Artikelilmiahs

Menampilkan 10.841-10.860 dari 48.977 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
108413756G1F008080Efek Kardioprotektif Kombinasi Curcuma xanthorriza, Curcuma domestica, dan Zingiber officinale Terhadap Tikus yang Diinduksi DoksorubisinDoksorubisin merupakan agen antikanker yang biasa digunakan namun, memiliki efek samping berupa kardiotoksik. Tanaman C. xanthorriza, Z. Offinale dan C. domestica, mempunyai potensi untuk mencegah terjadinya efek kardiotoksik yang disebabkan oleh penggunaan doksorubisin. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati efek kardioprotektif kombinasi C. xanthorriza, C. domestica, dan Z. offinale pada tikus yang diinduksi doksorubisin berdasarkan parameter histopatologi jantung dan kadar Creatine Kinase Isoenzyme MB (CKMB) darah.
Penelitian ini merupakan eksperimen laboratorium yaitu dilakukan pada 28 hewan uji tikus jantan galur Wistar yang diinduksi doksorubisin dengan pemberian ekstrak etanol 96% kombinasi C. xanthorriza, C. domestica, dan Z. offinale. Tikus jantan galur Wistar dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok 1 diberi NaCl 1ml/hari i.p, Kelompok 2 diberi doksorubisin 5 mg/kg BB i.p pada hari 1, 5, 9, 13, kelompok 3 diberi doksorubisin 5 mg/kg BB i.p + ekstrak 250 mg/kgBB/hari p.o selama 14 hari, kelompok 4 diberi doksorubisin 5 mg/kg BB i.p + ekstrak 500 mg/kgBB/hari p.o selama 14 hari. Seluruh hewan diambil darahnya dan dikorbankan untuk diambil organ jantung pada hari ke-15. Nilai CKMB dievaluasi untuk melihat kerusakan sel otot jantung.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa doksorubisin dapat meningkatkan kadar CKMB dan ekstrak kombinasi C. xanthorriza, C. domestica, dan Z. Offinale dapat menurunkan kadar CKMB setelah 13 hari perlakuan. Gambaran histopatologi dengan pewarnaan H&E menunjukkan bahwa organ jantung dalam keadaan normal tidak ada kerusakan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi C. xanthorriza, C. domestica, dan Z. officinale memiliki efek proteksi terhadap kerusakan jantung yang disebabkan oleh doksorubisin dengan ditunjukkan penurunan nilai CKMB.


Doksorubisin is a commonly used anticancer agents, however, has its largest side effects in the form of kardiotoksik. Plants of c. xanthorriza, z. Offinale and c. domestica, have the potential to prevent the occurrence of kardiotoksik effects caused by the use of doksorubisin. This research aims to observe the effect of combination of kardioprotektif c. xanthorriza, c. domestica, and z. offinale in mice induced doksorubisin parameter based on histopathology of the heart and blood levels of CKMB.
This research is conducted in the laboratory experiments of 28 animals tested rats Wistar strain male doksorubisin induced by administering the extract ethanol 96% combination c. xanthorriza, c. domestica, and z. offinale. Male Wistar strain rats were divided into four groups. Group 1 is given 1 ml NaCl/day i. p, group 2 is given doksorubisin 5 mg/kg i. p on day 1, 5, 9, 13, group 3 was given doksorubisin 5 mg/kg i. p extract 250 mg/day/kgBB p.o for 14 days, the Group was given 4 doksorubisin 5 mg/kg i. p extract 500 mg/day/kgBB p.o for 14 days. The animals were sacrificed and its blood taken to heart an organ taken on the 15th day. The value of CKMB evaluated to see damage to heart muscle cells.
The result of this research shows that doksorubisin can increase the levels of CKMB and extract combination c. xanthorriza, c. domestica, and z. Offinale can lower the levels of CKMB after 14 days of treatment. Identification using color reagents indicates that organ the heart under normal circumstances there is no damage. The result of this research shows that the combination of c. xanthorriza, c. domestica, and z. officinale has the effect of protection against heart damage caused by doksorubisin with indicated a decrease in the value of CKMB.


108423774F1F007006THE IMPLEMENTATION OF RSBI
(INTERNATIONAL STANDARDIZED PIONEERING SCHOOL)
IN SCHOOL MANAGEMENT ASPECTS AT ELEMENTARY SCHOOL
(A Study of SD Negeri 2 Tinggarjaya, Jatilawang)
ABSTRAK
Penelitian ini menjelaskan tentang “The Implementation of RSBI (International Standardized Pioneering School) In School Management Aspect At Elementary School (A Study of SD Negeri 2 Tinggarjaya Jatilawang)”. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana SD Negeri 2 Tinggarjaya Jatilawang, menjalankan program RSBI berdasarkan standar manajemen, mengetahui masalah-masalah yang dihadapi oleh pihak sekolah pada standar manajemen setelah menjalankan program RSBI, serta mencari tahu persepsi dari kepala sekolah, guru-guru, dan para orang tua murid tentang program RSBI. Hasil dari observasi, kuesioner, dan studi dokumen menunjukan bahwa manajemen komponen-komponen sekolah di SD Negeri 2 Tinggarjaya, tidak sesuai dengan standar manajemen RSBI (belum diperkaya dengan standar manajemen dari negara-negara OECD atau negara-negara maju lainnya), bahkan belum memenuhi standar manajemen yang ditentukan oleh pemerintah. Masalah utama yang dihadapi oleh SD Negeri 2 Tinggarjaya dalam menjalankan program RSBI adalah kurang ikut sertanya pemerintah lokal untuk mengawasi dan medampingi SD Negeri 2 Tinggarjaya dalam menjalankan program RSBI; kurangnya dana; kualitas SDM yang tidak sesuai. Persepsi kepala sekolah, para guru, dan para orang tua murid tentang RSBI, mereka sangat mendukung pemerintah yang meluncurkan program RSBI. Meskipun sebagian besar dari orang tua masih menganggap bahwa RSBI adalah sekolah yang memiliki kelebihan dalam penggunaan bahasa asing, dan memiliki fasilitas yang lebih lengkap dibanding sekolah yang lain.
ABSTRACT
This research was about “The Implementation of RSBI (International Standardized Pioneering School) In School Management Aspect At Elementary School (A Study of SD Negeri 2 Tinggarjaya Jatilawang)”. The purposes were to describe how SD Negeri 2 Tinggarjaya Jatilawang runs the RSBI program according to management standards, to find out problems encountered by the school after implementing RSBI at management standards, and to find out perceptions of the principal, teachers, and student parents of RSBI. The result of observation, questionnaire, and document study were: some school management components of SD Negeri 2 Tinggarjaya were not in accordance with the management standards of RSBI (did not enrich the foreign management standard of OECD or other developed country). Moreover, they did not meet management standard of the government. The main problem faced by SD Negeri 2 Tinggarjaya in running the program were lack of role of district/local government, lack of the fund, and inappropriate quality of human resource. The perception of principal, teachers, and student parents supported the government in running the program. Nevertheless, most student parents still assumed that RSBI was a school that had advantages in foreign languages, or having more complete facilities than other schools.
108433757G1F008045PENGARUH RASIO JUMLAH APOTEK DENGAN JUMLAH PENDUDUK TERHADAP PENDAPATAN APOTEK DI WILAYAH KABUPATEN BANYUMASKesehatan merupakan hak asasi setiap manusia. Salah satu pelayanan kefarmasian yang mendukung pelayanan kesehatan adalah apotek. Keberadaan apotek harus merata agar kesehatan dapat terjamin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio jumlah apotek dengan jumlah penduduk terhadap pendapatan apotek di wilayah kabupaten Banyumas.
Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi square dan korelasi spearman untuk mengetahui adakah pengaruh rasio jumlah apotek dan jumlah penduduk terhadap pendapatan apotek.
Hasil menunjukkan ada pengaruh antara lama berdiri apotek terhadap pendapatan apotek, dengan nilai p<0,005 yang dianalisa menggunakan uji chi square. Rasio jumlah apotek dengan jumlah penduduk per lama berdiri dianalisis menggunakan uji korelasi spearman, dengan nilai p-value masing-masing kategori lebih besar dari 0,005, yaitu 0,087; 0,334; 0,147; 0,731 dan 0,058 untuk kategori <1 tahun; 1-3 tahun; >3-5 tahun; >5-10 tahun dan >10 tahun.
Penelitian yang telah dilakukan, rasio jumlah apotek dengan jumlah penduduk tidak mempengaruhi pendapatan apotek, sedangkan yang paling mempengaruhi adalah lama berdiri apotek. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor yang berasal dari luar apotek yang terkadang tidak dapat dikontrol oleh apotek itu sendiri.
Health is one of the human rights. Pharmaceutical care that support health services was a pharmacy. The objective of this study was to determine the impact of number of pharmacy and resident ratio on pharmacy income in district Banyumas.
The method that used to describe the general condition of a pharmacy was descriptive statistics. Bivariate analysis using chi square test and spearman
2
correlation was to determine is there any impact of number of pharmacy and resident ratio on pharmacy income in district Banyumas or not.
Result showed there was a long exist pharmacy effect on pharmacy income. Ratio each year category is greater than 0.005, which is 0.087; 0.334; 0.147; 0.731 and 0.058 for the category of <1 years; 1-3 years; >3-5 years; >5-10 years and >10 years
Research has been carried out, there was no impact of number of pharmacy and resident ratio on pharmacy income, while the most influence was its long existance. This can be caused by several factors coming from outside pharmacies that sometimes could not be controlled by the pharmacy itself.
108443881C1I006007PERAN PEMBERIAN KREDIT UMKM TERHADAP KESEJAHTERAAN PEDAGANG SAYURAN NASABAH BPR SURYA YUDHA CABANG PURWAREJA KLAMPOK KABUPATEN BANJARNEGARA
Untuk mengetahui tingkat pendapatan pedagang sayuran di pasar Purwareja Klampok sebelum dan sesudah pemberian krerdit UMKM oleh BPR Surya Yudha Cabang Purwareja Klampok.
Untuk mengetahui tingkat kesejahteraan pedagang sayuran di Pasar Purwareja Klampok sebelum dan sesudah pemberian kredit UMKM oleh BPR Surya Yudha Cabang Purwareja Klampok
To determine the level of income trader Purwareja Klampok vegetables at the market before and after BPR krerdit SMEs by Surya Yudha Purwareja Klampok Branch.
To determine the level of welfare of vegetable traders in the market before and after Purwareja Klampok SME lending by RB Surya Yudha Branch Purwareja Klampok
108453747G1F008089PENGARUH EDUKASI MENGENAI OSTEOPOROSIS TERHADAP PENGETAHUAN APOTEKER DI KABUPATEN BANYUMASOsteoporosis merupakan masalah kesehatan masyarakat yang memberikan dampak sosial maupun dampak ekonomi.Berdasarkan kompetensi yang dimiliki, apoteker dapat menjadi bagian dari solusi untuk masalah ini.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh edukasi mengenai osteoporosis dengan menggunakan modul terhadap pengetahuan apoteker di Kabupaten Banyumas.
Penelitian ini menggunakan rancangan before dan after one group design.Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner.Jumlah sampel terdiri atas 63 Apoteker di Kabupaten Banyumas.Analisis data dilakukan secara deskriptif serta bivariat dengan uji Wilcoxon.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden sebelum diberikan edukasi (88%) memiliki pengetahuan yang kurang baik, sedangkan setelah diberikan edukasi mayoritas responden (68%) memiliki pengetahuan yang baik. Secara statistik terdapat peningkatan pengetahuan yang signifikan yaitu p < 0,0001. Edukasi mengenai osteoporosis dapat meningkatkan pengetahuan apoteker di Kabupaten banyumas.
Osteoporosis is a public health problem thatcaused social impact and economic impact. Based on their competence, the pharmacists can be a part of the solution for this problem. The purpose of this study was to determine the influence of education about osteoporosis used module into pharmacists’ knowledge in Banyumas.
This study is usingbefore and after one group design. The method of data collection is using questionnaires. Number of samples consisted of 63 pharmacists in Banyumas. Data Analysiswas performed descriptively and bivariate by Wilcoxon test.
The results of this study showed that the majority of respondents before being given education (88%) had a poor knowledge, whereas after administration of education most respondents (68%) had good knowledge. Statistically significant increases in knowledge ( p<0,0001).An education about osteoporosis can increase the knowledge of pharmacists in Banyumas regency.
108463719G1A005100Penyimpangan Sosial dari Holden Caulfield Yang Tergambarkan Dalam Novel “The Catcher in
The Rye” karya Jerome David Salinger
Skripsi yang berjudul “Social Diorder On Holden Caulfield as Depicted In J.D. Salinger’s
The Catcher In The Rye Novel” bertujuan untuk menganalisis bagaimana penyimpangan sosial pada Holden Caulfield seperti yang tergambarkan pada novel berjudul The Catcher in the Rye karangan J.D. Salinger. Dalam penelitian ini, metode deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis data. Terdapat beberapa langkah yang dilakukan dalam menganalisis dan mengetahui jawaban dari pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini. Pertama adalah menentukan obyek yang akan dianalisis. Langkah kedua adalah mengkaji unsur-unsur intrinsik novel, seperti dialog, narasi dan juga karakter-karakternya sebagai unsur intrinsik yang paling dominan di dalam novel. Langkah ketiga menganalisis data dengan menghubungkannya dengan teori piramida kebutuhan dari Maslow melalui unsur-unsur intrinsik yang ada di dalam novel.Setelah mendapatkan hasil akhir dari analisis maka langkah terakhir yaitu menyusun kesimpulan.Holden Caulfield memiliki empat komponen kegagalan dalam teori penyimpangan sosial. Kegagalan tersebut adalah kegagalan dia dalam proteksi dan gangs, kegagalan di sekolah, kegagalan di rumah, dam kegagalan dalam mentaati peraturan yang ada. Jadi karena kegagalan tersebut akhirnya Holden memilih untuk memenuhi sebagian kebutuhannya dengan melakukan penyimpangan sosial.

The research entitled “Social Diorder On Holden Caulfield as Depicted In J.D. Salinger’s
The Catcher In The Rye Novel” is aimed to analyze How is the social disorder of Holden Caulfield as depicted in The Catcher in the Rye by Jerome David Salinger and what are the causes of Holden Caulfield’s social disorder. In this research, descriptive qualitative method is used to analyze the data. There are steps done in extracting and analyzing the novel as the answer of the research question. The first is determining the novel. The second is obtaining the intrinsic elements of the novels, such the dialogue, narration and also the characters as the most dominant intrinsic elements in the novel. The third is analyzing the data by connecting them with Hierarchy of needs by Abraham Maslow through the intrinsic elements from t he novel and the last step is writing conclusion. Holden has failures in four components in social disorder, they are failure protection and gangs, failure of school, failure of homes and failure of law enforcement. Therefore, because of his failures, in filling his needs he do social disorder.
108473839I1A006056STUDI PERBAIKAN FAKTOR DAYA PADA PENYEARAH SATU FASA MENGGUNAKAN BOOST UP CHOPPER DENGAN KONTROL PROPORTIONAL INTEGRAL (PI)Penggunaan konverter berbasis rangkaian elektronik mengakibatkan pembangkitan harmonisa tegangan dan arus disisi sumber. Pada kasus penyearah satu fasa yang hanya menggunakan filter kapasitor dan induktor pada sisi keluaran penyearah atau yang sering disebut dengan penyearah konvensional, terdapat masalah kualitas pada sisi masukan dimana bentuk arus masukan yang tidak sinus lagi dan muncul harmonisa pada sisi masukan penyearah yang menyebabkan power faktor menjadi rendah. Salah satu rangakain yang dapat diaplikasikan untuk penyearah satu fasa adalah DC Chopper yang dilengkapi dengan PI (Propotional Integral) kontrol yang digunakan untuk mengkonversikan tegangan searah tetap menjadi tegangan searah yang dapat divariasikan dengan mengatur waktu membuka dan menutupnya saklar statis yang terhubung di antara sumber dan beban terpasang sebagai salah satu Metode perbaikan faktor daya pada penyearah satu fasa. Pengujian dilakukan dengan menggunakan software Power PSIM Professional Version 9.0.3.400 untuk mengetahui pembangkitan harmonisa yang dibangkitkan disisi sumber (tegangan jala-jala) pada penyearah satu fasa. Hasil evaluasi dan analisa dalam studi kasus pada penyearah konvensional menunjukkan pembangkitan THD arus yang cukup besar (168,5%), sedangkan harmonisa tegangan disisi sumber menghasilkan persentase THD tegangan yang tidak terlalu besar (0,018 %).The use of converter based on electronic circuits resulting the generation of harmonic voltage and current at source. In the case of single phase rectifier when using filter capacitors and inductors at the output of the rectifier, often referred to as a conventional rectifier, it has any shortage or weaknesses in quality of the inputs.There are the shape of input current being incomplete and harmonics will appear in the input rectifier, causing power factor became low. The way to solve this problem is by applied of DC Chopper which it have a PI(proportional integral) control. It used to convert the fixed direct voltage to the direct voltage which can be varied by adjusting the opening and closing of time static switch that connected between the source and the load. The examination is done by using the Power PSIM Professional Version 9.0.3.400 software to determine the generation of source harmonics signal (grid voltage) in a single phase rectifier. The results of the evaluation and analysis of the case studies shown the huge increase of current THD (168.5%), while the harmonics source voltage shown the enough percentage of Voltage THD (0.018%).
108483759F1C007092PENGETAHUAN SANTRI REMAJA PONDOK PESANTREN FATHUL HUDA KEBONDALEM PURWOKERTO MENGENAI KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA Penelitian ini berjudul “Pengetahuan santri remaja Pondok Pesantren Fathul Huda Kebondalem Purwokerto Mengenai Kesehatan Reproduksi Remaja”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pengetahuan santri remaja pondok pesantren Fathul Huda Kebondalem Purwokerto mengenai kesehatan reproduksi remaja, media apa saja yang digunakan untuk mencari informasi mengenai kesehatan reproduksi remaja serta pola pencarian informasinya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Pengambilan sampel secara purposive sampling, analisa data yang digunakan yaitu pengumpulan data, reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan. Sedangkan validitas data yang digunakan berupa triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa santri remaja di pondok pesantren Fathul Huda Purwokerto kurang mengetahui mengenai kesehatan reproduksi remaja dikarenakan tidak adanya sosialisasi dan penyuluhan mengenai kesehatan reproduksi remaja di pondok pesantren baik dari pihak pondok pesantren maupun dinas kesehatan setempat. Media yang digunakan oleh santri dalam mencari informasi mengenai kesehatan reproduksi remaja adalah media komunikasi antar pribadi dengan guru, dan teman, serta membaca buku dan internet. Pola pencarian informasi yang dilakukan santri dengan cara menanyakan kepada guru disekolah mengenai informasi kesehatan reproduksi remaja, membaca buku-buku kesehatan reproduksi dan mengakses internet.This research entitled "Teen knowledge of boarding school students of Fathul Huda Kebondalem Purwokerto About Adolescent Reproductive Health". The purpose of this study to determine how the knowledge of adolescent boarding school students Fathul Huda Kebondalem Purwokerto on adolescent reproductive health, any media that is used to search for information on adolescent reproductive health and information search patterns. The research method used is descriptive qualitative method. Sampling was purposive sampling, analysis of the data used, namely data collection, data reduction, data presentation and conclusion. While the validity of the data used in the form of triangulation of sources and methods. Results showed that students in the boarding school Fathul Huda Purwokerto less know about adolescent reproductive health due to lack of socialization and education on adolescent reproductive health in both the boarding school boarding school or local health department. Media used by students in finding information on adolescent reproductive health is a medium of interpersonal communication with teachers, and friends, and reading books and internet. The pattern of information search conducted by asking students to teachers in schools regarding adolescent reproductive health information, reading books reproductive health and access the internet.
1084913786D1E011153KADAR AIR, TOTAL PADATAN DAN YIELD CURD KEJU COTTAGE SUSU KAMBING DENGAN PENAMBAHAN STARTER YANG BERBEDAPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan starter sampai taraf 15% terhadap kadar air, total padatan dan yield curd keju cottage susu kambing. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 12 Oktober hingga 12 November 2015 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak dan Laboratorium Ilmu Bahan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk uji kadar air, total padatan dan yield. Perlakuan yang diterapkan terdiri dari penambahan starter yang berbeda yaitu 5%, 10%, dan 15%. Setiap perlakuan diulang sebanyak 6 kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis variansi dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Rataan kadar air curd keju cottage susu kambing antara 53% sampai 62%. Rataan total padatan curd keju cottage susu kambing antara 37% sampai 46%. Rataan yield curd keju cottage susu kambing 18%. Penambahan starter sampai taraf 15% pada pembuatan curd keju cottage memberikan pengaruh sangat nyata (P < 0,01) terhadap kadar air dan total padatan, tetapi berpengaruh tidak nyata (P > 0,05) terhadap yield curd keju cottage. Dapat dispimpulkan bahwa penambahan starter sampai taraf 15% pada pembuatan curd keju cottage susu kambing dapat menurunkan kadar air dan meningkatkan total padatan namun memberikan hasil yang sama terhadap yield curd keju cottage susu kambing.This study which had been conducted from 12 October to 12 November 2015 at the Laboratory of Livestock Product Technology and at the Laboratory of Livestock Feed Science, Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, aims to determine the effects of adding a starter up to 15% on the water content, total solids and yield of goat milk curd cottage cheese. The method used is the method of experiment using a Completely Randomized Design (CRD) to test the moisture content, total solids and yield. The treatment applied consisted of three different starters additions, which were 5%, 10%, and 15%. Each treatment was repeated 6 times. Data were analyzed with the analysis of variance and followed with the Honestly Significant Difference (HSD) test. The average moisture content of goat milk cottage cheese curd was ranging from 53% to 62%. Mean total solids goat milk curd cottage cheese was ranging from 37% to 46%. The average yield curd of goat milk cottage cheese was 18%. The addition of a starter up to 15% in curd cottage cheese making has a very significant effect (P < 0,01) on the moisture level and total solids, but not significant (P > 0,05) on the yield curd cottage cheese. In conclusion, the addition of starter up to 15% in the cheese making process can reduce the water content and increase the total solids but gives similar results to the yield of the cheese.
108503806B1J008013KARAKTER ANATOMI DAN POLA PITA ISOZIM DAUN Avicennia alba Blume. DI DAERAH TERCEMAR DAN TIDAK TERCEMAR, CILACAPPencemaran yang terjadi di Sungai Donan disebabkan oleh pembuangan limbah yang berasal dari kawasan aktivitas Pelabuhan Sleko dan pemukiman yang mempengaruhi vegetasi mangrove yang hidup disekitar Sungai Donan. Hal ini berpengaruh terhadap spesies-spesies mangrove khususnya Avicennia alba Blume. yang memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap pencemaran. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan karakter anatomi daun A. alba dan untuk mengetahui mengenai ada tidaknya perbedaan pola pita isozim A. alba di daerah tercemar berat (Sungai Donan) dan tercemar ringan (Sungai Tritih). Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik pengambilan sampel secara purposive random sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan karakter anatomi daun A. alba yang tumbuh di Sungai Donan dengan ukuran stomata yang lebih kecil, tebal daun dan tebal palisade yang lebih tipis serta jumlah stomata dan trikomata yang lebih banyak dibandingkan di Sungai Tritih serta pola pita isozim yang dihasilkan daun A. alba yang berasal dari Sungai Donan mempunyai pita yang lebih tebal dibandingkan dengan pita yang berasal dari Sungai Tritih.Pollution of rivers Donan caused by waste disposal stemming from an industrial area, port activity and settlements which affect mangrove vegetation around the River Donan. Does this affect mangrove species in particular that has a high degree of vulnerability to pollution. This research was conducted to find out the difference of anatomical characters leaves Avicennia alba Blume. and to know about difference isozyme banding patterns A. alba in heavy contaminated (Donan) and lightly contaminated (Tritih). The method used was survey with purposive sampling technique of random sampling. The variables examined were anatomical character include number and size of stomata, leaf thickness and palisade thickness, and isozyme banding pattern. Descriptive analysis of anatomy employed using microscope, data obtained from the result of this research were analyzed using t-test, while the observation analyzed of isozyme based on the appearance thick and thin of band. The results showed a difference of anatomical character leaves of an increasing number of stomata and trikoma, as well as a decrease in the size of stomata, thick leaves and thick palisade on A. alba leaves were grow in Donan river compared with Tritih river. The analysis result of isozyme there are differences in thickness ribbon are produced from the leaves of A. alba were grow in Donan river, the band pattern look ticker and noticeable compared to Tritih river.
108513758F1B005186SERTIFIKASI ORGANIK SEBAGAI STRATEGI PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT DESAPenelitian ini berjudul sertifikasi organik sebagai strategi pemberdayaan masyarakat desa. Hal yang melatarbelakangi peneliti untuk mengangkat permasalahan ini adalah; fenomena sertifikasi organik yang dinilai sebagai salah satu faktor penyebab gagalnya kebijakan go organik 2010. Adanya sertifikasi yang merupakan bagian dari regulasi dalam sistem pasar pangan organik, dalam implementasinya tidak sesuai dengan realitas dan budaya petani organik di Indonesia yang notabene tinggal didaerah pedesaan dengan akses informasi dan fasilitas distribusi yang minim. Akan tetapi, ada sebuah fenomena menarik di Kecamatan Cilongok Banyumas ketika sekelompok petani gula kelapa yang merupakan pengusaha kecil skala rumahan, justru mampu melakukan sertifikasi organik. peneliti tertarik untuk mengkaji strategi yang digunakan dalam melakukan sertifikasi, dan dampaknya terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menggambarkan Proses Sertifikasi organik terkait upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu peneliti melukiskan atau menggambarkan mengenai suatu fenomena, sehingga data yang dihasilkan berupa data deskriptif, ucapan, tulisan, dan perilaku dari sasaran itu sendiri. Jenis data yang digunakan primer dan sekunder. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling.
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, ditarik suatu kesimpulan bahwa dalam fenomena sertifikasi organik di Kecamatan Cilongok Banyumas, terdapat suatu proses good governance dalam suatu fungsi manajemen pembangunan. Hal ini terlihat dari adanya sinergi tiga agen pembangunan dalam proses implementasinya yaitu; pemerintah sebagai penerbit kebijakan, LSM sebagai pelaku pemberdayaan dan dunia usaha sebagai pelaku pembangunan ekonomi. Selain itu, sertifikasi organik sebagai strategi pemberdayaan tampaknya cukup efektif. Proses pemberdayaan dengan strategi Sertifikasi organik sebenarnya lebih pada upaya meningkatkan keberdayaan petani sebagai produsen lokal untuk dapat bersaing ditengah perdagangan global dengan melakukan upaya peningkatan kemampuan organisasi lokal dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan diluar organisasi.
Kata kunci : program sertifikasi organik, pemberdayaan masyarakat
This study titled organic certification as a rural community empowerment strategy. The background to the researchers to address this issue is; phenomena of organic certification which is considered as one of the factors causing the failure of the policy go organic in 2010. The existence of the certification, which is part of the regulation of the organic food market system, the implementation does not match the reality and culture of organic farmers in Indonesia who in fact live in rural areas with access to information and distribution facilities are minimal. However, there is an interesting phenomenon in Banyumas district when a group of farmers Cilongok coconut sugar which is a small-scale home-based businesses, it is able to perform organic certification. Researchers interested in reviewing the strategy used in the certification, and its impact on rural welfare. This study aims to analyze and describe the organic certification process related to the economic empowerment of rural communities. This research uses descriptive qualitative method, the researchers describe or depict the phenomenon, so that the data generated in the form of descriptive data, speech, writing, and behavior of the target itself. Types of data used primary and secondary. The sampling technique used purposive sampling.
From the results of research and discussion that has been described, drawn a conclusion that the phenomena of organic certification in the District Cilongok Banyumas, there is a process of good governance in a construction management functions. It is evident from the synergy of three agents of development in the process of implementation, namely: government as the publisher policy, NGOs as agents of empowerment and the business as a principal economic development. In addition, organic certification as an empowerment strategy seems to be quite effective. The process of empowerment with organic certification strategy is actually more on efforts to improve the empowerment of farmers as local manufacturers to compete amid the global trade by making efforts to increase the capacity of local organizations to adapt to the environment outside the organization.
Keywords: organic certification program, community
108523760H1B006021REGRESI NONPARAMETRIK DENGAN PENDEKATAN MULTIVARIATE ADAPTIVE REGRESSION SPLINES (MARS)Dalam berbagai kasus seringkali ditemukan kurva hubungan antara variabel respon dengan variabel prediktor mengikuti pola nonlinier, dan bentuk kurvanya tidak sederhana atau tidak mengikuti fungsi yang secara luas diketahui. Salah satu metode yang dapat mengatasi masalah ini adalah metode Multivariate Adaptive Regression Splines (MARS). Salah satu kelebihan metode MARS adalah dapat digunakan untuk data berdimensi tinggi. Pada penelitian ini dibahas algoritma MARS yang terdiri dari langkah maju dan langkah mundur. Kriteria model MARS terbaik ditentukan berdasarkan kriteria GCV terkecil dan koefisien determinasi (R2-GCV) terbesar. Sebagai contoh ilustrasi, pemodelan MARS diterapkan pada data klasifikasi pasien kanker serviks berdasarkan hasil Pap Test pada bulan Juni 2010. Hasilnya menunjukkan bahwa model MARS pada data tersebut diperoleh nilai GCV 3,849, dan nilai koefisien determinasi (R2-GCV) 0,024. In many cases, often found curve's relationship between response variables with predictor variables follow the pattern of non-linear, and shape of the curve are not simple or does not follow the function widely. One of method to overcome this issue is Multivariate Adaptive Regression Splines (MARS) method. One of the advantages using MARS method can be used for high dimension data. In this study discussed MARS algorithm, consist of step forward and step back. Criterias of the best MARS model namely that meet the smallest GCV's criteria and the biggest determination's coefficient (GCV-R2). As an illustrative example, modelling of MARS is applied for classification's data of cervical cancer's patient based on PAP Test's result on June 2010. The result shows that MARS model on the data, obtained value of GCV 3,849 and value of determination's coefficient (GCV-R2) 0,024.
108533761F1F008145A STUDY OF GENDER LANGUAGE IN THE PLAY OF A DOLL’S HOUSE BASED ON DISCOURSE LEVEL
SOCIOLINGUISTICS STUDY
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis tingkat wacana yang dihasilkan oleh karakter di dalam drama A Doll’s House dan untuk menemukan alasan-alasan mengapa karakter pria dan wanita di dalam drama A Doll’s House berbicara dengan gaya berbeda. Peneliti mengamati data dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menginterpretasikan ujaran-ujaran yang dihasilkan oleh semua karakter pada drama A Doll’s House. Peniliti menggunakan teknik purposive sampling untuk mengambil data. Wanita pada drama A Doll’s House lebih dominan dalam menghasilkan interupsi, umpan balik, fungsi dalam berbicara, dan jeda. Pria lebih dominan dalam memulai sebuah pembicaraan daripada wanita. Semua karakter pada drama berasal dari keluarga bangsawan dan mereka mempunyai pendidikan tinggi sehingga mereka memiliki kedudukan dalam masyarakat. Pria mempunyai kekuasaan dari pada wanita karena pria mempunyai tugas untuk mencari nafkah untuk keluarganya. Wanita diharapkan lebih sopan dalam bertutur dengan pria. Wanita juga harus mempunyai rasa hormat terhadap pria karena pria mempunyai kekuasaan untuk mengontrol segala sesuatunya yang ada di rumah.The aims of this research are to figure out types of discourse level that produced by all the characters in A Doll’s House play and to find out the reasons why men and women characters in the play of A Doll’s House speak differently. The researcher observed the data using descriptive qualitative method involving interpretation of utterances. The researcher used purposive sampling technique to take the sample. Women characters in A Doll’s House more dominate in producing interruption, switching pause, back channel noise/support, and speech function than men. Men are more dominant in initiating conversation. All characters in the play come from middle class and educated people that have role in the society. Men more have power and domination than women because men’s role is to earn money and men also control all the things at home. Therefore, women are expected more to be polite if they speak to the men. Women also have to respect to the men because men have power in control all things at home.
108543443G1F008077TOKSISITAS SUBKRONIK JAMU PELANGSING “H” TERHADAP FUNGSI GINJAL TIKUSJamu pelangsing umumnya digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama. Salah satu syarat jamu yaitu aman sehingga perlu dilakukan uji toksisitas subkronik. Tujuan penelitian yaitu menguji keamanan jamu pelangsing “H” terhadap organ ginjal yang dilihat dari kadar kreatinin serum serta gambaran histopatologi ginjal.
Jamu pelangsing “H” akan diberikan kepada tikus wistar betina selama 30 hari dengan dosis 0,162 gr/200 grBB/hari; 0,486 gr/200 grBB/hari; 1,458 gr/200grBB/hari dan Na-CMC 0,5% sebagai kontrol negatif. Parameter yang diamati yaitu perubahan kadar kreatinin sebelum dan sesudah perlakuan dan histopatologi ginjal setelah 30 hari perlakuan. Data kadar kreatinin sebelum dan sesudah perlakuan tiap kelompok dianalisis menggunakan paired t-test, sedangkan perbedaan nilai kreatinin setelah perlakuan antar kelompok dianalisis menggunakan ANOVA satu arah dan dilanjutkan uji LSD. Hasil histopatologi dianalisis secara deskriptif.
Hasil penelitian terhadap jamu pelangsing “H” selama 30 hari tidak menunjukkan perubahan kadar kreatinin yang bermakna antara sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Pemeriksaan histopatologi organ ginjal menunjukkan adanya infiltrasi sel radang di jaringan pada semua sampel hewan uji kelompok pemberian dosis 0,486 gr/200grBB/hari. Penggunaan jamu pelangsing “H” perlu diwaspadai pada penggunaan melebihi dosis lazim pemberian 0,162 gr/200 grBB/hari.
Slimming herbs commonly used in a long time period. One of the conditions of herbal medicine is safety, so that need to be made the subchronic toxicity test. The purpose of the study was to know the safety of herbal slimming “H” against kidney organ seen from serum creatinine levels as well as an overview of renal histopathology.
Herbal slimming “H” would be given to the wistar female rats for 30 days with doses 0,162 gr/200 grBw/days; 0,486 gr/200 grBw/days; 1,458 gr/200 grBw/days and Na-CMC 0,5% as a negative control. The parameters observed was the changes of creatinine levels before and after treatment and renal histopathology after 30 days of treatment. The results of creatinine levels before and after treatment were analyzed using paired T-test, the difference value of creatinine levels after treatment between one group and the others were analyzed using one-way ANOVA and continued with LSD. The results of histopathology showed in descriptive.
The results of this study on herbal slimming “H” for 30 days showed that there was no changes of creatinine levels between before and after given treatment. Histopathology examination showed the presence of inflammatory cell infiltration in all samples of a test animal dose of 0,486 gr/200grBw/day. The use of herbal slimming “H” need to look out if used overdose of common usage.
108553763G1F008047EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ERITROPOIETIN ALFA PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN ANEMIA DI RSUD. PROF. DR MARGONO SOEKARJO PURWOKERTOEritropoietin alfa, salah satu dari golongan recombinant human erythropoietin merupakan terapi pilihan anemia pada pasien gagal ginjal kronik dengan anemia. Evaluasi penggunaan eritropoietin alfa penting dilakukan agar efektivitas klinis dan ekonomi bisa diperoleh pasien. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi penggunaan eritropoietin alfa pada pasien gagal ginjal kronik dengan anemia di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto berdasarkan kriteria yang dibuat peneliti meliputi indikasi, proses indikator, komplikasi dan outcome. Kriteria dibuat berdasarkan jurnal-jurnal ilmiah dan text book yang relevan.
Metode yang digunakan adalah deskriptif evaluatif dengan sampel sejumlah 22 data rekam medik pasien gagal ginjal kronik dengan anemia yang menggunakan eritropoietin alfa bulan Januari - Mei 2012. Analisis data dilakukan dengan membandingkan antara data dan kriteria.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya kesesuaian indikasi yang terjadi pada 18 pasien (81,82%). Proses indikator merupakan parameter yang menjadi bahan monitoring penggunaan obat dan manajemen terapi, meliputi dosis yang menunjukkan kesesuaian dosis awal terjadi pada 14 pasien (66,67%) dan kesesuaian dosis pemeliharaan berdasarkan nilai hemoglobin terjadi pada 12 pasien (70,59%). Ketepatan penghentian pengobatan terjadi pada 18 pasien (81,82%). Nilai transferin sudah sesuai kriteria pada semua pasien. Kontraindikasi berupa pendarahan terus-menerus atau hemolysis tidak ditemukan. Interaksi obat dengan ACE inhibitor tidak ditemukan. Komplikasi hipertensi terjadi pada 13 pasien (59,09%). Outcome yang membaik bagi pasien ditinjau dari tercapainya target Hb yaitu 10 g/dL-11 g/dL terjadi pada 14 pasien (66,67%).
Erythropoietin alfa was one of the erythropoietin group that used as an option in the treatment of Chronic Kidney Disease with Anemia. Evaluate the use of erythropoietin alfa considered important because had hypertension adverse event and expensive. The purpose of this study to evaluate the use of erythropoietin alfa in chronic kidney disease with anemia patients at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto based on criteria that include the indication, process indicators, complication and outcome measure. The criteria were based on scientific journals and text books (Drug Use Evaluation) that was relevant.
The method used is descriptive evaluative by samples of 22 data record of chronic kidney disease with anemia patients who used erythropoietin alfa. Data analysis was done by comparing the data and criteria was made by reseacher.
The results of this study demonstrated the reliability indications that happened in 18 patients (81,82%). Indicator process was a parameter that became drug use evaluation and therapy management material, include dose which showed intial dose reliability in 14 patients (66,67%) and dose reliability in haemoglobin value in 7 patients (43,75%), accuracy of treatment cessation exceed the target haemoglobin occured in 18 patients (81,82%), monitoring tranferin value calculation is corrrect (100%) , the risk factor that lead to continous bleeding or hemolysis was not found, the ACE inhibitor drug interaction was not found (100%). Hypertention complications occured in 13 patients (59,09%). Better outcome was showed in achieving of Hb value target (10 g/dL-11 g/dL) that happened in 14 patients (66,67%).
108563685F1C007097Tingkat Kebutuhan Arousal yang Dicari dan Kebutuhan Arousal yang Terpenuhi Oleh Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Dalam Menonton Film Bergenre ThrillerPenelitian ini mengkaji tentang studi efek film dengan menggunakan teori Uses and Gratifications. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui hubungan antara kebutuhan arousal yang dicari dan kebutuhan arousal yang terpenuhi dalam menonton film bergenre thriller. Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan nilai (p-value) 0,000 atau kurang dari nilai α (0,05) dan nilai koefisien korelasi yang positif 0,634. Berdasarkan nilai koefisien tersebut, maka menurut Skala Guilford korelasi dikategorikan memiliki hubungan yang cukup berarti (0,40 – 0,70). Dengan kata lain terdapatnya hubungan yang positif dan signifikan antara kepuasan yang dicari dan kepuasan yang diperoleh mahasiswa dari menonton film thriller.This research analyzed about the study of film effect using Uses and Gratifications theory. The aims of this reasearch is to know a corelation between the needs level of aurosal gratification sought and aurosal gratification obtained by collegue student of Jenderal Soedirman University in watching thriller movie. Based on the results of data analysis showed that p-value 0,000 or less than value of α (0,05) and a positive correlation coefficient value is 0.634. Based on the value of the coefficient, the correlation categorized according to Guilford Scale has a significant relationship (0,40 – 0,70). In other words, there are positive and significant relationship between the needs level of aurosal gratification sought and aurosal gratification obtained by colleague student in watching thriller movie.
108573765E1A008008PENERAPAN PP No. 6 TAHUN 1974 TENTANG PEMBATASAN KEGIATAN PEGAWAI NEGERI DALAM USAHA SWASTA DI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH KABUPATEN LEBAKABSTRAKSI

Undang-Undang No. 43 Tahun 1999 Tentang Pokok-Pokok Kepegawaian telah mengamanatkan bahwa Pegawai Negeri berkedudukan sebagai unsur aparatur negara yang bertugas, agar memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara, pemerintahan, dan pembangunan. Oleh karena itu, setiap Pegawai Negeri harus juga mempunyai sikap mental yang baik dalam segala aspek termasuk didalamnya keterlibatan Pegawai Negeri dalam usaha swasta.
Permasalahan yang sering dihadapi oleh Pegawai Negeri Sipil yaitu tentang kecilnya gaji yang diterima tidak sebanding dengan kebutuhan yang harus dikeluarkan, sehingga mendorong mereka untuk melakukan kegiatan usaha swasta. Hal tersebut terjadi di Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Lebak, dimana terdapat pegawainya yang melakukan kegiatan usaha swasta. Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah telah membatasi kegiatan Pegawai Negeri Sipil dalam usaha swasta yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1974. Peraturan tersebut bertujuan agar seluruh perhatian dan kemampuan mereka benar-benar dicurahkan pada pelaksanaan tugasnya masing-masing, serta tidak menimbulkan pandangan yang mengurangi keutuhan dan kewibawaan tindakan-tindakan Pegawai Negeri Sipil.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan kegiatan Pegawai Negeri Sipil yang melakukan kegiatan usaha swasta seharusnya mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1974. Namun di dalam penerapannya terdapat hambatan-hambatan normatif yang mana aturan tersebut dikesampingkan. Prosedur izin tertulis yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah tersebut tidak dilaksanakan. Penerapan sanksi yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1974 tidak di terapkan karena aturan tentang penjatuhan sanksinya sudah sudah tidak berlaku.
ABSTRACT

Law No. 43 of 1999 on the Officialdom Principles has mandated that Civil Servants positions as an element of the state apparatus in charge, in order to provide services to the public professionally, fair, just and equitable in the administration of state duties, governance, and development. Therefore, every Civil Servant should also have a good mental attitude in all aspects including the involvement of Civil Servants in private enterprises.
Problems often faced by Civil Servant were on received small salary that is not comparable with the needs that must be removed, thus encouraging them to conduct private business. This occurred in the Regional Officialdom Board of Lebak, where employees are conducting private business. In this regard, the government has restricted the Civil Servant activities in private businesses which are regulated in Government Regulation No. 6 of 1974. The regulations are aimed at making the entire attention and their ability really poured on the execution of their respective duties, and did not result in a view that reduces the integrity and authority of the actions of the Civil Servant.
Based on the results of research, it can be concluded that the implementation of activities of Civil Servants who did private business should refer to Government Regulation No. 6 of 1974. But in its application there are normative constraints which the rule excluded. Written consent procedures contained in the Government Regulations are not enforced. Sanctions contained in Government Regulation No. 6 of 1974 was not implemented, as the rules on the imposition of sanctions is no longer valid.
108583766F1C007081Wayang Kulit Gagrag Banyumasan Sebagai Media Tradisional Masyarakat Banyumas (Studi Media Tradisional Dalam Pesan-Pesan Pembangunan)Skripsi ini berjudul “Wayang Kulit Gagrag Banyumasan Sebagai Media Tradisional Masyarakat Banyumas (Studi Media Tradisional Dalam Pesan-Pesan Pembangunan)”. Spesifikasi wayang kulit gagrag banyumasan ini terletak pada tehnik pembawaan yang sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya setempat yang memiliki pola tradisional agraris. Spesifikasi tersebut dapat dilihat dari berbagai sisi seperti sulukan, tokoh tetentu yang merupakan lokal genius lokal banyumasan, sanggit cerita dan iringan musik. Tujuan penelitian ini, untuk mengetahui bagaimana pesan-pesan pembangunan disampaikan dalam wayang kulit gagrag banyumasan.
Informan penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Hasil yang dikumpulkan dalam penelitian ini, melalui observasi partisipasi pasif, wawancara mendalam dan dokumentasi. Wawancara direkam melalui alat perekam kemudian dibuat transkrip hasil wawancara. Untuk menguji keabsahan data penelitian, menggunakan teknik perpanjangan pengamatan.
Hasil dari penelitian ini, menujukan bahwa pesan-pesan pembangunan dalam wayang kulit gagrag banyumasan terdapat pesan pembangunan fisik dan non fisik yang disampaikan secara dialog dan monolog. Dalang sering kali menyampaikan pesan-pesan pembangunan ketika adengan limbukan dan adegan goro-goro. Pesan pembangunan fisik dapat disampaikan dengan suluk dalang yang sudah mengalami modifikasi, kemudian juga tembang-tembang yang dinyanyikan oleh pesinden. Selain itu, lakon-lakon wayang juga tidak menutup kemungkinan bahwa lakon tersebut secara utuh mengandung pesan pembangunan. Kemudian pesan nonfisik terdapat pada gunungan wayang yang kesemuanya itu menggambarkan kompleksitas kehidupan. Peneliti menyarankan sebaiknya dalang Banyumas jangan merasa canggung dalam membawakan kesenian wayang kulit ini. Lembaga pendidikan lebih memperhatikan wayang kulit agar diperkenalkan kepada anak didiknya sejak dini. Pemda setempat melalui Dinas Pariwisata secara kontinyu selalu melakukan pembinaan wayang kulit secara terprogram ataupun diklat.
This thesis is titled "Leather Puppet Gagrag Banyumasan as Traditional Media of Banyumas Society (Study of Traditional Media in the Development Masagges)". Specifications of puppets shadow gagrag banyumasan lies in the technique of traits strongly influenced by local backgrounds cultural that have traditionality agrarian patterns. Specifications can be seen from the various sides include sulukan, certain figures which is the local genius local Banyumas, sanggit stories and musical accompaniment. This study, aims to determine how development messages conveyed in the shadow puppets gagrag banyumasan.
Informants were selected using purposive sampling and snowball sampling. Results gathered in this study, through a passive participant observation, in-depth interviews and documentation. Interview record on recorder and then madetranscript of the interview. To test the validity of the study, the research used a technique extended observation.
The results of this study, addressing the development of messages in a shadow puppet gagrag banyumasan there are messages the physical and non-physical being delivered dialogue and monologue. Puppeteers often convey development messages when science Limbukan and scene goro-goro. Development Messages can be delivered to the physical of mysticism mastermind that has been modified, then the song-song sung by the singer. Besides the play puppet play also did not rule out that the whole story contains a messages of development. Then there are the mountains nonphysical message puppets all of which illustrate the complexity of life. Researchers recommend Banyumas puppeters should not feel awkward in bringing this puppeters shadow puppets. Educational institutions to pay more attention shadow puppets that were introduced to their students since the early such as through workshops and puppet show solid. Local government through the department of tourism continuously puppet of conduct training in a programmed manner.
108593768E1E008061STUDI KOMPARASI KEDUDUKAN DAN KEWENANGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT (DPR) SEBAGAI LEMBAGA LEGISLATIF SEBELUM DAN SESUDAH AMANDEMEN UUD 1945ABSTRAK


Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 membawa perubahan yang fundamental terhadap ketatanegaraan Republik Indonesia. Salah satu perubahan tersebut menyangkut cara pengisian, keanggotaan, kedudukan, tugas dan fungsi DPR sebagai salah satu lembaga perwakilan rakyat di samping DPD. Cara Pengisian anggota DPR sebelum amandemen dilakukan melalui pemilihan umum dan melalui pengangkatan, sedangkan setelah amandemen cara pengisian hanya melalui pemilihan umum dengan keanggotaan semua berasal dari Partai Politik peserta pemilu. Kedudukan DPR sebelum amandemen adalah sebagai lembaga tinggi negara yang mempunyai kedudukan yang sama dengan Presiden dan lembaga tinggi negara lainnya seperti BPK, MA akan tetapi dibawah MPR sebagai lembaga tertinggi Negara. Setelah amandemen, kedudukan DPR adalah sebagai lembaga negara yang sejajar dengan lembaga-lembaga negara lainnya seperti MPR, Presiden, DPD, MA, MK, BPK. Tugas dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat sebelum dan sesudah amandemen pada pokoknya adalah mempunyai tugas legislasi, anggaran dan pengawasan. Hanya saja terjadi perluasan kewenangan setelah amandemen UUD 1945. Apabila sebelum amandemen tugas legislasi pada DPR lebih banyak pada persetujuan terhadap RUU yang diajukan eksekutif (Presiden) akan tetapi setelah amandemen fungsi legislasi DPR yaitu membentuk undang-undang bersama-sama dengan Presiden bukan hanya sebatas memberikan persetujuan rancangan undang-undang. Fungsi anggaran baik sebelum dan sesudah amandemen salah satunya yaitu menetapkan APBN dengan Presiden. Fungsi pengawasan DPR sebelum dan sesudah amandemen pada intinya sama yaitu mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan pengawasan pelaksanaan undang-undang, pelaksanaan APBN serta kebijakan pemerintah. Yang membedakan pada fungsi pengawasan, setelah amandemen DPR dapat mengajukan usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya.

ABSTRACT

Amendments to the constitution in 1945 brought a fundamental change to the republic of Indonesia. One such change concerns the way of charging, membership, status, duties, and function of the house of Representatives as one of the representative body of the people in addition to DPD. How to charge members of the House before the amendments made throught the appointment, while charging only after the amendment the way through election to membership comes from all political parties contesting the election. Position of the House of Representatives before the amendment is as high state agencies that have an equal footing with the president and other high state institutions such as BPK, MA, but below the MPR as the highest state institution. After the amendment, the position of the house is. As a state agency that align with other state agencies such as the Assembly, the President, DPD, MA, MK, BPK. Duties and function of the House of Representatives before and after the amendment was essentially has the task of legislation, budget, and oversight. It’s just an expansion of authority after the amendment of the 1945 Constitution. Where prior of the amendment of legislation on the house task much on approval to a bill filed by the executive (President), but after the amendment of the House of Representatives legislative function is established law together with the president is not only limited to approving the bill. Budget function both before and after the amendment of one of them is set a budget with the President. House oversight function before and after the amendment is essentially the same duties and have the authority to supervise the implementation of laws, the implementation of the budget and government policy. What distinguishes the monitoring function, after the amendment of the House of Representatives may propose the dismissal of the president and/or vice President in his tenure.
108603769F1C007010POLA KOMUNIKASI KELUARGA DALAM MENANAMKAN KONSEP GENDER PADA ANAKKeluarga merupakan unit kesatuan sosial terkecil yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam membina anggota-anggotanya. Setiap anggota dari suatu keluarga dituntut untuk mampu dan terampil dalam menanamkan peranan sesuai dengan kedudukannya. Penelitian ini coba melihat Bagaimana Pola Komunikasi Keluarga dalam Menanamkan Konsep Gender Pada Anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pola Komunikasi Keluarga dalam Menanamkan Konsep Gender Pada Anak .

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sasaran penelitian ini adalah keluarga khususnya orang tua dan anak. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling untuk memilih informan. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif deskriptif dengan model interaktif.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa Setiap keluarga pasti memiliki pola komunikasi yang berbeda-beda. Adanya pola komunikasi yang berbeda itu disebabkan oleh berbagai faktor antara lain faktor latar belakang kebudayaaan dan agama. Akibat kebudayaan yang berbeda-beda jelas pola komunikasi yang diterapkan juga pasti berbeda-beda. Dalam konsepnya Devito pola komunikasi keluarga dibagi menjadi 4 pola komunikasi, yaitu pola komunikasi persamaan, pola komunikasi seimbang terpisah, pola komunikasi tak seimbang terpisah dan pola komunikasi monopoli. Hasil penelitian dari ketiga informan ini menemukan beberapa pola komunikasi yang berbeda diantaranya pada keluarga informan pertama yaitu keluarga pak Bakir menghasilkan pendominasian pola komunikasi persamaan, sedangkan informan kedua keluarga bapak Lukman menghasilkan pendominasian pola komunikasi monopoli, dan keluarga informan yang terakhir yaitu keluarga bapak Darwin menghasilkan pendominasian pola komunikasi seimbang terpisah. Terkait dengan penanaman konsep gender dalam keluarga dapat disimpulkan bahwa pola komunikasi dalam keluarga bukanlah satu-satunya hal yang membentuk relasi gender dalam keluarga. Namun ada beberapa faktor lain yang membentuk konstruksi gender dalam keluarga diantaranya yaitu faktor budaya, agama dan kondisi keluarga itu
The family is the smallest unit of social cohesion wich has a very important role in building its members. Each member of a family is required to be able and skilled in implanting the role according to the position. This research is trying to look how Family Communication Pattern in Putting the Concept of Gender on Child and the purpose of this research is to find out the family communication pattern in putting the concept of gender on child.

This research use descriptive qualitative methods. The target of this research is family especially parents and their kids. The data collection methods was using interview and documentation. This research use purposive sampling technic to choose the informan and the analytical data methods was using qualitative descriptive with interactive model.

Base on the research the researcher obtained conclusion that every family have their own communication pattern. The existance in different communication methods is caused by various factor, obiter culture and religion factors. So the consequences of different family culture causing different communication methods. In his concept, Devito divide his communication methods in 4 methods, equality communication method, separate balanced communication pattern, separate unbalanced communication method and monopoly communication method. The results from three informants found several different communication patterns among the first informant that is Mr. Bakir’s family which the result is domination of equality communication pattern, meanwhile the second informant, Mr. Lukman’s family, the result is in that family have a domination in monopoly communication pattern, and the last informant, Mr. Darwin’s family, the result is there’s a domination of separated balance communication pattern. Associated with the concept of gender in the family can be concluded that the patterns of communication within the family is not the only thing that shape gender relations in the family. But there are some other factors that build up the construction of gender in families that is include cultural, religious and family circumstances themselves.