Artikelilmiahs

Menampilkan 13.721-13.740 dari 50.637 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1372117046H1L011021RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PENGELOLAAN DATA
KEBUTUHAN KOMPETENSI JABATAN PT. INDONESIA POWER
UNIT PEMBANGKITAN MRICA BANJARNEGARA BERBASIS WEB
PT. Indonesia Power Unit Pembangkitan (UP) Mrica Banjarnegara selalu mempromosikan dan memindahkan jabatan pegawai sesuai dengan bidang yang dikuasai dan bidang yang lainnya dengan menyesuaikan kebutuhan kompetensi jabatan. Kebutuhan kompetensi jabatan ini digunakan untuk memonitor pegawai yang akan naik atau pindah jabatan sesuai dengan acuan kerja dan materi pembelajaran PT. Indonesia Power. Pengelolaan data kebutuhan kompetensi jabatan pada PT. Indonesia Power UP Mrica masih dilakukan secara manual atau belum terkelola dengan baik, sehingga kurang efektif dan efisien dalam mengelola data setiap pegawai. Sistem informasi tersebut akan mempermudah pengguna dalam mengelola data kebutuhan kompetensi jabatan, data jabatan, data jenjang, data acuan kerja, data materi pembelajaran, data pelatihan, data pegawai, pembuatan laporan dan menampilkan pemberitahuan. Pemberitahuan akan menampilkan apakah pegawai tersebut sudah layak atau tidak untuk diusulkan naik dan pindah jabatan. Sistem ini akan menampilkan catatan pelatihan yang sudah dilakukan pegawai yang sudah berpindah jabatan. Sistem informasi pengelolaan data kebutuhan kompetensi jabatan berbasis web dibangun menggunakan metode waterfall. Bahasa pemograman yang digunakan adalah PHP serta MySQL sebagai basis data. Pengujian sistem digunakan dengan metode black-box testing.PT. Indonesia Power UP Mrica Banjarnegara always promote and moves employees job according to the qualified field and other fields to match the requirements of job competency. Job competency requirement is used to monitor employees who will be promoted or moves positions based on standarized work and learning materials in PT. Indonesia Power. Data management of job competency requirements in PT. Indonesia Power UP Mrica still done manually or not managed properly, making it less effective and efficient in managing data of each employee. The information system will be easier for users to manage data requirements of job competency, employee positions data, employee levels data, standarized work data, learning materials data, training data, employees data, making reports and show notifications. Notifications will show whether the employee is feasible or not for promoted and move positions. This system will show the training record which has been conducted from employees who has moved their positions. This system is built with waterfall method and web based. The programming language used is PHP and MySQL as the database. The system tested by the black-box testing methods.
1372216763C1A010104“ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA PENDAPATAN TUKANG BECAK DENGAN TUKANG OJEK DI PURWOKERTO”.Penelitian ini berjudul “ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA PENDAPATAN TUKANG BECAK DENGAN TUKANG OJEK DI PURWOKERTO”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui signifikansi perbedaan antara pendapatan tukang becak dengan pendapatan tukang ojek di Purwokerto. Jenis penelitian ini adalah survei terhadap tukang becak dan tukang ojek di Purwokerto. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling, dengan teknik analisis uji t beda dua rata-rata (independent sample t-test).
Berdasarkan hasil analisis data, dapat diambil kesimpulan bahwa rata-rata pendapatan tukang becak adalah Rp882.500,00 per bulan, sedangkan rata-rata pendapatan tukang ojek adalah Rp1.038.500,00 per bulan. Hasil penelitian ini juga menyimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata antara pendapatan tukang becak dengan tukang ojek berdasarkan pekerjaan utama maupun pekerjaan sampingan, dan terdapat perbedaan yang nyata antara pendapatan tukang becak dengan tukang ojek berdasarkan total pendapatan. Mengacu pada kesimpulan tersebut, maka dapat diimplikasikan bahwa tukang becak harus lebih giat bekerja agar pendapatannya terus meningkat. Selain itu tukang becak juga harus mampu mencari pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan utamanya. Bagi para tukang ojek hendaknya menambah curahan jam kerja agar pendapatan yang diperoleh semakin tinggi.
SUMMARY
This research was entitled “COMPARISON ANALYSIS BETWEEN THE INCOME OF PEDICAB DRIVERS AND MOTORCYCLE TAXIS DRIVERS IN PURWOKERTO”. The aim of this research was to find out the significant difference between revenue of pedicab drivers and motorcycle taxis drivers in Purwokerto. Type of this research was survey on the pedicab drivers and motorcycle taxis drivers in Purwokerto. Sample technique within study uses simple random sampling, while technique data analysis used in this study was independent sample t-test.
Based on the analysis results, it could be concluded that the average income of pedicab driver was Rp882,500.00 per month, while the average income of motorcycle taxi driver was Rp1,038,500.00 per month. Furthermore, this study was also conclude that there was no significant difference between revenue of pedicab drivers and motorcycle taxis drivers in Purwokerto based on main working and outpouring of working, and there was the significant difference between revenue of pedicab drivers and motorcycle taxis drivers in Purwokerto based on the total income. Refers to these conclusion, it could be implied that as an effort to increase their income continuously, pedicab drivers should be more hard working. In addition, pedicab drivers must also be able to seek the second job to increase their main income. For the motorcycle taxis drivers, they should add the outpouring of working hours in order to increase the income continuously.
1372317047H1K012036STUDI POLA ARUS DI PERAIRAN SELAT LIRANG KABUPATEN MALUKU BARAT DAYAPola arus merupakan salah satu parameter penting dari hidrodinamika di suatu perairan. Pola arus sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pasang surut dan angin. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola arus dan pengaruh pasang surut dan angin terhadap pola arus di Selat Lirang. Metode pengukuran data arus yang digunakan adalah metode Eularian. Penentuan lokasi sampling menggunakan metode pertimbangan (Purposive Sampling Method). Pengukuran dilakukan pada tanggal 13 – 28 April 2016. Data arus selama 3 hari diambil dengan ADCP, data pasang surut selama 15 hari diambil dengan HOBO Logger, data Angin selama 9 hari diambil dengan AWS System, dan data batimetri diambil dengan Echosounder terintegrasi GPS Garmin. Pola arus dianalisis dengan software Matlab dan MS. Excel. Sedangkan hubungan pasang surut dan angin terhadap arus dianalisis dengan perhitungan RMSE (Root Mean Square Error). Hasil penelitian diperoleh bahwa pola arus di perairan Selat Lirang di pengaruhi oleh arus residu. Kecepatan arus terbesar terjadi pada musim peralihan, dengan kecepatan maksimal mencapai 0,896 - 0,994 m/detik dengan arah dominan ke arah timur, timur laut, hingga tenggara.The pattern of current is one of important parameters of hydrodynamics in a water
coloumn. Current pattern was influenced by several factors such as tides and wind. This
study was conducted to determine the current pattern and the influence of tides and wind
to current pattern in Lirang Strait. The method that used for current measurement was
Eularian method. Location was determined by using purposive sampling method. Data
was collected on 13 to 28 April 2016. Current data in three days was collected with
ADCP, tide data in 15 days was collected with HOBO logger, wind data in 9 days was
collected with AWS System, and bathymetric data taken with the integrated GPS Garmin
echosounder. Current pattern was analyzed by software Matlab and MS. Excel. While the
relationship of tides and wind with current were analyzed by calculating the RMSE (Root
Mean Square Error). The result showed that the pattern of currents in Lirang Strait
influenced by a residual current. Largest flow velocity occurs in the transitional season,
with maximum speeds reaching 0.896 to 0.994 m / sec with a predominant direction
towards the east, northeast, to the southeast.
1372417048D1E012024PENGARUH PENAMBAHAN BERBAGAI ADDITIVE DALAM PEMBUATAN SILASE HIJAUAN RUMPUT DARI KAWASAN PERTAMINA MAOS CILACAP DITINJAU DARI KUALITAS FISIK DAN pHPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan beberapa jenis bahan additive pada pembuatan silase terhadap karakteristik fisik silase dan pH. Materi yang digunakan adalah rumput alam sebanyak 54 kg yang diambil dari kawasan Pertamina, Maos, Cilacap, dedak padi, jagung giling dan singkong giling yang kemudian difermentasi selama 3 minggu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan yang diterapkan terdiri dari 3 perlakuan dengan penambahan additive setara 2% BETN yaitu R1 3Kg rumput alam + 5% dedak padi, R2 3Kg rumput alam + 3% jagung giling dan R3 3Kg rumput alam + 15% singkong giling. Variable yang diukur adalah kualitas fisik yang terdiri atas warna, tekstur, bau, serta jumlah jamur,dan pH. Data yang didapatkan diolah dengan analisis variansi dengan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil). Rataan skor karakteristik fisik dengan menambahkan additive dedak, jagung giling dan singkong giling yaitu warna R1 = 2.0 ± 0.0, R2 = 2.0 ± 0.0 R3 = 1.5 ± 0.5, tekstur R1 = 3.0 ± 0.0, R2 = 2.5 ± 0.5, R3 = 2.5 ± 0.5, bau R1 = 2.5 ± 0.5, R2 = 2.5 ± 0.5, R3 = 2.5 ± 0.5, dan jumlah jamur R1 = 2.5 ± 0.0, R2 = 2.5 ± 0.5, R3 = 2.5 ± 0.5.Rataan pH dengan bahan additive dedak, jagung giling dan singkong giling yaitu R1 = 4.5 ± 0.5, R2 = 4.5 ± 0.5, R3 = 5.0 ± 0.0. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan pemberian berbagai additive berpengaruh tidak nyata (P>0.05) terhadap kualitas fisik dan pH silase. Kesimpulan hasil penelitian penggunaan additive dengan nilai BETN yang cukup 2% dari bahan yang digunakan untuk pertumbuhan Bakteri asam laktat (BAL) dapat menghasilkan kualitas silase yang relatif sama. Penggunaan bahan additive tanpa memperhatikan jenis additive yang digunakan.This study aimed to know the effect of a various kinds of the additives in natural grass silage on physical quality and pH. The materials used in this study were 54 Kg of nature grass from Pertamina area, Maos, Cilacap, mixture of rice bran, corn flour and ground cassava. The Experiment method used was experiment method by using completely randomized design with 3 treatments and 6 repetitions. The applied treatments consisted of 3 kinds of treatment i.e. R1 natural grass + 5% of rice bran, R2 natural grass + 3% of corn flour and R3 natural grass + 15% of ground cassava. The variables measured were physical quality and pH. The averages score of physical quality with additives of rice bran, corn flour and R3 ground cassava i.e. color R1 = 2.0 ± 0.0, R2 = 2.0 ± 0.0 R3 = 1.5 ± 0.5, texture R1 = 3.0 ± 0.0, R2 = 2.5 ± 0.5, R3 = 2.5 ± 0.5, smell R1 = 2.5 ± 0.5, R2 = 2.5 ± 0.5, R3 = 2.5 ± 0.5, and sum of fungi R1 = 2.5 ± 0.0, R2 = 2.5 ± 0.5, R3 = 2.5 ± 0.5. The averages of pH with additives of rice bran, corn flour and R3 ground cassava i.e. R1 = 4.5 ± 0.5, R2 = 4.5 ± 0.5, R3 = 5.0 ± 0.0. The results showed that the additions of various kinds of the additives in silage making did not significantly affect (P>0.05) physical quality and pH of the silage. The conclusions from this study is, the uses of various kinds of additives do not show any different effects on the silage product, which suggests that to make silage with good quality, it need carbohydrate with BETN value 2% from the substance that can answer the demand of Lactic Acid Bacteria. The additives like the rice bran, corn flour, and ground cassava, it can be used as additives in silage making.
1372517051P2BA14004KARAKTERISTIK Mycobacterium tuberculosis YANG TERPAPAR OBAT ANTI TB ISONIAZID (INH)INH mempunyai peranan dalam menghambat sintesis asam mikolat yang merupakan komponen pembentuk dinding sel M. tuberculosis. Mengetahui pengaruh pemaparan obat INH terhadap karakteristik M. tuberculosis dan terjadinya resistensi INH. Metode penelitian eksperimen dengan menggunakan Rancangan percobaan acak Lengkap dengan variasi waktu pemaparan 24 jam, 48 jam, 72 jam dan 96 jam pada konsentrasi INH 0,5 μg/ml dengan jumlah ulangan 6. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh pada masing-masing perlakuan INH 0,5 μg/ml terhadap karakteristik M. tuberculosis, pada pemaparan 24 jam diperoleh persentase pertumbuhan 18,25%, ukuran rerata sel 1,64 x 0,35 µm, persentase kerusakan sel 28,1%, rerata pertumbuhan pada NaCl 5% sebanyak 1 koloni, uji katalase semi kuantitatif 3,6 mm. Pada pemaparan 48 jam diperoleh persentase pertumbuhan sel 7,9%, ukuran rerata sel 1,64 x 0,36 µm, persentase kerusakan sel 41%, rerata pertumbuhan pada NaCl 5% sebanyak 4 koloni, uji katalase semi kuantitatif 5,4 mm. Pada pemaparan 72 jam diperoleh persentase pertumbuhan sel 7,0%, ukuran rerata sel 1,64 x 0,32 µm, persentase kerusakan sel 53,4%, rerata pertumbuhan pada NaCl 5% tidak ada pertumbuhan, uji katalase semi kuantitatif 3,6 mm, pada pemaparan 96 jam diperoleh persentase pertumbuhan sel 1,6%, ukuran rerata sel 1,61 x 0,29 µm, persentase kerusakan sel 57%, rerata pertumbuhan pada NaCl 5% sebanyak 3 koloni, uji katalase semi kuantitatif 15 mm. Perubahan morfologi sel yang terpapar INH 0,5 μg/ml pada permukaan sel terjadi kerutan dan penyusutan panjang sel setelah regenerasi, permukaan sel mulai kasar dan sedikit ada kerusakan, sel mengalami lisis dan sebagian sel berbentuk oval , sel mengalami perubahan bentuk menjadi kokus. Uji drung susceptibility tes (DST) pada pemaparan INH 0,5 μg/ml selama 24 jam, 48 jam, 72 jam hasil sensitif, pada pemaparan 96 jam hasil resiten.karakteristik M. tuberculosis yang terpapar INH 0,5 µg/ml mengalami perubahan morfologi sel, menjadi lebih pendek dan perubahan bentuk dari batang menjadi kokus, namun perubahan morfologi ini tidak terjadi secara permanen pada generasi berikutnya. Berdasarkan uji statistik pertumbuhan M. tuberculosis yang terpapar dengan INH 0,5 µg/ml pada masing-masing perlakuan mempunyai pengaruh yang sangat signifikan pada kadar NaCl 5% dan tes katalase semi kuantitatif. Uji DST M. tuberculosis yang terpapar INH 0,5 µg/ml selama 96 jam mengalami resistensi sebesar 2% dari 108 CFU/ml.INH’s role in inhibiting the synthesis of mycolic acid which is a component of the cell wall of M. tuberculosis. Research objectives to determine the effect of INH drug exposure on the characteristics of M. tuberculosis and INH resistance occurrence. The experiment research method using a complete randomized experimental design with variations in exposure time 24 hours, 48 hours, 72 hours and 96 hours on INH concentration of 0.5 μg/ ml with 6 replications. The results showed influence on each 0.5 μg/ml INH treatment towards the characteristics of M. tuberculosis, at 24 hours of exposure was obtained 18.25% percentage growth, the average cell size was 1.64 x 0.35 μm, the percentage of cell damage was 28.1%, the average growth in 5% NaCl was 1 colony, semi-quantitative catalase test was 3.6 mm. At 48 hours of exposure was obtained 7.9% percentage of cell growth, the average cell size was 1.64 x 0.36 μm, the percentage of cell damage was 41%, the average growth in 5% NaCl were four colonies, semi-quantitative catalase test was 5.4 mm. At 72 hours of exposure was obtained 7.0% percentage of cell growth, the average cell size was 1.64 x 0.32 μm, the percentage of cell damage was 53.4%, no growth had been found in 5% NaCl, semi-quantitative catalase test was 3.6 mm. At 96 hours of exposure was obtained 1.6% percentage of cell growth, the average cell size was 1.61 x 0.29 μm, the percentage of cell damage was 57%, the average growth in 5% NaCl were 3 colonies, semi-quantitative catalase test is 15 mm. Morphological changes in cells exposed to 0.5 μg/ml INH were wrinkles on the cell surface and length shrinkage occur after the regeneration of cells, the cells surface began to become rough and has little damage, the cells experience lysis and the half part of it was oval, the cell’s shape changes into cocci. Test of drug susceptibility test (DST) on 0.5 μg/ml INH exposure for 24 hours, 48 hours, 72 hours was sensitive results, 96 hours exposure was resistance results. The characteristics of M. tuberculosis exposed to INH 0.5 ug/ml were changes in cell morphology, shorter and change form rods into cocci. However, the morphological changes did not endure permanently in the next generation. Based on statistical test of the growth of M. tuberculosis exposed by 0.5 ug/ml INH in each treatment had a very significant influence on the level of 5% NaCl and semi-quantitative catalase test. M. tuberculosis DST test exposed by 0.5 ug/ml INH for 96 hours experienced resistance by 2% of 108 CFU / ml.
1372617052P2BA14022EKSPRESI mRNA LMP2A VIRUS EPSTEIN-BARR SEBAGAI PETANDA MOLEKULER DALAM DIAGNOSIS KARSINOMA NASOFARING
Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor epitel yang terletak di nasofaring dan merupakan penyakit genetik multifaktor yang endemik. Penyebab utama KNF adalah infeksi oleh Virus Epstein-Barr (EBV). Keberadaan EBV pada penderita KNF dapat diketahui dengan ditemukannya DNA EBV dalam spesimen biopsi jaringan penderita KNF. Genom EBV dan ekspresi sebagian dari produk gen laten virus secara konsisten terdeteksi hampir di setiap sel dalam kanker ini, salah satunya adalah gen Latent Membrant Protein (LMP). Aktivitas mRNA EBV lebih mencerminkan patogenesis KNF yang sesungguhnya dari pada diagnosis serologi dan pengukuran DNA EBV di sirkulasi.
Tujuan : Menganalisis ekspresi mRNA LMP2A EBV pada Penderita KNF dan mengetahui positivitas ekspresi mRNA LMP2A EBV pada penderita KNF.
Metode : Penelitian dilakukan di Laboratorium PA RSUD Margono Seokarjo, Purwokerto dan Lab PA Fakultas Kedokteran dan laboratorium genetika/molekuler Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Analisis Ekspresi mRNA LMP2A EBV dengan teknik one step RT-PCR dan produk RT-PCR (amplikon cDNA) divisualisasi dengan elektroforesis gel agarosa 1%.
Hasil : Metode one step RT-PCR dapat menganalisis ekspresi mRNA LMP2A EBV pada sampel blok paraffin jaringan KNF dan nilai positivitas ekspresi mRNA LMP2A EBV adalah 27,3% (6 dari 22 sampel).
Kesimpulan : Metode one step RT-PCR dapat digunakan untuk menganalisis ekspresi mRNA LMP2A EBV dari sampel biopsi jaringan KNF dalam blok paraffin dan hasil positivitas ekspresi mRNA LMP2A EBV sedang, sehingga berpotensi digunakan sebagai petanda biologi molekul diagnosis KNF.
ABSTRACT
Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is an epithelial tumor located in the nasopharynx and is a multifactorial genetic disease is endemic. NPC is the main cause of infection by the Epstein-Barr virus (EBV). The existence of EBV in NPC patients can be identified by the discovery of EBV DNA in tissue biopsy specimens of NPC patients. EBV genome and gene product expression portion of the latent virus was consistently detected in almost every cancer cell in this, one of which is a gene membrant Latent Protein (LMP). Activities mRNA EBV better reflect the pathogenesis of NPC true of the serological diagnosis and measurement of circulating EBV DNA.
Aim : To analyze the expression mRNA LMP2A of EBV in Patients NPC and determine expression mRNA LMP2A EBV positivity in patients with NPC.
Methods : The study was conducted at the Laboratory of Margono Seokarjo PA Hospital, Purwokerto/Lab PA School of Medicine and laboratory genetics/molecular University Jenderal Soedirman Purwokerto. Analysis of mRNA expression LMP2A EBV technique one step RT-PCR and RT-PCR product (amplicon cDNA) visualized by 1% agarose gel electrophoresis.
Results : Method one step RT-PCR analyzes of mRNA expression of EBV in a sample LMP2A paraffin tissue blocks KNF and value expression mRNA LMP2A EBV positivity was 27.3% (6 out of 22 samples).
Conclusion : The method is one step RT-PCR can be used to analyze the mRNA expression of EBV LMP2A KNF tissue biopsy samples in paraffin blocks and mRNA expression results LMP2A EBV positivity average, so it could potentially be used as markers of molecular biology diagnosis of NPC.
1372717053H1F012062GEOLOGI DAN KARAKTERISTIK PANASBUMI BERDASARKAN GEOKIMIA AIR DAERAH PANTI, KABUPATEN PASAMAN, SUMATERA BARATLapangan panas bumi Panti berada di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, dan terletak di depresi Panti-Rao yang termasuk zona Sumatra Fault System (SFS). Pada daerah sekitar zona tersebut banyak ditemukan manifestasi panasbumi. Hal tersebut menjadi menarik untuk diteliti bagaimana karakteristik sistem panas bumi daerah penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua metode, yaitu geologi dan geokimia. Pemetaan geologi dilakukan dengan prinsip litostratigrafi hingga rekonstruksi geologi. Sementara analisis kimia dilakukan untuk mengetahui tipe fluida dan karakteristik reservoirnya. Secara morfologi daerah penelitian terdiri dari perbukitan curam dan dataran. Secara geologi satuan batuan yang tersingkap berupa Satuan Batusabak, Satuan Meta-batugamping, Satuan Lava Basalt, Satuan Breksi Polimik, dan Satuan Endapan Aluvial. Stuktur geologi yang terbentuk
berupa sesar turun dan sesar mendatar mengiri. Temperatur air panas Panti yaitu 90,1°C dan 92,6°C, pH 5,61 dan 5,7 dengan tipe air SO4 waters. Isotop menunjukan sumber fluida berasal dari air meteorik dangkal. Perhitungan geotermometer Na/Li adalah 191°C (entalpi sedang). Hasil penelitian di daerah panas bumi Panti menyatakan bahwa fluida panas bumi Panti berhubungan dengan daerah volkanik pada relief sedang. Daerah prospek Panti memiliki potensi cadangan terduga 18 MWe.
Panti geothermal field is located in Pasaman Regency, West Sumatra, and it lies on Panti-Rao graben, on Sumatra Fault System (SFS) zone. In the area around these zone are found geothermal manifestations. It is so interesting to study how the characteristics of the geothermal system of the research area. Research carried out by two method, that is geology and geochemistry. Geological mapping by lithostratigraphy principle until the reconstruction of the geology. While geochemical analyzes conducted to determine the type of fluid and reservoir characteristics. In morphological study area consists of steep hills and plains. In geological lithologies exposed in the form of Batusabak unit, Meta-batugamping unit, Lava Basalt unit, Breksi Polimik unit, dan Endapan Aluvial unit. In geological structure study area formed normal fault and sinistral fault. Panti hotspring temperature was measured 90,1°C dan 92,6°C, pH 5,61 dan 5,7 and the type was SO4 waters. Isotop has shown fluid source were mixed in shallow meteoric water. Geothermometer calculation of Na/Li was 191°C (medium enthalpy). The result of research in Panti geothermal field affirmed that recent fluid Panti geothermal system has related to volcanic geothermal type in medium terrain. Panti prospecting areas has potency of possible reserve are 18 MWe.
1372817054H1F012004PENGARUH SAMPEL CUTTING OIL BASE MUD (OBM) TERHADAP HASIL ANALISIS POTENSI BATUAN INDUK SUMUR NA-1 CEKUNGAN JAWA BARAT UTARAKeberadaan cadangan minyak bumi yang semakin menipis seiring dengan perkembangan industri yang semakin meningkat. Cekungan Jawa Barat Utara merupakan salah satu cekungan hidrokarbon yang potensial di Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada sumur NA-1 di daerah Subang Cekungan Jawa Barat yang bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi daerah Subang, mengetahui pengaruh sampel cutting yang mengandung Oil Base Mud (OBM) terhadap hasil analisis potensi batuan induk penghasil hidrokarbon. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis Total Organic Carbon (TOC), Rock Eval Pyrolysis, Vitrinite Reflectance dan Kerogen Type. Hasil analisis menunjukkan bahwa sampel cutting Oil Base Mud (OBM) tidak bisa digunakan untuk mengetahui potensi batuan induk karena memiliki nilai S1 yang tinggi dan OBM tersebut harus dibersihkan dengan mesin Soxlet. Setelah dibersihkan, pada sampel didapatkan nilai Total Organic Carbon >0.5 Wt% yang tergolong fair dan nilai Potential Yield yang tergolong fair. Berdasarkan analisis Vitrinite Reflectance sampel batuan telah matang dan siap menghasilkan hidrokarbon dengan nilai Hydrogen Index yang menunjukkan tipe kerogen II/III, yaitu akan membentuk minyak atau gas ketika matang. Berdasarkan nilai Total Organic Carbon (TOC) dan Potential Yield (PY) dengan kualitas fair dan tingkat kematangan peak mature, maka batuan pada sumur NA-1 berpotensi sebagai batuan induk.The existence of oil reserves are dwindling along with increasing industrial development. North West Java Basin is one of the potential hydrocarbon basins in Indonesia. Research was conducted on NA-1 wells in the basin area of Subang in West Java which aims to determine the geological conditions of the Subang area, determine the effect of cutting samples containing Oil Base Mud (OBM) on the results of an analysis of potential hydrocarbon source rock producer. The analysis used in this study include the analysis of Total Organic Carbon (TOC), Rock Eval Pyrolysis, Vitrinite Reflectance and Kerogen Type. The analysis showed that the sample cutting Oil Base Mud (OBM) can’t be used to identify potential source rock because it has a high S1 value and OBM must be cleaned with Soxlet machine. After cleaned, the samples were obtained value of Total Organic Carbon > 0.5 Wt% were classified as fair and Yield Potential values were classified as fair. Based on the analysis of rock samples Vitrinite Reflectance has matured and is ready to produce hydrocarbons with Hydrogen Index values that indicate the type of kerogen II / III, which will form the oil or gas when maturate. Based on the value of Total Organic Carbon (TOC) and the Potential Yield (PY) with fair quality and maturity level peak mature, then rock on wells NA-1 as a potential of source rock.
1372917064F1B112036PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DEMOKRATIS DAN KEMAMPUAN ANGGOTA TERHADAP KINERJA PROGRAM PENGELOLAAN HUTAN BERSAMA MASYARAKAT
(STUDI PADA LEMBAGA MASYARAKAT DESA HUTAN WANA LESTARI DESA BASEH KECAMATAN KEDUNGBANTENG KABUPATEN BANYUMAS)
Penelitian ini berjudul “Pengaruh Gaya Kepemimpinan Demokratis dan Kemampuan Pengelola terhadap Kinerja Program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (Studi Pada Lembaga Masyarakat Desa Hutan Wana Lestari Desa Baseh Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas)”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan demokratis dan kemampuan anggota terhadap kinerja program PHBM di LMDH Wana Lestari baik secara parsial maupun bersama-sama. Sasaran penelitian ini adalah anggota LMDH Wana Lestari yaitu 75 orang. Metode penelitian menggunakan metode survai, teknik pengambilan sampel menggunakan teknik sampling jenuh, metode pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan korelasi kendall tau-c, konkordansi kendall W, dan regresi ordinal. Berdasarkan teknik analisis secara kuantitatif dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan demokratis mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja program PHBM dibuktikan dengan korelasi kendall tau-c 0259 dan hasil regresi ordinal diketaui nilai koefisien regresi 0,187. Kemampuan anggota mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja program PHBM dibuktikan dengan hasil korelasi kendall tau-c 0,358 dan hasil regresi ordinal diketahui nilai koefisien regresi 0,193. Gaya Kepemimpinan Demokratis dan Kemampuan Anggota mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan dibuktikan dengan hasil konkordansi kendall W 0,987 dan hasil regresi ordinal diketahui nilai koefisen regresi 0,280.The Title of this study is “Effect of Democratic Leadership Style and Members Ability to The Performance of Collaborative Forest Management Program (Studies in Forest Village Community Institution of Wana Lestari, Baseh Village, Kedungbanteng, Banyumas Regency). The purpose of the study was to determine positive and significant effect between democratic leadership style and members ability to the performance of collaborative forest management program in Forest Village Community Institution of Wana Lestari in partially or together. The subjects were 75 members of forest village community institution of Wana Lestari. This study used survey method, sampel was taken by saturation sampling technique, and data was collected using questionnaires, observation, and documentation. Data analysis technique quantitatively used kendall tau-c correlation, kendall W concordance, and ordinal regression. The results of the research are Democratic Leadership Style has positive and significant effect to the performance of collaborative forest management program evidenced by coefficient of kendall tau c correlation 0,259 and coefficient of regression ordinal 0,187. Members Ability has positive and significant effect to the performance of collaborative forest management Program evidenced by coefficient of kendall tau c correlation 0,358 and coefficient of regression ordinal 0,193. Democratic Leadership Style and members ability have positive and significant effect to the performance of collaborative forest management program program evidenced by coefficient of kendall W concordance 0,987 and coefficient of regression ordinal 28.
1373017055E1A109077Perlindungan Hak Asasi Manusia terhadap Narapidana Wanita sebagai Warga Binaan Pemasyarakatan (Studi di Rumah Tahanan Negara Banyumas) Rumah Tahanan Negara Banyumas terdapat warga binaan wanita, yang
menurut ketentuan peraturan yang berlaku saat ini, mereka (tahanan dan narapidana wanita) semestinya ditempatkan pada Lembaga Pemasyarakatan Khusus Wanita.
Penelitian ini akan menguraikan tentang tinjauan hak asasi manusia bagi narapidana wanita, khususnya di Rumah Tahanan Negara Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah Yuridis normatif dengan pendekatan yang digunakan yaitu Pendekatan Perundang-Undangan.
Hasil yang diperoleh bahwa perlindungan hak asasi narapidana wanita sebagai warga binaan pemasyarakatan di Rumah Tahanan Negara Banyumas, terutama mengenai hak kesehatannya belum dijalankan secara maksimal.



Banyumas State Prison there are citizens of the target women, that under existing regulations, they (the prisoners and female prisoners) should be placed in the Correctional Institution for Women.
This study will elaborate on a review of human rights for women who are especially placed in Banyumas State Prison. The research method used is a normative juridical approach used with the approach of Legislation.
The result is the protection of women prison right in Banyumas state prison, especially healthy right is not running optimally.
Key;human right,women prison protection, Banyumas state prison
1373117056F1B012006TINGKAT PROFESIONALISME GURU YANG SUDAH MENERIMA SERTIFIKASI DAN GURU YANG BELUM MENERIMA SERTIFIKASI (STUDI KOMPARASI DI SD NEGERI KECAMATAN BATURRADEN KABUPATEN BANYUMAS)Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar tingkat profesionalisme guru yang sudah menerima sertifikasi dengan guru yang belum menerima sertifikasi. Metode pada penelitian ini adalah kuantitatif komparasi. Teknik analisis yang digunakan pada penelitian ini ialah t-test atau uji beda. Sasaran pada penelitian ini adalah guru-guru yang sudah menerima sertifikasi dan guru-guru yang belum menerima sertifikasi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah probability sampling dengan menggunakan simple random sampling yaitu pengambilan anggota sampel dari populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat profesionalisme guru yang sudah menerima sertifikasi dan guru yang belum menerima sertifikasi terdapat perbedaan. Tingkat profesionalisme guru yang sudah menerima sertifikasi lebih tinggi dari guru yang belum menerima sertifikasi. Dari 10 dimensi, terdapat 6 dimensi yang menyatakan adanya perbedaan. Kemudian 4 dimensi berikutnya menyatakan tidak terdapat perbedaan.The research aims to determine how much the level of professionalism of teachers who have received certification by teachers who have not received the certification. Method in this study is a quantitative comparison. The analysis technique used in this study is a t-test or a different test. Goal of this research is the teachers who have received certification and teachers who have not received the certification. The sampling technique used was probability sampling by using simple random sampling is taking members of the sample of the population was randomly without regard to strata that exist in this population. Data collected through questionnaires, interviews and documentation. The results showed that the level of professionalism of teachers who have received certification and teachers who have not received the certification there is a difference. The level of professionalism of teachers who have received certification higher than teachers who have not received the certification. Of the 10 dimensions, there are six dimensions stating the difference. Then the next four dimensions stated that there is no difference.
1373217057F1B009077IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN (STUDI KASUS PADA PEMBUATAN IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN DI KECAMATAN SOMAGEDE)Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya warga Kecamatan Somagede yang belum memiliki izin mendirikan bangunan, hal itu disebabkan oleh mahalnya syarat advice planning dan juga dalam membangun bangunan tidak langsung jadi bangunannya mengakibatkan masyarakat semakin tidak ingin membuat Izin Mendirikan Bangunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses implementasi Peraturan daerah Kabupaten Banyumas Nomor 7 Tahun 2011 tentang IMB pada proses pembuatan IMB. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif, dengan teknik pemilihan informan purposive sampling dan teknik aksidental. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis yang digunakan adalah model analisis interaktif dari Milles dan Huberman dan keabsahan data diuji dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa implementasi Peraturan daerah Kabupaten Banyumas Nomor 7 Tahun 2011 tentang IMB telah dilaksanakan dengan cukup baik, dengan ditunjukkan oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung jalannya kebijakan pelimpahan wewenang IMB, tingkat kepercayaan penyelenggaraan IMB yang sudah baik, standar operasional prosedur dan pembagian tugas pokok dan fungsi juga sudah sangat jelas sehingga dapat menunjang implementasi kebijakan, selain itu para pelaksana dan masyarakat sudah mempunyai kejelasan manfaat, sanksi dan keterlibatan kebijakan pelimpahan wewenang IMB. Namun masih diperlukan perbaikan terutama dalam menentukan syarat-syarat membuat IMB seperti syarat advice planning yang harganya relatif mahal dan mencari solusi dalam menangani masyarakat yang dalam membangun bangunan tidak langsung jadi bangunannya.This research is taken due to so many people in Somagede District residents who do not have building permits license, it is caused by the high requirements planning advice and also in building the building does not directly own the building resulted in more people do not want to create a building permit licenses. The purpose of this study was to describe the process of the implementation of Regulation Banyumas Regency area No. 7 of 2011 in particular on the process of the permits building license. The research method used was descriptive qualitative method, with the selection of informants purposive sampling technique and techniques accidental. Data was collected through in-depth interviews, observation, and documentation. The analytical method used is interactive model by Milles and Huberman and validity of the data was tested with triangulation.The results of this study it can be concluded that the implementation of the Regional Regulation No. 7 of 2011 Banyumas Regency has been implemented quite well, with indicated by the availability of facilities and infrastructure that support the path of delegation of authority policy building permits license, trust level the implementation of building permits already good, standard operating procedures and the division of duties and functions have also been very clear so as to support the implementation of policies, Besides the implementers and the public already has the benefit of clarity, sanctions and engagement policy of delegation authority building permits license. But still needed improvement, especially in determining the conditions make building permit such requirement planning advice that is relatively expensive and find solutions in dealing with society in constructing building does not directly own the building.
1373317058C0B014033EKSISTENSI ONDEL-ONDEL SEBAGAI BUDAYA ASLI MASYARAKAT BETAWI (PERUBAHAN FUNGSI DAN MAKNA PADA KESENIAN ONDEL-ONDEL DI KECAMATAN KEMAYORAN, JAKARTA PUSAT)Ondel-ondel merupakan salah satu warisan budaya asli masyarakat Betawi yang pada awalnya berfungsi sebagai tradisi ritual untuk mengusir makhluk halus. Masalah muncul ketika perkembangan zaman membuat kesenian Ondel-ondel ini nyaris kehilangan eksistensinya karena mengalami perubahan, baik fungsi dan maknanya yang membuat Ondel-ondel kehilangan identitas aslinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan mengenai perubahan fungsi dan makna pada kesenian Ondel-ondel serta upaya-upaya yang dilakukan oleh masyarakat, pemerintah serta sanggar dalam pelestarian kesenian Ondel-ondel, khususnya di Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat. Penelitian ini dilakukan di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Penentuan sasaran penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menjelaskan bahwa kesenian Ondel-ondel, khususnya di Kecamatan Kemayoran, sudah mengalami berbagai perkembangan sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan pada fungsi dan maknanya. Perubahan fungsi pada kesenian Ondel-ondel terlihat pada berubahnya fungsi ritual menjadi fungsi hiburan dan ekonomi. Salah satu perubahan fungsi dari Ondel-ondel yang menjadi populer saat ini dan memunculkan pro dan kontra yaitu dijadikannya Ondel-ondel sebagai alat bisnis atau pencari nafkah sebagai pengamen, khususnya di Kemayoran. Makna yang terkandung pada Ondel-ondel pun nyatanya ikut mengalami perubahan. Perubahan makna pada Ondel-ondel meliputi perubahan makna pada warna dan upacara ritual ukup. Perubahan makna pada warna Ondel-ondel yaitu dulu memiliki ciri khas warna merah bagi laki-laki yang berarti seram, tegas, marah dan warna putih bagi perempuan yang berarti lembut dan bersifat keibuan. Kini, warna hanya menjadi pembeda antara Ondel-ondel laki-laki dan perempuan saja. Perubahan makna dalam upacara ritual ukup, yaitu dalam ukup memiliki arti bentuk berserah diri kepada Yang Kuasa, namun dikarenakan pergeseran nilai dan kepercayaan masyarakat Betawi, hal tersebut kini tidak dilakukan lagi karena tidak sesuai dengan ajaran agama yang berlaku. Berbagai upaya pelestarian terhadap Ondel-ondel sebagai salah satu warisan budaya asli masyarakat Betawi agar tetap eksis dan berkembang telah banyak dilakukan, baik dari pihak masyarakat, pemerintah serta sanggar. Namun, alangkah baiknya jika upaya-upaya yang telah dilakukan masyarakat, pemerintah dan sanggar tersebut lebih tersinergikan dengan baik, maka Ondel-ondel akan tetap eksis dan berkembang lebih maksimal.
Ondel-ondel is one of originally culture heritage from Betawi society, which used to drive away the ghost in the ancient times. Problem rises when modern culture development makes ondel-ondel lose its exsistence because of its functional changing. Ondel-ondel almost lose its original identity, its meaning, as an art of culture heritage. This research is aimed to find functional changing from ondel-ondel and efforts taken to protect ondel-ondel especially in Kemayoran District, Central Jakarta. This research is located in Kemayoran area, Central Jakarta, by using descriptive-qualitative methods. The target of this research was decided by purposive sampling technique. This research will explain that ondel-ondel, especially in Kemayoran District, Central Jakarta, has already meet various development and effects some changing from its meaning and function. Ondel-ondel’s functional changing seen from its ritual function that becomes economic and amusement function for other people. One of its popular changing which has raised pro and contra was ondel-ondel is used as a business asset or a tool for beneficial need (breadwinners’ tool) as troubadours especially in Kemayoran District. In facts, the meaning of ondel-ondel is also change. The changing is consist of its color and ukup’s ceremony. In a long time ago, male ondel-ondel has red character as a symbol of anger, spooky and assertive.While female ondel-ondel has white character which symbolized softness and maternity. The meaning of those color as their represented character, is not interpreted as before. Changes of the meaning in the ukup’s ceremony, which is ukup means surrender to the almighty God, but today, it has replaced by Betawi society’s beliefs to their religion. Various conservations effort to Ondel-ondel as one of originally Betawi’s culture heritage that still exist and evolve has been done, both from the public, the government, as well as from the studio. However, it would be nice if these efforts more synergized well, then ondel-ondel will continue to exist and develop more leverage.
1373417080F1A009051PELATIHAN PERTANIAN PADI ORGANIK
DI DESA BENTARSARI KECAMATAN SALEM
(Studi Analisis Tentang Peranan Pelatihan Terhadap Peningkatan Usaha tani di Desa Bentarsari)
Abstrak


Sektor pertanian selalu memiliki kedudukan vital pada suatu Negara agraris, pertumbuhan dan perkembangannya akan menjadi dorongan terbesar dalam kemajuan dan kemakmuranya. Indonesia sebagai Negara agraris yang berkembang sektor pertanian menjadi sangat penting, selain sebagai penopang pangan penyerap tenaga kerja dari sektor pertanian yang di butuhkan cukup besar. Pentingnya sektor pertanian dan kendala yang ada memberikan perhatian pemerintah dalam meningkatkan perkembangannya. Kurangnya pengetahuan, pemanfaatan akan teknologi serta rendahnya produktifitas menjadi pokok masalah dalam sektor pertanian. Bentarsari adalah salah satu desa di kecamatan salem kabupaten brebes yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani, yang memiliki kelompok tani aktif. Salah satu upaya penuntasan masalah melalui pemberdayaan petani dengan cara penyuluhan dan pemanfaatan inovasi dan teknologi terbaru. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pengetahuan dan partisipasi kelompok anggota tani terhadap tingkat usaha tani di
Desa Bentarsari. Penelitian dilakukan dengan metode survey kualitatif mengunakan quesioner.
Analisis data dengan menggunakan regresi linier berganda diketahui bahwa variabel yang berpengaruh paling dominan dalam penelitian ini adalah pengetahuan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan dan partisipasi memberikan pengaruh dalam tingkat usaha tani.

Abstrak


The agricultural sector has always had a vital position in an agricultural country, its growth and development will be the biggest boost in progress and prosperous. Indonesia's agricultural thriving agricultural sector is important, except as the support of food absorbing labor from the agricultural sector is needed is large enough. The importance of agriculture and the constraints that exist give attention of the government in improving its development. Lack of knowledge, technology utilization and low productivity will be the principal problem in the agricultural sector.
Bentarsari is one of the villages in the district of salem district brebes predominantly work as farmers, who have an active farmer groups. One effort resolving problems through empowering farmers by way of counseling and the use of innovation and the latest technology. The aim of research to determine the effect of knowledge and participation of members of farmers' groups to the farm level in the village Bentarsari. The study was conducted with a qualitative survey method using quesioner
Analysis of data using multiple linear regression found that the variable the most dominant influential variable in this study is the knowledge .This study concluded that the impact of knowledge and participation in the farm level.


1373517059H1F011021GEOLOGI, STUDI ALTERASI, DAN MINERALISASI EMAS PADA ENDAPAN EPITERMAL SULFIDASI TINGGI DAERAH “KBW”
DAN SEKITARNYA, KECAMATAN SEBUKU,
KABUPATEN NUNUKAN,
PROVINSI KALIMANTAN UTARA
Daerah penelitian terletak di Kalimantan Utara tepatnya di daerah “KBW” yang secara administratif masuk pada Kabupaten Nunukan. Berdasarkan Orogenesa neogen Indonesia, daerah penelitian termasuk pada Orogenesa Dayak pulau Kalimantan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui kondisi geologi dan alterasi serta mineralisasi yang menjadi karakteristik daerah penelitian. Metode pengumpulan data yang digunakan berupa pemetaan geologi permukaan secara detail dan analisa terhadap pemboran inti serta pengambilan conto batuan untuk analisa laboratorium. Berdasarkan analisa geomorfologi diketahui bahwa daerah penelitian merupakan bagian dari bukit vulkanik dengan indikasi terdapat kawah purba yang ditunjukkan dengan adanya kenampakan ”Circular Feature” yang menunjukan depresi pada peta topografi. Tersusun atas batuan piroklastik tuff andesitik dan breksi diatrem. Struktur geologi yang terdapat di daerah penelitian berupa kekar tarik dan kekar gerus dengan tegasan utama berarah N-S yang mengindikasikan jejak aktivitas erupsi freatomagmatik yang menyebabkan terjadinya collapse dan struktur sesar berarah NE-SW. Alterasi yang berkembang di daerah penelitian dibagi menjadi 3 (tiga) zona, yaitu Zona Kuarsa-Piropilit-Kaolinit, Zona Kuarasa-Alunit-Dickit, dan Zona Silisik. Batuan pembawa mineralisasi berupa Tuff Andesitik dan Breksi Diatrem. Mineralisasi terdapat pada tubuh silika yang membentuk kelurusan yang searah dengan struktur geologi lokal yang berarah utara selatan dan timur laut – barat daya. Mineralisasi emas berkembang pada batuan samping bertekstur vuggy dan breksi hidrotermal serta breksi diatrem dengan fasies hubungan antar fragmen dari luar ke dalam, yaitu crackle dan mozaic-rotate.
The research area is located in North Kalimantan Province precisely at Kbw area that administratively entered in Nunukan Regency. Based on Neogen Orogenic in Indonesia, the research area included to Orogenic of Dayak in Kalimantan island. The research was conducted to determine the condition of geology and alteration and mineralization that characterize of the research area. . Data collection methods used surface geological mapping and core drilling and sampling rock for laboratory analysis. Geomorphological analysis known that the study area is located in a part of a volcanic hill with an ancient crater that indicated by the appearance of "Circular Feature" on topographic maps. Composed of andesitic pyroclastic rocks and diatreme breccia. The geological structure in the research area consists of tensional fracture, shear fracture with trending orientation N-S that indicated trace of freatomagmatic eruption activity and fault structure with trending orieontation NE-SW. Alteration developed at the research area is divided into three zones such as Quartz-Phyropilit-Kaolinite , Quartz-Alunite-Dickite , and Silisification. Host rock mineralization are tuff andesitic and diatreme breccia. The gold mineralization is developed in vuggy textured from the wallrock, hydrothermal breccia and diatreme breccia especially which has characterize of fragment from the outside to inside are crackle and mozaic to rotate.

1373617060G1A012005PENGALAMAN PENGGUNA MINUMAN KERAS OPLOSAN PADA REMAJA DI KOTA GARUTLatar belakang. Minuman keras (Miras) adalah minuman yang mengandung etanol. Miras oplosan merupakan minuman beralkohol tradisional. Peminum miras jenis ini mencampurkan bahan yang tidak layak konsumsi sehingga menjadi sangat berbahaya. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Garut Kota, hal ini karena daerah tersebut memiliki kasus kejadian meninggal dunia paling tinggi dan dekat dengan pusat pendidikan.
Tujuan. Mengetahui pengalaman remaja pengguna minuman keras oplosan di Kota Garut.
Metodologi Penelitian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data wawancara mendalam. Subjek penelitian diambil menggunakan teknik purposive sampling.
Hasil dan Pembahasan. Pengalaman remaja, pemahaman tentang bahaya minuman keras oplosan pada remaja di kota Garut menunjukkan tingkat yang masih rendah karena faktor internal (pendidikan) dan eksternal (pergaulan dengan teman). Tingkat pemahaman tentang keracunan minuman keras oplosan pada remaja di kota Garut menunjukkan tingkat yang masih rendah. Sebagian besar informan pernah mengalami keracunan setelah meminum minuman keras oplosan. Minum-minuman keras oplosan umumnya disebabkan oleh rasa ingin tahu, pelarian dari masalah yang dihadapi, mudahnya remaja mendapatkan minuman keras dan faktor lingkungan.
Kesimpulan. Penelitian ini didapatkan pemahaman remaja tentang Minuman Keras Oplosan sangat rendah, mereka tidak paham tentang keracunan minuman keras oplosan, pemaknaan remaja atas tindakannya meminum minuman keras oplosan lebih untuk pengalaman dan efek samping yang terjadi bagi pengguna minuman keras oplosan yang di konsumsi oleh seluruh informan di antaranya adalah pusing, mual, muntah-muntah, emosi yang tidak terkendali dan bahkan sampai menyebabkan kematian.

Kata Kunci : Pengalaman, Miras Oplosan, Kualitatif


Background. Alcoholic beverages is a drink containing ethanol. While oplosan alcohol is a traditional alcoholic beverage. This type of alcohol drink mix materials that are not fit for consumption so that it becomes very dangerous. This study will be conducted in the District of Garut Kota, this is because the area has a case the highest incidence of death and close to the center of education.
Aim. Knowing the experience of adolescent users adulterated liquor in the city of Garut.
Purpose. For knowing the experience of adolescent users adulterated liquor in the city of Garut.
Study design. This research uses descriptive qualitative design with in-depth interviews. The research subject is taken by purposive sampling.
Methodology. This study uses descriptive qualitative in-depth interview data collection. The research subject is taken using a technique judgmental sampling or purposive sampling.
Results and Discussion. The teenage experience, an understanding of the dangers of adulterated liquor in adolescents in the city of Garut shows the level is still low due to internal (education)and external factors(interaction with friends). The level of understanding of adulterated liquor poisoning in adolescents in the city of Garut shows the level is still low. Most informants never experienced poisoning after drinking adulterated liquor. Drinking adulterated generally caused by curiosity, an escape from the problems encountered, easily teens get booze and environmental factors.
Conclusion. This study found adolescent understanding about Liquor Oplosan so low, they did not know about the adulterated liquor poisoning, meaning a teenager for his actions drinking adulterated more for the experience and side effects that occur for users adulterated liquor consumption by the entire informant whom are dizziness, nausea, vomiting, uncontrollable emotions and even cause death.

Keywords: Experience, Miras Oplosan, Qualitative

1373717061H1L012058 APLIKASI ADMINISTRASI KEUANGAN SEKOLAH
DI SMA NEGERI BANYUMAS PROVINSI JAWA TENGAH DENGAN MENGGUNAKAN SMS GATEWAY
Aplikasi Administrasi Keuangan Sekolah merupakan sebuah aplikasi yang dapat memudahkan staf tata usaha sekolah SMA Negeri Banyumas dalam proses pembuatan laporan pembayaran siswa dan data siswa, dapat memberikan pemberitahuan kepada para orang tua siwa yang belum membayar uang sekolah dengan menggunakan SMS Gateway, yang sudah membayar akan mendapatkan laporan pembayaran keuangan sekolah. Aplikasi ini dapat melakukan pencetakan data, pencarian data siswa, berdasarkan nama, NIS, maupun kelas, serta dapat mencetak langsung bukti pembayaran. Metode pengembangan aplikasi yang digunakan adalah metode waterfall. Application of Financial Administration School is an application that can facilitate the administrative staff of the school SMA Negeri Banyumas in the reporting process of student payments and student data, give notice to the parents of students who have not paid tuition by using SMS Gateway, and can print school payment receipt. This application can also perform data printing, students data search by name, NIS or class. Application development methods used is the waterfall method.
1373817062F1B012004KUALITAS PELAYANAN ANGKUTAN PEDESAAN JALUR WISATA
DI KABUPATEN BANYUMAS
(STUDI TERHADAP ANGKUTAN PEDESAAN JALUR WISATA
VII A, B, DAN C)
Dalam rangka meningkatan pelayanan jasa transportasi wilayah perkotaan dengan wilayah pedesaan di Kabupaten Banyumas perlu adanya penyediaan jasa angkutan pedesaan. Angkutan pedesaan merupakan sarana pendukung untuk menghubungkan wilayah perkotaan dengan wilayah pedesaan, angkutan pedesaan juga diperlukan dalam rangka menunjang roda kehidupan serta memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Skripsi ini berjudul “Kualitas Pelayanan Angkutan Pedesaan Jalur Wisata di Kabupaten Banyumas (Studi Terhadap Angkutan Pedesaan Jalur Wisata VII A, B, dan C)”. Angkutan pedesaan jalur Wisata dipilih dalam penelitian ini karena jalur tersebut satu-satunya angkutan umum trayek yang melayani daerah Purwokerto sampai ke daerah wisata, khususnya wisata di Baturaden. Sebagai fasilitas publik, kualitas pelayanan adalah hal penting yang harus diperhatikan. Oleh karena itu kualitas dari transportasi itu sendiri harus berkualitas dalam arti transportasi tersebut harus nyaman, aman, dan murah.
Tujuan penelitian ini untuk mengukur Kualitas Pelayanan Angkutan Pedesaan Jalur Wisata VII A, B, dan C di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif dengan metode survey, lokasi penelitian di Kabupaten Banyumas. Sasaran penelitian ini adalah penumpang angkutan pedesaan jalur Wisata VII A, B, dan C dengan jumlah responden sebanyak 93 orang. Teknik sampel yang digunakan adalah accidental sampling dan proportional sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kualitas pelayanan angkutan pedesaan jalur Wisata VII A, B, dan C cukup baik. Dari enam indikator yang digunakan untuk mengamati kualitas pelayanan angkutan pedesaan jalur Wisata VII A, B, dan C menunjukan indikator (1) Keselamatan termasuk dalam kategori cukup baik, (2) Keandalan termasuk dalam kategori cukup baik, (3) Fleksibilitas termasuk dalam kategori cukup baik, (4) Kenyamanan termasuk dalam kategori buruk, (5) Kecepatan termasuk dalam kategori cukup baik, (6) Dampak termasuk dalam kategori baik. Dari keenam indikator tersebut indikator dampak cenderung lebih baik dibandingkan dengan lima indikator lainnya.


In order to improve urban transport services to rural areas in Banyumas need the provision of rural transport services. Rural transport, a supporting facility for connecting urban areas to rural areas, rural transportation is also required in order to support the wheel of life and provide services to the community.
This research entitled "Quality of Rural Transport Services Travel Line In Banyumas (Study of Rural Transportation Travel Line VII A, B, and C)". Rural transportation travel paths chosen in this study because the line is the only public transportation route that serves the area Purwokerto to the tourist areas, particularly in Baturaden travel. As public facilities, quality of service are important things that must be considered. Therefore the quality of the transport itself must be qualified in terms of the transportation must be comfortable, safe, and inexpensive.
The purpose of this study to measure the Quality of Rural Transport Services Travel Line VII A, B, and C in Banyumas This research used quantitative descriptive survey methods, location of research in Banyumas. This research target is the rural transport passenger Travel lanes VII A, B, and C with the number of respondents as many as 93 people. Sampling technique used was accidental sampling and proportional sampling. Data was collected by questionnaire, observation and documentation. These results indicate that the quality of rural transport services Travel lanes VII A, B, and C is good enough. Of the six indicators used to observe the quality of rural services Travel lanes VII A, B, and C show the indicator (1) Safety is quite good category, (2) Reliability is quite good category, (3) Flexibility is quite good category, (4) Leisure included in the category of bad, (5) Speed included in the category of quite good, (6) The impact included in good category. Of the six indicators are indicators of the impact tends to be better than the five other indicators.



1373917063B1J012022KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN BAMBU YANG DIMANFAATKAN OLEH MASYARAKAT
DI KECAMATAN NUSAWUNGU,
KABUPATEN CILACAP
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman tumbuhan yang sangat tinggi. Pengelolaan keanekaragaman tumbuhan sekarang ini tidak hanya terbatas sebagai pemenuhan kebutuhan dasar saja tetapi mulai berkembang untuk kebutuhan lain seperti ilmu pengetahuan, rekreasi dan sebagainya sehingga mendorong beragamnya upaya dari masyarakat untuk melestarikan dan memanfaatkan keanekaragaman tumbuhan tersebut. Setiap kelompok masyarakat mempunyai pengetahuan yang berbeda-beda dalam memanfaatkan tumbuhan yang ada di sekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman dan pemanfaatan tumbuhan bambu secara tradisional oleh masyarakat di Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survai dengan teknik pengambilan sampel secara acak terpilih yang terdiri dari 3 Desa di Kecamatan Nusawungu yaitu Desa Klumprit, Desa Nusawungu dan Desa Banjarwaru. Pengambilan data keanekaragaman tumbuhan bambu diperoleh melalui pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan. Pengambilan data pemanfaatan tumbuhan bambu diperoleh melalui wawancara dengan teknik wawancara semi struktural. Data spesies tumbuhan bambu yang diperoleh dicatat nama daerah dan nama ilmiahnya, kemudian dianalisis secara deskriptif. Data ditabulasi dan dihitung nilai manfaat spesies tumbuhan bambu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman tumbuhan bambu yang terdapat di Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap terdapat 6 spesies dan 2 varietas tumbuhan bambu yaitu Gigantochloa apus ( J. A. & J. H Schult.) Kurz - bambu tali, Gigantochloa atter (Hassk.) Kurz - bambu legi/ater, Gigantochloa atroviolacea Widjaja - bambu wulung, Bambusa vulgaris Schrad. ex Wendl. var. Striata - bambu kuning, Bambusa vulgaris Schrad. ex Wendl. var. Vulgaris - bambu ampel, Bambusa multiplex (Lour.) Raeusch. ex J. A. & J. H. Schult - bambu cina/gendani dan Dendrocalamus asper (Schult.) Backer ex Heyne - bambu betung/petung. Spesies bambu yang banyak ditemukan di Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap adalah Gigantochloa apus ( J. A. & J. H Schult.) Kurz - bambu tali, Bambusa vulgaris Schrad. ex Wendl. var. Striata - bambu kuning, Bambusa vulgaris Schrad. ex Wendl. var. Vulgaris - bambu ampel dan Dendrocalamus asper (Schult.) Backer ex Heyne - bambu betung/petung. Pemanfaatan tumbuhan bambu oleh masyarakat Kecamatan Nusawungu yaitu sebagai bahan kerajinan, bahan kontruksi bangunan, obat, tanaman hias dan bahan pangan. Spesies bambu yang memiliki nilai manfaat paling tinggi adalah spesies Gigantochloa apus ( J. A. & J. H Schult.) Kurz - bambu tali sebesar 33,3%, sedangkan spesies bambu yang memiliki nilai manfaat paling rendah adalah spesies Bambusa multiplex (Lour.) Raeusch. ex J. A. & J. H. Schult - bambu cina/gendani sebesar 1,6%.
Indonesia is one country with a very high plant diversity. Management of plant diversity today is not only limeted to the fulfillment of basic needs alone but began to develop for other needs such as science, recreation and so forth so as to encourage the diversity efforts of the community to preserve and utilize the diversity of plants. Each society has a different knowledge in utilizing the existing plants in the vicinity. This research is aimed to determine the diversity and utilization of bamboo plants traditionally by the society in the District of Nusawungu, Cilacap. The method in this study is using a survey with a random sampling technique and was elected by the 3 villages that is consisting in the district of Nusawungu, there are Klumprit Village, Nusawunggu Village and Banjarwaru Village. The bamboo plants diversity data were collected through an observation and directly measurement in the field. The bamboo plants utilization data were collected through an interviews with semi-structural interview techniques. The obtained species data are recorded the local names and scientific names, and then analyzed descriptively. Data were tabulated and calculated for the value and benefits of the bamboo plants species.
The research are showed that the bamboo plants diversity which contained in the District Nusawungu, Cilacap there are 6 species and 2 varieties of bamboo plants is the Gigantochloa apus ( J. A. & J. H Schult.) Kurz - bambu tali, Gigantochloa atter (Hassk.) Kurz - bambu legi/ater, Gigantochloa atroviolacea Widjaja - bambu wulung, Bambusa vulgaris Schrad. ex Wendl. var. Striata - bambu kuning, Bambusa vulgaris Schrad. ex Wendl. var. Vulgaris - bambu ampel, Bambusa multiplex (Lour.) Raeusch. ex J. A. & J. H. Schult - bambu cina/gendani and Dendrocalamus asper (Schult.) Backer ex Heyne - bambu betung/petung. Bamboo species which are found in the district Nusawungu, Cilacap is the Gigantochloa apus ( J. A. & J. H Schult.) Kurz - bambu tali, Bambusa vulgaris Schrad. ex Wendl. var. Striata - bambu kuning, Bambusa vulgaris Schrad. ex Wendl. var. Vulgaris - bambu ampel dan Dendrocalamus asper (Schult.) Backer ex Heyne - bambu betung/petung. The utilization of the bamboo plants by the society in District of Nusawungu as craft materials, building construction materials, medicinal, ornamental plants and foodstuffs. Bamboo species that has the highest value of benefit is the Gigantochloa apus species (J. A. & J. H Schult.) Kurz - bambu tali by 33,3%, while the bamboo species which has the lowest value of the benefit is a Bambusa multiplex species (Lour.) Raeusch. ex J. A. & J. H. Schult - bambu cina / gendani by 1,6%.
1374017086A1L012199PERLAKUAN ENTOMOPATOGEN Metarhizium anisopliae PADA ULAT KROP KUBIS Crocidolomia pavonana DAN PENGARUHNYA TERHADAP MORTALITAS LARVA, PEMBENTUKAN PUPA DAN PEMUNCULAN IMAGOPenelitian ini bertujuan untuk : 1) menguji efektivitas Metarhizium anisopliae pada ulat Crocidolomia pavonana (2) mengetahui pengaruh sub lethal M. anisopliae terhadap pembentukan pupa dan pemunculan imago. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Maret sampai dengan Juni 2016 di Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 5 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan uji adalah larutan jamur konsentrasi 1,0 x 10^6 spora/mL (P1); 1,0 x 10^7 spora/mL (P2); 1,0 x 10^9 spora/mL (P3); 1,0 x 10^11 spora/mL akuades (P4). Variabel yang diamati adalah mortalitas larva, persentase pembentukan pupa, dan persentase kemunculan imago. Data mortalitas larva dianalisis dengan analisis probit dan selanjutnya dianalisis menggunakan uji F pada taraf 5%, apabila terdapat perbedaan nyata maka dilanjutkan dengan uji BNJ 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan M. anisopliae tidak berpengaruh secara signifikan terhadap mortalitas larva C. pavonana dan terhadap pembentukan pupa, namun demikian perlakuan tersebut berpengaruh cukup signifikan terhadap pemunculan imago. Pemunculan imago terendah terjadi pada P2 (58,90%).This study aimed to: 1) examine the effectiveness of Metarhizium anisopliae on Crocidolomia pavonana caterpillar 2) know the sub-lethal effect of M. anisopliae to formation of the pupae and imago emergence. This study was conducted on March until June 2016 at the Laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture, the University of General Soedirman, Purwokerto. This study used a completely randomized design (CRD). The treatments were concentration of 1,0 x 10^6 spores / mL (P1); 1,0 x 10^7 spores / mL (P2); 1,0 x 10^9 spores / mL (P3); 1,0 x 10^11 spores / mL of distilled water (P4). The measured variables were mortality of larvae, percentage of pupa formation, and the percentage of imago emergence. Data of mortality were analyzed using probit analysis and others were analyzed by F test in 5% level, if there was a real difference then continued by HSD test 5%. The results showed that M. anisopliae treatments did not cause mortality of the C. pavonana larvae, as well as the formation of the pupae. However, the treatment affected on the emergence of the imago. The lowest of imago emergence occured on P2 (58.90%).