Artikelilmiahs
Menampilkan 15.381-15.400 dari 49.864 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 15381 | 18681 | C1F015039 | Pengaruh Kinerja Keuangan Kinerja Operasional dan Kinerja Sumber Daya Manusia (SDM) terhadap Kinerja Pelayanan pada Perusahaan Daerah Air Minum (Studi Kasus pada PDAM di Wilayah Jawa Tengah | Penelitian ini berjudul: “Pengaruh Kinerja Keuangan Kinerja Operasional dan Kinerja Sumber Daya Manusia (SDM) terhadap Kinerja Pelayanan pada Perusahaan Daerah Air Minum (Studi Kasus pada PDAM di Wilayah Jawa Tengah”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kinerja keuangan, kinerja operasional dan kinerja SDM terhadap peningkatan kinerja pelayanan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh PDAM yang berada di wilayah Jawa Tengah. Namun berdasarkan kelengkapan data maka hanya 34 PDAM yang menjadi sampel dengan periode pengamatan 2013-2015. Analisis data yang digunakan terdiri dari analisis korelasi, analisis determinasi, uji t, uji f, dan analisis regresi linier berganda. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kinerja keuangan berpengaruh positif terhdap kinerja pelayanan PDAM; (2) Kinerja operasional berpengaruh positif terhadap kinerja pelayanan PDAM; (3) Kinerja sumber daya manusia (SDM) berpengaruh negatif terhadap kinerja pelayanan PDAM (4) Hasil analisis uji F menunjukkan bahwa variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap kinerja pelayanan. Implikasi dari kesimpulan di atas yaitu Pemerintah Daerah dan manajemen perusahaan selaku pemilik dan pengelola perlu memperhatikan seluruh aspek kinerja PDAM dalam upaya meningkatkan kinerja pelayanan PDAM. Perbaikan kinerja keuangan dapat dilakukan dengan cara meningkatkan pendapatan melalui penambahan pelanggan / penjualan air dan melakukan efisiensi beban operasi. Perbaikan kinerja operasi dengan menekan tingkat kebocoran air melalui perbaikan seluruh jaringan dan peneraan water meter dan atau penggantian water meter yang rusak. Perbaikan kinerja aspek SDM dengan meningkatkan kompetensi pegawai melalui diklat-diklat yang terencana. | This research entitled: "The Influence of Financial Performance, Operational Performance and Human Resource Performance on Service Performance at Regional Water Company (Case Study at PDAM in Central Java Region") The aims of research is to find out the effect of financial performance, operational performance And human resource performance to improve service performance. The population in this research are all PDAM located in Central Java region. However, based on data completeness, only 34 PDAMs are sampled with the observation period 2013-2015. Data analysis used consisted of correlation analysis, determination analysis, t test, f test, and multiple linear regression analysis. Based on the results of the research indicates that: (1) Financial performance has a positive effect on PDAM service performance; (2) Operational performance has a positive effect on PDAM service performance; (3) The performance of human resources (HR) negatively affect the performance of services PDAM(4) The result of F test analysis shows that the independent variable simultaneously affect the service performance. The implications of the above conclusions are the Regional Government and the management of the company as the owner and manager should pay attention to all aspects of PDAM's performance in an effort to improve PDAM service performance. Improvements in financial performance can be done by increasing revenue through the addition of customers / water sales and perform operational efficiency. Improved operating performance by suppressing water leakage through repair of entire network and water meter installation and / or replacement of damaged water meter. Improving the performance of human resources by improving the competence of employees through planned training. | |
| 15382 | 18683 | D1E013014 | PENGARUH PENAMBAHAN PUTIH TELUR ITIK DENGAN TARAF YANG BERBEDA TERHADAP KEKENYALAN DAN SIFAT ORGANOLEPTIK | Pengaruh Penambahan Putih Telur Itik dengan Taraf yang Berbeda Terhadap Kekenyalan dan Sifat Organoleptik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kekenyalan dan sifat organoleptik bakso daging ayam dengan penambahan putih telur itik pada taraf yang berbeda. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging ayam 5000 gram, putih telur itik 75 gram, tepung tapioka 500 gram, garam 125 gram, es batu 500 gram, merica 25 gram, bawang putih 150 gram, dan bawang merah 100 gram. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pada kekenyalan dengan 4 perlakuan dan 5 kali ulangan dan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pada sifat organoleptik menggunakan 25 panelis semi terlatih. Penambahan putih telur itik sebagai perlakuan, terdiri atas 4 taraf yaitu P0 = 0%, P1 = 1%, P2 = 2%, dan P3 = 3%. Variabel yang diamati adalah kekenyalan dan sifat organoleptik. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan dengan uji Orthogonal Polinomial. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penambahan putih telur itik sampai dengan 3% berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kekenyalan dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap sifat organoleptik. Rataan kekenyalan bakso adalah P0 0,1570; P1 0,1578; P2 0,1597; dan P3 0,1601 mm/gr/dt, dan sifat organoleptik adalah P0 12,80; P1 12,95; P2 13,25; dan P3 14,00 dengan rata-rata tingkat kesukaan agak suka sampai suka. Hasil uji lanjut orthogonal polinomial kekenyalan menunjukkan persamaan regresi linier Y = 0,1 + 0,0014X (r = 0,61). Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin tinggi penambahan putih telur itik maka tingkat kekenyalan semakin rendah dan semakin tinggi taraf penambahan putih telur itik dapat meningkatkan tingkat kesukaan bakso, yaitu antara agak suka sampai suka. | The Effect From Egg White of Duck on Chicken Meatballs with Different Levels on Elasticity and Organoleptic Characteristic. The purpose of this research was determine the elasticity and organoleptic characteristic of chicken meatball with the addition of duck egg white at different levels. The ingredients used were 5000 grams of chicken meat, 75 grams of duck egg white, 500 grams of tapioca flour, 125 grams of salt, 500 grams of ice cubes, 25 grams of pepper, 150 grams of garlic, and 100 grams of union. The method used was experimental method with Completely Randomized Design (CRD) on elasticity with 4 treatments and was repeated 5 times and Randomized Complete Block Design (RCBD) on organoleptic characteristic with 25 panelist semi-trained. Adding white of duck egg to chicken meatballs such as treatments is P0 = 0%, P1 = 1%, P2 = 2%, and P3 = 3%. The observed variables are elasticity and organoleptic characteristic (favorite level). The data were analyzed using variance analysis and followed by orthogonal polynomial test. The result of this research showed that the white of duck egg addition on chicken meatballs had significant effect (P<0,05) to the elasticity and had no significant effect (P>0,05) to organoleptic characteristic. Average meatball suppleness is P0 0,1570; P1 0,1578; P2 0,1597; and P3 0,1601 mm/gr/dt, and organoleptic characteristic are P0 12,80; P1 12,95; P2 13,25; and P3 14,00 with average likes. The result of further test establish the elasticity content equation Y = 0,1 + 0,0014X (r = 0,61). The conclusion of this research in the higher amount of additional white of duck egg, elasticity on chicken meatballs can decrease and the higher level of additional white of duck egg, favorite level on chicken meatballs remain the same which are like and quite like. | |
| 15383 | 18684 | G1G013063 | PERBANDINGAN KERUSAKAN MORFOLOGI SEL DAN APOPTOSIS SEL BASAL EPITEL MUKOSA BUKAL PENDERITA KANKER KEPALA DAN LEHER SEBELUM DAN SETELAH RADIOTERAPI | PERBANDINGAN KERUSAKAN MORFOLOGI SEL DAN APOPTOSIS SEL BASAL EPITEL MUKOSA BUKAL PENDERITA KANKER KEPALA DAN LEHER SEBELUM DAN SETELAH RADIOTERAPI Nabila P. Bagasworo¹, Haris B. Widodo², Arundito Widikusumo³ ¹Kedokteran Gigi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto ²Bagian Ilmu Penyakit Mulut, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto Alamat koresponden: Kedokteran Gigi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia, 53122 Email: nabila.prandita88@gmail.com ABSTRAK Kanker kepala dan leher merupakan tumor ganas yang tumbuh pada jaringan atau organ di bagian kepala dan leher. Terapi pada kanker kepala dan leher terdiri dari tiga yaitu; pembedahan, kemoterapi dan radioterapi. Radioterapi merupakan pengobatan penyakit maligna dengan menggunakan sinar radiasi tinggi yang memfokuskan membunuh sel kanker. Efek dari terapi radiasi dapat berupa kerusakan pada morfologi sel dan adanya apoptosis yang dapat dilihat dari mukosa bukal rongga mulut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui adanya perbedaan kerusakan morfologi sel dan apoptosis pada sel epitel mukosa bukal penderita kanker kepala dan leher sebelum dan setelah radioterapi. Jenis penelitian ini yaitu quasi eksperimental dengan rancangan yang digunakan adalah pretest post test control group design. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan metode consecutive sampling. Penelitian ini menggunakan 8 responden yang menerima terapi radiasi. Pengambilan sampel sebanyak 2 kali yaitu pertama sebelum terapi radiasi, dan pengambilan kedua setelah terapi radiasi dengan dosis 70 Gy selama 7 minggu. Sampel apus mukosa bukal diambil menggunakan cytobrush diberi pewarnaan feulgen rossenberck dan dibuat preparat. Preparat apusan mukosa bukal dihitung per 1000 sel epitel dengan menggunakan mikroskop cahaya. Analisis statistik yang digunakan yaitu uji Korelasi Pearson, uji Shapiro Wilk (N<50), dan uji Paired T-test (p< 0,05). Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan signifikan jumlah kerusakan morfologi sel dan apoptosis sel epitel mukosa bukal penderita kanker kepala dan leher sebelum dan setelah radioterapi. Kata Kunci : Kerusakan morfologi sel, apoptosis sel, radioterapi, sel epitel mukosa bukal Kepustakaan : 56 (2001-2016) | COMPARISON OF MORPHOLOGY CELL DAMAGE AND CELL APOPTOSIS EPITHELIAL BASAL CELL OF BUCCALL MUCOSA HEAD AND NECK CANCER BEFORE AND AFTER RADIOTHERAPY Nabila P. Bagasworo¹, Haris B. Widodo², Arundito Widikusumo³ ¹Kedokteran Gigi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto ²Bagian Ilmu Penyakit Mulut, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto Alamat koresponden: Kedokteran Gigi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia, 53122 Email: nabila.prandita88@gmail.com ABSTRACT Head and neck cancer is a malignant tumor that grows in the tissues or organs in the head and neck. Therapy on head and neck cancer consists of three type; Surgery, chemotherapy and radiotherapy. Radiotherapy is a treatment of malignant disease using high radiation rays that focus on killing cancer cells. The effects of radiation therapy may be damage to cell morphology and the presence of apoptosis that can be seen from the oral mucosa of the oral cavity. The purpose of this research is to know the difference of morphological damage of cells and apoptosis on mucosal epithelial cells of head and neck cancer patients before and after radiotherapy. This type of research is quasi experimental with the design used is pretest post test control group design. Sampling technique using consecutive sampling method. This study used 8 respondents who received radiation therapy. Sampling 2 times first before radiation therapy, and second after radiation therapy with dose 70 Gy for 7 weeks. The buccal mucous membrane samples were taken using cytobrush stained rossenberck feulgen and made preparations. The buccal mucosal smear preparation is calculated per 1000 epithelial cells using a light microscope. Statistical analysis used were Pearson correlation test, Shapiro Wilk test (N <50), and Paired T-test (p <0,05). The results of statistical tests showed significant differences in the amount of morphological damage of cells and apoptosis of buccal mucosal epithelial cells of head and neck cancer before and after radiotherapy. Keywords : Cell morphological degradation, cell apoptosis, radiotherapy, buccall epithelial cells Bibliography : 56 (2003-2016) | |
| 15384 | 18685 | G1G013020 | EFEK SITOTOKSIK EKSTRAK ETANOL JAMUR Ganoderma sp. ISOLAT BANYUMAS 1 SEBAGAI AGEN ANTIBIOFILM BAKTERI Aggregatibacter actinomycetemcomitans TERHADAP HUMAN PRIMARY FIBROBLAST (Kajian In Vitro) | Jamur Ganoderma sp. isolat B1 dapat berpotensi sebagai obat antibiofilm pada penyembuhan periodontitis. Jamur ini memiliki senyawa bioaktif atau metabolit sekunder berupa flavonoid dan saponin yang dapat menghambat dan mendegradasi biofilm bakteri penyebab periodontitis, yaitu Aggregatibacter actinomycetemcomitans. Pengembangan jamur Ganoderma sp. isolat B1 sebagai salah satu obat antibiofilm di kedokteran gigi seharusnya tidak bersifat toksik dan memiliki sifat biokompatibilitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek sitotoksik ekstrak etanol jamur Ganoderma sp. isolat B1 terhadap human primary fibroblast. Evaluasi sitotoksik dengan metode MTT Assay dilakukan pada kultur sel fibroblas yang terdiri atas 12 kelompok. Kelompok perlakuan terdiri atas 10 variasi konsentrasi yaitu 1.000; 500; 250; 125; 62,50; 31,25; 15,63; 7,81; 3,91 dan 1,95 µg/ml. Kelompok kontrol positif berupa Chlorhexidine gluconate 0,12% dan kelompok kontrol negatif berupa kontrol sel (tanpa perlakuan). Aktivitas sitotoksik diukur berdasarkan persentase viabilitas fibroblas. Hasil yang diperoleh ditabulasikan, kemudian diuji dengan uji one way ANOVA dilanjutkan dengan uji Post Hoc berupa Honestly Significant Difference (HSD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa viabilitas fibroblas tertinggi ditunjukkan pada konsentrasi 250 µg/ml, dengan persentase sebesar 94,39% dan viabilitas terendah pada konsentrasi 1.000 µg/ml dengan persentase 55,79%. Simpulan penelitian ini yaitu ekstrak etanol jamur Ganoderma sp. isolat B1 konsentrasi 500; 250; 125; 62,50; 31,25; 15,63; 7,81; 3,91 dan 1,95 µg/ml tidak bersifat toksik, sedangkan pada konsentrasi 1.000 µg/ml bersifat toksik terhadap fibroblas. | Ganoderma sp. isolate B1 has a promising potential as anti-biofilm in the healing process of periodontitis. This type of fungi has bioactive substances or secondary metabolites known as flavonoid and saponin that can inhibit and degrade bio-film of Aggregatibacter actinomycetemcomitans, periodontitis-causing bacteria. The development of Ganoderma sp. isolate B1 as one of anti-biofilm drugs in dental medicine should be done in non-toxic and biocompatible fashion. This study was conducted to analyze the cytotoxic effect of ethanol extract of Ganoderma sp. isolate B1 to human primary fibroblast. The cytotoxic activity was evaluated using MTT Assay conducted in 12 groups of fibroblast cells culture. The experiment group consisted of 10 different concentrations which were 1,000; 500; 250; 125; 62.50; 31.25; 15.63; 7.81; 3.91 and 1.95 µg/ml. The positive control group was Chlorhexidine gluconate 0.12% while the negative control group was control cell (without intervention). The cytotoxic activity was measured according to the percent of viability of the fibroblast. The results obtained were tabulated and examined using one way ANOVA test followed by Post Hoc test which was Honestly Significant Difference (HSD). The results showed that the highest fibroblast viability was found in 250 µg/ml group with the percent of viability of 94.39% and the lowest viability was found in 1.000 µg/ml group with the percent of viability of 55.79%. This study concluded that ethanol extract of Ganoderma sp. isolate B1 was found to be non-toxic to human primary fibroblast in the concentration of 500; 250; 125; 62.50; 31.25; 15.63; 7.81; 3.91 and 1.95 µg/ml, while in the concentration of 1,000 µg/ml, it appeared to be significantly toxic. | |
| 15385 | 18717 | I1F015016 | ANALISIS FAKTOR INTERNAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN PERAWAT TERHADAP PENERAPAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENCEGAHAN RISIKO PASIEN JATUH DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO | Analisis Faktor Internal Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Perawat Terhadap Penerapan Standar Operasional Prosedur Pencegahan Risiko Pasien Jatuh Di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Latarbelakang: pencegahan risiko pasien jatuh merupakan salah satu dari upaya program patient safety di rumah sakit. Faktor yang berhubungan dengan kepatuhan perawat dalam menerapkan standar operasional prosedur pencegahan risiko jatuh salah satunya adalah faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam individu. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor internal yang berhubungan dengan kepatuhan perawat terhadap penerapan standar operasional prosedur pencegahan risiko pasien jatuh. Metode: penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif dan desain penelitian cross sesctional. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan sampel 77 responden. Instrumen penelitian menggunakan lembar kuesioner dan data dianalisis menggunakan uji Chi Square, Fisher Exact test. Hasil: mayoritas perawat wanita (55.8%), usia 20-30 tahun (57.1%) dan pendidikan DIII keperawatan (93.5%). Gambaran kepatuhan perawat terhadap penerapan SOP pencegahan risiko pasien jatuh didapatkan sebagian besar perawat patuh (70.1%), pengetahuan perawat baik (72.7%), sikap mendukung (84.4%), serta motivasi yang tinggi (90.9%). Hubungan antara jenis kelamin dengan kepatuhan perawat (p=0.562), usia (p=0.035), tingkat pendidikan (p=1.000). Hubungan pengetahuan dengan kepatuhan perawat (p=0.317), sikap (p=1.000), motivasi (p=0.002). Kesimpulan: terdapat hubungan signifikan antara usia dan motivasi dengan kepatuhan perawat terhadap penerapan standar operasional prosedur pencegahan risiko pasien jatuh. Kata kunci: pengetahuan, sikap, motivasi, standar operasional prosedur, risiko pasien jatuh. | An Analysis on Internal Factors of Nurses’ Obedience in Implementing the Operational Standard Procedures of the Falling Risk Prevention for patients at Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional Public Hospital Background: falling risk prevention on patients is one safety program for patients at hospital. Nurses’ obedience to implement the operational standard procedures of falling risk prevention for patients is based on individual’s internal factors. Objective: this research aims at examining the internal factors of nurses’ obedience on the operational standard procedures of the falling risk prevention for patients. Methods: this research employs a descriptive analysis with quantitative approach and a Cross-Sectional design. A purposive random sampling technique is conducted to collect the samples of this research which total is 77 respondents. The instruments of the research are questionnaires and data analyzed using Chi Square and Fisher Exact Testing. Result: most nurses are female (55.8%), at the age between 20-30 years old (57.1%), and with educational background of three years diploma (93.5%). The profile of nurses’ obedience in implementing the operational standard procedures of the falling risk prevention for patients shows that most nurses are obedients (70.1%), with the knowledge considered good (72.7%), and having the supporting attitudes (84.4%) with high motivation (90.9%). The relationship of nurses’ sex with obedience (p=0.562), age (p=0.035), and educational level (p=1.000). The relationship of nurses’ knowledge with obedience (p=0.317), attitude (p=1.000), and motivation (p=0.002). Conclusion: there is a significant relationship of age and motivation with nurses’ obedience in implementing the operational standard procedures of falling risk prevention for patients. Keyword: Knowledge, attitude, motivation, operational standard procedures, preventive falling risk for patients | |
| 15386 | 18687 | G1B013004 | ANALISIS PERBANDINGAN BIAYA MUTU (COST OF QUALITY) DALAM PENINGKATAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN PUSKESMAS DI KABUPATEN BANYUMAS | Latar belakang: Mutu adalah keseluruhan gabungan karakteristik produk dan jasa dari pemasaran rekayasa, pembuatan dan pemeliharaan yang membuat produk dan jasa yang digunakan untuk memenuhi harapan- harapan pelanggan. Setiap Puskesmas baik yang sudah tersertifikasi, terakreditasi maupun yang belum memiliki tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan yang berbeda.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan anggaran yang dialokasikan untuk pembiayaan peningkatan mutu Puskesmas di Kabupaten Banyumas. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan teknik pengambilan sample menggunakan purposive sampling. Lokasi penelitian yaitu enam Puskesmas yang ada di Kabupaten Banyumas yang sesuai dengan kriteria penelitian. Sumber data menggunakan data realisasi anggaran dan capaian SPM. Hasil: Hasil penelitian menunjukan rata- rata biaya mutu yang dialokasikan oleh Puskesmas tersertifikasi ISO dan terakreditasi yaitu Rp. 140.257.234,00 , dan Puskesmas hanya terakreditasi yaitu Rp. 150.905.599,00 tidak termasuk didalamnya biaya penilaian, serta Puskesmas yang belum tersertifikasi ISO dan terakreditasi yaitu Rp. 26.384.822,00. Kesimpulan: Puskesmas tersertifikasi ISO dan terakreditasi memiliki alokasi anggaran lebih besar dibandingkan Puskesmas yang belum tersertifikasi ISO dan belum terakreditasi serta memiliki mutu yang lebih baik dapat dilihat dari pencapaian SPM yang lebih tinggi. | Background: Quality is the combined characteristics of marketing products and services engineering, manufacture and maintenance that make the products and services used to meet the customer's expectations. The purpose of this study is compare the budget that allocated for the cost of quality improvement of Primary Health Care in Banyumas. Method: the research used descriptive quantitative with sampling technique used purposive sampling. Location for this research is six primary health care in Banyumas in accordance with the criteria. Data used budget realization documents and achievement documents of SPM. Result: The results showed that the average cost of quality has been allocated by primary health care with ISO certified and accredited are Rp. 140.257.234,00 , and primary health care with accredited only Rp. 150,905,599.00 excluding assessment costs, than non-certified ISO and accredited is Rp. 26,384,822.00. Conclusion: ISO certified and accredited has larger budget allocation than non- certified Primary Health Care. And have a better quality that can be seen from the higher achievement of SPM. | |
| 15387 | 18689 | D1B015021 | STUDI KASUS HUBUNGAN ETIKA PENYULUH DENGAN KINERJA PENYULUH PETERNAKAN PADA KELOMPOK PETERNAK KAMBING LESTARI DI KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian bertujuan untuk, 1) Mengetahui etika penyuluh (perilaku penyuluh, kemampuan komunikasi dan kemandirian penyuluh) pada kelompok peternak kambing lestari di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, 2) Mengetahui kinerja penyuluh (tanggung jawab, kedisiplinan dan etos kerja penyuluh) pada kelompok peternak kambing Lestari Di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas, 3) Menganalisis hubungan antara etika penyuluh (perilaku, kemampuan komunikasi dan kemandirian penyuluh) dengan kinerja penyuluh peternakan, (tanggung jawab, kedisiplinan dan etos kerja penyuluh) pada kelompok peternak kambing lestari di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 15 Desember sampai dengan tanggal 15 Januari 2017 di Desa Banjar Sari Wetan, Banjar Sari Kulon dan Gandatapa. Metode pencarian data pada penelitian ini adalah metode survey, yaitu melakukan observasi langsung ke lapangan dan melakukan wawancara berdasarkan kuisioner yang diuji menggunakan uji validitas dan reliabilitas. Pengumpulan data menggunakan metode purposive sampling yaitu meliputi desa Banjarsari wetan, Banjarsari Kulon, dan Gandatapa yang merupakan domisili anggota dari kelompok peternak kambing lestari. Pengambilan jumlah responden dilakukan dengan menggunakan metode sensus dengan total dari jumlah responden 46 orang. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan korelasi rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuluh swadaya pada kelompok peternak kambing lestari di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas memiliki etika penyuluh dalam ketegori tinggi terutama dilihat dari kemandirian penyuluh untuk berinisiatif dalam memecahkan masalah dan memiliki kinerja yang baik terutama dilihat dari etos kerja penyuluh yang selalu bekerja dengan cekatan. Terdapat korelasi yang sangat nyata antara etika penyuluh dan kinerja penyuluh yang terdapat pada variabel kemampuan komunikasi penyuluh dengan variabel kedisiplinan penyuluh dan etos kerja penyuluh. | The purpose of the research is : 1) knowing the extension ethics (extension behavior, extension communication skills and extension independent) on group breeders goat lestari in Sumbang District, Banyumas Regency, 2) knowing the extension performance (extension responsible, extension discipline and extension work ethic) on group breeders goat lestari in Sumbang District, Banyumas Regency, 3) to analyze the correlation between relations extension ethics (extension behavior, extension communication skills and extension independent) with extension performance (extension responsible, extension discipline and extension work ethic on group breeders goat lestari in Sumbang District, Banyumas Regency. This research was conducted on Desember 15th until January 15th 2017 in the village Banjar Sari Wetan, Banjar Sari Kulon and Gandatapa. Data search method in this research is a survey method ie doing direct observation to the field and conducting interviews based on questionnaires tasted using validity and reliability test. The data collection used purposive sampling method that is Banjarsari wetan Village, Banjarsari kulon Village, and Gandatapa Village who is a member of a group of sustainable goat breeders. Capturing the number of respondents was conducted using the method with a total census of the number of respondents 46 people. The collected data were analyzed using spearman rank correlation. The results showed that swadaya instructor on group breeders lestari goat in Sumbang District, Banyumas Regency extension ethics in highcategories or both and has a fairly good extension performance especially seen from instructor independent to take the initiative in solving the problem has a good performance especially seen from extension work ethic who alway work more deftly. There is a very real correlation between extensionist ethics and extension worker performance namely variable of communication ability of extension agent wtih discipline variable and work ethic of extension worker. Keywords: Ethical extension, Extension worker performance, lestari goat breeder group. | |
| 15388 | 18690 | F1G012046 | TINDAK TUTUR DALAM WACANA HUMOR PADA AKUN INSTAGRAM KOMIKDIMSUM (Kajian Pragmatik) | Skripsi ini berjudul “Tindak Tutur dalam Wacana Humor pada Akun Instagram Komikdimsum”. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi jenis dan fungsi tindak tutur serta bentuk penyimpangan yang terdapat dalam komikdimsum. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitataif. Sumber data dalam penelitian ini adalah wacana humor dari salah satu akun instagram yaitu komikdimsum periode Februari-Juli 2016. Data yang digunakan adalah bentuk tuturan yang mengandung jenis dan fungsi tindak tutur serta bentuk penyimpangan. Tahap pengumpulan data digunakan metode simak dengan teknik sadap sebagai teknik dasar dan teknik catat sebagai teknik lanjutan. Analisis data menggunakan metode padan dengan teknik dasar yaitu teknik pilah unsur penentu dan teknik lanjutan yaitu teknik pilah unsur penentu dengan daya pilah pembeda reaksi dan keterdengaran. Tahap penyajian data menggunakan metode nonformal. Hasil penelitian ini adalah. Petama, tindak tutur yang digunakan dalam komikdimsum yaitu tindak tutur komisif verba bertanya sebanyak 2 data, tindak tutur komisif verba menawarkan sebanyak 1 data, tindak tutur direktif verba “commands (perintah)” sebanyak 1 data, tindak tutur direktif verba “suggestions (anjuran)” sebanyak 2 data, tindak tutur asertif verba mengatakan sebanyak 1 data dan tindak tutur asertif verba menunjukkan sebanyak 1 data. Kedua, fungsi tindak tutur yang digunakan dalam komikdimsum yaitu fungsi representatif dengan subfungsi menunjukkan sebanyak 4 data, fungsi representatif dengan subfungsi menyebutkan sebanyak 1 data dan fungsi direktif dengan subfungsi menyuruh sebanyak 3 data. Ketiga, bentuk penyimpangan yang digunakan dalam komikdimsum yaitu penyimpangan maksim kualitas sebanyak 6 data, penyimpangan maksim relevansi sebanyak 1 data dan penyimpangan maksim pelaksana sebanyak 1 data. | This thesis entitled “Tindak Tutur dalam Wacana Humor pada Akun Instagram Komikdimsum”. The purpose of this research was to identify the type and function of speech act and the form of violation in komikdimsum. This research was a descriptive qualitative research. Data source in this research was humor discourse from one instagram account, that was komikdimsum on February-July period, 2016. Data used in this research was the form of speech containing the type; and function of speech act and the form of violation. Stages of data collection used observation method with tapping technique as the basic technique and writing technique as the advance technique. Data analysis used the identity method (metode padan) with a basic technique of determinant-sorting technique and the advance technique was determinant-sorting technique with sorting as distinguishing reaction and hearing. Stage of data presentation used non-formal method. The results of this research were as follows: First, the speech acts used in komikdimsum were commissive speech act of asking by 2 data, commissive speech act of offering by 1 data, directive speech act of commanding by 1 data, directive speech act of suggesting by 2 data, assertive speech act of saying by 1 data and assertive speech act of showing by 1 data. Second, the functions of speech act used in komikdimsum were representative with subfunction of showing by 4 data, representative with subfunction of mentioning by 1 data and directive with subfunction of instructing by 3 data. Third, the forms of violation used in komikdimsum were the violation of maxim of quality by 6 data, violation of maxim of relevance by 1 data and violation of maxim of manner by 1 data. | |
| 15389 | 18688 | A1H013049 | PENGARUH JENIS KEMASAN PLASTIK SELAMA PENYIMPANAN SUHU RENDAH TERHADAP KETAHANAN MUTU BAWANG MERAH (Allium Ascalonicum L.) | Bawang merah (Allium Ascalonicum L) merupakan jenis komoditas pertanian yang sering digunakan masyarakat untuk bumbu masakan. Namun bawang merah memiliki kekurangan yaitu mudah mengalami perubahan mutu seperti kadar air, kekerasan, susut bobot, kerusakan dan perubahan volatile. Berdasarkan penelitian (Khairun, 2014), salah satu cara mempertahankan mutu bawang merah yaitu dengan menyimpannya pada suhu 50C menggunakan kemasan rajut plastik. Penyimpanan menggunakan kemasan rajut plastik dinilai masih belum dapat menangani perubahan mutu secara optimal sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang penyimpanan bawang merah dengan menggunakan kemasan salah satunya plastik. Plastik yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis plastik LDPE, HDPE dan PP. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui pengaruh jenis kemasan plastik selama masa penyimpanan dengan suhu rendah terhadap ketahanan mutu bawang merah. 2) Membandingkan jenis kemasan plastik yang baik selama penyimpanan suhu rendah terhadap ketahanan mutu bawang merah. Penelitian bertempatkan di ruang laboratoium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian, Laboratorium Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bawang merah ± 75 hst (hari setelah tanam) dengan varietas bima yang diperoleh dari petani bawang merah di Kabupaten Berbes. Berat rata-rata bawang merah yang digunakan 100 gram/sampel. Dengan Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah kadar air, kekerasan, susut bobot, kerusakan (pertunasan, perakaran dan kehampaan) dan nilai VRS (Volatile Reducing Substance). Hasil penelitian menunujukan bahwa jenis kemasan plastik HDPE dapat memperlambat laju perubahan mutu yang sangat baik dibandingkan dengan kemasan plastik LDPE, PP dan pada perlakuan tanpa kemasan. Bawang merah pada kemasan plastik HDPE memiliki nilai kadar air sebesar 81,28%, pada tingkat kekerasan sebesar 0,5827 kg/cm2, susut bobot sebesar 4,88 %, Tingkat kerusakan sebesar 15,8% dan nilai VRS sebesar 2,6 meq/1000g. | Onion is kind of farming commodity which often used for cooking spices. However, onion is changeable on its water quality, solidity, heaviness, damage and volatile. Based on research (Khairun, 2014), one of way to keep onion quality is by storing in 5 C degree used plastic net packaging. The storage used plastic net packaging is noted, have not solved the onions quality changes optimally. So that, it needs further research, that is the new treatment by using plastic. This researche is aimed 1) To know the influence of plastic kind packaging during low degree storing toward the tenacity of onion quality. 2) To compare good plastic kind packaging during low degree storing toward the tenacity of onion quality. The research took place in laboratory room of food processing and agricultural products, Agricultural Technology laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman Unversity. The material used in this research is onion ± 75 hst (day after planting) with varieties bima obtained from shallot farmers in Berbes Regency. The average weight of onion used is 100 grams/sample. The variables observed in this research are moisture content, hardness, weight loss, damage (pertunasan, rooting and emptiness) and VRS value (Volatile Reducing Substance).The research shows that plastic HDPE can retard the change rate better than plastic LDPE, PP and the treatment without packaging. Onion on HDPE plastic container has a water content value of 81.28%, a level of hardness of 0.5827 kg/cm2, shrinkage weight of 4.88%, damage rate of 15.8% and VRS value of 2.6 meq/1000g. | |
| 15390 | 18691 | G1G011036 | PENGARUH PEMBERIAN DIET PROTEIN TERHADAP KADAR KALSIUM TULANG ALVEOLAR MANDIBULA ANAK TIKUS Rattus norvegicus GALUR WISTAR YANG MENGALAMI GANGGUAN KALSIFIKASI | Tumbuh kembang tulang memegang peranan penting dalam bidang kedokteran gigi anak karena akan menentukan status kematangan tulang. Kematangan tulang terjadi karena kalsifikasi tulang. Proses kalsifikasi tulang dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya yaitu nutrisi. Protein merupakan salah satu nutrisi yang berperan dalam proses kalsifikasi tulang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian diet protein terhadap kadar kalsium tulang alveolar mandibula anak tikus Rattus norvegicus galur Wistar yang mengalami gangguan kalsifikasi. Jenis penelitian ini merupakan eksperimental laboratoris dengan rancangan post-test only control group design. Sebanyak 24 sampel yang diberi makanan AD II dibagi menjadi empat kelompok yaitu satu kelompok kontrol (diberi diet protein standar) dan tiga kelompok perlakuan, tikus dengan gangguan kalsifikasi yang diberi diet protein rendah, diet protein standar dan diet protein tinggi. Subjek penelitian yaitu anak tikus Rattus norvegicus galur Wistar yang mengalami gangguan kalsifikasi dengan unit analisis yaitu tikus yang berusia 50 hari. Sampel penelitian berupa tulang alveolar mandibula dan dilakukan pengukuran kadar kalsium menggunakan spektrofotometri serapan atom. Data dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Post-Hoc LSD. Hasil penelitian menunjukkan kadar kalsium tulang alveolar mandibula masing-masing kelompok yaitu K: 14,468%, P1: 8,306%, P2: 13,443% dan P3: 19,12%. Diet protein dapat meningkatkan kadar kalsium tulang alveolar yang mengalami gangguan kalsifikasi (p<0,05). Diet standar protein lebih baik dalam meningkatkan kadar kalsium tulang alveolar dari pada diet rendah dan diet tinggi protein. Simpulan penelitian ini yaitu pemberian diet protein berpengaruh terhadap kadar kalsium tulang alveolar mandibula anak tikus Rattus norvegicus galur Wistar yang mengalami gangguan kalsifikasi. | Bone growth plays an important role in pediatric dentistry because it will determine bone maturity. Maturity of the bone occured because of bone calcification. Bone calcification influenced by several factors one of them is nutrients. Protein is one of nutrients participate in the bone calcification. The aim of this research is to understand the effect of protein diet on calcium level of mandibular alveolar bone of Rattus norvegicus Wistar strain mice with calcification disorder. This research was an experimental laboratory research with a post-test only control group design. A total of 24 samples fed AD II were divided into four groups, a control group that were given standard protein diet and three treatment groups, mice with calcification disorders were treated using low, standard and high protein diet. The subject of the study was the mice of the Rattus norvegicus Wistar strain with calcification disorder and the analysis unit was 50 days old mice. The sample of the study was mandibular alveolar bone and calcium level was measured using atomic-absorption spectophotometry. Data analyzed using one way ANOVA test and followed by Post-Hoc LSD test. The results showed calcium level of mandibular alveolar bone were group K: 14,468%, P1: 8,306%, P2: 13,443% and P3: 19,123%. Protein diet could increase calcium level of alveolar bone with calcification disorder (p<0,05). Standard protein diet was better than low and high protein diet in increasing calcium level of alveolar bone. The conclusion is protein diet can effect on calcium level of mandibular alveolar bone of Rattus norvegicus Wistar strain mice with calcifcation disorder. | |
| 15391 | 18692 | C1C013008 | ANALISIS MINAT PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI PADA USAHA KECIL DAN MENENGAH DI PURWOKERTO | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis minat penggunaan informasi akuntansi di Purwokerto. Sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik proportionate stratified random sampling sebanyak 80 usaha kecil dan menengah dibidang dagang, manufaktur dan jasa. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan survei kuesioner. Data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan analisis partial least square (PLS). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial persepsi kegunaan dan persepsi kemudahan penggunaan berpengaruh positif terhadap sikap penggunaan informasi akuntansi pada usaha kecil dan menengah di Purwokerto. Secara parsial sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku berpengaruh positif terhadap minat penggunaan informasi akuntansi pada usaha kecil dan menegah di Purwokerto. | This study aimed to analyzing intention of use accounting information at small and medium enterpriseses in Purwokerto. The sample in this study using proportionate stratified random sampling technique as many as 80 small and medium enterpriseses in the field of trade, manufacturing and services. Data collection in this study using a questionnaire survey. The data collected were processed using partial least square analysis (PLS). The results of this study indicate that partial perceived usefulness and perceived ease of use positively affects the attitude of the use of accounting information on small and medium enterprises in Purwokerto. Partially attitudes, subjective norms, and perceived behavioral control positive influence on interest in the use of accounting information on small and medium businesses in Purwokerto. | |
| 15392 | 18693 | P2BA14002 | Aktivitas Antibakteri Ekstrak Umbi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) Terhadap Bakteri Patogen | Telah dilakukan penelitian tentang aktivitas antibakteri ekstrak umbi bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) terhadap bakteri patogen. Umbi bawang dayak diekstraksi secara bertingkat dengan metode maserasi menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat dan etanol 96%. Masing-masing ekstrak diujikan aktivitas antibakterinya terhadap Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Bacillus cereus, Shigella sp.,dan Pseudomonas aeruginosa menggunakan metode difusi agar. Hasil pengujian menunjukkan bahwa fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol 96% ekstrak umbi bawang dayak memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri patogen MRSA, B. cereus, Shigella sp., dan P. aeruginosa.Aktivitas penghambatan tertinggi dari masing-masing fraksi ekstrak adalah pada konsentrasi 10 mg/mL, sedangkan konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak dari masing-masing fraksi ekstrak adalah 2 mg/mL. Ekstrak dengan aktivitas penghambatan terbaik adalah fraksi etil asetat terhadap B. cereus (139,58%). Hasil uji komponen senyawa kimia menunjukkan adanya metabolit sekunder yang berbeda pada masing-masing fraksi. Pada n-heksana terdapat steroida, pada etil asetat terdapat alkaloida dan steroida, sedangkan pada fraksi etanol 96% terdapat senyawa flavonoida, triterpenoida, dan tanin. Hasil uji KLT fraksi etil asetat menunjukkan terdapat empat spot dan uji bioautografi menunjukkan bahwa fraksi etil asetat memiliki empat jenis senyawa yang menghambat aktivitas pertumbuhan B. cereus, dimana senyawa dengan nilai Rf 0,37 dan Rf 0,56 memiliki aktivitas penghambatan bakteri yang lebih tinggi dibandingkan senyawa dengan nilai Rf 0,13 dan Rf 0,18. Senyawa aktif fraksi etil asetat ekstrak umbi bawang dayak tahan terhadap suhu pemanasan dan memiliki pH optimal 5-8 dalam menghambat pertumbuhan B. cereus. | Antibacterial activity of dayak onion (Eleutherine pamifolia (L.) Merr) bulbs extract towards pathogenic bacteria was investigated. Dayak onion bulbs was solvent extracted with n-hexane, ethyl acetate, and ethanol 96% consecutively. Each extract was tested its antibacterial activity towards Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Bacillus cereus, Shigella sp., and Pseudomonas aeruginosa using disc diffusion method. The test results showed of that the n-hexane, ethyl acetate and ethanol 96% fractions of dayak onion bulbs extract has antibacterial activity against the growth of pathogenic bacteria MRSA, B. cereus, Shigella sp., and P. aeruginosa. The highest inhibitionactivity of each extract was obtained with 10 mg/mL of extract concentration, whereas the minimum inhibitory concentration (MIC) ofeach extract was 2 mg/mL. Extract with best inhibitory activity was ethyl acetate fraction against B. cereus (139,58%). The results of chemical compound component test shows that there are different secondary metabolites on each fraction. Steroid is found in n-hexane, alkaloid and steroid are found in ethyl acetate, and flavonoid, triterpenoid and tannin are found in ethanol 96% fraction. TCL evaluation of ethyl acetate fraction showed four spots and bioautography indicated that ethyl acetate extract contained four types of compounds with inhibition activity against B. cereus, where the compound with Rf value of 0,37 and Rf 0,56 had higher bacterial inhibition activity compared to compounds with Rf values of 0,13 and Rf 0,18. The active compund fraction of the ethyl acetat extract of dayak onion bulbs resistant to heating temperature and has a pH optimum of 5-8 in inhibiting the growth of B. cereus. | |
| 15393 | 18694 | B1J012011 | Penggunaan Trichoderma harzianum Dan Trichoderma viride Untuk Mengendalikan Penyakit Rebah Kecambah Rhizoctonia solani Pada Tanaman Bayam Hijau (Amaranthus tricolor) | Bayam hijau (Amaranthus tricolor) merupakan sayuran daun bergizi tinggi yang biasa dikonsumsi masyarakat. Produksi bayam hijau mengalami penurunan dari tahun ke tahun salah satu penyebabnya adalah adanya serangan patogen R. solani yang menyebabkan penyakit rebah kecambah. Pengendalian penyakit yang dilakukan masih mengandalkan penggunaan fungisida sintetik, dimana diketahui memberikan dampak negatif terhadap lingkungan untuk itu diperlukan alternatif pengendalian lain seperti T. harzianum dan T. viride. Tujuan penelitian yaitu mengetahui pengaruh pemberian T. harzianum dan T. viride dalam mengendalikan penyakit rebah kecambah yang disebabkan oleh patogen R. solani pada tanaman bayam hijau serta mengetahui dosis T. harzianum dan T. viride berapakah yang paling efektif dalam mengendalikan penyakit rebah kecambah yang disebabkan oleh patogen R. solani pada tanaman bayam hijau. Metode yang digunakan adalah eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan terdiri dari kontrol, dosis T. harzianum 30 g/polibag, dosis T. harzianum 45 g/polibag, dosis T. harzianum 60 g/polibag, dosis T. viride 30 g/polibag, dosis T. viride 45 g/polibag, dan dosis T. viride 60 g/polibag. Setiap perlakuan diulang 4 kali dan setiap unit perlakuan menggunakan 3 benih bayam hijau, sehingga didapatkan 28 unit percobaan. Pengamatan yang dilakukan meliputi persentase benih yang telah berkecambah dan belum muncul ke permukaan tanah (pre-emergence damping-off), persentase benih yang telah berkecambah dan sudah muncul ke permukaan tanah (post-emergence damping-off) dan persentase keparahan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian T. harzianum dan T. viride berpengaruh dalam mengendalikan penyakit rebah kecambah yang disebabkan oleh patogen R. solani pada tanaman bayam hijau serta dosis T. harzianum 30 g/polibag dan T. viride 45 g/polibag merupakan dosis Trichoderma paling efektif dalam mengendalikan pre-emergence dampig-off, sedangkan dosis Trichoderma paling efektif dalam mengendalikan post-emergence damping-off yaitu T. harzianum 45 g/polibag dan T. viride 30 g/polibag. | Green spinach (Amaranthus tricolor) is a highly nutritious leafy vegetables favored by the people. Production of green spinach decreased from year to year, one reason is the existence of damping-off disease caused by R. solani pathogen. Control of diseases that do still rely on synthetic fungicide, which has been known giving a negative impact to the environment, so it is necessary for the control of other alternatives such as the use of T. harzianum and T. viride. Purpose of this research is to know the effect of T. harzianum and T. viride on controlling damping-off disease caused by R. solani pathogen in green spinach plants and to know the dose of T. harzianum and T. viride that are most effective on controlling damping-off disease caused by R. solani pathogen in green spinach plants. Method which used was Completely Randomized Design (RAL) experimental with 7 treatments consis of control, 30 g/polybag dose of T. harzianum, 45 g/polybag dose of T. harzianum, 60 g/polybag dose of T. harzianum, 30 g/polybag dose of T. viride, 45 g/polybag dose of T. viride and 60 g/polybag dose of T. viride. Each treatment was repeated 4 times and each unit used 3 seeds of green spinach, so we get 28 experimental units. The observations include the percentage of seeds that have germinated and have not come to the surface soil (pre-emergence damping-off), the percentage of seeds that germinated and has appeared to the soil surface (post-emergence damping-off) and the percentage of disease severity. Research results showed the dose of T. harzianum and T. viride can controlling damping-off disease caused by R. solani on green spinach, dose of T. harzianum 30 g/polybag and T. viride 45 g/polybag was the most effective dose of Trichoderma in controlling the pre-emergence dampig-off while the most effective dose of Trichoderma in suppressing post-emergence damping-off on green spinach plants is T. harzianum 45 g/polybag and T. viride 30 g/polybag. | |
| 15394 | 18696 | H1C013047 | ANALISIS PENGARUH UPRATING TERHADAP PROTEKSI RELAY JARAK SEBAGAI PENGAMAN UTAMA SALURAN TRANSMISI 150 KV STUDI KASUS GI KARET PT.PLN(PERSERO) APP PULOGADUNG | Gardu Induk Karet APP Pulogadung merencanakan proyek penambahan 1 trafo berkapasitas 60 MVA. Penambahan kapasitas ini dilakukan karena beban yang mendekati beban maksimum GI Karet. Saat ini GI Karet memiliki 3 trafo dengan kapasitas masing – masing 60 MVA. Pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh penambahan 1 trafo dan menganalisa kehandalan proteksi relay jarak pada saluran transmisi 150kV GI Karet arah GI Angke. Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan perancangan simulasi untuk gangguan arus hubung singkat dengan software ETAP 12.6.0. Hasil yang diperoleh pada perhitungan nilai setting relay jarak masing – masing zone sebesar: zone 1 = 3.16 Ω, zone 2 = 4.4 Ω, dan zone 3 = 7.02 Ω. Tidak terlalu terjadi perubahan yang signifikan pada nilai setting relay jarak, sehingga kehandalan proteksi relay jarak pada saluran transmisi 150kV di GI Karet masih termasuk dalam kategori baik. | GI Karet APP Pulogadung has plans to addition 1 transformer with 60 MVA capacity. This addition capacity is because the load of GI Karet is close to maximum. Now GI Karet has 3 transformers, each transformer has 60 MVA capacity. This research has the purpose to analyze influence of addition 1 transformer and analyze the reliability of distance relay protection on 150kV transmission line from GI Karet to GI Angke. This research use literature study method and designing simulation for interference of short circuit with ETAP 12.6.0. The result obtained on the calculating of distance relay setting value each zone has zone 1 = 3.16 Ω, zone 2 = 4.4 Ω, and zone 3 = 7.02 Ω. From this result can be infer that there is no significant change on setting value of distance relay, so reability of distance relay protection on 150 kV transmission line on GI Karet include in a good category. | |
| 15395 | 18702 | B1J013203 | LAJU METABOLISME IKAN SIDAT TROPIS (Anguilla bicolor McClelland) PADA BERBAGAI SALINITAS | Ikan sidat (Anguilla bicolor McClelland) merupakan ikan katadrom. Ikan sidat hidup di perairan tawar, kemudian akan bermigrasi ke laut untuk melakukan pemijahan. Selama siklus hidupnya ikan sidat akan mengalami berbagai perubahan salinitas lingkungan. Ikan sidat beradaptasi terhadap perubahan salinitas tersebut melalui proses osmoregulasi sebagai upaya untuk menyeimbangkan tekanan osmotik di dalam tubuh ikan sidat dengan tekanan osmotik lingkungan. Perubahan salinitas juga akan mengakibatkan perubahan alokasi energi yang ada di dalam tubuh ikan sidat. Energi yang seharusnya untuk pertumbuhan akan digunakan untuk melakukan aktivitas metabolisme yang meningkat sebagai akibat dari perubahan kondisi lingkungan. Hal tersebut mengakibatkan terhambatnya proses pertumbuhan ikan sidat. Konsumsi oksigen dapat menggambarkan penggunaan energi langsung pada kerja metabolik termasuk metabolisme untuk hidup pokok, makan, dan aktivitas yang kemudian akan mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Karena energi yang dibutuhkan untuk metabolisme berasal dari perombakan nutrisi melalui proses oksidasi yang membutuhkan oksigen. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh salinitas berbeda terhadap laju metabolisme ikan sidat. Kenaikan laju metabolisme ikan sidat akan diikuti oleh meningkatnya konsumsi oksigen. Penelitian dilakukan di Stasiun Percobaan Fakultas Biologi Unsoed dengan metode eksperimental menggunakan rancangan dasar berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan (salinitas 0 ppt, 5 ppt, 10 ppt dan 15 ppt). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 10 kali. Hasil penelitian menunjukkan laju metabolisme yang berbeda nyata pada setiap salinitas (P<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan salinitas berpengaruh pada laju metabolisme ikan sidat. Laju metabolisme ikan sidat meningkat pada salinitas 5 ppt dan 10 ppt, kemudian menurun pada salinitas 15 ppt. Perbedaan laju konsumsi oksigen ini menunjukkan adanya pengaturan osmoregulasi selama aklimasi di berbagai salinitas yang berbeda. | Eel (Anguilla bicolor McClelland) is a species of catadromous fish. Eels live in fresh water habitats, which will then migrate to the sea to spawn. During it’s life cycle, eels undergo various salinity change within the envionment. Eels adapt towards this salinity change through a process of osmoregulation in an attempt to equalize osmotic pressure within its body and the sorrounding environments. Environmental changes will also cause a shift in energy allocation within the eel’s body. Energy that was once used for growth will be repurposed for the increasing metabolic activities as a result of environmental changes, leading to disruption in the growth process of eels. Oxygen consumption may depict direct energy usage on metabolic activities including foraging and activities that affect growth and survival of the fish. Because energy is needed for metabolism which comes from the overhaul of nutrients through oxidation process that requires oxygen. The goal of this research is to know the effects of different salinity levels towards the metabolic rate of eels. An increase in metabolic rates within eels is followed by an increase in oxygen consumption. The research was conducted at “Stasiun Percobaan Fakultas Biologi Unsoed” using experimental methods with a base design of Completely Randomized Design (CRD), and four treatments (salinity of 0 ppt, 5 ppt, 10 ppt, 15 ppt). Each treatment is repeated 10 times. This study shows that a difference in salinity affects the metabolic rate of eels. The rate of eel metabolism increases at 5 ppt and 10 ppt salinity, then decreases at 15 ppt salinity.The difference in oxygen consumption rate shows there are osmoregulation during acclimatization in different salinity levels. | |
| 15396 | 18695 | H1C013069 | PERANCANGAN SISTEM RADIO PADA INTERKOM NIRKABEL FULL DUPLEKS UNTUK JARINGAN KOMUNIKASI LOKAL | Sistem telekomunikasi adalah sebuah sistem yang dapat mengolah, mengirim dan menerima suatu sinyal informasi agar dapat terjalin suatu komunikasi antara beberapa entitas. Sistem ini dibangun dengan tujuan untuk mempermudah kerja manusia dalam bertukar informasi. Dalam perkembangannya, sistem yang dibangun dapat berupa interkom yang digunakan untuk mengkomunikasikan beberapa perangkat dalam satu lingkungan dengan kriteria tertentu dan spesifikasi tertentu. Pengiriman sinyal informasi pada sistem interkom menggunakan alokasi frekeuensi yang telah ditetapkan oleh badan regulasi yang bertanggung jawab agar komunikasi yang dibangun tidak mengganggu komunikasi yang lain. Frekuensi yang digunakan pada interkom berada pada rentang UHF dimana frekuensi ini dapat menjangkau wilayah yang lebih luas. Sistem yang dibangun pada interkom berperan sangat penting dalam proses memilah, mengolah, mengirim dan menerima sinyal informasi yang dikirim ataupun diterima baik dalam bentuk analog maupun digital agar dapat diterima dengan baik. Dalam proses pengiriman dan penerimaan informasi digunakan teknik modulasi tertentu agar dapat disesuaikan dengan media transmisi yang digunakan dan menjadi salah satu enkripsi informasi yang ditransmisikan. | Telecommunication system is a system that can process, transmit and receive a signal of information to be established a communication between multiple entities. The system is built with the aim to facilitate human labor in exchanging information. In the process, the system built intercom can be used to communicate across multiple devices in one environment with certain criteria and certain specifications. Delivery of information signals on the intercom system using frequency allocation has been regulate by the regulatory government that is responsible for ensuring the communication is built not to interfere with other communication. Frequencies used on the intercom are in the UHF range where this frequency can reach a larger area. Intercom system built on a very important role in the process of sorting, processing, sending and receiving the information signal either in analog or digital to be well received. In the process of sending and receiving information using specific modulation techniques in order to adapt to the transmission medium used and be one of encrypting the transmitted information. | |
| 15397 | 18698 | I1F015031 | HUBUNGAN ANTARA BED OCCUPANCY RATE (BOR) RUANG PERAWATAN DENGAN PERSEPSI PASIEN TENTANG BENTUK DAN FASE KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DI RSUD PROF. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO | Latar belakang: Komunikasi terapeutik adalah interaksi yang bermanfaat dan menyembuhkan bagi pasien. Interaksi tersebut dapat dilihat melalui bentuk dan fase komunikasi terapeutik perawat terhadap pasien. Jumlah pasien di rumah sakit yang ditunjukkan dengan Bed Occupancy Rate (BOR) mempengaruhi beban kerja perawat dan interaksi perawat pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan BOR ruang perawatan dengan persepsi pasien tentang bentuk dan fase komunikasi terapeutik perawat. Metode: Penelitian korelatif dengan cross sectional. Pengambilan sampel dengan proportionate stratified random sampling, sejumlah 215 responden. Data dikumpulkan menggunakan instrumen kuesioner, dan analisis menggunakan uji korelasi Somers’d. Hasil: Mayoritas responden perempuan (60,5%), usia 40-65 tahun (50,2%), pendidikan terakhir SD (50,2%), dan 2-4 hari dirawat (74,0%). Persepsi pasien tentang bentuk dan fase komunikasi terapeutik perawat berada pada kategori baik, persentase bentuk komunikasi verbal 88,4%, nonverbal 74,4%, fase orientasi 75,8%, kerja 79,1%, dan terminasi 64,7%. Hubungan antara BOR ruang perawatan dengan persepsi pasien tentang bentuk dan fase komunikasi terapeutik perawat, yaitu bentuk verbal (p=0,047), nonverbal (p=0,039), fase orientasi (p=0,169), kerja (p=0,105), terminasi (p=0,185). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara BOR ruang perawatan dengan persepsi pasien tentang bentuk komunikasi terapeutik perawat, tidak terdapat hubungan antara BOR dengan persepsi pasien tentang fase komunikasi terapeutik perawat di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. | Background: Therapeutic communication is interactions which provide benefits and healing for patients. Those interactions are shown through form and phases of nurses’ therapeutic communication to patients. The number of patients shown in Bed Occupancy Rate (BOR) may influence nurses’ working loads and interactions between nurses’ and patients. Objective: this research aims at examining the relationship between BOR treatment rooms and patients’ perceptions on forms and phases of nurses’ therapeutic communication. Methods: this is a correlational study with a cross sectional method. The samples are taken using a proportionate stratified random sampling,with a total of 215 respondents. The data are collected using questionnaires and than analized using a Somers’d correlation testing. Result: most respondents are female(60,5%), at the age of 40-65 years old(50,2%), graduated from elementary school(50,2%), and having been hospitalized for 2-4 days(74,0%). Patients’ perception on forms and phases of nurses’ therapeutic communication are at good category with verbal communication form by 88,4%, nonverbal form by 74,4%, orientation phase by 75,8%, working phase by 79,1 and termination phase by 64,7%. The relationship between BOR treatment room and patients’ perception on form and phase of nurses’ therapeutic communication: verbal form (p=0,047), nonverbal form (p=0,039), orientation phase (p=0,169), work (p=0,105), and termination (p=0,185). Conclusion: there is a relationship between BOR treatment room and patients’ perception on form of nurses’ therapeutic communication. However, there is no relationship between BOR treatment room and patients’ perception on phases of nurses’ therapeutic communication at RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo Regional Public Hospital of Purwokerto. | |
| 15398 | 18699 | H1L010052 | RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI GEREJA DENGAN DJANGO FRAMEWORK | Sistem Informasi Gereja merupakan sistem pengelolaan data warga gereja dan data keuangan gereja yang digunakan dalam kegiatan tatausaha gereja. Tujuan pembuatan sistem ini untuk mempermudah dan memadukan pengelolaan data warga dan data keuangan gereja. Salah satunya dengan mengurangi redundansi masukan dari pengguna, dan memadukan pengelolaan berbagai kas gereja. Selain itu sistem ini dapat mencetak surat atestasi, baptis, sidhi, dan pernikahan, serta laporan keuangan bulanan maupun tahunan gereja. Pengembangan sistem dilakukan dengan menggunakan metode Waterfall dan framework Django. | Church Information System is a church's members and church's financial data management system which used in daily church administration. This system development is aimed to simplify and to combine members and financial data management. One way is achieved by reducing user's input redundancy and by combining management of several church's cash book. Furthermore this system is able to print attestation, baptism, confession, and marriage letters, and also monthly and yearly financial report. This system is developed using Waterfall method and Django framework. | |
| 15399 | 18700 | I1F015030 | PERBANDINGAN KEPUASAN PERAWAT DENGAN PENJADWALAN MODEL FIXED TEAM DAN MIXED TEAM DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO | Latar Belakang: Pelayanan rumah sakit adalah pelayanan publik yang menuntut adanya kontinuitas dalam pelayanan keperawatan terhadap pasien. Untuk memenuhi tuntutan tersebut diperlukan sistem penjadwalan perawat yang baik dan memberikan kepuasan bagi para perawat yang bekerja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan skor kepuasan perawat dengan model penjadwalan fixed team dan mixed team. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif komparatif dengan pendekatan cross sectional. Besar populasi perawat on shift di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto sebesar 350 perawat. Besar sampel dari kelompok perawat dengan model penjadwalan fixed team sebanyak 122 perawat dan kelompok dengan model penjadwalan mixed team sebanyak 121 perawat ditentukan dengan rumus Slovin. Penentuan sampel menggunakan simple random sampling. Analisa data penelitian ini menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil: Dari total 243 responden, mayoritas ialah perempuan (62,9%), usia <30 tahun (67,9%), status pegawai PKWTT (75,3%), status menikah (79,0%), dan lama kerja <5 tahun (51,4%). Rata-rata skor kepuasan perawat terhadap model penjadwalan mixed team 72.06, lebih tinggi daripada model penjadwalan fixed team (68,79). Hasil uji Mann Whitney menunjukkan p value 0,021. Kesimpulan: Ada perbedaan yang bermakna antara skor kepuasan perawat on shift dengan model penjadwalan fixed team dan mixed team di ruang rawat inap RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo dengan rata-rata kepuasan yang lebih tinggi pada model penjadwalan mixed team. | Background: Hospital is a public service that requires continuity of nursing care. To meet this demands, a good nurse scheduling system is required in order to provide satisfaction for working nurses also. Objective: This study is aimed to compare the satisfaction scores of nurses with fixed team and mixed team scheduling model. Methods: This study used descriptive comparative design with cross sectional approach. Total population of on shift nurses are 350. Research respondents as many as 122 samples from fixed team model group and 121 samples from mixed team model group. Simple random sampling technique used to determine the research respondents. Data analysis of this study used Mann-Whitney test. Result: Mann Whitney test showed that there is significant difference between nurses satisfaction scores of fixed team and mixed team scheduling model (p value 0,021). Mean of satisfaction score of nurses with mixed team scheduling model is higher than another. Conclusion: There were significant difference between nurses satisfaction scores with fixed team and mixed team scheduling model on Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital of Purwokerto with the higher mean of satisfaction score is nurses with mixed team scheduling model. | |
| 15400 | 18703 | C1B013020 | ANALISIS PENGARUH KEPUASAN KERJA, KOMITMEN ORGANISASI, BUDAYA ORGANISASI, JOB INSECURITY TERHADAP TURNOVER INTENTION (Studi Pada Karyawan PT. Raya Sugarindo Inti Tasikmalaya) | Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh kepuasan kerja, komitmen organisasi, budaya organisasi, job insecurity terhadap turnover intention pada karyawan PT. Raya Sugarindo Inti Tasikmalaya. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner dan disebarkan pada 77 karyawan PT. Raya Sugarindo Inti Tasikmalaya. Analisis data pada penelitian ini menggunakan aplikasi spss versi 22. Cara untuk mengambil sampel digunakan dengan stratified random sampling dan teknik pengujian data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik dan regresi linier berganda, untuk menguji dan membuktikan hipotesis penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa kepuasan kerja berpengaruh negatif terhadap turnover intention, komitmen organisasi berpengaruh negatif terhadap turnover intention, budaya organisasi berpengaruhi negatif terhadap turnover intention dan job insecurity berpengaruh positif terhadap turnover intentiton. | Purpose of this research is to analyze and test the influence of work satisfaction, organization commitment, organizational culture, job insecurity toward turnover intention on the labor of PT. Raya Sugarindo Inti Tasikmalaya. The data collected use questionnaire and spread to the 77 labor PT. Raya Sugarindo Inti Tasikmalaya. The data was analyzed by SPSS version 22. The method of collecting sample use stratified random sampling and the method to test the data that used on this research are validity test, reliability test, assumption classic test and multiple linear regression to test and prove hypothesis of this research. The result show work satisfaction have negative influence toward turnover intention, organizational commitment have negative influence toward turnover intention, organizational culture have negative influence toward turnover intention, and job insecurity have positive influence toward turnover intention. |