Artikelilmiahs
Menampilkan 4.421-4.440 dari 48.761 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 4421 | 14238 | F1C010070 | Strategi Promosi Minuman Kesehatan “Jeniper” CV Mustika Flamboyant Kuningan Jawa Barat | Penelitian ini berjudul Strategi Promosi Minuman Kesehatan “Jeniper” CV Mustika Flamboyant Kuningan Jawa Barat Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengetahui strategi pemasaran produk minuman kesehatan Jeniper, dan mengetahui implementasi dari strategi pemasaran produk minuman kesehatan Jeniper. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data yang dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi. Penelitian ini meneliti pemilik, dan tiga sample konsumen akhir yang ditentukan berdasarkan purposive sampling. Metode analisis data berupa reduksi data, penyajian dan penarikan kesimpulan, sedangkan validitas data menggunakan triangulasi sumber. Hasil yang didapat dari penelitian ini menunjukan bahwa produk Jeniper diklaim sebagai minuman kesehatan dalam kemasan daerah Kuningan Jawa Barat karena memiliki kandungan yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Selain itu, produk Jeniper dijadikan sebagai buah tangan akan suatu daerah. Setiap informan sudah menjadikan produk Jeniper sebagai minuman favorit karena rasanya yang menyegarkan. | The research entitled Promotion Strategy of “Jeniper” Healthy Drink CV Mustika Flamboyant Kuningan West Java. The purposes of this research to know the marketing strategy of health drink product Jeniper, and to know the implementation of Jeniper Healthy Drink’s marketing strategy. This research uses descriptive method with qualitative approach. The data for this research is collected by deep interview and observation. The research is investigated the owner of CV Mustika Flamboyant and three consumers which is determined by purposive sampling. Data analysis method is data reduction, presentation, dan conclusion, while the data validity using triangulation. The results of this research show that Jeniper is claimed as a healthy drink in packaging from Kuningan Jawa Barat because this drink has useful content for body health. Besides, Jeniper becomes a souvenir from a region. Each informant already made this product as their favourite drink because of it refresh taste. | |
| 4422 | 14240 | C1B011020 | ANALISIS PENGARUH PROMOSI, STIMULUS LINGKUNGAN TOKO DAN FAKTOR LINGKUNGAN SOSIAL TERHADAP PERILAKU PEMBELIAN IMPULSIF PADA MORO MALL PURWOKERTO | Penelitian ini bertujuan untuk menganilis pengaruh promosi, stimulus lingkungan toko dan faktor lingkunan sosial terhadap perilaku pembelian impulsif. Sampel penelitian ini terdapat 100 responden yang berasal dari mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis universitas jenderal soedirman. Metode purposif sampling digunakan dalam penentuan sampel pada penelitian ini. Data dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa promosi, stimulu lingkungan toko dan faktor lingkungan sosial berpengaruh terhdap perilaku pembelian impulsif. | the purpose of this reseach was to analyze the influence of promotion, store environment stimuly and social environment factors to impulse buying behavior. The population in this study are all student on economic and business faculty of jenderal soedirman university. By using purporsive sampling this research used 100 respondents. Using multyple regression analysis. The result show that promotion, store environment stimuly and social environment factors has infuence to impulse buying behavior. | |
| 4423 | 14241 | A1L010026 | Jenis Hama dan Penyakit Utama pada Tanaman Pepaya dan Pola Sebarannya di Desa Karangcegak Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas | Penelitian ini bertujuan untuk 1). Mengetahui jenis hama dan penyakit utama yang berada pada tanaman pepaya di Desa Karangcegak, 2). Mengetahui pola sebaran hama dan penyakit utama pada pertanaman pepaya tersebut, dan 3). Mengetahui faktor lingkungan yang mempengaruhi penyebaran hama dan penyakit utama pada pertanaman pepaya tersebut. Metode yang digunakan yaitu survai dengan dengan cara sensus pada lima blok yang terdiri masing-masing 25 tanaman. Sampel tanaman pepaya yang terserang hama dan patogen dideskripsikan berdasarkan tanda dan gejala serangan menggunakan analisis laboratorium, kemudian dicocokan dengan buku teks yang mendukung penelitian, selanjutnya dilakukan perhitungan frekuensi kemunculan, serta persentase populasi yang disebabkan oleh hama dan penyakit. Hasil penelitian menunjukan ada tiga jenis hama dan satu penyakit. Hama dan penyakit tanaman tersebut adalah kutu putih (Paracoccus marginatus), bekicot (Achatina fulica), kutu sisik (Pseudaulacaspis sp.), dan penyakit antraknosa (Colletotrichum sp.). Hama yang lebih dominan menyerang pertanaman pepaya adalah bekicot dengan frekuensi kemunculan sebanyak 71 kali pada minggu pertama dan 49 pada minggu ketiga. Total frekuensi kemunculan hama paling tinggi oleh hama bekicot 56,8% pada minggu pertama dan 39,2% pada minggu ketiga, hama kutu putih 20,8% pada minggu pertama dan 13,6% pada minggu ketiga, hama kutu sisik 16,8% pada minggu pertama dan 11,2% pada minggu ketiga, sedangkan penyakit antraknosa 27,2% pada minggu pertama dan 12,8% pada minggu ketiga. Pola sebaran dua hama mengelompok, kecuali hama bekicot yaitu teratur, sedangkan pola sebaran penyakit antraknosa pada lahan pertanaman pepaya adalah acak. | This study aims to 1). Knowing the type of major pests and diseases that are on the papaya plant in the Karangcegak village, 2). Knowing the distribution patterns of pests and major diseases on the papaya crop, and 3). Knowing the environmental factors that influence the spread of pests and major diseases on the papaya crop. The method used is a survey by census in five blocks comprising 25 plants each. Samples papaya plant pests and pathogens are described based on the signs and symptoms of an attack using laboratory analysis, and then matched with a book supporting the research, then do the calculation frequency of occurrence, as well as the percentage of the population caused by pests and diseases. The results show there are three types of pests and the diseases. Pests and plant diseases are mealybug (Paracoccus marginatus), snail (Achatina fulica), insect scales (Pseudaulacaspis sp.), and anthracnose (Colletotrichum sp.). The more dominant pests attacking crops papaya is snails with the frequency of occurrence as many as 71 in the first week and 49 in the third week. Total highest frequency of occurrence of pests by pest snail 56.8% in the first week and 39.2% in the third week, pest mealybugs 20.8% in the first week and 13.6% in the third week, pest insect scales 16.8 % in the first week and 11.2% in the third week, while anthracnose 27.2% in the first week and 12.8% in the third week. Pattern of the distribution of the two pest is group, except that regular pest snails. and the distribution pattern of anthracnose on papaya crop land is random. | |
| 4424 | 14242 | H1K011010 | PENGARUH JENIS BAHAN INTI TERHADAP PROSES PELAPISAN MUTIARA BLISTER PADA KERANG Atrina fragilis | Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui jenis bahan inti mutiara blister yang baik untuk menghasilkan mutiara blister dan laju pelapisan inti terbaik dengan jenis bahan inti yang berbeda pada kerang Atrina fragilis. Penelitian dilakuakan di perairan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah di lanjutkan pengamatan di laboratorium. Pengamatan dilakukan pada bulan Desember 2015-Januari 2016. Metode percobaan adalah eksperimental. Sedangkan rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan dan dan empat kali ulangan. Kerang disisipkan inti plastik, kima, dan kaca. Pengamatan dilakukan pada hari ke-15,30, 45, dan 60. Bagian inti yang terlapisi kemudian dipotong secarara melintang pada bagian puncak inti untuk melihat ketebalan lapisan kemudian inti yang belum terlapisi dihitung untuk mengetahui persentase pelapisan inti. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa jenis bahan inti yang optimum untuk pelapisan mutiara adalah plastik dengan ketebalan 58,50 µm dan persentase pelapisan 100%. Kata Kunci : Mutiara blister, Atrina fragilis, Jenis bahan inti | This study was conducted to determine the type of core material blister pearl to produce blister pearls and the best rate of core coating with different types of core material in Atrina fragilis. Research carried out in Nusakambangan, Cilacap, Central Java and observations in the laboratory. Observations were made in December 2015-January 2016. The trial is an experimental method. While the experimental design used was completely randomized design with three treatments and and four replications. Shellfish inserted plastic core, mica, and glass. Observations were made on the day of 15.30, 45, and 60. The core which coated cut transversely at the top of the core to see the thickness of the layer that has not been coated core then calculated to determine the percentage of the core coating. Based on the result showed that the optimum type of core materials for coating pearl is plastic with a thickness of 58.50 μm and a percentage of 100% coating. Keyword : Blister pearls, Atrina fragilis, Core material blister pearl | |
| 4425 | 14243 | H1K011002 | PENGARUH JUMLAH INTI BLISTER TERHADAP LAJU PELAPISAN MUTIARA PADA KERANG Atrina fragilis | ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui jumlah inti mutiara blister yang tepat dan laju pelapisan inti terbaik dengan jumlah inti yang berbeda pada kerang Atrina fragilis. Penelitia dilakukan di perairan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah di lanjutkan analisis di laboratorium. Pengamatan dilakukan pada bulan Desember 2015-Januari 2016. Metode percobaan adalah eksperimental. sedangkan rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan dan dan empat kali ulangan. Kerang disisipkan inti plastik dengan jumlah yang berbeda (1,2, dan 3 butir). Pengamatan dilakukan pada hari ke-15,30, 45, dan 60. Bagian inti yang terlapisi kemudian dipotong secarara melintang pada bagian puncak inti untuk melihat ketebalan lapisan kemudian inti yang belum terlapisi dihitung untuk mengetahui persentase pelapisan inti. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa jumlah inti yang optimum untuk pelapisan mutiara pada kerang Atrina fragilis adalah 1 butir dengan ketebalan 58,50 µm dan persentase pelapisan 100%. Laju pelapisan inti mutiara tertinggi 45,15 µm/bulan terdapat pada perlakuan jumlah inti 1 butir. Kata Kunci : Mutiara blister, Atrina fragilis, Jumlah inti | ABSTRACT This research was conducted in order to determine the amount of the appropriate blister pearl nucleus and core coating best rate with a different number of corse on the shells Atrina fragilis. Research carried out in Nusakambangan, Cilacap, Central Java and the analysis in the laboratory. Observation were made in Desember 2015-January 2016. The trial is an experimental method. Whereas the experimental design used was completely randomized design with three treatments and four replication. Shellfish inserted plastic core with different amounts (1, 2, and 3 points). Observations weremade on the day of 15, 30, 45, and 60. The core which coated cut transversely at the top of the core to see the thickness of the layer that has not been coated core then calculated to determine the percentage of the core coating. Based on the result showed that the optimum number of core for coating of pearl in the shells Atrina fragilis was 1 grains with a thickness 58,50 µm and coating percentage of 100%. The highest rate of coating core 45,15 µm/month treatment contained in 1 grain. Keyword : Blister pearl, Atrina fragilis, Number of corse | |
| 4426 | 14266 | H1K011012 | POTENSI KAPANG PADA SERASAH LAMUN Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii, DAN Halodule uninervis TERDEKOMPOSISI DARI PANTAI KARAPYAK SEBAGAI PENDEGRADASI SELULOSA | Kapang merupakan mikroorganisme yang mampu megkonversi selulosa menjadi senyawa yang lebih sederhana dengan mengahasilkan enzim selulase dalam proses dekomposisi. Keberadaan kapang banyak ditemukan pada bahan organik terdekomposisi yang memiliki kandungan selulosa tinggi dimana salah satunya adalah tumbuhan lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat kapang potensial pendegradasi selulosa dari lamun Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii, dan Halodule uninervis terdekomposisi. Metode penelitian ini meliputi pengambilan sampel di lapang dan penelitian laboratorium yaitu isolasi, kultur murni, pengamatan morfologi dan uji aktivitas selulolitik kapang. Pengambilan sampel lamun dilakukan secara purposive random sampling di pantai Karapyak, Pangandaran untuk didekomposisi di perairan laut. Isolasi kapang dilakukan dengan metode tuang dari beberapa tingkat pengenceran. Pengamatan morfologi kapang dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis. Uji aktivitas selulolitik menggunakan metode pengukuran Indeks Selulolitik dengan mengamati zona bening yang terbentuk. Hasil isolasi kapang diperoleh 52 CFU’s koloni isolat kapang. Serasah lamun C. rotundata memiliki isolat paling banyak (22 CFU’s/ml), kemudian T. hemprichii (17 CFU’s/ml), dan paling sedikit H. uninervis (14 CFU’s/ml). Hasil uji selulolitik diperoleh dari 10 morfologi isolat kapang terdapat 7 isolat kapang yang berpotensi mendegradasi selulosa. Isolat kapang dengan kode II merupakan isolat kapang paling potensial dengan nilai Indeks Selulolitik 0,9526. Isolat ini ditemukan pada serasah terdekomposisi dari tiga jenis serasah lamun yang diuji. | Mold is a microorganism which are capable to convert cellulose into simpler compounds by prodycing cellulase enzyme in the decomposition process. The existence of mold was commonly found in decomposed organic material which has a high cellulose content. Seagrass is one of plants which has high cellulose content. This study was aimed to obtain a mold isolate which has potential to degrade cellulose from decomposed seagrass Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii, and Halodule uninervis. The methods in this study consisted of field sampling and laboratory studies. Laboratory studies included isolation, pure culture, morphological observation and cellulolytic activity assay of mold. Seagrass sampling was done by purposive random sampling method at the Karapyak beach, Pangandaran. Isolation of mold was conducted using pour plate and dilution method based on the method used by Waluyo in 2010. Morphology of mold was observed macroscopicly and microscopicly. Cellulolytic activity assay was conducted using cellulolytic index and measured by observing the clear zone. In this research 52 CFU’s of mold was obtained. The highest mold isolate colonies (22 CFU’s) was found on C. rotundata, followed by T. hemprichii (17 CFU’s), and H. uninervis had the fewest isolate (14 CFU’s). Seven out of ten mold isolates revealed their ability to degrade cellulose. Mold isolate with code II was the most potential isolate with the highest cellulolitic index value (0.9526). These isolates were found on decomposed seagrass from three tested seagrass species. | |
| 4427 | 14244 | F1F009003 | The Comparison of Nanny’s Character Portrayed In Emma McLaughlin and Nicola Kraus’s The Nanny Diaries and Holly Peterson’s The Manny : A Comparative Study | San, Nadya Annisa Paramitha. 2016. The Comparison of Nanny’s Character Portrayed In Emma McLaughlin and Nicola Kraus’s The Nanny Diaries and Holly Peterson’s The Manny : A Comparative Study. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto. Pembimbing Pertama: Rizky Februansyah, S.S., M.A., Pembimbing Kedua: Mia Fitria Agustina, S.S., S.E., M.A., Penguji External: Dra. Mimien Aminah Sudja’ie, M.A. Kata Kunci: Studi Komparatif, Nanny, Manny, Upper East Side Manhattan Penelitian yang berjudul “The Comparison of Nanny’s Character Portrayed In Emma McLaughlin and Nicola Kraus’s The Nanny Diaries and Holly Peterson’s The Manny: A Comparative Study” bertujuan untuk mencari tahu perbedaan dan persamaan karakter nanny dan manny yang terdapat dalam kedua novel tersebut. Sumber data utama dari penelitian ini adalah novel The Nanny Diaries karya Emma McLaughlin dan Nicola Kraus dan novel The Manny karya Holly Peterson yang dianalisa melalui karakteristik nanny dan manny di kedua novel tersebut. Selanjutnya, ilmu komparatif digunakan untuk menganalisa perbedaan dan persamaan antara karakter nanny dan manny yang digambarkan dalam novel berlatar belakang lokasi yang sama, Upper East Side Manhattan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori sastra bandingan, teori mengenai Nanny dan teory mengenai Upper East Side Manhattan. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari empat bagian: metode penelitian, sumber data, tehnik pengumpulan data dan tehnik menanalisa data. Metode penelitian adalah cara yang digunakan dalam penelitian ini. Makan, penelitian ini disajikan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data untuk penelitian ini terdiri dari dua sumber: sumber data primer yang terdiri dari dua novel dan sumber data sekunder. Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari empat tahap. Keempat tahap itu adalah menentukan lingkup penelitian, membaca kedua novel berulang kali, mengumpulkan data penelitian dan mencari informasi terkait. Bagian terakhir adalah tehnik menganalisa data. Tada tiga tahap dalam tehnik menganalisa data, yaitu: pemilihan data, pengelompokkan data dan penginterpretasian data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kedua pengarang menggambarkan karakter nanny dan manny di Upper East Side Manhattan berdasarkan perbedaan dan persamaan karakteristik antara nanny dan manny. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa karakter nanny dan manny di kedua novel berbeda dalam hal peran dalam keluarga dan cara merawat anak. Kemudian, karakter nanny dan manny di kedua novel mempunyai kesamaan dalam hal pengalaman kerja, latar belakang pendidikan, dan tugas dan tanggung jawab. | San, Nadya Annisa Paramitha. 2016. The Comparison of Nanny’s Character Portrayed In Emma McLaughlin and Nicola Kraus’s The Nanny Diaries and Holly Peterson’s The Manny : A Comparative Study. Thesis. Department of English Language and Literature. Faculty of Humanities. Jenderal Soedirman University. Purwokerto. First Supervisor: Rizky Februansyah, S.S., M.A., Second Supervisor: Mia Fitria Agustina, S.S., S.E., M.A., External Examiner: Dra. Mimien Aminah Sudja’ie, M.A. Keywords: Comparative Study, Nanny, Manny, Upper East Side Manhattan The research entitled “The Comparison of Nanny’s Character Portrayed In Emma McLaughlin and Nicola Kraus’s The Nanny Diaries and Holly Peterson’s The Manny: A Comparative Study” is aimed to find out the differences and similarities of nanny’s and manny’s character that exist in both novels. The main data sources are novels The Nanny Diaries by Emma McLaughlin and Nicola Kraus and The Manny by Holly Peterson which are analyzed through the characteristic of nanny and manny in both novel. Furthermore, comparative study was applied to analyze the differences and similarities between nanny’s and manny’s character which were portrayed in the novels that have the same setting of place, Upper East Side Manhattan. The theory used in this research are the Comparative Theory of Literature, Theory of Nanny and Theory of Upper East Side Manhattan The research method used in this research consist of four part: research method, data source, technique of data collection and technique of data analysis. Research method is the way of analyzing the research. Then, the analysis was presented by using descriptive qualitative method. Data source for this research consists of two sources: primary data sources which are the two novels and secondary data sources. Technique of data collection for this research consist of four step. They are determining the scope of the research, reading the novels repeatedly, collecting the data research and searching for related information. The last is technique of data analysis. There are three step in data analysis, those are: data reduction, grouping data and data interpretation. The findings show that the authors portray the character of the nanny and manny in Upper East Side Manhattan through their characteristic’s differences and similarities. In this research, it is found that nanny and manny’s character in those two novels are different in the role in family and the way of treating. Moreover, both nanny and manny’s character in the novels are similar in job experience, educational background, and job desk and responsibility. | |
| 4428 | 14245 | G1G009029 | HUBUNGAN ANTARA JENIS TERAPI DENGAN KEJADIAN MUKOSITIS ORAL PADA PENDERITA KARSINOMA NASOFARING | HUBUNGAN ANTARA JENIS TERAPI DENGAN KEJADIAN MUKOSITIS ORAL PADA PENDERITA KARSINOMA NASOFARING Inda Yulia Widiyantina1 , Eman Sutrisna2, A. Haris Budi Widodo3 1Kedokteran Gigi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, 2Fakultas Kedokteran, Universitas Jenderal Soedirman 3Departemen Ilmu Penyakit Mulut, Kedokteran Gigi, Universitas Jenderal Soedirman Alamat Korespondensi : Kedokteran Gigi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia, 53122. Email:indayulia@yahoo.com ABSTRAK Karsinoma nasofaring (KNF) adalah jenis karsinoma yang berasal dari epitel atau mukosa dan kripta yang melapisi permukaan nasofaring. Keganasan ini sering disebut sebagai kanker tenggorok. Terapi yang dijumpai pada pasien karsinoma nasofaring diantaranya radioterapi, kemoterapi dan kemoradiasi. Salah satu efek dari ketiga jenis perawatan tersebut adalah mukositis oral. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara jenis terapi (radioterapi, kemoterapi dan kemoradiasi) dengan kejadian mukositis oral pada penderita karsinoma nasofaring. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan desain prospective cohort. Subjek penelitian ini adalah pasien karsinoma nasofaring yang baru menjalani terapi di RS Kanker Dharmais, Jakarta. Sampel penelitian 51 orang pasien KNF yang melakukan terapi, yang terdiri dari 17 pasien radioterapi, 17 kemoterapi, 17 kemoradiasi dan 51 kontrol sehat, diamati derajat keparahan mukositis oralnya berdasarkan onset waktu sejak awal dilakukannya perawatan tiap terapi. Pemeriksaan dilakukan selama 14 hari sejak dilakukannya terapi pertama. Uji korelasi koefisien kontingensi dilakukan untuk uji hubungan(r = 0,766, ρ = 0,000 dimana p<0,05). Uji Kruskal-Wallis untuk uji perbedaan. Hasil penelitian didapatkan semua penderita KNF yang melakukan terapi mengalami mukositis oral, derajat keparahan mukositis oral yaitu sedang 31,4%, berat 58,8%, dan sangat berat 9,8%. Perbandingan dari ketiga jenis terapi yang mengalami derajat keparahan mukositis oral sangat berat pada pasien yang melakukan kemoradiasi. Simpulan penelitian ini ada hubungan antara jenis terapi dengan kejadian mukositis oral pada penderita KNF dengan hubungan yang kuat. Kata Kunci : Mukositis oral, karsinoma nasofaring, radioterapi, kemoterapi, kemoradiasi Kepustakaan : 20 (2001-2010) | RELATIONSHIP BETWEEN THE OCCURRENCE OF THERAPY WITH PATIENTS ON ORAL MUCOSITIS NASOPHARYNGEAL CARCINOMA Inda Yulia Widiyantina1 , Eman Sutrisna2, A. Haris Budi Widodo3 1Dental Medicine, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, Central Java, 2Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University 3Departement of Oral Medicine, Dental Medicine, Jenderal Soedirman University Address of correspondence: Dental Medicine of Jenderal Soedirman University, Purwokerto, Central Java, Indonesia, 53122. Email:indayulia@yahoo.com ABSTRACT Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is a type of carcinoma or mucosa and crypt epithelium lining the surface of the nasopharynx. This malignancy is often called as throat cancer. The therapy that makes the patients suspected with nasopharyngeal carcinoma are radiotherapy, chemotherapy and chemoradiation. One of the effects of those three types treatments is oral mucositis. The purpose of this study was to determine the relationship between type of therapy (radiotherapy, chemotherapy and chemoradiation) with the incidence of oral mucositis in patients with nasopharyngeal carcinoma. The type of this research is observational with prospective cohort design. The subjects were patients with nasopharyngeal carcinoma who had undergone therapy Dharmais Cancer Hospital, Jakarta. The research sample are 51 NPC patients who did therapy, which consist with 17 patients with radiotherapy, 17 chemotherapy patients, 17 patients with chemoradiation and 51 healthy control. It was observed as severity of mucositis oral based on onset time from the beginning of each therapeutic treatment. The examination is conducted among 14 days since the first therapy is conducted. Contingency coefficient correlation test was performed to test the correlation (r = 0.766, p = 0.000, which is p <0.05). Kruskal-Wallis was performed to test the diffrences of the severity mukositis oral from the third therapy. The result shows that the severity mukositis oral is on the all KNF patient who did oral mucositis, the severity of oral mucositis are 31,4% medium, 58,8% high, and 9,8% very high. The most severe patient who have it is chemoradiation patient. The conclusions of this study suggested a correlation between the type of therapy with oral mucositis in KNF patients it has a strong correlation. Keywords : Oral mucositis, nasopharyngeal carcinoma, radiotherapy, chemotherapy, chemoradiation Bibliography : 20 (2001-2010) | |
| 4429 | 14246 | B1J011123 | Kemampuan Bakteri Isolat BELT2 dan BELT6 dalam Menghasilkan Potensial Listrik pada Fermentasi Limbah Cair Tahu dengan Penambahan Urea | Limbah cair tahu merupakan produk samping dari pembuatan tahu yang banyak dijumpai di Banyumas dan mampu mencemari lingkungan. Limbah tersebut masih banyak mengandung nutrien yang dapat dimanfaatkan oleh bakteri selama ferementasi. Bakteri indigenous dengan kode isolat BELT2 dan BELT6 diperoleh dari hasil pra penelitian sejak Oktober 2014 sampai Februari 2015 memiliki kemampuan dalam mengonversi bahan organik yang terdapat dalam limbah cair tahu menjadi asam organik yang dapat dimanfaatkan sebagai penghantar listrik. Asam organik yang dihasilkan dapat dipengaruhi oleh penggunaan beberapa jenis inokulum bakteri dan penambahan urea. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan isolat bakteri, penambahan urea dan interaksi antara jenis bakteri dan urea dalam meningkatkan hasil potensial listrik pada fermentasi dalam limbah cair tahu. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap pola faktorial. Faktor yang digunakan terdapat dua jenis yaitu faktor jenis inokulum dan konsentrasi urea. Faktor jenis inokulum bakteri terdiri dari empat taraf, yaitu tanpa isolat (kontrol) isolat BELT2, isolat BELT6, dan konsorsium isolat BELT2:BELT6, sedangkan faktor konsentrasi urea terdiri dari empat taraf, yaitu 0%, 5%, 10%, dan 15%. Perlakuan yang diujikan sebanyak 16 unit percobaan dengan masing-masing dilakukan 3 kali ulangan. Data hasil potensial listrik dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95% dan 99% dan dilanjutkan dengan Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan isolat BELT2, BELT6 dan konsorsium isolat BELT2:BELT6 pada fermentasi limbah cair tahu berpengaruh terhadap meningkatkan hasil potensial listrik. Penambahan urea meningkatkan potensial listrik pada fermentasi limbah cair tahu. Interaksi pada perlakuan penggunaan konsorsium isolat BELT2:BELT6 dengan penambahan urea 0% pada fermentasi limbah cair tahu berpengaruh dengan nilai rerata potensial listrik tertinggi yaitu sebesar 500 mV. | Tofu liquid waste or whey is the byproducts of tofu production which is often found in Banyumas and capable of polluting the environment. The waste still contains many nutrients that can be utilized by bacteria during fermentation. Indigenous bacteria with isolates code BELT2 and BELT6 obtained from the pre-research since October 2014 until February 2015 have the ability to convert the organic materials contained in liquid waste out into organic acids that can be used as a conductor of electricity. Organic acids produced can be influenced by the use of several types of bacteria inoculum and the addition of urea. The purpose of this study was to determine the effect of bacterial isolates, the addition of urea and interactions between species of bacteria and urea in increasing the electrical potential results in the fermentation of whey. This study was conducted using an experimental method of Completely Randomized Design (CRD) with factorial design. There were two types of used factors, namely inoculum types and concentrations of urea. Factors types bacterial inoculum consisted of four levels, namely non isolates (control), isolates BELT2, isolates BELT6 and isolates consortium BELT2:BELT6, while the urea concentration factor consisted of four levels: 0%, 5%, 10% and 15%. The treatments tested are 16 units with each experiment performed 3 repetitions. Electric potential outcome data were analyzed using analysis of variance ANOVA with a confidence level of 95% and 99% and continued using Duncan. The results showed that the use of isolates BELT2, BELT6 and isolates consortium BELT2:BELT6 on whey fermentation influence to increase the yield of an electrical potential. The addition of urea increases the electric potential in the whey fermentation. Interaction at treatment use isolates consortium BELT2:BELT6 with the addition of urea 0 % in the whey fermentation effect with a mean value of the highest electric potential of 500 mV. | |
| 4430 | 14247 | G1F011072 | KARAKTERISASI KARAGENAN DARI RUMPUT LAUT (Eucheuma spinosum) ASAL KECAMATAN LOBUK SUMENEP MADURA SEBAGAI PENGIKAT DALAM SEDIAAN TABLET | Karagenan diketahui dapat digunakan sebagai bahan pengikat dalam tablet jumlah yang digunakan dalam formula umumnya sebanyak 0,2%-2%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik karagenan rumput laut yang berasal dari wilayah kabupaten Sumenep dan untuk mengetahui kekuatan karagenan sebagai bahan pengikat dengan memformulasikannya dalam sediaan tablet. Karagenan yang dihasilkan dikarakterisasi sifat fisik, kimia dan fungsionalnya dan diuji apakah bisa menjadi bahan pengikat yang baik dengan diformulasikan dalam sediaan tablet sebagai pengikat sebanyak 2% dan dibandingkan dengan tablet yang menggunakan HPMC. Data yang diperoleh dari karakterisasi fisik, kimia, dan fungsional dideskriptifkan secara kualitatif, kemudian hasil pengujian parameter sifat fisik tablet, dianalisis secara teoretis dengan membandingkan syarat-syarat yang terdapat pada literatur. Uji statistik dilakukan menggunakan Uji T independent dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian yang didapat menunjukkan bahwa karagenan dari Kecamatan Lobuk Sumenep memiliki karakteristik sebagai berikut: pH 10,7; kandungan lembab 5%; distribusi ukuran partikel 76,8% pada ukuran 100 mesh; indeks kompresibilitas 36,98%; indeks daya mengembang tertinggi 220% pada pH 1,2 selama 30 menit; sudut diam 32,08o; laju alir 5 g/s; viskositas pada konsentrasi 5% sebesar 9071428,85 cps (75oC) dan 82235,71 cps (50oC); hasil SEM menunjukkan bentuk partikel yang tidak beraturan; Hasil FTIR menunjukkan terdapat gugus ester sulfat, 3,6-anhidrogalaktosa, galaktosa-4 sulfat, dan 3,6-anhidrogalaktosa 2 sulfat. Tablet aspirin yang dibuat dengan menggunakan pengikat karagenan dan pengikat HPMC sudah memenuhi syarat sifat fisik tablet, namun terdapat perbedaan pada laju alir granul kedua formula. | Carrageenan has been known can be used as a binder in tablets with the amount that is used in the formula is generally as much as 0,2% -2%. This study aims to determine the characteristics carrageenan of seaweed from Sumenep district and to determine the strength of carrageenan as a binder to formulate the tablet. Carrageenan that was produced was characterized its physical, chemical and functional and tested whether it could be a good binder to be formulated in tablet dosage as binding as much as 2% and compared to tablets using HPMC. The data was obtained from the physical, chemical, and functional characteristic was describe qualitatively, then the test results of some parameters from the physical characteristic tablets was analyzed theoretical by comparing the conditions that was contained in the standard literature. The statistical tests used independent T test with 95% of confidence interval. The results showed that carrageenan from the District Lobuk Sumenep has the following characteristics: pH 10,7; moisture content of 5%; particle size distribution of 76,8% on 100 mesh size; compressibility index of 36,98%; The inflate index 220% at pH 1,2 for 30 minutes; 32,08° angle of repose; a flow rate of 5 g / s; viscosity at a concentration of 5% by 9071428,85 cps (75°C) and 82235,71 cps (50°C); SEM results indicate that carrageenan particle shape was irregular ; FTIR results showed that there were, sulfate ester, 3,6-anhidrogalactosa, galactose-4-sulfate, and 3,6-anhidrogalactosa-2-sulfate. Aspirin tablets are made using carrageenan binder and binder HPMC already qualified physical properties of the tablet, but there is a difference in the flow rate both of the granule formula. | |
| 4431 | 14261 | G1F011060 | FORMULASI SEDIAAN GEL EKSTRAK ETIL ASETAT BUNGA KECOMBRANG (Nicolaia speciosa) DENGAN BASIS HPMC DAN UJI AKTIVITASNYA TERHADAP Staphylococcus aureus | Bunga kecombrang (Nicolaia speciosa) memiliki kandungan kimia seperti alkaloid, triterpenoid, steroid, flavonoid, dan polifenol yang memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak etil asetat bunga kecombrang dengan basis HPMC menjadi sediaan gel yang stabil secara fisik dan melihat aktivitasnya terhadap bakteri Staphylococcus aureus penyebab timbulnya jerawat. Penelitian eksperimental laboratorium dimulai dengan ekstraksi bunga kecombrang secara maserasi bertingkat menggunakan pelarut n-heksan dan etil asetat. Pembuatan gel ekstrak bunga kecombrang dengan variasi konsentrasi HPMC 3% b/b; 5% b/b; 8% b/b g; dan 10% b/b. Formula terbaik yang memenuhi evaluasi uji kestabilan sifat fisik diuji aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus menggunakan metode difusi sumuran. Kontrol positif menggunakan gel Clindamycin dan kontrol negatif (gel tanpa ekstrak). Data organoleptis, homogenitas, dan pH disajikan secara deskriptif. Sedangkan viskositas, daya sebar, dan daya lekat dengan uji ANOVA satu arah dilanjutkan dengan uji Dunnet T3. Aktivitas antibakteri dianalisis menggunakan uji T independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi HPMC dapat mempengaruhi sifat fisik dan kestabilan sediaan. Formula 1 adalah terbaik yang memenuhi syarat sifat fisik dan stabilitas sediaan dengan pH 5, viskositas 265.900-383.400 cps, daya sebar 4,67-5,20 cm, dan daya lekat 4.01-11.31 detik. Formula 1 menunjukkan aktivitas antibakteri dengan zona hambat sebesar 3,89 mm. | Kecombrang flowers (Nicolaia speciosa) has any chemistry compounds like alkaloid, triterpenoid, steroids, flavonoid, and polifenol having antibacterial activity. The purpose study attempts to formulating extract ethyl acetate kecombrang flowers with the base HPMC be preparation gel a stable physically and to know their activities against Staphylococcus aureus the cause of the acne. Experimental research laboratory begins with extraction kecombrang flowers in maceration decker use a solvent n-heksan and ethyl acetate. Gel extract flowers kecombrang with the variation of concentration HPMC 3% b/b; 5% b/b; 8% b/b g; and 10% b/b. The best formula which qualified from evaluation of gel formulation is tested for an antibacterial activity of staphylococcus aureus using diffusion method. Control positive for the gel clindamycin and control negative (gel without extract). The organoleptyc data, homogenity, and pH served in a descriptive. While viscosity data, dispersive power, and the adhesive powder has analyzed using one way ANOVA continued with Dunnet T3. Antibacterial activity analyzed use independent T test. The results showed that the difference in the concentration of HPMC may affect the physical properties and stability of the preparations. Formula 1 is the best qualified physical properties and stability of the preparations with a pH value of 5, viscosity from 265900-383400 cps, dispersive power from 4,67-5,20 cm, and adhesion 4.01- 11.31 seconds. Formula 1 shows the antibacterial activity with inhibition zone of 3.89 mm. | |
| 4432 | 14249 | H1K010046 | PENGARUH LAMA WAKTU PENYINARAN TERHADAP KECEPATAN PERTUMBUHAN THALLUS DAN HOLDFAST RUMPUT LAUT Gelidium latifolium PADA KULTUR IN-VITRO | Gelidium latifolium merupakan salah satu dari jenis rumput laut yang berpontensi sebagai bahan baku industri, tetapi sampai saat ini belum dapat dibudidayakan. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan thallus dan holdfast rumput laut adalah lama waktu penyinaran. Permasalahan dalam kultur in-vitro rumput laut Gelidium latifolium adalah belum diketahui lama waktu penyinaran yang optimum. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh lama waktu penyinaran terhadap kecepatan pertumbuhan thallus dan holdfast rumput laut Gelidium latifolium pada kultur in-vitro. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Riset Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan masing-masing 3 kali ulangan, yaitu A. 6 jam terang : 18 jam gelap; B. 12 jam terang : 12 jam gelap; C. 18 jam terang : 6 jam gelap; dan D. 24 jam terang : 0 jam gelap. Parameter yang diamati adalah laju pertumbuhan eksplan yang meliputi laju pertumbuhan thallus dan holdfast. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu penyinaran yang terbaik adalah 18 jam terang: 6 jam gelap (C), dengan laju pertumbuhan thallus 0,013 mm/hari dan laju pertumbuhan holdfast 0, 002 mm/hari. | Gelidium latifolium is one of seaweeds that can be used as material of industry, but it is still lack of attendance. The growth of seaweeds thallus and holdfast is depended on the exposures time. The problem of cultur in-vitro Gelidium latifolium seaweeds is still not known to the optimum of exposures time. The aim of the research is to know the effect of exposure time in the growth of thallus dan holdfast, Gelidium latifolium seaweed in cultur of in-vitro. The research was conducted at research laboratory of Fisheries and Marine Sciences Faculty, Jenderal Soedirman University. Completely random design was used to analyze in the research, with 4 treatment by which each 3 repetitions, namely A. 6 hours of light: 18 hours dark; B. 12 hours light: 12 hours dark; C. 18 hours light: 6 hours dark; and D. 24 hours light: 0 hour dark. The observation focused on the parameters of explan growth progress in thallus and holdfast. The measurement of the best exposures duration was 18 hours of light: 6 hours of dark (C), with thallus growth rate 0.013 mm/day and holdfast growth rate 0.002 mm/day. | |
| 4433 | 14250 | F1C012028 | KOMUNIKASI TERAPEUTIK TERAPIS DENGAN PASIEN ANAK (Studi pada Pelayanan Terapi Wicara Pasien Down Syndrome di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto) | Gangguan bahasa dan bicara merupakan gangguan yang kerap dialami oleh anak-anak tak terkecuali pada anak dengan kondisi down syndrome. Gangguan tersebut ditandai dengan keterlambatan perkembangan bahasa dan bicara yang bila dibiarkan terus menerus dapat turut mengganggu kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Salah satu solusi untuk menangani masalah tersebut adalah dengan dilakukannya terapi bahasa dan bicara yang dapat dilakukan pada pelayanan terapi wicara. Urgensi dari penelitian ini adalah agar dapat memberikan sumbangan wawasan mengenai cara berkomunikasi sekaligus cara mengembangkan kemampuan anak yang memiliki kebutuhan khusus melalui sebuah komunikasi terapeutik. Dengan begitu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses ataupun cara dalam melakukan komunikasi terapeutik yang dilakukan terapis dengan pasien anak penyandang down syndrome di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif eksploratif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa untuk melakukan sebuah komunikasi terapeutik dengan pasien anak dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode dalam terapi bahasa, misalnya seperti metode modeling dan self talk-paralel talk. Selanjutnya, terdapat proses komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh terapis yang terdiri dari tahap pra interaksi, perkenalan, orientasi, kerja, dan terminasi. Dalam komunikasi terapeutik yang terjalin juga terjadi pertukaran pesan baik secara verbal maupun nonverbal. Terdapat pula hambatan-hambatan yang dialami oleh terapis dalam melakukan proses komunikasi terapeutik dengan pasien anak, dan hambatan tersebut dapat berasal dari dalam terapis seperti kemampuan pribadi yang masih harus ditingkatkan serta ketersediaan sarana dan prasarana. Sementara itu, hambatan yang berasal dari luar diri terapis seperti durasi terapi yang singkat dan orang tua yang kurang kooperatif. Kata kunci: terapeutik, komunikasi, terapi, down syndrome | Language and speech disorder is a kind of disorder which is usually suffered by children, counted to children with down syndrome. This disorder is signed with the delayed development of language and speech, and if they not well treated, that’s condition can cause communication disorder. One solution for this condition is by doing language and speech therapy. So, the urgency of this research is to give an insight contribution to develop the way of communication with children with special needs through therapeutic communication and also to develop their abilities. This research is aimed to understand process and methods in doing therapeutic communication that is done by therapist to children with down syndrome in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. This research use explorative qualitative method with data collection methods are observation, in depth interview, and documentation study. Result of this research shows that in language therapy, when therapist doing a therapeutic communication with children patients, they are using some methods, such as modeling and self talk – parallel talk. Therapeutic communication process is also include several phase such as pre-interaction, introduction, orientation, work, and termination. There’s a Verbal and nonverbal message exchanging in therapeutic communication. Several obstacles aslo experienced by therapist during the therapy process which come from inside and outside therapists’ self. The obstacle which come from the therapist is like a personal skills that still need to be improved and facilities which have to be upgrade. Then, obstacles from outside of the therapist are about a short duration of therapy and parents from patients who are less cooperative. Keyword: therapeutic, communication, therapy, down syndrome. | |
| 4434 | 14251 | F1F011074 | ENGLISH SYLLABUSES OF MATHEMATICS DEPARTMENT RELATED TO THE NEEDS OF MATHEMATICS DEPARTMENT AND ITS STUDENTS AT FACULTY OF SCIENCE OF JENDERAL SOEDIRMAN UNIVERSITY | Penelitian yang berjudul “Kesesuaian Silabus Bahasa Inggris Jurusan Ma-tematika dengan Kebutuhan Mahasiswa di Fakultas Matematika dan Ilmu Penge-tahuan Alam di Universitas Jenderal Soedirman” bertujuan untuk menganalisa si-labus Bahasa Inggris II yang digunakan di kelas tahun angkatan 2012 dan di kelas tahun angkatan 2014, dan bagaimana silabus-silabus tersebut sesuai dengan kebu-tuhan dari mahasiswa jurusan Matematika dan kepala jurusan Matematika. Peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisa data utama. Data diperoleh dengan cara interview dan pengulasan silabus Hasil menunjukkan bahwa silabus Bahasa Inggris II yang digunakan oleh kelas angkatan tahun 2012 sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dan jurusannya. Sedangkan, ada ketidak-sesuaian antara kebutuhan mahasiswa akan Bahasa Inggris II dengan silabus Bahasa Inggris II di kelas tahun angkatan 2014. Mahasiswa dan jurusan mengharapkan pelajaran Bahasa Inggris untuk spesialisasi Matematika, se-dangkan kelas angkatan 2014 diajarkan Bahasa Inggris dasar. Penelitian ini menunjukkan bahwa ESP tidak diterapkan di kelas angkatan 2014 jurusan Matematika di Universitas Jenderal Soedirman. Dari hasil ini, penelitian ini sangat menyarankan para dosen yang akan segera mengajar Bahasa Inggris di bidang ilmu lain untuk meminta bimbingan profesional mengenai Bahasa Inggris bidang ilmu yang dikaji. | The research entitled “English Syllabuses of Mathematics Department Related to the Needs of Mathematics Department’s Students at Faculty of Science of Jen-deral Soedirman University” aims to: (1) elaborate how English syllabuses meet the needs of Math Department’s students; (2) find out what English skills or com-petences does Math Department expect from Math graduates. The researcher used descriptive qualitative method to analyse the main data. Data were collected through interview and syllabus review. The result of the research shows that the syllabus of English II in Class of 2012 matched the students’ and the department’s needs, which was to have English for Mathematics, in order to master Math terms in English. Meanwhile, there was mis-match between the students’ needs and the syllabus of English II in Class of 2014. The students and the department expect English for Mathematics, while English II in Class of 2014 taught basic to pre-intermediate English. This research shows that ESP was not really applied in Class of 2014 of Math-ematics Department at Jenderal Soedirman University. From this result, the re-searcher recommends the lecturers who are going to teach English in other fields besides English to ask for specific professional supervision in the field they are teaching. Keywords: English II syllabuses, Students’ and Department’s Needs. | |
| 4435 | 14252 | B1J011097 | PENGARUH PEMBERIAN BIOFUNGISIDA KONSORSIUM Trichoderma DENGAN DOSIS DAN WAKTU BERBEDA TERHADAP PENYAKIT REBAH KECAMBAH Rhizoctonia solani PADA SEMAI CABAI RAWIT | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis dan waktu pemberian biofungisida konsorsium Trichoderma terhadap penyakit rebah kecambah yang disebabkan oleh R. solani pada semai Cabai Rawit dan mengetahui dosis dan waktu pemberian biofungisida konsorsium Trichoderma yang paling baik untuk mengendalikan penyakit rebah kecambah yang disebabkan oleh R. solani pada semai Cabai Rawit. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang dicoba terdiri dari 2 jenis perlakuan yang dikombinasikan, yaitu 5 macam dosis biofungisida konsorsium Trichoderma (0%, 0.5%, 1%, 1,5%, 2%) dan 3 macam waktu pemberian biofungisida konsorsium Trichoderma (7 hari sebelum tanam, saat tanam, 7 hari setelah tanam). Setiap perlakuan diulang 3 kali dan pengamatan dilakukan selama 21 hari. Pengamatan meliputi persentase benih terserang yang sudah berkecambah tetapi belum muncul ke permukaan tanah (pre-emergence damping-off), persentase benih terserang yang sudah berkecambah dan telah muncul ke permukaan tanah (post-emergence damping-off), dan persentase keparahan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian biofungisida konsorsium Trichoderma dengan dosis dan waktu berbeda tidak dapat mengendalikan penyakit rebah kecambah yang disebabkan oleh R. solani pada semai Cabai Rawit. | The purpose of this study is to determine the effect of dose and application time of Trichoderma biofungisida consortium against the plant disease caused by R. solani in cayenne seedlings and to determine the dose and application time of Trichoderma biofungisida best consortium to control plant pests disease caused by R. solani in the Cayenne Pepper seedlings. The method used was an experimental method with completely randomized design (CRD). Attempted treatment consists of two types and are combined, namely 5 kinds biofungisida dose Trichoderma consortium (0%, 0.5%, 1%, 1.5%, 2%) and 3 kinds of timing biofungisida consortium Trichoderma (7 days prior to planting, planting time, 7 days after planting). Each treatment was repeated 3 times and the observations made during the 21 days. Observations included the percentage of infected seeds that have germinated but had not come to the surface soil (pre-emergence damping-off), the percentage of infected seeds that have germinated and have come to the soil surface (post-emergence damping-off), and the percentage of disease severity.The results showed that the application of Trichoderma biofungisida consortium with different doses and times can not control plant pests disease caused by R. solani on cayenne seedlings. | |
| 4436 | 14145 | B1J011022 | POLA DISTRIBUSI TUNGAU PARASIT LARVA Aedes sp. DAERAH ENDEMIS DEMAM BERDARAH DENGUE DI KABUPATEN BANJARNEGARA | Kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu daerah endemis Demam Berdarah Dengue. Aedes sp. diketahui sebagai vektor utama DBD. Endemisitas DBD menggambarkan keberhasilan distribusi nyamuk Aedes sp. dan kemungkinan mempengaruhi distribusi tungau parasit. Penentuan distribusi tungau parasit menjadi informasi sangat penting untuk mengetahui potensinya di daerah endemis DBD sebagai pengendali hayati nyamuk Aedes sp. Tujuan penelitian adalah menentukan pola distribusi dan mengetahui familia tungau parasit larva Aedes sp. di daerah endemis DBD di Kabupaten Banjarnegara. Metode penelitian menggunakan metode survei dengan teknik stratified random sampling. Strata ditentukan dengan mengambil 2 kecamatan dari 20 kecamatan berdasarkan tingkat endemisitas di Kabupaten Banjarnegara, yaitu Kecamatan Banjarnegara dan Madukara. Variabel yang diamati adalah jenis tungau dan pola distribusinya. Parameter utamanya berupa jumlah setiap jenis tungau parasit dan nilai rata-rata serta varian tungau parasit dan parameter pendukungnya adalah temperatur udara dan air, pH air serta oksigen terlarut. Analisis data dihitung menggunakan rumus variansi dan indeks K’ binomial negatif. Hasil penelitian diperoleh tiga individu tungau parasit dari 837 sampel larva Aedes sp. yang diperiksa. Hasil identifikasi tungau parasit yang diperoleh adalah Familia Hydryphantidae, Hydrachnidae dan Pionidae. Pola distribusi dari familia tungau parasit yang ditemukan di Kabupaten Banjarnegara bersifat mengelompok. | Banjarnegara is dengue-endemic region with its Aedes sp. as the main factor causing this disease. Dengue endemicity are illustrating triumph of the Aedes sp. distribution and through influencing the parasitic mites. Determination of distribution of parasitic mite becomes very crucial information for knowing its potential effect in dengue-endemic region as biological control over Aedes sp. This research purpose is to find out distribution pattern and recognize familia type of parasitic mite of Aedes sp. in dengue-endemic region Banjarnegara. The research method is survey with stratified random sampling technique. The strata is defined by taking sample from 2 out of 20 endemic sub-districts in Banjarnegara i.e. Banjarnegara and Madukara. The observed variable is type of mite and its distribution. The main parameters are the numbers of parasite type along with its average score, parasitic mite variations while the supporting parameters are air and water temperature, pH, and dissolved oxygen. Data analysis was counted using variant formula and K' index negative binomial. As result, there are three types of parasitic mite obtained from 837 of Aedes sp. observed as sample. The parasitic mites identified are from Hydryphantidae, Hydrachnidae and Pionidae familia. The distribution pattern of parasitic mite found in Banjarnegara is communal. | |
| 4437 | 13624 | H1E011049 | METODE KIRCHHOFF UNTUK MIGRASI SEISMIK 2D MULTICHANNEL DI PERAIRAN LAUT SERAM, PAPUA BARAT | Data seismik 2D multichannel yang telah diakuisisi di perairan laut Seram, Papua Barat mengandung efek difraksi yang muncul akibat dari pemantulan gelombang seismik yang mengenai reflektor dengan struktur yang kompleks. Efek difraksi pada penampang seismik harus dihilangkan karena dapat menyebabkan kesalahan dalam melakukan interpretasi geologi pada penampang seismik. Proses migrasi dapat mengembalikan posisi reflektor semu akibat efek difraksi ke posisi sebenarnya. Metode migrasi yang digunakan adalah metode Kirchhoff pre-stack time migration dan post-stack time migration dengan menggunakan software ProMAX 2D. Metode Kirchhoff pre-stack time migration mampu memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan post-stack time migration. Kedua metode dapat menghilangkan efek difraksi yang ada pada penampang seismik, namun metode Kirchhoff pre-stack time migration mampu memperlihatkan reflektifitas yang lebih jelas. Pada penampang seismik post-stack time migration juga terdapat efek swing yang menurunkan rasio signal to noise dari penampang seismik. Kata kunci : Seismik 2D multichannel, Pre-stack time migration, Post-stack time migration, Metode Kirchhoff | Multichannel 2D seismic data has been acquired in the Seram sea, West Papua contains diffraction effects that occur from the reflection of seismic waves on the reflector with a complex structure. Diffraction effects in the seismic section must be eliminated because it can give rise to errors in the geology interpretation on the seismic section. The migration process can restore the reflector position apparent due the diffraction effect on the actual position. Migration method which will be used is the method of Kirchhoff pre-stack time migration and post-stack time migration using ProMAX 2D software. Method of Kirchhoff pre-stack time migration is able to provide better results than post-stack time migration. Both methods can eliminate diffraction effects that exist in the seismic section, but the method of Kirchhoff pre-stack time migration is able to demonstrate a clearer reflectivity. In the post-stack time migration also produce a swing effect which decrease the signal to noise ratio of seismic section. Keywords : Multichannel 2D seismic, Pre-stack time migration, Post-stack time migration, Kirchhoff method | |
| 4438 | 14239 | B1J010090 | Seleksi Bakteri Selulolitik dan Deteksi Gen Selulase pada Isolat Aktinomisetes Laut | Selulosa merupakan biomassa yang paling melimpah di bumi. Komponen penyusun dinding sel tanaman ini banyak terkandung dalam limbah pertanian. Biokonversi selulosa menggunakan enzim selulase yang diproduksi oleh mikroba dapat menanggulangi pencemaran lingkungan dengan menghasilkan bahan yang bermanfaat seperti glukosa. Enzim selulase berperan dalam menghidrolisis selulosa menjadi monomer glukosa. Beberapa jenis aktinomisetes diketahui mampu menghasilkan enzim selulase. Isolat aktinomisetes yang berasosiasi dengan rumput laut dan softcoral merupakan hasil isolasi penelitian terdahulu dari perairan Pangandaran, Jawa Barat dan laut di Cilacap diseleksi berdasarkan kemampuan selulolitik dan dideteksi gen selulase. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui isolat aktinomisetes laut yang mampu menghasilkan enzim selulase, mengetahui aktivitas enzim selulase dari isolat aktinomietes laut, dan melakukan deteksi gen penyandi enzim selulase pada isolat aktinomisetes laut dengan teknik PCR menggunakan primer glikosil hidrolase famili 9. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei deskriptif. Sebanyak 13 isolat aktinomisetes laut dilihat kemampuannya untuk menghasilkan enzim selulase melalui plate assay. Empat isolat memiliki indeks selulolitik yaitu isolat RL6205, RL6212, RL6107 dan SC452a dengan nilai berturut-turut sebesar 1,61, 1,74, 2,74, dan 1,39. Tiga isolat dengan nilai indeks selulolitik tertinggi dipilih untuk diuji aktivitas selulase menggunakan metode Nelson-Somogyi. Isolat aktinomisetes laut mempunyai aktivitas enzim selulase yang berbeda, isolat RL6205 menunjukkan aktivitas selulase optimum pada hari ke-7 dengan nilai aktivitas selulase sebesar 5,06×10-3 U/ml. Isolat RL6107 dan RL6212 menunjukkan aktivitas selulase optimum masing-masing diperoleh pada hari ke-3 dan hari ke-4 dengan nilai masing-masing sebesar 4,53×10-3 U/ml dan 3,66×10-3 U/ml. Gen penyandi selulase famili 9 diamplifikasi pada tiga isolat aktinomisetes laut dengan teknik PCR menggunakan primer GHF9-1F dan GHF9-3R. Gen selulase famili 9 berhasil teramplifikasi pada isolat RL6107 dengan ukuran fragmen 1600 pb. | Cellulose is the most abundant biomass on earth. This component of plant cell walls is much contained in agricultural waste. Bioconversion of cellulose using cellulase enzymes which are produced by microbes can tackle environmental pollution by producing useful materials such as glucose. Cellulase enzymes play a role in hydrolyzing cellulose to glucose monomers. Some types of actinomycetes are known to be able to produce cellulase enzymes. Actinomycetes isolates that are associated with seaweed and soft coral is the isolation results of previous studies from the waters of Pangandaran, West Java and sea of Cilacap were selected based on the ability of cellulolytic and detectable cellulase gene. This study aims to determine the marine actinomycetes isolates were able to produce the cellulase enzyme, knowing cellulase enzyme activity from marine actinomycetes isolates and detection of genes encoding cellulase enzymes in marine actinomycetes isolates by PCR using primers glycosyl hydrolase family 9. This research was conducted by descriptive survey method. A total of 13 isolates of marine actinomycetes are viewed the ability to produce cellulase enzyme through assay plate. Four isolates have cellulolytic index are isolates RL6205, RL6212, RL6107 and SC452a with successive values of 1.61, 1.74, 2.74, and 1.39. Three isolates were selected by the highest value of cellulolytic index to be tested cellulase activity using the Nelson-Somogyi method. Marine actinomycetes isolates have different cellulase enzyme activity, RL6205 isolates showed optimum cellulase activity at day-7 with cellulase activity value of 5.06×10-3 U/ml. Isolates RL6107 and RL6212 showed optimum cellulase activity that of each obtained at day 3 and day 4 with respective values of 4.53×10-3 U/ml and 3.66×10-3 U/ml. Cellulase gene of family 9 were amplified to the three isolates of marine actinomycetes by PCR using primers GHF9-1F and GHF9-3R. Family 9 cellulase gene in isolates RL6107 successfully amplified with fragment size of 1600 bp. | |
| 4439 | 14254 | B1J010186 | KEANEKARAGAMAN DAN PEMANFAATAN TUMBUHAN SEBAGAI OBAT TRADISIONAL DI DESA LIMPAKUWUS KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS | Berlimpahnya tumbuhan di Indonesia mampu mendorong masyarakat untuk memanfaatkannya. Pemanfaatan tumbuhan yang masih dilakukan oleh masyarakat Indonesia salah satunya adalah pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional. Salah satu masyarakat yang memanfaatkan tumbuhan sebagai obat tradisional adalah masyarakat Desa Limpakuwus Kecamatan Sumbang Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk: mengetahui keanekaragaman tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional oleh masyarakat desa Limpakuwus dan mengetahui bagian yang dimanfaatkan, cara pengolahan tumbuhan, serta cara pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan obat tradisional oleh masyarakat Desa Limpakuwus. Penelitian menggunakan metode survei dengan wawancara terstruktur dan semi-terstruktur yang ditujukan kepada 50 masyarakat. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 40 spesies yang termasuk dalam 20 famili tumbuhan dan yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional di Desa Limpakuwus adalah Acorus calamus Linn, Zingiber officinale (L.) Rosc dan Zingiber purpureum Roxb. Bagian yang dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional adalah umbi, rimpang, batang, getah batang, daun, bunga, buah, kulit buah dan biji.Cara pengolahan dan cara pemanfaatannya, yaitu: dicuci bersih, diparut, ditumbuk, disangrai/goreng, dihaluskan, dikupas, diiris, diremas, diperas, dikunyah, serta direbus, diseduh dengan air panas, diperas, atau dijemur dan dikeringkan, lalu diminum, ditempelkan, dimakan langsung. | The abundance of plants in Indonesia is able to encourage people to use it. The use of plants that are still performed by the community Indonesia one of which is the use of plants as traditional medicine. The people who use the plants as traditional medicine is Limpakuwus villagers, Sumbang, Banyumas. This study aimed to: determine the diversity of plants used as traditional medicine by Limpakuwus villagers and know parts of plants to used, processing plants as well as how the use traditional medicine by the Limpakuwus villagers. Research using survey method with structured interviews and semi-structured addressed to 50 people. The results showed that there are 40 species consist of 20 families of plants and is commonly used as traditional medicine in the village Limpakuwus is Acorus Calamus Linn, Zingiber officinale Rubrum and Zingiber purpureum Roxb. Part of which is used as traditional medicine are tubers, rhizomes, stems, stem sap, leaves, flowers, fruits, fruit peel and seed. Processing and utilization ways, namely: washed, shredded, crushed, roasted / fried, mashed, peeled , sliced, crushed, squeezed, chewed, and boiled, brewed with hot water, squeezed, or dried and dried, and drunk, affixed, eaten immediately. | |
| 4440 | 14257 | H1K010033 | ZONASI RUMPUT LAUT DI PANTAI MENGANTI KEBUMEN, JAWA TENGAH | Pantai Menganti merupakan pantai yang berada di bagian Selatan Jawa yang memiliki biodiversitas rumput laut cukup tinggi. Rumput laut memiliki habitat yang berbeda-beda sesuai dengan karakteristik dan faktor lingkungan yang mempengaruhi kelangsungan hidupnya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui struktur komunitas dan zonasi rumput laut yang terdapat di Pantai Menganti. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey yang dilakukan di lapang dengan menerapkan line transek yang terdiri dari 5 stasiun. Hasil penelitian mengenai struktur komunitas memperlihatkan bahwa kelimpahan berkisar (0-105individu/m2), indeks keanekaragaman (0-1,20) termasuk kategori sangat rendah-rendah, indeks kemerataan (0-1) termasuk kategori tertekan-stabil dan indeks dominansi (0-1) termasuk kategori sangat rendah-tinggi. Zonasi rumput laut jika dilihat dari keanekaragaman dan kemerataan mengalami kenaikan dari tepian pantai yang berbatasan dengan daratan ke arah tengah kemudian terjadi penurunan kearah yang berbatasan dengan laut lepas. Sedangkan untuk dominansi dan kelimpahan menunjukan bahwa dari tepian pantai yang berbatasan dengan daratan mengalami penurunan kearah tengah namun kemudian terjadi peningkatan kearah yang berbatasan dengan laut lepas. Zonasi rumput laut dilihat berdasarkan komposisi divisi memperlihatkan dimulai dari yang berbatasan dengan darat banyak dihuni dan di dominansi oleh divisi Chlorophyta, menuju ke tengah oleh divisi Rhodophyta dan kearah yang berbatasan dengan laut lepas banyak dihuni oleh divisi Phaeophyta. Spesies yang mendominasi di pantai tersebut yaitu Sarggassum duplicatum dan Ulva lactuca. | Menganti beach is South Coast of Java has a fairly high biodiversity of seaweed. Seaweeds have habitats that vary according to the characteristics and environmental factors that affect the survival of seaweed. The purpose of research is to determine the community structure and zoning seaweed contained in Coastal Menganti. This research was conducted using a survey method conducted in the field by applying the line transect consists of 5 stations. Results of research on the structure of the community showed that the abundance ranges (0-105individu / m2), diversity index (0 to 1.20) included the category of very low-low, evenness index (0-1) including pressure-stable category and dominance index (0 -1) included the category of very low-high. Zoning seaweed when seen from the diversity and evenness increase from the shore adjacent to the mainland towards the middle and then decrease towards the bordering seas. As for the dominance and abundance indicates that from the edge of the beach that borders the mainland decreased towards the middle but then there was an increase towards the bordering seas. Zoning seaweed seen by the composition of the division shows the starting composition of the bordering land was inhabited and in dominance by the division Chlorophyta, toward the middle of the division Rhodophyta and towards bordering seas inhabited by division Phaeophyta. Sargassum duplicatum and Ulva lactuca is a species that dominates in Menganti beach. Keywords: Zoning; seaweed; Menganti Beach |