Artikelilmiahs

Menampilkan 16.321-16.340 dari 49.956 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1632119618C1C010005ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS INFORMASI LAPORAN KEUANGAN PADA APOTEK DI KOTA PURWOKERTO
Penelitian ini merupakan penelitian survei pada apotek-apotek di Kota Purwokerto. Penelitian ini mengambil judul: “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Informasi Laporan Keuangan Pada Apotek Di Kota Purwokerto”.

Tujuan penelitian ini adalah menguji pengaruh pelatihan akuntansi, pengalaman dalam informasi akuntansi, dan pemanfaatan teknologi informasi terhadap kualitas informasi laporan keuangan pada apotek di Kota Purwokerto. Populasi dalam penelitian ini adalah semua apotek yang berada di Kota Purwokerto. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 39 responden. Simple random sampling method digunakan dalam penentuan responden.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dengan menggunakan analisis regresi berganda, menunjukkan bahwa: (1) Pelatihan akuntansi, pengalaman dalam informasi akuntansi, dan pemanfaatan teknologi informasi secara simultan berpengaruh terhadap kualitas informasi laporan keuangan pada apotek di Kota Purwokerto, (2) Pelatihan akuntansi berpengaruh positif terhadap kualitas informasi laporan keuangan, (3) Pengalaman dalam informasi akuntansi berpengaruh positif terhadap kualitas informasi laporan keuangan, (4) Pemanfaatan teknologi informasi tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas informasi laporan keuangan.
This research is a survey research at pharmacy in Purwokerto. The title of this research is : “Analysis of Factors Affecting The Quality of Financial Reporting Information at Pharmacy in Purwokerto”. The aims of research is to find out the effect of accounting training, experience in accounting information, and the utilization of information technology for the quality of financial reporting information. The research population are all pharmacy in Purwokerto City.

Respondents include owners / managers of SMEs as many as 85 people. This study is a
quantitative descriptive study using primary data. The method of research and data analysis using multiple regression
.
The results showed (1) Accounting training, experience in accounting information, and the utilization of information technology simultaneously has influence to the quality of financial reporting information at pharmacy in Purwokerto, (2) Accounting training has a positive effect to the quality of financial reporting information, (3) Experience in accounting information has a positive effect to the quality of financial reporting information, (4) The utilization of information technology did not have influence significant to the quality of financial reporting information.
1632219644G1D013062EFEKTIVITAS MEDIA PEMBELAJARAN VIDEO DIABETIC PREVENTION TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP WARGA DENGAN FAKTOR RISIKO HEREDITER DM DI KELURAHAN MERSI PURWOKERTO TIMURLatar Belakang: Jumlah penyandang DM dari tahun ke tahun semakin meningkat dan didominasi oleh DM tipe 2. Individu dengan faktor risiko herediter DM memiliki peluang lima kali lebih besar terkena DM tipe 2. Pemberian edukasi mengenai gaya hidup yang baik dan benar yang dapat mencegah terjadinya DM. Pemilihan media yang efektif sangat membantu dalam kesuksesan target pemberian edukasi. Penggunaan media video merupakan salah satu bentuk inovasi media pembelajaran dalam penyampaian edukasi kesehatan.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penggunaan media pembelajaran kesehatan audiovisual berupa video dalam meningkatkan edukasi dan sikap pencegahan DM warga dengan faktor risiko herediter.
Metode: Penelitian eksperimental kuasi eksperimen dengan pendekatan yang digunakan adalah pre test and post test control group design. Alat ukur yang digunakan adalah lembar kuesioner untuk mengetahui pengetahuan dan sikap responden. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann Whitney.
Hasil:Karakteristik responden pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol didominasi oleh responden dengan usia rata-rata 32 tahun, berjenis kelamin perempuan, tingkat pendidikan SMP, pekerjaan petani dan pendapatan < Rp 1.461.100,00. Hasil uji bivariat menunjukkan terdapat perbedaan rerata sebelum dan sesudah diberi perlakuan kelompok intervensi pada skor pengetahuan (p=0,000) dan skor sikap (p=0,000), terdapat perbedaan rerata sebelum dan sesudah diberi perlakuan kelompok kontrol pada skor pengetahuan (p=0,000) dan skor sikap (p=0,588), terdapat perbedaan rerata peningkatan skor pengetahuan (p=0,002) dan skor sikap (p=0,000)sesudah diberi perlakuan antara kelompok intervensi dengan kelompok kontrol.
Kesimpulan: Pendidikan kesehatan dengan media video dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap pencegahan DM warga dengan faktor risiko herediter DM di Kelurahan Mersi.
Background: The amount of people with DM are increasing annually and dominated by type 2 DM. Individual with hereditary DM risk factor has chance five times higher to get type 2 DM compared to individual without DM case history within their family. Education about healthy lifestyle can prevent DM. Effective media selection is very helpful in education succession. Usage of video as learning media is an innovation in delivery of health education.
Purpose: The purpose of this research is to know that video as audiovisual learning media could be effective to increase education and attitudeabout DM prevention to people with hereditary risk factor.
Method: Experimental research approach using pretest and posttest group design as quasi experiments. Measurement tools used is questionnaire to know the respondent’s knowledge and attitude. Data analysis use Wilcoxon and Mann Whitney test method.
Result: Respondent’s characteristics at intervention group and control group is dominated by respondents with average age of 32, female, junior high school education level, and work as farmer with <Rp 1.461.100,00 monthly income. Bivariat test result shows that there is a difference before and after the education is given, at intervention group with knowledge score (p=0,000) and attitude score (0,000), an increased average difference at control group with knowledge score(p=0,000) and attitude score (p=0,588), and an increased average difference of knowledge score (p=0,002) and attitude score (p=0,000) between intervention group and control group after the education is given.
Conclusion: Health education with video as media can improve knowledge and attitude of people with hereditary risk factor to prevent DM at Mersi.
1632319634G1F013035FORMULASI MASKER GEL PEEL- OFF MINYAK BUNGA LAVENDER (Lavandula angustifolia Miller) DENGAN VARIASI BASIS HMPC SEBAGAI ANTIJERAWAT

Latar Belakang : Jerawat merupakan gangguan pada kulit yang ditandai dengan adanya peradangan yang disertai penyumbatan pada saluran kelenjar minyak dalam kulit. Jerawat disebabkan oleh bakteri Staphylococcus epidermidis. Tujuan penelitian ini adalah untuk memformulasikan minyak atsiri bunga lavender menjadi sediaan masker gel peel off dengan variasi basis HPMC yang memenuhi persyaratan sifat fisik dan stabilitas, serta memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. epidermidis.

Metodologi : Penelitian eksperimental ini meliputi formulasi sediaan masker gel peel-off minyak atsiri bunga lavender, evaluasi sifat fisik dan stabilitas, serta uji aktivitas antibakteri. Formula sediaan masker gel peel Off dibuat dengan konsentrasi HPMC 1-2,5%. Hasil data evaluasi sifat fisik dan stabilitas serta uji aktivitas antibakteri dianalisis secara deskriptif dan dengan uji one-way ANOVA,

Hasil penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi basis HPMC dapat meningkatkan viskositas serta menurunkan daya sebar dan daya lekat masker gel peel off, stabil pada uji freeze-thaw dan menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap S. epidermidis

Kesimpulan : Formula masker gel peel off yang memenuhi persyaratan sifat fisik dan stabilitas yang paling baik serta memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. epidermidis yaitu formula III dengan konsentrasi 2%

Background: Acne is a skin problem indicated by inflamation accompanied by blockage of the oil gland in the skin. Acne is caused by Staphylococcus epidermidis bacteria. The purpose of this study was to formulate lavender essential oil into preparation of peel-off gel mask with HPMC base variation that qualified of physical characteristic and stability and has antibacterial activity against S. epidermidis.

Methodology: This experimental research is included the formulation of peel-off gel mask preparation of lavender essential oil, evaluation of physical characteristic and stability, and also antibacterial activity test. The formulation of peel-off gel mask preparation made with 1-2,5% HPMC concentration. The result of evaluation data on physical characteristic and stability and antibacterial activity test was analyzed descriptively and with one-way ANOVA test.

Result: The result showed that HPMC base concentration variation can increase viscosity and reduce dispersive power of and adhesiveness peel-off gel mask, stabilized in the freeze-thaw test and it showed antibacterial activity against S. epidermidis.

Conclusion: Peel-off gel mask formula that qualified the best physical characteristic and stability and has antibacterial activity against S. epidermidis is formula III with concentration of 2%.
1632419424G1F013009ANALISIS PERSEPSI DAN HARAPAN DOKTER TERHADAP PERAN APOTEKER DALAM PELAYANAN FARMASI KLINIK DI RSUD BANYUMASPersepsi yang baik akan menimbulkan kolaborasi yang baik antara apoteker dan dokter sehingga dapat menyebabkan peningkatan kualitas pelayanan terhadap perawatan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi (dilihat dari penerimaan dan pendapat) dan harapan dokter serta mengetahui pengaruh karakteristik dokter terhadap peran apoteker dalam pelayanan farmasi klinik di RSUD Banyumas.
Penelitian ini merupakan study cross-sectional dan sampel penelitian terdiri dari seluruh dokter yang berpraktek di RSUD Banyumas (total sampling). Persepsi dokter dinilai menggunakan kuisioner penerimaan dan pendapat serta harapan dokter oleh Hidayat et al. (2014) dan Santoso (2013). Analisis data dilakukan secara deskriptif dan hubungan karakteristik dengan penerimaan, pendapat dan harapan dokter diuji dengan menggunakan uji Chi-Square dan Kolmogorov-Smirnov.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 51 dokter di RSUD Banyumas memberikan persepsi yang baik terhadap peran apoteker (dilihat dari penerimaan (74.81%) dan pendapat (71.91%)) dan 74.02% dokter berharap apoteker dapat melakukan perannya dengan baik dalam farmasi klinik. Tidak terdapat pengaruh karakteristik responden (usia, jenis kelamin, pendidikan dan lama kerja) dengan persepsi dan harapan dokter dalam pelayanan farmasi klinik di RSUD Banyumas dengan nilai p>0.05.
Good perception will lead to the collaboration between pharmacists and physicians so it can improve quality of care for patient. The research aimed to know physicians perception (acceptance and opinion) and doctor's expectation and to know the influence of physician's characteristic on pharmacist role in clinical pharmacy service at RSUD Banyumas.
This study was a cross-sectional study and the respondents were all doctors practiced in RSUD Banyumas (total sampling). Doctors 'perceptions were assessed using physicians acceptance, opinions and expectations questionnare by Hidayat et al. (2014) and Santoso (2013). Data analysis was done descriptively and influence of physicians characteristic and acceptance, opinion and expectation of physician were tested using Chi-Square and Kolmogorov-Smirnov test.
The results showed that from 51 physicians at RSUD Banyumas were having a good perception on the role of pharmacist (acceptance (74.81%) and opinion (71.91%)) and 74.02% physicians were hoping that pharmacists could perform their roles well in clinical pharmacy. There was no influence of respondent characteristics (age, sex, education and year of practice) and perception and expectation of physicians in clinical pharmacy service at RSUD Banyumas (p> 0.05).
1632519636H1C010062ANALISIS UNJUK KERJA LAMPU PENERANGAN JALAN UMUM TENAGA SURYALampu merupakan alat elektronik yang merubah energi listrik menjadi energi cahaya, dengan kata lain energi listrik adalah sumber cahaya alternatif terbesar. Semakin banyak lampu yang digunakan, maka semakin besar energi listrik yang dibutuhkan. Listrik yang diperlukan semakin besar jika lampu yang digunakan memiliki daya yang besar karena pada umumnya penerangan untuk luar ruangan daya yang dibutuhkan lebih besar dari pada di dalam ruangan. Lampu berfungsi sebagai alat untuk penerangan. Penerangan dibutuhkan oleh masyarakat khususnya Penerangan Jalan Umum (PJU) untuk pengguna jalan. Sebab, jarak pandang pengemudi sangat terbatas jika hanya mengandalkan lampu kendaraan yang ada. Beberapa jenis lampu penerangan jalan umum dalam Standarisasi Nasional Indonesia berkisar antara 18 – 400 Watt. Lampu LED PJU tenaga surya sangat efisien (hemat energi) digunakan karena untuk menghasilkan 1200 lumens hanya memakan daya 10 watt, lebih rendah dari lampu lainnya. Selain hemat energi, lampu LED PJU tenaga surya juga ramah lingkungan, karena tidak menghasilkan limbah dan juga polusi radiasinya juga sangat kecil serta lampu PJU tenaga surya ini memiliki life time yang sangat panjang, yaitu 15-25 tahun tidak seperti lampu CFL dan lampu LED tenaga listrik biasa yang memiliki life time hanya 6000 jam atau 250 hari. Karena lampu PJU tenaga surya memiliki life time yang panjang dan juga kinerja yang sangat bagus maka lampu ini memiliki nilai investasi karena hanya mengeluarkan modal awal yang cukup besar tetapi tidak lagi membutuhkan pengeluaran biaya listrik kedepannya. Lights are electronic devices that convert electrical energy into light energy, in other words electrical energy is the largest alternative light source. The more lights used, the greater the electrical energy required. The electricity needed is bigger if the lamp used has big power because in general the lighting for outdoor power required is bigger than in the room. Lights serve as a tool for lighting. Lighting is needed by the public, especially street lighting for road users. Therefore, the visibility of the driver is very limited if only rely on existing vehicle lights. Some types of general street lighting in Indonesian National Standardization range from 18 - 400 Watt. PJU solar LED lamps are very efficient (energy efficient) used because to produce 1200 lumens consumes only 10 watts of power, lower than other lamps. In addition to energy-efficient, PJU solar LED lights are also environmentally friendly, because it does not generate waste and also the radiation is also very small radiation and solar power PJU lamp has a very long life time, which is 15-25 years unlike CFL lamps and LED lights power Ordinary electricity that has a life time of only 6000 hours or 250 days. Because the solar power PJU lamp has a long life time and also a very good performance then this lamp has an investment value because it only issued a large capital start large but no longer require the cost of electricity in the future.
1632619635G1D013041FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU SADARI PADA IBU USIA PRODUKTIF DI DESA RAJAWANA PURBALINGGALatar Belakang: Kanker payudara merupakan keganasan pada jaringan payudara yang dapat berasal dari epitel duktus maupun lobulusnya. Semakin meningkatnya prevalensi kanker payudara di Indonesia setiap tahunnya, maka perlu adanya pencegahan dan deteksi dini untuk memudahkan penanganan sehingga menurunkan resiko kematian akibat kanker payudara. Salah satu upaya deteksi dini yaitu dengan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dimulai dari usia subur. Perilaku dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, sikap dan sumber informasi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan perilaku periksa payudara sendiri pada ibu usia produktif di Desa Rajawana dan faktor yang paling dominan mempengaruhi perilaku SADARI.
Metode: penelitian ini menggunakan metode studi korelatif kuantitatif dengan jenis desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Besar sampel adalah 95 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dengan uji bivariat menggunakan chi-square dan uji multivariat menggunakan regresi logistic.
Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan pengetahuan dengan perilaku SADARI nilai P=0,000, ada hubungan sikap dengan perilaku SADARI nilai P=0,000. Tetapi, tidak ada hubungan antara sumber informasi dengan perilaku SADARI nilai P=0,089. Berdasarkan analisis uji multivariat didapatkan sikap lebih mempengaruhi perilaku SADARI pada ibu usia produktif di Desa Rajawana.
Kesimpulan: Mayoritas ibu usia produktif di Desa Rajawana memiliki perilaku SADARI yang baik. Faktor yang paling dominan mempengaruhi perilaku SADARI adalah sikap.
Kata Kunci: Pengetahuan, Sikap, Sumber Informasi, Perilaku SADARI
Background: Breast cancer is a malignancy in breast tissue which can formed by the epitel ductus or lobules. The increasing of prevalence of breast cancer in Indonesia every year, followed by the increasing need of preventative and early detection to easily in breast cancer treatment, so that can decrease death risk caused by breast cancer. One of early detection of breast cancer is check-up the breast by self of Breast Self Examination (BSE) started in fertile age. The behavior is influenced by the factors of knowledge, attitudes and information sources.
Objective: The aim of this research is to know the related factors of BSE behaviour in mother productive age at Rajawana village and the dominant factor which influence BSE behaviour.
Method: This research used study colerative quantitative method, with cross sectional design. Technique of sampling used simple random sampling. The total number of sampling was 95 respondent that fulfill the criteria inclusion and exclusion. Data was analyzed using bivariate test with chi-square and multivariate test with regresi logistic.
Result: The result of this research indicate that there were a correlation betwen knowledge and BSE behaviour (p=0,000), and between attitude behaviour and BSE behaviour (p=0,000). But, there was no correlation between source of information and BSE behaviour (p=0,089). Based on the multivariate analyze test, it was the attitude which influence BSE behaviour most in mother productive age at Rajawana village.
Conclusion: Majority that mother in productive age at Rajawana village have a good BSE behaviour. The dominant factor which influences BSE behaviour most was attitude.
Keyword: Knowledge, attitude, source of information, BSE behaviour.
1632719642G1D013013PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MEDIA MODUL TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP WANITA TENTANG MENOPAUSE DI DESA BULUMULYO KECAMATAN BATANGAN KABUPATEN PATIPENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MEDIA MODUL TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP WANITA TENTANG MENOPAUSE DI DESA BULUMULYO KECAMATAN BATANGAN KABUPATEN PATI
1Liya Sintiawati, 2Asep Iskandar, 3Rahmi Setiyani

ABSTRAK
Latar Belakang: Menopause terjadi antara usia 45 sampai 55 tahun. Berbagai gejala muncul sebelum menopause. Gejala- gejala tersebut dapat memicu timbulnya respon atau sikap yang berbeda beda pada setiap wanita. Salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap yang positif tentang menopause adalah melalui kegiatan pendidikan kesehatan.. Modul salah satu media yang digunakan saat pendidikan kesehatan. tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan media modul terhadap pengetahuan dan sikap wanita tentang menopause.

Metodologi: Penelitian menggunakan desain Quasi experiment dengan pendekatan randomized pretest-posttest with control grup. Metode sampling yang akan digunakan adalah simple random sampling. Sampel berjumlah 56 orang dan dibagi dalam 2 kelompok, yaitu kelompok intervensi dan kontrol. Analisis data menggunakan Wilcoxon, Mann-Whitney, Paired T-test dan Independent T-Test.

Hasil: Tidak terdapat perbedaan skor pengetahuan dan sikap yang bermakna pada kedua kelompok setelah diberi pendidikan kesehatan (p=0,336 dan p=0,062). Namun terdapat perbedaan yang bermakna setelah salah satu kelompok diberi tambahan modul (p=0,000 dan p=0,000).

Kesimpulan: Pendidikan kesehatan dengan media modul efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap tentang menopause pada wanita menjelang menopause

Kata Kunci: Menopause, Modul, Pengetahuan dan Sikap Tentang Menopause.







1Mahasiswa Jurusan Keperawatan, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman.
2,3Jurusan Keperawatan, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman.
THE EFFECT OF HEALTH EDUCATION USING MEDIA MODULES TO KNOWLEDGE AND WOMEN’S ATTITUDE ABOUT MENOPAUSE IN BULUMULYO VILLAGES, BATANGAN, PATI.
1Liya Sintiawati, 2Asep Iskandar, 3Rahmi Setiyani
ABSTRACT
Bakcground: Menopause occurs between the ages of 45 and 55 years. These symptoms can lead to different responses or attitudes in each woman. One way to increase knowledge and positive attitude about menopause is through health education activities. Media is needed during health education to facilitate the delivery of information. The module is a printed material that is designed to be learned independently by the learning participants. The purpose of this study was to determine the effect of health education with media module on knowledge and attitude of women about menopause
Methodology: This research used Quasi experiment design with randomized pretest-posttest with control group approach. A total was 56 people and divided into 2 groups, intervention and control group samples were chosen using simple random sampling. Data was analyzed using Wilcoxon, Mann-Whitney, Paired T-test and Independent T-Test.
Results: Results of the study showed that there were not significant differences score of knowledge and attitude between two groups after the health education (p=0,336 and p=0,062). But, there were a significant differences score of knowledge and attitude between two groups after the booklet intervention (p=0,000 and p=0,000).
Conclusion: Health education with media modules is effective for improving knowledge and attitude about menopause in Pre-menopause women.
Keywords: Attitude, , Knowledge, Menopause, Module





1 Nursing student, Nursing program, Faculty of Health Science, University of
Jenderal Soedirman
2,3Nursing program, Faculty of Health Science, University of Jenderal Soedirman
1632819640G1D012063PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MEDIA VIDEO BERBAHASA JAWA TERHADAP PERILAKU PERAWATAN DIRI PENDERITA TB PARU DI KECAMATAN KEMBARANLatar Belakang: Pengetahuan yang rendah mengenai TB paru dan perawatan dirinya dapat mempengaruhi perilaku perawatan diri penderita TB paru. Pengetahuan mengenai TB dan perawatan diri dapat ditingkatkan dengan pendidikan kesehatan. Media digunakan untuk memudahkan penyampaian informasi. Salah satu media yang digunakan adalah video. Pendekatan transkultural dengan bahasa Jawa digunakan untuk meningkatkan efektivitas pendidikan kesehatan.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan media video berbahasa Jawa terhadap perilaku perawatan diri penderitan TB paru di Kecamatan Kembatan.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pre experiment dengan pendekatan one group pre and posttest design. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling. Besarnya sampel adalah 26 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data menggunakan uji statistik paired t test.
Hasil: Rata-rata skor perilaku perawatan diri sebelum diberikan pendidikan kesehatan adalah 73,04 dan rata-rata sesudah diberikan pendidikan kesehatan adalah 81,88. Hasil uji paired t test didapatkan hasil nilai p = 0,000 (p value <0,05). Terdapat pengaruh pendidikan kesehatan dengan media video berbahasa Jawa terhadap perilaku perawatan diri penderita TB paru di Kecamatan Kembaran.
Kesimpulan: Pendidikan kesehatan dengan media video berbahasa Jawa dapat meningkatkan perilaku perawatan diri penderita TB paru di Kecamatan Kembaran.
Background: Low knowledge of pulmonary tuberculosis and self care influenced self-care behaviors of pulmonary tuberculosis patients. Knowledge of pulmonary tuberculosis and self-care can be improved by health education. Media is used to ease the transfer of knowledge. One of the media that can be used is video. Transcultural approach with Javanese language is used to improve the effectiveness of health education.
Purpose: This study aimed to determine the effect of health education using Javanese language video on self-care behaviors of pulmonary tuberculosis patients in Kembaran district.
Method: This study used pre-experiment with one group pre and posttest approach design. The sampling method was consecutive sampling. The sample was 26 respondents who meet the criteria of inclusion and exclusion. Analysis of data used statistical paired t test.
Results: The average score of self-care behaviors before being given health education was 73.04 and the average after given health education was 81.88. The results of paired t test was showed the value of p = 0.000 (p value < 0.05). There was an influence of health education using Javanese language video on self-care behavior of pulmonary tuberculosis patients in Kembaran District.
Conclusion: Health education using Javanese language video can enhance self-care behaviors of pulmonary tuberculosis patients in Kembaran District.
1632919631G1D013065EFEKTIVITAS WAKTU PEMBERIAN TERAPI MUSIK TERHADAP NYERI DISMENOREA PRIMER PADA SISWI KELAS X DI SMAN 4 TEGALLatar Belakang : Angka kejadian dismenorea di dunia sangat tinggi, diperkirakan 50% wanita di seluruh dunia menderita dismenorea. Di Indonesia angka kejadian dismenorea primer mencapai 54,8 %. Dismenorea primer seringkali mengganggu aktifitas dan jika dibiarkan tanpa adanya penanganan maka akan menimbulkan kondisi yang tidak baik seperti mual, muntah, diare dan pingsan. Terapi musik memberikan efek terapeutik jika diberikan minimal 15 menit, tetapi penelitian lain membuktikan bahwa terapi musik yang diberikan hanya 10 menit juga dapat menurunkan nyeri dismenore.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pemberian terapi musik 10 menit dan 15 menit terhadap nyeri dismenorea primer.
Metode : Desain dalam penelitian ini adalah quasi experiment dengan two group randomized pretest-posttest. Jumlah sampel dalam penelitian ini 58 siswi. Teknik sampling yang digunakan yaitu stratified random sampling. Data yang terkumpul dianalisis secara statistik menggunakan Wilcoxon dan Mann-Whitney.
Hasil: Terdapat perbedaan skala nyeri sebelum dan sesudah diberikan terapi musik 10 menit (p=0,00). Terdapat perbedaan sebelum dan sesudah pemberian terapi musik 15 menit (p=0,00). Tidak terdapat perbedaan antara pemberian musik 10 menit dan 15 menit terhadap nyeri dismenorea primer (p=0,723)
Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan antara pemberian musik 10 menit dan 15 menit terhadap penurunan nyeri dismenorea primer.
Background: The number incidence of dysmenorrhea in the world is currently very high, it is estimated that 50 % women around the world suffer dysmenorrhea. In Indonesia, the number incidence of primary dysmenorrhea is 54,8%. dysmenorrhea often disturbs the daily activity and if it is left without any handling from the sufferer, it will cause the condition of being unwell such as nausea, vomiting, diarrhea and fainting. Music therapy provides a therapeutic effect if given at least 15 minutes, but other studies prove that music therapy given only 10 minutes can also reduce dysmenorrhea pain
Purpose: The aim of this study was to know the difference between the provision of musical therapy during 10 minutes and 15 minutes towards primary dysmenorrhea pain.
Methods :The method of design in this research was quasi experiment with two group randomized pretest-posttest. The sample of this research was 58 female students. The sampling techniques used stratified random sampling. The collected data was analyzed statistically using wilcoxon and mann-whitney.
Results: There was siginificant difference between before and after giving the musical therapy during 10 minutes (p=0,00). There was a difference between before and after the provision of musical therapy during 15 minutes (p=0,00). There was no difference between the provision of musical therapy during 10 minutes and 15 minutes towards primary dysmenorrhea pain (p=0,723)
Conclusion: There was no difference between the provision of musical therapy during 10 minutes and 15 minutes to decrease primary dysmenorrhea pain.
1633019637G1F013021PENGEMBANGAN DAN VALIDASI METODE SPEKTROFOTOMETRI VISIBLE DENGAN PEMBENTUKAN PRUSSIAN BLUE UNTUK ANALISIS ASAM MEFENAMAT DALAM SEDIAAN TABLET Latar Belakang: Spektrofotometri Ultra Violet (UV) merupakan metode yang sering digunakan untuk penentuan kadar asam mefenamat dalam sediaan tablet. Namun, didalam tablet salut selaput asam mefenamat mengandung bahan pewangi vanillin dan pewarna sunset yellow yang dapat dideteksi di daerah UV. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan memvalidasi metode spektrofotometri visible melalui pembentukan prussian blue untuk analisis asam mefenamat dalam sediaan tablet.

Metodologi: Metode analisis dikembangkan dengan cara mengukur panjang gelombang maksimal prussian blue yang terbentuk dari reduksi FeIII menjadi FeII oleh asam mefenamat dan direaksikan dengan K3Fe(CN)6. Kemudian pembentukan prussian blue dioptimasi melalui penentuan operating time, Konsentrasi larutan FeCl3, K3Fe(CN)6 dan asam asetat. Validitas metode ditentukan yaitu linearitas, akurasi, presisi, LOD, LOQ dan selektivitas. Selanjutnya dilakukan aplikasi metode terhadap sampel tablet asam mefenamat.

Hasil Penelitian: Hasil dari penelitian ini yaitu panjang gelombang pengukuran prussian blue yang didapatkan adalah 715 nm dengan operating time prussian blue 35 menit. Konsentrasi optimal pereaksi yang digunakan yaitu 2,5 mM FeCl3 dalam asam asetat 0,5 M dan 15 mM K3Fe(CN)6. Parameter validasi yang diperoleh yaitu linearitas sebesar r2 = 0,9954 dengan LOD 0,311 ppm dan LOQ 1,037 ppm. Akurasi 90,00-93,79%; presisi 0,87-3,03; selektivitas untuk eksipien dengan nilai % recovery 99,05-108,12 %. Hasil aplikasi untuk tiap sampel yaitu menghasilkan % kadar terhadap teori 100.83 - 103.67 %.

Kesimpulan: Asam mefenamat dapat membentuk prussian blue yang dapat dideteksi dengan spektrofotometri visible. Validitas metode yang dihasilkan kurang memenuhi persyaratan metode yang sesuai menurut ICH 2005. Hasil aplikasi metode memenuhi persyaratan tablet yang sesuai dengan persyaratan dalam Farmakope Indonesia Edisi V.

Background: Ultra Violet Spectrophotometry (UV) is a frequently used method for determining the levels of mefenamic acid in tablets. However, in the mefenamic acid-coated tablets the ingredients of vanillin deodorizer and yellow sunye dyes can be detected in the UV region. This study aims to develop and validate visible spectrophotometric methods through the formation of prussian blue for the analysis of mefenamic acid in tablet preparations.

Methodology: The analytical method was developed by measuring the maximum prussian blue wavelength formed from the FeIII reduction into FeII by mefenamic acid and reacted with K3Fe (CN) 6. Then prussian blue formation is optimized by determination of operating time, Concentrations of FeCl3, K3Fe (CN) 6 and acetic acid solutions. The validity of the method is determined by linearity, accuracy, precision, LOD, LOQ and selectivity. Furthermore, the application of methods to samples of mefenamic acid tablets.

Result: The result of this research is the wavelength of prussian blue measurement is 715 nm with prussian blue operating time 35 minutes. The optimal concentration of reagents used was 2.5 mM FeCl 3 in 0.5 M acetic acid and 15 mM K3Fe (CN) 6. Validation parameters obtained were linearity of r2 = 0,9954 with LOD 0,311 ppm and LOQ 1,037 ppm. Accuracy 90.00-93,79%; Precision 0.87-3.03; Selectivity for excipients with a recovery rate of 99.05-108.12%. The results of the application for each sample is to produce% levels against the theory of 100.83 - 103.67%.

Conclusion: Mefenamic acid may form a prussian blue that can be detected by visible spectrophotometry. The validity of the resulting method does not meet the requirements of the appropriate method according to ICH 2005. The results of the method application fulfill the tablet requirements in accordance with the requirements in Pharmacopoeia Indonesia Edition V.


1633119641F1G010021ANALISIS INTRINSIK NASKAH DRAMA “PENGGALI INTAN”
KARYA KIRDJOMULJO
Penelitian berjudul “Analisis Intrinsik Naskah Drama “Penggali Intan” Karya Kirdjomuljo” bertujuan untuk mengetahui unsur intrinsik yang meliputi, dialog, tokoh, alur, latar dan tema dalam naskah drama “Penggali Intan” karya Kirdjomuljo. Manfaat teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam perkembangan ilmu sastra khususnya penelitian dengan teori strukturalisme. Manfaat praktis penelitian ini diharapkan dapat membantu penikmat karya sastra khususnya naskah drama “Penggali Intan” karya Kirdjomuljo untuk lebih memahami unsur intrinsik naskah drama. Oleh karena itu pembaca dapat menangkap maksud yang dikemukakan oleh pengarang dan dapat dijadikan pembelajaran bagi masyarakat. Selain itu, diharapkan dengan adanya penelitian ini bisa memberikan motivasi kepada pembaca untuk melakukan penelitian terhadap naskah lain dengan menggunakan analaisis intrinsik dalam naskah drama. Penelitian ini menarik karena naskah drama ini menceritakan pergulatan makna eksistensi manusia. Hal ini tergambarkan dalam karakter tiga orang penggali intan yang menginginkan kehidupan yang lebih baik agar dapat hidup bahagia.
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam peneliatian ini adalah dengan cara membaca dan memahami isi naskah drama “Penggali Intan” secara berulang-ulang dan teliti dengan mencermati struktur yang terdapat di dalamnya, kemudian mencatat data-data penting yang sesuai dan berkaitan dengan fokus penelitian, setelah itu mengklasifikasikan data penelitian yang telah diperoleh sesuai dengan kebutuhan dalam penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dialog dalam naskah drama “Penggali Intan” karya Kirdjomuljo.
Hasil yang diperoleh bahwa, naskah drama “Penggali Intan” terdiri dari: (1) Tema kekayaan dan cinta, cinta yang menuntut untuk orang untuk menjadi kaya. (2) Alur, alur yang terkandung adalah alur campuran. (3) Latar meliputi: latar tempat, Kalimantan. Latar Ruang , halaman rumah Sandjojo. Latar waktu, pagi hari dan malam hari.(4) Tokoh, tokoh utama yaitu, Sandjojo, tokoh pembantu yaitu, Siswadi, Sarbini, dan Sunarsih.
The research entitled “Analisis Itrinsik Naskah Drama “Penggali Intan” Karya Kirdjomuljo” aims at examining the intrinsic elements covering dialogs, characters, plots, settings, and themes within the drama script “Penggali Intan” written by Kirdjomuljo. The theoretical significance of this research is expected to provide contribution in the development of literature, especially the drama script written by Kirdjomuljo to understand the drama script’s intrinsic elements better. This is an interesting research to conduct since the drama script tells about existence of human beings meaning disputers shown within the characters of three diamond excavators who were expecting a better and happier life.
The research data are collected by thoroughly and repeatedly reading and comprehending the contents of the drama script “Penggali Intan” written by Kirdjomuljo emphasizing on its sentence structures, followed by recording the important data in accordance with and related to the focus on this research. The data are then classified to meet those required by the research. The data used in this research are dialogs of the drama script “Penggali Intan” written by Kirdjomuljo.
The results show that the drama script “Penggali Intan” written by Kirdjomuljo consists of: (1) wealth and love themes, in which love requires someone to become rich; (2) plots, in which the contained plots are the compound ones; (3) settings, in which those cover location: Kalimantan, spot: Sandjojo’s home front yard , time: morning and evening; (4) the main character is Sandjojo, while the supporting ones are Siswadi, Sarbini, and Sunarsih.
1633219643G1D013030PENGARUH BERMAIN CONGLAK TERHADAP MEMORI JANGKA PENDEK LANSIA DI PANTI PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA DEWANATA CILACAPPENGARUH BERMAIN CONGKLAK TERHADAP MEMORI JANGKA PENDEK LANSIA DI PANTI PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA DEWANATA CILACAP
Putri Septiana1 Wahyu Ekowati2 Rahmi Setiyani3

Abstrak
Latar Belakang: Lansia sering mengalami masalah yang berkaitan dengan fungsi kognitif, terutama memori jangka pendek. Gangguan memori jangka pendek dapat menyebabkan psikologis lansia menjadi temperamental dan terganggu dalam interaksi sosial. Peningkatan kemampuan kognitif dapat dilakukan dengan berbagai cara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bermain congklak terhadap memori jangka pendek lansia di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap.
Metodologi: Desain dalam penelitian ini yaitu quasi experimental dengan rancangan non-equivalen group design. Penelitian dilakukan pada 28 responden yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Memori jangka pendek diukur dengan digit span forward & backward dan data dianalisis dengan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney.
Hasil Penelitian: Responden sebagian besar berjenis kelamin perempuan dan berusia rata-rata 70 tahun. Terdapat perbedaan yang bemakna rerata skor memori jangka pendek sebelum dan setelah dilakukan intervensi bermain congklak (p=0,002). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna rerata skor memori jangka pendek lansia pretest dan post test tanpa bermain congklak (p=0,739). Terdapat perbedaan yang bermakna rerata peningkatan skor memori jangka pendek lansia pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p=0,001).
Kesimpulan: Permainan congklak dapat meningkatkan memori jangka pendek lansia di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap.
Kata Kunci: Congklak, lansia, memori jangka pendek.




1Mahasiswa Jurusan Keperawatan, Fikes Unsoed
2Departemen Keperawatan Jiwa, Fikes Unsoed
3Departemen Keperawatan Komunitas, Fikes Unsoed
EFFECT OF PLAYING CONGKLAK ON SHORT-TERM MEMORY OF ELDERLY LIVING IN DEWANATA LONG TERM CARE FACILITY
Putri Septiana1 Wahyu Ekowati2 Rahmi Setiyani3

Abstract
Background: Elderly often have problems related to cognitive function, especially short-term memory. Short-term memory disorders can make the elderly become temperamental and face difficulties in social interaction. There are various ways to increase cognitive function. This study aimed to determine effect of playing congklak on short-term memory of elderly living in Dewanata Long Term Care Facility.
Methods: This is a quasi experiment research with non-equivalen group design. Total sample was 28 people which divided into 2 group, control and intervention group. Short-term memory is measured by the digit span forward and backward, and the data were analyzed with the Wilcoxon test and Mann-Whitney test.
Results: Majority of respondents were female and age 70 years old on average. There was a significant difference in pre and post test score in intervention group (p = 0.002), but it wasn’t found in control group (p = 0,739). Score difference in intervention group was significantly higher compared to those in control group (p = 0,001).
Conclusion: Playing congklak can improve short-term memory of the elderly.
Keywords: Congklak, elderly, short-term memory.







1Student of Nursing, Health Sciences Faculty, Unsoed
2Departement of Mental Health Nursing, Health Sciences Faculty, Unsoed
3Departement of Community Nursing, Health Sciences Faculty, Unsoed
1633319645G1D013008KORELASI ANTARA EFIKASI DIRI DENGAN PENCAPAIAN SUCCESSFUL AGING LANSIA DI DESA PANEMBANGAN
KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS
KORELASI ANTARA EFIKASI DIRI DENGAN PENCAPAIAN
SUCCESSFUL AGING LANSIA DI DESA PANEMBANGAN
KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS


Nur Megawati1, Asep Iskandar2, Rahmi Setiyani3


ABSTRAK


Latar Belakang: Menua dengan berhasil menjadi dambaan bagi semua individu yang memasuki usia dewasa akhir. Namun, tidak semua lansia dapat mencapai penuaan yang sukses. Lansia mengalami kemunduran atau perubahan dalam berbagai aspek kehidupannya. Lansia yang tidak mampu menyesuaikan diri akan merasa tidak yakin terhadap kemampuannya yang berpengaruh terhadap kebahagiaan lansia. Lansia membutuhkan keyakinan yang disebut efikasi diri agar mampu beradaptasi dengan proses penuaan yang dialaminya untuk pencapaian successful aging.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah ada korelasi antara efikasi diri dengan pencapaian successful aging pada lansia di Desa Panembangan Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah 90 lansia yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Pengukuran efikasi diri menggunakan General Self Efficacy Scale (GSES) dan successful aging menggunakan Successful Aging Scale (SAS). Uji statistik menggunakan uji korelasi spearman.
Hasil: Median skor efikasi diri lansia yaitu 39,00. Aspek yang paling tinggi adalah aspek strength dan terendah adalah generality. Median skor pencapaian successful aging yaitu 85,00. Aspek yang pencapaiannya paling tinggi adalah fuctional well dan terendah adalah primary and secondary control. Hasil uji korelasi spearman menunjukkan terdapat korelasi positif yang kuat dan signifikan secara statistik antara efikasi diri dengan pencapaian successful aging (r= 0,617, p=0,000)
Kesimpulan: Efikasi diri yang tinggi dapat meningkatkan pencapaian successful aging pada lansia.


Kata Kunci: Efikasi Diri, Lansia, Successful Aging
CORELATION BETWEEN SELF EFFICACY AND ACHIEVEMENT OF SUCCESSFUL AGING AMONG ELDERLY IN PANEMBANGAN VILLAGE, CILONGOK SUB-DISTRICT,
BANYUMAS REGENCY


Nur Megawati1, Asep Iskandar2, Rahmi Setiyani3


ABSTRACT


Background: Successful aging becomes a dream for all individuals who enter older adult. However, not all elderly can achieve successful aging. Elderly decline or change in many aspects of their life. Elderly who didn’t able to adjust will feel unsure of its ability that affect their happiness. Elderly need a conviction which is called self efficacy in order to be able to adapt with the aging process to achieve if there is successful aging.
Aims: This research aimed to determine a corelation between self efficacy and achievement of successful aging on elderly in Panembangan village, Cilongok district, Banyumas regency.
Methods: This is a quantitative research with cross sectional design. A total of 90 elderly that selected using simple random sampling technique was participated in this study. Self efficacy was measured using General Self Efficacy Scale (GSES) and successful aging was measured using Successful Aging Scale (SAS). Data was analyzed using spearman correlation test.
Result: Median score of elderly self efficacy is 39,00. The highest score was found in strength aspect and the lowest one is in generality. Meanwhile, median score of successful aging achievement is 85.00. The highest score was found in functional well and the lowest one is in primary and secondary control. Spearman correlation test shows that there is positive correlation between self efficacy with the achievement of successful aging (r = 0.617, p = 0,000)
Conclusion: The higher self efficacy the higher achievement of successful aging among elderly.


Keywords: Elderly, Self Efficacy, Successful Aging




1 Student of Nursing Department, Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University.
2,3 Department of Community Nursing, Faculty of Health Science, Jenderal Soedirman University
1633419646G1D013074HUBUNGAN KESEHATAN SPIRITUAL DENGAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS LANSIA WANITA EMPTY NESTER DI DESA PAGERAJI KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMASHUBUNGAN KESEHATAN SPIRITUAL DENGAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS LANSIA WANITA EMPTY NESTER DI DESA PAGERAJI KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS
Fiska Afifah1 Eva Rahayu2 Rahmi Setiyani3
ABSTRAK
Latar Belakang: Salah satu perubahan yang terjadi pada usia lanjut adalah berkurangnya komposisi anggota keluarga karena perginya seluruh anak yang sudah dewasa (empty nest). Hal tersebut memicu perasaan kesepian, sehingga dimungkinkan menyebabkan kesejahteraan psikologis terganggu. Untuk mencapai kondisi psikologis yang sejahtera, lansia harus mempunyai penerimaan diri dan mekanisme koping yang baik. Penerimaan diri adalah bagian dari kesehatan spiritual.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kesehatan spiritual dengan kesejahteraan psikologi lansia wanita empty nester di Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.
Metode: Desain yang digunakan yaitu analitik korelatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 67 lansia wanita empty nester. Alat ukur yang digunakan untuk mengetahui kesehatan spiritual adalah kuesioner kesehatan spiritual (Syam, 2010) dan Ryff’s Scale Psychological Wellbeing (RPWB) untuk mengetahui kesejahteraan psikologis. Analisis data menggunakan uji Spearman.
Hasil: Skor median kesehatan spiritual adalah 52,00, sedangkan skor rata-rata kesejahteraan psikologis adalah 54,63. Hasil uji menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kesehatan spiritual dengan kesejahteraan psikologis (p = 0,000).
Kesimpulan: Ada hubungan antara kesehatan spiritual dengan kesejahteraan psikologis lansia wanita empty nester di Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.

Kata Kunci : Empty Nester, Kesejahteraan Psikologis, Kesehatan Spiritual






1Mahasiswa jurusan Keperawatan FIKes Universitas Jenderal Soedirman
2 3Bagian Keperawatan Komunitas FIKes Universitas Jenderal Soedirman
THE CORRELATION BETWEEN SPIRITUALITY HEALTH AND PSYCHOLOGICAL WELLBEING AMONG EMPTY NESTER ELDERLY WOMEN IN PAGERAJI VILLAGE CILONGOK DISTRICT, BANYUMAS
Fiska Afifah1 Eva Rahayu2 Rahmi Setiyani3
ABSTRACT
Background: One of changes happens in elderly family is decrease in number of family members because adult children leave their home. This condition can cause a loneliness and disturb in psychological wellbeing. To achieve psychological wellbeing, elderly should accept theirself and have good coping mechanism. Accepting self is part of spirituality health.
Goals: This research aims to analyze the correlation between spirituality health and psychological wellbeing among empty nester elderly women in Pageraji village, Cilongok district, Banyumas.
Methods: This is an analytic correlation research with cross sectional design. A total of 67 empty nester elderly women was participated in this study. This research was measured by spirituality health (Syam, 2010) and Ryff’s Scale Psychological Wellbeing (RPBW) to measure psychological wellbeing. The data was analyzed using Spearman’s test.
Results: Median score of spirituality health is 52,00, while mean score of psychological wellbeing is 54,63. Spearman’s test showed that there is a significant correlation between spirituality health and psychological wellbeing (p= 0,000).
Conclusion: There is a correlation between spirituality health and psychological wellbeing among empty nester elderly women in Pageraji village, Cilongok district, Banyumas.
Keywords: Empty Nester, Psychological Wellbeing, Spirituality Health






1Nursing Student, Nursing Program, Faculty of Health Science, University of Jenderal Soedirman
2 3Nursing Community Department, Nursing Program, Faculty of Health Science, University of Jenderal Soedirman
1633519647G1D013080HUBUNGAN KEAKTIFAN MENGIKUTI POS PEMBINAAN TERPADU PENYAKIT TIDAK MENULAR DENGAN SELF CARE MANAGEMENT PENDERITA HIPERTENSI DI DESA KARANGGINTUNG DAN KEDUNG MALANGHUBUNGAN KEAKTIFAN MENGIKUTI POS PEMBINAAN TERPADU PENYAKIT TIDAK MENULAR DENGAN SELF CARE MANAGEMENT PENDERITA HIPERTENSI DI DESA KARANGGINTUNG DAN KEDUNG MALANG
Riska Tri Ismuwardani1 Eva Rahayu2 Rahmi Setiyani3
ABSTRAK
Latar Belakang: Hipertensi yang terjadi dalam kurun waktu lama dapat menimbulkan komplikasi. Penderita hipertensi diharapkan dapat mengupayakan self care management untuk mengontrol terjadinya komplikasi hipertensi. Posbindu PTM merupakan salah satu program pemerintah dalam pengendalian penyakit tidak menular yang dilaksanakan secara terpadu, rutin, dan periodik. Keaktifan mengikuti Posbindu PTM dimungkinkan akan meningkatkan self care management penderita hipertensi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara keaktifan mengikuti Posbindu PTM dengan self care management penderita hipertensi di Desa Karanggintung dan Kedung Malang.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling dengan jumlah responden 60 penderita hipertensi. Pengukuran self care management menggunakan kuesioner Hypertension Self Management Behavior Questionnaire (HSMBQ) Uji statistik menggunakan uji korelasi Lambda.
Hasil: Penderita hipertensi di Desa Karanggintung dan Kedung Malang aktif dalam mengikuti Posbindu PTM (85%) dan berada dalam kategori self care management yang cukup baik (46,7%). Hasil uji korelasi Lambda menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara keaktifan mengikuti Posbindu PTM dengan self care management penderita hipertensi di Desa Karanggintung dan Kedung Malang dengan nilai (p=0,014) dan nilai korelasi lemah (r=0,219).
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara keaktifan mengikuti Posbindu PTM dengan self care management penderita hipertensi di Desa Karanggintung dan Kedung Malang

Kata Kunci : Hipertensi, Posbindu PTM, Self Care Management.



1Mahasiswa Jurusan Keperawatan FIKes Unsoed
2,3 Departemen Keperawatan Komunitas Jurusan Keperawatan FIKes Unsoed
RELATIONSHIP BETWEEN OF PARTICIPATION IN POSBINDU PTM AND SELF CARE MANAGEMENT PRACTICE AMONG HYPERTENSIVE PATIENT IN KARANGGINTUNG AND KEDUNG MALANG VILLAGE

Riska Tri Ismuwardani1 Eva Rahayu2 Rahmi Setiyani3
ABSTRACT

Background: Unmanaged hypertension can lead to complication. Hypertensive patient are expected to develope self care behavior for managing complication. Posbindu PTM is one of the government programs to control non infectinous disease. The participation in Posbindu PTM is supposed to increase self care management practice among hypertensive patient.
Objective: The purpose of this research is to analyze the relationship between of participation in Posbindu PTM and self care management practice among hypertensive patient in Karanggintung and Kedung Malang village.
Method: This research uses cross sectional design. A total of 60 hypertensive patient was participated in this study. Self care management practice was assessed using Hypertension Self Management Behavior Questionnaire (HSMBQ). The data was analyzed by using Lambda correlation test.
Results: Approximately 85% hypertensive patients actively participate in Posbindu PTM. Almost half of patients showed moderate level of self care management practice (46,7%). Only 11.6 % patient was at good level of self care management practice. Lambda correlation test showed that there is significant correlation between participation in Posbindu PTM and self care management practice (p=0,014; r= 0,219).
Conclusion: Participation in Posbindu PTM is related to self care management practice among hypertensive patient in Karanggintung and Kedung Malang village.


Keywords: Hypertension, Posbindu PTM, Self Care Management.







1 Students of Nursing Department FIKes Unsoed
2,3 Department of Nursing Community Nursing Department FIKes Unsoed

1633619649F1B012066PENGELOLAAN DANA DESA DALAM UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA
(STUDI DI DESA DAWUHAN KULON, KECAMATAN KEDUNGBANTENG, KABUPATEN BANYUMAS)
Pengelolaan Dana Desa dalam Upaya Pemberdayaan Masyarakat Desa (Studi di Desa Dawuhan Kulon, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas). Dalam penelitian ini pengelolaan dana desa di Desa Dawuhan Kulon dapat dilihat dari beberapa aspek manajemen antara lain yaitu: perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan pengendalian. Serta dua faktor yang mempengaruhi manajemen yaitu regulasi dan SDM. Adapun metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pemilihan informan dilakukan melalui purposive sampling dan snowball sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa aspek perencanaan dalam pengelolaan dana desa di Desa Dawuhan belum optimal karena minimnya alokasi untuk pemberdayaan masyarakat. Aspek pengorganisasian dalam pengelolaan dana desa di Dawuhan Kulon dapat dikatakan baik. Pembentukan struktur organisasi serta pembagian tugas dan tanggung jawab dalam pengelolaan dana desa dilakukan sesuai aturan yang ada mengacu pada peraturan perundang-undangan yang mengatur dana desa. Aspek penggerakkan yang dilakukan sudah baik, terbukti dari kelancaran kegiatan yang dilaksanakan dan keharmonisan yang sudah terbangun antar tiap unsur desa yang terlibat dalam pengelolaan dana desa ini. Pada aspek pengendalian, permasalahan SDM perangakat desa sudah dilakukan pelatihan terutama penggunaan komputer untuk administrasi. Tetapi memang ada kendala karena faktor usia perangkat yang sudah tua sehingga agak lambat dalam menyesuaikan. Untuk faktor yang mempengaruhi pengelolaan dana desa di Desa Dawuhan Kulon dari faktor regulasi, petunjuk teknis pencairan dana desa yang sering berubah dengan waktu singkat ini tentunya menghambat kelancaran proses pengelolaan dana terutama unsur lembaga desa. Dari faktor SDM, memang tidak meratanya kapasitas SDM perangkat desa dalam hal manajerial dan administratif membuat sebagian perangkat harus bekerja lebih keras untuk menjaga kelancaran proses pengelolaan dana desa ini. Village Fund Management efforts in empowering rural communities (studies in the village Dawuhan Kulon Subdistrict Kedungbanteng, Banyumas). In this research, fund management Dawuhan Kulon Village in the village can be seen from some aspects of management, including: planning, organization, mobilization and control. As well as two factors that influence the management of this regulation and human resources. The method used is the descriptive qualitative search method. Informant selection technique is done by directed sampling and snowball sampling. The results showed that aspects of planning in the management of village funds in Dawuhan village is not optimal because of lack of allocation for community empowerment. The organization of aspects of fund management in Dawuhan Kulon village can be quite good. Formation of the organizational structure and division of tasks and responsibilities in the management of rural funds is done according to the existing reference to the legislation governing the funds of the village. The aspects of the mobilization were good, as evidenced by the regularity of the activities carried out and the harmony that built between each element of the villages involved in the management of the funds of this village. In the aspect of control, HR issues perangakat villages have already done the training, especially the use of computers for administration. But there are obstacles because aging devices are old which was a bit slow to settle. For the factors that affect village fund management Dawuhan Kulon village in the regulatory factors, village manual disbursement manual frequently changed with the short time it hinder the process of fund management institutions, especially the elements of the village. Human resources factors is the village's unequal human resource capacity in terms of management and administration make the greater part of the device must work harder to maintain the regularity of the village fund management process.
1633719650I1F015077PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MEDIA BOOKLET TERHADAP PENGETAHUAN DAN MOTIVASI IBU DALAM PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI RUANG PERINATOLOGIPENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MEDIA BOOKLET TERHADAP PENGETAHUAN DAN MOTIVASI IBU DALAM PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI RUANG PERINATOLOGI

AstriYulia Nugraeni1Mekar Dwi Anggraeni2Hartati³

Abstrak

LatarBelakang: Rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia disebabkan oleh rendahnya tingkat pengetahuan dan motivasi ibu. Cakupan pemberian ASI eksklusif di ruang perinatologi lebih rendah daripada rawat gabung.Upaya yang dapat dilakukan oleh perawat adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif di ruang perinatologi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan media booklet terhadap pengetahuan dan motivasi ibu dalam pemberian ASI eksklusif di ruang perinatologi.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain non randomized pretest and posttest with control group. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling dengan jumlah 20 responden kelompok intervensi dan 20 responden kelompok kontrol yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner data demografi, kuesioner pengetahuan tentang ASI dan kuesioner motivasi ibu dalam pemberian ASI eksklusif. Analisa data menggunakan uji statistik Wilcoxon dan uji Mann Whitney.
Hasil: Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya perbedaan antara skor pengetahuan dan motivasi pretes dan posttest pada masing-masing kelompok. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa ada perbedaan skor postest pengetahuan dan motivasi ibu dalam pemberian ASI eksklusif di ruang perinatologi antara kelompok intervensi dan kontrol.
Kesimpulan: Pendidikan kesehatan dengan media booklet efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan motivasi ibu dalam pemberian ASI eksklusif di ruang perinatologi.
Kata Kunci : booklet, pengetahuan, motivasi, asi eksklusif

1Mahasiswa Jurusan Keperawatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman.
2Dosen Jurusan Keperawatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman.
³Dosen Jurusan Keperawatan, Prodi Keperawatan Purwokerto, Poltekes Semarang

THE EFFECTS OF HEALTH EDUCATION WITH BOOKLET MEDIA ON EXCLUSIVE BEASTFEEDING KNOWLEDGE AND MOTIVATION IN PERINATOLOGY

AstriYulia Nugraeni¹Mekar Dwi Anggraeni²Hartati³

Abstract

Background: The Indonesian exclusive breastfeeding rate is due to the low level of mother's knowledge and motivation. Exclusive breastfeeding levels in the perinatology are lower than maternal and infant care unit. The efforts that nurses can do is to provide health education to improve exclusive breastfeeding in perinatology.
Objective: This study aimed to determine the effect of health education using booklet to improve mother's knowledge and motivation in exclusive breastfeeding in perinatology.
Method: This was non randomized pretest and postest with control group design. This study used consecutive sampling method and recruited 20 respondents in intervention group and 20 respondents in control group who met the inclusion criteria and did not meet the exclusion criteria. This study used three questionnaires; they were demographic data questionnaire, exclusive breasfeeding knowledge questionnaire and exclusive breastfeeding motivation questionnaire. Data was analyzed using Wilcoxon test and Mann Whitney test since the data were not normally distributed.
Results: The results of Wilcoxon test showed that there were differences of pretes and postest scores exclusive breastfeeding knowledge and motivation in each group with the the value of p = 0,000. Mann Whitney test showed that there were an significant differences between the intervention and control group postest score of knowledge and motivation with the value of p = 0,022.
Conclusion: Health education using a booklet is effective to improving mother's knowledge and motivation in exclusive breastfeeding in perinatology.
Keywords: booklet, knowledge, motivation, exclusive breastfeeding


¹Students of the Department of Nursing, Faculty of Health Sciences, University of JenderalSoedirman.
²Lecturer Department of Nursing, Faculty of Health Sciences, University of JenderalSoedirman.
³Lecturer Department of Nursing, Purwokerto Nursing Program, Poltekes Semarang
1633819651G1D013082HUBUNGAN ANTARA POLA KOMUNIKASI KELUARGA DENGAN KETERBUKAAN DIRI REMAJA KEPADA ORANG TUA PADA SISWA KELAS XII DI SMA NEGERI BATURRADEN
ABSTRAK
Latar Belakang: Masa remaja ditandai dengan terjadinya perubahan baik secara fisik maupun psikis memungkinkan timbulnya masa krisis bagi remaja yang ditandai dengan kecenderungan munculnya perilaku-perilaku menyimpang. Cara untuk mengurangi keagresifan remaja salah satunya adalah dengan membuka diri. Menerapkan pola komunikasi keluarga yang fungsional dapat menjadi sistem pendukung remaja untuk membuka diri kepada orang tua.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola komunikasi keluarga dengan keterbukaan diri (self-disclosure) remaja kepada orang tua pada siswa kelas XII di SMA Negeri Baturraden.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode probability sampling dengan jumlah responden 101 remaja. Pengukuran keterbukaan diri remaja menggunakan kuesioner keterbukaan diri remaja. Uji statistik menggunakan uji korelasi Lambda.
Hasil: Uji statistik Lambda menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara pola komunikasi keluarga dengan keterbukaan diri remaja di SMA Negeri Baturraden dengan nilai (p=0,176) nilai koefisien korelasi (r=0,056) sehingga Ho gagal titolak.
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara pola komunikasi keluarga dengan keterbukaan diri remaja di SMA Negeri Baturraden.
ABSTRACT

Background: Adolescent is begins with the change either physically or mentally that enables the emergence of crisis period for teenagers. It is marked by the tendency of teenagers to do deviant behavior. The way to reduce the aggressiveness of teenagers is by disclosing their own self. Implemented family communication pattern that is functional can be the support system for teenagers to disclose themselves to their parents.
Objective: This research was aimed at analyzing the correlation between family communication pattern and self-disclosure of teenagers to their parents on the grade 12 students of SMA Negeri Baturraden.
Method: This research is cross sectional design. The sample is taken by using probability sampling method with the number of respondents which is 101 teenagers. The measurement of teenagers’ self-disclosure uses the questionnaire of teenagers’ self-disclosure. Statistical test used Lambda correlation test.
Result: Based on Lambda statistical test, there is no correlation between family communication pattern and self-disclosure of teenagers in SMA Negeri Baturraden with the value (p=0,176), coefficient value of correlation (r=0,056), therefore, Ho is obtained.
Conclusion: There is no correlation between family communication pattern and self-disclosure of teenagers in SMA Negeri Baturraden.
1633919587G1D012032SURVEY TINGKAT PENGETAHUAN SISWA SMP NEGERI MENGENAI HIV/AIDS DI WILAYAH KOTA PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMASLatar belakang: Tingginya kasus HIV/AIDS di Indonesia disebabkan oleh tingkat pengetahuan masyarakat yang kurang, sehingga tidak dapat mencegah penularan HIV/AIDS. Pencegahan HIV/AIDS sejak dini sangat penting terutama saat masa remaja. Pada masa remaja awal, sering kali terjadi permasalahan sosial, sehingga sangat penting untuk melindungi mereka dari masalah-masalah remaja terutama HIV/AIDS.
Tujuan: Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa SMP Negeri mengenai HIV/AIDS di wilayah Kota Purwokerto Kabupaten Banyumas
Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan propotional stratified random sampling sebanyak 398 responden. Instrument menggunakan kuesioner sebanyak 20 item pertanyaan.
Hasil: Hasil penelitian ini adalah sebagian besar siswa memiliki tingkat pengetahuan rendah yaitu 77,9%.
Kesimpulan: Tingkat pengetahua siswa SMP Negeri mengenai HIV/AIDS di wilayah Kota Purwokerto Kabupaten Banyumas adalah rendah
Background: High number of HIV/AIDS case in Indonesia is caused by the lack of knowledge in comunnity, so it cannot prevent HIV/AIDS to spread. Early preventation of HIV/AIDS is so important especially during adolescent. In early adolenscent, often have social problem, so it is important to protect adolenscent from adolenscent issue, especially about HIV/AIDS.
Objective: The purpose of this study was to determine knowledge level of junior high school student about HIV/AIDS in Purwokerto Banyumas.
Method: This research used descriptive with cross sectional method. Sampling was using propotional stratified random sampling counted 398 respondent. Instrumen used questionnaire with 20 questions item.
Result: Result in this research is most of the student have low knowledge level that is 77,9%
Conclusion: Knowledge level of junior high school student about HIV/AIDS in Purwokerto Banyumas is low.
1634019652H1F013012GEOLOGI DAN STUDI FASIES GUNUNGAPI PURBA MANGANTI
KECAMATAN AYAH, KABUPATEN KEBUMEN,
PROVINSI JAWA TENGAH
Daerah penelitian terletak di sekitar pantai Manganti dengan koordinat 9.140.000 mN – 9.145.000 mN dan 322.000 mE – 327.000 mE, kecamatan Ayah kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi dan persebaran fasies gunungapi purba Manganti, Pemetaan didasarkan pada pemetaan detail di lapangan dengan menentukan: geomorfologi berupa citra SRTM dan peta topografi dengan skala 1:25.000, struktur geologi dan vulkanostratigrafi menentukan jenis batuan secara makroskopis maupun mikroskopis dengan analisis petrografi. Penyebaran produk aktivitas vulkanik didaerah tersebut kearah barat daya – timur laut, pada daerah penelitian menempati fasies central-proksimal, berdasarkan pengukuran kemiringan asli batuan (initial dip) fasies central utamanya berada di sebelah timur laut. Fasies central dengan litologi intrusi andesit-basalt, lava andesit-basalt, dan breksi piroklastik, sedangkan fasies proksimal dengan litologi satuan aliran lava Manganti, dan breksi piroklastik yang terdapat struktur bomb sag sebagai penciri dekat dari pusat erupsi. Dan terdapat struktur normal fault yang diindikasi sebagai struktur vulkanik akibat deflasi dan inflasi yang merupakan bagian dari struktur radial gunung api yang menempati fasies central-proksimal. Gunung api purba Manganti diperkirakan telah mengalami 2 kali fase pembangunan (konstruktif) dan 1 kali fase (destruktif). Pada fase konstruktif magma mengalami evolusi dengan dibuktikan adanya struktur xenolith, dan tekstur khusus oscillatory zoning dan sieve texture. The study area is located around Manganti beach with coordinate 9.140.000 mN – 9.145.000 mN and 322.000 mE – 327.000 mE, Ayah district Kebumen regency, Central Java. The goal of this study is to know the geology condition and facies distribution of Menganti ancient volcano. Mapping is based on detailed mapping on field by determining geomorphology as SRTM satellite vision and topography map with scale of 1:25.000, geology structure and volcanostratigraphy to determine type of rocks macroscopically or microscopically by petrography analysis. Distribution of volcanic activity product in the area has orientation southwest – northeast, based on rock initial dip measurement the central facies is at northeast. And at the study area on central – proximal facies, at central facies there are andesite-basalt intrusion, andesit – basalt lava and pyroclastic breccia lithologies, while at proximal facies Menganti lava flow unit lithology is found, and pyroclastic breccia there is bomb sag structure as the closest indicator from the center of eruption. Apart from lithology, a normal fault structure is found which indicate as volcanic structure due to deflation and inflation which is part of volcano radial structure that is at central – proximal facies. At Menganti ancient volcano is predicted to have two times constructive phase and one time destructive phase. At constructive phase, the magma evolved which is proven by xenolith structure and special structure oscillatory zoning and sieve structure.