Artikelilmiahs

Menampilkan 21.481-21.500 dari 50.172 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
2148124286D1E014168Hubungan Bobot Potong dengan Bobot dan Panjang Karkas Sapi Peranakan Simmental yang Dipotong di RPH Bantarwuni, PurwokertoPenelitian berjudul “Hubungan antara Bobot Potong dengan Bobot dan Panjang Karkas Sapi Peranakan Simmental yang Dipotong di RPH Bantarwuni, Purwokerto”. Tujuan penelitian untuk mengetahui rataan dan kisaran bobot potong (BP), bobot karkas (BK), dan panjang karkas (PK) Sapi Peranakan Simmental yang dipotong di RPH Bantarwuni. Penelitian dilaksanakan di RPH Banatrwuni, Desa Tambaksari Kidul, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas. Materi penelitian yang digunakan yaitu 30 ekor Sapi Peranakan Simmental. Metode penelitian yang dilakukan menggunakan metode survey dengan metode penetapan sampel purposive random sampling. Variabel yang diukur meliputi BP, BK, dan PK Sapi Peranakan Simmental. Sumber data berasal dari hasil penimbangan BP, BK, dan pengukuran PK Sapi Peranakan Simmental. Hasil Rataan BP, BK, dan PK masing-masing adalah 479,6 ± 69,4 kg, 238,3 ± 34,2 kg, dan 162,2 ± 5,5 cm. Penelitian menunjukkan BK berhubungan sangat nyata (P<0,01) dengan BP mengikuti persamaan regresi linier sederhana, Y = 2,981 + 0,491 X, dengan nilai koefisien korelasi (r=0,99) dan nilai koefisien determinasi (r=0,98), serta PK berhubungan sangat nyata (P<0,01) dengan BP mengikuti persamaan regresi linier sederhana, Y = 125,2 + 0,078 X, dengan nilai koefisien korelasi (r=98) dan nilai koefisien determinasi (r=96). Kesimpulan, bahwa BK dan PK mempunyai hubungan yang sangat erat dengan BP Sapi Peranakan Simmental yang di potong di RPH Bantarwuni.The Reseach Entitled “Relation of Body Slaughter Weight, The Weight and Length Carcasses of Simmental Breeds Cattle Slaughtered in Bantarwuni Slaughter House, Purwokerto”. The aim of reseach to determine the average and range of slaughter weight (SW), carcass weight (CW), and carcass length (CL) of Simmental Breeds Cattle slaughtered in Bantarwuni slaughter house, Purwokerto. The research was carried out in Bantarwuni slaughter house, Tambaksari Kidul Village, Kembaran District, Banyumas Regency. The research material used was 30 Simmental Breeds. The research method used was a survey method with a purposive random sampling method. The variables measured included SW, CW, and LC of Simmental Breeds Cattle. Sources of data came from the results of weighing SW, CW, and measurement of CL of Simmental Breeds. The average SW, VW, and CL were 479.6 ± 69.4 kg, 238.3 ± 34.2 kg, and 162.2 ± 5.5 cm, respectively. The study showed that CW was significantly correlated (P <0.01) with SW following a simple linear regression equation, Y = 2.981 + 0.491 X, with a correlation coefficient (r=0.99) and a coefficient of determination (r=0,98), and the LC of the relationship is very real (P<0.01) with SW following a simple linear regression equation, Y = 125.2 + 0.078 X, with a correlation coefficient (r=98) and a coefficient of determination (r = 96). The conclusion is that CW and CL have a very tightly relationship with the SW of the Simmental Breeds Cattle slaughtered in Bantarwuni slaughter house.
2148224287D1E014140KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK RANSUM DOMBA YANG MENGANDUNG ECENG GONDOK (Eichornia crassipe) AMONIASI DAN FERMENTASI MENGGUNAKAN RAGI TEMPE SECARA In vitroPenelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh ransum domba yang mengandung eceng gondok amoniasi fermentasi terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik. Pengambilan data dilaksanakan dari 14 Januari sampai dengan 14 Februari 2018 di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Materi yang digunakan adalah cairan rumen yang berasal dari 3 domba ekor tipis segera setelah ternak dipotong. larutan urea, ragi tempe, konsentrat, rumput lapang, dan eceng gondok. Penelitian menggunakan metode experimental secara in vitro (Tilley and Terry, 1963 yang dimodifikasi oleh Sutardi, 1979) menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan ulangan sebanyak 5 kali. Perlakuan yang diuji adalah ransum domba dengan 3 perlakuan yang berbeda yaitu P1: ransum dengan tambahan eceng gondok biasa, P2 : ransum dengan tambahan eceng gondok amoniasi, P3: ransum dengan tambahan eceng gondok amoniasi fermentasi. Perlakuan ransum dengan tambahan eceng gondok amoniasi fermentasi menunjukan nilai kecernaan tertinggi dibanding dengan kecernaan perlakuan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan kecernaan bahan kering P2 dan P3 (36,35 ± 2,69%) lebih tinggi dari P1 (34,37 ± 1,60%) dan P3 (37,54 ± 2,75%) lebih tinggi dari P2 (140,20 ± 21,42%) dan kecernaan bahan organik P3 (40,06 ± 4,47%) lebih tinggi dari P2 (37,16 ± 0,84%). Perlakuan ransum dengan tambah eceng gondok amoniasi menunjukan nilai kecernaan tertinggi dibanding dengan kecernaan perlakuan lainnya.The research aimed to examine the effect of sheep rations containing water hyacinth fermentation ammonia on the digestibility of dry matter and organic matter. Data collection was carried out from January 14 to February 14, 2018 at the Laboratory of Animal Nutrition and Feed Sciences, Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The material used was rumen fluid from 3 thin-tailed sheep immediately after the sheep were cut. urea solution, tempeh yeast, concentrate, field grass, and water hyacinth. The research used experimental methods in vitro (Tilley and Terry, 1963 modified by Sutardi, 1979) using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and replications 5 times. The treatments tested were sheep rations with 3 different treatments, i.e. P1: rations with the addition of ordinary water hyacinth, P2: rations with additional ammonia water hyacinth, P3: rations with additional water hyacinth ammonia fermentation. The ration treatment by adding water hyacinth ammonia fermentation showed digestibility value compared after digestibility. The results showed that the dry matter digestibility of P2 and P3 (36.35 ± 2.69%) was higher than P1 (34.37 ± 1.60%) and P3 (37.54 ± 2.75%) higher than P2 (140.20 ± 21.42%) and P3 organic matter digestibility (40.06 ± 4.47%) higher than P2 (37.16 ± 0.84%).
2148324288C1B015003ANALISIS KETEPATAN MODEL ALTMAN, SPRINGATE, DAN GROVER DALAM MEMPREDIKSI FINANCIAL DISTRESS (Studi Empiris Pada Perusahaan Tekstil dan Garmen yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2014-2017)Penelitian ini merupakan studi empiris dengan judul “ANALISIS KETEPATAN MODEL ALTMAN, SPRINGATE, DAN GROVER DALAM MEMPREDIKSI FINANCIAL DISTRESS (Studi Empiris Pada Perusahaan Tekstil dan Garmen yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2014-2017)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan model Altman, Springate dan Grover dalam memprediksi financial distress serta untuk mengetahui model prediksi yang paling akurat yang dapat digunakan untuk memprediksi financial distress perusahaan tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Populasi penelitian ini adalah perusahaan tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2014-2017 yaitu sebanyak 17 perusahaan dengan jumlah pengamatan sebanyak 68 pengamatan. Sampel penelitian sebanyak 13 perusahaan dengan jumlah pengamatan sebanyak 52 pengamatan diambil menggunakan metode purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan analisis regresi logistik biner dan analisis tingkat akurasi menunjukan bahwa: 1) Model Altman tidak mampu digunakan untuk memprediksi financial distress perusahaan tekstil dan garmen, 2) Model Springate mampu digunakan untuk memprediksi financial distress perusahaan tekstil dan garmen, 3) Model Grover mampu digunakan untuk memprediksi financial distress perusahaan tekstil dan garmen, dan 4) Model Springate merupakan model yang paling tepat dibandingkan model Altman dan Grover. Implikasi dari kesimpulan di atas yaitu perusahaan sebaiknya mempertimbangkan hasil perhitungan rasio-rasio dalam model Springate untuk mengantisipasi terjadinya financial distress dan menghindari kebangkrutan, bagi investor sebaiknya menganalisis konidisi keuangan perusahaan sebelum melakukan keputusan investasi dengan menggunakan rasio-rasio pada model Springate, kreditur dapat menggunakan rasio pada perhitungan model Springate untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan sebagai pertimbangan penilaian kredit. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah model prediksi lainnya yang telah ditemukan dengan menambah periode penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat meneliti model prediksi yang digunakan untuk perusahaan yang belum go public.This research is an empirical study with the title "ANALYSIS OF ACCURACY OF ALTMAN, SPRINGATE, AND GROVER MODELS IN PREDICTING FINANCIAL DISTRESS (Empirical Study of Textile and Garment Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange for the period 2014-2017)". This study aims to determine the ability of Altman, Springate and Grover models in predicting financial distress and to find out the most accurate prediction models that can be used to predict textile and garment companies' financial distress listed on the Indonesia Stock Exchange. The population of this study were textile and garment companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the period 2014-2017, which were 17 companies with 68 observations. The research sample consisted of 13 companies with a total of 52 observations taken using the purposive sampling method. Based on the results of the study using binary logistic regression analysis and accuracy level analysis shows that: 1) Altman model is not able to be used to predict financial distress of textile and garment companies, 2) Springate model is able to be used to predict textile and garment company financial distress, 3) Model Grover is able to be used to predict the financial distress of textile and garment companies, and 4) The Springate model is the most appropriate model compared to the Altman and Grover models. The implication of the above conclusion is that companies should consider the results of calculating ratios in the Springate model to anticipate the occurrence of financial distress and avoid bankruptcy, for investors should analyze the company's financial condition before making investment decisions using ratios on the Springate model, creditors can use the ratio in the calculation of the Springate model to determine the financial condition of the company as a consideration of credit assessment. Further research is suggested to add to the other prediction models that have been found by adding to the study period with a larger sample size. In addition, further research can examine prediction models used for companies that have not go public.
2148424290F1B114023EVALUASI KINERJA PROGRAM PENYEDIAAN AIR MINUM DAN SANITASI BERBASIS MASYARAKAT (PAMSIMAS) DI DESA SUDIMARA KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMASPenelitian ini didasarkan oleh RPJMN 2015-2019 yang mana telah diamanatkan agar tersedianya air minum dan sanitasi yang layak bagi seluruh lapisan masyarakat atau disebut dengan “Universal Access” atau “Akses Universal Air Minum dan Sanitasi Tahun 2019”. Artinya pada tahun 2019 masyarakat Indonesia harus mendapatkan akses sanitasi yang layak dan air minum yang sehat sebesar 100 persen. Untuk pencapaian Akses Universal Air Minum dan Sanitasi 2019 tersebut, maka didukung oleh Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) yang telah menjadi salah satu program andalan nasional (Pemerintah dan Pemerintah Daerah) untuk meningkatkan akses penduduk perdesaan terhadap fasilitas air minum dan sanitasi yang layak dengan pendekatan berbasis masyarakat. Program ini sudah berjalan hingga tiga periode dan untuk Tahun ini masuk ke periode ketiga yaitu Pamsimas III dari Tahun 2016 sampai dengan Tahun 2019. Menurut data yang ada sejauh ini ketersediaan akses air bersih dan sanitasi di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas belum mencapai 100 persen.
Oleh karena itu, Penelitian yang berjudul “Evaluasi Kinerja Program Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi Berbasis Masyarkat (Pamsimas) di Desa Sudimara Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas” memiliki tujuan penelitian yaitu untuk mengevaluasi kinerja program Pamsimas desa Sudimara Kecamatan Cilongok dengan menggunakan model CIPP yang dikenalkan oleh Stufflebeam yang terdiri dari Context, Input, Process dan Product Evaluation. Pada penelitian ini metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data pana penilitian ini dilkaukan dengan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi.
Hasil penelitian ini ditemukan bahwa pelaksanaan program Pamsimas di Desa Sudimara dapat dikatakan belum optimal. Hal ini terlihat pada evaluasi konteks yang mana sumber daya yang diperlukan masih sulit untuk diperoleh walaupun untuk pengetahuan mengenai latar belakang dan sasaran program sudah baik. Untuk inputnya sendiri masih kurang maksimal karena partisipasi masyarakat yang tidak maksimal, fasilitas yang dimiliki tidak ada dan iuran yang dianggap masyarakat tidak murah. Untuk prosesnya, kemampuan pelaksana program dapat dikatakan cakap dalam mengerjakan tugasya. Hambatan yang dihadapi desa Sudimara masih sangat banyak baik dari teknis maupun sumber daya manusianya. Sedangkan produknya, hasil yang dirasakan oleh pengelola ada namun bagi masyarakat tidak ada dengan segala kekurangan yang mereka rasakan.
This research is based on the 2015-2019 National Medium-Term Development Plan (RPJMN) which has been mandated for the availability of adequate water supply and sanitation for all levels of society, called "Universal Access in 2019.” This means that in 2019 Indonesian people must get access to proper sanitation and healthy water by 100 percent. To achieve the Universal Acces in 2019, it is supported by the Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) which has become one of the national flagship programs (Government and Regional Government) to increase rural population access to water and sanitation facilities feasible with a community-based approach. This program has been running for three periods and for this year entered into the third period, namely Pamsimas III from 2016 to 2019. According to available data so far the availability of access to clean water and sanitation in Cilongok Subdistrict, Banyumas Regency has not reached 100 percent yet.
Therefore, the research entitled "Performance Appraisal of Community Based Water Supply and Sanitation (Pamsimas) Program in Sudimara Village, Cilongok Subdistrict, Banyumas Regency" has the purpose of research that is to evaluating the performance of the Pamsimas program in Sudimara village in Cilongok District using the CIPP model that introduced by Stufflebeam which consists of Context, Input, Process and Product Evaluation. In this research, the research method used is qualitative descriptive with the technique of selecting informant using purposive sampling. The collection of this research data was conducted with in-depth interviews, observation, and documentation.
The results of this research found that the implementation of the Pamsimas program in Sudimara Village was not optimal. This can be seen in the evaluation of contexts where the human resource are still difficult to obtain even though the knowledge of the background and objectives of the program is good enough. For the input itself, it is still not optimal because the community participation is not maximal, the facilities that are owned are not available and contributions that are considered by the community are expensive for them. For the process, the ability of the program implementer can be said to be capable in doing the task. There were quite a few obstacles faced by Pamsimas Sudimara from both the technical and human resources. Whereas the products, the results felt by the managers exist but for the community there is no with all the shortcomings they feel.
2148524289G1A015065Pengaruh Polimorfisme Gen ACTN3 Terhadap Perubahan Kecepatan Lari Pasca Intervensi Plyometric Training: Studi Pada Mahasiswa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal SoedirmanLatar belakang : Kecepatan lari merupakan suatu komponen biomotorik yang berperan dominan dalam performa atlet. Gen ACTN3 berfungsi untuk mengkode produksi dari protein α-actinin-3. Varian polimorfisme gen ACTN3 dipercayai mampu mempengaruhi performa individu. Plyometric training (PT) merupakan bentuk metode latihan fisik yang diduga mampu meningkatkan kemampuan fisik. meskipun pengaruhnya dengan polimorfisme gen ACTN3 belum banyak diteliti. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh polimorfisme gen ACTN3 terhadap perubahan kecepatan lari pasca intervensi plyometric tranining. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimental dengan pre test dan post test desaign tanpa kontrol. Sebanyak 18 orang laki-laki dipilih dengan metode consecutive sampling. Subjek dikelompokan berdasarkan polimorfisme gen ACTN3 menjalani tahapan penelitian berupa pengukuran kecepatan lari sebelum PT dan setelah PT. Responden mengikuti latihan PT selama 5 minggu dengan 2 sesi setiap minggunya. Pengukuran dilakukan pada lintasan lari 30 meter. Analisa data menggunakan metode One Way ANOVA. Hasil : Perubahan kecepatan lari menunjukan perbedaan yang signifikan pada tiap kelompok (p < 0,05) dengan perubahan rerata terbesar pada kelompok RR yaitu 0,53 m/s-1. Kesimpulan : Polimorfisme gen ACTN3 berpengaruh terhadap perubahan kecepatan lari pasca intervensi plyometric training pada mahasiswa UKM olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman.
Background : Sprint is the biomotoric components that play dominantly in the performance of athletes. The ACTN3 gene works to encode the production of αactinin-3 proteins. The ACTN3 gene polymorphism variant is believed to be able to influence individual performance. Plyometric training (PT) is a form of physical training method that can improve physical abilities. Although its influence with the ACTN3 gene polymorphism has not been widely studied. Objective : This study was done to understand the effect of gene polymorphism ACTN3 on sprint changes after plyometric training. Method : This study used a quasi-experimental method with village-level pre-test and post-test without control. A total of 18 men were selected by consecutive sampling method. Subjects were grouped based on the ACTN3 gene polymorphism and underwent the stages of research, namely the measurement of running speed before PT and after PT. Respondents attended PT training for 5 weeks with 2 sessions each week. Measurements are made on a 30-meter running track. Data will be analyzed using the One Way ANOVA method. Result : There was a significant difference of sprint performance changes mean on each group (p <0.05) where the biggest changes mean happened in the RR group which was 0.53 m/s-1. Conclusion : ACTN3 gene polymorphism influence sprint changes on student of sport activity unit of Jenderal Soedirman University after completed plyometric training.
2148624316C1J014040ANALYSIS OF THE FACTORS THAT INFLUENCE THE DECISON OF MIGRANT WORKERS IN CILACAP REGENCY
(Case Studies : Migrant Workers in South Cilacap Subdistrict)
Judul penelitian ini adalah Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pekerja Bermigrasi Ke Kabupaten Cilacap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh beberapa faktor seperti upah, status pekerjaan, usia, jumlah tanggungan keluarga, dan tingkat pendidikan terhadap keputusan pekerja bermigrasi ke Kabupaten Cilacap dan untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap keputusan pekerja bermigrasi. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan teknik analisis Binary Logistic Regression dengan menggunakan data primer yang diambil dari 78 penduduk (migran) yang berasal dari luar Kabupaten Cilacap. Dalam menguji hipotesis menggunakan uji G dan uji t parsial dengan teknik Wald Statistik dengan taraf nyata signifikansi 0.05.
Penelitian ini memiliki kebaruan dari penelitian sebelumnya yaitu objek penelitian. Objek dalam penelitian ini adalah para pekerja yang datang dari luar kabupaten cilacap dengan tujuan bekerja dan hidup di kabupaten cilacap secara permanen. Dimana pada penelitian sebelumnya, yang paling sering diteliti adalah para pekerja dari kabupaten cilacap yang merantau dan bekerja di luar negeri sebagai tenaga kerja wanita.
Secara keseluruhan model Binary Logistic Regression yang digunakan untuk menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan para responden untuk bermigrasi ke Kabupaten cilacap ini mempunyai kehandalan dalam memprediksi sebesar 83.3% dan sebanyak 44 responden memilih untuk menetap di kabupaten cilacap. Hal ini menjelaskan bahwa perilaku para responden dalam penelitian ini cenderung berminat bermigrasi dan menetap karena ingin meningkatkan taraf hidup keluarga dan mencukupi kebutuhan keluarga.
Hasil analisis Binary LogisticRegression menunjukkan bahwa upah, status pekerjaan, dan tingkat pendidikan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap keputusan pekerja bermigrasi ke kabupaten cilacap, sedangkan faktor usia dan jumlah tanggungan keluarga tidak berpengaruh terhadap keputusan pekerja bermigrasi ke kabupaten cilacap. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa variabel status pekerjaan yang paling berpengaruh terhadap keputusan pekerja bermigrasi diantara variabel-variabel lain.
Kata Kunci : migrasi masuk ke cilacap, keputusan pekerja bermigrasi, migran di kecamatan cilacap selatan, binary logistic regression.
The title of this study is the Analysis of Factors Affecting the Decision of Migrating Workers to Cilacap Regency. This study aims to analyze the influence of several factors such as wages, employment status, age, number of family dependents, and education level on the decisions of workers migrating to Cilacap Regency and to find out the factors that most influence the decisions of migrant workers. To achieve these objectives, Binary Logistic Regression analysis techniques were used using primary data taken from 78 residents (migrants) from outside the Cilacap Regency. In testing the hypothesis using the G test and the partial t test with the Wald Statistics technique with a significance level of 0.05.
This study has a novelty from previous research, namely the object of research. The objects in this study are workers who come from outside the Cilacap district with the aim of working and living in Cilacap district permanently. Where in the previous research, the most frequently studied were workers from Cilacap district who migrated and worked abroad as female workers.
Overall, the Binary Logistic Regression model used to explain the factors that influence respondents' decisions to migrate to Cilacap Regency has predictable reliability of 83.3% and as many as 44 respondents chose to settle in Cilacap district. This explains that the behavior of the respondents in this study tended to be interested in migrating and settling down because they wanted to improve the family's standard of living and meet family needs.
The results of the Binary Logistic Regression analysis showed that wages, employment status, and education level had a positive and significant effect on the decisions of workers migrating to Cilacap district, while the age and number of dependents did not influence the decisions of workers migrating to Cilacap district. This study also shows that employment status variables that most influence workers' decisions migrate among other variables.
Keywords : migration into cilacap, decisions of migrant workers, south cilacap subdistrict migrants, binary logistic regression,
2148724253A1L014116PENGARUH DOSIS PUPUK KANDANG AYAM DAN DOSIS PUPUK ORGANIK CAIR BERBASIS Azolla microphylla DAN URIN KELINCI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SELADA ORGANIK ( Lactuca sativa L)Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh dosis pupuk kandang ayam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada organik, (2) pengaruh pupuk organik cair berbasis Azolla microphylla dan urin kelinci terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada organik, dan (3) pengaruh kombinasi dosis pupuk kandang ayam dan pupuk organik cair berbasis Azolla microphylla dan urin kelinci terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada organik. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan dua faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk kandang ayam dengan empat taraf, yaitu 0 ton/ha, 20 ton/ha, 25 ton/ha, dan 30 ton/ha, sedangkan faktor kedua adalah dosis pupuk organik cair berbasis Azolla microphylla dan urin kelinci dengan empat taraf, yaitu 0 ml/tanaman, 135 ml/tanaman, 180 ml/tanaman, dan 225 ml/tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) dosis pupuk kandang ayam mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman selada organik, dosis 20 ton per ha memberikan pengaruh terbaik pada tanaman selada (2) dosis pupuk organik cair berbasis Azolla microphylla dan urin kelinci tidak mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman selada organik, dan (3) kombinasi dosis pupuk kandang ayam dengan dosis pupuk organik cair berbasis Azolla microphylla dan urin kelinci tidak mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman selada organik.
Selada, Pupuk Kandang, Pupuk Organik Cair, Azolla microphylla, Urin Kelinci
This research aimed to knew : (1) The effect of chicken manure on growth and yield of organic lettuce crops, (2) The effect of liquid organic fertilizer based Azzola microphylla and rabbit urine on growth and yield of organic lettuce crops, and (3) The combination effect of chicken manure and liquid organic fertilizer based Azzola microphylla and rabbit urine on growth and yield of organic lettuce crops. The research Design used was Randomized Complete Block Design (RCBD) with two factors. The first factor was dose of chicken manure with four levels : 0 ton/ha, 20 tons/ha, 25 tons/ha, and 30 tons/ha, the second factor was a dose of liquid organic fertilizer based Azzola microphylla and urine of the rabbit with four level : 0 ml/crop, 135 ml /crop, 180 ml/crop, and 225 ml/crop. Results of the research showed that: (1) dose of chicken manure gave the effect of increasing growth and organic lettuce crop, the dose of 20 tonnes per ha was the best effect on lettuce crops (2) doses of liquid organic fertilizer based Azolla microphylla and urine of the rabbit did not increase growth and yield of organic lettuce crops, and (3) a combination dose of chicken manure with a dose of liquid organic fertilizer based Azolla microphylla and rabbit urine did not increase growth and yield of organic lettuce crops.

2148824346G1A015108EFEK PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL SELEDRI (Apium graveolens L.) TERHADAP KADAR ASAM URAT TIKUS PUTIH (Sprague dawley) MODEL CHRONIC KIDNEY DISEASELatar Belakang: Chronic kidney disease (CKD) merupakan kerusakan padastruktur atau fungsi ginjal yang berlangsung ≥ 3 bulan, dan atau penurunan glomerular filtration rate (GFR) yang berakibat pada peningkatan kadar asam urat.Seledri (Apium graveolens L.) berfungsi sebagai antioksidan dan antiinflamasi yang berpotensi mencegah kerusakan pada ginjal.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian seledri (Apium graveolens L.) dalam mencegah peningkatan kadar asam urat tikusputih (Sprague dawley) model CKD.
Desain Penelitian: Metode penelitian adalah eksperimental dengan post test only with control group design. Sebanyak dua puluh lima ekor tikus putih jantan dibagi dalam lima kelompok. Kelompok A (aquades) sebagai kontrol sehat, kelompok B (aquades) sebagai kontrol sakit, kelompok C (250 mg/kgBB), kelompok D (500 mg/kgBB), dan kelompok E (1000 mg/kgBB). Pada hari ke 15 setelah pemberian ekstrak, kelompok A dibedah tanpa dibuat CKD, sedangkan kelompok B, C, D, E dibedah dan dibuat CKD. Pemberian ekstrak dan aquades dilanjutkan sampai hari ke 30.
Hasil: Rerata kadar asam urat kelompok A=0,618±0,044; B=1,400±0,231; C=1,394±0,112; D=1,586±0,434; E=1,632±0,212. Hasil uji Kruskal Wallis asam urat menunjukkan nilai yang signifikan (p<0,05). Uji post hoc Mann Whitney asam urat menunjukkan hasil perbedaan rerata yang signifikan antara kelompok A dan kelompok B, kelompok A dan kelompok C, kelompok A dan kelompok D, kelompok A dan kelompok E (p<0,05).
Kesimpulan: Pemberian ekstrak etanol seledri (Apium graveolens L.) tidak dapat mencegah peningkatan kadar asam urat tikus model CKD.
Background: Chronic kidney disease (CKD) is a damage to the structure or function of the kidney that lasts approximately ≥ 3 months, and or a decrease in glomerular filtration rate (GFR) which results inincreased serum uric acid level. Celery functions as antioxidant and anti-inflammatory which has the potential to prevent kidney damage.
Objective: The aim of this research was to analyze the effect ofethanol extract of celery in preventing the increase of uric acid serum level in CKD model rats (Sprague dawley).
Design: This was an experimental study with post test only control group design. Twenty-five male white rats were divided into five groups. Group A (aquades) as healthy control, group B (aquades) as unhealthy control, group C (250 mg/KgBW extract), group D (500 mg/KgBW extract), and group E (1000 mg/KgBW extract). On the 15th day after extract administration, group A was dissected without CKD, while groups B, C, D, E were dissected and made CKD. Then the extract and aquadeswere continued until the 30th day.
Results: The mean of uric acid level in group A=0.618±0.044; B=1.400±0.231; C=1.394±0.112; D=1.586±0.434; E=1.632±0.212. The Kruskal Wallis test showed significant differences of uric acid serum (p<0.05). The post hoc Mann Whitney test showed differences between group A and group B, group A and group C, group A andgroup D, group A and group E.
Conclusion: The administration of ethanol extract of celery (Apium graveolens L.) can not prevent the increase of uric acid levels in CKD model rats.
2148923387C1M014035determinan minat berwirausaha mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Jenderal SoedirmanPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendidikan kewirausahaan, kreativitas, dan jenis kelamin terhadap minat berwirausaha mahasiwa pendidikan ekonomi universitas jenderal soedirman, penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder dengan populasi seluruh mahasiswa pendidikan ekonomi universitas jenderal soedirman. Metode yang digunakan untuk menentukan sampel yaitu dengan menggunakan rumus slovin dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling, sehingga diperoleh sampel sebanyak 122 mahasiswa. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan, kreativitas, dan jenis kelamin berpengaruh positif terhadap minat berwirausaha mahasiswa.This research aims to analyze the influence of entrepreneurial education, creativity, and gender of entrepreneurship's interest in the university education of general soedirman, the study using primary data and secondary data with the population of the entire student university education of general soedirman university. The method used to determine the sample is by using the slovin formula with the purposive sampling sample technique, resulting in a sample of as many as 122 students. The method of analysis used is a berganda regression analysis. The result of this study shows that entrepreneurship, creativity, and gender have a positive effect on entrepreneurship's interest in entrepreneurship.
2149024291A1M014050ANALISIS DESKRIPTIF KUANTITATIF BROWNIES TIWUL DENGAN VARIASI PROPORSI SUBSTITUSI TEPUNG TIWUL INSTANBrownies merupakan salah satu jenis cake yang terbuat dari tepung terigu berwarna coklat kehitaman dengan tekstur sedikit lebih keras dari cake, dan memiliki rasa khas dominan cokelat. Brownies pada penelitian ini dibuat dari tiwul instan kacang merah. Tiwul yang digunakan terbuat dari tepung komposit yang terdiri dari tepung singkong termodifikasi, ubi jalar ungu, dan kacang merah. Penggunaan tiwul merupakan upaya diversifikasi pangan untuk mengurangi penggunaan tepung terigu. Penelitian ini ditujukan untuk: 1) menentukan deskripsi atribut sensori brownies dengan variasi proporsi substitusi tepung tiwul instan; 2) mengkaji profil intensitas dari masing-masing atribut sensori brownies tiwul dengan metode QDA; 3) mengkaji tingkat kesukaan panelis pada brownies tiwul; 4) mengkaji kandungan kimia brownies tiwul.
Faktor yang dicoba yaitu variasi proporsi substitusi tepung tiwul instan, yang terdiri dari 0% (T1), 20% (T2), 40% (T3), 60% (T4), 80% (T5), 100% (T6). Tahapan dalam penelitian terdiri dari: 1) persiapan bahan; 2) penelitian pendahuluan; 3) perekrutan panelis terlatih; 4) uji QDA; 5) uji hedonik; 6) analisis kimia. Analisis yang dilakukan yaitu analisis sensori dengan 10 panelis terlatih menggunakan metode deskriptif kuantitatif, penetapan atribut mutu dengan metode FGD, dan analisis kimia yang meliputi kadar air (%bb), abu (%bk), protein (%bk), lemak (%bk), dan karbohidrat (%bk). Data yang diperoleh diolah secara statistik menggunakan analisis ragam pada taraf 5% dan apabila ada perbedaan yang nyata maka dilanjutkan dengan uji pembedaan (DMRT) pada taraf 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa deskripsi atribut sensori brownies yaitu appearance (warna merah kecoklatan, oily, homogenitas pori), tekstur (kelembutan dan keremahan), aroma (vanili, susu, butter, telur, dan tepung), rasa (tiwul, telur dan manis), mouthfeel (kelembutan dan keempukan). Semakin tinggi proporsi substitusi tepung tiwul menyebabkan peningkatan intensitas warna dan oily, keremahan, aroma tepung dan butter, serta rasa tiwul, sedangkan homogenitas pori, kelembutan, aroma susu dan keempukan menurun. Peningkatan proporsi substitusi tepung tiwul tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat kesukaan brownies. Kandungan kimia brownies tiwul T6 (100%) yaitu kadar air 26,41%bb, protein 5,8%bk, dan nilai energi 502,71 Kcal/%bk.
Brownies are categorized into cakes made of wheat flour, with a brownish color and more dense texture than cake, additionally they have a dominant unique flavor of chocolate. Brownies in this research were made of instant tiwul mixed with red bean. Tiwul used in this research was made of a composite flour consisted of modified cassava flour, taro flour, and red bean flour. The utilization of tiwul is aimed as a food diversification and to reduce the usage of wheat flour. This research was aimed at: 1) To determine the description of brownies sensory attributes with a variance of the instant tiwul proportion; 2) to observe the intensity profile of each brownies sensory attributes using QDA method; 3) to observe the level of fondness of each panelist towards tiwul brownies; 4) to examine the chemical content of tiwul brownies.
The factors tested were variations in the proportion of instant tiwul flour substitution, which consisted of 0% (T1), 20% (T2), 40% (T3), 60% (T4), 80% (T5), 100% (T6). The stages in the study consisted of: 1) preparation of materials; 2) preliminary research; 3) recruitment of trained panelists; 4) QDA test; 5) hedonic test; 6) chemical analysis. The analysis carried out was sensory analysis with 10 trained panelists using quantitative descriptive method, quality attribute determination with FGD method, and chemical analysis which included water content (% bb), ash (% bk), protein (% bk), fat (% bk ), and carbohydrates (% bk). The data obtained were processed statistically using variance analysis at the level of 5% and if there were significant differences then continued with the differentiation test (DMRT) at the level of 5%.
The results showed that the description of the sensory brownies attribute is appearance (brownish red, oily, pore homogeneity), texture (tenderness and weakness), aroma (vanilla, milk, butter, egg, and flour), taste (tiwul, egg and sweet) , mouthfeel (tenderness and tenderness). The higher proportion of substitution of tiwul flour causes an increase in color and oily intensity, weakness, aroma of flour and butter, and tiwul flavor, while the homogeneity of pore, softness, milk aroma and tenderness decreases. Increasing the proportion of substitution of tiwul flour did not significantly affect the level of preference for brownies. Chemical content of brownies tiwul T6 (100%), namely water content 26.41% bb, protein 5.8% bk, and energy value 502.71 Kcal /% bk.
2149124292H1D014014PENENTUAN NILAI BATAS KECEPATAN MAKSIMUM KENDARAAN DI KAWASAN SEKOLAH KABUPATEN PURBALINGGAPelajar sekolah adalah salah satu pengguna jalan yang masih kurang berpengalaman dan cenderung kurang berhati-hati, sehingga para siswa-siswi seringkali menjadi korban kecelakaan lalu lintas. Beberapa kasus yang terjadi di Kabupaten Purbalingga disebutkan bahwa dari tahun 2010 s.d 2013, jumlah korban kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pejalan kaki sebanyak 164. Mengacu pada data tersebut, salah satu faktor penyebab kecelakaan lalu lintas adalah perilaku kelalaian manusia dan tingginya kecepatan kendaraan yang melampaui batas kecepatan yang ditetapkan (speeding). Salah satu strategi dalam mengurangi speeding yaitu dengan cara pembatasan kecepatan di kawasan sekolah. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan atribut atau parameter yang mempengaruhi nilai batas kecepatan maksimum kendaraan dan menentukan nilai batas kecepatan kendaraan di kawasan sekolah serta mengetahui jumlah persentase speeding di kawasan sekolah. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa parameter yang mempengaruhi nilai batas kecepatan maksimum kendaraan di kawasan sekolah Kabupaten Purbalingga adalah geometrik jalan (lebar lajur dan ada tidaknya median jalan), alinyemen horizontal (berada pada daerah tikungan atau daerah lurus), dan alinyemen vertikal (berada pada daerah datar, daerah tanjakan/menanjak, atau turunan/menurun). Berdasarkan hasil analisis dari percentile 85th dan probabilitas tingkat fatalitas pejalan kaki saat ditabrak kendaraan, diperoleh nilai batas kecepatan pada jam masuk sekolah sebesar 30 km/jam. Dan untuk jalan di luar jam sekolah sesuai dengan medan jalan yang ada yaitu, Jalan Raya Purbalingga-Bobotsari (SMP Negeri 1 Mrebet) dengan medan tanjakan dan tikungan sebesar 40 km/jam, Jalan Raya Padamara (SMA Negeri 1 Padamara) dengan medan tanjakan dan lurus sebesar 45 km/jam, dan Jalan Mayjen Sungkono (SMP Negeri 1 Kalimanah) dengan medan datar dan lurus sebesar 50 km/jam. Rata-rata persentase speeding yang terjadi pada jam masuk sekolah dengan batas kecepatan sebesar 30 km/jam di Jalan Raya Purbalingga-Bobotasari sebesar 22%, di Jalan Raya Padamara sebesar 30%, di Jalan Mayjen Sungkono arah Purbalingga sebesar 53%, di Jalan Mayjen Sungkono arah Purwokerto sebesar 78%. Rata-rata persentase speeding yang terjadi di luar jam masuk sekolah dengan batas kecepatan 40-50 km/jam sesuai tipe medan jalan di Jalan Raya Purbalingga-Bobotasari sebesar 31%, di Jalan Raya Padamara sebesar 17%, di Jalan Mayjen Sungkono arah Purbalingga sebesar 20%, di Jalan Mayjen Sungkono arah Purwokerto sebesar 26%.School students is one of the road users who are still inexperienced and tend to be less cautious, so that the students are often victims of traffic accidents. Some of the cases occurred in Purbalingga mentioned that from 2010 till 2013, the number of victims of traffic accidents involving pedestrians as much as 164. Based on these data, one of the causes of traffic accidents is human error behavior and the high speed of vehicles which exceed the limits set speed (speeding). One strategy to reduce speeding by way of speed restrictions in the area of the school. The purpose of this study is to determine the attributes or parameters that affect the value of the maximum speed limit of the vehicle and determines the vehicle speed limit value in the school district and determine the percentage of speeding in the school district. Based on the results of the analysis showed that the parameters affecting the value of the maximum speed limit of vehicles in the area of school Purbalingga was geometric road (lane width and the presence or absence of a median of the road), horizontal alignment (in the region of corners or areas straight) and vertical alignment (in the region of flat, incline areas/uphill, or derivative/decreases). Based on the analysis of the 85th percentile and the probability of a pedestrian fatality rate when hit by a vehicle, the value of the speed limit on school hours at 30 km/h. And for road outside school hours according to the terrain of the existing road, namely, Highway Purbalingga-Bobotsari (Mrebet 1 Junior High School) with terrain climbs and bends of 40 km/h, Padamara Highway (Padamara 1 Senior High School) with terrain climbs and straight at 45 km/h, and Jalan Mayjen Sungkono (Kalimanah 1 Junior High School) with a flat and straight terrain of 50 km/h. The average percentage of speeding that occurs on school hours with a speed limit of 30 km/h on Highway Purbalingga-Bobotsari is 22%, the Highway Padamara is 30% at Jalan Mayjen Sungkono directions to Purbalingga is 53 %, at Jalan Mayjen Sungkono directions to Purwokerto is 78%. The average percentage of speeding that occurs outside school hours with a speed limit of 40-50 km/h the appropriate type of terrain on Highway Purbalingga-Bobotsari is 31%, the Highways Padamara is 17%, at Jalan Mayjen Sungkono directions to Purbalingga is 20%, at Jalan Mayjen Sungkono directions to Purwokerto is 26%.
2149225842J1B015014Refleksi Kearifan Lokal Dalam Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2015Penelitian ini berjudul “Refleksi Kearifan Lokal dalam Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2015”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tokoh, latar, dan gaya bahasa sebagai unsur pembangun dari dalam cerpen, serta mengetahui wujud refleksi kearifan lokal yang terdapat dalam buku Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2015. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi sastra untuk mengetahui refleksi kearifan lokal yang terdapat dalam tiap cerpen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelusuran kepustakaan dan pendokumentasian data yang ditemukan dalam Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2015. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah membaca Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2015 secara intensif, mencatat data dari sumber data primer dan sekunder yang sesuai, dan mengklasifikasikan data yang sesuai dengan rumusan masalah. Hasil analisis dari penelitian ini dapat diketahui dengan ditemukannya enam unsur dari total tujuh unsur kebudayaan menurut Koentjaraningrat yang meliputi: peralatan kehidupan manusia, mata pencaharian, sistem kemasyarakatan, sistem bahasa dan sastra, kesenian, dan sistem religi. Dengan demikian, hal ini membuktikan bahwa terdapatnya lima etnis yang ingin ditampilkan dalam Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2015. Lima etnis itu, diantaranya : etnis Bali, etnis, Jawa, etnis Banjar, etnis Bugis, dan etnis Tionghoa. Lima etnis itu memiliki kesesuaian dengan latar belakang masing-masing cerpenis, sehingga tiap cerpen dapat mewakili latar budaya yang dimiliki cerpenis.This research is entitled “Refleksi Kearifan Lokal dalam Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2015”. The aim was to describe characters, settings, and language styles as components in the book using the anthropology literature approach to determine the reflection local wisdom present in each story. The method used in this research was a qualitative description. The data collection technique of this research is by reading the book, noting the appropriate data from primary and secondary data, and classifying the data same with the problem statement. Analysis results showed that six of seven cultural components were present in the stories which consist equipment of human living, livelihood, social system, language and literature system, art, and religious system. At least two cultural components were found in each of those ten stories and four components at most. Language and literature system was the only component found in all stories, indicating the five ethnicities meant to be shown in the book. The five ethnicities being Balinese ethnic, Javanese ethnic, Banjar ethnic, Bugis ethnic, and Chinese ethnic which related to the writers’ background to represent their respective ethnicity.
2149326088E1A014229PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN MAKANAN (TAHU) YANG MENGANDUNG BAHAN TAMBAHAN PANGAN TERLARANG BERUPA FORMALIN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN
( Studi Putusan Nomor : 114/Pid.B/2016/PN.Mre )
Pertumbuhan perekonomian semakin bervariasi guna memenuhi keinginan manusia yang meningkat setiap tahunnya, khususnya di bidang perindustrian dan perdagangan. Maraknya kasus peredaran makanan yang mengandung bahan tambahan pangan terlarang berupa formalin salah satunya adalah Tahu berformalin yang tentunya menimbulkan kerugian bagi konsumen. Berdasarkan hal ini penulis tertarik untuk meneliti bagaimana Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Makanan (Tahu) yang mengandung Bahan Tambahan Pangan Terlarang Berupa Formalin Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (Studi Putusan Nomor: 114/Pid.B/2016/PN.Mre).
Metode pendekatan yang digunakan adalah metode pendekatan yuridis normatif. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa putusan pengadilan, buku-buku literatur, peraturan Undang-Undang, dan dokumen resmi dengan cara studi pustaka, yaitu menginventarisasi data-data tersebut yang kemudian diidenfikasi dan dipelajari sebagai satu kesatuan yang utuh. Metode analisis bahan hukum adalah dengan menggunakan metode analisis normatif kualiatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa AGUS WAHYONO Bin SUGIONO telah melakukan produksi pangan dengan bahan tambahan pangan terlarang untuk diedarkan berdasarkan Pasal 136 huruf (b) Jo Pasal 75 ayat (1) huruf (b) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan secara jelas melanggar Pasal 4 huruf (a) dan (c), Pasal 7 huruf (a) dan (b), Pasal 8 ayat (1) huruf (a), Pasal 62 ayat (1) dan 63 huruf (a) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Hasil penelitian juga menyimpulkan bahwa konsumen sudah mendapatkan perlindungan hukum berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan. Hakim dalam menerapkan hukumnya kurang lengkap karena tidak mengaitkan perbuatan AGUS WAHYONO Bin SUGIONO (alm) dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Kata kunci: Perlindungan Hukum, Konsumen, Tahu Formalin.
THE CONSUMER LEGAL PROTECTION OF TOFU WHICH CONTAINS FORBIDDEN ADDITIVE FOOD IN THE FORM OF FORMALIN ACCORDING TO LAW NUMBER 8 YEAR 1999 CONCERNING CONSUMER PROTECTION
(Study of Decision Number: 114 / Pid.B / 2016 / PN.Mre).
Written By:
Renia Utami Bahagia
E1A014240

The economic growth is getting more varied in order to fulfill the need of humans that has always been increasing in every year, especially in the field of trade and industries. The rampant of circulation case regarding the food contains with prohibited additives such as formalin, one of the examples is Tofu contains with formalin, which exactly is a detriment to the consumer. Concerning the case above, the writer is interested in doing research how is the legal protection on the consumer of Tofu which Contains Prohibited Food Additives in the Form of Formalin Based on Law Number 8 of 1999 concerning Consumer Protection (Study of Decision Number: 114 / Pid.B / 2016 / PN.Mre).
The approach method of this research is the normative juridical approach. The data is using secondary data in the form of court decisions, literature books, regulations, and official documents utilizing literature studies, namely inventorying these data which then will be identified and studied as one whole unit. The method of legal material analysis is using qualitative normative analysis method.
The result of this research shows that AGUS WAHYONO Bin SUGIONO has already produced the food with prohibited food additives for being distributed based on Article 136 letter (b) Jo Article 75 paragraph (1) letter (b) of Law Number 18 of 2012 concerning Food and clearly violating Article 4 letters (a) and (c) , Article 7 letters (a) and (b), Article 8 paragraph (1) letter (a), Article 62 paragraph (1) and 63 letters (a) Law Number 8 of 1999 concerning Consumer Protection. The research result also concluded that the consumer has already got legal protection based on Law Number 18 of 2012 concerning Food. The judges in applying the law were still incomplete because it did not associate AGUS WAHYONO Bin SUGIONO (late) action with Law Number 8 of 1999 concerning Consumer Protection.

Keywords: Legal Protection, Consumer, Formalin tofu
2149424293C1C014034PENGARUH PERSYARATAN KREDIT, INKLUSI KEUANGAN, LITERASI KEUANGAN TERHADAP AKSES KREDIT FORMAL UMKM KABUPATEN BANYUMAS DENGAN PENGALAMAN KREDIT SEBAGAI VARIABEL MODERASIPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh persyaratan kredit, inklusi keuangan, dan literasi keuangan terhadap akses kredit formal UMKM di Kabupaten Banyumas, serta mengetahui kemampuan pengalaman kredit dalam memoderasi pengaruh persyaratan kredit, inklusi keuangan, dan literasi keuangan terhadap akses kredit formal UMKM. Penelitian ini menggunakan data primer, dengan populasi UMKM bidang perdagangan, hotel, dan restoran di Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan untuk menentukan sampel penelitian adalah replacement sampling, sehingga diperoleh 92 responden. Metode analisis yang digunakan adalah MRA (Moderated Regression Analysis).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persyaratan kredit, inklusi keuangan, dan literasi keuangan secara parsial dan goodness of fit berpengaruh terhadap akses kredit formal UMKM. Namun, pengalaman kredit tidak memoderasi pengaruh persyaratan kredit, inklusi keuangan, dan literasi keuangan terhadap akses kredit formal UMKM. Implikasi dari penelitian ini adalah akses kredit formal dapat ditingkatkan dengan cara menjalin komunikasi antar UMKM yang telah mengakses kredit, sehingga akan meningkatkan pengalaman serta literasi keuangan pelaku UMKM dalam mengakses kredit.
Kata Kunci : Persyaratan kredit, inklusi keuangan, literasi keuangan, pengalaman kredit, akses kredit UMKM
This study aims to determine and analyze the effect of credit requirements, financial inclusion, and financial literacy on access to formal MSME credit in Banyumas Regency, and to know the ability of credit experience to moderate the influence of credit requirements, financial inclusion and financial literacy on MSME formal credit access. This study uses primary data, with the population of MSMEs in the fields of trade, hotels and restaurants in Banyumas Regency. The method used to determine the research sample was replacement sampling, so that 92 respondents were obtained. The analytical method used is MRA (Moderated Regression Analysis).
The results of this study indicate that credit requirements, financial inclusion, and financial literacy partially and goodness of fit affect the access to formal MSME credit. However, credit experience does not moderate the influence of credit requirements, financial inclusion, and financial literacy on MSME formal credit access. The implication of this study is that access to formal credit can be improved by establishing communication between MSMEs that have access to credit, so that it will enhance the experience and financial literacy of MSMEs in accessing credit.
2149524294H1D014051PENENTUAN NILAI BATAS KECEPATAN MAKSIMUM KENDARAAN DI KAWASAN PERMUKIMAN KABUPATEN PURBALINGGAMenurut data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Purbalingga jumlah penduduk di Kabupaten Purbalingga mencapai 969.684 jiwa di tahun 2018. Dari jumlah penduduk yang relatif banyak ini dapat dipastikan pula bahwa jumlah permukiman akan terus berkembang di masa yang akan datang. Menurut Korlantas Polri (2013), kawasan permukiman yang terletak di sisi sebelah kanan atau kiri jalan arteri atau kolektor menjadi salah satu daerah yang berpotensi tinggi terjadi kecelakaan lalu lintas. Ada sebanyak 75 % dari 100.106 kasus kecelakaan terjadi di kawasan tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka kecelakaan lalu lintas adalah dengan pembatasan kecepatan kendaraan. Di Indonesia, pembatasan kecepatan maksimum kendaraan sudah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia No. 111 Tahun 2015 tentang tata cara penetapan batas kecepatan. Untuk batas kecepatan di kawasan permukiman sendiri sudah diatur yaitu 40 km/jam untuk tipe jalan arteri maupun kolektor. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah agar didapatkan nilai usulan batas kecepatan maksimum kendaraan yang sesuai dengan kondisi di kawasan permukiman Kabupaten Purbalingga dengan menggunakan metode percentile 85th maupun metode Stopping Sight Distance (SSD) sebagai pembandingnya. Selain itu juga untuk mengetahui persentase pengemudi yang melakukan speeding. Pada penelitian ini ditentukan tiga tempat sebagai lokasi penelitian yaitu: Jl.Raya Padamara, Jl. Letnan Yusuf, dan Jl. Letkol Isdiman. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa nilai batas kecepatan maksimum kendaraan dengan menggunakan analisis metode percentile 85 th adalah sebesar 44 km/jam untuk ruas Jl. Raya Padamara, serta sebesar 42 km/jam untuk ruas Jl. Letnan Yusuf dan ruas Jl. Letkol Isdiman. Sedangkan menggunakan analisis metode SSD adalah sebesar 39,32 km/jam untuk ruas Jl. Raya Padamara, sebesar 38,10 km/jam untuk ruas Jl. Letnan Yusuf, serta sebesar 38,40 km/jam untuk ruas Jl. Letkol Isdiman. Kemudian nilai-nilai tersebut dibandingkan dengan mengacu kepada kurva hubungan antara kecepatan kendaraan dan tingkat fatalitas kecelakaan yang dikeluarkan oleh Department of Planning, Transport, and Infrastructure of South Australia diperoleh nilai sebesar 42 km/jam. Persentase pengemudi yang melakukan speeding berdasarkan batas kecepatan tersebut adalah sebagai berikut: ruas Jl. Raya Padamara untuk jenis kendaraan yang paling banyak melakukan speeding adalah sepeda motor sebesar 25,07%, ruas Jl. Letnan Yusuf adalah sepeda motor sebesar 17,28%, serta ruas Jl. Letkol Isdiman adalah pick up dan angkutan kota sebesar 20%.According to data from Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Purbalingga, the population in Purbalingga Regency are 969.684 inhabitants in 2018. From this amount of population is relatively can be ascertained that the number of residential would continue to grow in the future. According to Korlantas Polri (2013), residential area that is located on the right or left side of the arterial or collector road become one of the areas with high potential traffic accidents. There are as many as 75% of the 100.106 cases of accidents occurred in this area. One effort that can be done to reduce the number of traffic accidents is the speed limit policy. In Indonesia, the speed limit is set in the Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia No. 111 Tahun 2015 tentang tata cara penetapan batas kecepatan. For the speed limit in residential areas is set at 40 km/h for the type of arterial and collector roads. The aim of this study was in order to get the proposition value of the speed limit in accordance with the conditions in residential areas in Purbalingga Regency using percentile 85 th methods and stopping sight distance (SSD) methods as a comparison. In addition, to determine the percentage of drivers who drive above the speed. In this study determined three location for research which are: Jl.Raya Padamara, Jl. Letnan Yusuf, and Jl. Letkol Isdiman. Based on the analysis we found that the value of the maximum speed limit using percentile 85 th methods at 44 km/h for Jl. Raya Padamara, and 42 km/h for Jl. Letnan Yusuf and Jl. Letkol Isdiman. While using the SSD methods the result is 39.32 km/h for Jl. Raya Padamara, 38.10 km/h for Jl. Letnan Yusuf, and 38.40 km/h for Jl. Letkol Isdiman. Then each values are compared with reference to the curve of the relationship between vehicle speed and crash fatality rate by the Department of Planning, Transport, and Infrastructure of South Australia, obtained a value of 42 km/h. The percentage of drivers who drive above the speed are as follows: Jl. Raya Padamara for the most percentage of drivers who drive above the speed are type of motorcycle at 25.07%, Jl. Letnan Yusuf for the type of motorcycle at 17.28%, Jl. Letkol Isdiman for the type of pick up and city transportation at 20%.
2149624295C1C013026Analisis Rasio Keuangan Pemerintah Pusat Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Pusat (Perbandingan Rasio Keuangan Di Indonesia Dan Di Australia)Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis perbedaan kinerja LKPP dengan menggunakan standar analisis rasio laporan keuangan di Indonesia dengan standar analisis rasio keuangan di Australia. Serta mengetahui dan menganalisis perbedaan analisis rasio laporan keuangan dengan standar di Indonesia dan standar di Australia.
Penelitian ini menggunakan data sekunder. Dimana, data yang diperoleh berasal dari LKPP. Data tersebut diperoleh data dari tahun 2012 hingga 2016. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif, yaitu suatu penelitian dengan mengumpulkan, menyusun, mengolah, dan menganalisis data angka, agar dapat memberikan gambaran mengenai suatu keadaan tertentu sehingga dapat ditarik kesimpulan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perhitungan enam analisis Rasio yaitu (rasio lancar, rasio solvabilitas, rasio efektivitas pendapatan, rasio efisiensi belanja, rasio pertumbuhan pendapatan, pertumbuhan belanja) yang terdapat di Indonesia dapat dilihat mampu untuk memenuhi penilaian kinerja keuangan di indonesia dengan data yang didapatkan dari laporan keuangan Pemerintah Pusat (LKPP). Terdapat satu standar rasio perhitungan yang terdapat di Australia yang dapat menjadi suatu referensi bagi analisis rasio perhitungan di Indonesia yaitu interest coverage dimana pemerintah pusat mendapatkan informasi mengenai berapa besar bunga yang harus dibayar dari biaya pinjaman pada tahun tersebut.
This study aims to find out and analyze the differences in performance of LKPP by using financial statement ratio analysis standards in Indonesia with a standard financial ratio analysis in Australia. As well as knowing and analyzing differences in the ratio of financial statements to standards in Indonesia and standards in Australia.
This study uses secondary data. Where, the data obtained comes from LKPP. The data obtained data from 2012 to 2016. This study uses descriptive analysis method, which is a study by collecting, compiling, processing, and analyzing numerical data, in order to provide an overview of a particular situation so that conclusions can be drawn.
The results of this study indicate that the calculation of six analysis ratios, namely (current ratio, solvability ratio, income effectiveness ratio, expenditure efficiency ratio, income growth ratio, expenditure growth) found in Indonesia can be seen as being able to meet financial performance assessments in Indonesia with data obtained from the Central Government financial report (LKPP). There is a standard calculation ratio found in Australia that can be a reference for calculation ratio analysis in Indonesia, namely interest coverage where the central government gets information about how much interest must be paid from the cost of the loan for the year.
2149724296F1A013078Jaringan Sosial Ekonomi dalam Aktivitas Pertambangan Emas Tradisional di Desa Paningkaban Kecamatan Gumelar Banyumas Tepat di tahun 2007, ditemukan potensi emas terbesar di Banyumas, tepatnya di Desa Paningkaban, Kecamatan Gumelar, dengan ketersediaan diperkirakan mencapai 9,47 ton. Sejak saat itu aktivitas pertambangan emas di Desa Paningkaban dimulai. Masyarakat desa berbondong-bondong melakukan penambangan dengan cara tradisional, para pemilik lahan-pun membuka secara luas lahannya untuk ditambang. Bukan hanya masyarakat Desa Paningkaban saja yang tertarik menambang, tapi masyarakat dari luar daerah tersebut juga berdatangan, seperti dari daerah; Tasikmalaya, Jogja, Jakarta. Maka dengan dasar hal itu terbentuklah pola transaksi sampai pada jual-beli hasil tambang.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan mengidentifikasi keberadaan jaringan sosial dan bentuknya yang terdapat dalam aktivitas pertambangan emas Desa Paningkaban. Sasaran utama dalam penelitian ini adalah penambang emas, mandor, pemilik lahan, pembeli hasil tambang di Desa Paningkaban, sedangkan sasaran pendukung dalam penelitian ini adalah Perangkat pemerintahan desa, Masyarakat non penambang sekitar area tambang. Dalam metodologi, penelitian ini menggunakan paradigma fenomenologi Alfred Schultz dan metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik menentukan informan purposive sampling. Mode analisis data menggunakan proses Interpretative Phenomenological Analysis, sedangkan validitas data dalam penelitian ini menggunakan teknik validasi data triangulasi sumber.
Secara teoritis, jaringan sosial baru akan tercipta ketika ada transaksi yang terjadi secara berkelanjutan dengan berbagai bentuk, berupa; barang, jasa, maupun informasi yang melalui jalur yang terdapat dalam hubungan sosial melalui interaksi. Jaringan sosial juga memiliki berbagai macam jenis, antara lain; kepentingan, power ,dan emosional dengan berbagai macam syarat-syarat dan sifatnya yang berbeda dari masing-masing jenis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan sosial yang terdapat dalam aktivitas pertambangan emas Desa Paningkaban ada di antara penambang, pemilik lahan, pemodal dan pembeli hasil tambang dengan jenis jaringan yang terdapat adalah jaringan emosi dan jaringan kepentingan, dalam hal ini kepentingan yang dimaksud adalah kepentingan ekonomi.
Right in 2007, the biggest gold potential was found in Banyumas, precisely in Paningkaban Village, Gumelar Subdistrict, with radiation reaching 9.47 tons. The current activity in Paningkaban village begins. The villagers flocked to mining in the traditional way, the landowners also expanded their land to mine. Not only Paningkaban Village people are interested in mining, but people from outside the region also arrive, such as from the regions; Tasikmalaya, Jogja, Jakarta. So on this basis, various information about the sale and purchase of mining products was formed.
This study aims to explain and identify social networks and forms that exist in the implementation of the tasks of Paningkaban Village. The main targets in this study were gold miners, foremen, landowners, mining product buyers in Paningkaban Village, while the supporting targets in this study were Village government equipment, Non-mining communities around the mine area. On the basis of this research, Alfred Schultz's phenomenology paradigm was used and the research method was the informant's purposive sampling technique. The data analysis mode uses the Interpretative Phenomenological Analysis process, while the validity of the data in this study uses the source triangulation data validation technique.
Theoretically, new social networks will create collections of transactions that occur in full in various forms; goods, services, and also information relating to social relations through interaction. Social networks also have various types, including; interests, power, and emotional with a variety of requirements and characteristics that are different from each type.
The results showed that the social networks in the Paningkaban Village population organization existed between miners, landowners, financiers, and buyers of mining products with the emotional types and available types of networks, in this case, the profitable ones were economic goals.
Keywords: Network, Relationships, Transaction
2149824324G1G014006HUBUNGAN STATUS KEBERSIHAN RONGGA MULUT DAN KARIES GIGI TERHADAP KUALITAS HIDUP YANG BERKAITAN DENGAN KESEHATAN MULUT PADA MIXED DENTITION

(Studi kasus pada SD Negeri 2 Limpakuwus, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah)

HUBUNGAN STATUS KEBERSIHAN RONGGA MULUT DAN KARIES GIGI TERHADAP KUALITAS HIDUP YANG BERKAITAN DENGAN KESEHATAN MULUT PADA MIXED DENTITION

Kesehatan rongga mulut memiliki peranan penting dalam kesehatan umum dan kualitas hidup anak-anak. Kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan mulut merupakan interaksi dan siklus antara relevansi dan pengaruh kesehatan mulut pada aktivitas sehari-hari. Komponen utama dari kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan mulut adalah sakit/ketidaknyamanan, aspek fungsi fisik, aspek sosial, dan aspek psikologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status kebersihan rongga mulut dan karies gigi terhadap kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan mulut pada mixed dentition di SD Negeri 2 Limpakuwus. Penelitian menggunakan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada 81 orang siswa-siswi di SD Negeri 2 Limpakuwus yang berusia 9-12 tahun. Data status kebersihan rongga mulut diperoleh dari pemeriksaan OHI-S, karies gigi diperoleh dari pemeriksaan DMF-T/def-t, dan kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan mulut dievaluasi menggunakan Child Oral Health Impact Profile Short Form 19 (COHIP SF-19). Data kemudian dianalisis secara statistik menggunakan uji korelasi Spearman dan menunjukkan bahwa status oral hygiene memiliki korelasi yang kuat dengan karies gigi, karies gigi memiliki korelasi yang kuat dengan kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan mulut, nilai r masingmasing adalah 0,78 (p = 0,00) , -0,51 (p = 0,00). Simpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara status kebersihan rongga mulut dan karies gigi dengan kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan mulut pada mixed dentition di SD Negeri 2 Limpakuwus.
THE RELATION OF ORAL HYGIENE STATUS AND DENTAL CARIES WITH ORAL HEALTH RELATED QUALITY OF LIFE IN MIXED DENTITION (Case Study at Elementary School 2 Limpakuwus, Sumbang Subdistrict, Banyumas District, Central Java Province)

Oral health has an important role in the general health and quality of life of children. Oral health related quality of life is an interaction and cycle between the relevance and influence of oral health in their daily activities. The main component of oral health related quality of life is pain/discomfort, functional aspect, social aspect, and psychological aspect. This research aimed to know the relationship between oral hygiene status and dental caries with oral health related quality of life in mixed dentition at Elementary School 2 Limpakuwus. The study used a cross-sectional approach carried out on 81 students at Elementary School 2 Limpakuwus aged 9-12 years. Oral hygiene status data were obtained from OHI-S examination, dental caries was obtained from DMF-T / def-t examination, and oral health related quality of life was evaluated using Child Oral Health Impact Profile Short Form 19 (COHIP SF-19).Then the data were analyzed with Spearman and showed that oral hygiene status had a strong correlation with dental caries, dental caries had a strong correlation with oral health quality of life, r values were 0,78 (p = 0,00), -0,51 ( p = 0,00) The conclusion of this study is that there is a relationship between oral hygiene status and dental caries with quality of life related to oral health in mixed dentition in Elementary School 2 Limpakuwus.
2149924297H1G014034KONDISI KUALITAS AIR BERDASARKAN METODE WQI DI KAWASAN TAMBAK UDANG CV CEMARA SEWU JETIS KABUPATEN CILACAP Permasalahan dan penurunan kualitas air di kawasan tambak udang merupakan hal yang penting untuk diamati. Hal ini membuat kajian mengenai monitoring dan status kualitas air di suatu kawasan tambak merupakan hal yang penting dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kualitas air kawasan tambak CV. Cemara Sewu menggunakan metode Water Quality Index (WQI). Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2018 di pertambakan CV. Cemara Sewu, Jetis, Kabupaten Cilacap. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan teknik pengambilan sampel secara purposive random sampling. Lokasi penelitian dibagi menjadi 6 stasiun dengan 3 ulangan. Data dianalisis secara deskriptif komparatif menggunakan Water Quality Index dan uji F (one way ANOVA) untuk mengetahui perbedaan kualitas air antar stasiun. Hasil menunjukan bahwa nilai WQI berkisar antara 54,46 – 71,84. WQI tertinggi diperoleh pada stasiun VI dan terendah diperoleh pada stasiun I. Secara umum, parameter kualitas air menunjukkan perbedaan secara signfikan (p < 0,05) kecuali parameter suhu. Berdasarkan nilai WQI, secara umum kawasan tambak CV. Cemara Sewu termasuk ke dalam kualitas air dengan kategori sedang.The problem and decilining of water quality shrimp farm is important to be observed. It’s make the study of monitoring and water quality status have to carried out. The aim of this study is to investigate of water quality in Cemara Sewu Shrimp Farm using Water Quality Index (WQI) method. The research was conducted at October 2018. The survey method and Purposive random sampling were applied in this research. Sampling location was divided into 6 location with 3 repeat. The data was analyzed using One Way Anova and Water Quality Index to categorized the water quality of Cemara Sewu Shrimp Farm. The result show that WQI result between range 54,46 – 71,84. Station VI was the highest WQI result and the lowest WQI result was station I, respectively. Generally, water quality parameters show significantly different (p < 0,05) except temperature. According WQI status, Cemara Sewu Shrimp Farm classified into medium category.
2150024298D1E014165Hubungan Aantara Bobot Badan Dengan Lingkar dan Panjang Paha Sapi Sumba Ongole dan Sapi Bali Kupang yang Dipelihara Secara IntensifTujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara bobot badan (BB), lingkar paha (LP), dan panjang paha (PP) sapi Sumba Ongole dan sapi Bali Kupang yang dipelihara secara intensif. Penelitian dilaksanakan di Bata Farm Desa Datar dan Desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Materi penelitian yang digunakan yaitu 10 ekor sapi Sumba Ongole dan 20 ekor sapi Bali Kupang yang dipelihara secara intensif dengan kisaran umur 2 tahun. Alat yang digunakan yaitu alat ukur metline rondo, dan timbangan dengan merek kenko. Metode penelitian yang dilakukan dengan metode purposive random sampling. Variabel yang diukur dalam penelitian ini meliputi bobot badan, lingkar paha dan panjang paha. Hasil uji t parsial menunjukkan bahwa panjang paha berhubungan tidak nyata dengan bobot badan (P>0,05), tetapi lingkar paha berhubungan sangat nyata (P<0,01) dengan bobot badan dengan mengikuti persamaan regresi linier, BB = -30,09 + 2,27 LP, dengan nilai R= 0,99 dan R2 = 0,99. Hasil uji t parsial menunjukkan lingkar paha sapi Bali Kupang berhubungan sangat nyata (P<0,01) dengan bobot badan mengikuti persamaan regresi linier sederhana, BB = -3,47 + 2,67 LP, dengan nilai R= 0,96 dan R2 = 0,92. Penelitian dapat disimpulkan bahwa lingkar paha dapat digunakan untuk memprediksi bobot badan saspi Sumba Ongole dan sapi Bali Kupang.The aim of this research was to determine Relationship Between the (Body Weight) Thigh Circumference (BW), TC and Thighs Length (TL) of Sumba Ongole and Bali Kupang cattle which are intensively maintained. The study was conducted at Bata Farm Datar Village and Karanggintung Village, Sumbang District, Banyumas Regency. The research materials used were 10 heads of Sumba Ongole cattle and 20 heads of Kupang Kupang cows that were intensively maintained at the age of 2 years. The tools used are metline rondo, and the scale with the kenko brand. The research method was carried out by purposive random sampling method. The variables measured in this study included body weight, thigh circumference and thigh length. The partial t test results show that thigh length is not significantly related to body weight (P>0.05), but thigh circumference correlated very significantly (P<0.01) with body weight following a linear regression equation, BW = -30.09 + 2.27 TC, with a value of R = 0.99 and R2 = 0.99. The results of the partial t test show that the Kupang cattle thigh circumference is very significant (P<0.01) with body weight following a simple linear regression equation, BW = -3.47 + 2.67 TC, with a value of R = 0.96 and R2 = 0.92. The research can be concluded that thigh circumference can be used to predict the body weight of Ongle Sumba and Bali Kupang cattle.