Artikelilmiahs
Menampilkan 19.981-20.000 dari 50.086 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 19981 | 23086 | B1J013018 | Keanekaragaman Rayap (O:Isoptera) pada Ekosistem Hutan Pinus dan Damar di Ketinggian 800 m dpl Lereng Barat Gunung Slamet KPH Pekalongan Barat | Rayap adalah serangga sosial yang mempertahankan kelangsungan hidupnya dikelompokkan berdasarkan feeding habits. Rayap mempertahankan hidupnya dengan makan yang dibagi menjadi 4 group yaitu non fungus growing wood feeders, fungus growing wood feeders, true humic feeders dan true soil feeders. Rayap juga berperan dalam membantu manusia sebagai dekomposer dengan cara menghancurkan kayu atau bahan organik lainnya dan mengembalikan sebagai hara ke dalam tanah. Satu sama lain memiliki sensitifitas yang berbeda-beda seperti pemakan tanah dan humus lebih responsif dibandingkan kelompokan pemakan kayu dengan adanya perubahan-perubahan faktor lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman, kemerataan, dan dominansi pada ekosistem hutan pinus dan damar di 800 mdpl KPH Pekalongan Barat. Metode survey, digunakan dengan teknik sampling dengan belt transect (panjang = 100m, lebar = 2m). Selama pengambilan sampel, belt transect ditarik pada ekosistem hutan pinus dan damar yang dibagi menjadi 20 bagian dengan ukuran 5m x 2m. Rayap diamati selama satu jam di setiap bagian. Rayap prajurit diambil dan dimasukkan ke dalam botol berisi 70%. Hasil yang didapatkan dari hutan pinus dan damar yaitu Odontotermes spp., Capritermes semarangi, Procapritermes setiger, Nasutitermes javanicus, and Schedorhinotermes javanicus. Sedangkan pada hutan damar adalah Odontotermes spp., Procapritermes setiger, and Schedorhinotermes javanicus. Berdasarkan perhitungan nilai indeks keanekaragaman pada pinus didapatkan (H '= 1,49) diklasifikasikan sebagai sedang, dan pada damar (H' = 0,95) diklasifikasikan sebagai rendah. Nilai indeks kemerataan dalam pinus sebesar (E = 0,95) tinggi dan pada damar (E = 0,59) adalah sedang. Indeks dominansi pada hutan pinus (0,19) rendah, dan pada damar sebesar (0,51) rendah. Spesies yang paling mendominansi dari kedua hutan adalah Schedorhinotermes javanicus. Kata kunci: rayap, kelimpahan, KPH Pekalongan Barat, belt transect, ekosistem | Termites are social insects that maintain a viable survival grouped by feeding habits. Termites maintain their lives by eating divided into 4 group is non fungus growing wood feeders, fungus growing wood feeders, true humic feeders and true soil feeders. Termites have a role in helping the humans as a decomposer by destroying wood or other organic material and returning it as nutrients into the soil. Each other has a different sensitivity like the soil-feeding termites and humus groups are more responsive than the grouping of wood-eaters in the presence of changes in environmental factors. The aims of this research are to determine the diversity, evenness, and dominance of termites in pine and dammar at 800 mdpl KPH Pekalongan Barat. Survey method was employed with sampling technique with a belt transect (long=100, wide=2). During the sampling, belt transect wass pulled through the ecosystem of pine and dammar forest and divided into 20 sections with the size of 5m x 2m. The termites were taken for one hour in each section. Warrior termites were taken and put into the bottles containing 70%. The result show that from pine forest obtaines Odontotermes spp., Capritermes semarangi, Procapritermes setiger, Nasutitermes javanicus, and Schedorhinotermes javanicus. While on dammar are Odontotermes spp., Procapritermes setiger, and Schedorhinotermes javanicus. Based on the calculation the pine diversity index value (H’=1.49) classified as moderate, dammar (H’=0.95) classified as low. The Evennes index values in pine (E=0.95) is high and dammar (E=0.59) is moderate. The dominance of pine (0.19) is low, dammar (0.51) is moderate. The highest dominance spesies from both forest belongs to Schedorhinotermes javanicus. | |
| 19982 | 23087 | C1K014044 | The Contribution of Compensation and Training and Employee Development on Net Operating Income at PT Angkasa Pura I (PERSERO) | Sumber daya manusia menjadi aspek penting dalam organisasi karena manusia lah yang membentuk dan mengenbangkan sebuh organisasi untuk mencapai tujuan. Mencapai tujuan untuk perusahaan bergantung tidak hanya pada alat atau perlengkapan yang modern, fasilitas, dan infrastruktur yang lengkap, namun tergantung pas orang yang melaksanakan pekerjaan. Diantara fungsi penting management sumber daya manusia, salah satu yang paling penting adalah mencapain kinerja yang optimal dalam pendapatan operational tertama di dalam suatu bandara yang dapat memperbaiki kualitas sumber daya manusia. Untuk memperbaiki sumber daya manusia itu dapat dilakukan dengan pendidikan dan training. PT Angkasa Pura I (PERSERO) adalah perusahaan BUMN yang bergerak dalam bidang pelayanan bandara dan mengelola 13 bandara dari Indonesia bagian tengah sampai timur. Dalam hal sumber daya manusia, kepuasan kompensasi aspek yang penting karena kepuasan kompensasi dapet berpengaruh dalam tingkah laku pegawai dalam bekerja agar lebih bersemangat dan kinerja yang meningkat. Penelitian ini lebih focus dalam apakah biaya yang sudah dikeluarkan perusahaan sejauh ini sudah berkontribusi dengan baik dalam meningkatkan hasil kinerja karyawan yang dapat di lihat dari net operating income. Dalam masalah diatas, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kompensasi, pelatihan dan pengembangan pegawai terhadap net operating income. Sample dari penelitian ini adalah 13 bandara yang dikelola oleh PT Angkasa Pura I dengan meliat laporan keuangan. Data dikelola menggunakan IBM SPSS software atau PASW. Keterbatasan penelitian ini adalah data yang tersedia mengenai pelatihan dan pengembangan pegawai tidak rinci, sehingga tidak adanya data sati persatu biaya yang dikeluarkan untuk tiap kepelatihan. | Human resource management becomes a important aspect for an organization's, because it is the human who built up and develop the organization, to achieve its objectives. Achieving a goals for the company depends not only on modern equipment, facilities and complete infrastructure, but depends on the people who carry out the work. The success of an organization is influenced by the performance of individual employees. Amongs the important functions of human resource management, one of the most important in achieving optimal performance in terms of operational revenue of an airport is the improvement of the quality of Human Resources. The improvement of human resources can be done with the provision of education and training. PT Angkasa Pura I (PERSERO) is a State Owned Enterprise (BUMN) that engaged an airports services that manage 13 airports in the Central Region to Eastern Indonesia. In a human resource management,compensation satisfaction also become an important aspect because satisfaction of compensation can influence employee's behavior to work more excited and high performance. This study is more focused on whether the cost that has been spent so far can really contributes to get a better in net operating income or in fact there is no significant linkage. The purpose of this research is to know and analyze the contribution of compensation and training and employee development on net operating income. The sample in this study are PT Angkasa Pura I annual report on the year 2017 with 13 branches airport. Data were analyzed using IBM SPSS software or PASW (Predictive Analytics SoftWare). The limitation in this study actually the data for training and employee development still minim. There is no detail about how much each training and development that company spend for that. so because of that we can really have a detail information about it. | |
| 19983 | 25693 | F1B015011 | Implementasi Kebijakan Pengembangan Pada Pelaku Usaha Pusat Kuliner dan UKM Pratistha Harsa Purwokerto | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi kebijakan pengembangan pada pelaku usaha pusat kuliner dan UKM Pratistha Harsa Purwokerto. Metode penelitian yang digunakan deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik pemilihan informan dipilih dengan menggunakan teknik pusposive sampling dan accidental sampling. Untuk menjamin keabsahan data digunakan teknik triangulasi sumber. Model analisis yang digunakan adalah model analisis interaktif. Terdapat lima aspek dalam melihat implementasi kebijakan pengembangan pada pelaku usaha pusat kuliner dan UKM Pratistha Harsa purwokerto, yakni komunikasi, sumber daya, kapasitas UKM, modal usaha dan jaringan usaha. Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi kebijakan pengembangan sudah berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dari adanya komunikasi yang terjalin antara pelaksana kebijakan dengan pelaku usaha yang sudah berjalan optimal, sumber daya yang memadai, kapasitas UKM yang baik, bantuan usaha yang cukup, dan jaringan usaha yang baik. Terdapat beberapa kendala di dalam pelaksanaan kebijakan diantaranya minimnya kendaraan operasional dinas, dan masih terdapat pelaku usaha yang tidak paham proses pengajuan pinjaman permodalan. | This study aims to determine the implementation of development policies at the culinary center and SME Pratistha Harsa Purwokerto. The research method used is descriptive qualitative. Data obtained through interviews, observation and documentation. The informant selection technique was chosen using purposive sampling and accidental sampling techniques. To ensure the validity of the data, the source triangulation technique is used. The analytical model used is an interactive analysis model. There are five aspects in seeing the implementation of development policies in the culinary center and UKM Pratistha Harsa purwokerto business actors, namely communication, resources, SME capacity, business capital and business networks. The results of the study show that the implementation of the development policy has been going well. This can be seen from the communication that exists between policy implementers and business actors who are already running optimally, adequate resources, good UKM capacity, sufficient business assistance, and good business networks. There are several obstacles in the implementation of the policy including the lack of official operational vehicles, and there are still business people who do not understand the process of applying for capital loans. | |
| 19984 | 23090 | B1K014037 | BIODELIGNIFICATION OF SENGON WOOD SAWDUST AS THE RAW MATERIAL OF PULP BY SEVERAL SPECIES OF WHITE ROT FUNGI (Pleurotus ostreatus, Ganoderma lucidum AND Phanerochaete chrysosporium) | White rot fungi are members of basidiomycetous fungi that can be used for the delignification process, because they are capable to secrete one or more extracelluler enzymes that are able to degrade lignin. Several species of white rot fungi that are used as biodelignification agents are Pleurotus ostreatus, Ganoderma lucidum and Phanerochaete chrysosporium. Beside the kind of fungi, the other factor that influence delignification process is incubation time which is important to the fungi to degrade cellulose and lignin. This research objective are to know the interaction effect of species of white rot fungi and incubation time in biodelignification process of sengon wood sawdust and to know species of white rot fungi and the optimum of incubation time that most effectively biodelignify sengon wood sawdust. This research employed experimental design with Completily Randomized Design (CRD) in a Factorial pattern and analyzed by using analysis of variance (F test) with the error contents 5% and 1% followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) on highly different significance effect of the treatment. The treatments will be inoculation of P. ostreatus, G. lucidum and P. chrysosporium incubated in 0 day, 10 days, 20 days, and 30 days. Each treatment has 3 replication. Species of white rot fungi and incubation times were independent variable and biodelignification activity was dependent variable. The main parameter will be lignin and cellulose content before and after inoculation and the supporting parameters will be pH and the growth speed of the white rot fungi mycelia on the substrate. The result of Analysis of variance showed that there are no interaction effect between treatment of type of white rot fungi and incubation time on the lignin content in sengon wood sawdust. But, independenly type of white rot fungi and incubation gave the significant effect on the lignin content in sengon wood sawdust. P. chrysosporium is the type of white rot fungi that most effective to biodelignify sengon wood sawdust that showed the lowest of averages of lignin contents 7.11% and with the incubation time 30 days that is lignin contents of 9.59 %. | White rot fungi are members of basidiomycetous fungi that can be used for the delignification process, because they are capable to secrete one or more extracelluler enzymes that are able to degrade lignin. Several species of white rot fungi that are used as biodelignification agents are Pleurotus ostreatus, Ganoderma lucidum and Phanerochaete chrysosporium. Beside the kind of fungi, the other factor that influence delignification process is incubation time which is important to the fungi to degrade cellulose and lignin. This research objective are to know the interaction effect of species of white rot fungi and incubation time in biodelignification process of sengon wood sawdust and to know species of white rot fungi and the optimum of incubation time that most effectively biodelignify sengon wood sawdust. This research employed experimental design with Completily Randomized Design (CRD) in a Factorial pattern and analyzed by using analysis of variance (F test) with the error contents 5% and 1% followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) on highly different significance effect of the treatment. The treatments will be inoculation of P. ostreatus, G. lucidum and P. chrysosporium incubated in 0 day, 10 days, 20 days, and 30 days. Each treatment has 3 replication. Species of white rot fungi and incubation times were independent variable and biodelignification activity was dependent variable. The main parameter will be lignin and cellulose content before and after inoculation and the supporting parameters will be pH and the growth speed of the white rot fungi mycelia on the substrate. The result of Analysis of variance showed that there are no interaction effect between treatment of type of white rot fungi and incubation time on the lignin content in sengon wood sawdust. But, independenly type of white rot fungi and incubation gave the significant effect on the lignin content in sengon wood sawdust. P. chrysosporium is the type of white rot fungi that most effective to biodelignify sengon wood sawdust that showed the lowest of averages of lignin contents 7.11% and with the incubation time 30 days that is lignin contents of 9.59 %. | |
| 19985 | 23092 | G1B014102 | PEMODELAN REGRESI UNTUK ANALISIS PENGARUH BEBERAPA FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP JUMLAH NYAMUK AEDES SP. DI JAWA TENGAH (ANALISIS LANJUT DATA RIKHUS VEKTORA 2015) | Latar Belakang : Demam Berdarah Dengue (DBD) ditularkan melalui vektor Aedes sp. yang keberadaannya diduga berkaitan dengan beberapa faktor lingkungan seperti suhu udara, kecepatan angin, dan kelembaban udara. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi jumlah nyamuk Aedes sp. di Jawa Tengah berdasarkan faktor lingkungan dengan membuat pemodelan regresi. Metodologi : Penelitian bersifat deskriptif analitik dengan desain penelitian cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh nyamuk Aedes sp. tertangkap pada Rikhus Vektora 2015 di Jawa Tengah dengan pengambilan sampel secara total, yaitu sejumlah 1258 ekor nyamuk Aedes sp. Analisis data yang dilakukan adalah univariat, bivariat dan multivariat dengan regresi linear ganda. Hasil Penelitian : Faktor lingkungan yang memiliki pengaruh paling tinggi terhadap jumlah nyamuk Aedes sp. di Jawa Tengah adalah suhu udara. Model prediksi yang terbentuk adalah: Jumlah nyamuk Aedes sp. = 3,901 + 0,508 Suhu Udara - 1,710 Kecepatan Angin + 0,079 Kelembaban Udara. Kesimpulan : Model prediksi jumlah nyamuk Aedes sp. di Jawa Tengah yang terbentuk adalah: Jumlah nyamuk Aedes sp. = 3,901 + 0,508 Suhu Udara - 1,710 Kecepatan Angin + 0,079 Kelembaban Udara. Upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan penelitian skala nasional untuk dapat memprediksi jumlah nyamuk Aedes sp. di Indonesia. Kata Kunci : Aedes sp., Demam Berdarah Dengue (DBD), Model Prediksi, Pemodelan Regresi Linear | Background : Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is transmitted through Aedes sp. vector whose existence is allegedly related to several environmental factors such as air temperature, wind speed, and air humidity. This study aims to predict the number of Aedes sp. in Central Java based on environmental factors by making regression modeling. Methodology : This research is using cross sectional aprroach. The population in this research is all Aedes sp. caught on Rikhus Vektora 2015 in Central Java with total sampling of 1258 Aedes sp. Data analysis conducted is univariate, bivariate, and multivariate with mutiple linear regression. Result : Environmental factor that has highest influence to the number of Aedes sp. in Central Java is air temperature. Prediction model formed is: Number of Aedes sp. = 3.901 + 0.508 Air Temperature – 1.710 Wind Speed + 0.079 Air Humidity. Conclusion : Prediction model formed of the number of Aedes sp. in Central Java is: Number of Aedes sp. = 3.901 + 0.508 Air Temperature – 1.710 Wind Speed + 0.079 Air Humidity. Efforts that can be done related to this is to conduct a national scale research to be able to predict the number of Aedes sp. in Indonesia. Keywords: Aedes sp., Dengue Hemmorhagic Fever (DHF), Prediction Model, Linear Regression Modeling | |
| 19986 | 23093 | B1J014020 | IDENTIFIKASI JENIS KELAMIN DAN INDEKS KEMATANGAN GONAD IKAN KURAU (Filimanus perplexa feltes, 1991) DI PPI TANJUNGSARI PEMALANG | Ikan Kurau (Filimanus perplexa) merupakan salah satu jenis ikan ekonomis di Indonesia yang banyak ditemukan di PPI Tanjungsari Pemalang. Penangkapan yang terus menerus tanpa adanya usaha budidaya dapat menyebabkan overfishing. Oleh karena itu, perlu adanya langkah-langkah konservasi. Dalam upaya konservasi tersebut diperlukan beberapa informasi biologi, diantaranya adalah tentang dimorfisme seksual ikan Kurau yang belum diketahui. Dimorfisme seksual adalah karakter morfologi yang dapat digunakan untuk membedakan antara ikan jantan dan betina. Perbedaan karakter morfologi antara ikan jantan dan betina dapat dilihat melalui teknik truss morphometrics. Selain dimorfisme seksual, untuk karakterisasi ikan Kurau jantan dan betina diperlukan juga karakter meristik dan Indeks Kematangan Gonad. Kajian tentang karakter truss morphometrics, meristik dan Indeks Kematangan Gonad pada ikan Kurau masih sangat terbatas, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk membedakan ikan Kurau jantan dan betina menggunakan teknik truss morphometrics dan karakter meristik serta Indeks Kematangan Gonad. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey. Sebanyak 90 sampel ikan Kurau diambil secara acak dari PPI Tanjungsari Pemalang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter truss mophometrics yang menjadi pembeda ikan Kurau jantan dan betina terletak pada bagian posterior tubuh, pada ikan jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih panjang dan lebar dibandingkan ikan betina. Karakter meristik tidak dapat menjadi pembeda antara ikan Kurau jantan dan betina. Nilai indeks kematangan gonad ikan Kurau jantan selama penelitian berkisar antara 0,18-1,43% dan ikan Kurau betina antara 0,04-3,11 %. Nilai koefisiensi determinasi menunjukkan bahwa antara panjang tubuh dengan tingkat kematangan gonad memiliki hubungan yang lemah, panjang tubuh hanya dapat mempengaruhi pertambahan tingkat kematangan gonad sebesar 16,7%. | Ikan Kurau (Filimanus perplexa) is one of the economical fish species in Indonesia which can found the most in PPI Tanjungsari Pemalang. Continuous catching without cultivation can lead overfishing. Therefore, the need for conservation measures. in the conservation effort is needed some biological information, including the Kurau fish dimorphism which is unknown. Sexual dimorphism is a morphological character that can be used to distinguish between male and female fish. The differences in morphological characters between male and female fish can be seen through the truss morphometrics technique. In addition to sexual dimorphism, for the characterization of male and female Kurau fish, a meristic character and gonado somatic index are also needed. The research of truss morphometrics character, meristic and gonado somatic index in Kurau fish is still very limited, therefore the research is need to distinguish male and female Kurau fish using truss morphometrics techniques and meristic character and also gonado Somatic Index. The method used in this research is survey. Kurau fish samples obtained from PPI Tanjungsari Pemalang counted 90 samples. Research result showed that character truss morphometrics which distinguish male and female Kurau fish located at part posterior body. Meristic characters can not be a distinction between male and female Kurau fish.The index value of gonado somatic index in male Kurau fish ranged between 0,18-1,43% and female kurau during experiment between 0,04-3,11%. The value of coefficient determination showed that between the lenght of the Stage of Gonado Mature (SGM) have a weak correlation, the lenght can influence the growth of the Stage of Gonado Mature in the amount of 16,7%. | |
| 19987 | 25733 | A1D015118 | PENGARUH LAMA PERENDAMAN DALAM LARUTAN ZPT DAN MEDIA SEMAI TERHADAP HASIL STEK BATANG TANAMAN BUNGA PANCA WARNA (Hydrangea macrophylla Thunb.) | Penelitian ini bertujuan untuk 1) mendapatkan lama perendaman terbaik stek Hydrangea macrophylla Thunb. dalam larutan ZPT, 2) mendapatkan macam media semai terbaik untuk pertumbuhan stek Hydrangea macrophylla Thunb., dan 3) mendapatkan kombinasi lama perendaman dan media terbaik untuk pertumbuhan stek Hydrangea macrophylla Thunb. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Melung, Ketenger, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2018 sampai Januari 2019. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah lama perendaman dalam larutan ZPT yaitu kontrol, 30 menit dan 60 menit dan faktor kedua adalah macam media semai yaitu tanah + arang sekam (1 : 1), tanah + pecahan genting + arang sekam (1 : 1 : 1) dan kompos + arang sekam + pasir (1 : 1 : 1) sehingga terdapat 9 perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah tunas, jumlah akar, panjang akar, luas daun, persentase stek hidup, bobot segar tanaman dan bobot kering tanaman. Data pengamatan dianalisis dengan uji F dan uji lanjut dengan Duncan’s Multiple Range Test pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) lama perendaman 60 menit dalam larutan ZPT jenis auksin memberikan hasil terbaik pada jumlah daun dengan nilai rerata terbesar adalah 87,67 dan luas daun dengan nilai rerata terbesar adalah 3346,17 cm2, 2) media semai tanah + pecahan genting + arang sekam (1 : 1 : 1) meberikan hasil terbaik pada panjang akar dengan nilai rerata terbesar adalah 402,67 cm dan 3) kombinasi lama perendaman dan media semai tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan stek Hydrangea macrophylla Thunb. | ABSTRACT This study aims to determine: 1) obtain the best immersion time of Hydrangea macrophylla Thunb. cuttings in ZPT solution, 2) obtain the best type of seedling media for the growth of Hydrangea macrophylla Thunb. cuttings, and 3) obtain a combination of long soaking and the best media for the growth of Hydrangea macrophylla Thunb. cuttings. This research was conducted in Melung Village, Ketenger, Baturraden Subdistrict, Banyumas Regency. The study was conducted from December 2018 to January 2019. This study used a Randomized Block Design (RBD) with two factors. The first factor is the immersion time in ZPT solution, namely control, 30 minutes and 60 minutes and the second factor is the type of seedling media, namely soil + husk charcoal (1: 1), soil + broken pieces + husk charcoal (1: 1: 1) and compost + husk + sand charcoal (1: 1: 1) so that there are 9 treatments repeated 3 times. The variables observed were plant height, number of leaves, number of shoots, number of roots, root length, leaf area, percentage of live cuttings, plant fresh weight and plant dry weight. Observation data were analyzed by the F test and further testing with Duncan's Multiple Range Test at a 5% error level. The results showed that 1) 60 minutes immersion time in auxin-type ZPT solution gave the best results on the number of leaves with the highest mean value of 87.67 and the largest leaf area with 3346.17 cm2, 2) soil seedling media + precarious fractions + husk charcoal (1: 1: 1) gives the best results at root length with the largest average value is 402.67 cm and 3) the combination of soaking time and seedling media did not affect the growth of Hydrangea macrophylla Thunb. cuttings. | |
| 19988 | 23094 | B1J014061 | KARAKTERISASI JENIS KELAMIN IKAN TRACAS (Hemiramphus lutkei Valenciennes, 1847) di PPSC CILACAP BERDASARKAN KARAKTER MORFOLOGI | Ikan tracas (Hemiramphus lutkei Valenciennes, 1847) merupakan salah satu ikan konsumsi dari familia Hemiramphidae yang banyak didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC). Populasi ikan tracas ini dikhawatirkan akan berkurang jika penangkapan ikan dilakukan terus-menerus. Oleh karena itu dibutuhkan upaya konservasi biologi yang dapat dilakukan melalui kajian taksonomi yang meliputi karakter morfologi, morfometrik standar, truss morphometrics dan meristik. Karakter morfologi, morfometrik standar, truss morphometrics dan meristik diduga dapat dijadikan sebagai pembeda ikan tracas jantan dan ikan tracas betina. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendapatkan karakter morfologi, morfometrik standar, truss morphometrics dan meristik yang dapat digunakan untuk membedakan ikan tracas jantan dan ikan tracas betina. Metode penelitian menggunakan teknik survey dan pengambilan sampel dengan teknik Purposive Random Sampling yaitu sampel dipilih secara khusus sesuai dengan tujuan penelitian. Sampel ikan tracas diperoleh dari TPI Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC) sebanyak 60 ekor. Variabel yang diamati yaitu karakter morfologi, morfometrik standar, truss morphometrics dan meristik. Parameter yang diukur yaitu perbandingan antara jarak morfometrik standar dengan panjang standar, perbandingan diameter mata dengan panjang kepala, dan perbandingan antara jarak truss dengan panjang standar. Karakter morfologi yang diamati adalah bentuk tubuh, bentuk dan posisi mulut, tipe gigi, bentuk sirip caudal dan tipe sisik. Karakter morfometrik standar yang diukur adalah panjang total, panjang standar, panjang kepala, diameter mata, panjang depan sirip dorsal, panjang sirip pectoral, panjang depan sirip ventral, panjang depan sirip anal, panjang sirip caudal atas, dan panjang sirip caudal bawah. Karakter truss morphometrics yang diukur yaitu jarak truss yang sudah ditentukan sebanyak 18 titik. Karakter meristik yang dihitung adalah jumlah jari-jari sirip yang meliputi jumlah jari-jari keras dan lunak pada sirip dorsal, anal, ventral dan pectoral, jumlah sisik yang mengelilingi batang ekor, jumlah sisik garis rusuk, jumlah sisik di atas dan di bawah garis rusuk, dan jumlah tapis insang. Data hasil pengamatan karakter morfologi dan meristik dianalisis secara deskriptif, sedangkan pengukuran karakter morfologi standar dan truss morphometrics dilakukan analisis statistik dengan uji PCA (Principal Component Analysis) menggunakan XLSTAT antara ikan tracas jantan dan betina. Variasi ukuran pada morfometrik standar pada karakter DM:PK (Diameter Mata), PSCA (Panjang Sirip Caudal Atas), PSP (Panjang Sirip Pectoral), PSCB (Panjang Sirip Caudal Bawah), PDSD (Panjang Depan Sirip Dorsal), dan PK (Panjang Kepala) ikan tracas jantan lebih pendek daripada ikan tracas betina. Variasi bentuk tubuh ikan pada PDSV (Panjang Depan Sirip Dorsal) dan PDSA (Panjang Depan Sirip Anal) ikan tracas betina yang lebih besar dan panjang dari ikan tracas jantan. Variasi bentuk pada truss morphometrics menunjukkan bahwa ikan tracas jantan memiliki variasi bentuk terutama pada bagian kepala lebih pendek dan tubuh bagian anterior lebih ramping dibandingkan ikan tracas betina, sedangkan pada ikan tracas betina terutama pada tubuh bagian anterior dan posterior lebih melengkung ke arah ventral dibandingkan ikan tracas jantan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter morfologi tidak dapat digunakan untuk membedakan ikan tracas jantan dan betina sedangkan karakter morfometrik standar dan truss morphometrics dapat digunakan untuk membedakan ikan tracas jantan dan betina. | Tracas fish (Hemiramphus lutkei Valenciennes, 1847) is one of the consumed fish from the Hemiramphidae family that is landed mostly at the Fish Auction Place (TPI) of the Cilacap Ocean Fishery Port (PPSC). The population of tracas fish is feared will decrease if fishing activities is done continuously. Therefore biology conservation is necessary that can be done through taxonomic studies which include morphological characters, standard morphometrics, truss morphometrics and meristics. Morphological characters, standard morphometrics, truss morphometrics and meristics are assumed to be used as a differentiator for male and female fish. The aims of this study are to determine and obtain morphological characters, standard morphometrics, truss morphometrics and meristics which can be used to distinguish male and female tracas fish. The method that used in this research is survey and sampling technique with Purposive Random Sampling technique that is selected specifically in accordance with the aims of this research. 60 samples of tracas fish are obtained from TPI of Cilacap Ocean Fishing Port (PPSC). The variables that observed are morphological characters, standard morphometrics, truss morphometrics and meristics. The parameters measured are the comparison between standard morphometric distance with standard length, comparison of eye diameter with head length, and comparison between truss distance with the standard length. The morphological characters that observed are body shape, shape and position of mouth, teeth type, caudal fin form and scales type. The standard morphometric characters that measured were total length, standard length, head length, eye diameter, dorsal fin front length, pectoral fin length, ventral fin front length, anal fin length, upper caudal fin length, and lower caudal fin length. The truss morphometrics character that measured is the truss distance that has been determined as many as 18 points. The meristic characters that calculated were the number of fin radii which included the number of hard and soft fin rays in the dorsal, anal, ventral and pectoral fins, the number of scales surrounding the peduncle, the number of rib lines, the number of scales above and below the rib line, and number of gill rakers. The data of morphological and meristic characters were analyzed descriptively, while the measurement of standard morphological characters and truss morphometrics was carried out by statistical analysis by PCA (Principal Component Analysis) using XLSTAT between male and female tracas. Size variations in standard morphometrics in characters DM:PK (Eye Diameter), PSCA (Upper Caudal Fin Length), PSP (Pectoral Fin Length), PSCB (Lower Caudal Fin Length), PDSD (Dorsal Fin Front Length), and PK (Head Length) male tracas fish are shorter than female tracas. Variations of fish body shape in PDSV (Ventral Fin Front Length) and PDSA (Anal Fin Front Length) female tracas fish larger and longer than male tracas fish. Shape variations of truss morphometrics show that male tracas fish have a variety of forms, especially in head is shorter and anterior body is more slender than tracas females, whereas in female tracas fish, especially in the anterior and posterior body more curved in the ventral than tracas male. | |
| 19989 | 23091 | B1J014007 | KAJIAN KARAKTERISASI JENIS KELAMIN PADA IKAN BELANAK (Osteomugil sp.) | Ikan belanak (Osteomugil sp.) memiliki nilai ekonomis penting dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Ikan belanak dipasarkan dalam bentuk segar atau beku, dikukus, dibuat ikan asin, ikan asap, dan dibuat menjadi pempek. Hingga saat ini permintaan pasar yang tinggi hanya mengandalkan hasil tangkapan nelayan saja tanpa adanya pengelolaan untuk masa mendatang, sehingga dikhawatirkan populasi ikan belanak akan menurun. Pencegahan turunnya populasi ikan belanak yang dapat dilakukan salah satunya yaitu dengan konservasi. Upaya konservasi ikan belanak memerlukan informasi taksonomik yang dapat digunakan sebagai pembeda antara ikan jantan dan betina antara lain karakter morfologi yang meliputi truss morphometrics dan meristik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendapatkan karakter morfologi, truss morphometrics dan karakter meristik yang dapat digunakan untuk membedakan antara ikan belanak jantan dan betina. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dan pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive random sampling. Variabel yang diamati yaitu karakter morfologi, truss morphometrics dan meristik. Data hasil pengukuran truss morphometrics dianalisis statistik dengan uji “t”, dan data hasil pengamatan karakter morfologi dan perhitungan karakter meristik dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini yaitu ikan belanak tidak dapat dibedakan antara jantan dan betina melalui karakter morfologi dan truss morphometrics. | The mullet (Osteomugil sp.) Has an important economic value and is widely consumed by the public. The mullets are marketed in fresh or frozen form, steamed, made salted fish, smoked fish, and made into pempek. Until now, high market demand rely solely on the catch of fishermen without any management for the future, so it is feared mullet fish population will decline. Prevention of eel fish population has decreased that can be done one of them is with conservation. Efforts to preserve mullets require taxonomic information that can be used as a distinction between male and female fish such as morphological characters that include morfometrics truss and meristics. This study aims to determine and obtain morphological characters, truss morfometrik and meristik characters that can be used to distinguish between male and female female. The research method used is survey and sampling done using purposive random sampling technique. The variables observed were morphological characters, truss morphometry and meristics. Truss morfometry measurement data were statistically analyzed by "t" test, and observation data of morphological character and meristic characteristic were analyzed descriptively. The results of this study are mullet fish can not be distinguished between males and females through morphological characters dan truss morfometrik.. | |
| 19990 | 23095 | B1J014126 | EFEK BAP TERHADAP PERTUMBUHAN STEK MIKRO N. ampullaria (Jack.) SECARA IN VITRO | Kantong semar (Nepenthes ampullaria (Jack.)) termasuk tumbuhan yang unik karena memiliki kantong dan saat ini keberadaannya semakin terancam oleh karena itu perlu dilakukan pelestarian. Teknik budidaya Nepenthes secara konvensional yaitu menggunakan biji, stek, dan pemisahan anakan, akan tetapi memiliki banyak kendala baik dari segi waktu ataupun teknis. Kultur in vitro merupakan alternatif untuk perbanyakan N. ampullaria (Jack.). Salah satu teknik kultur in vitro yaitu stek mikro, untuk mengoptimalkan stek mikro N. ampullaria (Jack.) dapat ditambahkan zat pengatur tumbuh BAP (6-benzylaminopurine). Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL), dengan perlakuan BAP terdiri dari 5 konsentrasi: 0; 0,5; 1; 1,5; 2 (ppm), setiap perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak empat kali. Parameter yang diamati berupa waktu inisiasi tunas, waktu inisiasi akar, jumlah daun, jumlah tunas baru, jumlah akar, daun terpanjang, akar terpanjang, dan tinggi tunas. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA (Analisis of variance) dan dilanjutkan dengan uji BNT 5% dan 1%. Hasil penelitian menunjukkan penambahan BAP mempengaruhi pertumbuhan stek mikro N. ampullaria (Jack.) pada jumlah daun, daun terpanjang dan jumlah tunas. Penambahan BAP 0,57 ppm merupakan konsentrasi optimal untuk meningkatkan jumlah tunas mencapai 3,86 tunas. | Kantong semar (Nepenthes ampullaria (Jack.) includes as unique plant reffered to its sac and now on its existence increasingly threatened so its needed to do conservation. Conventionally, cultivation of Nepenthes are using seeds, cutting, and fillial separation, however, there were much obstacles both from time and technical terms. In vitro culture is an alternative to cultivating N. ampullaria (Jack.). One of technique of in vitro culture is micro cutting, where to optimalize micro cutting of N. ampullaria (Jack.) BAP (6-benzylaminopurine) growth regulator could be added. This study was done experimentally with Completely Randomized Design (CRD), with BAP treatment consists of 5 consentrations: 0; 0,5; 1; 1,5; 2 (ppm), each treatment were multiplied four times. Parameter that observed were time of bud initiation, time of root initiation, total of leaves, total of new buds, total of roots, longest leave, longest root, and height of bud. Data obtained were analysed with ANOVA (Analisis of Variance) and continued with 5% and 1% LSD test. Result of research showed the addition of BAP affected the growth of micro cutting of N. ampullaria (Jack.) in total of leaves, longest leave, and total of buds. The addition of 0.57 ppm BAP was optimal consentration to increase total buds reached 3.86. | |
| 19991 | 23096 | A1L111045 | PENGARUH APLIKASI PEWARNAAN BIRU TERHADAP MASA PAJANG PADA BUNGA POTONG KRISAN (Chrysanthemum sp.) | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pewarnaan biru terhadap masa pajang bunga potong krisan. Penelitian dilaksanakan di Karangwangkal pada bulan Juni 2018. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAKL dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama yaitu pewarna yang digunakan P0 : kontrol (tanpa pewarna); P1 : pewarna A; P2 : pewarna B. Faktor kedua yaitu lama perendaman W1 : 2 jam; W2 : 4 jam; W3 : 6 jam; W4 : 8 jam. Variabel yang diamati adalah warna bunga, bobot bunga, volume larutan pewarna terserap, volume larutan peraga terserap, nilai absorban larutan pewarna, dan masa pajang. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan dengan pewarna B dengan perendaman selama 8 jam menghasilkan warna biru yang lebih tua dan merata pada kelopak bunga krisan. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, perlakuan pewarnaan biru pada bunga krisan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap masa pajang bunga krisan jika dibandingkan bunga krisan kontrol, yaitu selama 8,65 hari. | This study aims to determine the effect of blue coloring application on the cut chrysanthemum flower. The study was conducted in Karangwangkal in June 2018. The experiment design used was RAKL with 3 replications. The first factor is dye used P0: control (without dye); P1: dye A; P2: dye B. Second factor is long immersion W1: 2 hours; W2: 4 hours; W3: 6 hours; W4: 8 hours. The variables observed were flower color, flower weight, volume of absorbed dye solution, absorbed solvent volume, absorbance value of dye solution, and shelf life. The results showed treatment with dye B with immersion for 8 hours resulted in an older blue color and evenly on the chrysanthemum petals. Based on the results of the analysis, the treatment of blue coloration on chrysanthemum flowers did not give a significant effect on the chrysanthemum flower display period when compared to the control chrysanthemum flowers, ie for 8,65 days. | |
| 19992 | 23097 | B1J014090 | DETOKSIFIKASI KADMIUM TERHADAP KADAR UREUM DAN KREATININ TIKUS (Rattus norvegicus) DENGAN KELATOR ALAMI EKSTRAK BENALU TEH (Scurrula atropurpurea) | Kadmium dalam tubuh bersifat nefrotoksik dengan meningkatkan kadar ureum dan kreatinin. Benalu teh (Scurrula atropurpurea) memiliki kandungan kuersetin yang dapat mengkelat kadmium. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh dan dosis efektif ekstrak benalu teh sebagai kelator alami dalam mendetoksifikasi kadmium terhadap kadar ureum dan kreatinin tikus putih jantan (Rattus norvegicus). Hasil penelitian didapatkan semua dosis ekstrak benalu teh menurunkan kadar ureum dan kreatinin tikus yang telah diinduksi kadmium. Dosis ekstrak benalu teh 400 mg.kg-1 BB merupakan dosis efektif dalam menurunkan kadar ureum dan kreatinin. | The present of cadmium in the body is nephrotoxic due to it’s effect in increasing urea and creatinine. Tea mistletoe (Scurrula atropurpurea) has quercetin compound that able to become cadmium chelator. This study aims know the effect and effective dose tea mistletoe as natural chelator in detoxifying cadmium towards urea and creatinine levels of male white rats (Rattus norvegicus). The study result obtained that all doses of tea mistletoe extract decreased urea and creatinine levels of rat that induced by cadmium. Effective dose of tea mistletoe extract that decreased urea and creatinine levels was 400 400 mg.kg-1 WB. | |
| 19993 | 23099 | B1J014021 | PERTUMBUHAN Spirulina platensis PADA BERBAGAI TINGKAT PENGENCERAN MEDIA LIMBAH CAIR TAHU DARI DESA KALISARI DENGAN PENAMBAHAN NaCl KONSENTRASI BERBEDA | Spirulina platensis merupakan alga hijau biru yang berbentuk filamen. S. platensis dapat tumbuh pada media limbah cair, salah satunya yaitu limbah cair tahu. Pemanfaatan limbah cair tahu yang mengandung banyak bahan organik dapat dilakukan dengan pengenceran. Pengenceran bertujuan untuk menaikkan pH dan dapat mengurangi kekeruhan limbah cair tahu. Penambahan NaCl bertujuan memberikan kondisi salinitas yang sesuai untuk pertumbuhan S. platensis, mempertahankan tekanan osmotik, dan mengurangi jumlah bakteri yang terdapat pada limbah cair. Tujuan penelitian adalah mengetahui tingkat pengenceran limbah cair tahu dan konsentrasi NaCl yang menghasilkan pertumbuhan S. platensis optimum. Metode yang digunakan pada penelitian yaitu metode eksperimental yang disusun berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Faktor pertama dalam penelitian adalah tingkat pengenceran limbah cair tahu (0%, 70%, 80%) dan faktor kedua adalah konsentrasi NaCl (0 ppt, 15 ppt, 30 ppt). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara tingkat pengenceran limbah cair tahu dan konsentrasi NaCl. Pengenceran limbah cair tahu 70% dengan penambahan NaCl konsentrasi 15 ppt menghasilkan pertumbuhan S. platensis yang paling optimum. | Spirulina platensis is a blue green algae with filaments body. It can grow on wastewater media, one of them is tofu wastewater. The dilution of tofu wastewater that contains a lot of organic material can increase the pH and reduce its turbidity. The addition of NaCl can provide the salinity conditions that suitable for S. platensis growth, maintain the osmotic pressure, and reduce the amount of bacteria in the media. This study aims to determine the effect of tofu wastewater dilution which added by different NaCl concentration to S. platensis growth, as to get the optimum dilution and NaCl concentration which can produce maximum S. platensis growth. The method that used in this study is Completely Randomized Design (CRD) with the combination of two factors. The first is the level of tofu wastewater dilution (0%, 70%, 80%) and the second factor is NaCl concentration (0 ppt, 15 ppt, 30 ppt). The results showed that there was an interaction between the level of tofu wastewater dilution and NaCl concentration. The interaction between the 70% dilution of tofu wastewater and the 15 ppt of NaCl concentration can produced the optimum S. platensis growth. | |
| 19994 | 25612 | H1B015065 | Pengaruh Konfigurasi Balok Baja Canai Dingin Kombinasi Profil C dan Profil Hat Terhadap Beban Lentur | Untuk menunjang pembangunan konstruksi yang sedang berjalan dibutuhkan inovasi dalam bidang material. Salah satu material yang sedang dikembangkan adalah baja canai dingin (cold rolled steel). Baja canai dingin atau biasa disebut baja ringan telah banyak digunakan untuk menggantikan baja konvensional (hot rolled steel) maupun kayu. Biasanya penggunaannya pada struktur atap pada bangunan gedung. Selain itu juga sudah mulai dikembangkan baja ringan untuk komponen struktur lainnya, seperti balok, kolom dan dinding. Dalam penelitian ini dilakukan penelitian terkait baja ringan yang digunakan sebagai struktur balok, dengan mengkombinasikan baja ringan profil C dan profil hat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perilaku balok baja canai dingin dari kombinasi profil C dan profil hat setelah diberi beban lentur. Selain itu juga untuk mengetahui kapasitasnya agar bisa diterapkan dalam konstruksi balok. Metode yang dilakukan adalah dengan membuat benda uji balok lentur dari baja ringan kombinasi profil C dan profil hat. Kemudian dilakukan pengujian dengan memberi beban lentur pada tengah bentang balok baja ringan tersebut. Hasil pengujian menunjukkan beban lentur proporsional yang mampu diterima oleh variasi CH.1 sebesar 14,5 kN, variasi CH.2 sebesar 11,1 kN, variasi CH.3 sebesar 11,1 kN, variasi CH.4 sebesar 10,9 kN dan variasi 2C sebesar 4,3 kN. Sementara itu beban lentur ultimate yang mampu diterima oleh variasi CH.1 sebesar 14,5 kN, variasi CH.2 sebesar 11,17 kN, variasi CH.3 sebesar 11,1 kN, variasi CH.4 sebesar 10,9 kN dan variasi 2C sebesar 6,17 kN. Berdasarkan beban ultimate tersebut, momen dan tegangan maksimum dari variasi CH.1 adalah 3257783 Nmm dan 275,14 MPa, momen dan tegangan maksimum dari variasi CH.2 adalah 2510058 Nmm dan 211,99 MPa, momen dan tegangan maksimum dari variasi CH.3 adalah 2498108 Nmm dan 210,98, momen dan tegangan maksimum dari variasi CH.4 adalah 2450608 Nmm dan 206,97 MPa serta momen dan tegangan maksimum dari variasi 2C adalah 1382225 Nmm dan 143,78 MPa. | Abstract To support the development of construction proccess need innovation in the material field. One of the materials being developed is cold rolled steel. Cold rolled steel or usually called light steel has been used to replace conventional steel (hot rolled steel) and wood. Usually it is used in roof structures in buildings. Nowadays, light steel has been developed for other structural components, such as beams, columns and walls. In this case, research related to the light steel that use as beam structure, by combining light steel C and hat profile. This research aims to determine the behavior of cold rolled steel beams from a combination of C and hat profiles after being given a bending load. Moreover, also to discover the capacity, so that it can be applied in beam construction. The method used is made bending beam test specimens from light steel, combination of C and hat profile. Then the test is carried out by giving a bending load on the center of the light steel beam span. The test results show proportional bending load that is able to be accepted by CH.1 variations is 14.5 kN, CH.2 variation is 11.1 kN, CH.3 variation is 11.1 kN, CH.4 variation is 10.9 kN and 2C variation is 4.3 kN. Meanwhile the ultimate bending load that is capable of being accepted by CH.1 variations is 14.5 kN, CH.2 variation is 11.17 kN, CH.3 variation is 11.1 kN, CH.4 variation is 10.9 kN and variations 2C is 6.17 kN. Based on the ultimate force, the maximum moments and stresses of the CH.1 variations are 3257783 Nmm and 275.14 MPa, the maximum moments and stresses of the CH.2 variations are 2510058 Nmm and 211.99 MPa, the maximum moments and stresses of variations CH.3 are 2498108 Nmm and 210.98, the moment and maximum stress of the variation of CH.4 are 2450608 Nmm and 206.97 MPa as well as the moment and maximum stress of variations of 2C are 1382225 Nmm and 143.78 MPa. | |
| 19995 | 23100 | B1J014039 | PENGARUH PENGENCERAN LIMBAH CAIR TAHU DARI DESA KALISARI YANG DITAMBAHKAN PUPUK M-BIO SEBAGAI MEDIA KULTUR TERHADAP PERTUMBUHAN Chlorella vulgaris | Limbah cair tahu berpotensi sebagai media kultur mikroalga Chlorella vulgaris karena mengandung berbagai nutrien yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroalga ini. Proses dekomposisi nutrien pada limbah ini dapat dipercepat dengan penambahan pupuk M-Bio. Media limbah cair tahu ini juga perlu dilakukan pengenceran untuk mengurangi kepekatan dan meningkatkan intensitas cahaya pada media. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengenceran limbah cair tahu yang ditambahkan pupuk M-Bio terhadap pertumbuhan C. vulgaris, sehingga didapatkan media limbah cair tahu yang maksimal dalam menghasilkan pertumbuhan C. vulgaris. Pertumbuhan mikroalga C. vulgaris diukur berdasarkan pertambahan jumlah sel C. vulgaris pada media pertumbuhan. Metode yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan perlakuan kombinasi dua faktor dan 3 kali ulangan. Faktor pertama yaitu tingkat pengenceran limbah cair tahu yang terdiri dari 4 taraf (0%, 60%, 70% dan 80%) dan faktor kedua yaitu dosis pupuk yang digunakan yang terdiri dari 3 taraf (0 ml/L, 5 ml/L dan 10 ml/L). Hasil analisis menunjukkan bahwa interaksi antara pengenceran limbah cair tahu dan dosis pupuk M-Bio dapat mengoptimalkan kandungan nutrisi dan kondisi lingkungan pada media kultur sehingga pertumbuhan mikroalga C. vulgaris juga semakin meningkat hingga hari ke-3. Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa interaksi antara tingkat pengenceran 70% dan dosis pupuk M-Bio 5 ml/L menghasilkan pertumbuhan sel yang maksimal pada hari ke-3 yaitu 2,24 x 106. | Tofu wastewater has potential as culture media of Chlorella vulgaris because its containing nutrien for C. vulgaris growth. The addition of M-Bio fertilizer can accelerate the nutrient decomposition process in this media. The dilution also needs to be applied on this media to reduce the concentration of tofu wastewater and increase the intensity of light. This study aims to determine the effect of tofu wastewater dilution which added by M-Bio fertilizer to C. vulgaris growth, as to get the optimum tofu wastewater which can produce maximum C. vulgaris growth. The method used in this study is Completely Randomized Design (CRD) with the combination of two factor and 3 times repeated. The first factor is the level of tofu wastewater dilution that consisting of 4 levels (0%, 60%, 70% and 80%) and the second factor is the dosage of M-Bio fertilizer consisting of 3 levels (0 ml/L, 5 ml/L and 10 ml/L). The results of analysis showed that the interaction between dilution of tofu wastewater and dosage of M-Bio fertilizer can optimize the nutrition and environmental conditions in the culture media so it can improve C. vulgaris growth until the 3rd day of culture period. Duncan’s test results showed that the interaction between the 70% dilution of tofu wastewater and the M-Bio dosage of 5 ml/L produced 2,24 x 106 cells/day as the highest growth cell in the 3rd day. | |
| 19996 | 23101 | B1J013077 | Aspek Biologi Reproduksi Ikan Sepat Rawa (Trichogaster trichopterus Pallas 1770) di Waduk Panglima Besar Soedirman, Kabupaten Banjarnegara | Aspek reproduksi merupakan salah satu aspek penting yang dapat menentukan tetap terjaganya keberadaan ikan sepat rawa. Selain itu, aspek reproduksi dalam bidang biologi mempunyai peranan dalam konservasi. Penelitian mengenai aspek reproduksi ikan sepat rawa belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasio kelamin, tingkat kematangan gonad, indeks kematangan gonad, fekunditas dan diameter telur ikan sepat rawa (Trichogaster trichopterus Pallas 1770) di Waduk Panglima Besar Soedirman, serta untuk mengetahui korelasi panjang dan bobot tubuh ikan sepat rawa terhadap fekunditas. Rasio kelamin secara keseluruhan diperoleh 43% ikan sepat rawa jantan dan 57% ikan sepat rawa betina dengan perbandingan 1:1,33. Hasil perhitungan rasio kelamin dengan uji chi square pada taraf 0,05 diperoleh nilai 1,32 < 3,84 yang berarti seimbang dilihat dari total ikan tersebut. Selama penelitian diperoleh TKG I-IV untuk ikan sepat rawa betina, sedangkan jantan hanya diperoleh TKG I dan II. Nilai IKG ikan sepat rawa betina berkisar antara 0,77-19,81%, sedangkan jantan hanya diperoleh 1 ekor dengan nilai IKG 0,14%. Fekunditas ikan sepat rawa berkisar antara 1141-5165 butir. Diameter telur ikan sepat rawa relatif sama yaitu berkisar 0,049-0,050 cm. Korelasi panjang dan bobot tubuh terhadap fekunditas ikan sepat rawa bulan Oktober mempunyai hubungan kuat, sedangkan bulan November mempunyai hubungan lemah. Kualitas air di Waduk Panglima Besar Soedirman masih dalam batas toleran untuk ikan sepat rawa bertahan hidup. | Aspects of reproduction is one of the important aspects that can determine, still protected the existence of sepat rawa fish. In addition, aspects reproductive in the field of biology has a role in conservation. Research on aspects of reproductive sepat rawa fish have not been much researched. This research aims to find out the sex ratio, gonad maturity level, gonad maturity index, fecundity and the diameters of sepat rawa fish egg (Trichogaster trichopterus Pallas 1770) in Panglima Besar Soedirman Reservoir, as well to find out the correlation length and body weight sepat rawa fish against fecundity. The overall sex ratio obtained 43% male sepat rawa fish and 57% female sepat rawa fish with a ratio of 1:1,33. Calculation result of sex ratio by chi square test at the 0,05 level obtained 1,32 < 3,84 value which means balanced views of the fish. During the research obtained TKG I-IV for female sepat rawa fish, while male only retrieved TKG I and II. The value of the IKG female sepat rawa fish ranged from 0,77-19,81%, while male only retrieved 1 tail with the value of the IKG 0,14%. Sepat rawa fish fecundity ranged from 1141-5165 grains. Sepat rawa fish egg diameters were relatively equal, i.e., range 0,049-0,050 cm. The correlation of body length and weight in October has a strong relation to fecundity, while the correlation of length and body weight in November there was only a weak relationship to fecundity. The quality of water in Panglima Besar Soedirman Reservoir is still within the limits of tolerance for the sepat rawa fish to survive. | |
| 19997 | 23102 | B1J014088 | STUDI KARAKTER MORFOLOGI, MORFOMETRIK, DAN HUBUNGAN PANJANG BERAT IKAN KANTUNG SEMAR (Mene maculata Bloch & Schneider, 1801) | Ikan kantung semar (Mene maculata) merupakan ikan yang banyak didaratkan di TPI Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap. Ikan ini banyak ditangkap karena rasanya yang lezat sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi serta dapat berpotensi sebagai ikan hias karena bentuknya yang indah dan unik. Ikan kantung semar tidak memiliki dimorfisme seksual sehingga tidak dapat dibedakan antara jantan dan betina. Oleh karena itu, diperlukan karakterisasi ikan kantung semar jantan dan betina melalui karakter morfologi dan truss morphometrics. Penangkapan ikan kantung semar yang terus-menerus dapat menyebabkan overfishing sehingga diperlukan informasi biologi sebagai dasar pengelolaan agar populasinya berkelanjutan, antara lain berupa karakter morfologi, morfometrik, dan hubungan panjang berat, selain itu studi mengenai ikan kantung semar belum banyak dilakukan sehingga hal inilah yang mendasari perlunya dilakukan penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter morfologi dan truss morphometrics yang dapat digunakan untuk membedakan antara ikan kantung semar jantan dan betina, dan mengetahui hubungan panjang berat antara ikan kantung semar jantan dan betina. Hasil penelitian ini yaitu ikan kantung semar jantan dan betina tidak dapat dibedakan melalui karakter morfologi, tetapi dapat dibedakan melalui karakter truss morphometrics yaitu pada rasio jarak D7 yang merupakan rasio jarak antara titik pertengahan antara pangkal depan sirip anal dan pangkal belakang sirip anal sampai pangkal belakang sirip anal dengan panjang standar. Hubungan panjang berat antara ikan kantung semar jantan dan betina menunjukkan adanya keeratan dengan nilai koefisien determinasi untuk jantan 0,255 dan betina 0,42 serta tipe pertumbuhan ikan kantung semar baik jantan dan betina adalah allometrik negatif dengan nilai b sebesar 1,445 dan 1,764. | Kantung Semar fish (Mene maculata) is a lot of fish landed at TPI Fishery Port of Cilacap. This fish is caught because it tastes so delicious that has a high economic value and can potentially as an ornamental fish because of its beautiful and unique. Kantung semar fish does not have sexual dimorphism so it can not be distinguished between males and females. Therefore, it is necessary to characterize the male and female kantung semar through morphological and truss morfometric characters. Continuous fishing of kantung semar can lead to overfishing that requires useful information as a basis for population growth, such as morphological, morphometric, and length-weight relationships, in addition to the study of kantung semar fish not yet done so that this is the underlying the need for this study. The purpose of this study was to investigate morphological and truss morphometrics characters that can be used to distinguish between male and female semar fish, and to know the relationship of lenght weight between male and female semar fish. The results of this research were male and female kantung semar fish can not be distinguished by morphological characters, but can be distinguished by truss morphometrics characters in the ratio of D7 distance which is the ratio distance between the midpoints between the front fins of the anal and the base of the anal fin to the base of the anal fin with the standard length. The lenght-weight relationship between male and female kantung semar fish shows the closeness with the coefficient of determination for males 0.255 and females 0.42 and the growth type of the kantung semar of both male and female is negative allometric with b value of 1.445 and 1.764. | |
| 19998 | 23103 | C1A011030 | STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA PENYULINGAN MINYAK ATSIRI NILAM KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini berjudul “ Strategi Pengembangan Minyak Atsiri Nilam Kabupaten Banyumas” tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis dan mengetahui Strategi pengembangan usaha penyulingan minyak atsiri nilam. Penelitian dilaksanakan di daerah penyulingan terbesar dan teraktif di Kabupaten Banyumas yaitu Kecamatan Kedungbanteng dan Kecamatan Sumbang yang dilaksanakan pada bulan Mei 2018. Penelitian ini menggunakan metode survei. Penarikan sampel dari populasi dilakukan dengan cara sensus. Agar mencapai tujuan penelitian, data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threaths). Hasil penelitian diperoleh rumusan strategi, sebagai berikut : Strategi SO, yaitu:(1) memperluas pangsa pasar (2) penyuluhan tentang metode penyulingan yang tepat (3) sosialisasi potensi minyak atsiri nilam di kabupaten banyumas (4) efisiensi penggunaan faktor produksi guna membantu menciptakan harga yang dapat bersaing di pasar. Strategi WO, yaitu : (1) meningkatkan kualitas produk mencari alternatif bahan baku lainnya (2) menjalin kerjasama antar pelaku industri minyak atsiri, untuk Strategi ST, yaitu : (1) penelitian lebih mendalam tentang masa tanam, masa panen terkait bahan baku minyak atsiri (2) peningkatan kualitas sumber daya manusia memperbanyak riset untuk penemuan-penemuan bahan baku yang lebih potensial dan berkualitas (3) mengikuti pameran-pameran yang memperkenalkan produk unggulan minyak atsiri dan industri kimia lainnya (4) meningkatkan koordinasi dan kerjasama dengan distibutor atau perusahaan pendukung pemasaran. Untuk Strategi WT yaitu:(1) memperkuat modal bersama pemerintah, serta (2) memperbaiki sistem manajemen dan sistem produksi. Pelaku usaha dan industri penyulingan minyak atsiri di Kabupaten Banyumas diharapkan dapat meningkatkan kualits sumber daya manusia agar kualitas produk minyak atsiri dapat bersaing di pasar lokal, nasional maupun pasar internasional. Diharapkan terjalinnya kerjasama antara para pelaku usaha dan industri penyulingan minyak atsiri baik kerjasama dalam proses distribusi pemasaran maupun kerjasama teknis lainnya. Pemerintah Kabupaten Banyumas diharapkan memberikah dukungan dan perhatian terhadap usaha dan industri penyulingan minyak atsiri ini. | This research entitled "Development Strategy of Patchouli Essential Oil in Banyumas Regency" the purpose of this research is to analyze and find out the development strategy of patchouli essential oil refining business. The research was conducted in the area of refining largest and most active in theBanyumas Regency, Kedungbanteng and SumbangSubdistricts, which was held in May 2018. This study used a survey method. Sampling from the population is done by census. In order to achieve the research objectives, the data obtained were analyzed using SWOTanalysis(Strength, Weakness, Opportunities, Threaths). The results of the research are formulated strategies, as follows: SO strategies, namely: (1) Expanding market share (2) Counseling about appropriate refining methods to obtain maximum results (3) Socialization of the potential of patchouli essential oil in Banyumas Regency to increase the number of oil refining businesses patchouli (4) Efficiency in using production factors to help create prices that are not too high to compete in the market. WO strategy, namely: (1) Improving product quality Looking for alternatives to other raw materials (2) Establishing cooperation between essential oil industry players, for ST Strategy, namely: (1) More in-depth research on the planting period, harvest time related to essential oils (2) Improving the quality of Human Resources Increasing research for potential and quality inventions of raw materials (3) Following exhibitions that introduce superior products of essential oils and other chemical industries (4) Improving coordination and collaboration with distributors or marketing support company. For WT Strategy, namely: (1) Strengthening joint capital of the government, and (2) Improving management systems and production systems. Essential oil refiners and businesses in Banyumas Regency are expected to increase the quality of human resources so that the quality of essential oil products can compete in local, national and international markets. It is expected that cooperation between business players and the essential oil refining industry in Banyumas Regency will be established, both in collaboration in the marketing distribution process and other technical cooperation. The Banyumas Regency Government is expected to give support and attention to this essential oil refining business and industry. | |
| 19999 | 25613 | E1A115086 | Pelaksanaan Pengelolaan Benda Sitaan Negara dan Barang Rampasan Negara Hasil Tindak Pidana Umum (Studi Di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara Klas I Jakarta Timur) | Lahirnya Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara berdasarkan amanah Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, dimaksudkan untuk terciptanya suatu instansi yang berkompetensi untuk mengelola dan menyimpan benda sitaan. Pada praktiknya, pengelolaan benda sitaan belum maksimal dilakukan, hal ini ditandai dengan penurunan nilai benda sitaan baik secara kualitas maupun kuantitas. Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris, yang menggunakan pendekatan yuridis sosiologis yang menggambarkan pelaksanaan pengelolaan benda sitaan negara hasil tindak pidana umum di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara Klas I Jakarta Timur. Spesifikasi dari penelitian ini adalah deskriptif. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini dengan cara mengumpulkan data, mengkualifikasikan, kemudian menghubungkan teori yang berhubungan dengan masalah dan akhirnya menarik kesimpulan, sehingga pada akhirnya dapat diketahui pelaksanaan dan hambatan pengelolaan benda sitaan hasil tindak pidana umum di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara Klas I Jakarta Timur. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa pengelolaan benda sitaan negara di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara Klas I Jakarta Timur sudah sesuai dengan pengelolaan yang diatur dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 16 Tahun 2014 tentang Tata Cara Pengelolaan Benda Sitaan Negara dan Barang Rampasan Negara pada Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara. Kendala yang dihadapi RUPBASAN Klas I Jakarta Timur dikarenakan adanya kendala dari segi penegak hukum, sarana, masyarakat, dan budaya. | The inception of the house for keeping the state confiscated goods (RUPBASAN) based on Criminal Law Procedures’s mandates intended for establish a worthy institute to manage and keep the confiscated goods. Practically, the management of the confiscated goods are not optimal that shown by its value deflation, qualitatively or quantitavely. This research is an empirical law research with juridical sosiological approach that describe the enforcement of the state confiscated goods management as criminal acts result in the house for keeping the state confiscated goods (RUPBASAN) Class I, East Jakarta. This research’s spesification is descriptive. Analytical methods that used in this research are data collection, data qualification, then associate theories that relate with research’s problem and make a conclusion, so that the enforcement and obstacles of the state confiscated goods management can be discovered. This research result shows that the state confiscated goods management in the house for keeping the state confiscated goods (RUPBASAN) Class I East Jakarta had been appropriate to The Law and Human Rights Ministerial Ordinance no. 16 Tahun 2014 about Procedure of The State Confiscated Goods and Booty Management in The House for Keeping The State Confiscated Goods. The obstacles which commonly faced by RUPBASAN Class I East Jakarta are related to several aspects, such as law enforcer, tools, society and culture. | |
| 20000 | 23105 | B1J014078 | PROFIL RAPD Rhyncostylis gigantea (Lindl.) Ridl. KOLEKSI PUSPA NIRMALA ORCHIDS BANYUMAS | Rhyncostylis gigantea (Lindl.) Ridl merupakan spesies anggrek yang tersebar luas di Asia Tenggara dan Indocina. Spesies ini sangat digemari oleh pecinta tanaman hias sehingga banyak diperdagangkan di tempat-tempat penjualan tanaman hias, termasuk Puspa Nirmala Orchids Banyumas. Upaya pengembangan lebih lanjut R. gigantea di Puspa Nirmala Orchids dapat dilakukan melalui studi keanekaragaman genetik secara molekuler. Salah satu marka molekuler yang dapat digunakan untuk mempelajari keanekaragaman genetik adalah Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil RAPD dan keanekaragaman genetik kultivar R. gigantea koleksi Puspa Nirmala Orchids Banyumas. Secara garis besar penelitian terdiri atas tiga tahapan kerja, yaitu ekstraksi DNA, amplifikasi marka RAPD dengan teknik PCR, dan visualisasi hasil PCR-RAPD. DNA genom diekstraksi dari sampel daun delapan individu R. gigantea, sedangkan amplifikasi marka RAPD dilakukan menggunakan lima primer acak, yaitu OPA-15, OPK-16, OPP-15, OPP-08, dan OPO-08. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil amplifikasi marka RAPD menunjukkan bahwa semua primer yang digunakan menghasilkan monomorfisme 100%. Hal ini menunjukkan keanekaragaman genetik yang sangat rendah pada populasi R. gigantea koleksi Puspa Nirmala Orchids. Rendahnya keanekaragaman genetik ini diduga karena semua individu yang digunakan merupakan hasil seleksi hibrid dari persilangan yang sama. | Rhynchostylis gigantea (Lindl.) Riedl is an orchid species spread over Southeast Asia and Indochina. This species is very popular among ornamental plant collectors, so that it is commercially found in many ornamental plant nursuries, such as Puspa Nirmala Orchids Banyumas. One of the molecular markers commonly used to study genetic diversity is Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD). This study aims to find out the RAPD profile and genetic diversity of R. gigantea cultivars of Puspa Nirmala Orchids Banyumas collection. In general, the study consists of three steps, i.e. DNA extraction, RAPD marker amplification employing PCR technique and visualization of PCR-RAPD products. Genomic DNAs were extracted from leaf samples of eight R. gigantea individuals, while RAPD markers were amplified using five random primers, i.e. OPA-15, OPK-16, OPP-15, OPP-08 and OPO-08. Data were analyzed descriptively. The amplification of RAPD markers shows that all primers used result in 100% monomorphism. This indicates a very low genetic diversity of R. gigantea population of Puspa Nirmala Orchids collection. The low genetic diversity is probably because all individuals used derive from selected hybrids of the same crosses. |