Artikelilmiahs

Menampilkan 11.881-11.900 dari 49.330 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
118814841F1G008031VARIASI BAHASA KELAS SOSIAL
PENUTUR BAHASA SUNDA DI DESA LEGOKJAWA KECAMATAN CIMERAK KABUPATEN CIAMIS
Penelitian ini berjudul “Variasi Bahasa Kelas Sosial Penutur Bahasa Sunda di Desa Legokjawa Kecamatan Cimerak Kabupaten Ciamis”. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk variasi bahasa yang ada dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya variasi bahasa berdasarkan kelas sosial yang terjadi di Desa Legokjawa Kecamatan Cimerak Kabupaten Ciamis.
Penelitian ini berbentuk deskriptif kualitatif. Data pada penelitian ini berupa tuturan yang diucapkan oleh informan dengan semua yang terkait tentang variasi bahasa berdasarkan kelas sosial yang ada di Desa legokjawa. Sumber data dalam penelitian ini berupa data lisan yang diperoleh dari penutur ketika mereka berbicara dengan lawan tuturnya. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode cakap, metode simak dengan teknik dasar sadap, dan teknik simak bebas libat cakap, teknik rekam, dan teknik catat sebagai teknik lanjutan. Data dianalisis dengan menggunakan metode padan dengan teknik pilah unsur penentu sebagai teknik dasar. Teknik lanjutan yang digunakan adalah teknik hubung banding membedakan. Penyajian hasil analisis data dilakukan dengan cara informal, yakni hasil penelitian disampaikan dengan menggunakan kata-kata biasa, karena data dalam penelitian ini berupa kata-kata bukan simbol atau rumus, dan secara langsung dapat dipahami oleh pembaca.
Hasil penelitian mengenai variasi bahasa berdasarkan kelas sosial yang ada di Desa Legokjawa berupa perbedaan tingkat tutur atau undak usuk dan penggunaan bahasa lain di luar bahasa Sunda Desa Legokjawa itu sendiri, yakni bahasa Indonesia. Kelas sosial di Desa Legokjawa dibagi menjadi empat, yakni kelas sosial bawah bawah, bawah atas, menengah bawah, dan menengah atas. Tingkat tutur yang ada dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga, yakni tingkat tutur halus, sedang, dan kasar. Tingkat tutur halus digunakan oleh kelas sosial yang bawah dengan kelas sosial yang lebih atas, atau penutur yang usianya lebih muda dari lawan tuturnya. Tingkat tutur sedang digunakan oleh penutur kelas sosial atas kepada kelas sosial di bawahnya, atau penutur dengan kelas sosial yang sama, sedangkan tingkat tutur kasar digunakan oleh kelas sosial atas kepada kelas sosial di bawahnya, juga penutur yang berhubungan akrab dengan lawan tuturnya. Faktor yang menyebabkan adanya variasi bahasa tersebut yang pertama adalah faktor penyebab dari segi penutur, yaitu perbedaan kelas sosial, dan persamaan kelas sosial. Faktor yang kedua adalah faktor penyebab dari segi keformalan, yaitu ragam akrab, ragam santai, ragam usaha, dan ragam resmi.
The title of this research is “Variasi Bahasa kelas Sosial Penutur Bahasa Sunda di Desa Legokjawa Kecamatan Cimerak Kabupaten Ciamis”. The aim of the research is to describe form of language variation and its factors based on social class in the Legokjawa, Cimerak, Ciamis.
The form of this research is qualitative descriptive. The data of the research is such as utterance which is said by informant about all of language variation based on class social in the Legokjawa village. Methods of data collection in this research is a interview method, observation method with tapping techniques as it’s basic techniques, and involved see free conversations techniques, recording techniques, and written as advanced techniques. Data were analyzed by using the matching method by sorting as a decisive element technique of the basic techniques. The advanced technique used is appeal circuit to distinguish techniques. Presentation of the results of the data analysis is done by informal, which presented research results using ordinary words, because the data in this research in the form of words and not symbols or formulas, and is directly understood by the reader.
The result of the research is the differences of speech level and using of other language (Indonesian) based on class social in the Legokjawa Village. Social class in the Legokjawa Village is divided into four, namely the lower social classes down, down up, lower middle, and upper middle. Said that there are levels in this study were divided into three, namely the level of said refined, medium and coarse. Refined speech level used by the lower social classes with the upper social class, or the speakers are younger than the opponent he said. Medium speech level used by speakers of the social class to social class below, or speakers to the same social class, whereas coarse speech level used by the social class to social class below it, also related speakers familiar with the opponent he said. The factors that cause language variation such as causative factor of speaker, that is differences and similarity of social class, and causative factor of formality side, that is intimate variety, casual variety, consultative variety, and formal variety.
118824842F1C009042OPINI PUBLIK MENGENAI TATA RUANG KOTA PURWOKERTO SEBAGAI SALAH SATU ASPEK PEMBANGUNAN BERKELANJUTANTata ruang merupakan kunci kesuksesan suatu wilayah karena jika suatu wilayah atau kota tidak tertata dengan baik maka dapat menimbulkan ketidaknyamanan, kekacauan, dan juga berbagai persoalan hidup lainnya. Untuk mewujudkan kehidupan kota yang harmonis, aman, nyaman, dan indah, Kota Purwokerto yang merupakan Ibukota Kabupaten Banyumas memfokuskan penataan ruangnya dalam dua zona yaitu zona lindung dan budidaya. Sebagai kota dualistik, Kota Purwokerto tidak dapat dilepaskan dari budaya, tata nilai, norma, serta gaya hidup yang tertanam di masyarakat. Oleh karenanya, perencanaan dan pemanfaatan ruang kota tidak lepas dari polemik positif serta negatif. Hal tersebutlah yang mendorong peneliti untuk meneliti “Opini Publik Mengenai Tata Ruang Kota Purwokerto sebagai Salah Satu Aspek Pembangunan Berkelanjutan”.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana opini publik mengenai tata ruang Kota Purwokerto sebagai salah satu aspek pembangunan berkelanjutan. Penelitian dilakukan di wilayah Purwokerto dengan sasaran penelitian meliputi pedagang kaki lima di Pasar Prathista Harsa dan Jensoed, pengunjung RTH, masyarakat yang terkena pelebaran jalan, akademisi, budayawan, Kabid Tata Ruang BAPPEDA Kab. Banyumas, serta Kabid Tata Ruang DCKKTR Kab. Banyumas. Adapun pemilihan informannya menggunakan teknik purposive sampling dan teknik accidental.
Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara semi terstruktur, observasi tidak berstruktur, dan dokumentasi. Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan model pendekatan analisis data interaktif Miles dan Huberman. Validitas data yang digunakan model triangulasi sumber dan metode.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa opini yang diiberikan beragam, namun secara umum menilai bahwa penataan ruang yang dilakukan oleh Pemerintah Kab. Banyumas sudah cukup bagus. Opini yang diberikan masyarakat Kota Purwokerto dipengaruhi oleh beberapa hal seperti pengalaman dalam berjualan, perasaan, serta pemahaman masing-masing individu terhadap penataan ruang. Opini yang muncul berkaitan dengan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya yang masing-masing mempunyai keunggulan juga kekurangan. Demokratisasi tata ruang dan transparansi belum berjalan dengan baik, komunikasi belum dilakukan secara dua arah, dan belum tercapai sinergi antara pemerintah dan masyarakat sehingga tingkat partisipasi masyarakat masih kurang.
Spatial planning is one of a key to make a successfull area, because if a region or city is not laid out well, it can cause discomfort, confusion, and other life issues. To reach a harmonious, safe, comfortable, and beautiful city, Purwokerto which is the capital of Banyumas focuses its spatial arrangement in two zones, protection and cultivation. As the dualistic city, Purwokerto can’t be separated from culture, values, norms, and lifestyles that are embedded in the community. Therefore, the planning and utilization of urban space can not be separated from the positive and negative polemic. That’s why researcher want to know how the "Public Opinion about the Spatial Planning of Purwokerto City as One Aspect of Sustainable Development".
The purpose of this research is to determine how the public opinion about the spatial planning of Purwokerto City as one of the aspects of sustainable development. The research is conduct in the Purwokerto’s areas with the objectives such as Pratistha Harsa and Jensoed street vendors in the market, Green Opened Place’s visitors, people affected by road widening, academicst, cultural, Head of Spatial BAPPEDA District. Banyumas, and also the Head of Spatial DCKKTR District. Banyumas. The selection of informants using purposive sampling techniques and accidental techniques.
Semi-structured interviews, unstructured observation, and documentation are used for data collection techniques. To analyze the data, researcher used a Miles and Huberman’s model of interactive data analyze. For making sure the validity, researcher uses sources and methods model of triangulations.
The result from the research showed that there are various opinions, but generally considered that the spatial arrangement of the Government District Banyumas is good enough. Opinion that given by the people of Purwokerto is influenced by several factors such as the experience in selling, feeling, and understanding of each individual's spatial planning. Those opinions related with the ecological, economic, social and culture, that has advantages as well disadvantages. Spatial democratization and transparency have not been going well, 2-way communication has not worked, and has not achieved the synergy between government and society so the level of community participation is still lacking.
118834843H1A009007PEMANFAATAN ABU DASAR PADA PENURUNAN KADAR LINIER ALKYL BENZENE SULFONAT (LAS) DALAM DETERJENTelah dilakukan penelitian tentang pemanfaatan abu dasar sebagai adsorben Linier Alkyl Benzene Sulfonat (LAS) yang terkandung di dalam deterjen. Analisis kadar LAS dilakukan menggunakan metode Spektrofotometri UV/VIS secara Methylene Blue Active Substance (MBAS). Pada proses adsorpsi dilakukan penentuan kondisi terbaik yang meliputi variasi ukuran partikel abu dasar, waktu kontak dan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran partikel tertinngi adalah 120 mesh dimana menghasilkan persentase penurunan kadar LAS sebesar 26,74%. Waktu kontak optimum untuk adsorpsi LAS adalah 60 menit dengan persentase penurunan sebesar 36,22%. pH terbaik adsorpsi LAS adalah 2 dengan persentase penurunan sebesar 73,23%. Hal ini menunjukkan bahwa abu dasar dapat dimanfaatkan untuk mengadsorpsi LAS.A research about utilization of bottom ash as adsorbent Linear Alkyl Benzene Sulfonat (LAS) contained in detergent. Analysis of LAS content performed using Spectrofotometer UV/VIS method as MBAS. In the adsorption process to determine the best conditions that include variations in particle size of bottom ash, contact time and pH. The results showed that the optimum particle size is 120 mesh where produce a percentage of LAS decreased levels by 26.74%. Optimum contact time for the adsorption of LAS is 60 minutes with the percentage of each decreased level by 36.22%. The optimum pH adsorption LAS is at 2 with the percentage of each decreased levels by 73.23%. The result that bottom ash can be used to adsorb LAS.
118844844H1A009001PENGARUH DOPAN KROMIUM DALAM MATERIAL SrTiO3 TERHADAP AKTIFITAS FOTODEGRADASI CONGO REDStrontium titanat merupakan salah satu fotokatalis terbaik untuk mendegradasi suatu senyawa organik dengan sinar ultraviolet sebagai sumber energi. Sayangnya, aktifitas fotokatalitik terhadap sinar tampak kurang efektif karena memiliki celah pita yang lebar yaitu 3,2 eV. Oleh karena itu untuk memperluas jangkauan fotokatalisis dalam penyerapan pada sinar tampak merupakan suatu pekerjaan yang penting untuk terus dipelajari dan dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan dopan kromium terhadap katalis SrTiO3 dalam aktifitas fotokatalitiknya. Katalis SrTiO3 disintesis dengan menggunakan metode solvothermal konvensional dengan rasio Cr/Sr= 0,000; 0,005; 0,009 dan 0,013 pada ruang tertutup dibawah suhu 200oC selama 3 jam. Katalis yang terbentuk dikarakterisasi dengan instrument DRS untuk mengetahui penurunan energi celah pita dan instrument XRD untuk menganalisis struktur kristal. Uji aktifitas fotokatalitik dilakukan selama 4,5 jam dibawah pancaran sinar merah dan sinar UV.
Hasil penelitian menunjukan bahwa katalis SrTiO3 memiliki struktur perovskit kubus dan dopan kromium pada katalis rasio Cr/Sr=0,009 mampu membangkitkan serapan pada panjang gelombang sinar tampak. Aktifitas fotokatalitik terbaik pada sinar UV ditunjukan oleh katalis Cr/Sr=0,000 dengan persen penurunan sebesar 76,53 % selama 3 jam dan untuk sinar merah ditunjukan oleh katalis rasio Cr/Sr=0,009 dengan persen penurunan sebesar 35,91 % selama 3 jam.
Strontium titanat is one of the best photocatalys for degradation one of organic coumpound with ultraviolet as energy source. Unfortunately, the activity of photocatalyc throught the visible light shows les effective because it has a wide band gap at about 3,2 eV. Therefor, enlarge photocatalys in absorbent o the visible light is one of the important work to learn continuesly and to develop. The goal of this research is to know the influence of adding chromium doped throught catalys SrTiO3 in photocatalyc activity. Catalys SrTiO3 is synthetic by using solvothermal method conventional with ratio Cr/Sr=0,000; 0,005; 0,009 and 0,013 on closed room the temperature under 200oC in 3 hours. The catalys which form by characteritation with DRS instrument to know the decline of band gap and XRD instrument to analysis crystal structure. The photocatalyc activity si done for 4,5 hours under the light of ultra red and ultra violet.
The result shows that catalys SrTiO3 has cube perovskit form and doped chromium in ratio catalis Cr/Sr=0,009 can arouse absorbent on wavelength of visible light. The best photocatalyc activity on UV light is shown by Cr/Sr=0,000 with the decline about 76,53 % for 3 hours, and for ultra red shown by ratio catalys Cr/Sr=0,009 with the declne about 35,91 % for 3 hours
118854852C1J009001FACTORS AFFECTING LABOR PRODUCTION AT PANDATEX TEXTILE COMPANY IN MAGELANG REGENCYThe research was entitled “Factors Affecting Labor Production at Pandatex Textile Company in Magelang Regency”. The research aimed to know the effects of variables of wages, education level, work experience, health history, family member, distance, age, and work systems on labor production, to seek the most influential variable on labor production at PT. Pandatex.
The research method was a survey by using descriptive analysis. Multiple linear regression was the data analysis technique. The sampling method was simple random sampling because the population was heterogeneous.
The results showed that variables of wage, work experience, education, health history, family member and work system, partially had significant effect on labor production. This meant that by the increasing of each variable (wage, work experience, education, health history, family member and work system), it increased the amount of labor production. Variable of age and distance did not affect significantly on labor production. But simultaneously, variables of wage, work experience, education, health history, family member, distance, age, and work system affected labor production. Wage was the most influential variable on labor production. If the workforce wage was high, it will increase labor production. Conversely, when labor wage was low will reduce the labor production.
The implications were the companys needed to consider a variety of variables that affected the rise and fall of labor production. The efforts were to improve health care and decent guarantee for employees living and employee age limit so that the labor production can be optimum, to increase training for employees in order to increase employee and HR experience. Wage variable was the most influential one on labor production. To increase the labor wage, company could perform a number of ways such as competitive system, where there was an additional bonus for diligent and discipline workers. Other way was to coordinate with the local government and Desperindag associated with regional minimum wage (UMR).
The research was entitled “Factors Affecting Labor Production at Pandatex Textile Company in Magelang Regency”. The research aimed to know the effects of variables of wages, education level, work experience, health history, family member, distance, age, and work systems on labor production, to seek the most influential variable on labor production at PT. Pandatex.
The research method was a survey by using descriptive analysis. Multiple linear regression was the data analysis technique. The sampling method was simple random sampling because the population was heterogeneous.
The results showed that variables of wage, work experience, education, health history, family member and work system, partially had significant effect on labor production. This meant that by the increasing of each variable (wage, work experience, education, health history, family member and work system), it increased the amount of labor production. Variable of age and distance did not affect significantly on labor production. But simultaneously, variables of wage, work experience, education, health history, family member, distance, age, and work system affected labor production. Wage was the most influential variable on labor production. If the workforce wage was high, it will increase labor production. Conversely, when labor wage was low will reduce the labor production.
The implications were the companys needed to consider a variety of variables that affected the rise and fall of labor production. The efforts were to improve health care and decent guarantee for employees living and employee age limit so that the labor production can be optimum, to increase training for employees in order to increase employee and HR experience. Wage variable was the most influential one on labor production. To increase the labor wage, company could perform a number of ways such as competitive system, where there was an additional bonus for diligent and discipline workers. Other way was to coordinate with the local government and Desperindag associated with regional minimum wage (UMR).
118864864E1A008134PERJANJIAN KERJASAMA KOTA KEMBAR (SISTER CITY)
(Studi Terhadap Kerjasama Sister City Antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Dengan Pemerintah Kota Rotterdam)
Kerjasama kota kembar (sister city) merupakan salah satu bentuk hubungan luar negeri yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Rotterdam telah lama menjalin kerjasama ini sejak tahun 1986 dengan berbagai macam bidang kerjasama, salah satunya adalah bidang Water Management.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaturan, mekanisme dan penerapan kerjasama kota kembar antara Jakarta dengan Rotterdam di bidang Water Management. Metode penelitian yang digunakan yaitu yuridis normatif. Sumber data yang diperoleh adalah data sekunder. Data ini disajikan secara sistematis serta dianalisis dengan metode normatif kualitatif.
Pengaturan kerjasama kota kembar terdapat dalam Undang-Undang No 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri, Undang-Undang No 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional dan Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Hubungan kerjasama kota kembar lebih eksplisit diatur dalam Permenlu No 9 Tahun 2006 tentang Panduan Umum Tata Cara dan Hubungan Kerjasama Luar Negeri Oleh Pemerintah Daerah serta Permendagri No 3 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah Daerah Dengan Pihak Luar Negeri.
Kerjasama kota kembar antara Jakarta dan Rotterdam di bidang Water Management diterapkan dalam dua proyek penanganan banjir Jakarta yaitu Long Term Dredging Plan dan Development of Coastal Defence Strategy for DKI Jakarta yang mana kedua proyek ini terkait dengan proyek Pemerintah Pusat
Sister city is one of international relation that can be done by Local Government. Governor of Jakarta and Mayor city of Rotterdam have established sister city relation since 1986 in many kinds of field, one of them is Water Management.
This research is aimed in order to know arrangement, mechanism and implementation of sister ciy relation between Jakarta and Rotterdam in the field of Water Management. The approach method in this research is normative justice, with conceptual approach and case approach. The source of data is taken from secunder data. This data is served systematically and is analized with qualitative normative method.
Sister city’s arrangement existed among Law number 37 year 1999 on
International Relation , Law number 24 year 2000 on International Agreement and Law number 32 year 2004 on Regional Government. Sister city is arranged explicitly in Rule of Ministry of Foreign Affair number 9 year 2006 on The General Method of International Law for Local Government and also Rule of Ministry of Domestic Affair number 3 year 2008 on The Method of cooperation between Local Government with International Parties.
Sister city relation between Jakarta and Rotterdam in the field of Water Management is implemented on Jakarta’s flood handling projects. They are Long Term Dredging Plan dan Development of Coastal Defence Strategy for DKI Jakarta which are connected with Central Government’s projects.
118874845C1C009048ANALISIS PELUANG PENERBITAN OBLIGASI DAERAH SEBAGAI ALTERNATIF PEMBIAYAAN INVESTASI DAERAH
KABUPATEN BANYUMAS
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kebutuhan pembiayaan investasi ditinjau dari aspek keuangan daerah di Kabupaten Banyumas dan untuk mengetahui apakah penerbitan obligasi daerah merupakan alternatif yang layak sebagai pembiayaan investasi daerah Kabupaten Banyumas. Teknik analisis data yang dilakukan adalah dengan metode analisis deskriptif kualitatif, dimana dengan metode ini dilakukan analisis terhadap kenyataan yang diperoleh di lapangan dengan teori yang menjadi acuan dalam melakukan analisis. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kemampuan keuangan daerah Kabupaten Banyumas yang berasal dari PAD, DBH, dan Dana Perimbangan cukup terbatas untuk membiayai pembangunan dan investasi Kabupaten Banyumas. Sementara hasil analisis DSCR Pemerintah Kabupaten Banyumas dari tahun ke tahun berfluktuatif, dengan rata-rata DSCR selama 4 (empat) tahun sebesar 3,59 X. Dengan demikian Pemerintah Kabupaten Banyumas sangat mungkin untuk dapat melakukan pinjaman jangka panjang obligasi daerah. Hasil analisis kelayakan kegiatan proyek investasi, menunjukkan bahwa nilai net present value bertanda positif, nilai internal rate of return lebih besar dari discount factor, dan nilai pay back period kurang dari periode waktu penilaian. Dengan demikian investasi layak dijalankan. The purpose of this study was to determine how far investment needed by financing in terms of financial aspects and areas in Banyumas district and to determine whether the issuance of municipal bonds area viable alternative to the financing of investment in Banyumas. The technique of data analysis is descriptive qualitative method of analysis, which was conducted by the method of analysis of the facts obtained in the field theory which is used in the analysis. These results indicate that the financial capacity of Banyumas regency from PAD, DBH, and fairly limited Equalization Fund to finance development and investment in Banyumas. While the analysis DSCR Banyumas regency government fluctuated from year to year, with an average DSCR for 4 (four) years at 3,59 X. Thus Government of Banyumas Regency is very likely to be able to borrow long term municipal bonds. The results of the feasibility analysis of investment project activities, demonstrate that the net present value is positive, the value of the internal rate of return greater than the discount factor, and the value of pay-back period less than the period of the assessment. Thus, the investment can be worth a run.
118884846C1A009035ANALISIS PERMINTAAN KUNJUNGAN OBYEK WISATA AIR BOJONGSARI (OWABONG) KABUPATEN PURBALINGGAPenelitian ini berjudul Analisis Permintaan Kunjungan Obyek Wisata Air Bojongsari (OWABONG) Kabupaten Purbalingga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah biaya perjalanan ke Owabong, biaya perjalanan ke obyek wisata lain yang sejenis, pendapatan individu per bulan, dan jarak berpengaruh terhadap jumlah permintaan kunjungan ke Owabong dan mengukur nilai ekonomi yang diperoleh pengunjung Owabong dengan menggunakan metode biaya perjalanan individu (Individual Travel Cost Method).
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 25 Oktober sampai dengan 25 November 2012. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey terhadap pengunjung atau wisatawan yang datang ke Owabong. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Simple Random Sampling. Kerangka sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 500 responden pengunjung Owabong, dimana diambil secara acak 60 sampel pengunjung Owabong yang dijadikan sampel penelitian.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda dengan jumlah kunjungan ke Owabong sebagai variabel dependen dan empat variabel independen adalah biaya perjalanan ke Owabong, biaya perjalanan ke obyek wisata lain yang sejenis, pendapatan, dan jarak dan menggunakan perhitungan surplus konsumen untuk mengetahui nilai total ekonomi Owabong.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua variabel independen berpengaruh signifikan terhadap jumlah kunjungan ke Owabong. Nilai surplus konsumen diperoleh sebesar Rp 622.516,26 per individu per tahun atau Rp 207.505,42 per individu per satu kali kunjungan, jumlah ini masih jauh di atas harga pengeluaran rata-rata yaitu Rp 123.508,00 sehingga nilai total ekonomi Owabong sebesar Rp 194.064.673.207,27.
Untuk itu, pengembangan Owabong perlu ditingkatkan lagi yaitu dengan penganekaragaman produk wisata seperti penambahan arena bermain, peningkatkan fasilitas, serta penggalian dan pemanfaatan kembali keunikan yang terdapat di Owabong. Dan pihak pengelola Owabong perlu memperbanyak promosi lagi ke daerah – daerah lain di luar Jawa Tengah, untuk meningkatkan permintaan kunjungan pariwisatanya.
This study entitled analysis of the demand for visits obyek wisata air bojongsari (Owabong) in Purbalingga regency. The purpose of this study was to determine whether variables of travel cost to Owabong, travel cost to other similar attraction, the average income per month and distance to Owabong influential on the demand for visits to Owabong water park and measure the economic value obtained visitor Owabong water park using the individual travel cost method.
The experiment was conducted on 25 October to 25 November 2012. The research method used was the method of survey of visitors or tourist who come to Owabong. Technique sampling in this research was Simple Random Sampling. The sample frame totaled 500 visitors which were taken at random 60 visitors or tourist who come to Owabong.
Regression analysis was involved in this study with specification of the number of individual visits as the dependent variable and four variables as independent variables there are variables of travel cost to Owabong, travel cost to other similar attraction, the average income per month and distance to Owabong and use the surplus calculation consumers to calculate the total economic value Owabong water park.
The result showed all independent variables influence the number of tourism demand to Owabong water park. Costumer surplus value obtained Rp 622.516,26 for each individual per year or Rp 207.505,42 each individual visit. This number is still higher the average expenditure of visitors Rp 123.508,00. So that the total economic value of Owabong water park of Rp 194.064.673.207,27.
Therefore, the development of Owabong water park for improvement was to diversify tourism products such as playground additions, facility upgrades, as well as the excavation and recovery of uniqueness that exist in Owabong water park.but also in optimizing the management of its potential. And the managers of Owabong need to increase the promotion into other areas outside Central Java, to increase the demand of tourism visits.
118894847C1A009122PERBANDINGAN TINGKAT PENETAPAN NJOP TANAH DENGAN HARGA PASAR TANAH DALAM KAITANNYA DENGAN POTENSI PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB) DI KECAMATAN PURWOKERTO BARATPenelitian ini berjudul : “ Perbandingan Penetapan NJOP Tanah dan Harga Pasar Tanah Dalam Kaitannya Dengan Potensi Pajak Bumi dan Bangunan di Kecamatan Purwokerto Barat”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai ASR sudah sesuai atau belum dengan yang ditetapkan oleh Direktur Pajak Bumi dan Bangunan , untuk mengetahui potensi pajak bumi dan bangunan yang masih bisa diterima oleh pemerintah daerah, dan untuk mengetahui Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tanah yang ditetapkan pada tingkat penilaian yang seragam atau tidak di Kecamatan Purwokerto Barat. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Purwokerto Barat dengan menggunakan data Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tanah dan data harga pasar dari 60 transaksi jual beli tanah yang terjadi di Kecamatan Purwokerto Barat pada tahun 2011. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan metode penelitian sensus. Alat analisis yang digunakan yaitu Uji Assesment Sales Ratio (ASR), Tendensi Sentral, Pengukuran Koefisien Dispersi dan Koefisien Variasi.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa nilai ASR = 69,9 persen yang berarti nilai ASR di Kecamatan Purwokerto Barat belum sesuai dengan yang ditetapkan Direktur Pajak Bumi dan Bangunan dan terdapat potensi pajak bumi/tanah yang masih bisa diperoleh pemerintah sebesar 10,4 persen sampai dengan 30,4 persen atau sebesar Rp. 2.081.893,84 sampai dengan Rp. 6.085.535,84, serta nilai pengukuran variabilitas COD sebesar 20,18 persen dan COV sebesar 31,03 persen yang berarti Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) di Kecamatan Purwokerto Barat ditetapkan pada tingkat penilaian yang tidak seragam.
Implikasinya yaitu karena harga pasar sebagai dasar penetapan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang bersifat dinamis atau selalu mengikuti perkembangan yang terjadi setiap saat, sedangkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) bersifat statis, hendaknya KPP Pratama Purwokerto melakukan pendataan, penilaian dan pengkajian ulang agar data yang diperoleh lebih up to date, sehingga meningkatkan potensi penerimaan PBB oleh pemerintah. Pengkajian ulang juga harus dilakukan secara individual dan serentak agar penetapan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) seragam untuk berbagai wilayah di Kecamatan Purwokerto Barat.
The study took the title : “Comparison of Determination of The Tax Object Sales Value (NJOP) of Land and Land Market Price in Relation with Potential of The Land and Building Tax in West Purwokerto Sub-district”. The purpose of this study to know whether Assessment Sales Ratio is suitable with regulated by the Director of Land and Building Tax, to know the potential of Land and Building Tax that can be accepted by local government, and to know whether the Tax Object Sales Value (NJOP) of land that regulated in the same level of assessment in West Purwokerto Sub-district. The research was conducted in West Purwokerto Sub-district used data Tax Object Sales Value of land and land market price data from 60 buying and selling land transactions that occurred in West Purwokerto Sub-district in 2011. This study used descriptive research methods wisth cencus research method. This analysis tools that used are Assessment Sales Ratio (ASR), Central Tendensy, Dispersion and Variation Coefficient.
Based on these result, it can be concluded that ASR value = 69,9 percent, which means ASR value in the West Purwokerto Sub-district can not suitable with regulated by Director of Land and Building Tax and there are potential for tax land property that can be obtained by government from 10,4 percent until 30,4 percent or Rp. 2.081.893,84 until Rp. 6.085.535,84 and the measurement variability of COD value is 20,18 percent and COV value 31,03 percent that means Tax Object Sales Value (NJOP) in West Purwokerto Sub-district regulated in the different level of assessment.
The implication is the market price as a basic for determining the Tax Object Sales Value (NJOP) is dynamic or always up to date, while the Tax Object Sales Value (NJOP) is static, KPP Pratama Purwokerto should collect data, assessment and reexamination to make data obtained can be more up to date, so it can increasing the potential for Land and Building Tax income by government. A reexamination should also be done individually and at the same time so determination of Tax Object Sales Value can be the same various areas in West Purwokerto Sub-district.
118904848G1D009079FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ULKUS DIABETIKA PADA PASIEN DIABETES MELLITUS (DM) TIPE 2
DI RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO
FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ULKUS DIABETIKA PADA PASIEN DIABETES MELLITUS (DM) TIPE 2
DI RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO

Imam Sugiarto^1, Atyanti Isworo^2, Dewi Natalia Husadayanti^3



Jurusan Keperawatan, FKIK, Unsoed


Latar belakang: Peningkatan prevalensi penderita DM akan diikuti peningkatan berbagai komplikasi pada penderita DM, salah satunya ulkus diabetika. Kemungkinan terburuk ulkus diabetika adalah tindakan amputasi yang akan menurunkan produktivitas penderita. Oleh karena itu perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai faktor risiko yang berhubungan dengan ulkus diabetika sebagai acuan tindakan preventif.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian ulkus diabetika pada pasien DM tipe 2 di RSMS Purwokerto.
Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain case-control dan menggunakan teknik quota sampling. Jumlah sampel 58 responden terdiri 29 pasien ulkus diabetika dan 29 pasien DM tipe 2 tanpa ulkus diabetika di RSMS Purwokerto. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-square dan analisi multivariat menggunakan uji regresi logistic.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian ulkus diabetika adalah tingkat pendidikan (p=0,000), usia ≥50 tahun (p=0,000), HbA1c >8 % (p=0,000), obesitas (p=0,000), dan hipertensi (p=0,002). Faktor yang tidak terbukti berhubungan dengan kejadian ulkus diabetika adalah jenis kelamin (p=0,59) dan riwayat merokok (p=0,791). Dalam uji multivariat, usia ≥50 tahun dan kadar HbA1c >8 % merupakan faktor yang dominan terhadap kejadian ulkus diabetika.
Kesimpulan: Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian ulkus diabetika pada penderita DM tipe 2 di RSMS Purwokerto adalah tingkat pendidikan, usia ≥50 tahun, HbA1c >8 %, obesitas, dan hipertensi.
Saran: Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan desain prospektif dan jumlah sampel yang lebih besar.

Kata kunci : faktor risiko, ulkus diabetika, DM tipe 2

1 Mahasiswa Jurusan Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman
2 Dosen Keperawatan Medikal Bedah Jurusan Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman
3 Perawat RSUD Banyumas
DIABETIC ULCER RELATED RISK FACTOR IN DIABETES MELLITUS TYPE 2 PATIENTS AT Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO HOSPITAL

Imam Sugiarto^1, Atyanti Isworo^2, Dewi Natalia Husadayanti3



Nursing Departement FKIK Unsoed


Background: The prevalence of DM patients increased every year and followed by the increase of variety DM complications, such as diabetic ulcers. Diabetic ulcers posibbly to amputate and will be decreased of productivity patients.. Therefore, for preventive action further research about related factors of diabetic ulcer is needed as a reference.
Purpose: This study aimed to determine the related risk factors of diabetic ulcers incidence in patients DM type 2 at RSMS Purwokerto.
Method: Analitic observasional research with a case-control study design and used quota sampling technique. Consist of 58 sample, 29 diabetic ulcer patients and 29 patients DM type 2 without diabetic ulcer at RSMS Purwokerto. Bivariate analysis used chi-square test and multivariate analysis used logistic regression.
Result: The result revealed that the diabetic ulcer related risk factors incidence were education level (p=0.000), age ≥ 50 years (p=0.000), HbA1c> 8% (p=0.000), obesity (p=0.000), and hypertension (p=0.002). Sex (p=0.59) and smoking history (p=0.791) were not related with the incidence of diabetic ulcers. In multivariate analysis, age ≥50 years and HbA1c levels >8% were dominant factors for diabetic ulcers.
Conclusion: Related risk factor with the incidence of diabetic ulcers of patient DM type 2 at RSMS Purwokerto were level of education, age ≥ 50 years, HbA1c> 8%, obesity, and hypertension.
Recomendation: Suggested a continued research with prospective design and with larger sampel.


Keywords : DM type 2, diabetic ulcers, risk factor.







Nursing student of Medical and Health Science Faculty, Jenderal Soedirman University
2 Lecturer Medical Surgical Nursing Departement of Medical and Health Science Faculty, Jenderal Soedirman University
3 Nurse of RSUD Banyumas
118914851C1C009071PENGARUH SIKAP PROFESIONALISME INTERNAL AUDITOR, PENGUNGKAPAN TEMUAN AUDIT DAN IMPLIKASINYA TERHADAP AKUNTABILITAS KEUANGAN INSTANSI PEMERINTAH KABUPATEN BANYUMAS Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif kausal yang di lakukan di wilayah Kabupaten Banyumas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Sikap Profesionalisme Auditor Internal dan Pengungkapan Temuan Audit terhadap terhadap Akuntabilitas Keuangan Instansi Pemerintah Kabupaten Banyumas.
Populasi dalam penelitian ini merupakan SKPD Kabupaten Banyumas dimana ada 50 responden yang diambil dari 25 auditor internal yang ada di Inspektorat Kabupaten dan 25 responden lainnya dari SKPD yang ada di Kabupaten Banyumas.
Penelitian dengan menggunakan analisis regresi berganda untuk mengetahui pengaruh secara simultan dan secara parsial antar variabel independen sikap profesionalisme internal auditor dan pengungkapan temuan audit terhadap variabel dependen akuntabilitas keuangan instansi pemerintah Kabupaten Banyumas.
Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan bahwa: (1) Sikap profesionalisme internal auditor dan pengungkapan temuan audit secara simultan berpengaruh terhadap akuntabilitas keuangan instansi pemerintah Kabupaten Banyumas, (2) Sikap profesionalisme internal auditor dan pengungkapan temuan audit secara parsial berpengaruh terhadap akuntabilitas keuangan instansi pemerintah Kabupaten Banyumas.
Implikasi dari kesimpulan yang di dapat dari penelitian ini adalah agar auditor Inspektorat dituntut untuk terus memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme kerjanya dan obyektif dalam melakukan pengungkapan temuan audit. Oleh karena itu, auditor internal perlu meningkatkan kemampuan dan keahlian terkait dengan bidang tugas yang diembannya melalui peningkatan pendidikan, pengalaman dan pelatihan. Auditor internal juga harus mampu memelihara independensi dalam melakukan pemeriksaan dan pelaporan, mempunyai sikap skeptis dan memegang teguh kode etik dan standar yang profesi yang telah ditetapkan.
The research is qualitative causal quantitative research on Banyumas. The purpose of this research is to know about professionalism attitude of auditors and disclosure of audit findings effect to finance accountability of Banyumas Government Instance.
The population of this research is 50 SKPD of Banyumas, counted 25 internal auditors of regency inspectorate and 25 respondents from others SKPD in Banyumas.
The research used a multiple regression analysis to know about the influence of professionalism attitude and disclosure of audit findings simultaneously and partially to finance accountability of Banyumas Government Instance.
Based on the research, the conclusion is (1) professionalism attitude of internal auditors and disclosure of audit findings simultaneously influences finance accountability of Banyumas Government Instance, (2) professionalism attitude of internal auditors and disclosure of audit findings partially influences finance accountability of Banyumas Government Instance.
The implication of this research in order to improve and increase about professionalism attitude of internal auditor and more objective to disclosure of audit findings. Because of that, internal auditors need to improve capability and skill about their duty pass trough upgrading in education, experience, and training. Internal auditors have to keep their independent in inspection and reporting, skeptical, holds an ethical of conducts and standards of profession.
118924853C1J007001ANALYSIS OF FACTORS AFFECTING THE INCOME OF PEDAGANG KAKI LIMA
(A Case Study on Pedagang Kaki Lima Operating Around Campus of Jenderal Soedirman University)
Penelitian ini berjudul Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Pedagang Kaki Lima (Studi Kasus di Jalan sekitar Kampus Universitas Jenderal Soedirman). Permasalahan yang di kemukakan dalam penelitian ini adalah bagaimana hubungan antara modal, jam kerja, tanggungan keluarga, lama usaha dan pendidikan terhadap pendapatan Pedagang Kaki Lima dan bagaimana pendapatan dan pengeluaran Pedagang Kaki Lima.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara variabel modal, jam kerja, tanggungan keluarga, lama usaha dan pendidikan terhadap besarnya pendapatan Pedagang Kaki Lima, untuk mengetahui bagaimana pendapatan dan pengeluaran Pedagang Kaki Lima dan untuk mengetahui langkah-langkah apa saja yang dapat dilakukan pedagang kaki lima untuk meningkatkan pendapatannya, yang berhubungan dengan variable modal, jam kerja, tanggungan keluarga, lama usaha dan pendidikan.
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Faktor modal, jam kerja, tanggungan keluarga, lama usaha dan Pedagang kaki lima di jalan sekitar kampus Universitas Jenderal Soedirman mempunyai pendapatan yang cukup untuk memenuhi pengeluarannya.. Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data-data penelitian adalah dengan menggunakan kuesioner, dan wawancara terhadap responden. Sumber data berasal dari data primer. Sedangkan alat untuk melakukan pengujian hipotesis adalah dengan menggunakan analisis tabulasi.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: Variabel modal, jam kerja, jumlah tanggungan, lama usaha dan pendidikan mempunyai hubungan yang erat dengan pendapatan pedagang kaki lima di sekitar kampus Universitas Jenderal Soedirman. Dengan modal yang besar maka pendapatan responden pun akan bertambah, namun tidak hanya modal yang dapat meningkatkan pendapatan. Lama jam kerja, jumlah tanggungan, lama usaha dan pendidikan pun dapat mempengaruhi pendapatan. Ditandai dengan naik turunnya pendapatan dan pengeluaran seiring dengan perubahan variable jam kerja, jumlah tanggungan, lama usaha dan pendidikan. Pedagang kaki lima mempunyai gaya hidup hemat dan sederhana sehingga dengan pendapatannya berjualan dapat memenuhi kebutuhannya.
Pedagang kaki lima di sekitar Jalan Kampus Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto hendaknya memperhatikan berbagai pengaruh dalam meningkatkan pendapatannya diantaranya adalah modal, jam kerja, lama usaha, jumlah tanggungan keluarga dan pendidikan. peningkatan modal usaha, mengatur jam kerja dengan memperhatikan jam berapa saja yang ramai pembeli dan sepi pembeli, memperhatikan selera konsumen serta menjaga kebersihan tempat usaha sehingga pembeli tidak ragu untuk menjadi konsumen responden, sehingga hal tersebut dapat meningkatkan pendapatan.
This study entitled is Analysis of Factors Affecting The Income of Pedagang Kaki Lima (a Case Study on
Pedagang Kaki Lima Operating Around Campus of Jenderal Soedirman University). The problems pointed out
in the study's is how the relationship between capital, working hours, family dependants, period of business and
education background against to street vendors income and how revenues and spending on street vendors.
The purpose of this research is to know the relation between the variable capital, working hours, family
dependants, period of business and education background against to the magnitude of the revenue of Pedagang
Kaki Lima, to find out about income and expenditure of Pedagang Kaki Lima and to find out what steps can do
Pedagang Kaki Lima to increase its revenues, which deals with variable capital, working hours, family
dependants, long business and education.
The hypothesis that is used in this research is the factor capital, working hours, family dependants, period
of business and education background relates to the income of Pedagang Kaki Lima on the streets of Jenderal
Soedirman University and Pedagang Kaki Lima have an income that is sufficient to meet its expenditure. The
instrument used to collect research data is to use questionnaires and interviews to respondents. Data source
derived from primary data. While the tool to perform hypothesis testing is to use tabulations analysis.
Based on the results of the study it can be concluded that: the variable capital, working hours, number of
dependants, period of business and education background has a relation with the income of Pedagang Kaki
Lima operating around the campus of the University of Jenderal Soedirman. With a large capital, income of
respondents were then will grow, but not only of capital that can increase revenue, the working hours, number
of dependants, period of business and education background can increase the revenue. Marked by ups and
downs of income and expenditure in line with the change of variable working hours, number of dependants,
period of business and education background.
Pedagang Kaki Lima operating around The campus of the University of Jenderal Soedirman Purwokerto
should pay attention to a wide range of influence in improving the revenues of which are capital, working
hours, family dependants, period of business and education background. increase in capital stock, adjust work
hours to pay attention to the clock are multiple buyers and shoppers deserted, pay attention to consumer tastes
as well as maintain the cleanliness of the place of business so that the buyer did not hesitate to become the
consumer respondents, so that it can increase revenue. The capital is the most influential variables of income.
Capital improvements can be done in partnership with the bank debt or filed, because with a large capital
traders could increase his business.
118934854C1L009019THE INFLUENCE OF THE GOVERNMENT INTERNAL CONTROL SYSTEM (GOVERNMENT REGULATION NO. 60 YEAR 2008) ON PUBLIC ACCOUNTABILITY IN KEBUMEN REGENCY
Penelitian ini menguji pengaruh Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 dan akuntabilitas publik. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah: Apakah Lingkungan Pengendalian, Penilaian Risiko, Kegiatan Pengendalian, Informasi dan Komunikasi, dan Pemantauan secara simultan berpengaruh terhadap Akuntabilitas Publik di Kabupaten Kebumen, apakah Lingkungan Pengendalian mempengaruhi Akuntabilitas Publik di Kabupaten Kebumen, apakah Risk Assessment mempengaruhi Akuntabilitas Publik di Kabupaten Kebumen?, apakah Kegiatan Pengendalian mempengaruhi Akuntabilitas Publik di Kabupaten Kebumen?, apakah Informasi dan Komunikasi mempengaruhi Akuntabilitas Publik di Kabupaten Kebumen?, dan apakah Pengawasan mempengaruhi Akuntabilitas Publik di Kabupaten Kebumen?
Metode penelitian yang digunakan metode sensus sampling. Penelitian ini menggunakan Analisis Regresi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 5 dimensi dari Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 memiliki pengaruh terhadap akuntabilitas publik.
This research examined the influence of Government Regulation No. 60 Year 2008 and public accountability. The problem questions were: Do Control Environment, Risk Assessment, Control Activities, Information and Communication, and Monitoring simultaneously affect Public Accountability in Kebumen Regency?, does Control Environment affects Public Accountability in Kebumen Regency?, does Risk Assessment affects Public Accountability in Kebumen Regency?, does Control Activities affects Public Accountability in Kebumen Regency?, do Information and Communication affect Public Accountability in Kebumen Regency?, and does Monitoring affects Public Accountability in Kebumen Regency?
The research method used census sampling method. This research used Multiple Regression Analysis. Result of this research indicated that 5 dimentions of Government Regulation No. 60 Year 2008 had a influence on public accountability.
118944861G1A009002PENGARUH PENGETAHUAN DAN PERILAKU
PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI
PADA PEKERJA PABRIK SENTRA INDUSTRI TAHU KALISARI
TERHADAP TIMBULNYA DERMATITIS KONTAK AKIBAT KERJA

PENGARUH PENGETAHUAN DAN PERILAKU
PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI
PADA PEKERJA PABRIK SENTRA INDUSTRI TAHU KALISARI TERHADAP TIMBULNYA DERMATITIS KONTAK AKIBAT KERJA

Aulia Dyah Febrianti 1, Lilik Karsono 2, Nendyah Roestijawati 3
ABSTRAK

Latar belakang : Sebagai sektor industri informal, industri tahu memiliki ciri yaitu dapat menimbulkan risiko bahaya pekerjaan yang tinggi, rendahnya perhatian terhadap pelayanan kesehatan, rendahnya kesadaran terhadap faktor risiko kesehatan kerja, dan jam kerja yang panjang.
Tujuan : Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh pengetahuan dan perilaku penggunaan Alat Pelindung Diri dengan kejadian dermatitis kontak akibat kerja pada pekerja tahu Kalisari.
Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Februari-Maret 2013. Jumlah responden yang memenuhi kriteria inklusi adalah 101. Data penelitian bersumber dari kuesioner, pemeriksaan klinis, dan data desa Kalisari. Sampel penelitian diperoleh dengan cara total sampling. Analisis statistik yang digunakan adalah uji bivariat chi square.
Hasil : Prevalensi DKAK pada pekerja tahu Kalisari adalah 84,2%. Hasil uji chi square menunjukkan tidak terdapat pengaruh pengetahuan pemakaian APD dengan kejadian dermatitis kontak akibat kerja pada pekerja industri tahu Kalisari dengan nilai p 0,755 x2 hitung 0,097 (IK 95%). Sebanyak 100 % responden memiliki perilaku pemakaian alat pelindung diri tidak baik.
Kesimpulan : Tidak terdapat pengaruh pengetahuan pemakaian alat pelindung diri pada pekerja sentra industri tahu desa Kalisari dengan kejadian dermatitis kontak akibat kerja pada pekerja sentra industri tahu Kalisari. Sebanyak 100 % responden penelitian memiliki perilaku pemakaian Alat Pelindung Diri yang tidak baik.

Kata kunci : Pengetahuan, Perilaku Alat Pelindung Diri, Dermatitis Kontak Akibat Kerja (DKAK)


1. Jurusan Kedokteran, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman
2. Dosen Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
3. Dosen bagian ilmu kesehatan masyarakat Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

THE INFLUENCE OF KNOWLEDGE AND BEHAVIOR USE
OF PERSONAL PROTECTIVE EQUIPMENT ON FACTORY WORKERS
OF TOFU INDUSTRIAL CENTER ON KALISARI
TO THE OCCURRENCE OF OCCUPATIONAL CONTACT DERMATITIS

Aulia Dyah Febrianti 1, Lilik Karsono 2, Nendyah Roestijawati 3
ABSTRACT

Background: As an informal sector industry, the industry of tofu Kalisari characterized by high risk of occupational hazards, lack of attention to health care, lack of awareness of health risk factors, and long working hour.
Objective: This study aimed to determine the effect of knowledge and behavior use personal protective equipment to occurrence occupational contact dermatitis to the factory workers of tofu industrial center Kalisari
Methods: This is an observational analytic with cross-sectional design. The study was conducted in February-Maret 2013. The number of respondents was101 based on inclusion criterias. Research data were sourced from questioner, clinical examination, and data Kalisari’s village. The research samples were obtained by total sampling. Statistical analysis used was bivariate chi-square test.
Results: The prevalence of OCD in workers tofu Kalisari was 84.2%. The results of chi-square test showed there wasn’t an effect of knowledge and behavior use personal protective equipment to the occurrence of OCD to the factory workers tofu Kalisari with p0,755, x2value 0,097(CI 95%). All of respondents own behavior and the using Personal Protective Equipment wasn’t good.
Conclusion: There wasn’t an effect of knowledge and behavior use personal protective equipment to occurrence of occupational contact dermatitis to the factory workers industrial center tofu Kalisari. All of respondents own behavior and use Personal Protective Equipment wasn’t good.


Keywords : Knowledge, Behaviour Use of Personal Protective Equipment, Occupational Contact Dermatitis (OCD)

1. Medical Student of Medical School of Medical and Sciences Faculty, Jenderal Soedirman University Purwokerto
2. Departement of Dermatology, Medical School of Medical and Sciences Faculty, Jenderal Soedirman University Purwokerto
3. Departement of Public Health , Medical School of Medical and Sciences Faculty, Jenderal Soedirman University Purwokerto




118954862F1F008135The Analysis of Epistemic and Deontic Modality Used by Barack Obama in Two Speeches: "Campaign Policy Speech on Iraq" and "Nomination of Key National Security Team Members"Penelitian ini bertujuan untuk menemukan penggunaan modality yang terdapat di dalam pidato-pidato Barack Obama dan mengidentifikasi interprestasi dari penggunaan jenis modality yang lebih sering digunakan oleh Obama dan bagaimana modality merefleksikan power di dalam pidato Obama yang berjudul “Campaign Policy Speech on Iraq” dan “Nomination of Key National Security Team Members”. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data yang digunakan adalah ujaran di dalam pidato Barack Obama yang mengandung arti epistemik dan deontik. Peneliti menggunakan purposive sampling untuk menentukan pidato-pidato yang akan diteliti. Hasil penelitan ini menunjukkan bahwa dalam dua pidato Obama, kedua modaliti yaitu epistemik dan deontik telah ditemukan. Pada pidato pertama terdapat 80 data yang terdiri dari Epistemik=30 (37,5%) dan Deontik 50 (62,5%). Pidato kedua terdiri dari Epistemik=12 (46,1%) dan Deontik=14 (53,8%) dari 26 data. Modal yang paling sering digunakan di kedua pidato ditunjukkan dengan modal will pada arti deontik. Pada pidato pertama dapat dilihat dari 50 data yang menggunakan modal will, 36 data diantaranya deontik (72%) dan 14 data merupakan epistemik (28%). Sedangkan pada pidato kedua, terdapat 19 data yang menggunakan modal will, 7 data memiliki arti epistemik (36,8%) dan 12 data memiliki arti deontik (63,2%). Hal ini menunjukkan bahwa Obama memiliki tujuan dan niat di masa depan. Beliau tidak hanya memberikan janji, namun tahu apa yang dilakukannya dan apa yang akan dilakukan di masa mendatang. Peneliti menemukan hubungan sosial power dan modaliti pada kedua pidato dan terdapat 3 elemen utama yaitu aksi, sikap agen terhadap tindakan yang relevan, dan tingkat harapan tentang sikap terhadap suatu tindakan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, menunjukkan bahwa makna sebenarnya dari pidato Obama adalah bahwa Obama berharap pendengarnya dapat melakukan apa yang dia harapkan.The aims of this research are to find out the kinds of modality used by Barack Obama and to identify the interpretation of the use of modality types which more frequently used by Obama and how the modality reflects power in Obama's speeches “Campaign Policy Speech on Iraq” and “Nomination of Key National Security Team Members”. This research applied the descriptive qualitative research method. The data were the utterances in Barack Obama’s speeches which are containing epistemic and deontic meaning. The researcher employed purposive sampling to decide the speeches which were analyzed. The result of the research showed that in Obama’s two speeches, both epistemic and deontic modality was found. In first speech, there are 80 data consist of Epistemic=30 (37,5%) and Deontic=50 (62,5%). The second speech consist of Epistemic=12 (46,1%) and Deontic=14 (53,8%) from 26 data. The most frequently used modals in both speeches are indicated by modal will in deontic meaning. In the first speech can be seen that from 50 data which were used modal will, 36 of them are deontic (72%) and 14 data are epistemic (28%). Meanwhile, in the second speech, there are 19 data which were used modal will, 7 data have epistemic meaning (36,8%) and 12 data have deontic meaning (63,2%). It is shows that Obama is a man who has purposes and intentions in the future. He is not only giving promises, but he knows what he is doing and what he will do in the future. The researcher found the social power relations and modality in both speeches and found 3 main elements; they are action, the agents’ attitude to the relevant actions, and levels of expectations about attitude towards an action. Based on the research that conducted by the researcher, it is shows that the truly meaning of Obama’s speeches is Obama hopes that the hearers can perform what he expected.
118964855C1C009002FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI LUAS PENGUNGKAPAN
LAPORAN KEUANGAN PADA KPRI DI JAWA TENGAH
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor sumber daya manusia (SDM), komitmen organisasi, regulasi, dan sarana dan prasarana terhadap luas pengungkapan laporan keuangan pada koperasi pegawai republik Indonesia (KPRI) di Jawa Tengah. Sampel penelitian ini adalah KPRI berkualitas yang ada di eks karesidenan Banyumas, eks karesidenan Pekalongan dan eks karesidenan Kedu.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa SDM yang diproksikan dengan pemahaman terhadap standar akuntansi keuangan (SAK) mempunyai pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap luas pengungkapan laporan keuangan. Komitmen organisasi dan regulasi keduanya sama-sama mempunyai pengaruh negative dan tidak signifikan terhadap luas pengungkapan laporan keuangan. Sarana dan prasarana berpengaruh positif dan signifikan terhadap luas pengungkapan laporan keuangan. Secara simultan keempat faktor di atas mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap luas pengungkapan laporan keuangan.
The aims of research is to determine the influence of human resources
(HR), organizational commitment, regulation, facilities and infrastructure of the
extensive disclosures in financial reports on cooperative employee republic
Indonesia (KPRI) in Central Java. The sample was quality KPRI that is in the
former residency of Banyumas, former residency Pekalongan and former
residency Kedu.
Based on this research can be concluded that human resources is proxied
with an understanding of financial accounting standards (GAAP) has a positive
influence but not significant effect of the extensive disclosure of financial reports.
Organizational commitment and regulation are both have a negative influence
and not significant effect of the extensive disclosure of financial reports. Facilities
and infrastructure have positive influence and significant impact of the extensive
disclosure of financial reports. Simultaneously all four of the above factors have a
positive and significant impact of the extensive disclosure of financial reports.
118974856H1D008003Perilaku Mekanik Balok Castella dengan Variasi Bentuk Lubang Menggunakan SolidworksPada era pembangunan di Indonesia saat ini, banyak pekerjaan konstruksi bangunan menggunakan konstruksi baja sebagai struktur utama. Disamping kemampuan baja yang cukup besar untuk menahan kekuatan tarik dan tekan, baja juga mempunyai perbandingan kekuatan per volume yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan-bahan lainnya yang umum dipakai dalam struktur konstruksi. Dengan banyaknya keunggulan baja tersebut mengakibatkan meningkatnya permintaan terhadap baja dan membuat harga baja relatif tinggi, maka salah satu solusinya adalah dengan penggunaan balok castella dalam pelaksanaan konstruksi.
Dalam penelitian ini, dilakukan empat pemodelan benda uji. Meliputi balok kontrol, balok castella dengan lubang segienam, balok castella dengan lubang segiempat, dan balok castella dengan lubang lingkaran. Tujuan dari peneitian ini adalah untuk mengetahui kapasitas beban, daktilitas, kekakuan dan distribusi tegangan dari balok castella menggunakan SolidWorks.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa balok castella dengan lubang segienam memiliki beberapa perilaku mekanik yang paling tinggi, diantaranya memiliki kapasitas beban sebesar 125,56 KN, nilai kekakuan sebesar 21,865 KN/mm dan persentase distribusi tegangan yang sudah leleh sebesar 36,42%. Sedangkan untuk nilai daktilitas terbesar dimiliki oleh balok castella dengan lubang lingkaran yaitu sebesar 5,520.
In the era of development in Indonesia, lot of building construction using steel construction as the main structure. Besides steel capacity which is large enough to support tensile strength and pressure, steel also has the power per volume ratio is higher than with other materials generally used in construction structure. With so many advantages of steel result demand for steel increasing and steel prices are relatively high, then one of many problem solvings is using castella beam in construction.
In this study there were four object models, ie (1) control beam, (2) Castella beam with hexagonal holes, (3) Castella beam with rectangular hole, and (4) Castella beam with circular holes. The purpose of the study was to determine the load capacity, ductility, stiffness and stress distribution of the castella beam using SolidWorks.
The results of study indicated that the beam Castella hexagonal hole had some of the highest mechanical behavior, such as it had load capacity was equal to 125,56 KN, stiffness was equal to 21,865 KN/mm and percentage stress distribution at yield condition was equal to 36,42%. More over the value of the greatest ductility owned by the castella beam with circular holes was equal to 5,520.
118984857H1A009017UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI MINYAK ATSIRI DAGING BUAH PALA
(Myristica fragrans Houtt) DARI BANYUMAS TERHADAP Escherichia
coli DAN IDENTIFIKASI SENYAWA PENYUSUNNYA
Escherichia coli merupakan salah satu bakteri yang dapat menyebabkan infeksi. Umumnya masyarakat dalam mengobati penyakit infeksi terhadap bakteri sering menggunakan antibiotik, namun apabila digunakan secara berlebihan dan kurang terarah dapat mengakibatkan terjadinya resistensi, sehingga untuk mengatasinya diperlukan pencarian bahan alami sebagai alternatif pengobatan, salah satunya yaitu minyak atsiri daging buah pala. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri minyak atsiri daging buah pala dari Banyumas terhadap E. coli dan mengidentifikasi senyawa penyusunnya. Minyak atsiri dari serbuk daging buah pala kering diisolasi menggunakan metode destilasi air. Minyak atsiri yang diperoleh diuji sifat fisik dan dilakukan identifikasi senyawa penyusunnya menggunakan GC-MS. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan menggunakan metode difusi untuk mengetahui Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum (KHTM) terhadap E. coli. Rendemen minyak atsiri daging buah pala yang diperoleh sebesar 1,72 %. Minyak atsiri ini berwarna kuning pucat, berbau khas minyak pala dengan indeks bias sebesar 1,4939 dan bobot jenis sebesar 0,9530 g/cm3. Minyak atsiri daging buah pala diketahui memiliki 29 komponen kimia dan 5 komponen kimia terbesarnya adalah myristicin, terpinene-4-ol, α-terpineol, α-terpinen, dan γ-terpinen. Minyak atsiri daging buah pala terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap E. coli, yaitu dengan Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum (KHTM) pada konsentrasi minyak atsiri 1 % menghasilkan zona hambat sebesar 2,05 mm. Escherichia coli is a bacteria that can cause infection. Generally people in treating infectious diseases often use antibiotics againts bacteria, but when overused and less directional it can result in the occurrence of resistance. So that, it is necessary to look for the alternative treatment, natural ingredients one of them is the essential oil of nutmeg fruit flesh. This research aims to know the antibacterial activity of nutmeg fruit flesh of Banyumas against E. coli and identified the composed chemical compound. Essential oil of nutmegs dried meat powder was isolated using distilled water. Essential oil obtained tested physical properties and made identification of the composed chemical compound using GC-MS. Antibacterial activity assay is performed using diffusion method to determine Minimum Inhibitor Concentration Grows (MICG) against E. coli. Essential oil yield meat nutmegs was obtained amounted to 1.72 %. This colour of essential oil is pale yellow, smells of the typical oil of nutmeg with a refractive index of 1.4939 and 0.9530 g/cm3 of type weight. Essential oil of nutmeg fruit meat is known having 29 chemical components and the biggest five chemical components were myristicin, terpinene-4-ol, α-terpineol, α-terpinene, and γ-terpinene. Essential oil of nutmeg fruit flesh was proved having antibacterial activity against E. coli, with Minimum Inhibitor Concentration Grows (MICG) at concentration 1 % of essential oil yield drag zone amount to 2.05 mm.
118994859H1I011003PENGARUH WAKTU PERENDAMAN TELUR DALAM FORMALIN DENGAN KONSENTRASI BERBEDA TERHADAP DAYA TETAS DAN KELANGSUNGAN HIDUP BENIH
IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy)
Ikan gurami (Osphronemus gouramy) salah satu ikan diperairan Indonesia. Budidayanya sampai saat ini masih terkendala seperti kurang tersedianya benih berkualitas baik dalam jumlah cukup. Masalah yang dapat mempengaruhi produksi benih perlu diperhatikan, diantaranya penetasan telur dan kelangsungan hidup larva. Pada masa inkubasi telur ada beberapa faktor yang mempengaruhi penetasan adalah penyakit, disebabkan oleh tumbuhnya organisme patogen. Berdasarkan hal tersebut, untuk meningkatkan produksi benih maka daya tetas telur harus ditingkatkan. Caranya antara lain menghambat perkembangan organisme patogen melalui perendaman telur dalam formalin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu perendaman telur dalam formalin dengan konsentrasi berbeda serta waktu perendaman telur dan konsentrasi formalin yang tepat terhadap daya tetas telur dan kelangsungan hidup larva ikan gurami. Telur yang digunakan adalah telur yang sudah terbuahi >24 jam. Kombinasi perlakuan dalam penelitian adalah perbedaan konsentrasi formalin 0, 2, 4, dan 6 mL/L dan waktu perendaman telur 5 dan 10 menit Percobaan menggunakan wadah bervolume 2,5 L dengan padat tebar 25 butir/2 L. Pemeliharaan larva dilakukan selama 25 hari dan pakan berupa Artemia sp.. Penelitian dilakukan di Laboratorium Jurusan Perikanan dan Kelautan Unsoed. Hasil penelitian menunjukkan, waktu perendaman telur dalam formalin dengan konsentrasi berbeda tidak berpengaruh terhadap terhadap daya tetas dan kelangsungan hidup benih ikan gurami.Giant gouramy (Osphronemus gouramy) is a native fish of Indonesia. Raising giant gouramy is still constrained due to lack of availability of good quality fry in sufficient quantities, such as egg hatching and larval survival. During incubation, there are several factors which affect the hatching e.g. the growth of pathogen. Based on this, to inhibit pathogen agents it is proposed the immersion of eggs in formalin. The purpose of this study was to determine the time of immersion of eggs in different concentrations of formaldehyde. The effects of egg immersion time and the proper concentration of formaldehyde on egg hatchability and larval survival of giant gouramy were olso studied. The study was conducted at the Department of Fisheries and Marine Laboratorium Unsoed for 25 days. The eggs have been fertilized > 24 hours. Experiments using container of 2.5 L volume with stocking density of 25 ind/2 L. Treatments were the differences in concentration of formalin 0, 2, 4, and 6 mL/L and immersion time of 5 and 10 minutes. Results showed that the time of immersion of eggs in different concentrations of formaldehyde did not affect the hatchability and survival of giant gouramy fry.

119004860I1B006041GERUSAN LOKAL DI SEKITAR PILAR JEMBATAN
( TINJAUAN TERHADAP BENTUK PILAR DAN ARAH ALIRAN )
Aliran sungai yang mengalir secara terus menerus akan menyebabkan penggerusan tanah dasar di sekitar pilar akibat adanya perubahan pola aliran dan arah aliran. Untuk mengetahui penyebab dan akibat yang ditimbulkan oleh perubahan arah aliran dan pola aliran karena adanya pilar, maka dilakukan penelitian tentang gerusan lokal disekitar pilar dengan variasi bentuk dan sudut pilar terhadap arah aliran. Penelitian dilakukan di Laboratorium Hidraulika Universitas Jenderal Soedirman menggunakan flume dengan panjang 5 m, lebar 0,15 m, dan tinggi 0,25 m. Penelitian menggunakan 2 variasi bentuk pilar yaitu persegi dan lenticular dengan masing-masing sudut pilar yang diteliti adalah 0°, 5°, dan 10°. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa gerusan dengan kedalaman paling besar terjadi pada pilar persegi dengan sudut 10° yaitu sebesar 19 mm. Sedangkan gerusan dengan kedalaman paling kecil terjadi pada pilar lenticular dengan sudut 0° yaitu sebesar 5 mm.The stream which flows continuously will cause scouring the subgrade around pillars due to changes in flow patterns and flow direction. To know the causes and the impact by changes in flow direction and flow patterns due to the pillar, then it was conducted research of local scour around the pillars with various shapes and pillar angles to the direction of flow. The research was conducted at the Hydraulics Laboratory of Jenderal Soedirman University using a flume with a length of 5 m, width 0.15 m, and height 0.25 m. The research uses two pillar shape variations of square and lenticular, which each pillar angles studied are 0°, 5°, and 10°. The results shows that the deepest scour occurs in a square pillar with an angle of 10° is equal to 19 mm. While the smallest depth of scour occurs in lenticular pillar with 0° angle is equal to 5 mm.