Artikelilmiahs
Menampilkan 28.801-28.820 dari 50.125 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 28801 | 32147 | G1A017041 | Hubungan Variasi Genetik MMP14 +7096 dengan Skor Child Turcotte Pugh (CTP) pada Pasien Sirosis Hati (Studi di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2019) | Latar Belakang: Sirosis hati merupakan kerusakan hati kronis yang ditandai dengan perubahan struktur dan penurunan fungsi hati. Skor Child Turcotte Pugh (CTP) digunakan untuk menilai derajat keparahan pasien sirosis hati. Variasi genetik MMP14 memiliki peranan dalam perjalanan penyakit hati. Hubungan variasi genetik MMP14 +7096 dengan skor Child Turcotte Pugh (CTP) pada sirosis hati belum banyak diketahui. Tujuan: Mengetahui hubungan variasi genetik MMP14+7096 dengan skor Child Turcotte Pugh (CTP) pada pasien sirosis hati di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Metode: Penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional dilakukan pada 30 pasien terdiagnosis sirosis hati di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Pengambilan data menggunakan teknik total sampling dengan mengambil data uji laboratorium darah dan PCR-RFLP. Analisa data menggunakan uji Kruskal-Wallis dengan post hoc Mann-Whitney. Hasil: Uji Kruskal-Wallis menunjukkan hasil terdapat hubungan antara variasi genetik MMP14 +7096 dengan skor Child Turcotte Pugh (CTP) (p=0,024). Uji post hoc Mann-Whitney menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara genotipe CC dengan TT (p=0,02). Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara genotipe CC dengan TT variasi genetik MMP14 +7096 dengan skor Child Turcotte Pugh (CTP) pada pasien sirosis hati di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. | Background: Hepatic cirrhosis is chronic hepatic damage followed by structural change and decreased function of hepar. Child Turcotte Pugh (CTP) score is used to assess the severity of hepatic cirrhosis. Genetic variation of MMP14 has a role in the progressivity of liver diseases. Relationship between MMP14 +7096 genetic variation and Child Turcotte Pugh score in hepatic cirrhosis was not well known. Aim: To determine the relationship between MMP14 +7096 genetic variation with Child Turcotte Pugh score in hepatic cirrhosis patients in Prof. Dr. Margono Soekarjo General Hospital Purwokerto. Methods: Analytical observational study with cross-sectional design was conducted among 30 patients who were diagnosed hepatic cirrhosis in Prof. Dr. Margono Soekarjo General Hospital Purwokerto. Data collection was performed by total samping of blood laboratory test and PCR-RFLP. Data was analysed using Kruskal-Wallis test and Mann-Whitney post hoc test. Results: Kruskal-Wallis test shows relationship between genetic variation of MMP14 +7096 with Child Turcotte Pugh (CTP) score (p=0,024). Mann-Whitney post hoc test shows significant relationship between CC and TT genotype (p=0,02). Conclusions: There is a significant relationship between CC and TT genotype MMP14 +7096 genetic variation with Child Turcotte Pugh score in hepatic cirrhosis patients in Prof. Dr. Margono Soekarjo General Hospital Purwokerto. | |
| 28802 | 32196 | B1A016109 | Keanekaragaman Spesies Burung Diurnal Di Cagar Alam Nusakambangan Timur | Burung adalah anggota kelompok hewan bertulang belakang yang tergolong kedalam Classis Aves. Burung berperan penting dalam komponen ekosistem untuk mendukung berlangsungnya suatu siklus kehidupan organisme. Keanekaragaman spesies burung yang tinggi didukung oleh tingginya keanekaragaman habitat yang berfungsi sebagai tempat mencari pakan, minum, istirahat, dan berkembang biak. Nusakambangan adalah sebuah pulau dengan luas 240 km2 dengan tipe hutan alam dataran rendah, hutan pantai dan hutan bakau. Penelitian pada tahun 2003 dan 2004 Nusakambangan bagian barat memiliki 93 spesies burung dan pada tahun 2006, spesies burung pada tipe habitat hutan pantai berpasir, hutan pamah, hutan bukit kapur, padang ilalang, belukar muda, dan belukar tua terdapat 121 spesies burung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman spesies burung di Cagar Alam Nusakambangan Timur. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei dengan teknik point count. Analisis data dilakukan secara deskriptif sederhana kemudian ditampilkan dalam bentuk tabel. Terdapat 46 spesies burung dari 25 famili dengan indeks keanekaragaman 2,5456 dan indeks dominansi 0,1027. | Birds are members of a group of vertebrate animals belonging to the aves class. Birds play an important role in ecosystem components to support an organism's life cycle. The high diversity of bird species is supported by the high diversity of habitats that function as places for finding food, drinking, resting and breeding. Nusakambangan is an island with an area of 240 km2 with lowland natural forest, coastal forest and mangrove forest. Research in 2003 and 2004 western part of Nusakambangan has 93 bird species and in 2006, bird species in the type of habitat for sandy coastal forest, pamah forest, limestone forest, grasslands, young shrubs, and old shrubs contained 121 species of birds. This study aims to determine the diversity of bird species in the Nusakambangan Timur Nature Reserve. This research was conducted using a survey method with a point count technique. The data were analyzed by simple descriptive and then displayed in tabular form. There are 46 bird species from 25 families with a diversity index of 2.5456 and a dominance index of 0.1027 | |
| 28803 | 32148 | J1A016019 | Receptive Language Disorder Found in Autistic Character Mandy of Fly Away Movie | Penelitian ini berjudul Receptive Language Disorder Found in Autistic Character Mandy of Fly Away Movie. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala gangguan bahasa reseptif dan respon kognitif yang dihasilkan oleh Mandy sebagai tokoh autis. Data penelitian ini diambil dari film drama Amerika Fly Away karya Janet Grillo (2011). Analisis dilakukan dengan menggunakan teori gejala gangguan pada Bahasa reseptif pada autistik oleh Bogdashina (2005) dan teori respon kognitif Rothwell (2000). Data dalam penelitian ini terdapat 21 gejala gangguan bahasa reseptif dan 21 respons gangguan bahasa reseptif. Untuk menjawab pertanyaan penelitian, peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya ada empat gejala yang ditemukan pada semua data Pengulangan kata mendominasi dengan jumlah kemunculan sebanyak 17 kali, kesulitan dalam petunjuk nonverbal 2 kemunculan, deficit dalam perhatian dan penegasan dengan pengulangan 1 kejadian masing-masing. Sedangkan respon kognitif yang paling banyak terjadi adalah respon kognitif relevan sebanyak 14 kejadian, kognitif tidak relevan dengan 2 kejadian, dan kognitif terganggu dan tidak sesuai secara sosial dengan 1 kejadian. | This research is entitled “Receptive Language Disorder Found in Autistic Character Mandy of Fly Away Movie”. The research was aimed to find the symptoms of receptive language disorder and the cognitive responses produced by Mandy as an autistic character. The data of this research were taken from an American drama movie Fly Away by Janet Grillo (2011). The analysis is conducted by using the theory of types of Receptive Language Disorder in Autistic by Bogdashina (2005), and the theory of cognitive responses by Rothwell (2000). The data of this research are 21 symptoms of receptive language disorder and 21 responses of receptive language disorder. To answer the research questions, the researcher uses a descriptive qualitative method. The result of this research shows that there are only four symptoms that can be found in all the data in which echolalia dominates with a total of 17 occurrences, struggles with non-verbal clues 2 occurrences, deficit attention and affirmation by repetition 1 occurrences each. Meanwhile, the cognitive responses that occurred the most are cognitively relevant responses with 14 occurrences, cognitively irrelevant with 2 occurrences and cognitively disrupted and socially inappropriate with 1 occurrence. | |
| 28804 | 32149 | F1B016099 | Evaluasi Program Sanitasi Berbasis Masyarakat Di Desa Rempoah Kecamatan Baturraden | Berbagai persoalan lingkungan di Kabupaten Banyumas memiliki hubungan yang signifikan dengan kondisi cakupan layanan sanitasi bagi masyarakat yang belum merata dan belum menggambarkan kualitas yang memenuhi standar. Dalam menghadapi persoalan tersebut, pemerintah mengeluarkan Program Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya permasalahan yang muncul dalam Program Sanitasi Berbasis Masyarakat, yaitu pengurus yang tidak aktif, peranan Pemerintah Desa yang kurang maksimal, serta kurangnya perawatan dan pengelolan Instalasi Pembuangan Air Limbah. Penelitian ini merupakan penelitian tentang evaluasi kebijakan. Evaluasi kebijakan berkaitan dengan konsekuensi yang ditimbulkan oleh program dalam kebijakan tersebut dan kedua mengevaluasi dimana keberhasilan serta kegagalan kebijakan tersebut berdasarkan pada standar atau kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Peneliti menggunakan indikator evaluasi kebijakan dari William Dunn untuk mengetahui kinerja program Sanimas. Dalam pemilihan informan, peneliti menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan dokumentasi. Dari hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa program Sanimas di Desa Rempoah masih belum berjalan dengan baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program Sanimas di Desa Rempoah masih mengalami berbagai permasalahan. Permasalahan pertama yaitu pengurus tidak aktif sehingga menyebabkan pertemuan rutin, perawatan, dan administrasi pembukuan tidak ada. Kedua, kurangnya pembinaan terhadap kelompok pemanfaat dan pemelihara. Ketiga, iuran pengguna yang sudah dimusyawarahkan tidak berjalan sehingga perawatan ipal tidak dilakukan secara maksimal. Program Sanimas sudah efektif dilaksanakan karena mampu mengubah perilaku masyarakat yang tadinya membuang limbah dan buang air besar secara sembarangan sekarang sudah tertib di rumah masing-masing. Namun, kinerja pelaksana program masih belum efisien dalam sosialisasi atau pemberian informasi. Program Sanimas sudah tepat sasaran. IPAL Komunal dibangun pada daerah yang memang rawan sanitasi. Masyarakat sudah mulai perhatian terhadap kondisi IPAL sehingga sudah sedikit terawat dan sudah dibersihkan lokasinya. Meskipun dalam pelaksanaanya belum optimal, dengan adanya IPAL Komunal mampu mengubah perilaku masyarakat yang sebelumnya buang air besar sembarangan, sekarang sudah tidak lagi. | Various environmental problems in Banyumas Regency have a significant relationship with the condition of sanitation service coverage for the community which is not evenly distributed and does not yet reflect quality that meets standards. In dealing with this problem, the government issued a Community Based Sanitation Program. This research is motivated by the problems that arise in the Community Based Sanitation Program, namely inactive management, the less than optimal role of the Village Government, and the lack of maintenance and management of the Wastewater Disposal Installation. This research is a research on policy evaluation. Policy evaluation is related to the consequences caused by the program in the policy and secondly evaluates where the success and failure of the policy are based on predetermined standards or criteria. The method used in this research is descriptive qualitative. Researchers used William Dunn's policy evaluation indicators to determine the performance of the Sanimas program. In selecting informants, researchers used purposive sampling technique. Data collection techniques using interview and documentation techniques. The results of the research and data analysis that have been carried out indicate that the Sanimas program in Rempoah Village is still not running well. The results showed that the implementation of the Sanimas program in Rempoah Village was still experiencing various problems. The first problem is that the management is inactive, causing routine meetings, maintenance, and bookkeeping administration to be absent. Second, the lack of guidance for user and carer groups. Third, user fees that have been deliberated do not work so that the treatment of the ipal is not carried out optimally. The Sanimas program has been effectively implemented because it has been able to change the behavior of people who previously disposed of waste and defecate in an orderly manner in their homes. However, the performance of program implementers is still not efficient in socializing or providing information. The Sanimas program is right on target. The Communal IPAL was built in areas that were prone to sanitation. The community has started to pay attention to the condition of the WWTP so that it is a little maintained and the location has been cleared. Although the implementation is not yet optimal, the existence of the Communal IPAL has been able to change the behavior of people who previously defecated in open defecation, now it is no longer. | |
| 28805 | 32150 | I1D016037 | GAMBARAN POLA KONSUMSI JAJANAN STREET FOOD PADA DEWASA MUDA DI KABUPATEN CIAMIS | ABSTRAK GAMBARAN POLA KONSUMSI JAJANAN STREET FOOD PADA DEWASA MUDA DI KABUPATEN CIAMIS Asep Mulyana1, Hesti Permata Sari1, Katri Andini Surijati 1 1Jurusan Ilmu Gizi, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman Latar Belakang: Street food merupakan makanan dan minuman yang dipersiapkan dan dijual oleh pedagang di jalan dan di tempat-tempat keramaian seperti pusat keramaian dan area umum lain yang dapat dikonsumsi secara langsung. Konsumen jajanan street food beragam termasuk dewasa muda. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pola konsumsi street food pada dewasa muda di Ciamis. Metodologi: Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif-kuantitatif dengan metode purposive sampling. Kriteria insklusi bersedia menjadi responden dengan mengisi kuesioner, berusia 20-30 tahun, berdomisili di wilayah Kabupaten Ciamis setidaknya 3 bulan. Responden sejumlah 97 orang. Data penelitian didapatkan dengan melakukan penyebaran kuesioner online google form, kemudian dianalisis deskriptif dengan melihat distribusi frekuensi jawaban responden. Hasil Penelitian: Sebanyak 83,5% responden menyukai makanan & minuman dan 48,5 % responden memilih cilok sebagai makanan jajanan asin favorit sedangkan makanan jajanan manis responden adalah martabak yaitu sebanyak 76,3% dengan frekuensi 1-3x/minggu (32%) dengan alasan terbanyak (35,1%) hanya mencoba. Jenis minuman jajanan yang dipilih terbanyak teh manis (30,9%). Sebanyak 44,3% responden beralasan meminum hanya mencoba, dengan frekuensi 1-3x/minggu sebanyak 44,3%. Kesimpulan: Responden menyukai jenis jajanan makanan & minuman dengan frekuensi frekuensi 1-3x/minggu dan juga dengan alasan hanya untuk mencoba. Makanan jajanan asin dan manis favorit adalah cilok dan martabak sedangkan minuman jajanan favorit adalah teh manis. | ABSTRACT OVERVIEW OF STREET FOOD CONSUMPTION PATTERNS IN YOUNG ADULTS IN CIAMIS REGENCY Asep Mulyana1, Hesti Permata Sari1, Katri Andini Surijati 1 1 The Study of Nutrition Science, Faculty of Health Sciences, Jendral Soedirman University Background: Street food is food and beverage prepared and sold by street vendors and in crowded places such as crowded centers and other public areas that can be consumed directly. Consumers of street food snacks are diverse including young adults. The purpose of this study is to find out the picture of street food consumption patterns in young adults in Ciamis. Methodology: The research design used is descriptive-quantitative with purposive sampling method. The criteria of insklusi willing to be a respondent by filling out a questionnaire, aged 20-30 years, domiciled in ciamis district at least 3 months. Respondents numbered 97 people. The research data was obtained by disseminating the online questionnaire google form, then analyzed descriptively by looking at the distribution of the frequency of respondents' answers. Result: A total of 83.5% of respondents liked food & beverages and 48.5% of respondents chose cilok as their favorite salty snack while the respondent's sweet snack food was martabak which is as much as 76.3% with a frequency of 1-3x/week (32%) with the most reasons (35.1%) Just try. The most preferred type of snack drink is sweet tea (30.9%). A total of 44.3% of respondents reasoned to drink only try, with a frequency of 1-3x/week as much as 44.3%. Conclusion: Respondents liked the type of food &drink snacks with a frequency of 1-3x / week and also with the reason just to try. Favorite salty and sweet snacks are cilok and martabak while the favorite snack drink is sweet tea. | |
| 28806 | 32151 | B1A017133 | VARIASI MORFOLOGI TANAMAN SRIKAYA (Annona squamosa L.) PADA BERBAGAI KETINGGIAN TEMPAT | Srikaya (Annona squamosa L.) merupakan tanaman yang termasuk familia Annonaceae dan persebarannya cukup luas. Pertumbuhan srikaya dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti ketinggian tempat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi morfologi tanaman srikaya yang tumbuh pada berbagai ketinggian tempat di atas permukaan laut dan mengetahui ketinggian tempat di atas permukaan laut yang optimal bagi pertumbuhan tanaman srikaya. Penelitian dilakukan pada ketinggian yang berbeda, yaitu 0-199,9 m dpl, 200-399,9 m dpl, dan 400-599,9 m dpl menggunakan metode survei dengan pengambilang sampel purposive sampling. Variabel penelitian yang berupa karakter morfologi dan faktor lingkungan. Parameter penelitian yang diamati adalah karakter morfologi batang, daun, bunga, buah, dan biji tanaman srikaya. Hasil penelitian didapatkan variasi morfologi tanaman srikaya dipengaruhi oleh ketinggian tempat. Variasi morfologi tanaman srikaya yang dipengaruhi oleh ketinggian tempat adalah percabangan batang, bentuk buah, warna kulit buah, sisik buah, diameter batang, panjang daun, lebar daun, luas daun, berat buah, dan lingkar buah. Karakter tersebut dapat tumbuh dengan optimal pada ketinggian 400-599,9 m dpl. Berdasarkan analisis regresi terdapat adanya hubungan yang erat antara ketinggian tempat dengan diameter batang, panjang daun, lebar daun, luas daun, berat buah, dan lingkar buah. | Sugar apple (Annona squamosa L.) is a plant that belongs to the family Annonaceae with wide distribution. The growth of sugar apple is affected by environmental factors such as altitudes. The purpose of this study was to see the morphological variations of sugar apple that grow at various altitudes above sea level and to see the optimal altitude above sea level for the growth of sugar apple. The research was conducted at different altitudes, namely 0-199.9 m asl, 200-399.9 m asl, and 400-599.9 m asl by using a survey method with purposive sampling. The research variables measured included morphological characteristics including stems, leaves, flowers, fruits, and seeds. The results showed that the variation of sugar apple morphology was affected by altitude. Variations in the morphology of sugar apple that are affected by the include stem branching, fruit shape, fruit skin color, fruit scales, stem diameter, leaf length, leaf width, leaf area, fruit weight, and fruit circumference. This plant can grow optimally at an altitude of 400-599,9 m above sea level. Based on the regression analysis, there are a close relationship between altitude stem diameter, leaf length, leaf width, leaf area, fruit weight, and fruit circumference. | |
| 28807 | 32152 | A1F017063 | PENGARUH BENTUK SEDIAAN BATANG KECOMBRANG (Etlingera elatior) TERHADAP KANDUNGAN TOTAL FENOL, FLAVONOID, VITAMIN C, DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN | Kecombrang berkhasiat mengawetkan makanan karena mempunyai kandungan senyawa bioaktif, batang kecombrang diketahui memiliki kandungan senyawa alkaloid, saponin, tanin, fenolik, flavonoid, triterpenoid, steroid, dan glikosida. Peran batang kecombrang sebagai antioksidan dapat dimaksimalkan dengan pengolahan lebih lanjut menjadi bentuk sediaan yang siap digunakan dengan proses pengeringan, ekstraksi dan enkapsulasi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) non faktorial dengan faktor yaitu bentuk sediaan dengan taraf perlakuan yaitu simplisia, bubuk simplisia, ekstrak cair, suspensi, mikrokapsul. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh bentuk sediaan batang kecombrang terhadap kandungan total fenol, flavonoid, vitamin C dan aktivitas antiokasidan. Pada simplisia hasilnya adalah kandungan fenol 8,838 mg TAE/100, flavonoid 0,806 mg QE/100 mg, vitamin C 844,8 mg/100 g, dan aktivitas antioksidan (IC50) 108,79 ppm. Pada bubuk simplisia hasilnya adalah kandungan fenol 14,08 mg TAE/100, flavonoid 1,306 mg QE/100 mg, vitamin C 739,2 mg/100 g, dan aktivitas antioksidan (IC50) 89,78 ppm. Pada ekstrak cair hasilnya adalah kandungan fenol 18,166 mg TAE/100, flavonoid 2,324 mg QE/100 mg, vitamin C 605,44 mg/100 g, dan aktivitas antioksidan (IC50) 58,13 ppm. Pada suspensi hasilnya adalah kandungan fenol 4,838 mg TAE/100, flavonoid 0,1534 mg QE/100 mg, vitamin C 302,7 mg/100 g, dan aktivitas antioksidan (IC50) 228,35 ppm. Pada mikrokapsul hasilnya adalah kandungan fenol 1,148 mg TAE/100, flavonoid 0,1293 mg QE/100 mg, vitamin C 204,2 mg/100 g, dan aktivitas antioksidan (IC50) 241,32 ppm. Faktor yang mempengaruhi perbedaan kandungan bioaktif dan aktivitas antioksidan adalah proses pengolahan. | Kecombrang has efficacy of preserving food because it contains bioactive compounds, kecombrang stems are known to contain alkaloid compounds, saponins, tannins, phenolics, flavonoids, triterpenoids, steroids, and glycosides. The role of kecombrang stem as an antioxidant can be maximized by further processing into a ready-to-use dosage form by drying, extraction and encapsulation processes. This study used a non-factorial randomized block design (RBD) with factors, namely dosage forms with treatment levels, namely simplicia, simplicia powder, liquid extract, suspension, and microcapsules. The results of this study indicate there is an effect of kecombrang stem dosage form on the total phenol content, flavonoids, vitamin C and antioxidant activity. In simplicia the results are phenol content of 8.838 mg TAE / 100, flavonoids 0.806 mg QE / 100 mg, vitamin C 844.8 mg / 100 g, and antioxidant activity (IC50) 108.79 ppm. In the simplicia powder the result is phenol content of 14.08 mg TAE / 100, flavonoids 1.306 mg QE / 100 mg, vitamin C 739.2 mg / 100 g, and antioxidant activity (IC50) 89.78 ppm. In the liquid extract the result is phenol content of 18.166 mg TAE / 100, flavonoids 2.324 mg QE / 100 mg, vitamin C 605.44 mg / 100 g, and antioxidant activity (IC50) 58.13 ppm. In the suspension the result is phenol content of 4,838 mg TAE / 100, flavonoids 0.1534 mg QE / 100 mg, vitamin C 302.7 mg / 100 g, and antioxidant activity (IC50) 228.35 ppm. In the microcapsules the result is phenol content of 1.148 mg TAE / 100, flavonoids 0.1293 mg QE / 100 mg, vitamin C 204.2 mg / 100 g, and antioxidant activity (IC50) 241.32 ppm. The factor that affects the difference in bioactive content and antioxidant activity is the processing process. | |
| 28808 | 32153 | F1F016076 | Saung Angklung Udjo Sebagai Sarana Diplomasi Budaya Indonesia Pada Masa Pemerintahan Joko Widodo (2014-2019) | Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam mengenai peran Saung Angklung Udjo sebagai sara diplomasi budaya Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa diplomasi budaya Indonesia dapat membawa Indonesia kedalam ranah dilomasi internasional. Indonesia menjadikan Saung Angklung Udjo sebagai aktor diplomasi budaya non negara yang berhasil membawa Indonesia semakin dikenal pada tatanan global. Dalam hal ini Saung Angklung Udjo berperan sebagai pihak ketiga yakni pihak yang membantu pemerintah sebagai aktor utama dalam diplomasi. Angklung juga telah resmi dijadikan budaya tak benda oleh UNESCO pada tahun 2010. Sebagai aktor non negara Saung Angklung Udjo juga berkontribusi dalam event internasional, bazar budaya, dan menjadi partisipan diberbagai negara melalui pertunjukan. Angklung juga telah dijadikan ekstrakulikuler di Amerika Serikat, Belanda dan negara lainnya. Kata Kunci : Diplomasi, Budaya, Saung Angklung Udjo | This study aims to understand deeply about the role of Saung Angklung Udjo as a means of Indonesian cultural diplomacy. The results of this study indicate that Indonesian cultural diplomacy can bring Indonesia into the realm of international diplomacy. Indonesia made Saung Angklung Udjo a non-state cultural diplomacy actor who succeeded in bringing Indonesia to be increasingly recognized in the global order. In this case, Saung Angklung Udjo acts as a third party, namely the party that helps the government as the main actor in diplomacy. Angklung has also been officially made into an intangible culture by UNESCO in 2010. As a non-state actor, Saung Angklung Udjo also contributes to international events, cultural bazaars, and participates in various countries through performances. Angklung has also been used as extracurricular activities in the United States, the Netherlands and other countries. Keywords : Diplomacy, Culture, Saung Angklung Udjo | |
| 28809 | 32154 | F1B016018 | MANAJEMEN PENDIDIKAN INKLUSI PADA TINGKAT PENDIDIKAN DASAR (Studi Kasus pada SD Negeri 5 Arcawinangun Kecamatan Purwokerto Timur Kabupaten Banyumas) | Penerapan Manajamen Berbasis sekolah sebagai acuan untuk pengelolaan sekolah juga diterapkan pada sekolah penyelenggara inklusi, termasuk SD Negeri 5 Arcawinangun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan pelaksanaan manajemen pendidikan inklusi di Kabupaten Banyumas, khususnya di SD Negeri 5 Arcawinangun. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis interaktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan manajemen pendidikan inklusi di SD Negeri 5 Arcawinangun telah berjalan dengan baik dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. SD Negeri 5 Arcawinangun telah memodifikasi komponen kurikulum dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Dalam pelaksanaanya apabila dikaitkan dengan perspektif MBS telah cukup baik serta patuh dengan peraturan yang berlaku terkait pelaksanaan manajemen pendidikan inklusi yaitu sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003; Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 terdiri dari 15 pasal; Surat Keputusan Bupati Kabupaten Banyumas Nomor 421/ 149/ 2011, serta Keputusan Kepala Dinas (Protap Inklusi) terkait inklusi. Penerimaan siswa baru juga telah disesuaikan dengan keadaan anak berkebutuhan khusus dan telah menyediakan guru pendamping khusus di sekolah untuk membantu menangani anak berkebutuhan khusus, dilengkapi fasilitas pembelajaran yang menunjang berjalannya pembelajaran di dalam kelas. Ada pula dukungan penuh dari masyarakat terhadap program-program yang dilaksanakan di sekolah, termasuk pelaksanaan sekolah inklusi di SDN 5 Arcawinangun. | The implementation of school-based management as a reference for school management is also applied to inclusive schools, including SD Negeri 5 Arcawinangun. The research aims to identify and describe the implementation of inclusive education management in Banyumas Regency, especially in SDN 5 Arcawinangun. The method used purposive sampling technique and snowball sampling, also collecting data with interviews, observation, and documentation. The data analysis method was interactive analysis. The results of this study indicate that the implementation of inclusive education management in the level of case study elementary education at SD Negeri 5 Arcawinangun has gone well and is in accordance with applicable regulations. Its implementation is quite good related to the MBS perspective and comply with the regulations about inclusive education management, following Law No. 20 of 2003; Permendiknas No. 70 of 2009 consists of 15 articles; Decree of the Regent of Banyumas Regency No. 421/149/2011, also the Decree of Head of the Office (Protap Inclusion) related to inclusion. The implementation of new student admissions adapt to the conditions of children with special needs because of the availability of special assistant teachers in schools to handle children with special needs and the availability of facilities for learning in the classroom. There is also full support from the community to conduct the programs at school, including the implementation of inclusive schools at SDN 5 Arcawinangun. | |
| 28810 | 32155 | I1C016017 | AKTIVITAS ANTIBAKTERI KOMBINASI EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) DAN BIJI PALA (Myristica fragrans) TERHADAP Escherichia coli | Latar belakang: Diare merupakan penyakit infeksi dengan angka kejadian yang tinggi di Indonesia. Diare dapat disebabkan oleh bakteri E.coli. Ekstrak etanol daun jambu biji dan biji pala masing- masing memiliki aktivitas sebagai antibakteri E.coli. Penggunaan kombinasi kedua ekstrak tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitasnya sebagai anti diare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kombinasi ekstrak etanol daun jambu biji dan biji pala yang efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri E.coli. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan tahapan penelitian sebagai berikut: tahap pertama adalah ekstraksi daun jambu biji dan biji pala dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96 %, tahap kedua adalah uji aktivitas ekstrak tunggal daun jambu biji dan biji pala serta kombinasi keduanya dengan metode Kirby bauer. Uji aktivitas dibagi ke dalam 7 kelompok perlakuan yaitu K+ = kloramfenikol sebagai kontrol positif, K- = DMSO 1% sebagai kontrol negatif, K1 = ekstrak tunggal daun jambu biji merah, K2 = ekstrak tunggal biji pala, K3 = kombinasi ekstrak daun jambu biji dan biji pala 1:1, K4 = kombinasi ekstrak daun jambu biji dan biji pala 1:3, K5 = kombinasi ekstrak daun jambu biji dan biji pala 3:1 dengan desain studi the posttest only control group design. Analisis data menggunakan Anova dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil Penelitian: Ekstrak etanol daun jambu biji memiliki rerata diameter zona hambat 9,30 mm dan biji pala 8,30 mm. Perbandingan kombinasi ekstrak 1:1 memiliki rerata diameter zona hambat sebesar 13,67 mm, kombinasi 1:3 memiliki rerata diameter zona hambat sebesar 11 mm, dan kombinasi 3:1 memiliki rerata diameter zona hambat sebesar 12,33 mm. Kesimpulan: Kombinasi ekstrak etanol daun jambu biji dan biji pala dengan perbandingan 1:1 paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri E.coli. | Background: Diarrhea is an infectious disease with a high incidence in Indonesia. Diarrhea can be caused by E. coli bacteria. Both of the ethanolic extract of guava leaves and nutmegs have antibacterial activity to E. coli. Combination of two extracts could be enhance its activity. This study was aimed to get the combination of the ethanol extract of guava leaves and nutmeg which is effective in inhibiting the growth of E. coli. Methodology: This research is a laboratory experimental with the following research stages: the first stage is the extraction of guava leaves and nutmegs by maceration using 96% ethanol, the second stage is the activity test of the guava leaves and nutmegs extract and its combinations by Kirby bauer method. The activity test divided into 7 treatment groups, namely K+ = chloramphenicol as positive control, K- = DMSO 1% as negative control, K1 = single extract of red guava leaves, K2 = single extract of nutmegs, K3 = combination of guava leaves and nutmegs extracts 1:1, K4 = combination of guava leaves and nutmegs extracts 1:3, K5 = combination of guava leaves and nutmegs extracts 3:1 with posttest control group study only design. Data was analyzed by using ANOVA with 95% confidence level. Result: The average diameter of inhibition zone was 9,30; 8,30; 13,67; 11; and 12,33 mm for the ethanolic extract of guava leaves, the extract of nutmeg, the extract combination 1:1; the extract combination 1:3; and the extract combination 3:1, respectively. Conclusion: The combination of the ethanolic extract of guava leaves and nutmegs with a ratio of 1:1 was the most effective in inhibiting the growth of E. coli. | |
| 28811 | 32157 | A1D016132 | PENGARUH KONSENTRASI DAN DOSIS PUPUK ORGANIK DARI LIMBAH IKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN CABAI MERAH | Penelitian bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi, dosis, dan kombinasi konsentrasi dan dosis pupuk organik limbah ikan lele yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai September 2020 di Desa Melung, Kecamatan Kedung Banteng dan Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 2 faktor dan 3 kali ulangan. Faktor pertama yaitu konsentrasi pupuk organik limbah ikan (K) yang terdiri dari 4 taraf, yaitu K0 = kontrol, K1 = 30 ml/l, K2 = 45 ml/l, dan K3 = 60 ml/l. Faktor kedua yaitu dosis pupuk organik dari limbah ikan (D) yang terdiri dari 4 taraf, yaitu D0 = kontrol, D1 = 100 ml/polybag, D2 = 200 ml/polybag, dan D3 = 300 ml/polybag. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), jumlah cabang (batang), luas daun (cm2), umur awal berbunga (hst), panjang akar (cm), volume akar (ml), bobot brangkasan segar (g), bobot brangkasan kering (g), jumlah buah pertanaman (buah), bobot buah pertanaman (g), dan panjang buah (cm). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F, apabila terdapat keragaman dilanjutkan Uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) taraf 5% dan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsentrasi pupuk organik limbah ikan lele 45 ml/l memberikan pengaruh yang nyata terhadap variabel panjang akar yaitu 34,67 cm dan volume akar yaitu 8,82 ml. Dosis pupuk organik limbah ikan lele 300 ml/polybag memberikan pengaruh yang nyata terhadap variabel umur awal berbunga yaitu 38 hst. Tidak ada interaksi antara kombinasi konsentrasi dan dosis pupuk organik limbah ikan lele yang meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah. Hasil tanaman cabai merah 719 kg/ha. | The research aimed to get the best concentration, dose, and combination of concentration and dose of catfish waste organic fertilizer on the growth and yield of red chili plants. The research was conducted in April to September 2020 at the Melung Village, Kedung Banteng District, Banyumas Regency and the Laboratory of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The experimental design used was a randomized block design consisting of 2 factors with 3 replications. First factor was the concentration of catfish waste organic fertilizer (K) consisting of four levels, K0 = control, K1 = 30 ml / l, K2 = 45 ml / l, and K3 = 60 ml / l. Second factor was the dose of catfish waste organic fertilizer (D) consists of four levels, D0 = control, D1 = 100 ml / polybag, D2 = 200 ml / polybag, and D3 = 300 ml / polybag. Variables observed included plant height (cm), number of leaves (strands), number of branches (stems), leaf area (cm2), early flowering (hst), root length (cm), root volume (ml), fresh stover weight (g), dry stover weight (g), number of fruit (fruit), fruit weight (g), and fruit length (cm). Data obtained were analyzed using the F test, if there is diversity followed by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) level of 5% and regression analysis. The results showed that the concentration of catfish waste organic fertilizer 45 ml/l had a significant effect on the variable root length 34,67 cm and root volume 8,82 ml. The dose of organic fertilizer from catfish waste 300 ml/polybag has a significant effect on the variable early flowering age 38 days after planting. There is no interaction between the combination of concentration and dose of catfish waste liquid organic fertilizer which increased the growth and yield of red chili plants. The yield of red chili plants is 719 kg /ha. | |
| 28812 | 32158 | G1A017016 | Hubungan Antara Kepatuhan Terapi dengan Kejadian Retinopati Diabetika Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 | Latar Belakang: Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular DM yang disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah di retina yang dapat menyebabkan kebutaan. Beberapa penelitian melaporkan bahwa tingkat kepatuhan terapi pada pasien diabetes melitus berada pada tingkat kepatuhan rendah. Permasalahan yang terjadi di FKTP Klinik Tanjung yaitu sepertiga pasien DM tidak rutin melakukan kontrol glikemik. Tujuan: Mengetahui hubungan antara kepatuhan terapi dengan kejadian retinopati diabetika pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Klinik Tanjung Purwokerto. Metode: Metode penelitian yang digunakan yaitu analitik observasional dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian adalah 35 pasien FKTP Klinik Tanjung Purwokerto yang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Pengumpulan data untuk variabel kepatuhan terapi menggunakan kuesioner MMAS-8, sedangkan data kejadian retinopati diabetika diperoleh melalui pemeriksaan segmen posterior menggunakan oftalmoskop indirect oleh dokter spesialis mata. Analisis hipotesis menggunakan uji Fisher’s. Hasil: 35 responden yang mengikuti penelitian ini didapatkan hasil dengan tingkat kepatuhan tinggi sebesar 2,9%, tingkat kepatuhan sedang 42,9% dan tingkat kepatuhan rendah 54,3%. Sedangkan untuk kejadian retinopati diabetika didapatkan hasil 71,4% tidak terdiagnosis retinopati diabetik dan 28,6% terdiagnosis retinopati diabetik. Hasil analisis bivariate menggunakan uji fisher’s menunjukkan p value = 0,474. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kepatuhan terapi dengan kejadian retinopati diabetika pada pasien diabetes melitus tipe 2. Kesimpulan: Kejadian retinopati diabetika pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Klinik Tanjung Purwokerto tidak berhubungan dengan kepatuhan terapi. | Background: Diabetic retinopathy is a microvascular complication of diabetes caused by blood vessels damage in the retina which can cause blindness. Several studies report that the level of adherence to therapy in diabetes mellitus patients is at a low level of adherence. The problem that occurs in FKTP Tanjung Clinic Purwokerto is that one-third of DM patients do not routinely carry out glycemic control. Objective: To determine the relationship between therapy adherence and the incidience of diabetic retinopathy in type 2 diabetes mellitus patients at the First Level Health Facility (FKTP) Tanjung Clinic Purwokerto. Method: The research method used an observational analytic using a cross-sectional approach. The study sample were 35 patients at the FKTP Tanjung Clinic Purwokerto who were selected by consecutive sampling technique. Data collection for therapy adherence variables used the MMAS-8 questionnaire, while data on the incidence of diabetic retinopathy was obtained through examination of the posterior segment using an indirect ophthalmoscope by an ophthalmologist. Hypothesis analysis used the Fisher’s test. Results: 35 respondents who followed the study obtained the results of patients with high adherence rates of 2.9%, moderate rates at 42.9% and a low adherence rate 54.3%. The rate of retinopathic disease obtained is 71.4% undiagnosed retinopathic diabetic and 28.6% diagnosed retinopathic diabetic. The results of the bivariate analysis used the fisher’s test showed p value = 0.474. That there is no relationship between theraphy adherence with the incidence of diabetic retinopathy in patients with type 2 diabetes mellitus. Conclusion: The incidence of diabetic retinopathy in type 2 diabetes mellitus patients in the First Level Health Facility (FKTP) Tanjung Purwokerto Clinic is not relations with therapeutic adherence. | |
| 28813 | 32159 | A1F017055 | Optimasi Proporsi Pure Buah Salak dan Tepung Singkong Termodifikasi pada Produksi Dodol Buah | Buah salak umumnya dikonsumsi dalam bentuk buah segar, namun jika buah salak dibiarkan terlalu masak terlihat bagian kulit yang pecah-pecah sehingga kurang diminati. Alternatif pengolahan buah salak adalah dengan mengolahnya menjadi dodol salak. Dodol umumnya diproduksi menggunakan tepung beras ketan. Pada penelitian ini, ditemukan alternatif lain yaitu penggunaan tepung singkong termodifikasi sebagai pengganti dari tepung beras ketan. Penelitian ini menggunakan metode permukaan respon dengan rancangan percobaan menggunakan CCD (Central Composite Design) dengan dua faktor yaitu pure buah salak dan tepung singkong termodifikasi. Hasil penelitian ini yaitu formula optimum dodol salak dengan nilai desirability tertinggi sebesar 0,66 pada formula buah salak 15,73% dan tepung singkong termodifikasi 11,35%. Hasil uji sensori dodol salak menunjukan bahwa peningkatan proporsi pure buah salak menyebabkan peningkatan respon flavor salak serta menyebabkan penurunan respon kekenyalan, kelengketan, kekerasan, warna putih dan kesukaan. Peningkatan proporsi tepung singkong termodifikasi menyebabkan peningkatan kekenyalan, kelengketan, kekerasan, warna putih dan kesukaan serta menyebabkan penurunan respon flavor salak. rataan hasil uji kimia, produk optimum memiliki perbedaan nilai yang lebih tinggi untuk kadar air yaitu sebesar 7,15%, kadar abu 0,42%, kadar protein 0,28%, kadar lemak 2,02% dan energi 8,4% dibandingkan dengan produk kontrol. Sementara itu, untuk kadar karbohidrat memiliki perbedaan nilai yang lebih rendah yaitu sebesar 2,73% dibandingkan dengan produk kontrol. | Snake fruit is generally consumed in the form of fresh fruit, but if the fruit is left too ripe, cracked skin can be seen, making it less attractive. Alternative processing of zalacca fruit is to process it into salak lunkhead. Dodol is generally produced using glutinous rice flour. In this study, another alternative was found, namely the use of modified cassava flour as a substitute for glutinous rice flour. This study used a response surface method with an experimental design using CCD (Central Composite Design) with two factors, namely salak puree and modified cassava flour. The results of this study were the optimum dodol salak formula with the highest desirability value of 0.663 in the 15.73% salak fruit formula and 11.35% modified cassava flour. The results of the sensory test for salak dodol show that an increase in the proportion of pure zalacca fruit causes an increase in the flavor response of the salak and causes a decrease in response to chewiness, stickiness, hardness, white color and preferences. The increase in the proportion of modified cassava flour causes an increase in chewiness, stickiness, hardness, white color and liking and causes a decrease in the response to the salak flavor. the average chemical test results, the optimum product has a higher difference in value for water content, namely 7.15%, ash content 0.42%, protein content 0.28%, fat content 2.02% and energy 8.4% compared to with control products. Meanwhile, carbohydrate content has a lower value difference of 2.73% compared to the control product. | |
| 28814 | 32160 | A1D116051 | EFISIENSI PUPUK NITROGEN DENGAN PEMANFAATAN KOMPOS LIMBAH BAGLOG JAMUR TIRAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SORGUM (Sorghum bicolor L. Moench) DI ULTISOL Efficiency of Nitrogen Fertilizer with the use of Spent Mushroom Waste Compost on the Growth and Yield of Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) In Ultisol | Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh kompos limbah baglog jamur tiram (Pleurotus ostreatus) terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum (Sorghum bicolor) di ultisol, (2) mengetahui pengaruh pupuk nitrogen terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum di ultisol dan (3) mengetahui pengaruh aplikasi pupuk nitrogen dengan kompos limbah baglog jamur tiram terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai November 2020 di screenhouseBalai Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBTPH) Kebun Benih Padi dan Palawija desa Bojongsari, Laboratorium Ilmu Tanah dan Laboratorium Agroekologi Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk N, yaitu N0= 0% rekomendasi, N1= 25% rekomendasi, N2= 50% rekomendasi, N3= 75% rekomendasi dan N4= 100% rekomendasi. Pupuk N rekomendasi untuk tanaman sorgum adalah 348 kg urea/ha. Faktor kedua adalah dosis kompos baglog jamur, yaitu B1= 10 t/ha, B2= 20 t/ha, B3= 30 t/ha. Masing-masing faktor dikombinasikan dan didapat 15 kombinasi perlakuan. Perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, diameter, luas daun, klorofil daun, bobot kering akar, bobot kering tajuk, bobot 100 biji, bobot biji per tanaman, jumlah biji, N jaringan tanaman, efisiensi serapan nitrogen dan efisiensi agronomi. Hasil penelitian menunjukkan pemberian dosis kompos limbah baglog jamur tiram 30 t/ha mampu meningkatkan jumlah daun sebesar, bobot biji per tanaman dan jumlah biji per tanaman. Pemberian dosis pupuk nitrogen 25% rekomendasi mampu meningkatkan jumlah daun, diameter batang, klorofil daun, bobot kering akar, bobot kering tajuk dan bobot biji per tanaman. Tidak terjadi interaksi antara pupuk nitrogen dan kompos limbah baglog jamur, kecuali bobot biji per tanaman dan efisiensi serapan nitrogen. | This research aims to (1) determine the effect of spent mushroom waste compost from oyster mushroom (Pleurotus ostreatus) on the growth and yield of sorghum (Sorghum bicolor) in ultisols, (2) to determine the effect of nitrogen fertilizer on the growth and yield of sorghum on ultisols, and (3) to determine the effect of spent mushroom waste compost from oyster mushroom and does of N to growth and yield of sorghum. This study was carried from June until November 2020 at the screenhouse of Research Station for Crops and Horticulture (BBTPH) Bojongsari, Kembaran, Banyumas. Soil Science Laboratory and Agroecology Laboratory of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The experiments were set with a randomized design with 2 factors. The first factor was the dose of N fertilizer, N0 = without fertilizer, N1 = 25% of recommended dosage, N2 = 50% of recommended dosage, N3 = 75% of recommended dosage and N4 = 100% of recommended dosage. Recommended nitrogen fertilizer for sorghum is 348 kg urea/ha. The second factor is the dose of spent mushroom compost, B1 = 10 toh/ha, B2 = 20 t/ha, B3 = 30 t/ha. Each factor was combined with a total of 15 combinations. The treatment was repeated 3 times. The variables observed were plant height, total number of leaf, diameter, leaf area, leaf chlorophyll, root dry weight, shoot dry weight, 100 seeds weight, seed weight, total number of seed, plant tissue nitrogen, nitrogen absorption efficiency and agronomic efficiency. The results showed that the application of compost 30 t/ha increased total number of leaf, weight of seed and total number of seed. Aplication of N fertilizer of 25% recommended dosage increased total number of leaf, stem circumference, leaf chlorophyl, root dry weight, canopy dry weight, weight of seed and seeds total. There was no interaction berween aplication of nitrogen fertilizer and spent mushroom waste compost, except on weight of seed and nitrogen absorption efficiency. | |
| 28815 | 32161 | I1A017045 | MEKANISME PERENCANAAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN (SDMK) DI KABUPATEN PEMALANG DALAM PENCAPAIAN RASIO TENAGA KESEHATAN SESUAI KEPMENKOKESRA RI | Latar Belakang: Kabupaten Pemalang dengan jumlah SDMK 4.095 di tahun 2019, rasio tenaga kesehatannya masih jauh dari target Kepmenkokesra RI No. 54 Tahun 2013. Hal tersebut disebabkan oleh kekurangan tenaga kesehatan di 10 Puskesmas dan perencanaan SDMK belum maksimal. Sedangkan langkah awal untuk menjamin ketersediaan SDMK yaitu melalui perencanaan SDMK dengan memperhatikan ada atau tidaknya tim perencana, anggaran, metode peramalan kebutuhan, kebijakan pemerintah dan hubungan terintegrasi antar pengelola SDMK. Oleh sebab itu penelitian ini ditujukan untuk mengetahui Mekanisme Perencanaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) di Kabupaten Pemalang dalam Pencapaian Rasio Tenaga Kesehatan sesuai Kepmenkokesra RI. Metodologi: Desain penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk menggambarkan mekanisme perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan di Kabupaten Pemalang. Penelitian dilaksanakan di Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang terhadap 4 informan kunci dan 2 informan pendukung dengan menggunakan teori HRH Action Framework. Analisis datanya menggunakan analisis konten dengan pendekatan thematic network. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan perencanaan SDMK di Kabupaten Pemalang menggunakan kebijakan pusat dan Perda agar usulan kebutuhan sesuai dengan SOTK dan tipe instansi maupun Fasyankes serta hasil ABK yang melebihi standar minimal tetap dijadikan usulan kebutuhan. Akan tetapi terdapat beberapa permasalahan yang sebaiknya dibenahi seperti adanya perbedaan persepsi antara Puskesmas, DKK, dan BKD mengenai kebutuhan SDMK, pembaharuan data dan informasi SDMK belum tepat waktu, tugas perencanaan menjadi tanggung jawab seorang petugas, serta serapan anggaran untuk perencanaan serta pengadaan SKPD hanya 0,08% dari dana kesehatan. Kesimpulan: The HRH planning mechanism in Pemalang Regency can improve the coordination of work partners so that there are no differences in perceptions in determining HRH needs, forming a planning team and optimizing the absorption of the health budget. So that the HRH planning process is more perfect. | ratio of health workers had not been fulfilled the target of the Kepmenkokesra RI No. 54 of 2013. This was caused by a shortage of health workers in 10 public health center and HRH planning was not optimal. Meanwhile, the first step to ensure the availability of HRH is through HRH planning by taking into account the presence or absence of a planning team, budget, needs forecasting methods, government policies and integrated relationships between HRH managers. Therefore, this study aims to determine the Human Resource for Health (HRH) Planning Mechanism in Pemalang Regency on achieving the Ratio of Health Workers in accordance with Kepmenkokesra RI. Methods: The design of this research is descriptive qualitative with a phenomenological approach to describe the planning mechanism for the needs of health workersin Pemalang Regency. The research was conducted at the Pemalang District Health Office with 4 key informants and 2 supporting informants using the HRH Action Framework theory. Data analysis used content analysis with thematic network approach. Results: The results showed that HRH planning in Pemalang District used central policies and local regulations so that the proposed needs were in accordance with the SOTK and type of institution and health facilities furthermore the result of ABK that exceeded the minimum standard were still used as a recommendation for needs. However, there are several problems that should be addressed, such as differences in perceptions between public health center, public health office, and BKD regarding HRH needs, updating of HRH data and information is not timely, planning tasks are the responsibility of an officer, and budget absorption for planning and procurement of SKPD is only 0, 08% of the health fund. Conclusion: The HRH planning mechanism in Pemalang Regency can improve the coordination of work partners so that there are no differences in perceptions on determining HRH needs, forming a planning team and optimizing the absorption of the health budget. So that the HRH planning process is more perfect. | |
| 28816 | 32162 | I1A017005 | ANALISIS PERENCANAAN OBAT DI UPTD FARMASI DINAS KESEHATAN KOTA DEPOK | Latar Belakang: Perencanaan merupakan tahap awal dan sebagai tahap yang penting dan menentukan, karena perencanaan kebutuhan obat akan mempengaruhi siklus pengelolaan obat selanjutnya di unit pelayanan kesehatan. Apabila lemah dalam perencanaan maka akan berdampak negatif dalam siklus manajemen secara keseluruhan. Adanya temuan obat kedaluwarsa merupakan dampak negatif yang dialami oleh UPTD Farmasi Dinas Kesehatan Kota Depok, sehingga dapat diasumsikan bahwa perencanaan obat belum terlaksana dengan baik. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Penelitian ini dilaksanakan di UPTD Farmasi Dinas Kesehatan Kota Depok dengan jumlah informan sebanyak 8 orang. Analisis data yang digunakan menggunakan content analysis. Hasil Penelitian: Analisis perencanaan obat di UPTD Farmasi Dinas Kesehatan Kota Depok menunjukan sumber daya manusia yang terbatas belum cukup mengetahui proses perhitungan kebutuhan obat, pencatatan dan pelaporan logistik obat yang dilakukan secara manual menjadi hambatan utama dalam pemanfaatan data untuk perencanaan obat, pemilihan jenis obat dan perhitungan kebutuhan obat belum sepenuhnya sesuai pedoman. Perencanaan obat yang dilakukan belum maksimal karena terdapat obat kedaluwarsa dan kekosongan stok obat yang menyebabkan hasil perencanaan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Maka dibutuhkan pengawasan dan evaluasi terhadap ketersediaan obat agar temuan obat kedaluwarsa dapat diminimalisir serta pelatihan manajemen pengelolaan obat sehingga pengelola obat memahami tentang pengelolaan obat yang baik dan metode perencanaan kebutuhan obat yang sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan. Kesimpulan: Perencanaan obat yang dilakukan oleh UPTD Farmasi Dinas Kesehatan Kota Depok belum sepenuhnya sesuai dengan pedoman teknis pengadaan obat serta terdapat obat kedaluwarsa dan kekosongan stok obat yang menyebabkan hasil perencanaan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Adanya obat kedaluwarsa dan kekosongan stok obat di UPTD Farmasi Dinas Kesehatan Kota Depok disebabkan oleh faktor di luar sistem diantaranya masa kedaluwarsa obat pendek, perubahan pola penyakit, kondisi pandemi COVID-19 yang menghambat pendistribusian obat program kepada sasaran program, serta obat tidak tersedia di e-katalog. | Background: Planning is an initial stage and as an important and decisive stage, because planning for drug needs will affect the next cycle of drug management in the health care unit. If the planning are weak, it will give a negative impact on the overall management cycle. The findings of expired drugs is a negative impact experienced by the Pharmaceutical Technical Service Unit of Government Health Department in Depok, so it can be assumed that drug planning has not been carried out properly. Methods: This research is a qualitative research with a case study design. This research was conducted at the Pharmaceutical Technical Service Unit of Government Health Department in Depok with 8 informants. The data analysis used was content analysis. Results: Analysis of drug planning at the Pharmaceutical Technical Service Unit of Government Health Department in Depok shows that limited human resources do not yet know enough about the process of calculating drug needs, recording and reporting drug logistics which is done manually to be the main obstacle in using data for drug planning, selecting types of drugs and calculating drug needs not completely according to the guidelines. Drug planning is not done optimally because there are expired drugs and drug stock vacancies which cause the planning results are not as expected. So it is necessary to monitor and evaluate the availability of drugs so that the findings of expired drugs can be minimized as well as training in drug management so that drug managers understand about good drug management and methods of planning drug needs in accordance with established guidelines. Conclusion: Drug planning carried out by the Pharmaceutical Technical Service Unit of Government Health Department in Depok is not fully in accordance with the technical guidelines for drug procurement also there are expired drugs and drug stock vacancies which cause the planning results are not as expected. The existence of expired drugs and drug stock vacancies at the UPTD Pharmacy at the Depok City Health Service are caused by factors outside the system, including short drug expiration periods, changes in disease patterns, COVID-19 pandemic conditions that hinder the distribution of program drugs to program targets, and drugs not available at e-catalog. | |
| 28817 | 32163 | I1E016002 | Limpakuwus camping ground sebagai prasarana pembelajaran PJOK | Latar Belakang : Objek Wisata Hutan Pinus Limpakuwus merupakan sebuah wisata yang bisa dijadikan sebagai prasarana pembelajaran aktivitas luar kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan dan faktor pendukung serta penghambat untuk dijadikan sebagai prasarana pembelajaran PJOK pada kegiatan outdoor activity yang di lakukan oleh Guru PJOK SD di Kecamatan Sumbang. Metodologi : Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, sedangkan untuk pengambilan data dilakukan di SD di Kecamatan Sumbang. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling untuk Pengelola dan snowball sampling untuk Kepala Seolah, Guru dan siswa. Uji keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi data. Analisis data menggunakan Metode Analisis Interaktif. Hasil Penelitian : Limpakuwus Camping Ground dapat dijadikan sebagai Prasarana untuk pembelajaran PJOK seperti senam, lari, berbagai permainan tradisional, sepak bola dan kegiatan aktivitas luar kelas seperti berkemah, hikking dan outbound. Memiliki faktor pendukung dan penghambat untuk dijadikan Prasarana Pembelajaran PJOK. Kesimpulan : Limpakuwus Camping Ground dapat dijadikan sebagai prasarana berbagai permainan dalam pembelajaran PJOK dan kegiatan aktivitas luar kelas. Kata Kunci : Limpakuwus Camping Ground, Prasarana Pembelajaran, PJOK. | Background: Limpakuwus Pine Forest Tourism Object is a tour that can be used as a learning infrastructure for outdoor activities. This study aims to find out the feasibility and supporting factors and inhibitions to be used as a learning infrastructure pjok in outdoor activities carried out by teachers pjok elementary school in Sub-district Sumbang. Methodology: This research uses qualitative methods, while for data collection is carried out in elementary school in Sumbang sub-district. Data collection techniques using observation techniques, interviews and documentation. Sampling techniques in this study used purposive sampling for Managers and snowball sampling for Head As if, Teachers and students. Data validity test is done by data triangulation technique. Data analysis using interactive analysis methods. Results: Limpakuwus Camping Ground can be used as infrastructure for PJOK learning such as gymnastics, running, various traditional games, football and outdoor activities such as camping, hikking and outbound. Has supporting factors and obstacles to be used as PJOK Learning Infrastructure. Conclusion: Limpakuwus Camping Ground can be used as an infrastructure for various games in pjok learning and activities outside the classroom. Keywords: Limpakuwus Camping Ground, Learning Infrastructure, PJOK. | |
| 28818 | 31926 | A1F017079 | PENGARUH APLIKASI EDIBLE COATING DENGAN METODE DIPPING, SPRAYING, FOGGING TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK PERMUKAAN BUAH NANAS DAN TOMAT | Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui pengaruh metode aplikasi yang berbeda terhadap kenampakan edible coating pada permukaan buah nanas; 2) Mengetahui pengaruh metode aplikasi yang berbeda terhadap kenampakan edible coating pada permukaan buah tomat. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Pangan dan Gizi, Laboratorium Pengolahan, Laboratorium Rekayasa dan Manajemen Agroindustri Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2020 hingga Desember 2020. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yang dicoba tanpa kombinasi perlakuan sehingga perlakuan diaplikasikan pada buah nanas dan tomat secara terpisah. Perlakuan yang digunakan adalah control (M0), dipping (M1), spraying nozzle 1,0 mm (M2), spraying nozzle 0,6 mm (M3), spraying nozzle 0,3 mm (M4) dan fogging (M5). Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah analisis sifat fisik permukaan buah yang meliputi kekerasan buah. Hasil penelitian menunjukan bahwa : 1) Berbagai metode aplikasi edible coating pada buah nanas dengan cara dipping, srpaying nozzle 1,0 mm, spraying nozzle 0,6 mm, spraying nozzle 0,3 mm dan fogging tidak memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap nilai kekerasan dibandingkan dengan nanas kontrol; 2) Nilai kekerasan pada buah tomat yang diaplikasikan edible coating dengan metode dipping, srpaying nozzle 1,0 mm, spraying nozzle 0,6 mm, spraying nozzle 0,3 mm dan fogging tidak berbeda nyata dengan buah tomat kontrol. | This study aims to 1) Know the influence of different application methods on the appearance of edible coating on the surface of pineapples; 2) Knowing the influence of different application methods on the appearance of edible coating on the surface of tomatoes. This research has been conducted in Food and Nutrition Laboratory, Processing Laboratory, Engineering and Management Laboratory of Agro-industry Department of Agricultural Technology, Faculty of Agriculture, University of General Sudirman Purwokerto. The research was conducted from October 2020 to December 2020. This study used a Complete Randomized Design (RAL) with one factor tried without a combination of treatments so that the treatment was applied to pineapples and tomatoes separately. The treatment used is control (M0), dipping (M1), spraying nozzle 1.0 mm (M2), spraying nozzle 0.6 mm (M3), spraying nozzle 0.3 mm (M4) and fogging (M5). The variables observed in this study were analysis of the physical properties of the surface of the fruit which includes the hardness of the fruit. The results showed that: 1) Various methods of application of edible coating on pineapple fruit by dipping, srpaying nozzle 1.0 mm, spraying nozzle 0.6 mm, spraying nozzle 0.3 mm and fogging did not give a noticeable different result to the value of hardness compared to pineapple control; 2) Hardness value on tomato fruit applied edible coating with dipping method, srpaying nozzle 1.0 mm, spraying nozzle 0.6 mm, spraying nozzle 0.3 mm and fogging no different from tomato fruit control. | |
| 28819 | 32164 | C1A016031 | FAKTOR-FAKOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN USAHATANI PEMBENIHAN IKAN NILA RAS WANAYASA (NIRWANA) DI KECAMATAN WANAYASA KABUPTEN PURWAKARTA | Penelitian ini merupakan penelitian tentang Usahatani Pembenihan Ikan Nila Ras Wanayasa (Nirwana). Penelitian ini mengambil judul: “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usahatani Pembenihan Ikan Nila Ras Wanayasa (Nirwana) di Kecamatan Wanayasa Kabupaten Purwakarta”. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk menganalisis pengaruh biaya larva ikan, luas kolam, tenaga kerja dan harga jual benih terhadap pendapatan petani benih ikan nirwana, (2) untuk mengetahui variabel yang paling besar pengaruhnya terhadap pendapatan petani benih ikan nirwana. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik sensus dengan jumlah populasi sebanyak 55 orang dan jumlah sampel diperoleh melalui metode taro Yamane menjadi 35 petani ikan. Analisis data yang digunakan adalah analisis pendapatan, analisis regresi linier berganda dan uji elastisitas. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pendapatan petani ikan nirwana ini terhitung mengalami pendapatan sebesar Rp247.176.000 dalam 1 bulan dengan rata-rata pendapatan yang diperoleh masing-masing petani adalah Rp7.062.145 hal tersebut menandakan bahwa semakin besar lahan yang digunakan semakin besar pula pendapatan yang diperoleh. (2) Secara bersama-sama variabel biaya larva ikan, luas kolam, tenaga kerja dan harga jual benih berpengaruh terhadap pendapatan petani ikan nila nirwana di Kecamatan Wanayasa Kabupaten Purwakarta. Secara parsial biaya larva ikan, luas kolam, tenaga kerja dan harga jual benih berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani ikan nila nirwana. (3) Variabel yang paling berpengaruh terhadap pendapatan petani ikan nila ras Wanayasa (Nirwana) adalah variabel harga jual benih. Implikasi dalam penelitian ini menyatakan bahwa secara garis besar seluruh petani ikan nila ras Wanayasa (Nirwana) sudah menguntungkan dan berpeluang untuk mengembangkan usaha budidayanya, berdasarkan hasil yang diperoleh dinyatakan bahwa variabel biaya larva ikan, luas kolam, tenaga kerja dan harga jual benih berpengaruh positif dan signifikan, maka dari itu untuk mengembangkan usaha ini perlu diadakannya penyuluhan lebih lanjut oleh pemerintahan daerah dan dinas terkait terhadap usahatani dan komunitas/pokdadan petani ikan nila nirwana di wanayasa, dukungan pemerintah melalui ketersediaan calon indukan ikan nila yang berkualitas dan peralatan yang lebih modern mampu mengembangkan usaha perikanan di Wanayasa dan tentunya akan meningkatkan produktivitas setempat. | This research is a research on Tilapia Hatchery Farming, Wanayasa (Nirwana). This study took the title: "Factors Affecting Farming Income of Tilapia Ras Wanayasa (Nirwana) Hatchery in Wanayasa Subdistrict, Purwakarta Regency". The objectives of this study were (1) to analyze the effect of fish larvae, pond area, labor and seed selling price on the costs of nirvana fish seed farmers, (2) to determine which variables had the greatest influence on nirvana fish seed income. The research method used in this research is quantitative quantitative research. The sampling method used was the census technique with a population of 55 people and the number of samples using the taro Yamane method to 35 fish farmers. The data analysis used is income analysis, multiple linear regression analysis and elasticity test. The results showed that: (1) The income of this Nirwana fish farmer experienced an income of IDR 247,176,000 in 1 month with an average income earned by each farmer of IDR 7,062,145, this indicates that the larger the land used, the greater the income. Which is obtained. (2) Taken together the variables of fish larvae costs, area, labor and seed selling price affect the income of nirvana tilapia farmers in Wanayasa District, Purwakarta Regency. Partially the cost of fish larvae, pond area, labor and seed selling price have a positive and significant effect on the income of nirvana tilapia farmers. (3) The variable that most influences the income of the Wanayasa (Nirwana) tilapia farmers is the seed selling price variable. The implication in this study states that broadly all tilapia farmers of the Wanayasa (Nirwana) race are profitable and have the opportunity for their cultivation business, based on the results obtained, it is stated that the variable costs of fish larvae, pond area, labor and seed selling price have a positive and significant effect. Therefore, to develop this business, it is necessary to hold further counseling by the local government and related agencies on the farming and community / pokd and nirwana tilapia farmers in Wanayasa, government support through quality tilapia broodstock prospective communities and more modern equipment capable of developing the business. Fisheries in Wanayasa and of course will increase local activities. | |
| 28820 | 32165 | F1D015045 | KONFLIK POLITIK ANTARA MASYARAKAT DENGAN PANITIA PELAKSANA DALAM PEMILIHAN KEPALA DESA TAHUN 2018 DI DESA CANDIWULAN KECAMATAN KUTASARI KABUPATEN PURBALINGGA | Penelitian dengan judul “Konflik Politik Antara Masyarakat Dengan Panitia Pelaksana Dalam Pemilihan Kepala Desa Tahun 2018 Di Desa Candiwulan Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga.” Bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan konflik politik dan faktor-faktor penyebab konflik antara masyarakat dan panitia pelaksana dalam Pemilihan Kepala Desa tahun 2018 di Desa Candiwulan Kec. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dan perspektif strukturalisme dengan metode penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan studi kasus. Teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling dan snowball sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi serta teknik analisis datanya menggunakan teknik analisis interaktif. Sedangkan untuk keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber. Hasil penelitian ini menjelaskan pertama, proses terjadinya konflik politik antara masyarakat dan panita pelaksana pilkades di Desa Candiwulan merupakan konflik yang berawal dari kecacatan aturan. Peraturan yang mengatur pemilihan kepala desa serentak adalah Peraturan bupati Nomor 63 Tahun 2018 dan turunannya yang paling rendah untuk mengatur mekanisme pelaksanaan Pilkades adalah tata tertib panitia pelaksana. Dalam hal ini perbedaan aturan yang mengatur khususnya tentang surat suara yang sah berbeda antara Perbup No.63 Tahun 2018 dengan tatib panitia. Kedua, faktor yang penyebab konflik berdasarkan hasil analisis SPK (Sikap, Perilaku, Konteks) berawal dari rasa kecurigaan salah satu calon kepala desa yaitu Sodirin terhadap Agus Sucipto yang memenangkan pilkades. Berawal dari kecurigaan tersebut maka berdampak pada sikap dan perilaku masing-masing aktor yang terlibat dalam pilkades di Desa Candiwulan. Dalam konteks pilkades sikap dan perilaku yang dimiliki oleh masing-masing aktor akan berdampak pada kondisi sosial dan politik di desa tersebut menjadi sangat sensitif dan tertutup terhadap isu-isu yang berkaitan dengan konflik antara masyarakat dan aktor-aktor yang terlibat dalam konflik pemilihan kepala desa di Desa Candiwulan. | The research entitled "Political Conflict Between the Community and the Organizing Committee in the 2018 Village Head Election in Candiwulan Village, Kutasari District, Purbalingga Regency." Aims to understand and describe the political conflict and the factors causing conflict between the community and the implementing committee in the 2018 Village Head Election in Candiwulan Village, Kec. This study uses a constructivism paradigm and a structuralism perspective with qualitative research methods. The approach used is a case study approach. The technique of selecting informants using purposive sampling and snowball sampling. Data collection techniques using interviews, observation, and documentation and data analysis techniques using interactive analysis techniques. Meanwhile, the validity of the data used source triangulation technique. The results of this study explaint first, the process of political conflict between the community and the Pilkades executive committee in Candiwulan Village is a conflict that originates from a flaw in rules. The regulation that regulates the simultaneous pilkades is Perbup No.63 of 2018 and the lowest derivative for regulating the mechanism for implementing pilkades is the rules of the implementing committee. In this case the differences in the rules governing specifically regarding valid ballots differ between Perbup No.63 of 2018 and the committee's regulations. Apart from these differences, the factors that caused the conflict based on the results of the SPK analysis (Attitude, Behavior, Context) originated from the suspicion of one of the village head candidates, Sodirin, of Agus Sucipto who won the village head election. Starting from this suspicion, it had an impact on the attitudes and behavior of each actor involved in the Pilkades in Candiwulan Village. In the context of the Pilkades, the attitudes and behavior of each actor will have an impact on the social and political conditions in the village to be very sensitive and closed to issues related to conflict between the community and the actors involved in the village head election conflict in the village. Candiwulan Village. |