Artikelilmiahs
Menampilkan 11.261-11.280 dari 50.406 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 11261 | 4195 | E1A008335 | PENERAPAN PERATURAN PEMERINTAH NO. 101 TAHUN 2000 TENTANG PENDIDIKAN DAN PELATIHAN JABATAN PEGAWAI NEGERI SIPIL (STUDI DI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH KABUPATEN BREBES) | ABSTRAK Pendidikan dan pelatihan jabatan merupakan salah satu usaha untuk mewujudkan kualitas aparatur seperti yang diharapkan, selain itu juga dapat menjadi sarana untuk merubah pola pikir manusia dalam menentukan tindakan dan mengambil suatu keputusan secara tepat. Pasal 31 Undang-undang No. 43 Tahun 1999 menentukan bahwa untuk mencapai daya guna dan hasil guna yang sebesar-besarnya diadakan pengaturan dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan jabatan PNS yang bertujuan untuk meningkatkan pengabdian, mutu keahlian, kemampuan, dan ketrampilan. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui jenis dan kriteria pegawai negeri sipil daerah serta penerapan Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2000 di Kabupaten Brebes. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yuridis normatif, dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan analisis. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari data sekunder yang disajikan secara sistematis dan di analisis dengan metode normatif kualitatif. Pasal 26 Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2000 Tentang Pendidikan Dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil, disebutkan bahwa instansi pembina pendidikan dan pelatihan di daerah adalah Badan Kepegawaian Daerah merupakan salah satu lembaga teknis daerah Kabupaten Brebes yang mengurusi administrasi kepegawaian pemerintah daerah, baik di pemerintah daerah Kabupaten atau Kota maupun pemerintah Provinsi. Penerapan pendidikan dan pelatihan jabatan Pegawai Negeri Sipil di Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes berdasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 Tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil yaitu dengan menggunakan model satu pintu (one stop service) secara terkoordinasi oleh lembaga pendidikan dan pelatihan dalam hal ini Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Brebes yang mempunyai tugas pokok dan fungsi dibidang kediklatan. Kata kunci : Pendidikan dan Pelatihan, PNS, BKD | ABSTRACT Education and training of office is one attempt to bring quality apparatus as expected, but it also can be a means to change the mindset of people in determining the action and take a decision accordingly. Article 31 of Law no. 43 Year 1999 determined that in order to achieve the efficiency and effectiveness of the large-held setting and providing education and training of civil servants positions aimed at increasing devotion, quality skills, abilities, and skills. The purpose of this study was to determine the types and criteria of regional civil servants and the implementation of Government Regulation no. 101 Year 2000 in Brebes. The method used in this research is normative, regulatory approaches and analytical approach. The data used in this study comes from secondary data presented in a systematic and normative analysis with qualitative methods. Article 26 of Government Regulation No. 101 Year 2000 on Education and Training for Civil Servants Title, builder mentioned that education and training institutions in the region is the Regional Employment Agency is one Brebes regional technical institutions in charge of personnel administration of local government in both local government and the City District Government or a Provincial . Implementation of education and training of civil servants in the office of the Local Government Brebes based on Government Regulation Number 101 Year 2000 on Education and Training for Civil Servants Title by using a model of the door (one stop service) is coordinated by the education and training institutions in this Brebes Regional Employment Agency which has the main tasks and functions of the field education and training positions. Keywords : Education and Training, PNS, BKD | |
| 11262 | 4203 | A1G005025 | EFISIENSI SALURAN PEMASARAN BENGKUANG (Pachyrrhizus erosus) DI KECAMATAN KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS (Efficiency marketing channels yam (Pachyrrhizus erosus) in Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas) | Banyaknya lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran bengkuang akan mempengaruhi panjang pendeknya rantai pemasaran dan besarnya biaya pemasaran. Besarnya biaya pemasaran akan mengarah pada semakin besarnya perbedaan harga antara petani produsen dengan konsumen, sehingga menjadikan ketidak efisienan pemasaran. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui saluran pemasaran bengkuang di Kecamatan Kembaran, mengetahui marjin pemasaran bengkuang pada setiap saluran pemasaran di Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas, mengetahui saluran pemasaran yang paling efisien menurut persentase biaya, keuntungan, dan farmer share, mengetahui saluran pemasaran bengkuang yang paling efisien secara teknis dan efisien secara ekonomis.Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Pengambilan sampel petani menggunakan metode simple random sampling dan didapat 69 petani. Pengambilan sampel pedagang menggunakan snowball sampling dan didapat 15 pedagang perantara sebagai sampel. Metode analisis yang digunakan adalah marjin pemasaran, farmer share, efisiensi teknis dan efisiensi ekonomis.Saluran pemasaran bengkuang di Kecamatan Kembaran terdiri dari lima saluran, yaitu (I) produsen - konsumen; (II) produsen – pengumpul - konsumen; (III) produsen - pedagang besar - konsumen; (IV) produsen – pengecer - konsumen dan (V) produsen – pengumpul - pedagang besar – pengecer - konsumen. Hasil analisis marjin pemasaran, saluran I sebesar Rp1.750,00 per kg; saluran II Rp2.000,00 per kg; saluran III Rp2.050,00 per kg; saluran IV sebesar Rp1.950,00 per kg dan saluran V sebesar Rp2.300,00 per kg. Saluran pemasaran I merupakan yang paling efisien karena, biaya pemasaranan paling kecil sebesar 22,2 persen dengan keuntungan sebesar 77,8 persen dan farmer share 100 persen. Saluran pemasaran paling efisien secara teknis adalah saluran III dan saluran pemasaran yang paling efisien secara ekonomis adalah saluran I. | The number of marketing agencies that are involved in the marketing of yam will influence short term market chain and the cost of marketing. The cost of marketing will lead to a growing price gap between the farmer producers and consumers, making marketing inefficiencies. The purpose of this study was to determine marketing channels in the District of twins yam, yam determine marketing margins on each channel marketing in Banyumas district twins, knowing the most efficient marketing channels according to the percentage of costs, benefits, and farmer share, knowing yam marketing channels in the most efficient in technically and economically efficient. The research method used was a survey. Sampling farmers using simple random sampling method and obtained 69 farmers. Sampling traders using snowball sampling and obtained a sample of 15 brokers. The method of analysis used is the marketing margin, share farmer, technical efficiency and economic efficiency. Marketing channels in the District of twins yam consists of five channels, namely (I) the producer - consumer; (II) producer – consumer - gatherers; (III) manufacturer – wholesaler - consumer; (IV) manufacturer – retailer - consumer and (V) producer – wholesaler – gatherer – retailer - consumer. The results of the analysis of marketing margins, channel I at Rp1.750, 00 per kg; channels II 2,000, 00 per kg; channels Rp2.050 III, 00 per kg, IV lines at Rp1.950, 00 per kg and V channels of Rp2.300, 00 per kg. I channel marketing is the most efficient because most small pemasaranan cost of 22.2 percent to a gain of 77.8 percent and 100 percent of the share farmer. The most efficient marketing channels is technically III channel and channel marketing is the most economically efficient channel I. | |
| 11263 | 4197 | G1A009093 | HUBUNGAN KADAR ANGIOTENSIN II DENGAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS PT. ASURANSI KESEHATAN DI PURWOKERTO | Latar belakang : Hipertensi dan diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular yang sering dijumpai saat ini. Penelitian di tingkat seluler menunjukkan adanya hubungan kadar glukosa darah dengan kadar angiotensin II. Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kadar angiotensin II dan kadar glukosa darah sewaktu pada penderita hipertensi esensial. Metode : Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional. Sampel dipilih dengan consecutive sampling. Responden penelitian adalah penderita hipertensi yang terdaftar di klinik Prolanis PT. Askes dan berusia lebih dari 45 tahun. Sampel darah diambil melalui darah vena untuk diukur kadar angiotensin II dan kadar glukosa darahnya. Pengukuran kadar glukosa darah menggunakan glukometer sedangkan pengukuran angiotensin II menggunakan Elisa Reader. Hasil : Rerata kadar angiotensin II pada responden adalah 22,97+32,98 pg/dl sedangkan rerata kadar glukosa darah adalah 115,37+52,98 mg/dl. Uji analisis bivariat menggunakan Rho Spearman menunjukkan nilai = 0.044 dan p = 0.819 (p>0,05). Kata kunci : angiotensin II, glukosa darah, hipertensi. | Background: Hypertension and diabetes mellitus are common non-communicable diseases recently. Research on cellular level shows the correlation between blood glucose and angiotensin II level. Aim: The aim of this study was to determine the relationship between angiotensin II and blood glucose levels in patients with essential hypertension. Methods: This study used cross-sectional. Samples were selected by consecutive sampling. The respondents were hypertensive patients enrolled in clinical Prolanis PT. Askes and over 45 years old. Blood samples were taken through a vein to measure angiotensin II level and blood glucose levels. Blood glucose level was measured by glucometer and angiotensin II level measured by Elisa Reader. Results: The mean levels angiotensin II on respondents was 22,97+32,98 pg / dl, while the mean blood glucose level was 115,37+52,98 mg/dl. Bivariate analyzes test using Spearman's Rho showed the value of r = 0.044 and p = 0.819 (p> 0.05). Conclusion: There was no correlation between angiotensin II level with blood glucose levels in patients on “Prolanis Askes” with hypertension in Purwokerto. Keyword : angiotensin II, blood glucose, hypertension | |
| 11264 | 4199 | E1A008211 | Pergeseran Kewenangan Lembaga Negara Setelah Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 (Studi Terhadap Majelis Permusyawaratan Rakyat) | ABSTRAK Dalam amandemen yang terjadi pada Undang-Undang Dasar 1945 yang terjadi dari Tahun 1999-2002, terjadi dampak yang cukup signifikan terhadap ketatanegaraan di Indonesia. Amandemen yang terjadi dalam UUD 1945 tersebut telah merubah tata pemerintahan Indonesia saat ini, khususnya terhadap lembaga-lembaga negara. Sebelum amandemen UUD 1945, dijelaskan dalam Pasal 1 ayat (2) bahwa kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. Berdasarkan ketentuan tersebut, maka dapat diartikan bahwa MPR sebagai pemegang mandat dari rakyat. Artinya, MPR adalah pemegang kedaulatan rakyat yang mempunyai kekuasaan yang sangat tinggi sehingga dikatakan sebagai lembaga tertinggi negara. Selain itu kewenangan MPR pun antara lain menetapkan UUD, menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), memilih dan melantik Presiden dan/atau Wakil Presiden. Namum setelah terjadinya amandemen UUD 1945, Pasal 1 ayat (2) dirubah menjadi “Kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-undang Dasar”. Dengan demikian MPR tidak lagi sebagai pemegang kedaulatan rakyat tertinggi, dan Lembaga Tertinggi Negara namun sejajar dengan lembaga negara lainnya yaitu menjadi Lembaga Negara. Selain itu tugas dan wewenang Majelis Permusyawaratan Rakyat juga mengalami perubahan yang cukup signifikan dari sebelumnya, yaitu MPR berwenang mengubah dan menetapkan UUD, MPR melantik Presiden dan/atau Wakil Presiden, Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dapat memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya menurut Undang-Undang Dasar. Susunan dan keanggotaan MPR yang diatur dalam Pasal 2 ayat (1) UUD 1945 menyatakan bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota Dewan Permusyawaratan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui pemilihan umum dan diatur lebih lanjut dengan undang-undang”. | ABSTRACT In the amendment of the Constitution of 1945, which occurred from the year 1999-2002, there was a significant effect of the administration in Indonesia. The amandement in the 1945 Constitution has changed the governance Indonesia today, especially against state institutions. Prior to the amendment of the 1945 Constitution, described in Article 1, Section (2) that the sovereignty in the hands of the people and carried on by the MPR. Under these provisions, it means that the People’s Consultative Assembly as a mandate from the people. That is, the Assembly is the sovereign power of the people who have very high that is said to be the highest state institution. The authority of People’s Consultative Assembly are enact the Constitution, enact GBHN, select and inaugurate the President and / or Vice President. After the amendment of the 1945 Constitution, Article 1, section (2) was changed to "Sovereignty in the hands of the people and implemented in accordance with the Constitution". People’s Consultative Assembly is no longer a holder of supreme sovereignty, and the highest state institution, but apar with other state institution is a state institution. Besides the duties and authority of the People’s Consultative Assembly also experienced significant changes from the previous, the Assembly authorized the amendment and establish the Constitution, the Assembly inaugurate the President and / or Vice President, the People’s Consultative Assembly can only dismiss the President and / or Vice President in his term by basic law. The structure and membership of the Assembly under Article 2 section (1) of the 1945 Constitution states that the People’s Consultative Assembly consists of members of the House of Representative and the Regional Representative Council members elected through general elections and further regulated by law ". | |
| 11265 | 4198 | E1A008350 | FUNGSI KEMENTERIAN NEGARA DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 39 TAHUN 2008 TENTANG KEMENTERIAN NEGARA | ABSTRAKSI Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsi kementerian negara dalam penyelenggaraan pemerintahanan yang berdasarkan pada Undang-undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara. Berdasarkan Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945, Negara Indonesia adalah Negara kesatuan yang berbentuk Republik. Berdasarkan hal itu dapat disimpulkan bahwa bentuk Negara Indonesia adalah kesatuan, sedangkan bentuk pemerintahannya adalah Republik. Selain bentuk Negara kesatuan dan bentuk pemerintahan Republik, Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan sebagai kepala Negara dan sekaligus sebagai kepala pemerintahan. Hal itu didasarkan pada Pasal 4 Ayat 1 UUD 1945 Dengan demikian, sistem pemerintahan di Indonesia menganut sistem pemerintahan presidensial. Dalam melaksanakan kedudukannya, seorang Presiden di bantu oleh Wakil Presiden dan juga dibantu oleh Menteri-menteri yang memimpin suatu Departemen tertentu. Dan Menteri tersebut di angkat dan diberhentikan oleh Presiden. Urusan tertentu itu dalam pemerintahan tersebut adalah Kementerian yang menangani urusan pemerintahan yang nomenklatur kementeriannya dan ruang lingkupnya disebutkan dalam UUD 1945, Kementerian yang menangani urusan pemerintahan yang ruang lingkupnya disebutkan dalam UUD 1945, Kementerian yang menangani urusan pemerintahan dalam rangka penajaman, koordinasi, dan sinkronisasi program pemerintah. | ABSTRACT The purpose of this study was to determine the functions of line ministries in the implementation of governing based on Law Number 39 of 2008 concerning State Ministries. Under Article 1 section (1) of the Constitution of 1945, Indonesia is a country that shaped the unity of the Republic. Based on this it can be concluded that the shape of the State of Indonesia is a unity, whereas the form of government is a Republic. Aside form the a unity state and the form of government of the Republic, the President of the Republic of Indonesia holds the power as well as the head of state and head of government. That was based on Article 4 section (1) of the 1945 Constitution allows the system of government in Indonesia adopts a presidential system of government. In implementing its position, a President assisted by the Vice President and is assisted by the Ministers of State who leads a particular ministry. And minister in the lift and dismissed by the President. Certain matters in governance based on the Law Number. 39 of 2008 it is the Ministry which handles government affairs ministry nomenclature and scope specified in the 1945 Constitution, the government ministry who handles the scope specified in the 1945 Constitution, the government ministry who handles the order sharpening, coordination, and synchronization of government programs. | |
| 11266 | 4200 | G1A008095 | PENGARUH KETAATAN BERKACAMATA TERHADAP PROGRESIFITAS DERAJAT MIOPIA PADA PASIEN PELAJAR DI KLINIK MATA RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO | Latar Belakang: Miopia adalah salah satu penurunan tajam penglihatan yang apabila progresifitasnya tidak ditanggulangi, dapat mengalami berbagai risiko komplikasi kebutaan seperti ablasio retina dan glukoma. Koreksi pada miopia perlu diperhatikan untuk mendapatkan tajam penglihatan yang sempurna dan salah satu alat yang dipakai adalah kacamata. Terdapat perbedaan pendapat dari penelitian-penelitian sebelumnya mengenai pengaruh ketaatan dalam pemakaian kacamata terhadap progresifitas derajat pada miopia. Tujuan: Mengetahui pengaruh ketaatan pemakaian kacamata terhadap progresifitas derajat miopia pada pelajar yang berobat ke klinik mata RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo. Metode: Penelitian ini menggunakan studi penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Responden berjumlah tiga puluh empat orang yang diambil secara purpossive sampling. Data ketaatan dalam menggunakan kacamata diperoleh dari wawancara dan pengisian kuesioner yang diberikan kepada responden. Data progresifitas derajat miopia diperoleh dengan pemeriksaan kacamata yang digunakan sekarang dengan alat lensometer dan pemeriksaan derajat miopia sekarang dengan menggunakan autorefraktometer, snellen, dan trial lenses. Analisis data diolah secara statistik menggunakan uji chi square (X2). Hasil : Hasil analisis bivariat menggunakan uji chi square (X2) menunjukan bahwa terdapat pengaruh ketaatan pemakaian kacamata terhadap progresifitas derajat miopia pada pelajar yang berobat ke klinik mata RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo dengan nilai p=0,026 (p<0,05) dan OR = 6,750 Kesimpulan: Ketaatan pemakaian kacamata memiliki pengaruh yang signifikan terhadap progresifitas derajat miopia pada pelajar yang berobat ke klinik mata RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo. Pelajar yang tidak taat dalam berkacamata memiliki risiko 6,750 kali lebih besar untuk mengalami peningkatan dalam progresifitas derajat miopia dibandingkan dengan anak yang taat dalam berkacamata. | Background: Myopia is one of the decrease of vision and if the progression not be solved, it may experience a variety of blindness risk of complications such as retinal detachment and glaucoma. The correction of myopia is important to get a perfect vision and one of the tools used is eyeglasses. There are some different opinions from the previous studies regarding of the influence of the obedience in the use of glasses toward progressive degrees of myopia. Purpose: To determine the influence of the obedience in the use of glasses toward progressive degrees of myopia in students who came to medical treatment at RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo. Method: This study method was observational studies with a cross sectional analytic. The total respondents were thirty four people and were obtained by purposive sampling. The data of the obedience of wearing glasses obtained from interviews and questionnaires which were given to respondents. The degrees of myopia progression data obtained by examination of glasses which are used recently using lensometer and examination of the degrees of myopia by autorefractometer, Snellen, and trial lenses. Analysis of data was processed statistically using chi square test (X2). Result: The results of the bivariate analysis using chi square test (X2) showed that there is an influence obedience of wearing glasses towards the myopia degrees progression in the students who came to the hospital eye clinic Prof. DR. Margono Soekarjo with p = 0.026 (p <0.05) and OR = 6.750 Conclusion: The obedience of wearing glasses has a significant effect on the degree of myopia progression in students who came to the hospital eye clinic Prof. DR. Margono Soekarjo. Students who do not obey wearing glasses had 6.750 times higher risk for experiencing an increase in the degree of myopia progression compared to student who obey wearing glasses. | |
| 11267 | 4201 | G1G008055 | PENGARUH APLIKASI EKSTRAK AIR BAWANG PUTIH (Allium sativum LInn) KONSENTRASI 10% SECARA TOPIKAL TERHADAP JUMLAH FIBROBLAS (Kajian Histologis pada Proses Penyembuhan Luka Gingiva Tikus Putih Sprague dawley) | Bawang putih merupakan bahan alami yang digunakan oleh masyarakat luas sebagai obat tradisional. Bawang putih mengandung allicin yang berkhasiat sebagai antiinflamasi. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan adanya senyawa allicin dalam ekstrak air bawang putih dan pengaruh aplikasi ekstrak air bawang putih konsentrasi 10% secara topikal terhadap jumlah fibroblas pada proses penyembuhan luka gingival tikus. Pada penelitian ini digunakan 36 ekor tikus putih jantan galur Sprague dawley, usia ± 3 bulan, berat badan 180-250 gram yang dibagi secara acak menjadi 3 kelompok, yaitu: kelompok perlakuan yang diberi ekstrak air bawang putih, kelompok kontrol positif yang diberi sediaan obat di pasaran yang mengandung zat aktif aloe vera, maltodextrin, propylene glycol, PVP, kalium sorbate, natrium benzoate, hydroxyethylcellulose, PEG 40, hydrogenated glycyrrhetic acid dan kelompok kontrol negatif yang diberi aquades. Masing-masing terdiri atas 4 ekor tikus berdasarkan periode dekapitasi yaitu hari ke-3, 5 dan 7. Pada semua kelompok tikus dibuat perlukaan pada gingiva labial rahang bawah, di antara gigi insisif kanan dan kiri dengan menggunakan punch biopsy berdiameter 2 mm. Pada daerah luka, setiap kelompok diaplikasikan agen terapeutik. Pada hari ke-3, ke-5, dan ke-7 dilakukan dekapitasi sesuai dengan kelompoknya. Jaringan luka dibuat preparat histologis kemudian dilakukan pengamatan gambaran histologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak air bawang putih mempunyai efek penyembuhan luka dilihat dari adanya fibroblas pada hari ke-3, meningkat pada hari ke-5 dan menurun pada hari ke-7. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terbukti adanya allicin di dalam ekstrak air bawang putih dan aplikasi topikal ekstrak air bawang putih konsentrasi 10% berpengaruh terhadap jumlah fibroblas pada proses penyembuhan luka gingiva tikus putih galur Sprague dawley. | Garlic is a natural herb which can be used by people as a traditional medicine. Garlic contains allicin which may has an act as anti-inflammatory effect. The aim of this study was to investigate the existence of the compound allicin in water garlic extract and the topical application effect of 10% water garlic extract on the gingival wound healing process on white Sprague dawley rat by mean of the number of fibroblast. This study used 36 male Sprague dawley rats, ± 3 months age, body weight 180-250 gram were divided randomly into 3 groups: the treatment group was given water garlic extract, positive control group which was given the drug dosage on the market contains the active ingredient aloe vera, maltodextrin, propylene glycol, PVP, potassium sorbate, sodium benzoate, hydroxyethylcellulose, PEG 40, hydrogenated glycyrrhetic acid and the negative control group was given distilled water. Each groups consisting of 4 rats by decapitation period of day 3rd, 5th, and 7th. All rats were wounded on the mandibular labial gingiva, between right and left incisor teeth using punch biopsy (Ø 2 mm). In the area, each groups was applied the therapeutic agents. The rat were decapitated in the day 3rd, 5th and 7th after. Histological preparations were made of scar tissue then performed histological observations. The results showed that water garlic extract had seen the wound healing effects of the fibroblasts on day 3, increased on day 5 and decreased on day 7. The conclusion of this study is the topical application of 10% water garlic extract could affect the gingival wound healing process of white Sprague dawley rat by mean of the number of fibroblast. | |
| 11268 | 4202 | G1A008029 | PERBEDAAN EFEKTIVITAS METODE DETEKSI DENGAN ACTIVE CASE FINDING DAN PASSIVE CASE FINDING DALAM PENEMUAN PENDERITA MALARIA POSITIF DI KABUPATEN CIAMIS TAHUN 2011 | Latar Belakang: Penyakit malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Plasmodium sp. dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles sp. betina. Sistem deteksi malaria penting dilakukan sebagai Sistem Kewaspadaan Dini terhadap terjangkitnya kasus malaria berat yang dapat dilakukan dengan metode ACF dan PCF. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan efektivitas metode deteksi dengan ACF dan PCF dalam penemuan malaria positif di Kabupaten Ciamis tahun 2011. Metode: Penelitian ini menggunakan studi observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subyek berjumlah 827 penderita malaria klinis yang didapatkan dari data sekunder di Puskesmas Tingkat Kecamatan yang ditemukan dengan metode deteksi ACF dan PCF, subyek diambil menggunakan total subyek yang memenuhi kriteria penelitian. Analisis data diolah secara statistik menggunakan uji chi square (x2) untuk menilai perbedaan metode deteksi ACF dan PCF. Hasil : Jumlah sediaan darah positif berjumlah 34 penderita yang diperiksa menggunakan metode ACF sebanyak 31 penderita (5,1%) lebih efektif dalam menemukan penderita malaria positif dibandingkan dengan metode PCF sebanyak 3 penderita (1,4%). Hasil analisis bivariat menggunakan uji chi square (x2) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan efektivitas metode deteksi ACF dan PCF dalam penemuan penderita malaria positif dengan nilai p=0,028 (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat perbedaan efektivitas metode deteksi dengan Active Case Finding dan Passive Case Finding dalam menemukan penderita malaria positif di Kabupaten Ciamis tahun 2011. Metode ACF lebih efektif dari PCF sehingga diharapkan metode ACF digunakan di seluruh desa endemis di Kabupaten Ciamis dalam menemukan penderita malaria. | Background: Malaria is an infectious desease caused by parasite Plasmodium sp. and transmitted through the bite of females Anopheles sp. Malaria detection system is important as early alert system of severe cases malaria that can be done using the ACF and PCF. Purpose: To distinguish the effectiveness of the detection method between ACF and PCF in a positive malaria detecting in Ciamis District 2011. Method: This study used an observational study with cross sectional approach. Sample included 827 subjects diagnosed with clinical malaria based on secondary data from the District Public Health Centers which detected by the ACF and PCF methode, sample was taken using the total subjects based on research criteria. Analysis processed statistically using Chi-square test (x2) to assess differences in detection methods ACF and PCF. Result: The number of positive blood samples from total 34 patients using the ACF were 31 patients positive (5,1%) more effective compared to the PCF which 3 patients positive (1,4%). The result of the bivariate analysis using Chi-square test (x2) showed that there are differences in the effectiveness of the detection method using ACF and PCF in the detecting of malaria positive with a value of p= 0.028 (p <0.05). Conclusion: There are differences in the effectiveness of the detection method with Active Case Finding and Passive Case Finding in detecting positive malaria in Ciamis District 2011. ACF method is more effective than the PCF so expect ACF method used in all the endemic villages in Ciamis District to finding people with malaria | |
| 11269 | 4204 | G1G008008 | PENGARUH WAKTU DAN KONSENTRASI ZAT AKTIF KARBAMID PEROKSIDA SEBAGAI BAHAN BLEACHING TERHADAP KEKERASAN RESTORASI RESIN KOMPOSIT NANOFILLER | Perawatan kasus perubahan warna gigi dapat dilakukan melalui pemutihan (bleaching). Umumnya pasien yang melakukan perawatan bleaching pernah melakukan perawatan restorasi gigi resin komposit. Salah satu faktor bahan restorasi resin komposit yang baik adalah memiliki kekerasan/ indentasi yang baik terhadap tekanan kunyah. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kekerasan restorasi resin komposit adalah bleaching dan saliva. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh waktu dan konsentrasi zat aktif karbamid peroksida sebagai bahan bleaching terhadap kekerasan resin komposit nanofiller. Jenis penelitian adalah eksperimental laboratoris yang terbagi menjadi 4 kelompok perlakuan sampel dan 1 kelompok kontrol. Pada penelitian ini komposit nanofiller akan diberi perlakuan bleaching selama 7 hari dengan konsentrasi 10% (10 jam/ hari), 15% (6 jam/ hari), 20% (4 jam/ hari) dan 35% (30 menit/ hari) dan dialiri dengan saliva artifisial sesuai dengan sisa waktu perlakuan per konsentrasi untuk mencapai fase waktu 1 hari. Hasil penelitian menunjukan nilai kekerasan untuk perlakuan konsentrasi 10%, 15%, 20%, dan 35% masing-masing bernilai 64,36 VHN, 63,32 VHN, 59,28 VHN, dan 63,38 VHN, sementara kontrol memiliki nilai 67,78 VHN. Hasil uji Anova menunjukan terdapat pengaruh perbedaan bermakna antara perlakuan bleaching dengan kekerasan komposit dengan nilai p=0,01 (p<0,05). Hasil Uji LSD didapatkan hasil bahwa kelompok perlakuan bleaching dengan konsentrasi 20% menunjukan efek penurunan kekerasan komposit yang bermakna dari seluruh kelompok perlakuan lain. Simpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan bermakna pengaruh konsentrasi bleaching dan variasi konsentrasi bleaching terhadap kekerasan restorasi resin komposit nanofiller. | Treatment in cases of tooth discoloration is bleaching. Bleaching done to restore the aesthetic function of the color of the teeth. Generally patient who wants the bleaching treatment has ever did dental restoration using composite resin. Biocompatibility of composite resin restorative material is non-toxic, biocompatible and has a hardness/ good indentation material for pressure. Hardness of resin composite affected by the polymerization process, material thickness, and intake of food or drink consumed and saliva. The purpose of this study was to assess the effect of concentration chemical product carbamide peroxide as the bleaching agent due to the hardness of restoration resin composite nanofiller. Research with pure laboratory of experimental method was divided into 4 group and 1 control. In this study, nanofiller composites will be treated by bleaching for 7 days with a concentration of 10% (10 hours/ day), 15% (6 hours/ day), 20% (4 hours/ day) and 35% (30 min/ day) and flowed with artificial saliva according to the remaining treatment of bleaching time per phase to achieve a 1 day. The research showed the value of hardness for the treatment concentration of 10%, 15%, 20%, and 35% is 64.36 VHN, 63.32 VHN, VHN 59.28 and 63.38 VHN, and the control 67,78 VHN. Anova test are significant differences between the bleaching to the hardness of composite showing the value of p=0,01 (p<0,05). Followed by LSD test showed that the group treated with a concentration of 20% bleaching effect showed a significant reduction in the composite hardness of all other treatment groups. The conclusion of this study are significant difference in the concentration effect and variation of bleaching concentration on hardness of restorations resin composite nanofiller. | |
| 11270 | 4205 | C1J007004 | THE DETERMINANT OF AGRICULTURAL CREDIT AT BRI PURBALINGGA (I: 2011-VII: 2012) | Penelitian ini berjudul "Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyaluran Kredit Pertanian di BRI Purbalingga (I: 2011-VII: 2012) Penyaluran kredit oleh BRI Purbalingga juga diberikan kepada sektor pertanian. Penelitian ini didasari oleh fenomena belum optimalnya kredit untuk sektor pertanian yang dilakukan oleh BRI Purbalingga, ini ditunjukkan dengan pangsa kredit pertanian berkisar sekitar 10 persen, sedangkan sektor pertanian merupakan sektor yang memberikan kontribusi PDRB terbesar Purbalingga, oleh karena itu diperlukan pengujian untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan kredit oleh BRI Purbalingga, yang meliputi Dana Pihak Ketiga terdiri dari giro, tabungan, dan deposito berjangka, non-performing loan, dan Inflasi. Penelitian dilakukan di Purbalingga BRI dari Januari 2011 sampai Juli 2012 (bulanan). Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda, pengujian hipotesis menggunakan t - test untuk mengetahui pengaruh variabel parsial dan sementara F - test untuk menguji pengaruh variabel secara simultan dengan tingkat signifikansi 10%. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa giro tidak berpengaruh signifikan dan negatif, tabungan berpengaruh positif dan signifikan, deposito berjangka tidak berpengaruh signifikan dan negatif, non-performing loan berpengaruh positif dan signifikan, sementara inflasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pertanian kredit. Untuk meningkatkan penyaluran kredit pertanian, Purbalingga BRI harus mengoptimalkan penyerapan dana dari masyarakat, terutama dari tabungan yang memberikan kontribusi terbesar terhadap Dana Pihak Ketiga, memiliki manajemen kredit yang baik agar NPL tetap dalam tingkat rendah dan dalam batas-batas yang diatur oleh Bank Indonesia serta Pemerintah Purbalingga perlu menjaga stabilitas harga terutama dari sumber makanan yang merupakan kontributor terbesar terhadap komponen inflasi di Purbalingga | The study is titled "The Determinant of Agricultural Credit at BRI Purbalingga (I: 2011-VII: 2012). Credit distributions by BRI Purbalingga are also given to the agricultural sector. The research was motivated by the phenomenon of non optimal lending to the agricultural sector in Purbalingga conducted by BRI Purbalingga. This is indicated by the share of agricultural credit ranges about 10 percent, while the agricultural sector is a sector that contributes the largest GDRP Purbalingga. It is therefore necessary to test the factors that influence credit policy by BRI Purbalingga., which includes the Third Party Funds consist of demand, savings, and time deposits, non-performing loans, and Inflation. The research was conducted at the BRI Purbalingga the study period from January 2011 to July 2012 (monthly). The analysis technique used is multiple linear regressions, hypothesis testing use t - test to determine the effect of partial variables and while F - test to test the effect of variables simultaneously with a significance level of 10%. Based on the research results that the demand deposit has not significant and negative effect, saving deposits are positive and significant, time deposits has not significant and negative effect, non-performing loans have positive and significant, while inflation has positive and significant impact on agricultural credit. To increase agricultural lending, the BRI Purbalingga must optimally raise funds from members, primarily from savings that the largest contribution to Third Party Funds, have a good credit management in order NPL remain in low levels and within the limits required by Bank Indonesia and the Government of Purbalingga need to maintain price stability especially from food sources which is the biggest contributor to inflation component in Purbalingga | |
| 11271 | 4207 | A1L008215 | PENGARUH PEMUPUKAN NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL LIMA GENOTIPE PADI HASIL PERSILANGAN SILUGONGGO X G39 DALAM RANGKA PEMBENTUKAN VARIETAS UNGGUL PADI GOGO GENJAH BERDAYA HASIL TINGGI | Penelitian pengaruh pemupukan NPK terhadap hasil dan pertumbuhan galur F5 hasil persilangan Silugonggo dan G39 dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Mei 2012 di Rumah Kaca Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, bertujuan untuk mengetahui: 1) pengaruh pemupukan N, P dan K terhadap pertumbuhan dan hasil galur-galur hasil persilangan Silugonggo dan G39, dan 2) dosis pemupukan yang optimal untuk setiap galur F5 hasil persilangan Silugonggo dan G39. Penelitian mengunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) diulang tiga kali. Faktor pertama: genotipe padi F5 hasil persilangan Silugonggo dan G39 serta satu varietas Silugonggo dan galur G39 (varietas dan galur cek); faktor kedua: kombinasi pemupukan Urea (N 45%) dan NPK (15:15:15), P1: Urea dosis 80kg N/ha dan NPK dosis 60kg/ha, P2: Urea dosis 160kg N/ha dan NPK dosis 120kg/ha, P3: Urea dosis 240kg N/ha dan NPK 180 kg/ha. Hasil penelitian menunjukan 1) meningkatnya dosis pupuk secara berurutan P1, P2 dan P3 mampu meningkatkan jumlah anakan total, jumlah gabah per malai dan bobot gabah kering per rumpun dan 2) hasil tertinggi pada galur F5 hasil persilangan Silugonggo dan G39 dicapai pada pemupukan Urea 240kg/ha dan NPK 180 kg/ha | Study the influence of NPK fertilization on the yiel and growth of F5 lines from crosses Silugonggo and G39 held in January to May 2012 at the Greenhouse Plant Breeding and Biotechnology Laboratory of the University General Sudirman Purwokerto, aims to determine: 1) the influence of fertilizer N, P and K on growth and yield lines from crosses Silugonggo and G39, and 2) the optimal dosage of fertilizer for each lines F5 from crosses silugonggo and G39. Research using complete randomized block design (RAKL) repeated three times. The first factor: F5 genotypes from crosses Silugonggo and G39 as well as a variety Silugonggo and G39 lines (varieties and lines checks), the second factor: a combination of fertilizer urea (45% N) and NPK (15:15:15), P1: Urea dosage 80kg N/ha and NPK dosage 60kg/ha, P2: Urea dosage of 160kg N/ha and 120kg/ha NPK dosage, P3: Urea dose of 240kg N/ha and 180 kg NPK/ha. The results showed 1) increased dosage fertilizer sequence P1, P2 and P3 to increase the total number of tillers, number of grains per panicle and grain dry weight per hill and 2) the highest yield in strain F5 and G39 from crosses Silugonggo reached at 240kg/ha urea fertilizer NPK and 180 kg/ha. | |
| 11272 | 4208 | C1B009014 | ANALISIS FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN HUTANG PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA | Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh faktor pertumbuhan perusahaan, ukuran perusahaan, likuiditas, profitabilitas dan risiko bisnis terhadap kebijakan hutang. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan diperoleh 51 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 2008 sampai 2010 sebagai sampel penelitian. Untuk menguji hipotesis digunakan model regresi linier berganda dengan uji asumsi klasik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan perusahaan, ukuran perusahaan, profitabilitas, dan risiko bisnis mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan hutang. Sedangkan likuiditas tidak mempunyai pengaruh terhadap kebijakan hutang. Kata kunci : Pertumbuhan perusahaan, Ukuran perusahaan, Likuiditas, Profitabilitas, Risiko bisnis, Kebijakan hutang. | The purpose of research is to analyze the effect of Firm Growth, Company Size, Liquidity, Profitability and Bussines Risk on Debt Policy. This research method used purposive sampling and there are 51 manufacture companies which listed in Indonesian Stock Exchange during 2008 until 2010 as observation data. To prove the hypothesis of this research is applied Multiple Linier Regression Model with classic assumption. The result of this research shows that Firm Growth, Company Size, Profitability, and Bussines Risk have significant influence to Debt Policy, while Liquidity have no influence to Debt Policy. Keywords: Firm Growth, Company Size, Liquidity, Profitability, Bussines Risk, Debt Policy. | |
| 11273 | 4215 | A1C008012 | POTENSI WILAYAH DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS SAYURAN DI KABUPATEN BANYUMAS | Potensi yang dimiliki suatu wilayah berbeda-beda, hal ini dikarenakan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia menyebar tidak merata. Kabupaten Banyumas memiliki potensi untuk melakukan pengembangan komoditas sayuran di masing-masing wilayah kecamatan karena mempunyai jumlah dan kualitas faktor lokasi yang berbeda-beda dalam menunjang pertumbuhan kegiatan pertanian. Oleh karena itu, perlu dilakukan identifikasi mengenai jenis-jenis komoditas sayuran sekaligus mengkaji perkembangannya, agar dapat ditemukan beberapa komoditas yang mempunyai potensi untuk dikembangkan di setiap kecamatan. Komoditas sayuran yang diteliti adalah sawi, kacang panjang, cabai, tomat, terung, buncis, mentimun, kangkung, bayam dan selada. Data yang digunakan adalah data sekunder jumlah produksi dan luas tanam tahun 2007 dan tahun 2011. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) potensi setiap wilayah kecamatan terhadap jenis-jenis komoditas sayuran yang menjadi komoditas basis, (2) pola distribusi (penyebaran) jenis-jenis komoditas sayuran pada setiap wilayah kecamatan, (3) tingkat spesialisasi jenis-jenis komoditas sayuran pada setiap wilayah kecamatan di Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Alat analisis yang digunakan yaitu Location Quotient (LQ), Net shift Analysis, Super Impose, Koefisien Lokalisasi (α) dan Koefisien Spesialisasi (β). Hasil penelitian menunjukkan: (1) Setiap wilayah kecamatan memiliki paling sedikit dua komoditas sayuran basis dan paling banyak tujuh komoditas sayuran basis, (2) Diantara sepuluh jenis sayuran yang diteliti, tiga jenis sayuran diantaranya berkecenderungan terpusat sedangkan tujuh jenis sayuran lainnya berkecenderungan terdistribusi merata hampir di seluruh wilayah kecamatan, (3) Empat kecamatan berkecenderungan terjadi spesialisasi sedangkan dua puluh tiga kecamatan lainnya tidak memiliki kecenderungan berspesialisasi. | Different of potential area is caused by natural and human resources that not evenly spread. Banyumas has the potential to developing vegetable comodity in every districts area because it has the number and quality factors in different locations to support the growth of their agricultural activities. Therefore, it is necessary to identify in detail the vegetables as well as reviewing progress, in order to find some commodities that have the potential to be developed in each district. Vegetables comodities that identify were mustard greens, green beans, peppers, tomatoes, eggplant, green beans, cucumbers, kale, spinach and letuce. The secondary data that used are data of yield and acreage in 2007 and 2011. The purpose of this study is to determine: (1) potential of each sub-district to the types of vegetables are a commodity basis, (2) distribution pattern (spread) the types of vegetables in each sub-district, (3) level of specialization vegetable species in each subdistrict in Banyumas. The method used is a case study. The analysis tools are Location Quotient (LQ), Net Shift Analysis, Super impose, localization coefficient (α) and the specialization coefficient (β).The results showed: (1) each sub-district has at least two bases vegetables and most vegetables seven bases., (2) Among the studied ten types of vegetables, three kinds of vegetables including central tendency and seven types of vegetables tend almost uniformly distributed throughout the district, (3) Four sub-specialties tended occurred while twenty-three other districts do not have a tendency to specialize. | |
| 11274 | 4232 | G1F008069 | FORMULASI SEDIAAN GEL EKSTRAK ETANOL BIJI PEPAYA IPB-9 (Carica papaya L. `California`) DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI TERHADAP Staphylococcus aureus | FORMULASI SEDIAAN GEL EKSTRAK ETANOL BIJI PEPAYA IPB-9 (Carica papaya L. `California`) DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI TERHADAP Staphylococcus aureus INTISARI Biji buah pepaya (Carica papaya) dengan kandungan senyawa kimia alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak etanol biji pepaya menjadi gel yang memenuhi syarat uji sifat fisik sediaan dan mengetahui aktivitas antibakterinya. Ekstraksi simplisia dilakukan secara maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Identifikasi senyawa aktif dilakukan secara kualitatif menggunakan pereaksi warna. Pembuatan sediaan gel menggunakan basis methocel K15M dengan variasi ekstrak etanol biji pepaya 1% b/v, 2% b/v, 3% b/v dan 4% b/v. Sediaan gel yang terbentuk diuji kestabilan, sifat fisik, dan uji aktivitas antibakteri sediaan gel menggunakan metode difusi sumuran dengan mengukur diameter zona hambat. Kontrol positif menggunakan salep tetrasiklin HCl dan kontrol negatif menggunakan basis gel tanpa ekstrak etanol biji pepaya. Data hasil pengukuran berupa viskositas, daya sebar, daya lekat, dan diameter zona hambat bakteri dianalisis dengan ANAVA satu arah dengan taraf kepercayaan 95%, sedangkan data organoleptis, homogenitas dan stabilitas fisik, dilakukan analisis data secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji pepaya dapat diformulasikan menjadi sediaan gel dan memenuhi syarat uji sifat fisik sediaan. Semua formula menunjukkan aktivitas antibakteri. Aktivitas antibakteri tertinggi diperoleh pada Formula 4 dengan zona hambat sebesar 19,58 mm. Kata kunci: Carica papaya, Staphylococcus aureus, gel, antibakteri | GEL FORMULATION ETHANOL EXTRACT FROM IPB-9 PAPAYA SEEDS (Carica papaya L. `California`) AND ANTIBACTERIAL ACTIVITY TEST TO Staphylococcus aureus ABSTRACT Seeds of papaya (Carica papaya) which contains chemical compounds such as alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, and triterpenoids that have antibacterial activity. This study aims were to formulate the ethanol extract of papaya seeds into gel that qualified of physical properties test and to determine the antibacterial activity. Extraction of simplisia obtained by maceration using ethanol 70%. Identification of active compound obtained according to qualitative by color reagent. Preparations of gel with basis methocel K15M with variation of ethanol extracts of papaya seeds that was 1% w/v, 2% w/v, 3% w/v and 4% w/v. Gel preparations were tested of the stability, physical properties, and the antibacterial activity test were using sumuran method by measuring the inhibition zone diameter. The positive control using tetracycline HCl ointment and negative controls using gel base without ethanol extract of papaya seeds. Data of physical gel and antibacterial activity were analyzed by one-way ANOVA with a level of 95%, while the data of organoleptic, homogeneity and physical stability, a descriptive analysis were used. The results showed that the ethanol extract of papaya seeds can be formulated into a gel preparation and qualified physical properties. All formula showed antibacterial activity. The highest antibacterial activity obtained in Formula 4 with inhibition zone of 19,58 mm. Keywords: Carica papaya, Staphylococcus aureus, gel, antibacterial | |
| 11275 | 4210 | C1L008047 | The Influence of Total Performance Scorecard in Improving Performance of Public Sector Organization (The Comparative Study on Public Hospital in Banajrnegara and Public Hospital in Wonosobo) | Penelitian dilakukan di daerah Banjarnegara dan Wonosobo dengan objek Rumah Sakit Publik di Banjarnegara dan Rumah Sakit Public di Wonosobo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membuktikan pengaruh dari Total Performance Scorecard dalam meningkatkan kinerja dari organisasi sektor publik, selain itu juga mengimplementasikan Total Performance Scorecard untuk mengukur perbandingan kinerja dari Rumah Sakit Public di Banjarnegara dan Rumah Sakit Publik di Wonosobo. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey. Tehnik pengumpulan data menggunakan interview, observasi dan kuisionair. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa: 1) Total Performance Scorecard mempengaruhi peningkatan kinerja Rumah Sakit Publik di Banjarnegara, 2) Total Performance Scorecard mempengaruhi peningkatan kinerja Rumah Sakit Publik di Wonosobo, 3) Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara Total Performance Scorecard dalam meningkatkan kinerja pada Rumah Sakit Publik di Banjarnegara dan Rumah Sakit Publik di Wonosobo. Berdasarkan penelitian, diharapkan dapat menjadi input bagi rumah sakit terkait dengan pengambilan kebijakan dalam peningkatan kinerja dan kualitas rumah sakit. | Research was conducted in Banjarnegara and Wonosobo region with objects floating Public Hospital in Banjarnegara and Public Hospital in Wonosobo. This study aims to analyze and prove the influence of total performance scorecard in improving peformance of public sector organizations, as well as test implemented total performance scorecard to measure the differences in performance of Public Hospital in Banjarnegara and Public Hospital in Wonosobo. This research method uses a survey method. Techniques of collecting data through in-depth interviews, observation and questionnaires. This study used quantitative analysis using the method of quantitative analysis or statistical test (primary analysis). The results showed that: 1) Implementation of total performance scorecard effect in improving performance of Public Hospital in Banjarnegara, 2) Implementation of total performance scorecard effect in improving performance of Public Hospital in Wonosobo, 3) There are no significant differences between the implementation Total performance scorecard in improving performance ofPublic Hospital in Banjarnegara and Public Hospital in Wonosobo. Based on these research, it is expected to become the hospital input on policies related to public services and decentralization of public health services better and equitable. | |
| 11276 | 4211 | E1A109004 | PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH (PERDA) BANJARNEGARA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN (STUDI DI DPRD KABUPATEN BANJARNEGARA) | Peraturan perundang-undangan merupakan peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga atau pejabat negara yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan . Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dalam pasal 7 ayat 1 menyebutkan jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan yang terdiri dari : a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang d. Peraturan Pemerintah e. Peraturan Presiden f. Peraturan Daerah Provinsi g. Peraturan Daerah Kabupaten Berkaitan dengan jenis peraturan perundang-undangan tersebut diatas bahwa peraturan daerah berdasarkan pada Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Banjarnegara Nomor 170/16 Tahun 2010 Tentang Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Banjarnegara. Rancangan Peraturan Daerah dapat diajukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah maupun Bupati, yang dibahas melalui dua tingkat pembicaraan yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah bersama dengan Bupati.Dan apabila rancangan Peraturan Daerah itu disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Bupati maka akan disampaikan kepada pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah untuk dilakukan penetapan | ABSTRACT Regulations are written rules that contains a binding legal norms in general and established or determined by the state agency or official authorized by the procedures set out in the legislation. Law Number 12 Year 2011 About Establishment of Legislation in article 7, paragraph 1 states the type and hierarchy of legislation consists of: a. Constitution of the Republic of Indonesia Year 1945 b. People's Consultative Assembly Decree c. Undang-Undang/Peraturan in Lieu of Law d. Government Regulation e. Presidential Regulation f. Provincial Regulation g. District Regulations In connection with this type of legislation mentioned above that the regulatory regions based on Establishment of Regional Regulation Banjarnegara district based on the Council Regulation No. Banjarnegara Representatives District 170/16 Year 2010 on the Code of Conduct legislatures Banjarnegara district. Draft Regulation may be submitted by the Regional Representatives Council and the Regent, which is discussed through two levels of talks conducted by the Regional Representatives Council along with the draft Regional Regulation Bupati.Dan if it is approved by the Board of Regents of the Regional Representatives and then be submitted to the leadership of the Board Regional Representatives to do the determination | |
| 11277 | 4213 | G1A006102 | THE SIGN OF STAR AS REFLECTED IN YVAINE IN NEIL GAIMAN’S STARDUST | ABSTRAK Amir Hamidi. Juni, 2012. The Symbol of Star as Reflected in Yvaine in Neil Gaiman’s Stardust. Thesis. Program Sarjana Bahasa dan Sastra Inggris, Ilmu Budaya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Tahun Akademik 2012/2013. Pembimbing 1: Rosyid Dodiyanto, M.Hum. Pembimbing 2: Lynda Susanna Widya Ayu F, S.S. M.Hum. , Penguji : M.Taufiqurrohman M.Hum. Kata Kunci: Tanda – Star – Novel – Fantasy – Stardust Penelitian berjudul “The Sign of Star as Reflected in Yvaine in Neil Gaiman’s Stardust.” bertujuan untuk menganalisis arti tanda bintang pada karakter utama yg ditemukan di novel Stardust karangan Neil Gaiman. Dalam penelitian ini, metode deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis data yaitu novel karya Neil Gaiman berjudul Stardust. Sumber data yang digunakan adalah novel yang akan dianalisis menggunakan teori semiotic. Terdapat beberapa langkah yang dilakukan dalam menganalisis dan mengetahui jawaban dari pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini. Pertama adalah menentukan objek yang akan dianalisis yaitu novel Stardust lalu langkah kedua adalah mendapatkan unsur-unsur intrinsik dari dalam novel, seperti dialog,narasi dan juga karakter itu sendiri sebagai unsur paling dominan dalam novel. Semua ini dilakukan untuk menganalisis pertanyaan penelitian tentang bagaimana Neil Gaiman sebagai penulis novel mendeskripsikan symbol bintang pada karakter Yvaine. Ketiga adalah menganalisis data dan menghubungkannya dengan teori semiotik melalui unsur intrinsic dari dalam novel. Langkah terakhir adalah membuat kesimpulan. Dari penelitian ini, terdapat lima bagian yang di jelaskan oleh pengarang dalam novel Stardust yang pertama adalah semangat sebagai Ikon, yang kedua adalah kesetiaan dan pembaharuan sebagai Indeks, dan yang terakhir keabadian dan cinta sebagai Simbol. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah media untuk menambah pemahaman tentang novel sebagai sebuah bentuk karya sastra. Penggunaan teori semiotic dalam penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan tambahan untuk kemudian dapat diterapkan di objek yang lebih luas. | ABSTRACT Amir Hamidi. Juni, 2012. The Symbol of Star As Reflected in Yvaine in Neil Gaiman’s Stardust. Thesis. Ministry of National and Culture, Jenderal Soedirman University Purwokerto. Academic Year 2012/2013. First advisor: Rosyid Dodiyanto, M.Hum. Second advisor: Lynda Susana Widya Ayu F, S.S. M.Hum. Examiner: M.Taufiqurrohman M.Hum. Keywords: Sign – Star – Novel – Fantasy – Stardust The research entitled "The Sign of Star as Reflected in Yvaine in Neil Gaiman’s Stardust in Stardust novel by Neil Gaiman” is aimed to analyze the meaning of sign star as reflected in main character that applied in Neil Gaiman novel Stardust. In this research, descriptive qualitative method is used to analyze the data; the first, novel by Neil Gaiman entitled Stardust. The data source of this study is the novel which is analyzed through the framework of semiotic theory. There are steps done in extracting and analyzing the novel as the answer of the research questions. The first is determining the novel which is going to be analyzed that is the novel Stardust and the second is obtaining the intrinsic elements of the novels, such the dialogue, narration and also the character as the most dominant intrinsic elements in the novel. It is done to analyze them dealing with the research questions about how the Neil Gaiman as the author of the novel describe the meaning of symbol of star in the character Yvaine. The third is analyzing the data by connecting them with the semiotic theory through the intrinsic elements from the novel. The last step is concluding. From the research, there are five parts that the author describes in the novel Stardust, first is Spirit as the Icon of the star, second is Loyalty and Renewal as the Index of the star, and last is Immortality and Love as the symbol of the star. The results of the research are expected to enrich the comprehension of novels and more knowledge about semiotic theory, so they can apply them in other objects. | |
| 11278 | 4214 | C1B009015 | ANALISIS PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO, RETURN ON ASSETS, LOAN TO DEPOSITS RATIO, NON PERFORMING LOANS DAN BIAYA OPERASIONAL PENDAPATAN OPERASIONAL TERHADAP JUMLAH PENYALURAN KREDIT PADA BANK MILIK SWASTA NASIONAL DEVISA YANG TERDAFTAR DI BANK INDONESIA PERIODE 2007- 2011 | Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah penyaluran kredit dengan variabel yang diteliti adalah capital adequacy ratio, return on asset, loan to deposit ratio, non performing loans dan biaya operasional pendapatan operasional. sampel dalam penelitian ini adalah menentukan melalui periode purposive sampling 2007-2011. total 16 perusahaan perbankan yang diambil sebagai sampel penelitian. Penelitian ini menggunakan Regresi Linier. Hasilnya menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif return on assets dan loan to deposit ratio, capital adequacy ratio dan non performing loan tidak berpengaruh pada penyaluran kredit. terdapat pengaruh negatif dari biaya operasional pendapatan operasional terhadap jumlah penyaluran kredit. | The purpose of this research is to find out and analyze the factors that can effect loan by examined variables are capital adequacy ratio, return on assets, loan to deposit ratio, non performing loan and operational efficiency . Sample in this research is determine through purposive sampling period 2007-2011. Total 16 banking companies were taken as study’s sample This research is used Multiple Linier Regression analyze. The result states that there are positive effect of return on assets and loan to deposit ratio. Capital adequacy ratio and non performing loans no effect on loans. There are negative effect of operasional efficiency to loans. | |
| 11279 | 4216 | F1F007086 | Mimicry as the Effect of the Early Twentieth Century Nigerian Slavery | ABSTRAK Penelitian yang berjudul “Mimicry as the Effect of Early Twentieth Century Nigerian Slavery” ditujukan untuk mengkaji isu perbudakan dan mimikri di Nigeria awal abad dua puluh yang tergambar dalam novel keempat Buchi Emecheta yang berjudul The Slave Girl. Dalam kaitannya dengan kekerasan domestik dan perlawanan non-fisik, novel ini menjadi menarik untuk dianalisa karena kedua isu; perbudakan dan mimikri melibatkan orang Nigeria sebagai pelaku utamanya. Dengan menggunakan pendekatan poskolonialisme dan teori mimikri Homi K. Bhabha serta metode diskriptif kualitatif, penelitian ini mendeskripsikan secara jelas tokoh-tokoh dalam novel yang mempraktekan kedua isu tersebut. Lebih jauh lagi dianalisa bagaimana hubungan yang tidak seimbang dalam perbudakan terbentuk serta bagaimana tokoh-tokoh melakukan resistensi atas dominasi melalui jalan mimikri. Pada akhirnya pembahasan akan mengkaitkan isu perbudakan orang Nigeria dengan konsep oposisi biner sehingga relasi perbudakan orang Nigeria memiliki kesamaan dengan penjajahan bangsa barat terhadap timur hanya saja pelaku perbudakaan merupakan orang Nigeria. Sedangkan isu mimikri dimanfaatkan oleh orang Nigeria untuk melawan dominasi dan operesi yang dilakukan oleh orang Eropa dan orang-orang Nigeria yang lebih dominan. | ABSTRACT The research entitled “Mimicry as the Effect of Early Twentieth Century Nigerian Slavery” is conducted to analyze Nigerian slavery and colonial mimicry issue in the early twentieth century reflected in Buchi Emecheta’s fourth novel The Slave Girl. Related to domestic violence and non-physic resistance, this novel is interesting to analyze since it involves Nigerian people as the main agents. By applying post-colonialism approach and colonial mimicry theory of Homi K. Bhabha as well as descriptive qualitative method, this research describes Nigerian characters of the novel who practice both issues. Furthermore, the discussion analyzes how the native Nigerians characters of the novel create imbalance relationship in the Nigerian slavery and resist the oppression and domination through mimicry. Eventually, the analysis relates the issue of slavery to concept of 2 binary opposition which shows the similarity to western colonization toward east. While mimicry issue is used by Nigerian character’s to resist the oppression and domination practiced by European and dominant Nigerian. | |
| 11280 | 4212 | A1C008024 | SEGMENTASI PASAR BUAH IMPOR BERDASARKAN PERILAKU KONSUMEN DI PASAR BUAH KECAMATAN BREBES KABUPATEN BREBES | Para pemasar dalam mempersiapkan suatu strategi pemasaran sebuah produk harus meneliti hubungan antara produk yang dijualnya dengan perilaku konsumen, sehingga diharapkan dapat memasarkan produknya dengan baik. Para pemasar hendaknya dapat menentukan segmen pasar yang akan dilayani, agar program pemasaran yang dijalankan lebih efektif. Salah satu cara membentuk segmen pasar yaitu berdasarkan tingkah laku konsumen. Penelitian ini menganalisis segmentasi pasar buah impor berdasarkan perilaku konsumen di pasar buah Kecamatan Brebes. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) Mengidentifikasi segmentasi pasar buah impor berdasarkan perilaku konsumen, (2) Mengetahui perbedaan antar segmen konsumen buah impor dalam karakteristik sosial ekonomi, (3) Mengetahui profil konsumen buah impor pada tiap segmen. Hasil penelitian menunjukkan: Konsumen buah impor di Kecamatan Brebes berdasarkan perilaku konsumen dapat dikelompokkan ke dalam tiga segmen. Variabel yang dapat membedakan antar segmen tersebut yaitu faktor prestis/gengsi, harga, kualitas, dan tingkat pemakaian. Perbedaan tiap segmen dapat dilihat berdasarkan karakteristik sosial ekonomi. Karakteristik sosial yaitu pada jenis pekerjaan konsumen tidak dapat menjadi pembeda antar segmen, sedangkan karakteristik ekonomi yang membedakan segmen yaitu tingkat pendapatan konsumen. Profil antar segmen tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Konsumen diseluruh segmen mempunyai keadaan sosial ekonomi yang sama. | The marketers in preparing their market strategies of a product should analyzed the correlations between the product and consumer behaviours, with the hope that it will be well marketing. The marketers suppose to determine the market segmentations that will take care of, in order to running the most effective marketing programs. One of the ways to form segments of the market that is based on the behavior of consumers. This research analyze market segmentation of import fruit base on consumers behavior fruit market in Brebes district. The purpose of this study is to: (1) identify the fruit import market segmentation based on consumer behavior, (2) tell the difference between a consumer segment fruit imports in the socio-economic characteristics, (3) knowing the profile of consumers of fruit imports in each segment. The results showed: Consumers of fruit imports in the Brebes district based on consumer behavior can be grouped into three segments. Variables that can distinguish between these segments i.e. prestige/prestige factor, price, quality, and level of usage. The differences of each segment can be seen based on the characteristics of the social economy based on fruit imports. Social characteristics of the type of work cannot be the differentiator between segmen, whereas the economic characteristics that distinguish a segment that is the level of income of the consumer. Intercultural profile segment showed no significant differences. Consumers throughout the segments have similar socio-economic circumstances. |