Artikelilmiahs
Menampilkan 21.841-21.860 dari 50.185 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 21841 | 24577 | F1F012077 | A Translation Analysis of Verbal Humor in Sherlock Holmes the Series Season Four (2017). | ABSTRAK Pertiwi, Winda Ratna. 2018. A Translation Analysis of Verbal Humor in Sherlock Holmes the Series Season Four (2017). Skripsi. Pembimbing 1: Asrofin Nur Kholifah, S.S., M.Hum., Pembimbing 2: Dyah Raina Purwaningsih, S.S., M.Hum., Penguji: R. Pujo Handoyo, S.S., M.Hum. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Universitas Jenderal Soedirman, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Inggris, Program Studi Sastra Inggris, Purwokerto Penelitian yang berjudul A Translation Analysis of Verbal Humor in Sherlock Holmes the Series Season Four (2017) ini bertujuan untuk menganalisis jenis humor verbal dan tingkat keberterimaan di bahasa sasaran. Data dalam penelitian ini adalah semua ungkapan atau ujaran yang mengandung humor dalam film Sherlock Holmes the Series Season Four (2017). Dalam tahap ini, teori Raphaelson-West digunakan untuk menganalisis tipe humor dan teori Nababan digunakan untuk mengkaji tingkat keberterimaan. Data di ambil dari keseluruhan ungkapan yang mengandung humor. Hasil menunjukkan bahwa tiga tipe humor ditemukan dalam film Sherlock Holmes the Series Season Four (2017) yang berjumlah 65 data, yaitu linguistic humor, cultural humor and universal Humor. Peneliti menemukan 5 data linguistic humor, 7 data cultural humor dan 53 data universal humor. Pada penelitian ini tipe yang paling banyak muncul adalah universal humor. Universal humor merupakan tipe yang paling mudah difahami karena tidak mempertimbangkan unsur budaya pada kedua bahasa sumber dan bahasa sasaran. Selain itu, universal humor hanya mempertimbangkan tingkat kelucuan terhadap semua orang secara umum. Selanjutnya, dengan menghitung hasil kuisioner, terjemahan yang mengandung humor pada film Sherlock Holmes the Series Season Four (2017) memiliki tingkat keberterimaan tinggi. Makna yg terkandung dalam humor tersebut tersampaikan dengan baik sehingga terjemahan mudah dipahami oleh penonton. | ABTRACT Pertiwi, Winda Ratna. 2018. A Translation Analysis of Verbal Humor in Sherlock Holmes the Series Season Four (2017). Thesis. Supervisor 1: Asrofin Nur Kholifah, S.S., M.Hum., Supervisor 2: Dyah Raina Purwaningsih, S.S., M.Hum Examiner: R. Pujo Handoyo, S.S., M.Hum. Ministry of Research, Technology and Higher Education, Jenderal Soedirman University, Faculty of Humanities, English Department, English Literature Study Program, Purwokerto. The research entitled A Translation Analysis of Verbal Humor in Sherlock Holmes the Series Season Four (2017) aims at analysing types of humor and level of acceptability in target language. The data of this research are the whole verbal humorous utterances in Sherlock Holmes the Series Season Four (2017) movie. This research employs Raphaelson-west’s theory in analyzing humor types and Nababan’s theory in investigating acceptability level. The data were taken from all humorous utterances in the movie. The results show that three types of humor are found in Sherlock Holmes the Series Season Four (2017) movie that contained 65 data, including linguistic, cultural and universal humor. The researcher finds 5 data of linguistic humor, 7 data of cultural humor and 53 data of universal humor. However, in this research universal humor is the most frequent type used in the movie. The findings show that Universal humor becomes the most common type to be recognized because this type does not include cultural aspects in both source and target language. Furthermore, universal humor only considers as funny for most people in general. In addition, by calculating the result of the questionnaire, the translation of English humor in Sherlock Holmes the Series Season Four (2017) movie is considered as high level of acceptability. The message contained in the humor is well-transferred, so the translation is easily understood by the target audience. | |
| 21842 | 24583 | C1B014034 | ANALISIS DAN SIMULASI SISTEM ANTRIAN PELAYANAN PADA PT. POS INDONESIA (PERSERO) CABANG PURWOKERTO | Penelitian ini adalah penelitian observasi pada sistem antrian kantor PT.Pos Indonesia (Persero) yang berada di Purwokerto. Judul yang diambil peneliti adalah: “Analisis dan Simulasi Sistem Antrian Pelayanan di PT Pos Indonesia (Persero) Cabang Purwokerto”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan ukuran kinerja sistem antrian pada kantor pos Purwokerto serta melakukan berbagai simulasi model antrian dan menilai apakah model sistem antrian yang saat ini diterapkan sudah optimal. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pelanggan pada kantor pos yang mengambil nomor antrian dan selesai dilayani di loket pelayanan pada waktu yang ditentukan peneliti. Random sampling method digunakan dalam penentuan data sampel. Berdasarkan hasil penelitian dan simulasi model antrian menggunakan software Arena menunjukan bahwa: (1) Model yang diterapkan pada sistem antrian kantor pos Purwokerto saat ini adalah (M/M/4) : (GD/∞/∞) dengan rata-rata tangkat kedatangan 34.55 dan rata-rata tingkat pelayanan 8,66 setiap 1 jam. Model ini sudah memnuhi steady state karena ρ<1 yaitu 0.99. Ukuran kinerja dalam interval waktu 1 jam yaitu Lq sebesar 3.735, Ls sebesar 7.725, Wq sebesar 0.108 dan Ws sebesar 0.216, hal ini menunjukan bahwa model (M/M/4) : (GD/∞/∞) sudah optimal ukuran kinerjanya karena memenuhi steady state, (2) Berdasarkan simulasi dengan menggunakan model (M/M/3) : (GD/∞/∞), ukuran kinerja antrian kurang baik, (3) Hasil simulasi menunjukan model (M/M/5) : (GD/∞/∞) dan (M/M/6) : (GD/∞/∞) tidak berbeda jauh ukuran kinerjanya, | This research is observational research in the queuing office system of PT. Indonesia Persero) office located in Purwokerto. The title taken by the researcher is: "Analysis and Simulation of the Queue Service System at PT Pos Indonesia (Persero) Purwokerto Branch". This study aims to determine the condition and size of the queuing system performance at the Purwokerto post office and conduct various queuing model simulations and assess whether the queuing system model currently applied is optimal. The population in this study were all customers at the post office who took the queue number and finished being served at the service counter at the time specified by the researcher. Random sampling method is used in determining sample data. Based on the results of research and simulation of queuing models using Arena software, it shows that: (1) The model applied to the current Purwokerto post office queuing system is (M / M / 4): (GD / ∞ / ∞) with an average arrival rate of 34.55 and an average service level of 8.66 every 1 hour. This model has met the steady state because ρ <1 is 0.99. Performance measures in 1 hour time interval are Lq of 3,735, Ls of 7,725, Wq of 0,108 and Ws of 0,216, This shows that the model (M / M / 4): (GD / ∞ / ∞) has an optimal measure of performance (2) Based on simulation using model (M / M / 3): (GD / ∞ / ∞), measure of performance the queue is not good, (3) The simulation results show the model (M / M / 5): (GD / ∞ / ∞) and (M / M / 6): (GD / ∞ / ∞) do not differ in size. | |
| 21843 | 24585 | A1L014107 | APLIKASI PUPUK MIKORIZA-AZOLLA DAN PENGURANGAN DOSIS PUPUK BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) | Penelitian ini bertujuan untuk menentukan: 1) dosis pupuk mikoriza-azolla, 2) pengurangan dosis pupuk buatan dan 3) kombinasi keduanya yang tepat untuk pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulam Maret sampai Mei 2018 di lahan petani, Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, kabupaten Banyumas dan Laboratoruim Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah pupuk hayati mikoriza-azolla yang terdiri dari 3 taraf, yaitu pupuk hayati mikoriza-azolla 0-0, 10-5 dan 20-10 g tanaman-1. Faktor kedua adalah pengurangan dosis pupuk buatan meliputi pupuk Urea, ZA, SP-27 dan KCl yang terdiri dari 3 taraf, yaitu pengurangan 0%, 25% dan 50% dosis pupuk buatan. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dan apabila berpengaruh nyata maka dilakukan uji lanjut DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk hayati 20 g mikoriza-10 g azolla dan pengurangan 50% dosis pupuk buatan baik secara mandiri maupun kombinasi keduanya merupakan perlakuan yang paling efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil bawang merah dengan hasil bobot umbi segar rumpun-1 bawang merah tertinggi yang dipilih yaitu sebesar 31,41 g atau setara dengan 7,06 ton Ha-1. | This research aims to determine: 1) the dose of mycorrhiza-azolla fertilizer, 2) decrease of artificial fertilizers dose and 3) a combination of both appropriate on growth and yield of shallot. This research has been carried out from March to May 2018 in the field of Kaliori village, Kalibagor district, Banyumas regency and the Laboratory of Agronomy and Horticulture Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The research design used is Randomized Complete Block Design (RCBD) with 2 factors and 3 replications. The first factor is the dose of mycorrhiza-azolla biofertilizer consisting of 3 levels, that are mycorrhiza-azolla biofertilizer at 0-0, 10-5 and 20-10 g plant-1. The second factor is the decrease of artificial fertilizer dose including Urea, ZA, SP-27, and KCl fertilizer which consisting of 3 levels, that are 0%, 25% and 50% decrease of artificial fertilizer doses. Observation data were analyzed using analysis of variance and if it had a significant effect, further testing was performed with Duncan Multiple Range Test (DMRT) at the 5% level. The results showed that the application of 20 g mycorrhizae-10 g azolla biofertilizer and 50% decrease of artificial fertilizer doses independently and a combination of both were the most effective treatments to increase the growth and yield of shallots with the highest fresh weight of bulb clump-1selected at 31,41 g, equivalent to 7,06 ton Ha-1. | |
| 21844 | 25826 | I1C015073 | PENENTUAN KADAR FENOLIK TOTAL DAN AKTIVITAS ANTI HEPATOTOKSIK EKSTRAK ETANOL BIJI KURMA (Phoenix dactylifera L.) | Latar Belakang : Obat yang dimetabolisme di hati berpotensi menyebabkan hepatotoksik apabila digunakan dalam dosis toksik ataupun dosis terapi. Selain obat, karagenan juga dapat menyebabkan hepatotoksik dengan pemberian secara i.p. setelah 12 jam induksi. Efek perbaikan sel hati berhubungan dengan aktivitas antioksidan dari senyawa golongan fenolik yang terkandung dalam biji kurma. Oleh karena itu, penelitian ini untuk mengetahui kadar fenolik total dan aktivitas anti hepatotoksik dari ekstrak etanol biji kurma pada tikus yang diinduksi karagenan dilihat dari penurunan kadar SGOT SGPT. Metodologi : Penentuan fenolik total secara kuantitatif dalam sampel ekstrak etanol biji kurma dengan reagen Folin-Ciocalteu. Desain penelitian ini adalah pre and post test control group. Pemeriksaan kadar SGOT dan SGPT dengan metode kinetik berdasarkan IFCC. Analisis data menggunakan uji paired t-test dan uji Anova.. Hasil Penelitian : Kadar fenolik total ekstrak etanol biji kurma varietas Deglet Noor sebesar 8.521% GAE. Rerata penurunan kadar SGOT yang paling besar terjadi pada dosis terapi 150 mg/kgBB sebesar 43,00 U/L dibandingkan dosis 300 dan 600mg/kgBB (25,80 dan 34,80 U/L). Rerata penurunan kadar SGPT paling besar terjadi pada dosis terapi 300mg/kgBB sebesar 16,20 U/L dibandingkan dosis 150 dan 600 mg/kgBB (11,60 dan 15,60 U/L). Kesimpulan :Ekstak etanol biji kurma dosis 150, 300 dan 600mg/kgBB memiliki aktivitas anti hepatotoksik pada tikus yang diinduksi karagenan dilihat dari penurunan kadar SGOT dan SGPT yang signifikan (p<0,05). | Background: Medicines are metabolized in the liver have the potential hepatotoxicity effect when used in toxic doses or therapeutic doses. In addition to drugs, carrageenan also cause hepatotoxic after 12 hours of induction i.p. The effect of liver cell repair is related to the antioxidant activity of phenolic compounds in date seeds. Therefore, this study is to determine the total phenolic levels and anti-hepatotoxic activity of ethanol extracts of date palm seeds in carrageenan-induced rats seen from a decrease in SGOT SGPT levels. Methodology: Quantitative determination of total phenolics in palm ethanol extract samples with the Folin-Ciocalteu reagent. The design of this study is the pre and post test control group. Examination of SGOT and SGPT levels by kinetic method based on IFCC. Data analysis using paired t-test and Anova test. Results: The total phenolic content of the ethanol extract of date seeds of Deglet Noor variety was 8,521% GAE. The highest reduction in SGOT levels occurred at a therapeutic dose of 150 mg / kgBW was 43.00 U / L compared to doses of 300 and 600 mg / kg body weight (25.80 and 34.80 U / L). The highest average decrease in SGPT levels occurred at a therapeutic dose of 300 mg/kgBW was 16.20 U / L compared to doses of 150 and 600 mg / kgBB (11.60 and 15.60 U / L). Conclusion: Extra ethanol dates of doses of 150, 300 and 600mg / kgBB have anti-hepatotoxic activity in carrageenan-induced mice as seen from a significant decrease in SGOT and SGPT levels (p <0.05). | |
| 21845 | 26287 | D1E014111 | Hubungan Etos Kerja Dengan Pendapatan Peternakan Sapi Perah Di Kabupaten Banyumas | Beternak sapi perah tidak hanya memerlukan iklim yang sesuai dan pakan yang berkualitas namun juga dibutuhkan sumber daya manusia yang memliki etos kerja yang baik untuk menghasilkan produktivitas dan pendapatan yang tinggi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan etos kerja dengan pendapatan usaha sapi perah di Kabupaten Banyumas. Penelitian dilakukan dengan metode survei. Penetapan sampel wilayah dilakukan dengan metode purposive sampling yaitu pemilihan wilayah yang banyak memiliki populasi sapi perah di Kabupaten Banyumas yaitu Kecamatan Pekuncen dan Kecamatan Cilongok. Pengambilan sampel kelompok peternak dilakukan menggunakan metode sensus. Penentuan responden dilakukan secara simple random sampling dan diperoleh responden yang memiliki sapi laktasi sebanyak 45 orang. Analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif, analisis pendapatan dan korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukan tingkat etos kerja peternak sapi perah di Kecamatan Pekuncen dan Cilongok tergolong tinggi, hal tersebut ditunjukan peternak sapi perah memiliki sikap disiplin, kerja keras dan tanggungjawab yang merupakan indikator etos kerja. Rata-rata pendapatan usaha ternak sapi perah di Kecamatan Pekuncen dan Cilongok sebesar Rp19,367,575.65/tahun. Indikator etos kerja yaitu disiplin dengan koefisien korelasi sebesar 0.605 dan signifikansi 0,00 berarti indikator tersebut berhubungan sangat nyata dengan pendapatan. Indikator kejujuran dengan koefisien korelasi sebesar 0,26 dan signifikansi 0,85 yang berarti indikator kejujuran tidak berhubungan nyata dengan pendapatan. Indikator kerja keras dengan koefisien korelasi 0,548 dan signifikansi 0,00 berarti kerja keras berhubungan sangat nyata dengan pendapatan. Indikator tanggungjawab dengan koefisien korelasi 0,355 dan signifikansi 0,017 berarti indikator tersebut berhubungan nyata dengan pendapatan. | Does dairy farming not only require a suitable climate and quality feed but also human resources that have a good work ethic to produce high productivity and income. The study aims to determine the relationship of work ethic with dairy cow business income in Banyumas Regency. The study was conducted by survey method. Determination of the sample area is done by purposive sampling method, namely the selection of areas that have a lot of dairy cattle population in Banyumas Regency, namely Pekuncen District and Cilongok District. Sampling of breeder groups was carried out using the census method. Determination of respondents is done by simple random sampling and obtained by respondents who have 45 lactation cows. The analysis used is descriptive analysis, income analysis and Spearman Rank correlation. The results showed the level of work ethic of dairy farmers in the Districts of Pekuncen and Cilongok was high, it was shown that dairy farmers have a disciplined attitude, hard work and responsibility which are indicators of the work ethic. The average income of dairy cattle businesses in the Districts of Pekuncen and Cilongok is Rp19,367,575.65 / year. The work ethic indicator is a discipline with a correlation coefficient of 0.605 and a significance of 0.00 means that the indicator is highly correlated with income. Honesty indicator with a correlation coefficient of 0.26 and a significance of 0.85 which means that the honesty indicator is not significantly related to income. The indicator of hard work with a correlation coefficient of 0.548 and a significance of 0.00 means hard work is very significantly related to income. The indicator of responsibility with a correlation coefficient of 0.355 and a significance of 0.017 means that the indicator is significantly related to income. | |
| 21846 | 24595 | F1K014026 | ALIH KODE DAN CAMPUR KODE PADA PERCAKAPAN MAHASISWA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN DI MEDIA SOSIAL LINE | RINGKASAN Penelitian ini berjudul “Alih Kode dan Campur Kode pada Percakapan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman di Media Sosial Line. Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan data berupa percakapan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman di media sosial Line. Penelitian ini menggunakan metode simak dalam pengumpulan data. Teknik yang digunakan terdiri atas empat teknik yaitu teknik sadap, teknik simak libat cakap, teknik simak bebas libas cakap, teknik rekam, dan teknik catat. Data yang dianalisis menggunakan metode padan pragmatis dengan teknik dasar yang digunakan teknik pilah unsur penentu. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan berupa wujud alih kode yang dibedakan menjadi dua, yaitu alih kode intern yang berjumlah 10 tuturan dan alih kode ekstern berjumlah 2 tuturan. Wujud campur kode yang ditemukan dibedakan menjadi 3 meliputi (1) campur kode yang berupa penyisipan unsur berwujud kata berjumlah 7 tuturan, (2) campur kode yang berupa penyisipan unsur berwujud frasa berjumlah 7 tuturan, (3) campur kode yang berupa penyisipan unsur berwujud klausa berjumlah 5 tuturan. Faktor penyebab terjadinya alih kode dibedakan menjadi 5 faktor yang meliputi (1) kendornya penguasaan diri berjumlah 7 tuturan, (2) pengaruh kalimat-kalimat yang mendahului penuturan berjumlah 6 tuturan, (3) pengaruh maksud-maksud tertentu berjumlah 4 tuturan, (4) pengaruh hadirnya orang ketiga berjumlah 1 tuturan, (5) pengaruh praktik bahasa berjumlah 2 tuturan. Faktor penyebab terjadinya campur kode dibedakan menjadi 3 faktor yang meliputi (1) identifikasi peranan sosial berjumlah 12 tuturan, (2) identifikasi ragam berjumlah 0 tuturan, (3) keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan 7 tuturan. | SUMMARY This research is entitled "Code Switching and Code Mixing on Student Conversation at the Faculty of Humanity, Jenderal Soedirman University on the Social Media Line. The form of this study is descriptive qualitative, with data in the form of conversations and speeches of the students of the Faculty of Humanity, Jenderal Soedirman University on social media Line. This study uses the refer method in data collection. The technique used consisted of four techniques, namely tapping technique, participant observation technique, free participant observation technique, recording technique, and note taking technique. The data analyzed using the pragmatic equivalent method with the basic technique used is the determinant sorting technique. This research concludes in the form of code switching is divided into two, namely internal code transfer amounting to 10 utterances and external code switching totaling 2 utterances. The code mixing found is divided into 3, including (1) code mixing in the form of insertion of 7 tangible words, (2) code mixing in the form of insertion of 7 tangible phrases, (3) code mixing in the form of insertion of 5 speech clauses. The causes of code switching are divided into 5 factors which include (1) the lack of self-mastery totaling 7 utterances, (2) the effect of sentences preceding the narrative of 6 utterances, (3) the influence of certain purposes amounted to 4 utterances, (4) the influence of the presence of a third is 1 speech, (5) the influence of the practice of the language amounted to 2 utterances. The causes of code interference are divided into 3 factors which include (1) identification of social roles totaling 12 speeches, (2) identification of variance totaling 0 speeches, (3) desire to explain and interpret 7 utterances. | |
| 21847 | 24586 | E1A014298 | KEPATUHAN HUKUM TENAGA KEFARMASIAN TERHADAP STANDAR PELAYANAN MINIMAL KEFARMASIAN RUMAH SAKIT DALAM PELAYANAN KEFARMASIAN (STUDI DI RSUD DR. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA) | KEPATUHAN HUKUM TENAGA KEFARMASIAN TERHADAP STANDAR PELAYANAN MINIMAL KEFARMASIAN RUMAH SAKIT DALAM PELAYANAN KEFARMASIAN (STUDI DI RSUD DR. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA) ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepatuhan hukum tenaga kefarmasian terhadap standar pelayanan minimal kefarmasian rumah sakit dalam pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga dan faktor yang cenderung memengaruhi kepatuhan hukum tenaga kefarmasian terhadap standar pelayanan minimal kefarmasian rumah sakit dalam pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. R. Goeteng Taroendibrata Purbalingga. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan yuridis sosiologis, dan spesifikasi penelitian deskriptif. Lokasi penelitian ini di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. R. Goeteng Taroendibrata Purbalingga dengan responden sebanyak 30 (tiga puluh) orang tenaga kefarmasian. Pengambilan sampel melalui metode simple random sampling. Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder yang diperoleh dengan metode angket, dokumenter dan kepustakaan. Pengolahan data secara coding, editing, dan tabulasi. Analisis data kuantitatif mengunakan metode analisis isi dan analisis perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan hukum tenaga kefrmasian terhadap standar pelayanan minimal kefarmasian rumah sakit dalam pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. R. Goeteng Taroendibrata Purbalingga adalah tinggi. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian terhadap 5 (lima) indikator meliputi tingginya kepatuhan hukum terhadap waktu tunggu pelayanan obat jadi, tingginya kepatuhan hukum terhadap waktu tunggu pelayanan obat racikan, tingginya kepatuhan hukum terhadap tidak adanya kejadian kesalahan pemberian obat, tingginya kepuasan pelanggan, tingginya kepatuhan hukum terhadap penulisan resep sesuai formularium. Faktor-faktor yang cenderung memengaruhi kepatuhan hukum tenaga kefarmasian terhadap standar peayanan minimal kefarmasian rumah sakit dalam pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. R. Goeteng Taroendibrata Purbalingga meliputi faktor kedisiplinan kerja, fasilitas kerja, dan masa kerja. Kata Kunci : Kepatuhan Hukum; Standar Pelayanan Minimal Kefarmasian; Kedisiplinan; Fasilitas; Masa Kerja | PHARMACEUTICAL LEGAL COMPLIANCE ON THE MINIMUM SERVICE STANDARD OF HOSPITAL PHARMACY IN PHARMACEUTICAL SERVICES (STUDY IN DR. R. GOETENG HOSPITAL, TAROENADIBRATA PURBALINGGA) ABSTRACT This study aims to determine the legal compliance of pharmacy staff towards the minimum service standards of pharmaceutical pharmacy in pharmacy services at the Regional General Hospital Dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga and factors that tend to influence the legal compliance of pharmacy staff to the minimum service standards of pharmaceutical pharmacy in pharmacy services at the Dr. General Hospital. R. Goeteng Taroendibrata Purbalingga. This research uses quantitative research methods with a sociological juridical approach, and descriptive research specifications. The location of this research was at the Regional General Hospital Dr. R. Goeteng Taroendibrata Purbalingga with respondents of 30 (thirty) pharmacy staff. Sampling through simple random sampling method. The data used include primary data and secondary data obtained by questionnaire, documentary and library methods. Processing data in coding, editing, and tabulation. Quantitative data analysis using the method of content analysis and comparative analysis. The results of the study showed that the level of legal compliance of diffraction personnel towards the minimum service standards of pharmaceutical pharmacy in pharmacy services at the Regional General Hospital Dr. R. Goeteng Taroendibrata Purbalingga is high. This is evidenced by the results of research on 5 (five) indicators including the high legal compliance with finished drug service waiting time, high legal compliance with concocted drug service time, high legal compliance with the absence of drug delivery errors, high customer satisfaction, high compliance the law for prescription writing in accordance with the formulary. Factors that tend to influence the legal compliance of pharmacy staff towards minimum service standards of pharmaceutical pharmacy in pharmacy services at Dr. Regional General Hospital R. Goeteng Taroendibrata Purbalingga includes work discipline, work facilities, and years of service. Keywords: Legal Compliance; Pharmacy Minimum Service Standards; Discipline; Facilities; Years of service | |
| 21848 | 24587 | A1L114064 | PENGURANGAN PUPUK NPK DENGAN PENGGUNAAN LIMBAH CAIR TAHU UNTUK PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN OKRA (Abelmoschus esculentus) | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis limbah cair tahu terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman okra, mengetahui dosis pupuk N, P, K terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman okra dan mengetahui persentase dosis limbah cair tahu menggantikan dosis pupuk N, P, K untuk pertumbuhan dan hasil tanaman okra. Rancangan yang digunakan adalah RAKL dua faktor. Faktor pertama yaitu dosis pupuk limbah cair tahu terdiri dari 6 taraf yaitu Kontrol (T0), limbah cair tahu 20% (T1), limbah cair tahu 40% (T2), limbah cair tahu 60% (T3), limbah cair tahu 80% (T4) dan limbah cair tahu 100% (T5) dari dosis rekomendasi. Faktor kedua yaitu dosis pupuk N, P, K terdiri dari 3 taraf yaitu Kontrol (D0), pupuk N, P, K 50% (D1) dan pupuk N, P, K 100% (D2) dari dosis rekomendasi pupuk N, P, K yaitu N 22,5 g; P 27 g; K 30 g per polybag. Penelitian ini diperoleh 18 kombinasi perlakuan. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali, sehingga diperoleh 54 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis limbah cair tahu dapat menggantikan pupuk N, P, K sebesar 50%. Hal ini dibuktikan pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah buah, panjang buah, diameter buah, bobot buah segar dan bobot tanaman segar. | This research aimed to determine the best dose of tofu liquid waste for growth and yield of okra plants, determined the best dose of N, P, K fertilizer for growth and yield of okra plants and found out the percentage dose of tofu liquid waste replacing of fertilizer N, P , K were for growth also yield of okra plants. The design used two-factors Completely Randomized Design. The first factor was the dose of tofu liquid waste consists of 6 levels, namely Control (T0), 20% of tofu liquid waste (T1), 40% of tofu liquid waste (T2), 60% of tofu liquid waste (T3), 80% of tofu liquid waste (T4) and 100% of tofu liquid waste (T5) from the recommended dose. The second factor was the dose of urea, SP-36, KCl fertilizer consists of 3 levels, namely Control (D0), N, P, K fertilizer 50% (D1) and N, P, K fertilizer 100% (D2) from the recommended dose of fertilizer N, P, K which was N 22,5 g; P 27 g; K 30 g per polybag. This research obtained 18 treatment combinations. Each treatment was repeated 3 times, to obtained 54 experimental units. The results showed that the dose of tofu liquid waste can replace N, P, K fertilizer by 50%. This is evidenced in plant height, number of leaves, number of fruits, fruit lenght, fruit diameter, fresh fruit weight and fresh plant weight variables. | |
| 21849 | 24589 | A1L014212 | Pengaruh Bahan dan Dosis Aplikasi Pupuk Organik Cair (POC) terhadap Pertumbuhan dan Hasil Biomassa Azolla microphylla | Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh perbedaan bahan pupuk organik cair terhadap pertumbuhan tanaman Azolla microphylla; (2) mengetahui pengaruh perbedaan dosis aplikasi masing – masing pupuk organik cair terhadap pertumbuhan tanaman Azolla microphylla; (3) mengetahui interaksi antara bahan POC dan dosis aplikasinya. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 faktor, dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah bahan pupuk organik cair (POC), yaitu pupuk organik cair berbahan urine kambing (K) dan pupuk organik cair berbahan air kolam lele (L). Faktor kedua adalah dosis aplikasi pupuk organik cair, yaitu 0,5 l/m2 (A1), 1 l/m2 (A2), 1,5 l/m2 (A3), 2 l/m2 (A4). Hasil penelitian menunjukkan jenis pupuk organik cair (POC) berpengaruh terhadap bobot segar biomassa azolla dan menunjukkan POC air kolam lele lebih baik dibandingkan POC urine kambing. Dosis aplikasi pupuk mempengaruhi laju pertumbuhan, lama waktu recovery, dan bobot segar biomassa azolla. Interaksi antara jenis POC dan dosis aplikasinya berpengaruh terhadap variabel laju pertumbuhan dan bobot segar biomassa azolla. | This study aims to: (1) determine the effect of liquid organic fertilizer material on the growth of Azolla microphylla; (2) find out the dosage application of liquid organic fertilizer on the growth of Azolla microphylla plants; (3) knew the interaction between POC material and dosage of application. The experimental design used was a 2-factor Randomized Block Design (RBD), with 3 replications. The first factor was the material of liquid organic fertilizer (POC): which was made from goat urine (K) and made from catfish waste water (L). The second factor was the application dosage of liquid organic fertilizer, namely ½ l / m2 (A1), 1 l / m2 (A2), 1½ l / m2 (A3), 2 l / m2 (A4). The results showed that the best type of liquid organic fertilizer (POC) was catfish pond water POC and had a very significant effect on the fresh weight of azolla biomass. Fertilizer application dosage has a significant effect on growth rate, length of recovery time, and has a significant effect on the fresh weight of azolla biomass. The interaction between the type of POC and the application dosage has a significant effect on the variable growth rate and fresh weight of azolla biomass. | |
| 21850 | 24588 | A1C114006 | PENENTUAN HARGA POKOK PRODUK BERSAMA DAN PERENCANAAN LABA JANGKA PENDEK KERIPIK TEMPE DI ECO 21 PURWOKERTO | ECO 21 merupakan salah satu UMKM oleh-oleh yang menjual keripik tempe. ECO 21 memiliki enam variasi kemasan keripik tempe yaitu kemasan yang berisi 10 buah, 12 buah, 40 buah, 68 buah, 25 buah dan 50 buah. ECO 21 telah memiliki pembukuan dalam kegiatan produksinya namun berhenti, selain itu ECO 21 belum melakukan pemisahan pehitungan laba rugi untuk setiap variasi kemasan keripik tempe. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui harga pokok produk, penerimaan dan keuntungan usaha keripik tempe ECO 21, 2) mengetahui perencanaan laba jangka pendek usaha keripik tempe ECO 21, 3) mengetahui alasan konsumen membeli keripik tempe di ECO 21. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus, dilaksanakan di ECO 21 pada 10 September hingga 9 Oktober 2018. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis biaya bersama, harga pokok produk, keuntungan dan analisis perencanaan laba jangka pendek yang meliputi BEP, CM, MOS, SDP, DOL. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata harga pokok produk sebesar Rp20.122.517,00, penerimaan sebesar Rp34.548.167,00 dan keuntungan sebesar Rp14.425.649,00. Hasil perhitungan perencanaan laba jangka pendek menunjukan bahwa nilai terendah BEP harga yaitu kemasan 25 buah, BEP unit terendah yaitu kemasan 50 buah, BEP penerimaan terendah yaitu kemasan 25 buah, nilai CM tertinggi yaitu kemasan 12 buah sebesar Rp51.949.474,00 dan CM Ratio 15 persen, nilai MOS terendah yaitu kemasan 68 buah sebesar Rp3.357.493,00, nilai SDP tertinggi yaitu kemasan 10 buah sebesar Rp7.218.951,00 dan nilai DOL tertinggi yaitu kemasan 12 buah sebanyak 1,204. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, alasan membeli keripik ECO 21 karena keripik tempe ECO 21 memiliki rasa yang lebih nikmat, renyah, tanpa bahan pengawet serta terdapat enam variasi kemasan sehingga konsumen dapat memilih kemasan sesuai kebutuhan dan keinginan. | ECO 21 is one of the small enterprises located on Jl. Jendral Soetoyo producing and selling tempe chips. ECO 21 have six variations of tempe chips products based on packs containing quantities of 10 pieces, 12 pieces, 40 pieces, 68 pieces, 25 pieces as well as 50 pieces of tempe chips. ECO 21 did a book keeping to record it's production activities before but then stopped due to the fact that ECO 21 did not separately record the calculation between profit and loss for each variations of it's tempe chips. This study aims to: 1) find out the product costs, revenues and profits of ECO 21 tempe chips, 2) find out the short-term profit planning of ECO 21 tempe chips, 3) find out the reasons why the consumers buy tempe chips at ECO 21. The research uses case study method at ECO 21 on September 10 to October 9, 2018. The analytical method used is the analysis of joint costs, product cost, profit and analysis of short-term profit planning in the form of break even point (BEP), contribution margin (CM), margin of safety (MOS), shut down point (SDP) and degree of operating laverage (DOL). The results of the study showed that the average cost (cost of goods sold) is Rp20.122.517,00, revenue is Rp34.548.167,00 and profit is Rp14.425.649,00. The results of the calculation of short-term profit planning showed that the lowest value of the BEP was for pack containing 25 pieces which was sold at Rp.7,823.00, the lowest BEP unit was for 45 packs containing 50 pieces, the lowest revenue of BEP was for packs containing 25 pieces which reached Rp.662,341.00, the highest CM value was pack containing 12 pieces which reached Rp51,949,474.00 and CM Ratio value was 15 percent, the lowest MOS value was pack containing 68 pieces which reached Rp.3,357,493.00, the highest SDP value was pack containing 10 pieces reaching Rp7.218.951,00 and the highest DOL value was for pack containing 12 pieces reaching up to 1,204. Based on the results of interviews with respondents, it was known that the reason for buying ECO 21 tempe chips, because ECO 21 tempe chips are much more delicious and has crispy flavor, without preservative and there are six variations of packaging so that consumers can make an option according to their want and need. | |
| 21851 | 26105 | E1A014279 | SAKSI AHLI KEDOKTERAN FORENSIK DALAM PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN ANAK (Tinjauan Yuridis Putusan No. 6/Pid.Sus-Anak/2018/PN.Pwt.) | ABSTRAK Ilmu kedokteran dalam membantu peradilan ditujukan melalui peran dokter yang membantu proses penyidikan guna mengungkap kejahatan yang berkaitan dengan tubuh manusia. Kewajiban seorang dokter untuk membantu proses peradilan telah diatur dalam kitab hukum. Dokter dapat dihadirkan kedalam persidangan untuk menjadi saksi ahli atas permintaan jaksa ataupun pengacara atas persetujuan hakim guna menerangkan yang berkaitan tentang luka ataupun kematian korban. Metode yang digunakan adalah pendekatan yuridis normative. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa putusan pengadilan. Teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka dari literature dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan putusan. Metode analisis bahan hukum adalah dengan menggunakan metode analitis kualitatif. dr. M. Zaenuri Syamsy Hidayat, sp.KF, Msi.Med dalam putusan No. 6/Pid.Sus-Anak/2018/PN.Pwt berperan penting dalam memperkirakan saat kematian korban, menentukan sebab kematian korban, menentukan/memperkirakan cara kematian korban. Dan saksi ahli yang diajukan memiliki nilai pembuktian karena telah terpenuhinya sesuai dengan Pasal 179 KUHAP yaitu telah memenuhi syarat formil yaitu saksi ahli telah disumpah dan syarat materil yaitu ahli menerangkan menurut pengetahuan yang dimiliki, pengalaman, fakta yang ia ketahui sendiri yaitu dibidang kedokteran. | Abstract Medical science in helping the judiciary is addressed through the role of doctors who assist the investigation process to uncover crimes related to the human body. The obligation of a doctor to assist the judicial process is regulated in the law book. Doctors can be presented to the trial to become expert witnesses at the request of the prosecutor or attorney with the judge's approval to explain the related injuries or the death of the victim. The method used is a normative juridical approach. The data used is secondary data in the form of court decisions. The technique of collecting data uses literature studies from the literature and legislation relating to decisions. The method of analyzing legal material is to use qualitative analytical methods. Dr. M. Zaenuri Syamsu Hidayat, sp. KF, Msi. Med in decision No. 6 / Pid.Sus-Anak / 2018 / PN.Pwt plays an important role in estimating the death of the victim, determining the cause of death of the victim, determining / estimating the way of death of the victim. And the expert witnesses submitted have evidentiary values because they have been fulfilled in accordance with article 179 of the KUHAP which is fulfilling formal requirements, namely expert witnesses who have been sworn and material requirements, namely experts who explain according to their knowledge, experience, facts that they know themselves, namely in medicine. | |
| 21852 | 24591 | A1C014037 | DAYA SAING USAHATANI KOPI ROBUSTA (Coffea Canephora) Di KECAMATAN KARANGLEWAS KABUPATEN BANYUMAS | Kopi merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan di Indonesia yang memiliki kontribusi cukup besar dalam perekonomian, antara lain sebagai penghasil devisa, sumber pendapatan petani, penghasil bahan baku industri dan penciptaan lapangan kerja. Desa Sunyalangu merupakan desa penghasil kopi robusta di Kecamatan Karanaglewas Kabupaten Banyumas. Produk kopi robusta sudah dipasarkan ke berbagai wilayah di Banyumas dan sekitarnya dengan permintaan yang semakin meningkat setiap tahunya. Hal ini menunjukan kopi robusta Desa Sunyalangu mampu masuk dan bersaing dengan komoditas sejenis di pasar. Tujuan penelitian ini adalah 1) Mengetahui keadaan umum Desa Sunyalangu Kecamatan Karanglewas. 2) Mengetahui tingkat daya saing usahatani kopi robusta di Kecamatan Karanglewas dari aspek keunggulan kompetitif dan komparatif. 3) Mengetahui dampak kebijakan pemerintah terhadap usahatani kopi robusta di Kecamatan Karanglewas. 4) Mengetahui dampak perubahan harga input-output terhadap tingkat daya saing usahatani kopi robusta di Kecamatan Karanglewas dari aspek keunggulan komparatif dan kompetitif. Keunggulan kompetitif merupakan ukuran daya saing yang dihitung berdasarkan harga aktual, sedangkan keunggulan komparatif merupakan ukuran daya saing yang dihitung berdasarkan harga bayangan. Metode penelitian menggunakan metode survei. Penelitian dilaksanakan di Desa Sunyalangu Kecamatan Karanglewas pada Bulan Juli 2018 sampai Bulan Agustus 2018. Tempat penelitian dipilih secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan Desa Sunyalangu merupakan desa penghasil kopi robusta di Kecamatan Karanglewas. Penentuan sampel menggunakan metode snowball sampling dan diperoleh 30 petani responden. Metode ini dipilih dengan alasan data jumlah populasi petani kopi robusta yang sudah menjalankan usahatani selama 10 tahun belum diketahui. Data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer dan sekunder yang dianalisis dengan menggunakan Net Present Value, Policy Analysis Matrix (PAM) dan Sensitivitas. Hasil penelitian menunjukan bahwa usahatani kopi robusta Desa Sunyalangu Kecamatan Karanglewas memiliki potensi untuk dikembangkan, tingkat daya saing sudah tercapai dilihat dari aspek keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif. Kebijakan pemerintah terhadap harga input usahatani kopi robusta yaitu subsidi pupuk urea memberikan insentif kepada petani sehingga dapat meningkatkan keunggulan kompetitif. Hasil analisis sensitivitas menunjukan bahwa usaha tani kopi robusta tetap mempunyai daya saing yang baik (keunggulan kompetitif dan komparatif) walaupun terjadi perubahan harga input dan harga output dengan asumsi faktor lainnya tetap yang tercermin dengan nilai PCR dan DRCR tetap di bawah 1. | Coffee is one of the mainstay of plantation commodities in Indonesia which has a considerable contribution in the economy, including as a foreign exchange earner, a source of income for farmers, industrial raw material producers and job creation. Sunyalangu Village is a robusta coffee producing village in Karanaglewas District, Banyumas Regency. Robusta coffee products have been marketed to various regions in Banyumas and surrounding areas with increasing demand every year. This shows that robusta coffee in Sunyalangu Village is able to enter and compete with similar commodities in the market. The purpose of this study is 1) To find out the general state of Sunyalangu Village, Karanglewas District. 2) Knowing the level of competitiveness of robusta coffee farming in Karanglewas District from the aspects of competitive and comparative advantage. 3) Knowing the impact of government policies on robusta coffee farming in Karanglewas District. 4) Knowing the impact of changes in input-output prices on the level of competitiveness of robusta coffee farming in Karanglewas District from the aspects of competitive and comparative advantage. Competitive advantage is a measure of competitiveness calculated based on actual prices, while comparative advantage is a measure of competitiveness calculated based on shadow prices. The research method uses the survey method. The study was conducted in Sunyalangu Village, Karanglewas District in July 2018 until August 2018. The research site was chosen purposively with the consideration that Sunyalangu Village is a robusta coffee producing village in Karanglewas District. Determination of the sample using the snowball sampling method and obtained 30 farmer respondents. This method was chosen because the data on the population of robusta coffee farmers who have been running farming for 10 years is unknown. The data used in the study are primary and secondary data which are analyzed using the Net Present Value, Policy Analysis Matrix (PAM) and Sensitivity. The results showed that robusta coffee farming in Sunyalangu Village, Karanglewas District has the potential to be developed, the level of competitiveness has been achieved in terms of competitive advantage and comparative advantage. Government policy towards the price of robusta coffee farming inputs, namely urea fertilizer subsidies provide incentives to farmers so that they can increase competitive advantage. The results of the sensitivity analysis show that robusta coffee farming still has good competitiveness (competitive and comparative advantage) even though there are changes in input prices and output prices assuming other factors are fixed which are reflected by the PCR and DRCR values below 1. | |
| 21853 | 24543 | E1A013189 | PERAN MAHKAMAH KEHORMATAN DEWAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH. | DPR memiliki alat kelengkapan yang terdapat pada Pasal 83 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD yang salah satu alat kelengkapannya ialah Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). MKD dibentuk dalam hal pengawasan secara intern terhadap perilaku dari anggota DPR dimana alat kelengkapan ini dibentuk dan dijalankan oleh anggota dari lembaga negara tersebut untuk membantu lembaga negara dalam menjalankan peran dan fungsinya dalam sistem ketatanegaraan di Indonesia. Alat kelengkapan DPR ini bertujuan untuk menjaga harkat dan martabat anggota DPR guna mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih dan kendala yang dihadapi MKD dalam melaksanakan tugas dan fungsinya antara lain sidang MKD secara tertutup. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus , dan pendekatan konseptual. Dalam penelitian yuridis normatif, bisa menggunakan lebih dari satu pendekatan. Hasil penelitian ini bahwa Peran MKD dalam menegakkan Kode Etik DPR dilakukan melalui upaya pencegahan dan penindakan. Upaya pencegahan dilakukan dengan sosialisasi, pelatihan, pengiriman surat edaran kepada anggota DPR, dan memberikan rekomendasi atau cara lain yang ditetapkan oleh MKD, maka MKD merupakan alat kelengkapan parlemen yang bertugas mengawasi dan sekaligus menindak pelanggaran etik yang diduga dilakukan oleh anggota DPR.. Kendala-kendala yang dihadapI MKD dalam melaksanakan perannya dalam menegakan kode etik DPR adalah keanggotaan MKD yang berasal dari internal fraksi seluruhnya, struktur kelembagaan MKD yang merupakan alat kelengkapan DPR, dan Sidang MKD secara tertutup. Kendala-kendala tersebut yang dapat mempengaruhi independensi dan imparsialitas penegakan Kode Etik DPR oleh MKD. | ABSTRACT The DPR has the tools contained in Article 83 paragraph (1) of Law Number 2 Year 2018 concerning the Second Amendment to Law Number 17 of 2014 concerning the MPR, DPR, DPD, and DPRD, one of which is the Council Honorary Court (MKD). MKD was formed in terms of internal oversight of the behavior of members of the DPR where these instruments were formed and carried out by members of state institutions to assist state institutions in carrying out their roles and functions in the constitutional system in Indonesia. Parliamentary equipment is intended to maintain the dignity of DPR members in order to create good and clean governance and barriers faced by the council's honorary court in carrying out its duties and functions, including the council's honorary court closed meeting. This research uses the method of legislation approach (statute approach), case approach (case approach), and conceptual approach (conceptual approach). In normative juridical research, you can use more than one approach. The results of this study that the role of MKD in enforcing the House Code of Ethics is carried out through prevention (supervision) and enforcement. Prevention efforts (supervision) are carried out by socialization, training, sending circulars to members of the House of Representatives, and providing recommendations or other means determined by MKD, MKD is a parliamentary instrument whose task is to supervise and act ethically allegedly carried out by members of the DPR. The obstacle faced by the Council's Honorary Court in carrying out its role in enforcing the DPR's code of ethics is the membership of the Council's Honorary Court from all internal factions, the Honorary Council's institutional structure which is the DPR's complementary body, and the council's honorary court meeting in a closed manner. These obstacles can affect the independence and impartiality of the enforcement of the House of Representatives' Code of Ethics by the Council's Honorary Court Key words: Parliamentary equipment, Council Honorary Court | |
| 21854 | 24590 | A1C014061 | ANALISIS NILAI TAMBAH PRODUKSI KLANTING DI DESA KALIKIDANG KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS | Industri klanting merupakan industri pertanian yang memanfaatkan singkong sebagai bahan baku. Industri klanting mengolah singkong agar memiliki nilai tambah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui profil industri klanting di Desa Kalikidang, (2) mengetahui besarnya tingkat tenaga kerja yang terserap di industri klanting Desa Kalikidang, (3) mengetahui besarnya biaya, penerimaan, dan pendapatan pada industri klanting di Desa Kalikidang, (4) mengetahui nilai tambah dari pengolahan klanting di Desa Kalikidang. Penelitian dilaksanakan di Desa Kalikidang, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas pada tanggal 13 Agustus sampai dengan 12 September 2018. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Penentuan responden menggunakan metode sensus dengan jumlah responden sebanyak 25 orang. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis biaya, penerimaan, dan pendapatan, serta analisis nilai tambah. Hasil penelitian menunjukan bahwa : 1) Umur rata-rata pemilik industri klanting adalah 47,56 tahun. Lama usaha industri klanting rata-rata adalah 22,28 tahun. 2) Besarnya tingkat tenaga kerja yang terserap di industri klanting adalah sebesar 72 orang. Tenaga kerja hanya bekerja rata-rata adalah sebesar 5,39 jam saja dalam satu hari. Selain itu, upah tenaga kerja rata-rata pada industri klanting belum standar UMK yaitu sebesar Rp271.100,42 per bulan. 3) Total biaya produksi rata-rata adalah sebesar Rp3.718.836,34 per bulan. Penerimaan rata-rata yang diperoleh pengrajin adalah sebesar Rp5.020.540,00 per bulan. Pendapatan yang diperoleh rata-rata adalah sebesar Rp1.301.703,66 per bulan, 4) Nilai tambah yang dihasilkan oleh industri klanting adalah sebesar Rp2.240,03 per kilogram. Rasio nilai tambah sebesar 41,6% yang artinya 41,6 persen dari nilai output merupakan nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan singkong menjadi klanting. | The klanting industry is an agricultural industry that uses cassava as raw material. The klanting industry processes cassava to have added value. This study aims to: (1) find out the profile of the klanting industry in Kalikidang Village, (2) to find out the level of labor absorbed in the klanting industry in Kalikidang Village, (3) to know the cost, revenue, and profits of the lanting home industry in Kalikidang Village, (4) knows the added value of lanting processing in home industries in Kalikidang Village. The research was conducted in the village of Kalikidang, Sokaraja Subdistrict, Banyumas Regency on August 13 to September 12, 2018. The research method used was the survey method. Determination of the respondents using the census method with the number of respondents as many as 25. The analytical method used is descriptive analysis, cost analysis, revenue, and profits, and value added analysis. The results of the study show that: 1) The average age of the klanting industrial owner is 47.56 years. For a long time, the average klanting industry business was 22,28 years. 2) The level of labor absorbed in the clustering industry is 72 people. The workforce only works on an average of 5,39 hours per day. In addition, the average labor wage in the industry is not yet an UMK standard, which is Rp753,540.00 per month. 3) The total average production cost is Rp3,718,836.34 per month. The average income obtained by craftsmen is Rp5,020,540.00 per month. The income earned on average is Rp1,301,703.66 per month, 4) The added value generated by the klanting household industry is Rp.2,240.03 per kilogram. The value added ratio is 41.6%, which means that 41.6 percent of the output value is an added value obtained from processing cassava into klanting | |
| 21855 | 24578 | A1C014064 | ANALISIS POTENSI WILAYAH DAN DAYA DUKUNG LAHAN PERTANIAN BERBASIS KOMODITAS TANAMAN PANGAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI KABUPATEN BANYUMAS | Abstrak Sektor pertanian di Kabupaten Banyumas memiliki kontribusi PDRB rata-rata sebesar 13,74%. Besarnya nilai tersebut merupakan sumbangan dari beberapa komoditas pertanian, salah satunya adalah tanaman pangan. Komoditas tersebut menjadi komoditas andalan yang ditanam di setiap kecamatan. Penelitian ini bertujuan untuk1) Mengetahui komoditas tanaman pangan basis pada setiap kecamatan, 2) Mengetahui pertumbuhan produksi komoditas tanaman pangan, 3) Menentukan komoditas tanaman pangan yang menjadi prioritas utama untuk dikembangkan, 4) Mengetahui daya dukung lahan pertanian komoditas basis yang menjadi prioritas untuk dikembangkan, 5) Mengetahui kesesuaian antara potensi wilayah dan daya dukung lahan pertanian komoditas basis dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Data yang dikumpulkan berupa data sekunder dan data primer. Penelitian ini menggunakan analisis Location Quotient, analisis Shift share, analisis prioritas, dan analisis daya dukung lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditas tanaman pangan basis pada setiap Kecamatan berbeda-beda. Padi sawah menjadi komoditas basis di 14 kecamatan. Komoditas yang memiliki pertumbuhan produksi cepat dan berdaya saing tinggi adalah padi sawah, jagung, ubi jalar, ubi kayu, padi ladang, dan kedelai. Prioritas utama pengembangan tanaman pangan adalah padi sawah. Komoditas tersebut memiliki daya dukung lahan yang potensial untuk swasembada pangan dan mampu memberikan kehidupan yang layak di 14 kecamatan. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Banyumas, wilayah yang diprioritaskan untuk padi sawah antara lain: Kemranjen, Sumpiuh, Tambak, Kebasen, Rawalo, Jatilawang, Purwojati, Ajibarang, Cilongok, Kembaran, Sokaraja, Patikraja, dan Wangon. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitan yang telah dilakukan. | Abstract Agriculture sector in Banyumas Regency has an average GDRP contribution of 13,74%. The magnitude of the value are donation from some agricultural commodities, one of which is food crop. The commodity become a mainstay commodity planted in each subdisdtrict.This study aims to 1) Find out base food crop commodities in each Subdistrict, 2) Find out growth of food crop commodity production, 3) Determine food crop commodities which is the main priority to be developed, 4) Find out agriculture land use of base commodity agricultural land as a priority to be developed, 5) Find out the suitability between the potential of the region and agriculture land use of the base commodity agricultural land with the Banyumas Regional Spatial plan. The methodeusedwas survey. Data collected are secondary data obtained from Central Bureau of Statistic, department of agriculture, development planning agency at sub national level, and primary data obtained through interviewing relevant stakeholder.This study used Location Quotient analysis, Shift share analysis, priority analysis, and analysis of land capacity. The results showed that the base food crop each subdistrict are lowland rice, field rice, green beans, soybeans, sweet potatoes, and cassava. Lowland rice is base commodity at 14 subdistricts from 27 subdistricts. Based on proportional and regional share grwoth, commodity that has fast production growth and high competitiveness are lowland rice, corn, sweet potatoes, cassava, and field rice. The main priority for developing base food crop is lowland rice. The commodity has hasagriculture land use is potential for food self sufficiency and feasible to be developed in 14 subdistricts. Based on the Banyumas spatial plan, the priority areas for lowland rice are among others: Kemranjen, Jatilawang, Rawalo, Wangon, Sumpiuh, Tambak, Patikraja, Purwojati, Ajibarang, Cilongok, Sumbang, Kembaran, Sokaraja. This is in accordance with the results of the research that has been done. | |
| 21856 | 24356 | A1L014087 | Pengaruh Dosis Pupuk Kotoran Ayam dan Dosis Pupuk Organik Cair dari Sabut Kelapa terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) | Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh dosis kotoran ayam dan mendapatkan dosis kotoran ayam yang tepat, (2) mengetahui pengaruh dosis pupuk organik cair dari sabut kelapa dan mendapatkan dosis yang tepat, (3) mengetahui pengaruh interaksi antara dosis kotoran ayam dan dosis pupuk organik cair dari sabut kelapa terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada. Penelitian dilaksanakan di screenhouse Desa Melung, Kecamatan KedungBanteng, dan Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan, mulai bulan April sampai Juli 2018. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktorial yang terdiri dari dua faktor, yaitu dosis pupuk kotoran ayam dan dosis POC dari sabut kelapa. Dosis pupuk kotoran ayam terdiri dari empat taraf perlakuan yaitu: tanpa pemberian pupuk kotoran ayam, 25 g polybag-1, 50 g polybag-1, dan 75 g polybag-1. Dosis POC dari sabut kelapa yang terdiri dari empat taraf perlakuan yaitu: tanpa perlakuan POC dari sabut kelapa, 20 ml, 40 ml, dan 60 ml. Data dianalisis menggunakan uji F, selanjutnya apabila berpengaruh nyata dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5% . Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk kotoran ayam berpengaruh secara kuadratis terhadap semua variabel pengamatan dengan dosis optimum sekitar 50 g polybag-1. Dosis POC dari sabut kelapa dan interaksinya dengan dosis pupuk kotoran ayam tidak menunjukkan pengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada. | The research aimed (1) to know effect of chicken manure doses and get the best chicken manure dose (2) to know effect of the dose of liquid organic fertilizer from coconut fiber and get the best dose (3) to know the effect of interaction between chicken manure doses and doses liquid organic fertilizer from coconut fiber to the growth and yield of lettuce. The research was conducted in screenhouse in Melung village, KedungBanteng subdistrict and Agronomy and Horticulture Laboratory, Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman. The research was began in April until July 2018. This research used a Randomized Completely Block Design (RCBD) with two factors. The first factor was dose of chicken manure consisted of four levels, they are 0; 25, 50 and 75 g plant-1. The second factor was the Liquid Organic Fertilizer (LOF) dose from coconut fiber of four level, there are 0, 20, 40 and 60 ml plant-1. Analysis using the F test, then continued using Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) 5%. The results was that dose of chicken manure around 50 g/plant gave the best effect on all observation variables. The dose LOF from coconut fiber and interaction with dose of chicken manure did not significantly influence on growth and yield of lettuce. | |
| 21857 | 24377 | A1C114020 | ANALISIS MARJIN PEMASARAN KOMODITAS KACANG TANAH DI DESA SROWOT, KECAMATAN KALIBAGOR, KABUPATEN BANYUMAS | Kacang tanah merupakan tanaman palawija yang banyak terdapat di Desa Srowot dan dapat digunakan sebagai bahan baku industri yang mempunyai nilai jual yang tinggi, sehingga dapat dipasarkan. Pemasaran produk pertanian yang dilakukan dari produsen sampai konsumen pada umumnya melalui beberapa lembaga-lembaga pemasaran. Terdapat tiga macam saluran pemasaran di Desa Srowot, yaitu saluran pemasaran I petani-pedagang pengumpul-pedagang besar-pedagang pengecer-konsumen, saluran pemasaran II petani-pedagang pengumpul-pedagang pengecer-konsumen dan saluran pemasaran III petani-pedagang pengecer-konsumen. Sehingga akan terbentuk saluran pemasaran yang berbeda, hal tersebut menyebabkan terbentuknya marjin pemasaran. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui besarnya marjin pemasaran pada masing-masing saluran pemasaran kacang tanah di Desa Srowot, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas; (2) Mengetahui besarnya farmer’s share, persentase bagian keuntungan dan biaya pada masing-masing saluran pemasaran; (3) Mengetahui berapa besarnya bagian profit margin yang diterima dari masing-masing pedagang pada setiap saluran pemasaran. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2018. Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Penentuan responden petani menggunakan metode simple random sampling, sementara responden lembaga pemasaran menggunakan metode snowball sampling. Analisis yang digunakan adalah analisis marjin pemasaran, analisis farmer’s share, dan analisis profit margin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Marjin pemasaran pada masing-masing saluran pemasaran kacang tanah di Desa Srowot, yaitu saluran pemasaran I sebesar Rp13.598,00 per kilogram, saluran pemasaran II sebesar Rp12.173,00 per kilogram dan saluran pemasaran III sebesar Rp11.535,00 per kilogram. 2) Persentase farmer’s share, biaya dan keuntungan pada saluran pemasaran kacang tanah yaitu; persentase farmer’s share terbesar terdapat pada saluran pemasaran III sebesar 65,50 persen, persentase biaya terkecil terdapat pada saluran pemasaran III sebesar 6,82 persen, persentase keuntungan terbesar terdapat pada saluran pemasaran II sebesar 57,13 persen. 3) Profit margin yang diterima pedagang pada saluran pemasaran kacang tanah; yaitu pada saluran pemasaran I, total profit margin sebesar 40,27 persen yang terdiri dari, pedagang pengumpul sebesar 11,91 persen, pedagang besar sebesar 15,57 persen dan pedagang pengecer sebesar 12,78 persen, pada saluran pemasaran II, total profit margin sebesar 36,33 yang terdiri dari, pedagang pengumpul sebesar 11,24 persen dan pedagang pengecer sebesar 25,09 persen, Pada saluran pemasaran III, total profit margin sebesar 30,57 yang terdiri dari pedagang pengecer sebesar 30,57 persen. Dari kesimpulan yang di dapat, saluran yang paling efisien adalah saluran pemasaran III, karena memiliki nilai marjin pemasaran yang paling rendah dan nilai farmer’s share yang paling tinggi. | Peanuts are palawija plants which are widely available in Srowot Village and can be used as industrial raw materials which have a high selling value, so they can be marketed. Marketing of agricultural products is carried out from producers to consumers in general through several marketing institutions. There are three types of marketing channels in Srowot Village, namely the marketing channel I farmer-wholesaler-traders retailer-conusmen, channel marketing II farmer collector-retailer-consumer and channel marketing III farmer-retailer-consumer. So that different marketing channels will be formed, this causes the formation of marketing margins. This research aims to (1) Knowing the marketing margin at each peanut marketing channel in Srowot Village, Kalibagor District, Banyumas Regency, (2) Find out the farmer's share size, profit share and cost percentage in each marketing channel, (3) Knowing how much profit margin is received from each trader in each marketing channel. This research was conducted from April to May 2018. The research method used is a survey. Determination of farmer respondents using the simple random sampling method, while respondents of marketing institutions use the snowball sampling method. The analysis used is marketing margin analysis, farmer's share analysis, and profit margin analysis. The results of the study indicate that: 1) Marketing margin for each peanut marketing channel in Srowot Village, marketing channel I is Rp. 13,598.00 per kilogram, marketing channel II is Rp. 12,173.00 per kilogram and marketing channel III is Rp. 11,535.00. 2) Percentage of farmer's share, costs and profits on the peanut marketing channel, namely; the largest percentage of farmer shares is in marketing channel III amounting to 65,50 percent, the smallest percentage of costs found in marketing channel III is 6,82 percent, the biggest percentage of profit is in marketing channel II of 57,13 percent. 3) The profit margin received by traders on the peanut marketing channel; is on the marketing channel I, total profit margin of 40,27 percent consisting of, collectors by 11,91 percent, wholesalers at 15,57 percent and retailers by 12,78 percent, on marketing channels II, total profit margins amounting to 36,33 consisting of, collector traders of 11.24 percent and retailers of 25,09 percent. In the marketing channel III, the total profit margin of 30,57 consisting of retailers was 30,57 percent. From the conclusions obtained, the most efficient channel is marketing channel III, because it has the lowest marketing margin value and the highest farmer share value. | |
| 21858 | 24593 | F1K014039 | PRAANGGAPAN DALAM IKLAN MEDIA CETAK KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA | Penelitian ini berjudul “Praanggapan dalam Iklan Media cetak Kendaraan Bermotor Roda Dua”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan jenis praanggapan yang terdapat dalam iklan media cetak kendaraan bermotor roda dua. Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan data berupa penggalan teksyang terdapat dalam iklan media cetak kendaraan bermotor roda dua. Subjek penelitian ini adalah media cetak seperti koran, majalah, brosur, leaflet, baliho atau spanduk. Teks-teks itu berupa teks verbal maupun nonverbal. Penelitian ini menggunakan metode simak dalam mengumpulkan data, dengan menggunakan teknik catat sebagai teknik lanjutan. Data dianalisis dengan metode padan pragmatis yaitu teknik pilah unsur penentu dan teknik hubung banding menyamakan Terdapat dua bentuk praanggapan yang ditemukan dalam penelitian ini, yaitu praanggapan semantik dan praanggapan pragmatik. Terdapat empat jenis praanggapan yang ditemukan dalam penelitian ini, yaitu praanggapan eksistensial, praanggapan faktif, praanggapan leksikal, praanggapan nonfaktif. Berbagai macam bentuk dan jenis praanggapan yang ditemukan dalam iklan media cetak kendaraan bermotor roda dua menunjukkan bahwa tuturan-tuturan dalam iklan media cetak tidak hanya menginformasikan tentang sebuah produk yang ditawarkan. Tetapi, makna dalam iklan media cetak kendaraan bermotor terdapat berbagai bentuk dan jenis praanggapan baik secara tersirat maupun tersurat, sehingga berdasarkan data yang dominan dari bentuk praanggapan adalah bentuk praanggapan semantik, karena bentuk praanggapan semantik menunjukkan adanya kosakata atau kalimat yang mudah dipahami dan makna dari pernyataan atau kalimat dapat tersampaikan dengan jelas. Adapun jenis praanggapan yang dominan adalah jenis praanggapan eksistensial karena jenis praanggapan eksistensial menyatakan suatu keberadaan terhadap iklan yang mengandung makna kepastian dari pernyataan atau kosakata. | The title of this research is “Presuppositions in the print media advertising for two-wheeled motorized vehicles”. The research aims to describe the form and type of presuppositions which are contained in the print media advertising for two-wheeled motorized vehicles.The form of this research is descriptive qualitative, with data in the form of text fragment in the print media advertising for two-wheeled motorized vehicles. The subjects of this research were print media such as brochure, newspaper, billboards, leaflets, or banners. The text is in the form of verbal or nonverbal texts. This research uses observation to collect the data, technique used as well as note an advance technique. The data are analyzed by using pragmatics identity method, namely the technique of determining the determinants and the lingking technique of equalization. There are two form presuppositions found in this study, namely the form of semantic presuppositions, pragmatic presuppositions. There are four types of presuppositions namely the types of existential presuppositions, factual presuppositions, lexical presuppositions, nonfactual presuppositions. Various form and types of presuppositionswhich are contained in the print media advertising for two-wheeled motorized vehicles showed that the utterances in print media advertisements not only offer about the product offered. But, the meanings in advertisements for motor vehicle print media have various forms and types of presuppositions both implicitly and expressly, so based on the dominant data of the form of preposition is the form of semantic preposition, because the form of semantic presuppositions indicates the existence of easly understood vocabulary or sentences and the meaning of statements or sentences can be conveyed clearly. While the dominant type of presupposition is the type of existential presipposition because the type of existential presumption states an existence for the ad that contains the certainty of the statement or vocabulary. | |
| 21859 | 24594 | F1F014034 | Women’s Responses on Voyeurism Issue Depicted in Elizabeth Chauncey’s “Accidental Voyeur”: A Reader Response Study | Penelitian yang berjudul “Women’s Responses on Voyeurism Issue Depicted in Elizabeth Chauncey’s “Accidental Voyeur”: A Reader Response Study” bertujuan untuk mencari tahu respon para wanita terhadap isu voyeurisme yang tergambar pada “Accidental Voyeur” karya Elizabeth Chauncey dengan menggunakan teori resepsi subjectivisme dari Bleich. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Selain itu, ada beberapa langkah yang dilakukan dalam menganalisis data. Pertama, menyebarkan kuisioner sebelum dan setelah membaca teks kepada para responden. Kedua, melakukan sesi wawancara untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam. Ketiga, data dipilah untuk mendapatkan analisa yang baik. Terakhir, menyimpulkan analisa yang telah diperoleh. Oleh karena itu, pembahasan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua bagian utama. Bagian pertama berisi respon para reponden tetang isu voyeurisme dalam cerita, sedangkan yang kedua berisi respon mereka sebagai bagian dari masyarakat yang lebih fokus pada pelaku, apakah menurut mereka hal itu normal dan diterima dalam masyarakat atau sebaliknya. Hasil menunjukkan kebanyakan dari responden mengatakan bahwa voyeurisme bertentangan dengan aturan dan norma di mana mereka berasal. Aksi mengintip kegiatan seksual orang lain melanggar norma, karena mengganggu privasi orang lain. Kemudian, berkaitan dengan pelaku voyeurism khususnya pelaku wanita, kebanyakan dari reponden menyatakan bahwa tidak normal untuk seorang perempuan menjadi pelaku voyeurism, karena para responden hanya mengetahui kasus-kasus voyeurism yang dilakukan oleh laki-laki saja. Kemudian, para responden sepakat bahwa pelaku voyeurime tidak akan diterima dalam masyarakat karena menurut mereka apa yang dilakukan oleh para pelaku sangat mengganggu privasi banyak orang dan masih dianggap tabu. Kata kunci: Teori Resepsi, Kritik Subjektif, Voyeurism, Accidental Voyeur karya Elizabeth Chauncey | This research entitled “Women’s Responses on Voyeurism Issue Depicted in Elizabeth Chauncey’s “Accidental Voyeur”: A Reader Response Study” aims to figure out women’s responses on voyeurism issue depicted in Chauncey’s “Accidental Voyeur” by using Bleich’s subjectivism reader response. This research uses qualitative method. Moreover, there are some steps in analyzing the data. First, distributing pre and post reading questionnaire to the respondents. Second, performing an interview section to get deeper information. Third, reducing the data in order to achieve a good analysis. Finally, concluding the analysis. Accordingly, the discussion of this study is divided into two main parts. The first part is the respondent’s responses toward the issue in the story, whereas the second part is their responses as the part of the society which mainly focuses on the voyeurs whether they see them normal and accepted in the society or the other way around. The result shows most of the respondents say that voyeurism is against the rules and norms of their origin. The act of peeping on other people’s sexual activity violates the norms, since it breaks other people’s privacy. Thus, dealing with voyeurs especially women voyeurs, the respondents mostly stated that it is not normal for women to be voyeur, for they only heard about voyeurism cases which are commited by men. Subsequently, the respondents agree that voyeurs will not be accepted in the society as they think what voyeurs do highly violates people’s privacy and is still considered as taboo. Keywords: Reader Response Theory, Subjectivism, Voyeurism, Elizabeth Chauncey’s Accidental Voyeur | |
| 21860 | 24596 | A1C012095 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN SELADA KERITING DI PASAR MODERN KOTA PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMAS | Selada (Lactuca sativa L) merupakan salah satu jenis komoditas hortikultura yang memiliki prospek usaha yang cukup baik. Prospek pemasaran terhadap komoditas selada akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya hidup sehat. Saat ini sudah banyak selada yang tersedia pasar modern termasuk di Kota Purwokerto. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui besarnya daya serap selada di pasar modern Kota Purwokerto (2) mengetahui faktor–faktor yang mempengaruhi permintaan selada di pasar modern Kota Purwokerto (3) mengetahui berapa besar koefisien variasi harga selada pada tingkat pasar modern di Kota Purwokerto (4) mengetahui elastisitas permintaan atas harga sendiri dan elastisitas silang terhadap harga mentimun di pasar modern Kota Purwokerto. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Jumlah retailer diperoleh sebanyak 7 responden sedangkan untuk konsumen sebanyak 35 orang. Analisis data menggunakan uji analisis regresi linier berganda dan uji elastisitas permintaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) daya serap selada organik di pasar modern rata-rata sebesar 46,23 kg per bulan, (2) faktor yang mempengaruhi permintaan sayuran selada di pasar modern Kota Purwokerto yaitu harga selada dan jumlah pengunjung pasar modern berpengaruh nyata terhadap permintaan selada (3) nilai koefisien variasi harga selada sebesar 39,22 persen, (4) koefisien elastisitas harga pada permintaan selada (Ep) sebesar -1,380, elastisitas silang (Ec) sebesar 0,079 dan elastisitas pendapatan (Ep) sebesar 0,0097. Berdasarkan hasil penelitian yang telah disimpulkan, dikemukakan beberapa saran sebagai berikut (1) Pasar modern bisa menjual selada dengan harga yang stabil dan kompetitif (2) pasar modern dapat meningkatkan penjualan selada dengan melakukan promosi yang efektif untuk menarik lebih banyak konsumen. | Lettuce (Lactuca sativa L) is one of holticulture product has comercial value and potential business. The future marketing this commodity can be increasing as rapid as human population growth and also awareness to gaining healthy life community. Now lettuce has available in modern market in Purwokerto city. This research purpose to (1) identify absorption value of lettuce in Purwokerto (2) identify factors affecting demand of lettuce in modern market Purwokerto (3) identify price variant coefficient in modern market Purwokerto (4) identify demand elasticity and cross elasticity to cucumber price in modern market Purwokerto. This research using census method by using total sampling for retailer obtained by 7 sample and for consumer using purposive sampling obtained by 35 sample. Data analysis using multiple linear regression, and elaticity test. Result of the research show (1) absorption value of lettuce in modern market Purwokerto 46,23 kg/month (2) variable affecting demand of lettuce in modern market Purwokerto are price of lettuce and number modern market visitors, (3) price variant coefficient lettuce 39,22 percen (4) demand elasticity of lettuce in modern market Purwokerto -1,380 and cross elasticity 0,079 and income elasticity 0,0097. Based on result of the research that has been concluded, some suggestion are presented as follows: (1) modern market should sell lettuce with steble and competitive price (2) modern market could increase the sale of the lettuce by doing effective promotion to attract more consumer. |