Artikelilmiahs
Menampilkan 22.021-22.040 dari 50.190 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 22021 | 24726 | F1A013082 | Pola Asuh Orang Tua Dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi Di Kawasan Prostitusi (Studi di Desa Karangmangu, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas) | Penelitian ini berjudul Pola Asuh Orang Tua Dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi Di Kawasan Prostitusi. Pembicaraan mengenai masalah seksualitas dan reproduksi kepada anak masih dianggap sebagai sesuatu yang sakral dan tabu, khususnya kepada anak dibawah 18 tahun. Padahal, pendidikan kesehatan reproduksi penting di dapat oleh anak sejak dini dengan tepat dan benar dari keluarga dimana orang tua menjadi sumber utama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman dan cara pengasuhan orang tua tentang kesehatan reproduksi kepada anak di Desa Karangmangu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif di Desa Karangmangu Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas. Subjek penelitian adalah orang tua dari anak yang berusia 5-18 tahun, tinggal dekat dengan Gang Sadar, tinggal dekat dengan warga yang memiliki kasus hamil pra nikah, serta yang memiliki PSK dirumahnya. Penentuan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling dan didapatkan 6 informan utama serta 1 informan pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan orang tua tentang reproduksi masih bersifat umum. Dalam pembahasan tentang kesehatan reproduksi, informan masih merasa kesulitan dalam memberikan pemahamn kepada anaknya. Namun, informan tetap berupaya memberikan pengetahuan kesehatan reproduksi kepada anak secara bertahap disesuaikan dengan usia anaknya. Dalam hal pengasuhan, anak didorong untuk mandiri namun tetap meletakkan batas-batas dan kendali atas tindakan mereka. Hal tersebut menunjukkan bahwa orang tua berinteraksi dengan anaknya melalui pola asuh yang cenderung authoritative dan demokratis. | This research entitled Parenting Styles of Parents in Reproductive Health Education in Prostitution Areas. The discussion on the issue of sexuality and reproduction towards children is still regarded as something sacred and taboo, especially to children under 18 years. In fact, the education of reproductive health is important to be correctly obtained by children at early age from families in which the parents become the primary source. The purpose of this research is to determine the understanding and parenting ways of parents on reproductive health to children in Karangmangu Village. This research used qualitative research method in Karangmangu Village, Baturraden District of Banyumas Region. The subjects of this research were parents of children aged 5-18 years, who live nearby Sadar Alley, and who live close to residents who experience cases of pre-marital pregnancy, who also have prostitute in their houses. The determination of the research subjects used purposive sampling technique and 6 key informants and 1 supporting informant are obtained. The research result showed that parental knowledge about reproduction is still common. In the discussion of reproductive health, the informants still find it hard to give understanding to their children. However, the informants still try to gradually provide reproductive health knowledge to their children by adjusting to the age of their children. In terms of parenting, children are encouraged to be independent but still put boundaries and control over their actions. It showed that parents interact with their children through parenting which tends to be authoritative and democratic. | |
| 22022 | 25881 | C1N017005 | The Impact of Environmental Performance and Environmental Disclosure on Firm Value With Profitability As A Moderating Variable | Perusahaan ekstraktif adalah perusahaan yang menggunakan bahan baku langsung dari alam. Perusahaan ekstraktif memiliki risiko kerusakan lingkungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor industri lainnya. Oleh karena itu, perusahaan ekstraktif memiliki beberapa tanggung jawab terkait dengan aspek lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kinerja lingkungan dan pengungkapan lingkungan pada nilai perusahaan dan menentukan pengaruh profitabilitas sebagai variabel moderasi. Metode penelitian ini adalah observasi terhadap data yang disajikan oleh perusahaan publik di industri ekstraktif yang berpartisipasi dalam PROPER tahun 2013 hingga 2017. Hasilnya adalah kinerja lingkungan dan pengungkapan lingkungan memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan. Kemudian, profitabilitas tidak dapat memoderasi hubungan kinerja lingkungan pada nilai perusahaan, sementara profitabilitas memoderasi hubungan pengungkapan lingkungan pada nilai perusahaan. Ada dua implikasi dalam penelitian ini. Implikasi praktisnya adalah bahwa penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi bagi para pembuat keputusan untuk membakukan formulir pelaporan tentang pengungkapan lingkungan yang sesuai dengan kondisi ekonomi di Indonesia. Selain itu, penelitian ini dapat membantu pemangku kepentingan untuk mempertimbangkan perusahaan yang memiliki kinerja lingkungan dan pengungkapan lingkungan yang baik. | The extractive firm is a firm that used raw materials taken directly from nature. The extractive firm has a higher risk of environmental damage compared to other industrial sectors. Therefore, it has several responsibilities related to the environmental aspect. The study aims to determine the influence of environmental performance and environmental disclosure on firm value and determine the influence of profitability as a moderating variable. The method of the study is an observation on the data presented by going public firms in extractive industries which participated in PROPER from 2013 to 2017. The result is environmental performance and environmental disclosure has to influence firm value. Then, profitability cannot moderate the relationship of environmental performance on firm value, while profitability moderates the relationship of environmental disclosure on firm value. There is two implication in this study. The practical implication is that this research can be used as a reference for decision-makers to standardizing the reporting form on environmental disclosures that are suitable for economic conditions in Indonesia. Also, this research can help stakeholders to consider firms that have good environmental performance and environmental disclosure. Keywords: environmental disclosure, PROPER, extractive firm | |
| 22023 | 24731 | C1J014045 | The Influence of Bank Characteristics Variables and Macroeconomic on Profitability (Case Studies on BPD Banks in All Provinces in Indonesia) | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi pasar, pangsa pasar, likuiditas, kredit macet, modal, ukuran perusahaan, inflasi, produk domestik bruto, kurs terhadap profitabilitas, dan untuk mengetahui variabel-variabel yang paling mempengaruhi profitabilitas pada Bank Pembangunan Daerah. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia. Hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa karakteristik variabel konsentrasi pasar, pangsa pasar, likuiditas, modal positif signifikan terhadap profitabilitas, sedangkan kredit macet dan Ukuran perusahaan memiliki negatif signifikan terhadap profitabilitas dan variabel makroekonomi inflasi tidak signifikan, dan produk domestik bruto positif signifikan terhadap profitabilitas, sedangkan kurs negatif signifikan terhadap profitabilitas. | This study aims to analyze the effect of market concentration, market share, liquidity, bad credit, capital, firm size, inflation, gross domestic product, exchange rate on profitability, and to find out the variables that most influence profitability in Regional Development Banks. The data used in this study are secondary data sourced from the Financial Services Authority and Bank Indonesia. The results of multiple linear regression analysis show that the characteristics of market concentration, market share, liquidity, capital are positively significant to profitability, while bad credit and firm size have a significant negative to profitability and not significant macroeconomic variables, and positive gross domestic product to profitability, while the negative exchange rate is significant for profitability. | |
| 22024 | 26016 | C1B015055 | ANALISIS PENGARUH STRUKTUR MODAL DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN KEBIJAKAN DIVIDEN SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI (Studi pada Perusahaan Non – Keuangan Indeks LQ45) | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh struktur modal (DER) dan struktur kepemilikan (INSD) terhadap nilai perusahaan (PBV) yang dimoderasi dengan kebijakan dividen (DPR) pada perusahan non - keuangan yang terdaftar dalam Indeks LQ45. Populasi pada penelitian ini adalah perusahaan – perusahaan non - keuangan yang terdaftar dalam Indeks LQ45 di Bursa Efek Indonesia. Sampel yang digunakan penelitian ini sebanyak 13 perusahaan. Sampel diambil dengan metode purposive sampling. Data pada penelitian ini dianalisis dengan regresi linier berganda dan regresi moderasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur modal (DER) berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan (PBV), struktur kepemilikan (INSD) tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan (PBV), kebijakan dividen (DPR) mampu memoderasi pengaruh struktur modal (DER) terhadap nilai perusahaan (PBV), dan kebijakan dividen (DPR) tidak mampu memoderasi pengaruh struktur kepemilikan (INSD) terhadap nilai perusahaan (PBV). Implikasi pada penelitian ini yaitu perusahaan perlu memperhatikan dan memperhitungkan struktur modalnya. Perusahaan diharapkan untuk meningkatkan jumlah kepemilikan manajerial agar manajer dapat merasa memiliki perusahaan. Investor yang akan berinvestasi pada perusahaan harus memperhatikan faktor – faktor yang berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Selain itu, investor juga perlu memperhatikan besar kecilnya dividen yang dibagikan kepada pemegang saham. | This study examines the influence of capital structure (DER) and ownership structure (INSD) on firm value (PBV) with dividend policy (DPR) as moderation variable of companies listed in LQ45 index. The research population were all companies listed on the LQ45 index in Indonesia Stock Exchange. The number of samples used in this study were 13 companies. Samples were taken using purposive sampling method. The data contained in this study were analyzed by multiple linear regression and moderation regression analysis. The results show that the capital structure (DER) has positive and significant effect on the firm value (PBV), ownership structure (INSD) does not affect the firm value (PBV), dividend policy (DPR) moderates the effect of capital structure (DER) on firm value (PBV), and dividend policy (DPR) doesn’t moderate the effect of ownership structure (INSD) on firm value (PBV). The study recommends that the firms should consider its capital structure. Firms are expected to increase the amount of managerial ownership, so that managers can also feel their positions as the firms owner. Investors should consider the affecting factors of firm value. Moreover, Investors should consider the dividend given to shareholders. | |
| 22025 | 26109 | F1A013034 | REKONSILIASI SEKRETARIAT BERSAMA (SEKBER 65) DENGAN PEMERINTAH KABUPATEN PURBALINGGA DALAM KASUS PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA (HAM) BERAT | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses terbentuknya SEKBER ’65 Purbalingga dan upaya rekonsiliasi yang dilakukannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan sasaran penelitian pengurus SEKBER ’65 Purbalingga yang dipilih dengan purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa alasan berdirinya SEKBER ’65 adalah untuk mengungkapkan fakta sejarah yang selama ini belum menemukan kejelasan terkait tragedi ’65. Selain itu, SEKBER ’65 berjuang untuk memperoleh keadilan yang selama ini tidak mereka dapatkan. Perjuangan SEKBER ’65 dibantu oleh pihak-pihak eksternal seperti LPSK dan Komnas HAM untuk bersama-sama memperjuangkan hak-hak para korban. Dalam perjuangannya memperoleh keadilan, SEKBER ’65 baru sebatas mendapatkan jaminan kesehatan. Padahal setelah tragedi ’65 silam banyak kerugian yang harus ditanggung oleh para korban yang sempat menjadi tahanan politik baik segi ekonomi, sosial, dan politik. Walaupun pemerintah melalui Komnas HAM telah mengeluarkan surat keterangan yang menyatakan bahwa mereka adalah korban tragedi ’65. Dalam perjalanannya SEKBER ’65 sudah mulai diterima di masyarakat namun masih juga para korban ’65 mendapatkan diskriminasi hingga saat ini. Hal tersebut membuat perjuangan SEKBER ’65 masih berlangsung hingga mereka mendapatkan keadilan. | This research aims to observe the process of establishing SEKBER’65 Purbalingga and the reconciliation attempt. Descriptive qualitative method is preferred to board this research. Targets of current research are members of SEKBER’65 Purbalingga, and purposive sampling method is preferred to pick the informants. This research results that the main reason of SEKBER’65 establishment is to reveal hidden facts that have not been clearly confirmed as the true fact. On the other hand, SEKBER ’65 fights for obtaining justice they deserve. Their struggle is accompanied by externals as LPSK and National Commision of Human Rights (Komnas HAM) to reclaim victims’ rights. On the trails of finding justice, SEKBER 65’ has only given the health insurance. Whereas, the damage of 65’ tragedy was extremely massive, and the victims who became political prisoners also took financial loss, became exiled socially and politically. Regardless, Komnas HAM has already stated that they are the victims of 65’ tragedy. Soon, SEKBER 65’ gained respect from society and finally accepted yet there are still more victims that remained discriminated in society. Thus, SEKBER 65’ will keep figting to help them reclaim the justice they deserve. | |
| 22026 | 24735 | G1D013052 | GAMBARAN FUNGSI SEKSUAL PADA WANITA KANKER SERVIKS DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO | Latar Belakang: Aspek seksualitas pada penderita kanker serviks akibat terapi kanker serviks dapat menyebabkan disfungsi seksual yang mempengaruhi kualitas hidup perempuan. Salah satu upaya untuk mengetahui gambaran fungsi seksual pada wanita kanker serviks yaitu dengan menggunakan kuesioner Female Sexual Function Index (FSFI). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui fungsi seksual pada wanita kanker serviks di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Metode: Desain yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif. Teknik sampling yaitu consecutive sampling yang terdiri 147 responden. Kuesioner yang digunakan yaitu kuesioner Female Sexual Function Index (FSFI). Analisis data menggunakan univariat. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan rerata usia responden adalah 30-50 tahun, pendidikan terakhir yaitu SD (81,6%), tidak bekerja (81,6%), stadium II (63,9%), dan terapi kemoterapi (63,9%), disfungsi seksual (100%), domain fungsi seksual yaitu hasrat seksual (99,3%), rangsangan seksual (51,7%), lubrikasi vagina (65,3%), orgasme (64,6%), kepuasan (57,8%), kesakitan (76,9%). Kesimpulan: Fungsi seksual responden mayoritas disfungsi seksual pada domain rangsangan seksual, lubrikasi vagina, orgasme, kepuasan, kesakitan. | Background: Aspects of sexuality in patients with cervical cancer due to cervical cancer therapy can cause sexual dysfunction that affects the quality of life of women. One effort to determine the description of sexual function in women with cervical cancer is by using the Female Sexual Function Index (FSFI) questionnaire. The purpose of this study is to determine sexual function in women with cervical cancer in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Methods: The study design used quantitative descriptive. The sampling technique was consecutive sampling which are consists of 147 respondents. The questionnaire used is the Female Sexual Function Index (FSFI) questionnaire. Data analysis using univariate. Result: The results of this study indicate the average age of respondent is 30-50 old, SD (81,6%), not working (81,6%), stage II (63.9%), and chemotherapy (63.9%), sexual dysfunction (100%), sexual function domains included sexual desire (99.3%), sexual stimulation (51.7%), vaginal lubrication (65.3%), orgasm (64.6%), satisfaction (57.8%), pain ( 76.9%).. Conclusion: The respondent's sexual function is the majority of sexual dysfunction in the domain of sexual stimulation, vaginal lubrication, orgasm, satisfaction, pain. | |
| 22027 | 31859 | A1D116062 | PENGARUH PENGGUNAAN PUPUK NZEO-SR PLUS TERHADAP KARAKTERISTIK AGRONOMI TANAMAN PADI (Oryza Sativa L.) PADA TANAH INCEPTISOL. | Tanaman Padi (Oryza Sativa L.) adalah komoditas tanaman pangan yang banyak dikembangkan di Indonesia. Semakin bertambahnya jumlah penduduk di indonesia semakin tinggi kebutuhan beras per tahun. Upaya yang dilakukan dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas tanaman padi salah satunya dengan mengoptimalkan pemupukan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pupuk NZEO-SR Plus dan pengaruh coating terhadap karakteristik agronomi pada tanaman padi di tanah inceptisol. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan analisis Uji F (ANOVA) dan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukan formulasi pupuk NZEO-SR Plus dengan 200 mesh zeolit dan pupuk N 20 % meningkatkan tinggi tanaman sebesar 6,95% (94,72 cm). Formulasi pupuk NZEO-SR Plus dengan 100 mesh zeolit dan pupuk N 30 % meningkatkan jumlah anakan sebesar 32,1% (20,33 batang), luas daun sebesar 38,5 % (61,75 cm2 ), dan kehijauan daun sebesar 19,57% (43,61 unit). Pengunaan pada pupuk NZEO-SR Plus mampu meningkatkan hasil produksi, pertumbuhan dan fisiologi tanaman. | Rice (Oryza sativa L.) is a food crop commodity that is widely developed in Indonesia. The increasing population in Indonesia the higher the need for rice per year. Efforts are made to improve the quality and quantity of rice plants is by optimizing fertilization.This research was conducted to determine the effect of NZEO-SR Plus fertilizer and the effect of coating on the agronomic characteristics of rice plants on inceptisol soil.The design used was a complete randomized block design with F test analysis (ANOVA) and Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at the 5% level. The results showed that the formulation of NZEO-SR Plus fertilizer with 200 mesh zeolite and 20% N fertilizer increased plant height by 6.95% (94.72 cm). The NZEO-SR Plus fertilizer formulation with 100 mesh zeolite and 30% N fertilizer increased the number of tillers by 32.1% (20.33 stems), leaf area was 38.5% (61.75 cm2), and leaf greenness was 19.57% (43.61 units). The use of NZEO-SR Plus fertilizers can increase yield, growth and plant physiology. | |
| 22028 | 25882 | F1C015019 | Strategi Komunikasi Rumah Mocaf dalam Sosialisasi Penggunaan Tepung Singkong Yang Termodifikasi Banjarnegara | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi Rumah Mocaf dalam sosialisasi tepung singkong yang termodifikasi (mocaf) Banjarnegara. Penelitian menggunakan model Communication Based Assessment yang dikemukakan oleh Paolo Mefalopulos. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan menggunakan teknik purposive sampling dalam memilih informannya. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa strategi komunikasi Rumah Mocaf dalam sosialisasi mocaf ditentukan dengan melihat unsur-unsur komunikasinya, yaitu : 1) Komunikator pada setiap media sosialisasi yang digunakan berasal dari internal dan eksternal Rumah Mocaf. Peran komunikator dalam sosialisasi antara lain mengedukasi masyarakat mengenai mocaf dan memotivasi beberapa kelompok masyarakat untuk memproduksi mocaf serta produk olahannya agar dapat menambah penghasilan; 2) Secara umum Rumah Mocaf akan menyampaikan apa itu mocaf dan apa saja manfaat yang bisa diperoleh dari penggunaan mocaf dengan memperhatikan karakteristik informan, seperti masyarakat desa, kota, ataupun milenial; 3) Media yang digunakan Rumah Mocaf dalam sosialisasi penggunaan tepung singkong termodifikasi atau mocaf di antaranya pelatihan pembuatan mocaf dan produk olahannya, pameran atau expo, media sosial, membuka restoran, dan melalui media lain seperti radio, koran, serta televise; 4) Komunikan sosialisasi mocaf terdiri dari sasaran premier dan sekunder. Pelatihan mocaf diberikan pada petani singkong dan warga desa yang berpotensi menghasilkan singkong. Pelatihan pembuatan produk hasil olahan mocaf adalah ibu-ibu baik ibu rumah tangga maupun pengusaha makanan. Sedangkan komunikan untuk media yang lainnya seperti masyarakat umum, dari remaja hingga dewasa akhir atau lansia. | This study aims to analyze the communication strategy of Rumah Mocaf in socializing modified cassava flour (mocaf) of Banjarnegara. The study used the Communication Based Assessment model proposed by Paolo Mefalopulos. This study uses qualitative research methods and uses a purposive sampling technique in selecting informants. The results of this study can be concluded that Rumah Mocaf's communication strategy in Mocaf socialization is determined by looking at the communication elements, namely: 1) Communicators on each socialization media used came from internal and external Mocaf Houses. The role of the communicator in socialization includes educating the public about mocaf and motivating several community groups to produce mocafs and their processed products in order to increase their income; 2) In general, Mocaf House will convey what is mocaf and what benefits can be obtained from the use of mocaf by paying attention to the characteristics of the informants, such as village, urban, or millennial communities; 3) Media used by the Mocaf House in the dissemination of the use of modified cassava flour or mocaf include training in making mocafs and processed products, exhibitions or expos, social media, opening restaurants, and through other media such as radio, newspapers, and television; 4) Communicating mocaf socialization consists of premier and secondary targets. Mocaf training is given to cassava farmers and villagers who have the potential to produce cassava. Training on the manufacture of mocaf processed products is mothers both housewives and food entrepreneurs. While communicants for other media such as the general public, from adolescents to late adulthood or the elderly. | |
| 22029 | 24739 | F1I014022 | IMPLEMENTASI UU PELARANGAN BURQA, BURKINI, DAN CADAR DI PRANCIS TAHUN 2011 DALAM PRESPEKTIF HAM | Perancis adalah salah satu negara di Uni Eropa yang menganut prinsip sekuler. Sebagai konsekuensi dari prinsip sekuler ini, maka Prancis memisahkan urusan agama dan negara. Pada dasarnya, Perancis telah melakukan kontak dengan Islam sejak lama tetapi. Namun ironisnya, Perancis adalah negara di Eropa yang pertama kali memberlakukan undang-undang tentang larangan penggunaan burqa, burkini dan cadar di tempat-tempat umum meskipun merupakan bagian dari praktik keagamaan dan budaya. Undang-undang ini mulai berlaku pada tahun 2011. Di bawah undang-undang ini, setiap wanita Muslim tidak lagi bebas menggunakan burqa, burkini, dan cadar di tempat-tempat umum. Dalam perspektif Hak Asasi Manusia, hal ini dianggap sangat menekan hak wanita muslim dalam berpakaian sesuai dengan aturan dalam agama Islam. | France is one of the countries in the European Union that adheres to the secular principle. As a consequence of this secular principle, France separates religious and state affairs. Basically, France has been in contact with Islam for a long time but. But ironically, France is a country in Europe that first enacted a law on the prohibition on the use of burqa, burkini and veils in public places even though they are part of religious and cultural practices. This law came into force in 2011. Under this law, every Muslim woman is no longer free to use burqa, burkini and veils in public places. In the perspective of human rights, this is considered to be very pressing the rights of Muslim women in dressing according to the rules in the Islamic religion. | |
| 22030 | 24736 | B1J014110 | Preferensi Pakan dan Aktivitas Protease Saluran Digesti Ikan Kating (Mystus gulio) dari Kali Brugsanta, Banyumas dan Kali Bodo, Cilacap | Ikan kating (Mystus gulio) merupakan ikan euryhaline yang hidup pada air payau dan air tawar. Ikan ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena mengandung protein yang tinggi, namun pemanfaatannya selama ini belum diimbangi dengan upaya konservasi agar keberadaannya di alam tetap terjaga. Kajian secara fisiologi terutama yang berkaitan dengan nutrisi dan digesti ikan kating yang diperoleh langsung dari alam dibutuhkan sebagai informasi dasar untuk melakukan konservasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui preferensi pakan alami ikan kating dari Kali Brugsanta dan Kali Bodo serta mengetahui perbedaan aktivitas enzim protease pada lambung dan intestin ikan kating berdasarkan preferensi pakan alami dari Kali Brugsanta dan Kali Bodo. Ikan yang digunakan untuk penelitian adalah ikan dengan panjang total rata-rata 11,85±0,72 cm dan berat tubuh rata-rata 16,79±3,25 g. Metode yang dilakukan yaitu secara survey. Parameter yang diukur adalan indeks bagian terbesar serta jumlah mikrogram tirosin per menit. Hasil penelitian menunjukkan preferensi pakan ikan kating dari Kali Brugsanta berupa bacillariophyceae (70,63%) dan crustacea (69,35%) sebagai pakan utamanya, sedangkan preferensi pakan pada ikan kating dari Kali Bodo berupa bacillariophyceae (78,04%) dan potongan hewan (27,66%) sebagai pakan utamanya, aktivitas pepsin lebih tinggi terdapat pada lambung ikan kating dari Kali Bodo serta aktivitas tripsin-like sama tinggi pada intestin ikan kating dari Kali Brugsanta dan Kali Bodo. | Mystus gulio is an euryhaline fish which lived in both brakish and fresh water. This fish was commonly consumed by the society due high protein content, however, its utilization so far had not been matched by conservation efforts so that its existence in nature was maintained. Physiological studies especially those related to nutrition and the digestion of Mystus gulio obtained directly from nature were needed as basic information for conservation. The aims of current research were to identify the natural food preference of Mystus gulio and to reveal the difference of protease ezim activity on fish’s stomach and intestine from Brugsanta River and Bodo River. The fishes that were used to conduct the research were fishes that have average total length 11,85±0,72 cm and weighted 16,79±3,25 g in average. Survey method were used to conduct the research. The measured parameter were the index of the largest part and the number of micrograms of tyrosine per minute. The result of the research showed Mystus gulio from Brugsanta River prefer bacillariophyceae (70,63%) dan crustacea (69,35%) as main food, while Mystus gulio from Bodo River prefer bacillariophyceae (78,04%) and animal body parts (27,66%) as main food, the highest pepsin activity can be found in stomach of fish from Bodo River and there was no different tripsin-like activity on intestine of Mystus gulio from Brugsanta River and Bodo River. | |
| 22031 | 24737 | F1C014072 | POLA KOMUNIKASI IBU TIRI DALAM MEMBANGUN KELEKATAN DENGAN ANAK DI JAKARTA UTARA | Setiap anak memiliki tanggapan yang berbeda terhadap keputusan orang tuanya untuk melakukan perceraian atau remarriage. Sebagian anak mungkin menerima keputusan tersebut dengan senang hati, namun tak jarang pula ada anak yang menolak dan kemudian menunjukkannya dengan cara mereka bersikap. Cara bersikap inilah yang kemudian dapat menjadi sumber keharmonisan atau perselisihan dalam keluarga. Hal tersebut dapat dihindari bila terbangun kelekatan antara si anak dengan ibu tiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola komunikasi yang digunakan oleh ibu tiri dalam membangun kelekatan dengan anak tirinya serta hambatan-hambatan yang timbul dalam prosesnya. Penelitian ini menggunakan Teori Dialektika Relasional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Penelitian ini menggunakan 3 pasang informan yang terdiri dari ibu tiri dan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga keluarga yang menjadi informan cenderung menerapkan pola komunikasi keluarga pluralistik yang kemudian membuat anak cenderung merasa dapat menyelesaikan permasalahan mereka seorang diri sehingga menyebabkan tidak terbentuknya kelekatan antara anak dengan ibu tirinya. Selain itu, biasanya hambatan yang muncul dalam proses membangun kelekatan antara keduanya justru berasal dari pihak anak dan berkaitan dengan hal-hal seperti sifat atau karakter anak serta minimnya kesempatan bagi keduanya untuk melakukan komunikasi. Hambatan tersebut kemudian seringkali menimbulkan kesalahpahaman yang memicu pertengkaran diantara keduanya. Pertengkaran yang terjadi biasanya berupa aksi diam yang kemudian akan membaik dengan sendirinya tanpa perlu salah satu pihak untuk mengucapkan kata maaf. | Every child has a different response toward their parents’ decision to divorce or remarriage. Some children may accept the decision happily, but there will also be some children who refuse it and then show it with the way they behave. This way of behaving can then be a source of harmony or discord in the family. This condition can be prevented if there is an attachment between the child and the stepmother. This study aims to determine the communication patterns used by stepmothers in building attachment with their stepchildren and the obstacles that arise in the process. This study uses Dialectical Relational Theory. The method used in this study is a qualitative method using a descriptive approach. This study used 3 pairs of informants consisting of stepmothers and children. The results of this study indicate that the three families who became informants tended to apply a pluralistic family communication pattern which then made the children tend to feel they could solve their problems alone so that the attachment between the child and his stepmother did not form. Besides that, usually, the obstacles that arise in the process of building attachments between the two actually come from the child's side and are related to things such as the nature or character of the child and the lack of opportunities for both to communicate. These obstacles then often lead to misunderstandings that trigger a fight between the two. The quarrel that occurs is usually in the form of silent action which will then improve on its own without the need for one party to say sorry. | |
| 22032 | 24741 | F1I014030 | ANALISIS KERJASAMA KEAMANAN INDONESIA – AUSTRALIA PASCA HUKUMAN MATI TERSANGKA KASUS BALI NINE TAHUN 2015 | Hubungan bilateral Australia dan Indonesia yang senantiasa mengalami dinamika, kembali berada di titik terendah akibat keputusan pemerintah Indonesia untuk mengeksekusi dua tersangka kasus Bali Nine, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Sebagai respon atas kasus tersebut, Australia bahkan memanggil sementara duta besarnya dari Jakarta, yang mengindikasikan kekecewaan Australia yang begitu besar terhadap Indonesia. Tetapi pada akhirnya hubungan bilateral antara keduanya, khususnya dalam bidang keamanan mampu dinormalisasi kembali, bahkan meningkat intensitasnya dengan dilakukannya berbagai bentuk kerjasama seperti pembuatan perjanjian, penandatanganan MoU, dan berbagai pertemuan bilateral. Tidak hanya itu, Australia dan Indonesia sepakat untuk meningkatkan status hubungannya menjadi comprehensive strategic partner, 3 tahun pasca kasus Bali Nine. Kerjasama keamanan keduanya mampu bertahan meskipun dihiasi konflik politik, karena adanya aspek-aspek cooperative security dalam hubungan keduanya. | Bilateral relations between Australia and Indonesia, which always experienced dynamics, once more, was at the lowest point due to the Indonesian government's decision to execute two Bali Nine suspects, Andrew Chan and Myuran Sukumaran. In response to the case, Australian government even temporarily summoned its ambassador from Jakarta, indicating Australia's great disappointment towards Indonesia. But, eventually, the bilateral relations between the two, especially in the security sector was able to be normalized again, and even increased its intensity with various forms of cooperation such as making agreements, signing MoUs, and various bilateral meetings. Not only that, Australia and Indonesia had agreed to improve their relationship status to comprehensive strategic partner, 3 years after the Bali Nine execution case. The security cooperation between them was able to survive despite of political conflicts, including Bali Nine, because of the aspects of cooperative security in their relations. | |
| 22033 | 24742 | B1J014138 | PERTUMBUHAN MISELIUM BIBIT F0 Coprinus comatus DENGAN INTENSITAS CAHAYA BERBEDA PADA BERBAGAI MEDIUM PERTUMBUHAN | Jamur paha ayam (Coprinus comatus) adalah salah satu jamur pangan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, namun ketertarikan masyarakat untuk membudidayakan jamur ini masih kurang. Jamur paha ayam selain memiliki rasa yang enak juga mengandung nilai gizi yang tinggi, memiliki berbagai fungsi bioaktif dan dimanfaatkan sebagai bahan baku obat-obatan. Bibit jamur yang digunakan memegang peran penting dalam usaha budidaya jamur. Kualitas bibit menjadi salah satu faktor penentu dalam keberhasilan budidaya jamur. Syarat pembuatan bibit jamur siap tanam di antaranya adalah ketersediaan bibit F0 sebagai sumber inokulum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan medium pertumbuhan dan intensitas cahaya serta interaksi antar keduanya terhadap pertumbuhan miselium jamur, kemudian mengetahui medium pertumbuhan dan intensitas cahaya mana yang paling baik untuk pertumbuhan miselium C. comatus. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial, dengan dua faktor dan tiga kali ulangan. Faktor pertama meliputi enam jenis medium pertumbuhan (M) yaitu Potato Dextrose Agar (PDA), Potato Dextrose Yeast Agar (PDYA), Tauge Dextrose Agar (TDA), Tauge Dextrose Yeast Agar (TDYA), Malt Extract Agar (MEA) dan Malt Extract Yeast Agar (MEYA). Faktor ke dua meliputi intensitas cahaya (C) yaitu gelap (0,03-0,04 lux), dan terang (2,19-39,85 lux). Parameter utama yang diamati adalah diameter miselium, sedangkan parameter pendukungnya adalah laju pertumbuhan miselium dan temperatur ruang inkubasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan intensitas cahaya dan interaksi antara medium pertumbuhan dan intensitas cahaya tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan miselium jamur C. comatus, sedangkan perbedaan medium berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan miselium jamur C. comatus. Hasil uji lanjut BNJ menunjukkan bahwa medium TDA merupakan medium yang paling baik untuk pertumbuhan miselium C. comatus. | Chicken drumstick mushroom (Coprinus comatus) is one of edible mushroom with high economic value, but peoples interest in cultivating this species of mushroom is still less. Shaggy mane, besides has good taste, it also contain high nutrition, has various bioactive fungtions and used as basic material of medicines. Fungi spawns have an important role in mushroom cultivation. Spawn quality is one of determining factor in a good cultivation. Requirement of spawn fungi production that ready for planting is the availability of F0 spawns as source of inoculum. Purposes of this research were to determine effect of differences growth medium, light intensity and both interaction on mycelium growth, also to determine which growth medium and light intensity that have the best effect on C. comatus mycelium growth. This research was conducted experimentally with Completely Randomized Design with Factorial pattern, consist 2 factors and 3 replications. The first factor includes 6 kinds of growth medium (M), which is Potato Dextrose Agar (PDA), Potato Dextrose Yeast Agar (PDYA), Tauge Dextrose Agar (TDA), Tauge Dextrose Yeast Agar (TDYA), Malt Extract Agar (MEA) and Malt Extract Yeast Agar (MEYA). The second factor includes light intensity (C), which is dark (0.03-0.04 lux), and light (2.19-39.85 lux). The main parameter that observed were the diameter of mycelium, whereas the support parameters were the rate of mycelium growth and the temperature of incubation room. The results showed that the light intensity and interaction between growth medium and light intensity had not significant effect on C. comatus mycelium growth, but the growth medium had significant effect on C. comatus mycelium growth. Tukey test results showed that medium Tauge Dextrose Agar (TDA) is the best medium for growth of C. comatus mycelium. | |
| 22034 | 24682 | F1J014012 | GEJALA ELECTRA COMPLEX PADA TOKOH UTAMA PEREMPUAN DALAM DORAMA OTOUSAN TO YOBASETE | Penelitian ini berjudul “GEJALA ELECTRA COMPLEX PADA TOKOH UTAMA PEREMPUAN DALAM DORAMA OTOUSAN TO YOBASETE” . Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan karakteristik dan gejala electra complex yang tercermin pada tokoh Hanazawa Miran. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah metode simak catat. Data dianalisis menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Pada penelitian ini ditemukan 13 data yang terdiri atas empat data mengenai karakteristik Hanazawa Miran dan sembilan data mengenai gejala electra complex yang dialaminya. Empat data karakteristik tersebut, dua data yang mencerminkan keras kepala; satu data yang mencerminkan egois; dan satu data yang mencerminan pantang menyerah. Sembilan data electra complex adalah satu data mencerminkan memiliki pasangan yang lebih tua; satu data mencerminkan tidak tertarik pada pria muda; satu data mencerminkan menyukai pria yang memiliki sifat seperti ayahnya; satu data mencerminkan dimanja dan egois; dua data mencerminkan menganggap wanita lain adalah musuh; dua data mencerminkan tidak mementingkan materi dan masa depan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tokoh utama mengalami gejala electra complex, yaitu menyukai pria yang jauh lebih tua. | This research is entitled “THE SYMPTOMS OF ELECTRA COMPLEX ON THE MAIN CHARACTER OF FEMALE IN OTOUSAN TO YOBASETE DRAMA” The purpose of this research is to describe the characteristics and the symptomps of electra complex which appear on the character of Hanazawa Miran. This research is categorized as a qualitative descriptive study. In collecting the data, the researcher used simak-catat method. The data is analyzed by using Sigmund Freud psychoanalysis theory. In this research, thirteen data were found which consisted of four data regarding the characteristics of Hanazawa Miran and nine data regarding of her symptoms of electra complex. The four characteristic data are two data that reflecting stubborness, one data that reflecting selfishly, and one data that reflecting never give up. The nine data of electra complex are one data that reflecting having a much older lover, one data that reflecting not interested to a young man, one data that reflecting interested with a man who has the character of his father, one data that reflecting spoiled and selfish, two data that reflecting assumming another woman is an enemy, two data that reflecting not concerned with the wealth and the future. The conclusion of this research is the main character in this drama experiences the symptoms of electra complex, which is interested to a much older man. | |
| 22035 | 24744 | H1H014028 | PENGARUH PEMBERIAN PAKAN YANG DITAMBAH Chromium picolinate TERHADAP PROFIL DARAH SIDAT (Anguilla bicolor) | Penambahan Chromium picolinate dapat memberi respon meningkatkan kesehatan ikan. Status kesehatan ikan dapat di diagnosis dengan pemeriksaan darah ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan yang ditambahkan Chromium picolinate terhadap profil darah ditinjau dari kadar hemoglobin, kadar glukosa darah, total eritrosit, dan differensial leukosit pada sidat (Anguilla bicolor). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan ikan. Perlakuan yang digunakan antara lain pakan kontrol tanpa penambahan Chromium picolinate (P0), Pakan yang diberi Chromium picolinate 1 mg/kg pakan (P1), pakan yang diberi Chromium picolinate 2 mg/kg pakan (P2), dan pakan yang diberi Chromium picolinate 3 mg/kg pakan (P3). Hasil penelitian menunjukan penambahan Chromium picolinate pada pakan sidat tidak adanya beda nyata terhadap kadar glukosa, hemoglobin, total eritrosit, presentase sel monosit dan sel leukosit polymorfonuklear, namun beda nyata terhadap presentase jumlah sel limfosit. Kemudian P2 (Chromium picolinate 2 mg/kg pakan) merupakan perlakuan yang beda nyata terhadap perubahan profil darah sidat. Hasil kualitas air mendapatkan kisaran suhu 240C -290C; pH 6-7; dan DO 5,2-11 pada tiap perlakuan dan masih berada pada batas optimal pemeliharaan sidat. | Addition of Chromium picolinate can respond to improve fish health. The health status of fish can be diagnosed by examining fish blood. This study aims to determine the effect of feeding given Chromium picolinate on blood profile in terms of hemoglobin levels, blood glucose levels, total erythrocytes, and differential leukocytes in eel (Anguilla bicolor). The method used in this study was experimental with 4 treatments and 4 fish replications. The treatments used were control feed without the addition of Chromium picolinate (P0), Feed given Chromium picolinate 1 mg / kg feed (P1), feed fed Chromium picolinate 2 mg / kg feed (P2), and feed given Chromium picolinate 3 mg / kg of feed (P3). The results showed the addition of Chromium picolinate in eel feed was not significantly different from glucose levels, hemoglobin, total erythrocytes, percentage of monocyte cells and polymorphonuclear leukocyte cells, but significant differences in the percentage of lymphocyte cell counts. Then P2 (Chromium picolinate 2 mg / kg feed) is a treatment that is significantly different from changes in eel blood profile. Water quality results get a temperature range of 240C-290C; pH 6-7; and 5.2-11 DO for each treatment and still at the optimal limit of eel maintenance. | |
| 22036 | 24743 | B1J014030 | Aktivitas Pepsin Like dan Lipase Ikan Lele (Clarias gariepinus) Pada Level Pemberian Pakan Berbeda | Ikan lele (Clarias gariepinus) adalah komoditas perikanan unggulan karena permintaan tinggi dan budidaya mudah. Namun, budidaya ikan lele memiliki masalah dalam pengelolaan pakan, terutama tidak semua tingkat pemberian pakan dapat diserap oleh ikan sehingga tingkat efisiensi pakan cenderung rendah. Penelitian ini bersifat eksperimental, dilakukan dengan menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan empat perlakuan dan empat ulangan. Pemeliharaan terdiri dari 2 kali pemberian pakan (08:00, 15:00), 3 kali (08:00, 11:00, 15:00), 4 kali (08:00, 11:00, 15:00, 18:00), dan 5 kali (08:00, 11:00, 15:00, 18,00, 21,00) dalam sehari. Jumlah total ikan yang dipelihara adalah 80 dengan panjang 9,25 ± 1,921 cm dan berat 11,16 ± 0,70 gr. Jumlah pakan diberikan sebanyak 3% dari berat biomassa ikan yang diukur pada awal penelitian. Pengukuran aktivitas pepsin like dan lipase dilakukan dengan metode spektrofotometri. Hasil yang diperoleh dalam aktivitas pepsin like dan lipase setelah analisis dengan ANOVA menunjukkan bahwa pemberian makan tidak berpengaruh (P> 0,05) untuk aktivitas pepsin like dan lipase dengan aktivitas rata-rata. dari 8.838 ± 3.335 dan 24.477 ± 12.585. Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa meningkatkan frekuensi makan tidak meningkatkan aktivitas enzim pepsin like dan lipase. | Catfish (Clarias gariepinus) is a superior fishery commodity due to high demand and easy cultivation. However, catfish cultivation has problems in feeding management, especially not all levels of feeding can be absorbed by fish so that the level of feed efficiency tends to be low. This study was experimental, conducted using RAL (Complete Random Design) with four treatments and four replicates. The treatment consists of feeding levels for 2 times (08:00, 15:00), 3 times (08:00, 11:00, 15:00), 4 times (08:00, 11:00, 15:00, 18:00), and 5 times (08:00, 11:00, 15:00, 18.00, 21.00) in a day. Total number of fish raised was 80 with length 9.25 ± 1.921 cm and weight 11.16 ± 0.70 gr. The amount of feed is given as much as 3% of the weight of fish biomass. The measurement of pepsin like and lipase activity was carried out by the spectrophotometry method.The results obtained in activities pepsin like and lipase after analysis with ANOVA showed that feeding was no effect (P> 0.05) for activities pepsin like and lipase with an average activity of 8,838 ± 3,335 and 24,477 ± 12,585. In this study it can be concluded that increasing the frequency of feeding does not increase activities the enzyme pepsin like and lipase. | |
| 22037 | 24745 | B1B015001 | A PRELIMINARY STUDY ON THE MEASUREMENT OF ALGINATE CONTENT IN DIFFERENT THALLI REGIONS OF Sargassum polycystum USING RAMAN SPECTROSCOPY DETECTION | Kandungan alginat yang bernilai jual tinggi pada rumput laut jenis Sargassum polycystum sangat banyak ditemukan pada dinding selnya. Kualitas alginat yang terkandung dalam rumput laut tergantung pada jenis spesies, usia, metode kultivasi dan ekstraksi. Hingga saat ini, ekstraksi adalah satu-satunya cara untuk mengetahui kualitas rumput laut hasil kultivasi. Namun, metode ekstraksi secara langsung menghancurkan sampel rumput laut dalam jumlah yang besar dan memakan waktu lama. Oleh karena itu, spektroskopi Raman mampu menjadi metode kualifikasi rumput laut berdasarkan distribusi alginatnya secara, non-labelling (tanpa pewarnaan), preparasi sampel yang sederhana, cepat, dan pemanfaatan sampel dalam jumlah yang sangat kecil. Dengan spektroskopi Raman, sampel dapat terus digunakan dalam keadaan tidak rusak (non-destruktif). Namun kendalanya, sampel segar Srgassum mengandung pigmen dan klorofil yang tinggi sehingga spektra asli alginat tertutup oleh fluoresens. Pada penelitian ini, upaya perendaman sampel segar Sargassum polycystum pada bagian talus daun dan batang ke dalam commerical bleaching agent yang berbeda-beda konsentrasi bertujuan untuk mengurangi efek fluoresens tersebut. Hasil Principle Component Analysis (PCA) menunjukkan bahwa talus daun optimal pada perendaman 50%, sedangkan talus batang pada perendaman 25% untuk menghasilkan alginat yang terbanyak dalam deteksi menggunakan Raman spektroskopi. Konsentrasi optimum ini dapat ditujukan untuk preparasi sampel pada penelitan lanjutan upaya kualifikasi rumput laut menggunakan Raman imaging (scanning) yang dikombinasikan dengan analisis kemometrik untuk mengetahui distribusi alginat dalam rumput laut. | Alginate is a high valued content that composed abundantly in Sargassum polycystum cell wall. The quality of alginates depends on the species, age, cultivation and extraction method. Up to now, extraction is the only way to find the quality of seaweed from cultivation. Nevertheless, the extraction performs a destructive method to seaweeds, a consuming time, and need abundant of seaweed quantity. Therefore, this present research will employ Raman spectroscopy as a method to detect the distribution of alginates with non-labeling, less preparation sample, fast and requirement of small sample quantities only. This method enables sample to remain intact for further analysis, also can be done by other instruments needed (non-destructive). However, Sargassum polycystum samples are containing a high pigment and chlorophyll that leads to the occurrence of fluorescence. The fluorescence will overlap real spectra information of alginates obtained from Raman spectroscopy measurement. In this research, Sargassum polycystum leaf-like and stem-like samples are bleached with 25%, 50%, and 100% concentrations for 6 hours long to reduce the fluorescence. The Principle Component Analysis (PCA) result shows the leaf-like thalli is best to be soaked in 50%, meanwhile the stem-like thalli in 25% to obtain the highest alginate content that can be detected by Raman spectroscopy. These optimum bleaching concentration for alginate component can be utilized as a sample preparation method of further research in qualifying seaweed based on the alginates content using Raman spectroscopy through Raman imaging (scanning) combined with chemometric analysis to know the distribution of alginate within the seaweeds. | |
| 22038 | 24746 | H1K013032 | POTENSI EKSTRAK RUMPUT LAUT Caulerpa lentillifera, Caulerpa racemosa, DAN Caulerpa sertularioides SEBAGAI SUMBER ANTIFOULING | Biofouling merupakan proses penempelan dan akumulasi organisme penempel (fouler) berupa bakteri, alga, tanaman dan hewan laut lainnya yang melekat pada permukaan substrat yang terendam di laut dan mengakibatkan banyak kerugian pada sektor perikanan dan industri perkapalan. Pengendalian biofouling dengan penggunaan cat antifouling berbahan dasar tributyltin (TBT) dan logam berat memiliki efek negatif terhadap lingkungan perairan dan merusak organisme non-target. Alternatif untuk menangani permasalahan tersebut dapat dilakukan dengan mengganti antifoulant sintetis dengan bahan alami yang ramah lingkungan. Bahan baku sumber antifoulant alami berasal dari organisme laut seperti rumput laut. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi penghambatan ekstrak rumput laut Caulerpa lentillifera, Caulerpa racemosa dan Caulerpa sertularioides terhadap bakteri microfouling. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan perlakuan yang digunakan adalah tiga spesies dari genus rumput laut Caulerpa terhadap 8 jenis koloni bakteri microfouling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji antifouling ketiga ekstrak spesies rumput laut dari genus Caulerpa yang diuji berpotensi sebagai antifouling. Ekstrak rumput laut yang paling potensial berdasarkan rata-rata besar zona hambat dan banyaknya bakteri microfouling yang dihambat adalah ekstrak rumput laut Caulerpa racemosa kemudian ekstrak rumput laut Caulerpa sertularioides dan paling rendah potensinya yaitu Caulerpa lentillifera. | Biofouling is the process of attaching and accumulating fouler organisms in the form of bacteria, algae, plants and other marine animals that are attached to the surface of the substrate submerged in the sea and caused many losses in the fisheries and shipping industries. Biofouling control with the use of tributyltin-based antifouling (TBT) and heavy metals paints has a negative effect on the aquatic environment and damages non-target organisms. An alternative to dealing with these problems can be done by replacing synthetic antifoulants with natural materials that are environmentally friendly. The raw material for natural antifoulant sources comes from marine organisms such as seaweed. This study aims to determine the inhibitory potential of Caulerpa lentillifera, Caulerpa racemosa and Caulerpa sertularioides seaweed extracts against microfouling bacteria. The method used in this study is the experimental method with the treatment used are three species of the Caulerpa seaweed genus against 8 types of microfouling bacterial colonies. The results showed that the antifouling test of the three extracts of seaweed species from the genus Caulerpa tested had the potential to be antifouling. The most potential seaweed extract based on the average inhibition zone and the number of microfouling bacteria inhibited were seaweed extract Caulerpa racemosa then seaweed extract Caulerpa sertularioides and the lowest potential was Caulerpa lentillifera. | |
| 22039 | 24747 | I1B015068 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERILAKU MEROKOK TENAGA KEPENDIDIKAN FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN | Latar Belakang: Perilaku merokok merupakan perilaku yang berbahaya bagi kesehatan. Faktor persepsi, psikologis, sosial, dan beban kerja dimungkinkan memiliki hubungan terhadap perilaku merokok responden. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor persepsi, psikologis, sosial, dan beban kerja terhadap perilaku merokok responden. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif komparatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan data menggunakan kuesioner. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga kependidikan Fikes Unsoed. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 41 orang. Hasil Penelitian: Mayoritas responden berada pada kelompok perokok sedang (48,8%). Sebagian besar memiliki faktor persepsi negatif (70,7%), psikologis rendah (68,3%), sosial tinggi (56,1%), dan beban kerja tinggi (92,7) terhadap perilaku merokok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara faktor sosial terhadap perilaku merokok (p=0,021). Sedangkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara faktor persepsi, psikologis, dan beban kerja terhadap perilaku merokok (p=0,078; p=0,511; p=0,235). Kesimpulan: Faktor sosial secara signifikan berhubungan terhadap perilaku merokok tenaga kependidikan Fikes Unsoed, sedangkan faktor persepsi, psikologis, dan beban kerja tidak ada hubungan yang signifikan. | Background: Smoking behavior was a harmful behavior for health. Perceptional, psychological, social, and workload factors were possible to have a relationship with smoking behavior of respondents. This study aimed to determine the relationship of perceptional, psychological, social, and workload factors with the smoking behavior on educational staff of Faculty of Health Sciences Jenderal Soedirman University. Methodology: This research was a comparative descriptive study with cross sectional approach. Data was collected use questionnaires. The population in this study were all educational staff of Fikes Unsoed. Sampling technique used total sampling with 41 staff. Results: The majority of respondents were categorized as moderate smokers (48.8%). Most respondents had negative perception factors (70.7%), low psychological (68.3%), high social (56.1%), and high workload (92.7) for smoking behavior. The results showed that there was a significant relationship between social factors and smoking behavior (p = 0.021). While there were no significant relationship between perceptional, psychological, and workload factors on smoking behavior (p = 0.078; p = 0.511; p = 0.235). Conclusion: Social factors were significantly related to smoking behavior on educational staff of Fikes Unsoed, while perception, psychological, and workload factors had no significant relationship. | |
| 22040 | 24732 | C1J014042 | FACTORS AFFECTING EMPLOYMENT OPPORTUNITIES IN PROVINCE OF BANTEN | Penelitian ini berjudul “Faktor yang Mempengaruhi Kesempatan Kerja di Provinsi Banten”. Jenis data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder dan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam bentuk data panel yaitu gabungan data time series pada tahun 2011-2015 dan data cross section pada 8 kabupaten/kota di Provinsi Banten. Tujuan Penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh produk domestik regional bruto, tingkat pendidikan, upah minimum, pertumbuhan penduduk dan jumlah perusahaan terhadap kesempatan kerja di Provinsi Banten. Berdasarkan hasil penelitan dapat disimpulkan bahwa terdapat lima variabel secara bersama sama berpengaruh signifikan terhadap kesempatan kerja di Provinsi Banten. Variabel yang berpengaruh adalah produk domestik regional bruto, tingkat pendidikan, upah minimum, pertumbuhan penduduk dan jumlah perusahaan. Secara parsial, hanya terdapat satu variabel yang tidak berpengaruh signifikan terhadap kesempatan kerja di Provinsi Banten yaitu tingkat pendidikan. Sedangkan variable produk domestik regional bruto dan jumlah perusahaan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kesempatan kerja di Provinsi Banten. Variabel upah minimum dan pertumbuhan penduduk berpengaruh positif dan signifikan. Sementara variabel yang paling berpengaruh terhadap kesempatan kerja di Provinsi Banten adalah variabel upah minimum. Implikasi dari kesimpulan diatas yaitu untuk meningkatkan produk domestik regional bruto, pemerintah Provinsi Banten perlu mengembangkan sektor padat karya. Pada upah minimum perlu adanya penetapan upah minimum yang sesuai pada berbagai sector untuk meningkatkan kesempatan kerja di Provinsi Banten.Untuk pertumbuhan penduduk dalam meningkatkan kesempatan kerja perlu adanya peningkatan kesehatan kualitas tenaga kerja sehingga ketika sudah memasuki usia angkatan kerja dapat mendapatkan pekerjaan di Provinsi Banten. Untuk jumlah perusahaan dalam menigkatkan kesempatan kerja, perlu adanya pembatasan jumlah perusahaan di sektor indutri dan memperluas jumlah perusahaan di sektor lain, agar angkatan kerja banten mendapatkan pekerjaan. | This research is entitled "Factors Affecting Employment Opportunities in Province of Banten”. The data type of this research is secondary data in the form of panel data which is a combination of time series data of the years 2011-2015 and cross section data of 8 regencies or cities in Banten Province. The purpose of this reseach is to analyze the influence of gross regional domestic product, education level, minimum wage, population growth and number of companies on employment opportunities in Province of Banten. Based on the results of the research, it can be concluded that there are five variables simultaneously have a significant effect on employment opportunities in Banten Province. The variables that influence are gross regional domestic product, education level, minimum wage, population growth and number of companies. Partially, there is only one variable that does not have a significant effect on employment opportunities in Banten Province, namely education level. While the variables of gross regional domestic product and the number of companies have a negative and significant effect on employment opportunities in Banten Province. The variables of minimum wage and population growth have a positive and significant effect. While the most influential variable on employment opportunities in Banten Province is the minimum wage variable. The implication of the above conclusion is that to increase gross regional domestic product, the Banten provincial government needs to develop labor-intensive sectors. At the minimum wage, it is necessary to establish appropriate minimum wages in various sectors to increase employment opportunities in Banten Province. For population growth in increasing employment opportunities there is a need to improve the quality of labor force health so that when entering the age of the labor force can find employment in Banten Province. For the number of companies in increasing employment opportunities, there is a need to limit the number of companies in the industrial sector and expand the number of companies in other sectors, so that the labor force can get jobs. |