Artikelilmiahs
Menampilkan 20.001-20.020 dari 50.086 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 20001 | 23107 | H1L014015 | PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PENGELOLAAN RAPAT BERBASIS WEB MENGGUNAKAN SMS GATEWAY (STUDI KASUS DINSOSDALDUK KB P3A PURBALINGGA) | ABSTRAK Masalah yang muncul dalam pengelolaan rapat di Dinas Sosial Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Perempuan dan Perlindungan Anak (DINSOSDALDUK KB P3A Purbalingga) adalah menyebarkan rapat secara manual dengan cara mendatangi karyawan sehingga membutuhkan waktu yang tidak sedikit, data rapat tidak tersusun rapi dan daftar hadir yang masih manual. Penulis membuat Sistem Informasi Pengelolaan Rapat Berbasis Web (SIPR) untuk menangani kasus tersebut. Sistem informasi ini dibuat menggunakan bahasa pemograman PHP, database menggunakan MySQL dan Short Message Service (SMS) sebagai notifikasi bagi pengguna. Sistem informasi ini adalah cara untuk membantu menyebarkan undangan bagi peserta rapat. Permasalahan yang ada pada DINSOSDALDUK KB P3A Purbalingga sudah berhasil ditangani oleh penulis tugas akhir yaitu dengan membuat SIPR. SIPR tersebut dapat digunakan untuk membuat jadwal rapat, membuat undangan rapat, mencatat hasil rapat dan daftar hadir rapat. Harapan dengan adanya SIPR ini dapat membantu terutama bagi admin dan peserta rapat untuk melakukan penyampaian informasi undangan rapat. | ABSTRACT The problems that arise in the management of meetings in the Social Service of Population, Family Planning, Women and Child Protection (DINSOSDALDUK KB P3A) are disseminating the meetings manually by way of coming to the employee so that time consuming is not small. The author will create a Web Based Meeting Management Information System (SIPR) to handle the case. This information system is made using PHP programming language, database using MySQL and Short Message Service (SMS) as a notification for the user. This information system is a way to help spread the invitations for meeting participants. Problems that exist in DINSOSDALDUK KB P3A has been successfully handled by the author of the final task is to make SIPR. The SIPR can be used to schedule meetings, make meeting invitations, record meeting results and attend attendance meetings. Hope with this SIPR can help especially for admin and meeting participants to do the delivery of invite meeting information. Keywords: Information Systems, Meeting Management, SMS Gateway. | |
| 20002 | 23106 | B1J014048 | RESPON PALEA DAN LEMMA PADI VARIETAS INPAGO UNSOED I TERHADAP JENIS MEDIA DAN KADAR BAP SECARA IN VITRO | Padi inpago UNSOED 1 merupakan hasil persilangan antara padi poso dengan mentik wangi, kelebihan varietas ini berdaya hasil tinggi dan toleran terhadap kekeringan. Palea dan lemma merupakan bagian dari bulir padi yang berupa lembaran kering serta lapisan keras yang meliputi kariopsis. Palea dan lemma mempengaruhi ukuran kariopsis apabila kariopsis berukuran besar maka ukuran palea dan lemma juga berukuran besar. Untuk memperbesar ukuran palea dan lemma dapat dapat ditambahkan BAP secara kultur in vitro. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh media dan BAP terhadap pertumbuhan palea dan lemma. Mengetahui jenis media dan BAP yang terbaik pada pertumbuhan palea dan lemma secara in vitro. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola perlakuan faktorial. Faktor pertama yaitu Jenis media (M) yaitu MS 1962, VW dan Knudson. Faktor kedua adalah konsentrasi BAP terdiri 4 (empat) konsentrasi yaitu 0 ppm, 1 ppm, 2 ppm, dan 3 ppm, semua perakuan diulang 3 (tiga) kali ulangan. Data yang diperoleh dianalisis sidik ragam dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan taraf kepercayaan 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa interaksi media dan BAP tidak memberikan efek terhadap pertambahan panjang dan lebar palea dan lemma secara in vitro. Media MS secara mandiri merupakan media yang terbaik untuk lebar palea dan lemma secara in vitro | Inbred Dryland Rice (Inpago) UNSOED 1 is a crossbreeding result of hang rice (poso) and mentik wangi rice. This variety is highly productive and can survive in drought. In this regard, palea and lemma are the parts of rice grain which are dry sheet and hard layer covering caryopsis. They influence the caryopsis size. If the size is big, the space given by pale and lemma must be wide as well. To stimulate pale and lemma growth, it can be afforded by an addition of BAP and 3 culture media.The research aims to find out the media and BAP influence on the palea and lemma growth as well as to discover which media and BPA that are the best for the palea and lemma growth. The research uses Completely Randomized Design (CRD) with factorial treatment pattern. The first factor is Media Type (M) which is MS 1962, VW and Knudson. The second factor is BAP concentrations which consist of 0 ppm, 1 ppm, 2 ppm, and 3 ppm. All treatments is repeated three times. The data collected will be analyzed on their variances and be tested by Least Significance Different (LSD) test with 5%. The result shows that the media and BAP do not give effect to the increase of length and width of palea and lemma in vitro. Media type and BAP do not have any effect on the length and width of palea and lemma. MS medium is independently the best medium for palea and lemma width in vitro. | |
| 20003 | 23109 | B1J014059 | PROFIL DARAH IKAN KATING (Mystus gulio Hamilton, 1822) YANG DIPEROLEH DARI KALI BRUGSANTA, BANYUMAS DAN KALI BODO, CILACAP | Mystus gulio (Hamilton, 1822) merupakan salah satu spesies ikan yang termasuk dalam famili Bagridae. Ikan tersebut bersifat eurihalin karena mampu bertahan hidup pada rentang salinitas luas dan memiliki habitat di bagian hulu sungai sampai muara sungai. Habitat yang berbeda akan menyebabkan perbedaan fisologis pada ikan. Perbedaan fisiologi ikan dapat diamati melalui profil darah yaitu: nilai hematokrit, kadar hemoglobin, jumlah eritrosit dan jumlah leukosit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil darah ikan kating (Mystus gulio) yang diperoleh dari dua habitat yaitu Kali Brugsanta dan Kali Bodo. Pengambilan sampel ikan dilakukan selama 4 bulan yaitu pada Maret sampai Juni 2018 di dua lokasi yaitu di Kali Brugsanta, Desa Sirau, Kecamatan Kemranjen, Banyumas dan Kali Bodo, Jetis, Cilacap dengan metode survey. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling. Total sampel sebanyak 40 ikan dari Kali Bodo, Cilacap dan 36 ikan dari Kali Brugsanta, Banyumas dengan ulangan waktu pengambilan sebanyak tiga kali. Ikan yang digunakan pada penelitian ini berukuran panjang 10,45±1,12 cm dan berat tubuh 11±3,56 g/ekor. Variabel yang diamati terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas yang diamati adalah habitat dan variabel terikat adalah profil darah ikan. Parameter yang diukur adalah kadar hemoglobin (g/dl), nilai hematokrit (%), jumlah eritrosit (sel/mm3), jumlah leukosit (sel/mm3) ikan pada kedua habitat. Data hasil penelitian dianalisis dengan SPSS 16.0 pada tingkat kepercayaan 95 % menggunakan Uji Mann-Whitney. Hasil penelitian diperoleh rata-rata jumlah eritrosit ikan kating di Kali Bodo, Cilacap dan Kali Brugsanta, Banyumas berturut-turut sebesar 1,49±0,56x106 sel/mm3 dan 1,55± 0,49 x 106 sel/mm3, kadar hemoglobin sebesar 5,35±1,34 g/dl dan 5,62±1,78 g/dl, nilai hematokrit sebesar 15,08±4,39% dan 16,44±3,87%, serta jumlah leukosit sebesar 3.36±1.80x104/mm3 dan 4,22±2,36x104/mm3. Uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, nilai hematokrit dan jumlah leukosit tidak berbeda nyata di antara kedua habitat (P>0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah profil darah ikan kating dari Kali Brugsanta, Banyumas yang memiliki salinitas 0 ppt tidak berbeda dengan yang diperoleh dari Kali Bodo, Cilacap yang memiliki rentang salinitas 24-35 ppt. | Mystus gulio (Hamilton, 1822) is one of Bagridae family species. M.gulio is eurihaline, it is able to survive in a wide salinity range. Its habitat is in the upstream of river until estuaries. Different habitats cause physiological differences in fish. Physiological differences in fish can be observed through blood profile that included red blood cell count, hemoglobin levels, hematocrit value, and white blood cell count. The purpose of this research was to determine the blood profile of M. gulio obtained from two habitats are Brugsanta River and Bodo River. The sampling was conducted on March to June 2018 at Brugsanta River, Kemranjen, Banyumas and Bodo River, Jetis, Cilacap by survey method. Sampling was conducted by purposive sampling technique. The number of samples was 40 fish from Kali Bodo, Cilacap and 36 fish from Kali Brugsanta, Banyumas with repeating three times. The fish used in this research has mean body length 10,45±1,12 cm and mean weight 11±3,56 g. The variables observed consist of independent variables and dependent variables. The independent variable observed is habitat and the dependent variable is blood profile of fish. Parameters measured were hemoglobin level (g/dl), hematocrit value (%), erythrocyte number (cell/mm3), leukocytes number (cells/mm3) of fish in both habitats. The results of the research data were analyzed by SPSS 16.0 at a 95% confidence level using the Mann-Whitney test. Results showed that erythrocyte count respectively in Kali Bodo, Cilacap and Kali Brugsanta, Banyumas were 1,49±0,56x106 cells / mm3 and 1,55 ± 0,49 x 106 cells /mm3, hemoglobin were 5,35±1,34 g/dl and 5,62±1,78 g/dl, hematocrit value 15,08±4,39% and 16,44±3,87%, and leukocyte counts 3,36 ± 1,80x 104/mm3 and 4,22±2,36x104/mm3. Mann-Whitney test showed that the number of erythrocytes, hemoglobin levels, hematocrit values and leukocyte count were not differed significantly at different habitats (P>0,05). This study concluded that blood profile of M. gulio in Brugsanta River, Banyumas which has a salinity of 0 ppt is not different from M. gulio in Bodo River, Cilacap which has a salinity range of 24-35 ppt. | |
| 20004 | 23110 | H1E011040 | PEMANFAATAN ELEKTRODA POT BERPORI (POROUS POT) DALAM SURVEI GEOFISIKA METODE POTENSIAL DIRI (SELF POTENTIAL) DAN TERAPANNYA UNTUK MENDETEKSI RESERVOIR PANAS BUMI DAERAH CIPARI KABUPATEN CILACAP | Penelitian geofisika untuk mendeteksi reservoir panas bumi di daerah Cipari Kabupaten Cilacap telah dilaksanakan. Penelitian ini menggunakan metode potensial diri dengan konfigurasi elektroda tetap. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeteksi reservoir panas bumi dan menginterpretasikan objek anomali bawah permukaan. Data yang diperoleh diolah menggunakan software surfer 10, yang kemudian dihasilkan kontur isopotential. Dari kontur tersebut diketahui bahwa reservoir cenderung berpusat di daerah penelitian. Dengan menggunakan teori Rao dan Babu, kedalaman dan sudut polarisasi dapat diperoleh sebagai parameter model lempeng 2D. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zona sebaran reservoir secara vertikal mempunyai kedalaman ujung atas antara 12,247 m – 42,426 m dari ujung atas (h) dan 12,437 m – 42,482 m dari ujung bawah (H), dengan kemiringan lapisan antara 2,519ᵒ - 39,522ᵒ | Geophysics research to detect geothermal reservoir at Cipari, Cilacap District, has been conducted. This research uses self-potential method with static-electrode configuration. The aim of the research is to detect geothermal reservoir and interpret subsurface anomaly. The data obtained from the field is processed using surfer 10 software to get isopotential contour. The contour shows that the reservoir tends to concentrate at the research field. By using Rao and Babu theory, the depth and polarization angle can be obtained as 2D model. The result of the research tells us that vertical distribution zones of reservoir is 12.247 m to 42.426 m from top point (h) and 12.437 m to 42.482 m from bottom point with layer slope from 2.519̊ to 39.522ᵒ.Cipari , potensial diri, model lempeng 2D, anomaly bawah permukaan, reservoir, | |
| 20005 | 23111 | B1J014105 | KEANEKARAGAMAN RAYAP(O: ISOPTERA) PADA EKOSISTEM HUTAN PINUS DAN DAMAR DI KETINGGIAN 900 M DPL LERENG BARAT GUNUNG SLAMET KPH PEKALONGAN BARAT | Rayap sebagai serangga sosial pemakan bahan yang mengandung selulosa, serta berperan sebagai dekomposer. Rayap mempertahankan hidupnya dengan makan yang dibagi menjadi 4 group yaitu tipe non fungus growing wood feeders, tipe growing wood feeders, tipe true humic feeders dan tipe true soil feeders. Dari keempat fungsional tersebut kemudian didapat perbedaan di dalam merespon perubahan lingkungan yang antar rayap memiliki sensitifitas yang berbeda tergantung letak sarangnya. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui keanekaragaman, kemerataan serta dominansi pada ekosistem hutan pinus dan damar di ketinggian 900 m dpl di wilayah KPH Pekalongan Barat. Penelitian ini menggunakan metode survey, dengan teknik pengambilan sampel mengikuti pola belt transect sehingga rayap yang didapat lebih beragam. Sampel rayap diambil dari Kawasan Pemangkuan Hutan (KPH) Pekalongan Barat pada ketinggian 900 m dpl. Rayap diambil dari transek yang dibuat berukuran 2m x 100m, dibagi menjadi 20 bagian atau section yang masing-masing berukuran 2m x 5m, didokumentasikan dan dimasukkan ke dalam botol. Suhu udara, kelembaban udara, pH tanah dan kanopi diukur sebagai parameter pendukung. Hasil penelitian didapatkan lima spesies rayap yaitu Schedorhinotermes javanicus Kemner, Odontotermes spp. Holmgren, Microtermes insperatus, Capritermes semarangi dan Procapritermes setiger Haviland. Berdasarkan hasil perhitungan diketahui nilai indeks keanekaragaman di ekosistem pinus (H’=1,56) tergolong sedang, sedangkan di ekosistem damar (H’=0,85) tergolong rendah. Nilai kemerataan Shannon-Evenners dari ekosistem hutan pinus didapatkan (E=0,88) tergolong tinggi menunjukkan adanya kemerataan yang tinggi, dan pada damar (E=0,5) tergolong sedang. Hasil perhitungan indeks dominansi Simpson rayap didapatkan nilai pada ekosistem pinus sebesar (D=0,29) yang menunjukkan tingkat dominansi sedang, sedangkan pada ekosistem damar sebesar (D=0,5) menunjukkan tidak terdapatnya spesies yang mendominansi. Kelimpahan spesies rayap di ketinggian 900 m dpl pada hutan pinus lebih tinggi dibandingkan hutan damar. Spesies yang paling mendominasi yaitu Schedorhinotermes javanicus Kemner. | Termite as a social insect-feeding material containing cellulose, as well as being a degradator and acting as a decomposer. Termites maintain their lives by eating divided into 4 groups, namely non-fungus growing wood feeders, type of growing wood feeders, type of true humic feeders and type of true soil feeders. Of the four functional then obtained differences in response to changes in the environment between termites have different sensitivity depending on the location of the nest.The goal of the research is to find out the diversity, equity and dominance on the pine forest ecosystem and dammar at an altitude of 900 m above sea level the are of KPH Pekalongan Barat. This study used a survey method, with purposive sampling-taking techniques with a belt transect so termites earned mode dives. Termite samples taken from the area of KPH Pekalongan Barat at an altitude 900 east Banyumas m above sea level. Termites are taken from transect which made measuring 2m x 100m, divided into 20 sections each measuring 2m x 5m, documended and put in a boltle. Air temperature, air humidity, soil pH and the canopy was measured as a parameter. The result of this research were 5 species of termites, namely Schedorhinotermes javanicus Kemner, Odontotermes spp. Holmgren, Microtermes insperatus, Capritermes semarangi and Procapritermes setiger Haviland. Based pn calculation the pine diversity index value (H’=1,56) classifies as moderate, which dammar (H’=0,85) classified as low. The fairness index values in pine (E=0,88) is high and dammar (E=0,5) is moderate. The dominance of pine (D=0,29) is moderate and dammar (D=0,5) is high. The conclusion is abundance of termites species 900 m dpl at pine forest is higher than dammar forest. The most dominant species is Schedorhinotermes javanicus Kemner. | |
| 20006 | 25734 | D1A015069 | SUPLEMENTASI TEPUNG BIJI ALPUKAT (Persea americana mill) PADA PAKAN TERHADAP BOBOT DAN PANJANG CAECUM PUYUH (Coturnix coturnix japonica) | Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 3 Januari 2019 sampai tanggal 14 Maret 2019. Penelitian dilaksanakan di Ketapang Farm, Sokaraja Kulon, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh tepung biji alpukat sebagai suplemen terhadap bobot dan panjang caecum. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah puyuh betina berumur 4 minggu berjumlah 100 ekor, dengan rataan bobot badan 90,3 gram/ekor. Pemeliharaan selama 10 minggu dengan 9 minggu perlakuan dan 1 minggu preliminary. Peralatan meliputi kandang ukuran 35 x 30 x 25 cm3 sebanyak 20 petak, paralon belah, galon manual, lampu penerang, thermohygrometer, timbangan digital, dan metline. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen, rancangan menggunakan Rancangan Acak Lengkap, dan analisis menggunakan Analisis Variansi (ANOVA). Rancangan terdiri dari 4 perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali dengan masing-masing ulangan terdiri dari 5 ekor puyuh. Perlakuan terdiri dari R0 (tanpa suplementasi tepung biji alpukat 0%), R1 (tepung biji alpukat 3%), R2 (tepung biji alpukat 6%), R3 (tepung biji alpukat 9%). Hasil rataan penelitian bobot caecum secara berurutan R0 = 0,23±0,04; R1 = 0,26±0,05; R2 = 0,25±0,06 dan R3 = 0,23±0,03 sedangkan panjang caecum R0 = 7,67±0,70; R1 = 8,38±0,76; R2 = 8,64±1,38 dan R3 = 8,81±1,12. Hasil penelitian menunjukan bahwa suplementasi tepung biji alpukat (Persea americana mill) dalam pakan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap bobot dan panjang caecum puyuh (Coturnix coturnix japonica). Dapat disimpulkan bahwa tepung biji alpukat sebagai suplemen sampai 9% memperoleh bobot dan panjang caecum puyuh betina yang relatif sama. | The study was conducted from January 3, 2019 to March 14, 2019. The study was conducted at Ketapang Farm, Sokaraja Kulon, Banyumas Regency, Central Java Province. This study aims to examine the effect of avocado seed flour as a supplement to the weight and length of the caecum. The material used in the study was 4 weeks old female quail totaling 100 birds, with an average body weight of 90.3 grams / head. Rearing for 10 weeks with 9 weeks of treatment and 1 week of preliminary. The equipment were included 20 cages with 35 x 30 x 25 cm3 size, 20 plots, manual gallons, lamps, thermohygrometers, digital scale, and metline. The research method used was experiment method, the design used Completely Randomized Design, and analysis used Variance Analysis (ANOVA). The design consisted of 4 treatments and each treatment was repeated 5 times and each replication was consisted of 5 quails. The treatment consisted of R0 (without supplementation of 0% avocado seed flour), R1 (3% avocado seed flour), R2 (6% avocado seed flour), R3 (9% avocado seed flour). The results of the average study of caecum weights were R0 = 0.23 ± 0.04; R1 = 0.26 ± 0.05; R2 = 0.25 ± 0.06 and R3 = 0.23 ± 0.03 while the caecum length R0 = 7.67 ± 0.70; R1 = 8.38 ± 0.76; R2 = 8.64 ± 1.38 and R3 = 8.81 ± 1.12. The results showed that the supplementation of avocado seed flour (Persea americana mill) in the ration had no significant effect (P> 0.05) on the weight and length of quail caecum (Coturnix coturnix japonica). It could be concluded that avocado seed flour as a supplement up to 9% obtained relatively similar weights and lengths of female quail caecum. | |
| 20007 | 25756 | H1H014005 | PENGARUH PRESERVASI SPERMATOZOA DENGAN DOSIS EKSTENDER MADU YANG BERBEDA DALAM LARUTAN NaCl FISIOLOGIS TERHADAP DAYA FERTILISASI IKAN TAWES (Barbonymus gonionotus) | Untuk menunjang industri perikanan khususnya ikan Tawes diperlukan teknologi pemijahan agar permintaan dan ketersediaan benih tetap seimbang. Salah satu teknologi pemijahan yang dapat digunakan adalah preservasi spermatozoa yang bertujuan untuk mengoptimalkan jangka waktu penggunaan spermatozoa jantan dalam membuahi sel telur. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh dan dosis yang tepat preservasi spermatozoa menggunakan esktender madu terhadap daya fertilitas ikan Tawes (Barbonymus gonionotus). Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan pada penelitian ini adalah P0 (kontrol larutan NaCl fisiologis), P1 (0,5% madu dalam larutan NaCl fisiologis), P2 (0,6% madu dalam larutan NaCl fisiologis) dan P3 (0,7% madu dalam larutan NaCl fisiologis). Variabel yang diamati adalah motilitas, viabilitas dan daya fertilitas. Data dianalisis menggunakan ANOVA one way. Hasil penelitian perlakuan P2 dan P3 berbeda nyata sedangkan P1 tidak berbeda nyata terhadap P0 untuk viabilitas spermatozoa. Perlakuan P0 didapatkan viabilitas 11,21±0,74, P1 12,53±0,96, P2 13,05±1,17 dan P3 13,65±1,03. Motilitas spermatozoa menunjukan tidak berbeda nyata pada setiap perlakuan. Didapatkan motilitas 31,25±12,50 untuk P0 dan P1, P2 dan P3 didapatkan motilitas 37,50±14,43. Tidak didapatkan daya fertilitas untuk semua perlakuan pada penelitian ini. Hasil tersebut menunjukan preservasi spermatozoa menggunakan dosis larutan ekstender madu yang berbeda berpengaruh terhadap viabilitas tetapi tidak berpengaruh terhadap motilitas dan daya fertilitas. | To support fisheries industry, especially Tawes fish, spawning technology is needed so the demand and availability of seeds remain balanced. One of the spawning technologies that can be used is preservation of spermatozoa which aims to optimize the duration of male spermatozoa usage in fertilizing the egg. The aim of the study is to determine the effect and the right dose of preservation of spermatozoa using honey extender on fertilization rate of Tawes fish (Barbonymus gonionotus). The research method uses Completely Randomized Design (CRD). The treatment in this study is P0 (control of physiological NaCl solution), P1 (0.5% honey in physiological NaCl solution), P2 (0.6% honey in physiological NaCl solution) and P3 (0.7% honey in physiological NaCl solution). The variables that observed is motility, viability and fertilization rate. Data is analyzed using one way ANOVA. The results of the P2 and P3 treatment studies are significantly different from P0 while P1 was not significantly different from P0 for the viability of spermatozoa. P0 treatment is obtained a viability of 11.21±0.74, P1 is 12.53±0.96, P2 is 13.05±1.17 dan P3 is 13.65±1.03. The motility of spermatozoa showed no significant difference in each treatment. Motility of P0 and P1 is 31.25±12.50 while motility of P2 and P3 is 37.50±14.43. There was no fertility for all treatments in this study. These result showed that preservation of spermatozoa using different doses of honey extender solution had an effect on viability but had no effect on motility and fertilization rate. | |
| 20008 | 25615 | F1C015034 | Etnografi Virtual Pemanfaatan Aplikasi WhatsApp pada Kelompok Pengajian Muslimat RW 3 Grendeng | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan aplikasi WhatsApp oleh kelompok pengajian Muslimat RW 3 Grendeng, menganalisis praktik komunikasi yang dilakukan oleh kelompok pengajian Muslimat RW 3 Grendeng di aplikasi WhatsApp, mengetahui makna di balik praktik komunikasi yang dilakukan oleh kelompok pengajian Muslimat RW 3 Grendeng di aplikasi WhatsApp, dan mengetahui bagaimana pengaruh komunikasi di aplikasi WhatsApp terhadap kehidupan sehari-hari anggota kelompok pengajian Muslimat RW 3 Grendeng. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori new media yang dikemukakan oleh Pierre Levy. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi virtual. Hasil dari penelitian ini adalah anggota kelompok Muslimat RW 3 Grendeng memanfaatkan aplikasi instant messaging WhatsApp sebagai media untuk berkomunikasi, bertukar informasi, dan sebagai cara untuk mengisi waktu luang. WhatsApp juga dianggap sebagai media yang memudahkan. Lebih dari itu, WhatsApp juga dimanfaatkan oleh anggota kelompok sebagai media untuk berdakwah, berbagi pengetahuan seperti pengetahuan seputar pendidikan, kesehatan, kebersihan lingkungan, serta dimanfaatkan sebagai media hiburan. Komunkasi virtual yang terjadi dalam grup percakapan Muslimat RW 3 bersifat interaktif, meskipun tidak semua anggota aktif di dalam grup percakapan. Anggota grup percakapan Muslimat RW 3 membagikan pesan sebagai pengetahuan dan informasi yang diharapkan dapat bermanfaat bagi anggota yang lain. Penggunaan bahasa dan bertutur kata yang baik saat berkomunikasi dalam sebuah grup percakapan dinilai sangat penting, dalam hal ini, anggota grup percakapan Muslimat RW 3 menggunakan bahasa Jawa halus dan bahasa Indonesia saat berkomunikasi di dalam grup percakapan. Interaksi yang terjadi di dalam grup percakapan terkadang menimbulkan makna-makna tersendiri. Selanjutnya, pesan-pesan yang dibagikan di dalam grup percakapan Muslimat RW 3 memiliki pengaruh yang baik bagi anggota di kehidupan mereka sehari-hari. Kebiasaan yang dilakukan di dunia nyata juga turut membentuk komunikasi yang dilakukan oleh anggota di dalam grup percakapan. | This study aims to analyze the utilization of the WhatsApp application by the Muslimat study group of RW 3 Grendeng, analyze the communication practices carried out by the Muslimat study group of RW 3 Grendeng in the WhatsApp application, find out the meaning behind the communication practices carried out by the Muslimat RW 3 Grendeng study group on the WhatsApp application, and to know how the influence of communication in the WhatsApp application on the daily lives of members of the Muslimat study group of RW 3 Grendeng. The theory used in this research is the theory of new media proposed by Pierre Levy. This study uses qualitative research methods with a virtual ethnographic approach. The results of this study were members of the Muslimat study group of RW 3 Grendeng utilizing WhatsApp's instant messaging application as a medium to communicate, exchange information, and as a medium to fill their free time. WhatsApp is also considered a convenient medium. Moreover, WhatsApp is also used by group members as a medium for preaching, sharing knowledge such as knowledge about education, health, environmental hygiene, and also used as an entertainment medium. Virtual communication that occurs in Muslimat RW 3 conversation group is interactive, although not all members are active in the conversation group. Members of the Muslimat RW 3 conversation group share messages as knowledge and information that is expected to be useful for other members. The use of language and speaking well when communicating in a conversation group is considered very important, in this case, members of the Muslimat RW 3 conversation group use fine Javanese and Indonesian when communicating in the conversation group. Interactions that occur in conversation group sometimes give rise to their own meanings. Furthermore, the messages shared within the Muslimat RW 3 conversation group have a good influence on members in their daily lives. The habits that are carried out in the real world also form the group members communication in conversations group. | |
| 20009 | 23114 | G1B014006 | Perilaku Karyawan Bagian Automotif dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di PT. Harapan Jaya Globalindo | Latar Belakang : Salah satu upaya untuk melindungi tenaga kerja adalah dengan cara penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). PT. Harapan Jaya Globalindo merupakan perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi perbengkelan automotif yang diketahui dalam menjalankan program penyediaan dan penggunaan APD belum maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku karyawan bagian automotif dalam penggunaan APD di PT. Harapan Jaya Globalindo. Metodologi : Desain penelitian ini adalah kualitatif menggunakan teknik purposive sampling. Subjek penelitian adalah karyawan bagian automotif dan informan adalah Kepala Bidang Automotif dan Penanggunga Jawab K3. Teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Uji keabsahan data dengan metode triangulasi. Hasil Penelitian : Subjek penelitian belum mampu mengartikan APD dan menyebutkan syarat APD dengan lengkap. Sikap subjek penelitian sadar manfaat APD. Motivasi subjek penelitian untuk menggunakan APD yaitu terjaga keselamatannya dan nyaman sementara alasan tidak menggunakan APD karena sakit, APD rusak, dan mengganggu pekerjaan. Sarana APD belum didistribusikan secara merata. Belum ada peraturan dan sanksi terkait penggunaan APD. Pengawas belum melakukan pengawasan khusus dan sosialisasi APD. Serta ada subjek penelitian yang tidak menggunakan APD dengan lengkap ketika bekerja. Simpulan : Perilaku subjek penelitian dalam penggunaan APD belum konsisten sehingga dapat menimbulkan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Kata Kunci : Perilaku karyawan, Alat Pelindung Diri | Background : One effort to protect the workforce is by using Personal Protective Equipment (PPE). PT. Harapan Jaya Globalindo is a company engaged in the field of automotive workshop construction known in running the program of provision and use of PPE is not maximized. This study aims to describe the behavior of automotive employees in the use of PPE in PT. Harapan Jaya Globalindo. Method : The design of this research was qualitative using purposive sampling technique. The subject of the research were the employees of automotive department and the informant were the Head of Automotive and K3 Responsibile Person. Data collection techniques with in-depth interviews, observation and documentation. Test data validity by triangulation method. Results : The subjects have not been able to interpret PPE and mention the requirements of PPE completly. The attitude of the subjects is aware of using PPE. Motivation of the subjects to use PPE is to maintain their safety and comfort while the reason for not using PPE is because sick, PPE is damaged, and disrupts work. PPE facilities have not been distributed evenly. There are no regulations and sanctions related to PPE. Supervisors have not carried out special supervision and socialization of PPE. And there are research subjects who do not use PPE completely when working. Conclusion : The behavior of subjects in the use of PPE has not been consistent so it can lead to accidents and occupational diseases. Keywords : Employee behavior, Personal Protective Equipment | |
| 20010 | 23108 | B1J014102 | KARAKTERISASI MOLEKULER IKAN GURAMI MANDIANGIN (Osphronemus goramy Lac.) HASIL BUDIDAYA DAN HASIL TANGKAPAN DI ALAM MENGGUNAKAN PCR-RFLP GEN SITOKROM C OKSIDASE I | Ikan gurami (Osphronemus goramy Lac.) memiliki banyak strain yang dikembangkan di sektor budidaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan ikan gurami. Berbagai strain ikan gurami yang dikembangkan di Indonesia adalah Soang, Jepang, Paris, Bastar, Porselen, Batanghari, dan Mandiangin. Informasi tentang gurami Mandiangin masih terbatas dikarenakan strain tersebut adalah strain gurami baru yang belum dipublikasikan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi mengenai karakterisasi molekuler gurami Mandiangin sebagai acuan referensi untuk mengetahui informasi lebih dalam mengenai strain gurami Mandiangin.Karakterisasi molekuler dilakukan pada populasi gurami Mandiangin hasil tangkapan di alam yang berasal dari DAS Riam Kanan, Kalimantan Selatan dan gurami hasil budidaya yang diambil dari Balai Budidaya Perikanan Air Tawar (BPBAT) Mandiangin, Kalimantan Selatan. Populasi ikan gurami Batanghari hasil budidaya di Balai Budidaya Perikanan Air Tawar Sungai Gelam, Jambi, juga dikarakterisasi molekulernya sebagai populasi pembanding. Karakterisasi molekuler yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan marka atau penanda molekuler PCR-RFLP gen Sitokrom C Oksidase I (gen COI). PCR-RFLP pada penelitian ini menggunakan 6 enzim restriksi endonuklease, yaitu enzim HindIII, TaqI, PstI, EcoRI, RsaI, dan HinfI.Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya enzim HindII, TaqI, dan PstI saja yang memiliki situs restriksi pada ketiga populasi sampel. Pola potongan fragmen atau alel yang dihasilkan melalui digesti ketiga enzim tersebut seragam. Seragamnya pola alel pada ketiga populasi sampel mengindikasikan bahwa gen COI dari ketiga populasi sampel monomorfik sehingga lokusnya pun monomorfik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa marka PCR-RFLP gen COI tidak dapat digunakan untuk membedakan populasi ikan gurami Mandiangin hasil budidaya dan populasi ikan gurami Mandiangin hasil tangkapan di alam. | Gouramy fish (Osphronemus goramy Lac.) has many strains that are being developed by researchers in aquaculture sector. Gouramy strains that are being developed are Soang, Jepang, Paris, Bastar, Porselen, Batanghari, and Mandiangin. Information about the Mandiangin strain, however, is still limited because the Mandiangin strain is new to science. This research is done to unravel information about the molecular character of the Mandiangin strain. Molecular characterization was done to two Mandiangin populations, namely those wild-caught from DAS Riam Kanan, South Kalimantan and those from the hatchery in Balai Budidaya Perikanan Air Tawar (BPBAT) Mandiangin, South Kalimantan. The Batanghari population from the hatchery in BPBAT Sungai Gelam, Jambi, was also characterized as a comparative population in this research. The molecular characterization was done using PCR-RFLP COI gene markers. There were six restriction enzymes used in this characterization, namely HindIII, TaqI, PstI, EcoRI, RsaI, and HinfI.The result showed that there were three out of six enzymes (HindIII, TaqI, and PstI) suceeded to cut the COI gene of the Mandiangin strain (hatchery and wild-catch populations) and the Batanghari strain (hatchery population). The COI gene fragments had uniform patterns. This means that all of the COI genes from the three tested populations were monomorphic, and so the loci were also monomorphic. It could also be stated that PCR-RFLP COI gene markers could not be used to differenciate between the Mandiangin strain from the hatchery population and that from the wild-catch population. | |
| 20011 | 23019 | B1J013069 | DETEKSI GEN 18S RNA PUTATIF PADA Trichodina spp. YANG MENGINFEKSI BENIH GURAMI (Osphronemus gouramy Lacepede) | Trichodina spp. adalah ektoparasit patogen dari golongan ciliata yang biasa menginfeksi ikan air tawar dan laut, termasuk ikan gurami. Akibat dari infeksi Trichodina spp. ini akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan produksi ikan menurun,sehingga nilai jual ikan rendah. Tingkat kejadian Trichodina spp. yang menginfeksi gurami dapat mencapai 100%. Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menentukan Protozoa Trichodina spp. yang manakah yang menginfeksi benih gurami milik BBI (Balai Benih Ikan) Kutasari Purbalingga dengan mendeteksi gen 18S RNA. Metode deteksi gen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah suatu teknik sintesis dan amplifikasiDNA secara in vitro. Penelitian ini dilakukan dengan sampling ikan gurami menggunakan metode purposive sampling yang diperoleh dari BBI Kutasari Purbalingga, kemudian dilakukan isolasi Trichodina spp., pembuatan preparat disertai identifikasi sampel dan dilanjutkan dengan pengamatan karakter molekuler dengan deteksi gen 18S rRNA. Hasil penelitian ini yaitudidapatkan presentase sebesar 10% pada deteksi gen 18S rRNA jenis spesies protozoa Trichodina paraheterodentata yang menginfeksi pada benih ikan gurami dari Purbalingga. Angka presentase deteksi gen tersebut rendah apabila dibandingkan dengan hasil deteksi gen 18S rRNA Trichodina paraheterodentata yang menginfeksi benih ikan gurami di Banjarnegara. | Abstrack Trichodina spp. are ectoparasitic pathogens of the ciliata group that commonly infect both freshwater and marine fish, including gouramy fish. As a result of infection of Trichodina spp. this will lead to inhibition of growth and decreased fish production, resulting in low fish selling value. Trichodina spp. the rate of occurrence that infects gurami can reach 100%. Research has been conducted to determine the detection of 18S RNA Trichodina spp. which one infects the gouramy seeds of BBI (Fish Seed Center) Kutasari Purbalingga. Gene detection method used in this research is Polymerase Chain Reaction (PCR) is a technique of DNA synthesis and amplification in vitro. The 18S rRNA gene is often used for phylogenetic studies because it has a conserved region, and the nucleotide base data of the 18S rRNA gene allows it to be used to indicate genealogical proximity to the kinship of a particular organism species. Molecular research can be a complementary identification of organisms morphologically. Amplification of the partial 18S rRNA gene can be used to specifically identify Trichodina paraheterodenta. The result of this study is the percentage of detection of 18S rRNA genes of the species of Trichodina paraheterodentata that infect on the gouramy fish of Purbalingga is 10%. The percentage rate of detection of these genes is low when compared with the results of the detection of 18S rRNA Trichodina paraheterodentata gene that infects gouramy fish in Banjarnegara. | |
| 20012 | 23113 | B1J014100 | Analisis Kekerabatan Isolat Bifidobacterium spp. dari Feses Bayi secara Filogenetik dan Uji Penghambatannya terhadap Escherichia coli | Bifidobacterium adalah salah satu genus bakteri asam laktat yang hidup di dalam usus besar manusia dan hewan. Beberapa karakteristik dari bakteri ini adalah Gram positif, anaerobik, non-motil, tidak membentuk spora dan berbentuk batang. Bifidobacterium spp. merupakan salah satu komponen mikroorganisme dominan pada saluran pencernaan bayi. Keberadaan bakteri ini dipakai sebagai indikator tingkat kesehatan pada saluran cerna. Bayi yang mendapatkan Air Susu Ibu (ASI), dijumpai Bifidobacterium sebanyak 1010-1011 CFU/g feses sedangkan Entrococci ditemukan sebanyak 108 CFU/g feses, termasuk bakteri anaerob lainnya dan Bacteroides yang berfungsi sebagai bakteri pembusuk. Salah satu spesies yang berada di saluran pencernaan manusia adalah Escherichia coli. Escherichia coli merupakan salah satu spesies dari kelompok Enterobacteriaceae yang termasuk flora normal di dalam saluran manusia. Bakteri ini biasanya merupakan mikroorganisme yang tidak berbahaya tetapi dalam keadaan tertentu dapat menjadi patogen. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keragaman bakteri Bifidobacterium spp. dari feses bayi dan mengkarakterisasi secara konvensional dan molekuler berdasarkan gen 16S rRNA dan mengetahui potensi Bifidobacterium spp. hasil isolasi dalam menghambat pertumbuhan Escherichia coli. Penelitian ini dilakukan dengan metode survey dan analisis data penelitian dilakukan secara deskriptif. Karakter Bifidobacterium spp. yang diamati mencakup pengamatan morfologi, uji biokimiawi, dan uji gula. Pengamatan morfologi mencakup morfologi koloni dan morfologi sel. Adapun pengujian biokimia mencakup uji katalase, oksidase, uji IMViC, resistensi terhadap lisozim dan dilakukan karakterisasi molekuler gen 16S rRNA untuk mengetahui kekerabatan bakteri Bifidobacterium spp. hasil isolasi dari feses bayi. Bifidobacterium spp. yang ditemukan diuji penghambatannya terhadap Escherichia coli dengan mengamati zona hambat yang terbentuk. Hasil penelitian mendapatkan bakteri Bifidobacterium spp. hasil isolasi dari feses bayi secara konvensional diperoleh 5 spesies Bifidobacterium spp. antara lain Bifidobacterium catenulatum (Bb1D dan Bb1I), Bifidobacterium minimum (Bb1H dan Bb2D), Bifidobacterium dentium (Bb2E), Bifidobacterium asteroides (Bb3D), dan Bifidobacterium coerinum (Bb3H), hasil karakterisasi berdasarkan gen 16S rRNA isolat Bb2E memiliki kemiripan dengan Bifidobacterium psychraerophylum strain T16. Kemampuan penghambatan terbesar terhadap E. coli ditunjukkan oleh isolat Bb2E dengan diameter zona hambat 10,48 mm. | Bifidobacterium is one of lactic acid bacteria that lives in the large intestine of humans and animals. Some characteristics of this bacteria are Gram positive, anaerobic, non-motile, non spore-forming and rod-shaped. Bifidobacterium spp. is one of the dominant components of microorganisms in the baby's digestive tract. The existence of this bacteria used as an indicator of the level of health in the gastrointestinal tract. Babies who received breast milk found Bifidobacterium as much as 1010-1011 CFU/g in faeces while Entrococci found 108 CFU/g faeces, including other anaerobic bacteria and Bacteroides which function as spoilage bacteria. One species found in the human digestive tract is Escherichia coli. Escherichia coli is a species of the Enterobacteriaceae group which belongs to the normal flora in the human tract. These bacteria are usually microorganisms that are not dangerous but in certain circumstances can become pathogens. This research aimed to determine the diversity of Bifidobacterium spp. from infant feaces and characterize conventionally and molecularly based on the 16S rRNA gene and determine the potential of Bifidobacterium spp. in inhibiting Escherichia coli’s growth. This research was conducted by survey method and data analysis was carried out descriptively. Characters of Bifidobacterium spp. observed were morphological observations, biochemical tests, and sugar tests. Morphological observations include colony morphology and cell morphology. The biochemical testing includes catalase, oxidase, IMViC test, resistance to lysozyme and molecular characterization of the 16S rRNA gene to determine the kinship of Bifidobacterium spp. isolated from baby feces. Bifidobacterium spp. who were found to be tested for inhibition of Escherichia coli by observing the formed inhibitory zones. The results obtained the diversity of Bifidobacterium spp. isolated from baby’s faeces conventionally obtained 5 species of Bifidobacterium spp. including Bifidobacterium catenulatum (Bb1D and Bb1I), Bifidobacterium minimum (Bb1H and Bb2D), Bifidobacterium dentium (Bb2E), Bifidobacterium asteroides (Bb3D), and Bifidobacterium coerinum (Bb3H), the results of characterization based on 16S rRNA gene isolates Bb2E have similarities with Bifidobacterium psychraerophylum strain T16. The biggest inhibitory ability against E. coli was shown by Bb2E isolates with a 10.48 mm inhibition zone diameter. | |
| 20013 | 23115 | F1A014080 | Strategi Komunitas Ekonomi Anti Riba (KEKAR) Purwokerto Melawan Riba | Penelitian ini terfokus pada bagaimana strategi KEKAR Purwokerto dalam melawan riba dengan tujuan mengungkap bagaimana upaya gerakan antiriba menggunakan berbagai sumber daya yang di sekitarnya agar mendukung strategi dan upaya membebaskan masyarakat dari riba. Penelitian ini menggunakan Teori Mobilisasi Sumber Daya yang dicetuskan oleh Mc Carthy sebagai pisau analisa. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Teknik penentuan informan yang digunakan adalah teknik purposive sampling. Analisa data dilakukan dengan teknik analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perspektif gerakan antiriba KEKAR Purwokerto tentang riba menjadi salah satu alasan mengapa mereka melawan riba. Perspektif KEKAR Purwokerto ini juga berpengaruh terhadap jenis riba apa yang mereka lawan. Selain itu, strategi KEKAR Purwokerto melawan riba juga turut dipengaruhi oleh sumber daya yang berhasil didapatkan oleh KEKAR Purwokerto. Sumber daya berupa jumlah pengurus, keuangan, serta dukungan dari masyarakat berpengaruh terhadap strategi yang digagas oleh KEKAR Purwokerto. | This research focuses on how KEKAR Purwokerto strategy in fighting with the aim is to reveal how the antiriba movement uses various supporting resources to support the strategy and efforts of the community from usury. This study uses the Resource Mobilization Theory which was coined by Mc Carthy as an analysis knife. Data collection is done through in-depth interview techniques, and documentation. The informant determination technique used was purposive sampling technique. Data analysis is done with interactive analysis techniques. The results of the study showed that the antiriba movement of KEKAR Purwokerto about usury was one of the reasons they were against usury. KEKAR Purwokerto perspective also concerns what type of person they are against. In addition, KEKAR Purwokerto strategy against usury was also supported by the resources that were successfully obtained by KEKAR Purwokerto. Resources as the number of management, finance, and various benefits of the strategy initiated by KEKAR Purwokerto. | |
| 20014 | 23116 | B1J014074 | PROFIL DARAH IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) YANG DIPELIHARA DALAM SISTEM BIOFLOK MENGGUNAKAN BIOAKTIVATOR MEP+ PADA BEBERAPA PERIODE PEMELIHARAAN | Darah merupakan salah satu parameter untuk mendiagnostik status kesehatan ikan. Darah termasuk parameter yang mengalami perubahan serius apabila ikan terkena penyakit seperti nilai hematokrit, kadar hemoglobin, jumlah eritrosit dan jumlah leukosit. Gurami adalah salah satu ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis karena harganya yang cukup mahal dan relatif stabil. Namun, produksi gurami belum mencukupi kebutuhan pasar karena pertumbuhannya tergolong lambat dan mudah terserang penyakit. Salah satu cara mengatasi masalah tersebut adalah dengan pemeliharaan dalam sistem bioflok menggunakan bioaktivator Mikroba Efektif Produktif. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui profil darah ikan gurami (O. gouramy) yang dipelihara dalam sistem bioflok pada beberapa periode pemeliharaan dan mendapatkan lama waktu pemeliharaan dalam sistem bioflok menggunakan bioaktivator MEP+ yang berpengaruh terbaik meningkatkan profil darah ikan gurami (O. gourami). Penelitian dilakukan secara eksperimental, menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Pemeliharaan ikan dalam sistem bioflok menggunakan bioaktivator MEP+ dilakukan pada beberapa periode pemeliharaan yaitu pemeliharaan dengan pemberian pakan menggunakan bioaktivator MEP+ selama 1 minggu, 2 minggu, dan 3 minggu. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), apabila nilai uji berbeda nyata atau berbeda sangat nyata maka dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT). Hasil yang diperoleh adalah pemeliharaan ikan gurami dalam sistem bioflok menggunakan bioaktivator MEP+ memberikan peningkatan pada jumlah eritrosit, jumlah leukosit, nilai hematokrit, dan kadar hemoglobin dibanding kontrol. Periode pemeliharaan 3 minggu menunjukkan profil darah tertinggi. Perlakuan periode pemeliharaan P3 yaitu pemeliharaan selama 3 minggu merupakan periode pemeliharaan paling efektif untuk meningkatkan kekebalan tubuh ikan. | Blood is one of the parametes that used for diagnosing the health status of fish. Blood, belongs to the parameters that will be drastically changes when the fish affected by diseases such as hematocrit, hemoglobin level, erythrocyte count and leukocyte count. Gouramy is one of the freshwater organisms that has economic value because the price is quite expensive and relatively stable. However, gouramy production has not been sufficient for the market because of its growth is relatively slow and susceptible to disease. One way to overcome this problem is by maintaining biofloc systems using Productive Effective Microbial Bioactivators. The objective of the study was to determine blood profile of gouramy fish (O. gouramy) which maintenance in biofloc systems using MEP+ bioactivators in several maintenance periods and determine the length of time of maintenance in biofloc systems using MEP+ bioactivators that have the best effect on improving the blood profile of gouramy (O.gouramy). The experiment was conducted experimentally, using Completely Randomized Design with 4 treatments and 4 replications. Maintenance of fish in the biofloc system was carried out in several maintenance periods namely maintenance by feeding using the MEP+ bioactivator for 1 week, 2 weeks, and 3 weeks. The data obtained were analyzed using analysis of variance (ANOVA), if the test value was significantly different or very significantly different then proceed with the smallest real difference test (BNT). The result shows that the maintenance of gouramy in the biofloc system using the MEP+ bioactivator give the increasing of the erythrocytes count, leukocyte counts, hematocrit values, and hemoglobin levels compared to controls. A 3-week maintenance period shows the highest blood profile. Treatment of P3 maintenance period that is maintenance for 3 weeks is the most effective maintenance period to improve fish immunity characterized. | |
| 20015 | 26531 | L1B015059 | PENGARUH EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle L) TERHADAP DAYA TETAS TELUR DAN SINTASAN LARVA IKAN NILEM | Daun sirih (Piper betle L) adalah salah satu tanaman tradisional asli Indonesia yang diketahui memiliki kandungan zat yang bersifat anti jamur. Kandungan yang terdapat dalam daun sirih antara lain minyak atsiri, tanin, fenoid, saponin sehingga mampu menghambat tumbuhnya jamur. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi ekstrak daun sirih yang optimal terhadap daya tetas telur dan sintasan larva nilem. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah perendaman telur ikan nilem selama 20 menit ke dalam media dengan kandungan ekstrak daun sirih yaitu P1: 0 ppm (kontrol), P2: 20 ppm, P3: 40 ppm, P4: 60 ppm, dan P5: 80 ppm. Parameter uji yang diamati meliputi daya tetas telur, sintasan larva, tingkat serangan jamur dan kualitas air. Hasil menunjukkan bahwa nilai terbaik dari daya tetas telur terdapat pada P4 yaitu 95± 3,36%, tingkat serangan jamur pada P5 yaitu 3,67 ± 2,46%, dan sintaan larva pada P4 yaitu 87,34± 3,17%. Kualitas air pada penelitian menunjukkan nilai pH sebesar 7, suhu berkisar antara 21- 23oC, dan oksigen terlarut sebesar 6,06 – 7 mg/L. | Betle leaf (Piper betle) is one of the traditional native plant to Indonesia that known to contain antifungal substances. The betle leaves contained essential oils, tannins, phenoids, saponnis that able to inhibit the growth of fungi. This study aims to determine the optimal extract concentration of betle leaf on egg hatchability and survival of nilem larvae. This study used an experimental method with a completely randomized design consisting of 5 preparations and 3 replications. The treatment given is soaking nilem fish eggs for 20 minutes into the media with betle leaf extract contents namely P1: 0 ppm (control), P2: 20 ppm, P3: 40 ppm, P4: 60 ppm, and P5: 80 ppm. Test parameters that observed including egg hatchability, larval survival, prevalence of fungal infection and water quality. The results of egg immersion in betle leaf extract at a concentration of 80 ppm (P4) showed the best results with 95 ±3,36% hetching rate off eggs, and larval survival rate as much as 87, 34 ± 3,17%. The prevalence of fungal infection on P5 was 3.67 ± 2.46%, and the larval spreading on P4 was 87.34 ± 3.17%. Water quality in the study showed a pH value of 7, temperatures between 21 - 23oC, and dissolved oxygen of 6.06 - 7 mg / L. | |
| 20016 | 23117 | F1J012049 | IKEBANA PADA TAHUN BARU JEPANG | Penelitian ini berjudul ikebana pada Tahun Baru Jepang. Ikebana adalah seni merangkai bunga khas negara Jepang, yang memanfaatkan berbagai jenis bunga, rerumputan dan tanaman lain yang ditata dengan unik. Di Jepang ikebana merupakan hiasan yang penting saat Tahun Baru, sedangkan Tahun Baru terdapat pada Musim dingin yang tidak terdapat banyak tumbuhan. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori kebudayaan, musim, Ikebana, tahun baru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk dan makna filosofis ikebana pada tahun baru. Penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data adalah teknik wawancara. Berdasarkan hasil analisis, di dalam 3 rangkaian Ikebana, setiap rangkaian memiliki makna sesuai kreatifitas perangkainya. Dari hasil penelitian tersebut makna filosofis unsur-unsur Ikebana pada Tahun baru merupakan keramah-tamahan tuan rumah kepada tamu, baik itu dewa maupun manusia. Rangkaian ikebana pada tahun baru berciri menggunakan batang pohon pinus. Batang pohon pinus merupakan evergreen yang dipercayai memiliki kekuatan magis karena daunnya yang berwarna hijau abadi dan tidak terpengaruh musim. | This research is titled ikebana in the Japanese New Year. Ikebana is a Japanese art of flower arrangement, which utilizes various types of flowers, grasses and other plants that are uniquely arranged. In Japan ikebana is an important decoration during the New Year, while the New Year is found in the winter where there are not many plants. This study was analyzed using the theory of culture, season, Ikebana, new year. The purpose of this study was to describe the form and philosophical meaning of ikebana in the new year. The author uses a qualitative descriptive research method. Data collection techniques are interview techniques. Based on the results of the analysis, in the 3 series of Ikebana, each sets has meaning in accordance with the creativity of the setter. From the results of the research, the philosophical meaning of Ikebana elements in the New Year is the hospitality of the host to guests, both gods and humans. The ikebana series in the new year is characterized by pine trees. Pine tree trunks are evergreens that are believed to have magical powers because the leaves are green in color and are not affected by the season. | |
| 20017 | 23118 | B1J014025 | AKTIVITAS AMILASE PADA HEPATOPANKREAS, LAMBUNG, DAN INTESTIN IKAN KATING (Mystus gulio) PADA pH BERBEDA | Ikan kating (Mystus gulio) merupakan ikan omnivora yang dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi karena memiliki memiliki nilai gizi yang tinggi untuk protein, mineral, dan vitamin sehingga berpeluang menjadi kandidat untuk pengembangan akuakultur. Oleh karena itu dibutuhkan kajian biologi ikan kating (M. gulio) khususnya dari segi fisiologi nutrisi dan digestinya sebagai informasi dasar. Beberapa penelitian telah dilakukan namun belum memberikan deskripsi mengenai proses digesti secara enzimatik pada ikan kating di habitat alaminya. Oleh karena itu diperlukan database penelitian digesti secara enzimatik ikan kating yang berasal dari habitat alaminya. Amilase adalah salah satu enzim digesti yang menghidrolisa pati menjadi molekul yang lebih sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan aktivitas amilase pada pH berbeda pada hepatopankreas, lambung, dan intestin ikan kating (M. gulio), mengetahui pH dengan aktivitas amilase optimum pada hepatopankreas, lambung, dan intestin ikan kating (M. gulio), dan mengetahui aktivitas amilase tertinggi diantara organ digesti pada pH optimum. Metode yang digunakan yaitu secara ekperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan pH berbeda. Parameter yang diukur dalam penelitian ini yaitu banyaknya mikromol maltosa yang dihasilkan per menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan aktivitas amilase di hepatopankreas, lambung, dan intestin pada pH berbeda (P<0.05). Pada penelitian ini, aktivitas amilase optimum pada hepatopankreas ditemukan pada pH 7 (0.35±0.07 U/mg protein) dan pH 8 (0.41±0.10 U/mg protein). Aktivitas amilase optimum pada lambung ditemukan pada pH 7 (0.52±0.11 U/mg protein) dan pH 8 (0.79±0.21 U/mg protein). Aktivitas amilase optimum pada intestin ditemukan pada pH 8 (1.26±0.19 U/mg protein). Aktivitas amilase tertinggi diantara organ digesti pada pH optimum dijumpai di lambung dan intestin. | Kating fish (Mystus gulio) is an omnivorous fish that used as a consumption fish because it has high nutritions of protein, mineral and vitamin that are likely to be representative for aquaculture development. In addition, in this research needs biology study of M. gulio especially in terms of nutritional physiology and digestion as basic information. Several studies have been conducted but have not provided a description of the digestion process enzymatically in M. gulio in their natural habitat. Therefore, an enzymatic digestion database of M. gulio derived from its natural habitat is required. Amylase is one of the digestion enzymes that hydrolyzes starch into simpler molecules. The objective of this study was to investigate the different activity of amylase at different pH in hepatopancreas, stomach, and intestine of kating fish (M. gulio), to know pH with optimum activity of amylase in hepatopancreas, stomach, and intestine of kating fish (M. gulio), and to know the highest amylase activity between digestion organs at optimum pH. The method used is experimental using a Complete Random Design (CRD) with treatment different pH. The parameter used in this study was micromole maltose which produced each minute. The results showed that there was different amylase activity in hepatopancreas, stomach, and intestine at different pH (P <0.05). In this study, the optimum activity of amylase in hepatopancreas was found at pH 7 (0.35±0.07 U/mg protein) and pH 8 (0.41±0.10). The optimum activity of amylase in the stomach was found at pH 7 (0.52±0.11 U/mg protein) and pH 8 (0.79 ± 0.21 U/mg protein). The optimum activity of amylase in intestine was found at pH 8 (1.26 ± 0.19 U/mg protein). The highest amylase activity between digestion organ at optimum pH was found in stomach and intestine. | |
| 20018 | 23125 | A1H011063 | Pemanfaatan Limbah Buah Kelapa Muda Sebagai Bahan Baku Briket | Krisis energi yang menimpa negara Indonesia ditandai dengan semakin langkanya BBM di tengah-tengah masyarakat serta harga BBM yang merangkak naik disebabkan harga minyak dunia yang melonjak tinggi sekali. Energi biomassa menjadi sumber energi alternatif pengganti bahan bakar fosil (minyak bumi) karena beberapa sifatnya yang menguntungkan yaitu, dapat dimanfaatkan secara lestari kerena sifatnya yang dapat diperbaharui. Briket merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang terbarukan (renewable). Diantara sumber-sumber energi alternatif yang ada, briket merupakan energi biomassa yang besar dan belum banyak dimanfaatkan.Perekat diperlukan dalam pembuatan briket. Hal ini karena sifat alami serbuk yang cenderung saling memisah. Dengan bantuan bahan perekat atau lem, serbuk dapat disatukan dan dibentuk sesuai kebutuhan. Tanaman kelapa (Cocos nucifera) banyak terdapat di negara-negara Asia-Pacific yang menghasilkan 5.276.000 ton produksi dunia dengan luas 8.875.000 Ha. Indonesia merupakan negara yang memiliki luas tanam 3.334.000 Ha yang tersebar dari Riau, Jateng, Jabar, Jatim, Jambi, Aceh, Sumut, Sulut NTT, Sulteng, Sulsel dan Maluku. Komoditi kelapa merupakan salah satu komoditi perkebunan yang sangat penting dalam perekonomian nasional yaitu sebagai penghasil minyak nabati dalam memenuhi kebutuhan masyarakat disamping sebagai komoditas ekspor. Hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan sehingga tanaman kelapa dijuluki sebagai pohon kehidupan (tree of life). Pemanfaatan buah kelapa biasanya digunakan dalam industri kuliner termasuk buah kelapa muda yang saat ini banyak dijadikan sebagai bahan baku es kelapa muda. Limbah dari buah kelapa muda masih belum banyak dimanfaatkan dan hal itu dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini berlangsung selama 4 bulan pada April sampai Juli 2018. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah kelapa muda, tepung tapioka dan air. Alat yang digunakan berupa cetakan briket, ayakan, oven, label, stopwatch, timbangan, cawan porselen, kamera, tanur, tungku, panci, pengaduk, gelas ukur dan alat tulis. Penelitian ini merupakan percobaan di Laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah jenis bahan terdiri dari 2 taraf perlakuan. Faktor kedua adalah konsentrasi perekat tepung tapioka yang terdiri dari 3 taraf perlakuan. Dengan demikian, dalam penelitian terdapat 2 x 3 kombinasi atau 6 kombinasi. Faktor I adalah jenis bahan terdiri dari 2 perlakuan yaitu: P1 = Serbuk limbah kelapa muda, P2 = Serbuk + Serabut limbah kelapa muda. Faktor II adalah konsentrasi perekat tepung tapioka yang terdiri dari 3 perlakuan yaitu: K1 = Perekat dengan konsentrasi 2,5%, K2 = Perekat dengan konsentrasi 5%, K3 = Perekat dengan konsentrasi 7,5%. Perlakuan dalam penelitian ini masing – masing dilakukan dalam 3 kali ulangan sehingga menghasilkan 18 unit percobaan. Variabel yg diamati dan diukur dalam penelitian ini meliputi: kadar air, kadar abu, volatile matter, fixed carbon, laju pembakaran, kerapatan dan kekuatan briket. Secara umum kualitas briket terbaik dari bahan baku limbah kelapa muda dengan perekat tepung tapioca adalah P1K1 (briket serbuk + tepung tapioka 2,5 %) dengan nilai kadar air 9,2 %, kadar abu 8,5 %, volatile matter 22,08 %, fixed carbon 60,22 %, laju pembakaran 0,00838 g/s, kerapatan 0,2 g/〖cm〗^2 dan kekuatan 300,6 j. | The energy crisis that occurs in Indonesia is indicated by the scarcity of fuel supply and the increase in the price of fuel due to the increase in the world oil price. Biomass energy is an alternative energy source to replace fossil fuels (petroleum) because of some of its beneficial properties, that is, it can be utilized sustainably because of its renewable nature. Briquette is one of the renewable alternative fuel. Among the available alternative energy sources, briquette is a large biomass energy that has not been widely used. Adhesive is needed in making briquette. This is because the nature of the powder which tends to separate. With the help of adhesive or glue, powder can be welded and formed as needed. Coconut plants (Cocos Nucifera) are widely found in Asia-Pacific countries that produce 5,276,000 tons of world production with an area of 8,875,000 Ha. Indonesia is a country that has a planting area of 3,334,000 hectares spread from Riau, Central Java, West Java, East Java, Jambi, Aceh, North Sumatra, North Sulawesi NTT, Central Sulawesi, South Sulawesi and Maluku. Coconut commodity is one of the plantation commodities which takes an important role in the national economy, namely as the producer of vegetable oil to meet the needs of the society and as the export commodity. Almost all parts of the plant can be utilized so that coconut trees are dubbed as the tree of life. The use of coconuts is usually used in the culinary industry including young coconut fruit which is widely used as raw material for young coconut ice. Waste from young coconut fruits is still not widely used and it can cause environmental pollution. The research was conducted at the Agricultural Technology Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. This study lasted for 4 months from April to July 2018. The materials used in this study were young coconut waste, tapioca flour and water. The tools used briquette mold, sieve, oven, labels, stopwatches, scales, porcelain plate, camera, furnace, pans, stirrers, measuring cups and stationery. This research is a laboratory experiment using factorial complete randomized design with two factors. The first factor is the type of material consisting of 2 levels of treatment. The second factor is the concentration of adhesive tapioca flour which consists of 3 levels of treatment. Thus, there were 2 x 3 combinations or 6 combinations in this study. The first factor is the type of material consisting of 2 treatments, namely: P1 = young coconut waste powder, P2 = powder + young coconut waste fibers. The second factor is the concentration of adhesive tapioca flour consisting of 3 treatments, namely: K1 = adhesive with a concentration of 2.5%, K2 = adhesive with a concentration of 5%, K3 = adhesive with a concentration of 7.5%. The treatment in this study was carried out in 3 replications, resulting in 18 experimental units. Variables observed and measured in this study include: water content, ash content, volatile matter, fixed carbon, combustion rate, density and strength of briquettes. In general, the best quality of briquettes from young coconut waste raw materials with the adhesive of tapioca flour is P1K1 (powder briquette + 2.5% tapioca flour) with a moisture content of 9.2%, ash content of 8.5%, volatile matter of 22.08%, fixed carbon of 60.22%, the combustion rate of 0.00838 g /s, the density of 0.2 g /cm2 and the strength of 300.6 j. | |
| 20019 | 23127 | H1B011037 | Skema Beda Hingga Tak Standar Pada Model Predator Prey Leslie Gower Dengan Pemanenan | Salah satu interaksi makhluk hidup di bumi adalah predasi, yang secara matematis dapat disajikan dalam model Leslie Gower dengan pemanenan. Dalam penelitian ini, dikaji model dinamik diskrit Leslie Gower dengan pemanenan yang diselesaikan dengan metode beda hingga tak standar. Model Leslie Gower dengan pemanenan memiliki satu titik kesetimbangan yang tidak stabil dan dua titik kesetimbangan bersifat stabil asimtotis dengan syarat tertentu. | One of interpopulation of organism is predation which is mathematically can be expressed in Leslie Gower with harvesting model. In this research, are reviewed dynamic discrete Leslie Gower with harvesting model is discussed by nonstandard finite difference scheme method. Leslie Gower with harvesting model has one unstable equilibrium points, and two stable equilibrium points asymtotically with certain conditions. | |
| 20020 | 23146 | A1L011005 | Uji Daya Hasil Lanjut Sepuluh Galur Padi Protein Tinggi Dan Korelasi antara Hasil dan Kualitas Hasil di Banyumas | Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengkaji pertumbuhan dan hasil sepuluh galur padi protein tinggi dan dua varietas pembanding, (2) mengkaji kandungan protein dan amilosa pada sepuluh galur padi protein tinggi dan dua varietas pembanding, (3) mengkaji keeratan hubungan antara hasil dan kualitas hasil sepuluh galur padi protein tinggi dan dua varietas pembanding, dan (4) mengetahui galur padi yang memiliki hasil tinggi dan kualitas hasil tinggi. Penelitian dilaksanakan selama empat bulan dari Maret sampai Juli 2015 di Desa Pasir Kulon, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan rangcangan acak kelompok (RAK) dengan perlakuan 12 genotip padi protein tinggi dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) ada variasi penampilan pertumbuhan dan hasil dua belas genotipe padi, tiga genotip (P-G39//CH-GN-43, P-PS//MR-GN-94 dan P-CH//MR-GN-95) menampilkan pertumbuhan dan hasil terbaik, 2) Terdapat satu genotip padi yang mempunyai kandungan protein tinggi yaitu P43 (P-G39//CH-GN-43). Terdapat sepuluh genotip padi yang termasuk ke dalam kriteria kandungan amilosa rendah yaitu P-G39//CH-GN-3, P-G39//CH-GN-13, P-G39//CH-GN-14, P-G39//CH-GN-26, P-G39//CH-GN-42, P-G39//CH-GN-43, P-MW//LG-GN-61, P-MW//G39-GN-72, P-PS//MR-GN-94, dan P-CH//MR-GN-95 memiliki rasa nasi sangat pulen, 3) Karakter yang memiliki hubungan dengan hasil dan bernilai positif yaitu jumlah anakan produktif. Karakter yang memiliki hubungan dengan potensi hasil dan bernilai negatif yaitu umur berbunga, umur panen dan bobot 1000 biji. Kandungan protein dan amilosa tidak memiliki hubungan dengan potensi hasil, 4) Genotip yang mempunyai daya hasil tinggi, kandungan protein tinggi dan bertekstur nasi pulen adalah genotip P-G39//CH-GN-43, P-PS//MR-GN-94 dan P-CH//MR-GN-95. | The Aims of the research were: 1) assessing growth and yield of ten high protein rice lines and two tested varieties,2) assessing protein and amylose counteins in ten high protein rice lines and two varieties, 3) assessing relationship between the yield and yield quality of ten high-protein rice lines and two high quality and commercial varieties,4) determining rice lines that have high yield and high-quality results. This research was conducted for 4 months. It was started on March until July 2015 in Pasir Kulon village, Karanglewas, Banyumas. This research using randomized block design (RBD) with 12 genotypes of high protein rice lines and 3 replications. Results showed that: 1) there were variations in growth performance and yield of 12 high-protein rice lines, three genotypes (P-G39//CH-GN-43, P-PS //MR-GN-94 and P-CH//MR- GN-95) showed the best growth and yield, 2) There was one rice genotype with high protein content P43 (P-G39//CH-GN-43). There are ten rice genotypes included in the criteria of low amylose content, P-G39//CH-GN-3, P-G39//CH-GN-13, P-G39//CH-GN-14, P-G39//CH-GN-26, P-G39//CH-GN-42, P-G39//CH-GN-43, P-MW//LG-GN-61, P-MW//G39-GN-72 , P-PS//MR-GN-94, and P-CH//MR-GN-95 has a very pulseous rice flavor, 3) Character that had a relationship with the results and a positive value was number of productive tillers. Characters that had a relationship with the potential results and negative value of flowering age, harvest age and weight of 1000 seeds. Protein content and amylose have no correlation with yield potential, 4) Genotypes with high yield, high protein content and pulsed texture were genotype P-G39//CH-GN-43, P-PS//MR-GN-94 and P-CH//MR-GN-95. |