Artikelilmiahs
Menampilkan 45.301-45.320 dari 48.756 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 45301 | 48664 | F1D021046 | KEBIJAKAN PUBLIK & DEMOKRASI : STUDI FORMULASI PERDA NO. 10 TAHUN 2021 MENGENAI PENYIMPANGAN PERILAKU SEKSUAL (P4S) DI KOTA BOGOR | Artikel ini menganalisis proses formulasi Peraturan Daerah (Perda) No. 10 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Penyimpangan Seksual (P4S) di Kota Bogor sebagai cerminan kemunduran demokrasi di tingkat politik lokal. Dengan pendekatan kualitatif dan kerangka teori Model Kelompok, Model Proses, serta Teori Kemunduran Demokrasi dari Juan Linz dan Alfred Stepan, penelitian ini mengungkap bagaimana interaksi aktor politik, tekanan kelompok konservatif, dan kepentingan elektoral membentuk kebijakan diskriminatif terhadap komunitas LGBT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perda ini lahir dari dominasi narasi moral-religius Front Masyarakat Peduli Bogor (FMPB) yang didukung oleh aktor politik seperti Bima Arya (Walikota Bogor) dan Atang Trisnanto (Ketua DPRD dari PKS). Proses formulasi kebijakan mengabaikan prinsip ilmiah—termasuk ketidaksesuaian dengan klasifikasi WHO (ICD-11) dan Kemenkes RI (PPDGJ III)—serta partisipasi publik, sementara implementasinya justru memperkuat stigmatisasi, kekerasan struktural, dan pelanggaran HAM terhadap kelompok LGBT. Temuan ini memperlihatkan praktik oligarki lokal di mana kebijakan publik menjadi alat legitimasi kekuasaan ketimbang solusi rasional, sekaligus menandai kemunduran demokrasi di Kota Bogor. Kata Kunci: Kebijakan Publik dan Demokrasi, LGBT, Aktor dan Institusi Politik, Kemunduran Demokrasi | This article scrutinizes the process of drafting Regional Regulation (Perda) No. 10 of 2021 on the Prevention and Mitigation of Sexual Deviance (P4S) as a mark of local democratic regression in Bogor City. It employs a qualitative methodology guided by the Group Model, Process Model, and Democratic Backsliding framework advanced by Juan Linz and Alfred Stepan. This research outlines how political dynamics, conservative group activism, and electoral populism built a political discrimination framework against LGBT persons. The analysis portrays the regulation as products of moral-religious dominated narrative advocacy fueled by the Front Marked with Concerned Citizens of Bogor (FMPB), alongside enabling political actor support like Bima Arya (Politician and Current Mayor of Bogor) and Atang Trisnanto (Speaker of the Regional House of Representatives from the Prosperous Justice Party/PKS). The neglect of formulating logic devoid of scientific validation—contrary to principles set forth by WHO ICD-11 and Indonesia’s Ministry of Health PPDGJ III—public involvement and participation as well as the effects perpetuated deepening stigmas, structurally violent, and human rights abuses inflicted on members of the LGBT community, encapsulated the degrading enforcement. The findings depict a distinct order of local oligarchic exercise where the public policy is framed as an apparatus towards justifying authority. Keywords: Public Policy and Democracy, LGBT, Political Actors and Institutions, Democratic Backsliding. | |
| 45302 | 48665 | I1D021076 | Hubungan antara Tingkat Kecukupan Protein, Seng, Kalsium, dan Praktik Responsive Feeding dengan Kejadian Stunting | Latar Belakang: Stunting pada anak berdampak terhadap keterlambatan perkembangan otak hingga penurunan produktivitas. Selain itu, stunting dapat disebabkan oleh asupan gizi dan pola asuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecukupan protein, seng, kalsium, dan praktik responsive feeding terhadap kejadian stunting pada anak 6-23 bulan di wilayah kerja puskesmas II kembaran. Metodologi: Desain penelitian yang digunakan adalah case control, melibatkan 30 ibu balita stunting dan 30 tidak stunting berdasarkan matching usia ±2 bulan dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner SQ-FFQ (Semi Quantitative Food Frequency Questionnare) dan RFPAT (Responsive Feeding Practice Assessment Tool). Status gizi anak ditentukan dengan z-score PB/U. Variabel dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan kemaknaan 5% Hasil Penelitian: Mayoritas anak memiliki tingkat kecukupan protein cukup (86,7%), tingkat kecukupan seng cukup (71,7%), dan tingkat kecukupan kalsium kurang (55%). Mayoritas ibu memiliki praktik responsive feeding baik (53,3%). Hubungan tingkat kecukupan protein (p=0,254), seng (p=0,002), kalsium (p=0,000), dan praktik responsive feeding dengan kejadian stunting (p=0,010). Kesimpulan: Tingkat kecukupan seng, kalsium, dan praktik responsive feeding berhubungan dengan kejadian stunting, namun tingkat kecukupan protein tidak berhubungan dengan kejadian stunting. | Background: Stunting in children has an impact on delays in brain development to reduced productivity. Stunting can be caused by nutritional intake and parenting practices. This study examines relationship between adequate levels of protein, zinc, calcium, and responsive feeding practices on the incidence of stunting in children 6-23 months in the Kembaran Health Center II working area Methodology: The research design was case control, involving 30 mothers of stunted toddlers and 30 not stunted based on age matching ± 2 months with purposive sampling technique. The instruments which were used were SQ-FFQ (Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire) and RFPAT (Responsive Feeding Practice Assessment Tool) questionnaire. Children's nutritional status was determined by length for age z-score Variables which were analyzed using the Chi-Square test with a significance of 5%. Results: The majority of children had adequate protein levels (86.7%), adequate zinc levels (71.7%), and insufficient calcium levels (55%). The majority of mothers had good responsive feeding practices (53.3%). The association of protein (p=0.254), zinc (p=0.002), calcium (p=0.000), and responsive feeding practices with the incidence of stunting (p=0.010). Conclusions: The sufficiency level of zinc, calcium, and responsive feeding practices were associated with the incidence of stunting, but protein sufficiency level is not associated with the incidence of stunting. | |
| 45303 | 48666 | F1C021044 | Pengelolaan Citra Pariwisata dengan Pendekatan Cyber PR: Studi Kasus Humas Pemerintah Kota Yogyakarta dalam Menghadapi Isu Juru Parkir Liar di Kawasan Malioboro | Penelitian ini mengkaji strategi Cyber Public Relations (Cyber PR) yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta dalam mengelola citra pariwisata di tengah isu juru parkir liar di kawasan Malioboro. Isu ini menjadi sorotan publik karena menimbulkan keresahan wisatawan dan berpotensi merusak citra destinasi wisata. Penelitian ini menggunakan dua teori, yaitu Teori Komunikasi Lasswell yang menganalisis proses komunikasi “Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect” dan Teori Image Repair dari William Benoit yang menjelaskan strategi dalam mengelola citra lembaga saat menghadapi isu negatif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta menerapkan strategi Cyber PR melalui publikasi informasi dan komunikasi dua arah di media sosial Instagram dan website resmi untuk membangun persepsi positif dan mengatasi dampak negatif dari pemberitaan isu juru parkir liar. Strategi yang digunakan lebih bersifat pada publikasi kinerja positif dan konten informatif, dengan fokus pada pengelolaan citra pariwisata Kota Yogyakarta dan kawasan Malioboro, daripada mengkonfrontasi isu juru parkir liar secara langsung. Penelitian ini memberikan gambaran bagaimana lembaga pemerintah dalam memanfaatkan strategi Cyber PR untuk mengelola citra pariwisata di tengah isu negatif publik. | This study examines the Cyber Public Relations (Cyber PR) strategy carried out by the Yogyakarta City Transportation Department (Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta) in managing the tourism image amid the issue of illegal parking attendants in the Malioboro area. Theissue has drawn public attention due to growing concerns among tourists and its potential to damage the city's image as a tourist destination. This research adopts two theoretical frameworks: Lasswell’s Communication Theory, which analyzes the communication process through “Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect,” and William Benoit’s Image Repair Theory, which explains strategies in managing an institution’s image when facing negative issue. This research uses descriptive qualitative methods with data collection techniques through interviews, observations, and document studies.. The findings indicate that the Yogyakarta City Transportation Department implements Cyber PR strategy through the publication of information and engaging in two-way communication on Instagram social media and the official website to build positive perceptions and mitigate the negative impact of media coverage on the illegal parking issue. The strategy primarily focus on promoting positive performance and delivering informative content, emphasizing tourism image management of Yogyakarta City and the Malioboro area, rather than directly confronting the illegal parking issue. This research provides an overview of how government institutions utilize Cyber PR strategy to manage tourism image in the face of negative public issues. | |
| 45304 | 48670 | J1C021027 | DEKONSTRUKSI PERAN GENDER TRADISIONAL JEPANG PADA AKADEMI CHIHATAN DALAM ANIME GIRLS UND PANZER | Penelitian ini meneliti tentang dekonstruksi peran gender tradisional Jepang yang ada dalam Akademi Chihatan di anime Girls und Panzer yang diteliti menggunakan teori dekonstruksi dari Jacques Derrida. Akademi Chihatan merepresentasikan nilai tradisional Jepang yang meski pada terlihat sama seperti konstruksi peran gender tradisional. Namun, penelitian ini menemukan bahwa anime Girls und Panzer secara halus mencoba mendekonstruksi ekspektasi gender dalam peran gender tradisional Jepang melalui analisis oposisi biner seperti feminin – maskulin. Penelitian ini menggunakan metode dan teknik observasi dokumentasi. Penelitian ini mengidentifikasi bagaimana perilaku dan strategi perang Akademi Chihatan mengupayakan menggeser peran gender tradisional Jepang. Untuk menemukan oposisi biner, penelitian ini menggunakan Japanese Gender Role Index oleh Sugihara dan Katsurada. Hasil dari temuan mengidentifikasi bahwa karakter-karakter dalam Akademi Chihatan meredefinisikan konsep keberanian, kepemimpinan, dan identitas gender. Karakter dalam Akademi Chihatan mendekonstruksi peran gender tradisional dengan banyak munculnya sifat maskulin dibanding sifat feminin. Dalam Akademi Chihatan, Perempuan digambarkan sebagai seseorang yang memiliki sifat pemimpin yang terhormat, pemberani, dan bertindak sesuai kemauan diri sendiri. | This paper study about the deconstruction of traditional Japanese gender roles within Chihatan Academy in the Girls und Panzer, using Jacques Derrida’s deconstruction theory as the analytical framework. Chihatan Academy represents traditional Japanese values, which outwardly appear aligned with conventional gender role constructs. However, this research finds that Girls und Panzer subtly attempts to deconstruct gender expectations within traditional Japanese gender roles by analyzing binary oppositions such as femininity and masculinity. This paper uses documentation observation methods and techniques, to identify how Chihatan Academy’s behavior and warfare strategies seek to shift traditional Japanese gender roles. To uncover binary oppositions, this paper applies the Japanese Gender Role Index by Sugihara and Katsurada. The findings reveal that the characters within Chihatan Academy redefine concepts of courage, leadership, and gender identity. The academy’s characters deconstruct traditional gender roles, exhibiting more masculine traits than feminine ones. Within Chihatan Academy, women are depicted as honorable leaders, courageous individuals, and as person who act according to their own will. | |
| 45305 | 48671 | F2C020002 | KOMUNIKASI KELOMPOK VIRTUAL PADA GRUP WHATSAPP VICTORY WEST LEADER PEMASARAN ASURANSI DI ERA PANDEMI COVID-19 | Abstract Globalization is a process of making something (object or behavior) a characteristic of every individual in this world without being limited by region. Globalization can also mean that several different characteristics (read: culture) can interact massively. The rapid development of the world of communication technology has brought tremendous benefits to the progress of human civilization. Communication activities that previously required such complicated equipment, have now been relatively replaced by automatic machines. Communication activities in terms of exchange or interaction between different cultures are inevitable in the current era of globalization. After the COVID-19 Pandemic, changes in the order of social life occur in general. The form of direct face-to-face communication is increasingly limited in the world of business, education, the world of daily interactions and others. One form of communication in the business world is Whatsapp Group. With the pandemic, communication via Whatsapp Groups is more intense. In the context of communication, one of which is the context of group communication. The form of group communication began to shift from face-to-face communication to virtual communication through social media or other platforms. Like it or not, all human activities are getting faster and faster. This paper tries to describe the virtual group communication activities that occurred in the Victory West Leaders whatsapp group in the era of the COVID-19 pandemic. The key factors in this virtual group activity are the common goals of the group, leadership factors from leaders and individual awareness of group members and the togetherness factor in time. The pandemic situation forced the activities of business groups to be more tightened through Whatsapp Group virtual communication activities. This aims to maintain the stability of team productivity. Keyword : Group Communication, Virtual Communication, Whatsapp Group, COVID - 19 | Abstract Globalization is a process of making something (object or behavior) a characteristic of every individual in this world without being limited by region. Globalization can also mean that several different characteristics (read: culture) can interact massively. The rapid development of the world of communication technology has brought tremendous benefits to the progress of human civilization. Communication activities that previously required such complicated equipment, have now been relatively replaced by automatic machines. Communication activities in terms of exchange or interaction between different cultures are inevitable in the current era of globalization. After the COVID-19 Pandemic, changes in the order of social life occur in general. The form of direct face-to-face communication is increasingly limited in the world of business, education, the world of daily interactions and others. One form of communication in the business world is Whatsapp Group. With the pandemic, communication via Whatsapp Groups is more intense. In the context of communication, one of which is the context of group communication. The form of group communication began to shift from face-to-face communication to virtual communication through social media or other platforms. Like it or not, all human activities are getting faster and faster. This paper tries to describe the virtual group communication activities that occurred in the Victory West Leaders whatsapp group in the era of the COVID-19 pandemic. The key factors in this virtual group activity are the common goals of the group, leadership factors from leaders and individual awareness of group members and the togetherness factor in time. The pandemic situation forced the activities of business groups to be more tightened through Whatsapp Group virtual communication activities. This aims to maintain the stability of team productivity. Keyword : Group Communication, Virtual Communication, Whatsapp Group, COVID - 19 | |
| 45306 | 48669 | B1A019043 | STRUKTUR POPULASI DAN LAJU EKSPLOITASI IKAN NILEM (Osteochilus vittatus Valenciennes, 1842) DI ALIRAN SUNGAI LOGENDING, KEBUMEN | Ikan nilem (Osteochillus vittatus Valenciennes, 1842) adalah anggota familia Cyprinidae yang tersebar di daerah Asia termasuk Asia Tenggara. Di Pulau Jawa ikan nilem dapat ditemukan di beberapa sungai seperti Sungai Banjaran, Sungai Cimanuk dan Sungai Brantas. Pengetahuan mengenai aspek ekologi O. vittatus sangat diperlukan untuk upaya pelestariannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur populasi (kelimpahan, sebaran panjang dan bobot) dan laju eksploitasi O. vittatus di Sungai Logending. Penelitian ini dilakukan di Sungai Logending Kebumen menggunakan metode survei dan teknik purposive random sampling. Sungai Logending dibagi ke dalam 10 stasiun dengan alasan kemudahan akses masuk kedalam sungai dan pengalaman nelayan mendapat ikan. Pengambilan dilakukan 2 kali dengan interval waktu satu bulan. Penelitian ini mendapatkan hasil kelimpahan O. vittatus di kesepuluh stasiun berfluktuasi dan cenderung meningkat ke arah muara sungai, akan tetapi hasil uji Kruskall-Wallis (H) dengan 20 unit sampel diperoleh (H = 2,33 ; p > 0,05), yang mengindikasikan bahwa jumlah individu ikan antar stasiun tidak berbeda secara signifikan. Analisis sebaran panjang dan bobot mendapatkan ikan dengan panjang maksimal 164 mm diperoleh di Stasiun 2, paling pendek 37 mm di Stasiun 10, Ikan dengan bobot maksimal 53,15 g diperoleh di Stasiun 2, ikan dengan bobot minimal 0,22 g diperoleh di Stasiun 10. Sebaran panjang dan bobot populasi O. vittatus menunjukkan bahwa struktur populasi ikan di Sungai Logending masih tergolong sehat, ditandai oleh proporsi ikan benih, ikan matang gonad, dan ikan tua masing-masing sebesar 54,8%, 32,5%, dan 12,7%, tetapi hasil analisis ELEFAN 1 menunjukkan bahwa panjang tangkap pertama (Lc) ikan nilem adalah 49 cm, yang lebih pendek dibandingkan panjang pertama ikan matang gonad (Lm), sehingga mencerminkan bahwa praktik pengusahaan sumber daya ikan belum optimal. Analisis nilai mortalitas penangkapan (F), mortalitas alami, mortalitas total dan laju eksploitasi berdasarkan analisis program FISAT II adalah 1,22; 1,55; 2,77; dan 0,44 per tahun menunjukkan ikan nilem belum mengalami overfishing. | Osteochilus vittatus (bonylip barb) is a member of the Cyprinidae family widely distributed across Asia, including Southeast Asia. In Java Island, this species is found in several rivers such as the Banjaran, Cimanuk, and Brantas Rivers. The information of Osteochilus vittatus population is essential for its sustainable yield. This study aimed to analyze the population structure (abundance, length and weight distribution) and determine the exploitation rate of O. vittatus in the Logending River. The research was conducted in the Logending River, Kebumen, using a survey method with purposive random sampling technique. The river was divided into 10 stations based on accessibility and local fishers’ experience in catching this species. Sampling was conducted twice with a one-month interval. The results had shown that the abundance of O. vittatus fluctuated among stations and tended to increase toward the river mouth. However, the fish abundance among stations was not statistically significant (H = 2.33; p > 0.05). The maximum length of the O. vittatus was 164 mm and the minimum was 37 mm, recorded at Stations 2 and 10, respectively. The highest weight was 53.15 g found at Station 2, and the lowest was 0.22 g at Station 10. The length and weight distribution of O. vittatus indicated that this populationis healthy reflected by presents of , juveniles 54.8%, mature fish 32.5%,, and older individuals 12.7% comprising of the population,. However ELEFAN I analysis revealed that the length at first capture (Lc = 49 mm) was shorter than the length at first maturity (Lm= 80mm), suggesting suboptimal fishing practices. FISAT II analysis showed captured mortality (F) was 1.22/year, natural mortality (M) was 1.55/year, total mortality (Z) was 2.77/year, and an exploitation rate (E) was 0.44/year. These results indicate that O. vittatus in the Logending River has not yet been subjected to overfishing. | |
| 45307 | 48672 | J1C021029 | REPRESENTASI KARAKTERISTIK VILLAIN ERA MODERN PADA KARAKTER WILLIAM JAMES MORIARTY | Anime Moriarty the Patriot menghadirkan karakter villain-hero yang menarik melalui karakter William James Moriarty, yang berperan sebagai protagonis dalam perjuangannya melawan ketidakadilan sistem sosial Inggris abad ke-19. Penelitian ini menggunakan teori arketipe villain-hero yang dikembangkan oleh Boyer untuk menganalisis bagaimana karakter Moriarty memenuhi kategori villain-hero dan bagaimana dinamika moralnya digambarkan dalam narasi. Dengan pendekatan kualitatif dan metode analisis struktur naratif, penelitian ini mengidentifikasi berbagai aspek yang membentuk karakter Moriarty sebagai villain-hero, termasuk latar belakang, motivasi, serta strategi yang digunakannya dalam menciptakan perubahan sosial melalui tindakan yang, meskipun ekstrem, dipandang sebagai bentuk keadilan dalam konteks naratif. Selain itu, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana perbedaan penggambaran karakter Moriarty dalam anime Moriarty the Patriot dengan novel seri Sherlock Holmes oleh Sir Arthur Conan Doyle. Hasil penelitian menunjukkan bahwa William James Moriarty merepresentasikan ambiguitas moral yang khas dalam arketipe villain-hero, di mana tindakan kriminalnya, meskipun bertentangan dengan norma hukum, didasarkan pada tujuan mulia William di balik ambisinya yang membuatnya termasuk ke dalam kategori ambitious villain-hero the perfected type menurut Boyer. | The anime Moriarty the Patriot presents a compelling villain-hero character through William James Moriarty, who serves as the protagonist in his fight against the injustices of 19th-century British society. This study employs Boyer’s villain-hero archetype theory to analyze how Moriarty fits this category and how his moral dynamics are portrayed in the narrative. Using a qualitative approach and narrative structure analysis, the research identifies various aspects that shape Moriarty as a villain-hero, including his background, motivations, and strategies for driving social change through actions that, while extreme, are depicted as a form of justice within the story. Additionally, the study explores the differences between Moriarty’s portrayal in Moriarty the Patriot and his depiction in Sir Arthur Conan Doyle’s Sherlock Holmes novels. The findings reveal that William James Moriarty embodies the moral ambiguity characteristic of the villain-hero archetype, where his criminal actions—though against legal norms—stem from a noble purpose. His ambition places him within Boyer’s classification of the ambitious villain-hero: the perfected type | |
| 45308 | 48673 | F1F020078 | Implementasi ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) dalam Merespon Rivalitas AS-China di Kawasan Indo-Pasifik | Rivalitas Amerika Serikat dan China di kawasan Indo-Pasifik menghadirkan tantangan strategis bagi stabilitas regional, terutama bagi ASEAN. Sebagai respons, ASEAN merumuskan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) yang menekankan inklusivitas, kerja sama, dan sentralitas ASEAN. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kerangka Regional Security Complex Theory (RSCT) untuk menganalisis implementasi AOIP dalam merespons persaingan dua kekuatan besar tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa AOIP berperan sebagai instrumen normatif penting dalam menjaga netralitas ASEAN, meski belum mengikat secara hukum. Namun, implementasinya menghadapi tantangan internal dan eksternal, seperti perbedaan kepentingan anggota dan pengaruh QUAD serta AUKUS. Efektivitas AOIP sangat bergantung pada komitmen politik ASEAN dan sinergi dengan kerja sama yang telah ada. | The rivalry between the United States and China in the Indo-Pacific region poses strategic challenges to regional stability, particularly for ASEAN. In response, ASEAN introduced the ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP), emphasizing inclusivity, cooperation, and ASEAN centrality. This study adopts a qualitative approach and applies the Regional Security Complex Theory (RSCT) to analyze the implementation of AOIP in addressing great power competition. Findings indicate that although AOIP is not legally binding, it serves as an important normative tool to uphold ASEAN’s neutrality. However, its implementation faces internal and external challenges, such as diverging member interests and external influence from actors like QUAD and AUKUS. The effectiveness of AOIP largely depends on ASEAN’s political commitment and synergy with existing cooperation frameworks. | |
| 45309 | 48674 | C1C019074 | Pengaruh Risiko Pajak Terhadap Audit Report Lag dengan Reputasi KAP sebagai Pemoderator | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh risiko pajak terhadap Audit Report Lag (ARL) sebelum dan saat pandemi COVID-19, serta menganalisis peran reputasi Kantor Akuntan Publik (KAP) sebagai variabel moderasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan populasi berupa perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2018 hingga 2021. Sampel ditentukan menggunakan metode purposive sampling. Risiko pajak digunakan sebagai variabel independen, ARL sebagai variabel dependen, dan reputasi KAP sebagai variabel moderasi. Pembagian periode pandemi dilakukan dengan cut-off tahun 2019 sebagai sebelum pandemi, dan tahun 2020–2021 sebagai saat pandemi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko pajak memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap ARL, baik pada periode sebelum maupun saat pandemi. Namun demikian, reputasi KAP tidak terbukti memoderasi hubungan antara risiko pajak dan ARL, baik sebelum maupun selama pandemi. Dengan demikian, meskipun risiko pajak berkontribusi dalam memperpanjang waktu penyelesaian audit, reputasi KAP tidak memiliki peran dalam memperkuat maupun memperlemah pengaruh tersebut. Secara teoritis, hasil ini memperkuat teori kepatuhan serta temuan sebelumnya yang menunjukkan adanya hubungan positif antara risiko pajak dan keterlambatan audit, sekaligus memperkaya literatur dalam konteks negara berkembang dan situasi krisis. Secara praktis, penelitian ini memberikan implikasi bagi auditor, manajemen, regulator, dan investor untuk lebih memperhatikan pengelolaan risiko pajak serta mempertimbangkan aspek non-reputasional dalam menilai efektivitas proses audit, terutama dalam kondisi yang tidak stabil seperti pandemi. | This study aims to analyze the effect of tax risk on Audit Report Lag (ARL) before and during the COVID-19 pandemic, as well as to examine the role of the reputation of Public Accounting Firms (KAP) as a moderating variable. This research employs a quantitative approach with a population consisting of companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) from 2018 to 2021. The sample was selected using purposive sampling. Tax risk is used as the independent variable, ARL as the dependent variable, and KAP reputation as the moderating variable. The pandemic period is divided with the cut-off year 2019 as pre-pandemic and the years 2020–2021 as during the pandemic. The results indicate that tax risk has a positive and significant effect on ARL both before and during the pandemic. However, KAP reputation was not found to moderate the relationship between tax risk and ARL, both before and during the pandemic. Thus, while tax risk contributes to extended audit completion time, KAP reputation does not significantly strengthen or weaken this effect. Theoretically, these findings reinforce compliance theory and previous research suggesting a positive relationship between tax risk and audit delay, thereby enriching the literature within the context of developing countries and crisis situations. Practically, this study provides insights for auditors, management, regulators, and investors to better manage tax risks and consider non-reputational factors when assessing audit effectiveness, especially in unstable situations such as the pandemic. | |
| 45310 | 48675 | C1I020022 | PENSION SYSTEM REFORMS: A CASE STUDY OF JAPAN AND POLICY IMPLICATIONS FOR INDONESIA "Exploring Coverage, Adequacy, and Sustainability in Comparative Perspectives" | Artikel ini membandingkan sistem pensiun di Jepang dan Indonesia secara komparatif berdasarkan tiga dimensi utama: cakupan, kecukupan manfaat, dan keberlanjutan keuangan. Jepang telah berhasil mengembangkan skema pensiun yang hampir bersifat universal dengan fitur yang fleksibel dan mampu beradaptasi terhadap tren demografis dan ekonomi. Sementara itu, sistem pensiun Indonesia masih belum berkembang, dengan cakupan yang sangat rendah—terutama di sektor informal—kecukupan manfaat yang rendah, serta menghadapi masalah keberlanjutan di masa depan. Melalui analisis dokumen kualitatif dan studi kasus komparatif, artikel ini menyimpulkan bahwa kebijakan kunci Jepang dapat dijadikan model reformasi bagi Indonesia. Temuan menunjukkan pentingnya pendaftaran wajib, subsidi pemerintah bagi peserta berpenghasilan rendah, pensiun yang disesuaikan dengan inflasi, serta strategi investasi yang beragam dalam skema pensiun. Makalah ini ditutup dengan rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan cakupan dan keberlanjutan sistem pensiun Indonesia dalam jangka panjang. | This Article compares Japan and Indonesia's pension systems comparatively in terms of three basic dimensions of coverage, benefit adequacy, and financial sustainability. Japan has managed to develop a nearly universal pension scheme with flexible features that adapt to demographic and economic trends. Indonesia's pension system remains underdeveloped, with very low coverage—particularly in the informal economy—low benefit adequacy, and looming sustainability issues. From qualitative document analysis and comparative case study, the article concludes Japan's key policy actions that can serve as a reform model for Indonesia. The findings stress compulsory registration, government subsidies to low-income contributors, inflation-indexed pensions, and diversified investment strategies for pension schemes. The paper ends with policy recommendations to increase Indonesia's pension system coverage and sustainability in the long run. | |
| 45311 | 48676 | I1D021053 | Formulasi Susu Kecambah Koro Pedang Putih, Ekstrak Jahe, dan Serai terhadap Kadar Serat Kasar, Fenolik, dan Hedonik sebagai Minuman Alternatif Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 | Latar Belakang: Pengaturan makan yang baik dapat menstabilkan kadar glukosa darah pada tubuh sehingga penggunaan bahan alami seperti koro pedang putih, jahe gajah, dan serai dapat digunakan sebagai alternatif pangan bagi penderita Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar serat kasar, fenolik, daya terima hedonik, dan aktivitas antioksidan susu nabati yang dihasilkan. Metode: Eksperimental dengan rancangan acak kelompok. Formulasi susu nabati terdiri dari F1 (persentase kecambah koro pedang putih terhadap air 10%; 10% jahe gajah; 12,5% serai), F2 (persentase kecambah koro pedang putih terhadap air 12,5%; 8% jahe gajah; 10% serai) , F3 (persentase kecambah koro pedang putih terhadap air 16,67%; 6% jahe gajah; 7,5% serai). Jumlah pengulangan pada penelitian ini sebanyak 6 sehingga didapatkan 18 unit percobaan. Analisis statistik kadar serat kasar dan fenolik menggunakan ANOVA, sedangkan hedonik menggunakan uji Friedman. Apabila terdapat pengaruh nyata (p<0,05), maka dilanjutkan dengan DMRT. Formula terbaik diperoleh menggunakan uji indeks efektivitas De Garmo. Hasil: Formula susu nabati yang berbeda berpengaruh nyata (p value <0,05) terhadap kadar serat kasar, fenolik, daya terima hedonik berupa warna, aroma, dan kekentalan. Namun, tidak berpengaruh nyata (p value >0,05) terhadap daya terima hedonik rasa. Kesimpulan: Susu nabati terbaik adalah susu nabati (F3) yang mengandung serat kasar 8,81% ± 1,04a, total fenolik 83,56 ± 6,16a mg GAE/L, skor uji hedonik warna (3,76), aroma (3,22), kekentalan (3,20), rasa (3,18), dan nilai inhibisi Diphenylpicryl-Hydrazyl (DPPH) sebesar 66,97% (tinggi). Serving size susu nabati sebanyak 230 mL dengan kandungan serat kasar 20,3 g dengan persen pemenuhan bagi penderita DMT2 101,5% dan kandungan fenolik yang dihasilkan adalah sebesar 192 mg GAE/L dengan persen pemenuhan bagi orang dewasa 19,4%. Kata kunci: Susu Nabati, Kecambah Koro Pedang Putih, Jahe Gajah, Serai, Serat Kasar, Fenolik | Background: Proper dietary regulation can help stabilize blood glucose levels, making natural ingredients such as germinated jack bean, ginger, and lemongrass potential alternative food sources for individuals with Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM). This study aims to evaluate the levels of crude fiber content, total phenolics, hedonic acceptability, and antioxidant activity of plant-based milk. Method: Experimental with randomized group design. The plant-based milk formulations consisted of F1 (percentage of germintaed jack bean to water 10%; 10%; ginger; 12,5% lemongrass), F2 (percentage of germintaed jack bean to water 12,%; 8% ginger; 10% lemongrass), F3 (percentage of germintaed jack bean to water 16,67; 6% ginger; 7,5% lemongrass). Each treatment was replicated 6 times, resulting in a total of 18 experimental units. Crude fiber and phenolic content were analyzed using ANOVA, while hedonic acceptability was assessed using the Friedman test. If a significant effect (p < 0.05) was observed, further analysis was conducted using Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). The most effective formulation was determined using the De Garmo effectiveness index Results: The different plant-based milk formulations had a statistically significant effect (p < 0.05) on crude fiber content, total phenolic levels, and hedonic acceptability in terms of color, aroma, and viscosity. However, they did not have a significant effect (p > 0.05) on the hedonic acceptability of taste. Conclusion: The best plant-based milk formulation is F3, which contains 8,81% ± 1,04a crude fiber and 83,56 ± 6,16a mg GAE/L of total phenolics. It achieved hedonic test scores of color (3,76), aroma (3,22), viscosity (3,20), and taste (3,18). The Diphenylpicryl-Hydrazyl (DPPH) inhibition value was 66,97% (high). A 230 mL serving of this plant-based milk provides 20,3 g of crude fiber, fulfilling 101,5% of the daily fiber requirement for individuals with T2DM, and contains 192 mg GAE/L of phenolic compounds, fulfilling 19,4% of the daily phenolic intake recommendation for adults. Keywords: Plant-Based Milk, Germinated Jack Bean, Ginger, Lemongrass, Crude Fiber, Phenolic | |
| 45312 | 48677 | I1A021022 | Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tekanan Darah Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman | Latar Belakang: Prevalensi tekanan darah tinggi di Indonesia pada usia ≥18 tahun mencapai 34,1%, sedangkan hipotensi diperkirakan 5%-34% dan cenderung akan meningkat pada usia 17-19 tahun ke atas. Hal ini menunjukkan bahwa remaja termasuk mahasiswa menjadi kelompok yang rentan mengalami tekanan darah tidak normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tekanan darah pada mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman. Metodologi: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Populasi penelitian ini yaitu mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman, dengan sampel sebanyak 270 responden menggunakan teknik proportional random sampling. Variabel yang diteliti yaitu umur, jenis kelamin, riwayat keluarga, pola makan, aktivitas fisik, merokok, obesitas, kualitas tidur, dan tingkat stres. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu kuesioner, dokumentasi, dan tensimeter digital. Analisis yang digunakan yaitu univariat, bivariat (chi square), dan multivariat (regresi logistik berganda). Hasil Penelitian: Terdapat variabel yang berhubungan dengan tekanan darah pada mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman yaitu variabel umur (p-value=0,013;POR=0,505;95%CI=0,295-0,864), jenis kelamin (p-value=0,011;POR=2,277;95%CI =1,210-4,285), riwayat keluarga (p-value=0,039;POR=1,773;95%CI=1,029-3,054), dan kualitas tidur (p-value=0,017;POR=2,395;95%CI=1,166-4,917). Tidak terdapat hubungan pada variabel pola makan (p-value=0,117), aktivitas fisik (p-value=0,403), merokok (p-value=0,909), obesitas (p-value=0,260), dan tingkat stres (p-value=0,873). Variabel yang paling dominan berhubungan dengan tekanana darah pada mahasiswa yaitu kualitas tidur (p-value=0,017;POR=2,395;95%CI=1,166-4,917). Kesimpulan: Kualitas tidur merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan tekanan darah pada mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman. | Background: The prevalence of high blood pressure in Indonesia among individuals aged ≥18 years reached 34,1%, while hypotension was estimated at 5%–34% and tended to increase in those aged 17–19 years and above. This indicated that adolescents, including university students, became a vulnerable group to abnormal blood pressure. This study aimed to identify the factors associated with blood pressure among students of the Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University. Methods: This study used a quantitative approach with a cross-sectional study design. The population in this study was the students of the Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University, with a sample of 270 respondents selected using proportional random sampling. The variables studied were age, gender, family history, dietary patterns, physical activity, smoking, obesity, sleep quality, and stress level. The research instruments used were questionnaires, documentation, and digital sphygmomanometers. The analyses used were univariate, bivariate (chi-square test), and multivariate (multiple logistic regression). Results: There were variables that were associated with blood pressure among students of the Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University, namely age (p-value=0,013;POR=0,505;95%CI=0,295-0,864), gender (p-value=0,011;POR=2,277;95%CI=1,210-4,285), family history (p-value=0,039;POR=1,773;95%CI=1,029-3,054), and sleep quality (p-value=0,017;POR=2,395;95%CI=1,166-4,917). There was no association with dietary patterns (p value = 0,117), physical activity (p value = 0,403), smoking (p value = 0,909), obesity (p value = 0,260), and stress level (p value = 0,873). The most dominant variable associated with blood pressure among the students was sleep quality (p-value=0,017;POR=2,395;95%CI=1,166-4,917). Conclusion: Sleep quality was the most dominant factor associated with blood pressure among students of the Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University. | |
| 45313 | 48678 | I1A021086 | Faktor yang Berpengaruh terhadap Keluhan Tinnitus pada Pekerja Bagian Finishing di PT. Pundi Indokayu Industri Kabupaten Banyumas | Latar Belakang: Proses finishing yang berlangsung meliputi sander (pengamplasan), sizer (pengukuran) dan quality control (kontrol kualitas) yang dilakukan secara terus menerus, yang berpotensi menghasilkan tingkat kebisingan yang tinggi. Pada bagian sander dan sizer mesin beroperasi selama 24 jam, hal ini tentunya dapat menimbulkan kebisingan dan meningkatkan risiko terjadinya tinnitus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap keluhan tinnitus pada pekerja bagian finishing di PT. Pundi Indokayu Industri Kabupaten Banyumas. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 70 responden dengan teknik total sampling. Variabel dependen yaitu keluhan tinnitus. Variabel independen yaitu usia, jenis kelamin, intensitas kebisingan, penggunaan Alat Pelindung Telinga (APT), masa kerja, dan kebiasaan merokok. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner, Sound Level Meter (SLM), dan meteran. Uji statistik yang digunakan adalah analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil: Terdapat hubungan usia (p=0,000), intensitas kebisingan (p=0,001), dan masa kerja (p=0,000) dengan keluhan tinnitus. Serta tidak terdapat hubungan antara variabel jenis kelamin (p=0,124), kebiasaan merokok (p=1,000) dengan keluhan tinnitus. Variabel yang berpengaruh terhadap keluhan tinnitus yaitu usia (OR 19,859) dan masa kerja (OR 31,565). Diantara variabel yang dianalisis, masa kerja menunjukkan pengaruh terbesar terhadap keluhan tinnitus. Variabel yang tidak berpengaruh terhadap keluhan tinnitus yaitu jenis kelamin (p=0,454) dan intensitas kebisingan (p=0,184). Kesimpulan dan Saran: Variabel yang berpengaruh terhadap keluhan tinnitus adalah usia dan masa kerja. Pekerja disarankan untuk tidak mengabaikan keluhan telinga berdengung dan segera memeriksakannya. | Background: The finishing process involues sander machine (sanding), sizer machine (measuring) and quality control, which are carried out continuously, potentially generating high noise levels. prolonged exposure to excessive noise, particulars in the sander and sizer section that operate 24 hours a day can increase the risk of tinnitus. This study aims to determine the factors that affect tinnitus complaints in finishing workers at PT. Pundi Indokayu Industri, Banyumas Regency. Method: The quantitative research with cross sectional. Involuing 70 finishing workers selected through with total sampling technique. The dependent variable is tinnitus complaints. The independent variables are age, gender, noise intensity, use of ear protection equipment, length of service, and smoking habits. The research instrument used a questionnaire, Sound Level Meter (SLM), and meter. Statistical tests used were univariate, bivariate, and multivariate analysis. Results: The result showed significant associations between tinnitus and age (p=0,000), noise intensity (p=0,001), and work period (p=0,000) with tinnitus complaints. And there is no relationship between gender variables (p=0,124), smoking habits (p=1.000) with tinnitus complaints. Variables that influence tinnitus complaints are age (OR 19.859) and tenure (OR 31.565). Among the variables analyzed, tenure showed the greatest influence on tinnitus complaints. Variables that do not affect tinnitus complaints are gender (p=0,454) and noise intensity (p=0,184). Conclusion and Suggestions: In conclusion, age and work period were identified as the most influential factors identified the most influential factors associated with tinnitus among finishing workers. Workers are advised not to ignore complaints of buzzing ears and get them checked out immediately. | |
| 45314 | 48680 | I1E021020 | Pengaruh Imagery terhadap Akurasi Tembakan Panahan pada Atlet Panahan Sekolah Dasar di Kabupaten Cilacap | Latar Belakang: Olahraga panahan merupakan salah satu cabang olahraga yang membutuhkan keterampilan fisik dan mental yang baik. Salah satu bentuk latihan mental adalah imagery training yaitu latihan dengan memvisualisasikan gerakan dan situasi tertentu dalam pikiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh imagery training terhadap akurasi tembakan pada olahraga panahan. Metodologi: Penelitian ini merupakan studi eksperimen jenis true eksperimental design dengan rancangan Two Group Pretest-Posttest. Sampel penelitian sebanyak 12 anak yang diambil dengan teknik random sampling yang selanjutnya dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menggunakan teknik ordinal pairing. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 23 Februari – 25 Maret 2025 di Kabupaten Cilacap. Analisis data dilakukan dengan uji parametrik meliputi Uji Normalitas, Homogenitas, dan Hipotesis. Hasil Penelitian: Hasil analisis data menggunakan paired sample t-test pada kelompok eksperimen diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 sedangkan pada kelompok kontrol nilai signifikansi sebesar 0,004. Pada hasil uji analisis independent sample t-test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000. Kesimpulan: Imagery training berpengaruh secara signifikan terhadap akurasi tembakan memanah. Pada hasil uji perbedaan pengaruh terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, dengan hasil kelompok eksperimen lebih meningkatkan akurasi tembakan memanah. Kata Kunci: Imagery Training, Akurasi, Panahan. | Background: Archery is a sport that requires both strong physical skills and mental abilities. Mental training using imagery has been proven effective in enhancing the performance of archery athletes by visualizing specific movements and situations in the mind. This study aims to measure the effect of imagery training on shooting accuracy in archery. Methods: This research is a quantitative study of true experimental design with the Two Group Pretest-Posttest method. The research sample was 12 people taken by simple random sampling technique which was divided into two groups, namely the experimental group and the control group using the ordinal pairing technique. The research was conducted on February 23 – 25 March 2025 in Cilacap Regency. Data analysis was carried out with parametric tests including Normality, Homogeneity, and Hypothesis Tests. Results: The results of data analysis using paired sample t-test in the experimental group obtained a significance value of 0.000 while in the control group the significance value was 0.004. In the independent sample t-test analysis test results obtained a significance value of 0.000. Conclusion: Imagery training has a significant effect on the accuracy of archery shots. In the results of the effect difference test, there is a significant difference in effect between the control group and the experimental group, with the results of the experimental group further improving the accuracy of archery shots. Keywords: Imagery Training, Accuracy, Archery. | |
| 45315 | 48679 | I1E021002 | PEMANFAATAN OBJEK WISATA TAMAN PANEMON SEBAGAI PRASARANA AKTIVITAS LUAR KELAS SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN SUMBANG | Latar Belakang: Pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar, yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Adapun masalah yang sering terjadi pada pembelajaran siswa di tingkat SD adalah penggunaan metode pembelajaran yang kurang melibatkan siswa, sehingga akan menyebabkan kurangnya motivasi siswa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi guru untuk menentukan metode pembelajaran yang tepat untuk siswa. Salah satu metode pembelajaran yang dapat mengatasi masalah ini adalah dengan melakukan aktivitas luar kelas. Aktivitas luar kelas dalam pembelajaran PJOK memiliki peran penting untuk membentuk karakter dan keterampilan siswa. Salah satu bentuk dari pelaksanaan aktivitas luar kelas adalah dengan memanfaatkan objek wisata. Objek wisata Taman Panemon memiliki potensi sebagai prasarana pembelajaran aktivitas luar kelas yang akan mendukung pengalaman belajar siswa secara langsung. Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan terdiri dari Guru PJOK, Siswa SD di Kecamatan Sumbang, dan Pengelola objek wisata Taman Panemon Hasil Penelitian: Penelitian ini menunjukkan bahwa objek wisata Taman Panemon dapat dimanfaatkan sebagai prasarana aktivitas luar kelas. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa aspek yang dapat dimanfaatkan sebagai prasarana aktivitas luar kelas diantaranya aspek daya tarik berupa wahana edukasi renang dan interaksi dengan hewan yang mendukung proses pembelajaran aktivitas luar kelas. Pada aspek aksesibilitas ditemukan adanya kemudahan akses jalan. Pada aspek fasilitas penunjang dilengkapi dengan fasilitas edukasi, fasilitas rekreasi/hiburan, dan fasilitas umum. Pada aspek keamanan,tersedia peralatan keamanan, petugas keamanan, dan peringatan kemanan. Pada aspek paket wisata terdapat pilihan paket seperti paket umum, paket reservasi, dan paket jeep pasafun. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa objek wisata Taman Panemon relevan untuk dimanfaatkan sebagai prasarana aktivitas luar kelas oleh beberapa SD di Kecamatan Sumbang. Wisata tersebut menawarkan pengalaman belajar berbasis praktik yang didukung dengan fasilittas atau wahana edukasi dan rekreasi. Adapun faktor pendukungnya mencangkup kesesuaian aktivitas luar kelas dengan kurikulum merdeka, aksesibilitas wisata strategis, fasilitas dan wahana edukasi yang mendukung aktivitas luar kelas, keamanan objek wisata yang relatif baik, serta adanya kolaborasi dengan objek wisata lain. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu terdapat akses jalan yang masih rusak, tempat parkir yang belum permanen, serta tidak disediakan paket khusus untuk pelajar. Kata Kunci: Aktivitas Luar Kelas, Pemanfaatan Objek Wisata, Prasarana, Taman Panemon. | Background: Learning is a process of interaction between students and educators and learning resources, which aims to acquire knowledge, skills, and attitudes. The problem that often occurs in elementary school student learning is the use of learning methods that do not involve students enough, which will cause a lack of student motivation to participate in learning activities. This is a special concern for teachers to determine the right learning method for students. One learning method that can overcome this problem is by conducting extracurricular activities. Extracurricular activities in PJOK learning have an important role in shaping students' character and skills. One form of implementing extracurricular activities is by utilizing tourist attractions. The Panemon Park tourist attraction has the potential as an infrastructure for extracurricular learning activities that will support students' learning experiences directly. Research Results: This study shows that the Panemon Park tourist attraction can be used as an infrastructure for outdoor activities. This is evidenced by the existence of several aspects that can be used as an infrastructure for outdoor activities, including aspects of attraction in the form of educational swimming rides and interactions with animals that support the learning process for outdoor activities. In terms of accessibility, there is easy road access. In terms of supporting facilities, it is equipped with educational facilities, recreation/entertainment facilities, and public facilities. In terms of security, there are security equipment, security officers, and security warnings. In terms of tour packages, there are package options such as general packages, reservation packages, and jeep pasafun packages. Conclusion: This research concludes that the Panemon Park tourist attraction relevant to be used as infrastructure for out-of-class activities by several Elementary school in Sumbang District. The tour offers a learning experience practice-based supported by educational facilities or facilities recreation. The supporting factors include the suitability of activities outside the classroom with an independent curriculum, strategic tourist accessibility, facilities and rides education that supports activities outside the classroom, relative safety of tourist attractions good, as well as collaboration with other tourist attractions. While factors The obstacles are that there are access roads that are still damaged, parking lots not yet permanent, and no special packages are provided for students. Keywords: Out-of-Class Activities, Utilization of Tourist Attractions, Infrastructure, Panemon Park | |
| 45316 | 48681 | J0A022065 | Creating a Digital Informational Video about Corporate Sponsor at Cilacap Class I TPI Cilacap on YouTube | Laporan tugas akhir ini disusun berdasarkan praktik kerja pada yang dilaksanakan di Kantor Imigrasi Kelas I Cilacap dari 5 September 2024 hingga 6 Desember 2024. Tujuan laporan ini untuk menjelaskan pelaksanaan kegiatan magang di Kantor Imigrasi Kelas I Cilacap, membuat video informatif digital mengenai sponsor korporasi untuk diunggah di kanal YouTube resmi Kantor Imigrasi Kelas I Cilacap, serta mengetahui hambatan yang dihadapi dan solusi yang diterapkan selama proses pembuatan video tersebut. Dalam penyusunan Laporan Praktik Kerja ini, terdapat tiga metode yang digunakan: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Video informasi dipilih karena instansi tersebut belum menyediakan video tentang penjamin perusahaan dalam bahasa Inggris di kanal YouTube-nya. Hasilnya adalah video informasi sinematik dengan sulih suara dalam bahasa Inggris dan subtitle dalam bahasa Indonesia. Terdapat tiga tahapan dalam proses pembuatan video informasi, yaitu pra-produksi, produksi, dan pasca produksi. Pada tahap pra produksi, terdapat beberapa langkah, yaitu menentukan konsep video, mengumpulkan informasi tentang penjamin perusahaan, dan menulis naskah sulih suara. Menentukan ide, membuat jadwal, menulis naskah, membuat storyboard, dan menyiapkan peralatan merupakan bagian dari tahap persiapan yang dikenal sebagai pra-produksi. Selanjutnya, tahap produksi terdiri dari dua langkah utama: pengambilan video dan penyuntingan video infografis. Pada tahap pasca produksi, terdapat langkah penyelesaian akhir dan publikasi video. Ada beberapa kendala selama proses pembuatan video informasi, seperti keterbatasan ruang penyimpanan di ponsel, keterbatasan kemampuan dalam teknik pergerakan kamera, dan aplikasi edit video yang masih dasar. Beberapa solusi yang dilakukan adalah membersihkan penyimpanan, mempelajari teknik pergerakan kamera melalui YouTube, dan meng-upgrade aplikasi editing. Kendala-kendala tersebut berhasil diatasi. Video informasi yang dihasilkan dipublikasikan di kanal YouTube Kantor Imigrasi Kelas I Cilacap untuk memberikan edukasi kepada penonton tentang penjamin perusahaan. | This final report is based on the job training conducted at the Cilacap Class I Immigration Office from September 5, 2024, to December 6, 2024. The purpose of this report are to explain the implementation of job training at the Cilacap Class I Immigration Office, to create a digital informational video about corporate sponsorship for the office's official YouTube channel, and to identify the obstacles encountered and the solutions applied during the video production process. In making this job training report, there were three methods: observation, interview, and documentation. Based on interview and observation with head of social media TIKKIM, a digital informational video was chosen because the agency had not yet provided a video about corporate sponsor in English on its YouTube channel. The video result was a cinematic information video with English voice-over and Indonesian subtitles. There were three stages in the process of creating an information video namely pre production, production, and post-production. In the pre-production stages, there were several step namely determining video concept, gathering information about corporate foreign sponsor, and voice-over script writing. Determining idea, making schedule, writing script, making storyboard, and preparing tools were the preparation stage known as pre production. Furthermore, the production stage consisted of two main steps: video shooting and digital informational video editing. In the post-production stage, there is finishing and publishing video step. There were several obstacles during the process of creating the information video, such as limited phone storage, limited camera skill, and basic video editing app. The several solutions are cleaned up the storage, learned camera movement on YouTube, and upgraded the editing application. The obstacles were successfully overcome. The final information video was published on the Cilacap Class I Immigration Office's YouTube channel to educate viewers about corporate sponsor. | |
| 45317 | 48682 | J0A022023 | Creating Bilingual Promotional Videos of Monumen Yogya Kembali | Laporan praktik kerja ini disusun berdasarkan hasil praktik kerja yang dilaksanakan pada tanggal 19 Agustus 2024 hingga 20 Desember 2024 dengan judul "Creating Bilingual Promotional Videos of Monumen Yogya Kembali" selama empat bulan sebagai translator dan pemandu wisata. Tujuan utama dari praktik kerja ini adalah untuk mempromosikan Monumen Yogya Kembali kepada wisatawan lokal maupun internasional yang bertemakan koleksi museum dan alur kunjungan wisatawan melalui video yang dirangkum dengan dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, pada sosial media Instagram Monumen Yogya Kembali. Dalam penyusunan praktik kerja ini, terdapat tiga metode, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tahap observasi dilakukan sebelum dan selama magang berlangsung untuk mengetahui beberapa objek koleksi museum yang dibuat video. Sedangkan wawancara dan dokumentasi dilakukan selama magang berlangsung. Dalam pembuatan video terdapat tiga tahapan, yaitu pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Tahap produksi mencakup menentukan ide video, membuat naskah dan storyboard, analisa target audiens, merencanakan jadwal pengambilan video, dan menyiapkan peralatan. Selanjutnya, pada tahap produksi berfokus pada pengambilan gambar. Terakhir, pasca-produksi yaitu berfokus pada proses editing video yang mencakup pemilihan footage, mengisi suara, subtitling, dan color grading. Kedua video ini berdurasi dua menit dilengkapi dengan voiceover bahasa Indonesia dan subtitle bahasa inggris. Dalam proses pembuatan video promosi, ada beberapa kendala. Kendala utama adalah video bertema serupa dengan sesama rekan magang. Untuk mengatasi kendala kesamaan tema, penulis memutuskan untuk memilih tema yang berbeda dengan melakukan observasi lansung dan brainstorming dengan staf museum untuk menghindari pengulangan. Meskipun sempat mengalami kendala, namun kendala ini berhasil diatasi. | This final report is based on the results of Job Training at the Monumen Yogya Kembali from August 19, 2024, to December 20, 2024, with the title "Creating Bilingual Promotional Videos of Monumen Yogya Kembali". The main purpose of this Job Training Report is to promote Monumen Yogya Kembali for Local and International Visitors with themes "Collection Video" and "Guide Video" had the Indonesian language as Voiceover and English as a Subtitle in Monumen Yogya Kembali social media of Instagram. During the final report, third methods were used; Observation, Interview, and Documentation. Observation method was conducted before and during the Job Training to find several collections of museum objects that were used in the video. Meanwhile, the interview and documentation steps were conducted during the internship. In creating promotional videos, several steps were used; Pre production, Production, and Post Production. Production step focused in Determining Idea, Scriptwriting and Storyboard, Target Audience Analysis, Schedule & Talent, and Production Equipment. Next, is the production step. This step focused on taking video clips for two weeks with two different models. Last, Post Production focused on the editing process of the videos, they are selecting footage, voiceover, subtitling, and color grading. These videos were made around two minutes with Indonesian language as Voiceover and English as subtitles. During the process of creating a promotional video, there are several obstacles. The main obstacles are similar themed videos with fellow internships. To overcome the obstacle of having similar themed, the writer decided to choose different theme by field observation and brainstorming with the museum’s staff to avoid redudancy. Despite the encountered obstacles, these obstacles were overcome successfully. | |
| 45318 | 48683 | J0A022078 | Creating English Promotional Videos for Pecaron Beach and Van Der Wijck Fortress Under Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kebumen | Laporan Tugas Akhir ini disusun berdasarkan praktik kerja yang dilaksanakan pada 2 September – 10 Desember 2024. Tujuan dari laporan ini adalah untuk menjelaskan pelaksanaan praktik kerja lapangan, proses pembuatan video promosi dengan subtitle bahasa Inggris, serta kendala dan solusi dalam produksi video promosi di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kebumen. Pariwisata di Kabupaten Kebumen memiliki potensi yang besar, namun karena terbatasnya promosi terhadap destinasi seperti Pantai Pecaron dan Benteng Van Der Wijck, penulis membuat video promosi yang menarik berbasis Instagram untuk meningkatkan visibilitas, menarik lebih banyak pengunjung, dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. Menyusun Laporan Praktik Kerja ini mencakup tiga metode yaitu observasi, dokumentasi, interview. Ketiga metode tersebut digunakan untuk melaksanakan praktik kerja yakni membuat video promosi dengan subtitle bahasa Inggris. Video yang dihasilkan merupakan dua video dengan voice over Bahasa Inggris dan subtitle Bahasa Indonesia. Pembuatan video promosi berbahasa Inggris ini melalui tiga tahapan utama: pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Tahapan-tahapan ini meliputi pengembangan konsep dan naskah, perekaman video di lokasi Pantai Pecaron dan Benteng Van Der Wijck menggunakan perangkat seluler dan narasi suara (voice-over), penyuntingan video menggunakan aplikasi CapCut, serta publikasi akhir melalui akun Instagram resmi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kebumen. Masalah dalam menyelesaikan proyek ini meliputi cuaca yang tidak menentu di pantai, jarak yang cukup jauh dari tempat tinggal penulis ke Pantai Pecaron, kondisi jalan yang kurang baik menuju lokasi, serta kesulitan dalam menambahkan narasi suara (voice-over). Untuk mengatasi kendala tersebut, penulis menjadwal ulang pengambilan gambar agar mendapatkan cuaca yang lebih baik, berkoordinasi dengan pendamping lokal untuk mempermudah akses ke lokasi, dan berlatih pengisian suara beberapa kali untuk menghasilkan narasi yang lebih dinamis dan menarik. | This final report is based on the job training that was carried out on September 2 – December 10, 2024. The purpose of this report is to explain the implementation of the job training, the process of making a promotional video with English subtitles, and the obstacles and solutions in producing promotional video at Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kebumen. Tourism in Kebumen Regency holds great potential, but due to limited promotion of destinations like Pecaron Beach and Van Der Wijck Fortress, the writer created engaging Instagram-based promotional videos to increase visibility, attract more visitors, and support local economic growth. In compiling this final report, three methods were used: observation, documentation, and interviews. These methods were applied to support the internship activities, particularly in creating promotional videos with English subtitles. The final product consists of two videos featuring English voice-over narration with Indonesian subtitle. The create of English promotional video followed three main stages: pre-production, production, and post-production. These stages involved the development of concepts and scripts, on-site video recording at Pecaron Beach and Van Der Wijck Fortress using mobile devices and voice-over narration, video editing using the CapCut application, and final publication through the official Instagram account of Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kebumen. The obstacles in completing the project included unpredictable weather at the beach, the considerable distance from the writer’s residence to Pecaron Beach, poor road conditions leading to the location, and difficulties in adding the voice-over. To overcome these issues, the writer rescheduled filming for better weather, coordinated with a local companion to ease the route process, and practiced voice-over delivery multiple times to achieve a more dynamic and engaging result. | |
| 45319 | 48684 | J1C021035 | Struktur dan Makna Idiom Bahasa Jepang pada Manga Kuroneko to Majou no Kyoushitsu | Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikan idiom bedasarkan makna dan pembentuk idiomnya pada manga Kuroneko to Majou no Kyoushitsu volume 2. Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode simak dengan teknik catat. Teknik triangulasi digunakan untuk mencari definisi dan arti pada Reikai Kan'youku Jiten dan kamus elektronik pada website jisho.org. Data yang sudah dikumpulkan pada sumber data kemudian diklasifikasi bedasarkan maknanya dan pembentuk idiomnya. Idiom adalah suatu bentuk frasa yang maknanya tidak dapat ditentukan hanya dilihat dari leksem pembentuk idiom tersebut. Idiom lazim digunakan baik dalam konteks bahasa verbal maupun non-verbal. Idiom menjadi salah satu halangan bagi seseorang yang sedang mempelajari bahasa asing. Hasil penelitian didapatkan 24 idiom pada sumber data dan menjelaskan idiom bedasarkan pada makna, struktur dan unsur pembemtuk idiom. Bedasarkan maknanya didapatkan 10 idiom kelompok I, 5 idiom kelompok II, 2 idiom kelompok III, 4 idiom kelompok 4 dan 3 idiom kelompok V. Bedasarkan strukturnya ditemukan 17 idiom berstruktur verba, 6 idiom berstruktur adjektiva dan 1 idiom berstruktur nomina. | This study aims to classify idioms based on their meanings and constituent elements as found in volume 2 of the manga Kuroneko to Majou no Kyoushitsu. A qualitative descriptive method was employed in this research. Data were collected using an observation method combined with note-taking techniques. Triangulation was used to determine the definitions and meanings of idioms by referring to the Reikai Kan’yōku Jiten and the electronic dictionary available on the website jisho.org. The data collected from the source were then classified based on their meanings and constituent elements Idioms are a type of phrase whose meanings cannot be inferred solely from the individual lexemes that compose them. They are commonly used in both verbal and non-verbal language contexts. For learners of a foreign language, idioms often pose a significant challenge in the process of language acquisition. The results of the study obtained 24 idioms in the data sources and explained idioms based on their meaning, structure and constituent elements of the idiom. Based on the meaning, there are 10 idioms in group I, 5 idioms in group II, 2 idioms in group III, 4 idioms in group 4 and 3 idioms in group V. Based on the structure, there are 17 idioms with verb structure, 6 idioms with adjective structure and 1 idiom with noun structure. | |
| 45320 | 48685 | F2C022017 | POLA KOMUNIKASI PARTISIPATIF DALAM PELAKSANAAN PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) BERBASIS KEARIFAN LOKAL BRI CABANG PURWOKERTO | ABSTRACT Akuntabilitas sosial Corporate Social Responsibility (CSR) BRI atau Cabang Purwokerto telah menjadi prinsip panduan bagi dunia usaha. Banyak perusahaan, baik besar maupun kecil, di seluruh dunia dan di komunitas sekitar mereka telah mengintegrasikan kegiatan CSR ke dalam strategi bisnis mereka secara keseluruhan dengan harapan dapat meningkatkan reputasi dan citra positif perusahaan, motivasi karyawan, dan pangsa pasar. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif. Observasi, wawancara, dan catatan tertulis digunakan untuk mengumpulkan data penelitian ini. Dengan bertindak secara transparan dan beretika, konsisten dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat serta memperhatikan kepentingan pemangku kepentingan secara konsisten, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka perusahaan dapat menunjukkan komitmennya terhadap tanggung jawab sosial perusahaan. Program Cause Promotions, Cause-Related Marketing, Corporate Social Marketing, Corporate Philanthropy, Community Volunteering, dan Socially Responsible Business adalah semua bentuk Tanggung Jawab Sosial Perusahaan yang dapat dipilih oleh perusahaan. Rencana komunikasi yang sukses akan memiliki pandangan ke depan dalam penyebaran informasi, persuasi khalayak, dan penerapan arahan. CSR telah menerapkan strategi komunikasi yang memperhatikan komponen-komponen komunikasi dalam rangka menjalankan program komunikasi. Dalam konteks ini, "strategi" mengacu pada proses mempelajari dan beradaptasi dengan audiens, peran, komunikator, dan media komunikasi tertentu. Tetap terbuka dan menerima komunitas lokal adalah cara pasti untuk menjaga perdamaian setelah Anda menetap di sana. Kata kunci: Komunikasi Partisipatif; Corporate Social Responsibility; Kearifan Lokal. | 1 http://jurnal.kolibi.org/index.php/neraca 3025-1192 (2023), 2 (1): 131–141 Neraca Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi POLA KOMUNIKASI PARTISIPATIF DALAM PELAKSANAAN PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) BERBASIS KEARIFAN LOKAL BRI CABANG PURWOKERTO Firmansyah Putra1 Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jendral Soedirman Correspondence Email: firmansyahbri@gmail.com No. Telp: Submitted : 04 November 2024 Accepted : 04 November 2024 Published: ABSTRACT Akuntabilitas sosial Corporate Social Responsibility (CSR) BRI atau Cabang Purwokerto telah menjadi prinsip panduan bagi dunia usaha. Banyak perusahaan, baik besar maupun kecil, di seluruh dunia dan di komunitas sekitar mereka telah mengintegrasikan kegiatan CSR ke dalam strategi bisnis mereka secara keseluruhan dengan harapan dapat meningkatkan reputasi dan citra positif perusahaan, motivasi karyawan, dan pangsa pasar. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif. Observasi, wawancara, dan catatan tertulis digunakan untuk mengumpulkan data penelitian ini. Dengan bertindak secara transparan dan beretika, konsisten dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat serta memperhatikan kepentingan pemangku kepentingan secara konsisten, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka perusahaan dapat menunjukkan komitmennya terhadap tanggung jawab sosial perusahaan. Program Cause Promotions, Cause-Related Marketing, Corporate Social Marketing, Corporate Philanthropy, Community Volunteering, dan Socially Responsible Business adalah semua bentuk Tanggung Jawab Sosial Perusahaan yang dapat dipilih oleh perusahaan. Rencana komunikasi yang sukses akan memiliki pandangan ke depan dalam penyebaran informasi, persuasi khalayak, dan penerapan arahan. CSR telah menerapkan strategi komunikasi yang memperhatikan komponen-komponen komunikasi dalam rangka menjalankan program komunikasi. Dalam konteks ini, "strategi" mengacu pada proses mempelajari dan beradaptasi dengan audiens, peran, komunikator, dan media komunikasi tertentu. Tetap terbuka dan menerima komunitas lokal adalah cara pasti untuk menjaga perdamaian setelah Anda menetap di sana. Kata kunci: Komunikasi Partisipatif; Corporate Social Responsibility; Kearifan Lokal. ABSTRACT Social accountability of the BRI Corporate social responsibility (CSR), or the Purwokerto Branch, has become widespread as a guiding principle for businesses. Many businesses, both large and small, around the world and in their immediate communities have integrated CSR activities into their overall business strategy in the hopes of boosting the company's positive reputation and image, employee motivation, and market share. This research makes use of a qualitative methodology. Observation, interviews, and written records were used to compile the data for this study. By acting in a transparent and ethical manner that is consistent with sustainable development and community welfare and that pays attention to the interests of stakeholders in a consistent manner, in accordance with applicable laws, a company can demonstrate its commitment to corporate social responsibility. Cause Promotions Programs, Cause-Related Marketing, Corporate Social Marketing, Corporate Philanthropy, Community Volunteering, and Socially Responsible Business are all forms of Corporate Social Responsibility from which companies can choose. A successful communication plan will have foresight into the dissemination of information, the persuasion of audiences, and the implementation of directives. CSR has implemented a communication strategy that takes into account the components of communication in order to carry out the communication program. In this context, "strategy" refers to the process of learning about and adapting to a specific audience, role, communicator, and medium of communication. Remaining open and accepting of the local community is a surefire way to keep the peace once you've established yourself there. Keywords: Participatory Communication; Corporate Social Responsibility; Local wisdom |