Artikelilmiahs

Menampilkan 2.721-2.740 dari 48.729 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
272112483C1C011105PENGARUH TINGKAT ADOPSI IFRS, MEKANISME GCG, DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP KUALITAS PELAPORAN KEUANGAN
(Studi Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar di BEI Tahun 2013)
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh tingkat adopsi IFRS, mekanisme GCG, dan ukuran perusahaan terhadap kualitas pelaporan keuangan pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah tingkat adopsi IFRS, mekanisme GCG, dan ukuran perusahaan. Penelitian ini adalah studi empiris pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2013. Jenis penelitian ini digolongkan pada penelitian kuantitatif. Data dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diambil dari website Bursa Efek Indonesia. Untuk mengatasi masalah penelitian ini, hipotesis diuji dengan menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mekanisme good corporate governance (GCG) pada faktor dewan komisaris independen, komite audit, dan kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap kualitas pelaporan keuangan. Sedangkan, tingkat adopsi IFRS, mekanisme good corporate governance (GCG) pada faktor-faktor yang lain, dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap kualitas pelaporan keuangan.The purpose of this research is to investigate the impact of the rate adoption IFRS, good corporate governance mechanisms, and the size to the quality of financial reporting at the company listed in Indonesian Stock Exchage 2013. The dependent variable in this reserach is the rate of adoption IFRS, good corporate governance mechanisms, and the size. This reserach is an empirical study on companies listing in BEI 2013. Type of classified data in quantitative research. The data in this research consisted of secondary data taken from download on the website of the Indonesian stock exchange. To solve the research problem, hypothesis are tested using multiple linear regression. The result of this research show that good corporate governance mechanisms on independent board, audit committe, and managerial ownership of factors affect the quality of financial reporting. Meanwhile, the rate of adoption IFRS, good corporate governance mechanisms on other factors, and size hasn’t impact on the quality of financial reporting.
272212495F1A011054POLIGAMI DALAM PENAFSIRAN ORGANISASI PEREMPUAN BERBASIS ISLAM
DI PURWOKERTO
Isu poligami menimbulkan pro kontra dalam masyarakat. Oleh karena itu muncul berbagai pendapat tentang poligami. Ada yang mengatakan poligami boleh secara mutlak, ada pula yang mengatakan poligami boleh dilakukan dengan syarat, dan ada yang mengatakan poligami haram dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penafsiran dan landasan organisasi Aisyiyah, Muslimat, PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) dan WI (Wanita Islam) tentang poligami. Metodologi penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Teknik penentuan sasaran penelitian adalah purposive sampling. Model analisis yang digunakan adalah analisis interaktif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa poligami menurut organisasi perempuan boleh dengan syarat utama adil. Syarat lainnya yaitu, mampu secara ekonomi dan memiliki mampu bertanggung jawab. Tujuan poligami adalah untuk mengangkat derajat dan memberdayakan kaum perempuan. Beberapa alasan seorang suami melakukan poligami adalah nafsu, istri mengalami cacat badan yang tidak bisa disembuhkan, dan suami merasa mempunyai materi berlebih. Dalam Islam seorang suami yang ingin menikah lagi tidak perlu izin dari istri. Tetapi perihal izin diatur dalam Undang-Undang, sehingga untuk menghormati istri maka suami harus mendapatkan izin dari istri. Terdapat ketidakadilan dalam perkawinan poligami. Istri mendapatkan perlakuan tidak adil karena kerap kali dirugikan. Kerugian yang didapat dari segi materi dan perasaan. Ada pula yang menafsirkan bahwa dalam perkawinan poligami tidak ada pihak yang dirugikan. Selama poligaminya benar maka hal-hal negatif tidak akan terjadi. Landasan yang digunakan untuk menjelaskan poligami ada dua yaitu, Al-Qur'an surat Annisa ayat 3, 129 dan Undang-Undang Perkawinan Tahun 1974. Poligami boleh dilakukan jika lebih banyak mendatangkan manfaat daripada madhorot. Polygamy raises the issue of the pros and cons in the community. Therefore, it appears various opinions about polygamy. Some say polygamy should be absolute, others say polygamy should be done with the condition, and some say polygamy is forbidden to do. The purpose of this study was to determine the interpretation and grounding Aisyiyah organizations, Muslimat, PITI (Chinese Islamic Association of Indonesia) and WI (Women Islam) about polygamy. The research methodology was qualitative descriptive. Techniques targeting research is purposive sampling. The analysis model is interactive analysis. Results from this study indicate that polygamy according to women's organizations should be the main condition is fair. Other requirements are, are economically and has able to be responsible. Polygamy goal is to uplift and empower women. Some of the reasons a polygamous husband is lust, wife suffered disability that can not be cured, and the husband was having excess material. In Islam a husband who wants to remarry do not need permission from the wife. But regarding the permit stipulated in the Law, so as to honor the wife of the husband must obtain permission from the wife. There is injustice in polygamous marriages. Wife getting unfair treatment because often harmed. Losses obtained in terms of material and feelings. There also interpret that in a polygamous marriage no injured party. During polygamy true then negative things will not happen. Foundation used to explain polygamy there are two, namely, Al-Qur'an letter Annisa verse 3, 129 and the Marriage Law of 1974. Polygamy may be made if more than madhorot bring benefits.
272312497B1J011020DIFERENSIAL LEUKOSIT IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy)
YANG DIBERI Chlorella vulgaris SECARA DISKONTINYU
Ikan gurami merupakan salah satu ikan yang bernilai ekonomi tinggi dan menjadi salah satu komoditas unggulan di berbagai daerah. Namun, ikan gurami memiliki pertumbuhan relatif lebih lambat dan rentan terhadap penyakit jika dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya. Pemberian Chlorella vulgaris yang berpotensi imunostimulan dan bernilai gizi tinggi dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh ikan. Harga pakan bagi hewan budidaya akuakultur cenderung terus mengalami kenaikan. Salah satu metode menurunkan biaya pakan adalah dengan pemberian pakan secara diskontinyu. Perubahan kondisi kesehatan ikan dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan jenis-jenis sel darah putih yang disebut diferensial leukosit.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh diferensial leukosit ikan gurami (Osphronemus gouramy) yang diberi Chlorella vulgaris secara diskontinyu dan mengetahui interval pemberian Chlorella vulgaris yang dapat meningkatkan diferensial leukosit terbaik. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan. Variabel yang diamati adalah variabel bebas dan variabel tergantung. Variabel bebas yaitu waktu pemberian Chlorella vulgaris secara diskontiyu dan variabel tergantung yaitu diferensial leukosit ikan gurami. Parameter yang diukur adalah limfosit (%), eosinofil (%), monosit (%) dan neutrofil (%). Perlakuan yang diujikan adalah A : ikan diberi Chlorella vulgaris setiap hari, B : ikan diberi Chlorella vulgaris selama 3 hari dan tidak diberi Chlorella vulgaris selama 7 hari, C : ikan diberi Chlorella vulgaris selama 5 hari dan tidak diberi Chlorella vulgaris selama 7 hari, D : ikan diberi Chlorella vulgaris selama 7 hari dan tidak diberi Chlorella vulgaris selama 7 hari. Pelakuan dicobakan selama 2,5 bulan, kontainer yang digunakan sebanyak 16 buah, dan setiap kontainer diisi 15 ekor ikan gurami. Masing-masing perlakuan ikan diberi pakan dasar dan pakan tambahan. Pakan dasar berupa pellet sebanyak 5 % setiap hari, pakan tambahan berupa Chlorella vulgaris sebanyak 20 ml diberikan secara diskontinyu. Pengambilan sampel darah dilakukan hari ke-14, 28, 42, 56, 70 pada masing-masing unit perlakuan. Preparat apus darah digunakan untuk pengamatan diferensial leukosit. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan analisis variansi (ANOVA) pada tingkat kesalahan 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata persentase tertinggi pada limfosit yaitu perlakuan D (97.5 %), monosit pada perlakuan B (7 %), neutrofil pada perlakuan D (18.25 %), dan eosinofil pada perlakuan B (1.75 %). Persentase limfosit, monosit, neutrofil dan eosinofil ikan gurami (Osphronemus gouramy) mengalami peningkatan setelah diberi Chlorella vulgaris secara diskontinyu dan diferensial leukosit terbaik ditunjukkan dengan interval pemberian 3 hari diberi Chlorella vulgaris dan 7 hari tidak diberi Chlorella vulgaris.
Giant Gourami is one of freshwater fish with high economic value and become leading commodity in various regions. Unfortunately, Giant Gourami has slower growth and fragile to get illness than other freshwater fish. Giving immunostimulatory and high nutrition feed can increase immunity system of fish. Cost of animal aquaculture cultivation feed tends to increase. One of method to lowering the feed cost is discontinuously feed. Changing of fish health condition can determined by examining the types of white blood cells which is called leukocyte differential.
The aims of this research are to know influence difference between treatments toward gourami (Osphronemus gouramy) leukocyte differential that discontinuously feed and to know interval Chlorella vulgaris giving that can increases the best leukocyte differential. This research method is experimental method using completely randomized design (RAL) with 4 treatments and repeated 4 times. Observed variables are independent and dependent variable. Independent variable is time of Chlorella vulgaris that gives discontinuously, whereas dependent variable is leukocyte differential. Measured parameters are percentages of lymphocyte (%), eosinophil (%), monocyte (%) and neutrophil (%. Tested treatments are; A. Fish fed with Chlorella vulgaris everyday, B. Fish fed with Chlorella vulgaris for 3 days and not given Chlorella vulgaris for 7 days, C. Fish fed with Chlorella vulgaris for 5 days and not given Chlorella vulgaris for 7 days, D. Fish fed with Chlorella vulgaris for 7 days and not given Chlorella vulgaris for 7 days. Fish treated for 2.5 months, using 16 containers and each container was filled with 15 fish. Each treatments were gave basic and additional feed. Basic feed is 5% of pellets that gives every day, additional feed is 20 ml of Chlorella vulgaris that gives discontinuously. Blood sample was taken on day 14, 28, 42, 56, 70 from each unit treatment. Blood smears are used for leukocyte differential observation. Data analysis using ANOVA with 5% error rate.
The result shows the highest average percentage of lymphocyte was treatment D (97.5 %), monocyte in treatment B (7 %), neutrophil in treatment D (18.25 %), eosinophil in treatment B (1.75 %). The percentage of lymphocyte, monocyte, neutrophil, eosinophil in giant gorami can increase after given Chlorella vulgaris discontinuously and the best percentage of leukocyte differential showed in fish fed with Chlorella vulgaris for 3 days and not given Chlorella vulgaris for 7 days
272412498B1J011140PROFIL DARAH IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) YANG DIBERI Spirulina platensis SECARA DISKONTINYUBudidaya ikan merupakan usaha yang terus mengalami perkembangan seiring dengan meningkatnya hasil produksi ikan disertai naiknya tingkat konsumsi ikan di masyarakat. Ikan gurami (O.gouramy) merupakan ikan budidaya dengan nilai ekonomis yang tinggi. Permasalahan yang sering timbul dalam budidaya ikan gurami adalah laju pertumbuhan ikan gurami yang lambat dan ikan gurami tersebut mudah terserang penyakit. Spirulina platenis diduga dapat membantu sistem imun dalam melawan penyakit sehingga sering dijadikan sebagai pakan tambahan untuk ikan. Ikan yang terserang penyakit terjadi perubahan pada nilai hematokrit, kadar hemoglobin, jumlah eritrosit dan jumlah leukosit. Profil darah pada ikan merupakan kriteria penting untuk diagnosis dan penentuan kesehatan ikan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perbedaan pengaruh antar perlakuan pada profil darah ikan gurami (O. gouramy) yang diberi S. platensis secara diskontinyu dan untuk mengetahui interval pemberian S.platensis yang terbaik terhadap profil darah ikan gurami. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fisiologi Hewan Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan, sehingga terdapat 16 unit percobaan. Perlakuan yang diberikan adalah A: S. platensis diberi setiap hari (kontinyu), B : S. platensis diberikan selama 3 hari kemudian tidak diberi selama 7 hari, C : S. platensis diberikan selama 5 hari kemudian tidak diberi selama 7 hari, D: S.platensis diberikan selama 7 hari kemudian tidak diberi selama 7 hari. Variabel bebas adalah waktu pemberian S. platensis secara diskontinyu dan variabel terikat adalah profil darah ikan. Parameter yang diamati adalah jumlah eritrosit (sel/mm3), kadar hemoglobin (g/dL), jumlah leukosit (sel/mm3), dan nilai hematokrit (%) darah ikan gurami (O.gouramy). Penghitungan jumlah eritrosit, jumlah leukosit, kadar hemoglobin, dan nilai hematokrit ikan gurami dilakukan pada hari ke-14, 28, 42, 56, dan 70. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA pada tingkat kesalahan 5%. Hasil yang diperoleh adalah jumlah eritrosit tertinggi (2,20x106 sel/mm3) pada perlakuan A, jumlah leukosit tertinggi (1,15x105 sel/mm3) pada perlakuan A, kadar hemoglobin tertinggi (7,52 g/dL) pada perlakuan A, dan nilai hematokrit tertinggi (28,5%) pada perlakuan A. Jumlah eritrosit, jumlah leukosit, kadar hemoglobin, dan nilai hematokrit ikan gurami meningkat setelah diberikan S.platensis dan nilai terbaik ditunjukkan pada perlakuan A dengan interval pemberian S.platensis setiap hari.

Fish culture is a business that constantly developing with the increase of fish production result accompanied by the increase in the level of fish consumption in the community. Giant gourami is a cultural fish that has high economic values. Problems in the giant gouramy culture are it has slow growth rate and susceptible to disease. Spirulina platenis could be expected to help the immune system to fight the disease that is often used as additional feed for fish . In the sickness fish, there is a change in the value of hematocrit, hemoglobin concentration, erythrocyte, and leukocyte counts. Blood profile in fish is an important criteria for the diagnosis and determine the health of fish. The aims of this research were to determined the blood profile of giant gouramy that given S.platensis in discontinuous and to determined the best interval of S.platensis administration.
This research was conducted at the Laboratory of Animal Physiology Faculty of Biology University of Jenderal Soedirman, Purwokerto, the research was used experimental method with Completely Randomized Design (CRD), which consists of 4 treatments and repeated 4 times , so that there are 16 units experimental trials. The treatments given are A: S.platensis were given every day (continuous) , B: S. platensis was given for 3 days and then wasn’t given for 7 days, C: S. platensis was given for 5 days then wasn’t given for 7 days , D: S.platensis was given for 7 days and then wasn’t given for 7 days. The independent variable is the timing of S. platensis administration in discontinuous and the dependent variable is the blood profile of giant gouramy. Parameters measured were the number of erythrocytes (cells/mm3), hemoglobin (g/dL), the number of leukocyte (cells/mm3), and hematocrit values (%) of giant gourami blood. Calculation of the number of erythrocyte, leukocyte, hemoglobin concentration, and hematocrit values of giant gourami conducted on day-14, 28, 42, 56, and 70. Data were analyzed by ANOVA at an error rate of 5 % .The results showed that the highest number of erythrocyte (2,20x106 cell/mm3) is on treatment A, the highest number of leukocyte (1,15x105 cell/mm3) is on treatment A, the highest level of hemoglobin (7,52 g/dL) is on treatment A, and the highest value of hematocrit (28,5%) is on treatment A. The administration of S.platensis provide the highest value for each parameter on the treatment A which given S.platensis everyday.
272512513D0A012038KEGIATAN PERUSAHAAN PEMBIBITAN AYAM PERIODE PRODUKSI DI PT JAPFA MULTIBREEDER ADIRAMA INDONESIA Tbk. UNIT DARANGDAN II DESA NEGLASARI KECAMATAN DARANGDAN KABUPATEN PURWAKARTA PROVINSI JAWA BARAKerja praktik tentang kegiatan usaha pembibitan ayam periode produksi umur 41-44 minggu dilaksanakan selama 30 hari, yakni tanggal 19 Januari sampai dengan 17 Februari 2015. Kerja praktik bertempat di perusahaan pembibitan ayam parent stock PT. Japfa Multibreeder Adirama Indonesia Unit Darangdan II di Desa Neglasari, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat.
Materi yang digunakan adalah ayam parent stock yang berasal dari keturunan grand parent stock dengan strain Lohman Indian River dan akan menghasilkan telur ayam final stock pedaging. Total populasi saat pelaksanaan kerja praktik sebanyak 159.320 ekor. Kegiatan kerja praktik yang dilakukan meliputi pembersihan kandang, pemberian pakan dan air minum, koleksi telur, grading telur, penimbangan bobot badan, grading ayam jantan, dan seleksi ayam jantan dan betina. Adapun kegiatan penunjang yang dilakukan antara lain pengamatan kandang, sweeping, diskusi dengan supervisor, HRD, dan manajer, yasinan setiap malam jum’at dan makan bersama dengan seluruh staff perusahaan.
Biosecurity dilakukan rutin setiap akan memasuki area farm terhadap karyawan, kendaraan, barang bawaan dan lingkungan sekitar. Program biosecurity sangat ketat dilakukan karena untuk mencegah terjadinya wabah penyakit serta untuk menghindari kerugian pada perusahaan apabila ayam tersebut terjangkit penyakit yang menyebabkan kematian pada ayam.
Pakan yang diberikan adalah pakan jadi berbentuk crumble yang sudah diracik sedemikian rupa yang dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi dengan kode PAR-L1 untuk ayam betina dan PAR-Jantan untuk ayam jantan. Tempat pakan yang digunakan untuk ayam jantan berupa feeder trough dan pan kabel sedangkan untuk ayam betina yaitu automatic feeder trough. Hanging feeder digunakan untuk menambah kekurangan tempat pakan yang berada di dalam kandang. Air minum disuplai dari dua buah tangki yang dialirkan menggunakan pipa kedalam kandang dengan kapasitas tangki masing-masing 500 liter air dan diberikan secara adlibitum. Jenis tempat minum berupa nipple (zigyti, roxell dan, valv ).
Areal kandang di PT. Japfa Multibreeder Adirama Unit Darangdan II mempunyai luas 33.000 m2 dengan jumlah kandang 28 unit yang terbagi kedalam enam flock. Kandang tersebut memiliki sistem close house. Luas rata-rata kandang yaitu 72 x 12 m = 864 m2 untuk kapasitas 5000 ekor dengan model atap tipe monitor. Kandang berukuran 120 x 12 m = 1440 m2 dapat menampung 8000 ekor ayam dan memiliki model atap tipe “A” (gable). Lantai kandang menggunakan sistem litter, terbuat dari semen yang dilapisi serutan gergaji pohon pinus dan lantai slat terbuat dari plastik.
Produksi telur pada minggu ke 41-44 tanggal 19 Januari 2015 adalah 112.356 butir dari populasi 159.320 ekor, hal ini menunjukkan bahwa sistem manajemen pemeliharan yang diterapkan di PT Japfa Multibreeder Adirama Indonesia Unit Darangdan II sudah sangat baik hingga melebihi produksi telur rata-rata sekitar 1-2%.
Practical work on chicken breeding business activities of the production period of 41-44 weeks of age was conducted over 30 days, ie January 19 until February 17, 2015. practical work is housed in the chicken parent stock breeding company PT. Japfa Multibreeder Indonesia Darangdan Unit II in Neglasari, District Darangdan, Purwakarta, West Java Province.
The material used is chicken parent stock derived from the descendants of grand parent stock strains Lohman Indian River and will produce a final stock broiler chicken eggs. Total population during the implementation of practical work as many as 159 320 head. Practical work activities undertaken include cleaning cages, feeding and drinking water, collection of eggs, egg grading, weighing body weight, grading rooster, and a selection of male and female chicken. The support activities undertaken include the observation cages, sweeping, discussions with supervisors, HR, and managers, yasinan every Friday evening and ate together with the entire staff of the company.
Biosecurity done routinely every farm will enter the area of ​​employees, vehicles, luggage and the surrounding environment. The program is very strict biosecurity done because in order to prevent the occurrence of disease outbreaks as well as to avoid harm to the company if the chickens are infected with diseases that cause death in chickens.
The feed is so shaped crumble feed already formulated in such a way that can help meet the basic needs of life and production with PAR-L1 code for hen and PAR-Males for rooster. The feed used for the roosters in the form of a trough and pan feeder cables while the hen is automatic feeder trough. Hanging feeders are used to supplement a shortage of feed inside the cage. Drinking water is supplied from two tanks which flowed through pipes into the cage with a tank capacity of 500 liters each of water and given adlibitum. The kind of place to drink in the form of nipple (zigyti, roxell and, valv).
The area of ​​the enclosure in PT. Japfa Multibreeder Darangdan Unit II has an area of ​​33,000 m2 with 28 units the number of cages were divided into six flock. The cage has a closed house system. The average size of the enclosure is 72 x 12 m = 864 m2 to 5000 head capacity model type roof monitor. Enclosure measuring 120 x 12 m = 1440 m2 can accommodate 8,000 chickens and have a roof model type "A" (gable). Cage floor system using litter, made of cement-covered pine shavings saws and slat floor is made of plastic.
Egg production at week 41-44 dated January 19, 2015 is 112 356 159 320 grains of the population of the tail, it indicates that the maintenance management system applied in Indonesia PT Japfa Multibreeder Darangdan Unit II has been very good to exceed the average egg production of about 1 -2%.
272612499B1J010159KAJIAN PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH CENDAWAN PADA TANAMAN BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.) DI DESA SIKAPAT KECAMATAN SUMBANG
KABUPATEN BANYUMAS
Tanaman buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan tanaman semusim yang berbentuk perdu. Kacang buncis merupakan salah satu sayuran kelompok kacang – kacangan yang digemari masyarakat karena merupakan salah satu sumber protein nabati dan kaya vitamin A, B dan C. Kacang buncis mempunyai potensi ekonomi yang sangat baik, peluang pasarnya cukup luas, yaitu untuk sasaran pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri (ekspor). Sentra pertanaman buncis di Kabupaten Banyumas terdapat di beberapa Kecamatan, diantaranya adalah di Kecamatan Sumbang tepatnya di Desa Sikapat. Produksi buncis di Desa Sikapat Kecamatan Sumbang pada tahun 2012 hingga 2013 mengalami penurunan dari 144 menjadi 105 kw, salah satunya disebabkan oleh cendawan. Hingga saat ini petani buncis di Desa Sikapat belum banyak memiliki informasi mengenai jenis-jenis penyakit yang disebabkan oleh cendawan pada tanaman buncis. Sehubungan dengan hal tersebut perlu dikaji mengenai penyakit yang disebabkan oleh cendawan pada tanaman buncis di Desa Sikapat Kecamatan Sumbang.
Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis-jenis penyakit yang disebabkan oleh cendawan pada tanaman buncis, mengetahui cedawan penyebab penyakit pada tanaman buncis, mengetahui jenis penyakit yang disebabkan oleh cendawan yang paling banyak muncul pada tanaman buncis dan mengetahui besarnya persentase penyakit yang disebabkan oleh cendawan pada tanaman buncis. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Simple Random Sampling pada tiga lokasi yang berbeda di Desa Sikapat Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Jenis- jenis penyakit pada tiap lokasi yang ditemukan dideskripsikan berdasarkan tanda dan gejala yang terlihat pada bagian tanaman dengan menggunakan buku: “Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura Di Indonesia”, “Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Tumbuhan” dan “Ilmu Penyakit Tumbuhan”, dilanjutkan dengan menghitung frekuensi kemunculan dan persentase penyakitnya. Sampel tanaman yang terserang cendawan patogen kemudian diisolasi dan diidentifikasi dengan menggunakan buku “Illustrated Genera of Imperfect Fungi”dan “Illustrated Genera of Rust Fungi”.
Hasil penelitian diperoleh dua jenis penyakit pada tanaman buncis yaitu penyakit karat daun yang disebabkan oleh cendawan Uromyces sp. dan penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Cercospora sp. Penyakit yang paling banyak muncul adalah penyakit bercak daun yaitu 316 kali, sedangkan kemunculan penyakit karat daun 210 kali. Persentase penyakit bercak daun sebesar 84,26% dan persentase penyakit karat daun sebesar 56%.

Kata kunci : Persentase penyakit, penyakit, buncis
Bean plant (Phaseolus vulgaris L.) is an annual plant that is shaped shrubs. Green beans is one nut vegetable group that are popular in public because it is a source of vegetable protein and rich vitamins A, B and C. Green beans have excellent economic potential, the market opportunity is quite broad, that is to target the domestic market and foreign market (export). Planting centers of green bean in Banyumas contained in several districts, which are in Sumbang Sub-district precisely in the Sikapat village. Production of green beans in the Sikapat village of the Sumbang Sub-district in 2012 and 2013 decreased from 144 to 105 kw, one of which is caused by the fungus. Until now, green bean farmers in the Sikapat village has not been much information about the kinds of diseases caused by fungi in bean plants. Relative to the need to be assessed on a disease caused by the fungus on green bean plants in the Sikapat village of the Sumbang Sub-district.
This study intend to determine the types of diseases caused by fungi in green bean plants, knowing fungi cause disease in green bean plants, knowing the type of disease caused by the fungus most widely appear on green bean plants and determine the percentage of disease caused by the fungus on green bean plants. This research was conducted by using Simple Random Sampling at three different locations in the Sikapat village, Sumbang Sub-district, Banyumas district. The types of disease in each location were found to be described by the signs and symptoms seen in parts of the plant by using the book: “Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura Di Indonesia”, “Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Tumbuhan” and “Ilmu Penyakit Tumbuhan”, followed by calculate the percentage frequency of occurrence and disease. Samples of the affected plants later in the isolation of pathogenic fungi and identified by using the book "Illustrated Genera of Imperfect Fungi" and "Illustrated Genera of Rust Fungi".
The results were obtained two types of diseases in bean plants are leaf rust disease caused by the fungus Uromyces sp. and leaf spot disease caused by Cercospora sp. Most disease arises is leaf spot disease that is 316 times, while the emergence of leaf rust disease 210 times. The percentage of leaf spot disease of 84.26%, and leaf rust disease 56%.

Keywords: Percentage of disease, disease, green bean
272712500C1C011082ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN PEMBAYARAN PAJAK WAJIB PAJAK UMKM SETELAH PENERAPAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 DI WILAYAH KOTA PURWOKERTOPenelitian bertujuan untuk menguji pengaruh tingkat pendidikan, jumlah omzet, dan persepsi keadilan pajak terhadap kepatuhan pembayaran pajak setelah penerapan PP No 46 Tahun 2013.
Hipotesis yang diajukan tingkat pendidikan wajib pajak berpengaruh positif terhadap tingkat kepatuhan pajak, jumlah omzet yang didapatkan wajib pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan pembayaran pajak, dan persepsi keadilan pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan pembayaran pajak. Penelitian ini merupakan penelitian pengujian hipoteses yang menggunakan metode survey.
Populasi yang diteliti adalah wajib pajak golongan UMKM yang terdaftar di KPP Pratama Purwokerto. Untuk menentukan sampel digunakan tehnik purposive sampling yang didasarkan pada beberapa kriteria. Hasil purposive sampling diperoleh 94 responden sebagai sampel. Selanjutnya data yang sudah diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linear berganda.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data diperoleh kesimpulan tingkat pendidikan berpengaruh negatif terhadap kepatuhan pembayaran pajak, jumlah omzet berpengaruh positif terhadap kepatuhan pembayaran pajak dan persepsi keadilan pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan pembayaran pajak.
The purpose of this research is to examine the influence of educational level, the amount of turnover’s taxpayers, and the perception of tax fairness towards the tax payment compliances after an implementation of Government Regulation No. 46 Year 2013.
The hypothesis was taxpayers level of education had positive influence to the level of tax compliances, the amount of turnover’s taxpayers had positiveinfluence to the level of tax compliances, and the perception of tax fairness had positive influence to the level of tax compliance. This research’s hipoteses were examined by survey method.
The populations who were researched are the taxpayers which included to Small Medium Enterprises (SMEs) which were registered in Tax Service Office Pratama Purwokerto. The samples were determined by purposive sampling technique which is based on several criterias. The result of purposive sampling obtained 94 respondents as the samples. Then, the data analyzed by multiple linear regression analysis.
Based on the research and data analysis, the education level has negative influence to the tax payments compliances, the amount of turnover has positiveinfluence to the compliance of tax payments and the tax fairness perception has positive influenceto the compliance of tax payments.
272812501F1D011004GENOSIDA DAN KONFLIK ANTAR-ETNIS DALAM FILM "HOTEL RWANDA": Representasi Pemberontakan Suku Hutu untuk Menaklukkan Suku Tutsi dalam Perebutan Kekuasaan di Kigali-Rwanda Tahun 1994ABSTRAK
Artikel hasil penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mendeskripsikan dan memahami genosida dan konflik antaretnis dalam film “Hotel Rwanda”. 2) Memahami genosida dan konflik antaretnis dalam film “Hotel Rwanda” sebagai representasi pemberontakan Suku Hutu untuk menaklukkan Suku Tutsi dalam perebutan kekuasaan di Kigali-Rwanda tahun 1994 serta menguraikannya. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan semiotika dalam bingkai perspektif pascastruktural dan paradigma dekonstruksionisme, hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa genosida dan konflik antaretnis dalam film “Hotel Rwanda” dapat ditelusuri melalui film, seperti yang terdapat dalam film “Hotel Rwanda” karya Terry George. Selain itu, hasil penelitian tersebut juga membuktikan bahwa genosida dan konflik antaretnis dalam film “Hotel Rwanda” merepresentasikan pemberontakan Suku Hutu untuk menaklukkan Suku Tutsi dalam perebutan kekuasaan di Kigali-Rwanda tahun 1994. Melalui adegan pilihan yang menjadi sasaran dalam penelitian tersebut, maka konflik antaretnis yang terjadi menimbulkan pemberontakan dari Suku Hutu untuk menaklukkan suku Tutsi dalam perebutan kekuasaan di Kigali-Rwanda tahun 1994, telah meletus menjadi sebuah genosida atau pembantaian etnis secara besar-besaran. Adapun salah satu etnis yang menjadi korban pembantaian besar-besaran tahun 1994 yang dilakukan oleh kelompok Hutu yang tergabung dalam pasukan Interahamwe adalah kelompok Suku Tutsi yang dianggap telah berkhianat kepada Hutu, karena telah bekerja sama dengan Belgia dalam proses kolonisasi Rwanda di masa pendudukan kolonial Belgia tahun 1916-1962 silam. Genosida dan konflik antaretnis tahun 1994 yang terdapat dalam film “Hotel Rwanda”, merupakan bukti kegagalan sebuah negara yang tidak berhasil dalam menerapkan pelaksanaan multikulturalisme sebagai ideologi yang memiliki tujuan untuk menghapuskan ketidaksetaraan yang dialami oleh kelompok-kelompok kultural minoritas dalam masyarakat modern.
ABSTRACT

This research-based paper aims at 1) to describe and understand the genocide and inter-ethnic conflict in the film "Hotel Rwanda". 2) Understanding the genocide and inter-ethnic conflict in the film "Hotel Rwanda" as a representation of the Hutu tribe uprising to conquer the Tutsi tribe in the struggle for power in Kigali-Rwanda in 1994 and decompose. By using a qualitative method and approach in the framework of the semiotic perspective and the post-structural perspective frame and paradigm deconstructionism, the result of the research reveals that genocide and ethnic conflict in the film "Hotel Rwanda" can be traced through the film, as found in the movie "Hotel Rwanda" by Terry George. In addition, the study results also prove that the genocide and inter-ethnic conflict in the film "Hotel Rwanda" represents rebellion Hutu tribe to conquer the Tutsi tribe in the struggle for power in Kigali-Rwanda in 1994. Through the selection of scenes that were targeted in the study, the inter-ethnic conflict which occurs raises rebellion of Hutu tribe to conquer the Tutsi tribe in the struggle for power in Kigali-Rwanda in 1994, has erupted into a genocide or ethnic massacres on a large scale. As one of the ethnic groups became victims of large-scale massacres in 1994 were carried out by groups that are members of the Hutu Interahamwe forces are a group of Tutsi tribe were considered to have betrayed the Hutu, because it has teamed up with Belgium in the process of colonization of Rwanda in the past year colonial occupation Belgium 1916-1962 ago. Genocide and ethnic conflict in 1994 contained in the film "Hotel Rwanda", is a testament to the failure of a country that does not succeed in implementing the implementation of multiculturalism as an ideology which has the aim to eliminate inequalities experienced by minority cultural groups in modern society.
272912503F1D010015POLITIK PELAYANAN PUBLIK DALAM IMPLEMENTASI PROGRAM PELAYANAN KARTU BANYUMAS SEHAT TAHUN 2013 DI KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini berjudul Politik Pelayanan Publik dalam Implementasi Program Pelayanan Kartu Banyumas Sehat Tahun 2013 di Kabupaten Banyumas. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami bagaimana politik pelayanan publik dalam implementasi dari Kartu Banyumas Sehat di Kabupaten Banyumas, dan mengetahui siapa sajakah aktor dominan yang terlibat serta bagaimana relasi aktornya dalam proses pelayanan program Kartu Banyumas Sehat tahun 2013 di Kabupaten Banyumas.
Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Data dianalisis menggunakan metode analisis model interaktif Miles dan Huberman. Dalam penelitian ini digunakan teknik triangulasi data untuk menjamin validitas data.
Program Kartu Banyumas Sehat merupakan program milik pemerintahan Kabupaten Banyumas yang didasarkan pada visi dan misi kampanye bupati dan wakil bupati terpilih Ir. H. Ahmad Husein dan Dr. Budhi Setiawan. Perda Kartu Banyumas ini kemudian terdapat pada Perda Kabupaten Banyumas No. 14 dan 22 Tahun 2013. Pada proses politik dalam implementasi kebijakan Publik Kartu Banyumas Sehat terlihat bahwa Kartu Banyumas Sehat dilaksanakan cukup baik dan merata. Pemerintah Kabupaten Banyumas mencoba bekerjasama dengan beberapa stakeholder dalam pelaksanaan teknis pendataan, pemberian KBS, pelayanan pasien hingga pencaiuran dana. Besarnya anggaran Kartu Banyumas Sehat yang mencapai 27 miliar membuat postur anggaran APBD menjadi tidak sehat dan berindikasi dapat membebani APBD. Aktor yang diuntungkan dalam implementasi Kartu Banyumas Sehat (KBS) tahun 2013 di Kabupaten Banyumas adalah Kepala Daerah (Husain-Budhi) karena terlaksananya janji kampanye, terjaminnya kesehatan masyarakat, meningkatnya nilai popularitas. Sedangkan aktor yang dirugikan dalam implementasi program pelayanan kartu banyumas sehat (KBS) di Kabupaten Banyumas adalah fasilitator, karena belum lancarnya prosedur klaim, kesulitan biaya operasional karena harus di bayarkan setelah keseluruhan proses selesai dan bertambahnya minat masyarakat dalam mengakses kesehatan, membuat lonjakan pasien diluar kesanggupan fasilitas. Oleh karena itu hal ini perlu dievaluasi kembali mengenai KBS.
This study, entitled Politics of Public Service in the implementation of Banyumas Health Card Services Program in 2013 in Banyumas. The purpose of this research is to know and understand how the politics of public service in the implementation of Banyumas Health Card in Banyumas, and find out who are the dominant actors involved and how the relationship of the actors in the service process Banyumas Health Card program in 2013 in Banyumas.
The method used is descriptive qualitative case study approach. Data obtained from the results of observations, interviews, and documentation study. Data were analyzed using analysis of Miles and Huberman interactive model. This study used data triangulation techniques to ensure data validity.
Banyumas Health Card Program is a government-owned program Banyumas which is based on the vision and mission of the campaign regent and deputy regent elected Ir. H. Ahmad Hussein and Dr. Budhi Setiawan. Banyumas card regulation is then contained in Regulation Banyumas No. 14 and 22, 2013. At the political process in the implementation of public policies Banyumas Health Card shows that the Banyumas Health Card executed quite well and evenly. Banyumas regency governments try to work with multiple stakeholders in the technical implementation of data collection, provision of KBS, patient care until pencaiuran funds. The amount of budget Banyumas Health Card, which reached 27 billion budget make budget posture becomes unhealthy and indications could weigh on the budget. The actor, who benefited in the implementation of Banyumas Health Card (KBS) in 2013 in Banyumas is the Regional Head (Husain-Budhi) due to the implementation of campaign promises, ensuring public health, the increasing popularity score. While the actors were harmed in the implementation of card services Banyumas healthy (KBS) in Banyumas is a facilitator, as it has not been smooth claims procedures, difficulties operating costs due shall be paid once the entire process is completed and the increasing public interest in access to health, create a surge of patients outside readiness facilities. Therefore it needs to be re-evaluated on KBS.

273012504C1A011024EVALUASI PENYALURAN KREDIT USAHA RAKYAT PADA BANK RAKYAT INDONESIA UNIT PURWOKERTO SELATAN DI KECAMATAN PURWOKERTO SELATANPenelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode survei. Penelitian ini mengambil judul: “Evaluasi Penyaluran Kredit Usaha Rakyat Pada Bank Rakyat Indonesia Di Kecamatan Purwokerto Selatan”. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan modal, produksi, keuntungan, asset, omzet, dan tenaga kerja pada usaha mikro di Kecamatan Purwokerto Selatan antara sebelum dan sesudah menerima Kredit Usaha Rakyat dari Bank Rakyat Indonesia Unit Purwokerto Selatan. Obyek penelitian ini adalah usaha mikro di Kecamatan Purwokerto Selatan yang menjadi debitur Kredit Usaha Rakyat Mikro pada Bank Rakyat Indonesia unit Purwokerto Selatan sampai dengan tahun 2014 dan mengangsur kredit secara lancar atau membayar angsuran tepat pada waktu yang ditentukan dengan jumlah responden adalah 62 orang. Keenam variabel tersebut akan diuji dengan alat analisis uji pangkat tanda wilcoxon untuk melihat perbedaan antara sebelum dan sesudah menerima Kredit Usaha Rakyat dari Bank Rakyat Indonesia Unit Purwokerto Selatan.
Berdasarkan hasil uji pangkat tanda wilcoxon dapat diperoleh hasil pada variabel modal didapatkan nilai p sebesar 0,000 (0,000<0,05) yang berarti terjadi peningkatan secara signifikan sesudah menerima KUR sebesar 16,46 persen, pada variabel produksi didapatkan nilai p sebesar 0,000 (0,000<0,05) yang berarti terjadi peningkatan secara signifikan sesudah menerima KUR sebesar 14,94 persen, pada variabel keuntungan terdapat nilai p sebesar 0,000 (0,000<0,05) yang berarti bahwa terjadi peningkatan secara signifikan sesudah menerima KUR sebesar 25,15 persen, untuk variabel asset terdapat nilai p sebesar 0,000 (0,000<0,05) yang artinya terjadi peningkatan secara signifikan sesudah menerima KUR, peningkatan yang terjadi sebesar 44,32 persen, pada variabel omzet didapatkan nilai p sebesar 0,000 (0,000<0,05) yang berarti terjadi peningkatan secara signifikan sesudah menerima KUR sebesar 19,11 persen. Sedangkan pada variabel tenaga kerja terdapat nilai p sebesar 0,157 (0,000<0,05) terjadi peningkatan sebesar 2,30 persen yang artinya tidak ada perbedaan antara jumlah tenaga kerja sebelum dan sesudah menerima KUR.
Implikasi dari kesimpulan di atas yaitu pengaruh positif dari Kredit Usaha Rakyat terhadap peningkatan modal, produksi, keuntungan, asset, dan omzet usaha mikro, maka keberadaan Kredit Usaha Rakyat sangat membantu pengembangan usaha mikro. Untuk dapat meningkatkan program bantuan Kredit Usaha Rakyat sebaiknya pemerintah tetap menjalankan program tersebut. Akan tetapi, dilakukan pendataan ulang untuk usaha mikro yang akan menerima ataupun sudah menerima Kredit Usaha Rakyat agar tidak terjadi penyalahgunaan manfaat dan tujuan diberikannya Kredit Usaha Rakyat. Meningkatnya variabel modal, produksi, keuntungan, asset, dan omzet usaha mikro setelah mendapatkan Kredit Usaha Rakyat diharapkan tetap dipertahankan sampai dengan usaha mikro tersebut mampu berkembang tanpa bantuan Kredit Usaha Rakyat maupun lembaga-lembaga keuangan lainnya. Serta perlu adanya peningkatan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bantuan modal usaha Kredit Usaha Rakyat guna merangsang masyarakat agar membuka usaha baru yang produktif serta membuka lapangan pekerjaan baru dan melakukan penyuluhan dan pengarahan kepada masyarakat terutama para pengusaha mikro agar keberadaan Kredit Usaha Rakyat lebih dikenal dan dipahami oleh seluruh masyarakat, sehingga mampu merangsang masyarakat untuk membuka usaha dan menciptakan lapangan pekerjaannya sendiri guna mengurangi angka pengangguran.
This research is a survey research methods. This research takes the title: "evaluation of Channeling people's business credit At Bank Rakyat Indonesia in district of PurwokertoSelatan". The purpose of this research was to determine whether there is a differenceof capital, production, profits, assets, omzets, and labor on micro enterprises in district of Purwokerto Selatan between before and after receiving the people's business credit from Bank Rakyat Indonesia Unit Purwokerto Selatan. The object of this research is the micro enterprises in district of Purwokerto Selatan who becamepeople's Micro business loan debtors at Bank Rakyat Indonesia unit South of Purwokerto until 2014 and credit pay smoothly or pay in installments right atthe specified time by the number of respondents was 62 people. These six variableswill be tested with the test analysis tool for viewing the wilcoxon sign rank difference between before and after receiving the people's business credit from Bank RakyatIndonesia Unit Purwokerto Selatan.
Based on the results of a test of wilcoxon sign rank can be obtained results in variable capital obtained value p of 0.000 (0.000 < 0.05) which means improved significantly after receiving KUR of 16,46 percent, at variable production obtained value p of 0.000 (0.000 < 0.05) which means improved significantly after receiving KUR of 14,94%, on the value of the p variables there are advantages of 0.000 (0.000 < 0.05) which means that there is increased significantly after receiving KUR of 25.15 percent There is, for assets variable value p of 0.000 (0.000 < 0.05) which means improved significantly after receiving KUR, an increase that occurred in the amount of 44,32 percent, on a omzets variable obtained p value of 0.000 (0.000 < 0.05) which means improved significantly after receiving KUR of 19,11 percent. While in labor, there is the value of the variable p of 0,157 (0.000 < 0.05) occur an increase of 2.30 percent, meaning there is no difference between the number of labor before and after receiving the KUR.
As implication of the conclution above, the positive influence of the business credit of the people against the capital raising, production, profits, assets, turnover and micro enterprise, then the existence of the people's business credit really help the development of micro enterprises. To be able to increase the people's business loan assistance program should keep the Government running that program. However, do logging for micro businesses that will receive or has received the people's business loan to keep it from happening to abuse the benefits and purposes gives Credit Business people. Increasing the variable capital, production, profits, assets, Omzets and micro business loan after getting the people expected retained up to micro enterprises that are able to thrive without the help of the people's business credit or other financial institutions. As well as the need for increased socialization to society about the venture capital business credit Help People in order to stimulate people to open new businesses productive and open new jobs and do counseling and direction to the community especially the micro-entrepreneurs in order to make the people's business credit's existence better known and understood by the whole community, so that it is able to stimulate the community to open up business and create field his work themselves in order to reduce unemployment.
273114279G1H011001FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN KEKURANGAN ENERGI KRONIK PADA WANITA HAMIL DI PUSKESMAS II BATURRADENKekurangan Energi Kronis merupakan salah satu dari empat masalah gizi utama di Indonesia. Kekurangan Energi Kronis adalah suatu kondisi kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dalam makanan sehari-hari yang berlangsung menahun sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi. Penelitian bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian Kekurangan Energi Kronis pada ibu hamil dipuskesmas II Baturaden. Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional dengan rancangan pendekatan cross sectional. Populasi adalah wanita hamil di Puskesmas II Baturaden dengan jumlah 465 wanita hamil . Sampel penelitian ini adalah wanita hamil trimester II dan trimester III. Teknik pengambilan sampel dengan purosive sampling dengan besar sampel 79 orang. Analisis data yang dilakukan adalah univariat dan bivariat dengan uji chi square. Hasil penelitian diperoleh bahwa ada hubungan antara tingkat asupan protein dengan Kekurangan Energi Kronis (p value = 0,004 < α=0,05). Tidak ada hubungan antara tingkat asupan energi dengan Kekurangan Energi Kronis (p value = 0,297 > α =0,05). Tidak ada hubungan antara penyakit infeksi dengan Kekurangan Energi Kronis (p value = 0,324 > α =0,05). Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan Kekurangan Energi Kronis (p value = 0,330> α =0,05). Kesimpulan dari penelitian ini bahwa ada hubungan antara tingkat asupan protein dengan Kekurangan Energi Kronik pada wanita hamil di Puskesmas II Baturaden. Saran dari penelitian ini adalah perlunya Membiasakan mengonsumsi menu seimbang dan menambah jumlah makanan yang dikomsumsi terutama sumber protein selama kehamilan untuk mencegah terjadinya kekurangan energi kronik.One of four major nutritional problem in Indonesia is Chronic Energy Deficiency. There is a condition of malnutrition due to low energy consumption in daily diet. The aims of research to determine the factors that influence in chronic energy deficiency of maternal at Puskesmas II Baturaden. This observational research with cross sectional design. The population is pregnant women at Puskesmas II Baturaden with the number of 465pregnant women. Samples taken by purposive sampling with 79 pregnant women were second trimester and third trimester. Analysis use univariate and bivariate with chi square test. The results of the study have a significant association between protein intake level with Chronic Energy Deficiency (p value = 0,004 <α = 0.05) and no significant association between the level of energy intake with Chronic Energy Deficiency (p value = 0.297> α = 0.05). There is no significant association between infection with Chronic Energy Deficiency (p value = 0.324> α = 0.05) . No significant association between knowledge with Chronic Energy Deficiency (p value = 0.330> α = 0.05). The conclusion from this study that there is a relationship between the level of protein intake with Chronic Energy Deficiency in pregnant women at the Puskesmas II Baturaden. Suggestions from this study is the need Familiarize eating a balanced diet and increase the amount of food consumed is mainly a source of protein during pregnancy to prevent the occurrence of chronic energy deficiency.
273212505C1K009052THE INFLUENCE OF RELIGIOSITY, SPIRITUALITY AND PERSONAL VALUES TOWARDS ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR (Empirical Study at PT. Bank Muamalat Indonesia (Tbk.) Branch of Purwokerto)Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh dari relijiusitas, spiritualitas dan nilai-nilai personal terhadap OCB pada PT. Bank Muamalat Indonesia (Tbk.) cabang Purwokerto. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan kuisioner sebagai metode untuk mengumpilkan data dan teknik simple random sampling. Regresi berganda adalah alat analisis data yang digunakan dengan program statistic IBM SPSS 16.0. Sempel dari penelitian ini adalah para karyawan dari PT. Bank Muamalat Indonesia (Tbk.) cabang Purwokerto dengan total 54 orang. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa ; (1) Relijiusitas dengan model kuadratik mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap nilai-nilai personal ; (2) Spiritualitas tidak mempunyai pengaruh positif terhadap nilai-nilai personal ; (3) Relijiusitas dengan model kuadratik mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap OCB ; (4) Spiritualitas mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap OCB ; (5) Nilai-nilai personal mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap OCB ; (6) Nilai-nilai personal memediasi hubungan antara religiusitas dan OCB dalam model kuadratik ; (7) Nilai-nilai personal tidak memediasi hubungan antara spiritualitas dan OCB. Implikasi dari penelitian ini menyarankan bahwa untuk dapat memberikan efek positif pada OCB organisasi harus dapat meningkatkan relijiusitas dan spiritualitas pada karyawan dengan tidak memisahkan dimensi kepercayaan dan dimensi ritual ibadah. Dan organisasi harus dapat menginternalisasikan nilai-nilai yang ada pada perusahaan kepada para karyawan.This study aims to analyze the effect of religiosity, spirituality and personal values towards OCB at PT. Bank Muamalat Indoneisa (Tbk.) branch of Purwokerto. This research uses survey method with questionnaires as collecting data method and simple random sampling technique. Multiple regression is the analysis data technique with IBM SPSS statistics 16.0 program. The sample of this study is employees at PT. Bank Muamalat Indonesia (Tbk.) branch of Purwokerto for about 54 people. The result of this study shows that :(1) Religiosity with quadratic model has positive and significant effect on personal values ; (2) Spirituality has no positive effect on personal values ; (3) Religiosity with quadratic model has positive and significant effect on OCB ; (4) Spirituality has significant and positive effect on OCB ; (5) Personal values has significant and positive effect on OCB ; (6) Personal values has mediation effect between religiosity quadratic model and OCB ; (7) Personal values has no mediation effect between spirituality and OCB. The implication suggests that to be able give a positive effect on OCB, organization should be able to increase the religiosity and spirituality of employees by not separating between the dimensions of belief and dimensions of worship practices. And organizations should be able to internalize the values that exist in the organization to employees.
273312506E1A111085PERBUATAN MELAWAN HUKUM KARENA PENGUASAAN RUMAH
TANPA HAK(Studi Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Surakarta Nomor:
89/Pdt.G/ 2010 /PN.Ska )
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “PERBUATAN MELAWAN HUKUM KARENA PENGUASAAN RUMAH TANPA HAK (Studi Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Surakarta No. 89/PDT.G/PN.Ska)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertimbangan Hakim dalam mengkualifisir unsur-unsur perbuatan melawan hukum dan mengkualifisir tuntutan akibat perbuatan melawan hukum dalam Putusan No. 89/Pdt.G/2010/PN.Ska.
Penelitian ini menggunakan metode pendekatan hukum secara yuridis normatif, dengan spesifikasi penelitian preskripstif. Dalam penelitian ini sumber data yang digunakan adalah data sekunder berupa Putusan Pengadilan Negeri Surakarta No. 89/PDT.G/PN.Ska, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman, Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1994 tentang Penghunian Rumah oleh Bukan Pemilik, undang-undang dan buku literatur yang berkaitan dengan permasalahan penelitian ini. Data yang diperoleh disajikan secara sistematis dan terperinci, dan analisis data dilakukan secara normatif.
Dalam hasil penelitian dapat diketahui bahwa perbuatan Tergugat berupa penguasaan rumah tanpa hak merupakan suatu perbuatan melawan hukum, karena telah memenuhi tiga unsur perbuatan melawan hukum yaitu bertentangan dengan hak orang lain, bertentangan dengan kewajiban hukum dan bertentangan dengan keharusan atau kepatutan. Hakim memutuskan mengenai tuntutan ganti rugi akibat perbuatan melawan hukum yaitu agar Tergugat yang menempati rumah tersebut segera mengosongkan dan mengembalikan tanah dan bangunan (rumah) dalam keadaan baik dan bersih, serta memerintahkan kepada Tergugat untuk membayar kekurangan biaya sewa sebesar Rp. 16.000.000,00 (enam belas juta rupiah).
ABSTRACT
The title of this thesis is “LAW BATTLE ACTION BECAUSE OF HOUSE CONTROL WITHOUT RIGHT (The Study to Country Court Verdict of Surakarta No. 89/PDT.G/PN.Ska)”. This Research is head for knowing the judge consideration in qualifying the elements of the law battle action and the claim as result of it in the Verdict No 89/Pdt.G/2010/PN.Ska.
This research uses law approach method in normative juridical manner with prescriptive research specification. In this research, the data resource which used is secondary data namely the country court verdict of Surakarta No. 89/PDT.G/PN/Ska. The law number 4 year 1992 about housing and settlement, government regulation number 44 year 1994 about house inhabitance by not owner, the law and literature book which related to this research problem. The data which gotten is systematically served and details, and data analysis is done in normative manner.
In this research result, it can be known that accused action such like house control without right is a law battle action, because it has complete the three elements of lat battle action that is in contradiction with the other people right, it is in contradiction with the law obligation and necessity. The judge decides about the claim of compensation aftermath of the law battle action in order to make the accused who is occupy that house presently vacate and return the land and building (house) in clean and good condition, also command the accused to pay the lack of the rent cost a number of Rp 16.000.000,00 (sixteen million rupiah)
273412568G1B011050HUBUNGAN KARAKTERISTIK, PELATIHAN DAN KETERAMPILAN KADER DENGAN PRESISI DAN AKURASI HASIL PENIMBANGAN BALITA DIWILAYAH PUSKESMAS PATIKRAJA KABUPATEN BANYUMASPemantauan pertumbuhan balita merupakan salah satu upaya penanggulangan gizi buruk yang dilakukan di posyandu melalui penimbangan. Hasil penimbangan yang diperoleh harus menghasilkan data yang tepat dan akurat agar tidak menyebabkan kesalahan dalam interpretasi status gizi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan presisi dan akurasi hasil penimbangan balita di wilayah Puskesmas Patikraja Kabupaten Banyumas. Jenis penelitian adalah survei analitik dengan pendekatan cross sectional study. Populasi adalah seluruh kader posyandu yang bertugas melakukan penimbangan. Jumlah sampel 32 kader diambil menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara, penimbangan dan observasi serta di analisis menggunakan uji Chi Square. Hasil analisis bivariat, ada hubungan antara tingkat pendidikan (p=0,015) dan keikutsertaan pelatihan (p= 0,002) dengan presisi kader dalam menimbang balita. Variabel pengetahuan, lama menjadi kader dan keterampilan tidak berhubungan dengan presisi serta tidak ada hubungan antara variabel independen dengan akurasi hasil penimbangan balita. Saran, perlu adanya peningkatan keterampilan kader dalam menimbang balita agar dapat melakukan penimbangan sesuai dengan prosedur, sehingga hasil penimbangan yang diperoleh tepat.Monitoring the growth of toddlers is one of efforts to combat malnutrition done in the weighing posyandu through. Weighing the results obtained should produce proper and accurate data so as not to cause an error in interpretation of the nutritional status. The purpose of this research is to know the factors associated with precision and accuracy of the results of children weighing in the health Patikraja district Banyumas. Research is kind of analytic survey with the approach of cross sectional study. The population is all cadres to do the weighing. The total sample 32 cadres by using purposive sampling. The collection of data using a method of interview, weighing and observation and analysis using the chi square. The analisis bivariat, there is the relationship between p = 0.015 the level of education and training participation (p=0,002) with precision cadres in weighing the toddler. Variable knowledge, not long to become cadres and skills associated with precision and had no relationship between the independent variable accuracy of the results with children weighing. Advice, the need for improved skills of cadres in weighing the toddlers to be able to do the weighing in accordance with the procedures, so that the results of the weighing is obtained appropriately.

273512507B1J011018HEMATOLOGIS IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) YANG DIBERI Chlorella vulgaris SECARA DISKONTINYUIkan Gurami (Osphronemus gouramy) merupakan jenis ikan konsumsi yang memiliki potensi untuk dikembangkan di Indonesia. Namun demikian, pertumbuhan Ikan Gurami yang lambat dan rentan terhadap penyakit menjadi permasalahan yang sering ditemukan pada para pembudidaya. Hal tersebut dapat menurunkan produksi Ikan Gurami karena dibutuhkan waktu lama dalam pemeliharaan serta biaya produksi yang tinggi. Pemberian imunostimulan terhadap ikan budidaya dapat menjadi pilihan untuk meningkatkan daya tahan tubuh ikan. Chlorella vulgaris merupakan salah satu mikroalga yang mempunyai potensi sebagai imunostimulan dan dapat dijadikan sebagai pakan alami. Strategi pemberian pakan ikan dapat dilakukan secara diskontinyu. Daya tahan tubuh ikan yang diberi imunostimulan secara diskontinyu dapat mengalami perubahan yang dapat dilihat melalui pemeriksaan hematologis yaitu pemeriksaan terhadap komponen sel darah ikan berupa eritrosit, leukosit, hemoglobin dan hematokrit.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hematologis (jumlah eritrosit, jumlah leukosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit) Ikan Gurami yang diberi C.vulgaris secara diskontinyu dan mengetahui hematologis Ikan Gurami yang terbaik setelah diberi C. vulgaris secara diskontinyu. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang dicoba yaitu: A: C.vulgaris diberikan setiap hari (kontinyu), B: C. vulgaris diberikan selama 3 hari kemudian tidak diberikan selama 7 hari, C: C. vulgaris diberikan selama 5 hari kemudian tidak diberikan selama 7 hari, D: C. vulgaris diberikan selama 7 hari kemudian tidak diberikan selama 7 hari. Setiap perlakuan diulang 4 kali sehingga terdapat 16 unit percobaan. Variabel bebas adalah waktu pemberian C. vulgaris secara diskontinyu dan variabel tak bebas adalah hematologis ikan. Tiap unit percobaan berisi 15 ekor ikan dengan rata-rata beprat 9.18±1.838 gram dan rata-rata panjang 7.77±0.710 cm. Sampel darah diambil pada hari ke-14, 28, 42, 56 dan 70. Darah yang telah diambil kemudian diamati jumlah eritrosit, jumlah leukosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit.
Hasil penelitian jumlah eritrosit tertinggi (2,78x106 sel/mm3) diperoleh pada perlakuan B, jumlah leukosit tertinggi (1,52x105 sel/mm3) pada perlakuan D, kadar hemoglobin tertinggi (9 g/dl) pada perlakuan A dan C serta nilai hematokrit tertinggi (26%) pada perlakuan B. Jumlah eritrosit, jumlah leukosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit pada Ikan Gurami dipengaruhi oleh pemberian C. vulgaris secara diskontinyu. Peningkatan jumlah eritrosit terbaik diperoleh pada pemberian C.vulgaris selama 3 hari dan tidak diberi selama 7 hari (42 hari) sedangkan peningkatan jumlah leukosit terbaik diperoleh pada pemberian C. vulgaris selama 7 hari dan tidak diberi selama 7 hari (42 hari).
Giant gourami (Osphronemus gouramy) is a kind of fish consumption that has potential to be developed in Indonesia. However, the slow growth and diseases vulnerable of giant gouramy became the often problems that found on the cultivation. It can reduce the production of giant gouramy because needed a lot of time to maintenance and highly production cost. The giving of immunostimulant against fish farming can be an option to increase endurance of fish. Chlorella vulgaris is a kind of microalgae that have potential as an immunostimulant and be used as natural food for fish. Fish feeding strategies can be done in a discontinuous. Endurance fish fed immunostimulant in a discontinuous may undergo changes that can be seen through hematologic examination is the examination of fish blood cell components such as erythrocytes, leukocytes, hemoglobin and hematocrit.
The aim of the research are knowing the hematologic (the number of erythrocytes, the number of leukocyte, concentration of hemoglobin and the value of hematocrit) giant gourami by giving discontinuous of C. vulgaris and knowing the best hematologic of giant gourami after given C. vulgaris in discontinuous. The research was used experimental methods with completely randomized design (CRD). Independent variable is the time of administration C. vulgaris in discontinuous and dependent variable is the fish hematologic. The treatment was attempted namely: A: C. vulgaris is given every day (continuous), B: C. vulgaris is given for 3 days and then not administered for 7 days, C: C. vulgaris was given for 5 days and then not given for 7 days, D: C. vulgaris given for 7 days and then not administered for 7 days. Each treatment was repeated four times so that there are 16 experimental units. Each unit contains 15 fish experiment with a range 9.18±1.838 g weight and 7.77±0.710 cm long. Blood sample was taken on day 14th, 28th, 42nd, 56th and 70th. The blood that has been taken then observed the number of erythrocytes, leukocyte count, hemoglobin concentration and hematocrit value.
The results showed that the highest number of erythrocytes (2,78x106 sel/mm3) was treatment B, the highest number of leukocyte (1,52x105 sel/mm3) was treatment D, the highest of hemoglobin concentration (9 g/dl) was treatment A and C, and the highest of hematocrit value (26%) was treatment B. The number of erythrocytes, the number of leukocytes, the concentration of hemoglobin and the value of hematocrit in giant gouramy were affected by the administration of Chlorella vulgaris in discontinuous. The best enhancement of the number of erythrocyte was given C. vulgaris for 3 days and not given for 7 days (42 days) and the best enhancement of the number of leukocyte was given C. vulgaris for 7 days and not given for 7 days (42 days).
273612509G1H011019EFEKTIVITAS METODE DEMONSTRASI TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG MAKANAN BALITA DI PUSKESMAS II CILONGOKBalita gizi kurang ditunjukkan dengan grafik tumbuh kembang pada Kartu Menuju Sehat (KMS) berada di Bawah Garis Merah (BGM). Salah satu cara untuk menanggulangi balita BGM yaitu dengan meningkatkan pengetahuan ibu tentang gizi. Metode pendidikan gizi yang dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan ibu adalah demonstrasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas metode demonstrasi terhadap pengetahuan dan sikap ibu tentang makanan balita di Puskesmas II Cilongok. Desain penelitian ini adalah eksperimental kuasi dengan total sampel sebanyak 19 responden untuk setiap kelompok (kelompok perlakuan dan kelompok pembanding). Cara pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan angket. Analisa data dilakukan dengan menggunakan uji t berpasangan dan uji t tidak berpasangan. Hasil analisis univariat pada kelompok perlakuan menunjukkan skor pengetahuan saat pretest 77,26 dan posttest 86,53, sedangkan pada kelompok pembanding skor pretest 81,26 dan posttest 81,05. Skor sikap pada kelompok perlakuan saat pretest 68,42 dan posttest 74,47, sedangkan pada kelompok pembanding skor pretest 70,53 dan posttest 69,89. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pengetahuan dan sikap ibu sebelum dan sesudah demonstrasi makanan balita, tidak ada perbedaan pengetahuan dan sikap ibu pada kelompok pembanding. Ada perbedaan pengetahuan dan sikap ibu sesudah dilakukan demonstrasi makanan balita dengan kelompok pembanding yang tidak diberi perlakuan. Jadi dapat disimpulkan metode demonstrasi efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu tentang makanan balita. Disarankan bagi instansi kesehatan untuk melakukan intervensi dengan metode demonstrasi makanan balita secara berkala guna menanggulangi terjadinya balita kurang gizi.Toddlers with malnutrition indicated by the growth chart on Kartu Menuju Sehat (KMS) located Below Red Line (BRL). One of way to overcome toddlers BRL by improving knowledge of mothers about nutrition. Nutrition education methods that can be used to improve the knowledge of mother is demonstration. The purpose of this study was to determine the effectiveness of the demonstration towards knowledge and attitude of mothers about toddler foods in public health center II of Cilongok. This research type was quasi-experimental with total sample were 19 for each group (eksperiment and control group). Sample taken by using purposive sampling technique. Data were collected using a questionnaire. The data were analyzed using dependent t-test and independent t-test. The results of univariate analysis in eksperiment group showed score of pretest knowledge 77.26 and posttest 86.53, while in control group, score pretest 81.26 and posttest 81.05. Scores of attitude in eksperiment group pretest 68.42 and posttest 74.47, while in the control group, scores pretest 70.53 and posttest 69.89. The results showed that there were differences in knowledge and attitude of mother before and after demonstration about toddler foods, there were no difference in knowledge and attitude of mothers in the control group. There were differences in knowledge and attitude of mother after demonstrations about toddler foods with control group who didn’t received the intervention. So we can conclude that demonstration was effective method to improve the knowledge and attitude of mothers about toddler foods. Suggested for healthcare institutions to using demonstration about toddler foods regularly to overcome the malnourished toddlers.
273712515G1B011077EFEKTIVITAS PELATIHAN PERILAKU AMAN PADA SERIKAT PEKERJA BULU MATA PALSU SEBAGAI PEER EDUCATOR DI PT “X” DAN PT “Y” KABUPATEN PURBALINGGAKecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja sangat erat kaitannya dengan pekerja dan risiko dari pekerjaannya. Penyebab kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja salah satunya adalah perilaku tidak aman. Upaya pencegahan perilaku tidak aman diperlukan untuk mengurangi risiko terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja diantaranya adalah dengan pendekatan manusia. Pembinaan perilaku aman untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat dilakukan dengan metode pendidikan sebaya (peer education). Pendidikan sebaya (peer education) adalah suatu proses komunikasi, informasi dan edukasi yang dilakukan oleh dan untuk kalangan sebaya. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui efektivitas pelatihan perilaku aman pada serikat pekerja bulu mata palsu sebagai peer educator di Kabupaten Purbalingga. Metode yang digunakan adalah quasy experiment dengan rancangan pre-test dan post-test. Populasi dan sampel dalam penelitian ini berjumlah 42 orang tenaga kerja bulu mata palsu dengan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap dan motivasi serikat pekerja bulu mata palsu sebagai peer educator perilaku aman. Diharapkan serikat pekerja bulu mata palsu mampu melakukan pendidikan sebaya di perusahaan.Occupational accidents and occupational diseases has powerful connection with worker and the risk because of occupation. The one of occupational accidents and occupational diseases cause is unsafety behavior. Preventive action is necessary to decrease occupational accidents and occupational diseases required human approachment. Safety behavior founding to prevent the occur of occupational accidents and occupational diseases can be did by peer education method. Peer education is a communication process, information, and education who did by and for the peer group it self. The purpose of this study was to know the efectiveness of safety behavior training of synthetic eyelash worker union as peer educator in Purbalingga district. The method used was quasy experiment with pre-test and post-test design. Population and sampel in this research are 42 eyelash workers with purposive sampling techniques. Analysis of the data used Wilcoxon test. The result showed that training effectively improve the knowledge, attitude and motivation of eyelash worker union as peer educator of safety behavior. It is expected that the eyelash worker union are able to make peer education in their company.
273812520B1J011111DIFERENSIAL LEUKOSIT IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) YANG DIBERI Spirulina platensis SECARA DISKONTINYUIkan gurami (Osphronemus gouramy) merupakan salah satu ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi, namun pertumbuhannya relatif lebih lambat dibandingkan ikan budidaya lainnya sehingga proses budidaya menjadi lama. Proses budidaya yang lama dan intensif ini berdampak pada penurunan kondisi lingkungan. Hal tersebut dapat mengganggu kondisi fisiologis dan sistem pertahanan tubuh ikan, sehingga pemberian imunostimulan merupakan strategi efektif dalam meningkatkan sistem pertahanan tubuh. Salah satu imunostimulan yang sering digunakan yaitu Spirulina platensis. Spirulina platensis mengandung antioksidan, fikosianin, antiinflamantori, neuroprotektif dan polisakarida yang berfungsi meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Pemberian imunostimulan harus tepat dalam cara pemberian maupun frekuensinya. Oleh karena itu, pemberian S. platensis dalam penelitian ini dilakukan secara diskontinyu. Gambaran diferensial leukosit merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui adanya gangguan kesehatan pada ikan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) diferensial leukosit ikan gurami yang diberi S.platensis secara diskontinyu, dan 2) interval waktu pemberian Spirulina platensis terbaik dalam meningkatkan sel-sel imun pada ikan gurami Metode penelitian ini adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 4 perlakuan yang masing-masing diulang 4 kali yaitu perlakuan A : Ikan diberi S. platensis setiap hari, perlakuan B: Ikan diberi S. platensis selama 3 hari, kemudian tidak diberi S. platensis selama 7 hari; perlakuan C : Ikan diberi S. platensis selama 5 hari, kemudian tidak diberi S.platensis selama 7 hari; perlakuan D : Ikan diberi S. platensis selama 7 hari, kemudian tidak diberi S.platensis selama 7 hari. Pengambilan data diferensial leukosit dilakukan 5 kali dengan interval waktu 2 minggu. Jenis leukosit dilihat dengan membuat preparat apusan darah dengan pewarna giemsa 7% kemudian diidentifikasi dengan menggunakan mikroskop. Persentase jenis-jenis leukosit dianalisis menggunakan ANOVA dengan tingkat kesalahan 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase monosit tertinggi (10,50%) pada perlakuan C, persentase eosinofil tertinggi (4,5%) pada perlakuan A, persentase neutrofil tertinggi (15,25%) pada perlakuan D, dan persentase limfosit tertinggi (95,25%) pada perlakuan B. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemberian Spirulina platensis secara diskontinyu mempengaruhi perbedaan diferensial leukosit ikan gurami (Osphronemus gouramy) terutama terhadap persentase neutrofil dan limfosit. Ikan gurami yang diberi Spirulina platensis dengan interval waktu pemberian selama 3 hari kemudian tidak diberi selama 7 hari merupakan waktu pemberian yang efektif dalam menstimulasi sel-sel imun sehingga jumlahnya meningkat dan lebih tinggi dibandingkan jumlah normalnya dalam darah ikan gurami.
Gourami (Osphronemus gouramy) is one of the fish that have high economic value, but it’s growth slower than the other fish so that farming becomes a long process. Intensive and long time of the farming process has resulted in decreases of the environmental . It can interfere with the physiological and immune system of fish , thus giving immunostimulant is an effective strategy for increasing the body's defense system . One of immunostimulant which is often used is Spirulina platensis. Spirulina sp . containing phycocyanin and polysaccharides which improves the immune system , antioxidants , antiinflamantori , and neuroprotective . Giving immunostimulant to be precise in the way of administration and frequency. Therefore, the treatment of S.platensis in this research conducted in discontinuous. Leukocyte differential is one indicator that can be used to detect health problems in fish.
The aims of this research are to know 1) differential leukocyte of gourami by giving S.platensis discontinuously, and 2) the best time interval of provision Spirulina platensis that improving the immune cells in the gourami. This research method is experimental method with Randomized Design (RAL) , consisting of 4 treatments which repeated four times. Treatment A: The fish that given S. platensis every day, treatment B: Fish that given S. platensis for 3 days, then not given S.platensis for 7 days; treatment C: Fish were given S. platensis for 5 days, then not given S.platensis for 7 days; treatment D: Fish were given S. platensis for 7 days, then were not given S.platensis for 7 days. The value of leukocyte differential retrieval performed five times at intervals of 2 weeks. Leukocyte seen with making preparations blood smear with Giemsa 7% then identified using a microscope. The percentage of the types of leukocytes were analyzed using ANOVA with an error rate of 5%.
The results showed that the highest percentage of monocyte (10,50%) in treatment C, the highest percentage of eosinophils (4,5%) in treatment A, the highest percentage of neutrophils (15,25%) in treantment D, and the highest percentage of limphocyte (95,25%) in treatment B. This result showed that the giving of Spirulina platensis discontinuously effects leukocyte differential of gourami (Osphronemus gouramy), mainly on the percentage of neutrophils and limphocytes. Gourami were given Spirulina platensis with interval timing for 3 days and then were not given for 7 days is the effective time to stimulating the immune cells, so that the value are increased and higher than normal value in the blood of gourami.
273912512G1H011006Perbedaan Status Gizi Pasien Antara Gagal Ginjal Kronis Akibat Diabetes Melitus Dan Non Diabetes Melitus Yang Menjalani Hemodialisis
(Studi Kasus di Instalasi Hemodialisis RSUD Prof. Dr. Magono Soekarjo)
Pemantauan status gizi pada pasien GGK yang disebabkan oleh DM sangat penting dilakukan karena risiko malnutrisi yang lebih besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan status gizi antara pasien gagal ginjal kronis akibat diabetes melitus dan non diabetes melitus yang menjalani hemodialisis. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional yang dilakukan di Instalasi Hemodialisis RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo pada bulan Juni hingga Juli 2015. Sampel diambil dengan cara purposive sampling sebanyak 34 pasien gagal ginjal kronis yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis akibat diabetes melitus dan non diabetes melitus. Status gizi masing-masing kelompok diukur dengan metode antropometri LOLA dan IMT. Analisis menggunakan uji T independent. Hasil penelitian menunjukkan usia rata-rata pasien GGK akibat DM dan non DM yang menjalani hemodialisis berturut-turut adalah 53 tahun dan 52 tahun. Hasil uji T independent menunjukkan terdapat perbedaan signifikan pada status gizi berdasarkan LOLA (p=0.022), sedangkan pada status gizi berdasarkan IMT menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan (p=0.123) antara pasien GGK akibat DM dan non DM yang menjalani hemodialisis. Kesimpulan dari penelitian adalah terdapat perbedaan status gizi antara pasien GGK akibat DM dan non DM yang menjalani hemodialisis. Penilaian status gizi pasien GGK lebih tepat menggunakan pengukuran LOLA.Monitoring of nutritional status in patients with chronic renal failure caused by diabetes melitus is very important due to a greater risk of malnutrition. The aim of this study to determine the difference of nutritional status between patients with chronic renal failure due to DM and non DM undergoing hemodialysis. This is an observational study with cross sectional design conducted to Hemodialysis Installation, Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital in June to July 2015. The sample was taken by purposive sampling of 34 patients with CRF who were divided into two groups, patients with CRF undergoing hemodialysis due to diabetes mellitus and non diabetes mellitus. The nutritional status of each group were measured by MAMC and BMI. Statistical analysis used independent T test. The results showed the average of age of patients with CRF due to DM and non-DM who undergoing hemodialysis is 53 years and 52 years respectively. The result showed there is significant difference in MAMC (p=0.022), but not significant difference in BMI (p=0.123). The conclusion is that there is a difference between the nutritional status of patients with CRF due to DM and non DM who undergoing hemodialysis. Assessment of nutritional status in CRF patients is more appropriate use MAMC.
274012465F1B008087Modal Sosial Dalam Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah Melalui PNPM Mandiri Perkotaan Desa Sokaraja Tengah, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten BanyumasPNPM Mandiri merupakan program yang dibentuk untuk menangani masalah kemiskinan di Indonesia. Sesuai dengan pedoman pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri), modal sosial merupakan salah satu kunci dari keberhasilan pelaksanaan program. Namun, belum ada optimalisasi dari keberlangsungan program yang telah dilaksanakan, yakni modal sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran modal sosial dalam pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) Desa Sokaraja Tengah, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas dengan melakukan kajian terhadap tiga aspek modal sosial yaitu: kepercayaan, jejaring, dan norma. Penelitian telah dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, dan teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian mengungkapkan modal sosial berperan dalam pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) Desa Sokaraja Tengah, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Namun modal sosial yang berperan sebatas yang dimiliki pihak-pihak tertentu yakni pengurus PNPM Mandiri dan Anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Selain itu, belum ada optimalisasi dari ketiga aspek penunjang modal sosial seperti: partisipasi, kejujuran, dan pemahaman tentang nilai.PNPM Mandiri is a program established to handle the problem of poverty in Indonesia. In accordance with the guidelines for the implementation of the National Program for Community Empowerment (PNPM Mandiri), social capital is one of the keys to the success of the implementation of the program. However, there is no optimization of the sustainability of programs that have been implemented, is that of social capital. This study aimed to analyze the role of social capital in the development of Micro Small and Medium Enterprises (SMEs) through the National Program for Community Empowerment (PNPM Mandiri) Central Sokaraja Village, District Sokaraja, Banyumas with a concern of the three aspects of social capital are: trust, networks, and the norms. The research use descriptive qualitative research methods, and techniques of selecting informants using purposive sampling. Results of the study revealed the role of social capital in the development of Micro, Small and Medium Enterprises (SMEs) through the National Program for Community Empowerment (PNPM Mandiri) Central Sokaraja Village, District Sokaraja, Banyumas. However, the extent of social capital owned by certain parties that the board PNPM Mandiri and Members of Self Help Groups (SHGs). In addition, there is no third aspect of supporting the optimization of social capital such as: participation, honesty, and an understanding of the value.