKPPD Kota B ekasi yang tertuang pada visi BKPPD Kota Bekai tahun 2013-2018 yakni “terwujudnya aparatur yang lebih profesional bertanggungjawab dan bermoral pada tahun 2018”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis besarnya pengaruh Budaya Organisasi, Disiplin Kerja, dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Pegawai di BKPPD Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan metode survey, dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner dan dokumentasi. Metode analisis yang digunakan menggunakan perhitungan statistik Korelasi Kendall Tau-c, Korelasi Konkordansi Kendall W dan Regresi Ordinal, dengan sasaran penelitian pegawai BKPPD Kota Bekasi sebanyak 72 pegawai. Hasil analisis secara kuantitatif dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Terdapat pengaruh yang signifikan antara Budaya Organisasi terhadap Kinerja Pegawai sebesar 0,321 atau 32,1 persen ; (2) Terdapat pengaruh yang signifikan antara Disiplin Kerja terhadap Kinerja Pegawai sebesar 0,404 atau 40,4 persen ; (3) Terdapat pengaruh yang signifikan antara Semangat Kerja terhadap Kinerja Pegawai sebesar 0,432 atau 43,2persen ; (4) Terdapat pengaruh yang signifikan antara Kompetensi Pegawai, Motivasi dan Semangat Kerja terhadap Kinerja Pegawai sebesar 0,741 atau 74,1 persen. Oleh karenanya keseluruhan hipotesis penelitian dapat diterima. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kinerja pegawai di Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Kota Bekasi tergolong sudah baik namun masi ada beberapa aspek yang masih perlu ditingkatkan dan hal tersebut dapat di dorong oleh faktor –faktor pendukung seperti budaya organisasi, disiplin kerja, dan motivasi kerja yang bila faktor tersebut ditingkatkan maka dapat dapat meningkkatkan kinerja pegawai di Badan Kepegawaian Pendidikan dan PelatihanDaerah (BKPPD) Kota Bekasi. | Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Bekasi City is a government agency that conducts the preparation and implementation of regional policies in the field of personnel that includes employee administration services, employee development and education and training, so that employees in BKPPD Kota Bekasi required to always provide good performance In order to achieve the goals to be achieved. We know that the performance of bureaucrats today is considered not maximal, impressed rambling, not innovative, and procedures are confusing. However, in BKPPD Kota Bekasi has a good employee performance, this is evidenced from the achievements of BKPPD performance of Bekasi City which is stated in the BKPPD vision of Bekai City in 2013-2018 which is "the realization of a more professional officer responsible and morally in 2018" The purpose of this research is to find out and analyze the influence of Organizational Culture, Work Discipline, and Work Motivation on Employee Performance (BKPPD) in Bekasi City. This research uses quantitative research method with survey method approach, with data collection technique through questioner and documentation. The analytical method used is Kendall Tau-c Correlation statistics, Kendall W Correlation Correlation and Ordinal Regression, with the objective of BKPPD research in Bekasi City with 72 employees. Quantitative analysis results in this study can be explained as follows: (1) There is a significant influence between the Organizational Culture on Employee Performance of 0.321 or 32.1 percent; (2) There is a significant influence between the Work Discipline on Employee Performance of 0.404 or 40.4 percent ; (3) There is significant influence between work spirit on employee performance equal to 0,432 or 43,2persen; (4) There is a significant influence between Employee Competence, Motivation and Morale on Employee Performance of 0.741 or 74.1 percent. Therefore the whole research hypothesis is acceptable. Based on the results of the study, it can be concluded that the performance of employees in the Regional Employment Agency and Education Agency (BKPPD) Bekasi is good but there are still some aspects that still need to be improved and it can be driven by supporting factors such as organizational culture, work discipline, And work motivation which, when the factor is improved, can improve the performance of employees in the Regional Employment Agency of Education and Training (BKPPD) Bekasi City. | |
| 16360 | 19674 | F1F010059 | A STUDY OF CONVERSATIONAL IMPLICATURE IN THE TRANSLATION OF THE AVENGERS MOVIE | Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis implikatur yang terdapat di ujaran-ujaran pada tokoh utama dan jenis-jenis teknik penerjemahan yang digunakan untuk menerjemahkan implikatur percakapan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan prakmatik dalam penerjemahan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Data utama dalam penelitian ini adalah semua ujaran yang mengandung implikatur percakapan dan terjemahannya. Dalam melakukan penelitian, peneliti menggunakan teknik purposive sampling. Oleh karena itu sample dari penelitian ini adalah hanya ujaran pemain utama yang mengandung implikatur. Teori Grice Implikatur dan Molina dan Albir tentang teknik penerjemahan digunakan untuk menuntun penelitian ini. Hasil menunjukkan bahwa terdapat 28 implikatur pecakapan yang ditemukan dalam ujaran-ujaran yang diujarkan oleh para tokoh utama di film Avengers. Terdapat 4 tipe implikatur yang ditemukan: Asertif (10 ujaran), Direktif (5 ujaran), Komisif (6 ujaran), dan Ekspresif (7 ujaran). Terdapat juga beberapa jenis teknik yang digunakan; teknik triplet pada 5 ujaran, 5 ujaran teknik couplet dan 7 data menggunakan single teknik. Ilokusi asertif paling banyak ditemukan yang berarti bahwa para pemain utama menyampaikan maksud, pikiran, dan perasaan secara jelas dan jujur. Sebagian besar implikatur di film Avengers masih mempertahankan bentuk implisitnya ke dalam bahasa sasaran dengan menggunakan teknik kesepadanan lazim, modulasi, harfiah, kompresi linguistik, reduksi dan variasi. Beberapa diantaranya diterjemahkan menggunakan teknik amplifikasi yang merubah dari implisit menjadi ekplisit atau implikatur dalam bahasa sumber berubah di bahasa sasaran. | The research is aimed to identify the types of implicatures in the main character utterances containing implicatures and the techniques that used to translate conversational implicature. The approach implemented in this study is pragmatics on translation. The research method applied in this study is qualitative descriptive. The main data are all utterances in characters that embodies implicatures and their translations in the form of Indonesian movie subtitle. In conducting the research, the researcher used purposive sampling technique. Grice’s theory of implicature and Molina and Albir’s theory of translation technique are used to conduct the research. The result shows that there are 28 implicatures found in the utterances uttered by main characters in the movie. All types of implicatures found in the translation are Assertive (10 data), Directive (5 data), Commisive (6 data) and Expressive (7 data). There are technique variations used to translate the implicatures. They are triplet technique applied to 5 data, couplet applied to 16 data of implicatures and 7 data using the single technique of translation. The assertive utterances are mostly found in this movie. It means that the main characters tried to convey their intention, thoughts, feelings and needs clearly, and honestly. Most implicature utterances in the Avengers movie maintain the implicit form in the TL by using established equivalent, modulation, literal, linguistic compression, reduction and variation techniques. Some of them that are translated by using amplification become explicit or the implicatures in SL change in TL. |