Artikelilmiahs

Menampilkan 10.881-10.900 dari 50.398 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
108813795A1H008037PENGARUH JENIS DAUN DAN VOLUME AIR TERHADAP RENDEMEN MINYAK KEMANGI PADA PENYULINGAN AIR DAN UAP SERTA KARAKTERISASI SIFAT FISIKOKIMIANYADaun kemangi memiliki banyak kegunaan tetapi dalam pemanfaatannya masih terbatas yaitu sebagai sayur, lalap dan bahan pelengkap. Untuk meningkatkan nilai guna dan nilai jual dari kemangi, perlu dilakukan sebuah proses pengolahan daun kemangi menjadi minyak kemangi. Minyak kemangi dapat diperoleh melalui proses penyulingan. Perlakuan sebelum penyulingan maupun pada saat proses penyulingan dapat mempengaruhi rendemen yang dihasilkan. Penelitian ini mengkaji pengaruh jenis daun dan rasio massa bahan dengan volume air pada penyulingan air dan uap terhadap rendemen minyak kemangi serta karakteristik fisiko kimianya. Tujuan khusus dari penelitian yaitu 1) menetapkan jenis daun kemangi yang dapat menghasilkan minyak kemangi dengan rendemen yang tinggi; 2) menetapkan rasio massa bahan dengan volume air yang tepat untuk menghasilkan minyak kemangi dengan rendemen tinggi melalui penyulingan air dan uap; 3) mengkaji sifat fisikokimia minyak kemangi dengan menggunakan perlakuan yang memiliki rendemen tertinggi. Penelitian dilakukan secara eksperimental. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama yaitu jenis daun dan faktor kedua yaitu rasio massa bahan : volume air. Jenis daun yang digunakan yaitu daun segar dan daun layu sebanyak 1 kg. Rasio massa bahan dengan volume air yang digunakan pada proses penyulingan yaitu 1:7 dan 1:5. Penyulingan dilakukan dengan metode destilasi air dan uap selama 1,5 jam pada suhu 92-94 oC. Rendemen yang diperoleh pada penelitian yaitu sebesar 0,1-0,28 persen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen minyak yang dihasilkan daun segar lebih banyak daripada rendemen yang dihasilkan daun layu. Karakteristik minyak kemangi yang dihasilkan pada perlakuan terbaik yaitu berupa bobot jenis sebesar 0,9094, indeks bias sebesar 1,493, putaran optik sebesar -5.29o, bilangan asam sebesar 1,3536 dan bilangan ester sebesar 6,9518. Minyak atsiri yang diperoleh pada penelitian dapat ditindak lanjuti untuk diproduksi oleh pengrajin kemangi di Banyumas dengan pengendalian yang ketat pada suhu dan waktu destilasi.Basil leaves have many function but its benefit is still limited as dish of raw vegetables, vegetable and an additional substance for food. In order to improve the value of basil, need to do a processing into Basil leaves essential oil. The benefit of basil leaves essential oil such as flavoring agent, pharmaceutical raw materials, cosmetics and perfumes. Basil leaves essential oil could be extracted by distillation. Treatment before and during the distillation process can affect the yield and quality. The objectives of this research were: 1) specifie the type of basil leaves that can produce a high yield basil leaves essential oil; 2) specifie the fix ratio of a material mass : the water volume to produce a high yield basil leaves essential oil through the water and steam distillation; 3) Analyze physicochemical properties of basil leaves essential oil by higher yield.The research conducted by experimentally. This research used Randomizwd Block Design (RBD) with two factors. The first factor was type of basil leaves and the second factors was ratio of material mass to the water volume. The kinds of leaves used were fresh and withered leaves as much as 1 kg of leaves. The ratio of a material mass to the water volume used in the process of destilation are 1:7 and 1:5. Distillation is carried by water and vapor method for 1.5 hour at temperature of 92-94 oC. The yield of Basil leaves essential oil on the research is 0,1-0,28 percent. The result showed that yield by the fresh leaves more than yield withered leaves. The characteristics of the Basil oil produced at the higher yield is specific gravity as much as 0,9094, refractive index 1,493, optical rotation -5.29o, acid number 1,3536 and ester number 6,9518.
108823796B1J008027ISOLASI Bifidobacterium spp. DARI FESES BAYI DENGAN PROSES KELAHIRAN NORMAL DAN UJI POTENSINYA TERHADAP Escherichia coliBifidobacterium spp. merupakan salah satu komponen mikroorganisme dominan pada saluran pencernaan bayi. Keberadaan bakteri ini dipakai sebagai indikator tingkat kesehatan pada saluran cerna. Keragaman Bifidobacterium spp. pada bayi salah satunya tergantung pada proses kelahirannya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis keragaman dan menguji kemampuan metabolit Bifidobacterium spp. hasil isolasi dari feses bayi dengan proses kelahiran normal dalam menghambat pertumbuhan E.coli. Penelitian dilakukan dengan metode survei dan data dianalisis secara deskriptif-analitik. Karakter Bifidobacterium spp. yang diamati mencakup pengamatan morfologi, uji biokimiawi, dan uji gula. Pengamatan morfologi mencakup morfologi koloni dan morfologi sel. Adapun pengujian biokimia mencakup uji katalase, oksidase, indol, Voges-Proskauer, kisaran pH pertumbuhan dan resistensi terhadap lisozim. Metabolit dari Bifidobacterium spp. yang ditemukan dilakukan uji aktivitas antibakteri terhadap E.coli. Hasil isolasi diperoleh empat Bifidobacterium dengan spesies yang berbeda dan mampu menghambat bakteri patogen E.coli dengan kemampuan penghambatan yang berbeda. Spesies dari isolat BNa1 dan BNa2 yaitu B.infantis, BNb1 merupakan Bifidobacterium sp. dan BNb2 merupakan B.dentium, BNb3 dan BNc6 merupakan B.mongoliense. Bifidobacterium spp. was one component of the dominant microorganisms in the digestive tract infant. The presence of bacteria was used as an indicator of the health of the gastrointestinal tract. Diversity of Bifidobacterium spp. one depends on the process of born infant. The research aims to determine the kind of diversity and metabolite testing the ability of Bifidobacterium spp. the isolated from the faeces babies with born vaginally process in inhibiting the growth of E.coli. Research conducted by survey method and data were analyzed by descriptive-analytical. Character of Bifidobacterium spp. observed include morphological observation, biochemical tests, and glucose test. Morphological observation include colony morphology and cell morphology. The biochemical tests included catalase test, oxidase, indole, Voges-Proskauer, growth pH range and resistance to lysozyme. Metabolites of Bifidobacterium spp. were found to test the antibacterial activity against E.coli. Bifidobacterium isolation results obtained with four different species and can inhibit pathogenic bacteria E.coli with different inhibitory capabilities. Allegations of species of isolates BNa1 and BNa2 were B.infantis, BNb1 was Bifidobacterium sp., BNb2 was B.dentium, BNb3 and BNc6 were B.mongoliense.
108833797B1J006106ANALISIS TAKSIMETRI GENUS Anthurium SchottAnthurium Schott merupakan salah satu genus tanaman hias komersial di Indonesia. Genus ini mempunyai variasi morfologi yang tinggi di antara spesiesnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kemiripan antar Anthurium berdasarkan karakter morfologinya. Karakter morfologi yang diamati berupa batang, daun, dan bunga majemuk. Penelitian ini dilaksanakan di beberapa lokasi di eks-Kotatip Purwokerto dan Baturaden serta Balai Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (B2TPH) Kabupaten Banyumas dari bulan Juni hingga Juli 2012. Hasil analisis dengan menggunakan metode UPGMA (Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean) menunjukkan bahwa terdapat 17 taksa yang dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok. Kelompok I terdiri atas A. andraeanum “Renoir Pink”, A. andraeanum “Safari”, A. andraeanum “White”, A. andraeanum “Tropical”, A. andraeanum “cv. 1”, A. andraeanum “Amigo”, dan A. nymphaeifolium. Kelompok II terdiri atas A. pedatoradiatum ssp. helleborifolium, A. crystallinum, A. andicola “Kuku Bima” dan A. andicola “List Merah”. Kelompok III terdiri atas A. crassinervium “Crispimarginatum” dan A. plowmanii. Kelompok IV terdiri atas A. hookeri “Garuda”, A. hookeri “Red Hookeri”, A. bonplandii ssp. guayanum, dan A. jenmanii. Kelompok I merupakan sister group dari Kelompok II, dan Kelompok III merupakan sister group Kelompok IV. Hubungan kemiripan terdekat yaitu antara A. andraeanum “Renoir Pink” dengan A. andraeanum “Safari”, sedangkan hubungan kemiripan terjauh yaitu antara A. bonplandii ssp. guayanum dengan A. andraeanum “Tropical”.Anthurium Schott is one of the commercial ornamental plants in Indonesia. This genus has a high morphological variation amongst its species. This study aims to determine the similarity relationship amongst Anthurium based on morphological characters including stems, leaves, and inflorescences. This study was carried out from June to July 2012 in several locations in Purwokerto and Baturraden area, and Balai Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (B2TPH) Banyumas Regency. The results of the analysis using the UPGMA (Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean) showed that there are 17 taxa which can be classified into 4 groups. Group I consists of A. andraeanum "Renoir Pink", A. andraeanum "Safari", A. andraeanum "White", A. andraeanum "Tropical", A. andraeanum "cv. 1 ", A. andraeanum "Amigo", and A. nymphaeifolium. Group II consists of A. pedatoradiatum ssp. helleborifolium, A. crystallinum, A. andicola "Kuku Bima" and A. andicola "Red List". Group III consists of A. crassinervium "Crispimarginatum" and A. plowmanii. Group IV consists of A. hookeri "Garuda", A. hookeri "Red Hookeri", A. bonplandii ssp. guayanum, and A. jenmanii. Group I is the sister group of Group II, as well as Group III to Group IV. The closest similarity relationship is between A. andraeanum “Renoir Pink” and A. andraeanum “Safari”, whereas the farthest one is between A. bonplandii ssp. guayanum and A. andraeanum “Tropical”.
108843798E1A007264TINJAUAN YURIDIS TERHADAP TAP MPR DALAM HIERARKI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGANABSTRAK
Pengaturan mengenai Tap MPR sebagai hierarki peraturan perundang-undangan di Indonesia mengalami perubahan yang cukup lama sesuai dengan perubahan dan kondisi politik negara, perubahan mengenai pengaturan Tap MPR sebagai hierarki peraturan perundnagan-undangan dimulai sejak tahun 1966 yang diatur melalui Tap MPRS No. XX/MPRS/1966, pada tahun 2000 yaitu melalui Tap MPR No. III/MPR/2000, kemudian Tap MPR ini hilang dan tidak masuk dalam hierarki peraturan perundang-undangan pada tahun 2004 karena adanya perubahan UUD 1945 dan kaitannya dengan perubahan kewenangan MPR yang tidak lagi menjadi lembaga negara tertinggi negara, hilangnya Tap MPR ini kemudia ditegaskan melalui UU No. 10 Tahun 2004. Akan tetapi pada tanggal 12 agustus 2011 DPR bersama Pemerintah telah mengesahkan undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan sebagai pengganti dari undang-undang Nomor 10 Tahun 2004, dimana dalam UU No. 12 Tahun 2011 tersebut Tap MPR kembali masuk dalam hierarki peraturan perundang-undangan.

Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa setelah perubahan UUD 1945 kewenangan dari MPR tidak lagi seperti dulu, dimana dulu MPR sebagai lembaga negara tertinggi negara, namun setelah perubahan UUD 1945 MPR kini bukan lagi sebagai lembaga tertinggi negara. Sehingga MPR tidak berwenang kembali mengeluarkan Tap MPR yang bersifat mengatur (regeling) seperti dulu. Tap MPR tidak tepat dijadikan sebagai peraturan perundang-undangan, karena Tap MPR merupakan staatgrundgezetz atau aturan dasar negara/aturan pokok negara, berisi garis-garis besar atau pokok-pokok kebijakan negara, sifat norma hukumnya masih secara garis besar, dan merupakan norma hukum tunggal dan tidak dilekati oleh norma hukum yang berisi sanksi.


ABSTRACT
The disposition of MPR Resolution as a hierarchy of legislation in Indonesia has been experiencing amendment in a quite long period of time suiting with the changes of state and political conditions. The changes in the regulation of MPR Resolution as a hierarchy of legislative regulations began in 1966, as stated in MPRS Resolution No.XX/MPRS/1966, also in 2000, that was through MPR Resolution No.III/MPR/2000. Nevertheless, in the following period MPR Resolution was vanished and it was not included in the hierarchy of legislation in 2004 due to the amendments in the Basic Constitution of 1945 and the relation to the authority of MPR that was no longer a supreme state institution, the absence of the MPR Resolution was defined afterward by the Act No.10 of 2004. However, on August 12, 2011 the Parliament and the Government had enacted the Regulation No.12 of 2011 on the establishment of legislation in lieu of Act No.10 of 2004, in which the Regulation No.12 of 2011 stated that MPR Resolution was re-included in the hierarchy of legislation.

The results of this study provided the depiction that after the amendment of Basic Constitutions of 1945, the authority of MPR was no longer the same as it used to be, where MPR was the supreme state institution. However, after the amendment of the Basic Constitutions of 1945, MPR was no longer the supreme state institution so that MPR had no authority in re-issuing Resolution which was regulatory (regeling) as used to be. It was inappropriate if MPR Resolution was served as the legislative regulation since MPR was staatgrundgezetz or the state’s Basic Constitution that contained the outlines or main points of the state’s policy, the nature of legal norms was still in outline forms, and it was the sole legal norms and was not attached by the legal norms that contained sanctions.

108853800E1A007082PROSEDUR PENYELESAIAN SERTIPIKAT TANAH GANDA PADA KANTOR PERTANAHAN NASIONAL KABUPATEN BANYUMASABSTRAK
PROSEDUR PENYELESAIAN SERTIPIKAT TANAH GANDA PADA KANTOR PERTANAHAN NASIONAL KABUPATEN BANYUMAS
OLEH :
YENDRA PRATISTA WAHANA
E1A007082

Masalah pertanahan merupakan masalah yang kompleks dan vital, mengingat semakin banyaknya kasus pertanahan yang terjadi dikarenakan luas tanah terbatas sedangkan jumlah penduduk dan kebutuhan tanah untuk pembangunan, pertanian dan tempat tinggal semakin bertambah yang berdampak semakin sulitnya mendapatkan tanah diiringi peningkatan persaingan untuk mendapatkan tanah. Di lain pihak masyarakat menuntut adanya keadilan dalam pelayanan dan menuntut jaminan kepastian hukum serta memperoleh perlindungan hukum terhadap hak-haknya dibidang pertanahan yang semakin meningkat mengingat banyak kasus-kasus pertanahan, namun dari sekian banyaknya kasus yang masuk ke badan peradilan, hasilnya kurang memuaskan. Masyarakat memandang penyelesaian masalah pertanahan lebih efektif dan dipandang lebih memuaskan hasilnya dengan penyelesaian sengketa di luar Pengadilan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif melalui pendekatan perundang-undangan (Statute Approach) dan Pendekatan Analitis (Analytical Approach) dengan spesifikasi penelitian preskriptif, yaitu Inventarisasi hukum positif dan melakukan penelitian taraf sinkronisasi hukum. Lokasi penelitian bertempat di Kantor Pertanahan Nasional Kabuapten Banyumas dengan Objek penelitian berupa Prosedur penyelesaian sertipikat tanah ganda pada Kantor Pertanahan Nasional Kabupaten Banyumas.
Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui bagaimana prosedur penyelesaian sertipikat tanah ganda pada kantor pertanahan nasional kabupaten banyumas. 2) Untuk mengetahui upaya serta dasar hukum dalam penyelesaian masalah pertanahan pada Kantor Pertanahan Nasional Kabupaten Banyumas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanganan Sengketa konflik dan Perkara pertanahan pada Kantor Pertanahan Nasional Kabupaten Banyumas diselesaikan melalui prosedur mediasi dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan. Maksud diadakannya Mediasi adalah sebagai proses alternatif penyelesaian masalah dengan bantuan mediator yang mengarah pada konsep win-win solution.
ABSTRACT
Land problem is complex and vital considering many cases happened due to limited land area compare with population and increasing land demand for development, agriculture, and housing are resulting in difficulties obtaining land along with the competition within. In other side, society demands on justice for services and certainty of law and protection upon their rights for land ownership due to many land disputes. Form all land disputes under trial, the result is not satisfying. Society considers that solving land dispute outside of court is more effective and satisfying.
The research method was normative juridical by Statute Approach and Analytical Approach under specific prescriptive research, such as positive law inventory and law synchronizing stage. The research location was Office of National Land in Banyumas Regency with research object was procedure for double land certificate settlement at Office of National Land in Banyumas Regency.
The research aims: 1) To know how the procedure for double land certificate settlement at Office of National Land in Banyumas Regency; 2) To know the effort and legal basis in solving land disputes at Office of National Land in Banyumas Regency.
The research result shows that land conflict management at Office of national Land in Banyumas Regency was done by mediation procedure based on law. The mediation was intended as alternative process to solve the land disputes by using mediator that leads into win-win solution.

Key words: procedure, double land certificate, mediation
108863799B1J008136PENGARUH JENIS PELARUT DAN METODE EKSTRAKSI TERHADAP KAPASITAS ANTIOKSIDAN DAN TOTAL FENOL EKSTRAK TUBUH BUAH Ganoderma lucidum (Fr.) Karst ISOLAT 2 CIANJURSalah satu jenis jamur yang termasuk dalam jenis medicinal mushroom yaitu Ganoderma lucidum. Penelitian yang hingga saat ini masih diteliti aktivitas biologinya adalah antioksidan. Penelitian dilakukan untuk menguji aktivitas antioksida nmenggunakan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil (DPPH) dan total fenol. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kapasitas antioksidan dengan metode DPPH dan mengetahui total fenol ekstrak tubuh buah G. lucidum isolat 2 Cianjur. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor perlakuan. Faktor pertama adalah jenis pelarut (heksana, etil asetat, dan etanol); dan faktor kedua adalah metode ekstraksi (bertingkat dan satu tahap), masing-masing perlakuan diulang 4 kali. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini meliputi variabel bebas berupa metode ekstraksi dan jenis pelarut, sedangkan variabel tergantungnya adalah kapasitas antioksidan dan total fenol. Parameter utama yang diamati adalah persentase penghambatan DPPH dan total fenol. Parameter pendukungnya yaitu kepekatan ekstrak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas penangkapan radikal bebas ekstrak etil asetat (141,17%) > ekstrak heksana (138,16%) > ekstrak etanol (122,98%). Nilai total fenol ekstrak heksana (36,757 mg/100 gr) > etil asetat (29,898 mg/100 gr) > ekstrak etanol (22,809 mg/100 gr). Kapasitas penangkapan radikal bebas ekstrak Ganoderma lucidum hasil ekstraksi satu tahap (201,36%). Total fenol pada metode ekstraksi satu tahap (34,627mg/100gr). Kapasitas penangkapan radikal bebas tertinggi didapatkan dari interaksi ekstrak heksana dengan ekstraksi satu tahap; dan nilai total fenol tertinggi didapatkan dari kombinasi ekstrak etil asetat dengan ekstraksi satu tahap.One type of fungus included in the type of medicinal mushroom is Ganoderma lucidum. Today the research is being studied of its biological activity is antioxidants. The study was to test the activity of antioxidants by 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil (DPPH) and total phenol. The purpose of this study was to determine the antioxidant capacity by DPPH method and determined the total phenol of the fruiting body G. lucidum isolates 2 Cianjur extract. The research method was used experimental, use Basic Design Group (RAK) with two treatment factors. The first factor was the method of extraction (multilevel and single stage) and the second factor was the type of solvents (hexane, ethyl acetate, and ethanol), each treatment was repeated 4 times. The variables were used in this study include the independent variables such as extraction methods and types of solvent, while the dependent variables were the antioxidant capacity and total phenol. The main parameters were the percentage of DPPH inhibition and total phenol. The supporter parameter was the density of extract. The results showed that trapping capacity of free radical with ethyl acetate extract (141,17%) > hexane extract (138,16%) > ethanol extract (122,98%). The phenol total of hexane extract (36,757 mg/100 g) > ethyl acetate (29,898 mg/100 g) > ethanol extract (22,809 mg/100 g). Trapping capacity of free radical on Ganoderma extract by single stage extraction (201,36%). The phenol total at single stage extraction method (34,627 mg/100 g). The highest value of trapping capacity of free radical was obtained from hexane extract interaction by single stage extraction method, and the highest value of total phenol was obtained from combination of ethyl acetate extract by single stage extraction method.
108873804E1A007155“KEWENANGAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT DALAM PERUBAHAN UNDANG-UNDANG DASAR PASCA PERUBAHAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945”ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menganalisis kewenangan MPR dalam perubahan undang-undang dasar pasca Amandemen Undang-Undang Dasar 1945. Kemudian penelitian ini ditujukan untuk mengetahui prosedur perubahan UUD pasca amandemen UUD 1945 di Majelis Permusyawaratan Rakyat. Guna mencapai tujuan tersebut maka penelitian ini dilakukan dengan menggunakan hasil penelitian yuridis normatif. Data yang diperoleh dari data sekunder, kemudian diolah, disajikan dan dianalisa secara kualitatif dengan penyajian data teks naratif.

Hasil penelitian menyatakan bahwa MPR berwenang mengubah UUD pasca Amandemen UUD 1945 sesuai dengan ketentuan Pasal 3 ayat (1) Amandemen UUD 1945. MPR dalam tata cara pelaksanaan kewenangan untuk mengubah UUD pasca Amandemen UUD 1945 juga mengikuti ketentuan yang tertuang dalam Pasal 37 Amandemen UUD 1945; Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD; serta Keputusan MPR RI Nomor I/MPR/2010 tentang Peraturan Tata Tertib Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia.

MPR dalam kewenangannya mengubah UUD pasca Amandemen UUD 1945 mengenai bentuk putusan perubahan UUD pasca Amandemen UUD 1945 adalah menggunakan putusan perubahan dan penetapan UUD yang diatur dalam Pasal 74 Ayat (1) huruf a Keputusan MPR RI Nomor I/MPR/2010 tentang Peraturan Tata Tertib MPR RI. Mengenai proses perubahan UUD pasca Amandemen UUD 1945 sekiranya perlu ada komisi khusus yang beranggotakan para negarawan, pakar terkait dan ahli hukum dalam melakukan pengkajian yang dapat diputuskan melalui Sidang Paripurna dengan bentuk yang telah ditegaskan melalui Peraturan Tata Tertib MPR RI untuk mewajibkan membentuk komisi khusus demi menghasilkan perubahan yang lebih baik dan lebih sempurna.

ABSTRACT

The research was conducted with the aim to analyze the authority of the People's Consultative Assembly in amending the constitution (Undang-Undang Dasar/UUD) after the Amendement of UUD 1945. Then, this study aimed to determine the role of changes in the procedures for the constitution after the amendement of the UUD 1945 the People's Consultative Assembly. To achieve these objectives, the research was conducted using normative research. Data were collected secondary then processed, presented and analyzed qualitatively with the presentation of narrative text data.

The results stated that the People's Consultative Assembly has the authority to change the UUD after the amendement of the UUD 1945 in accordance with the provisions of Article 3 verse (1) the amendement of the UUD 1945. People's Consultative Assembly in the procedures of the authority to amend the UUD after the amendement of UUD 1945 also follow the provisions set forth in Article 37 amandement UUD 1945; Laws No. 27 Year 2009 on the People's Consultative Assembly, the House of Representatives, the Regional Representatives Council, and the Council of Regional Representatives; and People's Consultative Assembly Decree Number I/MPR/2010 Indonesia concerning the Rules of Procedure of the Republic of Indonesia People's Consultative Assembly.

People's Consultative Assembly in carrying out its authority to change the UUD after the Amandement UUD 1945 regarding the verdict form changes to the UUD after the amendment of UUD 1945 is to use judgment and decision changes the UUD set out in Article 74 verse (1) letter a Decision of the People's Consultative Assembly of the Republic of Indonesia Number I/MPR/2010 concerning the Rules of Procedure of the Republic of Indonesia People's Consultative Assembly. Regarding the change in the UUD after the amendement of UUD 1945 if only the need for a special commission consisting of statesmen, relevant experts and lawyers in performing assessments that can be decided by the plenary Session of the form that has been confirmed by Rules of Procedure of the People’s Consultative Assembly of the Republic of Indonesia to establish a special commission requires in order to produce change for the better and more perfect.

108883805A1C008046Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Produksi Gula Pada Petani Tebu Mitra
di Pabrik Gula Tersana Baru Kecamatan Babakan Kabupaten Cirebon
(Factors Which Had Effect To Sugar Production From Cane Farmers Whose In Relation With Tersana Baru Sugar Factory, sub district Babakan, Cirebon regency)
Konsumsi gula di Indonesia terus meningkat setiap tahun seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, sementara itu produksi gula nasional belum mampu mengimbangi laju peningkatan konsumsi disebabkan permasalahan pada industri gula, antara lain penurunan areal tanam tebu, penurunan produktivitas lahan, serta penurunan efisiensi ditingkat pabrik. Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi gula guna memenuhi kebutuhan gula nasional adalah dengan menjalin kemitraan antara petani tebu dengan pabrik gula melalui program tebu rakyat.Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan mekanisme kemitraan antara PG Tersana Baru dengan petani mitra serta menganalisisfaktor-faktor yang mempengaruhi hasil produksi gula pada petani tebu mitra di PG Tersana Baru.Penelitian dilaksanakan diwilayah kerja PG Tersana Baru di Kecamatan Babakan Kabupaten Cirebon dengan pengambilan sampel responden secara sensus sehingga diperoleh 32 orang petani tebu mitra. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis produksi Cobb-Douglas.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemitraan antara PG Tersana Baru dengan petani tebu dilaksanakan dalam bentuk kontrak kerjasama yang berisikan hak dan kewajiban masing-masing pihak dengan bantuan modal dari Kredit Ketahanan Pangan dan Energi.Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi hasil produksi gula petani mitra di PG Tersana Baru adalah luas lahan, pembinaan teknis, produk tebu, rendemen, dan panjang masa giling.Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh sangat nyata terhadap hasil produksi gula adalah rendemen dengan nilai koefisien 0,945 dan produk tebu dengan koefisien 0,937.Kemitraan hendaknya lebih ditekankan pada peningkatan kualitas dan kuantitas produktivitas tebu yang memberikan pengaruh paling besar terhadap produksi gula.Sugar consumption in Indonesia is increasing every year occuring with the increasing of population, mean while the national sugar production cannot equilibrate the increasing of sugar consumption because of the problems in sugar industries, for instance the decreasing of cane planting area, land productivity, and factory efficiency. One of the government effort to increase sugar production in supplying the national sugar necessity is creating partnership between cane farmer and sugar factories through people cane program. The research is done to describe the mechanism of partnership between Tersana Baru Sugar Factory and the farmers, and also to analyze factors which had effect to sugar production from cane farmers in Tersana Baru Sugar Factory. The research was implemented in Tersana Baru work area in Babakan Sub-District, Cirebon Regency with sample respondents taken by census so 32 farmers obtained. The method that is used is descriptive analysis and Cobb-Douglas production analysis. The result of the research shows that the partnership between Tersana Baru Sugar Factory with the cane farmers was done in a cooperation contract contains right and obligation between each others with assistance fund from Food and Energy Endurance Credit. The factors which is related to the partnership that suspected gives impact of sugar production in Tersana Baru Sugar Factory is land area, technical development, cane product, yield, and term of minced. The analysis result shows the variabels that have significant impact to the sugar production is yield with coefficient 0,945 and cane product with coefficient 0,957. The partnership should be focused to increase cane quality and quantity that give significant impact in sugar production.
108893826I1A006006ANALISA PENGGUNAAN FILTER PASIF
UNTUK MEREDUKSI HARMONIK AKIBAT PEMAKAIAN BEBAN NON lINEAR DI LABORATORIUM KOMPUTER FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
Bertambahnya beban nonlinear pada sitem tenaga listrik berakibat bertambahnya distorsi harmonik (THD) yang terjadi. Bertambahnya distorsi harmonik ini membawa berbagai pengaruh buruk pada komponen sistem tenaga listrik. Beban nonlinear dapat menyebabkan gelombang keluaran arus dan tegangan memiliki karakteristik yang berbeda dengan gelombang arus dan tegangan masukannya pada setiap siklusnya. Pengukuran pada salah satu instalasi laboratorium komputer dengan banyak beban nonlinear menunjukkan besarnya THD tegangan mencapai 4,73% dan THD arus pada fasa total sebesar 19,41%.
Dengan melakukan pengukuran pada beban non linear penghasil harmonik, maka dapat diketahui karakteristik arus dan THD (Total Harmonic Distortion) pada setiap beban yang berbeda-beda. Berdasarkan data-data hasil pengukuran, dilakukan analisis untuk kemudian dirancang filter yang tepat untuk mereduksi harmonik arus. Selanjutnya, hasil dari perancangan filter disimulasi pada program MATLAB Simulink 7.0.1. Filter yang dirancang adalah single-tunned passive filter. Perancangan filter disesuaikan dengan orde harmonik dominan yang timbul. Filter tersebut selain untuk meredam distorsi harmonik yang terjadi juga bisa menaikan faktor daya. Dari hasil simulasi, dengan dipasangnya single-tunned passive filter pada sistem THD tegangan mengalami penurunan dari 4,73% mencapai 2,30% sedangkan THD arus mengalami penurunan dari 19,41% menjadi 11,06%. Selain itu faktor daya sistem naik dari 0,85 menjadi 0,98.
Non-linear loads increasing on a power system results in harmonic distortion (THD)increasing. Harmonic distortion increasing bring bad influences on power system component. Nonlinear loads can cause the current and voltage output wave to have different characteristics with the respective current and voltage input wave on its each cycle. Measurement at one of computer laboratory installations with many non-linear loads shows the amount of voltage THD achieve 4,73% and current THD 19.41%.
By measuring non-linear loads that produce harmonic, current and THD (Total Harmonic Distortion) characteristic can be recognize on every different load. Based on the result data of measurement, analysis is made for further accurate filter design in order to reduce harmonic current. Furthermore, result of filter design is simulated by using Matlab Simulink 7.0.1 simulation program.The filter designed is a single-tunned passive filter. The design of harmonic filters adapted to the dominant order occured. Filters are not only used to reduce harmonic distortion occurred but also increase power factor. From the simulation results that by installing a single-tunned passive filters on the system, voltage THD has decreased from 4.73% achieve 2.30% while the current THD decreased from 19.41% to 11.06%. Meanwhile, system power factor increased from 0.85 to 0.98.
108903803C1B008109ANALISIS STOCK SELECTION SKILLS, MARKET TIMING ABILITY, SIZE REKSA DANA, UMUR REKSA DANA, EXPENSE RATIO, DAN TURNOVER RATIO TERHADAP KINERJA REKSA DANA SAHAM PERIODE 2009-2011Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh dari beberapa variabel yang memiliki dampak pada kinerja reksa dana saham seperti keterampilan pemilihan saham, kemampuan market timing, ukuran, umur, rasio beban, dan rasio turnover. Sampel penelitian ini adalah reksa dana saham reksa 16, itu terpilih menggunakan teknik purposive sampling. Ini menggunakan data reksa dana saham pada BAPEPAM terdaftar selama 2009-2011 dan dianalisis menggunakan Regresi Linear dan Regresi dengan variabel dummy. Hasilnya menyimpulkan bahwa ukuran, turn over ratio, dan rasio beban adalah variabel yang memiliki dampak signifikan terhadap kinerja reksa dana saham. Sementara kemampuan market timing, keterampilan saham seleksi, dan usia adalah variabel yang tidak berdampak signifikan terhadap kinerja reksa dana saham.
This purpose of this research is to analyze factors that effect of some variables that have impact on equity mutual funds performance such as stock selection skills, market timing ability, size, age, expense ratio, and turnover ratio. The sample of this study were 16 equity mutual funds, it selected using purposive sampling technique. It used data of equity mutual funds on BAPEPAM listed during 2009-2011 and was analyzed using Linear Multiple Regression and Regression with dummy variable. The result concludes that size, turn over ratio, and expense ratio were variables that have impact significant on equity mutual funds performance. While market timing ability, stock selection skills, and age were variables that have do not impact significant on equity mutual funds performance.
108913789B1J008130PRODUKSI MISELIUM Grifola frondosa (Dickson: Fries) Gray ISOLAT CIANJUR DAN BOBOT EKSTRAKNYA PADA MEDIUM MYPB DENGAN PENAMBAHAN BIJI
BUNGA MATAHARI (Helianthus annuus L.)
Grifola frondosa atau jamur maitake dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan sebagai obat. Tubuh buah dan miselium G. frondosa selain mengandung zat-zat gizi juga mengandung senyawa bioaktif antara lain terpenoid, alkaloid, flavonoid dan polisakarida ekstraseluler beta glukan (β-1,3glukan dan β-1,6 glukan). Polisakarida ekstraseluler lebih sering dipanen dalam bentuk miselium yang ditumbuhkan pada medium cair. Medium cair yang umum digunakan untuk pertumbuhan miselium adalah MYPB (Malt Yeast Peptone Broth). Produksi miselium pada medium MYPB dapat ditingkatkan dengan cara menambah bahan tambahan, salah satunya biji bunga matahari (Helianthus annuus L.). Perlakuan yang dicobakan yaitu penambahan biji bunga matahari pada medium MYPB. Parameter utama yang diamati berupa bobot kering miselium dan bobot ekstrak kasar G. frondosa. Parameter pendukung berupa pH akhir medium, polisakarida ekstraseluler (secara kualitatif), senyawa terpenoid, alkaloid, dan flavonoid dalam ekstrak kasar G. frondosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan biji bunga matahari sebanyak 250 g/l pada medium MYPB menghasilkan produksi miselium dan bobot ekstrak G. frondosa optimum yaitu sebesar 1,379 g/100ml dan 0,299 g/100ml.Grifola frondosa or maitake, not only can be used as a food ingredient but also as medicine. Other than nutrients, fruit body and mycelium of G. frondosa also contains bioactive compounds, such as terpenoids, alkaloids, flavonoids, and beta glucans extracellular polysaccharides (β-1,3 glucans and β-1,6 glucans). Extracellular polysaccharide harvested more often in mycelium form which is cultivated in liquid medium. Liquid medium which is commonly used for the growth of mycelium is MYPB (Malt Yeast Peptone Broth). Mycelium production on MYPB as a medium can be increased by adding additional ingredients, one of which is sunflower (Helianthus annuus L.). The treatment that was done was the addition of sunflower seeds on medium MYPB. The main parameters that were observed were mycelium’s dry weight and the weight of raw extract of G. frondosa. Supporting parameters were final pH medium, extracellular polysaccharides (qualitatively), terpenoid, alkaloid, and flavonoid compounds in the raw extract of G. frondosa. The result showed that the addition of 250 g/l sunflower seeds in the medium MYPB was the optimum treatment that can produce 1,379 g/100ml of mycelium and 0,299 g/100ml G. frondosa extracts.
108923808G1D008077Pengaruh Hipnotherapi Terhadap Pola Tidur Lansia di Panti Wredha Catur Nugraha Kaliori BanyumasLatar belakang:Dewasa ini dunia sedang mengalami revolusi demografik, yaitu dengan meningkatnya jumlah penduduk berusia lanjut. Usia lanjut adalah usia 60 tahun ke atas. Usia lanjut adalah usia 60 tahun ke atas sesuai dengan definisi World Health Organizationyang terdiri dari (1) usia lanjut (elderly) 60-74 tahun, (2) usia tua (old) 75-90 tahun, dan (3) usia sangat lanjut (very old) di atas 90 tahun. Berkaitan dengan lansia, terjadi proses degeneratif dan perubahan pola tidur. Lansia cenderung mengalami permasalahan tidur, tidur yang terganggu dapat menyebabkan dampak kesehatan yang serius. Dalam upaya penanganannya, permasalahan tidur cenderung ditangani secara farmakologis, sementara dalam tubuh lansia terjadi degenerasi yang terus menerus dan hipnotherapi dianggap lebih aman karena merupakan therapi non-farmakologis.
Tujuan penelitian: Mengetahui pengaruh hipnotherapi terhadap pola tidur lansia di Panti Wredha Catur Nugraha Kaliori Banyumas.
Metode Penelitian: Penelitian menggunakan metode Pre-Post Test. Analisis data menggunakan uji wilcoxcon. Sampel yang diambil yaitu sebanyak 25 orang yang terdiri dari 17 lansia perempuandan 8 lansia laki-laki yang memenuhi kriteria inklusi.
Hasil penelitian:Karakteristik responden berdasarkan usia, rata-rata berada pada rentang 73,92 tahun, berdasarkan jenis kelamin, lansia perempuan sejumlah 17 orang (68%) dan lansia laki-laki sejumlah 7 orang (32%). Berat badan responden secara keseluruhan memiliki rata-rata 46,80. Tinggi badan responden berada pada rentang 146,28 cm. Skor pola tidur sebelum hipnotherapi memiliki nilai tengah 2 dan setelah diberikan hipnotherapi skornya memiliki nilai tengah 4. Analisis berdasarkan uji Wilcoxcon antara pengaruh hipnotherapi terhadap pola tidur lansia di Panti Wredha Catur Nugraha Kaliori Banyumas menunjukan nilai Zsebesar -4,116 dengan nilai signifikasi (p value) 0,000<nilai α (α = 0,05).
Kesimpulan: Ada pengaruh hipnotherapi terhadap pola tidur lansia di Panti Wredha Catur Nugraha Kaliori Banyumas
Background:Nowadays the world is in demographic revolution, it is noticed by increasing the number of elderly. Elderly is someone who’s in 60-74 years old, it is suitable with the World Health Organization’s definition which explain(1) elderly 60-74 years old, (2) old 75-90 years old, and (3) very old90 years old up. Related to elderly, there are degeneration process that followed by sleep pattern changing. Elederly is tend to get sleep dissorder, sleep diturbances will impact seriously to their health. To solve this, sleep dissorder usually be solved by pharmacologist medication, while the degeneration is running, Hipnotherapy is belief as the safer way because it is non-pharmacologist therapy.
Purpose:To know the effect of hipnotherapy to the elderly’s sleep pattern in Panti Wredha Catur Nugraha Kaliori Banyumas
Method:This experiment used Pre-Post Test Method. Wilcoxcon test is used to analyse datas.There are 25 samples, devided into 17 women and 8 men which cover inclution characteristic
Result:The respondents characteristic based on respondent’s old has mean 73,92 years old, based on the sex of respondents; there are 17 women (68%) and 8 men (32%). Based on weight, the mean of total weight of the respondent is 46,80 kg. And based on height, the mean of height of total respondent is 146,28 cm. The median of sleep pattern’s score before hipnotherapy is 2 and the median after hipnotherapy is 4.
Data analyse based on Wilcoxcon test to the effect of hipnotherapy to the elderly’s sleep pattern in Panti Wredha Catur Nugraha Kaliori Banyumas showed Z test is -4,116 with significaties value (p value) 0,000<α value (α = 0,05).
Conclution: There is effet of hipnotherapy to the elderly’s sleep pattern in Panti Wredha Catur Nugraha Kaliori Banyumas
108933809C1K008002THE EFFECT OF FIRM'S SIZE, ROA, CAR, AND WORKING CAPITAL ON LIQUIDITY RISK OF CONVENTIONAL RURAL BANK (BPR) AND ISLAMIC RURAL BANK (BPRS) IN EKS-KARESIDENAN BANYUMASPenelitian ini berjudul “The Effect of Firm’s Size, ROA, CAR, and Working Capital on Liquidity Risk of Conventional Rural Bank (BPR) and Islamic Rural Bank (BPRS) in Eks-Karesidenan Banyumas”. Tujian penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh dari ukuran perusahaan, ROA, CAR, dan modal kerja terhadap resiko likuiditas. Populasi dalam penelitian ini adalah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) and Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di bawah pengawasan Bank Sentral daerah Purwokerto, terdiri atas 19 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan 7 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan bank perkreditan yang beroperasi tahun 2008-2011 yang mempublikasikan dan melaporkannya kepada Bank Indonesia (BI) setiap tahun.
Teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda.Hipotesis dari penelitian ini adalah: Ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap resiko likuiditas di Bank Perkreditan Rakyat (BPR), Ukuraan perusahaan berpengaruh positif terhadap resiko likuiditas di Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), ROA berpengaruh positif terhadap resiko likuiditas di Bank Perkreditan Rakyat (BPR), ROA berpengaruh positif terhadap resiko likuiditas di Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), CAR berpengaruh positif terhadap resiko likuiditas di Bank Perkreditan Rakyat (BPR), CAR berpengaruh positif terhadap resiko likuiditas di Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), Modal kerja berpengaruh negatif terhadap resiko likuiditas di Bank Perkreditan Rakyat (BPR), Modal kerja berpengaruh negatif terhadap resiko likuiditas di Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).
Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa di Bank Perkreditan Rakyat (BPR), ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap resiko likuiditas, CAR tidak berpengaruh terhadap resiko likuiditas, dan modal kerja berpengaruh negative terhadap resiko likuiditas. Semetara itu, di Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap resiko likuiditas, CAR berpengaruh positif terhadap resiko likuiditas, dan modal kerja tidak berpengaruh terhadap resiko likuiditas. Baik di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), ROA berpengaruh negatif terhadap resiko likuiditas.
Implikasi dari penelitian ini adalah bank perkreditan harus memperhatikan jumlah dan keseluruhan rasio ini. Karena untuk membuktikan jika ada perubahan, itu akan mempengaruhi risiko likuiditas. Sementara untuk nasabah harus memilih bank yang memiliki risiko likuiditas kecil. Jika pelanggan hanya ingin menyimpan uang, maka dapat memilih Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) dengan risiko likuiditas kecil, namun nasabah hanya mendapatkan sedikit keuntungan. Tetapi jika nasabah menginginkan keuntungan dalam jumlah yang lebih besar, nasabah dapat memilih Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dengan mengabaikan risiko likuiditas pada bank yang lebih tinggi dari Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).
This study entitled “The Effect of Firm’s Size, ROA, CAR, and Working Capital on Liquidity Risk of Conventional Rural Bank (BPR) and Islamic Rural Bank (BPRS) in Eks-Karesidenan Banyumas”. The purpose of this study was to analyze the effect of firm’s size, ROA, CAR, and working capital on liquidity risk. The population in this study was Conventional Rural Bank (BPR) and Islamic Rural Bank (BPRS) under supervision at Central Bank Purwokerto area, consisting of 19 Conventional Rural Bank (BPR) and 7 Islamic Rural Bank (BPRS). The types of data used were secondary data obtained from financial statement of rural banks under operation between 2008-2011 that published and reported them to the Indonesian Central Bank’s Bank (BI) each year.
Techniques of data analysis used were multiple regression analysis. Hypothesis of this research are: Firm’s size had positive effect on liquidity risk in Conventional rural bank, Firm’s size had positive effect on liquidity risk in Islamic rural bank (BPRS), ROA had positive effect on liquidity risk in Conventional rural bank (BPR), ROA had positive effect on liquidity risk in Islamic rural bank (BPRS), CAR had positive effect on liquidity risk in Conventional rural bank (BPR), CAR had positive effect on liquidity risk in Islamic rural bank (BPRS), Working capital had negative effect on liquidity risk in Conventional rural bank (BPR), Working capital had negative effect on liquidity risk in Islamic rural bank (BPRS).
The results of regression analysis showed that in Conventional rural bank (BPR), firm’s size had positive effect on liquidity risk, CAR had no effect on liquidity risk, and working capital had negative effect on liquidity risk. In the meantime, in Islamic rural bank (BPRS) firm’s size had no effect on liquidity risk, CAR had positive effect on liquidity risk, and working capital had no effect on liquidity risk. Both in Conventional rural bank (BPR) and Islamic rural bank (BPRS), ROA had negative effect on liquidity risk.
Implication of this research is rural bank banks should pay attention to the amount and overall these ratios. Due to prove if there is a change, it will affect the liquidity risk. Whilst for customer should choose bank that has small liquidity risk. If customer is only want to save money, then can choose Islamic rural bank (BPRS) with small liquidity risk, however the customer gain only slightly. But if customer wants gain in greater quantities, customers can choose Conventional rural bank (BPR) by ignoring liquidity risk at banks that higher than Islamic rural bank (BPRS).
108943811E1A008035STUDI KOMPARATIF PASAL 43 AYAT (1) UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN DENGAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 46/PUU-VIII/2010. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang merupakan upaya unifikasi hukum mengenai pengaturan tata cara perkawinan dan akibat hukum perkawinan. Salah satu akibat dari perkawinan adalah pengaturan mengenai anak. Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa anak luar kawin hanya mempunyai hubungan dengan ibunya saja. Ketentuan tersebut membawa dampak negatif terhadap anak luar kawin dalam kehidupan masyarakat. Selain itu perlindungan terhadap anak luar kawin belum terpenuhi akibat adanya pasal tersebut. Akibatnya pasal tersebut diajukan judicial review oleh Machica Mochtar ke Mahkamah Konstitusi. Pada tanggal 17 Februari 2012 Mahkamah Konstitusi mengeluarkan Putusan Nomor 46/PUU-VIII/2010 yang membatalkan ketentuan Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Pasal 43 ayat (1) berubah menjadi anak luar kawin mempunyai hubungan dengan ibu serta ayah biologisnya sepanjang dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan dan alat bukti menurut hukum. Perbedaan pasal 43 ayat (1) sebelum dan sesudah dirubah memiliki tujuan dan maksud yang berlainan terutama dalam hal perlindungan terhadap anak luar kawin.

Hasil penelitian ini memberikan gambaran mengenai perbandingan Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 yang mengatur mengenai anak luar kawin. Selain itu dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi membawa pengaruh terhadap perlindungan anak luar kawin dimana selama ini anak luar kawin kurang mendapatkan perlindungan dari negara dalam hal pemenuhan hak-hak dasar anak sebagaimana mestinya sebagaimana dimanatkan dalam Undang-Undang.


Kata kunci: Komparasi Pasal 43 ayat (1), Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010, Perlindungan Anak.
ABSTRACT


Act no 1 of 1974 about Marriage which is the legal unification efforts on setting up procedures for marriage and the legal consequences of marriage. One of the effect of the marriage is a regulation of child. Article 43 paragraph (1) Act no 1 of 1974 about Marriage said that illegitimate children only have a relationship with his mother. Thats provision brings negatively affect towards to the illegitimate child in public life. Moreover, the protection to the illegitimate child not fulfilled because of that article. Consequently, that article submitted to judicial review by Machica Mochtar to the constitutional court. on the 17th of February 2012, the constitutional court issued a verdict number 46/PUU-VIII/2010 who cancelled the provision of article 43 paragraph (1) Act no 1 of 1974 about Marriage. The article 43 paragraph (1) changes into the illegitimate child have relationship with his mother and his biological’s father as long as it can be proven with science and evidence according to the law. The difference of article 43 paragraph (1) before and after its modified is have different goals and intentions especially in terms of protection to the illegitimate child.
The result of this research gives description of the comparison between article 43 paragraph (1) Act no 1 of 1974 about Marriage and constitutional court verdict number 46/PUU-VIII/2010 who regulate the illegitimate child. Moreover, with the constitutional court verdict brings influence to the illegitimate child’s protection, wherever during this time, the illegitimate child get less protection from the state in the terms of fulfillment of the fundamental rights of the child as it should be mandated by the law.

Keywords: comparison article 43 paragraph (1), constitutional court verdict number 46/PUU-VIII/2010, protection to child
108953888E1A007309PENERAPAN PASAL 103 UNDANG-UNDANG NOMOR 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA DALAM REHABILITASI MEDIS OLEH JAKSA PENUNTUT UMUM TERHADAP PECANDU NARKOTIKA (Studi Putusan Perkara Nomor : 824/Pid.B/2011/PN.Bks)Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika memberikan peran lebih di bidang pendekatan kesehatan bagi pecandu narkotika dan memberikan jaminan pengaturan upaya rehabilitasi medis bagi penyalahguna dan pecandu narkotika. Pasal 103 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika mengatur mengenai rehabilitasi medis terhadap penyalahguna narkotika bagi diri sendiri (pecandu narkotika). Penyalahguna narkotika bagi diri sendiri (pecandu narkotika) pada dasarnya memenuhi klasifikasi tindak pidana narkotika untuk mendapatkan rehabilitasi medis. Ketentuan di dalam Pasal 103 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika jelas mengenai penjatuhan putusan mengenai rehabilitasi.
Diterapkannya double track system (sanksi pidana dan sanksi tindakan) dalam Pasal 103 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika bagi terdakwa pecandu narkotika sebagai korban penyalahgunaan narkotika karena pelaku penyalahgunaan narkotika memiliki posisi yang sedikit berbeda dengan pelaku tindak pidana lainnya. Masa menjalani rehabilitasi medis sebagai sanksi pidana dan rehabilitasi medis itu sendiri sebagai sanksi tindakan, serta hal ini juga merupakan salah satu pemenuhan hak bagi terdakwa pecandu narkotika untuk mendapatkan pemulihan kesehatan atau perawatan. Walaupun dalam pelaksanaannya keterbatasan dana, kelengkapan sarana dan prasarana juga kurangnya sumber daya manusia atau tenaga ahli menjadi hambatan untuk diberlakukannya program rehabilitasi medis ini
Rehabilitasi medis diberikan atas dasar sanksi pidana dan sanksi tindakan oleh Jaksa Penuntut Umum dan Hakim berdasarkan Pasal 103 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 tahun 2010 tentang Penempatan Penyalahgunaan, Korban Penyalahgunaan dan Pecandu Narkotika ke dalam Lembaga Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial.
Law Number 35 Year of 2009 on Narcotics give more roles in the field of health for drug addicts and provide assurance of medical rehabilitation admission of degree and social rehabilitation for drug abusers and addicts. Article 103 of Law Number 35 Year of 2009 on Narcotics settle a medical rehabilitation for drug abusers to themselves (drug addict). Abusers of narcotics for themselves (drug addict) basically fullfill the classification of narcotic for medical rehabilitation. Provisions in Article 103 of Law No. 35 Year of 2009 on Narcotics have a distinctly decision regarding the imposition of rehabilitation.
Implementation of double track system (criminal sanctions and action sanctions) under Article 103 of Law Number 35 Year of 2009 on Narcotics for accused drug addicts as victims of drug abuse drug abuse because the perpetrator has a position that is slightly different from other criminals. Undergo a period of medical rehabilitation and medical rehabilitation of criminal sanction itself as action sanctions, and it is also a fulfillment of the rights of the accused drug addicts to get health recovery or treatment. Although the implementation of limited funds, infrastructure completeness also the lack of human resources or expertise to be an obstacle to the implementation of this program of medical rehabilitation
The court decisison is given on the basis of medical rehabilitation of criminal sanctions and action sanctions measures by the Public Prosecutor and the Judge is based on Article 103 of Law Number 35 Year of 2009 on Narcotics and Supreme Court Circular Number 4 of 2010 on the Placement Abuse, Drug Abusers and Addicts in Rehabilitation Institute of Medical and Social Rehabilitation.
108963889A1H008009KARAKTERISTIK DAYA SERAP AIR SERAT BATANG PISANG HASIL ELEKTROLISIS SEBAGAI BAHAN BAKU TEKSTILIndonesia mengimpor kapas lebih dari 2 milyar dolar di tahun 2011. Usaha yang dilakukan adalah mengganti kapas dengan serat batang pisang. Serat batang pisang memiliki daya serap air rendah sehingga perlu dielektrolisis agar daya serap air tinggi. Tujuan dari penelitian adalah: (1) Mengekstraksi serat batang pisang (2) Mengidentifikasi perubahan pH dan warna pada elektrolisis serat batang pisang. (3) Mengetahui komponen kimia dalam serat batang pisang hasil elektrolisis. (4) Mengetahui daya serap air serat batang pisang hasil elektrolisis. Penelitian menggunakan analisis deskriptif pada proses ekstraksi serat pisang dan analisis grafik pada pengamatan pH dan warna, kandungan kimia, serta daya serap air. Variasi perlakuan elektrolisis yang digunakan adalah elektrolisis 0 jam, 12 jam, 24 jam, 36 jam. Serta variasi perendaman 30 detik, 60 detik, 300 detik, 600 detik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Ekstraksi serat batang pisang kapok menggunakan cara manual dengan proses water retting dan scraping dengan massa perpelepah rata-rata 0,3 kg akan menghasilkan serat sebesar 0,15 kg. (2) Perlakuan elektrolisis selama 36 jam merupakan perlakuan paling baik dengan pH antara 7-0 di anoda dan 7-14 di katoda, dan warna serat kuning keputih-putihan. (3) Serat batang pisang dengan perlakuan elektrolisis 0 jam, 12 jam, 24 jam, 36 jam, memiliki kadar selulosa antara 52,06% - 55,61% , kadar lignin 3,2% - 7,2%, kadar air 5,7%-12,2%, kadar abu 0,3%-1,6%. (4) Daya serap air paling baik didapat pada perlakuan elektrolisis selama 36 jam dengan perlakuan perendaman selama 30 detik, 60 detik, 300 detik, 600 detik dengan hasil berturut-turut 1,41 gr/cm2 ; 1,42 gr/cm2 ; 1,44 gr/cm2; 1,33 gr/cm2 dan kapasitas penyerapannya berkisar antar 5-7 kali berat awal serat.Indonesia imported cotton more than 2 billion dollars in 2011. Away that has conducted to solve the problem of cotton national always by substituting the main raw material of textiles from banana trunk fibers. The banana trunk fibers has very low water absorption. Therefore, it is needed to electrolyze firstly in order to have high water absorption. The purpose of this research was (1) to find out how to extract banana fiber.(2) to know how change of pH and colour at the process of banana stem fibers electrolysis, (3) to know how chemical contents results of electrolysis of banana fiber (4) to know how the ability of water absorption results of electrolysis of banana fiber. The research using deskriptif analysis at the process banana fibers extraction and using graphic analysis at the pH and color measuring, chemical contents measuring and water absorption measuring.Treatment variations were electrolysis during 0 hours, 12 hours, 24 hours, 36 hours. And treatment variations of water absorption testing were inserted into the water during 30 seconds, 60 seconds, 300 seconds, 600 seconds.The results showed that: (1) Extraction of banana stem fibers used manual way by water retting process and scraping, where a mass of a banana leaves average 0.3 kg will to produce fibers of 0.15 kg. (2) Treatment of electrolysis for 36 hours was best treated with a pH between 7-0 and 7-14 at the anode in the cathode, and the color of fibers was yellow whitish. (3) banana stem fibers with electrolysis treatments 0 hours, 12 hours, 24 hours, 36 hours, has a cellulose content between 52.06% - 55.61%, lignin content of 3.2% - 7.2%, moisture 5 , 7% -12.2%, ash content of 0.3% -1.6%. (4) Maximum water absorption obtained on electrolysis treatment for 36 hours to yield 1.41 g/cm2; 1.42 g/cm2; 1.44 g/cm2; 1.33 g/cm2 and absorptive capacities ranging between 5 - 7 initial weight of fiber.
108974261H1F007045Geologi dan Geokimia Daerah Potangoan dan Sekitarnya
Kecamatan Paleleh Barat, Kabupaten Buol,
Provinsi Sulawesi Tengah
Daerah penelitian berada di Kecamatan Paleleh Barat, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Daerah ini termasuk dalam kompleks gunungapi lengan utara Sulawesi.
Berdasarkan ciri batuan yang telah diamati dilapangan maka stratigrafi daerah penelitian dapat dibagi menjadi lima satuan batuan berdasarkan satuan litostratigrafi tidak resmi dalam urutan umur tua ke muda yaitu Satuan Lava Andesit, Satuan Tuf, Satuan Granodiorit, Satuan Breksi Volkanik dan yang terakhir adalah Satuan Andesit Piroksen. Terdapat 4 buah struktur utama yang diidentifikasikan di daerah pemetaan, dari gaya dominan yang relatif berarah northwest-southeast, maka akan didapatkan struktur yang relatif berarah northwest-southeast, yaitu: Sesar Mendatar Kanan Naik Bodi Utama, Sesar Mendatar Kanan Naik Bodi Kiri, Sesar Mendatar Kanan Naik Bodi Kanan, Sesar Mendatar Kanan Naik Kenanga.
Secara perhitungan geokimia batuan terdapat 3 jenis batuan, yaitu basalt, andesit-basaltis dan granodiorit. Dengan seri magma kalk-alkali pada tektonik busur kepulauan. Dalam evolusinya, seri kalk-alkali berada pada tahap pembentukan busur gunung api dewasa, dan telah dipengaruhi oleh kerak benua (Wilson, 1989).
The research area is located in the District of West Paleleh, Buol, Central Sulawesi. This area were includes in north arm Sulawesi’s volcanics complex.
Based on the rocks characteristics that have been observed in the field then the stratigraphic study area can be divided into five rock units based on unofficial litho units in order to light the age old Andesite Lava Unit, Tuf Unit, Diorite Intrusion Unit, Volcanic Breccia Unit, and the last is pyroxene Andesite Unit. There are 4 main structures identified in the mapping area, the dominant style relatively trending northwest-Southeast, it will get the structure of the northwest-trending relative there are, namely: Right Reverse Strike Slip Fault Bodi Utama, Right Reverse Strike Slip Fault Bodi Kanan, Right Reverse Strike Slip Fault Bodi Kiri, and Right Reverse Strike Slip Fault Kenanga.
The normative calculations provides 3 kinds of rock geochemistry, namely basalt, basaltic-andesite and granodiorite. With calc-alkaline magma series at island arc tectonics. In its evolution, the calc-alkaline series are the stage of formation of volcanic arc forming, and has been influenced by continental crust (Wilson, 1989)
108983909A1M008055KAJIAN NILAI ENERGI DAN INDEKS GLIKEMIK GULA KELAPA CETAK


Nira merupakan bahan baku dalam pembuatan gula kelapa. Kerusakan nira akibat aktivitas
mikroba dapat dicegah dengan menggunakan bahan pengawet yang disebut laru. Formula laru alami yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu campuran sirih hijau dan kulit buah manggis dengan kapur. Gula
kelapa biasanya digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan makanan dan minuman.
Kecenderungan untuk mengonsumsi makanan yang tidak seimbang didukung kurangnya aktifitas fisik
berperan dalam timbulnya berbagai jenis penyakit degenaratif seperti diabetes melitus. Memilih pangan
yang tidak menaikkan kadar gula darah secara drastis merupakan salah satu upaya untuk menjaga kadar
gula darah pada taraf normal. Penelitian ini ditujukan untuk mengkaji nilai energi dan indeks glikemik
gula kelapa cetak yang dibuat dari nira dengan pengawet alami berupa campuran sirih hijau dan kulit
buah manggis dalam jenis cair dan bubuk. Analisis yang dilakukan yaitu proksimat (kadar air, kadar abu,
kadar lemak, kadar protein, dan kadar karbohidrat), nilai energi, dan indeks glikemik. Data hasil analisis
proksimat diolah dengan Microsoft excel 2007 (windows) dan dianalisis secara deskriptif. Data respon
glukosa darah diolah untuk mendapatkan nilai indeks glikemik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai
energi gula kelapa cetak laru cair 399,02 kkal dan gula kelapa cetak laru bubuk 400,76 kkal. IG gula
kelapa cetak laru cair yaitu 59,79 termasuk dalam IG sedang. IG gula kelapa cetak laru bubuk adalah
47,18 dan tergolong dalam IG rendah.

Coconut sap is the raw material of coconut sugar. Coconut sap damage by microbial activity
can be prevented using a preservative called “laru”. This research use a mixture of natural laru from
green betel and mangosteen peel’s with a lime. Coconut sugar usually used as a raw material in the
manufacture of food and beverages. The tendency to eat an unbalanced diet and also supported the lack
of physical activity can cause degenerative disease such as diabetes mellitus. Choosing foods that do not
raise blood glucose levels drastically is an effort to keep blood sugar at normal level. The aims of the
research were to measure of energy value and glycemic index from solidified coconut sugar which made
from coconut sap using a mixture laru from green betel and mangosteen peel’s with a lime in powder and
liquid. Proximate analysis included moisture, ash, lipid, protein and carbohydrate (by-difference)
content, energy value and glycemic index. Proximate analysis data was processed by Microsoft Excel
2007 (windows) and analyzed descriptively. Blood glucose response data was processed to obtain
glycemic index value. The results showed that the energy value of solidified coconut sugar with liquid
laru 399.02 kcal and solidified coconut sugar with powder laru 400.76 kcal. Glycemic index of solidified
coconut sugar with liquid laru 59.79 which classified as medium category. Solidified coconut sugar with
powder laru 47.18 which classified as low category.

108993831H1C008025RANCANG BANGUN KONTROLLER GENERATOR MENGGUNAKAN SENSOR ACS712 BERBASIS PLC OMRON SYSMAC PADA PLTP
DI DESA WATUAGUNG KECAMATAN TAMBAK KABUPATEN BANYUMAS
Pembangkit Listrik Tenaga Pikohidro (PLTPH) merupakan pembangkit tenaga air, yang diperoleh dari aliran air yang mengalir ke turbin untuk menggerakan generator sehingga dapat menghasilkan energi listrik. Salah satu daerah pedesaan yang memanfaatkan PLTPH ialah desa Watuagung Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas, dikarenakan terbatasnya jangkauan jaringan listrik PLN. Generator pada PLTPH desa Watuagung memiliki kendala yaitu nilai keluaran tegangan dan frekuensi yang dihasilkan generator tidak stabil, sehingga diperlukan suatu alat yang dapat mengatasi permasalahan tersebut yaitu rangkaian kontroller generator menggunakan sensor arus ACS712 berbasis PLC. ACS712 akan mendeteksi perubahan beban dan sensor tegangan akan mendeteksi terjadinya perubahan tegangan, kedua sensor ini sebagai parameter pengontrollannya untuk menjaga tegangan keluaran generator tetap pada rangenya. Perancangan pengendalian menggunakan aplikasi PLC, ACS712, dan sensor tegangan ini mampu mengendalikan perubahan beban dan tegangan. Berdasarkan pengujian menggunakan sumber variabel AC sebesar 1.2 kW, saat sumber variabel AC kurang dari 198 V maka beban komplemen dan beban konsumen off dan saat beban mencapai 3.8A buzzer overload akan aktif dan kontaktor ballast load off apabila kondisi ini tetap diabaikan mencapai 4.6A maka PLC secara otomatis mematikan kontaktor konsumen menjadi off.Electrical Power Plant powered pikohidro (EPPP) is power plant based on water powered which is acquired by water flow which actuate turbine for generator movement. this mechanims can produces electrical power. One of many villages which employed EPPP is Watuagung village on Tambak subdistrict in banyumas regency. It used this technology because of restrictiveness of PLN electric network. the generator on watuagung has problem, there are output of voltage and frequency is not stable so that it needs a system that can solves the problem. The system is generator controler which used ACS712 current sensor based on PLC. ACS712 will
detects load changing also voltage sensor will detects voltage changing. Both of these sensor became a controler parameter to keep voltage output oin the range values. The controler designing used PLC aplication, ACS712 and voltage sensor which these system can hold load and voltage changing. Based on the testing used 1.2 kW AC Voltage variable, while output AC Voltage variable less than 198 V there complement and comsumer load was OFF condition and while output AC Voltage variable reached range values of 198-230 V then load reached 3.8 A so the overloaded buzzer was active (ON) then load ballast contactor was OFF. If this condition is ignored then load reached 4.6 A so that PLC will make anactive (OFF) consumer contractor automaticly.
109003802E1A007121Kekuatan Alat Bukti Surat Visum et Repertum dalam Pengungkapan Tindak Pidana Persetubuhan terhadap Anak
(Tinjauan Yuridis terhadap Putusan Perkara Nomor : 06/Pid.Sus/2011/PN.Pwt ).
The evidence of Visum et Repertum Principles as The Revelation of Criminal Act of The Copulation to The Children.
(Juridical Review to The Crime Decision Number 06/Pid.sus/2011/PN.Pwt)
Pengungkapan tindak pidana khususnya yang terkait dengan tindak pidana yang dilakukan terhadap korban anak dapat dilakukan dengan menggunakan keterangan seorang ahli. Dokter tersebut nantinya akan membuat sebuah laporan resmi yang biasa disebut dengan Visum et Repertum yang kemudian digunakan oleh para penegak hukum untuk membantu mengungkap adanya suatu tindak pidana.
Tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh penulis tidak lain adalah untuk mengungkapkan mutlak atau tidaknya penggunaan alat bukti surat Visum et Repertum dalam perkara dengan Putusan Nomor : 06/Pid.Sus/2011/PN.Pwt . Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui mengenai kekuatan alat bukti surat Visum et Repertum pada perkara dengan Putusan Nomor : 06/Pid.Sus/2011/PN.Pwt. untuk mencapai tujuan tersebut penulis menggunakan pendekatan yuridis normatif. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan yang kemudian diolah, disajikan dan dianalisis secara kualitatif kemudian disajikan menggunakan penyajian data naratif.
Hasil penelitian menyatakan bahwa kekuatan pembuktian dari alat bukti surat Visum et Repertum pada Putusan Nomor : 06/Pid.Sus/2011/PN.Pwt ternyata memiliki kekuatan pembuktian yang bebas sehingga kekuatan pembuktiannya sama dengan alat bukti lainnya sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 184 KUHAP. Alat bukti surat Visum et Repertum merupakan bentuk tertulis dari keterangan yang diberikan seorang ahli yang dalam hal ini merupakan dokter ahli dari kedokteran kehakiman yang dari segi formil merupakan alat bukti yang sempurna dan sah karena dibuat oleh seorang ahli yang diminta secara resmi padanya sebagaimana diatur dalam Pasal 187 huruf c KUHAP. Secara materiil alat bukti surat Visum et Repertum membuktikan tentang adanya luka robek lama pada selaput dara pada posisi jam 10, jam 12, dan jam 2 yang disebabkan karena kekerasan benda tumpul sebagai akibat dari persetubuhan yang dilakukan oleh terdakwa. Penggunaan alat bukti surat Visum et Repertum pada Putusan Nomor : 06/Pid.Sus/2011/PN.Pwt adalah diperlukan untuk mengungkapkan adanya tindak pidana persetubuhan terhadap anak yang bertujuan membuktikan adanya unsur Membujuk Anak Melakukan Persetubuhan dengannya atau orang lain yang dilakukan secara berturut-turut yang didakwakan oleh Penuntut Umum dalam Pasal 82 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak Jo pasal 64 ayat (1) KUHAP.
The revelation of criminal act especiallythose that is connected with the criminal act ti the children can be done by using the explanation of an expert. The expert is those who are a doctor in the legal medic ( forensic). It is doctor will make a official report that can be said as Visum et Repertum that can be used by officers which deal with justice to help revealing a criminal act.
The aim of the researc is to reveal whether the evidence of Visum et Repertum is absolute or not. In the crime decision Number : 06/Pid.Sus/2011/PN.Pwt. this researc is also aimedto know about the streght of the evidence of Visum et Repertum in the crime decision Number : 06/Pid.Sus/2011/PN.Pwt. To accomplish that objective, the writer uses the normative jurisprudence. Approach the data that is uses is a secondary achieved from literature study that will processed, is presented, and is analysed with qualitativeafter that presented using narative data presentation. The result of the researc state that the strenght of Visum et Repertum is proved to have a strenght of independence evidence. Thus, the strenght of Visum et Repertum in that affair become same as the other evidence as is meant by section 184 KUHP. The evidence of Visum et Repertum is a written form of the explanation that is given by an expert thats is a doctor from legal medic from official side is the perfect and lawful evidence because it is made by an expert who is asked formally as it is shown in the section 187 letter c KUHP. According to the material of the Visum et Repertum proved that there are long torn wound at heymen in the 10 o’clock, 12 o’clock and 2 o’clock position thats is coused by blunt things as the result of copulation that is done by the accused. The using of Visum et Repertum at the crime decision Number : 06/Pid.Sus/2011/PN.Pwt is very needed to reveal the criminal act of copulation to the children that is aimed to prove that there is a persuation part to the children to do the copulation with him or other one that is done respeatedly that is accused by general prosecutor in the section 82 regulation Number 23 2002 about Children Protection Jo chapter 64 section (1) KUHP.